First Crush: Part 5

first-crush.jpg

Poster Credit Belong To @atatakai-chan from posterfanfictiondesign.wordpress.com,

Thanks alot untuk posternya. Keren banget dan aku suka banget!

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

Part 5

 “Kalau kau memberi 1 gelas saja air padanya. Kau tau apa yang akan aku lakukan.” Kataku pada bartender dan dia mengangguk. Bartender dan semua orang disini mengenalku karena aku selalu menang tender sebagai best female dancer. You can tell, I’m leading here.

Aku memberikan isyarat pada Hoseok Oppa dan dia mengangguk. Hoseok Oppa menarik semua kabel lampu dan musik disana seketika berhenti. Hoseok Oppa mengisyaratkan semua orang untuk keluar dan mereka keluar.

Jiyeon menatap sekelilingnya dengan bingung. Dia tidak mengerti.

“Eonni..” Dia hanya menatapku dengan kesal.

“Pergi dari sini. Pulang.” Kataku dengan serius dan tajam. Dia mengerjap. Aku bisa melihat dia takut dengan kata-kataku. Lalu aku melihat dia menghela nafas panjangnya.

“Aku tidak bisa.” Kata Jiyeon.

“Terlalu banyak hal yang harus aku lupakan dan aku tidak bisa melupakan semuanya jika aku dirumah.” Lanjutnya.

“Bermainlah ditempat lain selain clubbing. Tempat seperti ini tidak cocok untukmu.” Kataku langsung,

“Kau masih belum bisa menjaga dirimu sendiri. Kau.. Kau tidak tau apa yang akan kau hadapi disini!” Lanjutku. Aku meraih hpku dan menelpon Seojoon.

“Seojoon-ah. Dia disini. Aku e-mail kan alamatnya.” Kataku.

“Tidak bisakah kau memberiku sedikit waktu?” Tanya Jiyeon tiba-tiba dan air matanya mulai mengalir.

“Aku ingin pergi dari semua ini! Aku sudah capek! Rasanya terlalu sakit dan aku ingin menghilangkan rasa sakit itu!” Teriak Jiyeon hampir histeris. Aku berjalan padanya dan langsung memeluknya. Aku bisa merasakan dia menangis dalam pelukanku. Tiba-tiba aku bisa merasakan pukulan yang di perutku, dan Jiyeon dengan cepat memukulku lagi dengan lututnya, dia mendorongku jatuh dan berlari keluar.

Aku memegang perutku yang terasa nyeri. Anak itu memang kuat dalam bela diri, dia belajar Tae-kwon-do. Aku berdiri ingin menyusul Jiyeon, dan Hoseok Oppa juga berlari kearahku untuk membantuku. Tepat didepan pintu Jiyeon terjatuh, dia terpental karena menabrak seseorang. Jiyeon terpaku melihat orang yang ada dihadapannya. Aku beridiri dibantu Hoseok Oppa.

“Gwencana?” Tanya Hoseok Oppa.

“Nae.” Jawabku memegang perutku dan berjalan kearah Jiyeon. Aku tercengang.

“Jiyeon-ah. Berhentilah.” Kata orang yang ditabraknya.

“Kau tidak punya hak apapun untuk mengaturku.” Kata Jiyeon berjalan melalui Jimin. Ya, Park Jimin disana. Jimin menghentikan langkahnya dan menahan tangan Jiyeon. Jiyeon menghempaskan tangan Jimin.

“Lebih baik kau mengkhawatirkan wanita yang kau cintai, ya kan?”

“Oh, ya, kau juga harus membuat alasan kenapa kau bisa disini..” Katanya membuat Jimin terdiam. Hoseok Oppa menempuk pundakku ringan dan langsung berlari kearah Jiyeon dan menggendongnya bridal style agar Jiyeon tidak bisa kemana-mana.

“Ya! Lepaskan aku!!” Teriak Jiyeon sambil terus berusaha melepaskan diri dari Hoseok Oppa. Aku mengambil sapu tanganku dan menyekap Jiyeon hingga dia pingsan.

