Beauty and The Beast Chapter 9 [He is Really a Monster] – by HyeKim

beautyandthebeast1

Beauty and The Beast Chapter 9

└ HiReally a Monster┘

A fanfiction Written by HyeKim ©2016

╚ Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim || Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun || V BTS as Kim Taehyung || Nara Hello Venus as Kwon Nara ╕

 Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Family ||  Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-17 ╕

Summary :

Beauty and The Beast adalah cerita dongeng yang dulu selalu menghiasi masa kecil seorang Kim Hyerim. Hyerim dulu sempat berkata ingin menjadi Belle, si cantik yang jatuh cinta pada beast. Si pangeran yang dikutuk jadi monster. Apa yang akan Hyerim lakukan bila hal tersebut terjadi padanya?

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


“… aku benci padamu! Dasar monster peganggu hidup orang!”


PREVIOUS :

Teaser ||  Chapter 1 [Cold-Jerk Man] || Chapter 2 [Contract Marriage?!] || Chapter 3 [A Marriage and Honeymoon] || Chapter 4 [Honeymoon Bab II] || Chapter 5 [It’s Not A Marriage] || Chapter 6 [She Is (not) My Wife] || Chapter 7 [The Beast’s Past Love Story] ||Chapter 8 [Like Beauty And The Beast]  || (NOW) Chapter 9 [He is Really a Monster]

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Penerangan yang tak memidai serta gerakan bibir Luhan dibibirnya, membuat Hyerim masih setia menutup mata tak berani berhadapan langsung dengan wajah lelaki tersebut. Gerakan yang semulanya perlahan menjadi kasar dan bahkan membuat napas Hyerim terengah. Luhan terus memaksa masuk kerongga mulut Hyerim hanya untuk memperdalam ciuman mereka. Dilumat bahkan digigit pula bibir Sang Gadis oleh lelaki tersebut. Sementara tangan kanan Luhan mencekal kedua tangan Hyerim dan tangan kirinya memeluk pinggang gadis tersebut membuat tubuh keduanya berhimpit tanpa ada batasan. Dan sialnya hal tersebut membuat hawa di sekitar menjadi panas.

“Eung…” Hyerim melenguh disela-sela ciuman panasnya dengan Luhan, meminta lelaki tersebut menghentikan aksi kelewat waras alias gilanya ini.

Hingga Hyerim pun akhirnya bisa bernapas lega dengan Luhan yang melepaskan tautan keduanya. Namun hembusan napas Luhan dilehernya membuat Hyerim merasakan alrm yang lain berbunyi. Lelaki tersebut mulai menjelajari leher jenjang nan mulus milik Hyerim. Dan anehnya, respon Hyerim adalah mendongakan kepalanya membuat lehernya lebih terekspos dan Luhan dengan leluasa menjelajahinya.

“Eungh… ugh! Hent…ikan bodoh!” seru Hyerim dengan napas tersenggal serta berusaha menahan suara-suara tersebut keluar dari bibirnya. Namun Luhan malah menghisap kuat lehernya membuat Hyerim melenguh kesekian kalinya, lelaki ini benar-benar harus dikutuk, umpat Hyerim dalam hati.

Peluh membasahi tubuh Hyerim apalagi Luhan belum menghentikan aksi meninggalkan bekas dilehernya, membuat kepala Hyerim bergerak-gerak tak jelas. “Sinting! Bila aku hamil anakmu bagaimana hah?!” ucap Hyerim dengan satu tarikan napas kemudian dihembuskan kembali napasnya yang tak teratur.

Seakan kata-kata tersebut mantra yang mujarab, Luhan menghentikan aksinya dan Hyerim masih mendongakan kepala serta napas yang belum kembali teratur. Luhan mengangkat kepalanya menatap wajah Hyerim yang sudah acak-acakan. Hingga akhirnya gadis itu balik menatapnya membuat kontak mata antara iris sayu dan tajam tersebut tak bisa dihentikan. Keduanya saling tatap dengan Luhan yang masih memeluk pinggang Hyerim namun cekalan tangannya pada tangan gadis tersebut sudah terlepas. Peluh masih turut membasahi badan keduanya. Sampai….

‘BAK!’

“Aaaww!” Luhan merintih kesakitan saat tangan Hyerim dengan membabi butanya memukuli kepalanya.

“Sinting! Sialan! Berengsek! Apa yang kamu lakukan tadi hah?! Dasar otak lumba-lumba!” maki Hyerim masih dengan memukuli kepala Luhan.

Luhan pun reflek melepaskan pelukannya pada pinggang Hyerim serta tangannya yang terangkat menahan serangan gadis tersebut yang seperti kesetanan. Jangan tanya lagi bagaimana ekspresi Luhan, jelas lelaki tersebut kesakitan.

“Kita menikah atas perjanjian kontrak! Dan dirimu main menyerangku?! Otakmu itu ke mana?!” teriak Hyerim karena amarahnya sudah diujung tanduk.

“Aku hanya main-main, kambing dungu!” bela Luhan sambil tangannya berposisi menyilang ke atas menahan serangan Hyerim.

Mendengar penjelasan Luhan membuat Hyerim menghentikan aksinya dan menatap lelaki itu tajam serta napas yang tak teratur. Luhan pun menurunkan tangannya yang tadi mencoba mencegah penyerangan Hyerim dan menatap gadis itu kikuk sambil menggaruk teguknya gugup.

Neo jinjja micheosso saramiya (kau benar-benar orang gila),” desis Hyerim yang kemudian membalikan badan meninggalkan dapur.

Sepeninggalan Hyerim, Luhan mengacak rambutnya frustasi dengan wajah yang senada. Dilirik punggung Hyerim yang menghilang karena berbelok ke sebelah kiri. Kemudian Luhan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu dihembuskan olehnya napas yang sangat berat.

“Gila! Padahal tadi aku hanya ingin menggoda dan menjahilinya, kenapa malah aku melakukannya sunggguhan. Akh!” dan Luhan kembali mengacak rambutnya setelah mengeram frustasi akan tingkah bodohnya beberapa waktu lalu.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Karena Si Otak Lumba-lumba─Luhan, belum membayar tunjangan listrik dan menyebabkan kegelepan pada tempat tinggal keduanya. Hyerim pun menyalakan lilin yang ditancapkan di asbak yang ia taruh di dekat wastafel untuk menerangi kamar mandi agar dirinya bisa membasuh tubuh. Detik ini, Kim Hyerim sedang bercermin di hadapan wastafel karena acara mandinya telah usai dan ditandai balutan jubah mandi yang melilit ditubuh rampingnya. Sekon ini, gadis bersurai panjang tersebut sedang keripuhan menghilangkan tanda dilehernya karena ulah Luhan. Hyerim sudah menggosok-gosoknya dengan air maupun sabun, namun tanda itu masih setia ada dileher putih bersih miliknya. Digebrak oleh Hyerim ujung wastafel tersebut diiringi hembusan napas kasar tanda menyerah.

Seikkia (berengsek) berani-beraninya Si Monster Gila itu membuatku keripuhan hanya karena tanda ini?” gerutu Hyerim kemudian matanya terpejam sesaat diiringi bibir bawahnya menyapu bibir atasnya dengan gerakan bergantian karena frustasi. “Nan micheonabwa jinjja (aku benar-benar mau gila).” Hyerim mengumpat dan dipilihlah olehnya untuk keluar kamar mandi daripada memikirkan tanda tersebut.

Saat keluar kamar, dirinya tak sengaja menabrak keranjang baju kotor yang berada dekat pintu kamar mandi. Hyerim kembali mendesah frustasi. “Monster itu kaya kan? Kenapa tunjangan listrik saja sampai tidak dibayar begini?” Hyerim mengumpat kembali diiringi kakinya berjalan kembali dengan lilin yang sayup-sayup menerangi kamar.

Sampailah Hyerim di depan lemari dan langsung ia bongkar lemari tempat pakaiannya tersimpan─pakaiannya dan Luhan memang terpisah tempatnya walau tersimpan di lemari yang sama. Setelah itu, Hyerim mengenakan seluruh pakaiannya. Rambutnya yang sudah mengering ia sisir dan diikat setengah menyisakan banyak helaian rambutnya. Setelah itu Hyerim menuju meja belajar dan membongkar tasnya untuk mengambil ponsel dan beberapa barangnya. Namun dirinya menemui dua buku yang bukan miliknya, Hyerim dengan raut herannya pun menarik keluar buku tersebut dan setelah membalikannya tampak tercetak huruf hanggul nama Kim Taehyung. Dihelakan kembali napasnya oleh Hyerim sebelum akhirnya mengambil ponsel untuk menelepon Nara─sahabatnya itu mengatakan ingin menjenguk Ayah Hyerim tadi dan menginap di rumah sakit. Dan ya, seharusnya Hyerim juga berada di rumah sakit menjaga ayahnya. Namun karena ulah Luhan, rencananya tersebut berantakan.

