#4 All I Ask

ryeowook_1453339505_ryeowook3

Title     : All I Ask

Genre  : Romance

Main Cast: Ariel Lau | Lu Han | Bae Sa Hyun | Oh Se Hun as EXO Sehun

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

The fiction by Nidhyun (@nidariahs)

 

***

“Tumben kau membuatkan mie untukku, biasanya kau akan mengomeliku tentang makanan sehat dan tidak sehat,” sindir Ariel sambil menatap bingung Luhan. Selama ini Luhan tidak pernah fleksibel terhadap makanan-makanan yang menurutnya tidak baik untuk tubuh manusia, dan sayangnya Ariel adalah manusia yang menyukai makanan cepat saji. Dan mie adalah makanan favoritnya.

Luhan tersenyum kecil dan tetap meletakkan mie yang dibuatnya erdasarkan resep di internet. Entah bagaimana rasanya, Luhan jarang sekali memasak sesuatu bahkan untuk dirinya, jadi ia tidak berani untuk menjamin rasa yang akan dihasilkan oleh tangannya sendiri.

“Ini hari spesial, jadi aku harus membuat sesuatu yang berbeda,” sahut Luhan sambil tetap tersenyum ke arah Ariel –dan berhasil membuat Ariel salah tingkah karena terus diperhatikan oleh Luhan.

“Kenapa melihatku begitu? Kau terlihat seperti pria mesum,” Ariel buru-buru mengalihkan pandangan matanya dan mencicipi mie yang dibuat Luhan. Ah…benar, rasanya tidak seperti yang dibayangkannya. Ariel saja yang tidak sering memasak masih merasa masakannya jauh lebih baik dari masakan Luhan.

“Bagaimana rasanya?” Luhan yang duduk berhadapan dengan Ariel menatap Ariel penasaran. Ia tidak mengharapkan pujian, tapi setidaknya ia bangga karena sudah membuatkan sesuatu untuk Ariel.

“Kau tetap lebih cocok memegang pisau bedah,” kata ariel jujur sambil kembali memasukkan mie buatan Luhan ke dalam mulutnya.

Luhan meringis pelan, “Tidak bisa ya kau pura-pura berkata itu enak?” Luhan mulai cemberut dan ikut mencicipi masakannya sendiri. Dan…baiklah, rasanya memang tidak terlalu enak, tapi setidaknya rasanya tidak buruk juga.

Ariel tersenyum dan kembali memamakan mie-nya, “Memasak itu lebih cocok dilakukan perempuan, kau benar-benar lebih cocok memegang pisau bedah dan memberi kabar baik untuk keluarga pasien,”

“Jadi kau akan sering-sering memasak untukku?”

“Tidak juga. Untuk saat ini aku sibuk dan aku malas harus bolak-balik ke rumah sakit hanya untuk memberimu makanan.”

Luhan mendengus panjang, “Tega sekali,” Luhan semakin cemberut saat Ariel menertawakannya, entah apa yang membuatnya merasa lucu, tapi setidaknya Luhan senang bisa melihat Ariel kembali tertawa,”Oya. Ganti password apartemenmu. Apa-apaan itu kau memakai tanggal lahir Sehun, memangnya Sehun siapamu?”

Ariel berhenti sejenak sambil memperhatikan wajah Luhan. Apa katanya? Password apartemen? Tanggal lahir Sehun? Ariel sedikit melirik pintu apartemennya, dan…”Oh? Sehun lahir bulan April?” Ariel pun terkikik kecil. Yeah, saat meminta tolong pada Sehun untuk mengatur apartemennya, Ariel memang membiarkan Sehun menentukan password pintunya. Tapi ia sama sekali tidak tahu jika Sehun akan memilih tanggal lahirnya.

“Hei, aku bukan ingin mendengar jawaban seperti itu, ganti password apartemenmu.”

Ariel tertawa melihat wajah Luhan yang mirip seperti anak kecil yang sedang merajuk. Umurnya boleh saja hampir berkepala tiga, tapi tingkahnya tidak bebeda jauh dengan Ariel yang baru berkepala dua.

“Lalu jawaban seperti apa yang kau mau?”

“Aku ingin kau…” Luhan terlihat berpikir, kemudian ia menggeleng dan menatap mata Ariel kembali, “Ya apa saja asal jangan tanggal lahirnya.”

Ariel pun tertawa dan memakan mie-nya lagi, “Ya…ya…akan kupikirkan.”

