First Crush : Part 4

first-crush

Poster Credit Belong To @atatakai-chan from posterfanfictiondesign.wordpress.com,

Thanks alot untuk posternya. Keren banget dan aku suka banget!

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

Part 4

Hosoek Oppa, lalu Jiyeon. Aku tidak mengerti, bagaimana mereka bisa menyimpulkan bahwa Jimin menyukaiku? Aku menghela nafasku sambil membereskan sisa pekerjaanku hari itu. Aku melihat hpku yang bergetar.

HS : ‘Kau sudah selesai kerja?’

Pesan dari Hoseok Oppa. Aku melihat jam masih belum terlalu larut. Dia pasti mengajak untuk latihan dances.

SH : ‘Baru saja selesai.’

HS : ‘Bagus. Ayo latihan.’

SH : ‘Dimana? Aku akan kesana..’

HS : ‘Aku sudah menunggumu di lobby kantormu.’

Dia dibawah? Aku langsung membereskan barang-barangku dan mengambil tasku.

“Buru-buru Soe Hee-ah? Mau kemana?” Tanya Seojoon.

“Ada urusan. Aku duluan Seojoon-ah.” Kataku langsung menuju ke lift.

“Soe Hee-ah, kau berjanji akan mengajakku.” Kata Jimin sambil berlari kecil kearahku. Aku menepuk kepalaku pelan.

“Nae! Kajja!” Kataku. Dia tersenyum dan kami masuk kelift.

“Siapa saja yang ada dalam kelompok dances mu?” Tanya Jimin.

“Mmm.. Hanya Hoseok Oppa.” Jawabku. Jimin menatapku dengan khawaitr.

“Jangan menatapku seperti aku akan masuk ke kandang singa.” Kataku lalu keluar dari lift ketika lift mencapai lobby. Aku melihat Hoseok Oppa berdiri membelakangiku. Aku menepuk pundaknya singkat.

“Kajja!” Kataku. Dia tersenyum ketika melihatku dan terdiam sesaat ketika melihat Jimin.

“Dia ingin melihat latihan kita.” Kataku menjelaskan pada Hoseok Oppa. Hoseok Oppa hanya menggangguk.

Okay.” Jawab Hoseok Oppa.

“Kita latihan dimana?” Tanyaku.

Underground?” Tanya Hoseok Oppa balik.

“Kau mau mengajak Jimin ke Underground?” Tanyaku balik. Dia menghela nafas.

“Mau bagaimana lagi?” Tanyanya. Aku memberikan tatapan memohon. Aku tau Hoseok Oppa tau aku tidak pernah menceritakan tentang underground dan hal-hal yang berkaitan dengan itu pada Jimin.

Okay, ke studio saja.” Katanya mengalah. Aku tersenyum senang. Hoseok Oppa selalu mengalah.

“Memangnya ada apa dengan underground?” Tanya Jimin.

“Itu adalah tempat kushus untukku dan Soe Hee saja, yang bernama Park Jimin dilarang disana” Kata Hoseok Oppa mengejek Jimin. Sementara aku hanya bisa tertawa dan menjelaskan seperlunya pada Jimin.

 

“Akhir-akhir ini dances seperti ini sedang in. Sedikit susah, jika kita tidak kompak akan sedikit susah dibagian akhirnya.” Jelas Hoseok Oppa setelah menunjukkan video dances padaku.

“Dibagian akhir kau akan melemparku keatas?” Tanyaku.

“Tenang aku akan menangkapmu.” Kata Hoseok Oppa yang sedang melenturkan tubuhnya. Aku mengangkat salah satu kaki ku dan melenturkannya sambil melihat video itu.

“Awalnya Electric Boogaloo.” Kataku.

“Temponya kita buat separuh saja.” Katanya.

My god. That’s hard man.” Protesku.

