[Vignette] Love Confession

love-confession

LOVE CONFESSION

{ a prequel of Love Letter?” }

Originally posted in OMGFI & Warm World

story by Atatakai-chan
poster by  Wafer Crush  @ Poster Channel

|| AU, slight!Comedy, Hurt/ComfortSchool Life, slight!Romance — Vignette — ||

.

starring
OMG Jiho as Kim Jiho
and
Block B Zico as Woo Jiho

.

mentioned
OMG Binnie as Bae Yoobin
Seventeen S.Coups as Choi Seungcheol

.

“Selamat pagi!”

“Pagi!”

Suara saling menyapa yang bersahutan terdengar jelas dari arah gerbang sampai ke dalam lorong lantai satu gedung Seoul Music High School. Keceriaan dan kehangatan seperti ini sudah menjadi tradisi bagi para pelajar dan juga pengajar.

Hari ini tahun ajaran baru yang berarti sebelum kelas dimulai akan ada upacara penyambutan murid baru yang selalu diadakan di aula gedung yang terletak di lantai dua. Para murid Seoul Music High School berbondong-bondong menuju ke aula. Menyambut kedatangan anggota keluarga baru memang selalu menyenangkan.

“Selamat pagi para siswa Seoul Music High School. Pada hari yang cerah ini . . .”

Baik para siswa lama maupun siswa baru mendengar kata sambutan yang diberikan oleh kepala sekolah dengan antusias kecuali seorang siswi yang duduk di deretan ketiga dari depan —menandakan dirinya adalah siswi baru karena tempat duduk bagian depan disediakan untuk mereka.

Rambut gadis itu berwarna hitam pekat dan panjangnya melebihi bahu. Seharusnya rambut sepanjang itu diikat seperti yang sudah dijelaskan pada buku panduan tata tertib.

Gadis yang pada seragamnya tertera nametag dengan tulisan Kim Jiho itu menguap. Kepalanya terkantuk-kantuk di tengah-tengah upacara penyambutan. Beruntunglah ia tidak terlalu menarik perhatian yang lainnya, hanya ada tiga sampai empat murid baru yang memerhatikannya.

“. . . Sekali lagi saya ucapkan selamat datang pada kalian semua! Selamat menjalani kehidupan kalian di Seoul Music High School!”

Upacara penyambutan murid baru yang berlangsung selama kurang lebih satu jam itu akhirnya berakhir dan para murid secara tertib berjalan keluar dari aula untuk menuju ke kelas masing-masing.

.

.

.

Kim Jiho melangkahkan kakinya menuju ke ruang kelasnya yang berada di lantai satu. Rasa heran memenuhi benak gadis itu karena angka empat yang dianggap angka kurang bagus itu kerap mengikutinya semenjak ia duduk di bangku sekolah dasar. Kali ini ia adalah anggota kelas 10-4.

“Apa tidak ada angka lain untukku ya?” Ia menghela napas seraya menggeser pintu kelas 10-4 dan melangkah masuk ke dalam kelas.

“JIHOOOOO~!” 

Tiba-tiba saja seorang gadis berlari menghampiri Jiho dan langsung memeluknya. Kedua mata Jiho bekerjap-kerjap. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada gadis yang saat ini tengah memeluk erat dirinya.

Jiho mencoba melepaskan diri dari pelukan gadis itu sambil berujar, “m-maaf? Kau si—”

“Sombong sekali!” Gadis berambut pendek yang tengah memeluknya itu menengadahkan wajah untuk menatapnya, “masa kau lupa aku siapa?”

“B-binnie!? Bae Yoobin!? Ini sungguhan? Astagaaaaaa!” Kali ini gantian Jiho yang penuh semangat memeluk gadis yang ia panggil Binnie tersebut.

Keduanya bersahabat semenjak keduanya berada di bangku sekolah menengah pertama meskipun keduanya hanya sempat berada di kelas yang sama ketika masih berada di tingkat satu.

“Aku tidak tahu kau juga akan bersekolah di sini.” Jiho berujar pada sahabatnya seraya keduanya berjalan menuju ke tempat duduk masing-masing.