“Tapi…”

Luhan mengangkat kepalanya dan menunggu kelanjutan ucapan Ariel. Tapi hingga dua menit kemudian, Ariel justru tetap menunduk dan mengaduk-aduk mangkuknya, sama sekali tidakbersuara.

“Tapi apa?”

Ariel mengangkat kepalanya dan menatap Luhan ragu. Yeah…ini agak konyol sih kedengarannya, tapi Ariel benar-benar ingin meminta Luhan untuk menjauhi Sahyun dan berkata bahwa ia tidak suka melihat Sahyun berada dimana-mana saat mataAriel melihat Luhan. Tapi di sisi lain, Ariel juga pernah berada di posisi Sahyun, bersahabat dengan seorang pria yang sudah memiliki kekasih. Dan Ariel merasa tidak adil saja sih, hanya karena teman lelakinya memiliki kekasih lantas Ariel harus memberikan jarak yang terbentang jelas dengan temannya.

Tapi…ternyata kondisi seperti itu tidak simpel. Ariel akhirnya tahu rasa khawatir, cemburu, tidak senang, dan tidak enak secara bersamaan ketika melihat Luhan dengan Sahyun. Well, mereka bersahabat dan Ariel sangat percaya Luhan takkan mengkhianatinya hanya karena demi wanita itu. Tapi tetap saja, saat mereka bertengkar, Luhan justru bersama dengan wanita lain…rasanya benar-benar buruk.

“Kau baik-baik saja?” tanya Luhan sambil menyentuh tangan Ariel.

Ariel menggigit lidahnya, semoga saja ia tidak berdebat lagi dengan Luhan hanya karena pembahasan kekanakan ini, “Aku…melihatmu dengan Sahyun di taman,”

Refleks, Luhan menarik tangannya. Ia merasa gugup seketika ketika ketahuan kembali bersama dengan Sahyun –padahal ia sama sekali tidak selingkuh dengan Sahyun, “I-itu…” Luhan menggaruk kepalanya. Dulu, jika mantan pacarnya mempermasalahkan kedekaannya bersama perempuan lain, Luhan justru merasa tidak terima dan tersinggung, tapi saat Ariel yang mengatakannya, Luhan justru merasa…ia benar-benar buruk. Entah mengapa.

“Maaf, aku tahu itu kekanakan. Tapi…yeah, aku merasa agak…” Ariel tidak melanjutkan ucapannya. Ternyata menjadi pribadi yang terbuka bukan perkara yang mudah untuk Ariel. Ia selalu merasa buruk dan buruk. Dan ia merasa lebih buruk lagi karena melakukan hal-hal bodoh seperti ini.

“Maaf…” kali ini Luhan yang bersuara, “Aku tidak enak menolak ajakannya untuk pergi. Tapi…lain kali…”

“Tidak apa-apa, kok. Aku saja yang…berlebihan.” Ariel mengedikkan bahu dan kembali memakan mie-nya. Ternyata selama appun hubungannya dengan Luhan sama sekali belum bisa menghilangkan rasa canggung semacam ini.

Luhan mendengus panjang. Ia sebenarnya ingin berkata bahwa ia akan menghindari Sahyun dan memintanya agar tidak terlal sering meneuinya –tapi itu bukan hal mudah. Percayalah, Sahyun dan dirinya benar-benar sepasang sahabat, dan Luhan juga takkan tega membiarkan gadis itu sendirian menanggung kesulitannya.

“Dengar…” Luhan pun menarik tangan Ariel dan menggenggamnya erat, “Kau harus tahu satu hal, aku hanya mencintaimu dan sama sekali tidak berpikir untuk meninggalkanmu demi siapapun. Jadi…kumohon, percayalah padaku.”

Kemudian Ariel pun ikut menggenggam tangan Luhan dan mengangguk pelan, “Aku…percaya padamu dan akan selalu berusaha untuk percaya padamu.”

 

***

 

Ariel baru saja selesai mandi –dan entah mengapa ia justru berkali-kali memperhatikan bayangan dirinya di cermin. Konyol, bukan? Hanya karena Luhan berkata ia akan menginap disini, Ariel justru memikirkannya selama mandi dan justru terus termagnet oleh cermin –mematut dirinya dan menilai apakah ada yang kurang dalam penampilannya.

Ariel pasti sudah gila.

Setelah yakin dengan pakaiannya –sebuah kaos longgar berwarna putih dengan tulisan ‘I love Bali’ dan celana panjang belel, Ariel pun membuka pintu kamarnya dan mengintip Luhan yang…benar-benar. Apakah pemuda itu datang ke apartemennya untuk mengerjakan tugasnya dari rumah sakit?