“Hallo?” suara Nara terdengar.

“Nara, berikan ponselnya pada Taehyung,” ujar Hyerim yang satu tangannya sudah berkacak pinggang dan pinggang sebelah kanannya menyender pada meja belajar sambil tatapannya jatuh ke buku pelajaran milik Taehyung.

Terdengarlah bunyi bising ketika Nara memanggil Taehyung untuk berbicara disambungan telepon. Hingga akhirnya terdengarlah sapaan ceria adiknya tersebut, “Hallo nuna!”

Suara riangnya membuat Hyerim ingin menimpuk Taehyung dengan buku fisika dan matematika Sang Adik yang sedang ia tatapi geram sekon ini. “KENAPA BUKUMU ADA DI TASKU?!” teriak Hyerim dengan raut jengkel dan bibir mencibir kesal. Mungkin karena ulah Luhan, Hyerim sudah layaknya wanita pre menstruation syndrome.

Di sebrang sana, Taehyung menjauhkan ponselnya terlebih dahulu dengan mata terpejam dan raut tersiksa karena teriakan Hyerim. Sebelum akhirnya menempelkan kembali telinganya ke ponsel dan menyahut, “Karena suamimu tadi main menggeretmu, aku yang ingin minta bantuan tugas fisika dan matematika tak punya pilihan lain untuk buru-buru memasukan bukuku ke dalam tasmu untuk kau kerjakan, ehehe.”

Hyerim menghela napas tak percaya dengan kepala bergerak-gerak frustasi. “Aku? Mengerjakan tugasmu? Kamu pikir fisikaku dan matematikaku yang merah di raport itu bagus hah? Kamu ini─”

“Besok tugasnya dikumpulkan nuna, fisika halaman 205 sampai 207 dan matematika halaman 299 sampai 301. Selamat mengerjakan bila tidak mau aku dapat detensi yang mempengaruhi kelulusanku. Aku mencintaimu!” Taehyung buru-buru memotong dan memutuskan sambungan. Bibir Hyerim mengerut kesal dengan tangannya yang sudah meremas kuat ujung buku fisika Taehyung, tak peduli buku yang susah payah ayahnya belikan akan hancur.

Akh! Kenapa malam ini tensi darahku harus naik begini?! Ya Tuhan!” Hyerim mengerang diiringi ponselnya yang ia banting ke atas meja dan netranya menatap buku pelajaran Taehyung geram setengah mati. Tidak ada pilihan lain, Hyerim pun menarik kursi dan duduk untuk mulai mengerjakan tugas Sang Adik walau malam sudah kian larut.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Luhan memilih mandi di kamar mandi dekat dapur dibanding di kamar miliknya yang ditempati Hyerim juga. Mukanya tak ingin bertemu paras wanita yang hampir ia tiduri itu. Mengingatnya saja membuat Luhan mengeram frustasi. Dengan masih memakai bathrobenya, Luhan memasuki kamar dan mengira Hyerim sudah tidur. Maka tadi dirinya sengaja berlama-lama di luar dengan menonton televisi agar tidak bertatapan dengan Hyerim. Dibuka perlahan oleh Luhan pintu kamarnya, matanya pun mengintip ke dalam. Dan harapan tinggalah harapan kala irisnya mendapati punggung Hyerim yang masih sibuk mengerjakan sesuatu di meja belajar. Luhan mengigit bibir bawahnya dengan raut wajah frustasi dan mata terpejam sesaat. Langkah kakinya jadi kaku untuk memasuki kamarnya.

“Masuk saja, jangan seperti kelinci ketakutan. Aku bukan harimau yang akan menerkammu,” seketika Hyerim berujar membuat tubuh Luhan menegang karena merasa tertangkap basah akan gadis tersebut yang belum berkutik dari posisinya dan hening menyelimuti keduanya, hanya goresan pensil Hyerim serta kadang kala gerakan penghapus yang turut andil terdengar.

Ekhem,” Luhan berdehem yang berfungsi agar suasana canggung tersebut lenyap sesekon maupun dua sekon saja. Digeret langkahnya menuju dalam kamar diiringi pintu yang ditutup pelan.

Langkah Luhan terhenti di depan lemari dan perlahan dirinya mulai memakai pakaiannya. Hyerim sadar akan gerak-gerik Luhan, dirinya mencengkam erat pensilnya dan gerakan menulisnya terhenti. Walau acara memakai pakaian itu tertutupi oleh pintu lemari. Hyerim merasa tubuhnya panas dingin karena kejadian di dapur beberapa waktu kebelakang, bahkan sekarang bibir bawahnya sudah ia gigit kuat.

“Bisa tidak kamu ini pakai baju di kamar mandi?” Hyerim berujar dengan tangan yang mulai menulis kembali walau terlihat bergetar hebat.

Terdengar pintu lemari tertutup serta penyuguhan Luhan yang sudah selesai memakai piyama tidurnya. Lelaki itu menatap Hyerim yang detik ini kentara sekali perasaan risih dan gugupnya. Pasti karena kejadian di dapur, pikir Luhan dan tepat sasaran. Memikirkan pemikirannya yang pasti tepat, bibir Luhan tertarik sebelah meyunggingkan senyum miring mematikannya.

“Ahh, kamu ingat ciuman panas di dapur tadi ya. Padahal biasanya tidak apa-apa aku memakai baju begini,” balas Luhan sambil melipat tangan didepan dadan dengan setengah badan bertumpu pada lemari. Mendengar ucapan Luhan membuat Hyerim salah tingkah dengan tulisannya yang makin terlihat buru-buru serta pegangannya menguat pada pensilnya. “Kamu ingin aku menciummu lagi?” goda Luhan dengan satu alis terangkat.

Hyerim mencibirkan bibirnya dan rautnya berubah dongkol. “Shut up pervert man! Just go to bed and then leave me alone!” seru Hyerim sambil menengokan kepala ke arah Luhan dengan napas memburu dan tatapan mata tajam. Tapi Luhan malah berlagak santai.

“Ya, ya, ya. Aku hanya menggodamu,” ujar Luhan dengan wajah tak peduli sambil menopang pipinya dengan kepalan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih setia terlipat didepan dada sambil menahan tangan kanannya. “Tadi itu aku kelepasan. Padahal niatku hanya menjahilimu, seperti tempo itu saat ada Kyuhyung. Bibir kita tak sengaja bersentuhan saat di dapur dan ya… eh tunggu, kenapa kita selalu kelepasan saat di dapur ya? Apa malam pertama kita dilakukannya di atas meja makan?” gumam Luhan sambil posisi tangan kanannya berubah menopang dagu dan menggaruk-garuknya selayak berpikir disertai gerakan bola mata ke sana-ke mari.

Perkataan Luhan yang agak vulgar membuat Hyerim menelan ludahnya karena merasa otak lelaki itu sudah terkontaminasi menjadi penuh oleh cumi-cumi. “Dasar gila!” umpat Hyerim, “Kamu ini suka kelepasan seperti itu. Bagaimana bila kamu ini ke bar dan mabuk alkohol? Entah apa yang terjadi.”

Luhan mengedikan bahunya mendengar cercaan Hyerim, “Ya kamu ini harus memaklumi bahwa lelaki memang begitu. Apalagi pemandangannya itu wanita cantik dan mengg─” segera mungkin Luhan tutup mulut dengan ludah tertelan dan badan menegap kala dirinya menyadari sedang memuji Hyerim cantik serta menjatuhkan harga dirinya karena tergoda oleh wanita bermarga Kim tersebut.

“Ah…” Hyerim menggumam dengan tangan terlipat dan kepala mengangguk-angguk, ujung bibirnya terangkat sedikit menampilkan smirk jahatnya. “Jadi aku ini cantik dan menggoda?” ucap Hyerim dengan kepala dimiringkan ke samping kirinya dan kemudian dirinya tertawa tanpa suara, di sisi lain Luhan menjadi salah tingkah dengan menggaruk-garuk belakang kepalanya.

