SUICIDE FORUM [Part 1 : Log In]

suicide-forum-new

Title :

Suicide Forum

 

Author :

Citra Pertiwi Putri / Citrapertiwtiw

 

Genre :

Romance, Mystery, Suspense, Horror-Thriller

 

Casts :

INFINITE’s L / Kim Myungsoo

A Pink’s Son Naeun

INFINITE’s Nam Woohyun

A Pink’s Park Chorong

Girl’s Day Yura

VIXX’s Ken

VIXX’s N

 

Rating :

NC17 (aware for some mature contents)

 

Type :

Chaptered

 

****

 

Hello, readers!

Here’s the winner #eaa. Selamat ya buat yang udah pilih ff ini, wajib RCL loh sampe tamat #ngancem😄 buat yang ffnya belum kepilih, don’t worry.. pasti bakalan dibuat juga kok asal pada setia nunggu aja, hehe. Aku bakalan usahakan untuk terus produktif nulis ff selama kesibukan kuliah atau kegiatan luar masih dalam batas wajar(?)

Well, sepertinya author kebanyakan pembukaan(?), langsung saja ya.

Happy reading!

***

“ Lighting? Ready? 1…2…3…!”

BLAM!

Suasana studio 1 Seoul TV yang semula gelap kini mulai terang, dengan lampu-lampu besar yang menyorot ke arah panggung. Tampak seorang presenter berpakaian formal kerja dan seorang gadis muda dengan jas putih dokter duduk disana, di atas sofa yang akan menjadi tempat mereka berbincang-bincang sejam kedepan.

“ Selamat malam pemirsa, baik yang menyaksikan langsung maupun yang berada di rumah. Jumpa lagi bersama saya, Bomi Yoon, dalam talkshow ‘What Do You Think’, langsung dari studio 1 Seoul TV!”

Terdengar suara riuh tepuk tangan penonton selama beberapa saat. Setelah puas dengan respon audiens, sang presenter melanjutkan pembukaannya.

“…fenomena bunuh diri belakangan ini seolah menjadi tren di tengah masyarakat Korea Selatan. Tak dipungkiri, selain banyaknya beban hidup yang dirasakan oleh masing-masing individu, kehadiran salah satu website populer http://www.killyourself.com membuat tingkat bunuh diri di Negara kita melonjak naik hingga dua puluh persen dari tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil survey dari tim ‘What Do You Think’ terhadap website tersebut, delapan puluh persen dari semua pengguna website tersebut berniat untuk bunuh diri dengan latar belakang stress, depresi, hingga frustasi. Oleh karena itu, pada malam ini saya menghadirkan nona Son Naeun, seorang dokter jiwa, sebagai narasumber kita. Kepada dokter Son, silahkan perkenalkan dirimu.”

“ Dokter Son! Dokter Son!”

Selain tepuk tangan riuh dari para penonton, beberapa dari mereka pun bersahutan memanggil nama gadis berjas dokter yang duduk bersama sang presenter itu. Ia berdiri dengan sopan dan membungkukkan badannya.

“ Selamat malam. Saya Son Naeun, dari Son’s Medical Center. Saya akan menjadi narasumber malam ini.”

Suara tepuk tangan dan sahut-sahutan semakin riuh.

“ Woah.. nampaknya tanpa harus memperkenalkan diri pun Anda sudah dikenal oleh banyak orang.”sang presenter menggoda narasumbernya tersebut.

“ Haha.. saya tidak menyangka. Terimakasih.”Naeun, dokter itu, hanya menjawab dengan pendek sembari tertawa kecil.

“ Yaaa.. seperti yang kita ketahui, pemirsa. Belakangan ini juga dokter Son Naeun menjadi perbincangan dimana-mana. Kecantikannya dan kecerdasannya terekspos ke media karena saat ini ia sedang menangani salah satu idol yang tengah mengalami depresi berat. Kalian tahu siapa?”sang presenter kembali pada penonton.

“ Ken!!! FIX Ken!!!” para penonton menyahut dengan kompak, namun Naeun tak memberi tanggapan apapun.

“ Nah.. dari antusiasme penonton, sepertinya mereka ingin tahu bagaimana kondisi idol kita saat ini. Bisakah Anda menceritakannya sedikit disini? bagaimana kondisi Ken sekarang?”tanya Bomi, sang presenter, sekaligus memulai talk shownya.

“ Hmm..” Naeun berpikir sejenak, matanya bolak-balik menatapi penonton dengan pergerakan bola mata yang menunjukkan keraguan.

“…saya rasa, saya dipanggil kesini untuk berbicara tentang fenomena bunuh diri akibat situs killyourself.com dan penyebabnya. Jadi saya tak bisa membahas pasien saya disini, kecuali saya dibayar lagi.”jawabnya sembari tertawa kecil tanda bercanda. Namun tentu saja itu adalah selipan, ia memang tak ingin membicarakan hal tersebut di muka publik tanpa persetujuan.

“ Oooh..” para penonton bahkan sang presenter nampak kecewa.

“ Baiklah, tidak apa-apa.. lagipula besok pagi akan ada konferensi pers dengan Ken, bukan? Akan ditayangkan live juga oleh Seoul TV.” Bomi mencoba menetralisir situasi.

Naeun mengangguk kecil, mengiyakan perkataan sang presenter.

“…oke, kalau begitu kita langsung masuk saja ke topik utama kita untuk 60 menit kedepan. Anda siap, dokter?”

“ Ya, aku siap.”

Bomi membuka tabletnya dan mulai membaca pertanyaan pertamanya.

“ Oke, Dokter Son.. pertanyaan yang akan saya ajukan disini adalah pertanyaan yang berasal dari masyarakat yang mengirimkan tweet pada tim What Do You Think malam hari ini secara online dan akan kubacakan secara spontan setiap pertanyaan yang masuk dan kemudian saya kembangkan.”

“ Wow, saya merasa mulai gugup.”

“ Hahaha, tenangkan diri Anda, dokter. Seperti inilah acara What Do You Think.”

Para penonton di studio semakin tak sabar dengan jalannya talkshow, suasana studio mendadak sunyi ketika Bomi membacakan pertanyaan pertamanya.

“ Pertanyaan pertama, dari akun twitter @xxxerkim, kami semua ingin tahu, apakah saat ini Anda tengah menangani pasien yang memiliki niat untuk bunuh diri?”

Naeun tersenyum kecil mendengar pertanyaan pertama yang ia terima.

“ Ya. Bahkan lebih banyak dari yang kalian bayangkan. Dan seperti yang telah diketahui juga oleh seluruh masyarakat, Ken adalah salah satunya. Rata-rata pasien yang saya tangani saat ini adalah orang-orang yang telah gagal menghabisi nyawanya sendiri.”

“ Apakah penyebab utama mereka selalu depresi?”

“ Ada beragam gangguan kejiwaan yang menjadi pemicu dari tindakan bunuh diri itu sendiri. Tapi memang, pada kasus yang sejauh ini saya temui lebih banyak disebabkan oleh gangguan depresi. Bahkan saya bisa mengatakan, tidak sedikit penyebabnya juga tidak hanya berasal dari satu gangguan saja. TAPI….”

Suasana studio semakin sunyi ketika sang dokter tiba-tiba menekan nada suaranya.

“…tapi tak sedikit juga pasien yang kutemui adalah orang-orang yang ingin bunuh diri karena masalah yang.. kukatakan sepele. Kupikir ini adalah dampak buruk dari killyourself.com itu! Forum itu membuat mental masyarakat semakin lemah dan terpikir untuk bunuh diri saja jika menghadapi suatu masalah.”

Bomi mampu melihat kilat kemarahan yang sontak muncul di mata narasumbernya. Sesuatu yang tak ia kira sebelumnya.

But, show must go on.

“ Tapi, sebagai seorang dokter.. Anda tahu kan, bahwa daya tahan setiap orang dalam menghadapi masalah itu berbeda-beda?”

Naeun tersenyum sinis.

“ Tentu saja aku tahu. semua orang punya strategi coping yang berbeda. Tapi bukan disitu masalahnya. Forum bunuh diri itu ada di internet, dibuat sedemikian rupa hingga membuat semua orang penasaran dan membukanya. Jika kita sedang dalam keadaan baik-baik saja membuka forum itu, mungkin kita tak akan terpengaruh oleh sekian banyak orang yang berkeluh kesah dan saling mengatur janji untuk bunuh diri bersama-sama. Tapi bagaimana jika orang-orang yang tengah bermasalah dan dalam keadaan tidak stabil yang membukanya? Meski masalah mereka sepele, forum itu secara tidak disadari, ‘menyihir’ mereka untuk tidak mencari pemecahan masalah dan justru berpikir untuk bunuh diri saja. Forum itu terlihat misterius sekaligus menarik, disana semua orang diminta mengeluarkan segala keluh kesahnya dan bunuh diri setelahnya. Forum itu sendiri sudah bersifat menghasut, ditambah lagi orang-orang di dalamnya yang terobsesi dengan bunuh diri.”

“ Jadi, Anda menyesali adanya forum ini?”

“ Ya. Aku sangat menyesalinya. Aku tidak mengerti mengapa sampai sekarang situs itu belum diblokir oleh pemerintah. Bagiku, situs itu benar-benar sampah internet dan telah melakukan pembodohan pada semua orang.”

Para penonton semakin penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh Naeun selanjutnya. Sebab tanpa diduga, narasumber yang hadir malam ini adalah seseorang yang menentang topik utama talkshow.

“ Ya. Pemirsa.. jawaban dari dokter Son sungguh tidak terduga, bukan?” Bomi mencairkan suasana sejenak.

“…seperti yang pemirsa sekalian ketahui, killyourself.com saat ini menjadi situs #1 most visited di Korea Selatan dengan pengguna dari berbagai kalangan yang telah mencapai angka dua juta, dimana tiga puluh persen diantaranya, berdasarkan catatan kasus, memang benar-benar telah melakukan bunuh diri. Hal ini justru menambah ‘daya tarik’ dari forum bunuh diri tersebut karena banyaknya akun orang yang telah meninggal dunia tertinggal disana bersama pesan-pesan terakhir mereka. Selain itu, daya tarik yang kuat pada situs ini juga terletak pada pengelolaannya, dimana tak seorangpun bisa tahu dan melacak siapa administrator dari situs bunuh diri ini. Seperti hantu, pengendali situs ini terus melakukan terobosan baru, salah satunya dengan mengeluarkan layanan akun VIP, dimana pada akun VIP ini, orang-orang yang hendak bunuh diri dibukakan jalan untuk mati secara ‘elegan’ dan mendapatkan berbagai paket persembahan untuk kematiannya. Akun VIP ini biasanya digunakan oleh selebriti dan public figure lainnya.”

“ Gila, bukan?” meski belum ditanya, Naeun menimpali informasi yang disampaikan Bomi kepada audiens.

“ Yah.. tentu saja saya juga berpikir demikian.” sang presenter menyambut perkataannya dengan ramah, “…Ken bahkan sempat membuat akun VIP, bukan?”

“ Hm. Saya rasa masyarakat telah tahu banyak tentang Ken. Tapi perlu diketahui, saat ini Ken tak lagi membuka situs itu, saya terus mengawasinya bahkan meski saya sedang duduk disini.”

“ Wah.. saya sangat lega mendengarnya. Kalian semua juga merasa lega, kan?”

“ Yaaa!” para audiens menyahut dengan ramai, Naeun hanya tersenyum tipis.

“ Oke.. sekarang lanjut pada pertanyaan kedua yang baru saja masuk dari akun twitter @pops44xn..” Bomi kembali pada tabletnya.

“…Dokter Son, awalnya saya mengira sebagai seorang dokter jiwa, Anda menganggap fenomena bunuh diri ini sebagai suatu hal yang dapat dimaklumi, tetapi di talkshow ini Anda justru terang-terangan memperlihatkan kebencian Anda pada para korban bunuh diri belakangan ini karena forum populer itu. Jika sudah dilandasi rasa benci seperti itu, bagaimana Anda menangani pasien-pasien Anda yang gagal bunuh diri hanya karna masalah sepele?”

Naeun tertawa kecil dan menatap kamera, berharap salah seorang pemirsa yang mengiriminya pertanyaan masih stay tune di depan televisinya.

“ Sebelumnya, ada satu hal yang ingin saya luruskan. Acara ini berjudul What Do You Think, dan setiap narasumber yang datang, termasuk saya, menjawab setiap pertanyaan berdasarkan apa yang ia pikirkan. Dengan kata lain, opini pribadi. Meski saya seorang dokter, saya tetap memiliki opini pribadi yang meskipun bertentangan dengan profesi saya, tapi itulah yang saya pikirkan. Kemudian Anda bertanya, bagaimana saya menangani para pasien gagal bunuh diri yang notabene saya ‘benci’? jawabannya simple saja, saya mengandalkan profesionalitas. Di rumah sakit, saya tidak mungkin mengeluarkan uneg-uneg ini pada para pasien, tapi disini saya dibebaskan untuk mengeluarkan apa yang saya pikirkan, dan itulah salah satu alasan saya bersedia dipanggil untuk menjadi narasumber untuk acara ini, saya berharap semua orang setuju dengan opini saya dan ikut berupaya mengurangi munculnya mental-mental pembunuh diri yang lemah. Terimakasih atas pertanyaan Anda, saya sangat senang menjawabnya.”

Terdengar suara tepuk tangan penonton setelahnya. Naeun memberikan jawaban yang sangat jelas tanpa keraguan.

“ Ya, jawaban yang luar biasa! Sekarang kita beralih ke pertanyaan berikutnya, dari akun twitter @wreck_99. Dokter Son, apakah Anda punya akun di killyourself.com? Meski itu hanya akun untuk menjelajah isi situsnya saja?”

“ Haha, tentu saja aku tidak punya.”

“ Tapi Anda pernah membuka situs itu, bukan?”

“ Ya.. pernah.”

“ Apa yang Anda pikirkan saat pertama kali mengakses situs itu?”

“ Aku..”

Gadis itu terdiam sejenak dan sedikit menunduk, menggigit bibirnya yang mendadak gemetar.

*

Musim semi, lima bulan yang lalu..

 

“ Kau tidak benar-benar berniat melakukannya, kan?”

Naeun mencoba menahan tangan lelaki yang tengah memangkunya, lelaki itu sedang menggerakkan mouse komputernya. Kepala Naeun menggeleng berulang kali tanda meminta lelaki itu untuk berhenti melanjutkan niatnya.

“ Kenapa kau takut sekali? Ah.. tampilan situsnya memang seram, ya? apa ini baru pertama kali kau melihatnya?” lelaki itu hanya menanggapinya dengan tawa kecil, tangannya tetap menjalankan mouse.

“ Apa kau menyadari apa yang sedang kau lakukan sekarang, Kim Myungsoo?”

Myungsoo menoleh kearah Naeun dan tersenyum tipis sebelum akhirnya memberikan kecupan singkat di bibir gadis itu.

“ Aku sangat sadar. Oleh karena itu, kau mau menutup mulutmu, kan?”

“ Myungsoo—“

“ Lakukanlah jika kau mencintaiku.”

*

Sial.

Naeun mencoba menekan gejolak dalam dadanya kemudian mengangkat kepalanya lagi, menghadapkan wajahnya ke arah kamera dan ratusan pasang mata audiens sebelum menjawab pertanyaan dari sang presenter.

“ Yang saya pikirkan saat pertama kali mengakses situs itu.. hmm.. yah, saya ‘terkesan’ dengan tampilannya yang menyeramkan dan didesain sedemikian rupa untuk memberikan aura kematian yang kuat. Awalnya saya berpikir itu hanya situs untuk bermain-main, tapi ternyata begitu banyak nyawa ‘disetorkan’ disana. Saya merasa miris.”

“ Yaa.. saya juga setuju dengan Anda, situs itu benar-benar..aigoo..” Bomi mengungkapkan kesetujuannya, “…tapi bagaimanapun juga, pemirsa, killyourself.com telah membius banyak orang hingga saat ini. Nah, apakah dokter Son punya saran untuk siapapun yang penasaran dengan situs bunuh diri ini?”

Naeun mengangguk dan menatap kamera yang menyala dengan serius.

Aku tak peduli apa masalah kalian. Tapi jika kalian memilih bunuh diri untuk menyelesaikannya, kalian adalah orang yang bodoh.”

Suasana hening sejenak. Naeun tersenyum kikuk. Apa ada yang salah dengan ucapanku? Mungkin begitu pikirnya.

“ Woah.. sepertinya siapapun yang gagal bunuh diri akan takut jika dirawat olehmu.” Bomi tak bisa menahan opininya setelah mendengar apa yang diucapkan tamunya itu, namun ia mengungkapkannya dengan sedikit tawa agar tak terjadi ketersinggungan.

“ Haha. Tidak perlu takut, aku akan tetap profesional. Bagaimanapun juga aku seorang dokter yang menempatkan kesembuhan pasien diatas segalanya.”

