Isn’t Love Story Chapter 9 – Stay

FIX

Title: Isn’t Love Story Chapter 9 – Stay

Vartstory Present

Main Character:

Kim Jongin | Jung Jihyun | Park Hyunji | Oh Sehun

Supporting Character:

Yook Sungjae | Park Soo Young/ Joy | Yoon Hyena | Jackson Wang | Do Kyungsoo | Kang Ahra

Genre:

Romance | Friendship | School

Leght:

Chaptered

Teaser + Cast Introduction | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8

Di sekolah hari ini semua berlangsung normal, entah kenapa hari ini Sehun sama sekali tidak atau mungkin belum membuat keributan. Tapi untuk beberapa orang yang mengenal Sehun, akan merasa hal ini aneh, mereka akan berpikir jika Sehun pasti akan merencanakan sesuatu.

Jihyun yang hingga jam istirahat tidak mengalami gangguan oleh Sehun, merasa beruntung. Namun Jihyun tak seberuntung itu. Saat Jihyun sedang berada di kamar kecil, beberapa gadis muncul dan seorang diantaranya menarik rambut Jihyun dengan kasar.

Salah satu gadis itu yaitu Hyena terus menerus menarik rambut Jihyun dan sama sekali tak memperdulikan rintihan Jihyun, “Ini sebagai balasan karena kau tak mendengarkan peringatanku untuk menjauhi Oh Sehun.”

Jihyun yang kesakitan terus berusaha melepaskan tangan Hyena dari rambutnya, “Aku tak pernah mendekati Sehun sunbae, Sehun sunbae sendiri yang mendatangiku.”

Mendengar ucapan Jihyun, membuat Hyena semakin menggila, “Jadi menurutmu Sehun yang mendekatimu? Khayalanmu benar-benar membuatku muak.” Hyena semakin menarik rambut Jihyun bahkan beberapa teman-teman Hyena malah terus memanas-manasi Hyena bukannya menghentikan aksi gila Hyena.

“Kim Hyena, apa yang kau lakukan?!” Hyunji yang tiba-tiba muncul menarik Jihyun mundur sehingga tarikan Hyena pada rambut Jihyun terlepas.

Hyena mendengus kesal karena Hyunji mengganggu aksinya, “Bukan urusanmu, lebih baik sekarang kau menyingkir.”

“Berhentilah Hyena, apa kau pikir dengan kau bersikap seperti ini Sehun akan menjadi milikmu? Sehun justru akan semakin menjauh darimu.”

Ucapan Hyunji kepadanya sungguh membuat Hyena kesal. Hyunji, gadis yang selalu dipuja-puja semua orang termasuk pria yang digilainya, Oh Sehun. Hyunji adalah salah satu orang yang dibenci Hyena bukan hanya karena Sehun pernah atau mungkin masih menyukainya tapi karena Hyunji selalu ikut campur setiap kali dirinya melakukan sesuatu pada gadis yang mendekati Sehun. Bahkan kebenciannya sampai membuatnya melupakan fakta kalau Hyunji adalah tunangan Jongin yang berarti adalah calon saudara iparnya.

“Heol, sepertinya aku melewatkan sesuatu. Hey wanita ular, kali ini apa lagi yang kau lakukan?” Soo Young yang tiba-tiba datang entah darimana, menatap Jihyun yang tengah menunduk, “Wah kau benar-benar ya. Kau tahu sekuat apapun kau berusaha, Sehun tak akan menjadi milikmu.”

“Tak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kau tahu itu. Semuanya bisa saja berubah, adik ipar.” Ucap Hyena dengan menekankan dua kata terakhir.