Yoobin tersenyum menanggapi ujaran Jiho, “dasar kau tidak peka! Apa belum jelas tujuanku menanyakan SMA pilihanmu pada liburan kemarin?”

Keduanya kemudian melontarkan tawa ringan sambil menatap satu sama lain.

“Istirahat nanti kita makan bersama yuk!”

Jiho mengangguk mantap, “pastinya dong!”



Seperti biasanya pekarangan sekolah selalu ramai pada pagi. Para murid berdatangan dari rumah masing-masing ke sekolah tercinta mereka. Bagaimanapun cuacanya, keadaan selalu ramai.

Kim Jiho berjalan tergesa-gesa memasuki pekarangan sekolah, hari ini ia kebagian untuk piket pagi dan ia khawatir keterlambatannya akan merepotkan rekan-rekan piketnya yang lain.

“Hey kau yang di sana! Tunggu!”

Sudah refleks bagi semua orang untuk menoleh ketika mendengar seseorang mengucapkan hal itu. Dan Jiho pun menoleh karena refleks dan juga feelingnya mengatakan bahwa dirinyalah yang dimaksud.

Beberapa langkah di belakangnya berdiri tiga orang siswa, satu diantaranya berjenis kelamin perempuan, dan secara bersamaan mereka berjalan mendekati Jiho yang masih terpaku di tempat.

“Ada yang bisa saya ba—” Ucap Jiho perlahan. Ekspresi pada wajahnya menunjukkan kebingungan.

Belum selesai siswi baru itu berujar, salah seorang dari tiga siswa tadi —yang perempuan— menarik rambut panjang Jiho cukup kuat sehingga gadis itu meringis kesakitan. “Apa kau tidak membaca buku panduan peraturan atau kau memang dengan sengaja mengabaikan peraturan?!”

“A—adu…Aduh! Lepaskan! S—sakit tahu!”

Kejadian yang tengah terjadi di depan ruang loker lantai satu itu menarik perhatian cukup banyak orang. Para siswa lainnya berkumpul dan entah bagaimana berjejer melingkar di sekitar TKP.

“Rambut yang panjangnya melebihi bahu itu harus diikat. Diikat!” Siswi yang diketahui bernama Lee Sunmi tersebut mendengus setelah selesai berujar, tangannya masih dengan erat menarik rambut Jiho.

Tiga siswa tersebut adalah anggota OSIS dan ketiganya adalah anggota divisi kedisplinan. Mereka dikenal sangat tegas dan tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apapun, termasuk rambut Jiho yang tidak diikat. Padahal, panjangnya baru sedikit saja melebihi bahu.

“Awas! Awas! Ini ada apa pagi-pagi di sini?” Sebuah suara berat yang diyakini milik seorang lelaki terdengar diantara kerumunan.

Jiho mendelik ke arah sumber suara dan jantungnya berdegup kencang begitu netranya bertatapan dengan milik si pemilik suara. Laki-laki itu tingginya kurang lebih seratus delapan-puluh sentimeter. Tubuhnya tegap. Kulitnya cerah dan bibir kemerahannya nampak mencolok.

“Ada apa ini? Kalian tidak sedang melakukan peloncoan ‘kan?” Lelaki yang mengecat rambutnya berwarna pirang itu berjalan semakin dekat kearah keempatnya.

“Siswi baru ini melanggar peratu—”

“Astaga, Sunmi! Sudahlah. Ia kan siswi baru dan lagipula,” Lelaki tersebut berjalan mengelilingi Jiho sebelum berhenti tepat di belakangnya dan menyentuh bahu kedua gadis itu dengan kedua tangan, “lihat! Panjang rambutnya hanya sedikit saja melewati bahu ‘kok.”

“T—ta . . .” Gadis bernama Sunmi itu hendak protes.

“Tidak ada tapi. Pokoknya kau harus belajar untuk tidak terlalu kaku.”

“T-ta—”

“Pokoknya tidak ada tapi! Kalau kau mau protes lakukan nanti ketika rapat OSIS berlangsung.”

Ketiga anggota divisi kedisplinan itu, sambil bersungut-sungut, akhirnya menyerah dan berjalan menjauh. Mereka tidak bisa menentang orang yang memiliki jabatan lebih tinggi daripada mereka.

