[1.2] Daddy’s Problem

Father and Daughter Playing Together at the Beach at Sunset

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Chanyeol, Baekhyun, Suho, and EXO children (OC) | Fluff & Family | General

“Dad, there’s no one who can compare to you.”

-oOo-

Chanyeol’s Problem

Chanyeol itu pria kuat. Dia bahkan bisa membuka tutup botol menggunakan giginya yang besar-besar, mengangkat dua kardus susu dengan satu tangan, dan terjaga semalam suntuk demi menjaga gadis kecilnya yang sedang terkena demam. Namun, jangan coba-coba untuk mengungkit soal satu hal. Dia bakal jadi sangat sensitif dan mudah meletup-letup.

Apakah hal itu?

Sebentar, agaknya ini konyol. Begini, Chanyeol seharusnya lebih bijaksana dengan tak memikirkan perkara sederhana seperti ini. Toh, gadis mungilnya itu masih berusia delapan tahun. Yang terjadi malah sebaliknya, Chanyeol benar-benar sedang pegal hati.

Oh, lihatlah paras kusutnya yang tertimbun tumpukan bantal. Tingkah kekanakan yang dipamerkan Chanyeol jika dirinya sedang kesal.

“Daddy, ayo main.” Desak gadis bersurai hitam dan mengenakan atasan kuning, jangan lupakan bawahan hijau miliknya menambahkan kesan cantik yang kentara.

Chanyeol malah bergulung-gulung tanpa mengindahkan putrinya.

“Daddy, jangan tidur. Ini masih sore. Ayo main!” Si gadis tetap bekerja keras untuk menarik selimut yang membalut tubuh ayahnya, hingga menyerupai kepompong.

“Sue, Daddy sedang tidak mood untuk main denganmu. Daddy kesal dengan Sue.” Gumam Chanyeol, kali ini kepalanya menyembul dan memperlihatkan surai hitamnya yang berantakan.

Sue cemberut. Bibirnya ia majukan beberapa milimeter untuk menduplikat apa yang dilakukan oleh ayahnya. “Sue ‘kan sudah bilang kalau Sue tadi bercanda.” Hibur si gadis pada Chanyeol yang mencebik. Ayahnya lantas terduduk di ranjang, menatap Sue dengan mata yang membola.

“Tapi Daddy tadi mendengar dengan jelas, kalau Sue berkata, Paman Baekhyun lebih tampan daripada Daddy.” Gerutu Chanyeol, amat sangat kekanakan.

Sue melipat tangan di depan dada. “Sudah Sue bilang, Daddy lebih tampan, kok.” Sue menepuk bahu Chanyeol beberapa kali, setelahnya memunculkan lekukan bibir membentuk senyum lebar. “Well, walaupun kadang-kadang saja, sih.”

“Sue…”

Sue menyeringai, lucu. “Maaf Daddy, tapi kata Mommy, Sue tidak boleh bohong.” Surainya berjungkit naik turun saat ia melompat-lompat di ranjang, tak mengacuhkan Chanyeol yang merana akibat tidak bisa menerima kenyataan. Putrinya lebih memilih Baekhyun sebagai laki-laki paling rupawan di dunia.

-oOo-

Baekhyun’s Problem

Baekhyun sedang menggerutu di dalam hati. Ia mengutuk siapa saja yang mengawali gagasan terciptanya rumah hantu. Lebih parahnya lagi, pria bertubuh standar itu terjebak di antara dua pilihan. Pertama, Baekhyun ingin sekali memiliki citra sebagai ayah perkasa yang tidak takut pada hal apa pun. Di sisi lain, nyalinya ciut dan dirinya yakin bahwa masuk ke rumah hantu tidak baik untuk kesehatan jantung.

“Ayo, Daddy! Kita masuk.” Seruan itu pun melemparkan Baekhyun pada fakta, jika dia sedang berada tepat di depan pintu wahana yang penuh kengerian.

Baekhyun menolehkan kepalanya untuk bersitatap dengan wanita yang sedari tadi terkikik. Wanita kurang ajar yang kebetulan istrinya itu, melejitkan bahu, tanda bahwa tak bisa memberikan pertolongan.

“Vernon ingin masuk bersama ayahnya yang jagoan, Sayang. Bukan ibunya yang lembut.” Ujar wanita campuran Amerika dan Korea itu pada si suami yang rautnya memucat.

Si anak laki-laki bersurai coklat tua mengangguk bersemangat. Membuat rambutnya bergoyang-goyang, tangkas. “Benar, Daddy. Vernon, ingin masuk ke rumah hantu bersama Daddy. Daddy ‘kan jagoan, jadi bisa mengeluarkan ratusan jurus untuk meninju hantu-hantu itu. Seperti yang Daddy ceritakan. Bahkan Daddy bisa melawan Paman Suho yang galak sendirian.” Jelas Vernon, kemudian tersenyum lebar.

