First Crush : Part 3

first-crush.jpg

Credit Belong To @atatakai-chan from posterfanfictiondesign.wordpress.com,

Thanks alot untuk posternya. Keren banget dan aku suka banget!

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

Part 3

“Jadi, apa kriteria kushusnya?” tanyaku pada Hoseok Oppa setelah kami duduk disalah satu café.

“Pesan minum dulu. Jangan terlalu bersemangat.” Katanya. Aku cemberut.

Americano Coffee?” Tanyanya. Aku mengangguk.

“2” Katanya pada pelayan lalu pelayan itu pergi.

“Kau tau coffee favoritku?” Tanyaku. Dia tersenyum dengan PD.

“Apa yang tidak aku tau tentang princessku?” Tanyanya balik. Aku hanya menggeleng kepala.

“Jelaskan tentang kompetisi dancesnya.” Kataku. Dia mengeluarkan selebaran dari tas ranselnya dan menyerahkannya padaku. Aku langsung melihatnya,

“Audisi?” Tanyaku langsung ketika membacanya.

“Nae.Lomba kali ini tidak langsung lomba, menggunakan audisi lebih dulu..” Jelasnya.

“Dan ini bukan lomba individual. Ini lomba kelompok, 2-10 orang.” Lanjutnya.

“Ottae?” Tanyanya. Berkelompok. Sejauh ini yang bisa mengimbangi dancesku hanya satu orang, dan dia sedang duduk didepanku. Masa aku hanya akan sekelompok berdua dengannya.

“Aku tidak akan macam-macam kok. Kau tau aku kan..” Kataya seakan bisa membaca pikiranku.

“Mboya.. Aku tidak bilang apa-apa..” Bantahku.

“Aku bisa menebaknya. Kira-kira, kau memikirkan, bahwa yang memiliki kemampuan dances yang sepadan denganmu hanya aku, tapi rasanya aneh kalau hanya berkelompok berdua denganku kan?” Katanya menebak dengan tepat. Aku hanya menghela nafas dan menggangguk.

“Memang aku pernah macam-macam denganmu? Kenapa kau harus merasa aneh?” Tanyanya.

“Rasanya awkward saja kalau hanya berdua.” Kataku. Americano coffee yang kami pesan datang. Aku bisa melihat uap panas mengepul diatasnya. Aku tidak suka Americano yang terlalu panas. Seperti tidak memiliki rasa.

“Bisa tolong minta es batu?” Tanya Hoseok Oppa. Aku terkejut, Hoseok Oppa dia membaca pikiranku. Pelayan datang dan membawakan es batu ke meja kami. Dia menuangkan beberapa es batu ke dalam gelasku, dan sisanya pada gelasnya.

“Terasa hambar jika terlalu panas. Ya kan?” Dia bertanya. Aku benar-benar tidak mengerti. Aku tidak pernah bilang ini pada siapapun. Bahkan Jimin saja tidak tau.

“Bagaimana bisa?” Aku Tanya pada Hoseok Oppa sementara dia tertawa.

My princess, don’t ever forget. I’m your prince. How can I not know? I’m the only person who know you more than yourself.” Katanya dengan PD.

“Aish..” Kataku sebal ketika aku bertanya serius dan dia menjawabnya dengan bercandaan seperti itu.

“Jadi bagaimana dengan lombanya?” Tanyanya. Aku menyesap sedikit dari Americano ku dan melihatnya kembali.

“Apa tidak apa.. Kalau hanya berdua saja? Kau tidak merasa awkward?” Tanyaku padanya. Dia menyadarkan punggungnya dikursinya dan menatapku.

“Soe Hee.. Kau benar-benar sangat menyukaiku..” Katanya. Hah?

“Kalau tidak, kenapa kau harus merasa awkward jika hanya berdua denganku.” Katanya. Aku mengerjapkan mataku. Benar juga. Kenapa aku harus merasa awkward dengannya?

I’m not in love with you.” Kataku padanya penuh penekanan dan dia tersenyum.

