#5 All I ASk

ryeowook_1453339505_ryeowook3

Title     : All I Ask

Genre  : Romance

Main Cast: Ariel Lau | Lu Han | Bae Sa Hyun | Oh Se Hun as EXO Sehun

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

The fiction by Nidhyun (@nidariahs)

Reloaded – 1  | Reloaded – 2 (It Happens To Be That Way) | Reloaded – Confession | [Lu’s birthday] Reloaded – It’s Strange, With You (end)

#1 All I Ask | #2 All I Ask | #3 All I Ask | #4 All I Ask

***

Ariel disambut perasaan hangat sesampainya di tempat yang menurut Luhan akan dijadikan tempat jalan-jalan mereka. Entah jalan-jalan jenis apa, yang pasti Ariel tidak merasa ini merupakan tempat hiburan yang bisa membuat orang tertawa haha-hihi walaupun, di sini ada banyak anak-anak yang berteriak dan tertawa. Suasana hangat yang Ariel maksud.

“Kau membawaku ke panti asuhan?” bisik Ariel sambil melingkarkan tangannya pada lengan Luhan.

Luhan berdecak kecil, kemudian ia menarik pinggang Ariel agar semakin dekat dengannya, “Bukan, sih. Tapi hari ini, menurut Chanyeol, mereka sengaja mengundang anak-anak dari panti asuhan untuk menghangatkan suasana pesta mereka,” jelas Luhan yang berhasil membuat mata Ariel membulat sempurna –ia baru sajamendengar nama Chanyeol disebutkan.

“Maksudmu…Chanyeol…Park Chanyeol?”

Ariel belum sempat mendapat jawaban dan Luhan tiba-tiba saja mengangkat tangannya, melambai ke arah seseorang dengan senyum lebar miliknya. Ariel mengerutkan dahinya dan buru-buru mencari objek yang disapa Luhan.

Harusnya Ariel tidak merasa apa-apa. Sungguh. Ia tidak harus tegang karena ia bukan berada di rumah sakit dan mendengar penjelasan Chanyeol maupun bujukan Chanyeol mengenai ini dan itu –tentang dirinya. Tapi tanpa diminta, bahu Ariel langsung merosot. Tubuhnya tiba-tiba saja menegang. Ada park Chanyeol di sana.

Dengan seorang wanita yang mengapit lengan Chanyeol.

“Kalian datang juga. Terimakasih sudah menyempatkan waktu kalian,” Chanyeol dan Luhan langsung berjabat tangan, seola-olah mereka teman lama dan sudah begitu akrab.

Ariel langsung melepaskan tangan Luhan. Ia masih harus mencerna serangkaian kejadian ini. Kenapa Luhan membawanya bertemu dengan Chanyeol, dan…bukankah seharusnya Ariel bertemu dengan seseorang yang bernama Joo Hyun.

“Ini Joohyun, istriku. Dan, Joo…ini Luhan dengan kekasihnya, Ariel,”

“Hai Ariel Lau, apa kabar?”

Ariel benar-benar meraa otaknya merasa lamban. Joo Hyun adalah istri dokter Park? Dokter Park sudah menikah? Dan…mereka berdua –dokter Park dan Luhan—sengaja mempertemukan mereka semua?

 

***

 

“Kau temannya dokter Park?” tanya Ariel dengan nada yang sangat ketus. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Luhan membawanya kemari walaupun…yeah, tentu saja seharusnya ini bukan masalah, tapi melihat dokter Park menjadi tekanan tersendiri bagi Ariel.

“Ya, kami berteman sejak kemarin,” bisik Luhan sambil menuangkan cairan berwarna merah ke gelasnya. Ariel tidak tahu apa itu, tapi Ariel tiba-tiba merasa gelisah. Ia tidaks enang berada disini. Sungguh.

“Tenanglah…” Luhan pun mencoba menenangkan Ariel dan menyentuh tangan gadisnya. Tapi Ariel langsung menarik tangannya, sama sekali tidak senang dengan perlakuan Luhan.

“Apa maksudmu membawaku kemari?”

Ariel marah. Luhan tahu ini akan terjadi –tapi ia sama sekali tidak berpikir untuk menghentikan rencananya. Lalu ia pun menunjuk semua orang yang tengah menikmati pesta. Berbincang, tertawa, dan mereka menikmati hidangan yang disediakan.

