Next : The Eye

img_20160921_205214

The Eye

Oh Sehun as EXO’s Sehun | Cho Ahreum as OC | Nakamoto Yuta as NCT’s Yuta

 

***

London, Inggris.

Nakamoto Yuta kembali mengecek beberapa bukunya yang baru sampai. Buku yang ia pesan khusus dari Australia. Yeah, bukan buku-buku baru, Yuta tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membeli buku baru yang langka ini. Dan karena banyaknya koneksi yang ia miliki, akhirnya ia bisa membeli beberapa buku yang ia utuhkan untuk beberapa penelitiannya dari kenalannya di Australia.

“Kau sepertinya begitu ambisius dengan penelitian kali ini. Kau benar-benar ingin pergi ke New York dan melakukan presentasi di sana?” seseorang memeluk Yuta dari belakang –Yuna Kim. Gadis yang selama enam bulan terakhir ini membantunya untuk tetap bisa bertahan hidup di negeri orang. Atau…bisa disebut juga roommate –untuk pengertian formalitasnya.

Yuta hanya tersenyum dan menaruh kembali buku-buku tersebut ke dalam kardus, “Aku harus meuwujudkan semua impianku secepat aku bisa. Aku harus membuat perusahaan di Jerman itu menyesali karena telah menolakku.” Ucapnya dengan nada percaya diri. Well, ia tidak sepercaya diri itu sih, tapi setidaknya ia masih memiliki semangat untuk dijadikan sebuah alasan memiliki harapan.

Ya…harapan. Nakamoto Yuta tidak pernah berubah. Ia hanya mengandalkan harapan sebagai pion hidupnya.

“Oh ya, ada pesan masuk. Sepertinya dari luar negeri, tapi aku tidak mengerti bahasanya. Seperti tulisan cina atau…korea?” Yuna sedikit menggeser tubuhnya dan menatap mata Yuta. Dan selama beberapa saat, pria itu tak bergeming. Namun beberapa saat kemudian Yuta justru berjalan cepat ke arah ruang tengah.

[Apakah Anda Nakamoto Yuta? Kami dari Sevit Hospital dan menemukan nama Anda terdapat pada ponsel pasien kami yang bernama Cho Ahreum. Apakah Anda mengenal pasien kami tersebut? Dia baru saja mengalami kecelakaan dan tidak ada yang bisa dihubungi kecuali nomor ini.]

Bahasa Korea. Yuta kembali membaca ulang pesan yang masuk melalui nomor yang selama dua tahun ini tak pernah lagi ia simpan di ponselnya. Nomor yang tak pernah lagimenyapa ponselnya. Dan…sialnya, semua kenangan yang ia sebutkan dalam doa agar menghilang dari ingatannya, justru seolah kembali berlari dan menempati seisi kepalanya.

Tentu saja ia mengenal Cho Ahreum.

Dan, sepertinya gadis itu juga senasib dengannya. Sekeras apapun mereka untuk salng melupakan, kenyataannya mereka tetap terikat kenangan yang tak pernah mau melepaskan mereka berdua untuk berjalan terpisah.

Dengan ragu, akhirnya Yuta menghubungi balik nomor tersebut. Ia tidak tahu kecelakaan apa dan separah apa kondisi Ahreum hingga rumah sakit di Korea itu justru hanya bisa menghubunginya. Tanpa ia sadari, ia terus berdoa agar ia tak mendapat kabar buruk dengan tangan yang agak gemetar.

 

***

 

“Kenapa kau berjanji seperti itu?” omel Kim Jisoo terhadap Sehun.

Mau tak mau, akhirnya Sehun harus menerima bahwa seisi rumah sakit tahu mengenai insiden percobaan bunuh diri yang dilakukan salah satu pasiennya. Dan Jisoo, sahabatnya, akhirnya ikut mengomentari dan…yeah, seperti sekarang, dia marah dan tidak terima pada setiap janji yang diajukannya pada pasiennya itu.

“Kau tahu, aku harus menyelamatkannya. Aku hanya ingin dia mendnegarkanku dan yakin padaku,” jelas Sehun. Jujur saja sih, sebenarnya ia tak begitu yakin dengan keputusannya untuk membuat janji yang diucapkannya tempo hari. Tapi Sehun pikir saat itu keadaannya begitu genting. Ia hanya sekilas membaca buku harian gadis bernama Cho Ahreum itu dan hanya berusaha membujuknya.

