The Eye

img_20160921_205214

The Eye

Oh Sehun as EXO’s Sehun | Cho Ahreum as OC

 

They always said that everything is my wrong. That’s my wrong. I was wrong
so, don’t blame me if I hate you all too much
and don’t blame me if I punish myself with this loneliest. that’s why i want to kill myself –Ahreum’s

 

***

Semua salahku.

Setidaknya itu yang selalu kudengar tiap kali aku meminta penjelasan mengenai kesendirianku. Ini bukan kata ‘sendiri’ dalam makna kias, tapi aku benar-benar mengalami semacam kesendirian. Dikucilkan, dijauhi, dimusuhi, dan yang paling tidak menyenangkan bagiku, mereka akan menyalahkanku atas kesepian dan kesendirian yang kumiliki.

“Kau selalu menghindar saat kami dekati.”

“Kau itu membosankan.”

“Kau terlalu serius. Tidak seru!”

“Kau aneh. Aku tidak menyukaimu.”

Setidaknya, anak perempuan akan menggambarkan diriku dengan sosok seperti itu. Dan entah mengapa, ketika aku bercermin aku merasa bahwa aku mirip monster yang terpaksa duduk di antara kursi manusia, terpaksa berbaur dengan manusia, dan harus mencari tempat agar tak mengganggu orang lain…. Tanpa mereka tahu abhwa akujauh lebih terganggu dengan kesepianku.

“Aku menyukaimu karena kau manis.”

“Kau menarik. Meskipun kadang kau bersikap aneh.”

“Kau terlalu banyak mengatur.”

“Kau menyukai lelaki yang mendapat beasiswa ke luar negeri itu, kan? Wah…seleramu tinggi, ya? Aku tidak percaya diri untuk dekat denganmu.”

Dan para anak lelaki akan bekomentars eperti itu. Ada beberapa yang mendekatiku. Dan karena satu alasan bodoh, mereka selalu berpikir bahwa aku tipe gadis yang memiliki selera tinggi. Karena lelaki yang membawa lari dirinya bersama mimpi yang ia miliki. Dia pernah mencintaiku, dan aku selalu meragukannya…. Selalu. Dan dia tidak tahu betapa aku menyesali semua perbuatanku terhadapnya.

“Kenapa kau ingin aku menjauhimu?”

“Kau adalah kau. Aku tidak perlu alasan lain untuk tetap bersamamu.”

“Salahku ada dimana? Kenapa kau selalu membuatku emrasa buruk seperti ini?”

“Saat kau berbuat salah, maka saat itu orang lain menunggu saat kau berbuat baik.”

“Kenapa harus ragu? Kau yang akan merasa bahagia kenapa harus memikirkan pendapat orang lain?”

Percayalah. Aku, Cho Ahreum, si gadis introvert yang kesepian ini pernah memiliki seorang pria yang terlalu sempurna untuk diriku. Dan aku…aku akan selalu menangisis dan menyesali semua yang telah kulakukan padanya.aku terlalu buruk padanya. Aku terlalu buruk untuknya.

“Kenapa orang lain harus tahu jika kau tertekan? Tidak perlu, kan?”

Kalimat singkat itu lah yang menjadi titik balik awal dari diriku. Dia yang membuatku merasa ingin menjatuhkan diri ke dalam jurang dan menangisi semua kesakitanku sendirian. Dia tidak pernah menganggapku spesial, meskipun aku pernah berjalan beriringan dengannya dan memberinya dukungan kecil, memberinya pundakku ketika ia butuh tempat untuk menangis, memberikan pelukanku ketika ia merasa kesepian….

Tapi aku tak pernah lebih dari tempat persinggahan yang terlalu ‘setia’ untuknya.

Aku begitu hina. Itu lah yang kupikirkan tiap kali mengingat masa paling menyakitkan antara kami berdua…. Dalam sudut pandangku, sih. Tentu saja.

 

***

 

“Gadis itu depresi. Dia gila…”

Bisikan itu menyentuh gendang telinga Ahreum dengan hanyutan ringan. Seperti melodi kusut yang membosankan. Dan Ahreum takkan pernah mau repot-repot memberi argumen balik pada orang-orang dengan pemikiran kampungan itu.

“Padahal dia cukup cerdas. Dia terkenal di universitasnya dulu karena dia selalu berdebat dengan mahasiswa lain, bahkan ia mengkritik tiap komentar dosen-dosennya. Ia juga pernah berkelahi dengan dosennya sendiri dan membuat hubungan mereka canggung.”