“Sama seperti mereka, kita sebagai tamu undangan. Tapi bukan Park Chanyeol-ssi yang mengundangku, melainkan istrinya. Usia kandungannya sudah menginjak bulan kedua.” Jelas Luhan lagi yang membuat kepala Ariel semakin pusing.

“Ariel Lau, kan?”

Ariel langsung mengalihkan pandangannya ke arah samping –ke ara seorang wanita muda yang diperkenalkan Chanyeol sebagai istrinya. Ariel terpaksa menarik sudutnya, menyambut senyum wanita yang harus diakui Ariel begitu manis –wajar saja dokter Park mau menikah dengannya. Sungguh wanita yang beruntung, bukan?

“Mau berkeliling bersamaku?” suara wanita itu benar-benar ramah dan membuat siapapun akan berpikir wania itu sangat manis dan lemah lembut. Wanita yang anggun dengan paras yang memikat.

 

***

 

“Aku tidak tahu dr.Park sudah menikah,” Ariel tahu dirinya memang tidak pandai berbasa-basi, dan ia juga tidak tahu apakah kalmatya barusan tepat untuk dikatakan atau tidak. Setidaknya, Ariel tahu itulah yang ia pikirkan saat melihat wanita bernama Joo Hyun ini.

Joohyun hanya tersenyum menanggapi Ariel. Dan ia sama sekali tidak mengatakan apa-apa dan terus melangkahkan kakinya menuju suatu tempat yang tidak Ariel tahu apa. Ariel hanya mengikutinya saja, sembari mengagumi rumah yang sangat luas ini. Dokter bertelinga lebar itu pasti orang kaya.

“Ini…rumah kalian?” tanya Ariel lagi ketika ia sampai di sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang bekerja. Ada empat rak buku yang mengisi setiap sisi dinding ruangan ini, dan di dekat jendela ada satu set meja kerja. Ariel merasa tidak nyaman harus memasuki rumah orang seperti ini. Belum lagi, wanita yang membawanya kemari tidak mengatakan apa-apa sama sekali.

“Ya…Chanyeol membeli rumah ini setelah empat bulan setelah kami menikah. Tadinya kami tinggal di apartemen lama milik Chanyeol, tapi kemudian ia membelikan rumah ini,” diam-diam Ariel bernapas lega karena wanita itu akhirnya mau menjawabnya juga. Ia pikir Joohyun membencinya.

“Ini ruang kerja Chanyeol, dan biasanya dia membiarkanku datang ke sini untuk menunggunya selesai bekerja,” jelas Joohyun sambil membuka pintu kaca di dekat meja kerja, “Ayo ke sini! Ini tempatku menunggu Chanyeol,” Joohyun terlihat bersemangat ketika menunjukkan sebuah balkon dengan satu set meja dengan dua kursi.

Dengan langkah ragu, Ariel pun mendekat. Dan ia disambut pemandangan hijau yangd ipenuhi orang-orang yang Luhan sebut tadi sebagai tamu undangan Chanyeol, “Wah…pemandangan di sini sangat indah,” gumam Ariel tanpa sadar. Rumah ini terbilang cukup besar, belum lagi halaman rumahnya juga yang luas.

Joohyun pun menopangkan tangannya pada pagar pembatas, “Chanyeol membuatkan balkon ini karena aku selalu kebosanan menunggunya di dalam. Saat musim panas, aku bisa duduk menikmati bunga-bunga mekar, dan saat musim dingin, aku bisa menikmati pemandangan salju turun di sini,” Joohyun tersenyum dengan nada bangga. Ia seolah bisa melihat bunga dan salju yang dibicarakannya. Warna matanya mengatakan bahwa ia sangat senang.

“Dokter Park ternyata pria yang romantis. Aku tidak tahu dia bisa semanis itu,”

Joohyun pun terkekeh pelan, “Tidak kok, dia hampir tidak romantis sama sekali. Dia hanya perhatian, tapi ia tidak pernah benar-benar terlihat romantis seperti yang kau katakan,” sanggahnya masih dengan senyum yang tertarik di wajahnya.

Ariel pun hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Yeah, Luhan tidak pernah semanis itu padanya. Mereka berdua hanya sepasang kekasih yang selalu bercumbu bersama jarak, kalaupun mereka sedang bersama-sama di Korea, Luhan belum tentu bisa menemani Ariel ataupun melakukan hal-hal manis semacam itu. Mungkin mereka harus menikah dulu agar Ariel bisa melihat Luhan bertingkah manis seperti itu.

