#1/2 Days Like Today

images-4

Title     : Days Like Today

Genre  : AU, Romance, Marriage Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Author : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

 

***

Luhan terus menggigiti kuku-kuku jarinya. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya, ia belum pernah mengkhawatirkan sesuatu hingga bisa merasakan detak jantungnya sendiri, hingga merasakan tubuhnya sendiri bergetar hebat. Dan satu-satunya alasan ia bisa sekacau ini, adalah seseorang yang berada di dalam ruangan operasi saat ini.

Luhan bahkan meninggalkan dompet dan ponselnya di kantor. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika ia mendapat pesna singkat bahwa istrinya mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit. Saat itu, yang menghampiri pikiran Luhan hanyalah kemungkinan paling buruk dan kondisi Ariel –isrtinya—yang bahkan Luhans endiri tidak tahu bagaimana kondisinya yang sebenarnya.

“Apa yang terjadi padanya? Bagaimana dia bisa masuk ke rumah sakit?” ibu Luhan baru saja tiba dan terlihat sama paniknya dengan Luhan.

Seperti bebek dungu, Luhan hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah. Luhan tidak tahu bagaimana kondisi Ariel sebenarnya, ia hanya tahu bahwa istrinya mengalami kecelakaan dan harus mendapat beberapa jahitan dan pemeriksaan menyeluruh. Selebihnya, Luhan hanya diminta untuk duduk seperti orang bodoh di lorong rumah sakit sambil menunggu informasi dari dokter.

Dan tepat ketika dokter keluar dari ruang operas, ayahnya lansung mendekat dan menanyakan kondisi menantu tersayangnya –tapi entah bagaimana justru Luhan dutarik oleh sang ibu dan diminta untuk mendengar apa yang dijelaskan oleh dokter mengenai kondisi Ariel.

Luhan tidak terlalu bisa mendnegarkan apa yangdikatakan oleh dokter tersebut, satu-satunya yang Luhan tangkap dari ucapan dokter adalah, kemungkinan istrinya akan mendapat memory sorder –dimana penderitanya akan kehilangan sebagian memorinya yang disebabkan trauma.

Yeah…itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat Luhan terasa seperti dilempari ratusan batu di kepalanya, dan juga dadanya yang seperti berlubang.

 

***

 

“Kalian sempat bertengkar sebelum kecelakaan ini terjadi?” tanya ibu Luhan sambil menata beberapa buah-buahan pemberian kenalan ayah Luhan yang menjenguk ke rumah sakit.

Luhan masih membaringkan kepalanya di atas ranjang saat menyahuti ibunya, “Begitulah. Kami…memang sempat berdebat beberapa hari sebelumnya,” Luhan tidak ingin menceritakan masalah ini lebih jauh meskipun ibunya yang menanyakannya.

Sang ibu pun mendesah panjang mendengar jawaban Luhan, “Ini sudah hari ke-3 dan Ariel belum membuka matanya. Lain kali, cobalah menggunakan kepala dingin saat menghadapi pertengkaran apapun. Paham?”

Luhan hanya mengangguk singkat. Kemudian ia pun menggerakkan tangannya ke arah tangan Ariel yang terlihat pucat itu. Penyesalan lagi-lagi daang terlambat, bukan? Luhan benar-benar ingin memina maaf sekarang.

 

***

 

Ariel tidak tahu kenapa ia bisa berada di rumah sakit, dengan segala perlengkapan medis dan juga beberapa orang yang menatapnya khawatir dan menungguinya di sini. Tidak. Yang lebih buruk dari itu adalah, teman semasa kuliahnya yang sama sekali tidak dekat dengannya dan hanya menjadikan Ariel sebagai secret admirer-nya, tiba-tiba saja mengaku menjadi suaminya.

Ya. Suami katanya. Ariel dan Luhan sudah menikah selama setahun dan…

Yang benar saja?!

Yang Ariel ingat terakhir kali adalah, proses administrasinya untuk kepindahan kuliahnya. Ia sudah bertekad untuk mengambil jurusan pariwisata dan berniat menjadi guide ataupun menjadi penulis yang belajar bahasa asing secara tertata lewat jurusannya ini.

Ariel bahkan tidak ingat apakah ia sudah menyelesaikan proses kepindahannya atau belum. Ia juga tidak yakin apakah ia sudah berpamitan dengan benar dengan teman-teman di kampus lamanya. Tapi Ariel mendapati situasi sangat kacau saat ini : ia telah menikah, dan ia menikah dengan seseorang yang dikaguminya diam-diam, dan jika melihat tanggal hari ini, ini adalah tiga tahun ke depan semenjak ingatan Ariel yang terakhir.

“Kau tidak mau makan sesuatu?” tanya suaminya –jika mereka memang benar telah menikah—dengan lembut.

