First Crush : Part 2

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~ Dan maaf author ini tidak pandai edit-edit foto, jadi author enggak memposting poster. Maaf ya~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

 

Aku berjalan disamping Seojoon, sementara Jiyeon terus saja menempel pada Chimin. Chimin sudah frustasi. Jiyeon bukan gadis yang akan menyerah meskipun mendapat penolakan berkali-kali. Dia percaya dia bisa membuat orang jatuh cinta dan dia mau untuk memperjuangkan itu. Setiap kali dia mempunyai waktu, dia selalu menyempatkan dirinya untuk menemui Chimin dengan berbagai macam alasan.Kami duduk berhadapan disalah satu bangku dikantin kantor kami. Aku duduk disebelah Seojoon sementara Chimin duduk dihadapanku bersebelahan dengan Jiyeon.

“Mmm..” Aku berpikir sambil melihat menu yang ada dikantin.

“Sepertinya deobokki akan enak.” Kataku akhirnya.

“Jimin Oppa! Kau makan ini saja!!” Kata Jiyeon membuka bekalnya dan menaruhnya didepan Chimin. Memang semuanya terlihat enak. Jiyeon selalu pandai dalam segala hal yang berhubungan dengan dapur, dan juga rumah tangga. Dia pernah merapikan meja Chimin menjadi sangat rapi dan bersih, dan semua makannan yang dia buat selalu enak.

“Woah.. Kau pasti sangat senang Chim..” Kataku pada Chimin dengan senyum jahil. Jimin hanya tersenyum masam, sementara Seojoon tertawa kecil.

“Soe Hee Unnie! Jangan panggil dia seperti itu!” Kata Jiyeon. Ah! Aku lupa. Jiyeon tidak pernah suka jika aku memanggil Jimin dengan Chimin, dia merasa kami seperti sepasang kekasih dan aku memberikan julukan sayang pada Jimin dengan nama itu. Dia memprotesnya berkali-kali. Dan tiap kali aku mau menghentikan panggilan itu pada Jimin..

“Soe Hee-ah, panggil aku Chimin! Awas jika kau tidak melakukannya!” Kata Jimin. Aku terdiam. Apa yang harus aku lakukan kalau begini?

“Serba salah ya Soe Hee-ah?” Tanya Seojoon. Aku hanya mengangguk singkat.

“Miane Jimin-ah. Aku sangat sayang pada adik kecil ku satu ini.” Kataku sambil mencubit pipi Jiyeon. Jimin terlihat kesal karena aku tidak memanggilnya ‘Chimin’ sementara Jiyeon langsung tersenyum cerah.

“Miane.. Soe Hee Unnie dan Seojoon Oppa, aku tidak membawakan untuk kalian.. Aku terlalu banyak memikirkan Jimin Oppa!” Kata Jiyeon tersenyum riang. Sementara Jimin langsung berdiri dari tempatnya dan pergi. Jiyeon langsung memegang tangan Jimin menghalanginya.

“Jimin Oppa mau kemana?” Tanya Jiyeon.

“Aku tidak lapar Jiyeon-ah. Miane.” Katanya lalu melepaskan tangannya.

“Tapi, aku sudah membuatkan ini untukmu..” Kata Jiyeon,

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk membuatkan itu untukku.” Kata Jimin dingin.

“Seojoon-ah, kau tidak perlu mendengarkannya.” Bisikku pada Seojoon yang sudah menatap tajam Jimin. Aku yakin jika bukan karena Jimin sahabat dekatnya Jimin, sudah pasti Jimin ditonjok olehnya. Seojoon sangat sayang pada Jiyeon, adik kecilnya itu. Seojoon mengerjap beberapa kali lalu memejamkan matanya.

“Aku akan menuruti saranmu.” Bisiknya balik. Aku hanya tersenyum ketika melihat Seojoon kembali menekuni menu makanan yang ada didepannya.

“Jimin Oppa, setidaknya cobalah sedikit saja! Aku membuatnya sangat enak!” Kata Jiyeon pada Jimin. Jimin tidak bergeming,

“Aku pergi dulu Joon-ah.” Kata Jimin lalu langsung pergi dari sana. Aku bisa melihat raut wajah Jiyeon yang cemberut. Dia kembali duduk dan mulai memakan bekalnya.

