Beauty and The Beast Chapter 8 [Like Beauty and The Beast] – by HyeKim

beautyandthebeast1

Beauty and The Beast Chapter 8

└ Like Beauty And The Beast ┘

A fanfiction Written by HyeKim ©2016

╚ Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim || Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun || V BTS as Kim Taehyung || Nara Hello Venus as Kwon Nara ╕

 Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Family ||  Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-17 ╕

Summary :

Beauty and The Beast adalah cerita dongeng yang dulu selalu menghiasi masa kecil seorang Kim Hyerim. Hyerim dulu sempat berkata ingin menjadi Belle, si cantik yang jatuh cinta pada beast. Si pangeran yang dikutuk jadi monster. Apa yang akan Hyerim lakukan bila hal tersebut terjadi padanya?

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


“Kenapa kisahnya seperti dirimu dan Luhan ya…”


PREVIOUS :

 Teaser ||  Chapter 1 [Cold-Jerk Man] || Chapter 2 [Contract Marriage?!] || Chapter 3 [A Marriage and Honeymoon] || Chapter 4 [Honeymoon Bab II] || Chapter 5 [It’s Not A Marriage] || Chapter 6 [She Is (not) My Wife] || Chapter 7 [The Beast’s Past Love Story] || (NOW) Chapter 8 [Like Beauty And The Beast]

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Sudah setengah jam mungkin lebih Luhan mendarat di rumahnya. Namun selama itu pula Hyerim belum menampakkan batang hidung di rumahnya. Lelaki itu tidak khawatir tapi hanya gelisah. Bahkan sekarang layaknya orang gila, Luhan berguling-guling di atas ranjang sambil mengecek ponselnya.

“Gadis itu ke mana? Kenapa tidak meneleponku pula?” gerutu Luhan sambil memandang layar ponselnya geram dan berdecak. “Tidak mungkin dia diterkam serigala kan? Eh tunggu, memang di jalan raya ada serigala?” gumam Luhan sambil memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri.

“Sialan! Gadis dungu dan idiot itu ke mana sih?”

Luhan mengambil bantal dari ranjang dan memeluknya, memperhatikan jarum jam yang perlahan bergeser membunuh waktu yang ada. Lelaki itu mengembungkan pipinya. Perasaannya tidak sampai 1 jam lebih juga dari kedai tadi untuk sampai ke rumahnya. Atau jangan-jangan Hyerim diculik? Memikirkan hal tersebut membuat Luhan menjabak rambutnya sendiri.

AKH! Kenapa aku harus memikirkan dia diculik atau tidak. Malahan bagus kalau dia itu diculik sampai organnya dijual sekalian.” gerutu  Luhan dengan bibir berkomat-kamit tak jelas, “Lebih baik aku tidur dan bertemu Song Hyegyo atau Yoon Eunhye dalam mimpi, dibanding memikirkan gadis itu yang bahkan wajahnya tak secantik Song Hyegyo ataupun Yoon Eunhye.” lalu dirinya memutuskan menarik selimut dan menjelajahi alam bawah sadarnya.

Namun sebelum dirinya bertemu Song Hyegyo atau Yoon Eunhye dalam mimpinya, ponsel silver milik Luhan berdering. Mengira bahwa yang muncul di layar ponselnya ID kontak ‘Kambing Dungu’─nama ID kontak Hyerim di ponselnya. Dengan antusiasnismenya, Luhan bangun dari posisi berbaring dan menyambar ponsel. Tapi yang keluar malah ID kontak Kyuhyun hyung, bukannya Si Kambing Dungu. Membuat Luhan berdecak sebal sebelum  mengangkat panggilan.

“Hallo.” sapa Luhan dengan suara serak khas orang bangun tidur walau nyatanya dirinya belum tidur barusan.

“Oh Lu? Kamu pasti tidur ya tadi? Ahahah maafkan aku meganggumu. Atau istrimu juga terganggu?”

Istriku terganggu pantatmu, bahkan dia belum pulang dan mungkin organnya sedang dibelek oleh penculik liar. Gerutu Luhan dalam hati dan hanya memasang raut datar yang tak mungkin Kyuhyun ketahui.

“Istriku baik, sangat baik.” Luhan menekankan kata-katanya pertanda sebal mengingat Hyerim yang hilang entah berantah layaknya setan.

“Baguslah dia tak ikut terganggu. Aku hanya ingin menginformasikan bahwa malam ini aku tidur di restoran. Restoranku akan buka 24 jam, banyak sekali pelanggan. Ditambah besok aku akan kembali ke rumahku, karena atapnya sudah beres semua.”

Dan entah mengapa Luhan senang dan senyum miring tercetak diparasnya, dirinya pun mengontrol intonasi suaranya agar tak kentara sangat bahagia kemudian mulai berucap.

“Ah begitu, syukurlah rumahmu sudah beres. Kukira kau akan menumpang layaknya pria tunawisma abadi di rumahku,”

“Sialan, ahahah. Ya sudah, kembali sana tidur dengan ya… istrimu.”

Panggilanpun terputus membuat Luhan memandang ponselnya heran. Dirinya tahu Kyuhyun menyukai Hyerim, tapi lelaki itu berpura-pura tegar di hadapannya. Dirinya jadi berpikir, apa hati sepupunya itu tidak remuk bahkan retak? Ah kenapa Luhan harus peduli? Sekarang dirinya kembali menatap jam dinding dan berdecak, sudah 4 jam Hyerim belum juga absen ke rumahnya.

