#1/2 Young Street

screenshot_2016-09-06-18-33-592

Title     : Young Street

Genre  : AU, Romance

Main Cast: Na Jaemin as NCT Jaemin | Ixia Lim

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

 

“Bagi Nuna, aku hanya anak kecil, iya kan?”

 

 

***

Bagi Jaemin, sekolah merupakan sebuah penderitaan panjang : 10 jam dalam sehari. Dan kau harus menjadi anak baik yang disukai orang-orang selama 10 jam, jika kau gagal disukai orang-orang maka akan ada dua kemungkinan, jika tidak dikucilkan kau akan dibully.

Na Jaemin bukan anak yang mencolok, tidak pintar tidak juga pandai di bidang tertentu selama di sekolah. jika boleh jujur, ia sekolah karena alasan klise : karena semua orang di usianya pasti sekolah.

Dan jika bicara soal pertemanan…Jaemin juga tidak terlalu punya banyak teman. Ia tidak mencolok, tidak terlalu dekat dengan siapa-siapa, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca komik.

“Kau harus berubah jika kau ingin berhasil,” ucap ibunya suatu hari, tepat di hari Minggu saat cuaca sedang panas. Dan Jaemin tengah menonton acara musik kesukaannya. Ada idola perempuan yang membuatnya selalu jatuh hati hanya dengan melihatnya di TV. Dan Jaemin benar-benar kesal karena moodnya terganggu dengan obrolan siang itu.

Jaemin hanya melirik ibunya, tapi ia tidak menanggapi apa-apa. Ia tidal tertarik melakukan apa-apa, dan pasti ibunya hanya akan memberi ceramah agak panjang yang akan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

“Lihat Hyung-mu, dia berhasil bukan karena duduk dan menonton TV sambil menari tidak jelas sepertimu,” oceh ibunya lagi yang entah mengapa membuat Jaemin justru ingin mengorek kupingnya. Sang ibu membicarakan Taeyong, kakaknya –kakak tirinya.

“Apa-apaan itu, nilaimu pas-pasan semua. Ibu ingin kau masuk sekolah swasta yang bagus, jadi jangan bermimpi kau akan masuk sekolah kejuruan.” Dan Jaemin sudah tahu ibunya akan selalu mengomel seperti itu.

“Jadi, ibu minta kakakmu carikan guru privat untukmu,”

Dan kali ini, Jaemin berhasil terpancing -ia menoleh cepat pada sang ibu dengan tatapan ‘yang-benar-saja’. Tapi ibunya seolah tidak peduli dan melanjutkan, “Dan dia akan membimbingmu sampai kau lulus ujian.”

Itu…terdengar seperti nyanyian petir di malam hari yang ditemani kilat sebagai penghiasnya, dan langit malam menjadi rumahnya. Buruk.

“Tapi aku bisa sendiri, bu!” Jaemin membela diri -yang benar saja! Ia akan kehilangan kebebasannya jika seperti itu.

“Bisa sendiri apanya, hah? kau tidak lihat nilaimu…”

baiklah Jaemin menyerah. Ia tidak mendengarkan omelan sang ibu dan melihat boygroup yang membuat puluhan perempuan menjerit di TV. Itu lebih menarik, ketimbang mendengarkan sang ibu bicara panjang dan membuatnya sakit kepala.

 

***

 

Ibunya tidak main-main. Jaemin benar-benar disuguhi seorang guru privat : wanita kuliahan yang berpenampilan abstrak. Tidak girly tidak tomboi juga. Tapi dia terlihat berkarisma, pasti dia juga cukup pintar. Dia kan guru privat…

“Hai, Na Jaemin. Namaku Ixia Lim. Dan…senang bisa bertemu denganmu,” sapanya yang tidak ramah tapi tidak dingin juga. Dia bukan gadis yang suka mencari perhatian, mungkin?

“Nuna sedang butuh uang ya?” Celetuk Jaemin dengan sengaja, ingin memancing wanita dengan rambut sebahu itu. Kakaknya bilang, usianya 20 tahun, teman kuliah kakaknya. Berbeda lima tahun darinya.

Gadis itu, Ixia -nama yang aneh-, mengangkat kepalanya dan menatap Jaemin yang sedikit mengangkat dagu dan melipat tangannya di atas meja dengan nada angkuh. Tapi ia tidak mengatakan apapun. Akhirnya, Jaemin melanjutkan.

“Nuna tidak harus menjadi guru les privat jika Nuna punya uang,” ucap Jaemin lagi dengan nada memprovokasi, “Untuk bayar kuliah ya? Atau kontrakan?” Ujarnya lagi dengan suara mencemooh. Ia ingin Ixia ini merasa tertekan dan berhenti mengajar untuknya.

