He knows.

 

kyungkyungsoo

Do Kyungsoo, Kang Nami (OC)

by Cca Tury

“Lelaki sepertinya mampu membuat pikiran gadis labil seperti kami menjadi kacau balau.”


 

Munafik adalah sebuah kata yang tepat untuk mencaciku jika aku masih saja bersikukuh mengatakan aku tidak menyukainya. Sejak pertama menyapa dengan kalimat, Hai! namaku Do Kyungsoo; ditambah dengan senyuman memikat, begitu saja aku sudah terjatuh sampai-sampai tak mampu bangkit.

Aku, sejak tahun lalu, sudah divonis akut menyukai seorang Do Kyungsoo hingga tak dapat disembuhkan lagi.

Bagaimana tidak, Do Kyungsoo dikenal bukan hanya karena wajahnya yang rupawan atau pun karena suara bulat serak yang digemari, prestasi yang tak tertandingi membuatnya menjadi nomor satu dan diidam-idamkan semua jenis wanita yang ada di kampus kami. Do Kyungsoo, membuat pikiran gadis labil seperti kami menjadi kacau balau.

Dan sekarang ini, aku masih saja takut untuk melangkahkan kaki menuju kelas. Setelah dipikir berulang kali, aku sudah benar-benar tidak waras. Hanya karena mencuri dengar apa yang diucapkan Do Kyungsoo dengan teman sebayanya ketika berpapasan di anak tangga koridor kampus hari kemarin, aku mengubah seratus delapan puluh derajat penampilanku. Tidak ada lagi Kang Nami dengan rok mini yang berpadu dengan kemeja sleeveless. Bahkan aku menanggalkan high heel limited edition hasil curian dari lemari adik perempuan ayahku. Aku berubah menjadi anak kampus sederhana dan biasa saja, dengan celana jeans dan sneakers dipadu dengan blouse putih yang dibungkus kemeja motif kotak yang tak dikancingi. Siapa pun yang melihat, aku lebih terlihat seperti preman pasar ketimbang gadis sederhana dan biasa-biasa saja.

OMO! Kang Nami?! Kau sudah gila?” Tawa lepas tak indah yang keluar dari bibir tuan Byun, yang memergoki diriku yang ketakutan di depan pintu, sungguh ingin membuatku tak tahan untuk tidak memukul kepala dan membantingnya di lantai. Baekhyun keterlaluan, hanya karena aku mengubah penampilan dan meninggalkan semua rias wajah tebal yang selama ini kuagungi, dia mengataiku gila.

“Diam kau, Bacon!” gertakku dan menarik nafas dalam sembari berlalu mencoba memasuki kelas, menjauhi si Byun gila.

Tapi ternyata, kabur dari Byun Baekhyun bukanlah gagasan yang tepat, karena setelahnya lelaki sialan itu malah berjalan mendahului dan berteriak seperti penjual ikan, “Oi! Oi! Kang Nami sedang mabuk, lihat penampilannya!” Baekhyun bahkan mengakhirinya dengan tawa mengejek.

Huh, memangnya apa yang salah dengan penampilan begini?

Tapi, bukan Byun Bacon jika tidak bisa membuat keadaan sepele menjadi luar biasa. Tidak butuh waktu yang banyak untuk menarik perhatian orang-orang dan mulai menatapiku dengan komentar-komentar samar. Mereka sepertinya memang baru kali pertama melihatku dengan penampilan seperti ini.

Aku memutuskan untuk membuat tuli pendengaranku akan komentar-komentar itu. Ekor mataku mulai berkeliaran mencari seseorang. Di saat seperti ini, aku lebih tertarik untuk menginterogasi reaksi Do Kyungsoo.

Ketemu. Do Kyungsoo duduk di ujung kelas dan tengah membenahi kacamata ketika matanya bersirobok denganku yang sedang menjadi lelucon Byun Baekhyun. Aku tersenyum menyapa, tapi dia sama sekali tidak memberi respon. Wajah datarnya tidak bisa kuartikan. Aku bahkan tidak tahu berapa nilai yang dia berikan padaku yang bergaya seperti preman pasar ini. Ekspresinya masih saja sama ketika melihatku dengan rok mini dan kemeja sleeveless berpadu dengan wajahku yang dilukis berlebihan.