“Semoga sekarang organ gadis itu sedang dijual oleh penculik,” gerutu Luhan dan kembali tidur dibanding pusing menunggu Si Kambing Dungu.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, terdapat keluarga yang masih terjaga sambil menonton televisi ataupun sekedar memakan cemilan. Di balkon rumah atau lebih tepatnya atap rumah, terdapat pula dua gadis duduk di atas dipan yang tersedia di sana. Kaki keduanya menyila dan naik ke atas dipan. Sebut saja keduanya Kim Hyerim dan Kwon Nara. Kedua sahabat itu tengah menikmati segelas jus apel ditangan masing-masing sambil menatap bintang.

“Kamu ada masalah ya dengan Luhan?” Nara bersuara sambil melirik sekilas Hyerim.

Yang dilirik pun mencengkam keras gelas yang menampung jus apel yang masih banyak, dan hal tersebut tidak tertangkap oleh netra milik Nara. Rasanya Hyerim kesal sampai keubun-ubun mengingat Luhan. Lelaki itu membuat kakinya kram karena harus berjalan lama dan nyaris membuatnya demam karena angin sialan malam hari, dan ya sekarang Hyerim sudah terserang flu dadakan. Jadi dirinya memutuskan bergerliya dengan perasaan kesalnya untuk tidak pulang dan singgah ke rumah Nara.

Nara yang menangkap wajah merah padam Hyerim pun tahu sahabatnya itu sedang kesal dengan suaminya. Kemudian dirinya bersuara kembali, “Kan sudah kubilang jangan menikah dengannya. Jadi seperti ini kan nasibmu.”

Aku pun terpaksa menikahi lelaki monster itu, gerutu Hyerim dalam hati namun bibirnya hanya bergerak-gerak kesal layaknya berkomat-kamit mengucapkan mantra sihir agar Luhan musnah dari peradaban. Hyerim meneguk kembali jus apelnya hampir setengah habis kemudian menaruh gelasnya di sampingnya.

“Ya, kamu benar. Dia monster dan aku malas pulang ke rumahnya bila begini.” Hyerim menyilangkan tangan didepan dada sambil mengerucutkan bibirnya.

“Kalian ini sedang berkelahi atau apa?” Nara sangat penasaran sekarang atas keputusan Hyerim yang menginap malam ini di rumahnya, ditatapnya dari samping sahabatnya itu. “Kamu saat itu curhat bahwa sepupu Luhan menginap di rumahmu. Jangan-jangan karena dia kalian bertengkar.” Nara menyimpulkan membuat dirinya saling pandang dengan Hyerim yang kebingungan.

“Kyuhyun maksudmu? Untuk apa kita bertengkar bila ada dirinya di rumah?”─”Karena setiap hari tanpa Kyuhyun pun kita sudah bertengkar,” Hyerim menambahi dalam hati.

Angkatan bahu Nara merespon ucapan Hyerim, “Ya, mungkin karena kalian tidak bisa melakukannya.” kata Nara.

“Melakukan apa?”

“Membuat keturunan atau istilah lainnya anak.” jawab Nara sambil mengambil kotak susu vanilla di sampingnya dan menancapkan sedotan pada kotak tersebut.

“Ya!”

Teriakan Hyerim sukses membuat Nara yang sedang meminum susu kotaknya tersedak dan terbatuk-batuk, gadis Kwon itu menggepalkan tangan kanannya dan menepuk-nepuknya didepan dada. Sementara Hyerim melayangkan tatapan kesal ke arahnya.

Uhuk… uhuk… apa salahnya suami-istri melakukan hubungan badan? Bila ada orang lain biasanya jadi tak bebas melakukannya bahkan sampai pagi.” ujar Nara agak vulgar dan sambil terbatuk-batuk. Mendengar penuturan Nara membuat bulu kuduk Hyerim berdiri.

“Hubungan badan pantatmu hah?! Mana mungkin dan mana sudi aku melakukannya dengan Si Monster Sialan itu.”

“Tapikan dia suamimu,” balas Nara dengan gerlingan mata menggoda Hyerim yang langsung bungkam, tak mungkin dirinya mengatakan keduanya menikah di atas perjanjian kontrak. Yang ada Luhan langsung mencekiknya sampai mati. “Jangan-jangan kalian belum melakukannya saat bulan madu, pantas saja perutmu rata belum ada isinya.” ucap Nara dengan nada sarkastik membuat pipi Hyerim merah seketika, bukan malu namun marah.

“Hentikan pembicaraan tentang hubungan badan!” seru Hyerim yang kemudian mengambil gelas jusnya dan meneguk habis dengan rasa kesal, lalu mengambil susu kotak yang ada di samping Nara dan meminumnya hingga habis dalam sekali teguk.

Melihat sahabatnya kesal malahan membuat Nara terkikik geli, Hyerim pun meliriknya sinis. Ya Tuhan, hubungan badan? Dengan Luhan? Lebih baik sekarang Hyerim mati daripada melakukan ‘itu’ dengan monster yang bahkan tega menyuruhnya tidur di lantai.

Unnideul, masih mau di luar? Apa tidak kedinginan?”

Selang 10 sekon berlalu, suara Kwon Seoyoung─adik bungsu Nara, menyapa gendang telinga kedua gadis yang masih setia duduk bersila di atas dipan dan menghabiskan cemilan yang Nara ambil dari lemari yang isinya langsung habis setengah karena cemilan yang diambil terlalu banyak. Nara pun menoleh pada Seoyoung yang berdiri di ambang pintu atap.

“Ke marilah, kita masih mau terjaga. Besok jadwal kuliah kita sore.” ajak Nara sambil menepuk-nepuk tempat di sampingnya. Seoyoung mencibir namun akhirnya memutuskan bergabung.