“Dengar ya kalau pun khayalan mu itu menjadi kenyataan, demi Sungjae yang sangat ku cintai. Aku akan merusak pernikahanmu, aku akan menghancurkan gedung pernikahanmu kalau perlu aku akan mematahkan tangan Sehun atau membuatnya bisu agar tidak bisa menikahimu.” Soo Young tertawa keras membayangkan jika ucapannya jadi kenyataan, sedangkan Hyena yang terlihat sangat marah langsung dibawa keluar oleh teman-temannya. Akan sangat bahaya jika Hyena hilang kendali dan menyerang Soo Young karena seburuk apapun hubungan Sehun dan Soo Young, Soo Young tetaplah sepupunya dan Sehun tak akan membiarkan seorang pun menyakiti keluarganya termasuk Soo Young.

Selepas kepergian Hyena, Hyunji langsung mengalihkan perhatiannya kepada Jihyun, “Kau tak apa? Pasti tadi tarikan Hyena pada rambutnya sangat kencang.” Hyunji tahu bagaimana rasanya tarikan rambut oleh Hyena, karena dirinya pernah merasakannya karena saat itu Hyena tak sengaja melihat Hyunji memeluk Sehun, pria yang digilainya. Setelah melihat itu, Hyena menghampiri Hyunji dan menarik rambutnya tanpa ampun. Untungnya Kyungsoo muncul saat itu untuk membantu Hyunji. Sama seperti kali ini, Hyunji muncul untuk membantu Jihyun.

Soo Young mendecih lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar kecil, namun langkahnya terhenti saat Jihyun mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah menolongnya, “Kau kira aku mau menolongmu? Jangan bermimpi. Aku melakukan hal tadi karena aku muak dengan sikap wanita ular itu.”

Jihyun tersenyum menanggapi ucapan Soo Young lalu mengalihkan pandangannya kearah Hyena, “Terima kasih sudah menolongku sunbae.” Jihyun membungkuk kearah Hyunji dan tersenyum, Jihyun tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika tadi Hyunji tidak datang dan menolongnya.

Hyunji tersenyum kearah Jihyun lalu merapikan rambut Jihyun yang terlihat berantakan akibat ulah Hyena, “Hyena memang seperti itu, dia tidak akan pernah berhenti jadi jika Hyena menganggumu lagi, kau harus membela diri. Aku berkata seperti ini karena aku pernah merasakan hal sepertimu tadi, awalnya aku memang tidak berani membela diri tapi semakin lama perbuatan Hyena semakin keterlaluan, dan aku tidak bisa hanya berdiam diri saja.”

Selama Hyunji berbicara, Jihyun terus memperhatikan gadis dihadapannya ini. Hyunji begitu cantik, baik hati dan pintar, bisa dibilang Hyunji adalah gadis idaman setiap pria. Dan Jihyun paham kenapa Sehun jatuh cinta kepada gadis di hadapannya ini bahkan sampai mengorbankan persahabatannya dengan Kai. Namun yang Jihyun tidak habis pikir adalah, apa benar Kai sama sekali tidak tertarik dengan Hyunji?

“Ah satu lagi, jangan memanggilku sunbae. Aku merasa ada dinding yang memisahkan jika ada seseorang yang memanggilku dengan sebutan sunbae.”

“Baiklah, sekali lagi terima kasih eonni.” Jihyun membungkukkan tubuhnya lalu pergi menuju kelasnya, sungguh sepertinya Jihyun akan mengalami phobia setiap kali melihat Hyena. Dan itu semua karena seorang pria, Oh Sehun. Dan mulai saat ini Jihyun sudah bertekad untuk menjauhi pemuda itu, dan juga bersikap tegas kepadanya. Jihyun tidak peduli akan apa yang akan dilakukan Sehun padanya nanti, sekarang yang terpenting adalah keselamatannya dan harga dirinya. Karena dari yang Jihyun lihat, Hyena jauh lebih berbahaya dari Sehun.

Rencana Jihyun untuk menghindari Sehun sepertinya berhasil karena sudah dua hari ini Jihyun sama sekali tak bertemu dengan pria itu, termasuk juga Kai. Yang Jihyun lakukan untuk menghindari Sehun adalah dengan menghabiskan waktu di perpustakaan hingga jam istirahat berakhir dan masuk ke kelas bersama dengan guru yang akan mengajar di kelasnya, karena letak perpustakaan yang berhadapan dengan ruang guru jadi lebih memudahkan Jihyun.