“Lakukan gerakannya dengan sangat pelan.. Susah tapi pasti bisa. Aku akan mengajarimu pelan-pelan. Pertama, coba dengan hal yang mirip. Wave.” Kata Hoseok Oppa mencoba memperakan wave dengan sangat pelan. Aku melihat Jimin yang terlihat sangat bosan. Aku tau dia tidak suka dengan hal-hal seperti ini, karena itulah aku tidak pernah mengajaknya. Aku hanya tersenyum melihatnya yang bermain hal-hal tidak jelas. Aku melihat ke Hoseok Oppa dan mulai mengikuti gerakannya.

“3 jam yang lalu kau bilang itu susah sekarang kau sudah melakukannya dengan baik.” Kata Hoseok Oppa. Aku tersenyum.

“Kau mengajariku dengan baik.” Kataku.

“Tentu saja, aku melakukan yang terbaik untuk princessku.” Katanya bercanda. Aku melihat Jimin sudah sangat bosan. Dia berbaring disofa sambil melihat tembok, kadang dia mengecheck hpnya.

“Cukup untuk hari ini?” Tanya Hoseok Oppa.

“Biasanya kau sampai pagi kan?” Tanyaku balik.

“Aku tidak mau kau bertengkar lagi dengannya hanya karena kita latihan dances sampai pagi.” Kata Hoseok Oppa menunjuk ke Jimin. Aku tertawa kecil.

“Besok, sampai pagi, Underground.” Bisik Hoseok Oppa.

“Tanpa anak itu.” Lanjutnya. Aku mengangguk.

“Jim!” Panggilku. Jimin langsung tersenyum lebar.

“Sudah selesai?” Tanyanya. Aku mengangguk dan aku bisa melihat dia tersenyum dengan ekspresi yang sangat lega dan bahagia.

 

Aku baru saja sampai dimeja kerjaku hari ini dan aku melihat Seojoon terlihat sangat buruk.

“Seojoon-ah. Kau benar-benar terlihat buruk..?” Tanyaku.

“Soe Hee-ah. Aku rasa kau bisa membantuku.” Katanya. Aku mengerjap. Pasti hal yang serius.

“Nae? Aku akan membantu jika aku bisa.” Jawabku.

“Jiyeon..” Katanya. Aku mendekat padanya,

“Ada apa dengannya?” Tanyaku.

“Aku tidak tau pasti. Tapi setelah kejadian dikantor kapan lalu. Dia berbeda. Setelah pulang dia hanya berdiam diri dikamar. Aku pikir karena dia patah hati makanya dia bersikap seperti itu, aku berusaha membujuknya dan menghiburnya. Tapi itu berlangsung seharian penuh. Ketika sore aku kembali membawa makanan untuknya, dia sudah tidak ada dikamarnya.” Kata Seojoon.

“Hah? Dia hilang?” Tanyaku.

“Nae. Dia hilang. Aku mencoba berbagai cara untuk menghubunginya tapi dia tidak ada. Aku menelpon teman-temannya tapi tidak ada yang tau. Aku mencarinya sampai malam. Aku kembali mengecek rumah sekitar jam 11 dan dia tidak ada, tapi waktu aku kembali lagi kerumah jam 1 pagi, dia ada dikamarnya. Tidur.” Kata Seojoon.

“Ba-Bagaimana..” Aku speechless.

“Aku bisa mencium bau alcohol Soe Hee-ah.” Kata Seojoon.

“Paginya aku bertanya padanya tentang semalam dan dengan santai dia menjawab…”

~ flashback on~

*Seojoon POV*

“Jiyeon-ah, kemarin kau dari mana saja? Aku khawatir karena kau hilang tiba-tiba.” Tanyaku selembut mungkin padanya.

“Miane Oppa. Lain kali aku akan bilang kalau aku mau pergi.” Katanya singkat mengambil secangkir air dan meminumnya.

“Kemarin kau kemana?” Tanyaku.

“Clubbing.” Katanya dengan santai. Aku hampir tidak percaya dengan kata-kata adik kecil ku itu.

“Clubbing?” Tanyaku. Dia mengangguk dan berjalan kekamarnya.

“Jangan lakukan itu lagi.” Kataku.

“Wae?” Tanyanya.

“Kau sendiri tau itu tidak baik untukmu! Tidak berguna apapun.” Kataku. Dia berjalan padaku.