“Enak sekali jadi anak kuliahan. Besok aku harus berurusan dengan guru entrepreneurship tentang tugas modal balik. Kenapa sekolahku jadi menambahkan pelajaran itu, padahal jadi pengusaha saja aku tidak mau.” Seoyoung mulai mencurahkan isi hatinya sambil menyeruput susu kotak rasa stroberi yang tersisa satu dengan wajah sebal.

“Anak kuliah enak kepalamu,” sahut Nara sambil mendorong kepala Seoyoung dari samping dengan telunjuk kanannya. “Dulu kita juga dapat mata pelajaran entrepreneurship dan gurunya tampan.”

“Lalu kamu menyukainya kan, Nar. Kemudian patah hati karena guru itu yang namanya…” Hyerim berhenti sejenak mengingat-ingat nama guru entrepreneurshipnya semasa SMA. “Ah Guru Jongwon, yang ternyata sudah menikah namun wajahnya layaknya pekerja magang yang baru lulus kuliah.”

“Hey! Jangan bahas itu! Itu kan masa lalu!” seru Nara malu mengingat masa cinta bertepuk sebelah tangannya yang parahnya pada seorang guru lelaki yang awet muda serta berwajah malaikat.

Tapi Hyerim layaknya orang tuli dan terus menggoda Nara. Apalagi sekarang Seoyoung juga mencibir kakaknya menyukai om-om dan Nara membalas bahwa itu diluar nalarnya menyukai lelaki yang berwajah tampan namun berumur kepala 3. Hyerim terkikik sendiri melihat pertikaian adik-kakak di hadapannya apalagi saat momen Nara memiting kepala Seoyoung dan kentara sekali Seoyoung sulit bernapas dan terbatuk-batuk kemudian mengigit tangan Nara. Hyerim pun jadi ingat Taehyung, coba saja dirinya tak menikah paksa dengan Luhan ah bukan tapi dengan monster itu, pasti Hyerim masih bisa merasakan kebersamaan dengan Taehyung, adiknya.

“Lepaskan aku unni!” Seoyoung berseru.

“Lepas sendiri bila bisa, tidak bisakan? Dasar bodoh…─”

Senyum tipis terukir diwajah Hyerim. Kemudian dirinya melayangkan kaki turun dari dipan, dituntun langkahnya mengitari atap rumah Nara untuk menikmati angin malam. Tangan Hyerim mengambil ponselnya dan memandangi lockscreennya yang terdapat foto Taehyung dan dirinya. Hyerim berdiri di belakang Taehyung yang berjongkok dan mencubit pipinya, dan terlihat sekali Taehyung memasang wajah kesal diikuti bibirnya yang cemberut. Hyerim jadi rindu pada adiknya. Namun karena sangking larut akan lockscreen ponselnya, Hyerim tak sengaja menabrak kotak yang terletak di dekat gudang yang berada di atap. Membuat kotak tersebut jatuh dan sebagian isinya tertumpahkan. Helaan napas keluar dari mulut Hyerim, lalu dirinya berjongkok untuk membereskan sedikit kekacuan yang ia perbuat.

Beauty and The Beast?” gumam Hyerim ketika mendapati buku dongeng tersebut tergeletak di atas lantai dingin atap, pasti buku ini tadi berada di kotak yang Hyerim tabrak. Gadis Kim itu pun mengambil buku dongeng tersebut dan memperhatikan sampulnya. Seorang Putri─Belle, yang sedang berdansa dengan Beast.

“Buku dongeng Kak Nara masih ada, kukira sudah digigiti tikus-tikus.” gumaman Seoyoung menyadarkan Hyerim bahwa insiden menjatuhkan isi kotak tadi mengalihkan perhatian kedua adik-kakak tadi yang sedang bersiteru.

Bahkan sekarang Seoyoung membantu Hyerim membereskan barang yang berserakan untuk dimasukan ke dalam kotak kembali. Dan Hyerim baru menyadari, ada 3 kotak yang isinya jatuh berserakan karena ulahnya tadi. Nara pun juga membantu Seoyoung dan Hyerim, setelah berteriak kesal karena adiknya menggumamkan buku kesayangannya digigiti tikus.

“Ngomong-ngomong…” Hyerim memulai ucapan dengan sepenggal kata guna agar fokus kedua saudari tadi terarah padanya dan hal tersebut berhasil. “Aku juga suka cerita beauty and the beast.

“Oh begitu. Aku kurang suka cerita princess maka dari itu aku kurang tahu ceritanya. Memangnya ceritanya seperti apa sih?” ujar Seoyoung sambil melirik-lirik penasaran sampul buku yang sedang Hyerim tata di dalam kotak dengan barang-barang masa kecil Nara dan Seoyoung yang lain.

“Pantas saja ya masa kecilmu kurang bahagia tanpa dongeng-dongeng itu.” cibir Nara yang sudah selesai menata barang di kotaknya.

Sebelum Seoyoung buka suara untuk melawan cibiran Nara, Hyerim menyusul perlawanan Seoyoung dengan berfrasa. “Ceritanya romantis asal kamu tahu, Seo.” Hyerim pun meletakan kotaknya di samping kotak yang Nara bereskan, tepat di dekat gudang.

Seoyoung yang sudah beres menata barang yang berserakan ke kotak kembali, menaruh kotaknya di sisi kotak yang Hyerim bereskan. “Oh ya?” Seoyoung melirik Hyerim yang mengangguk.

“Bercerita tentang seorang gadis cantik bernama Belle yang harus terjebak dengan seorang Pangeran Tampan yang dikutuk menjadi monster. Dirinya terjebak demi menyalamatkan ayahnya. Beast, monster tersebut harus membuat Belle jatuh cinta padanya agar kutukan di kastilnya punah.” Hyerim menceritakan ringkasan dongeng kesukaannya yang selalu mendiang ibunya bacakan sebelum ia tidur dulu.