Dan hari ini, Jihyun tidak mungkin pergi ke perpustakaan karena tadi pagi Jihyun belum sempat sarapan belum lagi dia juga tidak membawa roti seperti yang biasa dilakukannya. Jihyun hanya membawa bekal yang berisi nasi, dadar gulung dan juga kimbab. Jadi saat jam istirahat berbunyi, Jihyun buru-buru berlari menuju rooftop sekolah, karena yakin Sehun pasti tak akan mendatangi tempat seperti itu.

Di rooftop Jihyun memang tidak bertemu dengan Sehun tapi dirinya malah bertemu dengan Kai yang sedang terpejam. Karena tidak ingin mengganggu Kai, Jihyun lalu beranjak dari tempatnya dan mencari tempat aman yang lain.

“Kau mau kemana?” Suara Kai menghentikan langkah Jihyun, “Kemarilah.” Jihyun yang sudah terlanjur tertangkap basah, menuruti keinginan Kai dan berjalan kearahnya.

“Maaf sudah mengganggu tidurmu sunbae.”

Kai tertawa renyah mendengar permintaan Jihyun, “Aku sudah terbangun sejak tadi. Kau membawa bekal lagi?”

Jihyun menganggukkan kepalanya lalu membuka bekal yang dibawanya dari rumah, “Kau mau sunbae?”

Kai menggelengkan kepalanya dan tersenyum kearah Jihyun, “Tidak usah, kau makan saja sendiri. Kau harus makan yang banyak, lihatlah tubuhmu kurus sekali.”

“Yaa sunbae.” Teriak Jihyun tidak terima yang membuat Kai tertawa, lalu sejenak kemudian Jihyun ikut tertawa karena sebenarnya ucapan Kai memang benar.

“Sejak kemarin aku tidak melihatmu, kau kemana saja?”

“Aku menghindari Sehun sunbae.” Ucap Jihyun jujur, lagipula tidak ada salahnya jika Jihyun mengatakannya kepada Kai karena Kai juga tidak akan mengadu pada Sehun. Dan untuk serangan Hyena kepadanya, Jihyun memutuskan untuk tak memberitahunya kepada Kai karena Jihyun tidak ingin hubungan persaudaraan Kai dan Hyena yang sudah memburuk menjadi lebih buruk lagi.

“Kau tahu, kau tak akan bisa menghindari Sehun terus menerus. Sehun juga bukan tipikal pria yang mudah menyerah.”

Mendengar ucapan Kai, Jihyun menghela nafasnya berat, “Lalu aku harus bagaimana?”

Kai menatap Jihyun dalam, dan memegang kedua pundak gadis itu, “Kau harus berani melawannya, jika dia memaksamu melakukan sesuatu kau harus dengan tegas menolaknya. Dan satu hal yang harus kau tahu, Sehun tak mempunyai kedudukan apapun disini. Jadi biarpun kau melawannya, dia tak akan bisa mengeluarkanmu dari Empire.”

“Aku bisa saja melawannya sunbae, tapi yang aku tak bisa lakukan adalah menahan laju jantungku. Setiap kali aku bertemu dengannya jantungku berdegup dengan kencang, bukan karena aku menyukainya tapi karena tatapannya sangat menakutkan. Melihatnya menatapku tajam membuat aku merasa jika hidupku berkurang sepuluh tahun.”

Perkataan Jihyun sukses membuat Kai tertawa keras, menurut Kai gadis itu benar-benar polos. Dan jujur saja, baru ini Kai bisa tertawa selepas ini dan yang terpenting seorang gadis seperti Jung Jihyun lah yang bisa membuatnya tertawa.