Baekhyun semakin pucat pasi. Oh, dirinya memang jagoan, tapi hanya di dalam dongeng pengantar tidur yang biasa ia ceritakan kepada putranya. “Demi apa pun, Vernon.” Lirih Baekhyun, sebelum menuruti dorongan putra kecilnya.

Si wanita tertawa sembari melambaikan tangan, mengantarkan kepergian keduanya untuk memasuki rumah hantu. Diam-diam ia berkelakar, “Makanya, jangan terlalu banyak meracuni Vernon dengan bualanmu, Byun Baekhyun.”

-oOo-

Suho’s Problem

Mata bulat Olivia mengerjap cepat, mengamati ayahnya yang sedang bersentuhan dengan komputer. Gadis kecil berusia enam tahun itu pun sesekali mengeluarkan suara-suara lucu demi mendapatkan sedikit atensi dari sang ayah. Beberapa kali juga Olivia sengaja mengubah-ubah ekspresinya yang tersenyum menjadi cemberut. Namun, tetap saja ayahnya tidak mengindahkan.

“Daddy jelek,” gumam Olivia, sambil meminum susu coklatnya. Kakinya bergerak-gerak, tubuhnya yang terduduk di kursi mini itu pun juga enggan tenang.

“Liv jelek, tidak?” tanya Suho kepada putrinya. Senyumnya terkulum ketika putrinya menggeleng dengan penuh semangat. “Kalau Liv tidak jelek berarti Daddy juga, dong. ‘Kan Liv anak Daddy.” Lanjut Suho, jarinya membelai surai hitam Liv yang terkepang berantakan.

Liv menghela napas, kemudian menimpali. “Kata Ibu guru, Daddy itu profesor. Berarti Liv juga profesor, begitu?” Ujar Liv, netranya tidak lepas memandangi ayahnya.

“Benar, bisa saja.” Jawab Suho, ia kembali fokus pada pekerjaannya.

“Apa itu profesor, Daddy?” Celoteh Liv, intonasinya menggemaskan dan penuh ingin tahu.

Suho mengetuk telunjuknya ke dagu beberapa kali, kebiasaan yang muncul saat ia sedang berpikir. “Profesor itu orang yang pintar dan tahu semua hal?” Nadanya lebih seperti bertanya daripada menjawab.

Mata Liv berbinar-binar. “Kalau begitu, Liv kasih tebakan, ya.”

Suho mengangguk, setuju.

Liv mengetuk dagunya dengan telunjuk untuk memikirkan pertanyaan. Beberapa menit kemudian gadis kecil itu bersuara. “Liv lebih mirip dengan Rapunzel atau Cinderella?” tanya Liv, berharap-harap cemas.

“Rapunzel itu yang suka makan buah apel itu, ya?” Suho balik bertanya.

Liv melejitkan bahu, “Liv tidak tahu, Daddy. Liv tidak pernah bertanya kepada Rapunzel, apa dia suka apel atau tidak.”

“Eum, kalau Cinderella yang punya rambut panjang. Dia dikurung di menara yang dijaga naga, bukan?” Suho kembali berkelakar.

Tidak ada jawaban dari Liv.

Hening beberapa detik. Suho, curiga. Ia kembali mengoarkan pernyataan, “Daripada jadi Rapunzel atau Cinderella, lebih baik Liv jadi penyihir saja. Naik sapu terbang―”

“―HUAAAA.” Isakan keras terdengar dari arah samping. Liv menangis.

Suho kebingungan, “Sayang, kenapa menangis?” Pertanyaan Suho tidak terjawab. Gadis kecilnya itu, malah berlari ke arah ibunya yang sedang memasak di dapur.

Suho tergopoh-gopoh mengikuti laju putrinya. Namun, segera membeku di tempat setelah mendengar rengekan Liv kepada si Ibu.

“Mom, Liv ingin sekali tukar Daddy dengan Paman Kyungsoo. Paman Soo tahu soal Rapunzel dan Cinderella. Liv tidak ingin punya Daddy profesor. Daddy jahat.” Jelas Liv sambil terisak.

Ibunya pun bersimpati, segera dihapus airmata Liv. “Kenapa sayang? Jangan menangis.” Ucap si wanita lembut.

“Daddy tidak tahu yang mana Rapunzel dan Cinderella. Daddy bilang, Liv lebih mirip penyihir yang giginya banyak lubangnya.” Liv kembali bercucuran airmata.

Wanita itu menghela napas panjang. Netranya menukik tajam pada suaminya yang berdiri takut-takut di belakang Liv. “Iya, sayang besok kita tukarkan Daddy dengan Daddy yang lainnya saja.” Simpul Ibu Liv, tanpa belas kasihan.

-oOo-

a/n:

  • Cerita selanjutnya dapat dibaca di Daddy’s Problem [2].
  • Atau dapat berkunjung ke twelveblossom.wordpress.com.
  • Terima kasih sudah baca ^^.

2 responses to “[1.2] Daddy’s Problem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s