Jika sudah begini, Do Kyungsoo benar-benar membuatku bingung. Bahkan sekarang, rasanya sia-sia saja usaha untuk terlihat sedikit baik di hadapannya.

***

“Mau kubantu bawakan?”

Aku terkejut sebenarnya, tapi Do Kyungsoo yang tiba-tiba muncul di sampingku tersenyum dengan jurus senyuman mematikan seperti biasanya. Dia bahkan tak peduli dengan aku yang mematung tak bisa mengeluarkan bahkan sepatah kata, dan malah meraih buku bertumpuk yang harus kubawa menuju ruangan Profesor Song sekarang juga.

Tiga puluh lima detik yang dibutuhkan untuk membuatku kembali sadar dan berucap terbata-bata, “O—oh, t—terimakasih.” Lalu mulai mengekorinya dari belakang.

“Kau mengejutkan hari ini,” ucapnya di sela-sela langkah kami. Aku tidak langsung menjawab pernyataan Do Kyungsoo, karena di otakku sama sekali tidak terpikir jawaban yang tepat untuk ucapannya itu. Aku malah sibuk menyisir rambut ke balik telinga dan membenahi setelan baju yang sama sekali tak terlihat berantakan. Untuk siapapun yang ingin repot-repot mengamati, mereka bisa dengan mudah menebak saat ini aku tengah salah tingkah di samping pangeran kampus.

Entah untuk alasan apa, tiba-tiba Kyungsoo tersenyum sedetik kemudian dan sukses membuat aku terhenti dengan kesalah-tingkahanku dan mulai mengerut dahi heran,

“Memang benar aku suka gadis dengan celana jeansnya, tapi bukan dengan jeans yang robek di bagian lututnya.” Komentar itu secepat kilat membuatku terhenti dari langkah dan langsung saja membuat tanganku menopang pada lutut yang terlihat oleh sobekan celana jeansku.

Lagi-lagi untuk siapapun yang ingin repot-repot menilainya, mereka bisa sangat dengan mudah sekali menebak bahwa aku memang memiliki perasaan yang sangat besar pada Do Kyungsoo.

Kyungsoo ikut menghentikan langkah dan berbalik menengok kearahku yang sudah berpose tidak indah. Kali ini lelaki itu tertawa kecil, tawa yang belum pernah sama sekali kulihat, bahkan gigi putih nan rapi terlihat menemani tawanya itu.

“Aku tidak menyangka jika gadis termodis di kampus kita ini begitu menyukaiku sehingga dengan rela meninggalkan semua penampilannya demi terlihat indah di mataku.”

Ucapan itu membuat bola mataku mendelik ingin keluar. Dia tahu! Dia tahu aku menyukainya.

“K—kau…!” Nadaku sedikit terdengar menjerit. Sebenarnya itu bukan karena aku kaget, tapi lebih tepatnya karena aku malu. Ketika orang yang kau sukai mengetahui jika kau menyukainya, sungguh, itu membuatmu tidak nyaman.

“Kau akan bertanya sejak kapan aku mengetahuinya, kan?” Do Kyungsoo masih saja berbicara santai dengan senyuman khas yang tak hilang dari bibirnya, seolah apa yang sedang dibahas ini adalah hal biasa yang membuat antara kedua belah pihak tak merasa risih sama sekali.

“K—Kyung…”

“Kau pikir aku tidak tahu ketika kau menguntitku kemana pun dengan novel Percy Jackson yang terbalik?”

“EHH?!”

Kali ini tawa Kyungsoo terdengar semakin renyah dan semakin saja membuat perasaanku menjadi sangat tidak mengena. “Kau sangat lucu, Kang Nami,” ucapnya ringan, lalu berbalik dan mulai berjalan kembali dengan buku-buku bertumpuk di tangannya.

Jangan ditanya keadaanku, saat ini aku benar-benar telah menjadi bisu dan bahkan lumpuh. Do Kyungsoo sukses membuatku hidupku kacau balau dalam dua detik.

***

 

One response to “He knows.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s