“Bahasa Inggris, buka chapter one and read the paragraph,” katanya mulai mengabaikan ucapan Jaemin. Ia membuka buku dan menatap Jaemin dengan tatapan : ayo buka! Apalagi?

Jaemin berdecak pelan, “Nuna tuli ya? Aku…”

“Aku tidak peduli apa yang kau bicarakan anak kecil. Jika kau tidak ingin aku mengadu pada ibumu, maka lakukan apa yang kuperintahkan.”

“Memangnya kau kira kau siapa?!”

Ixia mendengus panjang, merasa geli harus menghadapi bayi besar seperti ini, “Aku dibayar bukan hanya untuk mengajarimu, tapi juga mengawasimu.” Ixia pun memutar kepalanya dan menunjuk kumpulan komik milik Jaemin dengan dagunya, “Jika kau tidak ingin itu disita, belajar yang benar!”

 

***

 

Begitulah awal Jaemin dan Ixia berkenalan. Ixia Lim, mahasiswi SeouL National University jurusan sastra Inggris dan sedang butuh uang untuk membayar uang kuliahnya : tepat sasaran seperti apa yang diucapkan oleh bocah ingusan bernama Na Jaemin itu.

Bukan berarti Ixia miskin, sih…tapi karena suatu keadaan, akhirnya Ixia memutuskan untuk hidup mandiri dan tidak berpangku tangan pada sang ibu yang tinggal di Daegu ataupun pada ayahnya yang sudah menikah lagi dan tinggal di Hong Kong.

Intinya, hidup Ixia tidak semenyenangkan itu. Apalagi ternyata hidup mandiri itu bukan perkara mudah. Ixia harus bekerja di sana sini untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Uang kuliahnya juga ternyata semakin membuat pundaknya berat.

Dan…Taeyong, teman satu club-nya di kampus secara kebetulan membicarakan masalah ini terhadapnya, masalah mengenai kenakalan Jaemin dan juga nila-nilainya yang berantakan. Kemudian, ia juga mengatakanbahwa ibunya menyuruh Taeyong untuk mencari guru privat –tepat saat itulah seperti ada sebuah lampu yang menyala terang di kepala Ixia. Ia pikir itu mudah, tapi ternyata…

Na Jaemin dan Teyong merupakan saudara tiri. Ibu Jaemin dan ayah Taeyong menikah sembilan tahun lalu. Maka, wajar saja mereka memilik perbedaan yang sangat kontras. Taeyong yang berkarisma, tampan, dan cerdas. Sedangkan adiknya seperti cecunguk tengil dan…tidak terlalu pintar. Tapi orang bisa berubah kan? Mungkin saja Jaemin lebih tampan darinya…

Jadi, Ixia bertahan saja meskipun Jaemin itu menjengkelkan, banyak membantah, banyak maunya. Terlebih, Jaemin seperti tak memiliki ketertarikan dalam bidang pelajaran. Itu merepotkan.

 

***

 

“Kau akan mengajar les lagi?” Tanya Yunmi, teman sekelas Ixia dan menatap prihatin Ixia. Dia yang selalu berkomentar bahwa Ixia makin kurus. Menyedihkan.

Ixia menyingkirkan tangan Yunmi yang bersandar pada tubuhnya, “Ya. Aku ada janji untuk membuat kuis hari ini,” sahut Ixia sambil berjalan menjauhi kelas.

“Pasti lelah ya, seusai kuliah kau langsung bekerja.” lihat, apapun komentar Yunmi semuanya terasa menyedihkan.

“Habis mau bagaimana lagi.” Ketus Ixia dan berjalan meninghalkan Yunmi.

Moodnya agak jelek. Ia kelelahan. Ia juga lapar. Tapi Ixia merasakan dadanya kembali mengembang dengan semangat : Taeyong ada di ujung koridor dan menyapanya.

 

***

 

“Jaemin tidak menyusahkanmu, kan?” Tanya Taeyong tanpa melihat Ixia, ia menatap lurus jalanan di depannya dan menyetir dengan hati-hati.

Ixia mengangguk singkat, “Awalnya dia nakal, tapi lama-lama dia jadi anak yang manis,” sahut Ixia. Dan tanpa disadarinya, ia tersenyum kecil membayangkan si imut Jaemin.

Taeyong tertawa pelan, “Kalian baru bekerja sama selama tiga bulan, tapi Jaemin sudah berubah banyak karenamu.” Katanya masih tanpa melihat Ixia.

Ixia pun menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, “Anak seusianya butuh pengertian. Mengikuti cara berpikir dan kemauannya, lalu menyuntiknya dengan nasihat-nasihat kecil. Simpel…tapi sulit.”

