Without Communications in Terrorisme Agent

 

Tittle : Without Communications in Terrorism Agent

 

Cast :

Lee Donghae – kepala polisi Korea Selatan

Kim Kyuhyun – ketua divisi technology and communication

Kim Heechul – Misterious man

Kim Kibum – pimpinan markas besar

 

Other Caracter :

Lee Cheonsa (Donghae’s sister)

Kim Pi Gyu (Kyuhyun’s sister)

Park Mon Ji (Park Jungsoon’s sister)

Shin Ahreum & Shin Ra In (Special Twins)

Qin Xing Qi (Kibum’s wife)

Park Seung Young (Misterious person)

Kim Su In (Misterious person)

 

Summary : Si bungsu Kim harus berakhir tepat sehari sebelum ulang tahun nya. Banyak pertanyaan yang muncul dalam kepala Kim Kyuhyun. Lee Donghae, siapa pria itu? Apa hubungannya dengan Kim Pi gyu? #DonghaeMilikBersama #HAPPYDONGHAEDAY

 

Genre : Crime, Relationship, Misteri, and Action

FF KOLABORASI DENGAN 7 AUTHOR.

Emon el

Ckhevl9806 : Ara dan Aira (special character)

Sur0203

Lizz Danesta

Pigu

And

Ika Zordick (special character)

 

Kolaborasi terfokus baik dalam proses editing, penambahan narasi, inspirasi karakter OC, dan pembuatan scene… But, Krystalaster27 masih mendominasi 60% bagian ff ini. ^_^ Because, saya adalah sutradaranya sekaligus produsernya. Kkkkkk #NgikikCantik

 

Ending? Jgan d tanya dulu. Baca dulu aj…

#HopeYouLikeIt

 

“JANGAN ADA MALING DIANTARA KITA!!! INI PROYEK LANGKA! NGERJAINNYA SUSAH, PUSING, TAPI SERU. JADI KLAU AD MALING, HARUS SIAP NGELAWAN 8 AUTHOR.”

Hohoho… Ekhem. Maaf, lagi labil. Kkkkkk Tpi itu seriusan loh. ^_^

 

.

.

.

.

.

 

Opening….

 

Krystalaster27

 

Ketenangan… Apa yang dimaksud dengan ketenangan? Apakah saat kita merasakan bahagia, tanpa beban, tanpa pekerjaan, atau tanpa masalah? Hanya hati kita yang tau.

 

Ketenangan itu seperti sebuah bom. Setelah ketenangan, pastilah ada goncangan gempa yang menakjubkan.

 

Lalu apa yang dimaksud dengan misteri? Apakah sesuatu yang abstrak, yang aneh, yang tidak diketahui, atau yang ditutupi?

 

Perselisihan antar saudara? Kalian percaya itu? Sejatinya, saudara tidak akan mengalami perselisihan. Namun lebih ke arah marah dan muak karena saudara yang lain tidak sejalan, sepikiran, atau menyimpan kebohongan.

 

Tidak percaya? Ayo buktikan bersama!

.

.

.

 

Krystalaster27 with Emon el

 

Ketika matahari sepenggalah, tetesan embun tak lagi ada, serta kicau burung lenyap tertelan kebisingan deru kuda besi. Namja dengan kaos serta celana training itu berjalan dengan santai memasuki apartemennya. Bibirnya mengerucut, bersiul menyenandungkan nada abstrak yang disukainya.

 

“Pi Gyu-ya!” Teriakan membahana memenuhi apartemen. Namja itu menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan sosok yang dipanggilnya.

 

Tidak ada. “Eodiga?” Teriak namja itu sekali lagi. Alisnya nyaris bertaut, merasa heran karena keadaan yang tidak biasanya.

 

“Oppa, What are you doing?” Sebuah sahutan dari arah belakang membuat namja itu terlonjak kaget.

 

“Omo!!! Jantungku!” Tangan namja itu refleks memegang dadanya, merasakan degupan dengan ritme cepat karena terkejut. “Cheonsa-ya, aku sedang mencari Pi Gyu.” Ucap namja itu pada gadis bermata coklat karamel dengan rambut bergelombang yang terurai hingga pinggang.

 

“Sepi sekali… Apakah Pi Gyu tidur.” Cheonsa -gadis itu- merasa heran.