“Dia kuat juga.” Kata Hoseok Oppa.

“Dia belajar tae kwon do. Sudah pasti.” Jawabku.

 

Beberapa menit kemudian Seojoon datang, dia langsung menghampiri adik kecilnya yang masih belum sadar itu.

“Apa dia baik-baik saja?” Tanya Seojoon sambil melihat Jiyeon yang terbaring disana.

“Aku hanya menyekapnya biasa. Dalam 15 menit dia pasti sudah sadar.” Kataku.

“Tidak usah khawatir Joon-ah.” Kata Hoseok Oppa. Seojoon langsung melihat kearah Hoseok Oppa dan sedikit kaget tapi dia mengangguk.

“Sejak kapan kalian kenal?” Tanyaku pada mereka berdua.

“Aku tidak mengenalnya, tadi aku mendengar namanya kau sebut di telpon.” Kata Hoseok Oppa.

Setelah menjelaskan apa yang terjadi padanya Seojoon langsung membawa Jiyeon pulang.

“Baiklah. Aku pulang duluan. Miane aku merepotkan kalian.” Kata Seojoon padaku, Hoseok Oppa, dan Jimin.

“Ajaklah dia pergi berlibur.. Mungkin itu akan lebih baik..” Kata Hoseok Oppa. Aku mengangguk setuju pada usul Hoseok Oppa. Seojoon tersenyum, melambaikan tangannya, dan pergi dari sana.

“Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah.. Apa yang kau lakukan disini Chimin-ah?” Tanyaku pada Jimin.

“Aku melihatmu jalan dengan orang ini. Insting saja aku mengikuti kalian.” Kata Jimin.

“Apa kau harus seperti itu? Aku tidak pernah macam-macam padanya selama ini.” Kata Hoseok Oppa dengan nada terganggu, lalu langsung pergi dari sana meninggalkan kami berdua.

See? This is why I never told you anything about him. You’re annoying enough to make him annoyed and leave.” Kataku pada Jimin.

“Kau tidak seharusnya keluar semalam ini dengannya. Dia bukan orang yang-”

“Hoseok Oppa adalah orang yang baik!” Bentakku pada Jimin memotong kalimatnya.

“Kau hanya tidak mengerti.” Lanjutku lalu aku berjalan pergi darinya. Dia berlari kecil dan meraih tanganku. Menghentikanku. Dia membalikkanku menghadapnya, dia menatapku beberapa detik, dan tiba-tiba dia memelukku.

“Soe Hee-ah..” Katanya memanggilku lirih.

“Jim.. Lepaskan aku..” Kataku.

“Chimin, kamu selalu memanggilku Chimin.” Katanya.

“Aku sedang tidak ingin bermain-main Jim.” Kataku serius mencoba melepaskan diriku dari pelukannya. Jimin mempererat pelukannya padaku dan menenggelamkan wajahnya dibahuku.

“Chiminmu ini adalah seorang laki-laki bodoh yang mencintai Kim Soe Hee sejak kecil tanpa berani mengungkapkannya.” Katanya ketika dia masih memelukku dengan erat dan aku speechless dengan apa yang aku dengar.

 

*Jiyeon POV*

Aku membuka mataku perlahan. Mobil? Aku dimobil? Aku melihat sekitarku dan ternyata Seojoon Oppa yang menyetir.

“Oppa, kita akan kemana? Pulang?” Tanyaku.

“Kau mau pulang?” Tanyanya. Aku menggeleng. Aku sama sekali tidak bersenang-senang, dan dirumah serasa menggerikan, tidak ada hal yang harus aku lakukan, aku sangat bosan. Ketika aku bosan, hanya satu hal yang datang, rasa sakit disini. Aku memegang dada kiriku mencoba merasakan apa rasa sakit itu datang?