“ Bagus sekali, dokter Son. Bisa kita beralih ke pertanyaan berikutnya?”

“ Tentu.”

“ Nah.. pertanyaan ini sedikit menjurus, saya harap Anda mau menjawabnya. Dari akun twitter @xxxLee, apakah penyebab percobaan bunuh diri Ken adalah depresi juga?”

Sudah kuduga. Batin Naeun dalam hatinya.

“ Ya.”

Setelah itu ia menatap audiens, nampak semuanya tak puas dengan jawabannya yang hanya sekata. Namun ia tak peduli.

“ Dapatkah Anda menjelaskannya lebih lanjut?”tanya sang presenter yang juga penasaran.

“ Yah.. sepertinya tanpa saya jelaskan pun masyarakat sudah tahu. Saya membaca semua forum di internet yang membahas keadaan pasien saya.”

“ Anda tahu bahwa yang berkembang di masyarakat adalah Ken stress akibat kematian Kim Yura, kekasihnya?”

“ Ya.”

“ Dan Anda membenarkan hal tersebut?”

“ Ya. Pihak medical center mengizinkan saya membenarkan hal ini di muka publik karena masyarakat juga jeli dalam mengamati kasus ini, jadi rasanya sia-sia saja jika kami berusaha menutupinya.”

Suasana studio kembali riuh. Sepertinya rasa penasaran sebagian besar masyarakat telah terjawab malam ini.

“ Akan tetapi, dokter Son, apakah Anda tahu ada lagi hal baru yang berkembang di masyarakat terkait penyebab stress Ken?”Bomi melanjutkan pertanyaannya, kali ini dengan maksud untuk memverifikasi fakta yang lain.

“ Hmm.. aku tak mampu menebaknya. Apakah itu?”

Bomi mengangkat tabletnya dan membaca.

“ Pertanyaan dari akun twitter @xyz123. Dokter Son Naeun, apakah benar bahwa Ken juga stress karena seseorang bernama Kim Myungsoo?”

Pandangan Naeun mendadak kabur untuk sesaat, ulu hatinya terasa perih secara tiba-tiba.

 

“ Mengapa dengan mendengar namanya saja aku harus merasakan sakit sedalam ini?”

SUICIDE FORUM : www.killyourself.com | Chapter [1] : “ Log In”

***

12 September 2016, Musim Gugur, di apartemen pinggiran kota Seoul.

 

“ Jadi.. kau selalu bermimpi buruk setiap malam?”

“ Ya.. sangat buruk.”

“ Apa kau masih ingat mimpi seperti apakah itu?”

“ Aku.. tidak melihat apapun dalam mimpiku, aku hanya mendengar banyak suara orang-orang yang tidak kukenal. Uh.. bukan, mungkin.. lebih tepatnya, aku hanya lupa mereka siapa. Mungkin..”

“ Ada apa dengan suara mereka dalam mimpimu?”

“ Semuanya menghujatku, dengan sangat menyakitkan. Suara-suara itu mengatakan bahwa aku memang pantas hidup seperti ini, bahkan mereka berharap aku mati saja secepatnya. Tapi.. di akhir dari mimpi itu, aku juga selalu mendengar suara seorang perempuan, suara perempuan itu satu-satunya yang mengatakan bahwa aku  harus tetap menjalani hidupku, dia mendukungku.. aku tak tahu itu siapa, dan itu membuatku penasaran setengah mati..”

“…”

Lelaki lumpuh itu sedikit mengeryitkan dahinya, heran karena dokter pria di depannya tidak bereaksi setelah mendengarkan ceritanya dan hanya menulis.

“ Dokter Lee, apa kau tahu mengapa aku terus bermimpi mendengar suara-suara itu?”

“…”

“ Dokter..”

“ Hm, entahlah. Mungkin kau punya kesalahan besar di masa lalu, Kim Myungsoo.”setelah banyak diam, sang dokter hanya menjawab dengan singkat dan pedas.

Myungsoo, lelaki lumpuh itu, menghembuskan nafasnya dengan kesal, sepertinya ia telah buang-buang energi mengingat-ingat mimpi buruknya. Pada kenyataannya, dokter pribadinya ini sama sekali tak bisa menjadi ‘teman’ yang baik.

“ Lalu bagaimana menurutmu tentang suara perempuan itu?”meski kesal, Myungsoo tetap meminta sarannya, selama lima bulan ini ia tak pernah berbicara pada siapapun kecuali dokter menyebalkan di depannya.

“ Aku tidak tahu. Mungkin ada wanita yang mencintaimu di luar sana.”

Myungsoo menunduk.

“ Jika ada.. seharusnya dia sudah datang kesini.”

Sang dokter tertawa sinis.

“ Nah, sekarang kau bisa simpulkan sendiri, kan?”

Ia berdiri dan bersiap untuk pulang.

“…mengapa obat-obatanmu masih bersisa? Kau harus terus meminumnya sesuai jadwal.”sebelum beranjak, ia meletakkan beberapa bungkus obat di samping tempat tidur Myungsoo.

“ Sejujurnya, aku semakin sering gelisah dan bermimpi buruk setelah mengonsumsi itu.”sela Myungsoo pelan, namun sang dokter mendengarnya.

“ Jadi kau berpikir aku yang membuatmu seperti itu?”

Myungsoo sedikit gemetar, sadar bahwa ia telah membuat dokternya tersinggung.

“ Maaf.”

“ Minum saja obatmu dan jangan berpikir macam-macam. Oh ya, besok kau akan dipegang oleh dokter baru. Aku tidak bisa lagi datang kesini karena banyak urusan di medical center.”

Myungsoo mengangguk saja, lalu membiarkan dokternya berjalan sendiri menuju pintu apartemennya.

Sesaat setelah dokternya pergi, lelaki itu melirik obat-obatan disampingnya.

“ Haruskah aku tetap meminumnya? Walaupun aku merasa kau ingin membunuhku pelan-pelan..”

Myungsoo tak punya pilihan. Setelah meminum semua obatnya, ia memejamkan matanya.

***

 

“ Naeun! Naeun-ssi? Kau baik-baik saja?”

Naeun menoleh pelan ke arah pintu backstage, nampak seorang lelaki berlari kecil menghampiri sofa tempatnya bersandar.

“ Kenapa kau kesini?”tanya gadis itu pelan sembari memutar kembali bola matanya kedepan.

“ Kau pikir aku masih tenang jalan-jalan saat menerima telepon dari staf dan mendapat kabar kau hampir pingsan di panggung?”

Lelaki itu menyentuh keningnya sejenak kemudian mengeluarkan sekotak pil dari saku celananya.

“ Minum ini. Setelah itu kita pulang.”

“ Tidak usah.”

“ Hei, jangan begitu—“

“ Dokter Son, bagaimana keadaanmu?” Bomi kembali dari ruang makeup dan mengunjungi tamunya yang masih bersandar di sofa.

“ Aku baik-baik saja sekarang. Kita bisa lanjutkan siarannya.”jawab Naeun yakin.

“ Dia pucat. Aku ingin membawanya pulang. Bisakah diakhiri saja acaranya?”lelaki itu mencoba melobi sang presenter.

“ Wah, Anda.. siapanya Dokter Son, ya?”tanya sang presenter dengan sedikit salah tingkah.

“ Itu tidak penting sekarang, aku tanya apakah Naeun bisa kubawa pulang?”

“ Ah.. bagaimana ya, ini acara live, tidak mungkin—“

“ Woohyun-ssi, aku bisa tampil lagi sekarang. Aku akan baik-baik saja.” Naeun memotong dan beranjak dari sofa kemudian sedikit menarik lengan Bomi.

“…maafkan aku, sudah terlalu lama commercial break, ya?”sambung gadis itu canggung, Bomi mengangguk.

“ Apa kau sungguh telah merasa baikan?”tanya presenter itu, Naeun menggangguk pelan kemudian melirik Woohyun yang masih di menggerutu dengan kesal di sampingnya.

“ Pergilah. Chorong dan Chohyun menunggumu di mobil, kan?”bisik Naeun.

“ Aku akan ke bangku penonton.”Woohyun tak menjawab pertanyaannya dan keluar dari ruangan.

***

 

“ Kembali lagi bersama saya, Bomi Yoon, dan dokter Son Naeun di What Do You Mean!”

Penonton kembali bertepuk tangan dengan antusias, menyambut lagi sang narasumber yang sempat nyaris jatuh pingsan beberapa saat yang lalu dan terpaksa menunda jalannya acara selama kurang lebih setengah jam.

“…sebelumnya mohon maaf atas kejadian yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu. Dokter Son merasa sangat lelah karena seharian ini ia mengurus banyak pasien. Tapi demi pemirsa sekalian, ia memutuskan untuk melanjutkan acara malam ini.”sambung Bomi.

“ Ya. maafkan saya. Sekarang saya merasa lebih baik. Jadi tolong kembalikan channel kalian ke Seoul TV.”ucap Naeun sembari tersenyum sopan.

“ Sebelum kita kembali pada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab oleh dokter Son, saya penasaran akan suatu hal.”

“ Apa itu, Bomi-ssi?”

“ Lelaki yang ada di belakang tadi.. siapa dia? Ia kelihatannya sangat khawatir pada Anda.” Bomi bertanya dengan santai dan sedikit tertawa, namun membuat penonton sedikit riuh.

“…haha, saya serius, pemirsa. Mungkin ini juga bisa menjadi informasi yang baik untuk para fans Ken. Karena seperti yang kita ketahui, sangat banyak fans dari Ken yang merasa sangat cemburu dengan dokter Son.”tambah Bomi, Naeun tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

“ Haha, kalian tidak perlu cemburu. Saya sudah menikah, dan pria yang dimaksud oleh Bomi tadi adalah suami saya, ia juga seorang dokter. Ia sekarang menunggu saya di bangku penonton.”jawab Naeun tanpa keraguan.

Meski tenggorokannya sedikit tercekat.

Penonton menjadi lebih berisik dari sebelumnya, mereka bahkan mencari-cari sosok yang dimaksud oleh sang dokter.

Nam Woohyun yang berada di tengah-tengah mereka tersenyum sinis.

“ Ckck, wanita malang.”

******

 

“ Manusia tidak berguna!”

“ Kau tidak bisa melakukan apapun!”

“ Menyusahkan!”

“ Selamanya kau hanya akan hidup seperti ini.”

“ Semua orang akan meninggalkanmu!”

 

“ Myungsoo, kau harus melanjutkan hidupmu.”

 

“ TIDAAAAAAKKKK!!!!!”

Sial.

Mimpi buruk yang sama setiap malam.

Suara-suara keras itu datang lagi.

Suara wanita itu juga datang lagi.

Myungsoo bersandar pada dinding marmer apartemennya yang dingin, mencoba mengendalikan nafas dan membiarkan keringat dingin mengucur keluar dari kening hingga punggungnya. Ia juga membiarkan rasa sakit yang berkedut di beberapa titik tubuhnya, terbangun dengan hentakan keras membuat luka-lukanya terasa lagi. Ia bahkan tak bisa menangis lagi menahan rasa sakitnya.

Dengan susah payah, lelaki itu meraih ponsel mewah berwarna hitam di meja samping tempat tidurnya, memegang benda itu sejenak.

BRAK!

Lalu melempar benda itu ke kaca lemarinya hingga suara pecahan yang keras terdengar dan mengusik kesunyian malam.

“ Brengsek! Bahkan pola untuk membukanya saja aku masih tidak ingat!” jeritnya, jemarinya meremas rambut hitamnya yang acak-acakan.

Ia selalu bangun dalam keadaan seperti ini. Seakan-akan ada sesuatu yang memaksanya untuk mengeluarkan semua amarahnya. Wajar jika ia terkadang berpikir bahwa ini adalah efek dari obat-obatan yang ia minum. Ia sama sekali tidak merasa lebih baik dan justru merasakan kekacauan.

DUK! DUK! DUK!

“ HEI CACAT! BISAKAH KAU TENANG!!? TIDAK LIHAT INI SUDAH JAM BERAPA!!?”

Lelaki itu terdiam. Suaranya sudah habis dan ia juga sudah bosan untuk balik memarahi tetangga sebelah apartemennya. Karena memang ini salahnya yang tak berhenti-berhentinya histeris setiap tengah malam ketika mimpi buruk kembali mendatangi tidurnya. Satu-satunya alasan mengapa sebelumnya ia balik memarahi tetangganya hanyalah karena ia dipanggil ‘cacat’.

Tapi kini ia sadar, memang seperti inilah keadaannya sekarang.

“ Maaf, Tuan.”

Ia hanya menyahut pendek, setidaknya agar tetangga itu pergi dari depan pintunya.

Setelah itu ia bergeser pelan dan menarik kursi rodanya, dengan susah payah memindahkan dirinya kesana. Meski sulit, ia sudah mulai terbiasa melakukan semuanya sendirian.

Krr..~

Myungsoo menghentikan kursi rodanya di depan meja kerjanya dan meletakkan secangkir kopi di samping komputernya lalu mulai menyalakan benda itu untuk pertama kalinya setelah lima bulan.

“ Semoga komputer ini tidak pakai kata sandi..” gumamnya dengan perasaan yang sudah jengkel.

Jika malam-malam sebelumnya ia memaksakan diri untuk melanjutkan tidurnya setelah bermimpi buruk, malam ini ia memutuskan untuk tidak lagi melakukan hal itu. Sepertinya, lama kelamaan ia menjadi takut untuk tidur.

Kecelakaan tragis lima bulan lalulah yang mengundang mimpi-mimpi itu datang dalam tidur Kim Myungsoo, karena ia selamat dan hanya berakhir cacat lalu kehilangan segalanya, termasuk separuh memori otaknya.

Ia menjadi manusia yang tidak berguna dalam sekejap.

Lumpuh di kedua kakinya, semi-amnesianya, dan gangguan-gangguan psikologis yang sempat dialaminya pasca kecelakaan membuat semua orang mulai menghilang dari kehidupannya, termasuk keluarganya, yang hanya meletakkannya sendirian di dalam apartemennya dan berjanji akan membayar uang sewanya setiap tahun karena Myungsoo juga kehilangan pekerjaannya sebagai fotografer profesional.

Mereka tak ingin tinggal dan merawat Myungsoo. Alasannya? Entah. Myungsoo bahkan tak ingat apakah ia adalah anak yang baik atau musuh dalam keluarganya.

Bagaimana dengan orang yang mencintainya? Myungsoo juga sama sekali tak ingat apakah ia punya kekasih. Ia bahkan tak ingin mengakuinya sekalipun ia punya, karena ia terlalu malu dengan kondisinya saat ini. Lagipula ia yakin kekasihnya akan meninggalkannya jika ia sudah seperti ini. Jadi, daripada ia dicampakkan, lebih baik tidak mengakuinya duluan.

Ting!

Ia sedikit tersenyum melihat tampilan desktop komputernya.

“ Syukurlah, tidak ada password seperti ponsel sialan itu.”

Dan Myungsoo juga bersyukur karena ia masih ingat cara menggunakan komputer.

Lelaki itu mengamati wallpaper desktopnya. Foto seorang wanita yang memunggunginya dengan menghadap ke pantai, menatap matahari terbenam dengan mengenakan satu stel bikini berwarna merah. Rambutnya panjang menjuntai dan kepalanya mengenakan topi yang berwarna senada dengan baju pantainya.

Tubuhnya sangat ramping dan kulitnya begitu putih.

Myungsoo menelan saliva dan darahnya mulai bergejolak.

Demi apapun, apa perempuan seksi ini pacarku? Apa seperti ini seleraku?”

Mengetahui pekerjaannya sebagai seorang fotografer, Myungsoo yakin ialah yang menangkap gambar ini dengan begitu indah. Sejenak, pikirannya pun mulai tertuju pada suara perempuan yang selalu ia dengar di akhir mimpi buruknya.

“…apa perempuan ini..”

Lelaki itu menggerakkan mousepadnya dan mulai membuka-buka folder pribadinya, mencari gambar-gambar lain yang memperlihatkan wajah gadis itu.

>>masukkan kata sandi Anda<<

 

SHIT!”

Untuk kesekian kalinya ia mengumpat. Semua folder tempat ia menyimpan foto-foto hasil tangkapannya terkunci. Apa ia bekerja untuk majalah dewasa dan memotret gambar-gambar erotis? Seperti gadis yang ada dalam desktopnya.

“ Hidupku sebelumnya pasti sangat menyenangkan..”

Myungsoo mulai frustasi lagi, ia bahkan tak bisa mengenali dirinya sendiri lebih jauh karena ia sendiri yang merahasiakannya. Mengapa hidupnya penuh dengan kata sandi?

“ Mungkin aku punya catatan, aku punya banyak password, tidak mungkin aku tidak mencatatnya.”