 

Cheonsa bukan penghuni apartemen itu, namun dia biasa masuk tanpa mengetuk pintu karena sudah tau passwordnya. Gadis keturunan Prancis – Korea itu adalah teman satu divisi ‘Pi Gyu’.

 

“Ini sudah pukul 10 siang. Pi Gyu biasanya sudah bangun pukul 7.” Heran namja itu. Dia hafal dengan kebiasaan adiknya yang selalu bangun sebelum jam 7 pagi.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Berdecak, Cheonsa berjalan cepat menuju kamar ‘Pi Gyu’ di lantai 2. Sementara namja pemilik apartemen berjalan mengekor di belakang Cheonsa.

 

Tok!

 

Tok!

 

Tok!

 

Tangan Cheonsa yang terkepal memberi beberapa kali ketukan keras pada pintu, berharap si penghuni kamar mendengar.

 

“Gyu! Gyu-ya! Ireona! Ini aku, Cheonsa Lee. Kita harus berangkat segera ke markas.” Cheonsa berteriak sembari mengintip melalui lubang kunci.

“Aku baru tau jika ada pekerjaan di akhir pekan.” Namja itu bersedekap, berdiri menyandar di samping pintu sambil melirik Cheonsa yang menunduk di sebelah kanannya.

 

Menegakkan punggung, Cheonsa menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, menatap malas wajah namja yang tidak lain adalah kakak dari rekannya. “Ada misi baru, kami harus meretas aksi penyelundupan senjata ilegal serta pembebasan tawanan. Kyuhyun oppa tidak mendapat kiriman arsip dari Kibum sajangnim?” Setahunya misi kali ini melibatkan lebih dari 3 divisi, aneh sekali mendengar ucapan namja bernama lengkap ‘Kim Kyuhyun’ yang terkesan tidak tau.

 

“Aniya. Kibum tidak menghubungiku sama sekali.” Jawab Kyuhyun dengan santai.

 

Menautkan alis, Cheonsa melipat lengan panjang kemejanya sampai atas siku. “Aneh, padahal oppa adalah ketua divisi technology and comunication. Seharusnya oppa tau semuanya.”

 

“Kita berada di divisi yang berbeda Cheonsa-ya. Kau serta Pi Gyu berada di divisi anti terorisme. Bukan berarti jika aku berada di divisi tersebut, aku mengetahui segalanya.” Kyuhyun mengingatkan. Mungkin saja Cheonsa lupa mereka beda divisi dan peraturan jika ada batas antar divisi untuk saling ikut campur.

 

Cheonsa mengambil 2 langkah lebar ke belakang, netranya terfokus pada satu titik yaitu bagian pintu yang dekat dengan ganggang pintu.

 

“Mundur!” Seru Cheonsa.

 

“Mwoya?” Bingung Kyuhyun ketika Cheonsa tiba-tiba menyuruhnya mundur.

 

“Aish, mundur!” Ulang Cheonsa gemas karena Kyuhyun masih bergeming ditempatnya.

 

Meski bingung Kyuhyun akhirnya memilih mundur menuruti apa kata yeoja teman dari rekan satu tim adiknya ini. “Hei, apa yang kau -” belum sempat menyelesaikan ucapannya Kyuhyun sudah dibuat menganga dengan tindakan yang dilakukan oleh Cheonsa. Gadis dengan rambut bergelombang yang memiliki postur tubuh ramping, menerjang pintu-

 

BRAKK!!!- hingga terjeblak dalam sekali dobrakan keras.

 

Kriettt…

 

Senyuman lebar di bibir Cheonsa terlihat sangat puas mendapati pintu terbuka karena hasil usahanya. “Beres.” Mengibaskan tangan beberapa kali seolah menghilangkan debu yang mengotori telapak tangannya.

 

“Aigoo, kau mendobrak pintu.” Ucapnya Kyuhyun tak percaya. Mulutnya menganga lebar seolah rahangnya terlepas. Demi apapun, Kyuhyun bahkan mengira jika Cheonsa hanyalah gadis lemah yang tidak bertenaga.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Cheonsa masuk ke dalam kamar, ia menghela nafas mendapati tubuh temannya masih berbaring dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh.

 

“Pi Gyu, ternyata kau tidur. Ayo bangun!” Tangan Cheonsa terulur, menguncang tubuh Pi Gyu.

 

Tidak ada respon. Heran, Cheonsa akhirnya menambah intensitas guncangannya menjadi sedikit lebih brutal. “Hei, ireona!”