“Baiklah. Aku akan mengajakmu kesuatu tempat.” Kata Seojoon Oppa.

“Odi?” Tanyaku.

“Suatu tempat yang aku yakin kau akan suka.” Katanya dengan senyuman andalannya.

“Oppa, kenapa kau tidak marah?” Tanyaku.

“Aku sudah sangat diluar bataskan?” Tanyaku lagi.

“Aku sangat marah, sangat benci dengan keadaan ini.” Katanya.

“Tapi aku tidak ingin marah-marah padamu, jika aku memarahimu, kita akan bertengkar dan kau akan merasa lebih buruk, yang harusnya aku lakukan adalah memahamimu dan membuatmu lebih baik.. Bukan begitu?” Tanyanya balik. Aku hanya bisa memberikan sedikit senyuman padanya.

Bagaimana bisa? Bagaimana caramu Oppa? Kau bodoh ya? Rasa sakit disini rasanya benar-benar berbeda. Aku butuh ketempat yang lebih baik, tempat dimana aku bisa melupakan rasa sakit ini atau tempat dimana aku bisa menghilangkan rasa sakit ini. Aku tidak perlu apapun lagi.

 

Seojoon Oppa menghentikan mobilnya tiba-tiba dan otomatis aku terpental kedepan dan bangun dari tidurku.

“Kau bangun?” Tanyanya.

“Dengan setiran seperti itu kau berharap aku tidak bangun?” Tanyaku balik padanya. Dia hanya tertawa kecil lalu berjalan keluar membukakan pintu mobil untukku.

“Kajja!” Katanya menarik tanganku dan aku keluar dari mobil. Dia melepaskan jaketnya dan mengenakannya di bahuku untuk menutupi pakaianku. Aku melihat sekelilingku dan aku baru sadar aku ada sebuah danau.

“Danau?” Tanyaku. Dia tersenyum.

“Sewaktu aku ada masalah. Melihat danau ini begitu tenang bisa meringankan itu. Jadi, aku membawamu kesini.” Kata Seojoon Oppa. Aku hanya mengangguk. Aku bisa melihat danau yang begitu gelap, cahaya-cahaya kecil dari rumah-rumah disekitarnya, dan aku bisa mendengarkan suara air terjun.

“Tempat ini memang menyenangkan. Tidak terlalu rebut, tapi juga tidak terlalu tenang.” Kataku. Seojoon Oppa tersenyum.

“Aku akan memesan kamar. Kita berlibur beberapa hari disini. Okay?” Tanyanya. Aku mengangguk. Aku tidak terlalu peduli. Aku hanya akan mencoba menurut padanya sekali ini, dia bilang disini bisa menenangkanku.. Apa itu benar?

 

*Seojoon POV*

Aku baru saja selesai memesan kamar ketika aku melihat adik kecilku itu masih melamun dengan tatapan kosong ditempat aku meninggalkannya tadi. Separah itukah dia? Aku menghela nafasku, dan berjalan kearahnya.

“Kau akan berdiri disana dan melamun selamanya?” Tanyaku. Dia memalingkan wajahnya padaku.

“Aku ingin tidur.” Katanya. Aku mengenggam tangannya dan menuntunnya ke kamar.

 

Aku membuka mataku dan melihat Jiyeon yang masih tertidur. Aku bisa melihat air mata keluar dari matanya.

“Dia bahkan menangis dalam tidur?” Kataku pada diriku sendiri. Aku menghapus air matanya selembut mungkin agar dia tidak terbangun. Aku meraih ponselku dan mengecheck jika ada yang mencariku. Aku melihat ada pesan yang masuk di ponselku. Soe Hee?

SH : “Jiyeon ottae?”

SJ : “Aku rasa dia sudah cukup tenang. Gomawo untuk bantuannya kemarin.”

SH : “Araseo.Katakan saja padaku jika kau butuh bantuan. Aku benar-benar khawaitr pada Jiyeon.”

SJ : “Gwencana. Aku akan kabari lagi nanti.”