“Apa yang sedang kau baca?” tanya Ariel yang tidak menyadari perubahan nada suaranya, senada dengan moodnya yang turun drastis. Padahal tadi ia sempat terpesona dengan penampilan Luhan –kaos hitam dengan celana selutut dan rambut basah yang berantakkan yang membuatnya terlihat sangat…seksi? Tapi setela melhatnya membawa beberapa lembar kertas yang Ariel yakini adalah pekerjaannya, Ariel mendadak sebal. Tidak Sahyun tidak pekerjaannya, Luhan benar-benar bukan miliknya seutuhnya.

Luhan melirik Ariel yang aru saja datang dan melemparkan tubuhnya ke atas sofa, kemudian ia pun menyalakan TV dan menaikkan volumenya. Luhan berjengit, Ariel baik-baik saja, kan? Padahal dia baru saja selesai mandi, tapi wajahnya terlihat agak kusut.

“Lusa aku akan mengikuti seminar. Aku mencari tahu beberapa materi yang akan disampaikan nanti,” jelasnya sambil menggeser duduknya mendekat ke arah Ariel, “Kenapa kau cemberut, hmm?” Luhan pun menarik dagu Ariel hingga mereka saling bertatapan.

“Tidak ada. Kau baca lagi saja, aku ingin menonton mereka saja,” ucapnya sambil menepis tangan Luhan. Ia kesal pada Luhan. Tidak. Bukan pada Luhan, mungkin. Dia sudah sangat terbiasa dengan keadaan menyebalkan semacam ini, ia hanya tidak terlalu suka saja saat Luhan ada di dekatnya ternyata masih ada saja yang menarik perhatiannya.

“Eyy…kau marah.” Goda Luhan yang mmebuat Ariel mendelik tajam.

“Tidak. Kenapa aku harus marah?”

Luhan semakin gencar menggoda Ariel. Ia pun mendekati wajahnya dan mengecup ringan bibir gadis itu. Wah, sudah lama sekali ia tidak melewatkan waktu khusus berdua seperti ini. Biasanya, mereka hanya memiliki waktu sedikit untuk dihabiskan. Mengobrol mengenai hal-hal kecil, lalu mereka berpisah begitu saja.

“Wah…aku benar-benar merasakan dadaku hampir meledak. Aku benar-benar merindukanmu.” Ucap Luhan sebelum kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Ariel, kali ini lebih dalam dan lebih…intim.

“Besok, aku ingin membawamu ke suatu tempat,” ucap Luhan setelah melepaskan ciuman mereka. Luhan bahkan tidak sadar posisinya kini setengah menindih tubuh Ariel. Dan…yeah, jika ia mengikuti naluri prianyaa, ia mungkin sudah melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar berciuman.

Arie menatap Luhan bingung –juga ragu, “Kemana? Tumben kau ingin mengajakku pergi ke luar? Kau tidak ada jadwal operasi?” tanya lagi sambil mengusap pundak Luhan dan berakhir dengan menyentuh rahang Luhan.

Luhan menggeleng pelan. Ia sudah berjanji pada dirinya untuk lebih banyak meluangkan waktunya bersama Ariel. Ia harus bisa membantu Ariel keluar dari masalahnya –harus, “Aku sudah meminta perawat agar menghapus namaku dari operasi apapun besok,” ucap Luhan sebelum mengecup kelopak mata Ariel, “Dan aku sedikit menyogok mereka.” Ucap Luhan lagi yang disusul cengiran kekanakannya.

“Aku tidak menyangka kau ternyata seorang tukang sogok.”

“Aku menyogok mereka untuk kebaikan kita.”

 

***

 

Ariel pikir, Luhan akan membawanya ke wahana permainan, taman bermain misalnya? Atau taman biasa pun tidak apa-apa. Yang penting, mereka berdua bisa pergi berjalan-jalan bersama. Tapi setelah menanyakan kepastian kemana mereka akan pergi, Luhan justru menjawabnya dengan sebuah nama, “Aku ingin memperkenalkanmu pada Joohyun.” Katanya sambil menuangkan air putih ke dalam gelasnya. Luhan pun berjalan sambil meminum air putihnya, kemudian duduk di meja makan sambil menunggu Ariel menyelesaikan nasi goreng untuk sarapan mereka berdua.

“Itu siapa?” tanya Ariel mulai tidak tertarik. Kedengarannya nama perempuan. Dan meskipun tidak ingin mengakuinya, tapi sebenarnya Ariel kesal dengan fakta liar di kepalanya : Luhan memiliki banyak kenalan perempuan.

