[ONESHOOT] Like a Password | +Voting Result of Citrapertiwtiw’s 5 new fanfictions voting

like-a-password-new2

Halo readers!! Kembali lagi bersama Citrapertiwtiw (?). Disini aku mau ngumumin hasil voting 5 sinopsis ff kemarin melalui oneshoot sederhana yang idenya sepintas ini, tujuan aku bikin oneshoot ini biar pengumumannya bisa aku share di FFindo juga, hehe.

Nah, karena idenya sepintas, ceritanya tentu sederhana aja. Inspirasinya dari kehidupan kuliah author, jadi isinya agak realistis xD

Oh iya, it’s my WoohyunxChorong first oneshoot! Tadinya udah nulis oneshoot MyungsooxNaeun tapi disimpen dulu yaa, mungkin rilis kapan-kapan😀

So, hope you like it! Happy reading!

 

Title :

Like a Password

 

Author :

Citrapertiwtiw (@CitraTiwie)

 

Genre :

College Romance, a little bit comedy

 

Cast(s) :

INFINITE’s Nam Woohyun as Me

A Pink’s Park Chorong

INFINITE’s L / Kim Myungsoo

A Pink’s Son Naeun

INFINITE’s Kim Sunggyu

 

Type :

Oneshoot

 

Rating :

PG15

***

 

“ Cinta itu seperti password, kadang susah untuk diketahui, tapi kamu akan selalu mencobanya sampai berhasil.”

 

“ Kau ini hacker atau pujangga sih?”

“ Sialan!”

Myungsoo menoyor kepalaku setelah mendengar pertanyaanku barusan. Lagipula dia sendiri yang aneh, beberapa hari ini sering menyambung-nyambungkan ‘profesi’nya dengan percintaan sampai menciptakan kata-kata mutiara seperti tadi. Dan setiap aku berkomentar, ia selalu menoyorku, padahal aku seniornya di kampus. Dasar kurang ajar.

“ Lagi naksir cewek ya?”tanyaku ingin tahu, tak berniat untuk balas menoyornya karena aku masih butuh bantuannya.

Wajah gantengnya yang sering membuatku iri tiba-tiba bersemu merah. Benar kan, hacker profesional sekaligus yuniorku –dan juga sahabatku- ini sedang jatuh cinta.

“ Tadi sampai mana kita?”ia mengalihkan pembicaraan seraya sibuk memain-mainkan jemari mahirnya di atas keyboard  laptop canggihnya.

“ Sama siapa!?” aku tak menyerah dan menekuk layar laptopnya agar ia tak bisa menghindari pertanyaanku.

“ Ssstt!” tanpa sadar ia cepat-cepat menyumpal mulutku dengan roti yang ada di atas meja, sebentar lagi ia akan menyesal karena itu roti kesukaannya.

“ Orangnya ada disini?”roti ini tak mempan membuatku berhenti bertanya.

“ Astaga sunbae, lama-lama aku hack juga SNSmu!” bisiknya kejam karena kesal. Aku tertawa.

“ Ooh, begitu ya.. gara-gara seorang gadis kau tega ingin membajak akun seniormu?”

“ Iya. Biar.. yaaa!!! Rotiku! Kenapa kau makan!?” ia baru sadar aku mengunyah roti kesukaannya.

“ Kau yang menyuapinya dengan kejam ke mulutku.”jawabku tanpa dosa, wajah tampannya kelihatan tidak rela, ia pun mengeluarkan dompetnya dan meletakkan sedikit uang.

“ Beli lagi sana!”

“ Iya bos.”aku terpaksa menurut dan mengambil uangnya kemudian berdiri dan berjalan menuju etalase, mencari roti yang diinginkan si hacker kurang ajar yang sedang jatuh cinta itu.

Habis. Aku tidak mungkin kembali dengan tangan kosong, dengan kikuk aku berjalan menuju tempat pemesanan dimana aku juga dapat melihat beberapa baker membuat roti-rotinya.

Aromanya sangat enak, mungkin ini alasannya mengapa Myungsoo selalu menjadikan bakery shop sekaligus café ini tempat nongkrong, selain rotinya murah dan enak, tempatnya pun nyaman dengan fasilitas WiFi super cepat, yang merupakan kebutuhan pokok seorang penggila internet seperti dia.

Para bakernya juga cantik. Hahaha.

Lupakan. Sebutkan pesananmu, Nam Woohyun.

“ Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?”salah seorang baker cantik dengan seragam kuning menghapus peluhnya dan melayaniku. Kami bertatapan agak lama karena sepertinya ini bukan pertama kalinya kami bertemu.

“…ng.. Woohyun sunbae ya?”tanyanya lagi.

“ Wah, kok tau?”aku agak terkejut. Astaga, rupanya aku masih cukup terkenal meski sudah menjadi ‘mahasiswa tua’.

Ya jujur, saat ini aku sedang skripsi dan belum selesai-selesai juga. Alasannya hanya satu, karena jurusan yang kujalani sama sekali tak sesuai kehendakku.

“ Tahu dong!”baker dengan rambut coklat panjang bergelombang itu agak tersipu sekarang, “…sunbae tidak kenal denganku?”

“ Hmm.. mungkin hanya lupa.”aku sedikit menjaga perasaannya. Karena jujur, aku mengenal begitu banyak gadis bahkan punya ratusan nama di kontak ponselku. Maklum, karena hampir 90% mahasiswa yang kuliah di jurusanku rata-rata perempuan.

Namun hanya kusimpan saja nomornya, aku tak ingat mereka sama sekali.

“ Aku Son Naeun, semester tiga.”jawabnya malu-malu, aku manggut-manggut. Karena beberapa orang mengantri di belakang, aku tak ingin berbicara lebih lanjut.

“ Roti mochanya habis ya?”

“ Ya, kebetulan di etalase sudah habis. Kami sedang membuat lagi, tapi masih di oven.”

“ Ooh gitu. Pesan satu ya. apa harus kutunggu?”

Ani. Biar aku antar saja nanti. Ini nomor mejanya.”Naeun menyerahkan nomor meja padaku dan mencatat di kertas kecil.

“ Oke. Thanks.”aku membayar rotinya dan bersiap untuk kembali.

“ Woohyun sunbae!”ia memanggil lagi meski nadanya terdengar ragu, aku berbalik.

“ Hm?”

“ Aku..sering lewat kelasmu dan..melihatmu, hehe.”

“ Wah. Tapi, darimana kau tahu namaku?”

“ Aku.. mencari tahu.”

“ Kalau begitu, salam kenal ya.”

Gadis itu mengangguk dan menghapus peluhnya lagi dengan sedikit gemetar, “ Oh iya, sunbae.. aku akan memberimu potongan harga, tapi maukah kau…..”

“ HEI! Tidak lihat banyak orang di belakang!? Berhenti mengobrol!!”

Seorang gadis baker dengan seragam sama namun dengan topi bertuliskan head baker datang dan menepuk punggung Naeun, matanya berkilat-kilat emosi dan sepertinya aku yang akan menjadi korban selanjutnya.

Sepertinya aku pernah melihat dia sebelumnya. Tapi, sama seperti Naeun, aku tak tahu –atau lebih tepatya tidak ingat- siapa namanya, terlalu banyak gadis yang kutemui di kampus. Namun ia sedikit lebih beruntung, karena setidaknya aku tahu ia seangkatan denganku namun berasal dari kelas lain.

Haha, banyak juga mahasiswa dari kampusku yang bekerja di café roti ini, bahkan ada yang menjadi head baker galak. Sehebat itukah ia membuat roti?

Sorry. Permisi.”dengan kikuk aku balik kanan dan kembali ke tempat Myungsoo. namun entah ada magnet apa yang membuatku memutar leher untuk melihat sang head baker itu.

Sial, ia ikut melihatku bahkan tanpa berkedip. Kami bertatapan agak lama sampai pandangan kami terhalang pintu. Aku kembali pada Myungsoo yang duduk di bangku meja outdoor.

Tatapan matanya agak menakutiku, sepertinya ia sangat pemarah. Semoga Naeun baik-baik saja.

*

 

“ Rotinya masih di oven. Ntar dianter. Eh..”

Myungsoo mendadak terlonjak ketika aku datang, ia buru-buru menutup laptopnya.

Tapi percuma, aku terlanjur melihatnya.

Ia sedang mengedit foto seorang gadis di photoshop, aku tahu foto yang ia buka adalah salah satu bidikannya untuk majalah dewasa minggu lalu. Ya, selain menekuni pekerjaan jahat sebagai hacker, Myungsoo juga menjadi fotografer muda yang sudah profesional sebab pernah mengikuti kursus fotografi di luar negeri. Ah, beruntung sekali, bukan? Terlahir sebagai chaebol membuatnya bebas memilih sekolah mana yang ingin ia masuki. Tidak seperti aku yang bahkan kuliah di jurusan psikologi saja karena paksaan orangtua, jurusan dimana jumlah mahasiswa laki-lakinya bisa dihitung dengan jari. Belum lagi hampir seluruh mata kuliahnya yang menguras energi serta pikiran, tugas yang menumpuk, segalanya *ini author malah curhat jadinya, maaf xD*.

 

“ Hus! Hus!” Myungsoo mendorongku untuk kembali ke tempat duduk dengan wajah memerah dan salah tingkah, seakan malu kelakuan mesumnya ketahuan olehku.

“ Kayaknya aku kenal itu cewek!” cerocosku, karena barusan aku lebih fokus pada wajah gadis yang diganti pada foto seksi tersebut. Myungsoo sedang menggunakan skill editing tingkat dewanya.

“ Siapa hayo siapa?” Myungsoo sedikit menantang, pasti ia tidak ingin lebih malu lagi.

BUK!!!! BUK!!!! BUK!!!!

“…arghh!! Sakit! Aah!!!”

Sebelum aku menjawab, seorang gadis datang ke meja kami dan memukul kepala Myungsoo berkali-kali dengan baki roti hingga hacker itu menjadi pusat perhatian seisi café.

“ Nah, itu orangnya yang kumaksud.”aku hanya bisa menikmati pemandangan, jarang-jarang seorang Kim Myungsoo yang tampan dan populer di kampus kini menjadi pusat perhatian bukan karena ketampanannya, melainkan dipukuli oleh baki roti oleh yeoja yang sedang dilecehkannya di photoshop.

Yeoja itu, yang barusan melayani pesanan rotiku. Ia datang mengantarkan pesanan dan tak sengaja melihat wajah dirinya diedit oleh Myungsoo.

Airmatanya sudah meleleh dan wajahnya sudah merah. Tak puas memukuli Myungsoo, Naeun menjatuhkan bakinya dan meraih…

Oh tidak, ini akan sangat seru.

“ JANGAAAN! TIDAAAAAAK!!!!”Myungsoo mengeluarkan suara tercemprengnya, para pengunjung café mulai berdiri dan merapat membentuk lingkaran untuk menyaksikan pertunjukkan ini.

Wah, seandainya aku bisa jualan kacang goreng dan popcorn pada mereka untuk menambah uang bayar kos.

Hyung!!! TOLONG!!!!” Myungsoo kini berteriak padaku yang justru menunggu Naeun membanting laptopnya. Yah, aku tahu akan tidak seru jika laptop Myungsoo tak jadi dibanting, namun ketika aku ingat bahwa data proyek skripsiku juga ada disana, dengan terpaksa aku meraih pinggang Naeun dan menghentikan niatnya untuk menghancurkan laptop tempat fotonya diedit secara laknat oleh Myungsoo.

“ Heiiii..! sudah..sudah ya Naeun-ssi, tenang.. tenang..”

Aku me.. yah.. me.. memeluknya dari belakang, berusaha membuatnya berhenti memberontak walaupun susah rasanya. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku juga akan langsung membunuh Myungsoo.

“ Kurang ajar!!! Sialan!!! Brengsek!!!! Bajingan!!!!! Mesum!!!!!!!!!!!” Naeun terus mengeluarkan sumpah serapahnya, Myungsoo yang masih terduduk di lantai café hanya bisa menggosok-gosok telinganya.

“ Hus..hus..hus.. kok jelek gitu mulutnya..” aku mencoba menenangkan Naeun dengan gaya sok asik andalanku, bahkan karena sudah putus asa aku meraih roti di meja dan memasukkannya ke dalam mulut Naeun hingga gadis itu akhirnya diam dan berbalik.

Ia memelukku dan menangis keras-keras hingga tersedak roti. Kasihan sekali.

 

“ HEI KAU! KESINI!!!”

Ow. Sepertinya aku kenal suara ini.

Head baker galak itu, ia muncul di pintu dan berdiri dengan bertolak pinggang, wajahnya merah menahan marah. Masalahnya adalah, ia tidak meneriaki Myungsoo.

Ia meneriaki anak buahnya –Naeun-, dan…

Aku?

***

 

“ KAU TIDAK TAHU KEKACAUAN YANG KAU TIMBULKAN HAH!!??? KAU MEMBUAT PENGUNJUNG KABUR!! KAU—“

“ Eits.. sabar… sabar… sebagai sesama perempuan seharusnya kau lebih mengerti perasaan Naeun, kau juga pasti marah jika melihat fotomu diedit sembarangan..”

Mata bulat head baker itu menusukku. Apa aku salah bicara? Apa aku tidak seharusnya memotong omelannya?

Aku hanya kasihan dengan Naeun yang hanya bisa menunduk dan masih saja menangis sesenggukan di sampingku, ia kelihatan tidak menyesal dengan kekacauan yang ia timbulkan, sepertinya ia lebih menyesal karena Myungsoo kabur begitu saja, ia benar-benar masih ingin menghancurkan laptop hacker itu.

“ Kau juga!!”

Benar saja, sekarang head baker itu juga mengomeliku.

“ Aku kenapa?” tentu saja aku heran, “…bukannya aku justru menghentikan Naeun?”

“ Tapi.. tapi tidak seharusnya kau peluk-peluk begitu!!!”

“ Hah?”

Alasan yang aneh, ia tidak salah bicara, kan?

“…aku tidak punya pilihan.”jawabku seadanya, “…tidak apa-apa kan, Naeun?” kini aku menoleh ke arah Naeun.

Tak disangka, gadis itu sedikit berhenti menangis dan mengangguk seraya tersenyum menatapku. Haha, harus kuakui ia kelihatan sangat cantik dan menggemaskan.

“ Terimakasih, Woohyun sunbae. Aku jadi tenang berkatmu.”

“ TENANG APA KAU HAH!?? KAU PIKIR BAGUS DIPELUK-PELUK DEPAN UMUM BEGITU HAH!?”

Head baker itu meledak lagi, Naeun bergidik ketakutan.

J…jeosonghamnida, Chorong sunbae..” lirihnya.

Chorong?

Ah… sekarang aku baru ingat nama head baker ini adalah Park Chorong, mahasiswa seangkatan yang beda kelas denganku. Aku cukup sering mendengar namanya, tapi lebih sering melupakannya karena kami sama sekali tidak akrab di kampus.

“ Eeey.. Chorong-ssi! Aku baru ingat kita sama-sama angkatan 2012.. santai lah santai.. yaelah hahaha..”

Aku mengeluarkan jurus sok akrabku, yang semoga saja berhasil –walaupun sepertinya tidak-.

“ Aku bukan Park-Chorong-saja disini, kau lihat?” ia menunjuk topi bertuliskan head bakernya, dengan masih berwajah kesal, “…aku wajib menegurnya karena setelah ini aku yang kena semprot manajer!”

“ Aku tahu.. tapi.. kita semua satu kampus kan? Bisakah kau membuat ini lebih mudah? Lagipula Naeun sudah minta maaf.. semua yang terjadi barusan diluar kendalinya.”

Chorong terdiam sejenak, menatap Naeun yang mulai tenang. Ia pasti sudah lelah marah-marah.

“…”

“…”

“…”

“ Senang ya dibela Woohyun, huh?”

Haha. Dia ingat namaku.

Naeun mendadak malu, ia menggaruk tengkuknya berulang kali setelah mendengar perkataan sarkastis Chorong. Jangankan Naeun, aku juga malu.

“…pulang saja sana, akan kulaporkan kau ke manajer.”sambung Chorong lagi sambil menunjuk pintu dapur.

“ Maafkan aku, sunbae..

Setelah membungkukkan badannya sekali lagi, Naeun melepas celemeknya lalu berbalik dan keluar sambil menghapus air mata yang sudah lengket di pipinya.

“ Maafkan dia, ya. maafkan Myungsoo juga, aku akan menghajarnya nanti, hehe.”

Aku masih mencoba sok akrab dan menepuk bahu Chorong, dan ia menepis tanganku dengan kasar.

Oh tidak, harga diriku. Tidak pernah ada perempuan yang berani menolakku seperti ini. Aku baru tahu Chorong benar-benar galak. Apa ini sebabnya ia tidak begitu dekat dengan mahasiswa lain di kampus?

