Farewell

Farewell

Jongdae Kim of EXO – Elle Kim

Oneshoot

Barangkali, di dalam ruang kelas melupakan, aku adalah murid bodoh yang duduk di bangku depan – SebatasUntaian

“Ya, Kim Jongdae! Itu melanggar privasiku, kau tahu?”

Elle menutup kasar laptopnya dihadapan Jongdae yang entah sejak kapan sudah duduk di meja kerja nya. Elle hanya pergi ke toilet tidak sampai 10 menit dan Jongdae sudah berada di apartementnya lagi, padahal belum genap 24 jam pria ini pergi meninggalkan Elle sendirian.

“Salah sendiri meninggalkan laptop dalam keadaan menyala. Lagi pula tidak ada tulisan dilarang membaca di sana.”

Elle mendengus kesal mendengar jawaban Jongdae. Pria Kim yang sudah berpuluh tahun menjadi sahabatnya itu selalu bisa mendapatkan cara untuk mendebatnya

“Sampai mana kau membacanya?” Tanya Elle sinis.

Aku mencintaimu. Titik.”

Raut tegang di wajah Elle mengendur seketika mendengar jawaban Jongdae.“Kenapa kau di sini? Bagaimana bisa masuk?”

“Lewat pintu, kau pikir aku spiderman bisa memanjat di jendela. Ini lantai 21 kau ingat?” Jongdae berjalan santai menuju dapur yang berdempetan tanpa sekat dengan ruang kerja Elle.

“Aku mengganti password-nya seminggu lalu.”

“Kau selalu mudah ditebak. Pertama kali pindah ke sini kau menggunakan 4 digit terakhir nomor ponselmu sebagai password. Sebulan kemudian kau merubahnya menjadi tanggal lahir ayahmu. Setelah itu kau menggantinya dengan bulan dan tahun lahir kita. Setelah itu 4 digit terakhir nomor ponselmu lagi. Lalu tanggal ulang tahun ayahmu. Sekarang bulan dan tahun lahir kita. Bodoh, tidak kratif.”

Jongdae kembali setelah meneguk kopi dan menghabiskan sepotong roti bakar sisa sarapan Elle. Mengabaikan tatapan kesal Elle, Jongdae lebih memilih duduk di sofa dan menyalakan televisi tanpa izin Elle si tuan rumah. Toh biasanya juga tidak pernah pakai izin.

Elle masih berdiri di tempatnya memperhatikan punggung Jongdae yang bersandar nyaman di sofanya. Semalam Jongdae datang lewat tengah malam dengan keadaan setengah mabuk. Mulutnya meracau menyebut ‘brengsek’ dan ‘gadis sialan’ berkali-kali. Elle sudah terbiasa menyambut Jongdae dengan rupa gembel seperti itu sejak mereka masih sekolah, tidak perlu Jongdae ceritakanpun Elle sudah tahu kalau Jongdae sedang bertengkar atau mungkin putus lagi dengan Seulgi, kekasihnya. Kalau sudah begitu, Elle pasti selalu tertidur dalam kungkungan pelukan Jongdae yang akan bertahan hingga Elle terbangun dikeesokan harinya.

Hanya saja, kali ini sedikit berbeda. Saat Elle bangun tadi pagi, Jongdae sudah tidak ada di apartementnya bahkan pria itu tidak berpamitan padanya.

“Itu tadi apa?”

Suara Jongdae mengembalikan kesadaran Elle. Pria itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari televisi.

“Naskah cerita milik juniorku di kantor.”

Bohong.

Elle menghenyakkan tubuh di samping Jongdae. Ikut menonton televisi yang sedang menyiarkan berita gempa yang baru-baru ini menghebohkan.

“Kapan kau pergi?”

“Entahlah, masih gelap saat aku keluar. Kau mengorok seperti troll. Aku tidak bisa tidur sama sekali.”

Elle tahu Jongdae tidak serius soal troll yang mengorok tapi cerita itu terdengar datar di telinga Elle, tidak ada nada jenaka seperti sebelumnya. Mereka bahkan berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

“Kenap…”

“Tidurmu sangat nyenyak, aku tidak tega membangunkanmu untuk berpamitan.”