“Tapi…Luhan bilang kau mengundangnya kemari, kalian saling kenal?” tanya Ariel penasaran. Ini jarang-jarang terjadi, ia bisa nyaman begitu saja saat bersama dengan Joohyun.

Joohyun menggeleng, “Chanyeol yang memintaku untuk mengundang kalian. Makanya aku mengundang kalian. Sebenarnya, Chanyeol beberapa kali menceritakan dirimu,”

“Ah…kau juga mau membujukku untuk…” Ariel tidak melanjutkan kata-katanya. Ludahnya berubah pahit dan membuat lidahnya enggan bergerak. Ia sudah menduga hal-hal semacam ini mungkin terjadi. Mana mungkin Chanyeol mau repot-repot mengundangnya segala, meskipun sudah laa berobat padanya, tapi Ariel-Chanyeol benar-benar hanya sebatas dokter dan pasien.

“Kau tahu kenapa aku dan Chanyeol bisa menikah?” Joohyun kembali bersuara. Kali ini ia mengubah topic dengan nada suara yang biasa-biasa saja, “Karena sebelumnya aku adalah pasien skizofrenia yang berkonsultasi padanya.” Ujarnya dengan penuh rasa bangga. Sangat terlihat jelas bahwa ia begitu mencintai Chanyeol.

Tapi…

Barusan dia bilang apa? Pasien skizofrenia?

Ariel hanyamenatap Joohyun tanpa berkata apa-apa. Ia tidak tahua pakah ia pantas bertingkah terkejut atau hanya menyahut ‘hah?’ untuk mengekspresikan keterkejutannya. Ariel pun kembali memandang wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sama sekali tidak terlihat seperti…yeah, maksud Ariel, dia benar-benar terlihat normal.

“Dua bulan yang lalu…saat aku mengetahui kehamilanku ini, aku juga pernah mencoba bunuh diri,” warna mata dan suara Joohyun langsung berubah. Tapi Joohyun sama sekali tidak menatap Ariel, retina matanya terpanah pada satu objek : Park Chanyeol.

“Intinya, aku bersyukur memiliki Chanyeol. Jika dua tahun lalu kami tidak bertemu, mungkin aku sudah menjadi abu…” Joohyun memutar kepalanya ke arah Ariel yang masih diam tidak bergerak, “Chanyeol menikahiku karena saat itu aku mencoba bunuh diri. Aku depresi karena tunanganku menikahi gadis lain. Konyol, ya?” Joohyun kembali memutar pandangannya ke arah Chanyeol.

“Aku juga menolak meminum obat karena…aku takut itu akan bedampak buruk pada janinku. Aku selalu merasa takut dan takut. Aku merasa sangat tidak pantas untuk Chanyeol. Dia menikahiku bukan atas dasar cinta, tapi dia terus bertahan denganku, tidak peduli dengan keluarganya yang sempat menolakku mentah-mentah,” Joohyun pun tertawa hambar, “Orang tua mana yang ingin anaknya menikah dengan gadis tidak normal?”

Ariel mengepalkan tangannya dalam diam. Ia terkesiap dengan tiap kata yang meluncur dari mulut Joohyun. Benar. Ia juga sering berpikiran begitu. Mana pantas ia bersanding dengan laki-laki baik seperti Luhan? Bagaimana jika orang tuanya tahu tentang Ariel dan menolak Ariel karena alsan itu?

“Tapi kau tahu? Justru karena Chanyeol-lah aku melakukan semau permintaannya. Dia bilang, jika aku mencintainya, maka aku hanya perlu mengikuti keinginan sederhananya, mengikuti semua serangkaian pengobatan. Dia juga berkata ia berusaha menjadi dokter yang baik karenaku. Dia selalu berkata bahwa ia mencintaiku, memberiku perhatian dan memberiku pengertian. Dia tidak mengkritikku bahkan jika aku berbuat salah. Dia justru membuatku berubah dengan sugesti kecil yang diberikannya…. Dan aku sadar, aku jatuh cinta padanya,” Joohyun pun menarik napas panjang, “Dan karena aku mencintainya, aku tidak ingin dia terlihat buruk di mata orang lain. Memiliki istri yang gila, aku tidak ingin orang menggunjingnya seperti itu di belakang. Maka dari itu aku bersikeras pada dirikus endiri untuk sembuh…walaupun…tentu saja kemungkinannya begitu kecil,”