“Bukan begitu! Ah terserah!” seru Luhan yang berjalan ke kasur dan langsung tenggelam di balik selimut hangatnya.

Hyerim memperhatikan Luhan dan tertawa tanpa suara. Badannya pun berbalik kembali mengerjakan tugas Taehyung. Melihat tugas adiknya tersebut membuat Hyerim migrain kembali. Dipejamkan mata sesaat sebelum mengerjakan kembali tugas adiknya padahal sekarang sudah mau jam 11 malam. Berkali-kali Hyerim mengumpat dan menguap karena kantuk serta soal yang membuatnya harus mencari-cari rumus di buku tebal milik Taehyung maupun di internet.

Ternyata umpatan Hyerim yang terus memaki Taehyung, membuat Luhan berkali-kali melirik punggungnya dan tak bisa tidur. Akhirnya Luhan dengan jengkelnya menarik diri keluar dari balutan selimutnya dan menggeret langkah menuju Hyerim. Sesampainya di samping gadis yang berstatus istrinya itu, Luhan menarik buku catatan Taehyung dan menilik isinya sambil membungkuk dengan mata mengantuknya. Terkejutlah Hyerim akan tingkah Luhan, matanya melirik dan kepalanya mendongak sedikit kepada Luhan yang tangan kirinya berpegangan pada kursi Hyerim.

“Soal ini mudah sekali bila pakai rumus…” ujar Luhan terhenti untuk mencari alat tulis, Hyerim yang peka akan hal tersebut menyodorkan pensilnya. Lalu Luhan pun mulai sibuk menuliskan rumus dan cara pengerjaan soal tersebut dan Hyerim memperhatikannya.

Akhirnya, Luhan selesai mengerjakan soal tersebut seperti contoh di buku pelajaran Taehyung. Hyerim menampilkan mimik takjub dengan mulut sedikit terbuka sambil menatap bergantian buku tulis Taehyung dan Luhan yang sudah menegakkan tubuh sambil menatap hasil kerjanya dengan sombong, karena dirinya tahu jelas sekali Hyerim takjub akan kemampuannya.

“Kupikir isi otakmu cumi-cumi semua,” takjub Hyerim sambil berdecak. Luhan menatapnya datar.

“Yang ada otamu yang cumi-cumi semua!” balas Luhan sarkastik membuat Hyerim memajukan bibirnya. Luhan membuang muka ke arah kiri dengan tangan berkacak pinggang sambil berkata, “Aku tak percaya Si Anak Ingusan itu isi otaknya hampir sama dengan kakaknya. Untuk apa aku susah payah mengeluarkan uang untuk biyaya sekolahnya,” gerutuan Luhan tersebut membuat Hyerim menatapnya geram dengan tangan terkepal.

Ya! Apa kamu bilang? Adikku anak ingusan? Isi otaknya sama sepertiku? Kamu ini menghinaku bo─”

Frasa Hyerim terpenggal lantaran Luhan yang seenak jidat mendorongnya menjauh sampai jatuh terjembab di lantai. Hyerim terkejut bukan main sambil menatap Luhan bengis. Lelaki tersebut sudah duduk santai di kursi yang Hyerim tempati beberapa waktu ke belakang. Serta Luhan sudah sibuk mengerjakan tugas Taehyung dengan serius. Tangan Hyerim terkepal kesal, cara kasar seperti itukah yang Luhan lakukan untuk duduk di kursinya? Memang keuntungan Hyerim juga Luhan mau mengerjakan soal Taehyung. Tapi tidak dengan merebut paksa tempat duduknya dengan cara mendorongnya tanpa meminta maaf ataupun membantunya berdiri. Oh, Hyerim lupa, lelaki itu monster.

“Aku akan mengerjakannya walau sudah lulus sekolah beberapa tahun lalu. Tidur saja sana, ingat ya untuk tidur di lantai,” kata Luhan sambil kepala serta matanya bergerak-gerak menelusuri tugas milik Taehyung.

Tadinya Hyerim ingin tidur saja sambil menggelar selimut dan bantal di lantai─dirinya sekarang sudah menyiapkannya agar tidak kedinginan walau hanya sedikit. Tapi melihat kantung mata Luhan, niatnya tersebut diurungkan. Hyerim pun kembali berbalik menuju Luhan yang fokusnya masih sepenuhnya pada tugas adiknya. Hyerim pun menekuk lututnya layaknya berlutut di samping Luhan─karena hanya tersedia satu kursi, tangannya terlipat di atas meja belajar dan kepalanya menengok ke arah wajah Luhan dan disuguhi profil wajah lelaki tersebut dari samping.

“Kenapa?” tanya Luhan tanpa mengalihkan pandangannya. Hyerim mengulum senyum tipis.

“Aku akan menemanimu karena ini tugas adikku,” jawab Hyerim.

“Ya sudah, terserah,” lalu hening dan hanya ada suara guratan pensil Luhan di kertas buku milik Taehyung dan kadang kala suara penghapus turut mendominasi. Hyerim menggerakan matanya liar melihati kerja Luhan dan dapat disimpulkan lelaki yang berumur 3 tahun di atasnya tersebut adalah siswa pintar saat semasa sekolah.

“Neomu dopsemnida, ahhh.. (panas sekali, ahhh…)”

Tiba-tiba Hyerim mengeluh dengan tangan terangkat mengipas-ngipasi tubuhnya, kemudian rambutnya disibakan olehnya ke samping kiri membuat bagian leher kanannya terekspos dan sialnya, posisi tersebut ada posisi di sebelah Luhan yang sedaritadi mencuri waktu memperhatikan Hyerim. Luhan menelan ludahnya gugup melihat leher jenjang tersebut apalagi masih terlihat tanda kemerahan karena ulahnya. Konsentrasi Luhan buyar seketika dengan bola mata bergerak gelisah.

“Hey! Kenapa berhenti mengerjakan?” tanya Hyerim menatap Luhan heran. Lelaki tersebut buru-buru mengerjakan kembali membuat Hyerim geleng-geleng. “Aku tahu cuacanya jadi panas sekali. Tapi jangan berhenti mengerjakan, aku pegal berlutut begini,” ujar Hyerim.

“Jangan memamerkan lehermu,” desis Luhan menyerupai umpatan membuat Hyerim menaikan satu alisnya namun kemudian tatapan herannya langsung berubah dengan smirk yang terukir menatap Luhan yang sudah sibuk dengan tugas sekolah Taehyung.

“Ah, iya, iya. Takut tergoda lagi dengan wanita cantik inikan?” ejek Hyerim sambil menatap Luhan mengejek. Luhan menghiraukan ejekan Hyerim daripada harus berargumen ria dengan gadis tersebut, karena sesungguhnya dirinya sudah mengantuk berat dan ingin tugas ini selesai.

Hyerim mencibir karena Luhan tak membalas ejekannya seperti biasa, kemudian Hyerim menumpukan kepalanya diatas tangannya yang terlipat namun posisinya miring menatap Luhan. Sekon mendatang, Hyerim sudah memejamkan matanya disusul oleh Luhan yang melipat tangan juga untuk dijadikannya bantal kepalanya. Tak ada yang berubah, Hyerim masih dengan posisi berlututnya di sebelah Luhan dan Luhan yang masih dengan posisi duduknya namun sudah membungkuk setelah selesai mengerjakan tugas Taehyung. Posisi wajah keduanya yang sedang tidur saling berhadapan dengan kepala Luhan yang menghadap wajah Hyerim. Wajah keduanya pun diterangi oleh cahaya lilin yang mulai meredup.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Ketika Hyerim terbangun dari tidurnya, penerangan minim semalam sudah lenyap entah ke mana tergantikan oleh cahaya mentari dan suasana pagi yang masuk melalui jendela. Perlahan tubuhnya ia gerakan karena terasa pegal dan kaku dengan posisi tidur yang tidak benar semalam. Di sebelahnya tepat di kursi belajar, Luhan sudah menghilang tanpa membangunkannya.

“Lelaki ini benar-benar tega. Membiarkanku tertidur seperti ini. Ya ampun,” eluh Hyerim sambil merenggangkan ototnya dan berjalan perlahan ke kamar mandi karena lututnya kram luar biasa.