“Soe Hee Unnie, Oppa, ambillah. Jimin Oppa ternyata tidak mau.” Katanya.

“Jiyeon-ah, gwencana? Jimin dingin lagi padamu.” Tanyaku pada Jiyeon. Jiyeon tersenyum lebar.

“Gwencana Unnie. Tenang saja. Suatu saat nanti dia tidak akan seperti itu.” Kata Jiyeon.

“Kau benar-benar kuat ya? Kalau aku menjadi kau dan dicuekkan oleh pria seperti itu, aku pasti akan mencari pria lain.” Kataku mencoba menasehati Jiyeon secara halus, sangat halus. Jiyeon hanya nyengir, menunjukkan deretan gigi putihnya.

“Hentikan Jiyeon-ah. Sudah jelas Jimin tidak menyukaimu. Dan lagi kita satu marga.” Kata Seojoon langsung.

“Dia tidak menyukaiku memang benar Oppa. Tapi, aku mencintainya dan itu memang benar.” Kata Jiyeon dengan nada serius. Aku mengerjap sesaat, speechless dengan jawaban Jiyeon yang to the point.

“Kalau begitu berhenti mencintainya. Move on!” Kata Seojoon yang juga cukup kesal dengan adiknya.

“Wae? Apa Jimin Oppa menyukai orang lain? Apa dia sudah punya pacar?” Tanya Jiyeon.

“Nae. Dia mencintai orang lain.” Kata Seojoon langsung. Aku langsung menengok kearah Seojoon, aku juga kaget. Jimin? Mencintai seseorang?

“Mbo? Anya! Tapi mereka belum berpacaran, jadi tidak masalah bagiku. Aku masih memiliki kesempatan.” Bantah Jiyeon.

“Hentikan Jiyeon-ah. Kau tidak ada apa-apanya dibanding yeoja yang dicintai Jimin.” Kata Seojoon. Jiyeon cemberut, terlihat dia sangat kesal.

“Aku bisa berubah bagaimanapun, dalam hal apapun, jika memang itu yang Jimin Oppa sukai. Jadi, aku tidak akan menyerah pada Jimin Oppa sedikitpun!” Katanya lalu langsung berdiri dan meninggalkan kami berdua disana.

“Seojoon-ah, kau harusnya lebih lembut padanya.” Kataku pada Seojoon.

“Aku sudah cukup lembut biasanya, dan tidak dianggap olehnya. Karena itu, aku pikir untuk sementara waktu aku harus lebih kasar padanya.” Kata Seojoon lalu berdiri.

“Odiga?” Tanyaku. Dia tersenyum,

“Aku harus lebih kasar padanya, tapi, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian setelah aku membentaknya, aku harus menjelaskan padanya kenapa aku seperti itu.” Kata Seojoon lalu pergi. Aku duduk sendiri disana,

“Jimin selalu saja tidak sabaran kalau berhadapan dengan Jiyeon, Jiyeon juga sangat keras kepala, sementara Seojoon.. Dia hanya terlalu baik.” Kataku lalu mulai menyantap makan siangku. Sendiri.

 

10 menit sejak aku mulai makan aku merasakan hpku bergetar. Video call? Hoseok Oppa? aku menekan tombol hijau dan wajah Hoseok Oppa terlihat di hpku.

“Waeyo Oppa?” Tanyaku padanya sambil mengambil ddeoboki ku.

My princess, sudah makan siang?” Tanyanya.

“Aku sedang makan siang..” Jawabku. Aku bisa melihatnya tersenyum lalu mengangkat piring makannya, ddeoboki? Bagaimana bisa, kebetulan sekali.

“Bagus, aku tidak akan membiarkanmu kurus!” Katanya.

“Kebetulan sekali Oppa!” Kataku lalu menunjukkan ddeobokki ku.

“Sudah pasti karena kita berjodoh.” Katanya dengan PD.

“Aku tutup saja video call ini.” Kataku malas meladeninya.

“Andwe!” Katanya langsung. Dia menaruh hpnya tepat didepannya,

“Ayo makan siang.” Katanya.

“Bersama.” Lanjutnya sambil tersenyum dan mulai memakan ddeobokki nya. Right at the right time. Setelah ditinggal Jimin, Seojoon, dan Jiyeon, dia datang disaat yang tepat. Aku tidak terlalu suka makan sendirian. Aku tersenyum dan menaruh hpku didepanku.