“Dia terlalu arogan.”

“Mungkin saja, sih. Kudengar, dia tidak pernah mau mengalah jika sedang berdebat.”

Dan Ahreum membiarkan bisikan-bisikan it uterus berjalan dan melewati telinganya. Kali ini Ahreum sibuk menyusun ulang komentarnya terkait beberapa isu yang tengah hangat di kampus. Ia bukan anak jurnalistik, dan ia tidak mengikuti kegiatan klub apapun –ia hanya menjadi pembaca dan pendengar. Tapi itu tidak terlalu buruk. Sungguh….

“Dia juga selalu berkhayal tentang lelaki yang berkuliah di London. Aku tidak ykin orang itu ada. Dia pasti hanya mengarang cerita,”

Ahreum menarik sudut bibirnya sinis.

“Oh ya? Hahaha. Konyol sekali, aku kasihan terhadapnya.”

Ahreum pun mengambil cangkir kopinya. Cappuccino dengan latte art berbentuk bunga sakura. Sakura…cirri khas dari rumah ‘lelakinya’. Ah, tidak…mantan lelakinya.

“Dia dikucilkan benar-benar kasihan.”

Ahreum kembali menarik buku yang tadi sempat ditutup. Ia butuh teori lain untuk memperkuat argumennya.

“Ya…sudah depresi, dikucilkan, tukang berkhayal. Benar-benar…”

“Lelaki di London? Astaga…aku juga punya pacar di USA kalau begitu…haha…”

Ahreum pun bangun dari duduknya dan berjalan menuju meja dua gadis yang berbisik pelan membicarakannya. Pelan yang sangat keras. Pelan yang begitu menyakiti telinganya. Dan ia muak.

“Namanya Nakamoto Yuta. Kau bisa mengeceknya di internet. Dia juara ke-7 untuk ujian tingkat nasional, dia mendapat medali perunggu untuk olimpiade Kimia, dan dia mendapat beasiswa ke London untuk jurusan Kimia. Jadi, berhenti menyebutnya seorang khayalan.” Ahreum tidak bermaksud memperpanjang perdebatan itu. Tapi ia kembali harus terpancing ketika salah stau dari mereka berdua justru memancingnya.

“Kalau begitu kau berkhayal telah mengenalnya, kan?”

Ahreum pun tersenyum kecut, “Jika dia berpura-pura tidak mengenalku namun itu membuatnya merasa baik, aku tidak bisa menghalanginya. Dia pernah berusaha keras untuk membangun kebahagiaan denganku, jadi aku tidak bisa menghalangi kebaagiannya.”

“Kau ini bicara apa, hah? Kau ingin berkata bahwa kau berkhayal lelaki bernama Yuta itu pernah membahagiakanmu?”

Ahreum pun maju selangkah dan menatap mata gadis itu langsung, “Kau hanya iri padaku makanya kau membicarakanku,” ucap Ahreum sambil mengusap pelan pundak gadis itu, “Kau begitu kasihan. Itu lah yang kupikirkan tentangmu.”

“Hei! Kau kira kau siapa bisa bicara begitu, hah?” dan gadis yang satu lagi akhirnya tak tinggal diam. Dia langsung mendorong Ahreum agar menjauh dari temannya.

Ahreum hanya tersenyum sinis. Kemudian ia menunjuk gadis di depannya dengan jari tengah tangan kanan, “Kau juga gadis yang kasihan…. Kau tidak memiliki kelebihan apa-apa, makanya kau mencari kelemahan orang lain dan menyudutkannya.”

Dan kali ini, Ahreum harus menerima sebuah dorongan yang sangat keras di kedua pundaknya. Ahreum tidak ingat siapa yang mendorongnya sangat keras hingga ia menabrak kaca pembatas kafe tersebut, kaca yang seharusnya menjadi dinding dan memberikan beautiful view untuk pengunjungnya. Dan bukannya sebuah tragedi mengerikan, dimana Ahreum yang harus mengalaminya.

Well –Ahreum bukan hanya menabrak kaca itu, tapi ia membuat kaca itu pecah dan tubuhnya terpental dari lantai dua ke arah trotoar. Ia hanya ingat tubuhnya melayang, dan semua pikiran terakhirnya tentang isu terhangat mengenai budaya pendidikan yang tadi ditulisnya menjadi bayangan terhangat. Dan terakhir…ia pikir ini akhir dari kenangan dirinya.