“Kenapa kisahnya seperti dirimu dan Luhan ya, Rim? Tapi beda sedikit.” Nara mengejek dengan tawaan pelannya. Membuat Hyerim menoleh padanya dan Seoyoung hanya menatap kakaknya heran pertanda tak mengerti.

Seperti kisahku dan Luhan? Yang benar? Gumam Hyerim dalam hati.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Luhan terbangun dari alam mimpinya dan mendapati dirinya terlambat 20 menit. Dengan decakan kesal yang tercipta dari bibirnya, Luhan pun mandi dengan tergesa-gesa. Semalam dirinya tak bisa tidur karena Hyerim tak kunjung pulang, Luhan hanya takut gadis itu benar-benar organnya dijual oleh penculik liar. Bila hal tersebut terjadi, nenek dan ibunya akan membakarnya hidup-hidup dan menjadikan abu Luhan makanan ikan di kolam rumah mereka.

Akhirnya Luhan sudah siap dengan balutan jasnya, dirinya pun sedang memakai dasi sambil bercermin kemudian menggerutu saat dasinya terbalik dan dirinya harus melakukan pekerjaan dua kali. Setelah beres dengan penampilannya, Luhan berjalan ke ruang makan kemudian dirinya baru menyadari. Dipejamkan mata oleh Luhan sesaat kemudian dirinya menghela napas.

“Mana mungkin ada makanan bila Si Kambing Dungu itu bahkan tidak pulang semalam,” gerutu Luhan pasrah melihat kosongnya meja makan. “Baiklah Luhan, jangan meledak pagi-pagi. Pasti ada makanan di lemari counter.”

Luhan menghembuskan napas guna menenangkan diri, lalu terciptalah langkah kaki menuju counter dan dirinya langsung membuka lemari namun saat matanya menjatuhkan pandangan ke lemari counter. Ekspetasi bahwa adanya nasi dan lauk pauk di sana hanyalah angan-angan belaka kala kehampaan yang menyapanya. Luhan mengumpat kasar menyadari Hyerim tak menaruh makanan apapun di sana, kemudian lelaki itu membuka kulkas dan juga tak menemukan makanan apapun yang sudah jadi.

“Gadis itu sengaja membuatku kelaparan ya? Keparat dasar!” umpat Luhan dengan cekraman erat di gagang kulkas sebelum akhirnya pintu kulkas ia banting sangat keras.

Kemudian diputuskan oleh Luhan untuk membuat ramen. Persetanan dengan tidak sehatnya ramen untuk sarapan. Intinya Luhan harus mengganjal perutnya dulu sampai jam makan siang agar bisa makan bibimbap atau sup capjae di kantin kantornya. Sial dirinya jadi lapar memikirkannya.

“Lihat saja kau Kim Hyerim!” gerutu Luhan sambil menyumpitkan ramenya ke dalam mulut dengan wajah sebal. “Sudah kabur begitu saja masih membuatku kesal!” seru Luhan tertahan dan hebatnya karena rasa kesalnya, ramen tersebut sudah tertelan habis keperut Luhan bahkan saat ini lelaki itu sedang meminum air kuahnya.

Setelah sarapannya habis, Luhan menuju mobilnya dan menyalakan mesin. Wajah dinginnya masih kentara sekali kesal dengan istrinya itu. Diraih oleh Luhan ponselnya dan dirinya mengetikan sesuatu ke kontak Hyerim dengan perasaan membuncah.

To : Kambing Dungu

Pulang malam ini atau kuhamili!

Dan pesan itu pun terkirim dengan Luhan yang melemparkan ponselnya serta melajunya mobil peugeot 308 berwarna gray menjauhi perkarangan rumah.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Luhan sinting. Ingin sekali Hyerim menyerukan itu ke seluruh penduduk bumi setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Kuhamili? Seenak jidat saja lelaki itu berkata eh salah, maksud Hyerim mengetik. Apa lelaki kurang waras itu lupa perjanjian keduanya menikah? Lagipula apa pedulinya Luhan bila dirinya tidak pulang? Hyerim meremukan kaleng minuman sodanya yang sudah habis dan isinya yang tadi masih tertampung dimulutnya membuatnya tersedak. Sebab akibatnya adalah pesan tak waras tadi.

“Dasar lelaki sinting.” Hyerim mengumpat sambil langkah kakinya menuntun dirinya memasuki rumah sakit untuk menemui Sang Ayah. Kendati itu hanyalahan rencana yang tak sempat tertuntasi lantaran bunyi ponselnya berdering kembali.

Hyerim mendesah keras mengira panggilan masuk di ponselnya adalah ID kontak ‘Monster Sialan’, dengan perasaan kesal Hyerim mengangkat panggilan tersebut dengan wajah ditekuk habis dan bersiap menyerukan umpatan kasarnya pada Luhan.

“BAJINGAN! APA YANG KAU INGINKAN?!”

Jeda beberapa saat dan Hyerim mengatur napasnya yang tersenggal-senggal.

“Nona Kim? Benarkan ini Kim Hyerim-ssi? Kakak dari Kim Taehyung?”

Bukannya sapaan tengil nan dingin yang menyapa Hyerim, namun suara berat khas bapak-bapak 40-an. Kerutan bingung tercipta dikening Hyerim, lalu diturunkanlah ponselnya untuk mengecek ulang siapa peneleponnya. Mulutnyapun langsung mengumpat tanpa suara karena yang meneleponnya adalah pihak sekolah Taehyung. Dengan kikuk Hyerim kembali meletakan ponsel ditelinganya.