“ Kau tidak usah ikut campur.”dengusnya dengan mata melotot.

“ Oke. Semoga harimu menyenangkan. Hehe. Bye.”

Benar-benar awkward, aku menggaruk keningku dan ikut keluar dari sana daripada harus diomeli lagi. Aku benar-benar ingin melawannya, tapi aku sama sekali tak bisa berlaku keras pada perempuan.

 

“ Woohyun sunbae! Kau tidak diapa-apakan lagi kan barusan?” Naeun yang sudah berganti pakaian langsung berlari kecil kearahku dan kami berjalan bersama menuju pintu keluar.

“ Haha, nggak kok. Santai saja.”jawabku seadanya, “…kukira kau sudah pulang.”

“ Hehe, belum. Tadi ganti baju dulu, pegawai yang lain juga barusan banyak tanya, aku malas menjawabnya, jujur.. aku masih kesal sekali.”

“ Sudahlah..jangan dibahas dulu. Aku akan menegur Myungsoo nanti.”

“ Jangan hanya ditegur, bunuh saja dia sekalian!”

“ Ssstt.. sudah sudah..” aku justru geli melihat wajah Naeun yang masih saja cemberut, Myungsoo memang sudah kelewat kurang ajar kali ini.

“…kau pulang dengan apa?”tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“ Aku selalu naik bus, sunbae. Kau?”

“ Tadinya aku ikut mobil Myungsoo, tapi kan dia kabur duluan, jadi ya terpaksa aku naik bus juga sekarang, hehe.”

“ Dasar brengsek sialan, harusnya dia tidak kabur!” Naeun mendengus lagi, “…ya sudahlah, ayo jalan ke halte bersama.”

Aku mengangguk setuju, kami berjalan bersama menuju halte. Aku terus mengajak Naeun mengobrol agar ia tak mengingat-ngingat kelakuan Myungsoo padanya saat di café, dan sepertinya berhasil, Naeun mulai berseri-seri lagi.

BRUK!

Seseorang menghantam bahuku dan Naeun dari belakang dan memisahkan kami yang sejak tadi cukup dekat selama berjalan beriringan.

Kini orang itu berada di tengah-tengah kami dan berjalan angkuh tanpa merasa bersalah.

“ Sebelum kau tanya, aku juga disuruh pulang oleh manajer.”ucapnya tanpa menoleh kearahku maupun Naeun.

Park Chorong.

“ Ah.. benarkah? Apa gara-gara aku?”tanya Naeun pelan karena takut.

“ YAIYALAH!!” semprotnya keras, Naeun menunduk dalam, malu karena cukup banyak orang yang lalu lalang di trotoar.

Aku? Nyimak dulu aja ._. aku masih benar-benar ragu untuk buka suara, akan sangat memalukan jika lelaki seperti aku dimarahi juga di depan banyak orang oleh gadis ini.

“ Maafkan aku, sunbae. Hm.. kau juga.. mau ke terminal? Bukannya kau selalu bawa motor?”tanya Naeun.

Chorong terdiam sejenak, mata bulatnya melirik tak sampai satu detik ke arahku. Entah kenapa.

“ Aku.. motorku masuk bengkel! Kenapa memangnya?! Aku tidak boleh naik bus!?” lagi-lagi ia membentak Naeun, apa urat-uratnya tidak putus? Suaranya keras sekali.

“ Bukan begitu, sunbae. Maafkan aku..” Naeun tak berani lagi bertanya, sepanjang jalan ia menunduk dan melirikku sesekali, berharap aku mengajaknya mengobrol lagi.

Maafkan aku, Naeun. Tapi aku benar-benar canggung dan tak bisa mengajakmu mengobrol lepas lagi jika Chorong berada di tengah-tengah kita, keberadaannya benar-benar mengintimidasiku, baru kali ini aku gemetaran tak jelas gara-gara perempuan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanku mulai saat ini di kampus, aku harap aku tak akan berpapasan dengan head baker galak ini.

“ Naik bus juga?”

“ Hah?”

Aku terkejut karena Chorong tiba-tiba bertanya dengan suara yang amat datar ketika kami sampai di halte, apa aku tidak salah dengar?

“…i…iya, Myungsoo meninggalkan aku.”

“ Ck, sialan memang..” ia hanya mengumpat pelan setelah mendengar jawabanku, kemudian mengeluarkan ponselnya, menelpon… Myungsoo?

 

“ Hei kampret, temui aku besok. Awas kalau lari.”

 

Aku dan Naeun bertatapan tak mengerti sekaligus terkejut. Chorong menutup teleponnya dengan santai.

“ Kenapa? Dia sudah kurang ajar padamu, kan? Biar aku yang beri dia pelajaran.”ucap Chorong pada Naeun singkat, lalu melenggang masuk bus duluan.

Ia benar-benar gadis yang mengerikan.

***

 

Aku turun dari bus dan berjalan beberapa meter menuju rumah Myungsoo yang terletak di kawasan elit, tak jauh dari kos tempatku tinggal. Tadinya aku ingin pulang saja, tapi mengingat bahwa harga diriku hari ini sedikit ‘tercoreng’ gara-gara dimarahi Chorong, kurasa aku tak bisa mendiamkan Myungsoo begitu saja.

Ia harus kuberi pelajaran. Sejujurnya aku tidak begitu peduli pada nasib Naeun, terdengar jahat, tapi aku hanya bersimpati padanya. Aku lebih memikirkan harga diriku yang telah dilukai oleh Chorong. Karena tak mungkin aku melawan gadis galak itu, lebih baik aku lampiaskan kejengkelan yang tertahan ini pada Myungsoo.

 

“ Hei! Nam Woohyun!?”

Setibanya di depan rumah Myungsoo, aku justru mendengar suara kakaknya, Kim Sunggyu. Aku cukup dekat juga dengannya karena aku sering main ke rumah ini.

Sunggyu sedang menyiram tanaman di pekarangan rumahnya yang luas. Mereka punya banyak pembantu, tapi akhir-akhir ini Sunggyu terlihat rajin melakukan pekerjaan rumah seorang diri.

“ Ada Myungsoo?”tanyaku tanpa basa-basi sembari memasuki pekarangan.

“ Yah, kau ini.. kau tidak rindu padaku?”

“ Hahaha. Bagaimana kabarmu, hyung? Sepertinya kau semakin rajin merawat rumah.”

“ Haha, iya. aku disarankan dokter.”

Aku mengerti. Sunggyu juga adalah seorang technology freak, sama seperti Myungsoo, bahkan bisa kukatakan, lebih-lebih dari Myungsoo. Biasanya ia bisa menghabiskan waktu berhari-hari nonstop di depan komputer. Hal itu menyebabkan mata kecilnya berkantung dan terjadi gangguan saraf ringan di otaknya. Ia pasti sudah mulai menjalani pengobatan.

“…ada apa mencari Myungsoo?”tanya Sunggyu kemudian.

“ Hmm.. aku ingin.. menegurnya saja.”

Tentu saja aku berbohong. Mana mungkin aku bilang aku ingin menghajar adiknya -meski sepertinya ia akan mendukung-.

“ Sepertinya terjadi sesuatu di luar, ya? aku heran mengapa dia pulang sendiri dan kau datang menyusulnya kesini. Kau pasti ditinggalkan di café.”

Aku hanya bisa nyengir dengan kikuk, Sunggyu benar.

“…hmm.. kemungkinannya ada dua. Pertama, kau dan Myungsoo berkelahi, atau kedua, Myungsoo membuat keributan di café dan dia kabur, hingga akhirnya kau yang bertanggung jawab.”ia menebak lagi. Ia memang tahu betul bahwa adiknya suka berbuat ulah di luar rumah.

Bingo!” sahutku, “…yang kedua, hyung.”

“ Hahaha, sudah kuduga. Apa yang terjadi?”

“ Ah.. panjang..” aku masih malas untuk menceritakan detilnya, bayang-bayang wajah Chorong yang memelototi dan memarahiku masih begitu jelas dalam benak, gadis itu benar-benar menyeramkan.

“ Ya sudah, kita santai saja dulu..” Sunggyu mematikan air di selangnya kemudian menepuk bahuku, mengajakku untuk mengikutinya menuju ruang bawah tanah di garasi.

“ Myungsoo sepertinya masih tidur. Nanti saja tunggu dia bangun.”

Sunggyu menyalakan lampu ruangan pribadinya yang penuh dengan komputer, kabel, dan perangkat lainnya.

“…masuk, Woohyun-ah.”

Aku menurut, mataku tak bisa berhenti takjub melihat semua peralatan yang ‘ditimbun’ Sunggyu di tempat ini, rupanya masalah kesehatan yang dialaminya tak cukup menghentikan kegilaannya dengan dunia cyber.

“ Kukira setelah sakit kau berhenti dan mencoba hobi lain.”

“ Hahaha, mana mungkin aku bisa. Bagaimana denganmu? Kau masih tertarik dengan ini?”tanya Sunggyu.

Ah, pertanyaan ini masih terdengar pahit di telingaku.

“ Hm, tentu saja masih. Jika tidak, mungkin aku tak akan jauh-jauh berjalan ke fakultas seni komputer untuk menemui Myungsoo setiap hari.”

Sunggyu tertawa, namun tangannya kembali menepuk bahuku, kali ini dengan rasa prihatin.

Ia tahu bahwa aku sebenarnya juga memiliki hobi yang sama dengannya, hanya saja aku tak bisa lagi mengembangkan minat besarku terhadap dunia cyber di jenjang kuliah karena orangtuaku memaksaku untuk mengambil jurusan psikologi dengan berbagai alasan –well, mereka bilang aku akan keren jika jadi seorang psikolog yang bisa ‘meramal’ orang, lol-. Aku tak punya pilihan selain menurut. Namun agar tak begitu jenuh, aku masih terus menggeluti minatku, aku rajin belajar dan mengembangkan software dengan Sunggyu. Dan setelah Sunggyu lulus kuliah, Myungsoo-lah yang menjadi ‘guru privat’ku, menggantikan kakaknya.

“ Kau sudah skripsi, kan? Bagaimana?”tanya Sunggyu sembari menyalakan komputernya.

Mengapa sejak tadi Sunggyu mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan pahit?

“ Judulku ditolak lagi oleh dosen.”jawabku pendek, aku benar-benar tak ingin membicarakan ini lebih lanjut, rasanya isi kepalaku akan mendidih. Aku memang belum menaruh hatiku seratus persen untuk menjalani ujian terakhir ini, bertahan untuk tetap kuliah saja rasanya sudah sangat melelahkan bagiku.

“ Kenapa ditolak?”tanya Sunggyu penasaran.

Ah, bisakah pembicaraan ini dihentikan saja?

“ Dosen bilang variabelku sudah terlalu mainstream. Kalaupun tetap mau pakai variabel itu, subjek dan masalah yang aku teliti harus unik.”

“ Kau pasti bisa menemukannya, Woohyun-ssi. Kau saja yang malas. Kapan kau harus mengajukan judul baru?”

Astaga. Mengapa dia kepo sekali? Aku sedang tidak mau mengingat-ngingat beban terberatku itu, aku memang harus mengajukan judul skripsi yang baru pada dosenku minggu depan.

Aku harus menghentikan pembicaraan ini.

Hyung, kau kenal Park Chorong tidak?”

Berhasil. Mata sipit Sunggyu terlihat mendelik setelah aku menyebut nama gadis galak itu, pasti dia kenal.

“ Kenal. Kenapa? Kau akhirnya melihat dia di café roti tadi?”

“ Haha, kau benar.”

Aku tak akan cerita jika aku dimarahi oleh Chorong, hanya akan mempermalukan diriku saja.

“ Dia teman seangkatanmu kan? Kau sama sekali tidak akrab dengannya?” sekarang Sunggyu justru terlihat heran.

Aku menggeleng, “ Aku lebih banyak bergaul dengan kaum minoritas di angkatan.” (kaum minoritas = mahasiswa laki-laki di jurusan psikologi yang jumlahnya sedikit, haha).

“ Hah, lagipula Chorong sendiri tidak punya banyak teman di kampus karena dia aneh.”ucap Sunggyu dengan sedikit berdengus. Ada apa dengannya?

“ Sepertinya kau kenal baik dengan Chorong.”tebakku.

“ Baik? Ha! Baik apanya..” Sunggyu malah semakin mendengus, membuatku semakin penasaran.

“ Kau ada masalah dengannya?”

Sunggyu berhenti mengotak-atik komputernya sejenak dan memutar duduknya menghadap padaku.

“ Dia cantik, kan?”

Hah? Kenapa Sunggyu bertanya ini padaku? Mengejutkan saja.

“ Cantik? Haha. Yaa.. tentu saja.”jawabku kikuk.

“ Dia juga pandai membuat roti. Idaman banget, kan?”

“ Ha! Kau menyukainya?”

“ Ya. tapi aku ditolak. Bukan hanya ditolak. Tapi.. dicampakkan. Dicampakkan dengan kejam.”

WHAT? Maaf Sunggyu hyung, tapi ini terdengar lucu bagiku. Bagaimana bisa? Aku tak menyangka Sunggyu punya cerita dengan gadis galak itu.

“ Hahaha! Kapan itu tepatnya? Ceritakan padaku!”

Meski langsung terlihat kesal, tapi Sunggyu ingin membuka mulutnya, ia memang mudah terbuka denganku, tentu saja karena aku teman curhat yang baik.

“ Sejak dia jadi mahasiswa baru di fakultas kalian, aku sudah memperhatikannya karena dia benar-benar tipe gadis idamanku. Aku bahkan mencari-cari nomor ponselnya, akun SNSnya, tapi tidak pernah ketemu. Aku mencoba pendekatan langsung, tapi dia mengabaikan aku terus. Selesai wisuda aku langsung datang ke café rotinya dan menembaknya saat dia sedang kerja, kukira dia akan menerimaku karena kagum dengan gelar cumlaude-ku, tapi ternyata dia.. ah.. perempuan sialan itu..”

“ Dia.. dia apakan dirimu, hyung?”

“ Kau sama sekali tidak tahu? Myungsoo tidak pernah cerita?”

Aku menggeleng. Memang, senakal-nakalnya Myungsoo, ia tetap adik yang baik dan tak pernah menceritakan aib kakaknya pada siapapun.

“…aku menembaknya di depan banyak orang. Dan dia menolakku dengan cara.. ah memalukan..”

“ Ah, hyung! Katakan saja!”

“ Dia menyumpal mulutku dengan roti yang masih panas.”

“…”

“…”

“ HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!”

Maaf, sekali lagi maaf, Sunggyu hyung. Ini benar-benar lucu. Seandainya aku ada disana saat itu. Chorong teman seangkatanku, tapi aku tak pernah tahu dia bisa sekejam itu.

“ Hei! Sudah!! Malah ketawa!” Sunggyu meninju lututku dengan kesal bercampur malu.

“ HAHAHA!! Roti panas! Hahahaha!!”

“ Skripsi woy pikirkan skripsimu!!!”

“…”

Aku langsung berhenti tertawa.  Sialan, dia benar-benar tahu moodbreakerku.

“ Hah, padahal aku baru saja bahagia.”sungutku, Sunggyu tertawa jahat.

“ Sudah. Jangan lagi bahas roti panas, dan aku juga tak akan bahas skripsimu.”

“ Haha. Baiklah.”

Sunggyu kembali menghadap ke komputernya dan sibuk mengetik banyak kode rumit yang tidak kupahami.

“ Hei, kau tahu tidak? Aku menemukan sesuatu.”katanya tiba-tiba.

“ Oh ya? apa?” tanyaku penasaran.

“ Trik hacking yang paling baru.”ia sedikit berbisik sekarang, membuatku heran.

“ Kenapa harus bisik-bisik?”

“ Karena Myungsoo tidak pernah berhasil menemukan trik ini. Aku tak akan memberitahunya, dia bisa saja meretas yang aneh-aneh nantinya.” Sunggyu meraih setumpuk kertas yang telah ia susun dan jilid lalu meletakkannya di tengah-tengah kami, sepertinya ia telah menulis tutorialnya disana.

Kedengarannya menarik. Seandainya saja aku kuliah di jurusan komputer, mungkin aku juga akan punya banyak waktu untuk mencari trik-trik hacking seperti ini.

“ Apa yang membedakannya dengan trik hacking yang lain?”tanyaku.

“ Trik ini bisa meretas akun SNS yang di private tanpa terlacak. Setelah berhasil masuk, kau tinggal ubah saja passwordnya agar tidak bisa diakses lagi oleh pemilik aslinya.”

Wow. Sunggyu benar-benar jenius.

“…aigoo.. tutorialnya tebal sekali. Tapi aku ingin mencoba triknya.”

“ Tentu saja, itu cara manual, sangat detil dan hati-hati. Aku jamin 100% tak akan terlacak oleh komputer manapun.”

“ Apa motivasimu mencari trik begini?”tanyaku tak habis pikir, ia tertawa.