Setelah rapi dengan penampilannya, Hyerim melangkah menuju dapur dengan riang karena mempercayai akan Luhan yang sudah berangkat duluan. Dan dirinya bisa memasak dengan tenangnya. Namun saat sampai di tempat tujuan, Hyerim terlonjak kaget melihat pria tersebut sudah duduk di meja makan sambil melipat tangan didepan dada. Hyerim menatapnya tanpa berkedip.

“Kamu seperti melihat hantu saja. Cepat makan, aku berbaik hati membuatkannya untukmu,” ujar Luhan sambil menunjuk makanan di depannya dengan dagu.

Hyerim mengerjapkan matanya perlahan dan setelah ruhnya terkumpul kembali, dirinya menarik kursi di depan Luhan dan duduk. Dipandanginya sebentar hasil masak lelaki yang sedang tersenyum-senyum tak jelas di depannya.

“Ini sampah atau makanan?” gumam Hyerim pelan dengan raut wajah tak percayanya.

Luhan yang mendengarnya menatapnya datar dan Hyerim menatapnya dengan mata sedikit menyipit. Hampir semua masakan Luhan gosong dan apa yang harus Hyerim makan bila begitu.

“Makan saja atau kamu akan terlambat,” desis Luhan sambil menyilangkan tangan didepan dada dan menatap Hyerim tajam.

Mau tak mau Hyerim memakan sarapannya itu walau rasanya bahkan menyamai makanan yang sudah berumur 1 minggu dan sebentar lagi basi. Saat memakan telurnya pun masih terasa sisa kulitnya di sana. Hyerim berulang kali mengumpat dan Luhan hanya terkekeh tanpa suara akan reaksinya tersebut. Lelaki itu tidak ikut makan dengan Hyerim membuatnya menyimpulkan bahwa Luhan sudah makan saat dirinya masih tidur. Hingga suara bell rumah terdengar dan Luhan langsung menyambutnya antusias dengan segera berdiri setelah mengatakan “Akhirnya datang juga,” dan entah apalah itu yang datang. Hyerim masih memakan makanannya setengah hati hingga Luhan kembali muncul dengan kotak pizza delivery, melihatnya Hyerim menganga apalagi saat Luhan kembali duduk di hadapannya dan memakan pizzanya dengan nikmat. Ditolehkan bergantian berulang kali oleh Hyerim pandangannya antara masakan Luhan dan pizza tersebut.

Ya!” bentak Hyerim sambil membanting sumpit dan menegakan tubuh menatap Luhan geram, yang dibentak masih menikmati pizzanya dan hanya menatap Hyerim dengan binar yang seakan bertanya ada apa. Napas Hyerim menderu menahan emosi dan mulai berkata, “Jadi ini alasanmu tidak makan masakanmu hah?!”

Luhan yang sedang mengunyah pizzanya pun menelannya sebelum menjawab, “Aku tadi memang bereksperimen untuk memasak tapi dari tampak luarnya saja sudah tidak layak. Jadi aku langsung berniat memberikannya padamu dan memesan pizza,” kembalilah Luhan mengigit ujung pizzanya untuk dikunyah dan Hyerim masih menatapnya geram.

“Dasar monster terkutuk! Jelmaan setan!” umpat Hyerim yang mencengkam erat sumpitnya kembali untuk memakan sisa sarapannya itu dan Luhan hanya menatapnya mengejek membuat Hyerim mendelik kesal padanya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Mentari sudah berada diatas kepala. Jam sekolah sudah usai dan para murid pun sudah berbondong-bondong keluar dari kelasnya. Terlihatlah Kim Taehyung berjalan keluar bersama kawannya yang lain. Merekapun saling melempar candaan dan merangkul satu sama lain. Hingga kepala Taehyung tertolehkan pada kuruman orang yang berbondong-bondong melihat sesuatu. Merasa penasaran, Taehyung mengajak temannya itu menuju ke sana. Raut tak percaya Taehyung langsung terpatri melihat mobil renault megane berwarna silver terparkir di depan gerbang sekolahnya terlebih lagi dengan adanya Luhan yang memakai setelan kantornya tanpa jasnya sedang bersender di mobil tersebut.

“Hai Taehyung!” sapa Luhan sambil melambaikan tangan pada Taehyung. Semua mata langsung tertuju pada lelaki tersebut yang mendadak gugup. “Ayo sini, aku rela meninggalkan pekerjaanku demi menjemputmu,” ujar Luhan sambil tangannya bergerak menyuruh Taehyung mendekat ke arahnya.

Sebelum melangkah, Taehyung menghela napasnya hingga akhirnya sudah berada di hadapan Luhan yang tersenyum penuh karisma membuat murid perempuan menjadi penggemar dadakannya. “Mobilmu baru lagi?” itulah yang Taehyung tanyakan membuat Luhan tersenyum miring.

“Mobilku ada banyak di garasi mau buatan Asia ataupun Eropa. Dan aku mengganti mobilku hari ini agar kamu mau menaikinya,” jawab Luhan sambil menepuk bahu Taehyung dengan senyumannya.

Taehyung menatapnya seakan tak suka lalu menyahut, “Sombong sekali,” tetapi adik dari Hyerim itu membuka pintu di sebelah kemudi dan masuk membuat Luhan tersenyum senang.

Oppa, oppa siapa?” tiba-tiba suara imut murid sekolah Taehyung menyapa telinga Luhan yang hendak masuk ke mobil. Luhan yang berkepribadian dingin menatap gadis remaja yang menatapnya terpesona itu dengan tatapan tak minat.

“Dia suami kakakku!” seru Taehyung dari dalam mobil dan menurunkan kacanya agar omongannya tercerna jelas oleh murid perempuan tersebut.

Luhan tersenyum puas dan membalikan badan kembali untuk memasuki mobil. Kemudian mobilnya tersebut mulai berjalan pergi dan dalam hati Luhan sangat gembira ketika Taehyung berseru dirinya ini adalah kakak iparnya. Karena Taehyung memang sangat tidak menyukainya.

“Kau ingin menculikku ke mana?” seketika Taehyung bertanya dengan raut jengkelnya. Luhan menatapnya sekilas sebelum bersuara.

“Aku ingin mengajakmu bermain basket di Youido,”

“Kau tidak kerja memangnya?”

“Aku pemimpin perusahaan, jadi aku bebas ingin pergi kapan saja,” jawab Luhan dengan nada santai membuat Taehyung mencibir melihatnya. “Kamu dekat dengan Kyuhyun hyung, ya?” tanya Luhan sambil melirik sekilas Taehyung.

“Tidak juga sih, tapi dia lebih baik daripada dirimu,” sinis Taehyung dengan delikan tak sukanya pada Luhan. Luhan bersikap santai karena tahu pasti Taehyung merespon demikian.

Akhirnya keheningan canggung menyapa sampai mobil Luhan tiba di Taman Youido. Keduanya turun, namun wajah jengkel Taehyung masih terlihat meskipun Luhan telah mengambil bola basket dari bagasi dan melemparkannya pada Taehyung. Lelaki itu menangkapnya namun wajahnya masih ditekuk hingga dirinya sampai di lapangan. Tampak Luhan menggulung lengan bajunya sampai sesiku dan bersikap siap untuk bermain.

“Ayo mulai. Aku mengalah membiarkanmu menyerang duluan. Jangan salah, aku handal dalam hal basket,” ujar Luhan sambil melebarkan kaki dan sedikit membungkuk.

Taehyung mengangkat dagunya dan menatap Luhan memicing, lalu dirinya mulai memantulkan bola basketnya. “Aku kapten basket asal kau tahu. Jadi lihat saja siapa yang menang,”

Pertarungan tersebut dimulai. Taehyung berlari cepat menghindari Luhan, namun lelaki itu balas menyerang. Bola basket tersebut terus berganti kepemimpinannya. Hingga Luhan berhasil memasuki bolanya ke ring dan bersorak ria sambil mengacungkan jempolnya ke bawah meledek Taehyung. Lelaki Kim itu mendengus, kemudian pertarungan kembali berlanjut. Berulang kali badan keduanya bertabrak-tabrakan. Sampai pada finalnya, Taehyung balas mencetak skor dan bersorak ria sambil menjulurkan lidah. Hal tersebut membuat Luhan mendengus dan memiting kepala Taehyung membuat Taehyung merintih kesakitan. Ditengah pertandingan, Taehyung menyengkat kaki Luhan dengan kakinya membuat lelaki itu jatuh. Luhan langsung berteriak-teriak kesal layaknya ibu-ibu di pasar yang berdebat menawar harga membuat Taehyung terbahak. Pertarungan tersebut mencapai akhir ketika dua lelaki itu duduk di pinggir lapangan.