Myungsoo sedikit memundurkan kursi rodanya kemudian menarik laci meja.

Bukan catatan yang ia temukan, justru seonggok kamera mahal yang telah hancur dan rusak parah, bahkan terdapat beberapa bercak darah disana.

Jelas, kamera ini ada bersama Myungsoo pada saat kecelakaan.

Tak lama, lelaki itu menyadari bahwa terdapat note kecil menempel pada benda tersebut.

Kau pernah bilang benda ini adalah hidupmu yang bahkan jauh berharga dibanding aku.

Seperti inilah hidupmu sekarang, Kim Myungsoo. Hidupmu telah hancur.

Keluargamu bahkan meninggalkanmu, aku tak punya alasan untuk mempertahankanmu.

Jadi, maafkan aku. Kita cukup sampai disini saja.

Aku ingin punya masa depan yang cerah, aku tak ingin hancur bersamamu.

Mulai sekarang, aku akan mencoba menjalani semuanya dengan Nam Woohyun.

Selamat tinggal.

 

Tulisan dalam surat kecil itu perlahan menghilang, luntur dengan airmata.

Jadi benar, ia memiliki kekasih. Namun tak sesuai harapan, karena ialah yang dicampakkan duluan.

“ AAARRGGGGHH!!!!”

Myungsoo meraih kameranya, membantingnya dengan keras ke lantai hingga benda tersebut semakin hancur. Emosinya memuncak ketika ia tak mampu menginjak-injak benda itu dengan kaki lumpuhnya.

“ KALIAN TIDAK PERLU MENINGGALKANKU!!! AKU YANG AKAN PERGI! AKU YANG AKAN PERGIIIII!!!!!!!!!!!”

“ HEI CACAT! SUDAH KUBILANG BISAKAH KAU TENANG!!? TIDAK LIHAT INI SUDAH JAM BERAPA!!? CACAT SIALAN!”

Hah, tetangga itu datang lagi.

Myungsoo menggerakkan kursi rodanya dengan cepat ke arah pintu, membukanya.

“ Apa?”

“ KAU TANYA APA? KAU SUDAH GILA!?”

Lelaki itu tersenyum sinis mendengarnya.

“ Ya, aku memang sudah gila.”

“ Brengsek, lama-lama aku juga akan gila..” sang tetangga mengacak-acak rambutnya dengan depresi, telunjuknya mulai mengarah pada wajah tampan lelaki cacat di depannya.

“…DIAMLAH ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU, PAHAM?”

Sekali lagi, Kim Myungsoo tersenyum sinis.

“ Tidak perlu membunuhku, Tuan. Aku tak mau merepotkanmu. Aku akan membunuh diriku sendiri.”

BRAK!

Ia mundur dan mengunci pintunya.

“ HEI! KIM MYUNGSOO!!!!”

***

“ Selamat, Son Naeun. Kau berhasil menghindari semua pertanyaan yang berhubungan dengan Kim Myungsoo.”

Naeun menurunkan ponselnya sejenak dan menoleh dengan wajah kesal ke arah Woohyun yang menyetir di sampingnya.

“ Sebaiknya kau berhenti bicara jika tak ingin aku drop lagi.”sahut gadis itu jengkel.

“ Aah.. jadi ternyata benar kau sempat menunda talkshow karena drop mendengar nama Kim Myungsoo dari mulut presenter itu?”

“ Nam Woohyun, kumohon—“

“ Kau harus terbiasa, Son Naeun. Sampai kapan kau akan seperti ini?”

Naeun kembali menghadap ke depan sembari memijat kepalanya yang mendadak sakit.

“ Kemana saja kau tadi?”gadis itu mengalihkan pembicaraan, “…banyak yang operasi hari ini?”

“ Tidak juga.”

“ Lalu?”

“ Aku mengajak Chohyun jalan-jalan, hari ini dia mengucapkan kata pertamanya.”

Naeun tersenyum tipis, “ Wah. Jadi ia sudah pandai berbicara sekarang? Aku tahu dia akan sepintar orangtuanya.”

“ Aku masih menunggu kau ikhlas mengucapkan kalimat itu.”

“ Ah.. jadi aku masih terdengar tidak ikhlas, ya?”

“ Chorong juga berpikir begitu.”

“ Chorong.. dimana dia sekarang?”

“ Pulang dengan Chohyun, pakai taksi.”

“ Ia tidak marah?”

“ Ia akan marah seumur hidupnya.”

Naeun menutup mulutnya, enggan melanjutkan pembicaraan.

“ Hei, berhenti sebentar di supermarket.”gadis itu mengubah topik.

“ Mau beli apa?”

“ Biasalah.”

“ Bisakah kau berhenti minum dulu? Lebih baik malam ini kau merenungi semua perkataanmu di TV barusan.”

“ Memangnya ada yang salah?”

“ Entahlah. Aku hanya merasa pendapatmu tentang forum bunuh diri itu sedikit.. kontroversial.”

“ Maksudmu?”

“ Menurutku kau harus lebih menjaga wibawamu sebagai dokter. Kau terlalu menampakkan kebencianmu pada orang-orang yang berniat bunuh diri di situs itu. memangnya apa salah mereka? Merekalah yang lebih tahu apakah harus melanjutkan hidup atau tidak.”

Naeun tertawa sinis.

“ Apa salah mereka? Mereka membuatku repot. Jika mereka langsung mati ya tidak masalah, tapi jika mereka gagal bunuh diri, mereka pasti dilarikan ke rumah sakit jiwa. Aku muak mengurusnya. Jumlah pasienku membludak gara-gara forum itu.”

“ Bukankah itu sudah jadi konsekuensi pekerjaanmu? Pasienku juga semakin banyak karena forum itu, dalam sehari aku bisa membedah banyak orang yang mengalami pendarahan hebat atau mengeluarkan racun dari tubuh mereka. Lagipula kita bukan satu-satunya dokter yang terbebani oleh fenomena ini.”

“ Aku tahu.”

“ Lalu mengapa kau harus sebenci itu pada mereka?”

“ Mungkin.. karena sampai sekarang aku belum menemukan satupun dari masalah mereka yang lebih berat dari masalahku.”

“…”

Woohyun tahu akan kemana arah pembicaraan mereka.

“…aku dokter jiwa, aku tahu semua masalah mereka dengan lengkap. Bagiku sejauh ini masalah mereka tak ada yang lebih berat dari masalahku, dan mereka sudah ingin bunuh diri saja. Sedangkan aku disini masih berusaha untuk hidup—“

“ Meski ketergantungan dengan alkohol?”

Naeun tersenyum getir.

“ Aku tak punya pelarian lain. Setidaknya disaat aku mabuk, aku bisa berkhayal bertemu dengannya.”

“…Dengan Kim Myungsoo, pelarianku yang sesungguhnya.”

***

“ Bunuh diri? Apa itu yang kuucapkan barusan? Aku tolol atau apa?”

Myungsoo langsung menertawakan dirinya sendiri di balik pintu. Perasaannya benar-benar sedang bergejolak dan ia tak tahan dengan keadaannya saat ini, mungkin itulah yang membuatnya secara sadar atau tidak, melontarkan kalimat barusan pada tetangganya.

“…jika saat kecelakaan itu aku langsung mati, mungkin itu lebih baik..”

Ia menjalankan kursi rodanya lagi, kembali pada komputernya yang masih menyala. Tangannya kembali menyentuh mousepad, mencoba membuka program lain yang sekiranya bisa mengungkapkan siapa dirinya, ia sudah menyerah membuka semua folder pribadinya yang terkunci.

“ Ah! Browser..mungkin aku punya sosial media..”

Myungsoo membuka browsernya, tujuan awalnya batal sesaat ketika ia membaca riwayat akses terakhir pada browsernya, yang kemungkinan besar ia lakukan sebelum kecelakaan.

Riwayat akses terakhir :

http://www.killyourself.com/user/DarkAngel/profile (diakses pada 11.30 PM)

http://www.killyourself.com/user/DarkAngel/forum/pick-one-suicide-alone-or-together-and-why/page/10 (diakses pada 11.20 PM)

http://www.killyourself.com/user/DarkAngel/forum/share-your-reasons-to-kill-your-self/page/13 (diakses pada 11.15 PM)

Kill yourself? Seperti situs bunuh diri.. sialan, mengapa bisa kebetulan? Aku sungguh tidak ingat apa-apa tentang ini..”

Rasa penasaran langsung menjalari pikirannya, tanpa ragu Myungsoo segera mengakses salah satu riwayatnya.

Selamat datang di killyourself.com, your biggest suicide forum.

Wait, kau belum mati, DarkAngel?

(bukan DarkAngel? Login/Sign Up)

 

“ Situs sampah macam apa ini? Welcomenya benar-benar mengerikan..”

Mata elang lelaki itu masih mengamati tampilan situs yang ia buka.

Layout­nya berwarna dasar putih dengan ‘hiasan’ beberapa bercak darah yang nampak kontras. Di ujung kanannya terdapat bar menu berbentuk tali tambang tersimpul yang biasa digunakan untuk gantung diri.

Aura kematian benar-benar terasa hanya dengan melihat latarnya saja.

“ Siapa founder situs aneh ini, ya? mungkin dia sendiri sudah mati, hahaha.” Myungsoo tertawa ringan, mencoba menghibur dirinya dengan lelucon mengerikan yang muncul di kepalanya sesaat setelah menatap tampilan situs tersebut.

Baiklah, kembali pada masalah utamanya.

Myungsoo masih bertanya-tanya mengapa komputernya sudah terdaftar menjadi salah satu pengguna situs ini dengan username DarkAngel.

“ Apa sebelum kecelakaan aku sempat ingin bunuh diri? Tapi nama ‘DarkAngel’ sama sekali.. tidak terpikirkan, apa memang ini aku? Ini nama yang aneh sekaligus bodoh.”

Ini karena Myungsoo selalu yakin bahwa kehidupannya sebelum kecelakaan sangat menyenangkan, maka itu ia heran, atas motif apa ia ingin bunuh diri, jika memang benar ini adalah dia? Ia sungguh tak habis pikir.

“…profilnya.. baiklah..”

Klik. Ia memeriksa keadaan akunnya.

Status : Lima bulan lalu, 08.15 AM

DarkAngel- SELAMAT TINGGAL DUNIA.

Status : Lima bulan lalu, 07.00 AM

DarkAngel- Aku memilih pisau milik Chef Cha yang selalu memasak makanan favoritku. Aku akan merindukanmu, chef!

Status : Lima bulan lalu, 00.00 AM

DarkAngel- Teng! Tepat jam 12. Ini adalah hari pernikahannya. Sekaligus tanggal kematianku. Alangkah bahagianya jika ia berlari kencang keluar dari gereja saat mendengar kabar kematianku, lalu memberiku pertolongan pertama dengan kehebatannya sebagai dokter. Tapi aku tak akan banyak berharap. Aku juga tak akan berdoa untuk kebahagiaan rumah tangganya.

Aku telah mengutukmu, Nam Woohyun.

“ TIDAK MUNGKIN.. SIAPA INI!? Nam Woohyun juga.. siapa?! Nam Woohyun?”

Myungsoo menunduk, menatap pecahan kamera beserta catatan kecilnya di lantai. Dengan susah payah, ia meraih kembali catatan tersebut, membaca ulang pesan dari seseorang yang kemungkinan besar adalah kekasihnya.

“Mulai sekarang, aku akan mencoba menjalani semuanya dengan Nam Woohyun.

Selamat tinggal.”

Lelaki itu memegangi kepalanya, berpikir keras. Apa separah ini amnesianya? ‘Nam Woohyun’ pasti orang yang cukup penting dalam hidupnya. Status bunuh diri dan surat kecil itu bisa saja memiliki keterkaitan.

Tapi Myungsoo tak tahu, benar-benar tak tahu dan tak ingat apa-apa. Yang ia yakini hanyalah, ia bukanlah orang yang menulis status bunuh diri bernama ‘DarkAngel’ ini. Meski akun tersebut entah bagaimana ceritanya terregistrasi di komputernya, ia memiliki perasaan yang kuat bahwa ini bukanlah dirinya, entah mengapa.

“ Apa aku lupakan saja? Daripada aku semakin gila. Lagipula sekarang hidupku sudah terasing begini. Ini bukan masalahku lagi.”

Myungsoo menyerah, ia segera log out dari akun itu, masih dengan keyakinan seratus persen bahwa itu bukan dirinya, jika demikian, apakah ia berbagi komputer dengan orang lain?

Kepalanya mulai sakit lagi karena otaknya masih memaksanya berpikir keras meski ia tak mau, ia tak ingat apapun.

“ Brengsek.. siapa dia!? Ah! Aku tidak peduli! Sudah pasti orang lain.. lebih baik aku buat akun sendiri..”

Myungsoo mulai memainkan jemarinya di atas keyboard, mengisi beberapa form  untuk mencoba bergabung dalam situs bunuh diri tersebut. Alasannya? Ketimbang memang berniat bunuh diri seperti yang ia katakan pada tetangganya, saat ini rasa penasarannya lebih besar. Terlebih ketika ia menemukan sesuatu yang mengerikan pada akun ‘DarkAngel’ yang sudah ia log out barusan.

Ia benar-benar penasaran, namun terlalu ragu dan takut untuk mencari tahu.

“ Baiklah.. lupakan.. lupakan saja. Aku tak bisa memaksakan diriku untuk mencari tahu, aku benar-benar tak ingat apapun tentang akun sinting itu..”

Myungsoo berusaha menenangkan pikirannya, sekarang ia melakukan scrolling pada beberapa forum yang muncul.

Judulnya… aneh-aneh. Seperti yang diakses oleh ‘DarkAngel’ dan terlihat di riwayat peramban.

JOIN WITH ME! Let’s commit suicide together in different ways! (Ayo bunuh diri bersama-sama dengan cara yang berbeda), Buat semua orang menyorot kematian kita! – 802.324 komentar

-CELEBRITY CORNER (VIP Only) – 642.434 komentar

Jual peralatan bunuh diri. CUCI GUDANG, discount up to 90%! – 564.332 komentar

Fuck with life. Let’s Die Together (wilayah Busan join us!) – 200.213 komentar

-[ASK] Apa aku bisa mati jika masturbasi berlebihan? – 200.112 komentar

 

“ Wow. Ini benar-benar perkumpulan orang gila. Bahkan artis-artis juga masuk kesini?”

Rasa penasaran itu datang lagi, Myungsoo membuka forum dengan komentar terbanyak, ingin tahu apa yang sedang dibicarakan di dalam sana.

JOIN WITH ME! Let’s commited suicide together in different ways! (Ayo bunuh diri bersama-sama dengan cara yang berbeda), Buat semua orang menyorot kematian kita!

Diposting oleh : XXX_Lee03 | 08.12 PM

Problem : Aku benar-benar akan mengakhiri hidupku, guys. Aku tak punya alasan lagi untuk hidup sejak orangtuaku bercerai. Tapi aku tak ingin mati dengan cara yang biasa, aku ingin berkumpul dengan orang-orang yang memiliki niat sama denganku, dan kita bunuh diri bersama dengan cara kita masing-masing.

Wanna join with me?

Ayo kita pergi ke surga atau neraka bersama-sama. Tentukan waktu dan tempat, lalu cara apa yang akan kau tempuh. Aku sendiri akan menenggak racun.

-Top Comments-

Sungwonapplecandy : Akhirnya! Kupikir aku akan sendirian. Aku sudah muak dengan skripsi. Mari bertemu dan pesta racun bersama, Howon_Lee03 !🙂

EjJung_K93 : Apa gadis boleh bergabung?Dunia ini sudah tidak aman bagiku.

XXX_Lee03 : Tentu saja. Mungkin setelah mati kita bisa berkencan, haha!

OHaesook96: Lagi-lagi tidak lulus masuk universitas. Kupikir lebih baik berkencan dengan kalian setelah mati.

Sungwonapplecandy : Baiklah. Howon_Lee03 dengan EunjiJung_K93, aku dengan OHaesook96. Ada lagi??? :3 hahaha

6969 : Gila. Kita sedang merencanakan bunuh diri atau kencan buta?😄

XXX_Lee03 : Kencan buta setelah bunuh diri. Entah di surga atau neraka. LOL

By the way, kau ikut, 6969?

6969 : Acc. Tapi aku tidak mau racun. Potong nadi lebih menantang, guys. Aku ingin mantanku melihat aku berdarah banyak untuknya.

Sgyu89 : Setuju dengan 6969, aku bisa pinjamkan beberapa silet yang tajam untuk kalian.

6969 : Hei Sgyu-ssi, tetua forum. kupikir kau sudah mati setelah forum terakhir. Bukankah kau terjun dari lantai 8 kantormu?

Sgyu89 : Aku gagal mendarat di tanah, semua pegawai menyelamatkanku dengan meletakkan matras. Dan sekarang aku patah tulang. Sial, bukan? Jadi tolong aku, jemput aku di rumah sakit Son Medical Centre.