Sebenarnya sejak semalam, Kai terus memikirkan tentang perasaannya kepada Jihyun. Itu semua karena Jihyun bisa membawa sosok Kim Jongin yang asli muncul, Kim Jongin yang sudah bertahun-tahun tak pernah lagi menampakkan sisi aslinya, Kim Jongin yang sudah bertahun-tahun bersembunyi dibalik topeng Kai dengan mengeluarkan sikap dingin dan acuhnya. Dan juga perkataan yang Sehun katakan padanya, tentang dirinya yang menyukai Jihyun. Kai terus berpikir, apakah dirinya menyukai Jihyun atau tidak.

“Kau ingin kembali ke kelas?” tanya Kai saat Jihyun selesai menghabiskan makanannya yang dibalas anggukkan oleh Jihyun, “Aku akan mengantarmu ke kelas.”

Jihyun yang masih sungkan kepada Kai, menolak ajakan Kai “Tidak usah sunbae, aku bisa sendiri.”

“Jangan sungkan kepadaku. Kau mungkin sudah mendengar hal ini dari orang-orang atau mungkin Sungjae, tentang diriku yang bersikap dingin dan acuh kepada orang lain. Semua hal itu benar, aku tak pernah sekalipun tersenyum ataupun tertawa kepada orang lain, tapi entah kenapa saat bersamamu hal itu tak berlaku. Aku bisa tersenyum dan bahkan tertawa dengan lepas, karena itu ku mohon padamu jangan sungkan padaku apalagi sampai menjaga jarak denganku.” Melihat Jihyun dengan raut wajah kagetnya, Kai mencoba mencairkan suasana. Kai tak ingin membuat Jihyun salah paham padanya karena dirinya sendiri masih belum yakin tentang perasaannya yang sesungguhnya, “Anggap saja kau bertugas menjadi psikologku, tempatku berbagi, tempatku mengeluarkan semua keluh kesahku. Bagaimana?”

Jihyun bimbang, disatu sisi dia merasa iba kepada Kai yang terlihat sangat kesepian tapi disatu sisi lain, Jihyun takut jika hal ini bisa membuat orang lain berpikiran jika Jihyun menjalin hubungan dengan Kai dibelakang Hyunji. Tapi melihat Kai dengan wajah seperti itu membuat Jihyun goyah yang akhirnya menganggukkan kepalanya setuju.

Kai yang senang dengan refleks menarik Jihyun ke dalam pelukannya selama beberapa detik, hingga akhirnya Kai sadar dan melepas pelukannya, “Ah maafkan aku. Aku hanya terlalu senang, karena jujur saja aku tak pernah mempunyai seorang pun untuk berbagi.”

“Benarkah? Lalu bagaimana dengan Kyungsoo sunbae dan Jackson sunbae?”

“Dulu aku, Sehun, Jackson dan Kyungsoo bersahabat namun karena suatu alasan persahabatan kami berantakan dan sejak itu pula aku tak pernah berbagi kepada mereka. Kecuali jika mereka muncul dan memintaku untuk bercerita. Ah aku terlalu banyak berbicara, lebih baik sekarang aku mengantarmu ke kelas karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.”

Lalu setelahnya Kai mengantar Jihyun menuju kelasnya, tapi langkah mereka terhenti saat melihat kerumunan siswa di depan ruang kelas Jihyun. Belum lagi saat Kai dan Jihyun masuk, semua mata tertuju kepada mereka. Kai yang curiga jika ini adalah ulah Sehun, berjalan masuk ke kelas Jihyun, memerintahkan Jihyun untuk tidak mengikutinya dan tetap diam di luar kelas.

“Kali ini apalagi yang kau lakukan Oh Sehun?”

Sehun menoleh saat mendengar suara Kai dan menatap Kai dengan malas, “Yaa aku tidak mempunyai urusan denganmu, lebih baik kau pergi.”

“Sejak awal urusanmu denganku. Jadi, berhenti melibatkannya. Dan jangan lagi menganggunya.”

