[Ficlet] Basket ball, Kiss and Relationship

PicsArt_09-18-09.23.42.png

 

Basket Ball, Kiss, and Relationship

By Dedestnation

.

With

GOT7’s Yugyeom

General – Romance –Fluff

.

Story Is Mine

.

“ Aiishhh, Apa-apaan itu?Jangan menolak?”

.

Happy Reading~

.

.

.

 

Pandanganku masih terarah pada novel ditanganku, sesekali melirik Yugyeom yang masih bermain sendiri di lapangan. Menemaninya di lapangan basket komplek memang sudah seperti tugas keseharianku kalau laki-laki jakung itu sedang banyak masalah.

Tapi kali ini, berbeda seperti biasanya. Yugyeom yang biasanya akan bercerita apapun itu masalahnya memilih diam seribu bahasa. Hanya bunyi DUG DUG DUG yang menghiasi lapangan basket. Aku tak berniat bertanya, bukan tak mau tahu, hanya saja aku tak ingin terlalu ikut campur dalam masalahnya. Meski sahabat, bukankah kami memiliki batas dimana ada beberapa hal yang memang harus dirahasiakan sendiri?

Suara ketukan bola terbentur tanah yang tadinya menjadi musik pengiringku membaca kini telah berhenti, ternyata Yugyeom sudah berhenti memainkan bola basketnya. Emm, mungkin diam lelah atau mungkin bosan? Dia menghampiriku, menarik paksa novel Ruby Red –yang sudah kubaca hampir 5 kali –dari tanganku.

“Kau tak ingin mencoba bermain?” katanya sembari mendudukan dirinya disampingku.

Aku menggeleng, kemudian meraih kembali novelku.

“Kenapa ?” tanyanya.

“Aku tidak bisa bermain basket, mendribbling bola saja tidak bisa.”

Akhirnya, aku bisa melihat senyuman kecil Yugyeom setelah sejak pagi ia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi.

“ Apa susahnya sihh melakukan hal ini?” tanyanya sambil mendribbling bola dengan posisi duduk disampingku.

“Aku kan bukan kamu yang dianugerahi Tuhan bakat seperti itu”

Dia tersenyum lagi kemudian mengacak ujung kepalaku kemudian berdiri dan meraih novelku lagi.

“ Sekali saja, temani aku bermain. Aku bosan”

Kalau sudah begini, mana bisa aku menolak permintaan bocah itu. Ia tak pernah menolak permintaanku kapanpun itu jadi bagaimana mungkin aku menolaknya?

Aku hanya berdiri di tengah lapangan, tanpa melakukan apapun. Toh aku juga tidak bisa melakukan seperti yang Yugyeom lakukan –menshooting bola ke arah ring. Tapi Yugyeom malah tersenyum melihatku, kemudian meraih tanganku dan menyerahkan bola basketnya.

“jatuhkan bolanya ke tanah lalu tangkap lagi tapi hanya dengan satu tangan”

Aku mengangguk, melakukan apa yang Yugyeom katakan. Namun semuanya gagal sia-sia, bolanya malah menggelinding tak mau memantul. Kubilang juga apa, aku payah dalam hal ini. Aku bukan Yugyeom yang di anugerahi bakat bermain basket juga kepopuleran. Aku hanya gadis biasa yang beruntung menjadi sahabat lelaki populer ini, gadis biasa yang hanya berbakat dalam pelajaran fisika, tak ada yang lain.

Yugyeom berlari mengejar bolanya, kemudian kembali lagi dengan gaya sok pintarnya mendribbling bola –mungkin bermaksud mengejekku.

“apasih susahnya mebuat bola memantul?” tanyanya lebih meledek lagi.

“aku kan sudah bilang aku tidak bisa melakukannya, bermain saja sendiri, aku masih menemanimu kok disana.” Aku menunjuk  bangku yang tadi aku tempati.

Yugyeom menggeleng, “aku tidak mau”

“Manja” kataku.

Biarin “ isshhh kenapa sih dia itu suka menjulurkan lidah kalau sedang mengejkku? Iya, seperti yang dia lakukan sekarang.

Aku mulai berjalan meninggalkannya ketika bunyi DUG terdengar. Aku menoleh, memastikan itu apa. Ternyata Yugyeom measukan bolanya ke dalam ring.

“Kalau tidak bisa mendribbling bagaimana kalau menshooting bola saja”

Lagi-lagi aku tidak bisa menolaknya.