Taeyong melirik Ixia dari ujung ekor matanya. Pemikiran yang menarik. Taeyong saja yang notabennya merupakan kakak dari Jaemin, belum pernah berpikir untuk melakukan hal-hal seperti itu untuk membuat Jaemin menjadi anak penurut.

“Kau luar biasa. Kami saja tidak pernah melakukan hal-hal khusus seperti itu.” Gumam Taeyong yang menarik semburat merah di pipi Ixia. Ixia baru saja mendapat sebuah pujian.

“Ah…ti-tidak juga, kok. Mungkin kebetulan saja aku memahami caranya berpikir. Ya…aku pernah sepertinya,”

Ewh…sebenarnya Ixia selalu merasa gugup jika harus berdekatan dengan Taeyong. Padahal, ini bukan awal perkenalannya dengan Taeyong. Mereka sudah satu tahun kenal, berada di club yang sama –meskipun jurusan mereka berbeda—dan beruntungnya, untuk beberapa mata kuliah umum, mereka selalu mendapat kelas yang sama.

Jika boleh jujur, Taeyong itu tipe idealnya Ixia…. Tapi, tentu saja hanya Ixia yang memiliki perasaan semacam itu terhadap Taaeyong. Taeyong tidak pernah tahu Ixia selalu mengagumi Taeyong secara diam-diam.

 

***

 

“Wah, tumben kau sudah duduk siap seperti ini?” Ixia membulatkan matanya ketika mendapati Jaemin sudah duduk manis di bangku halaman belakang rumahnya –mereka selalu belajar disana atas permintaan Jaemin sendiri. Biasanya, Jaemin akan mencari banyak alasan untuk mengulur waktu belajar, tapi hari ini Jaemin justru sudah mendahuluinya duduk di tempat mereka.

Jaemin tidak menjawab dan justru memperhatikan Taeyong yang baru saja kembali masuk ke rumahnya –setelah mengantar Ixia. Tangannya terlipat di depan dada, mata anak lelaki itu juga terjatuh pada retina mata Ixia, ia ingin membaca sesuatu di mata itu.

“Kau…pacaran dengan Hyung?”

Ixia yang tidak terlalu fokus hanya mengangkat kepalanya dan menatap Jaemin bingung, “Apa? Kau bilang apa barusan?” tanyanya sambil kembali mengeluarkan beberapa buku dari tasnya.

“Kau dan Hyung…apa hubungan kalian?” Jaemin mengubah isi pertanyaannya dengan inti yang sama dan perasaan yang sama : kesal.

“Seperti yang kau tahu, kami teman kuliah,” jawab Ixia sambil lalu, “Jadi, sekarang kau mau belajar bahasa Korea juga? Ibumu bilang…”

“Lalu kau suka pada Hyung?” potong Jaemin yang membuat Ixia terdiam. Mencerna ekspresi wajah Jaemin dan juga memperhatikan nada bicara Jaemin yang memang berbeda.

“Kita kan mau belajar, kenapa kau membahas hal tak penting…”

“Jawab saja dulu, kau pacaran dengannya? Kau suka padanya?”

“Jaemin…”

“Aku tidak mau belajar sebelum kau menjawabnya,”

Ixia pun mendengus panjang. Kenapa Jaemin tiba-tiba jadi seperti ini? Padahal, sebelumnya Jaemin sudah mau diajak berkompromi dan nilainya juga sudah mulai meningkat. Dan tiba-tiba saja, bayi besar ini malah merengek sambil menanyakan pertanyaan aneh.

“Nuna…”

“Kenapa kau ingin jawaban dari pertanyaan anehmu itu?” Ixia balik bertanya dengan nada datar. Sumpah. Itu bukan hal penting dan Ixia tidak perlu membeberkan apa-apa soal perasaannya terhadap Taeyong.

Jaemin tidak menjawab. Hanya helaan napasnya saja yang terdengar oleh Ixia. Tapi kemudian Jaemin memajukan tubuhnya, “Aku tidak suka Nuna terlalu dekat dengan Hyung. Aku tidak suka Nuna selalu bersama dengan Hyung. Aku tidak suka aapun yang membuatmu terlihat bersama dengannya.”

“Eyy…apa-apaan itu?”

“Bagi Nuna, aku hanya anak kecil, iya kan?”

Ixia langsung terdiam. Ia tidak tahua pa yang ingin dikatakan Jaemin. Ia juga tidak mengerti kenapa Jaemin tidak suka Ixia dan Teyong terlihat dekat. Setahunya, Taeyong dan Jaemin akur-akur saja.

“Aku pikir, aku menyukai Nuna…”

 

…………………………………………………………………………………………………

20160908 PM1055

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s