“Selamat makan Oppa!” Kataku mulai makan.

“Nae! Makanlah yang banyak!” Jawabnya lalu mulai makan juga.

 

Setelah makan siangku dengan Hoseok Oppa selesai aku segera mengecek jamku.

“Oppa, aku pergi dulu..” Kataku pada Hoseok Oppa.

“Oh.. Kau panggil aku dengan Oppa sekarang?” Katanya. Oups! Aku keceplosan. Selama ini aku memang tidak pernah memanggilnya ‘Oppa’ meskipun dia lebih tua dariku, karena tingkahnya yang seperti itu. Panggilan ‘Oppa’ padanya bisa saja dia artikan kalau aku ini adalah pacarnya dan aku tidak suka itu. Hanya dalam hati saja aku memanggilnya ‘Oppa’.

“Ya!” Bentakku langsung informal padanya. Dia tertawa.

I know princess. You love me more than you show me I love you too.” Katanya.

I’m not!” Bentakku padanya sekali lagi. Dia tertawa. Lagi.

“Aku tutup video call ini!!” Kataku. Dia berhenti tertawa tapi masih tersenyum geli.

OK! Bye!” Kataku. Baru beberapa detik setelah aku mengatakannya dia langsung panik untuk menghentikanku.

“Jangan. Jangan. Ada hal penting yang harus aku katakana padamu.” Katanya. Aku menahan tanganku.

“Hal penting?” Tanyaku balik padanya. Aku bisa melihatnya tersenyum smirk andalannya.

“Nae.” Katanya lalu mengambil sesuatu dari meja. Sebuah kertas selebaran dia memperlihatkannya padaku.

“Mboji?” Tanyaku padanya, aku tidak bisa membaca tulisan diselebaran itu. Dia tersenyum.

Dance competition!!” Katanya. Aku langsung tersenyum lebar. Aku selalu menyukai dance competition. Mendebarkan dan sangat menyenangkan.

“Jinjja?!” Tanyaku langsung. Aku bisa melihat Hoseok Oppa tersenyum sangat lebar, dan dia mengangguk.

“Nae. Kali ini tingkat kota. Tapi ada syarat kushusnya My Princess. Ini bukan dances competition biasa.” Katanya.

“Nae? Syarat kushus?” Tanyaku lagi.

“Nanti malam aku akan menjemputmu setelah kau selesai kerja. Kita bicarakan tentang ini. Oke?” Katanya membuatku penasaran.

My Princess, get your work done first.. Or that Chim-Jim- or that, I don’t know his name will not let you out from there and it’s means you can’t dances..” Kata Hoseok Oppa mengingatkan. Aku melihat jam tanganku, jam kerja akan dimulai dalam 5 menit. Chimin memang sangat disiplin dalam pekerjaan, tidak ada telat, tapi ada lembur jika kerjaan tidak selesai tepat waktu. Huft.. Aku menghela nafas dan aku melihat Hoseok Oppa tersenyum penuh pengertian.

Hey, do it fast. I’ll wait. Don’t worry.” Katanya menyemangati.

Ok. I gotta go. See you.” Kataku mengakhiri pembicaraan itu.

See you after work.” Katanya lalu memberikan kiss bye penuh percaya diri seperti biasanya padaku dan memutuskan sambungan videocall itu.

 

Aku kembali ke meja kerjaku dan aku menemukan Seojoon sudah mulai bekerja seperti biasa, Jimin juga sepertinya sudah diruangannya.

“Jiyeon sudah pulang?” Tanyaku pada Seojoon. Dia mengangguk.

“Setelah penjelasan panjangku.” Katanya. Aku hanya tersenyum dan mulai menatap layar laptopku untuk mengejakan sisa pekerjaanku. Aku tidak ingin melewatkan kompetisi dances itu. Tidak akan.

“Kau terlihat bersemangat mengerjakan pekerjaanmu. Tumben.” Kata Seojoon.

“Yap! Pulang nanti aku ada urusan. Jadi, aku sama sekali tidak ingin lembur.” Kataku.