 

Kyuhyun masih berada di luar kamar, mengamati Cheonsa yang sibuk menguncang tubuh adiknya.

 

“Yakkk!” Pekik Cheonsa kesal. Cheonsa menegakkan tubuhnya, berdiri sambil berkacak pinggang menghadap selimut dengan gundukan yang sudah pasti dibawahnya adalah ‘Kim Pi Gyu’.

 

“Tendang saja jika dia masih tak mau bangun” Kyuhyun menyarankan.

 

“Pemalas!” Serunya masih terus mengawasi. Sebenarnya ia penasaran juga kenapa Pi Gyu sama sekali tak terusik dengan aksi brutal temannya itu. Bukankah seseorang yang pekerjaannya berhubungan dengan dunia kriminal harusnya memiliki kepekaan yang cukup tinggi. Atau sifat pemalas anak itu memang sedang kambuh. Cheonsa mengabaikan saran dari Kyuhyun dan memilih cara yang lebih manusiawi untuk membangunkan rekannya tersebut.

 

“Pi Gyu-ya! Kita harus pergi bekerja.” Cheonsa merasa seperti sedang membangunkan beruang yang tengah hibernasi.

 

Sreet

 

Bruggh

 

Dalam satu kali tarikan, selimut itu tersibak lalu berakhir di atas lantai. Namun bukan selimut yang menyebabkan suara gedebum melainkan tubuh Pi Gyu yang ikut terhempas dengan keras ke lantai.

 

“Pi-pi Gyu…” Cheonsa tergagap. Nafasnya tercekat ketika melihat kondisi Pi Gyu yang tidak wajar.

 

Kyuhyun masuk ke dalam kamar, namun baru beberapa langkah ia langsung berhenti. “Darah…” Lirihnya tidak percaya.

 

Tubuh Pi Gyu jatuh dengan posisi terlentang, persis seperti orang yang tidur lelap, namun terlihat kaku. Ada banyak noda darah di bagian depan bajunya.

 

“Oppa, cepat panggil Mon ji!” Teriak Cheonsa melihat Kyuhyun yang hanya diam, terlalu shock dengan apa yang dilihatnya.

 

‘Pi Gyu-nya…..tidak mungkin.’ Kyuhyun merasakan firasat buruk tentang adiknya.

 

“Pi Gyu-ya” lirihan Kyuhyun memecah keheningan, terdengar jelas suaranya bergetar. Cheonsa mengiba melihat Kyuhyun yang membeku ditempatnya seolah pikiran namja itu tak berada ditempatnya. Tapi saat ini bukanlah waktunya bagi Kyuhyun bermellow(?) dengan hatinya. Dia berdecak menahan kesal melihat Kyuhyun yang tak mengindahkan perintahnya.

 

“Yak oppa! Kenapa kau hanya diam saja. Cepat panggil Monji!” Sekali lagi Cheonsa berteriak untuk menyadarkan Kyuhyun bahwa mereka membutuhkan yeoja berambut lurus(?)

 

Sedikit gelagapan Kyuhyun merogoh saku celana trainingnya, mengambil ponsel lalu mencari nomor kontak Monji.

 

Nada sambung terdengar, sepersekian detik kemudian suara kemerusuk dari sebrang menandakan jika orang yang dihubungi telah mengangkat panggilan.

 

“Yeobseoyo. Mon Ji-ya, datang ke rumahku! Palli!” Situasi genting, Kyuhyun tidak bisa berbasa-basi.

 

‘Yakkk! KIM KYU!!! AKU BARU SAJA MEMAKAI MASKER!!!’

 

Pip

 

Sambungan telfon diputus.

 

“Aish…dia masih saja suka memerintah dan bertindak seenaknya!” Rutuk Monji akan kelakuan namja yang pernah menjadi bagian masalalunya serta pernah mengisi hatinya. Monji mengacak kasar rambutnya, melupakan masker setengah kering yang barusaja dipakai. Namun sedetik kemudian~

 

“Kyaaaaa….maskerku!” Paniknya saat menyadari masker yang dipakai tak menempel sebagaimana mestinya. Banyak retakan yang terlihat disana-sini. Mungkin akan meninggalkan sedikit bekas kerutan nantinya.

 

“Aishhh….” Mendesis, mau tidak mau Monji bergegas kekamar mandi. Ia harus sesegera mungkin mencuci wajahnya. Kyuhyun memang terbiasa seenaknya dengan dirinya, tapi Monji bisa merasakan kali ini ada yang berbeda dari nada suara Kyuhyun. Monji rasa pasti ada sesuatu yang terjadi. . .