“Maaf ya,” Lelaki yang dikenal sebagai wakil ketua OSIS tadi kemudian tersenyum ramah sebelum menoleh pada Jiho begitu ketiga anggota divisi kedisiplinan sudah berada jauh dari mereka. “Pada rapat kemarin aku sudah bilang pada ketua untuk segera mengganti mereka. Mereka terlalu kaku, kadang menyebalkan juga jadinya.”

Jiho hanya mengangguk. Ia tidak bisa berkata-kata karena lidahnya kelu. Ia terlalu deg-degan.

“Kau murid baru ya? Nah, selamat datang di Seoul Music High School.”

.

.

.

Yoobin tidak mengedipkan mata sedetikpun saat mendengar cerita dari sahabatnya.

“Kau bilang rambutnya tadi dicat?! OhMyGodKau tahu tidak ‘sih di sekolah ini hanya ada satu siswa yang diizinkan mengecat rambutnya karena ia begitu berprestasi sehingga para guru tidak membiarkannya! Itu pasti Woo Jiho sun—” Yoobin mengecilkan suaranya begitu menyadari pandangan para siswi di kantin teruju kearahnya begitu ia menyebutkan nama Woo Jiho.

“. . . baenim. Tidak salah lagi.” Ujar Yoobin setengah berbisik.

“M-memang dia siapa ‘sih? Kok mereka semua menatap kearahmu ketika kau menyebut namanya tadi?” Tanya Jiho setengah berbisik.

Yoobin menepuk keningnya, “aduh! Ingatanmu itu benar-benar pendek atau bagaimana? Kemarin waktu perjalanan pulang ‘kan sudah aku ceritakan!”

Jiho mencoba mengingat-ingat percakapan yang dilakukannya dengan Yoobin ketika pulang sekolah kemarin dan akhirnya ia ingat. Woo Jiho adalah siswa tingkat dua yang sudah beberapa kali memenangkan penghargaan dan mengharumkan nama Seoul Music High School.

“Menurutmu ada berapa banyak orang ya—”

“KKYAAA! WOO JIHO SUNBAENIM!”

Suara teriakan seorang siswi itu disusul oleh suara teriakan lainnya yang mengelu-elukan nama yang sama, yaitu nama Woo Jiho. Yoobin dan Jiho menoleh dan rupanya si lelaki populer itu tengah berjalan memasuki kantin.

“WAAAH! TAMPANNYA!”

Jiho tertegun melihat Yoobin yang ikut excited seperti para siswi lainnya. Jauh di dalam hati, Jiho juga ingin melakukan hal yang sama tetapi ia tidak bisa karena ia merasa down menyadari ada banyak orang yang mungkin mengalami hal yang sama dengannya —jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang Woo Jiho.

“Aku tidak akan menyerah.” Jiho bergumam.

“Eh?” Yoobin yang sudah berhenti berteriak dan mengagumi sang senior menoleh ke arah Jiho karena mendengar sahabatnya menggumamkan sesuatu.

Jiho tersenyum pada Yoobin dan menggelengkan kepalanya, “tidak. Tidak ada apa-apa.”



“Permisi! Maaf mengganggu sebentar. Jiho! Ada yang ingin a—”

Kim Jiho dan Woo Jiho menoleh. Tak bisa disalahkan bila keduanya merasa dipanggil karena nama keduanya memang sama-sama Jiho. Choi Seungcheol, si kepala divisi kedisplinan yang baru, menghela napas —lagi-lagi kejadian yang sama selalu terulang.

Sudah empat bulan lamanya masa jabatan OSIS baru berlangsung. Semua anggotanya sama hanya jabatan saja yang berubah dan ada tambahan beberapa murid baru, termasuk Kim Jiho dari kelas 10-4 yang menjabat sebagai sekertaris.

“Aku ingin berbicara dengan sekertaris kok, ketua. Kau tidak usah menoleh juga.”