Then the problem is solved!” Katanya lalu mengeluarkan selembar kertas dan bolpoint. Dia mengisi formulir identitasnya di bawah formulir identitasku.

“Kau sudah mengisi formulir identitasku?” Tanyaku. Dia mengangguk.

“Dari mana kau dapatkan semua dataku? Kau menguntitku?” Tanyaku curiga. Dia berhenti dan menatapku.

“Aku tidak menguntit mu! Aku memang tau itu semua!” Katanya menegaskan lalu kembali menulis.

 

Kami berdua baru saja keluar dari café.

“Kau tidak ke Underground?” Tanyaku.

“Wae? Kau mau menemaniku kesana?” Tanyanya balik.

“Lupakan.” Kataku malas meladeninya. Dia tertawa kecil.

“Kau mau ke Underground?” Tanyanya.

“Tidak tau.” Jawabku asal.

“Jangan kesana. Pulanglah. Istirahat.” Katanya.

“Jangan bertingkah sok keren, sangat tidak cocok denganmu.” Kataku. Dia hanay tersenyum lebar.

“Pikirkan Jimin-mu itu. Kalian bertengkar.” Katanya menyadarkanku tentang Jimin.

“Kau perhatian juga dengan Jimin meskipun dia tidak menyukaimu.” Kataku.

“Dia bukannya tidak menyukaiku. Dia hanya menyukaimu karena itu dia protektif padamu. Dan lagi, kalian bertengkar karena aku mengajak Princess kesayanganku keluar.” Katanya. Aku tercengang. Jimin? Menyukaiku?

“Huh.. Jimin pabo sih.. Dia harusnya tau kau itu princess ku.” Hoseok Oppa melanjutkan.

“Jimin, tidak menyukaiku. Kami bersahabat.” Kataku. Hoseok Oppa mengelus kepalaku singkat.

“Jangan terlalu bodoh. Hanya orang bodoh yang tidak bisa membedakan kasih sayang dari sahabat dan dari seorang yang mencintai. Sadar.” Katanya. Aku terdiam. Tidak mungkin kan?

”Aku pulang dulu Oppa.” Kataku pada Hoseok Oppa dengan pikiran masih melayang pada Jimin. Apa benar Jimin menyukaiku.

“Araseo. Perlu kuantar?” Tanyanya. Aku menggeleng.

“Gwencana.” Kataku lalu pergi dari sana sambil memikirkan baik-baik kata-kata Hoseok Oppa.

 

Paginya aku terbangun, seperti biasa aku menyiapkan diriku ke kantor. Aku bangun terlalu pagi. Aku melewatkan sarapanku.

“Aku akan makan dikantor.” Kataku pada diriku sendiri dan memasang sepatuku. Aku bisa melihat dari jendela apartementku. Itu mobil Jimin. Dia masih dimobil. Aku turun dan tidak menghiraukannya. Ketika aku berjalan keluar dari apartement ku aku merasakan hpku bergetar.

“Hoseok Oppa?” Tanyaku pada diriku sendiri ketika aku melihat sebuah pesan darinya. Aku berjalan sambil melihat pesan darinya.

HS : ‘Sudah sarapan?’

SH : ‘Belum. Nanti dikantor. Ada apa?’

HS : ‘Biasanya kau sarapan dengan Jimin kan? Gwencana?’

Aku terdiam. Aku merindukan Jimin, dia ada dimanapun. Tapi, kalau kami sedang bertengkar seperti ini, aku tidak bisa datang padanya. Sekali-kali dia harus memahami ku juga.

SH : ‘Aku rasa. Aku baik-baik saja.’

HS : ‘Jika kau bilang kau baik-baik saja artinya kau tidak.’

HS ; ‘Aku tidak akan mengajakmu keluar berdua lagi. Baikanlah dengan Jimin. Kalian bestfriend. Aku tidak ingin mengacaukan hubungan kalian.’

SH : ‘Aku tau apa yang aku lakukan. Tenanglah.’

HS : ‘Okay, call me if it’s going too far. I’ll be there in no time.’