Semua kebahagiaannya…

Semua kesedihannya…

Berakhir di sana…ketika ia merasakan tubuhnya menabrak tanah tanpa merasakan apa-apa. Kecuali dengungan suara bising yang menarik paksa kesadarannya….

 

***

 

“Apa dia tidak memiliki keluarga di sini?”

Ahreum bisa mendnegar suara berat itu ketika ia berusaha membuka matanya. Meskipun gagal. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, tidak bisa membuka matanya, dan ia hanya bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

Hell –dia tidak mati. Sepertinya ia masih hidup dan berada di rumah sakit. Ia mencium aroma rumah sakit dan ini membuatnya ingin menangis. Ia merasa juh lebih menyedihkan karena justru terdampar di tempat ini.

“Tidak ada yang bisa dihubungi. Kemungkinan keluarganya bercerai. Karena ibunya berada di Tokyo dan ayahnya berada di Vienna. Tapi keluarga dari kedua belah pihak tidak bisa dihubungi.”

Ahreum masih bisa mendnegar suara lain menyentuh gendang telinganya, kali ini suara perempuan dan…yeah, percayalah. Ahreum benar-benar ingin tertawa mendnegar suara wanita itu. Tentu saja ayahnya tidak bisa dihubungi, bahkan ia hanya memberikan uang untuk Ahreum. Membuatnya bisa menikmati dunia masa muda dengan uang. Dan jangan tanyakan kemana ibunya, dia terlalu sibuk jatuh cinta dengan pria barunya.

Ahreum hanya seonggok manusia menyedihkan yang dicampakkan semua orang. Ia layak mati.

“Baiklah kalau begitu.”

Setelah itu, selang beberapa saat Ahreum tidak menemukan suara apa-apa lagi. Hanay suara sialan jam yang membuatnya ingin menghantam jam itu. Berisik. Demi apapun itu berisik dan Ahreum nyaris merasa gila karena suaranya yang memuakkan.

Tidak. Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan kekesalannya karena tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Dan setelah berjuang cukup lama, akhirnya Ahreum bisa membuka matanya. Ia bisa menggerakkan tubuhnya meskipun ada nyeri yang menjepitnya di sana-sini.

Ahreum mendengus pelan setelah menyadari bahwa ia bahkan mengenakan selang oksigen. Yang benar saja…

Ahreum masih mencoba untuk bangun, namun ia hampir menyerah…. Sampai ia ingat bahwa ia harus menyelesaikan semuanya. Menyelesaikan hidupnya. Membuat orang lain merasa puas dengan ketiadaannya.

Ahreum tidak menyerah, ia berusaha menggerakkan seluruh tubuhnya hingga berhasil. Dan kali ini, ia mencabut semua peralatan medis di tubuhnya, memecahkan sebuah gelas kaca dan mengambil pecahannya. Tapi ia tidak ingin mati dengan cara yang menyakitkan.

Ahreum berpikir beberapa saat sambil terduduk di tepi ranjang. Bahkan ia hampir tak memiliki tenaga untuk tetap duduk. Tapi iaharus mengakhirinya. Sekarang. Ia benar-benar harus mati sekarang juga.

Kemudian, seperti sebuah lampu yang menyala terang di kepalanya, Ahreum tersenyum sembari menyadari ide baru baru saja tumbuh di kepalanya. Ia pun menoleh ke arah balkon rumah sakit. Ia bisa mengakhirinya di sana. Hanya melompat, mirip seperti yang terjadi dengan sebelumnya. Ia bisa mendengar suara mobil berlalu lalang dan…

Itu takkan berlangsung lama. Ia hanya perlu melompat dan semuanya akan berakhir begitu cepat. Terutama dengan kondisinya yang seperti ini. Yeah..ia akan membahagiakan dirinya dan menghukum orang lain dengan caranya yang satu ini…

Dengan langkah terseok, akhirnya Ahreum sampai di tepi pagar pembatas. Ia harus menyelesaikannya. Ia harus menyelesaikannya. Ia harus menyelesaikannya dan menutup lembaran cerita memuakkannya.

Ahreum sudah sampai di tepi pembatas pagar. Ia tersenyum pua skarena di bawa gedung ini, ternyata benar-benar dipenuhi kendaraan…

Ini akan cepat…. Pikirnya.

Ahreum sudah siap melompat. Ia hanya memikirkan masa membahagiakan dalam dirinya. Dalam hidupnya….