Woo Jiho yang kini sudah menjabat sebagai ketua OSIS mengerenyitkan keningnya, “Lho? Tidak usah menoleh bagaimana? Namaku juga Jiho, tahu! Sudah sewajarnya ‘kan aku menoleh begitu mendengar namaku dipanggil?” Woo Jiho bersungut-sungut, “salahmu juga memanggilnya tidak jelas. Sudah tahu aku dan Jiho sering bersama ketika kegiatan OSIS sedang berlagsung.”

“Iya, iya, maaf, ketua. Ayo, Kim Jiho, ikut aku sebentar.” Ajak Seungcheol.

Setelah beberapa bulan bersekolah di Seoul Music High School, dengan usaha ekstra, akhirnya Kim Jiho berhasil mendekatkan dirinya dengan senior yang disukainya. Tentu saja usaha itu tak akan berhasil tanpa bantuan seorang Bae Yoobin yang secara aktif membantu sahabatnya. Lagipula, berbeda dengan sahabatnya yang jatuh cinta pada sang senior, rasa suka Yoobin hanya sebatas rasa suka sebagai penggemar.

Kedekatan kedua siswa bernama Jiho ini dimulai sejak keduanya mengambil kegiatan klub yang sama. Kemudian keduanya semakin dekat —atau itulah yang dirasakan oleh Kim Jiho— semenjak dirinya aktif menjadi anggota OSIS. Entah bagaimana ceritanya, Woo Jiho merekrutnya sebagai anggotanya dan menjabat sebagai sekertaris.

“Ada apa Seungcheol sunbaenim?” Jiho duduk di sebelah sang kepala divisi kedisiplinan sambil memegangi secarik kertas yang berisi catatan mengenai kebutuhan bagian perdivisi untuk acara Natal yang akan diselenggarakan oleh Seoul Music High School.

“Jadi begini. Setelah melakukan rapat kecil dengan para anggota divisi kedisplinan, sebaiknya nanti kita meminta bantuan para kru keamanan sekolah karena kami yang hanya delapan orang tidak akan sanggup mengawasi seluruh siswa.”

“Oke, baik. Biar aku catat dulu.” Jiho mengeluarkan pensil mekaniknya dan mulai menulis. “Apa ada hal yang lainnya?” Tanya Jiho tanpa menatap Seungcheol.

 Lelaki yang bernama Seungcheol itu diam sampai Jiho menatapnya dan melemparkan tatapan ‘apa apa?’ padanya. “B-begini,” lelaki berbadan cukup besar itu berkata dalam suara pelan. “Apa… apa setelah acara Natal sekolah kau ada kegiatan?”

Kim Jiho tampak berpikir untuk beberapa saat sebelum menjawab, “ada. Kita ‘kan harus bantu-bantu membereskan semuanya. Memangnya ada apa?”

“Ah, ya, benar juga,” Seungcheol kemudian tertawa ringan. “Lalu… Apa setelah itu kau ada acara?” Kembali ia bertanya, masih dalam suara pelan.

Tanpa berpikir lebih panjang, gadis bermarga Kim itu menggelengkan kepala. Tentu saja ia tidak memiliki acara pada malam Natal karena pada normalnya ia akan menghabiskan malam Natal bersama dengan keluarganya.

“Kalau begitu… Apakah kau ma—”

HEY! Lama sekali! Kalian membahas apa ‘sih?” Tiba-tiba saja, Woo Jiho menggebrak meja dekat Seungcheol dan Jiho satunya sedang berbincang.

“…” Seungcheol dalam hati memaki si ketua OSIS baru tersebut.

“Sudah selesai belum?” Tanya Woo Jiho sambil bergantian memandang kedua anggotanya.

Kim Jiho dan Choi Seungcheol mengangguk, “sudah selesai.” Jawab keduanya bersamaan.

“Bagus. Ayo, Jiho. Kita bahas keperluan tiap divisi untuk acara nanti. Rapat hari ini harus selesai secepat mungkin karena kita ada kegiatan klub ‘kan. Ayo.” Woo Jiho menarik pergelangan tangan Jiho yang satunya, mengajak gadis itu untuk ikut bersamanya tanpa menyadari apa yang diperbuatnya membuat debaran jantung Kim Jiho semakin kencang.