“ Haha. Aku berharap suatu saat aku bisa berhasil menemukan akun SNS Chorong, aku sangat ingin balas dendam padanya.”

Astaga, rupanya Chorong yang menjadi ‘motivasi’nya.

“…tapi aku sudah tidak mau terlalu memikirkan itu, mungkin saja dia memang tidak punya akun SNS.”lanjut Sunggyu, “…ambil saja tutorialnya, siapa tahu kau dapat inspirasi judul skripsi dengan topik hacking.

“ Hah? Apa hubungannya hacking dengan psikologi?” aku tertawa dan memasukkan lembaran tutorial itu ke dalam tasku.

“ Tentu saja ada, bukankah kau perlu judul skripsi yang anti mainstream?”

 

Hmm.. mungkin saja.

***

 

Night, 08.00 PM

 

Tok..tok.

Aku tersentak, mengalami hypnic jerk mendadak setelah mendengar suara pintu kosku diketuk. Sialan. Aku sedang pulas-pulasnya.

“ Apa itu ibu kos ya?”

Sekarang aku jadi agak takut membukanya, aku yakin akan ditagih lagi. Saat ini keuanganku benar-benar malang, kedua orangtuaku belum mau transfer lagi jika belum mendengar kabar bahwa judul skripsiku disetujui dosen.

Nam Woohyun! Kau di dalam kan!?”

Benar, ibu kos. Suaranya khas.

“ Ya..”

Aku membuka pintunya, perawakan gemuk wanita tua yang pertama kali kulihat, kali ini ia bahkan bertolak pinggang tanda mengancam.

“ Woohyun, kau—“

Ne, saya tahu.. saya akan bayar secepatnya.”

“ Aku tahu apa alasan orangtuamu belum mengirimimu uang lagi. apa sesusah itu mencari judul saja?”

Mencari. Judul. Saja. Haha. Seandainya aku bisa menukar posisi dengan ibu kos ini barang sehari, aku ingin tahu apakah ia tahan menjadi mahasiswa ‘tua’ sepertiku.

Sekarang aku benar-benar terlihat memprihatinkan di matanya, aku sungguh tak suka ini. Harga diriku sudah cukup terinjak-injak di bakery tadi sore.

“ Aku sudah menemukan judul, dan sudah disetujui, aku hanya belum mengabari papa dan mama saja.”jawabku seadanya.

“ Oh ya? aku lega mendengarnya. Apa judulmu?”

Sialan.

“ Haha.. memangnya kenapa, bu?”tanyaku kikuk.

“ Aku hanya ingin memastikan kau tidak bohong padaku.”

Mati aku.

“ Ng..anu..”

“ Apa?”

“ Pe..penelitian..penelitian tentang.. hacking..

Hacking? Bukannya kau jurusan psikologi?”

Oh God, kenapa ibu kos tiba-tiba menjadi seperti dosen yang sedang menyidang mahasiswanya?

“ Yah.. itu berhubungan juga. Jika SNS seseorang dihack, bagaimana perasaan dan tekanan psikologisnya. Yah.. aku meneliti itu.”

Bicara apa kau ini, Nam Woohyun? Biar sajalah. Aku sudah putus asa.

“ Woah, itu keren. Zaman sekarang memang setiap orang tak bisa lepas dari smartphone dan akun SNSnya, pasti mereka akan sangat terpukul jika SNSnya di hack. Anakku pernah mengalaminya, dan dia sampai sakit berhari-hari karena tidak bisa login.

“…”

“…semangat ya ganteng, aku tahu kau bisa melakukannya! Fokus saja pada skripsimu itu, aku saja yang akan sampaikan kabar gembira ini pada orangtuamu dan langsung menerima uang sewa kosnya.”

Ibu kos menepuk pipiku dengan gemas kemudian berlalu. Aku buru-buru kembali masuk dan mengunci pintu.

Apa yang sudah kukatakan?

“ AAARRRGGHH!! Tenang.. tenang..”

Aku langsung mengacak-acak rambut, mendadak depresi, jika ini sampai ke telinga orangtuaku, mereka pasti langsung berekspektasi macam-macam. Lagipula kalau sudah begini, sama saja aku sudah menipu mereka.

Tapi.. apa yang kukatakan barusan benar-benar bisa dijadikan bahan penelitian? Ibu kos memberi tanggapan positif, aku berharap dosen pembimbingku juga demikian.

“…cari..cari..”

Aku hanya perlu menemukan variabel yang sesuai. Kukeluarkan semua buku-buku psikologi memuakkan yang sepanjang semester hanya kutimbun di bawah tempat tidur.

“pada orang yang kecanduan bermain SNS, jika mengalami hacking, mereka biasanya akan sangat panik.. jadi.. variabelnya.. Stres.. motif.. well being.. persepsi.. self contrual.. trauma.. coping.. ah.. bukan.. bukan..”

Kepalaku sudah mulai panas membaca semua istilah ini.

“…kecemasan?”

AHA!

Gambaran kecemasan (anxiety) seorang SNS addict yang mengalami hacking..”

Aku langsung menulis judul skripsi yang tiba-tiba muncul di kepalaku dengan percaya diri. Benar kan, disaat sedang panik atau kepepet, biasanya otak kita bisa mengeluarkan ide-ide brilian.

Ya, brilian. Ini benar-benar judul yang brilian bagiku, tapi..

“ SIAPA SUBJEKNYA!!!?”

Aku panik lagi.  Bodoh memang, sebagus apapun judul yang kutemukan, tak akan ada gunanya jika tak ada subjeknya.

Dan aku tahu, subjek tak bisa kutemukan di buku.

Aku harus mencari orang di lingkungan sekitar. Tapi.. bagaimana cara mencari tahu akun SNS mereka di hack atau tidak?

Kecuali, aku yang melakukannya.

 

“ Aku tahu ini salah, tapi akan lebih salah jika aku menipu orangtuaku..”

Ini jalan satu-satunya.

Selesai mencuci muka, aku segera duduk di depan komputer dengan buku tutorial hacking dari Kim Sunggyu di pangkuanku.

Gila memang, aku akan mencari akun SNS yang tepat untuk kuretas. Atau lebih tepatnya, kujadikan bahan eksperimen karena ini menjadi pertama kalinya aku mencoba. Jika berhasil, akan menjadi keuntungan besar bagiku apabila pemiliknya mau dijadikan subjek penelitian. Dan akan menjadi keuntungan yang lebih besar lagi jika judul-yang-kuanggap-brilian ini disetujui oleh dosen.

Tak ada salahnya mempersiapkan semuanya dulu. Soal disetujui atau tidak, aku hanya perlu teknik merayu yang lebih ekstrim.

“ Akun siapa ya..”

Aku membuka ingstagram, salah satu SNS besar yang penggunanya bahkan sudah melebihi facebook dan twitter. Hampir semua orang di sekitarku memiliki akunnya. Kurasa ini akan mudah saja..

Drrt..drrt..

Aku berhenti sejenak, meraih ponselku yang bergetar. Ada sms masuk.

 

“ Selamat malam, Woohyun sunbae 🙂 Kau sedang apa? Apa aku mengganggumu?

Son Naeun.”

 

Naeun? Bagaimana dia bisa tahu nomorku?

Seorang gadis mengirimiku SMS duluan. Kapan terakhir kali aku mengalami hal ini? Hahaha. Stresku jadi sedikit berkurang membayangkan wajah cantiknya. Aku segera membalasnya.

 

“ Selamat malam juga, Naeun. Darimana kau tahu nomorku? Santai.. aku sedang tidak melakukan apa-apa.”

 

Mungkin kebiasaan berbohong sudah mendarah daging di dalam diriku. ‘Santai.. aku sedang tidak melakukan apa-apa’, padahal aku sedang nekat untuk meretas akun SNS orang demi menemukan subjek penelitian skripsi.

Drrt. Naeun tak mengirim pesan lagi, ia justru langsung menelponku. Wow.

“ Halo, Naeun-ssi?”

“ Ah.. halo.. Woohyun sunbae.. hehe.”

Ia terdengar salah tingkah, wajah cantiknya pasti sedang merah merona. Menggemaskan sekali.

“ Jadi.. darimana kau dapat nomorku? Hehe.”

“ Aku dapat nomormu dari Myungsoo.”

Hah? Myungsoo? Bukannya mereka..

“ Myungsoo? Haha, bagaimana bisa? Bukannya tadi sore kau baru saja memukulinya dengan baki roti?”

“ Saat aku pulang, dia menelponku dan minta maaf. Aku tidak memaafkannya dengan mudah, aku bilang kalau ingin dimaafkan, beritahu nomor Woohyun sunbae dulu padaku.”

“ Hah?”

“ Hehe.. maaf ya, sunbae. Aku tidak tahu lagi harus cari kemana, aku terlalu malu untuk minta langsung padamu, aku pernah minta pada Chorong sunbae karena kupikir ia teman seangkatanmu dan pasti punya nomormu, tapi dia malah memakiku.”

Mendengar nama Chorong, entah mengapa perasaanku jadi aneh. Antara kesal, trauma, takut, dan penasaran. Aku seangkatan dengannya tapi aku tak pernah benar-benar tahu ia gadis yang semengerikan itu.

“ Apa Chorong memang selalu memarahimu?”tanyaku penasaran. Jika memang benar, Naeun pasti sangat tertekan bekerja di café roti itu.

“ Nah, sebenarnya tujuanku menelponmu ya ini, sunbae. Aku ingin curhat tentang pekerjaanku di café, aku takut untuk curhat pada teman-teman perempuan, mereka bisa ember ke Chorong sunbae. Aku curhat padamu karena meskipun kau teman seangkatannya Chorong sunbae, aku tahu kau tidak begitu akrab dengannya, rahasiaku pasti aman di tanganmu, hehe. Kau mau mendengarkan aku, kan?”

“ Hmm..”

Meski aku sedang harus mencari akun SNS untuk dihack, rasanya sayang juga jika menolak Naeun.

“…baiklah, cerita saja.”aku mengaktifkan loudspeaker ponselku, bersiap mendengarkan keluh kesahnya sambil tetap melanjutkan kegiatanku.

“ Ehm.. begini.. kau tahu tidak, café bakery itu milik Chorong sunbae?”

“ Hah? Jadi café itu miliknya? Apa maksudmu, milik keluarganya?”

“ Tidak. Benar-benar milik Chorong sunbae.”

Aih, mengapa Myungsoo tidak pernah bilang kalau café langganannya itu adalah milik Chorong? Aku yakin mereka cukup dekat juga, lagipula aku sudah dengar sendiri Chorong memanggil ‘kampret’ pada Myungsoo di telepon, mereka pasti sudah cukup lama saling kenal. Belum lagi soal kisah memalukan Sunggyu yang baru saja kudengar. Chorong sudah pasti punya relasi dengan dua bersaudara itu.

“…saat aku baru saja jadi mahasiswa di kampus, mulai dari awal ospek aku sudah merasakan Chorong sunbae sepertinya membenciku. Aku sendiri tidak tahu alasannya. Saat ospek, sasaran marahnya hanya padaku, bahkan sampai selesai ospek ia masih tidak suka melihatku, padahal aku sempat berpikir galaknya saat ospek itu hanya akting saja, tapi sepertinya tidak.” Naeun melanjutkan ceritanya.

Aku manggut-manggut, belum bisa berkomentar karena saat menjadi panitia ospek mahasiswa, aku lebih banyak diam dan tebar pesona pada mahasiswa baru. Aku tak pernah peduli dengan rekan-rekan lain yang bersandiwara memarahi mereka setiap hari.

“…tapi saat aku membutuhkan pekerjaan, aku terkejut karena Chorong sunbae tiba-tiba menawariku untuk jadi pegawai di cafenya. Kupikir ini sangat bagus karena sepertinya ia mau memperbaiki hubunganku dengannya, tapi ternyata aku dipekerjakan hanya untuk dimarah-marahi juga..”

Sekarang aku benar-benar tidak mengerti. Mengapa Chorong begitu sentimen pada gadis semanis Naeun?

“ Apa kau pernah ada salah padanya?”tanyaku.

“ Sumpah, sunbae. Aku yakin, aku sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan apapun padanya, aku menghormati semua senior di kampus.”

“ Kapan pertama kalinya kau tahu Chorong tidak menyukaimu?”

“ Hmm.. ya.. saat ospek. Hari pertama baik-baik saja, ia hanya memperhatikan aku saja. Hari kedua, dia mulai memarah-marahi aku.”

“ Ah, begitu ya..”

“ Hmm, kau ingat tidak saat ospek hari kedua? Aku mengirim tugas surat cinta untukmu, hehe.”Naeun sedikit mengalihkan pembicaraan.

Tapi, tunggu..

“ Kau mengirimiku surat cinta?”

“ Iya. Kau tidak menerimanya, sunbae?”

“ Tidak.”

Aku benar-benar tak tahu dan memang tak menerimanya.

“ Aku bahkan tak menerima surat cinta sama sekali saat jadi panitia ospek, surat benci juga tidak. Aku sampai berpikir apa ini karena aku kurang populer, hahaha.”

“ B..benarkah?”

“ Hm. Kau yakin waktu itu kau mengirim suratnya untukku?”

“ Yakin! Bahkan beberapa temanku yang lain juga mengirim surat untukmu!”

“ Ah, masa sih.. kalau begitu seharusnya aku menerimanya. Kemana kalian mengumpulkan tugas membuat surat itu?”

“ Seingatku semuanya dikumpulkan di dalam kardus besar, setelah itu diambil oleh Chorong sunbae untuk dibagikan pada anggota panitia.”

Chorong lagi. pasti ada yang tidak beres. Ada apa sih dengannya? Aku justru semakin penasaran.

“ Sudahlah, lagipula sudah lewat juga, hehe. Lalu bagaimana lagi pekerjaanmu di café?”jawabku seadanya, karena aku mulai sibuk membuka-buka akun ingstagram teman-temanku, namun aku masih bingung –sekaligus takut- memilihnya.

“ Hmm.. yaa begitulah, dari semua pegawai, aku yang paling sering dimarahi. Saat aku tak melakukan kesalahan pasti ada saja alasan Chorong sunbae memarahiku. Apalagi sore ini, jelas-jelas aku sudah menimbulkan kekacauan, jadi aku tidak kaget melihatnya semurka itu padaku. Meskipun jujur, aku benar-benar merasa terluka. Aku bersyukur kau ada di café tadi sore dan menghiburku, Woohyun sunbae.

“ Haha, sudahlah.. lupakan saja kejadian tadi sore. Oke?”

“ Tapi nanti kau tetap akan memberi pelajaran pada Myungsoo, kan?”

“ Tentu saja, kalau kau mau.”

“ Aku mau! Hajar dia sampai babak belur!”

“ Hahaha, baiklah.”

“ Hahahaha..”

Suara tawanya lucu sekali, gadis malang ini..

By the way, kau pernah tanya Chorong sunbae mengapa dia tidak menyukaimu?”

“ Pernah.”

“ Lalu, apa jawabannya?”

“ Dia malah mengancam akan memecatku jika aku bertanya lagi.”

Aigoo..”

Aku semakin tak mengerti. Sudah tiga orang yang kudengar diperlakukan dengan kejam oleh seorang Park Chorong –Sunggyu, Naeun, dan mungkin juga Myungsoo karena dia dipanggil kampret, lol-. Aku tak tahu lagi apakah di luar sana masih ada orang-orang seperti mereka.

Dan aku mulai takut akan menjadi korban berikutnya karena sudah membela Naeun di depannya tadi sore.

“ Oh ya, sunbae..kau benar-benar sedang santai? Bukannya kau sedang skripsi ya?”tanya Naeun kemudian.

Sial. Mengapa semua orang harus bertanya tentang skripsiku?

“ Ahaha, yaa.. aku akan mengerjakannya nanti, aku masih lelah.”

“ Sudah sampai mana skripsimu, sunbae? Kalau boleh tahu apa judulnya?”

Baru sampai mencari subjek. Judulnya? Brilian, tapi di acc saja belum. Aku ingin mengucapkannya, tapi sekali lagi, aku tak mau menurunkan harga diriku.

“ Ooh.. sudah tahap penggalian data, judulnya…”

“ Judulnya?”

“ Rahasia.”

Karena aku belum yakin, maaf.

“ Yah! Mengapa harus dirahasiakan?”

“ Hahaha, nanti kau bisa lihat sendiri saat sudah jadi arsip di perpustakaan.”

“ Tak terasa ya, kau akan segera lulus. Chorong sunbae juga sedang skripsi, akhir-akhir ini ia semakin sensitif karena masih kebingungan dengan judulnya. Ia terlalu fokus dengan pekerjaannya di café sampai lupa tugas akhirnya.”