Nakamoto Yuta.

Ahreum pun melepas pegangannya dari pembatas pagar…. Dan ia hampir berteriak senang. Ia bisa mengakhirinya. Namun semuanya berakhir dengan rasa sakit di tangan kanannya. Ia merasakan dirinya melayang, namun ia tidak terjatuh.

Ahreum mendongak cepat ketika menyadari seseorang memegangi dirinya.

Seseorang menginginkan dirinya hidup….

Atau mungkin, dia hanya kasihan. Tidak ada alasan khusus kenapa orang lain menginginkan dirinya hidup.

“Lepaskan…” lirih Ahreum. Ia mendapati seorang pria dengan jas putih tengah menahan dirinya sekuat tenaga.

“Lepaskan aku…. Kumohon….”

Lelaki itu menggeleng cepat. Ahreum yakin ia tidak mengenal lelaki itu. Dan ia sama sekali bingung karena lelaki itu memaksa dirinya untuk tetap bertahan.

“Lepaskan! Siapa kau berani menahan diriku? Aku harus menyelesaikannya! Sekarang! Lepaskan aku!”

Ahreum terus memberontak agar tubuhnya bisa terlepas. Tetapi lelaki itu bersikeras untuk tetap memeganginya. Entah untuk alasan apa. Ahreum benar-benar tidak mengerti.

“Kenapa aku harus hidup? Kenapa kau menahanku siapa kau, hah?!”

“Kau harus hidup karena kau tertarikdir untuk hidup…” ucapnya ringan.

“Gila. Lepaskan aku! Aku sudah tidak punya alasan untuk hidup! Untuk apa kau menahanku agar tetap hidup jika kau tidak menginginkanku hidup!”

“Aku ingin kau hidup…”

“Persetan! Kau tidak mengenalku! Kau tidak akan hidup bersamaku! Kau hanya menolongku, menjadi pahlawan, dan akan menjadi orang lain dan membuatku tetap kesepian. Lepaskan aku idiot!”

Ahreum bisa merasakan tubuhnya semakin merosot ke bawah. Dan ia akan memaksakan tubuhnya gar tetap terjatuh. Tidak peduli apakah lelaki idiot itu akan ikut terjatuh atau tidak. Ia harus menyelesaikannya….sekarang.

“Kalau begitu…. Biarkan aku mengenalmu mulai sekarang. Biarkan aku hidup bersamamu. Dan biarkan aku bukan hanya menjadi pahlawan, tetapi juga menghilangkan kesepianmu itu…”

Ahreum membuka mulutnya bingung. Pria gila.

“Lepaskan!”

“Aku serius! Aku serius dengan ucapanku dan kau boleh membunuhku jika kau emndapati diriku ingkar.”

“Gila…”

“Bukankah itu yang kau inginkan?”

Ahreum menggeleng dengan keras, “Lepas!”

“Aku berjanji, kau boleh membunuhku jika aku ingkar padamu…”

Aku ingin membunuh siapapun yang ingkar padaku.

Aku ingin menghukum mereka yang selalu menyepelekanku dengan ketiadaanku.

Aku ingin membuat Nakamoto Yuta tahu bahwa ia harus menyesal telah membuatku seperti ini.

“Dan kau hanya akan membuat Nakamoto Yuta menang jika kau membuat dirimu mati, Cho Ahreum-ssi…”

Lelaki itu tahu rahasianya…

Dan dalam hitungan detik, setelah semua kesakitan di hatinya ditusuk keras oleh lelaki itu ketika menyebut Nakamoto Yuta, Ahreum merasakan kesadarannya menghilang kembali. Kali ini ia tidak merasakan tubuhnya terpental, melainkan tubuhnya tertarik dan dipeluk oleh seseorang. Dan…sayangnya, kali ini Ahreum hanya bisa mendengar kalimat,

“Dokter Oh? Kau baik-baik saja?”

Tanpa Ahreum tahu kapan ia bisa mengakhiri seluruh rasa sakit di tubuhnya dan kembali membuka matanya.

 

20160921 PM0851

With song Bintang di Surga by Peterpan

3 responses to “The Eye

  1. Ada lanjutannya kan cinggu.?….
    Wah cast laen selain ariel luhan nih…awal yg bagus lo…sayang bgt Klo g di lanjut……q selalu nungguin karya2 km lo cinggu…q suka bahasanya …alurnya…ceritanya jg bagus2…feelnya jg selalu dapet.
    Cinggu fighting!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s