“Ah ya, maaf kupikir tadi orang iseng yang meneleponku. Aku terburu-buru mengangkat telepon,” Hyerim berucap sambil menggaruk lehernya gugup.

“Ah tak apa, saya hanya ingin memberitahu bahwa Taehyung terlibat perkelahian dengan geng sekolah sebelah.”

Mata Hyerim membulat sempurna apalagi saat wali kelas Taehyung tersebut mengatakan adiknya bisa-bisa tidak diluluskan. Hyerim kemudian berlari membanting arah kembali menuju sekolah Taehyung. Dalam hati dirinya bergumam kenapa dengan adiknya ini.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Keramaian café yang berada di pinggiran distrik Gangnam itu tidak bisa memecah keheningan yang terjadi antara Hyerim dan adiknya, Taehyung. Keduanya duduk berhadapan layaknya orang asing. Taehyung dengan wajah babak belur dan sedang menunduk. Hyerim melayangkan tatapan intimidasinya. Kue kering dan teh yang tersedia di hadapan keduanya bagaikan pajangan saja sekon ini.

“Jadi dalam perkara apa kamu berkelahi?” Hyerim bertanya sambil mengetukan ujung jarinya ke meja.

“A…ku,” respon Taehyung gugup masih setia dengan kepala menunduk membuat Hyerim menghela napas.

“Jelaskan padaku…” Hyerim menjeda sebentar untuk menarik napas. “Untung saja mereka yang menyerangmu duluan, jadi detensi atau ancaman drop out tidak kamu peroleh. Jadi sekarang, beritahu aku kornologis kejadiannya. Aku tidak akan memberitahu ayah.”

Taehyung mengangkat setengah wajahnya, lalu dengan ragu dan sedikit gerakan badan gelisah menjawab, “Aku mencari pekerjaan,” frasa yang Taehyung ucapkan pertama membuat Hyerim membulatkan mata. “Aku tahu salah satu alasan nuna menikah lebih cepat untuk mengurusi biyaya sekolah dan rumah sakit ayah. Jadi aku ingin mengembalikan uang suamimu itu.”

Mendengar hal tersebut membuat Hyerim memijit pelipisnya lantaran pening mendadak, kepalanya tertunduk disertai helaan napas. “Jadi kamu─” Hyerim mengangkat kepala saat mengatakannya namun terpotong oleh perkataan Taehyung.

“Aku bekerja ke sana-ke mari, tapi ternyata anak-anak brengsek itu memperhatikanku. Setelah selesai bekerja, aku dicegat dan diperas mereka semua,” mata Taehyung bergerak-gerak gelisah ketika menjabarakannya, sementara Hyerim hanya bergeming.

“Lupakan soal pekerjaan atau apapun. Aku menikah dengan Luhan bukan karena uang semata, dirinya yang menawarkan sendiri untuk membayar administrasi sekolahmu dan rumah sakit ayah,” ujar Hyerim kemudian mencodongkan tubuh ke depan untuk mengambil kue kering yang sedaritadi belum dijamah olehnya.

Dirinya tak sadar bahwa Taehyung memandangnya penuh arti. “Jadi apakah nuna menikahi Luhan karena mencintainya?” pertanyaan Taehyung membuat gerakan tangan Hyerim berhenti dan melayang di atas piring yang menyediakan kue kering yang tersisa.

Diangkat oleh anak sulung keluarga Kim tersebut kepalanya, matanya menatap mata Taehyung yang saling melemparkan pandangan. “Dia dinginkan? Orang-orang menjulukinya the beast seperti dongeng kesukaanmu itu…” ucapan Taehyung mengingatkan Hyerim akan sampul buku dongeng yang ditemuinya tadi malam di atap rumah Nara. “Dan apakah kau mencintainya? Dengan sikapnya yang seperti itu?” lanjut Taehyung.

Diam dan bungkam yang Hyerim pilih. Bila dirinya bisa berlakon seperti biasanya, Hyerim pasti menjawab iya namun dalam hati tidak. Tapi sekarang hatinya malah bimbang sendiri antara iya atau tidak. Padahal dulu hal tersebut menjadi perkara mudah baginya. Taehyung mulai meminum kopinya dan memakan kue kering karena cacing diperutnya sudah minta setoran.

“Apa itu urusanmu bila aku mencintainya atau tidak?” Hyerim balik bertanya membuat kelereng beriris milik Taehyung menatapnya kesekian kalinya.

“Karena aku ingin kakakku mendapatkan yang terbaik. Namun bila bersama orang tak punya hati sepertinya dirimu bahagia, aku tak bisa apa-apa,” ujar Taehyung sambil mengangkat kedua bahunya, perkataan Taehyung membuat hati Hyerim terenyuh menyadari bahwa adiknya sangat menyayanginya. “Jadi jawabannya adalah kau mencintai Luhan kan?” pertanyaan Taehyung terulang lagi dan lagi-lagi membuat Hyerim membatu.

“Aku selama 24 jam lebih bersamanya terus. Kemungkinan aku mencintainya atau tidak?” Hyerim lagi-lagi malah balas bertanya.

Taehyung tampak diam memikirkannya. “Seratus persen kau mencintainya,” ujar Taehyung santai kemudian mengunyah kue kering yang tinggal dua biji.

Hyerim pun terdiam mendengar jawabannya. 100 persen? Jangan bercanda! Itu tidak akan mungkin. Hyerim menggumam keras-keras dalam hati dan menggeleng-geleng pelan.