Naeun benar-benar tahu kondisi Chorong saat ini, dan ia terdengar peduli. Aku salut karena ia tak menyimpan dendam pada gadis galak itu. Mengapa aku baru tahu ada hoobae semanis dan sebaik ini di kampus? Mengapa Myungsoo yang notabene dari fakultas lain mengincarnya duluan?

Dunia ini tidak adil padaku mulai dari skripsi sampai masalah percintaan.

“ Coba kau tunjukkan kepedulianmu pada Chorong, mungkin ia akan melunak padamu.”saranku.

“ Ah.. benar juga. Tapi aku masih takut, setelah kekacauan yang kutimbulkan tadi sore..”

“ Tidak apa-apa. Coba saja dulu.”

Sebenarnya ini hanya aku yang ingin tahu sekeras apa seorang Park Chorong.

“ Aku akan coba, sunbae. Terimakasih banyak sarannya, terimakasih juga karena sudah mau mendengarkan keluh kesahku. Aku akan membuatkanmu roti yang enak nanti, hehe.”

“ Wah, kau benar-benar tahu apa yang aku inginkan, hahaha. Oke, senang bisa mengobrol denganmu malam ini.”

“ Jangan lupa kerjakan skripsimu, sunbae. Hwaiting!”

Aku tidak tahu apa aku harus senang atau jengkel mendengarnya.

“ Haha, ya.. tentu saja.”

“ Kalau begitu, selamat malam, sunbae..

“ Eh! Naeun.. tunggu!”

“ Ya?”

“ Apa kau punya akun SNS?”

Otak jahatku bekerja. Tapi apa aku tega? Naeun sudah semalang ini..

“ Tentu saja. Follow ingstagramku ya, sunbae, namanya sne_94, nanti langsung aku follback.

“ Ah, baiklah..” aku langsung mencari akunnya di komputer dengan penuh harapan.

“ Oh ya sunbae, tolong jangan beritahu nama ingstagramku pada Myungsoo. Aku sudah empat kali ganti akun karena dia selalu membajaknya. Kalau dia membajak akunku lagi kali ini aku akan benar-benar membunuhnya.”

“…”

Ah, sial. Jika aku nekat menjadikan dia sebagai target, tentu saja Myungsoo yang akan disalahkan.

Sambungan telepon kami terputus, aku kembali fokus pada komputerku.

Profil ingstagram Naeun terpampang indah di layar komputerku. Ternyata ia cukup populer, followersnya ribuan dan setiap foto cantiknya memperoleh ratusan like. Mengapa aku baru tahu? Kemana saja aku selama ini?

Aku iseng memeriksa siapa saja followersnya, rupanya mayoritas mahasiswa di kampus kami, baik dalam maupun luar fakultas.

Hingga terpikir olehku, sepertinya aku tak mungkin bisa meretas satupun akun mereka, aku tak tega. Lagipula Myungsoo dan Sunggyu sudah terkenal sebagai hacker profesional di lingkungan universitas. Jika ada kasus hacking, merekalah yang selalu jadi tersangka utama.

Sepertinya aku memang harus mencari akun random, meretasnya, kemudian mengajak kenalan pemiliknya sebelum kujadikan subjek.

Kedengarannya gampang, tapi kenyataannya aku harus berusaha setengah mati. Ini semua salah mulutku yang menjawab pertanyaan ibu kos seenaknya. Sial memang.

Sembari berpikir, aku terus melakukan scrolling pada laman followers Naeun. Hingga sebuah nama akun muncul di urutan paling atas. Akun itu baru saja mengikuti Naeun.

Mulgokizary0303..”

Nama yang unik. Siapa ini?

Aku membukanya dan takjub, followersnya jauh lebih banyak dari Naeun -15.k-, namun akunnya di private. Jika ia salah satu mahasiswa di kampusku dan followersnya sebanyak ini, tidak mungkin aku tidak mengenalnya. Jadi sudah pasti ia orang luar kampus.

Meski aku tak tahu ia perempuan atau laki-laki -karena foto profilnya yang hanya bergambar pie stroberi-, ini sasaran yang tepat. Dengan followers yang sudah sebanyak itu, bagaimana perasaannya jika tiba-tiba ingstagramnya di hack orang? Setelah berhasil meretas akun ini, aku tinggal mencari orangnya saja, setelah ketemu dan membuat kesepakatan, kuajukan judul ini pada dosen, dan jika disetujui, penderitaanku berakhir di ruang ujian sidang skripsi nanti. Ah, jalan yang kedengarannya mudah, kan?

Semoga rancangan dalam pikiranku ini tidak hanya omong kosong.

Aku mulai mengikuti step by step dari buku tutorial hacking di pangkuanku, dengan @Mulgokizary0303 sebagai sasarannya.

*

 

05.00 AM…

 

Aku sudah menguap berkali-kali, benar-benar ingin naik ke atas tempat tidur dan hampir putus asa. Tidak terasa matahari sebentar lagi hendak terbit, aku benar-benar mengorbankan waktu tidurku untuk ide sinting ini. Padahal aku harus kuliah pagi.

Ini sudah kesepuluh kalinya aku mengulang tutorial dari awal karena terus melakukan kesalahan. Ini benar-benar tak semudah yang kubayangkan. Banyak kode-kode aneh  yang harus ku input dengan tepat. Aku sampai tak habis pikir bagaimana Sunggyu menciptakan trik ini. Ingin minta tolong padanya? Aku tak berani, aku takut ia tak setuju dengan ide gila ini. Minta bantuan Myungsoo? Tidak bisa, seperti yang dikatakan Sunggyu, ia tak boleh tahu tentang trik hacking ini.

“ Oke.. aku pasti bisa. Semangat.. semangat!”

Aku semakin teliti karena dikejar waktu, aku harus menuntaskan ini sebelum berangkat kuliah.

Step terakhir, login dengan password yang sudah diubah, refresh dua kali..”

Klik. Klik. Ayolah.. jika aku harus mengulang lagi semua ini, waktu tidur yang kukorbankan akan sia-sia..

Loadingnya benar-benar lama! Aku sungguh gelisah. Akupun berdiri dan merenggangkan semua ototku yang luar biasa tegang karena semalam nonstop berada di depan komputer.

BET!

Komputerku mendadak mati. Tak hanya komputerku, lampu kosku pun mati.

Yang benar saja!? Kos padam listrik di pagi buta seperti ini!?

“ BRENGSEEEEEEEK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Aku benar-benar marah sekarang.

BAK! BUK! BAK! BUK!

Kuambil semua barang di dekatku dan membantingnya. SIALAN!

Sekarang aku benar-benar putus asa, aku tak sudi lagi mengulang tutorialnya!

***

 

06.30 AM…

 

“ Hah!? Kau tidak tidur sama sekali? Apa yang kau lakukan semalaman!?”

Myungsoo langsung memberondongiku pertanyaan saat aku baru saja masuk ke mobilnya. Ia memang selalu mengajakku berangkat ke kampus bersama-sama.

“ Jangan banyak tanya, ah. Tadinya aku mau menghajarmu hari ini, tapi aku benar-benar tidak bertenaga.”jawabku malas.

“ Hahaha, syukurlah.” Myungsoo nyengir, ia mulai menjalankan mobilnya.

“…eh, hyung. Jangan-jangan kau tidak tidur semalaman karena telponan dengan Naeun!? Iya kan!?” ia tiba-tiba sewot.

“ Hah? Tidak kok, kemarin sebentar saja telponannya.”

“ Oh, jadi kalian telponan..”ia masih terdengar jengkel.

“ Siapa suruh memberi nomorku, dia yang menelponku duluan.”

“ Hanya itu jalan satu-satunya agar dimaafkan.”

“ Sudahlah. Pelan-pelan saja mobilnya ya, aku mau tidur dulu barang 15 menit, aku benar-benar ngantuk.”

Hyung, sepertinya Naeun suka padamu.”

Astaga, mengapa dia masih saja bicara?

“ Apaan sih..”tanggapku remeh, tapi Myungsoo sepertinya serius, ia sampai mematikan musik di mobilnya.

“ Kelihatan, kok. Dia minta nomormu, menelponmu duluan. Ah.. mengapa selera dia konyol sekali? Disaat ada mahasiswa ganteng dan kaya yang menyukainya, dia malah memilih mahasiswa tua anak kos-kosan.”

Brengsek. Mulut tajam Kim Myungsoo kumat lagi. Seandainya ia tahu moodku sedang benar-benar buruk sekarang, aku akan menghajarnya dua kali nanti, lihat saja.

“…Hyung, jika suatu saat dia menembakmu, jangan terima dia kalau kau masih mau berteman denganku.”

Bicara apa anak ini?

“ Kau pikir aku sinting? Kalau gadis secantik itu menembakku tentu saja aku terima.”

“ YA!!!”

“ Hahaha. Sudahlah, jangan stres dengan spekulasimu sendiri, kau tidak bisa mengambil kesimpulan Naeun menyukaiku hanya karena dia menelponku saja.”

“ Tapi, hyung.. aku yakin—“

“ Diam. Aku ingin tidur.”

Myungsoo mendengus, namun ia menuruti perkataanku dan kembali fokus menyetir. Dan aku, akhirnya bisa tidur dengan nyaman di dalam mobil mewahnya meski hanya sebentar.

*

 

CKIT!

“ HUA!!”

Aku terlonjak. Myungsoo mengerem mendadak mobilnya. Bukan hanya itu, saat aku membuka mata pemandangan yang kulihat adalah wajah Chorong di kaca jendela pintu di sampingku.

Gila. Aku hampir mati serangan jantung.

Sepertinya Chorong menghadang mobil Myungsoo. Mobil rupanya sudah tiba di kampus, tapi Myungsoo ingin melarikan diri dari gadis itu.

“ Hei kampret, keluar kau!”

Chorong berteriak di luar jendela dan wajahnya dekat denganku. Ia sungguh cantik sekaligus menakutkan, aku ikut tersentak mendengar teriakannya.

“ Si..siapa? a..aku?”tanyaku gugup dan basa-basi, karena Myungsoo masih menelungkupkan wajah tampannya di setir mobil.

Tuk.. tuk.. Chorong hanya menunjuk Myungsoo sambil mengetuk kaca jendela mobil.

“ Hei, keluar buruan!”aku mencubit pinggang Myungsoo.

“ Aku takut, hyung!”jawab Myungsoo jujur. Ha, bahkan laki-laki sekelas Myungsoo saja ngeri dengan Park Chorong.

“ CEPAT!!”

Chorong berteriak lagi di luar, dan aku yang notabene berjarak paling dekat dengannya langsung menutup telinga. Suaranya nyaring sekali.

“ Cepat ah! Jangan jadi pengecut!” desakku sambil mencubit pinggang Myungsoo sekali lagi.

“ Temani aku yah?”bisik Myungsoo dengan nada memohon. Hah, baru saja ia menghinaku, sekarang meminta bantuanku.

Tapi karena aku teman yang baik, aku bersedia menemaninya.

Aku membuka pintu mobilnya dan Chorong mundur beberapa langkah.

“ Hei! Pagi.. bagaimana kabarmu?”tanyaku basa-basi dan sok asik seperti biasa.

“…”

Dia hanya diam, menatapku sebentar dan memutar bola matanya ke arah lain.

Sial, ini masih pagi dan harga diriku sudah terinjak lagi olehnya.

“ Kemari kau!”dia menjewer Myungsoo dan menyeret hacker tampan itu beberapa meter menjauh dari mobil. Myungsoo mengerang kesakitan.

Aku langsung mengikutinya, namun Chorong berbalik dan memelototiku.

“ E..ey, jangan salah paham, aku mau ke ruang kuliah, hehe.” kilahku, Chorong tertawa sinis.

“ Hari ini kelas gabungan Psikometri di aula.”ia menunjuk gedung aula yang terletak di belakangku.

“ Ah.. aku lupa kalau itu di aula!  Hahaha. Oke.. terimakasih.. sudah.. memberiku.. pe..tunjuk.. jalan, hehe.”

Aku tertawa awkward dan berbalik, menjauh dari mereka.

Hyung!!” Myungsoo memanggilku dengan nada merana, namun aku terpaksa tak meresponnya. Chorong menyeretnya ke parkiran.

Tapi aku bukan teman yang sejahat itu, aku kembali mengikuti mereka dan bersembunyi di balik beberapa motor yang parkir. Aku ingin tahu kekejaman jenis apa lagi yang bisa diperbuat oleh Park Chorong.

 

“ Pilih mana, di muka atau di perut?”

 

Sumpah. Pertanyaan Chorong benar-benar mengerikan. Myungsoo nampak memasang wajah sengsara dan meminta belas kasihan.

“ Sumpal saja dengan roti panas. Kebetulan aku belum sarapan, hehe.” Myungsoo mencoba bergurau agar Chorong tertawa dan ia bisa menyelamatkan diri.

Dan sudah pasti, gagal. Chorong masih memasang wajah datarnya.

“ Kenapa kau meninggalkan Woohyun di café kemarin? Dia jadi pulang naik bus, tahu!”

Wait, what? Kenapa jadi aku?

Aigoo.. nuna, aku tak punya pilihan. Setelah dipermalukan seperti itu mana mungkin aku masih diam disana.”

Nuna? Myungsoo memanggilnya nuna? Benar kan, mereka sedekat yang kupikirkan.

“…ey, lagipula aku sudah mengantarnya ke kampus seperti biasa. Sepertinya masalah kemarin itu tidak perlu dibahas lagi. ampuni aku ya, nuna?” Myungsoo mencubit kedua pipi Chorong, tapi tangannya langsung disingkirkan dengan teknik beladiri oleh gadis itu.

Keren.

“ Jangan pura-pura tidak tahu, Kim Myungsoo.”ucap Chorong dengan nada geram, wajahnya tiba-tiba memerah.

“ Tidak tahu apa, nuna?”

“ KAU HACK AKUN INGSTAGRAMKU KAN!!!!??”

Chorong tiba-tiba menarik kerah baju Myungsoo dan ingin menghajarnya, namun Myungsoo buru-buru melakukan perlawanan karena ia sendiri terkejut dengan apa yang ia dengar.

Wait, aku baru tahu Chorong punya akun SNS juga. Bukannya Sunggyu bilang akun SNSnya tidak pernah bisa ditemukan? Dan sekarang.. akunnya di hack? Woah, hackernya benar-benar cari mati.

Hack!? Ingstagrammu? BUKAN AKU!!” Myungsoo balas berteriak karena tak terima dituduh sembarangan.

“ Tidak mungkin! Kalau bukan kau siapa lagi hah!? Sunggyu!!? Dia kan tidak tahu akun ingstaku kecuali kau yang memberitahunya!”

“ Aku tidak pernah memberitahu nama ingstamu pada Sunggyu!”

“ Lalu siapa yang hack ingstaku kalau bukan kau!?”

“ Ya.. ya.. bisa saja orang lain..”

“ Tapi satu-satunya teman di korea yang tahu nama ingstaku hanya kau, kampret. Dan kau seorang hacker, tentu saja kau tersangka utamanya!”

Myungsoo malah ikut kebingungan.

“ Kau.. tahu darimana akunmu di hack?”

“ Tadi pagi aku coba login seperti biasa, tapi dikatakan passwordnya salah. Aku coba berkali-kali dan tetap saja gagal. Sudah pasti ada yang merubah passwordku, kan?!”

“ Itu terdengar mustahil, akunmu di private dan tingkat keamanan ingstagram itu paling tinggi dibanding akun SNS lain. Kecuali ada hacker yang menemukan teknik gila untuk meretasnya..”

 

Hm.. mengapa.. perasaanku mendadak tak enak?

 

“ Jadi benar-benar bukan kau?”tanya Chorong, matanya berkaca-kaca menahan tangis.

“ Sumpah, bukan aku. Aku juga kaget, nuna. Siapa yang berani melakukan ini padamu? Apa dia tidak tahu ingstamu itu sudah seperti nyawamu sendiri?”

“ Sialan!!! Akan kubunuh orang itu!” Chorong benar-benar menangis sekarang, Myungsoo langsung mengusap-usap punggungnya.

 

Aku masih terpaku memperhatikan mereka.

Sumpah, perasaanku mendadak tak enak. Entah apa alasannya.

***

 

10.35 AM..

 

Kelas Psikometri berakhir. Para mahasiswa keluar dari aula.

Aku masih duduk dengan malas di bangku kuliah, sepanjang perkuliahan aku terpaksa pura-pura fokus karena dosennya killer, aku ingin tidur lagi sekarang. Semoga saja tidak diusir satpam.

Aula besar yang tadinya penuh mahasiswa kini telah sunyi dan dingin. Benar-benar nyaman untuk tidur. Sepertinya hanya ada aku sendirian di ruangan ini sekarang.

TAK! TOK! TAK! TOK!

Baru saja aku hendak terlelap, terdengar suara keyboard laptop ditekan-tekan dengan keras. Mengganggu saja.

Aku terbangun dan berniat menegur pelakunya.

…namun tidak jadi karena ternyata itu adalah Park Chorong.