Joohyun pun menyentuh tangan Ariel dan menggenggamnya kuat, “Mungkin tidak masuk akal jika kau mendengarnya dariku. Tapi…percayalah, selama kau belum mencintai dirimu sendiri, selama itu pula kau takkan percaya pada dirimu sendiri dan dirimu akan selalu sakit. Bukan hanya perasaan dan pikiranmu, tapi seluruh tubuhmu akan ikut sakit meskipun seenarnya kau baik-baik saja,” Joohyun pun semakin memperkuat genggamannya pada Ariel, “Jika saat ini sulit untuk mempercayai dirimu sendiri, maka kau harus ingat,” Joohyun pun menunjuk Luhan yang sedang berbincang dengan Chanyeol dengan dagunya, “Ada seseorang yang mencintaimu sepenuh hati. Dan jika kau mencintainya juga, kau bisa melakukan ini demi dirinya, demi mereka yang kau cintai dan mencintaimu.”

 

***

 

Luhan sudah melirik Ariel kesembilan kalinya. Tapi gadis itu tetap saja diam dan tida bergeming sama sekali. Ariel pasti marah padanya. Dan…yeah, Luhan mulai pusing mengingat Ariel yang mudah sekali maah belakangan ini.

“Maafkan aku…”

Kali ini Luhan bisa merasakan tatapan Ariel terarah padanya.

“Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Hanya saja…kau tahu, aku hanay berusaha untuk meyakinkanmu, bahwa…”

“Diriku bukan milik diriku sendiri,” potong Ariel tanpa melihat Luhan, “Aku pikir kau dan si telinga lebar itu benar-benar berotak cerdas. Rencana kalian luar biasa. Kau sudah tahu jika Joohyun adalah istrinya dan dia…” Ariel ragu melanjutkan ucapannya. Ia kurang nyaman saja menyebut istri Chanyeol sakit jiwa ataupun skizofrenia. Ia tahu rasanya dibicarakan seperti itu. Menyakitkan dan…tidak enak saja. Joohyun berhasil menyentuh hatinya, dan ia tidak tega untuk membicarakan Joohyun dengan ucapan buruk seperti itu.

Luhan hanaya tersenyum kecil, “Sepertinya kalian mengobrol banyak,” komentarnya singkat. Luhan tidak tahu harus merasa senang atau sebaliknya. Tapi sepertinya Joohyun bisa mengorol dengan baik pada Ariel.

“Kita ke taman saja ya? Aku belum mau pulang,” putus Luhan tanpa persetujuan Ariel. Dan Ariel hanya memandangi Luhan yang sedang menarik sudut bibirnya. Yeah…dan harusnya Ariel tahu, ia selalu jatuh cinta tiap kali melihat pemuda itu tersenyum.

 

***

 

“Kau mau berkemah di sini?” Tanya Ariel bingung. Luhan membeli daging, beberapa cemilan, dua laleng bir dan dua botol kola. Dan…satu plastik hitam yang entah berisi apa.

Luhan hanya tersenyum menanggapi Ariel dan tetap mengeluarkan belanjaannya. Benar-benar mirip seperti acara piknik yang dilakukan di malam hari.

“Padahal kita bisa makan di apartemenku,” ujar Ariel lagi dengan kaki yang ditekuk.

“Eyy, kau mau aku menginap lagi di apartemenmu? Begitu?” Canda Luhan dengan seringaian yang membuat Ariel bergidig ngeri. Kadang-kadang, Luhan justru terlihat mesum jika menyeringai seperti itu.

“Kau terlihat seperti paman yang cabul,” ejek Ariel sambil naik ke atas kap mobil Luhan. Sama sekali tidak tahu Luhan sudah membulatkan matanya, tersinggung sekali disebut ‘paman yang cabul’.

“Apa katamu? Paman? Cabul? Hey, apa aku pernah bertingkah seperti itu sampai kau…astaga, kau tidak belajar bahasa Korea untuk mengumpat orang lain kan?” Marah Luhan pada Ariel. Ia bahkan sudah mendekat ke arah Ariel, berdiri di depan gadis itu dengan kilatan marah di matanya.