6969 : Hahaha, aku tidak tahu apakah aku harus tertawa atau kasihan padamu.

Sungwonapplecandy : Kau pasti sangat membenci matras sekarang. LOL

DarkAngel : Kau seharusnya bersyukur karena tak jadi mati.

6969 : Hahaha, siapa ini, DarkAngel?

 

Myungsoo terhenyak.

Akun itu? ‘DarkAngel’? Ia sedang berada di forum itu?

“ Tidak mungkin.. pasti hanya sama usernamenya. Mungkin saja situs ini mengizinkan semua orang memakai username yang sama.. hal semacam itu bisa saja terjadi.”

Myungsoo berusaha berpikir positif, ia benar-benar tak ingin peduli namun nama ‘DarkAngel’ perlahan-lahan mengganggunya.

Mengapa bisa kebetulan lagi? Myungsoo mencoba mengakses profilnya, namun ternyata profilnya berada dalam mode private.

“…baiklah. Lupakan, Kim Myungsoo. Lupakan. Ini sama sekali tidak penting.”

Ia membuang rasa penasarannya jauh-jauh dan mulai menguasai diri dengan pikiran positif. Setelah itu kembali melanjutkan kegiatannya membaca isi forum yang nampaknya tengah tegang karena seorang user kontra disana.

DarkAngel : Halo semuanya. Kalian yakin bunuh diri adalah jalan satu-satunya?🙂

Sungwonapplecandy : Jangan bilang kau akan mencuci otak kami agar tidak jadi bunuh diri, DarkAngel.

DarkAngel : Sayangnya.. iya.

EjJung_K93 : LOL

XXX_Lee03 : Haha. ada malaikat hitam yang mengganggu forumku rupanya. Pergilah sebelum lebih banyak komentar yang memojokkanmu.

DarkAngel : Tidak masalah. Semakin banyak semakin bagus. Semakin banyak yang akan berubah pikiran.

OHaesook96 : Konyol. Kau pikir kami akan terpengaruh?

>>view all 521.024 comments above<<

EjJung_K93 : Lihatlah DarkAngel itu, masih belum lelah berceramah.

Sgyu89 : Kau berkicau di tempat yang salah, DarkAngel. Lmao

Sungwonapplecandy : Howon_Lee03 benar, semakin banyak orang yang berkomentar buruk padamu. Kau yakin masih tidak ingin menyerah?

6969 : Bunuh diri saja bersama kami, DarkAngel. Kau begitu menyedihkan. HAHAHA

DarkAngel : Aku tidak akan menyerah sebelum kalian semua berubah pikiran. Kalian bisa baca ulang semua komentarku di atas🙂

XXX_Lee03 : Baru saja cek ranking post dan postingan ini naik ke peringkat 1 dengan komentar terbanyak. Sialan, aku sama sekali tidak bangga karena DarkAngel pengacau ini. Bisakah kau pergi!?

DarkAngel : Kupikir aku tidak akan leave sebelum kalian berubah pikiran🙂

OHaesook96 : -_-

Anonim1 : Aku jadi semakin bersemangat memojokannya.

Yesterday_a : Ceramahmu semuanya hanya omong kosong, DarkAngel

Manonfire4__: Kami yang akan membuatmu ikut bunuh diri, DarkAngel.

 

“ Mengapa ini justru terlihat menarik? Bunuh diri bersama-sama? Dan.. DarkAngel itu?”

Myungsoo menarik satu ujung bibirnya, tangannya mulai aktif mengetik lagi di atas keyboard.

Kim_Myungsoo : Baru saja bergabung. Apakah semua yang ada disini benar-benar akan bunuh diri? kalau iya, artinya aku menemukan forum yang benar.

Yesterday_a : Selamat bergabung, Kim_Myungsoo! tunjukkan foto profilmu.

Lmao_r : Yap! Biarkan kami mengenalimu.

Anonim1 : Kim Myungsoo? Sepertinya aku pernah dengar nama itu. tapi aku lupa dimana, haha.

XXX_Lee03 : Aku juga, aku pernah dengar namamu di TV. Tapi aku tidak begitu yakin.

Kim_Myungsoo : Sebentar ya. aku tidak ingat dimana aku menyimpan folder fotoku sendiri.

XXX_Lee03 : Bagaimana bisa?

Kim_Myungsoo : Aku.. amnesia. Semi-amnesia. Haha,sial bukan?

Sungwonapplecandy : Ugh😦 kau pasti sangat menderita. Sangat wajar jika kau ingin bunuh diri bersama kami.

EjJung_K93 : Kasihan sekali😦 gunakan webcam.

Kim_Myungsoo :  Ah, sepertinya tidak perlu. Aku tidak percaya diri.

OHaesook96 : Aku tahu tipe pria seperti ini. Pasti aslinya kau tampan sekali! Kkk~

Anonim1 : jadi kau lumpuh dan amnesia? Wow, itu alasan yang lebih dari cukup untuk bunuh diri🙂

Kim_Myungsoo : Jadi.. aku bisa bergabung? By the way, aku sudah membaca komentar-komentar di atas dan sepertinya terjadi keributan di forum ini, hahaha. Siapa itu.. “DarkAngel”?

Manonfire_4 : Nevermind, dia hanya orang bodoh yang sok tahu.

XXX_Lee03 : Kalian benar-benar tak ada yang tahu cara menendang seseorang untuk keluar forum? Aku mulai muak dengan DarkAngel ini.

6969 : Entahlah, kurasa siapapun bisa masuk kesini -_-

DarkAngel :Meski kalian tahu caranya, kalian tak akan bisa menendangku begitu saja🙂 By the way, sepertinya bertambah lagi calon korban logika bodoh kalian. Kim_Myungsoo, pikiranmu begitu pendek jika kau berniat untuk bunuh diri juga.

 

Myungsoo tersenyum sinis.

“ Dia mengajakku berdebat, huh?”

Kim_Myungsoo : Tahu apa kau tentang aku sampai mengataiku berpikiran pendek?

Lmao_r : Haha! Bagus! Serang dia, Myungsoo!

6969 : Semangat! Hahaha

EjJung_K93 : Kau pasti bisa, tampan :* lol

DarkAngel : Aku tahu segalanya tentangmu, Kim Myungsoo.

 

Kini Myungsoo membeku. Pikirannya kembali tertuju pada akun yang ia log out.

“ Tidak, tidak mungkin ada hubungannya. Ini tidak masuk akal..”

Rasa sakit di kepalanya kembali menyerang. Tak hanya rasa sakit, namun perasaan dongkol mulai membara di hatinya. ‘DarkAngel’ sialan ini telah membuatnya kebingungan setengah mati.

Dan ia kini justru tertarik untuk memperpanjang debatnya. Mungkin saja setelahnya ia bisa memperoleh petunjuk atas segala yang ketidaktahuannya.

Kim_Myungsoo : Oh ya? Beritahu aku segalanya yang kau tahu itu.

DarkAngel :Tak bisa disini, terlalu banyak dan panjang, mari kita bertemu dan aku akan buktikan perkataanku.

OHaesook96 : Cih! Kau sedang menggoda Myungsoo?!

XXX_Lee03 : Rupanya ia berlama-lama di forum ini untuk mengincar pria tampan. Aku speechless. Forum yang kubuat bukan biro jodoh, lol

Anonim1 : Damn bitch.

Sgyu89 : Myungsoo.. jika aku jadi kau, aku akan menemui jalang ini dan membunuhnya. Haha.

Sungwonapplecandy : Myungsoo.. jika aku jadi kau, aku akan menemui jalang ini dan membunuhnya. (2)

EjJung_K93 : Myungsoo.. jika aku jadi kau, aku akan menemui jalang ini dan membunuhnya. (3)

OHaesook96 : Myungsoo.. jika aku jadi kau, aku akan menemui jalang ini dan membunuhnya. (4)

Manonfire_4 : Myungsoo.. jika aku jadi kau, aku akan menemui jalang ini dan membunuhnya. (5)

Anonim1 : Myungsoo.. jika aku jadi kau, aku akan menemui jalang ini dan membunuhnya. (6)

Lmao_r : Myungsoo.. jika aku jadi kau, aku akan menemui jalang ini dan membunuhnya. (7)

6969 : Myungsoo.. jika aku jadi kau, aku akan menemui jalang ini dan membunuhnya. (8)

Yesterday_a : Myungsoo.. jika aku jadi kau, aku akan menemui jalang ini dan membunuhnya. (9)

XXX_Lee03 : Myungsoo.. jika aku jadi kau, aku akan menemui jalang ini dan membunuhnya. (10)

6969 : Lol, kita jadi kompak! xD

Lmao_r : Semua gara-gara DarkAngel sinting ini.

 

DarkAngel : Sabarlah. Aku akan bertemu kalian semua🙂 Kim Myungsoo, pembicaraan kita belum berakhir, kan? See you later.

 

DarkAngel meninggalkan forum-

*******

“ 10…10…10…”

Apa dia mulai mabuk? Pikir Woohyun. Ia membiarkan Naeun menikmati alkohol di balkon rumah mereka, gadis itu bergerak secepat kilat meraih sebotol penuh wine dari bar sesampainya mereka di rumah.

Sekarang ia berbicara sendiri, mengucapkan angka 10 berulang kali tanpa alasan yang jelas sambil sedikit-sedikit menghabiskan minumannya. Woohyun tak menyangka ia akan semabuk itu. Padahal, ia sudah mengganti semua wine di rumah mereka dengan minuman anggur biasa berkadar alkohol rendah. Mengapa Naeun tak menyadari itu dan tetap bertingkah mabuk seperti biasanya?

Baiklah. Tidak usah peduli. Setidaknya aku sudah berusaha. Batinnya.

“ Cepatlah tidur. Besok kita harus bekerja lagi.”

Lelaki itu membuang rasa herannya dan menghampiri Naeun, mengusap kepala istrinya itu sekali, kemudian masuk ke dalam kamar mandi setelah meletakkan ponselnya di meja rias kamar.

Naeun menatap ponsel itu tanpa berkedip, ia mulai menghitung.

“5…4…3…2…1…”

Drrt..drrt..

Benar kan. Gadis itu tersenyum remeh sebelum mengangkat telepon yang sudah ia duga tersebut.

“ Halo?”

“ Halo? Naeun?”

“ Hm. Ini aku.”

“ Apa kalian sudah pulang?”

“ Ya. Baru saja.”

“ Kau sudah menyiapkan air hangat untuk Woohyun?”

“…”

“ Halo? Naeun? Kau masih disana?”

“ Ehm, dia masuk kamar mandi duluan.”

“ Ah.. begitu ya. mengapa kau masih sering lupa? Seharusnya setelah pulang kau langsung menyiapkannya. Dia tidak begitu tahan air dingin jika sudah tengah malam begini. Paginya ia sering kena flu.”

“ Aku tahu. ini salahku. Maafkan aku, Chorong sunbae.

“ Kalau begitu tolong siapkan parasetamol atau ibuprofen untuknya.”

“ Baiklah.”

“ Terimakasih, Naeun. Aku tutup—“

“ Tunggu, sunbae..

“ Ya?”

“ Kudengar Chohyun mengucapkan kata pertamanya hari ini. Sampaikan ucapan selamatku untuknya, dia semakin pintar saja, aku sudah yakin dia mampu bicara meski masih berumur—“

“ Besok pagi Woohyun akan menjemputnya, ia akan menginap sehari di rumahmu karena besok aku sibuk, kuharap kau tidak terganggu apalagi mengabaikannya.”

Naeun menggigit bibirnya, menahan dongkol. Bisakah ia menerima pujianku dengan tulus sekali saja? dengusnya dalam hati.

“ Baiklah, sunbae. Kalau begitu—“

Ucapannya terhenti ketika suaminya –Woohyun- keluar dari kamar mandi dengan handuk putih melilit di pinggangnya. Tangan lelaki itu meminta ponsel dari tangan Naeun, ia mengambil alih panggilannya.

“ Halo, sayang? Maaf, aku mandi barusan. Ya.. aku pakai air dingin. Sekarang aku benar-benar menggigil. Aku jadi ingin datang ke rumahmu sekarang, aku benar-benar perlu kehangatan, hahaha.”

“ Pergi saja.”sela Naeun, dengan suara sekecil mungkin.

“ Naeun? Yah.. ia masih saja minum wine setiap malam. Kau tahu aku tidak akan pernah mungkin tidur dengan wanita mabuk.”

Gadis itu menggenggam botol winenya kuat-kuat, berusaha berdiri meski sudah setengah mabuk, karena telinganya mulai panas. Ia mengambil beberapa barangnya kemudian berjalan menuju pintu.

“ Aku akan tidur di atas. Jangan lupa pakai bajumu.”ia menepuk bahu Woohyun dan menaiki tangga rumah mewah mereka.

“…selalu begini. Selalu begini setiap harinya.”

********

Morning, 07.30 AM

 

“ Astaga. Semua wartawan sudah berkumpul..”

Naeun sedikit memucat saat mobilnya tiba di halaman depan Son’s Medical Center, rumah sakit besar tempatnya bekerja. Banyak wartawan bahkan remaja-remaja fans berdesakan di depan pintu utama. Tim keamanan mampu mengendalikan mereka, namun tentu saja situasinya akan semakin sulit jika ia turun dari mobilnya.

“ Apa perlu kita parkir di basement?” tanya Woohyun yang menyetir di sampingnya, ia menghentikan mobil mereka sejenak di balik patung besar yang jaraknya tak jauh dari pintu utama.

“ Tidak perlu. Aku akan turun.”jawab Naeun pelan sembari merapikan rok dan kemejanya.

“ Kau yakin?”

“ Hm. Aku yakin. Aku hanya perlu menjawab pertanyaan mereka.”

“ Bahkan jika itu pertanyaan yang tak ingin kau dengar?”

“ Aku akan memberikan jawaban seadanya.”

“ Perlu aku temani?”

“ Kau yakin?”

“ Kalau aku tidak yakin aku tak akan menawarkan diri.”

Naeun terdiam sejenak, melirik canggung suaminya itu.

“ Tidak perlu. Aku sendiri saja. Kau masuklah lewat pintu timur, aku yakin semua pasienmu sudah menunggu.”

“ Baiklah. Mereka juga sudah menunggumu.” Woohyun menunjuk ke arah keramaian itu, Naeun mengangguk sekali lagi.

“ Aku turun sekarang, Woohyun-ssi. Selamat bekerja. Sampaikan salamku untuk Chorong sunbae.”

“ Kau bicara seolah-olah aku bisa menemuinya setiap hari disini.”

“ Kau memang selalu menemuinya, kan?”

“ Tidak.”

“ Ini masih terlalu pagi untuk berbohong.”

Naeun tak ingin melanjutkan pembicaraan ini meski ia yang memulainya. Ia memasang jasnya lalu turun dari mobil, kakinya melangkah dengan kecepatan sedang menuju pintu utama, berulang kali ia menarik nafas dalam-dalam, meminimalisir rasa gugupnya.

“ Lihat! Dia datang!!”

Semua wartawan dan kameramen sontak berlari dan mengerumuni Naeun secepat kilat saat gadis itu baru saja tiba beberapa meter di depan pintu utama, bahkan beberapa remaja perempuan yang merupakan para fans ikut berdesakan. Tim keamanan dengan sigap mengamankannya.

“ Hei! Hati-hati! Dia bukan hanya dokter! Dia putri tunggal dari pemilik Medical Center!” para staf keamanan menggertak mereka dengan keras agar mereka tidak terlalu ‘anarkis’ mewawancarai Naeun.

“ Aku baik-baik saja..” bisik gadis itu pelan pada beberapa staf keamanan yang langsung mengawalnya dengan ketat, ia kemudian menatap semua orang yang mengerumuninya.

“…halo semuanya, selamat pagi.”

Suasana menjadi semakin ramai, para wartawan mulai melontarkan semua pertanyaan mereka dan menyodorkan alat perekam di sekelilingnya.

“ KAU DOKTER SON NAEUN, KAN!?”

“ Ya, aku dokter Son Naeun..”

“ Kau dokter jiwa yang menangani Ken?”

“ Ya, benar..”

“ Bagaimana keadaan Ken sekarang?”

“ Aku akan memeriksanya hari ini seperti biasa.. baru aku bisa bicara.”

“ Apa kau akan menepati janjimu untuk memulangkan Ken hari ini dari rumah sakit? Kapan kira-kira Ken bisa kembali ke dunia hiburan?”

“ Aku tidak berjanji. Aku akan memulangkannya jika ia benar-benar sudah stabil. Aku tak tahu mengenai comebacknya. Yang jelas jika ia telah sehat secara total, tentu ia boleh comeback kapanpun.”

“ Apa saja yang Ken lakukan selama di sel?”

“ Ya.. banyak, seperti pasien lain pada umumnya.”