 .

.

.

Kegiatan klub tak semenyenangkan dulu. Setelah Jiho menjadi dekat —atau sebut saja akrab— dengan Jiho yang lebih tua, ia sering menjadi bahan bulanan dan juga sindirian anggota klub. Meskipun begitu, ia tak mempunyai rencana untuk menyerah mendekati sang senior.

“Bagaimana rapat tadi?” Yoobin menggeser kursinya agar berdempetan dengan kursi yang sahabatnya duduki.

“Yah, begitulah…” Jiho tersenyum, “semuanya lancar-lancar saja. Kau datang ‘kan ke acara Natal nanti?”

“Tentu saja ‘dong! Aku ingin melihat acara apa yang telah disiapkan oleh sahabatku.” Yoobin balas tersenyum. Ia menyenggol lengan Jiho dengan sikunya.

“Lagipula,” Yoobin kemudian berbisik, “ada informasi kalau Woo Jiho sunbaenim akan melakukan sebuah performance dan aku tak ingin melewatkannya walaupun ia sudah menjadi kekasih sahabatku.”

Kim Jiho tersenyum simpul. Ia ikut membayangkan performance seperti apa yang akan ditampilkan sang senior tapi kemudian ia menyadari ada sesuatu yang mengganjal dari ucapa Yoobin, “tunggu. Kekasih? Apa ma—”

“Kalian pasti sudah jadian kan?” Yoobin kembali menyenggol lengan Jiho. “Kalian sangat sera—”

Wajah Kim Jiho memerah. Baru membayangkan dirinya menjadi pasangan kekasih dengan Woo Jiho sudah membuatnya merasa malu. “Ti—tidak! Kami tidak pacaran! Dasar gila!”

Lho? Yang benar? Kalian sering terlihat berduaan masa tidak pacaran?” Yoobin tercengang mengetahui bahwa perkiraannya salah.

Jiho menutupi wajahnya yang memerah karena malu, “kami tidak pacaran, Binnie~” gumam Jiho setengah berbisik.

“Hm… Jujur saja ya, bagiku kalian tampak seperti sepasang kekasih,” Yoobin menopang dagu, “sempat membuatku iri ‘sih.” Gadis itu melanjutkan sebelum melengguh pelan. “Jujur saja ya, Jiho. Apa menurutmu hubungan kalian sudah bisa dianggap lebih dari sekedar teman?”

Kim Jiho membalas tatapan Bae Yoobin, “entahlah, Binnie… Jujur saja aku merasa sudah semakin dekat dengannya. Kau juga tahu ‘kan waktu itu kami pernah makan bersama di kantin?”

Yoobin mengangguk. Tentu saja gadis itu ingat kejadian yang membuatnya gigit jari saking irinya.

“Apakah normal? Maksudku… Kalau dia juga menyukaiku bukankah seharusnya ia mengajakku berkencan? Makan siang di kantin ‘kan bukan kencan.” Jiho menghela napas.

“Benar juga ‘sih katamu.” Yoobin mengangguk-angguk. “Ah iya! Bagaimana kalau kau nyatakan perasaanmu saja?”

“H-hah?!” Kedua mata Kim Jiho melebar. “Dasar gila! Bagaimana caraku melakukannya? Masa tak ada angin tak ada hujan aku menyatakan perasaanku begitu saja?!”

Yoobin menaik-naikkan kedua alisnya sambil tersenyum penuh arti, “aku punya ide bagus.”

.

.

.

Kegiatan klub sudah berakhir dan para siswa berhamburan keluar dari ruangan klub termasuk Kim Jiho dan juga sahabatnya, Bae Yoobin. Keduanya menuruni tangga menuju ke lantai satu tempat ruang loker mereka berada.

“Hey, Jiho.”

Langkah Jiho dan Yoobin berhenti. Mereka menatap Woo Jiho yang tengah menyusul keduanya dengan sedikit terburu-buru. “Apa kau ada waktu? Sebentar saja.”

Jiho mengangguk.

“…”

“…”

“…”

Yoobin secara bergantian menatap keduanya dengan tatapan antusias.