Jisoo pun melempar sumpitnya ke atas meja, “Lalu bagaimana jika dia benar-benar membunuhmu? Kau kira janji bisa semudah itu diucapkan? Kau tahu gadis depresi itu pasti tidak akan bercanda dengan setiap yang ia pikirkan. Ia bahkan tak menyayangi nyawanya sendiri, lalu bagaimana bisa kau tenang-tenang saja saat kau tahu mungkin saja nyawamu yang akan celaka!”

“Jisoo…” Sehun berusaha menahan lengan Jisoo yang mencoba untuk pergi. Tapi gagal. Jisoo menepis kasar tangan Sehun dan pergi begitu saja.

“Aku salah…” gumam Sehun akhirnya. Ia tahu ia salah. Apa yang ia pikirkan, apa yang ia ucapkan, semuanya salah. Dan ia tahu Jisoo hanya mengkhawatirkannya. Walaupun…dengan sedikit sisa kebodohan yang masih ia simpan, entah mengapa ia berpikir untuk mencoba menepati janjinya.

Well, Jisoo memang hanya sebatas sahabatnya. Tapi baik Sehun maupun Jisoo sama-sama mengerti perasaan apa yang mereka simpan dalam diri mereka masing-masing. Ada bagian dalam diri mereka yang ditutupi rapat selama ini. Dan…dengan pengecutnya, Sehun hanya bisa menyimpannya seorang diri.

 

***

 

Ahreum akhirnya bisa kembali membuka matanya, bisa kembali mengingat bagaimana caranya untuk bernapas, dan mulai bisa menggerakkan jemarinya secara perlahan. Sial. Ia tidak benar-benar mati, tapi sekarang ia justru merasa luka-lukanya bekas tempo hari justru semakin menyulitkannya.

Semua ini karena dokter sialan itu. Ya. Jika ada seseorang yang perlu disalahkan, dokter itulah yang harus bertanggung jawab. Ahreum tersenyum kecut, dengan idiotnya dia menyebut kata janji seolah-olah janji adalah barang murah yang bisa didapat dengan mudah.

Nakamoto Yuta pun menjanjikan hidupnya untuk Ahreum. Lelaki itu pun menjanjikan eksetiaan, sebuah napas yang hanya tercipta untuknya, segenggam nyawa yang katanya akan ia relakan demi Ahreum. Dan itu hanya sebatas janji busuk yang menari-nari di kepala para idiot yang mempercayainya.

Ahreum tidak tahu sudah berapa lama ia menambah masa berbaringnya di rumah sakit. Yang ia tahus aat ini, ia harus segra pergi dari tempat ini. Tempap yang hanya bisa mengumbar topeng kebaikan di balik jas putih.

Maka dari itu, dengan susah payah, sekali lagi Ahreum mencoba menggerakkan seluruh tubuhnya. Ia harus segera bangun dan meninggalkan tempat ini. Ia tak membutuhkan mereka yang hanya tahu memanfaatkannya dan hanya mengasihaninya. Dan jika sekali lagi Ahreum bertemu dengan lelaki sialan yang berani menantangnya itu, Ahreum akan memastikan ia akan membunuh pria itu.

“Kau gadis yang kuat untuk ukuran pasien yang telah pingsan sejak kemarin,”

Ahreum memejamkan matanya ketika suara yang terdengar familiar itu mengusik pendengarannya. Ahreum barus aj abrehasil duduk dan mencabut selang oksigennya. Dan sekali lagi, lelaki busuk itu justru seolah menjadi penghalang bagi Ahreum.

“Pergilah…” lirih Ahreum. Ia menyerah untuk bertengkar dengan lelaki asing yang mengusik hidupnya tersebut.

Oh Sehun melipat tangannya di depan dada, memperhatikan detail tiap gerakan yang dilakukan oleh Ahreum. Perempuan itu benar-benar memiliki semangat yang besar. Meskipun Sehun tidak yakin semangat yang dimilikinya itu untuk melindungi dirinya sendiri, tapi setidaknya Sehun tahu perempuan itu pantang menyerah. Bahkan ia bisa melawan rasa sakitnya sendiri.

“Istirahatlah dulu. Apa kau tidak merasa sangat kesulitan dengan kondisimu saat ini?” Sehun pun endekat tanpa mencegah tiap gerakan yang dilakukan gadis itu.