Hyung, akhirnya pertarungan kita selesai,” ujar Taehyung sambil meneguk minumannya yang beberapa sekon lalu Luhan belikan. Mendengar ujaran sopan dari Taehyung membuat Luhan menoleh padanya dengan alis bertaut satu.

“Kamu memanggilku hyung?” pekik Luhan kemudian wajahnya berubah antusias. Taehyung menatapnya dan mengangguk.

“Kau lebih tua kan? Bahkan dengan kakakku saja lebih tua dirimu. Dasar perjaka tua,” kata Taehyung sedikit sarkastik dengan wajah mengejek membuat air wajah Luhan kembali datar dan mendengus keras.

“Kamu ini sama seperti kakakmu, bisanya mengajakku ribut,” geram Luhan sambil memukul kepala Taehyung dengan botol minumannya dan membuat lelaki itu merintih kesakitan.

“Dan kau juga sama saja dengan Hyerim nuna, menyebalkan dan membuatku kesal,” balas Taehyung tak kalah geram dan balas memukul Luhan dengan botol minumannya. Setelah merintih kesakitan, Luhan kembali memukul Taehyung dan begitu seterusnya. Entah sampai kapan mereka terus membalas seperti itu, mungkin sampai Candi Borobudur pindah ke Seoul.

“Ah sudah aku lelah!” menyerahlah Taehyung sambil meneguk kembali botol minumannya dan melemparnya ke tempat sampah yang berjarak agak jauh darinya dan hebatnya botol tersebut masuk ke tempat sampah.

Luhan tersenyum lebar kemudian merangkul Taehyung membuat adik dari istrinya itu meliriknya. “Kalau aku sama seperti Hyerim yang sering ribut denganmu, maka aku juga kakakmu kalau begitu,”

“Mau bagaimana lagi. Kau ini kakak iparku,” respon Taehyung membuat Luhan tersenyum makin lebar.

“Ya, ya bahkan aku membiyayaimu sekolah,” Luhan mengangguk-anggukan kepalanya ketika berucap demikian. “Karena aku sudah membiyayai sekolahmu. Belajarlah yang giat, jangan sampai tugas saja minta dikerjakan oleh kakakmu. Apa kamu tidak tahu betapa ngantuknya aku untuk mengerjakan tugasmu,” aksi ceramah Luhan dimulai sambil memandang Taehyung sedikit kesal. Taehyung hanya melihatkan wajah cengonya.

“Jadi kau yang mengerjakannya? Pantas saja nilainya sempurna semua tidak ada yang salah,” Taehyung bergumam dengan raut tak percayanya. Mendengarnya Luhan terkekeh dan mengangkat wajah dengan angkuhnya.

“Tentu saja aku ini murid yang pintar,” ucapannya membuat Taehyung mencibir. “Oh ya. Kamu tidak punya ponsel kan? Aku akan membelikannya untukmu dan menganggap pertandingan kita tadi yang hasilnya seri adalah kemenanganmu. Ayo,” kata Luhan sambil menarik tangan Taehyung untuk berdiri. Lagi-lagi Taehyung memasang wajah cengonya. Ternyata Luhan tak sekejam yang ia kira, lelaki ini mempunyai sisi yang tertutupi. Dan perlahan Taehyung mulai menyukainya bersama dengan kakaknya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Yah, sudah cukup ya jalan-jalannya?” ujaran terdengar dari mulut Hyerim yang mendorong kursi roda rumah sakit yang mana terduduk Sang Ayah.

Ayahnya pun sedikit mendongak menatap putrinya yang sedang menatapnya juga, diulasnya senyum tipis sebelum menyahut. “Dirimu mirip sekali dengan ibumu. Baiklah, antarkan aku ke kamar,” Hyerim mencetak senyum lebarnya dan membawa Sang Ayah ke kamar inap.

Dibantu dan dibopongnya ayahnya menuju kasur. Setelah itu Hyerim menatap ayahnya dengan senyumannya dan timbal balik ayahnya adalah sebuah senyum menenangkan. “Sebenarnya aku sangat bosan di sini. Tapi mau bagaimana lagi,” desah Tuan Kim dan Hyerim mengangkat tangan untuk mengusap tangan ayahnya masih dengan senyuman.

“Ayah akan sembuh dan pasti mendapatkan hati baru. Percayalah padaku,” Hyerim memberikan semangat walau dalam hati dirinya pun was-was, takut bila pendonor hati untuk ayahnya terkasih tak kunjung ditemukan.

“Ayah percaya sekali padamu Hyerim-ah…” Tuan Kim membelai wajah jelita anaknya dengan seuntas senyuman. “Tapi bila aku harus pergi pun tak apa. Karena aku bisa bersama Ahyoung kembali,” mendengar nama mendiang ibunya membuat hati Hyerim perih.

“Belum saatnya ayah bertemu ibu, ayah masih harus di sini bersamaku dan Taehyung. Melihat kami menikah dan mempunyai anak,”

Mendengar hal tersebut membuat Tuan Kim mengacak-acak rambut Hyerim, diperlakukan seperti itu Hyerim hanya memejamkan mata menikmati sentuhan ayahnya. “Maka dari itu cepatlah memiliki anak dengan Luhan,”

Dibukalah oleh Hyerim matanya dan menatap ayahnya yang tampak bahagia membayangkan putrinya memiliki keturunan dengan Luhan. Bulu kuduk Hyerim langsung berdiri ngeri membayangkan dan mendengarnya. Namun Hyerim hanya tersenyum paksa dan mengangguk. Seketika sledding door kamar inap Ayah Hyerim diketuk. Mendengar ketukan tersebut, Hyerim meminta diri pada ayahnya untuk membukakan pintu. Setelah mendapat izin, gadis tersebut pun menggeser sledding door tersebut. Raut wajah Hyerim langsung tecetak sangat terkejut dengan mulut sedikit terbuka. Tampak Ibu dan Nenek Luhan di hadapannya sambil tersenyum-senyum.

“Hallo!” sapa keduanya ceria dan Hyerim mengerjapkan matanya dungu.

“Ya ampun, menantuku! Kenapa tidak bilang bahwa ayahmu sakit bahkan harus dioperasi sih?” ujar Ibu Luhan membuat Hyerim memiringkan kepala ke kanan dan kiri dengan kikuk apalagi saat wanita paruh baya itu memukul tangannya manja dengan raut berlakon seolah-olah kesal.

“Benar. Untung Kyuhyun memberitahu kami. Luhan saja tidak memberitahu kita. Ah kamu ini jadi tertular virus Luhan yang tengil, ya.” kali ini Nenek Luhan buka suara dengan raut yang sama pura-pura kesal. Melihatnya Hyerim tersenyum paksa dan menggaruk belakang kepalanya.

“Hyerim, siapa gerangan yang datang?” suara berat khas Ayah Hyerim menyapa ketiga perempuan yang masih setia di ambang pintu. Tampak Tuan Kim mencondongkan badan untuk melihat tamunya dan hendak turun dari ranjang.

Melihat Tuan Kim akan turun dari ranjang. Ibu dan Nenek Luhan langsung memasang wajah panik dan berlari ke arahnya, bahkan keduanya sampai menabrak tubuh Hyerim yang langsung terhempas menabrak tembok di samping pintu dan Hyerim masih memasang tampang dungunya.

“Ya ampun, jangan turun! Jangan turun!” seru keduanya yang langsung menekuk lutut di sebelah ranjang Tuan Kim yang sekarang kebingungan. “Kami ke mari menjengukmu, ini buah-buahan untukmu,” lalu Nenek Lu berujar sambil menyerahkan keranjang buahnya ke Ayah Hyerim.

Tuan Kim menerimanya malu-malu kemudian menaruhnya di naskas sebelah ranjangnya. “Semoga anda cepat sembuh ya,” kali ini Ibu Luhan berujar.

“Terimakasih atas semuanya Nyonya-nyonya. Namun ngomong-ngomong, kalian siapa? Saya sedikit lupa tapi serasa pernah melihat kalian,” tanya ayah Hyerim.

“Ah aku ini besanmu!” jawab Nyonya Lu sambil melambaikan tangan kanannya dan mengedip-ngedipkan matanya dan hal tersebut membuat Nenek Lu menoyor kepalanya.