“Urusan? Penting?” Seojoon bertanya. Aku hanya tersenyum. Aku merasa tidak perlu menceritakan hal seperti itu pada Seojoon, ataupun Jimin, atau orang lain siapapun itu. Menurutku itu adalah dunia yang berbeda. Dia tidak akan mengerti. Kesenangan dari dances, passion, dan underground yang memfasilitasi itu. Malah-malah kalau aku menceritakannya dia bisa saja berpikir aku menyukai clubbing hanya karena dia tidak tau apa itu underground.

 

Aku menyelesaikan pekerjaan terakhirku tepat waktu. Tepat jam 7. Aku tersenyum senang. Tidak lama lift kantorku terbuka, aku bisa melihat dari siluet dan cara jalannya. Hoseok Oppa. Dia datang dan langsung menghampiri dimejaku.

“Kau terlihat rapi?” Tanyaku ketika melihatnya menggenakan kemeja putih dan celana jeans panjang. Biasanya dia mengenakan atasan hoodie, atau sleeveless, atau kaos oblong, dan bawahan jogger pants, atau celana pendek.

“Kalau aku tidak terlihat rapi mana bisa aku menjemput Princess ku disini.” Katanya. Aku hanya menggelengkan kepalaku, dan mengirimkan semua pekerjaanku via e-mail seperti biasanya.

“Kau sudah selesaikan semua pekerjaanmu?” Tanya Hoseok Oppa.

“Nae!” Jawabku dengan senyum lebar.

“Odiga Soe Hee-ah?” Tanya Chimin baru saja keluar dari kantornya.

“Oh, Chim.. Aku sudah mengerjakan semua pekerjaanku. Aku ada sedikit urusan.” Kataku.

“Dengan orang ini?” Tanya Chimin mengarah pada Hoseok Oppa. Huft.. Dimulai lagi. Mereka benar-benar tidak akur. Chimin selalu menganggap Hoseok Oppa berpengaruh buruk padaku.

“Nae. Dia ada urusan denganku.” Kata Hoseok Oppa.

“Soe Hee-ah, urusan apa lagi yang harus kau urus dengan orang seperti dia?” Tanya Chimin. Aku tidak menghiraukan mereka berdua dan melihat ke laptopku. All files has been sent. Aku mematikan laptopku.

“Aku pergi dulu Chim!” Kataku pada Chimin.

“Soe Hee-ah!” Chimin memanggilku meminta penjelasan.

“Wae?” Tanyaku.

You know what I wanna ask.” Katanya. Aku mendesah pelan.

“Beri aku privasi Chim. I tell you everything already. Not this one please.” Kataku menolaknya secara halus.

She need a lot of privacy when she has a overprotective friend like you..” Kata Hoseok Oppa. Aku menatap Hoseok Oppa mengisyaratkannya untuk diam. Sementara dia hanya tersenyum. Aku bisa membaca dengan jelas Chimin tidak puas dengan jawabanku.

“Aku tunggu dibawah saja. My princess.” Bisik Hoseok Oppa lalu pergi.

“Haruskah aku keluar juga?” Tanya Seojoon.

“Tidak perlu Seojoon-ah.” Kataku.

“Sudah berkali-kali aku bilang padamu, jika kau butuh apapun kau bisa bilang padaku. Kau tidak perlu meminta tolong pada orang lain, terutama Hoseok.” Kata Chimin.

“Kenapa kau begitu sensitif padanya? Dia juga orang biasa Chimin-ah.. Dia juga temanku. Sama sepertimu.” Tanyaku.

“DIa sudah terlihat jelas bukan orang baik-baik Soe Hee-ah. Cepat atau lambat kau juga bisa terpengaruh dengannya, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu.. Apapun itu..” Kata Chimin.

“Aku berkali-kali keluar dengannya. Kau tau itu. Dan apakah aku berubah?” Tanyaku.

“Aku tidak mengerti denganmu Jimin.. Kenapa Hoseok Oppa berbeda. Aku keluar dengan orang lain kau tidak mempermasalahkannya seperti ini.” Kataku akhrinya. Memang, ketika aku keluar dengan Hoseok Oppa, Jimin protes dengan keras padaku, hanya dengan alas an seperti itu. Jimin menarik nafas berat.

“Aku hanya ingin menjagamu. Itu saja.” Katanya lalu pergi melewatiku. Jimin marah. Dia marah padaku hanya karena aku keluar dengan Hoseok Oppa? Konyol Jim. Kau konyol.