SH : ‘OK’

Langkahku terhenti ketika ada seseorang berdiri didepanku. Jimin.

“Aku tidak sekuat itu untuk seperti ini denganmu..” Katanya. Aku menghela nafas panjang.

“Miane..” Katanya.

“Aku hanya ingin kau memberiku privasi. Itu saja Jim..” Kataku.

“Araseo. Aku hanya merasa tidak nyaman jika kau keluar dengan Hoseok.Dia terlihat tidak baik.” Katanya.

“Aku tidak terlalu sering keluar dengannya. Kau tau aku menyukai dances.. Dan dia adalah partner dancesku. Aku akan ikut sebuah kompetisi dances jadi.. Mungkin akhir-akhir ini aku akan sering bertemu dengannya.” Jelasku. Dia menghela nafas panjang.

“Jika itu maumu..” Katanya. Aku tersenyum. Akhirnya dia mau mencoba memahamiku.

“Mm, jika boleh, aku ingin melihat latihan dances mu dan tentunya dikompetisi nanti..” Kata Jimin ketika kami masuk kedalam mobil.

“Kami masih belum memikirkan konsep keseluruhannya. Mungkin seiring berjalannya waktu. Tapi kalau kau mau ikut melihat kami latihan. Kami akan senang.” Kataku.

“Kelihatannya dia tidak akan senang.” Kata Jimin.

“Dia tidak seperti yang kau pikirkan.” Kataku.

“Jinjja? Kita liat saja bagaimana nanti..” Katanya.

 

“Jiyeon datang ke kantor menunggu di kantormu Jim” Kata Seojoon ketika kami sampai.

“Sepagi ini?” Tanya Jimin. Dia langsung membuka lebar-lebar pintu kantornya.

“Jiyeon-ah. Apa yang kau lakukan disini?!” Katanya langsung.

“Pagi Oppa! Aku ingin melihatmu. Aku sangat merindukanmu!” Kata Jiyeon.

“Aku harus bilang berapa kali padamu Jiyeon-ah. Kenapa kamu tidak mengerti?” Kata Jimin.

“Beberapa hari yang lalu aku mendengar dari Seojoon Oppa, kalau kau menyukai wanita lain.” Kata Jiyeon.

“Nae. Itu benar.” Jawab Jimin.

“Karena itu, pergilah. Carilah orang lain yang bisa kau ganggu.” Kata Jimin to the point.

“Karena itu, aku tidak akan pergi.” Katanya.

“Aku sungguh-sungguh mencintaimu Oppa dan aku percaya, aku bisa membuatmu mencintaiku seperti kau mencintai wanita itu.” Lanjutnya. Jimin berbalik menatap Seojoon.

“Miane Seojoon-ah.” Katanya pada Seojoon. Ekspresi Seojoon langsung berubah. Jimin memegang tangan Jiyeon dan menyeretnya keluar,

“Park Jiyeon. Aku sudah bilang untuk pergi.” Katanya sambil menyeret Jiyeon keluar.

“Oppa! Lepaskan ini sakit!” Katanya merintih karena pergelangannya dipegang erat oleh Jimin. Aku berjalan mencoba menghentikan Jimin. Seojoon pun langsung mencoba menghentikan hal itu.

“Jimin-ah. Dia adikku.” Kata Seojoon mencoba menenangkan Jimin. Tapi, Jimin tidak mendengarkannya dan terus menyeretnya keluar.

“Jim! Kau melukai Jiyeon!” Kataku. Jimin berhenti dan melepaskan Jiyeon dengan kasar.

“Kalau kalian berdua tidak mau aku menyakiti Jiyeon, keluarkan dia dari sini!! Kalian berdua tau aku tidak menyukainya!!” Kata Jimin kehabisan kesabaran.

“Jiyeon-ah, pulanglah dulu untuk sekarang.” Kata Seojoon pada Jiyeon.

“Jim.. Dia masih 19 tahun. Kau tidak bisa seperti ini padanya.” Kataku selembut mungkin pada Jimin. Dia memejamkan matanya mencoba menenangkan dirinya.