Namun tanpa Sehun duga, gadis itu justru mengambil gelas yang terletak pada nakas di dekat ranjang, kemudian gadis itu melempar gelas kaca tersebut ke arah Sehun. Sehun bahkan tidak bisa merasakans akit ketika gelas itu mengenai kening bagian kanannya, ia hanya bisa merasakan darahnya mengalir yang akhirnya disusul rasa perih.

Ya…benar-benar perih. Sehun tidak menyangka gadis itu benar-benar berniat melukainya.

“Sudah kukatakan kau harus pergi, brengsek…” suara gadis itu bahkan tak lebih kuat drai lemparannya tadi. Tapi Sehun masih bisa merasakan kemarahan pada warna suara gadis itu.

“Kau kira kau siapa? Kau kira aku tidak berani untuk melukaimu?” Ahreum tersenyum sinis dan memirngkan kepalanya, ia merasa puas melihat bagaimana darah segar mengalir dari kening dokter tersebut, “Sakitkah? Itu bahkan tak lebih sakit dari luka di hatiku,” Ahreum pun menunjuk dadanya dengan gerakan lemah, “Bahkan meskipun kau melempar dirimu ke arah aspal, bahkan meskipun kau memutus nadimu sendiri, semua itu takkan pernah lebih sakit dari apa yang kurasakan. Maka dari itu, harusnya sejak awal kau tak membuat sebuah janji yang akan kau ingkari…”

“Kau hanya tak memberi kesempatan,”

Ahreum terperangah ketika dokter itu justru menyahutinya. Dia ternyata masih belum menyerah.

“Kau hanya melihat dirimu tanpa mempedulikan orang lain, kau hanya mempedulikan rasa sakitmu tanpa mau membiarkan orang lain menyembuhkannya,” Sehun pun mengangkat kepalanya danmenatap Ahreum, “Kaulah pelaku dan korban. Kedua objek itu ada padamu dan kau…”

“Kau konyol,” Ahreum memotong ucapan Sehun dna tertawa hambar, “Kau bicara omong kosong. Kau merasa sudah menjadi pahlawan hanya karena telah menolongku, dokter?” Ahreum pun menarik salah satu sudut bibirnya, “Kau hanya memikirkan dirimu ketika menarikku dari bawah ke atas. Kau hanya melihat masalahku dari sudut pandangmu. Kau bahkan tak mengenalku,” dengan susah payah Ahreum berjalan ke arah Sehun, “Lalu dengan beraninya kau membuat janji yang tak bisa kau tepati. Kau kira aku korban drama di TV yang bisa kau bodohi?”

“Kau hanya tak memberiku kesempatan,”

“Untuk apa aku memberi kesepatan pada seseorang sepertimu?”

“Bagaimana caraku untuk bisa menepati janji padamu?”

Ahreum terdiam beberapa saat. Ia cukup terpana dengan pahatan Tuhan terhadap wajah lelaki di depannya ini. Sayangnya, hatinya hanya sebatas terjatuh pada kata kagum yang ia tujukan untuk Sang Pencipta, bukan pada mahluk ciptaanNya yang banyak bicara ini.

“Kita sudah impas. Aku tak butuh janji busukmu.”

Dengan terseok, Ahreum melengos melewati Sehun. Melewati mata yang sempat membuat hati Ahreum bergetar selama beberapa detik sebelum ia sadar bahwa mata Nakamoto Yuta pun pernah menjeratnya dengan cara yang sama.

Memuakkan. Semenjak lelaki brengsek itu menyebut nama Yuta, akhirnya secara berkali-kali Ahreum teringat pada lelaki Jepang itu.

“Kau lihat? Kau lah yang tidak pernah memberi kesempatan,” Sehun berbalik dnegan sebelah tangan yang memegangi kening kanannya, “Kau akan selalu menutupi dirimu seperti ini hanya karena seorang pria?”

Ahreum mau tak mau akhirnya harus berhenti menyeret kakinya, “Nakamoto Yuta bukan hanya sebatas seorang pria seperti yang kau ucapkan dengan nada bicaramu, dokter…” Ahreum menoleh sedikit ke arah Sehun, “Dan berhenti bertingkah seolah kau tahu tentang Yuta. Kau terlihat dungu.”

“Lalu apakah kau bahagia dengan menyesali semua masalahmu dengan Yuta?”