“Oppa, semalam aku clubbing, dan pagi ini aku masih baik-baik saja.” Katanya,

“Semalam. Disini.” Dia menunjuk kedada sebelah kirinya.

“Rasa sakit yang ada disini. Terasa hilang.” Katanya. Aku menghela nafas.

“Sekarang itu terasa lagi kan? Lalu apa gunanya jika itu masih saja sakit!” Kataku.

“Setidaknya aku sesaat aku tidak merasakannya. Dari pada aku harus selalu merasakannya.” Jawabnya.

“Lebih baik kau pergi dengan teman-temanmu. Shopping, atau kesalon, atau apa yang biasanya kau lakukan.. Masker? Mani-padicure?” Kataku menyebutkan berbagai kegiatan wanita yang memang sering dia lakukan, dia selalu bilang itu bisa mempercerah kulitnya lah, atau membuatnya terlihat cantiklah. Atau apalah yang dia bilang. Setidaknya itu tidak merusaknya.

“Aku sedang tidak ingin. Toh tidak ada yang peduli dengan penampilanku.” Katanya lalu masuk kekamarnya dan meninggalkanku disana.

~flashback off~

Aku menganga. Tidak percaya dengan apa yang Seojoon katakan.

“Jinjja?” Tanyaku.

“Kau pikir aku bercanda?” Tanyanya balik dengan nada frustasi.

“Aku berpikir untuk mengambil cuti dan menemaninya dirumah.” Kata Seojoon.

“Nae, kau benar. Kau harus menemaninya seharian penuh. Jangan sampai dia kepikiran untuk clubbing dan semacamnya. Ketika dia bosan atau tidak ada kerjaan lainnya carikan dia kegiatan lainnya.” Kataku.

“Kau seperti expert Soe Hee-ah.” Kata Seojoon. Aku melihat banyak orang dengan latar belakang seperti itu di Underground. Hanya sebagian yang benar-benar berjuang dan selamat, tapi ada juga sebagian yang menjadi sampah, dan aku tidak mau Jiyeon menjadi sampah.

“Jiyeon sudah seperti adikku sendiri. Aku tidak akan membiarkannya rusak Seojoon-ah.” Kataku pada Seojoon.

“Telponlah aku kalau ada apa-apa dengan Jiyeon.” Kataku. Dia mengangguk.

“Aku akan mengajukan surat cutiku.” Katanya. Aku mengangguk.

 

Aku baru saja turun dari mobil Jimin dan melihat jam tanganku. Tepat setelah ini aku akan ke Underground untuk latihan dances.

“Gomawo Jim. Kau harusnya tidak perlu selalu mengantarku seperti ini.” Kataku.

“Aku harus menjagamu.” Katanya.

Okay. Thanks. Aku masuk dulu.” Kataku lalu berjalan pergi. Aku baru saja menutup pintuku dan aku mendapat pesan dari Hoseok Oppa.

HS : ‘Kajja!’

SH : ‘Jimin sudah pergi?’

HS : ‘Dia sudah pergi’

Aku langsung membuka pintu dan keluar. Tiba-tiba aku tersentak kaget, ketika Hoseok Oppa berdiri sangat dekat denganku. Aku tidak sengaja memalingkan wajahku tepat menatapnya, menatap dimatanya, dan kami terdiam sesaat. Hoseok Oppa mendekatkan dirinya padaku dan aku menahan nafasku sesaat.

/Ce-Klek/

Dia meraih kenop pintu dibelakangku dan menutup pintu. Aku mengerjap menyadarkan diriku sendiri. Aku berbalik membelakanginya dan mengunci pintuku. Ketika aku berbalik dia tersenyum smirk.

“Mbo?” Tanyaku.

“Hari ini kau sangat harum.” Katanya dengan serius. Dia benar-benar memujiku. Aish.. Aku benci berada disituasi dimana dia benar-benar berbuat baik padaku. Itu membuatku merasa nervous, dan tegang didekatnya.

Such a pervert.”  Kataku langsung menanggapi seperti aku menanggapi candaanya.