Gadis itu duduk beberapa meja di belakangku, ia sibuk di depan laptopnya, wajah cantiknya terlihat gusar. Aku yakin ia masih sedang berusaha login ke ingstagramnya.

“ AARRGGH!!! SEBENARNYA SIAPA YANG MERUBAH PASSWORDKU!? DASAR BRENGS—“

Ia berhenti mengumpat saat menyadari aku memperhatikannya. Mata kami terkunci beberapa saat.

“ Hai.”

Aku tersenyum kikuk dan melambaikan tanganku sekilas, berbasa-basi.

“ Kenapa masih disini!?”tanyanya.

“ Aku.. mau tidur, hehe. Tapi suara laptopmu menggangguku.”

Aku nekat mengatakannya. Semoga ia tidak menghajarku disini.

Sorry.”jawabnya pendek, lalu kembali fokus pada laptopnya.

Aku kembali berbalik dan berniat melanjutkan tidur. Namun terdengar suara lagi, kali ini bukan dari keyboard laptopnya, melainkan dari touchpad ponselnya.

 

“ Hello? Ingstagram call center? I’m Park Chorong. Please help me, I think someone changes my password. I can’t open my account.”

Ia sedang menelpon call center Ingstagram.

 “…uh.. my account’s name is..”

Ia terdiam sejenak, hingga kudengar suara langkah kakinya mendekatiku. Ada apa?

“ Nam Woohyun, kau sudah tidur kan?”

Aku merasakan tangannya mengguncang sedikit bahuku.

Dan aku, entah mengapa memilih untuk pura-pura sudah pulas.

“ Oke.. aman..”aku mendengarnya bergumam, ia meletakkan kembali ponsel ke telinganya.

“…my account is Mulgokizary0303.”

APA!?

SIAL. SIALAN. APA BENAR YANG KUDENGAR BARUSAN? BAGAIMANA BISA ITU MILIK PARK CHORONG?

Aku masih berusaha tenang dan pura-pura pulas meski jantungku sudah berdebar tak karuan. Bagaimana jika petugas ingsta bisa menemukanku? Chorong bisa memutilasiku disini. Berbagai pikiran menyeramkan langsung menghantuiku. Keringat dingin juga mulai mengucur dari dahiku. Aku lebih memilih benar-benar gagal menjalankan tutorial itu daripada aku berhasil namun yang kuretas adalah akun seorang Park Chorong.

 “…really? Wait.. I’m not lying, Seriously, I can’t open my account. Why did you say my account is okay?”

Sepertinya petugas ingsta tidak bisa mendeteksinya. Sunggyu benar, teknik hackingnya benar-benar canggih meski rumit setengah mati.

Tapi tetap saja aku ketakutan. Chorong masih mondar-mandir di dekatku, berdebat dengan call center ingstagram. Sepertinya mereka mengira gadis itu berbohong sebab di pusat sana, akun Mulgokizary0303nya berstatus aman dan tak terjadi apa-apa.

Teknik hacking Kim Sunggyu benar-benar gila. Tapi masalahnya, AKULAH PELAKUNYA.

Aku semakin gemetaran, aku tak tahan.

“ Duluan yah!”

Aku tiba-tiba berdiri dan menepuk bahunya lalu buru-buru berlari keluar dari aula. Ia heran melihat tingkahku, dan aku tak peduli lagi.

“ Kim Sunggyu.. angkatlah cepat..”

Aku menelpon Sunggyu sembari berlari kecil di koridor, menjauhi aula.

“ Halo, Woohyun?”

Hyung! Hyung.. aku mau tanya..”

“ Apa?”

“ Teknik hacking yang kau beritahu padaku kemarin, apa ada cara pemulihannya?”

“ Hah, sudah kuduga kau akan tanyakan itu..”

“ Jadi? Ada atau tidak??”

“ Ibaratkan saja, aku seorang kartunis yang menciptakan karakter monster kejam, dan aku masih belum mampu menciptakan karakter baru untuk mengalahkan monster itu.”

“…”

“ Kau paham, kan?”

“ J.. jadi.. kau belum menemukan cara untuk memulihkan akun itu?”

“ Belum, Nam Woohyun. Kepalaku sampai hampir pecah memikirkannya. Teknik itu adalah teknik paling jahat sekaligus paling rumit.”

“ Hah.. aku akan mati.. aku akan mati..”

“ Kau kenapa, Woohyun-ah? Kau sudah mencoba hacking dengan tutorialnya!?”

“ Hm. Dan berhasil.”

Mwo!? Lalu kenapa kau ingin memulihkan akunnya lagi?”

“ Karena akun itu milik Park Chorong.”

PRANG!!!

“ APA!!?”

Terdengar suara pecahan. Aku yakin Sunggyu sedang makan atau minum saat mendengar kalimat terakhirku.

“ Bagaimana ceritanya!? Dia punya akun SNS? Mengapa kau membajaknya kalau tahu itu punya Chorong!? Ah.. aku bingung harus senang atau bagaimana, ini adalah tujuan awalku menciptakan teknik itu. Chorong pasti benar-benar menderita sekarang.”

Ternyata dendam Kim Sunggyu pada Park Chorong masih ada. Dan aku sama sekali tak pernah berharap untuk berada dalam urusan ini, namun semuanya sudah terlanjur.

“ Aih.. panjang lah. Awalnya aku tidak tahu akun itu punya Chorong, dia memakai nama zodiaknya. Aku bahkan tidak menyangka juga apa yang kulakukan berhasil karena saat finishing step terakhir komputerku mati.”

“ Lalu.. lalu darimana kau tahu bahwa ternyata itu punya Chorong?”

“ Dia sempat menuduh Myungsoo tadi pagi, dan dia menelpon call center ingstagram di dekatku. Ah.. aku takut sekali hyung, bagaimana jika dia tahu?!”

“…”

Hyung! Jangan diam saja! Aku benar-benar takut..”

“ Kenapa kau harus setakut ini, Nam Woohyun? Tenang saja.. teknik hacking itu benar-benar aman, petugas ingstagram saja tidak bisa melacakmu, apalagi Chorong.”

“ Tapi—“

“ Lebih baik kau bongkar semua isi ingstagramnya. Aku benar-benar penasaran. nanti beritahu padaku, ya!”

Ck, mengapa Sunggyu malah begini?

Hyung, tak bisakah kau pikirkan cara pemulihan akunnya?”

“ Aku sudah putus asa memikirkan itu, Woohyun-ah. Mianhae.

“ Haish..”

Sunggyu hanya tidak niat melakukannya, aku tahu itu.

Aku menutup sambungan teleponnya, sekarang aku jauh lebih gusar dari Chorong. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.

Apa aku tetap pada tujuan utamaku mencari subjek penelitian skripsi? Apa aku lupakan saja rasa takut dan bersalah ini lalu meminta Chorong menjadi subjekku? Apa aku bisa melakukannya?

 

“ Hei!”

Chorong tiba-tiba muncul di dari belokan koridor dan menemukanku, ia berlari kecil ke arahku.

Apa? Sekarang apa? Aku kembali gemetaran. Seperti inikah rasanya menjadi seorang kriminal!?

“…tasmu ketinggalan di aula.”ia sedikit melempar tasku yang ringan ketika ia tiba di hadapanku.

“ Ah.. tasku..” aku benar-benar salah tingkah, “…thanks ya, hehe.”

“ Sedang apa kau disini?”

“ Sedang apa ya? eh..”

Sial, bisakah aku bersikap biasa saja?

“…a..aku..aku sedang menuju RKB 2.3.” syukurlah aku punya bakat berbohong sejak kecil, meski ini kebiasaan buruk, ada gunanya juga dalam situasi seperti ini.

“ Angkatan 2014 sedang kuliah disana. Kau mau mendatangi Naeun?”

Tatapan Chorong benar-benar… aneh. Tajam dan misterius tanpa alasan.

“ I..iya.. iya sajalah..” jawabku pelan.

“ Mau ngapain!?”

“ K..kenapa emangnya?”

“ Lupakan.”ia pergi dari hadapanku dan lanjut berjalan dengan agak cepat.

“ Hei! Tunggu!”

Entah apa yang menggerakkan kaki ini untuk mengejarnya. Apa rasa bersalah? Aku jadi ingin dekat dengannya setelah kejahatan yang tak sengaja kulakukan.

“ Apa?” Chorong berbalik cepat, rambut panjangnya yang wangi hampir menampar wajahku.

“ Kau.. sudah makan?”

“…”

Ia nampak terkejut. Apa baru kali ini ia mendengar pertanyaan semacam itu dari seorang laki-laki?

“ K..kenapa memangnya?”

“ Aku tahu kedai sup nasi yang enak di dekat kampus. Menu kantin sudah agak membosankan.”

“…”

Ia diam lagi. Diamnya itu.. argh, membuatku gemas.

“…m..mau ikut? Aku.. aku yang traktir, hehe.”lanjutku, meski uang di dompet ini benar-benar kesepian karena tinggal selembar.

“ Hm.”

Ia menjawabnya dengan anggukan dan senyuman kecil. Ini senyuman pertamanya yang kulihat. Kenapa ia tidak sering-sering seperti ini saja?

Kami berjalan canggung keluar dari lingkungan kampus, menuju kedai nasi langgananku. Sepanjang jalan kami saling diam, aku tak tahu apa yang ia pikirkan, sementara aku sendiri berpikir apa yang harus kubicarakan nanti saat makan agar suasana tidak terlalu aneh.

Hingga aku terpikir untuk langsung memintanya menjadi subjekku.

Semoga aku berhasil.

*

 

“ Oh ya, aku baru tahu café roti kemarin itu milikmu. Kau hebat, ya.”

Basa-basi dimulai. Aku membuka pembicaraan ketika kami sampai dan mulai makan di kedai nasi sederhana ini. Tempatnya belum begitu ramai karena masih jam kerja.

“ Tahu darimana?”ia bertanya sambil meniup supnya yang masih panas.

“ Naeun.”

TUK.

Ia meletakkan sendoknya dan memberiku tatapan datar lagi. Ya Tuhan, apa aku salah bicara?

“ Kau pacaran dengannya?”

EHEK!

Sekarang aku tersedak, pertanyaan macam apa itu?

“ Hahaha. Tidak, lah. Kau kira kami seakrab apa? Setelah kejadian kemarin saja aku baru mulai mengenalnya.”

“ Oh.”

Sudah? Itu saja? Bagaimana cara mengarahkan pembicaraan ini sampai ke permintaan untuk menjadi subjek penelitian?

Oke, aku tahu.

“ Oh ya, kau sudah mulai garap skripsi?”

“ Baru persiapan. Kau?”

“ Nah.. itu.. kemarin judulku ditolak.”

“ Aku tahu.”

“ Hah?”

“ Eh.. tidak.”

Dia memang gadis aneh.

“ Apa judul skripsimu?”tanyaku.

“ Studi eksperimen tentang pengaruh kekerasan verbal terhadap stress kerja.”

Hah? Tunggu.. seperti ada yang aneh.

“ Hebat sekali, sangat jarang ada yang mau membuat penelitian eksperimental karena akan lambat lulusnya, penelitiannya harus jangka panjang, kan?”

“ Hm. Memang itu yang kumau.”

Sekali lagi, dia memang aneh. Tapi lebih aneh lagi judulnya, membuatku penasaran.

“ Kalau boleh tahu siapa subjekmu? Sangat jarang juga menemukan orang yang mau dieksperimen.”

“ Tentu saja, siapa yang mau buang-buang waktu untuk dieksperimen. Makanya kulakukan diam-diam.”

“ HAH?”

Satu lagi kekejaman Park Chorong yang kutemukan.

“ Aku mengeksperimen Son Naeun dengan terus memarah-marahinya di café. Tak masalah kan jika aku beritahu padamu? Aku yakin kau tak akan membocorkannya jika kau masih mau hidup.”

“…”

Dia cuma bercanda, kan?

“ Hahaha! Kau lucu sekali.. haha.. haha..” aku tertawa paksa untuk menutupi rasa takut ini.

“ Apa kau sudah menemukan judul baru?”ia mengalihkan pembicaraan. Syukurlah, ia mulai mau mengobrol dengan cair denganku.

“ Hmm.. sudah, tadi pagi juga sudah kuajukan. Tapi aku harus mencari subjeknya segera, kalau-kalau disetujui.”

“ Oh ya? memang subjek seperti apa yang kau perlukan?”

“ Subjek yang..”

Yang akun SNSnya sedang di hack. Apa aku bisa sebutkan ini? Aku takut ia down lagi.

“…ah, begini.. aku ingin meneliti dinamika kecemasan pengguna SNS jika akunnya diretas. Dan..aku tahu kau sedang punya masalah dengan ingstagrammu, saat di aula tadi aku sedikit mendengarmu menelpon call center..”

Aku memilih jujur, meski nada suaraku bergetar, tenggorokanku juga rasanya tercekat dan tak bisa lagi menelan nasi.

“…”

Ia diam lagi. Ayolah.. katakan sesuatu, jangan membuatku gugup.

“ Lalu?”tanyanya datar.

“ Yah.. kalau kau mau, apa kau mau menjadi—“

“ Subjekmu? Tidak.”

Astaga. Sebelum aku menyelesaikan kalimat, ia sudah menolak.

“ Yah, kenapa? Lagipula judul ini belum tentu disetujui.”

“ Kalau disetujui bagaimana? Aku tidak mau.”

“ Kenapa tidak mau?”

“…”

Dia diam lagi untuk sejenak. Lama-lama aku frustasi disini.

“ Ayolah, bantu aku.”

“ Tidak. Cari subjek lain saja.”

“ Setidaknya biarkan aku tahu alasanmu menolakku. Kau tak mau aku membuang waktumu untuk wawancara? Tenang saja.. aku akan menyesuaikan semuanya padamu.”

“ Bukan itu.”

“ Lalu?”

“ Isi SNSku.. aku tak akan pernah beritahu siapapun. Aku yakin kau akan mempertanyakan itu dalam wawancara, kan?”

Apa serahasia itu ingstagramnya? Mengingat kudengar tadi pagi bahwa hanya Myungsoo satu-satunya teman di Korea yang tahu siapa Mulgokizary0303. Aku semakin penasaran untuk membongkar isi ingstagramnya sepulang ke kos.

Baiklah, ‘kencan’ hari ini tak berjalan begitu baik karena Park Chorong tidak semudah itu terbius ‘rayuan’ku.

Tapi aku tak akan menyerah.

***

 

“ Halo. Selamat, Nam Woohyun. Judul skripsi yang kau ajukan tadi pagi kusetujui. Kerjakanlah dengan sungguh-sungguh. Aku masih di Jepang dan akan pulang dua minggu lagi, setelah aku pulang segeralah konsultasi dengan membawa BAB I serta hasil observasi juga wawancara sebagai studi pendahuluan. Selamat mengerjakan.”

 

Email dari dosen pembimbingku masuk saat aku baru saja tiba di kos. Lututku mendadak lemas.

Ini adalah yang kudambakan sejak awal, sebuah persetujuan. Tapi ternyata aku masih harus berjuang membujuk Chorong untuk menjadi subjek. Waktuku hanya dua minggu dari sekarang.

Aku segera masuk ke kos dan tak tergoda lagi untuk tidur, aku langsung menyalakan komputerku untuk menjawab rasa penasaran atas perkataan Chorong tentang isi ingstagramnya, yang sepertinya ia rahasiakan rapat-rapat.

Klik.

Benar saja. Aku masuk sebagai mulgokizary0303 saat aku membuka ingstagram. Perjuanganku tadi malam rupanya tidak sia-sia.

Akun ini…

Notifikasinya sangat banyak. Namun, bukan itu yang membuatku terkejut. Tapi..

“ KENAPA AKU ADA DISINI?”

SUMPAH, AKU TIDAK SALAH LIHAT, KAN?

Aku nyaris jantungan lagi, terkejut melihat postingan Chorong dalam akunnya yang tak hanya berisi foto-foto cantiknya dan foto-foto roti lezat buatannya, namun juga hampir sebagian besarnya berisi..

Foto-fotoku.

Aku bahkan tak tahu kapan semua gambar ini diambil. Semuanya candid. Saat aku di kampus, di lapangan futsal, dan beberapa di café roti itu. Siapa yang memotretku? Chorong tak selalu berada di dekatku, kan? Lagipula apa motivasinya memasang semua ini? Apa dia psikopat?

Ini gila. Aku sama sekali tidak percaya. Fotoku tersebar dan dilihat oleh 15.k followersnya!

Ting! Ada notifikasi baru di inboxnya. Sebuah pesan dengan bahasa Perancis dari akun bernama @Ellen123. Karena penasaran, aku copy paste dan menerjemahkannya dalam bahasa Korea.

 

“ Park Chorong, kau benar-benar sibuk ya? mengapa belum membalas pesanku? Kau baik-baik saja, kan?”