Aku melihat Jiyeon terbangun dari tidurnya. Aku baru saja menaruh ponselku, dan tiba-tiba ponselku bergetar. Telpon? Nomor tidak dikenal? Aku mengkerutkan keningku, lalu menjawabnya,

“Yobuseo?”

“Jiyeon, ottokae?” Huh? Suara ini?

“Hyung?” Tanyaku menebak.

“Nae. Aku Hoseok. Noneun dongsaeng ottae?” Tanyanya. Aku melihat kearah Jiyeon. Jiyeon baru saja bangun, dan terduduk disamping ranjang.

“Kelihatanya dia baik-baik saja. Saranmu untuk membawanya liburan meamng bagus Hyung, mungkin setelah dia cukup tenang baru aku akan membawanya pulang.” Jawabku.

“Araseo. Good luck.” Katanya lalu menutup telpon. Aku menghela nafas, sedikit tidak percaya, kaget, dan juga lega bersamaan. Aku tidak pernah percaya Hoseok Hyung akan menelponku. Aku kaget dia bisa mendapatkan nomorku dengan mudah. Tapi aku lega, karena dia masih mengingatku.

~flashback on~

Aku baru saja membuka kaleng bir yang baru keluar dari mesin minuman didepanku ketika ada seseorang melingkarkan tangannya dibahuku. Dia mengambil birku dan meminumnya.

“Itu sudah birmu yang ke 5 Hoseok Hyung!” Kataku padanya. Dia tersenyum smirk andalannya dan meneguk habis bir kelimanya.

“5 tidak terasa untukku Seojoon-ah.” Katanya padaku. Aku hanya tertawa kecil.

“Kajja!” Kata Hoseok Hyung mengajakku kesuatu tempat.

“Odi Hyung?” Tanyaku sambil mengikutinya.

“Tentu saja kita pulang.” Katanya.

“Huh? Pulang? Ini masih jam 10 Hyung!” Protesku.

“Lalu?” Tanyanya balik.

“Kau pasti sudah mabuk Hyung! Mana ada laki-laki yang pulang jam segini. Laki-laki itu harusnya pulang pagi. Malah kalau perlu tidak pulang!” Kataku. Dia berbalik dan menatapku dengan senyuman.

“Laki-laki bukan brengsek.” Katanya. Aku tersentak.

“Laki-laki memang harus berani, dan tentunya tangguh. Hardcore! Tapi tidak dengan seperti itu bodoh!” Lanjutnya. Dia memukul kepalaku dengan keras.

“Hyung! Appo!” Kataku protes. Dia tersenyum.

“Seojoon-ah, laki-laki tidak harus seperti gambaranmu! Yang ada di gambaranmu adalah brengsek. Bukan laki-laki!“ Katanya dengan senyuman penuh kepastian. Aku menatapnya sambil mencerna baik-baik perkataanya. Hoseok Hyung memang benar, laki-laki tidak harus seperti itu untuk menjadi laki-laki.

“Pulang?” Tanyanya dengan smirk andalannya. Aku mengerjap, dan mengangguk. Dia merangkulku dan membawaku pulang malam itu. Kami baru saja sampai dikamarku ketika dia berjalan ke wastafel kamarku, dan mencuci wajahnya.

“Mbohae Hyung?” Tanyaku.

“Anya. Aku akan pulang sekarang.” Katanya.

“Tidurlah disini Hyung! Seperti biasanya!” Kataku.

“Ya! Kau punya adik kecil yang harus kau jaga dan kau beri contoh yang baik. Kalau aku keseringan menginap disini, sama saja kau dan aku mencontohkan hal yang buruk. Kalau tidak salah dia 9 tahun dibawahmu kan?” Katanya.

“Hari ini kau sangat bijak Hyung. Apa yang merasukimu?” Tanyaku langsung. Dia tertawa kecil.

“Kita terlalu banyak bersenang-senang. Ada saatnya kita harus serius menjalani hidup kita.” Katanya lalu mengambil jaketnya.