 

 

 

Di apartemen…

 

Kyuhyun segera mendekati Cheonsa setelah mematikan sepihak panggilan teleponnya. Ia bisa membayangkan wajah Monji yang pasti mengumpat kesal atas ulahnya. Tapi bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang…..

 

“Ti-tidak mung-mungkin! ANDWAE! Pi Gyu. Ireona!” Raut muka Cheonsa terlihat panik, tadi ia baru saja meraba pergelangan tangan Pi Gyu serta mengecek hembusan nafasnya.

 

“Cheonsa-ya! Apa yang kau lakukan!” Protes Kyuhyun yang melihat teman adiknya tersebut terus menekan-nekan dada adiknya. Saat ini, Kyuhyun seolah menjadi bodoh untuk menyadari bahwa yang dilakukan Cheonsa adalah bentuk/prosedur pertolongan untuk menolong adiknya.

 

Cheonsa berlutut di samping leher dan bahu Pi Gyu, meletakkan satu telapak tangan di atas dada bagian tengah, lalu telapak tangan kedua di atas tangan pertama. “Hei, kenapa kau melakukan CPR! Hentikan!” Teriakan tersebut tidak membuat Cheonsa berhenti melakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation).

 

“Pi Gyu-ya! Bernafaslah!” Seolah menulikan pendengarannya atas larangan Kyuhyun, Cheonsa terus berusaha melakukan pertolongan yang ia bisa. Tapi-

 

Deg

 

Sepertinya ia sudah menduganya, tak ada respon.

 

“Cheonsa Lee! Katakan, apa yang terjadi?” Kyuhyun berseru, menuntut agar gadis dengan surai bergelombang itu segera menjawabnya.

 

“Pi Gyu-ya, bernafaslah!” Cheonsa masih terus mencoba meski ia tau tubuh Pi Gyu tak meresponya.

 

Terkulai, tangan Cheonsa berhenti. Ia tidak sanggup lagi, semua yang dilakukannya tidak memberikan hasil seperti yang ia harapkan.

 

“Hiks, hiks… Pi Gyu-ya, hiks.” Usahanya sia-sia…

 

“Cheonsa, katakan!” Teriak Kyuhyun karena tak mendapat jawaban berarti dari Cheonsa. Justru tangisan yeoja itulah yang menjadi jawaban. Firasatnya mengatakan~ tapi ia tak mau hanya menebak….

 

Brugg

 

Kali ini Cheonsa terduduk, tak lagi berlutut. Tubuhnya mundur beberapa jengkal, menjaga jarak dari tubuh Pi Gyu.

 

“Hiks, Pi Gyu meninggal.” Isak tangis tak mampu dibendungnya. Cheonsa membekap mulutnya, sementara manik matanya menatap nanar tubuh yang kini terbujur kaku di hadapannya.

 

“Mwo? A-aniya! Ka-kau pasti bercanda!” Kyuhyun tak mau percaya. Meskipun kedua matanya dengan jelas melihat tubuh Pi Gyu yang hanya diam saja. Kyuhyun tidak bodoh, ia mencoba untuk tak mempercayai apa yang dilihatnya, bahwa adiknya kini sudah tak bernafas lagi. Dalam eksistensi Kyuhyun bekerja di markas, ia sudah sering melihat orang mati, tapi tidak jika dihadapkan pada mayat adiknya sendiri. Ia tidak sanggup.

 

“Hiks, aku tidak bercanda!”. Cheonsa menggeleng pelan, ia bangkit lalu menarik tubuh Kyuhyun agar tetap berdiri saat melihat namja itu nyaris ambruk.

 

Kabut bening berkumpul, mengaburkan pandangan Kyuhyun.”Gyu-ya….” Lirihnya. Kyuhyun menatap sendu tubuh tak bernyawa adiknya. . . .

 

 

 

10 menit kemudian…

 

“Mon Ji-ya, bisakah kau memperkirakan waktu kematiannya?” Kyuhyun bertanya tanpa mengalihkan tatapannya pada jasad Pi Gyu yang terbujur kaku di atas lantai. Ia duduk sambil memeluk lutut di sudut ruangan, Cheonsa memutuskan untuk bersandar pada jendela di sudut ruangan yang berseberangan dengan Kyuhyun, sementara Monji berdiri di antara keduanya.