“ Apa Ken benar-benar gila? Apa dia memang sudah hilang akal setelah Kim Yura meninggal?”

Naeun benar-benar geli dengan pertanyaan ini.

“ Status medisnya akan kujelaskan di konferensi pers.”

“ Apa kau tahu siapa Kim Myungsoo yang sering disebut-sebut oleh Ken pada setiap kesempatan?”

“…”

Naeun menggigit bibirnya, menahan gejolak dalam dadanya yang tiba-tiba membuncah tak karuan untuk kesekian kalinya.

Pertanyaan itu, pertanyaan yang tak ingin didengarnya.

“ Dia.. sahabat Ken sejak kecil.”

“ Bisa kau jelaskan lebih rinci mengenai Kim Myungsoo dan hubungannya dengan Ken? Apakah dia ada hubungannya juga dengan Kim Yura?”

Tidak. Tolong hentikan. Naeun benar-benar ingin menyerah dan melarikan diri dari kerumunan ini.

“ Pertanyaan kalian sudah menyentuh kehidupan pribadi pasienku, aku tak bisa menjawab tanpa persetujuannya.”

Tanpa membuang waktu lagi, ia meminta staf keamanan membawanya masuk ke dalam gedung medical center.

“ Hah, bebas!”

Gadis itu menghela nafas lega. Setelah menenangkan diri sesaat, kakinya melangkah menuju unit kejiwaan.

*

Ting! Anda menerima pesan baru.

 

Myungsoo membuka matanya perlahan, sedikit meringis sebab lehernya terasa pegal. Ia tertidur di depan komputer yang masih menyala.

“ Siapa yang mengirimiku pesan?”

Lelaki itu sadar bahwa browser komputernya masih membuka situs bunuh diri semalam.

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

Selamat pagi🙂 Aku hanya ingin memastikan bahwa kau masih hidup. Jadi tolong balas pesan ini.

 

Myungsoo mengeryitkan dahinya. Rasa heran bercampur ngeri muncul dalam benaknya.

“ Mau apa dia?”ia bertanya-tanya.

Tangannya mulai mengetik di atas keyboard.

From : Kim_Myungsoo

To : DarkAngel

Aku tak punya kewajiban untuk melapor padamu.

 

Setelah membalas pesan, Myungsoo meninggalkan komputernya dan menggerakkan kursi rodanya menuju kamar mandi. Meski sulit rasanya, ia sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri.

“ Ah, jadi kemarin adalah tanggal 14, dan hari ini tanggal 15..”

Lelaki itu meraih kalender meja yang ia lintasi saat menuju kamar mandi, mata elangnya sesaat melirik jam yang telah menunjukkan pukul 7 pagi.

BRUK!

Lalu melemparkan kalender di tangannya ke arah belakang.

“…lebih baik aku berlama-lama saja di kamar mandi sampai dia pergi.”

***

“ Selamat pagi, Ken-ssi. Bagaimana kabarmu?”

Naeun masuk ke dalam salah satu sel VIP  bersama dua orang perawat setibanya ia di unit kejiwaan, mengunjungi salah satu pasien ‘istimewa’nya.

“…”

Sang pasien diam saja, tak merespon pertanyaannya. Wajahnya lusuh dan hanya menatap kosong ke depan di pojok ruangan sembari memeluk lutut.

“ Dokter Son? Aigoo.. kau sudah datang rupanya.”seorang lelaki keluar dari kamar mandi dan menyambut Naeun.

“ Halo, N-ssi. Kau disini rupanya.”

“ Haha, panggil Hakyeon saja. Aku sedang tidak di panggung. By the way, aku menonton talkshow tadi malam, hehe.”

“ Haha.. tidak perlu bahas itu sekarang. Jadi sudah berapa lama kau disini?”

“ Hmm.. aku datang subuh dengan manajer. Saat ini manajer sedang mempersiapkan konferensi pers, member lain akan datang menyusul. Aku menjaga Jaehwan disini.”

“ Woah, kau leader yang sangat baik.”

Hakyeon tertawa kecil, “ Apa benar uri Jaehwan bisa pulang hari ini?”

Naeun tersenyum, kemudian berlutut di depan pasiennya.

“ Hei, kau mau pulang tidak?”

Ken, atau Jaehwan, membalas tatapannya dengan datar.

“ Mau. Tapi kau gantikan aku disini.”jawabnya.

Naeun mengeryitkan dahi.

“ Kenapa aku harus menggantikanmu disini?”

“ Karena sebenarnya kau yang gila, kau sama sekali tidak sedih atas apa yang terjadi pada Yura, dan.. Myungsoo. Dan kau malah menikah dengan bajingan itu.”

“…”

Hakyeon menyentuh bahu gadis itu.

“ Maaf jika aku harus menyampaikan ini. Tapi sejak semalam Jaehwan terus berbicara sendiri.”

“ Oh ya? apa yang dia bicarakan?”

“ Dia memaki-maki kau dan Woohyun.”

“ Ah.. aku mengerti.” Naeun hanya tersenyum tipis, ini bukan pertama kalinya.

“ Pulangkan aku hari ini. Aku tidak sudi dirawat oleh dokter yang tidak punya hati sepertimu.” Jaehwan menatapnya tajam.

“ Haha, jangan pasang ekspresi ini di depan para wartawan dan penggemarmu nanti, ya. mereka pasti akan terkejut melihat Ken yang manis dan penuh aegyo bisa semengerikan ini.”

BUK!

“ Pergi dari hadapanku!”

Jaehwan meraih bantal di sampingnya dan melemparnya dengan kasar pada Naeun hingga mengenai bahu sang dokter.

“ Kau baik-baik saja?”Hakyeon langsung panik, hari ini Jaehwan nampak lebih agresif dari biasanya.

Naeun mengangguk pelan, “ Tidak apa-apa. Hakyeon-ssi, bisa kita bicara sebentar?”

Hakyeon setuju dan mengikuti langkah Naeun, keluar dari sel VIP beberapa saat.

“ Apa grup kalian kesulitan selama tak ada Jaehwan? Melihat perilakunya, kupikir ia masih harus berada disini.”Naeun membuka pembicaraan.

Hakyeon berpikir sejenak, wajahnya terlihat agak sungkan.

“ Maafkan aku sebelumnya, dokter. Tapi.. aku berpikir.. akan percuma mengurungnya lama-lama disini, ia justru semakin temperamental saat melihatmu. Masalah grup kami bukan perkara besar, aku dan member lain bisa menyesuaikan. Hanya saja, aku merasa Jaehwan lebih baik keluar saja dari sini, perawatan yang ia terima tidak berjalan dengan baik karena kau dokternya. Sekali lagi maafkan aku, ini hanya pendapatku saja.. aku yakin kau lebih tahu situasinya.”

Naeun tersenyum kecil.

“ Ternyata kau idol yang memang memiliki sopan santun, kukira itu hanya pencitraan.”

Hakyeon tertawa canggung.

“ Lalu.. bagaimana, dokter?”

“ Hmm.. apa yang kau katakan memang benar. Jujur, sebenarnya… aku ‘mengurung’ Jaehwan disini bukan bertujuan membuatnya sembuh, aku hanya ingin mencegahnya berbicara lagi di hadapan publik. Maafkan aku.”

Hakyeon nampak terkejut, tapi hanya sesaat, sepertinya ia sudah menduga hal ini sebelumnya.

“ Jadi.. sebenarnya Jaehwan tidak mengalami gangguan jiwa?”

“ Dia stress berat. Meski bagi dokter sepertiku itu hanya gangguan sederhana, aku tak bisa mengatasinya karena dia membenciku dan menolak semua terapi, jadi selama ini aku hanya bisa memberinya obat-obatan. Aku ingin menyerahkannya pada dokter lain, tapi tetap tak ada gunanya, ternyata dia tak hanya membenciku, dia juga benci dengan tempat ini.”

“ Apa kita pindahkan saja ke rumah sakit lain?”

“ Seharusnya begitu. Tapi masalah yang dialami Jaehwan.. sama sekali tak bisa diketahui lebih dalam oleh orang di luar perusahaan. Kau tahu itu, kan? Publik saja sudah dibuat heboh tentang Kim Yura hingga bisa membuat Jaehwan seperti ini.”

Hakyeon kembali memasang wajah sungkan, sesuatu yang mengganjal di hatinya masih ada dan akan ia ungkapkan lagi.

“ Kau juga tidak mau publik tahu tentang Kim Myungsoo, kan?”

Naeun sedikit memucat, ia menggigit bibirnya lagi dengan wajah muram.

“ Bukan hanya aku. Tapi semuanya, terutama keluarganya.”jawab gadis itu pendek.

“ Ah.. aku mengerti. Lalu bagaimana sekarang? Apa kau setuju dengan pendapatku barusan?”

“ Setelah ia keluar dari sini, apa kau bisa jamin ia tidak membuka mulut tentang semua rahasia besar ini di depan publik?”

Hakyeon tersenyum tipis.

“ Memang akan sulit. Tapi aku bisa menjaminnya.”

“ Kenapa kau begitu yakin?”

“ Aku.. sudah membuat perjanjian dengan Jaehwan, sebelum kau datang tadi.”

Naeun nampak heran.

“ Oh ya? perjanjian apa?”

Hakyeon tertawa kecil dan menepuk bahu dokter di depannya.

“ Aku tak bisa mengatakannya. Yang jelas, Jaehwan setuju untuk tidak membuka mulutnya di depan publik karena aku sudah menjanjikannya sesuatu. Jangan khawatir.”

Naeun terdiam sejenak, ia memang tak wajib untuk tahu perjanjian apa yang dimaksud Hakyeon, namun rasa penasaran justru menyelimutinya, entah mengapa.

“ Baiklah. Aku percaya padamu. Tolong urus Jaehwan disini, aku akan mengurus surat keluar perawatannya dulu.”

Naeun menepuk bahu Hakyeon kemudian berlalu, berjalan menuju tempat administrasi. Hakyeon menundukkan badannya dengan sopan lalu berbalik dan kembali memasuki sel VIP.

Tap.

Naeun menghentikan langkahnya sejenak, perlahan berjalan mundur hingga ia tiba di depan pintu ruangan sel yang telah ditutup dengan tirai putih oleh Hakyeon. Ia diam dan berkonsentrasi, mencoba mendengar pembicaraan yang sedang terjadi di dalam sana.

“ Aku.. benar-benar bisa keluar hari ini?”

Terdengar suara Jaehwan yang sedikit parau dari dalam sana.

“ Ya. persiapkan dirimu, sekeluarnya dari sini kita langsung konferensi pers di lobi utama. Kau sudah tahu kan apa saja yang harus kau sampaikan pada wartawan?”

Sekarang terdengar suara Hakyeon.

Aku merasa hidup kembali.. aku sangat merindukan fans.. aku ingin menyanyi lagi secepatnya.. terimakasih.. Aku merasa hidup kembali.. aku sangat merindukan fans.. aku ingin menyanyi lagi secepatnya.. terimakasih.. Aku merasa hidup kembali.. aku sangat merindukan fans.. aku ingin menyanyi lagi secepatnya.. terimakasih.. Aku merasa hidup kembali.. aku sangat merindukan fans.. aku ingin menyanyi lagi secepatnya.. terimakasih..” Jaehwan mengulang-ngulang kalimat yang harus ia katakan pada konferensi persnya dengan intonasi datar.

“ Bagus, lakukanlah seperti itu.”

“ Apa aku.. benar-benar tidak bisa menyebut nama Yura atau Myungsoo, sekali saja?”

“ Jika kau ingin aku memegang janjiku, jangan lakukan itu.”

“ Kau benar-benar akan menepati janjimu itu, hyung?”

“ Ya, pasti.”

Naeun masih berada di tempatnya, enggan pergi sebelum rasa penasarannya terjawab.

“ Kau harus temukan pemilik akun DarkAngel itu, hyung. Kau harus temukan siapa dia sebenarnya.”

“ Bagaimana jika itu benar-benar Yura?”

“ Tidak mungkin. Sampai sekarang aku yakin itu bukan Yura. Akun itu.. dia pembunuh.. pembunuhnya! Kau percaya padaku, kan?!”

Suara Jaehwan terdengar meninggi, ia masih begitu sensitif.

“ Aku percaya padamu. Makanya aku mau menyelidikinya. Tenang saja, oke?” Hakyeon membujuknya dengan tenang.

Menyelidikinya?”

Wajah Naeun memucat, entah mengapa.

Gadis itu segera berbalik dan menjauh dari sel sebelum Hakyeon menyadari bahwa ia belum benar-benar beranjak.

Ia berjalan cepat dan jemarinya mengacak-acak rambut panjangnya dengan sedikit kasar. Namun hanya sesaat, ia kembali menurunkan tangannya dan menyisir rambutnya yang berantakan sembari tersenyum sinis.

“ Menyelidiknya? Haha, yang benar saja..”

***

Ding..dong..

Ding..dong..

“ Ck, kenapa dia tidak pergi juga seperti biasanya?”

Myungsoo sudah lama selesai dengan urusannya di kamar mandi, namun ia masih enggan untuk keluar dari sana sebelum bel apartemennya berhenti berbunyi. Dengan kata lain, ia menunggu seseorang yang menungguinya sejak tadi pergi dari muka pintunya.

Tanggal 14 –kemarin-, dan 15 adalah tanggal rutinnya melakukan pemeriksaan oleh dokter pribadi yang dibayar oleh keluarganya. Selama menjalani perawatan, Myungsoo tak pernah merasa ada perubahan yang berarti dalam dirinya. Ia tetap lumpuh dan lupa ingatan, dokter yang merawatnya hanya memberi obat yang justru membuatnya semakin tak bisa tidur tenang dan terus bermimpi buruk, membuatnya berpikir apakah keluarganya membayar dokter justru untuk membunuhnya pelan-pelan?

Lelaki itu menggosok-gosok telinganya dengan perasaan yang mulai jengkel. Suara bel terus mengganggunya, ia ingin sekali mengusir dokter yang merawatnya, namun urusannya tentu akan panjang nantinya.

*

“ Aih.. mengapa dia tidak buka pintunya?”

Seorang gadis dewasa dengan jas putih dan satu tas peralatan medis di tangannya mulai jenuh, sudah hampir sejam ia berdiri di depan pintu apartemen pasien barunya. Sudah berkali-kali ia menekan bel, namun hasilnya nihil.

“…apa dia sedang tidak di dalam? Tapi mana mungkin dia bisa pergi sendiri..” pikirnya.

“ Nona, ingin bertemu Kim Myungsoo?”

Seorang pria dewasa keluar dari salah satu pintu, gadis itu mengangguk cepat.

“ Ya, Tuan. Saya dokter yang akan merawatnya. Dia disini, kan? Sejak tadi saya menekan bel tapi—“

“ Kemarin dia bilang padaku bahwa dia akan bunuh diri.”

“ HAH?!”

Pria itu tertawa sinis, “ Mungkin dia sudah mati di dalam. Baguslah, aku juga tidak tahan mendengar si cacat itu teriak-teriak tiap malam.”

Gadis dokter itu mendadak panik, ia kembali menekan-nekal bel bahkan kini menambah keributan dengan menggedor-gedor pintunya.

“ KIM MYUNGSOO-SSI!! KAU MASIH DI DALAM KAN!? KIM MYUNGSOO-SSI! BUKA PINTUNYA!! BIARKAN AKU MASUK!”

*

“ Kenapa dia mendadak agresif begitu!?”

Myungsoo terkejut karena dokter di depan pintu apartemennya masih tak menyerah, justru semakin mendesak dan berisik.

“…eh..”

Myungsoo menyadari sesuatu.

Suaranya..

Perempuan? Dokterku selama ini kan laki-laki. Ah.. apa dia dokter baru itu?”

*

“ Kim Myungsoo-ssi! Tolong buka—“

Klak.

Pintu apartemen yang sejak tadi digedor kini terbuka. Seorang lelaki tampan berkursi roda muncul tanpa menyambut dokter di depannya sama sekali, ia masih merasa asing.

“ Ha, kukira kau sudah bunuh diri tadi malam. Sayang sekali.”pria paruh baya yang berada di samping dokter di depannya  mencibir.

“ Aku akan segera melakukannya. Jangan khawatir.”jawab lelaki itu sinis.

“ Sudah.. sudah.. jangan didengarkan!” sang dokter terpaksa masuk tanpa izin ke dalam apartemen sembari mendorong kursi roda lelaki itu kemudian menutup pintunya rapat-rapat.

“…”

Suasana hening sejenak. Sang dokter masih bernafas terengah-engah sembari menatap pintu, berharap pria paruh baya itu tidak marah-marah di depan sana, sementara Myungsoo sudah memperhatikannya dengan tatapan aneh.

“ Siapa kau?”

Sang dokter menatapnya dengan sedikit heran.

“ Kau tidak ingat? Sudah lama memang kita tidak bertemu.”