“Oh ya, ayah besok dioperasi. Aku menginap di rumah sakit saja ya,” ucap Hyerim dan Taehyung mengangguk antusias saat Hyerim memutuskan tinggal di rumah sakit bersamanya. Membuat Hyerim menggodanya bahwa Taehyung sangat merindukannya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Decakan terdengar dari bibir Luhan pagi ini. Semalam dirinya hampir tidak tidur dengan alasan konyol bahwa Hyerim belum juga pulang ke rumahnya. Kemudian pagi harinya dirinya harus membolos pekerjaannya karena pesan Hyerim semalam yang mengatakan dirinya harus datang karena ayah istri-istriaannya itu akan dioperasi hari ini. Sebenarnya hal tersebut tak jadi masalah mengingat Luhan sudah sangat penat di kantornya. Namun pesan Hyerim yang main kabur itu seakan seenak pantat saja menyuruh Luhan datang.

From : Kambing dungu

Besok ayahku dioperasi. Kamu harus datang bila tidak ingin kupenggal!

To : Kambing dungu

Aku tidak ingin datang dan ingat bila kamu malam ini tidak pulang. Aku akan melakukannya.

From : Kambing dungu

Jakneunda (kubunuh kau). Kau ingin melakukannya? Bila berani kupenggal sungguh-sungguh kepalamu. Intinya berperan sebagai suami yang baik esok hari, arrachi? Dan aku tidur di rumah sakit malam ini

To : Kambing dungu

YAK! KUHAMILI SUNGGUH-SUNGGUH JUGA KAU KIM HYERIM.

Luhan menghela napas saat membaca ulang pesannya dan Hyerim.  Dimasukan ponselnya ke saku celana oleh Luhan. “Baiklah, setelah bertemu dengannya akan kuseret dia!” gerutu Luhan kemudian menyambar jasnya dan melangkah pergi keluar rumah.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Sebentar lagi Ayah Hyerim akan dioperasi. Hyerim tengah menemani ayahnya dan memijat bahunya serta memberikan kalimat-kalimat penyemangat. Sementara Taehyung sedang keluar membeli beberapa makanan namun belum juga kembali. Tadi Nara dan Seoyoung juga sempat mampir, keduanya menitipkan salam dari kedua orang tua mereka yang sibuk dan tak sempat hadir. Hyerim pun menitipkan surat izinnya pada Nara hari ini yang harus kuliah.

“Apa ayah takut?” tanya Hyerim membuat Sang Ayah menoleh sekilas padanya dengan senyum menenangkan.

“Kenapa harus takut jikalau aku mati bisa bertemu Ahyoung?” Ayah Hyerim menyebutkan nama mendiang ibu dari kedua anaknya tersebut. Hyerim memukul pelan bahu kanan ayahnya sambil mengerucutkan bibir berpura-pura kesal.

“Jangan katakan itu!” seru Hyerim membuat ayahnya tertawa.

Keokjeongihaji ma (jangan khawatir), aku pasti selamat, Hyerim-ah,” ujar Hyunseok sambil tersenyum dan Hyerim pun balas tersenyum.

Tak terasa para suster dan dokter pun menyuruh ayahnya untuk bersiap masuk ke ruang operasi. Dan sekon bergulir, Hyerim hanya bisa menyasikan Sang Ayah yang didorong masuk ke ruang operasi dengan senyuman menenangkan dan begitupula Hyerim membalasnya. Sekarang, gadis itu sedang menunggu di ruang tunggu sambil mengedarkan pandangan karena Taehyung belum juga datang. Dan sayangnya, adiknya itu tidak memiliki ponsel atau lebih tepatnya di keluarganya hanya dirinya yang memiliki ponsel karena kekurangan yang ada.

“Ternyata kau di sini,” suara berat tersebut membuat Hyerim tersentak kaget dan dengan perlahan memutar kepala ke sampingnya. Sudah diduga bahwa pemilik suara tadi adalah Luhan yang berdiri di sampingnya sambil menampilkan raut datar. “Kamu ini sedang mencoba kabur atau bagaimana?” Luhan bersuara lagi disusul tubuhnya yang duduk di sebelah Hyerim.

“Menurutmu?” timbal Hyerim balas bertanya kemudian berpura-pura sibuk dengan ponselnya, sekedar untuk bermain game.

“Ayahmu sedang dioperasi?” bukannya menyahut pertanyaan Hyerim, Luhan malah mengalihkan topik membuat Hyerim mendengus keras.

“Ya, dan ayahku sedang berjuang sekarang.”

Kemudian hening berkepanjangan. Hingga batang hidung Taehyung terlihat. Namun pria itu tidak seorang diri, sosok Cho Kyuhyun tengah bersamanya dan keduanya tampak bercengkrama dengan akrabnya. Pemandangan tersebut membuat Hyerim dan Luhan bengong layaknya orang dungu.

“Adikmu kenal Kyuhyung?” bisik Luhan dan Hyerim langsung menggeleng kemudian menambahkan.

“Taehyung hanya pernah bertemu Kyuhyun secara tidak sengaja,”

Kedua orang yang sudah menyita perhatian suami-istri tersebut, melemparkan senyum lalu ikut duduk di sebelah Luhan karena di situ lah tempat yang tersisa. Luhan memperhatikan Taehyung yang duduk tepat di sampingnya, lalu lelaki itu melakukan timbal balik yang membuat Luhan bergidik ngeri dengan ditatapi tajam seperti itu.

“Oh ternyata kau datang juga setelah membuat seorang collapse.” sindir Taehyung sambil melayangkan tatapan ke depan.

“Kim Taehyung!” seru Hyerim karena adiknya sudah kelewatan.

“Datang salah, tidak datang salah,” gerutu Luhan sambil buang muka dari Taehyung.

Hyerim hanya menghela napas kemudian tatapannya tertuju pada Kyuhyun yang memilih bungkam. “Kyuhyun-ssi, bagaimana bisa kau ada di sini?” tanya Hyerim setidaknya untuk mencairkan suasana.