Sehun tertawa sinis lalu menatap Kai tajam, “Aku mempunyai urusan dengannya, karena kau tahu sepertinya aku tertarik dengannya. Dan itu artinya kau tak boleh menghalangiku tuan Kim, kau tak boleh menghalangi perasaan seseorang.” Ucapan Sehun membuat semua siswa kaget dan tentunya mereka menatap Jihyun yang juga kaget dengan tajam,

Kai bertambah kesal mendapatkan jawaban seperti itu dari Sehun, tertarik dengan Jihyun? Yang benar saja, walaupun mereka sudah tak lagi bersahabat, Kai masih tahu persis seperti apa tipe wanita Sehun, “Jangan membual Oh Sehun. Tak satupun dari diri Jihyun yang sesuai dengan tipe wanitamu.”

“Hei Hei Kim Jongin, tahu apa kau tentangku? Aku tertarik dengannya itulah yang terjadi. Dan kau tak akan bisa menghalangiku. Lagipula memangnya apa urusanmu dengan Jihyun, kau bukan siapa-siapanya. Jadi enyahlah.”

Kai mendengus lalu tersenyum miring kearah Sehun, “Kau salah Oh Sehun. Gadis itu. Jung Jihyun, dia milikku. Dan aku tak akan membiarkanmu menyentuhnya barang sedikitpun.”

Ucapan Kai, membuat Jihyun dan siswa lainnya terkejut. Jihyun tidak menyangka jika Kai akan mengatakan hal itu pada Sehun. Entah itu kenyataan ataulah hanya bualan, intinya ucapan Kai nantinya akan membuatnya menjadi musuh nomor satu oleh semua murid khususnya murid wanita di Empire.

“Apa kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja? Aku pernah bertindak bodoh dengan membiarkanmu merebut Hyunji dan aku tak akan membiarkanmu melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Akan kupastikan Jihyun akan menjadi milikku.” Ucap Sehun lalu berjalan meninggalkan ruang kelas Jihyun.

Saat diluar kelas Sehun melihat Jihyun yang sedang berdiri tak jauh dari pintu lalu menghampirinya, “Kau pasti sudah mendengarnya bukan? Jadi aku akan memberikan penawaran padamu, berada di sisiku atau berada di sisi pria itu. Pikirkan baik-baik nona Jung. Kau pasti tahu kalau aku tak suka dengan penolakan bukan?”

Penawaran yang Sehun berikan terdengar seperti ancaman untuk Jihyun, Jihyun tahu jika dirinya menolak untuk berada di sisi Sehun, pasti Sehun akan terus menganggunya. Dan Jihyun juga tahu, Sehun tak benar-benar tertarik padanya. Karena dari tatapan yang Sehun berikan sudah menjelaskan semuanya.

“Jihyun.” Kai memanggil Jihyun yang membuatnya dan juga Sehun menoleh kearah Kai. Kai yang melihat Jihyun bersama Sehun langsung menghampirinya.

“Maaf, tapi aku tak suka dipaksa.”

Kai diam-diam tersenyum mendengar ucapan Jihyun, lalu menarik Jihyun agar berdiri di belakangnya, “Kau sudah mendengarnya bukan?”

“Kau tahu nona Jung, kau memilih pilihan yang salah. Dan kau juga pasti tau, kalau aku tak akan menyerah begitu saja.” Setelah mengucapkan hal itu, Sehun pergi meninggalkan Kai serta Jihyun yang masih shock akan apa yang terjadi padanya.

Jihyun terdiam di tempatnya, semua kejadian ini bagaikan mimpi untuknya. Kalaupun memang ini adalah mimpi, Jihyun berharap siapapun membangunkannya karena yang Jihyun inginkan ialah menuntut ilmu bukannya menjadi wanita yang diperebutkan oleh Kai dan juga Sehun.