Ariel justru terkikik setelah mendengar omelan Luhan. Kemudian ia menangkup wajah Luhan dan menempelkan keningnya pada kening Luhan, “Makanya, jangan menyeringai seperti paman mesum.”

Luhan pun mengecup bibir Ariel singkat, “Jadi jika aku melakuman itu aku disebut mesum?” Kali ini Luhan mengecupnya lagi di pipi, “Lalu jika aku seperti itu aku juga disebut mesum?” Dan kali ini Luhan menarik tengkuk Ariel, menciumnya lama di bibirnya. Membiarkan tiap getaran di dalam dadanya ikut mengalir melalui tautan bibir mereka.

“Lihat! Kau menyukai kemesuman Paman, kan?” Kata Luhan dengan nada merajuk.

Ariel justru tertawa melihat tingkah Luhan. Dia benar-benar kekanakan dan menggemaskan. Yeah…bukan hanya tingkahnya yang seperti anak-anak, wajahnya juga terlihat seperti anak kecil. Padahal usianya sudah hampir 30 tahun.

“Konyol sekali kau! Kau benar-benar ingin kupanggil paman?” Canda Ariel masih melingkarkan tangannya pada leher Luhan.

“Tidak juga. Aku sedang menyindirmu. Tapi…” Luhan pun membuat jarak antara mereka, “Aku tidak mengerti kenapa kau hanya memanggil namaku saja? Bukankah akan jauh lebih manis jika kau memanggilku Oppa? Atau ‘sayang’ misalnya?” Ujarnya seraya menaruh bawaannya di atas kap mobil, di samping Ariel.

“Lagipula saat pertama kali berkenalan, kukira kau seumuranku. Ternyata…umurmu jauh sekali denganku,”

Luhan menggeleng pelan dan melompat ke atas kap mobil, duduk di dekat makanan yang disiapkannya, dan yang pertama dicicipinya adalah bir. Kemudian Luhan pun mengambil kaleng kola dan membukanya untuk Ariel.

“Sebenarnya aku selalu tersinggung jika ada orang yang mengatakan bahwa aku seperti perempuan, aku imut, atau semacamnya,”

Ariel hanya tersenyum mendengar curahan Luhan yang sudah didengarnya puluhan kali semenjak mereka berpacaran. Tapi akhirnya ia tidak berkomentar apa-apa dan hanya memakan daging yang dibeli Luhan. Lagipula, bagaimana orang lain bisa menahan lidahnya agar tidak berkomentar seperti itu jika Luhan merajuk sambil mengerucutkan bibirnya seperti anak-anak, seperti sekarang.

“Hei, Ariel. Aku punya hadiah untukmu,” kata Luhan tiba-tiba setelah beberapa menit mereka dilingkupi keheningan.

Luhan tidak menunggu Ariel menjawab dan mengambil kantong plastik hitam misteriusnya -yang ternyata berisi kembang api.

“Kau…kapan membeli itu?”

” Makanya jangan memperhatikan ponsel terus. Kau tahu matamu minus tapi kau tidak ada usaha untuk membuatnya jadi lebih baik,”

Ariel mencibir saat Luhan justru mengomentarinya. Yeah, dia lelaki yang selalu membuka ceramah untuknya. Untungnya Luhan itu lelaki yang disukainya, bayangkan jika itu teman lelakinya yang lain, Ariel jamin ia lebih memilih untuk berdebat. Tapi…karena ini Luhan, ia hanya mengangguk tanpa menyahutinya.

“Kemari!”

Ariel pun menuruti Luhan dan berdiri di samping pemuda itu, “Kau suka kembang api, kan? Perhatikan ini,” kemudian Luhan pun menyalakan kembang api tersebut. Dan setelah menghitung hingga detik kesepuluh, mata Ariel disambut pemandangan cantik dari kembang api tersebut.

Luhan tidak melakukannya sekali, kali ini Luhan juga menyuruh Ariel untuk melakukannya. Dan mereka terus melakukannay hingga berkali-kali, “Ini yang teakhir. Setelah ini aku mau mendapat hadiah.”

Ariel mengerutkan dahinya bingung, “Hadiah? Hadiah apa?”