 

Aku scrolling ke atas, rupanya Chorong memiliki chit chat yang panjang dengan temannya ini, dan semuanya berbahasa Perancis, aku nyaris mabuk membacanya karena tidak paham sama sekali.

Apa Chorong pernah tinggal di Eropa? Aku melihat semua following dan followersnya adalah orang-orang sana. Satu-satunya orang korea yang ia follow hanyalah Myungsoo, dan Naeun, yang baru ia lakukan kemarin malam sebelum kuretas akunnya.

Sekarang aku memberanikan diri membuka salah satu fotoku yang ia posting. Foto saat aku tengah duduk di café rotinya bersama Myungsoo. Apa dia yang mengambil gambar ini?

Captionnya berbahasa Perancis juga.

Je suis amoureuse de toi❤ ”

Mari kita translate.

“ Aku jatuh cinta padamu <3”

“ HAH!?”

Aku sampai membanting mouse di tanganku. Aku tidak gila, kan? Yang kulihat benar-benar nyata, kan? Apa Myungsoo membajak akunnya dengan mengupload foto-fotoku ini? Tapi tidak mungkin, Myungsoo sangat segan pada ‘nuna’nya itu.

Kubuka lagi foto-fotoku yang lain, semua captionnya berbahasa Perancis dan satu per satu kuterjemahkan.

“ Tu es toujours dans mon coeur (kamu selalu di hati)”

“ Je t’aime pour toujours et a jamais (aku mencintaimu selalu dan selamanya)”

“ T’es le symbole de mon vrai amour, Nam Woohyun (kamu adalah simbol cinta sejatiku, Nam Woohyun)”

 

Cukup. Lama-lama aku gila membacanya. Seharusnya ini sudah menjadi lebih dari bukti bahwa… yah, Chorong menyukaiku. Plot twist macam apa ini? Aku tak pernah menduga ini terjadi dalam kisah hidupku yang menyedihkan.

Yang membuatku lebih takjub lagi adalah, semua followersnya tahu bagaimana perasaannya padaku. Mereka terus memberikan komentar dan semangat agar Chorong berani mendekatiku. Dan sintingnya, Myungsoo juga ikut berkomentar “ciee..ciee” disana. Ia sangat handal merahasiakan hal ini dariku. Kurasa Sunggyu juga pasti sama sekali tak tahu tentang hal ini.

Aku kembali membongkar isi inboxnya. Kali ini aku menerjemahkan isi chit chatnya dengan Ellen. Ia berhubungan baik sangat lama dengan gadis Perancis ini, mereka chatting mulai dari tiga tahun yang lalu.

 

“ Ellen!!!! Aku benar-benar gembira!”

“ Sesuatu terjadi, Park Chorong?”

“ Akhirnya aku menemukan alasan untuk betah tinggal di Seoul.”

“ Benarkah?! Apa itu!?”

“ Aku.. menemukan seorang lelaki. Aku jatuh cinta.”

“ WHAT? Hei, ini yang kutunggu-tunggu! Siapa lelaki yang berhasil merebut hatimu yang keras itu?”

“ Dia.. teman seangkatanku disini. Jika kau memintaku untuk memberitahumu apa alasan aku menyukainya, aku tak punya. Ia hanya mahasiswa tampan yang menjalani hari-harinya dengan normal sepertiku. Apa ini tandanya cinta sejati? Aku lupa dengan segala tipe dan standarku ketika aku melihatnya. I love him the way he is.”

“ Tell me his name! Aku sungguh bahagia mendengar kabar ini!”

“ Nam Woohyun <3”

 

Aku masih tak bisa berkata apapun. Tiga tahun lalu kami masih menjadi mahasiswa baru, aku tak tahu Chorong sudah mulai memperhatikanku dari sana.

 

“ Tapi, Ellen.. kau tahu aku bukan orang yang bisa membahasakan perasaanku dengan baik. Kurasa aku tak akan berani mengungkapkan perasaan ini. Aku punya banyak penghalang, mulai dari gengsi, sampai ketakutan akan penolakan. Woohyun ramah pada semua gadis. Dan yang kulakukan justru membenci gadis-gadis itu.”

“ Huh.. kau masih membawa sifat kerasmu? Come on, Park Chorong.. kau tidak bisa berubah sedikit?”

“ Aku tak bisa, Ellen. Aku justru akan menggunakan pembawaanku ini lebih jelas untuk mendapat perhatian darinya. Kudengar beberapa laki-laki justru penasaran dan tertarik dengan gadis yang tidak ramah dan galak.”

 

Kau benar, Park Chorong.

Kejadian di café kemarin membuatku begitu penasaran siapa dirimu dan mengapa kita tak pernah akrab. Tapi caramu yang seperti ini… sedikit tak terduga.

Aku melihat semua postingannya hingga yang paling pertama, Chorong juga rupanya mulai ‘mempublikasikan’ rasa cintanya terhadapku pada teman-teman Eropanya dari tiga tahun lalu hingga sekarang. Inikah yang membuatnya sanggup untuk tidak mengutarakannya padaku selama bertahun-tahun? Karena ia telah melampiaskan semuanya di ingstagram?

Ini manis sekaligus konyol. Ia punya cara unik untuk menikmati rasanya jatuh cinta. Ia mengunci akun SNSnya serapat mungkin dan hanya mengizinkan orang-orang di luar korea yang tahu tentang perasaannya kepadaku.

Melalui akun ini, akhirnya aku tahu.. Park Chorong adalah gadis populer di sekolahnya di Perancis, ia pernah tinggal disana bertahun-tahun, sekolah di SMA Tata Boga hingga ia menjadi pembuat roti yang handal seperti sekarang. Teman dan fansnya disana cukup banyak justru karena keunikan sifatnya, yang galak, judes, namun manis dan menggemaskan ketika jatuh cinta.

Dan aku, secara tak langsung juga menjadi ‘populer’ di kalangan teman-temannya di Eropa karena Chorong tak henti-hentinya mengungkapkan perasaannya di ingstagram setiap hari.

Bukan hanya aku, tetapi Naeun juga. Aku tertawa tak habis pikir melihat salah satu foto yang diposting Chorong di ingstagramnya.

Sebuah gambar kardus berisi banyak amplop tugas surat cinta dari mahasiswa baru yang sedang ospek setahun lalu. Tepatnya, yang aku dan Naeun sempat bicarakan di telepon tadi malam.

Aku membaca captionnya, yang tentu saja sudah diterjemahkan dari bahasa Perancis : “ Surat untuk pujaan hatiku banyak juga rupanya. Cukup lelah membukanya satu per satu dan membakarnya sebelum kucatat semua pengirimnya. Mereka akan kuberi pelajaran. Terutama kau, Son Naeun. Kau paling nampak menginginkan pujaan hatiku. Tak akan kubiarkan kau mendekatinya.”

Jadi ini alasanku tidak menerima satupun surat saat itu. Baiklah, bukan perkara besar. Yang penting adalah, keluh kesah Naeun kemarin ada benarnya, Chorong memang cukup membencinya. Tapi alasannya konyol, karena ia berpikir Naeun juga menyukaiku? Myungsoo juga berpikir demikian.

Tapi mengapa aku sendiri tidak? Aku tak pernah berangan-angan tinggi tentang siapa saja gadis yang menyukaiku, karena aku sadar aku bukan siapa-siapa, menyentuh level Myungsoo dan Sunggyu saja tidak. Aku hanya mahasiswa biasa yang sering menunggak bayar uang sewa kos.

 

Saat ini yang paling jelas adalah Park Chorong. Ia sungguh-sungguh menyukaiku. Dan aku mulai blank tentang skripsi karena hal ini. Apa yang harus kulakukan sekarang? Mempertimbangkan perasaannya atau…

Tetap fokus pada tujuanku menjadikannya subjek penelitian?

***

 

5 hari kemudian . . .

 

Hari-hari berlalu begitu saja. Chorong masih teguh pada pendiriannya untuk tidak mau menjadi subjek penelitianku meski aku mentraktirnya setiap hari. Aku tak bisa bergerak untuk mengerjakan bab pertama skripsiku karena dia. Jadi yang kulakukan hanyalah mengamati isi ingstagramnya berulang-ulang setiap hari.

Karena semakin aku membacanya, semakin aku merasa bahwa aku tidaklah seburuk yang kubayangkan. Aku punya daya tarik hingga gadis seperti Chorong menyukaiku.

Sampai saat ini aku menutupi apa yang kuketahui, meski rasanya sedikit ‘berbeda’ melihatnya yang selalu pura-pura jual mahal.

Kukira ini tak ada gunanya, hingga akhirnya, hari ini aku menemukan ide baru untuk ‘memaksa’ Park Chorong secara halus untuk menjadi subjek penelitianku, ide ini muncul begitu saja karena waktuku untuk mengerjakan bab pertama semakin sedikit.

Malam ini, aku akan menemui Chorong di café rotinya. Aku akan datang dengan Myungsoo, seperti biasa. Sebenarnya malam ini, aku dan Myungsoo akan melakukan ‘rencana besar’. Myungsoo akan menembak Naeun di café, yang otomatis di depan banyak orang, dan aku bertugas untuk mengalihkan perhatian Chorong agar ia tak melihat apa yang terjadi di cafenya. Sebab apa yang dilakukan Myungsoo tentu berpotensi menimbulkan kerusuhan lagi jika Naeun marah, dan imbasnya, Choronglah yang akan murka, Myungsoo tak ingin itu terjadi.

Aku memanfaatkan ‘tugas’ ini sebagai kesempatan emasku merayu Chorong lagi.

Aku mengenakan pakaian andalanku yang paling necis, dan memakai parfum lebih banyak dari biasanya. Malam ini, rayuanku harus mempan. Biar saja jika harga diriku terluka lagi, yang paling penting sekarang adalah aku harus segera mendapatkan subjek dan mengerjakan bab pertama penelitian.

Drrt..drrt..

Ponselku bergetar ketika aku tengah menunggu Myungsoo menjemputku.

Kim Sunggyu.

5 hari berlalu, 5 hari pula aku mengabaikannya. Setelah mengetahui isi ingsta Chorong, aku tak berani bicara apapun pada Sunggyu. Aku tak ingin ia kecewa setelah melihatnya. Padahal ia benar-benar penasaran. Ia bahkan sempat mendatangiku ke kos, tapi aku melarikan diri.

Seperti sekarang. Aku mereject panggilannya. Entah sampai kapan aku akan begini. Maafkan aku, hyung.

 

TIIIT!

Terdengar bunyi klakson dari luar. Myungsoo datang dengan mobilnya. Aku buru-buru keluar dari kos dan masuk ke dalam mobilnya.

“ Apa kabar, Nam Woohyun?”

“ ASTAGA!”

Aku terkejut bukan main saat menangkap sosok Sunggyu di jok belakang melalui spion dalam. Bukan apa-apa, seperti penampakan saja, dan kenapa pula ia harus ikut? Ah.. aku harus menggunakan kemampuan berbohong tingkat tinggi jika ia nanti bertanya tentang ingstagram Chorong.

“ Haha, kenapa kaget begitu?”tanya Myungsoo sambil menjalankan mobilnya.

“ Dia mengabaikanku berhari-hari.”jawab Sunggyu, dengan mata sipitnya yang masih tetap ke arahku dengan tatapan dendam.

“ M..maafkan aku, hyung. Aku sedang dipusingkan dengan skripsi, jadi aku tidak menerima telepon dari siapapun.”jawabku beralasan.

“ Tapi tiap malam kau selalu mengangkat telepon dari Naeun.”sindir Myungsoo dengan nada sewot.

Darimana pula dia tahu hal itu? Naeun memang jadi sering menelponku tiap malam, dan aku tak pernah tega mengabaikan gadis manis dan malang itu.

“ Sudahlah.. ngaku saja kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku.”ucap Sunggyu.

Sialan. Aku malah dibully di dalam mobil oleh dua bersaudara ini.

“ Tak ada yang kusembunyikan, hyung. Sungguh.”

“ Kalau begitu beritahu semuanya padaku nanti.”

Aku tahu apa yang ia maksud, dan aku mengangguk saja dulu.

“ Beritahu apa?”Myungsoo penasaran.

“ Tidak ada.”jawab Sunggyu.

“ Tidak mungkin! Kalian merahasiakan sesuatu dariku, kan!?”

“ Tidak. Sudahlah fokus saja, kau mau menembak Naeun malam ini kan?”

 

Myungsoo mengangguk dengan percaya diri.

 

“ Ya. dan kupastikan ia akan menyesal jika menolakku.”

*

 

Kami tiba di café. Malam ini malam minggu, café dua kali lipat lebih ramai dari biasanya.

Myungsoo turun duluan dengan satu buket bunga di tangannya. Sunggyu menyusulnya dan masuk duluan ke tempat bakery, pura-pura memesan roti yang masih di oven agar Naeun mengantarnya ke meja kami nanti. Sepertinya sebelum menjemputku, dua bersaudara ini juga sudah saling atur strategi.

Aku ikut duduk dengan Myungsoo di tempat outdoor dan mengamati dapur dari kaca café, namun tak kulihat sang head baker disana. Aku memeriksa ponselku, Chorong belum membalas pesanku, padahal aku sudah bilang padanya bahwa aku datang.

Aneh, kan? Seharusnya orang yang jatuh cinta justru menungguku dan menampakkan dirinya. Tapi Chorong malah menghilang dan tak memberi tanggapan.

“ Chorong mana, ya?”aku bertanya pada Myungsoo.

“ Aku lega, hyung. Sepertinya kau lebih suka Chorong daripada Naeun, kan? Lihat, kau sampai bergaya keren begini untuk menemui Chorong..”

Ck, anak ini masih saja…

“ Sudahlah, mana Chorong? Aku harus buru-buru ‘mengamankan’ dia sebelum kau menembak Naeun.”

“ Aku tidak tahu. tapi kalau mau memastikan, kau ke belakang dapur saja. Lewat sana.” Myungsoo menunjukkan arah padaku.

Tanpa buang waktu, aku berdiri dan berlari kecil menuju ke arah yang ditunjuk oleh Myungsoo.

Aku tiba di halaman belakang café yang sepi dan agak gelap, dan bingo! Aku melihat Park Chorong sedang duduk sendirian di depan pintu sambil mengipas-ngipas lehernya dengan topi bakernya.

“ Hei!”

Ia menoleh, mata bulatnya membesar saat melihatku, ia pasti terkejut.

“ N..Nam W..Woo..Woohyun?”

“ Kenapa kau disini? aku men—“

“ Pergi sana!!!”

Ia langsung berdiri dan menjauh sambil menutup wajah dengan topinya ketika aku melangkah mendekatinya. Lagi-lagi ia sok galak dan jual mahal.

Ketahuilah, Park Chorong, itu sama sekali sudah tak berguna. Aku sudah tahu bunga-bunga di hatimu.

“ Santai.. santai.. aku tak akan memaksamu menjadi subjek lagi.”

“ Masa?”

“ Iya, tenang saja. Duduk sini.”

“ Tidak. Pergi kau!”

Ia benar-benar keras kepala.

“ Kenapa kau takut begitu melihatku, Chorong-ssi? Aku tak akan memakanmu.”

“ Bukan begitu.. aku.. aku sedang berantakan.”

Ia pasti sudah bekerja keras di dapur, tubuhnya memang sedikit berpeluh dan rambutnya agak tak beraturan. Dan lucunya, tubuhnya beraroma roti.

“ Tidak masalah. Kau tetap cantik.”

Ya. rayuan dimulai. Sepertinya ini bekerja, Chorong sedikit tersipu mendengarnya.

“ Memangnya kau ada perlu apa kesini?”

“ Hah.. perlu apa ya? sebenarnya tidak ada. Aku hanya kangen.”

“…”

Kali ini aku suka diamnya. Karena itu pertanda ia terkejut dan termakan perkataanku.

“ Kangen? Lebih penting kangenmu atau skripsimu? Aku yakin kau belum mengerjakan bab pertamanya sama sekali.”

Jleb.

Chorong memang pandai menutupi perasaannya sekaligus membalikkan keadaan.

“ Tentu saja. Aku masih berharap kau yang jadi subjek, tapi kau terus menolak. Lalu aku bisa apa..”

Sekarang aku mencoba trik belas kasihan. Wajah tampan ini sengaja kulesu-lesukan agar ia ratu tega di depanku merasa simpati.

“ Memangnya tidak ada subjek lain apa?”

“ Mungkin orang yang ingstanya di hack banyak.. tapi yang cantik sepertimu, mana ada..”

Oke, ini sinting. Tapi apa peduliku, Chorong harus luluh.

“ Apaan sih..” kudengar ia mendengus namun dengan salah tingkah. Haha, kau tak bisa menyembunyikan perasaanmu lagi, Park Chorong.