Sedangkan Sehun tepat setelah meninggalkan Jihyun dan juga Kai, diam-diam Sehun memasang senyum liciknya. Bahkan saat berada di ‘markas’nya, Sehun tak henti-hentinya menampilkan senyuman kemenangannya. Ini semua tidak lain karena Sehun merasa rencana awalnya berjalan dengan mulus yaitu membuat Kai mengakui perasaannya kepada Jihyun di depan semua siswa Empire. Dengan begitu siswa Empire akan menganggap Kai telah menduakan Hyunji serta menganggap Jihyun sebagai perusak hubungan Kai dan Hyunji dan hal itu tentunya akan membuat Sehun mendapatkan dukungan lebih banyak dari Kai.

“Jadi mereka berdua mengatakan seperti itu?” Ahra memekik kaget setelah Jihyun menceritakan kejadian saat di sekolah tadi padanya.

“Aku tak tahu harus bagaimana lagi Ahra. Bahkan untuk melawan Sehun sunbae lagi, aku sepertinya tak bisa.” Ucap Jihyun lemas dan meletakkan kepalanya diatas meja kedai. Untung saja sedang tidak ada pembeli saat ini.

“Kau harus melawannya Ji. Kalau kau hanya diam, dia akan semakin menekanmu. Lakukan seperti yang kau lakukan saat menolong gadis yang ingin disiram oleh Oh Sehun. Dan sepertinya kau juga harus mempunyai taktik?”

“Taktik? Taktik apa yang kau maksud?”

“Tadi kau mengatakan kalau Oh Sehun tak benar-benar serius pada ucapannya bukan? Kalau begitu kau harus membuatnya benar-benar menyukaimu, dengan begitu dia tak akan melakukan hal yang tidak-tidak denganmu.”

Jihyun membelalakkan matanya kaget, dia tidak percaya jika Ahra mempunya ide segila itu, “Kau gila? Jika aku membuatnya benar-benar menyukaiku, itu akan semakin membuat masalah bertambah rumit.”

Ahra menepuk pundak Jihyun karena Jihyun selalu berpikiran yang buruk-buruk, “Ishh kau ini. Maksudku begini, kalau dia menyukaimu pasti nantinya dia akan melakukan apapun yang kau minta. Kau tahu kan bagaimana seorang pria yang tergila-gila dengan gadis yang disukainya.”

“Aku tetap tidak setuju.” Ucap Jihyun mengakhiri pembicaraan mereka. Walaupun baru mengenal Sehun, Jihyun tahu Sehun bukanlah tipe pria seperti yang dikatakan Ahra tadi. Dari ucapan Sehun dengan Kai saat di kelas tadi saja sudah menggambarkan bagaimana seorang Oh Sehun. Sehun akan mempertahankan apapun yang sudah di klaimnya menjadi miliknya, dan tak akan membiarkan siapapun merebut apa yang sudah menjadi miliknya. Dan jika Sehun benar-benar tertarik pada Jihyun nantinya, Sehun pasti tak akan membiarkan Kai berada di dekat Jihyun. Dan akan terus membuat Jihyun berada di jangkauannya, dan Jihyun benci jika ada yang mengekangnya seperti itu. Cukup ibunya saja yang melakukannya dan jangan orang lain.

Dan sekitar pukul 11 malam, Jihyun dan Ahra selesai bekerja. Jihyun berjalan sendiri menuju halte bus karena rumahnya yang berlawanan arah dengan Ahra dan juga Chon Sik. Saat berjalan menuju halte, namun Jihyun menghentikan langkahnya karena melihat beberapa pemuda yang sepertinya tidak baik sedang berada di halte. Benar saja, pemuda-pemuda itu terlihat sedang mabuk karena beberapa dari mereka terlihat berdiri sempoyongan. Jihyun lalu mengambil langkah mundur untuk mencari halte bus lain, tapi sayang para pemuda itu sudah terlebih dahulu melihatnya.