Lelaki itu menoleh dan melempar senyum pada Hyerim. “Aku tidak sengaja bertemu adikmu. Karena IQku ini diatas rata-rata, jadi aku langsung kenal itu adikmu yang saat itu. Jadi ya kusapa dirinya dan kutawari tumpangan. Semoga ayahmu lekas sembuh.” Hyerim mengangguk-angguk dengan mulut membentuk o, kemudian mengucapkan terimakasih karena Kyuhyun bersedia mengantar adiknya.

“IQ diatas rata-rata? Bukannya dibawah?” Taehyung menyerukan candaannya sambil memandang Kyuhyun di sebelahnya dengan tampang meledek.

“Itukan dirimu yang hanya bisa mendengarkan omelan kakakmu,” balas Kyuhyun dengan nada sarkastik dibuat-buat.

“Hey! Memang Taehyung yang bandel jadi aku mengomelinya!” turut andilah Hyerim dalam adu mulut tersebut.

Ketiganya terus melemparkan ocehan untuk saling menjatuhkan kemudian meledak dalam satu tawa bersama. Lagi-lagi Luhan mendengus keras, setiap kali ada Kyuhyun dirinya hanya dianggap setan lewat dan berakhir dikacangi seperti sekarang. Diliriknya Hyerim yang sedang mengejek Taehyung dan disetujui Kyuhyun, kemudian Luhan melirik reaksi Taehyung yang mencibir. Terselip dibenaknya bahwa, adik lelaki Hyerim lebih menyukai Kyuhyun dibanding dirinya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Malam pun menyapa keramaian kota Seoul. Setelah akhirnya Ayah Hyerim selesai melaksanakan operasi hati yang bertajuk pengangkatan organ-organ hati yang rusak. Hyerim digeret oleh Luhan untuk pulang, padahal gadis itu masih ingin menginap di rumah sakit. Bukan apa-apa, dirinya masih kesal saat Luhan menyuruhnya berjalan sendiri ke rumah. Kemudian dirinya adu mulut di sepanjang lorong rumah sakit membuat teguran dari suster dan dokter dilayangkan padanya. Namun dihiraukan hal tersebut oleh keduanya hingga satpam rumah sakit harus mendempak keduanya secara tidak hormat.

“Kau tahu operasi ini bukan untuk menyembuhkan penyakit ayahku sebelum adanya hati yang baru,” seru Hyerim ketika dirinya dan Luhan sedang berada di mobil. Lelaki itu diam tak menyahuti. “Maka dari itu kau harusnya mengerti aku masih ingin di rumah sakit. Takut sesuatu terjadi pada ayahku!” Luhan masih diam membuat Hyerim geram.

“Heh tuli! Ayahku masih harus kemoterapi besoknya dan─”

“Aku bisa mengantarmu besok,” potong Luhan membuat Hyerim yang semula menatapnya geram, membuang muka ke arah depan.

“Kenapa sih dirimu memaksaku pulang?” gerutu Hyerim.

“Orang lain bisa mengira kita mau bergugat cerai kalau kau main kabur seperti itu.”

“Kita memang akan bercerai nanti.” Hyerim menggumam pelan dan hal tersebut tak sampai ditelinga Luhan.

Keduanya pun sampai di rumah. Hyerim langsung keluar mobil dengan membanting pintunya keras-keras dan berjalan menjauh ke dalam rumah yang belum diberi penerangan apapun karena Luhan belum sempat pulang tadi. Luhan mengekor di belakang Hyerim sambil geleng-geleng kepala melihat Hyerim yang lagi-lagi memasang raut sebal ketika bersamanya dan sangat kontras saat bersama Kyuhyun.

“Aku curiga kamu menyeretku pulang karena takut akan adanya hantu perawan yang menyerang rumah ini.” Hyerim bergumam ketika sampai di dapur yang baru dihidupkan lampu pijar yang tertutupi kap lampu yang ditaruh di atas meja di ruang tengah, ruangan yang bersebelah dengan dapur tanpa adanya penghalang.

“Lebih tepatnya aku kelaparan,” sahut Luhan ketika melihat punggung Hyerim mengambil botol air mineral yang ia tuangkan ke gelas, dan kini sedang Hyerim teguk isinya.

Gadis itu menurunkan gelasnya dan menatap Luhan yang sedang membuka kulkas untuk mengambil apel. “Kasian sekali dirimu, harusnya aku kabur ke Amerika atau sekalian Antartika selama satu bulan agar kau busung lapar.”

“Tega sekali istriku tercinta ini,” ujar Luhan sambil mengigit apelnya lagi.

Mendengarnya Hyerim tersedak air mineral yang ia tampung. Dirinya melirik Luhan judes. “Yeoggyeoun (menjijikan). Jangan katakan itu lagi, sungguh menjijikan. ‘Istriku tercinta’,” Hyerim mendumel dengan menggerak-gerakan bibirnya lalu meneguk kembali air minumnya.

Kemudian terdengar suara langkah Luhan mendekat ke arah Hyerim membuat gadis itu mundur dan membentur counter. Namun Luhan makin mendekat dan tinggal sejengkal saja jaraknya antara Hyerim, apalagi sekarang wajahnya mendekat kewajah gadis tersebut dan sialannya menghembuskan napas disekitar pipi Hyerim. Kentara sekali wajah Hyerim merinding dan bersikap was-was.

Yak! Mwo hae? (sedang apa kau?)” tanya Hyerim gugup karena napas Luhan yang membelai pipinya.

“Kamu lupa bila tidak pulang malam kemarin akan kuapakan?” Luhan berbisik sensual membuat Hyerim meneguk ludah. Kuhamili. Itulah maksud Luhan dan Hyerim rasa lelaki itu sinting bila serius dengan ucapannya.