“Walau suamimu sudah tidak ada, jangan bertingkah seperti itu!” seru Nenek Lu menatap geram menantunya. Melihatnya membuat Hyerim maupun Sang Ayah tertawa tanpa suara.

“Aku hanya ingin mengakrabkan diri, Bu,” Nyonya Lu memelas namun Nenek Lu tetap melayangkan ceramahannya. Hyerim jadi terkekeh geli karena hal tersebut.

Hingga akhirnya keduanya mengobrol panjang lebar dengan Ayah Hyerim dan memperlakukan lelaki paruh baya tersebut layaknya raja. Dengan memijit bahunya dan menyuapinya buah-buahan yang dibawa keduanya. Tuan Kim tampak risih namun saat Hyerim menawarkan untuk menggantikan tugas keduanya, dua wanita tersebut menolak mentah-mentah. Beberapa waktu mendatang ponsel Hyerim bergetar dan saat membuka inbox ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Hyerim menatap heran layar ponselnya dan membuka pesan tersebut.

From : +8211345xx

Nuna! –Taehyung

Hyerim hampir melotot melihat deretan huruf yang tertera diponselnya. Taehyung? Bukannya adiknya tidak memiliki ponsel?

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Luhan sampai di rumahnya ketika malam menjelang. Dirinya menarik diri masuk ke dalam dan membuka alas kaki serta jasnya. Ketika berbalik, Luhan hampir terlonjak kaget melihat Hyerim sudah berdiri di hadapannya sembari berkacak pinggang dengan raut sangar.

“Kamu seakan ingin menerkamku,” Luhan berujar dengan wajah waspada tapi Hyerim masih dalam posisinya. Luhan pun mengacuhkannya dan berjalan melewati Hyerim, namun buru-buru Hyerim menahan lengannya dan menariknya untuk berada di hadapannya kembali. “Ada apa? Aku mengantuk!” seru Luhan jengkel dan kembali Hyerim menatapnya dengan iris tajam.

“Kamu membelikan adikku ponsel?” Luhan mengangguk santai membuat Hyerim mencengkam erat ujung lengan bajunya. “Kamu ini siapa harus membelikan adikku ponsel? Kamu kira kita pengemis?” sentak Hyerim dengan napas menderu.

Luhan menarik tangan Hyerim untuk melepaskan cengkramannya dan menatap gadis itu sambil menghela napas, “Apa salah membelikannya ponsel?”

“Tentu salah!” respon cepat Hyerim membuat Luhan terkejut. “Kamu dan Taehyung tak ada hubungan terikat untuk kamu memanjakannya seperti itu. Kalian bukan adik-kakak ipar sungguhan.”

Luhan membuang pandang dari wajah Hyerim, lalu berkata, “Ibu dan nenekku yang menjenguk ayahmu juga tak terkait apapun. Mereka bukan besan sungguhan,” Luhan ikut berkacak pinggang dan menatap Hyerim tajam. Gadis itu jadi merapatkan mulutnya.

“Tapi setidaknya mereka tidak membelikan barang sepertimu!”

“Tapi mereka membelikan ayahmu buah-buahan kan? Sama saja!”

Keduanya ngotot. Hyerim pun memejamkan mata sejenak dan mengigit bibir bawahnya sebentar. “Tunggu di sini,” perkataan itu mewakilkan perginya Hyerim dan Luhan yang hanya menatapi punggungnya. Akhirnya Hyerim menampakan dirinya sambil menyodorkan kertas kontrak dirinya dan Luhan tepat didepan mata lelaki tersebut. “Perjanjian baru. Jangan mencampuri urusan pribadi masing-masing, berakting boleh bila tidak jangan melakukannya tanpa didasari kebutuhan pernikahan ini. Kurangi kontak untuk bertemu bila bisa untuk privasi masing-masing. Bertemu ketika makan dan tidur. Bicara dan bertemu seperlunya saja,” Hyerim berorasi tentang perjanjian yang baru ia buat dan Luhan tampak menatap kertas tersebut tidak suka dan menyambarnya dengan raut jengkel.

“Apa-apaan ini, masa iya aku harus─”

“Intinya deal! Jangan mencampuri urusan masing-masing. Biarkan hidup kita berjalan seperti biasanya,” potong Hyerim kemudian berbalik pergi dan Luhan menatapnya tak percaya.

“Gadis itu benar-benar. Adiknya sudah dibelikan ponsel bukannya berterimakasih.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Kebetulan hari ini tanggal merah. Pagi-pagi Luhan masih bisa bersantai ketika bangun dari tidurnya. Luhan mencuri-curi pandang ke arah bawah lebih tepatnya lantai tempat Hyerim tidur. Namun lelaki itu tak menemukan apapun selain kehampaan. Luhan menghembuskan napasnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh tubuh. Seusainya dengan kegiatannya tersebut, Luhan melangkah ke dapur sambil bersenandung.

“Pasti Si Kambing Dungu ada di dapur,” gumam Luhan dan tebakannya benar ketika melihat Hyerim sedang di meja makan dan memakan spaghetti. Luhan berjalan perlahan menuju gadis tersebut, ketika sampai di samping Hyerim, Luhan mendorong belakang kepala Hyerim membuat gadis tersebut terkejut dan hampir tersedak makanannya. “Tumben kamu bangun pagi. Biasanya sudah seperti kerbau atau mungkin dirimu lebih jelek daripada kerbau,” kata Luhan sambil memandang Hyerim sarkastik.

Hyerim meniup-niupkan ujung poninya dan menatap Luhan bengis. Tanpa menjawab apapun, Hyerim menunjuk-nunjuk kulkas membuat Luhan melayangkan tatapan ke arah tersebut kemudian menatap Hyerim yang masih setia menunjuk objek yang sama. Penasaran, Luhan melangkah menuju kulkas dan menemukan note tertempel di sana. Ditariklah oleh Luhan catatan tersebut dan membacanya.

“Bicara seperlunya saja, hari ini aku sibuk mengerjakan tugas. Ingat perjanjian baru! Kurangi kontak kita untuk bertemu,” Luhan menggumamkan tulisan tersebut kemudian menghela napasnya jengkel.

“Aku ingin ke kamar. Jangan ganggu aku,” tiba-tiba Hyerim bersuara diiringi kursi ditarik keluar untuk dirinya berdiri dan pergi. Sementara Luhan hanya menatapi punggungnya tanpa ekspresi.

Beberapa waktu bergulir, Luhan mulai mengobrak-abrik dapurnya dan menemukan sebutir jeruk. Merasa lapar karena belum sarapan dan tak menemukan apapun. Luhan mulai mengupas jeruknya dan memakannya. Kemudian otaknya teringat akan sesuatu.

“Bicara dan bertemu seperlunya saja kan,” ujar Luhan mengingat perjanjian sepihak dari Hyerim sambil mengangguk. Luhan langsung menghabiskan jeruknya dan melangkah seribu menuju kamar.

Ketika sampai di daun pintu, Luhan menyunggingkan senyum licik kemudian mengetuk pintu kamarnya perlahan. “Hyerim, aku lapar. Aku ingin makan,” ucap Luhan dengan nada memelas.

“Aku sibuk!” seru Hyerim dengan nada tegas membuat Luhan memasang raut sebal namun sesaat ketika dirinya mulai memelas kembali.

“Ayolah, aku tidak bisa masak. Kalau aku keracunan karena masakanku sendiri kan kamu juga yang repot,”

Sebelum beranjak dari tempatnya, Hyerim meniupkan poninya kesal dan melangkah keluar kamar. “Oke, aku buatkan makanan!” seru Hyerim ketika berhadapan dengan Luhan di daun pintu. Gadis itu melangkah menuju dapur dan Luhan mengikutinya dengan senyum kemenangan.

Hyerim pun sampai di dapur dan membuatkan telur dadar untuk Luhan yang sekarang berdiri di sampingnya dan memperhatikannya. Masakan Hyerim pun jadi, dirinya pun membawa sepiring telur dadar serta nasinya diikuti Luhan yang mengekor. Luhan pun mendudukan diri di kursi meja makan, kemudian Hyerim menaruh piring masakannya lalu berkacak pinggang.