“Kau lihat saja nanti,” kata Luhan lagi, acuh tak acuh. Kemudian ia berjalan mendekat pada sebuah rak gantung. Ia tidak tahu kenapa penasaran dengan rak yang satu itu, tapi akhirnya ia tetap mendekatinya dan membukanya.

“Kenapa kau mengoleksi ini semua jika kau tidak meminumnya?” suara datar Luhan benar-benar mengagetkan Ariel.ia langsung berlari ke arah Luhan dan menutup rak tersebut. Matanya memanah mata Luhan, sama sekali tidak ramah. Ia benar-benar tidak suka Luhan membuka raknya tadi.

Luhan tahu Ariel akan bereaksi seperti ini. Dan sebisa mungkin ia tidak menyentuh titik kemarahan Ariel, atau semua rencananya akan kacau. Luhan besikap biasa saja dan kembali ke meja makan, seolah anti depresan yang jumlahnya ada tiga botol itu bukan sesuatu yang mengejutkannya. Padahal, ia benar-benar terkejut.

“Aku sebenarnya sudah menemui dokter Park,” jujur Luhan yang membuat tubuh Ariel sempat menegang. Tapi ia menjawab apa-apa dan tetap meletakkan piring berisi nasi goreng itu ke hadapan Luhan.

“Jadi, kau menemui si telinga lebar itu? Mulutnya masih baik-baik saja, kan? Aku khawatir mulutnya robek karena dia terlalu banyak membual dan tersenyum,” sinis Ariel dengan tawa hambarnya. Ia tidak ingat kapan tepatnya ia menemui psikiaternya, tapi itu skeitar dua minggu lalu. Setelah itu, Ariel tidak menemui atau menghubunginya lagi.

“Aku cemburu dia lebih banyak tahu dibandingkan diriku,” ujar Luhan sambil memakan nasi gorengnya. Enak. Benar-benar lezat. Meskipun Ariel terlihat paling ant terhadap dapur, tapi jika diasah, gadis itu memiliki bakat untuk memasak.

Ariel mendengus geli, “Bukankah seharusnya dokter menjaga privasi pasiennya, ya? Sepertinya si telinga lebar itu sudah melanggar etika kedokteran.”

“Aku kan walimu, jadi dia membantuku,” Luhan mencoba membela diri. Ucapan Ariel mendengung tajam dan membuatnya cukup sakit hati untuk alasan yang tidak jelas.

Ariel menghela napas berat, tapi ia tidak mengatakan apapun. Ia memilih untuk diam sambil memakan nasi gorengnya. Luhan selalu berhasilmengubah moodnya. Ia tidak ingin membahas masalah ini, dan Luhan justru dnegan sengaja membahasnya secara terang-terangan. Membuatnya ingin menangis tanpa sebab.

“Kau tahu? Berkatmu, aku jadi ingin dokter yang sesungguhnya…” Luhan mencoba memecah keheningan tanpa menatap mata Ariel –meskipun ia tahu Ariel mengangkat kepalanya dan menatap Luhan penasaran.

“Aku tidak pernah begitu ramah pada pasien, aku akan emarahi pasien jika mereka tidak mengikuti intruksiku. Aku selalu terkesan dingin dan bersikap easy-going hanya di momen-momen tertentu saja. Tapi melihat dokter Park itu bicara, aku pikir dia selalu berhasil menyentuh hati tiap pasiennya,” Luhan memutar bola matanya ke arah Ariel, “Mungkin itu sebabnya aku tak pernah berhasil membuatmu terbuka padaku. Aku tidak memiliki sisi hangat seperti dokter Park, iya kan?” Luhan pun tersenyum kecil dan kembali menatap piringnya, “Tapi…berkatmu, aku pikir aku harus mengubah sikapku. Bukan hanya bersikap lebih hangat padamu, tapi pada semua pasien. Menjadi dokter yang baik.”

Ariel tidak tahu apa maksud perkataan Luhan, tapi ia tidak mau ambil pusing dan memilih untuk melanjutkan sarapannya. Dan berharap Luhan tidak membawanya ke tempat aneh dan menyebalkan.

Dan…di sisi lain, Luhan harap, rencananya untuk memperkenalkan Ariel pada komunitas yang memiliki masalah persis seperti Ariel, bisa membantunya walau hanya sedikit.

 

***

 

20160901 AM0016

2 responses to “#4 All I Ask

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s