“ Kita pernah bertemu sebelumnya?”

Gadis itu terdiam sejenak, mengambil waktu untuk berpikir.

“ Ah.. baiklah, tidak apa-apa kalau kau tidak ingat. Lagipula pertemuan kita sebelumnya sama sekali tidak penting.”

“ Tapi aku penasaran. dimana aku bisa bertemu dokter cantik seperti ini?”

“ Haha. Suatu saat kau akan ingat.”

Sang dokter hanya menjawab seadanya dan duduk di sofa lalu membuka tasnya, mengeluarkan berkas data.

“ Kim Myungsoo.. pemeriksaan terakhir kemarin, ya?”

“ Kau dokter baruku?”

“ Ah.. iya. Maaf, aku lupa memberitahumu, pria di depan tadi membuatku kesal. Yah.. aku diutus keluargamu untuk menjadi dokter pribadimu mulai hari ini. Dan karena kau lupa, biarkan aku memperkenalkan diriku lagi.”

“ Baiklah, aku Kim Myungsoo.” Myungsoo mengulurkan tangannya lebih duluan.

Sang dokter menjabatnya.

Aku Park Chorong.”

*********

“ Semua awak media sudah diizinkan masuk ke lobi, tempat konferensi pers sudah siap. Surat keluar perawatan Jaehwan ada padaku.”

Naeun kembali mengunjungi sel VIP, memberi laporan kemudian memberi hormat pada semua member boygroup Jaehwan dan beberapa staf yang kini sudah memenuhi ruangan untuk mempersiapkan Jaehwan sebelum jumpa pers.

“ Benarkah? Wah.. kau rajin sekali, padahal kau bisa meminta petugas lain mengurusi ini semua.” Hakyeon membungkukkan badannya tanda berterimakasih.

“ Haha, aku melakukannya khusus untuk pasien yang istimewa.”Naeun menghampiri Jaehwan yang telah rapi meski wajahnya masih sangat pucat. Dan seperti biasa, lelaki itu mengabaikannya.

“…jangan lupa minum obatmu dulu, ya?”sambung Naeun sembari mengambil segelas air dan piring kecil berisi beberapa pil obat untuk diletakkannya di depan pasiennya.

“ Tidak mau.”Jaehwan menjawab dengan ketus, seperti biasanya.

Naeun menghela nafas panjang, mencoba menekan kekesalannya karena para member dan staf memperhatikannya dipermalukan seperti ini.

“ Aku bisa saja tidak mengizinkanmu pulang kalau kau tidak mau minum obat.”

“ Terserah. Aku tetap ingin keluar dari sini.”

“ Jaehwan, tolong—“

“ DIAM!”

“ Jaehwan akan meminum obatnya, tenang saja.” Hakyeon menyela sebelum terjadi keributan lagi, tangannya sedikit menarik Naeun agar menjauh dari Jaehwan.

“ Aku tidak akan meminumnya.”Jaehwan masih saja keras kepala.

“ Minumlah, atau aku tidak akan menepati janjiku.”

“…”

“ Oke?”

“ Hah, baiklah.” Jaehwan terpaksa langsung menenggak semua obatnya sekaligus. Hakyeon tersenyum lega.

“ Woah.. aku jadi semakin penasaran, apa yang kau janjikan padanya?”Naeun bertanya, meski ia sudah tahu jawabannya.

Ia ingin tahu mengapa itu harus dirahasiakan darinya.

“ Aku hanya akan menolong Jaehwan menjawab rasa penasarannya.”jawab Hakyeon seadanya, kemudian berbalik dan mengalihkan pembicaraan.

“…ayo kita menuju lobi.”

*

“ Kenapa dia masih penasaran soal itu?”

Naeun terus berpikir sembari berjalan di tengah-tengah staf keamanan yang mengikutinya menuju lobi untuk melakukan konferensi pers bersama Jaehwan. Pikirannya begitu terganggu.

“ Jangan lupa berterimakasih pada dokter Son Naeun di konferensi pers. Kau terkenal rendah hati, kan?” terdengar manajer berbisik di telinga Jaehwan yang tengah berjalan dengan pengawalan ketat.

Jaehwan melirik dokter di sampingnya dan tersenyum sinis.

“ Aku tidak sudi.”

“ Terserah saja. Aku tidak masalah, karena bukan image­-ku yang dipertaruhkan disini.”sahut Naeun singkat, Jaehwan memutar bola matanya dengan jengkel.

Drrt..drrt..

Naeun merogoh saku jasnya dan segera mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya.

“ Halo?”

“ Apa Ken pulang hari ini, Naeun-ssi?”

“ Ya.”

“ Syukurlah. Aku sedang melihatmu menuju lobi. Jaga dirimu.”

“ Hm. Terimakasih, Woohyun-ssi.”

“ Woohyun?” Jaehwan yang mendengarnya kembali menoleh ke arah Naeun, tangannya dengan sigap mencoba merebut ponsel yang ada di tangan sang dokter.

“ Hei! Kau mau apa?”Naeun mendadak panik, namun ia pelankan suaranya agar yang lain tidak menyadarinya, ia tak ingin ada keributan lagi.

“ Berikan ponselmu sebentar padaku, lalu aku akan berterimakasih padamu di depan awak media.”

“ Tidak mau!”

Jaehwan tak peduli, ia berhasil merampas ponselnya dan meletakkan benda itu di telinganya.

“ Nam Woohyun. Kau dimana?”

Ken-ssi? Aku.. aku ada di sebelah kanan kalian. Di lorong dekat poliklinik jantung. Ada ap—“

“ Ambil ini.”Jaehwan mengembalikan ponsel Naeun kemudian dengan nekat keluar dari pengamanan dan berjalan cepat menuju lorong yang ada di sebelah kanannya, matanya berkilat-kilat saat menangkap sosok yang ia cari disana.

“…akhirnya aku melihatmu lagi, dokter bajingan.”

Woohyun menurunkan ponselnya, terkejut karena mendapati Jaehwan tiba-tiba muncul di depannya. Kakinya hendak melangkah kabur, namun tangan artis itu telah berhasil menarik jas putihnya.

“ Jaehwan!!” Naeun berteriak panik, semua member dan staf sontak berlari menuju Jaehwan.

“ Jaehwan, bisakah kita bicara dulu dan—“

“ PEMBUNUH!!”

BUK!! BUK!!

Jaehwan mulai memukuli Woohyun tanpa ampun hingga lelaki itu tersungkur ke lantai. Semua orang terkejut dan menyaksikan mereka.

“ Hei! Hentikan! Hentikan!”

Sebelum Jaehwan semakin gelap mata, tim keamanan segera menariknya dan menjauhkannya dari Woohyun yang telah babak belur, Naeun masih terpaku di tempatnya, ragu hendak menolong atau tidak.

“ Lepaskan aku!!! LEPASKAN AKU!!! Aku belum selesai!” Jaehwan meronta hebat dan mencoba melepaskan dirinya dan berlari lagi ke arah Woohyun yang masih tak sanggup untuk berdiri.

“ PERGILAH! Aku merekam apa yang kau lakukan! Kalau kau tidak pergi sekarang, aku akan berikan rekamannya pada semua wartawan di depan sana!”

Seorang dokter wanita datang dan dengan sekuat tenaga mendorong Jaehwan hingga mundur dan ditangkap kembali oleh tim keamanan. Setelah itu ia membantu Woohyun berdiri dengan susah payah.

Naeun tersenyum tipis dan melanjutkan perjalanannya.

“ Syukurlah, aku tak perlu menolongnya.”

***

Sshh.. pelan-pelan..”

Woohyun meringis ketika gumpalan kapas menyentuh pelipisnya yang terluka dan berdarah, dokter di depannya hanya mengangguk pelan tanda menurut.

“…kau darimana saja, Chorong-ah?”tanya lelaki itu kemudian.

“ Tidakkah seharusnya kau berterimakasih dulu karena aku sudah menolongmu?”

“ Kutanya, kau darimana?”

Chorong menghela nafas, mencoba untuk tetap sabar menghadapi sifat keras kepala lelaki di depannya.

“ Nanti saja. Kau pasti terkejut.”jawab gadis itu seadanya.

“ Mengapa kau malah membuatku semakin penasaran, huh?”

“ Diam dulu. Kau sedang diobati.”

“ Kau merubah jadwal praktikmu jadi jam 12. Kemana saja kau pagi ini? Kau punya rutinitas baru?”

Woohyun masih saja mengoceh, ia memang selalu gelisah jika tak mengetahui apa yang dilakukan oleh Chorong, ia terlalu posesif. Bahkan semakin posesif setelah ia menikah dan tak bisa mengawasi Chorong secara langsung 1×24 jam.

“ Seharusnya sekarang kau lebih khawatir dengan kondisimu. Tidakkah kau kaget dengan perlakuan Jaehwan barusan?”Chorong masih mengalihkan pembicaraan, tangannya kini melepas jas putih Woohyun yang sedikit kotor karena lelaki itu sempat terjatuh ke lantai saat dipukuli oleh artis itu.

“ Ini bukan pertama kalinya ia memukuliku. Jangan menghindari pertanyaanku, Park Chorong. Kau kemana saja tadi? Aku khawatir.”

“ Kau kira aku juga tidak khawatir padamu, huh?” Chorong menyentuh wajah Woohyun yang terluka, “…kau masih punya jas cadangan, kan? Yang ini aku cuci dulu.”

“ Terserahlah.”

Woohyun menyerah dan bangkit sejenak dari matras, kini dengan seenaknya merogoh isi tas Chorong yang terletak tak jauh darinya.

“ Hei! Nam Woohyun—“

“ Kau habis melakukan kunjungan rumah?” Woohyun menemukan berkas dari dalam tas gadis itu dan segera membukanya.

“…KIM MYUNGSOO?”

Chorong tak bersuara, ia hanya mengangguk, pasrah karena gagal menutupinya.

“ Sejak kapan!?” nada suara Woohyun meninggi, ia tak peduli lagi dengan luka-luka di wajahnya.

“ Baru hari ini.”

“ Siapa yang menyuruhmu!?”

“ Tentu saja pihak The King. Menurutmu siapa lagi?”

“ Brengsek!” Woohyun mengacak-acak rambutnya dengan gusar lalu menatap tajam gadis di depannya.

“…kenapa kau tidak bilang dulu padaku? Aku bisa mencari cara agar kau tak perlu berurusan dengan Kim Myungsoo lagi! Kau ini—“

“ Sudahlah. Aku tidak bisa mengharapkanmu lagi. Aku masih ingin bertahan di rumah sakit ini, jadi aku harus menuruti semua keinginan mereka.”

“ Apa mereka mengancam jika kau menolaknya?”

“ Mereka tidak mengancam, tapi sudah memberi peringatan.”jawab Chorong sembari menunjuk ke salah satu sudut langit-langit ruangan praktiknya dengan hati-hati, Woohyun terhenyak.

“ S..s..sejak kapan ruanganmu dipasangi CCTV?”

Chorong mengangkat bahunya, “ Sebenarnya aku tak mau lagi membawamu kesini, sudah terlalu berbahaya. Tapi kau terluka seperti ini.. aku tidak bisa membiarkannya.”

“ Sialan, mengapa mereka semakin—“

“ Ssstt..”

Woohyun menghentikan omelannya, Chorong yang sudah ketakutan mengisyaratkannya untuk diam.

“ Aku sudah selesai mengobatimu, silahkan keluar.”

Lelaki itu menghela nafas dengan jengkel, ia meraih jasnya dari tangan Chorong dan mendekati kamera pengintai tersebut. Kakinya menaiki meja dan ia menggantung jasnya di salah satu pengait yang ada di langit-langit ruangan untuk menutupi kamera tersebut.

“ Aman.”

Ia turun dan kembali menghampiri Chorong, memeluk gadis itu erat-erat.

“…apa yang harus kulakukan? mereka semakin bersikap tidak adil padamu.”

Chorong menunduk, tangannya tak membalas pelukan lelaki itu dengan sengaja.

“ Keluarlah, Woohyun-ah. kita bisa lakukan ini di luar rumah sakit.”

Woohyun melepas pelukannya dan meremas bahu Chorong, menatap gadis yang dicintainya itu dengan tajam.

“ Tidak. Sebelum kau jelaskan dengan detil padaku bagaimana pertemuanmu dengan Myungsoo hari ini.”

“ Panjang. Sangat panjang. Tidak aman jika kujelaskan disini.”

“ Kurasa aman. Aku ingin sekarang.”

“ Kenapa kau begitu tidak sabar?”

“ Aku tidak mau memberimu waktu untuk menyusun kebohongan.”

“ Aku tidak akan membohongimu.”

“ Aku tidak percaya. Ini tentang Kim Myungsoo, dan kita punya pandangan yang bertentangan tentang dia, kau selangkah lebih maju saat ini, kau pasti tidak akan membiarkan aku menyusulmu, kan?”

Chorong menghela nafas, ia diam sejenak untuk berpikir.

“ Ini sudah jam sembilan, sayang. Bukannya kau akan praktek lima belas menit lagi? sebaiknya kau kembali ke ruanganmu, semua pasienmu pasti sudah menunggu.” Chorong berpura-pura melirik jamnya sejenak, kemudian sibuk mengambil berkas yang ada di dekatnya, “…aku juga ingin keluar untuk laporan pada ketua tim. Tapi kita tak mungkin keluar bersama-sama dari sini. sebaiknya kau duluan.”

Woohyun tertawa sinis, seakan sudah tahu.

“ Oke. Tolong cuci jasku, ya? sampai jumpa.”lelaki itu akhirnya ‘menyerah’ dan melangkah keluar dari ruangan Chorong.

“ Hah, sial. Aku tidak pernah bisa berbohong padamu.” Chorong masih saja menyesal. Setelah melirik jam sekali lagi, ia segera meraih berkas di depannya dan ikut keluar dari ruangan, berjalan menuju ruangan ketua Timnya.

*

“ Ah.. jadi kau sudah melakukan kunjungan pada Kim Myungsoo? Sepertinya aku memilih penggantiku dengan tepat, haha.”

Chorong mengangguk cepat, “ Bisakah aku laporkan sekarang? Banyak sekali yang ingin aku sampaikan.”

Howon, ketua tim dokter yang juga teman seangkatannya itu hanya mengangguk dengan malas sambil meniup-niup ramennya.

“ Pertama, aku heran mengapa kau memerintahkanku untuk mengunjunginya sebulan dua kali saja, pasien seperti dia bagiku justru harus dikunjungi setiap hari. Ia masih sangat lemah dan belum menunjukkan kemajuan, apalagi dia hidup sendiri. Jadi, kunjungan sebulan dua kali sangatlah tidak masuk akal. Aku ingin mengunjunginya setiap hari dan memberikan terapi untuk memulihkan ingatannya dan melatih kakinya agar bisa digunakan lagi dengan optimal.”

“ Dasar bodoh.”

“ Hah? Kau bilang apa barusan?”

“ Nanti sajalah. Lalu apa yang kedua?”

“ Kedua, aku menemukan semua obat yang kau berikan padanya. Aku mencatat semuanya..” Chorong mengeluarkan selembar kertas dari berkasnya dan meletakkannya di meja Howon, “…tak satupun dari obat-obatan ini yang bertujuan memulihkannya, semua obat ini justru membuatnya semakin memburuk dan mengalami efek samping yang negatif seperti mimpi buruk dan perasaan tidak tenang. Kau juga memerintahkanku untuk memberikan obat-obatan itu lagi pada Myungsoo. Apa yang kau lakukan? Apa kau ini seorang dokter? Mengapa kau menganggap pasienmu seperti mainan?! Aku sudah mengganti obat-obatannya dan mengambil obat-obat yang salah ini, sadarlah bahwa kau melakukan kesalahan fatal!”

Chorong mengeluarkan beberapa plastik berisi obat-obatan dan ikut meletakkannya di meja Howon.

“…aku tahu kau seorang ketua Tim, seharusnya aku menghormatimu, tapi aku juga tidak bisa diam saja setelah tahu apa yang kau lakuk—“

BRAK!

Gadis itu tersentak karena akhirnya Howon berhenti mengurusi ramennya dan kini berdiri dengan bertolak pinggang dan mata melotot ke arahnya.

“ Hah.. ini masih pagi dan aku belum sarapan, lalu kau mengomel di depanku. Kau mau mati, huh!?”bentaknya jengkel.

“ Aku..aku hanya tidak bisa menahannya, aku sangat terkejut saat mengunjungi Kim Myungsoo, kukira ia sudah lebih membaik. Tapi apa yang kulihat? Aku justru merasa kau seperti ingin membunuhnya!”

“ Haha.. membunuhnya, ya? YA! benar sekali, Park Chorong. Aku memang bertujuan membunuhnya pelan-pelan. Puas?”

“ A..apa?”