“Ini, makanlah. Jangan ganggu aku lagi,” itulah penutup dari Hyerim yang berjalan kembali ke kamar. Luhan tampak mengangguk sebelum Hyerim pergi dan memakan masakan istrinya itu.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Hari menjelang siang, Luhan yang kesepian pun memutuskan memotong beberapa buah apel dengan wajah ditekuk habis. Pasalnya Hyerim masih berkencan dengan tugasnya ditambah gadis itu membuat perjanjian yang membuat Luhan tidak bisa meganggunya. Sebuah ide tiba-tiba terlintas dibenak Luhan ketika motong buah-buahannya. Dirinya pun memicingkan matanya dan menggerakan pisau untuk mengiris ujung jarinya.

“Ya ampun, ternyata sungguhan sakit,” umpat Luhan ketika darah segar mulai keluar. Lalu dengan langkah terburu-buru layaknya ada bencana alam, Luhan pun menuju kamarnya dan menggedor pintunya. “HYERIM! AKU BERDARAH! TOLONG AKUUU!!!” teriak Luhan heboh.

Hyerim yang masih berkulat dengan tugasnya terkejut dan dengan panik langsung keluar kamar, “Ada apa?” serunya dan Luhan tampak memasang wajah memelas layaknya anak TK sambil melihatkan jarinya yang berdarah.

“Obati aku.” Luhan memelas lagi membuat Hyerim mendengus tapi daripada lelaki ini merengek, Hyerim pun meraih tangan Luhan dan mengisap darah dijari Luhan yang sudah memasang wajah sumringah. Setelah selesai akan kegiatannya, Hyerim menyentak tangan Luhan dan menatapnya bengis. “Sisanya obati sendiri, bila kau merengek untuk aku beri obat merah dan plester. Kuyakini bahwa kepalamu akan kupenggal detik ini!” ancam Hyerim sebelum menghilang di balik pintu kamar. Luhan hanya memandangnya dengan raut santai dan menatap jarinya sambil mengangkat bahu tak peduli.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Luhan makin merasa bosan ketika waktu terus bergulir. Dirinya menonton televisi tanpa minat dan sesekali menatap pintu kamar. Sementara Hyerim masih sibuk berkulat dengan tugasnya dan mencari referinsi-referinsi tepat yang susah sekali ditemukan diinternet membuat dirinya mengacak rambut frustasi. Luhan memeluk bantal yang ia taruh diatas pahanya. Kemudian sambil melirik sekilas pintu kamarnya, Luhan mengambil remot telivisi dan menyembunyikannya di balik bantal yang ia taruh diatas pahanya.

“HYERIM! BANTU AKU!” teriakan Luhan menggema membuat Hyerim mencengkam erat puplenya sambil memejamkan mata. Ketara wajahnya sangat frustasi. “HYERIM!” teriakan itu terdengar kembali membuat Hyerim melangkah ke ruang tengah.

Sampailah Hyerim di hadapan Luhan yang menatapnya sambil mengerjapkan mata. “APA LAGI?” teriak Hyerim dengan napas menderu.

“Carikan aku remot televisi. Aku ingin mengganti saluran,” ujar Luhan dengan raut acuhnya.

“Kamu kan bisa langsung menekan tombol ditelevisinya,” ujar Hyerim penuh penekanan namun Luhan mengangkat bahunya tak peduli.

“Carikan saja, apa susahnya,” balas Luhan.

Hyerim pun mulai menekuk lutut dan membungkukan badan untuk mencari-cari remot tersebut. Hyerim memerintahkan Luhan mengangkat kakinya dan menyuruh lelaki itu berdiri minggir dari posisi duduknya, hal tersebut untuk memudahkan pencarian Hyerim. 10 menit berlalu namun remot tersebut belum ditemukan membuat Hyerim frustasi dan menatap Luhan yang sedang berdiri memeluk bantal dengan geram.

“Aku tidak menemukannya!” Hyerim menyerah.

Hingga Luhan membuka mulutnya seakan teringat sesuatu, dirinya menyingkirkan bantal yang ia peluk kemudian terlihatlah remot televisi yang ia pegang ditangannya. “Ah, ternyata aku pegang daritadi. Ahahaha,” kata Luhan layaknya orang bodoh membuat Hyerim tambah geram dan langsung menyetakan kakinya keras untuk berbalik ke kamar. Luhan memandangi punggungnya dan terkekeh pelan karena berhasil mengerjai Hyerim.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Hari semakin sore dan Luhan memutuskan untuk berjalan-jalan. Ketika dirinya berada di teras rumah, Luhan mendapati sebuah pot tanaman di pinggirnya. Senyum licik lagi-lagi mengembang diwajah Luhan. Lelaki itu pun menggeret tanaman tersebut hingga menutupi jalannya. Setelah itu dirinya tersenyum lebar sambil membersihkan tangannya, lalu dengan wajah  semangatnya Luhan kembali berlari masuk ke rumah dan berteriak-teriak.

“HYERIMMM! TOLONG AKUUU!” teriakan Luhan menggema. Hyerim yang sedang mengetik 2 paragrap menuju akhir laporannya, menggepalkan tangan sebal tapi gedoran bak kesetanan Luhan membuatnya menyerah.

Ketika Hyerim sudah membuka pintu dan menatap Luhan jengkel dengan mata melotot, Luhan  masih dengan ekpresi panik berlebihannya sambil menunjuk-nunjuk ke samping kirinya tak jelas. “Tolong aku,” Luhan memelas sambil menarik tangan Hyerim dan mengggeret gadis itu sampai ke teras serta mengabaikan tatapan terganggu Hyerim.

“Apa lagi sih?” Hyerim bertanya geram dan Luhan memasang wajah memberengutnya sambil menunjuk-nunjuk  pot tanaman yang menghalangi jalan turun menggunakan tangga di teras. Hyerim melayangkan tatapan ke pot tersebut.

“Pot ini menghalangi jalanku,” Hyerim memejamkan mata sesaat dan menghela napas sangat kasar. Lalu dengan tenaganya yang tak seberapa, Hyerim berjongkok dan mulai memindahkan pot tersebut dengan susah payah. Luhan menatapnya sambil tersenyum lebar. “Ayo, ayo pindahkan,” ujar Luhan yang malah terdengar sangat tengil ditelinga Hyerim.

“Dia ini tak tahu apa bila potnya sangat berat,” gerutu Hyerim pelan namun Luhan malah tersenyum menahan tawa melihat wajah Hyerim yang berusaha keras mengangkat pot tersebut.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Akhirnya selesai juga, tinggal aku memprint semuanya,” kedua mulut Hyerim berujar lega diiringi kedua tangan gadis tersebut terjulur ke atas dan jari-jarinya menyatu untuk melakukan perengangan tubuh akibat pegal.

Setelah memiringkan kepala ke kanan dan kiri yang menimbulkan efek seakan patah tulang, Hyerim berdiri dari duduknya dan mencabut flashdisk miliknya yang berisi tugas-tugasnya. Diliriknya jam dinding yang terpampang jelas serta jendela kamar yang mulai menggelap di luar sana. Ternyata karena tugasnya tersebut, Hyerim harus membiarkan tanggal merah libur nasional ini dihabiskan oleh tumpukan tugas. Setelah menghela napas lelah, Hyerim berjalan keluar kamar untuk menuju ruang tengah yang merupakan tempat printer tersimpan. Ketika sampai di depan printer, Hyerim memulai pekerjaannya dan sembari menunggu semua tugasnya tercetak, Hyerim membuat kopi dan menyesapnya sembari memperhatikan satu demi satu tugasnya tercetak.

“Wah akhirnya kamu keluar kamar juga,” seketika suara Luhan menggelegar di belakang Hyerim yang langsung memajukan bibirnya mendengar suara Luhan yang sudah melangkah ke arahnya. Setibanya Luhan di samping Hyerim, lelaki itu langsung memperhatikan printer yang sedang berkerja lalu berkata, “Tugasmu sedang diprint ya? Kalau begitu bisa bantu aku sekarang?” Luhan memandang Hyerim dari samping dan gadis itu tampak menampilkan raut malas.

“Aku tidak mau membantumu la─” Hyerim berucap sambil kemudian menengokan kepala ke sebelah kanan─tempat Luhan berada, namun ucapannya terpotong karena jarak antaranya dan Luhan yang sangat dekat dan mengakibatkan bibir keduanya bertemu kembali.