“Err… Maaf… Bisakah kau beri sedikit privasi untuk kami?”

“O-oh! Maaf! Baiklah, aku ke loker dulu saja.” Yoobin terburu-buru meninggalkan duo Jiho itu untuk berbicara. Dari tempat keduanya berdiri, gadis itu tampak berbelok ke arah ruang loker padahal, yang sebenarnya terjadi adalah ia bersembunyi di balik tembok pertigaan lorong.

“Ketika rapat tadi, apa yang kau dan Seungcheol bicarakan?” Tanya Woo Jiho.

“Kami hanya membicarakan masalah tambahan kru keamanan sekolah untuk membantu divisi kedisplinan.”

“Hanya itu saja?”

Kim Jiho mengangguk sembari memamerkan senyumnya.

“Baguslah kalau begitu. Sekarang aku bisa tenang.” Woo Jiho kemudian terkekeh.

“Choi Seungcheol itu terkenal sebagai seorang playboy. Berhati-hatilah. Jangan terbuai oleh rayuannya.” Lanjut Woo Jiho. “Sampai jumpa besok, Jiho! Hati-hati di jalan ya.” Lelaki bertubuh tinggi itu melambaikan tangannya seraya berjalan mundur menuju ke pintu keluar gedung Seoul Music High School.

“Astagaaaa!” Yoobin yang sudah berada di belakang sahabatnya itu tiba-tiba memekik sembari memberikan tepukan-tepukan ringan pada pundak Jiho, “aku mencium kecemburuan. Assa! Dengan begini sudah pasti kau harus menyatakan perasaanmu, Jiho! Ikuti saja rencana yang aku bicarakan di ruang klub, oke?” gadis berambut pendek itu memekik-mekik girang.



25 Desember . . .

Acara Natal yang diselenggarakan di Seoul Music High School berlangsung meriah. Segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencana dan tentu saja hal tersebut membuat tak hanya para siswa saja tetapi juga para pengajar merasa bahagia sekaligus bangga.

Menurut kepala sekolah, acara Natal tahun ini adalah acara yang tereksekusi paling baik dibandingkan acara-acara Natal sebelumnya. Setelah acara berakhir, para anggota OSIS berkumpul di ruang OSIS yang terletak di lantai ketiga gedung Seoul Music High School —merayakan kesuksesan acara kali ini.

“Terima kasih banyak atas kerja keras kalian semua!”

.

.

.

Kim Jiho menghela napas panjang. Rencanya yang Yoobin rencanakan benar-benar gila dan tentu saja ia melewatkannya karena ia tidak siap. Rencananya adalah agar Jiho menyatakan perasaannya pada sang senior begitu acara selesai setelah mengucapkan selamat atas kesuksesan acara dan pada kenyataannya, setelah acara selesai mereka harus berkumpul di ruang OSIS —Jiho tidak mau menyatakan perasaannya di depan banyak orang karena baik pernyataan cintanya diterima ataupun tidak, kalau melakukannya di depan banyak orang ia hanya akan menjadi bahan pembicaraan.

Kini hampir semua anggota OSIS sudah pulang. Menyisakan beberapa orang di dalam ruang OSIS merapikan ruangan tersebut. Gadis berambut panjang itu sudah bersusah payah pura-pura membereskan barang untuk menunggu yang lainnya pulan dan menyisakan hanya dirinya dan sang senior yang disukainya tetapi, walaupun sudah dua-puluh menit, masih ada anggota OSIS yang tersisa di dalam ruangan. Orang itu adalah Choi Seungcheol —lelaki yang tanpa sepengetahuan Kim Jiho telah menaruh perasaan padanya sejak dua bulan lalu.

Senyum di wajah Kim Jiho mengembang begitu mendengar suara pintu digeser, Ia bergegas membalikkan badannya dengan harapan memang hanya tersisa dirinya dan Jiho yang satunya di dalam ruangan tetapi, yang terjadi adalah Woo Jiho berjalan keluar ruang OSIS dan menyisakan Kim Jiho dan Choi Seungcheol di dalam ruangan.

“J—Jiho sunbaenim! Tunggu!” Jiho berlari keluar ruangan untuk menyusul lelaki yang ia panggil, namun lelaki itu sudah tak terlihat.