Jihyun yang melihat gelagat tidak baik dari para pemuda itu lebih memilih mengambil langkah cepat, Jihyun meruntuki dirinya sendiri karena memilih halte bus yang bahkan baru ini didatanginya. Biasanya jika pulang terlalu malam seperti ini, Jihyun lebih memilih halte bus yang letaknya lebih jauh selain karena halte itu lebih ramai, Ahra juga ikut menemaninya karena letak halte bus yang juga searah dengan rumahnya.

Pemuda-pemuda itu terus mengejar Jihyun bahkan sampai membuat Jihyun berlari, tapi tetap saja tenaga Jihyun tak sebanding dengan tenaga para pemuda itu, “Hei gadis cantik, kenapa kau terburu-buru sekali.” Satu dari pemuda itu berhasil mencekal lengan Jihyun, dan memandang Jihyun seperti singa kelaparan.

Jihyun yang ketakutan hanya bisa menunduk dan berusaha melepas cekalan salah satu dari lima pemuda itu, “Ku mohon lepaskan aku.”

Bukannya melepaskan Jihyun, para pemuda itu justru menertawakan Jihyun, “Kami akan melepaskanmu, tapi sebelumnya kau harus ikut dengan kami dulu.” Salah satu dari pemuda itu menarik lengan Jihyun dan menyeret Jihyun untuk mengikuti mereka.

Jihyun yang kini sudah menangis berusaha kuat melepaskan diri dari cekalan pemuda itu dan menahan tubuhnya agar tak dibawa ke tempat lain oleh para pemuda itu. Namun sekuat apapun Jihyun, tenaganya tetap akan kalah jauh. Jihyun yang tak mau sesuatu terjadi padanya, menggigit tangan pemuda yang mencekal tangannya dan berusaha kabur.

Namun baru beberapa meter berlari, Jihyun terjatuh karena tali sepatu sialannya yang terlepas. Jihyun yang melihat para pemuda itu berjarak beberapa langkah darinya hanya bisa menutup mata sembari menangis.

Setelah beberapa detik berlalu, pemuda-pemuda tadi justru tak melakukan apapun padanya. Dan entah kenapa para pemuda tadi malah mengeluarkan makian yang entah ditujukan pada siapa.

“Yaa anak tengik sialan.” Mendengar umpatan salah satu pemuda itu, Jihyun membuka matanya dan terkejut karena salah satu dari lima pemuda itu sudah tersungkur beberapa meter dihadapannya. Dan yang lebih membuat Jihyun terkejut adalah, Oh Sehun yang tak jauh dari hadapannya kini tengah menghajar para pemuda tadi satu persatu.

Melihat kemampuan Sehun dalam menghajar para pemuda itu, membuat Jihyun terperangah. Sehun dengan mudah menangkis dan menghindar dari serangan pemuda-pemuda itu. Jihyun memekik saat salah satu pemuda itu ingin menyerang Sehun dari belakang.

“Oh Sehun dibelakangmu!!”

Teriakan Jihyun membuat Sehun dengan cepat berbalik dan menendang pemuda yang mencoba menyerangnya dari belakang tepat di perut hingga membuatnya jatuh tersungkur. Keempat pemuda lainnya yang tidak terima, menyerang Sehun secara bersamaan. Tapi tetap saja para pemuda itu tak bisa mengalahkan skill bertarung seorang Oh Sehun belum lagi keadaan para pemuda itu yang setengah sadar membuat mereka semakin tidak sebanding dengan kekuatan Sehun. Hingga tak berapa lama kemudian, semua pemuda itu terkapar di tanah.

“Itu sebagai balasan karena kalian telah menganggu gadisku. Dan jika kalian berani menganggunya lagi, akan ku pastikan kalian menerima yang lebih dari ini. Kalian paham?!!” Sehun berucap dengan dingin kepada kelima pemuda itu yang dibalas anggukan lemah oleh mereka berlima.

Lalu Sehun mengalihkan pandangannya kepada Jihyun yang masih terduduk di tanah, Jihyun sendiri terlalu lemas untuk sekedar bangun karena kejadian tadi sungguh membuatnya sangat ketakutan.