Aku meraih tangan putihnya dan mengelus punggung tangannya dengan ibu jariku, perlahan tubuhnya tertarik mendekatiku. Sialan, ini hanya trik tapi aku ikut bergetar.

“ Aku tidak akan lagi memaksa kau jadi subjekku.. hanya saja.. pertimbangkan, ya? kalau kau mau.. aku juga bisa jadi teman kencanmu.”aku berbisik lembut di telinganya.

“…”

Ayolah.. luluh saja.. luluh..! kalimat barusan adalah senjata terakhirku.

“…”

Chorong masih saja diam,  menatap mataku dengan pandangan yang sulit diartikan. Ck, kenapa kau susah sekali menjawab? Bukannya kau menyukaiku?

Drrt..drrt..

Di tengah kebisuan kami, terdengar suara ponsel bergetar, Chorong menerima sms dari salah satu pegawainya dari dalam café, aku ikut melirik isi smsnya.

 

“ Unnie! Naeun membuat kekacauan lagi, dia ditembak lelaki yang dia pukuli kemarin, dia menolak dan ngamuk-ngamuk sekarang. Café jadi rusuh! Cepat kesini!”

 

APA!? Sial. Mengapa ini tak sesuai rencana?

Chorong menurunkan ponselnya dan buru-buru hendak berlari masuk ke café. Ia pasti akan berteriak lagi seperti kejadian sebelumnya.

Tidak. Ini tidak boleh terjadi.

“ Chorong! Kau belum jawab penawaranku!” aku mencoba menahannya, namun ia menepis tanganku dan berlari masuk ke café.

Tak kubiarkan, aku mengejarnya hingga ke dalam café. Benar saja, seluruh pengunjung berkerumun menyaksikan Myungsoo yang tengah dicampakkan oleh Naeun. Myungsoo menyadari kehadiran Chorong duluan, dan ia langsung gemetar. Jika Chorong ikut mengamuk, sudah pasti tugasku ‘mengamankannya’ gagal total.

“ SIALAN.. SUDAH KUBILANG JANGAN BIKIN RIBUT..”

Chorong menggerutu dengan geram dan siap-siap berteriak sementara ia semakin melangkah mendekati Naeun.

Aku harus bagaimana!?

“ Chorong! Jawab pertanyaanku yang tadi dulu!” aku masih berusaha mengejarnya dan terus mempertanyakan pertanyaan tolol itu. Aku putus asa.

Tentu saja Chorong tak menghiraukanku, ia menarik nafas panjang dan siap berteriak memaki Naeun, aku mempercepat langkahku dan berhasil menyentuh tangannya.

“ SON NAEUN!!!! BERANI-BERANINYA KAU BERBUAT KACAU LA—“

Semoga aku tidak menyesali ini.

Aku menarik tangannya sekuat tenaga hingga ia berbalik dan tubuh kami menempel satu sama lain. Dalam jarak sedekat itu, akal sehatku benar-benar hilang untuk sementara.

Karena aku juga membuat bibir kami menempel satu sama lain. Aku menciumnya.

Meski otakku seolah-olah berhenti bekerja, telingaku masih berfungsi. Aku mendengar suara semua orang kini jauh lebih berisik dari saat Naeun menolak Myungsoo. Aku bahkan mendengar suara jepretan kamera ponsel dari berbagai penjuru.

Dan untuk sesaat, aku mencoba tak peduli. Aku menunggu reaksi Chorong. Jika ini gagal dan ia memberontak, ini akan menjadi cara paling idiot yang pernah kulakukan.

Tetapi.. tidak.

Ia diam bahkan mulai menutup matanya, perlahan bibirnya bergerak dengan getaran, seolah meminta sentuhan yang lebih dalam dariku.

Haha, sedalam itukah perasaannya padaku sampai ia lupa dengan amarahnya pada Naeun dan lebih memilih untuk menikmati ide bodohku?

Ciuman kami perlahan bergerak ke ‘tahap berikutnya’, tangan Chorong yang semula kugenggam erat berpindah ke bahuku, sedangkan tanganku mengunci pinggangnya, mencoba menjaga posisi kami. Bibir kami mulai saling bergerak tanpa rasa malu. Tak perlu waktu lama untukku ikut mabuk dalam sentuhan ini.

Dalam 22 tahun hidupku, ini adalah pertama kalinya aku mencium bibir seorang gadis, dan ‘lezat’nya tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata.

Well, ini pasti menjadi keberuntungan besar juga bagi Park Chorong, dicium duluan oleh lelaki yang disukainya, hal yang hanya bisa terjadi dalam drama dan mustahil terjadi dalam kehidupan normal.

Tapi disinilah aku, memberanikan diri melakukannya di depan banyak orang, ini puncak perjuanganku untuk mendapatkan subjek penelitian.

Aku mulai memikirkan tujuan utamaku, Chorong harus luluh dalam posisi ini. Aku mencoba mendominasi dengan memberinya sentuhan-sentuhan yang lebih lembut dan seduktif hingga dapat kudengar suara nafasnya semakin memburu karena terkejut akan perlakuanku. Namun ia menikmatinya, mulutnya setengah terbuka dan tangannya meremas bahuku.

Semua orang di sekitar kami semakin berisik, suara kamera semakin bersahutan dan aku semakin bangga.

Kau sangat menyukaiku, Park Chorong. Lepaskan saja semuanya, kau tak perlu menutupinya lagi dengan kegalakanmu.

Rasa malu kami kembali. Sadar telah melakukan kontak intim di depan umum begitu lama, aku dan Chorong sama-sama membuka mata dan melepaskan ciuman, bahkan bibir kami sempat melengket satu sama lain.

Wajah putih Chorong kini merah matang, ia menggigit bibirnya yang beberapa saat dikuasai olehku. Sudah pasti bunga-bunga di hatinya tengah bermekaran.

Semua orang masih merekam kami, menunggu apa yang terjadi selanjutnya.

“ Nam Woohyun..”Chorong menyebut namaku dengan setengah berbisik.

“ Ya?”

BUK!!!!

DEMI APA!? DIA TIBA-TIBA MENONJOK WAJAHKU!

Semua orang semakin liar merekam kami, aku terbaring di lantai karena pukulannya keras sekali dan aku tidak dalam posisi siap menerima bogem darinya. Darah dengan cepat memancar dari ujung bibirku yang baru saja dimanjakan oleh ciuman barusan.

 

APA DIA SUDAH GILA!?

*************

 

Esok harinya..

 

“ Aku tidak tahu harus kasihan atau apa padamu, hyung. Satu sisi aku kasihan melihatmu tiba-tiba ditonjok, tapi sorry juga, satu sisi aku senang karena orang-orang jadi lupa Naeun mencampakkan aku tadi malam, mereka lebih heboh dengan kau dan nuna, eh.. Chorong. Lagian ada apa sih kalian? Habis ciuman hot langsung ditonjok.”

Myungsoo masih saja nyerocos di sampingku, dan sejak tadi aku hanya fokus menyusuri koridor tanpa menghiraukannya. Bukan apa-apa, aku juga tidak bisa bicara karena ujung bibirku akan sangat sakit setiap kali aku membuka mulut.

Hari ini hari minggu, namun jurusanku tetap mengadakan perkuliahan karena jadwal tambahan. Myungsoo yang libur kuliah mengikutiku ke kampus. Alasannya ia ingin menemaniku yang masih ‘terluka’, tapi aku tahu ia ingin menemui Naeun. Ia benar-benar tidak kapok, ia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan gadis itu.

 

“ Woohyun sunbae! Kau baik-baik saja kan?”

Kami berpapasan dengan Naeun di koridor, ia begitu khawatir melihatku. Apa luka ini sangat nampak? Aku tidak berani bercermin setelah menerima tonjokan kemarin, hatiku akan teriris jika melihat wajah tampan ini terluka.

“ Dia baik-baik saja. Sudah kuobati tadi malam.”jawab Myungsoo.

“ Aku tidak tanya kau!”sahut Naeun sewot.

“ Aku mewakilinya. Dia tidak bisa bicara dulu, sayang..”

“ Hmm.. hmm..”aku membenarkan perkataan Myungsoo dengan nada tidak jelas. Sialan, aku benar-benar seperti orang bodoh kalau begini.

“ Aku tidak mengerti apa  yang terjadi kemarin..”ucap Naeun heran.

“ Tidak mengerti? Kesimpulannya, Woohyun tidak suka padamu, dia suka dengan Chorong. Jadi kau denganku saja, paham?”jawab Myungsoo percaya diri sambil mencolek dagu Naeun.

“ Iiih gak mau!!” Naeun langsung meninju lengan Myungsoo dengan kesal dan berlalu dari kami.

“ Ke kelas sendiri sana! GWS ya hyung, haha.”

Myungsoo menepuk bahuku lalu berbalik dan mengejar Naeun. Sudah kuduga. Biar sajalah, daripada ia bicara terus di dekatku.

Aku melanjutkan perjalanan menuju kelas, dan orang pertama yang kulihat saat memasuki ruangan adalah Chorong.

Ia refleks berdiri saat melihatku masuk, sepertinya ia menungguku karena ia menghadapkan kursinya ke arah pintu.

Hah, sial. Aku harus bagaimana? Aku sungguh marah, tapi aku masih membutuhkannya untuk menjadi subjek penelitian.

Aku pura-pura jual mahal dan berjalan menuju tempat dudukku sendiri. tak menghiraukannya.

Ia berjalan mengikutiku.

“ Apa?”tanyaku, masih dengan nada tidak jelas karena aku masih tak sanggup menggerakkan bibirku.

“…”

Ia diam lagi. Sebenarnya dia mau apa? Minta maaf? Atau menonjokku lagi? mengapa dia selalu misterius seperti ini?

Akupun mengeluarkan selembar kertas dan pulpen dari tasku, menulis sesuatu yang ingin kusampaikan padanya karena aku tak bisa bicara.

Ia membacanya.

“ Kenapa kamu nonjok aku tadi malam?”

Setelah membaca tulisanku, ia justru pergi dengan judes dan membawa kertasnya tanpa bicara apa-apa. Ck, aku harus bagaimana lagi?

Kuliah dimulai, dan mataku tak bisa lepas darinya. Ia masih terlihat mengotak-atik laptopnya yang membuka situs ingstagram. Meski sudah lebih dari seminggu, kelihatannya ia masih ngotot  ingin mengembalikan akun SNSnya.

Hingga akhirnya kulihat ia menulis di kertas yang kuberikan tadi, setelah selesai, ia meremasnya lalu melemparnya dengan jitu ke mejaku.

Kubuka balasannya.

 

“ Aku akan jawab setelah kita wisuda.”

 

Dasar gila. Kenapa harus setelah wisuda? Berapa lama lagi itu? aku membalasnya dan kembali melempar kertas padanya.

 

“ Kenapa  tidak bisa sekarang?”

 

Ia membalasnya lagi.

 

“ Bawel. Selesaikan saja skripsimu biar cepat wisuda.”

 

Aku membalasnya kembali.

 

“ Aku bisa lambat wisuda karena subjek pun belum dapat.”

 

Ia tak melempar kertas lagi. Sialan, masih saja keras kepala.

 

Namun saat perkuliahan berakhir, Chorong berdiri dan kembali mendatangi mejaku dengan wajah jutek khasnya.

Apa dia mau diam tak jelas lagi di depanku?

Sudahlah, jangan buat aku semakin stress.

BUK!

Ia tiba-tiba meletakkan kertasnya dengan cara menggebrak mejaku dengan kasar, setelah itu pergi tanpa bicara apapun.

“ Apa sih? Bikin kaget aja..”

Aku membuka kertasnya.

 

“ AKU AKAN MENJADI SUBJEK PENELITIAN SKRIPSIMU ”

****************************

 

DELAPAN BULAN KEMUDIAN …

 

WISUDA!

Aku masih berdiri di dalam aula dengan pakaian wisuda lengkap sambil mengipas-ngipas tubuhku yang sedih berpeluh karena kepanasan berdesakan dengan mahasiswa lain. Para pejabat universitas masih gantian berpidato.

Yeah, seperti yang kalian lihat, aku berhasil lulus bersama teman-teman seangkatanku, alias lulus tepat waktu.

Tak bisa kupungkiri, ini juga berkat Chorong yang pada akhirnya mau menjadi subjek penelitian skripsiku. Aku tak bisa mengatakan apakah ia termakan rayuanku atau sadar sendiri, karena ia bersedia menjadi subjek setelah menonjok wajahku di cafenya, dengan alasan yang belum kuketahui juga sampai saat ini.

Selama beberapa bulan penyelesaian skripsi, tak kusangka Chorong bisa diajak kerjasama dengan baik. Kami membuat kesepakatan untuk tidak menganggap dulu bahwa ciuman dan tonjokan itu pernah terjadi, kami sepakat untuk fokus pada tugas akhir kami sebagai mahasiswa dan saling membantu layaknya sesama teman. Meski ia selalu menunjukkan pembawaan galak dan judesnya, aku merasa tak masalah.

Lagipula, aku jadi ragu apakah ia masih menyukaiku atau tidak. Tonjokan itu masih misterius. Aku hanya berpikir, jika ia menyukaiku, tak seharusnya ia melakukan kekerasan memalukan seperti itu padaku.

Tapi, bahkan jika ia tak menyukaiku lagi, aku masih bisa menghibur diri dengan membuka semua isi SNSnya setiap hari. Melalui ingstagram itu, setidaknya aku tahu bahwa pernah ada seorang gadis yang mencintaiku begitu dalam dan mengungkapkannya dengan bahasa paling romantis di dunia.

Hah, perkara ingstagram itu. Aku sudah berulang kali meminta tolong Sunggyu, namun tetap saja ia bilang tak bisa menemukan cara memulihkannya. Lalu aku bisa apa? Mengaku pada Chorong bahwa aku yang meretasnya? Aku tak akan pernah siap, dia bisa membunuhku.

Tapi aku penasaran, apakah sampai saat ini Chorong masih menginginkan akun ingstagramnya kembali?

 

Aku menoleh ke kanan, terlihat dari jarak beberapa meter sosok Chorong yang berbaris sejajar denganku. Ia begitu cantik dengan make up dan pakaian wisudanya hari ini. Setelah beberapa saat, ia menyadari bahwa aku memperhatikannya.

Aku menunjukkan jari kelingkingku, memberi kode bahwa hari ia ia harus menepati janjinya untuk memberitahuku alasannya menonjokku delapan bulan yang lalu.

Ia mengangguk dan tersenyum, membuat darahku tiba-tiba berdesir lebih deras dari biasanya.

Apa ini karena senyuman Park Chorong adalah hal yang langka dan jarang terlihat?

Atau karena hal lain yang ‘lezat’nya tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata?

*

 

“ WOOO!!! LULUS CIEEE LULUS!!”

Baru saja aku keluar dari aula bersama mahasiswa lain, Myungsoo yang datang bersama orangtuaku langsung berlari memelukku dan melepas togaku lalu memasangnya di kepalanya, ia pun langsung mengajakku selfie. Ck, anak ini..

Aku memeluk kedua orangtuaku dan berfoto bersama mereka dengan kamera Myungsoo. Dibandingkan bahagia, aku lebih merasa lega karena akhirnya kuliahku di jurusan yang tak kusukai ini selesai juga.

Sunbae! Selamat ya! Aku akan segera menyusul!”

Rupanya Naeun ikut datang dan ia memberikan buket bunga padaku. Apa dia masih…

“ Itu bunga dariku, hyung. Jangan geer!” Myungsoo seakan tahu apa yang kupikirkan, dan kulihat tangannya sudah bebas-bebas saja merangkul Naeun. Kupikir gadis polos ini akan mengamuk lagi, tapi ia justru tertawa geli dan tersenyum cantik pada Myungsoo.

“ Kalian pacaran?”tanyaku tak percaya.

“ Usaha tidak akan mengkhianati hasil, hyung. Hahaha!”

Gila memang. Rasanya seperti baru kemarin aku melihat Naeun memukuli Myungsoo dengan baki roti. Aku jadi penasaran bagaimana ceritanya Naeun berubah pikiran.

“ Sunggyu mana?”tanyaku, aku akan kecewa jika ia tidak datang.

“ Itu dia disana.”Myungsoo menunjuk ke arah tangga besar aula, rupanya Sunggyu tengah berkumpul dengan…

Keluarga Chorong? Chorong pun ada disana dan sedang tertawa bahagia, tak seperti biasanya. Bahkan Sunggyu memberi Chorong buket bunga serta selempang.

Aku mendadak blank. Aku mendadak lupa kalau hari ini seharusnya aku bahagia karena diwisuda.

 

“ Jangan bengong ah, udah sarjana masih suka bengong!” Myungsoo menepuk punggungku lalu menarikku.

“ Om, tante.. saya pinjem Woohyun hyung dulu ya sebentar.”Myungsoo minta izin pada orangtuaku, kemudian mengelus rambut Naeun.

“…sayang, aku kesana sebentar ya.”