Pria brengsek itu benar-benar…. Ahreum pun menoleh ke belakang, “Lalu apakah kau bahagia telah mencampuri urusanku?”

Sehun tersenyum tipis, “Aku akan bahagia jika kau memberiku kesempatan.”

“Kau menyukaiku?” Ahreum menertawakan ucapannya sendiri, tapi melihat betapa keras kepalanya dokter itu, Ahreum tidak tahan untuk tidak memikirkan bahwa lelaki itu pasti menyukainya, “Maaf, aku tidak tertarik menjalin hubungan denganmu dokter.”

“Aku hanya ingin kau menang dari Nakamoto Yuta,” mata Sehun beralih pada seseorang yang berdiri di balik pintu, menonton adegan aneh antara Sehun dan Ahreum, “Atau menang dari baying-bayang Nakamoto Yuta. Hidupmu tak sebatas Yuta, kan? Jika kau ingin mati, kau harus memastikan kau bukan menyerahkan nyawamu demi orang-orang yang bahkan tak akan tahu tentang kematianmu.”

Ahreum akhirnya menangis. Entah bagian mana dari kalimat dokter busuk di depannya itu yang berhasil menarik keluar air matanya. Tapi bagaimana cara lelaki itu menyebut nama Yuta berkali-kali, jsutru membuat hatinya semakin sakit dan menyadari satu hal…

Selama ini ia menyiakan hidupnya demi baying-bayang Yuta yang bahkan tak pernah membuat Yuta kembali padanya. Ia telah menyiakan tahun-tahun yang dimilikinya dan menyandarkan hidupnya pada Yuta yang akhirnya menjilati ludahnya sendiri yang berisikan janji busuk.

Ahreum telah kehilangan dirinya sendiri.

Ahreum telah menghukum dirinya sendiri.

“Maka dari itu, biarkan aku untuk mencoba menepati janjiku,” dan Ahreum membiarkan dokter itu menariknya ke dalam sebuah pelukan. Ahreum akhirnya bisa merasakan kembali sebuah sandaran untuk seluruh bebannya yang bahkan tidak diketahui si dokter brengsek ini.

Ahreum juga tidak tahu…. Secara tiba-tiba, Sehun ingin berkompetisi dengan lelaki yang mematung melihat adegan mereja berdua. Lelaki yang Sehun yakini adalah Nakamoto Yuta.

 

20160927 PM1135

With song Those Words by Hanbyul

4 responses to “Next : The Eye

  1. hallo kakak ^^
    wow, setelah baca keseluruhan FF ini, intriknya pasti bakal kece nih kedepannya, jadi nggak sabar nunggunya
    dan sehun…kyaaa..seketika aku senyam-senyum sendiri bayangin dia jadi dokter, keren nih kak!
    untuk ceritanya aku suka, penyampaiannya sederhana dan mudah dipahami, di sini perasaannya ahreum juga tersampaikan kok
    dan inikah saat aku mengomentari tentang..typo..ehm..duh minta maaf dulu ya kak, mungkin aku terlihat terlalu cerewet kalo masalah typo ini. aku bantu nemuin lokasi typonya ya^^

    –> “Kau tahu, aku harus menyelamatkannya. Aku hanya ingin dia mendnegarkanku dan

    –>Ahreum tidak tahu sudah berapa lama ia menambah masa berbaringnya di rumah sakit. Yang ia tahus aat ini, ia harus segra pergi dari tempat ini. Tempap yang hanya bisa mengumbar topeng kebaikan di balik jas putih.

    –>Ahreum memejamkan matanya ketika suara yang terdengar familiar itu mengusik pendengarannya. Ahreum barus aj abrehasil duduk d

    –>Sehun pun endekat

    –>Sehun bahkan tidak bisa merasakans akit

    –>Sehun pun mengangkat kepalanya danmenatap Ahreum

    –>“Kau konyol,” Ahreum memotong ucapan Sehun dna tertawa

    –>“Kau lihat? Kau lah yang tidak pernah memberi kesempatan,” Sehun berbalik dnegan

    –>Selama ini ia menyiakan hidupnya demi baying-bayang Yuta

    –>Secara tiba-tiba, Sehun ingin berkompetisi dengan lelaki yang mematung melihat adegan mereja berdua.

    okeh kak segini dulu, ntar pusing bacanya u,u
    ditunggu kelanjutannya ya, keep writing!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s