 

Menghela nafas, yeoja dengan dandanan kasual itu menolehkan kepala untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Satu jam yang lalu. Aku tidak bisa memastikan detailnya, biarkan dokter forensik yang menangani.” Mata Monji melirik Kyuhyun yang terdiam menatap mayat adiknya. Ia tau betul namja itu begitu kehilangan sosok PiGyu yang pastinya sungguh berarti.

 

“Oppa, aku menyarankan agar oppa bersedia menandatangani surat persetujuan otopsi.” Monji menatap lekat namja itu. Banyak kejanggalan yang harus diungkapkan.

 

“Haruskah?” Kyuhyun menghela nafas. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.

 

Hening sejenak. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Situasi ini sangat tidak terduga, sangat mengejutkan, dan sangat janggal.

 

“Mon Ji-ya, kemarin aku bahkan masih bercanda dengan Pi Gyu. Dia tidak menunjukkan gejala sakit atau lainnya.” Lanjutan ucapan Kyuhyun stelah hening beberapa saat untuk memikirkan usulan Monji.

 

“Oppa… Percayalah! Aku mencurigai sesuatu. Lebih baik oppa turuti saranku.” Sekali lgi Monji kekeuh menyarankan. Ia bersedekap, menatap jengah karena Kyuhyun yang tak kunjung menyetujui usulannya.

 

Bahu Kyuhyun merosot, tatapan matanya tampak sedikit kosong.”Baiklah. Cheonsa-ya, bisakah kau yang mengurusnya? Berikan dokumen apapun yang perlu ku tandatangani.” Netra Kyuhyun bergeser menatap rekan kerja adiknya yang kini sudah nampak lebih tenang.

 

“Ne.” Gadis dengan surai coklat itu menganggukkan kepala. Ia berdiri lalu mulai berjalan keluar dari kamar Pi Gyu, melewati beberapa petugas yang baru datang dan kini mulai sibuk dengan urusan mereka.

 

.

.

.

 

Krystalaster27

 

Sunyi… Semuanya terasa sangat berbeda. Tak ada lagi teriakan riang yang menyapa Kyuhyun.

Ya… Tidak ada.

 

Sosok bernama ‘Kim Pi Gyu’ kini telah pergi untuk selamanya, menyisakan sebuah tanda tanya besar karena kematiannya yang tidak wajar. Gadis periang yang selalu merasa senang dengan hal-hal sederhana dan akan berteriak heboh ketika melihat cacing di dalam pot bunga.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Suara langkah kaki yang terdengar mendekat, bahkan tidak mampu menarik Kyuhyun dari lamunannya.”Kyuhyun oppa…” Cheonsa mendekati namja itu, menyerahkan sebuah berkas pada Kyuhyun.

 

Mengerjapkan mata beberapa kali, Kyuhyun mendongak lalu melihat wajah Cheonsa yang juga nampak sembab setelah menangis. “Proses otopsi akan dilakukan hari ini.”

 

Itu berkas kerja Kyuhyun yang sebenarnya harus disetorkan minggu depan, berkas yang kemarin diletakkan secara asal di atas meja ruang tamu, namun kini bagian-bagian kolom yang kosong sudah terisi penuh. Cheonsa-lah yang merampungkannya.

 

“Pimpinan Kim bertanya, apakah oppa membutuhkan libur panjang? Jika iya, maka tugas oppa akan diambil alih oleh Kim Jongwoon sunbaenim. Hasil pekerjaanku mungkin sedikit kurang sempurna, namun aku hanya ingin membantu. Setidaknya berkas tersebut tidak lagi menjadi beban pikiran oppa.” Cheonsa berbicara dengan pelan, berusaha tidak membuat Kyuhyun tersinggung karena membahas pekerjaan di waktu yang tidak tepat.

 

Kepala Kyuhyun menggeleng, ia membalikkan lembar-demi lembar berkas tersebut, mengoreksi hasil garapan Cheonsa. “Tidak, aku akan bekerja besok.” Cukup rapi, tulisan tangan Cheonsa mudah dibaca dan penjabarannya dalam analisa sangatlah sederhana namun obyektif.

 

“Baiklah kalau begitu.” Cheonsa mengangguk, ia menerima berkas yang sudah diperiksa. Cheonsa akan membawa berkas tersebut kepada pimpinan Kim agar segera ditindak lanjuti.