Belum selesai Elle mengajukan pertanyaan berikutnya Jongdae sudah menjawab dengan benar. Susana ini terasa canggung bagi Elle.

“Ada apa dengan koper-koper itu?”

Ini kali pertama Jongdae mengalihkan pandangannya, bukan pada Elle tapi 3 koper yang berjejer rapi di samping lemari pakaian. Elle mengikuti arah pandang Jongdae, tersenyum kecut menyadari dirinya belum menyampaikan ‘ceritanya’ sama sekali pada Jongdae.

“Ana menikah lusa, kau lupa? Aku harus pulang kalau tidak tuan Kim akan membunuhku.”

Elle tidak berbohong. Adiknya, Diana, memang akan menikah.

“Tuan Kim itu ayahmu, Elle. Kau memanggil ayahmu seperti orang asing saja. Berapa lama kau pergi? Kopermu seperti yang akan pergi selamnya saja.” Kekeh Jongdae sambil mengacak pelan poni Elle.

Elle melejitkan bahu tidak perduli. Dia biasa memanggil ayahnya begitu bahkan di depan sang ayah, Jongdae tahu itu. “Kau tahu ayah suka sekali menahanku setiap kali pulang.”

Bohong.

“Kau tidak mengundangku?”

“Lalu membiarkan pesta pernikahan adikku menjadi mini konser Chen EXO? Tidak terima kasih. Biasanya juga kau tidak pernah datang.”

“Biasanya aku sibuk, kau tahu bagaimana jadwal kegiatanku setiap hari. Sekarang aku pengangguran.” Jongdae serius soal dirinya yang seorang pengangguran. Tidak seperti rekan satu timnya yang lain, Jongdae benar-benar menolak pekerjaan untuk satu minggu ke depan. Ingin beristirahat katanya.

Jongdae terdengar lebih santai dibanding sebelumnya. pelan-pelan pria itu merebahkan kepalanya di pangkuan Elle tanpa meminta izin, seperti biasanya.

“Sibuk berpacaran dengan Seulgi?” Ada sarkasme yang jelas terselip diucapan Elle.

Jongdae mencebikkan sebelah bibirnya. Jongdae tahu Elle tidak pernah suka pada Seulgi sejak awal hubungan mereka di publish.

“Ngomong-ngomong soal Seulgi, kami sudah berbaikan, bisa apa aku saat mereka meminta kami berbaikan. Maaf semalam aku merepotkan.” Jongdae memiringkan tubuh dan menenggelamkan kepala di perut Elle. Mengabaikan kenyataan bahwa tubuh Elle menegang, entah karena dirinya yang terlalu menempel atau karena nama Seulgi kembali di bawa.

“Syukurlah…”

Hening. Baik Jongdae maupun Elle sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Elle biasa menghabiskan waktu berjam-jam dengan Jongdae tanpa berbicara. Biasanya Elle sibuk dengan pekerjaannya dan Jongdae sibuk bersenandung lirih sambil mencoret-coret buku notasinya. Tapi keheningan hari ini berbeda bagi Elle, rasanya canggung dan suram.

“Aku pasti merindukanmu, Elle. Sering-sering mengabariku.”

Elle pikir Jongdae tertidur karena tidak bergerak sama sekali. Mendengar suara lirihnya membuat tenggorokan Elle tercekat. Tidak sanggup mengeluarkan suara apapun selain anggukan brutal yang menggoncang seluruh tubuhnya.

Jongdae bangkit dari tidurnya, memeluk Elle yang mulai terisak sambil membekap mulutnya untuk meredam suara yang sama sekali tidak bisa diredamnya.

“Tidak apa-apa, Elle. Kau sudah melakukan yang terbaik. Aku mengerti. Nanti, saat kau kembali, atau aku yang mendatangimu aku berjanji tidak akan ada siapapun lagi selain Sellena Kim. Benar-benar hanya dirimu. Aku bersumpah.”