Jujur saja, ini membuatnya sangat merinding. Lelaki itu sangat dingin terhadapnya ketika mereka masih kuliah bersama. Bahkan daia pernah tidak mendengarkan Ariel bicara jika mereka ada di satu kelompok tugas. Dia juga punya kekasih dan…ini sama sekali tidak lucu. Ariel benar-benar merasa asing dan tidka nyaman dengan keberadaan Luhan di sini.

“Ariel?” panggilnya yang membuat Ariel secara refleks mengalihkan pandangannya. Ia gugup setengah mati. Bahkan saat kuliah saja Ariel tidak berani lama-lama menatap wajahnya, dan sekarang Ariel justru diperhatikan dengan cara yang…entahlah, ini menggelikan.

“A-aku…aku tidak lapar,” Ariel sedikit menggaruk kepalanya. Astaga, Ariel sepertinya sudah lama tidak keramas. Rambutnya benar-benar lengket. Ia pun menarik rambutnya ke depan dan mencium aromanya yang…eugh! Apakah Ariel sama sekali tidak berkeramas beberapa hari ini?

“Kenapa? Rambutmu terasa tidak nyaman?” Ariel menepis pelan tangan Luhan yang hendak menyentuhnya. Ia selalu merasa tidak benar dengan situasi ini. Ia jauh lebih terbiasa dengan Luhan yang tak acuh terhadapnya daripada Luhan yang seperti ini.

Luhan terdiam beberapa saat. Ia selalu merasakan nyeri di dadanya tiap kali Ariel menolak semua yang ia lakukan padanya. Ariel memang bukan gadis manja, bahkan sejak mereka berpacaran, Ariel tetaplah di gadis sok mandiri yang terlihat berkarisma. Meskipun setelah menikah Ariel justru tidak sungkan menunjukkan perasaannya.

Luhan pun mendengus pelan dan menundukkan kepalanya. Ia seperti menghadapi Ariel yang dikenalnya di bangku kuliah dulu, bukan Ariel istrinya yanga kan mengkhawatirkan dan mengatur Luhan mengenai banyak hal. Ia seperti menghadapi orang lain dan…meskipun ia mencoba menyemangati dirinya bahwa smeua baik-baik saja, tapi ia tahu bahwa dirinya sama sekali tidak baik-baik saja.

“Ma-maaf…”

Luhan mendongak dan menjamah manik mata Ariel yang akhirnya mau menatap langsung matanya, “Ya?” Luhan tidak tahua pa yang membuat gadis itu merasa bersalah, tapi ia tidak ingin membuat Ariel merasa tidak nyaman lebih jauh.

“Kau…terlihat sama sekali tidak baik-baik saja. Aku…aku tidak terbiasa. Maaf, jika aku benar-benar melupakan sebagian kenanganku, terutama tentang tiga tahun ke belakang yang mungkin…seharusnya itu menjadi kenangan paling penting, terutama untuk kita.”

Luhan pun mengangguk pelan dan memaksakan seulas senyum tertarik di wajahnya, meskipun sebenarnya ia tidak baik-baik saja, tapi engetahui Ariel mengkhawatirkannya justru membuatnya semakin tidak nyaman. Toh, ini bukan keinginan Ariel untuk melupakan sebagian memorinya, ini juga bukan salah Ariel jika ia merasa canggung dan bingung karena ingatan terakhirnya justru ketika mereka bahkan sama-sama masih menjadi sepasang manusia asing yang hanya mengenal nama satu sama lain.

“Tidak apa-apa. Kita kembalikan ingatanmu secara perlahan saja, oke?” perlaha, Luhan pun menyentuh punggung tangan Ariel dan menggenggamnya. Hangat. Ia masih merasakan kehangatan yanga kan terajut secara otomatis ketika ia menyentuh Ariel.

Kali ini Ariel tidak menolak, tapi ia juga tak membalas semua perlakuan Luhan. Yeah, sejak dulu, Ariel memang terkenal dengan sifat kentaranya saat tidak menyukai sesuatu. Dan dengan jelas, Luhan bisa kembali melihat tatapan dingin Ariel terhadapnya.

Ternyata hukuman yang diberikan Ariel jauh lebih menyakitkan.

Karena…yeah, terlepas dari memori Ariel jauh lebih menyakitkan dari yang ia duga.

 

***

 

Ariel kembali menggerakkan kakinya perlahan, mengikuti setiap intruksi yag diberikan oleh perawat yang membantunya melakukan terapi berjalan. Ariel koma selama beberapa hari, dan karena luka dari kecelakaannya terbilang cukup parah, beberapa syaraf di tubuh Ariel terganggu dan ia harus melakukan terapi selama beberapa waktu sebelum ia bisa keluar dari rumah sakit.

Ariel masih bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di kakinya. Ia hampir tidak bisa menahan berat tubuhnya sendiri dan…ini sangat buruk. Saat kecil, Ariel pernah mengalami kecelakaan yang sama parahnya dan membuat kaki kananya mengalami retak tulang. Itu salah satu kenangan terburuknya, dan sekarang waktu seolah terulang dan semua ketakutan yang sempat terkubur menjadi kenangan itu seolah kembali menguar dan memenuhi perasaan Ariel.