 

Gedung apartemen nampak begitu asri, banyak pepohonan rindang yang di tanam sepanjang jalan setapak. Taman mungil dengan gazebo sederhana juga ada di samping gedung apartemen, mempertegas kesan ‘mewah’ yang selalu ditonjolkan apartemen itu.

 

Beberapa menit kemudian…

 

Seorang gadis dengan rambut coklatnya yang bergelombang, berjalan sedikit cepat sembari mendekap erat dua buah map berwarna biru. Gadis itu baru saja keluar dari apartemen, kini ia sedang menuju mobilnya yang terparkir agak jauh.

 

Tuk

 

Langkah gadis itu tiba-tiba terhenti begitu melihat siluet tubuh familiar yang baru saja keluar dari mobil. Postur tubuh tinggi, tatapan mata yang teduh, dan bibir tipis yang sering tersenyum. Dulu… Ya, dulu sekali. Sebelum bibir tipis itu lebih sering bungkam dan memunculkan seringai mengerikan.

 

“Donghae oppa!” Gadis itu berseru untuk memanggil sang obyek yang dikenalinya.

 

Berbalik, Donghae terlihat sedikit terkejut melihat keneradaan si gadis bersurai coklat namun secara cepat ia mengendalikan ekspresinya. “Eoh…” Mulutnya hanya meloloskan sebuah suku kata sebagai respon.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Gadis dengan surai coklat bergelombang itu mengikis jaraknya dengan Donghae. “Oppa kenapa di sini?” Bertanya dengan penasaran. Pasalnya sang kakak tidak memakai baju seragam tugasnya, namun mengenakan setelan jas hitam yang terkesan sangat formal.

 

Donghae menatap datar si gadis yang kini sudah berdiri di depannya. “Aku-”

 

“Menemui Kyuhyun oppa?” Potong si gadis cepat. Rambutnya bergerak-gerak tersapu angin, membuat wajahnya yang sedikit pucat kini mulai bersemu karena udara dingin yang menerpa.

 

Kepala Donghae mengangguk. “Ne. Aku ingin menemaninya yang sedang sedih.”

 

Alis gadis itu terangkat sebelah, ‘sedih’ sepatah kata itu sungguh janggal. Donghae berjalan cepat melewati si gadis yang tak lain adalah Cheonsa.

 

Grep

 

Cheonsa menahan lengan Donghae, menghentikan langkah namja itu yang nyaris meninggalkannya. “Tunggu! Oppa tau darimana jika Kyuhyun oppa sedang sedih? Setahuku, berita tentang kematian Pi Gyu belum sampai ke kantor polisi.” Manik mata Cheonsa menghunus tajam, ia mendapati suatu hal yang janggal dari pernyataan Donghae.

 

“Aku tau dengan sendirinya.” Donghae menepis kasar tangan Cheonsa yang memegangi lengannya. Tatapannya juga menajam, tidak kalah dingin dengan adiknya.

 

Cheonsa menarik nafas. Ia menatap wajah sang kakak yang nampak sedikit lesu. “Oppa sudah makan?” Tanyanya mengalihkan percakapan, kini pandangannya berubah sendu. Tubuh sang kakak nampak lebih kurus dan kantung mata terlihat dengan jelas.

 

“Belum.” Jawab Donghae singkat.

 

Mendengar jawaban itu, dengan tergesa Cheonsa meraih sebuah kotak dari dalam tas selempangnya. “Ini, makan saja bekalku.” Menyodorkan kotak itu pada Donghae.

 

“Simpan masakanmu yang tidak bermutu itu! Aku tidak sudi.” Donghae tetap menampilkan wajah datarnya, menunjukkan ketidak sukaannya secara terang-terangan.

 

Cheonsa menghela nafas. “Hahhhh… Baiklah, terserah saja.” Memasukkan kembali bekalnya ke dalam tas. Tidak ada yang salah dengan bekal itu, Cheonsa cukup mahir memasak. “Oppa, nanti pulanglah!” Pesannya pada sang kakak dengan tulus.

 

“Pulang atau tidak, itu bukan urusanmu!” Donghae membalikkan tubuh, ia kembali melangkahkan kaki untuk masuk ke apartemen.

 

Bahu Cheonsa merosot, rasa antusiasnya ketika melihat Donghae malah dibalas dengan jawaban super ketus. “Baiklah jika oppa tidak ingin pulang. Aku hanya bertanya… Jadi, tak perlu seketus itu.”