Myungsoo pun mengajakku untuk mendekati Chorong yang tengah berkumpul dengan keluarganya, dan.. Sunggyu. Aku sempat menolak dan malu, tapi Myungsoo berhasil menyeretku.

“ Hai, kenalkan.. ini ayahku.” Chorong memperkenalkanku dengan seorang pria yang ada disampingnya, beliau memberiku ucapan selamat dan aku menyalaminya dengan awkward.

“ Ibu Chorong ada di Perancis, jadi dia tidak datang.”Sunggyu tiba-tiba berbisik padaku. Sial, dia bahkan sudah tahu tentang keluarga Chorong?

“…kenapa diam saja? Biasanya sok asik.” bisik Sunggyu lagi sambil menyenggol lenganku.

Tentu saja aku diam. Aku masih blank. Aku tidak paham situasinya!

“…ya sudah, foto dulu kalian..” Myungsoo mempersiapkan kameranya dan memintaku dan Chorong untuk foto berdua.

Masih dengan awkward, kami menurut dan mengambil foto beberapa kali.

 

“ Tepati janjimu.”aku berbisik pelan ke telinganya, ia tertawa kecil mendengar bisikanku.

“ Bisa beri kami waktu berdua, sebentar saja?”tanya Chorong pada keluarganya, juga pada Sunggyu dan Myungsoo.

“ Aihh.. sekarang apa lagi? kalian mau ciuman atau tonjok-tonjokan? Biarkan kami tahu dulu.”ledek Myungsoo, kami benar-benar salah tingkah.

“ Haha, sudahlah.. silahkan. Ada sesuatu yang sangat penting, kan?”sela Sunggyu, ia mengajak semuanya untuk menjaga jarak dulu dari kami.

Sekarang hanya ada aku, Chorong, dan pakaian wisuda kami.

“ Jadi apa alasanmu menonjokku waktu itu?”

Aku benar-benar to the point. Semoga ini tidak membuat Chorong naik darah.

“ Pilih satu dulu.”ucapnya.

“ Pilih apa?”

“ Pilih, kau lebih ingin tahu duluan tentang alasanku menonjokmu, atau tentang hubunganku dengan Sunggyu?”

Hah?

Perempuan ini benar-benar seperti captcha password, kebanyakan teka-teki.

“ Hubunganmu dengan Sunggyu dulu, baru alasanmu menonjokku.”

Chorong langsung menjawab tanpa keraguan.

“ Sunggyu oppa saat ini.. adalah orang yang kuharapkan.”

Apa? Tidak. Aku tidak boleh blank lagi.

“ Orang yang kau harapkan?”

“ Ya. dia orang yang kuharapkan bisa mengembalikan akun ingstagramku.”

Jujur, aku sebenarnya takut jika sudah bawa-bawa ingstagram. Aku masih berada dalam lubang persembunyian bernama kebohongan.

“ Kenapa dia?”tanyaku.

“ Karena dia orang yang menciptakan cara meretasnya.”

HAH!?

“ Darimana kau tahu?”kuharap wajahku tak memucat, aku mulai grogi.

“ Darinya sendiri. Dulu, saat aku masih panik dengan ingstagramku, ia menemuiku dan bahkan memberitahuku sesuatu yang tak kutanyakan.”

“ Apa itu?”

“ Pelakunya. Dan itulah yang menjadi alasanku menonjokmu.”

 

DEG. JANTUNGKU SERASA HENDAK BERHENTI.

BISAKAH AKU MATI SEKARANG?

Chorong sudah tahu semuanya sejak lama. Lebih tepatnya sejak aku memberitahu apa yang kulakukan pada Sunggyu. Sepertinya saat 5 hari aku mengabaikan Sunggyu, dia dendam padaku dan membocorkan semuanya pada Chorong. Aku yakin itu.

Sialan. Bahkan jika aku ingin membantai Sunggyu sekarang, rasanya terlambat dan sia-sia.

“ Mengapa kau diam saja setelah tahu aku pelakunya?”tanyaku.

Gadis itu tersenyum kecil.

“ Karena seperti yang sudah pasti telah kau ketahui, aku sangat menyukaimu.”

“ Jadi—“

“ Justru akan sangat memalukan jika aku melabrakmu. Disaat kau sudah tahu semua isi akunku—“

Ucapan Chorong terhenti sejenak, ia menunduk dan tiba-tiba menangis.

“…bodoh sekali, kan? Aku serius, aku memang galak dan menyebalkan, tapi aku semakin over acting di depanmu. Kupikir aku bisa menipumu, tapi akhirnya kau tahu sendiri bagaimana perasaanku.. aku malu.. aku sungguh malu.”

“ Park Chorong, aku..—“

“ Terimakasih telah menciumku waktu itu, aku meresponnya karena aku sangat bahagia dan menikmatinya. Hanya saja aku merasa sangat marah karena kau membongkar isi hatiku tanpa izin, bahkan menggunakan perasaanku untuk merayu agar aku mau menjadi subjek penelitian, jadi aku menonjok wajahmu..”

Ia masih menunduk dan menangis, aku jadi merasa bersalah.

“ Maafkan aku, Chorong.. aku mengaku ini semua salahku. Sekali lagi maaf—“

Aku mengangkat wajahnya dan menghapus airmatanya dengan ibujariku.

“ Lupakan saja, semuanya sudah terlanjur.”jawabnya dengan masih terisak.

“ Kau yakin aku tidak perlu melakukan apapun untuk menebus kesalahanku?”

“ Tidak. Aku justru.. ingin minta tolong..”

“ Minta tolong apa?”

“ Kau sudah tahu bagaimana perasaanku, tapi aku tidak tahu bagaimana denganmu sendiri. Jadi, jika kau tidak memiliki perasaan yang sama padaku, tolong hapus semua postinganku tentangmu di ingstagramku. Aku ingin mengakhiri rasa malu ini. Sampai sekarang.. kau masih menguasai akunnya, kan?”

Mengapa ia terdengar sangat pasrah?

Aku masih tak tahu harus bagaimana cara merespon permintaannya yang satu ini.

Jadi aku hanya mengangguk.

Airmata Chorong menetes lagi, aku tahu jawabanku menimbulkan banyak spekulasi dalam benaknya.

“ Beritahu aku jika kau sudah hapus semuanya. Aku akan periksa profilku nanti.”

Aku mengangguk lagi, dan setiap anggukanku seolah-olah memompa airmatanya untuk terus menetes.

“ Yah.. well, selamat atas kelulusan kita. Aku sangat lega akhirnya perasaanku tidak lagi menjadi rahasia. Meski kau tidak membalasnya, aku lega.”

Chorong meletakkan tangannya di bahuku, ia merapatkan tubuhnya di dadaku dan kakinya sedikit berjinjit, bibir merahnya menyentuh bibirku untuk kedua kalinya.

 

Ia menciumku untuk beberapa saat..

******

 

“ CIE!! Ternyata ciuman lagi! pantas saja kami disuruh pergi. Untung saja aku fotografer profesional, jadi aku bisa menangkap kalian. LOL.

Chorong benar-benar menyukaimu, hyung. Aku sudah tahu sejak lama tapi aku diam saja, aku yakin suatu saat kau akan tahu sendiri.

Well, karena aku sudah tahu tentang perasaan nuna sejak lama, aku jadikan itu sebagai senjata terakhirku untuk mendapatkan Naeun. Aku beritahu saja padanya, dan dia langsung berhenti menyukaimu karena takut bersaing dengan Chorong, hahaha!

Tapi.. kau dan Chorong nuna sudah jadian, kan? Jangan bilang belum, nanti Naeun baper dan berharap lagi padamu. Paham?

 

Btw, ciumannya kurang hot seperti di café dulu. Gak seru ah.”

 

Aku terkejut karena tiba-tiba Myungsoo mengirim sebuah foto ke emailku, foto saat Chorong menciumku di acara wisuda tadi siang. Dasar bocah sialan. Tapi membaca tentang Naeun, aku jadi sedikit geli, ternyata memang gadis polos itu sempat tertarik padaku.

Mengherankan memang, padahal aku hanya mahasiswa biasa dan anak kosan yang bahkan setelah wisuda pun masih bersarang di dalam kos seperti malam ini.

Aku mengamati foto ciumanku dan Chorong beberapa saat, kemudian memindahkan tab browserku pada akun ingstagram Chorong yang masih login di komputerku.

Apa aku benar-benar perlu menghapus semua postingannya?

Sepertinya aku punya ide lain.

Lebih seru jika aku upload foto ciuman kami disini. Hahaha. Aku membuka kamus digital bahasa Perancis juga untuk membuat captionnya, agar 15.0k followersnya paham semua.

 

POSTED!

-Foto-

[Mulgokizary0303] : Halo. Aku Nam Woohyun, pujaan hati Park Chorong sekaligus pembajak akun ini. Kisah kami sudah berakhir bahagia di acara wisuda, dan seperti yang kalian lihat, Chorong yang menciumku karena dia sangat tergila-gila padaku. Hahaha.

 

Drrt..drrt..

Tak lama setelah aku menguploadnya, sms dari Chorong masuk ke ponselku.

 

“ APA YANG KAU POSTING HAH!? MEMALUKAN!!! BERITAHU AKU PASSWORD INGSTANYA SEKARANG!!!!!”

 

Hahaha, ia meledak lagi. Aku membalas pesannya dengan senyum mengembang.

 

Je t’aime, Park Chorong.”

 

-THE END-

 

Haha, panjang ya? xD

Semoga suka dengan ceritanya dan nantikan fanfiction Woohyun x Chorong berikutnya ^o^.

 

Dan, sebagai penutup(?), berikut adalah fanfiction yang memperoleh hasil vote terbanyak dalam voting 5 ff kemarin !! :

 suicide-forum-new

Title :

SUICIDE FORUM

 

Author :

Citra Pertiwi Putri / Citrapertiwtiw

 

Genre :

Mystery, Suspense, Horror-Thriller, Romance

 

Casts :

INFINITE’s L

A Pink’s Naeun

 

Additional casts :

INFINITE’s Nam Woohyun

A Pink’s Park Chorong

Girl’s Day Yura

VIXX’s Ken

VIXX’s N

 

Rating :

NC17 (aware for some mature contents)

 

Type :

Chaptered

 

Sinopsis :

 

“ Ayo mati bersama.”

 

Kehidupan Kim Myungsoo, seorang fotografer profesional, rusak seketika setelah ia mengalami kecelakaan hebat yang tak hanya membuat kedua kakinya lumpuh, namun juga menghilangkan sebagian ingatannya. Di tengah penderitaan pasca kecelakaan, keluarganya justru mengasingkannya dan memaksanya untuk mengurus dirinya sendiri. Yang menyiksanya, Myungsoo tak bisa mengingat mengapa keluarganya tak ingin merawatnya, ia bahkan tak mengetahui siapa dirinya secara utuh.

Merasa putus asa dengan hidupnya yang dirasa tak lagi berguna untuk dijalani, Myungsoo berniat untuk mengakhiri hidupnya.

Niat itu masih diselimuti perasaan ragu. Tak ingin niatnya berakhir terlalu menyedihkan, Myungsoo mencari ‘teman’ yang juga memiliki niat sama dengannya melalui suatu forum di internet, dimana situsnya memang dikhususkan untuk orang-orang yang berniat untuk bunuh diri. Entah untuk sekedar berbagi cerita, atau bahkan mengatur janji untuk bunuh diri bersama-sama.

Dalam suatu forum, pro dan kontra adalah hal yang selalu saja terjadi, tak terkecuali forum yang tak sengaja Myungsoo masuki. Dimana disana hanya ada satu user yang mati-matian mempertahankan prinsipnya untuk menggagalkan niat sekelompok remaja dalam forum yang berencana untuk bunuh diri bersama-sama.

Tak seperti user lain yang berusaha untuk mengusir sang kontra dari forum, Myungsoo justru tertarik untuk beradu argumen lebih lama dengannya.

 

Namun siapa sangka, jika user kontra itu juga bahkan lebih tertarik dengan Myungsoo?

*

 

TERIMAKASIH ATAS SEMUA YANG TELAH BERPARTISIPASI DALAM VOTING! Bagaimana dengan fanfic lainnya? Tenang, semua akan digarap oleh author selama waktu, kesempatan, dan supportnya ada, hehe.

Akhir kata, sampai jumpa di Chapter 1 Suicide Forum minggu depan!!🙂

 

Oh ya, jangan lupa berikan feedback untuk oneshoot ini ya! Ditunggu komentarnya :)))

21 responses to “[ONESHOOT] Like a Password | +Voting Result of Citrapertiwtiw’s 5 new fanfictions voting

  1. OMG WOORONG>< Astagaa pertama kali gayakin bakal ngefeel kyk ff MyungEun pairing yg kamu buat eh tp nyatanya sumpah keren cit 6milyar jempol buat kamu deh/? Konfliknya ringan tp pesan ceritanya nyampe bgt apalagi berbau skripsi dan wisuda ngena bgt deh lol. Makin cinta sm pairing ksygn, WooRong ㅠㅠ♥ goodluck buat sucide forum nya yah! dan smoga lancar buat kuliahnyaa. Smoga cepet wisuda buat kita hehe

  2. selalu suka sama karya author kita yg satu ini hahaha.. padahal kalo ff lain pake bahasa gak baku semacem “cie” atau apalah yg lain pasti aneh ceritanya dan terlihat norak, tapi gak tau kenapa kalo kak citra yg bikin dibacanya enak aja..

    akhirnya chapter myungeun… aaaaaaa myungeun shipper 😍😍😍

  3. Keren banget, ceritanya bagus. Suka genrenya, banyakin lg ff college romance nya yaa kak. Ditunggu woorong berikutnya🙂

  4. yeaayyyy , gak sabar nunggu ff myungeun
    . suka sama ff like a password, disini choronng sadiss banget hahah, bakal dicoba caranya chorong kayaknya hihii

  5. Waa keren abis, selalu lah, ngakak serius, yaampun woohyun kek orang geblek/? 😂😂 tapi suka 😙 chorong judes tapi sebenernya manis/? 😂 ah pokokknya keren lah, suka, ditunggu suicide forumnya, btw semangat kuliahnya juga 🙌🙌

  6. Tes tes 1 2 3 (?)
    Okeee sayangatau hari ngomong apa abis baca ffmu ini#kipas2pakelaptop#loh
    Hmm pertama2 aku seneng setengah mati karenaa OTP yg bener2 aku ngefans parah sampe relain mereka kalo jadi beneran gapapa malah seneng banget karena FYI wowoh tuh biasku dan biasanyaaa lohh aku ga akan rela klo biasku sama seseorang yg lain walaupun cocok kek apaan kek (lajhhh malah curhat maaapkan eonni cit ._.)
    Tapi WooRong ASDFJKL akuu suka banget astaga
    Okeh sebelum ngelantur dan makin ngalor ngidul(?)
    Akuu suka dan udah baca hampir semua ffmu karena di luar tokoh yg main emang OTP aku smua jalan critanya unusual, bener2 ga biasa in + way tentunya. Awalnyaa ff ini dimulai dengan alur yang biasa bahkan bisa dibilang hampir ketebak dan aku kira akan berakhir biasa aja walaupun full adegan sweet tapi tebakanku melenceng karena pas aku lihat konfliknya this fanfic totally different karena pertama konfliknya yang sederhana bisa kamu bangun dengan sedemikian bagus dengan kegiatan biasa namun ga terduga

    Tema ff menyinggung apa yang terjadi di kalangan anak muda sekarang cukup unik dan menyenangkan in smart way
    Aku suka caramu menggambarkan konfliknya dan yang pasti sih aku hampir2 bisa menebak konfliknya tapi ttep aja asliii aku nyaris mimisan(?) Bacanya meleleh asli pas liat gimana cara chorong mencintai dan mengungkapkan isi hatinya
    Aku suka caramu mengungkapkan 1 demi 1 konflik yang ada tapi aku masih belon dapet sih apa hubungan Myungsoo dan Chorong sampe mereka bisa sedeket itu
    Entah sahabat dari kecilkah? Apa karena Sunggyu?

    Satu yang pengen aku saranin sih #CMIIW
    Penggunaan bahasamu lebih baik jangan dicampur sejak aku mengikuti ffmu aku tahu dan menyadari kamu memiliki 2 gaya bahasa yang khas dan aku sadar satu digunakan di ff serius macam The Portal dan 1 lg ff comedy. Di sini kamu mencampur keduanya tanpa sadar jujur aku lebih suka kalau kamu menggunakan bahasamu di ff comedy karena lebih pas dengan jalan critanya apalagi aku ngakak parah(?) Sepanjang ff #lahh
    Kalo dicampur dengan gaya bahasa serius jatohnya jadi kurang ngefeel(?)

    Okeh segitu aja saranku
    Ditunggu karya lainnya!
    Dann aku menyesal telat baca ff ini T____T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s