Jigeum pigonhae, pikyeo juseyo (sekarang aku lelah, kumohon minggir).” ujar Hyerim dengan wajah menghadap ke kiri menghindari Luhan yang malah bergeming. “Pikyeorago, hush, geogi! (kubilang minggir, hush, sana)” dikibaskan oleh Hyerim tangannya ke arah Luhan namun lelaki itu malah tersenyum miring.

Kemudian tangan Luhan meraih dagu Hyerim dan mengangkatnya hingga gadis itu menatap dirinya. “Bagaimana bila aku tidak mau?” tanya Luhan nyaris seperti bisikan yang membuat bulu kuduk Hyerim merinding dan tubuhnya mulai gemetar.

Seikkia (berengsek).” Hyerim mengumpat dengan menatap Luhan sinis, tapi lelaki itu malah tertawa.

“Lebih manis apel ini…” Luhan mengelap bibir bawahnya dengan jempol yang tidak turut andil memegang dagu Hyerim, dimana masih terasa sisa rasa apel disana. “Atau bibir ini.” ucapnya kembali sambil mengelus bibir bawah Hyerim dengan jempolnya.

Astaga, rasanya Hyerim sudah spot jantung sekarang. Apalagi Luhan yang memiringkan kepala dengan senyum miring mematikan. “Meongcheonggi (dungu),” desis Hyerim membuat Luhan tertawa. Dan dalam hati Hyerim sangat gugup kala ini, takut bila lelaki ini sedang tidak waras, ditambah penerangan minim di dapur saat ini. “Ingat kontrak kita.” Hyerim berujar menghilangkan rasa gugup.

Namun Luhan hanya tertawa kembali. Kemudian terdengar suara ‘cklek’ diiringi seluruh penerangan di rumah Luhan mati, menyisakan kegelapan. Bila tadi masih ada lampu pijar dengan cahaya kekuningannya, sekarang hanya ada kegelapan dan penerangan lebih minim dari bulan yang cahayanya terpancar dari jendela ruang tengah. Kegugupan Hyerim mencapai puncaknya apalagi ketika terdengar suara-suara aneh di sampingnya. Hingga dapat dirasakannya wajah Luhan mendekat ke arahnya ditandai hembusan napas dari lelaki itu membelai wajahnya. Lalu sebuah korek dinyalakan tepat di sebelah kanan wajah Hyerim membuat wajahnya dan Luhan diterangi api dari korek yang berada ditangan Luhan tersebut. Saat menoleh ke depan, Luhan sedang memiringkan wajahnya di hadapan wajah Hyerim, bahkan ujung hidung keduanya bersentuhan.

“Dikontrak hanya tidak boleh berhubungan intim tanpa kata-kata  walaupun pihak keduanya atau salah satunya meinginkannya.” bisik Luhan lagi-lagi dengan nada sensual.

Sialan, harusnya Hyerim menuliskan juga dikontrak walaupun keduanya ataupun salah satunya ingin melakukan hubungan intim, tetap saja tidak diperbolehkan. Hyerim tambah merinding dan tangannya meremas ujung bajunya. “Kenapa lampunya mati?” tanya Hyerim mengalihkan pembicaraan.

“Mungkin karena aku lupa membayar listrik bulan ini dan setahuku batas tanggal pembayarannya adalah hari ini,” jawab Luhan santai seakan penerangan dengan korek yang mati detik ini dan kemudian dinyalakan kembali olehnya adalah sesuatu yang tidak meganggu.

Nan jollyeo, arra. (aku mengantuk tahu)” ucap Hyerim berusaha melepaskan diri dari Luhan namun sekarang pinggangnya ditahan oleh lelaki itu.

Luhan mendekatkan wajah ketelinga kanan Hyerim membuat tubuh keduanya menempel seperti lem, lalu Luhan pun berbisik. “Kita akan tidur bersama, ya ‘tidur’…” Luhan menggantungkan kalimatnya dan menekan kalimat tidur diakhir. “Kamu pasti maukan melakukannya makanya dirimu memutuskan untuk tidak pulang kemarin malam. Malam ini kenapa tidak untuk melakukannya?” Luhan menjauhkan wajahnya dan kentara air wajah Hyerim pucat.

Diiringi senyum miringnya, Luhan mendekatkan wajahnya kewajah Hyerim. Hingga bibir keduanya bersentuhan. Korek yang menjadi penerangan keduanya, dimatikan oleh Luhan dan dilempar ke sembarang tempat. Hyerim hanya memejamkan matanya apalagi ketika bibir Luhan yang menempel dibibirnya mulai bergerak. Entah apa yang terjadi padanya selanjutnya.

─To Be Continued─


Hallooo! LOLOL INI YANG KUMAKSUD ADEGAN RADA NGANU DI FFKU, MAAFKAN OTAK INI YA ALLAH. Dan pas itu aku udah bilangkan ini naik ratingnya jadi PG-17, ya bikaus dari awal emang tahu bakal ada scane ginian /ditimpuk 1 kelurahan/. Oh ya berhubung ada FFku yang sudah diujung tanduk /apa dah bahasanya/ Kayaknya aku mau nerbitin 1 ff baru yang castnya juga Luhan dan ada yang masih proses penulisan ahahah. Jadi di sini ada yang nunggu FF baruku meluncur? /ngarep mode on/

Sama maaafffffff bangettttt aku late update di mari. Makanya aku udpate sekarang

 Komennya jangan lupa yaaa🙂

-Luv, HyeKim

One response to “Beauty and The Beast Chapter 8 [Like Beauty and The Beast] – by HyeKim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s