Sehun berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Jihyun, kemudian menatap Jihyun yang wajahnya masih terdapat jejak air mata, “Kau tak apa?” tanyanya yang dibalas anggukkan lemah oleh Jihyun, “Aku akan mengantarmu pulang, dan jangan menolak.” Sehun lalu merangkul Jihyun dan menggiringnya masuk ke dalam mobilnya.

Tak ada lagi kata yang terdengar dari mereka berdua setelah Jihyun mengatakan alamat rumahnya. Jihyun masih terlalu shock dengan kejadian yang menimpanya tadi, sedangkan Sehun fokus pada jalanan dihadapannya.

“Terima kasih karena telah menolongku, aku tak tahu bagaimana nasibku jika tadi kau tidak menolongku.” Ucap Jihyun saat mereka sudah sampai, Jihyun sengaja meminta Sehun menurunkannya jauh dari rumahnya. Karena Jihyun takut jika ibunya melihatnya keluar dari mobil mewah Sehun. Jihyun beralasan pada Sehun jika ibunya tak suka kalau Jihyun diantar pulang oleh seorang pria.

“Kau berhutang budi padaku, benarkan?”

Jihyun mengangguk lemah, Jihyun tau ini tak akan baik. Sehun pasti akan meminta sesuatu yang aneh padanya. Semoga saja Sehun tak memintanya untuk menjadi kekasihnya.

“Kalau begitu akan kupikirkan dengan apa kau harus membayarnya.”

Jihyun hanya bisa menghela nafas saat mendengar ucapan Sehun, karena tak ingin berlama-lama lagi, Jihyun pun keluar dari mobil Sehun.

“Terima kasih atas tumpangannya.” Jihyun membungkuk kearah Sehun lalu berjalan meninggalkan mobil Sehun sedangkan Sehun diam-diam keluar dari mobilnya dan mengikuti kemana Jihyun pergi. Sehun ingin memastikan jika gadis itu sampai rumahnya dengan selamat. Sehun terus melangkah hingga Jihyun memasuki rumahnya. Saat melihat ukuran rumah Jihyun, Sehun tersenyum meremehkan. Benar-benar golongan lima rupanya.

Spoiler for next part

“Tenanglah, ibumu akan baik-baik saja.” Ucapnya lalu secara tak sadar menarik Jihyun kedalam pelukannya dan membiarkan Jihyun terisak di dalam dekapannya.

“Tentu saja tidak bisa. Kau tahu nona, tidak ada yang gratis di dunia ini. ”

“Terserah kau saja.”

“Dia bahkan tidak lebih cantik dariku.”

“Apa yang terjadi denganmu? Kau habis menangis?”

“Lihatlah mereka, mereka bahkan lebih pintar membicarakan orang lain daripada mengurusi dirinya sendiri. Menyedihkan.”


Hayoo yang kemarin minta Se-Hyun moment dibanyakin, mana suaranya?

oia sekedar pemberitahuan, sebelumnya kan aku udah kasih info ada beberapa part yang aku private, part yang aku private itu nanti sekitar 4 part. Masing-masing part itu secara berurutan, misalnya part 12 dan 13 lalu part 20 dan 21. Kenapa langsung dua part gitu? Karena kalo cuma satu part bakalan tetep ada silent reader, karena buat mereka pasti gak masalah ketinggalan satu part. Nah kalo ketinggalan dua part kan bingung sendiri jadinya.

Dan aturan untuk dapet password tetep sama ya, harus komen atau like di cerita ini, dimanapun cerita ini di post (gak harus di blog aku)

Terakhirrrr, aku terima kasih banyak untuk readers yang tetep setia kasih komen baik itu apresiasi maupun saran/kritik *deepbow ^^

4 responses to “Isn’t Love Story Chapter 9 – Stay

  1. Makin seru yes, gakerasa tiba2 udh baca sampe chapter 9 aja 😂 Bener2 seru, semangat qaqa seru bgt kok ffnya 🙌🏼

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s