“Jiho sunbaenim!” Jiho berlari menuruni tangga.

Dan di belakangnya, Choi Seungcheol berlari menyusul sambil juga memanggilnya, “Jiho! Kim Jiho! Tunggu!”

Mendengar namanya dipanggil, Jiho langsung menoleh dan karena itulah ia melewatkan satu anak tangga dan jatuh terjerembab dengan suara yang cukup keras.

“Jiho! Kau tidak apa-apa?” Seungcheol berlari menghampiri gadis yang jatuh terduduk itu kemudian berjongkok di sampingnya.

“Aduh…” Jiho meringis merasakan rasa sakit pada kakinya, sepertinya terkilir.

“Hey, apakah sakit? Bagian mana yang sakit?” Tanya Seungcheol panik.

Alih-alih menjawab, Jiho malah melemparkan pandangannya keluar jendela, “Jiho sunbaenim…” gumamnya pelan.

“Hey, Kim Jiho. Tatap aku.” Seungcheol memegang erat kedua bahu Jiho dan membuat gadis itu menatapnya tepat di mata.

“Ada yang ingin aku katakan padamu. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat tapi… Yang ingin aku katakan adalah… Aku menyukaimu.”

Jiho hanya diam, memandang ke dalam mata Seungcheol dan ia melihat keseriusan lelaki yang berusia satu tahun lebih tua darinya itu.

“Aku sangat menyukaimu. Aku tidak mengharapkan respon darimu saat ini juga tetapi aku berharap kau akan mengizinkanku untuk lebih sering menemuimu namun bukan dalam artian berkencan. Aku… Aku hanya ingin kau memberikanku kesempatan untuk lebih mengenalmu dan dengan begitupun kau bisa lebih mengenalku.”

Jiho tertegun. Kedua matanya membulat dan ia mengigiti bibir bawahnya. Ia merasa bersalah tak menyadari perasaan orang lain terhadapnya karena ia terlalu sibuk memikirkan Woo Jiho. Ia merasa tidak enak pada Seungcheol yang setelah kalau diingat-ingat selalu memberikan perhatian ekstra padanya. Meskipun begitu, ia tidak ingin menjadi orang jahat dengan memberikan laki-laki itu kesempatan padahal kemungkinannya nihil. Lagipula, bagaimanapun juga yang namanya perasaan itu tidak bisa dipaksakan.

“M-maafkan aku, Seungcheol sunbaenim…” Jiho menunduk, tak berani menatap lelaki yang lebih tua itu.

“Aku benar-benar menghargai perasaanmu… Maafkan aku karena aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku tahu kau hanya memintaku untuk memberikanmu kesempatan tetapi aku tidak bisa melakukan hal itu karena… Karena aku menyukai Woo Jiho sunbaenim!” Jiho memaksakan dirinya untuk berdiri dan kemudian membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Seungcheol —menunjukkan keseriusan permohonan maafnya.

“Baiklah. Aku mengerti.” Sahut Seungcheol seraya perlahan berdiri. Lelaki tersebut kemudian berjalan menuruni tangga meninggalkan Jiho yang masih membungkuk.

Suara langkah kaki Seungcheol yang menuruni tangga terdengar oleh Jiho sehingga gadis itu berhenti membungkuk dan menyandarkan kepalanya pada tepian bingkai jendela. Jemarinya menyusuri kaca jendela sambil ia bergumam, “Jiho sunbae—”

“Hey… Apa kau baik-baik saja?”

Jiho tersentak mendengar suara Jiho yang satunya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap kepada Woo Jiho yang tengah melangkah turun dari lantai tiga.

S—sunbae? Kau belum pulang?”

Woo Jiho berjalan menghampiri Kim Jiho, “aku… Aku belum pulang. Tadi aku ada di atas sedang membenahi lokerku ketika aku mendengarmu memanggilku dari ruang OSIS. Begitu aku ke sana kau su—”

“Kau… Kau mendengar semuanya?” Jiho memotong. Ia merasakan panas pada wajahnya akibat rasa malu dan air mata mulai mengalir dari kedua matanya —rasa malu yang dirasakannya amat dahsyat.