“ Ah.. dasar bodoh. Sebenarnya kau paham tidak mengapa kita berdua harus terlibat dalam mengurusi anak itu, hah? Paham tidak!?” Howon mendorong kening gadis itu dengan telunjuknya beberapa kali.

“ Kita diperintah, bukan!?”

“ Ya.. benar sekali, diperintah. Diperintah The King, alias keluarganya yang seperti iblis itu. Tapi bukan untuk merawatnya sampai sembuh, mengerti!? Justru ia harus dibuat mati pelan-pelan, dan dokter terakhir yang merawatnya akan menjadi kambing hitam nantinya.”

“ Apa? J.. jadi.. b..begitu?”

“ Sekarang kau tahu kan mengapa aku senang sekali akhirnya lepas dari tugas sialan ini? dan sekarang kau paham juga kan mengapa The King hanya mengutus dokter-dokter yang punya pelanggaran untuk mengurus dia? Jangan bilang kau senang karena dapat perintah ini. Kau sedang dihukum dan diseret ke jurang, ini merupakan hukuman dari pelanggaranmu yang ternyata lebih parah dari pelanggaran yang kulakukan sebelumnya.”

Wajah putih Chorong mulai memucat.

“ Pelanggaran apa yang kulakukan? pelanggaran apa yang lebih parah dari pelanggaranmu yang mabuk-mabukan di rumah sakit!?”

Howon tertawa sinis, telunjuknya kembali mendorong kening Chorong.

“ Mengganggu suami dari anak pemilik medical center ini adalah pelanggaran paling berat yang hanya dilakukan olehmu, Park Chorong.”

Chorong masih tak tahan mendengar hal ini. Sudah sekian lama ia menahan semua tuduhan yang ada dan ia masih takut mengungkapkan bagaimana kenyataannya demi Nam Woohyun.

“ Apa..? jadi itu kesalahanku? Tapi—“

“ Sadarlah, jangan bermuka tebal seperti ini. Aku benar-benar muak dan masih sakit hati sampai sekarang. Jika kau menerima lamaranku sejak awal, kau tak akan seperti sekarang.”

“ Howon, ini tidak seperti—“

“ Tidak usah berkilah, Park Chorong. Sekarang kau benar-benar terpuruk dan menjadi sampah di medical center ini. Terima saja hukumanmu, kerjakan semua ‘prosedur pembunuhan’ Kim Myungsoo dari The King dan bersiaplah masuk penjara setelah dia mati, saat itu juga kau akan melepas jas doktermu dan menyesali penolakanmu terhadapku di dalam penjara. Hahaha.”

Gadis itu menunduk, menahan airmatanya yang sebentar lagi akan berjatuhan. Sejak sekolah kedokteran, ia dan Howon adalah sahabat baik, namun hubungan mereka menjadi seburuk ini setelah ia menolak lamaran lelaki itu demi mempertahankan Woohyun.

Dan meski sudah sesakit ini, Chorong tak pernah menyesali keputusannya, ia masih percaya dengan janji-janji Woohyun, dan entah kapan kesabarannya akan berakhir.

“ Mengapa The King sekejam ini padaku? Aku tidak mengganggu Nam Woohyun sama sekali.. aku tidak pernah mengganggunya..” gadis itu mulai terisak.

Howon tak lagi memiliki keinginan untuk mengasihani gadis itu karena dendam dan sakit hati yang masih menguasai dirinya.

“ Semua orang membicarakanmu dan menduga bahwa bayi yang baru saja kau lahirkan adalah anak Nam Woohyun, hal ini sampai ke telinga The King dan keluarga Son. Jadi daripada sekedar menendangmu keluar dari rumah sakit ini, mereka menghukummu dulu dengan mengutusmu untuk menjadi dokter untuk Kim Myungsoo.”

“ Argh!”

Chorong semakin tak tahan, ia terduduk di lantai dan menutup wajahnya, ia tak bisa lagi menahan tangisannya.

“ Bukan.. itu bukan.. bukan anak dari Nam Woohyun..”

Howon masih mematung meski mulai merasa iba. Entah sampai kapan ia akan sekeras ini.

“ Tidak ada gunanya berbohong, Park Chorong. Lalu siapa lagi kalau bukan dia? Kau bahkan tidak bilang kau menikah dengan seseorang dan tiba-tiba mengambil cuti lalu melahirkan begitu saja.”

“ Bukan.. itu bukan..” dengan masih terisak, Chorong masih berusaha mempertahankan kebohongannya, meski sia-sia. Howon tahu siapa dirinya lebih dari siapapun.

“ Kalau begitu beritahu aku siapa lelaki itu kalau bukan Nam—“

“ Hei! Hei! Apa yang kau lakukan? Aigoo…”

Woohyun tiba-tiba memasuki ruangan dan segera membantu Chorong berdiri, Howon tertawa sinis.

“ Aku lelah dengan drama kalian, tahu.”sindir Howon.

“ Kau baik-baik saja?”Woohyun berbisik pada gadis itu, Chorong yang telah berdiri mencoba menjaga jarak dengan lelaki itu.

“ Jangan pura-pura tidak tahu, aku yakin kau sudah menguping dari luar.” ucap Howon kesal.

“ Yah.. yah.. lagi-lagi kau membahas bayi kami, kan?”

“ Hah, kau mengakuinya?”

“ Itu yang dibicarakan orang-orang. Aku dan Chorong sudah lelah untuk bilang bukan, jadi terserah mereka saja.”

“ Kau bisa berkata sesantai itu, tapi Chorong yang menanggung akibatnya. Kau beruntung, Nam Woohyun, aku masih sangat menunggu saat-saat The King dan keluarga Son berhenti percaya padamu.”

Chorong tak tahan lagi, ia berbalik dan keluar dari ruangan dengan berlari kecil sembari terus menghapus airmatanya yang tak berhenti menetes.

“ Makan saja ramenmu dan jangan lagi membuat perempuan menangis.” Woohyun masih bisa-bisanya tertawa dan menepuk bahu Howon sebelum ia keluar dan mengejar Chorong.

***

Aku merasa hidup kembali.. aku sangat merindukan fans.. aku ingin menyanyi lagi secepatnya.. terimakasih..”

Para wartawan dan penggemar mulai bosan dan merasa tak puas sebab hanya itu yang diucapkan Ken, sang artis yang baru saja keluar dari unit perawatan jiwa dalam konferensi persnya.

“ Ken-ssi, bisakah kau memberi kami pernyataan lain?” beberapa wartawan mulai mendesak.

Jaehwan mulai tergoda. Terlebih, emosinya masih cukup berada di atas sebab ia masih merasa kesal karena belum puas menghajar Woohyun. Ia mulai tak tahan untuk kembali membuka mulutnya meski Hakyeon dan manajernya terus mengawasinya.

Sedangkan Naeun masih diam, hanya dengan mengamatinya sedikit, ia sudah tahu bahwa pasiennya itu mulai gelisah dan ingin membicarakan hal lain di depan wartawan. Ia hanya bisa berdoa agar itu tak  terjadi, mencegahnya terlalu beresiko tinggi karena sang pasien membencinya.

“..ayolah, Ken-ssi! Kami ingin mendengar pernyataan lain darimu!” para wartawan masih bersahutan mendesak Jaehwan, Hakyeon menggeleng pelan berulang kali,memberi isyarat pada rekan satu grupnya itu untuk tetap diam.

Namun rupanya sia-sia, sebab Jaehwan mulai mencondongkan tubuhnya ke depan dan  mengarahkan mulutnya pada microphone di meja.

“ Lagu ini akan kupersembahkan untuk Kim Yura. Mungkin kalian sudah tahu siapa dia. Tolong berhenti membencinya, ia sudah pergi tanpa sempat kumiliki. Dan hanya ini yang bisa kulakukan untuknya..”

Jaehwan menunduk sejenak, mempersiapkan tenggorokannya yang sudah lama tak ia gunakan untuk mengeluarkan suara emasnya. Sesaat, ia menoleh ke arah dokter jiwa di sampingnya.

“ Dengarkan aku dan pikirkanlah tentang Kim Myungsoo. Aku akan membuatmu menangis juga disini.”

Naeun tersentak.

“ Tolong.. jangan..”

Gadis itu benar-benar ingin menutup telinganya jika tak ada puluhan kamera di depan matanya.

“ I’m so tired being here..

Suppressed by all my childish fears

And if you have to leave

I wish that you would just leave

Cause you presence still lingers here

And it won’t leave me alone…”

Naeun segera menunduk, suara Jaehwan mulai menusuk ulu hatinya dan membuatnya tenggelam dalam memori terakhirnya dengan lelaki yang hingga saat ini tak bisa pergi dari jiwanya.

Kim Myungsoo, pelariannya, obsesinya…….

**********************

Kembali ke musim semi, lima bulan yang lalu…

 

“ Kau tidak benar-benar berniat melakukannya, kan?”

Naeun mencoba menahan tangan lelaki yang tengah memangkunya, lelaki itu sedang menggerakkan mouse komputernya. Kepala Naeun menggeleng berulang kali tanda meminta lelaki itu untuk berhenti melanjutkan niatnya.

“ Kenapa kau takut sekali? Ah.. tampilan situsnya memang seram, ya? apa ini baru pertama kali kau melihatnya?” lelaki itu hanya menanggapinya dengan tawa kecil, tangannya tetap menjalankan mouse.

“ Apa kau menyadari apa yang sedang kau lakukan sekarang, Kim Myungsoo?”

Myungsoo menoleh kearah Naeun dan tersenyum tipis sebelum akhirnya memberikan kecupan singkat di bibir gadis itu.

“ Aku sangat sadar. Oleh karena itu, kau mau menutup mulutmu, kan?”

“ Myungsoo—“

“ Lakukanlah jika kau mencintaiku.”

 

Naeun tak tahu bahwa hari itu merupakan hari terakhirnya bertemu Myungsoo. Ia tak sempat mencegah niat gila dari kekasihnya itu terhadap forum bunuh diri yang baru saja mereka buka bersama-sama.

 

“ Nickname apa yang kau sukai?” lelaki itu memecah lamunannya.

“ Ya?”

“ Hei, jangan melamun, aku perlu mengisi formnya untuk membuat akun.”

“ Myungsoo, tolong pikirkan dulu hal ini baik-baik—“

“ Nickname apa yang kau sukai?” Myungsoo mengulang pertanyaannya, kali ini dengan sedikit penekanan, tanda ia tak mau mendengar hal lain selain jawaban yang ia inginkan.

Naeun menggigit bibirnya sejenak, sedikit ragu.

 

“ Dark…Angel.”

*

“ These wounds won’t seem to heal

This pain is just too real

There’s just too much that time cannot erase..”

Naeun meremas jas putih yang ia kenakan kuat-kuat sebagai usaha menahan tangis, ia sungguh ingin meledak sekarang juga, seperti Jaehwan, yang mulai menyanyikan lirik lagunya dengan tersendat akibat rasa sedih yang juga menekan dirinya.

Seandainya Jaehwan tahu bahwa Naeun pun merasakan kehilangan yang amat dalam atas hilangnya Myungsoo dari kehidupannya, mungkin Jaehwan tak akan membencinya. Pernikahannya dengan Woohyun membuat Jaehwan berpikir bahwa ia sudah melupakan semuanya begitu saja.

Pernikahan itu…

*

“ Dark Angel.. kuharap Yura juga menyukai nama ini, hahaha.”

Myungsoo bangkit dari hadapan komputer dan memindahkan dirinya ke atas tempat tidur penthouse kekasihnya itu, ia merasa pegal telah duduk cukup lama.

Naeun masih menatapi layar komputernya yang menyala. Berbagai pikiran menghantui benaknya.

“ Myungsoo, ini hanya akan menjadi jalan terakhir, kan?”tanya gadis itu pelan.

Myungsoo tak menjawab pertanyaannya, tangannya meraih pinggang kecil Naeun dan menarik gadis itu juga ke atas tempat tidur.

“ Kau takut, huh?”goda lelaki itu sembari menahan kekasihnya untuk tetap berbaring.

“ Tentu saja. Ini.. tidak masuk akal. Tidakkah kau berpikir begitu?”tanya Naeun dengan mata yang masih menyiratkan ketakutan.

“ Ini sangat masuk akal bagiku.”

“ Tapi—“

Naeun tak bisa berbicara lagi, Myungsoo selalu menjadikan ciuman sebagai senjata terakhirnya untuk menutup mulut gadis itu.

“ Jangan bahas tentang forum bunuh diri itu lagi, biar saja menjadi urusanku. Bisakah kita bersenang-senang saja sekarang? Ini sudah menjadi perjanjian kita dari awal, bahwa kita hanya akan bersenang-senang setiap bertemu.” Myungsoo melepas ciumannya sejenak dan mengelus pipi Naeun dengan ibujarinya berulang kali.

“ Setelah aku menikah, apakah perjanjian itu masih berlaku?”

Myungsoo tersenyum sinis.

“ Apa kau ragu aku tidak berhasil menggagalkannya?”

“ Aku hanya bertanya.”

“ Bahkan jika kau sudah menikah, bersenang-senanglah denganku saja. Bukankah aku pelarianmu satu-satunya?”

***

“ Sampai jumpa, dokter. Senang melihatmu menangis karena nyanyianku hari ini.”

Jaehwan menepuk bahu dokternya sebelum ia memasuki van untuk dibawa pulang. Naeun hanya bisa menunjukkan senyuman palsu, sebab para wartawan dan kamera masih mengelilinginya.

*

“ Semoga Naeun baik-baik saja. Ia pasti sangat mengingat Myungsoo saat Jaehwan sengaja bernyanyi.”

Chorong sedikit terkejut ketika mendapati Woohyun lagi-lagi datang padanya. Kali ini ia ikut duduk di sampingnya, menyaksikan konferensi pers yang baru saja berakhir di TV dapur kecil yang terletak di bawah tangga darurat, tempat Chorong bersembunyi setelah Howon membuatnya menangis beberapa saat yang lalu.

“ Kau tidak praktek?”tanya gadis itu datar.

“ Aku mengundur jamnya.”jawab Woohyun santai.

Chorong tertawa sinis, “ Ah..aku baru ingat bahwa kau suami dari anak pemilik medical center ini, tentu saja apapun bisa kau lakukan dengan seenaknya.”

“ Jangan memulai.”

“ Pergi sana, aku tak mau ada yang menemukan kita disini. Aku tak mau citra diriku semakin buruk, walaupun sudah terlanjur.”

Woohyun terdiam sejenak, mencoba memeriksa keadaan apakah aman atau tidak.

“ Chorong-ah, pindahlah ke rumah sakit lain, aku bisa mengurusnya untukmu.”

Gadis itu menggeleng cepat.

“ Kau tahu sejak dulu mimpiku adalah menjadi dokter di tempat ini. Bagaimana bisa kau menyuruhku pindah?”

“ Tapi situasinya—“

“ Aku tahu. Selama ini aku tahu semua orang disini menganggapku perusak rumah tanggamu dan Naeun. Rumor yang salah besar, tapi aku mencoba sabar dan bertahan, karena tempat ini adalah cita-citaku.” Chorong tetap berkeras. “…terlebih, sekarang aku ditugaskan merawat Kim Myungsoo. Walaupun sekarang aku tahu ini hukuman, aku akan tetap menjalankannya.”

“ Bagaimana kau menjalankannya? Jangan bilang kau akan membuatnya pulih.”

“ Kau iya kenapa?”

“ KAU GILA!?” Woohyun terkejut dan tanpa sadar berteriak. Semoga saja tak ada yang mendengarnya.

“ Kenapa?”

“ Kau tanya kenapa? Jika ia kembali, The King akan murka dan kita berdua akan hancur, Park Chorong. Hanya beberapa orang yang tahu bahwa dia masih hidup, Naeun dan Jaehwan tak akan pernah boleh tahu hal itu. Jika Naeun tahu, semuanya akan berantakan. Hubungannya dengan Myungsoo akan terungkap dan—“

“ Dan kau akan gagal mencapai tujuanmu, kan?”

“ Kau tahu persis. Karena itu janganlah bertindak bodoh. Kau berada di pihakku, kan? Kau masih memegang janjiku, kan?”

Chorong tertawa kecil. Kata-kata rayuan itu mulai terdengar membosankan di telinganya.

“ Jadi, kau tidak ingin hancur bersamaku, Nam Woohyun? Kukira kau benar-benar mencintaiku.”

“ Aku mencintaimu, jadi aku tak ingin kita hancur bersama-sama. Aku akan segera mencapai tujuanku. Setelah seluruh The King dan rumah sakit ini ada dalam genggamanku, aku akan menepati janjiku. Kau masih mau menunggu, kan?”

“…”

“ Park Chorong, percayalah padaku, oke? Ini demi anak kita.”

Setelah diam beberapa saat, Chorong mengangguk saja. Woohyun menghela nafas lega dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.