Runtuh sudah tembok keangkuhan yang Elle bangun susah payah. Gadis itu tergugu di dalam pelukan Jongdae, membalas pelukan Jongdae sama eratnya. Membiarkan air matanya yang terbendung bertahun-tahun membanjiri kemeja biru Jongdae.

“Jangan terluka karena diriku lagi, Elle. Dirimu berhak bahagia.”

Elle tahu, Jongdae tidak hanya membaca tulisan ‘Aku mencintaimu’ di laptopnya. Jongdae sudah membaca semuanya. Mungkin juga melihat surat pengunduran diri atas meja kerjanya.

 

Aku mencintaimu.

Memulai dengan kalimat super singkat itu mungkin tidak terlalu buruk. Meskipun aku bisa membayangkan ekspresi jijik di wajahmu, sudah ku bilangkan jika aku tidak perduli. Aku akan tetap memulainya dengan begini.

Aku memang mencintaimu. Tidak pernah tahu sejak kapan aku memulai perasaan itu atau dimana aku menyadarinya. Aku cuma tahu aku mencintai kamu.

Beberapa kali aku berusaha menyerah dengan perasaanku tapi selalu gagal tidak lama kemudian bahkan sering kali sebelum aku melakukan tindakan apapun. Kamu pasti tahu sekarang sesering apa usahaku, karena kamu selalu dengan sadar datang padaku untuk menceritakan gadis-gadis disekitarmu. Aku membiarkan mata teduhmu menatap dalam padaku seakan di sana tersimpan rindu yang mendalam untukku, padahal bukan. Kamu meninggalkan aku setiap kali musim cinta bersemi di sekujur tubuh hingga membuat kamu kesulitan untuk mengendalikan semua kupu-kupu yang menarik sudut-sudut bibirmu membentuk lengkungan ke atas. Kamu bahagia. Aku terluka.

Lalu 2 atau 3 purnama kemudian kamu kembali datang ketika mereka meninggalkanmu. Kamu memberi  label penyembuh pada ragaku. Mengatakan bahwa pelukanku terbaik dari semua yang pernah kamu dapatkan. Kamu menyejatikan aku dalam pelarian rasa sakit. Kamu tidak pernah menyadari rasa sakitku.

Aku tahu ini tidak sehat, terutama untuk mentalku. Kamu tidak pernah tahu malam-malam panjang yang aku lewati hanya demi menangisi kamu. Kamu cuma tahu aku selalu bahagia sebagai sahabatmu. Aku mendengarkan kamu lebih baik dari siapapun yang pernah hadir dalam hidupmu, begitu yang kamu katakan padaku.

Aku teramat mahir memberikan nasihat cinta untukmu, memberikan ide-ide luar biasa bagaimana seharusnya kamu memperlakukan seorang wanita. Aku meluapkan semua isi kepalaku untuk membantu kamu dan hatimu, sementara aku tidak benar-benar bisa mengerti kenapa aku melakukan hal yang bertolak belakang dengan keinginanku.

Aku lelah berpura-pura. Aku lelah menipumu dengan perasaan yang tidak bisa aku sampaikan. Bukannya aku ingin membela diri. Bukan juga menyalahkan kamu dengan semua yang sudah terjadi. Aku tidak mengatakan bahwa semuanya teramat aku sesali. Tidak juga terlintas untuk meluruskan telunjuk di depan matamu, menuduh dirimu yang  menciptakan sakit di atas segumpal benda yang ku sebut hati.

Aku hanya ingin ini jelas, aku lega, kamu lega. Aku bisa meminta maaf atas segala kesalahanku dan kamu bebas untuk menolak segalanya setelah mengetahui ini, termasuk menolak kenyataan bahwa kita saling mengenal lebih dari separuh umur dan kemudian memilih sebuah ikatan yang entah nanti akan kamu ingat sebagai apa.

Sederhana saja, aku ingin kamu. Ketidakinginanmu yang membuat ini menjadi rumit. Jadi, aku memilih pergi.

 

With Love

Elle

 


 

Hallow..  Aku jarang nongol di sini tapi semoga ada yang ngeh kalau aku ‘ada’ .. ^^

Selamat membaca, semoga kalian suka..

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s