Woo Jiho tidak mengucapkan sepatah katapun untuk beberapa saat.

“Aku—”

“Aku benar-benar minta maaf!” Kim Jiho kembali memotong. “Maafkan aku tapi aku menyu—”

“Aku yang harusnya minta maaf,” kini giliran Woo Jiho yang memotong, “maaf aku tidak bisa membalas perasanmu, Jiho. Aku benar-benar menghargainya tetapi… Tetapi aku sudah memiliki kekasih.”

Kim Jiho tertegun. Ia kemudian menengadahkan wajahnya untuk menatap sang senior, “k-kekasih?”

Woo Jiho tertawa ringan sebagai respon sebelum menambahkan, “ya. Aku memiliki kekasih dan kami sudah menjalani hubungan kami sejak tingkat satu. Kami tidak menghabiskan waktu untuk berduaan di sekolah karena ia masuk kalangan populer dan… well, ia mempunyai banyak penggemar… Karena dialah ratu kecantikan tahun kemarin.”

“O—oh… Baiklah, aku mengerti.” Kini giliran gadis itu yang berkata demikian seraya ia menyeret kakinya yang terasa sakit berjalan menuruni tangga untuk menuju ke lantai satu.

Di belakangnya Woo Jiho menyusul. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.

“Hey… Jiho?”

“Ya?” Sahut Jiho tapi tanpa menoleh.

“… Kita masih tetap teman ‘kan?”

Kim Jiho tersenyum walaupun dalam hatinya ia merasakan rasa pedih yang teramat sangat. Ia memberanikan dirinya untuk menoleh dan menatap lawan bicaranya kemudian memamerkan senyumnya, “baik! Terima kasih, sunbaenim.” Ujarnya lantang —sengaja ia lakukan untuk menyembunyikan perasaannya yang terluka.

“Rumahmu di mana? Ayo aku antar.” Woo Jiho berujar sambil berjalan bersebelahan dengan Kim Jiho. “Tadi suara jatuhmu lumayan dahsyat lho. Sampai terdengar ke lantai tiga.” Lanjutnya lagi sambil tertawa ringan.

“Masa sekeras itu?” Kim Jiho bertanya, tidak percaya dengan ucapan sang senior.

“Aku tidak berbohong,” keduanya berhenti di tempat parkir sepeda dan Jiho yang lebih tua menepuk-nepuk bangku boncengan sepeda, “ayo naik, aku antar.”

“Baiklah.” Kim Jiho tersenyum sebelum duduk di bangku boncengan sepeda. Ia berpegangan erat pada kedua sisi pinggang pemboncengnya begitu sepeda mulai dikayuh.

Rasa sakit yang dirasakan oleh gadis itu perlahan menghilang bersamaan dengan tiupan angin yang ia rasakan menerpa wajahnya —mengeringkan air matanya yang sudah menyurut.

Setidaknya, ia bisa terus berada di dekat orang yang ia kagumi walaupun hanya sebagai teman. Dan lagipula, tak ada penyesalan untuk menyukai lelaki yang memboncengnya karena menurutnya lelaki bermarga Woo itu adalah lelaki yang hebat.

FIN.

4 responses to “[Vignette] Love Confession

  1. ohayou atatakai-chan!
    ehm…kali ini FFnya make ide yang lumayan sering diusung nih, but it’s okay, pengemasanmu masih bagus seperti biasanya^^
    menurutku endingnya udah bisa ketebak sih, dan aku suka, semoga engga ada yang merasa tersakiti sih🙂
    buat FF kali ini…ada dua typo kalo engga salah, coba dicek lagi ya. di bagian awal rapi, tapi menuju ke belakang ada mis-nya^^
    –>Kim Jiho menghela napas panjang. Rencanya yang Yoobin rencanakan benar-benar
    –>Kini hampir semua……payah pura-pura membereskan barang untuk menunggu yang lainnya pulan dan
    keep writting, ne? ganbatte kudasai!😀

  2. Pingback: [Twoshots] From Jiho To Jiho (Part 1) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s