“…bagus, kalau begitu aku akan mencari cara untuk melepaskanmu dari hukuman itu. kau tidak perlu berurusan dengan Kim Myungsoo, biar saja dokter lain yang menjadi kambing hitamnya.”

“ Jangan terlalu banyak berpikir. Aku akan baik-baik saja selama kau ada disini.”

“ Kau tidak marah padaku, kan?”

“ Aku akan marah jika kau tidak menepati janjimu.”

“ Aku akan segera menepatinya.”

“ Kalau begitu bekerjalah. Jangan membuat pasienmu menunggu.”

Woohyun menurut dan berdiri sembari merapikan pakaiannya.

“ Kau juga, bukankah kau akan praktik jam 12?”

“ Aku akan segera pergi juga dari sini.” Chorong ikut berdiri dan mematikan televisinya.

“ Baiklah. Kalau begitu aku duluan, jaga dirimu, beritahu aku jika terjadi sesuatu.” Woohyun menghapus airmata yang melengket di wajah Chorong dengan ibujarinya sebelum ia pergi.

Chorong mengangguk pelan. Dalam hatinya merasa heran, mengapa ia bisa damai semudah ini dengan Woohyun setiap kali mereka berbeda pendapat?

Ia sudah terlalu sering mengalah.

Matanya masih menatap punggung Woohyun yang menjauh darinya. Setelah lelaki itu hilang dari pandangannya, ia tersenyum getir.

“ Maaf, Nam Woohyun. Aku akan tetap mengurus Kim Myungsoo sampai ia pulih.”

***

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

 

Syukurlah kau membalas pesanku. Aku tahu kau masih hidup. Aku selalu tahu itu🙂

 

Myungsoo kembali merasakan takut bercampur jengkel. Ia kira balasan ketusnya akan membuat ‘malaikat kegelapan’ ini menyerah dan tak mengganggunya lagi, namun justru sebaliknya.

“ Apa aku abaikan saja?” pikir lelaki itu, ia tak membalas pesan yang baru saja i abaca dan kembali pada tab forum yang ia masuki kemarin.

Forum itu masih ramai, dan semua orang di dalamnya sepertinya memang benar-benar berniat untuk menghabisi nyawa mereka bersama-sama.

Sudah sekitar setengah jam Myungsoo berkutat dengan komputernya setelah dokter barunya pergi dari apartemennya. Ia berbagi banyak cerita dengan para member di dalam sana. Rupanya, meski isi chat dalam forum telah mencapai angka ratusan ribu, penghuni forum yang ada tidaklah lagi berjumlah banyak. Beberapa dari mereka banyak yang telah bunuh diri lebih duluan, entah bersama-sama maupun sendirian.

Dan kini, sepuluh member yang tersisa disana masih membicarakan rencana mereka untuk bunuh diri bersama-sama. Sebelas jika bersama Myungsoo, tentunya.

Sungwonapplecandy : Kita bunuh diri tengah malam saja, di jalan sepi.

Sgyu89 : Haha! Paginya semua orang akan menemukan kita.

Manonfire_4 : It’s like “SURPRISE MDFK!” lol

OHaesook96 : Bunuh diri di rumahku saja, perabotannya lengkap haha

EjJung_K93 : By the way, member baru kita akan ikut, kan?

 

Myungsoo menggaruk pelipisnya sejenak, sedikit ragu.

Jika ia merenungi bagaimana dirinya sekarang, tentu tak ada alasan lagi baginya untuk melanjutkan hidup.

“ Aku sungguh ingin mati. tapi dokter itu.. ah, apa yang kupikirkan? Ia pasti sama saja dengan dokter sebelumnya.”

Myungsoo kembali mengetik di atas keyboardnya.

Kim_Myungsoo : Bunuh diri di apartemenku saja. Aku tak bisa keluar dari sini karena aku cacat dan sendirian.

Anonim1 : Dimana alamat apartemenmu, Kim Myungsoo?

-DarkAngel bergabung di forum-

Lmao_r : Shit! Dia masuk lagi ke sini.

6969 : Jangan beritahu dulu alamatmu, Kim Myungsoo. Nanti dia tahu juga -_-

Yesterday_a : Apa lagi, DarkAngel bodoh?

XXX_Lee03 : Ah.. forumku yang malang. Tidak bisakah kau ganggu forum lain saja?!!

DarkAngel : Syukurlah belum ada yang mati🙂

Sungwonapplecandy : Sialnya bukan kau saja yang mati🙂

DarkAngel : Haha. Aku masih mau hidup. Dan.. berhubung teman-teman disini ingin mati, biarkan aku beritahu kalian prosesnya🙂

 

Myungsoo mengeryitkan dahinya. Mau apa lagi dia? Pikirnya.

DarkAngel : Pertama, gantung diri. Aku yakin salah satu dari kalian akan mencoba cara ini. Ya.. mudah saja sih, tinggal beli tali tambang dari forum sebelah, kemudian gunakan itu untuk mengikatnya di leher kalian. Tapi biar kuberitahu, kalian perlu waktu beberapa menit untuk mati. Sebelumnya, sel-sel otak kalian dulu yang mati dan perlahan berhenti bekerja karena tak ada oksigen yang masuk. Kalian akan sesak napas dan wajah kalian akan membiru. Penderitaan itu.. mungkin kurang lebih berlangsung selama 15 menit. Tapiii… itu jika kalian memasang talinya dengan benar, lho. Kalau kepala kalian miring, dan talinya tidak kena saluran pernafasan, maka penderitaan itu akan semakin panjang, hehe. Jadi kalau kalian mau coba cara ini, kalian harus berhasil sampai mati. karena kalau gagal, sel-sel otak kalian sudah terlanjur rusak dan kalian akan hidup dengan mata buta, telinga tuli, atau bahkan cacat mental. Ujung-ujungnya kalian hanya akan merepotkan para dokter di rumah sakit.

Lmao_r : Sialan, kau sedang menakut-nakuti kami?

Kim_Myungsoo : Gantung diri bukan cara untuk orang lumpuh sepertiku. Aku bisa cari cara lain.

DarkAngel : Oh ya? apa yang akan kau coba, Kim Myungsoo? Minum racun? Nahh, ini sih tergantung jenis racun apa yang kau minum. Jika kau minum pembersih lantai, lambungmu akan terbakar karena kadar asamnya sangat tinggi. Jika kau minum racun serangga atau racun tikus dan sianida, banyak bahan aktif disana dan kau bisa cepat mati. tapi segala sesuatu membutuhkan proses, bukan? Seperti pusing hebat, mulut berbusa, kejang-kejang otot sampai pendarahan lambung dan darahnya naik ke tenggorokanmu. Biar kuberitahu, prosesnya itu kurang lebih 10 menit, tergantung berapa banyak yang kau tenggak. Bayangkan saja sendiri rasanya🙂

 

“ Apa-apaan dia?”

Myungsoo semakin jengkel dan kembali membalasnya.

Kim_Myungsoo : Ada lebih dari seribu cara untuk bunuh diri. Apa kau akan menjelaskannya satu per satu?

DarkAngel : Boleh. Kalau itu yang kau mau🙂

Sgyu89 : Abaikan saja dia, Kim Myungsoo.

Sungwonapplecandy : Dia hanya ingin menakut-nakuti.

EjJung_K93 : Kau tidak mengarang, kan?

DarkAngel : Kalian bisa verifikasi sendiri semuanya. Aku masih punya banyak. Cara apa lagi yang ingin kalian coba?🙂

XXX_Lee03 : Sumpah, aku perlu seseorang untuk menendangnya keluar dari sini!!

OHaesook96 : Sudahlah, dia cuma menakut-nakuti. Tidak ada gunanya.

DarkAngel : So, kalian tidak ingin berubah pikiran?🙂

Manonfire_4 : TIDAK. TERIMAKASIH.

Anonim1 : TIDAK. TERIMAKASIH.

Lmao_r : TIDAK. TERIMAKASIH.

6969 : TIDAK. TERIMAKASIH.

Yesterday_a : TIDAK. TERIMAKASIH.

EjJung_K93 :  Tidak, lah! Lagipula kita akan bunuh diri sama-sama. Sakit itu tidak akan terasa xD

Kim_Myungsoo : Aku juga tidak, bahkan jika kau menakut-nakuti dengan cara lainnya. Aku ikut kalian, guys.

 

Sebenarnya, Myungsoo hanya mencoba berani.

“ Apa sesakit itu rasanya bunuh diri?”

Ia ragu. Harus diakui, pemilik akun misterius itu berhasil menakut-nakutinya.

Namun, pertanyaan yang lebih besar masih tertanam dalam benaknya.

“ Tapi bahkan jika aku memilih untuk hidup, apa lagi yang kupertahankan selain penderitaan ini?”

Ting!

Lamunannya buyar, ia menerima pesan baru dari akun email yang baru saja ia buat tadi malam.

Pengirim : dr. Park Chorong

Untuk : Kim Myungsoo

 

Kim Myungsoo, kau tidak keberatan kan jika aku datang ke apartemenmu setiap hari? Aku juga akan membawamu ke medical center nantinya. Kau mau, kan?

 

Tanpa sadar sebuah senyum mengembang di bibir pucat lelaki tampan itu.

“ Dokter ini.. sepertinya tidak sama dengan dokter sebelumnya.”

***

Chorong memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jasnya, lalu berjalan menuju ruangan praktiknya sembari menunggu balasan dari email yang baru saja ia kirim pada pasiennya.

Tap.

Kakinya terhenti di ujung lorong, bersembunyi ketika melihat kegaduhan di lobi utama.

Naeun jatuh pingsan disana, tepat setelah ia menyelesaikan konferensi pers dan mengantar kepulangan Ken, pasiennya. Tubuhnya terkulai lemas dan nampak Nam Woohyun sudah berada di sana dan mengangkatnya. Semua orang mengerumuni mereka karena khawatir.

Tentu saja. Sebab Naeun bukan dokter biasa di tempat ini. Dan Chorong tak bisa ikut berkerumun disana. Selain tak bisa karena imagenya yang sudah buruk, ia juga merasa tak sudi.

Woohyun mulai berjalan menuju ruang penanganan khusus, ia bisa melihat sosok Chorong dari kejauhan, dan tak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain terpaksa mengabaikan gadis itu.

Naeun yang berada dalam lengannya masih setengah sadar dengan wajah putih pucat seperti mayat. Ia tahu istrinya itu drop setelah semua bebannya mengurus Jaehwan dan usaha pertahanan dirinya setiap kali bertemu dan mendengar segala hal tentang Kim Myungsoo belakangan ini.

Namun yang tak Woohyun mengerti, mengapa kini Naeun terus saja mengucapkan sesuatu yang tidak jelas sejak tadi malam hingga sekarang?

“ 10.. 10.. 10..”

_To be Continued_

 

Akhirnya! Part perdana dari Suicide Forum kelar jugaa, hehe. Bagaimana? Masih misterius? Jelas, ini disengaja. Karena part berikutnya akan full dengan flashback, semua pertanyaan yang ada di part ini akan terjawab disana dengan penuh kejutan.

Kapan part berikutnya? Tergantung readers, author meminta feedback dulu berupa komentar untuk part ini. Jangan jadi silent readers lho ya, biarkan author tahu bagaimana pendapat kalian untuk evaluasi di part berikutnya🙂

 

See you!

Next >> Part 2 : Who is Who

34 responses to “SUICIDE FORUM [Part 1 : Log In]

  1. hosh….ini panjang ya, berasa lagi nonton drama 😆
    aaaaaaaakk kereeeeeenn~ baru kali ini aku baca ff Myungsoo, sama Naeun juga dan ini antimainstream gilaaa salutt akuu sumpah deh berasa lagi nonton drama koriyaa 😆😆
    ini emang masih abu-abu, tapi dikit-dikit paham sama alur juga karakter, awal-awalnya agak ga suka sama karakter si Naeun, tapi makin lama makin ngerti siapa sebenernya antagonis di sini //eaa btw penasaran siapa yg ngakses akun Dark Angel padahal itu kan buatan Myungsoo sama Naeun? Aku nebak itu Naeun tapi kok meragukan ya? Dan aku pengen kesel sama Cho Rong tapi kayaknya dia baik ya wkwk
    jadi penasaran sama flashbacknyaaa aaaaaakk ditunggu sangaaaatt 😣😆

    btw salam kenal, sebenernya udh lama tau situs sini cuma jarang baca-baca, sekalinya baca nemu yg keren banget inii 😄😄 salam kenaaaall (lagi) siska imnidaaa~ ditunggu kelanjutannyaa 😊😊😊

  2. Sebenernya bingung maubkomen apa. Seperti biasa sih ff nya kak citra itu selalu panjang dan beda dari yang lain dan jujur bingung banget sama jalan ceritanya disini, mungkin setelah chap 2 ada nisa ngerti tapi aku yakin kok ff nya kak citra gabakal mengecewakan, dari pengalaman sih setelah baca semua ff nya kakak jadi jan bikin penasaran terus kak!! Chap 2 nya di tunggu karna bener bener penasaran sama yura myungsoo naeun chorong woohyun ken n howon wkwk pokoknya semangat kak!! Ditunggu chap 2 nya!!

  3. SUICIDE FORUM KEREN KAN MAIN SAOLOH UDH KEK NNTN DRAMA AE ㅠㅠ Part awal aja udh byk teka teki nya hiks otak sampe gaberenti bikin hipotesa ini itu/? Bentar deh mw bahas si chohyun dia bener anak woorong kan ya aw aju naisss💕mz howon antagonis ye disini uw ngeri :” ini woohyun jg keknya punya niat buruk deh tp untung chorong nya baik hamdalah:) dr. chorong segera sembuhkan myungsoo juseyo~ Dan satu dugaan yg gue yakin ini bener *pd amat gue elah wk* yg pgg akun dark angel si naeun. Dah ah gabisa byk komen takut salah duga ku maluvv ntar(?) citra kan klo bikin ff plot nya slalu susah ditebak :’v Semangattt buat next part nyaa cit!!!

  4. AKHIRNYAAA SETELAH SEKIAN LAMA HEHE. Sumpah ini keren bangetttt dan ceritanya bikin deg-deg-an di setiap ganti babak. Masih ada yang bikin bingung.

    Kalo, DarkAngel itu akunnya Naeun, trus Naeun kapan ngebalesin chatnya Myungsoo. Kenapa dia nangis pas Ken nyanyi tentang Myungsoo? Kalo dia tau Myungsoo masih hidup, mustinya enggak.

    Berarti DarkAngel bukan Naeun? :O Duh, penasaraaan! Ditunggu kaak!😀

  5. Kakak bikin aku galo berat ._.
    Ini genre misteri-nya kental banget, gak ada celah diriku buat menemukan clue yg ngumpet. Tp menurutku, si Naeun itu kyk gk disetujui gitu sama si Myungsoo.. Ala drama2 BBF yg menjunjung tinggi martabat keluarga & perjodohan-nya >< Terus si Naeun & Woohyun nikah cuma buat formalitas utk nutupin rahasia tentang hubungannya sama Myungsoo dan masa lalu mereka, juga ngebuat Myungsoo memutuskan hubungan mereka.

    Sekali lagi ini cuma opini. Btw, acara TV yg judulnya sebelumnya What Do You Think kok jadi What Do You Mean?

  6. HEOL ! DAEBAK !
    Selalu tidak pernah mengecewakan untuk meluangkan waktu membaca cerita dari author ini dengan casts yang tidak pernah salah.
    Cerita yang membuat pembacanya memutar gambar di otak masing-masing, penjelasan yang jelas dan alur cerita yang seperti ditulis oleh penulis profesional.
    Saya menantikan novel terbitan anda authornim 😭👍

  7. Apa ini, aku telat lamaaaaaaaa banget
    Tepat 15 hari yang lalu diposting masa
    Heol, #abaikan

    Aduh Cit, udah g sanggup komen apa2 dah ini
    Tulisanmu memang selalu dinantikan karena ide2nya yang menarik dengan gaya bahasa khas kamu
    Ini part panjaaaanggg dengan segudang misteri yang sukses bikin penasaran
    Akut malah
    Hahahahahaha

    Ceritanya benar2 penuh dengan tanda tanya namun seru untuk diikuti
    Tak teraba ini cerita bakal mengalir kemana

    Dinanti untuk next partnya ya😀

    And by the way, itu typo kah yang acara tv awalnya ‘What do you think’ kok habis pingsan jadi ‘What do you mean’
    Aku beberapa kali scroll memastikan kalau aku salah baca
    Tapi ternyata tidak
    Hahahahahaha

    Gpp dah, itu mah engga mengganggu feel dalam cerita

    Sukses ya Cit❤

  8. Wahh..!
    akhirnya, keluar lagi the best FF karya The best Author yang pernah ku tau;D
    ceritanya bagus bangetTT

    lanjutt thor~

  9. Pingback: SUICIDE FORUM [Part 2 : Who is Who (Flashback part)] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s