 

Jujur saja, Cheonsa merasa sangat kecewa. Kini ia berdiri terpaku menatap punggung sang kakak yang berjalan meninggalkannya tanpa meninggalkan sebuah kata perpisahan atau sekedar ucapan, ‘hati-hati di jalan’. Inilah Donghae yang sekarang, namja dingin yang bersikap seolah orang asing dengan adiknya sendiri.

 

.

.

.

 

 

Ckhevl9806 – Ara (domination) and Emon el

 

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Suasana rumah sakit sore itu memang masih ramai seperti biasa. Namun langkah kaki seorang wanita muda yang menggema disana membuat suasana rumah sakit kala itu tampak sepi dan kelam. Katakanlah suasana kelam yang muncul itu dari wanita muda itu sendiri. Hatinya terasa kelam dan penuh kegelisahan. Meski langkahnya sedikit cepat, namun tak urung tiap langkahnya membuat waktu seakan berjalan lebih lambat.

 

Ceklek.

 

Pintu berwarna caramel itu terbuka dengan mudah karena daerah ruangan forensik dan ruang jenazah memang cukup sepi dan tidak banyak orang yang berlalu lalang disana. wanita itu menarik nafas panjang karena ia bisa memasuki koridor awal ruangan tanpa pengawasan itu dengan mudah. Wajahnya sulit diartikan setelah tangannya dengan pelan membuka sebuah pintu lainnya yang berlabel khusus lalu menutupnya lagi tanpa suara. Monji, wanita itu tergagap ketika tiga pasang mata menatapnya sedikit tidak suka. Bukan apa-apa, hanya saja kedatangannya di tempat itu sungguh bukan waktu yang tepat.

 

“Bagaimana bisa anda masuk kesini?”

 

“Maaf, tapi anda tidak diperbolehkan untuk masuk ruang otopsi karena kami masih melakukan otopsi korban. Jadi-”

 

“Sa-saya, saya-” Wanita itu mengusap keringat yang membasahi dahinya. Ia gugup karena ini pertama kalinya ia masuk kedalam ruang forensik dan kegiatan otopsi sedang dilakukan. Sebenarnya belum dilakukan. Ketiga dokter forensik yang berada disana baru memasuki tahapan pertama sterilisasi saja, dan belum melakukan pembedahan apapun jadi Monji datang di waktu yang tidak terlalu buruk.

 

“Monji-ya?” Sosok yang dipanggil hanya menggaruk tengkuknya, meski setelahnya ia menatap mata yang menginterupsinya itu. Dokter wanita yang memanggilnya itu kemudian mendekat padanya dan menariknya sedikit menjauh dari daerah itu.

 

“Ahreum-ah, a-aku.. Tunggu dulu! Aku kesini bukan tanpa alasan. Aku ingin-”

 

Shin Ahreum, nama dokter wanita yang lebih tinggi dari Monji itu. Wanita muda berwajah stoic namun hangat itu sudah lama dikenalnya dengan baik. Monji cukup dekat dengan dokter muda itu meski ia belum mengetahui keseluruhan sikap maupun latar belakangnya karena mengingat bahwa Ahreum bukan perempuan yang mudah membuka idenditas.

 

Sejujurnya, Monji cukup mensyukuri karena ia mengenal baik dokter muda itu. Karena ia yakin dirinya akan baik-baik saja karena nekat memasuki ruangan forensik yang sedang lenggang tanpa pengawasan ketat dari luar. Setelah menjauh dari daerah sterilisasi, dokter wanita yang membawanya tadi kemudian melepaskan maskernya hingga tergantung di lehernya. “Kenapa kau ada disini? Kau tahu, tidak bisa sembarang orang masuk sini. Bahkan pihak keluarga sekalipun tidak diperbolehkan untuk menyaksikan proses otopsi korban.”

 

Monji mengatupkan kedua tangannya, membuat gerakan memohon pada dokter bernama lengkap Shin Ahreum itu. “Kumohon! Aku ingin menyaksikan proses otopsi itu. Aku harus mengetahui penyebab kematiannya!”

 

Ahreum menghela nafas. “Monji-ya, bahkan kau asal masuk saja tadi tanpa mengenakan perlindungan apapun berupa masker dan yang lainnya. Kau tahu, didalam ruang forensik segala hal yang tidak kau ketahui bisa terjadi. Ini adalah ruangan mayat, kau akan bersentuhan langsung dengan sesuatu yang kotor dan menjijikkan untuk seseorang yang bukan berprofesi dokter sepertimu.”