“Kau tau Jimin, Soe Hee-ah. Dia hanya sayang padamu. Sangat sayang. Kenapa kau harus membantahnya seperti itu?” Kata Seojoon.

“Kau mau tau apa artinya sayang?” Tanyaku pada Seojoon. Dia menaikkan alisnya, tidak tau mau menjawab apa.

“Sama seperti kau memperlakukan Jiyeon. Aku akan memperlakukan Jimin seperti itu. Kalau aku sudah membiarkannya beberapa kali, atau bilang berkali-kali dengan halus padanya, dan itu tidak berhasil. Itu artinya aku juga harus keras padanya.” Kataku lalu pergi dari sana.

 

Aku bisa melihat Hoseok Oppa menungguku diluar pagar, dengan jaket tipis. Aku bisa melihat kepulan nafasnya.

“Di cuaca sedingin ini dan hanya pakai jaket tipis itu..” Kataku mengeluhkan Hoseok Oppa. Aku berjalan kearahnya. Aku bisa melihat Jimin di dalam mobilnya, tapi aku hanya melewatinya. Aku tidak akan datang padanya dan meminta maaf karena aku harus pergi, kali ini aku tidak akan melakukannya.

“Lama?” Tanyaku pada Hoseok Oppa. Dia hanya tersenyum.

“Sudah meminta maaf dan bilang kau harus pergi?” Tanyanya. Aku menggeleng.

“Tidak untuk kali ini. Aku akan mencoba cara yang berbeda kali ini.” Jawabku. Dia tertawa kecil lalu mengelus kepalaku singkat.

“Baguslah.” Jawabnya.

“Kau senang melihatku bertengkar dengannya?” Tanyaku sinis.

“Bukan itu. Aku senang tidak melihatmu memohon-mohon padanya. Itu terlihat pathetic untukku.” Katanya.

What the..” Aku menjawabnya dengan sinis sementara dia tertawa, lalu mengenakan jaket tebalnya padaku.

“Apa ini?” Tanyaku.

“Jaket.” Jawabnya.

“Lalu? Kenapa tidak kau yang pakai? Kau hanya menggunakan jaket tipis.” Kataku.

“Aku tidak mau kau kedinginan..” Jawabnya.

“Kau yang kedinginan.” Kataku ingin menolak jaket itu.

“Kalau kau melepasnya aku akan memelukmu untuk menghangatkanmu.” Katanya.

“Aku tidak kedinginan.” Kataku protes.

“Aku tidak bilang kau kedinginan. Aku hanya ingin menghangatkanmu!” Jawabnya. Aku tidak bisa membantah, dia memang akan benar-benar memelukku jika aku melepaskan jaketnya. Dia melihatku, dan tersenyum kecil.

“Mbo?” tanyaku.

“Anya, sudahlah. Ayo my princess.” Katanya lalu kami berjalan menyusuri trotoar.

 

Dear diary,

Aku tidak pernah sekalipun meragukan Hoseok Oppa. Entah kenapa, aku percaya padanya. Berada didekatnya membuatku merasa aman dan nyaman. Aku tidak perlu khawatir tentang apapun. Sama seperti Jimin yang selalu membantu dan menjagaku, berhubung aku sedang dalam keadaan perang dingin dengan Jimin aku tidak mungkin memanggilnya Chimin seperti biasanya. Jujur, aku tidak suka dengan cara ini, tapi Jimin juga harus mengerti. Hoseok Oppa bukan orang yang ada digambarannya, dia benar-benar orang yang baik.

 

                                                                                                23 agustus 2016

                                                                                                Kim Soe Hee

3 responses to “First Crush : Part 2

  1. Halo author-nim~
    Fanfiksinya bagus nih, seru, bikin kepo ntaran ada apa lagi hihi

    Keep writing ya!

    Dan oh iya, kalau misalnya kamu mau request poster ff, kamu bisa kok request di posterfanfictiondesign.wordpress.com

    Sukses selalu ya!❤

    • Thank you banget buat feedbacknya!:)
      Author akan post yang berikutnya secepet yang author bisa ya! Keep waiting for the post!

      Oke, makasih ya buat sarannya, nanti coba author hubungi di web nya,
      Sukses selalu untukmu!:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s