“Araseo Soe Hee-ah.” Katanya akhirnya.

“Jiyeon. Mian. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu. Aku hanya tidak menyukaimu. Jadi tolong jangan ganggu aku.” Kata Jimin pada Jiyeon. Jiyeon menatap Jimin sesaat lalu melihat kearahku. Seketika tatapannya berubah nanar. Dia menatap Seojoon sesaat lalu menunduk, aku bisa melihat air mata turun dari pipinya.

“Jiyeon? Wae?” Tanyaku langsung. Dia menghapus air matanya dengan cepat dan bibirnya seketika membentuk senyuman. Dia datang menghampiri Jimin. Dia mengangkat tangannya meraih wajah Jimin, tapi Jimin mundur. Dia tersenyum sesaat dan diturunkannya tangannya.

“Park Jimin. Aku tidak pernah bermain-main dengan kata-kataku. Aku benar-benar mencintaimu. Tidak sedikitpun aku bermain-main.” Katanya dengan nada serius.

“Jiyeon, kau sendiri tau-” kata-kata Jimin tidak selesai Jiyeon mengangkat tangannya mengisyaratkan Jimin untuk diam.

“Aku tidak perlu mendengarkan itu lagi dari mu. Aku sudah cukup.” Katanya dengan nada yang lebih serius lagi. Sesaat aku bisa melihat Jimin benar-benar terdiam. Jiyeon berjalan dan mengambil tasnya yang terjatuh.

“Seojoon Oppa. Aku pulang duluan. Maaf untuk kekacauan yang aku buat.” Katanya lalu membungkuk padaku dan Jimin, dan meninggalkan kami disana. Sesaat setelah Jiyeon masuk kedalam lift Seojoon langsung memukul tembok disebelah Jimin.

“Hampir saja.” Katanya.

“Seojoon-ah miane.” Kata Jimin. Aku berjalan keluar menyusul Jiyeon. Aku menemukan Jiyeon baru saja keluar dari lobby. Aku berlari keluar menyusulnya.

“Jiyeon-ah.” Panggilku.

“Eonni?” Tanyanya.

“Gwencana?” Tanyaku.

“Apa aku terlihat gwencana?” Tanyanya balik. Aku langsung memeluknya erat-erat. Dia langsung menangis sejadi-jadinya.

 

“Jiyeon-ah, kau benar-benar kuat.. Aku sangat bangga kau bisa menahan tangismu didalam sana.” Kataku pada Jiyeon ketika kami sudah duduk disalah satu bangku ditaman.

“Eonni, kau tau, aku menangis seperti itu bukan karena Jimin Oppa.” Kata Jiyeon tiba-tiba.

“Karena aku tau dia benar-benar menyukai orang lain. Awalnya, aku kira dia hanya berbohong agar aku pergi.” Katanya.

“Aku sendiri tidak menyangka Jimin menyukai seseorang.” Kataku. Jiyeon hanya tersenyum pahit.

“Kau tau Eonni.. Hanya dengan satu hari saja aku bisa tau siapa orang itu.” Katanya.

“Tidak usah kau pikirkan Jiyeon-ah.” Kataku mencoba menghiburnya.

“Ini menyakitkan. Bagian yang paling menyakitkan.” Katanya dengan senyuman pahit, seperti tidak menghiraukan omonganku

“Kau tidak perlu mengatakan apapun yang tidak ingin kau katakan Jiyeon-ah.” Kataku.

“Bagian yang paling menyakitkan bukan karena aku tau dengan pasti siapa wanita itu.. Tapi.. Karena aku tau. Eonniku sendirilah wanita itu.” Kata Jiyeon. Aku tercengang. Aku? Kenapa semua orang bilang Jimin menyukaiku?

 

Dear diary,

Hoseok Oppa dan sekarang Jiyeon. Apa memang.. Benar?

                                                                                               

                                                27 agustus 2016,

Kim Soe Hee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s