.

“Ini tidak sulit, kamu tinggal melemparnya kedalam ring” katanya menggampangkan.

Aku mencoba sekali dan gagal, mecobanya lagi dan gagal, lagi, lagi dan lagi juga gagal lagi.

“Issh dasar. sini”

Yugyeom dibelakangku, bermaksud membantu. Tepat dibelakangku dan memegang ujung tanganku.

“satu, dua, ti….”

Dan berhasil! Aku melompat kegirangan, sedang Yugyeom hanya berdiri heran ditempatnya tadi. Ini pertama kali dalam hidupku memasukan bola kedalam ring –walaupun lebih pantas diakatakan jika Yugyeom yang melakukannya.

“mudahkan?”

Aku mengangguk kemudian tersenyum lagi.

Lalu si tinggi itu melangkah mengahampiriku dan berdiri tepat dihadapanku…

“Jasmine ???” panggilnya.

Aku tak menjawab, hanya mengangkat kedua alisku. Dia aneh, sangat anehhh. Aku merasakan deru nafasnya yang tak teratur dan itu membuatku semakin berdetak tak karuan. Apalagi saat bibirnya menyentuh pipiku, itu membuat jantungku serasa hampir meledak.

Aku masih diam mematung saat ia mundur selangkah dari hadapanku. Aku kebingungan harus bereaksi seperti apa. Haruskah aku menamparnya? Ahh tidak, aku tidak tega.

“Emm, Ayo… kita pulang” katanya dengan ragu, bukan dengan nada seperti biasa. Ini lebih seperti nada malu-malu.

Andai Yugyeom tahu betapa malunya aku sekarang, rasanya seperti ingin menceburkan diri ke kolam agar Yugyeom tak melihat rona merah yang menyembul tiba-tiba dipipiku. Kenapa juga dia menciumku? Dasar lelaki tinggi tidak tahu malu.

.

Di perjalanan kami hanya diam, sesekali aku meliriknya namun kembali menarik diri ketika dia menoleh kearahku. Rasanya sangat memalukan saat mengingat kejadian tadi. Dasar Kim Yugyeom!!!

“Emmm…” Dia menggaruk tengkuknya lagi, mungkin kebingungan mencari topik pembicaraan. Tapi tiba-tiba tangan kanannya menggenggam tangan kiriku tanpa aba-aba.

‘Apa-apaan sih bocah ini?’ pikirku.

Ada apa dengan bocah ini? Kenapa dia membuatku malu seperti ini. Dia sihh tidak merasakan kupu-kupu beterbangan dan ulat-ulat menggelitik perut seperti aku. Ehh, mungkin dia juga merasakannya tapi aku tidak tahu.

            Sampai di depan rumahku dan tangannya masih menggenggam erat tanganku, rasanya seperti tidak ingin dilepas..Kenapa sih perjalanan pulangya cepat sekali?

            Kemudian dia melepas genggamannya “Masuklah”

            “ Kau tak Masuk?”

            Isshh apa sih aku ini…kenapa malah menawarinya masuk?

            Yugyeom menggeleng “tidak usah, aku belum mengerjakan tugas Fisika”

            “Eumm”

            “ Aku pulang “ katanya melambaikan tangan kemudian berbalik dan mulai berjalan meninggalkanku.

            Tapi Ia berbalik lagi dan menghampiriku.

            “Ada apa?” tanyaku.

            “Berikan ponselmu”

            Aku memberikan ponselku padanya dan entah apa yang ia lakukan pada ponselku, yang pasti aku akan memukulnya jika ia membajak akun sosial mediaku seperti biasa.

            “Mulai sekarang jangan membalas pesan dari laki-laki lain yang merayumu.” Katanya mengembalikan ponselku.

            “Kenapa?”

            “Sekarang kamu pacarku jadi jangan coba-coba meladeni laki-laki yang mencoba mendekatimu.”

            Aku mengernyit, sedikit tak yakin dengan apa yang kudengar.

            “ Tadikan aku sudah mencium pipimu, jadi sekarang kamu pacaraku. Dan satu lagi. Jangan menolak.”

            Aiishh, Apa-apaan itu? ‘Jangan menolak?’ Bagaimana caranya aku menolak kalau aku saja tidak mau menolak?

 

FIN

5 responses to “[Ficlet] Basket ball, Kiss and Relationship

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s