“Hyung-” Aku baru saja akan menahannya ketika Jiyeon membuka pintu kamarku.

“Oppa?” Tanyanya dengan raut wjah terlucu yang pernah aku lihat. Begitu innocent.

“Oppa mu akan segera menemuimu setelah cuci muka. Tunggulah sebentar.” Kata Hoseok Hyung berlutut didepan Jiyeon. Jiyeon mengangguk. Aku melihat kearah Hoseok Hyung. Aku capek, kenapa dia harus bilang kalau aku akan cuci muka dulu? Hoseok Hyung menatapku tajam, mengisyaratkan agar aku segera mencuci muka. Aku berjalan, hampir menyeret diriku sendiri ke wastafel lalu ke Jiyeon.

“Wae Jiyeon-ah?” Tanyaku. Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari sakunya. Permen coklat. Aku terdiam ketika dia memberikan itu padaku.

“Hari ini, aku membuka tabunganku untuk membeli coklat untuk Oppa! Akhir-akhir ini aku jarang melihat Oppa dirumah. Aku akan memberikan coklat ini sebagai hadiah pada Oppa, jika Oppa berjanji akan menghabiskan lebih banyak waktu dirumah. Bagaimana? Setuju?” Tanya Jiyeon begitu lugu. Adik kecilku, merindukanku? Dia ingin aku dirumah? Dia ingin bermain denganku? Dia ingin melihatku? Aku teridam. Hoseok Hyung memegang pundak Jiyeon.

“Jiyeon-ah, tenang saja. Oppamu akan lebih sering berada dirumah. Hoseok Oppa tidak akan mengajak Oppamu keluar terus mulai sekarang. Aku berjanji!” Katanya. Aku tersenyum dan mengangguk pada Jiyeon. Hoseok Hyung benar. Aku terlalu banyak bersenang-senang, sampai aku lupa untuk serius dengan hidupku sendiri. Aku bahkan melupakan orang-orang yang menyayangiku. Hoseok Hyung memang beda. Aku mengangguminya. Setelah hari ini, aku akan mengangguminya, dan terus mengagguminya.

“Miane Jiyeon-ah, aku sering meninggalkanmu. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku akan bersamamu selamanya.” Kataku pada Jiyeon. Jiyeon tersenyum sangat senang dan langsung memelukku.

“Aku pulang dulu. Anneyeong Seojoon-ah!” Kata Hoseok Hyung padaku dan berjalan keluar dari kamarku.

“Hyung!” Panggilku padanya.

“Mbo?” Tanyanya balik.

“Sudah berapa lama kita bermain?” Tanyaku padanya. Dia tertawa kecil.

“Aku menemukanmu dalam keadaan shock dan tidak terurus kurang lebih 4 tahun yang lalu ketika orang tua kalian tidak ada lagi.” Katanya. Aku tersentak.

“Aku sudah bilangkan. Kita sudah terlalu banyak bersenang-senang Seojoon-ah. Sudah cukup pelarianmu, sekarang hadapi hidupmu!” Kata Hoseok Hyung lalu berjalan keluar sambil melambaikan tangannya tanpa melihat kearah kami.

“Hyung.. Gomawo. Aku sangat bodoh 4 tahun ini, gomawo sudah menjaga dan mengurusku.” Kataku.

~flashback off~

 

Dear diary,

Hoseok Hyung begitu sabar dan halus dalam mengatasiku yang begitu pemberontak dan kasar waktu itu. Aku belajar darinya, dia sudah seperti Hyungku sendiri, dan juga role mode ku. Aku menganguminya. Dia menyadarkanku tentang tanggung jawab yang aku miliki yaitu menjaga adik kecilku satu-satunya, Jiyeon. Aku akan mengembalikan Jiyeon seperti semula. Aku pastikan itu dengan cara apapun.

 

10 oktober 2016,

Park Seojoon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s