Belum sempat mendapat jawaban, Luhan langsung menyalakan kembang api tersbeut. Kemudian ia menarik Ariel dan kembali menautkan bibir mereka, “Happy birthday Ariel…” bisiknya setelah Luhan melepaskan tautan mereka.

Ariel menaikkan sebelah alisnya, “Ulang tahunku masih dua hari lagi,” katanya bingung.

“Di hari-H ulang tahunmu aku harus pergi seminar ke New York. Tapi aku janji, besoknya aku akan langsung datang ke tempat launching novel terbarumu.”

“Hah…dokter itu sangat sibuk ya?”

Luhan pun mengecup kening Ariel, “Aku harus mengumpulkan uang untuk calon masa depanku. Wanita yang akan menjadi istriku dan anak kecil yang akan menjadi darah dagingku.”

 

***

 

Luhan kembali mengecek beberapa barang-barangnya di hotel. Ini memang melelahkan, pagi tadi ia sampai di New York dan malamnya ia langsung pulang. Atasannya begitu ‘baik hati’ hingga kurang memperhatikan bawahannya. Luhan bahkan masih merasa kepalanya yang pusing. Ia tidak bisa terlelap di pesawat karena phobia ketinggian, dan ia tidak yakin kali ini ia bisa istirahat di pesawat juga.

[Hati-hati di jalan. Sepulang dari sana jangan lupa istirahat dan makan. Usahakan tidur di pesawat, ya?]

Luhan tersenyum tipis setelah membaca pesan singkat Ariel di e-mail. Tapi Luhan tidak punya waktu untuk membalasnya dan langsung mematikan ponselnya. Kemudian ia pun berjalan tergesa-gesa, menyusul beberapa dokter yang sudah menunggunya di lobi.

 

***

 

Bae Sahyun kembali mencoba menghubungi Luhan untuk yang kesekian kali. Dan sayangnya, Sahyun harus menelan rasa kecewanya –untuk yang ke sekian kali. Luhan tidak bisa dihubungi sejak beberapa hari lalu, dan Sahyun sama sekali tidak tahu alasan pria itu tiba-tiba saja menolak beberapa panggilannya. Dan hari ini, Sahyun justru mendapati ponsel Luhan tidak aktif.

Karena merasa khawatir –entah karena ia merasa Luhan tengah menghindarinya, atau ia khawatir terjadi sesuatu pada Luhan, Sahyun memutuskan untuk pergi menemui Luhan langsung di rumah sakit. Tapi ternyata, sesampainya di rumah sakit pun ternyata Sahyun tidak bisa menemui Luhan.

“Dokter Lu pergi ke New York hari ini. Dan besok ia sengaja mengosongkan jadwalnya. Mungkin baru lusa Dokter Lu kembali ke rumah sakit,” jelas salah satu seorang perawat yang ditanyainya ketika Sahyun bertanya.

“Tapi…sejak Sabtu malam aku tidak bisa menghubunginya, apa dia ada di sini?” tanya Sahyun lagi, ia masih berlum merasa puas dengan jawaban perawat di hadapannya. Ini hari keempat sejak Luhan tidak bisa dihubungi. Jika ia baru pergi ke New York tadi malam, seharusnya kemarin ia masih bisa dihubungi.

“Dokter Lu pulang lebih cepat hari Sabtu. Katanya dia harus mengunjungi seseorang,” jelas perawat tersebut.

“Tapi…Dokter Lu memang selalu mengosongkan jadwalnya di hari libur. Kekasihnya sekarang sudah tinggal di Korea, jadi kurasa mereka sedang ada acara,” ucap salah seorang perawat yang membuat kepala Sahyun menoleh cepat. Entah mengapa ia merasa kurang nyaman mendengarnya. Setahunya, Luhan bukan tipe pria yang akan menomorsatukan hal-hal pribadi.

“Ah…ya, Dokter Lu kadang-kadang mengosongkan jadwalnya jika ada acara tertentu. Dan biasanya itu behubungan dengan kekasihnya,” sahut perawat yang tadi ditanya Sahyun.

“Tapi…bagaimana bisa dia menomor satukan…. Ah, maksudku….”