“Tidak apa-apa, kau pasti bisa,” Luhan tersenyum dan menahan Ariel yang hampir terjatuh –meskipun tangannya berpegang pada pegangan besi di samping kanan kirinya.

Ariel buru-buru mengalihkan pandangan matanya. Ia sama sekali tidak terbiasa dengan sikap Luhan yang seperti ini. Meskipun jantungnya berdegup kencang sekali, tapi ia tidak merasa senang karena…Luhan baginya hanyalah orang lain. Ariel jauh lebih mengharapkan teman-teman yang dikenalnya, ataupun orang tuanya lah yang berada di sini, bukan Luhan yang dalam memori Ariel, justru adalah kekasih orang lain dan selalu dingin terhadapnya.

Ariel pun kembali berjalan dan sedikit menyeret kakinya agar bisa terus melangkah hingga ke ujung. Ia sungguh muak dengan semua perintah perawat yang terus memintanya berjalan. Ariel benar-benar merasa kesakitan, dan wanita itu jsutru terus saja mengoceh di dekatnya.

“Bisakah dia beristirahat dulu setelah ini? Dia sepertinya cukup kesulitan,” suara Luhan berhasil mengalihkan perhatian Ariel. Lelaki itu terlihat membicarakan sesuatu dengan perawat wanita yang menyebalkan itu, kemudian berjalan ke arah Ariel dan membantunya untuk duduk di kursi roda.

Ariel tidak terlalu memerhatikan apa yang dibicarakan si perawat, tapi Luhan sepertinya mendengarkan dengan seksama, karena lelaki itu menyahuti semua perkataan si perawat terhadap mereka berdua –meksipun Ariel lebih fokus pada kakinya yang kesakitan.

“Kau baik-baik saja? Kau ingin minum?” tanya Luhan sebelum mendorong kursi roda Ariel. Ariel yang agak linglung hanya mengangguk dan dengan buru-buru, Luhan langsung memberikan sebotol air mineral ke arah Ariel. Yang membuat Ariel tersentuh, adalah semua sikap perhatian Luhan terhadapnya. Dia bukan hanya berbicara dengan lembut terhadap Ariel, dia juga membuka tutup botol dengan telaten dan memberikannya padaAriel dnegan hati-hati. Mantan pacarnya saja tidak pernah seperti itu….

Ah, benar. Mantan pacarnya.

Ini pasti kurang ajar sekali. Tapi Ariel sangat ingat, mantan kekasihnya sempat menghubunginya sebelum Ariel pindah kuliah. Ariel tidak terlalu ingat e-mail apa yang dikirimkan lelaki itu, tapi satu-satunya yang ia ingat, Ariel menjanjikan sesuatu pada lelaki itu.

“Kau butuh sesuatu yang lain?” suara Luhan kembali membuyarkan lamunan Ariel. Dan Ariel hanya menggeleng pelan, sedikit memberikan senyum untuk meyakinkannya.

“Baiklah, kita ke kamar sekarang—“

“Luhan,”

Luhan kembali berjongkok di hadapan Ariel, “Kenapa? Apa ada yang kau butuhkan? Kakimu sakit?”

Ariel menggeleng pelan. Ia tidak yakin apakah ia bisa menanyakan inia tau tidak, tapi…”Apakah kau selalu seperti ini padaku saat menjalani pernikahan kita? Atau…apakah kita pernah berpacaran? Tapi…bagaimana bisa…”

Luhan menyembunyikan kepalan tangan kanannya. Ia pun tersenyum dan menghela napas, berharap sisa luka yang terus menggerayanginya juga bisa ikut berhembus bersama dengan napasnya.

“Kau ingin aku ceritakan kisah cinta kita yang paling manis?” goda Luhan dengan setengah bercanda. Tapi detik berikutnya, Luhan menyesali candaannya –Ariel terlihat menegang, “Ah, maksudku…akan kuceritakan. Kita ke kamar dulu, oke?”

“Dan…Luhan, aku juga ingin tahu bagaimana bisa kau putus dari pacarmu. Bukankah kalian sangat saling mencintai?”

Tubuh Luhan sempat menegang dengann pertanyaan Ariel itu. Tentu saja Luhan yang tiga tahun lalu, Luhan yang ada pada ingatan Ariel adalah seorang pemuda yangs sudah memiliki kekasih dan sangat setia pada kekasihnya. Tidak sulit untuk menceritakan bagaimana akhir dari kisah cintanya…

Tapi yang memalu dada Luhan, adalah fakta bahwa…mantan kekasihnya itu lah yang membuat pertengkaran hebat mereka dimulai…

 

20161005 PM1000

 

***

 

 

2 responses to “#1/2 Days Like Today

  1. Keknya ini bakal nambah seru di part selanjutnya. Kemungkinan2 yg memicu pertengkaran ariel dan luhan. Semoga pas ariel inget semuanya mereka bakal bahagia lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s