Mata Hyerim membulat dan mengerjap-ngerjap seakan tak menyangka bibirnya harus berciuman kembali dengan bibir Luhan. Sementara Luhan yang sebelumnya terlihat bergeming mulai memajukan badannya lebih dekat pada Hyerim dan melumat pelan bibir gadis itu. Hyerim langsung teringat kejadian di malam yang dirinya kira akan dihamili dengan bodohnya oleh Luhan, maka Hyerim mulai melakukan penggerakan untuk menjauhkan Luhan namun Luhan bersikukuh serta menghempaskan tangan kiri Hyerim yang tadi berusaha mendorongnya menjauh. Luhan pun mendorong keras tangan kanan Hyerim yang memegang gelas kopinya. Namun hal tersebut berakibat fatal tak kala gelas yang Hyerim pegang terlepas dan pecah menumpahkan isinya. Yang memperparahnya adalah cairan kopi yang tumpah ruah di atas printer dan detik yang mendatang alat cetak tersebut langsung berhenti bekerja.

Hyerim langsung teringat akan tugasnya dan dirinya pun memiliki kekuatan besar untuk mendorong Luhan menjauh. Kemudian menatap printer dan tugasnya yang sebagian sudah tercetak serta terkena cairan kopi, dengan mulut menganga. “Ya ampun, tugasku hancur semua dan printernya rusak?” ucap Hyerim dengan nada dramatisir dan raut wajah bengongnya tak tahu harus bagaimana, sementara Luhan kebingungan dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

Ya! Ini semua gara-garamu, sudah megangguku yang sedang susah payah membuat tugas, lalu karena ciuman sialan tadi tugasku jadi kiamat begini! Kamu tidak tahu deadline tugasnya itu besok!” Hyerim berteriak tanpa jeda dengan wajah kesal yang tercetak jelas. Luhan jadi salah tingkah tanpa tahu harus bagaimana.

“Ya, itukan salahmu yang menumpahkan kopi ke printer.” Luhan membela diri walau sedikit tergagap. Hyerim sudah memandangnya dengan mata berair.

“Terserah! Aku benci padamu! Dasar monster peganggu hidup orang!” Hyerim berjalan menajuhi Luhan dan sengaja menabrak bahu Luhan ketika melewati lelaki itu.

Diikuti oleh Luhan arah yang di tuju Hyerim, ternyata gadis itu menyender di tembok dan duduk dengan bertekuk lutut di lantai. Gadis itu sudah menangis sambil tangan terlipat diatas pahanya yang ditekuk. Luhan lagi-lagi bingung harus bagaimana dan menggaruk belakang kepalanya, setelah itu dirinya berjalan mendekati Hyerim dan duduk bersila di sebelah gadis bersurai panjang itu.

Ekhem,” dehem Luhan namun respon Hyerim adalah membuang muka darinya. Luhan menggaruk tenguknya dan menatap gadis tersebut yang memunggunginya. “Maafkan aku, tugasmu akan kuselesaikan nanti dan besok bisa kamu kumpulkan. Dan ya, kamu boleh menyuruhku apapun jikalau itu bisa membuatmu memaafkan aku,” perkataan Luhan tadi membuat Hyerim memberhentikan tangisan tanpa isakannya itu. Seketika sebuah ide terlintas dikepalanya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Gom semari ga han jiba isseo. Appa gom, eomma gom, aegi gom. Appa gomeun tung tung hae. Eomma gomeun nalshin hae. Aegi gomeun neomu kiyeowo. Eusseuk, eusseuk, jal han da.”

Lagu tradisional Korea yang berjudul tiga beruang tampak berkumandang dari bibir Luhan. Hyerim yang berada di sebelah lelaki itu tertawa, bukan karena suara Luhan yang jelek saat bernyayi malahan suara Luhan sangat cocok menjadi penyanyi. Namun penampilan Luhan yang ia tata saat menyanyikannya membuat Hyerim ingin tertawa terbahak-bahak. Rambut Luhan penuh dengan clip rambut serta rambutnya diikat ke atas bergaya apple hair. Luhan yang menyadari Hyerim mentertawakannya karena rambutnya yang terpaksa harus begini karena permintaan istrinya ini, memandang Hyerim dengan mata menyipit kesal namun yang ditatap malah masih asyik tertawa.

Ya! Kenapa berhenti bernyanyi? Ayo nyanyi lagi!” pekik Hyerim menghentikan tawanya yang mungkin berefek sesaat karena rasanya dirinya selalu ingin tertawa melihat rambut Luhan yang masih menatapnya menyipit. “Ya! Palli norae! (cepat bernyanyi)” dihembuskan oleh Luhan napasnya kesal dan kemudian tatapannya tertuju ke depan kembali dan mulai bernyanyi lagi.

“Gom semari ga han jiba isseo. Appa gom, eomma gom, aegi gom. Appa gomeun tung tung hae. Eomma gomeun nalshin hae. Aegi gomeun neomu kiyeowo. Eusseuk, eusseuk, jal han da.”

Dan lagi-lagi Hyerim terbahak akan rambut Luhan. Dirinya memang sedang melakukan aksi balas dendam mempermainkan Luhan yang terus meganggunya akan hal tak penting daritadi pagi. Tak terasa waktu bergulir dengan cepat dan malam yang larut mulai menyapa, selama beberapa jam lebih Luhan terus mengumandangkan nyanyian tiga beruang. Sampai kepala Hyerim pun terjatuh dibahunya, keduanya daritadi duduk di lantai sambil menyender ke tembok. Ditolehkan oleh Luhan kepalanya dan tersenyum tipis melihat Hyerim terlelap dibahunya, tangan Luhan terangkat untuk membelai sebentar rambut Hyerim.

“Dan benar, tatapan kalian itu sama,” gumam Luhan.

─To Be Continued─


 

MICBCOVER

Summary :

Ketika seorang primadona yang tak percaya akan cinta, jatuh dalam pesona laki-laki Cina yang malah menolaknya tidak seperti laki-laki yang lain.

Summary :

Ketika 2 pasukan tentara dari negara berbeda disatukan dalam lika-liku hubungan cinta. Keduanya dipertemukan namun jarak yang memisahkan serta restu dari orang tua pun menjadi penghalang. Hanya sepenggal kisah antara Luhan, salah satu pasukan khusus dari China dan Hyerim, seorang dokter tentara dari Korea Selatan. Bagaimana kelanjutan kisah keduanya?

[Kedua FF tersebut yang akan tayang di blogku]

 ♪

LOL, YAG DI ATAS TADI APA ELS? AHAHAHAHA😄. Fyi, yang di atas tuh FF yang akan tayang di blogku ini ualalala. Untuk mengganti FF My Cinderella yang kemungkinan 1/2 Chapter mendatangnya END, YUHUUUUU. Dan yang akan tayang duluan adalah This Love (FF ini terinspirasi dari DOTS lebih tepatnya kisah cinta Yoon Myeongju-Seo Daeyoung). Untuk My Interesting Chinese Boy dulu filenya pas aku kelas 7 udah end pas zaman alay nulis di note hp bft~ fyi itu FF pertamaku yang pake cast Luhan-Hyerim yang akhirnya jadi pasangan top di rumahku ini wehehehehe. Dan FF itu agak aku revisi ulang agar lebih layak dibaca :’) sejujurnya My Interesting Chinese Boy ini agak kurang pede aku post, tapi sayang ah ide lama yang bahkan FFnya udah pernah aku tulis walau udah dihapusin. Sooooo…. so…… di sini ada yang berminat nunggu FF baruku ini? AHAHAHA/NGAREP YA AH BODO AMAT :’V/

Oh ya chapter ini termasuk panjang dan bila kalian bilang ini kurang panjang, aku gigit kalian /gak/ intinya bila ada yang bilang ini kurang panjang, jangan siksa aku plis ya :’) aku sedang lelah haft kalau ini masih kurang panjang bgi kalian, nextnya cuman aku suguhin 1 page gak lebih 100 words/gak/ditabok/

Nah kan aku udah nulis chapter lumayan panjang, masa kalian gak mau nyumbang 1 kata beberapa kalimat di kolom komentar EKHEM. RCL ya intinya. Salam kasih dan cinta dari masa depannya Luhan.  

NB : Chapter 9 & 10 udah bisa dibaca di blogku [ http://www.hyekim16world.wordpress.com ]

tumblr_o4bs8iksgn1s0rhu3o6_400

 Suka tatapan Luhan difoto ini :’v ini aku kok suwer cuman diedit aja jadi bukan kayak aku /slapped/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s