“Dokter Lu dan kekasihnya sangat jarang bertemu. Mereka menjalani hubungan jarak jauh, makanya tidak heran jika dokter Lu selalu meluangkan waktu khusus untuk kekasihnya,”

“Ah…ya, gadis itu benar-benar beruntung. Dokter Lu sangat perhatian padanya. Kekasihnya juga sangat pengertian. Padahal sulit sekali untuk selalu bertemu dengan dokter Lu, tapi kekasihnya selalu sabar menunggunya di ruang kerja. Bahkan, kadang meskipun sudah menunggu beberapa jam, mereka malah tidak bertemu,” sahut perawat yang lainnya dengan antusias.

“Ya, bahkan besok dia sengaja mengosongkan jadwalnya demi mendatangi launching novel kekasihnya.”

Seharusnya Sahyun merasa senang. Ya…setidaknya ia tahu bahwa Luhan yang cuek dan tidak peka itu telah berubah menjadi pria yang lebih baik. Bahkan dia meluangkan waktu untuk kekasihnya. Padahal dulu, Luhan justru bertengkar hebat dengan kekasihnya karena dia terlalu sibuk.

“Baiklah kalau begitu terima kasih,” Sahyun pun izin pamit dari sana. Entah mengapa ia tidak terlalu nyaman mendengar beberapa perubahan terjadi pada Luhan. Karena…yeah, meskipun terdengar kurang ajar, tapi Sahyun benar-benar tidak merasa senang karena Luhan berubah demi orang lain.

Sahyun pun menyeret kakinya menuju lift terdekat. Dan tanpa ia duga, ia justru bertemu dengan gadis yang membuatnya terganggu beberapa saat lalu…

“Ah, Eonni. Annyeong haseyo…” gadis itu, Ariel Lau, dia membungkuk dengan nada kurang ramah padanya.

 

***

 

“Eonni…mencari Luhan?”

Sahyun menoleh singkat pada Ariel yang tiba-tiba saja bersuara. Mereka sudah berada di depan halte. Dan percaya atau tidak, mereka sama sekali tidak bersuara sejak beretmu d lift tadi. Well –Ariel memang pendiam, setahunya. Dan Sahyun yang biasanya tertarik untuk beramah tamah, justru kehilangan gairahnya.

“Ah…itu…ya, aku…mencarinya. Tadinya aku ingin memberinya sesuatu, tapi sepertinya Luhan sedang tidak di tempat,” jelas Sahyun yang membuat Ariel menarik sudut bibirnya hambar.

“Ah…ya, dia sedang berada di New York. Mungkin dia sampai tengah malam nanti,” ucap Ariel dan kembali memandang jalan.

“Kau dan Luhan…bagaimana kalian bisa bertemu? Maaf, aku tidak bermaksud apapun, tapi…Luhan sepertinya berubah banyak karenamu.”

Ariel kembali memutar bola matanya menuju Sahyun. Ia terlihat bingung, tapi akhirnya dia hanay tersenyum dan mendesah panjang, “Dia membantuku untuk menemukan alamat saat aku sampai di Seoul pertama kali. Kemudian setelahnya kami bertemu lagi beberapa kali,” Ariel pun menoleh ke belakang dan menunjuk gedung rumah sakit dengan dagunya, “Dan terakhir kami bertemu di sana. Tapi…sepertinya Eonni juga sudah tahu, kan?” Ariel pun menegakkan pundaknya dan kembali menoleh ke arah Sahyun, “Dan…dia bukan berubah karenaku. Dia tetap sama seperti pertama kali aku mengenalnya.”

“Kau beruntung. Luhan berubah banyak setelah bertemu denganmu. Dulu, mungkin dia akan bertengkar dengan kekasihnya karena ia lebih mementingkan dirinya,” Sahyun tidak bermaksud berbicara sejauh itu, tapi dengan lancing dan di luar kendalinya, lidah Sahyun terus bergerak dan berkelakar, “Itu sebabnya dulu Luhan sempat bercerita padaku, bahwa ia ingin mengencani gadis yang seusia dengannya, atau setidaknya dia memiliki profesi yang sama agar mereka bisa saling memahami. Dan…aku terkejut ketika dia mengajakku kencan pertama kali,”

Wajah Ariel tetap terlihat datar mendengar penjelasan Sahyun, tapi Sahyun seperti belum ingin berhenti berbicara, “Tapi itu dulu, tentu saja. Kukira dia akan bersikap acuh padaku setelah kami tidak bertemu beberapa tahun, tapi ternyata dia tetap pria yang baik. Dia bahkan seperti ayah dari bayiku, dia selalu membuatku nyaman dan…tidak merasa sendiri,”

Ariel pun mendengus panjang, dan kembali menatap jalan di hadapannya, “Luhan pernah berkata padaku, bahwa dia iri pada dokter pribadiku di daerah Dongdaemun. Katanya, dia ingin menjadi dokter yang bukan hanya bisa membantu kesembuhan fisik pasien, tapi juga memberi dukungan moril untuk pasien.”