“Kau ini benar-benar. Bukan itu maksudku.” Jawabnya lalu berjalan mengikutiku dibelakangku.

 

Aku melihat jam tanganku. Jam 1 pagi, dan kami baru saja mengambil break pertama kami. Aku duduk disalah satu kursi disana dan mengelap keringatku. Hoseok Oppa datang menyodorkan minuman padaku. Aku mengambilnya dan meminumnya separuh, Hoseok Oppa meminum sebagian dan membasahi dirinya.

Kami duduk diam. Entah kenapa, diam, tapi sama sekali tidak awkward. Tapi, bagiku memang tidak pernah ada suasana awkward dengan Hoseok Oppa. Bahkan dalam diam pun dia bisa membuat situasi sama sekali tidak awkward? Dia benar-benar membuatku terkesan. Batinku lalu meliriknya yang masih mengatur nafas disampingku. Aku tertawa kecil. Apa yang aku pikirkan? Tidak penting. Sangat tidak penting.

“Mbo?” Tanya Hoseok Oppa.

“Mm?” Tanyaku balik.

“Kau melihatku lalu tertawa kecil. Apa yang kau pikirkan?” Tanyanya.

“Anya.” Jawabku singkat.

“Aku yakin dalam hati kau mengatakan betapa kau menyukaiku dan sangat menyayangiku kau pasti bilang kalau aku ini sangat keren.” Katanya kambuh. Aku menggeleng kepalaku ringan.

“Lupakan.” Kataku langsung. Dia tersenyum. Aku melihat seorang gadis berambut panjang terurai, dan mengenakan gaun hitam ketat baru saja masuk ke area bar dan clubbing underground. Aku tidak salah lihat kan? Aku langsung berdiri.

“Kemana?” Tanya Hoseok Oppa.

“Oppa, aku rasa aku melihat seseorang yang aku kenal. Dia tidak harusnya disini.” Kataku langsung berjalan menyusul gadis tadi. Hoseok Oppa juga berdiri, dia berjalan dibelakangku mengikutiku. Aku melihat dengan jelas. Jiyeon. Benar. Dia Park Jiyeon. Dia datang sendirian dan langksung ke bar.

“Vodka.” Katanya. Aku berdiri dibelakangnya.

“Park Jiyeon. Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku langsung. Jiyeon berbalik dan menatapku dengan tatapan kosong. My god, gadis secantik dia harus memiliki tatapan seperti itu. Begitu kosong dan menyedihkan.

“Soe Hee Eonni? Kenapa bisa..” Dia melihatku dengan terkejut. Aku menarik tangannya dan menyeretnya keluar dari sana. Dia menghempaskan tanganku.

“Apa yang kau lakukan?!” Katanya separuh berteriak padaku.

“Kau tidak memiliki hak apapun untuk mengaturku, jadi tinggalkan aku sendiri!!” Bentak Jiyeon, lalu berjalan kembali.

“Park Jiyeon. Apa kau sudah gila?! Ini bukan tempatmu!! Kau tidak akan tau bagaimana Seojoon akan khawatir kalau dia tau kau disini.” Kataku. Dia menatapku dengan tajam.

“Eonni, tinggalkan aku sediri. Aku masih ingin respect denganmu.” Katanya mengancamku. Jiyeon.. Adik kecilku.. Mengancamku? Dia berjalan pergi ke bar. Dia menggenggam gelas vodka nya dan ketika dia akan meminumnya aku mengambilnya dan menghabiskannya sekali teguk. Aku menaruh gelas itu dengan keras kemeja dan gelas itu retak. Sementara, Jiyeon menatapku dengan kaget.

 

Dear diary,

Aku tidak akan segan-segan melakukan segala hal untuk orang yang aku sayangi. Terutama untuk menjaga orang yang aku sayangi, termasuk Jiyeon. Dia adalah adik kecilku yang masih belum tau apapun. Dia masih begitu polos dan aku akan menjaga kepolosan itu. Dengan cara apapun.

 

16 september 2016

Kim Soe Hee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s