Sahyun merasa terhenyak mendengar jawaban Ariel yang tanpa nada itu. Namun tak lama setelah itu, sebuah bis datang dan membuat pertemuan mereka berakhir di sana, “Aku harus pergi dulu, Eonni. Akan aku sampaikan pada Luhan agar dia mengabarimu sesampainya di Korea,” dan setelah itu, gadis itu menghilang dari pandangan Sahyun. Menyisakan rasa kesal yang entah berdasarkan apa.

 

***

 

“Kau mengundangku ke sana? Kau…penulis?”

Ariel tertawa melihat reaksi Doyoung yang terlihat tidak percaya padanya. Mereka sebenarnya tidak memiliki jadwal yang sama di satu kelas, tapi kebetulan sekali mereka bertemu di kafe dekat kampus.

“Jujur saja, kau teman pertamaku setelah aku berkuliah di sini. Jadi…aku akan merasa sangat terhormat jika kau mau datang kea car tersebut.”

Doyoung pun mengangguk beberapa kali, “Apa pacarmu akan datang?”

“Eyy…kenapa kau penasaran soal itu?” Ariel mencebik mendengar pertanyaan aneh Doyoung.

“Mungkin aku harus mengajak teman kencanku juga. Aku tidak ingin terlalu terlihat menyedihkan.”

Ariel pun tertawa pelan dan langsung bangun dari kursinya, “Kalau begitu aku tunggu jam dua siang. Kau harus datang, aku akan mencarimu di sana,”

Doyoung pun tertawa pelan, “Arrasseo.”

Kemudian Ariel pun langsung pamit dan mengecek pesan singkat dari Luhan yang sempat ia abaikan dulu selama berbicara dnegan Doyoung.

[Lu :
Kurasa aku tidak bisa menjemputmu. Tapi aku akan langsung datang ke tempat launching. Tidak apa-apa, kan? Aku punya urusan mendadak di rumah sakit.]

Ariel pun mendengus panjang.

[Me :
Oke:) tidak masalah, kok. Jika kau sibuk, kau tidak perlu memaksakan dirimu datang.]

[Lu :
Eyy…aku harus tetap datang. Meskipun terlambat, aku janji aku akan datang. Sungguh, ini panggilan darurat. Aku pastikan diriku datang ke sana.]

[Me:
Oke:)]

 

***

 

Luhan berjalan dengan langkah teburu-buru di lorong rumah sakit. Ini sebabnya ia tidak ingin mengaktifkan ponselnya di saat ia mengambil cuti. Selama ia berstatus sebagai ‘bawahan’, pasti akan selalu ada gangguan kecil seperti panggilan untuk operasi darurat seperti ini. Ia tidak pernah peduli dengan komentar orang lain mengenai sikapnya yang dianggap menyebalkan.

“Apa benar-benar tidak ada dokter yang bisa dipanggil selain aku? Kau tahu ini hari liburku dan akus angat tidak suka hari liburku diganggu gugat seperti ini,” marah Luhan pada perawat yang meneleponnya.

Gadis itu pun hanya menggaruk kepalanya yang terlihat tidak gatal, ia pasti merasa tidak nyaman, “Bukannya tidak ada dokter yang lain. Tapi pasien ini sengaja melakukan bunuh diri dan dia menolak siapapun masuk ke ruangannya dan terus mengancam ingin bunuh diri jika bukan Anda sendiri yang datang ke sana,”

Luhan mengerutkan dahinya tidak mengerti, “Apa maksudmu? Jadi ini bukan operasi?”

Perawat tersebut menggigit bibir bawahnya, “Bu-bukan…. Tapi Dokter Oh memintaku untuk meneleponmu karena wanita it uterus berusaha melukai dirinya.”

“Wanita itu? Maksudmu? Dia pasienku?”

“Dia…Nona Bae Sahyun…”

“Apa? Sahyun?”

 

-to be continued-

20160920 PM0835

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s