 

Monji hanya mengerlingkan matanya ketika Ahreum yang mengatakannya dengan kalimat lain seolah-olah ia adalah wanita yang lemah soal ini. “Aku akan bertahan! Lagipula, aku hanya ingin melihat prosesnya dan bagaimana kronologi kematian Pi Gyu yang sebenarnya. Aku tidak ikut dalam proses pembedahan dan lainnya, bukan? Jadi, kau tenang saja. Aku tidak akan menganggumu.”

 

Kini giliran dokter itu yang mengerlingkan matanya. “Tidak! Ini adalah rumah sakit dan ini termasuk wilayah kami sebagai para dokter. Sekalipun posisimu disini sebagai bagian tugas penyelidikanmu, tapi peraturan tetaplah peraturan. Jadi tolong patuhi bahwa tidak bisa sembarang orang bisa masuk bahkan menyaksikan proses otopsi.”

 

Ahreum kemudian berbalik ingin pergi namun Monji kembali menahannya. “Apa yang harus kulakukan agar kau memperbolehkanku ikut serta?”

 

Ahreum mengetuk-ngetuk ujung kakinya, lalu ia tertawa kecil. “Kau harus minimal memiliki ijazah kelulusan sebagai seorang suster.”

 

Monji berdecak kesal. Syarat yang disebutkan Ahreum sangatlah tidak masuk akal untuk posisinya. Ia meraih kedua tangan dokter itu. “Aku serius! Posisiku sebagai asisten kepala penyidik menuntutku untuk ikut serta. Aku tidak punya pilihan lain, sungguh!” Ahreum melepaskan pegangan tangan itu dengan pelan.

 

“Monji-ya, aku bisa mengirimkan hasil visumnya padamu besok atau mungkin lusa. Kau tidak perlu ikut melihat berlangsungnya kegiatan otopsi. Kusarankan kau tunggu diluar sebelum kau benar-benar menyesalinya.”

 

“Ayolah, Ahreum-ah!” Monji meraih tangan dokter itu lagi. “Sebentar saja. Jika aku tidak kuat, aku akan keluar.” Monji begitu kekeuh untuk membujuk Ahreum.

 

“Kau sungguh keras kepala.” Ahreum berdecak kesal. Ia kemudian berbalik dan menunjuk pada sebuah lemari berisi jas khusus, masker, sarung tangan dan pelindung rambut.

 

“I’ve warn you. Jangan salahkan aku jika-”

 

“Ya, ya, ya… aku tahu.” Monji kemudian terkikik pelan setelah memakai atribut perlengkapan yang perlu dipakainya. Monji terperangah dengan sebuah ruangan yang ia masuki sekarang. Langkahnya memelan ketika bau alcohol dan bebauan lainnya cukup menyengat, padahal ia belum terlalu jauh dari posisi pintu. Matanya sibuk menjelajah ruangan yang cukup putih yang hanya terdapat sekitar lima bilik, dan hanya satu bilik yang terbuka dan cukup rebut. Setiap bilik dari ruangan itu mempunyai sebuah tempat khusus diletakkannya jenazah yang akan diotopsi, berikut dengan peralatan khusus disana. di setiap bilik juga banyak sekali terdapat wastafel yang mempunyai fungsi berbeda. Baiklah, Monji tidak bisa memuji tempat itu karena bagaimanapun itu adalah tempat yang mengerikan.

 

“Duduk saja disini. Jangan terlalu mendekat dan jangan-”

 

“Aku ingin berdiri saja. Aku tidak bisa melihat dengan jelas jika duduk.” Potongnya. Keingintahuan Monji yang tinggi membuatnya mengabaikan tatapan tidak suka dari tiga dokter lainnya. Lalu, sebuah lampu khusus dinyalakan. Setiap dokter memakai sarung tangan yang lebih tebal dan khusus berbeda dari sarung tangan yang dipakai Monji.

 

Kemudian salah satu dokter membuka kain yang menutupi jasad Pigyu yang sudah disiapkan sebelumnya. Monji belum mengeluarkan reaksi apapun ketika ia melihat tubuh Pigyu yang sudah bersih dan tidak terbalut apapun, hanya beberapa kain yang menutupi daerah vital. Wanita itu juga belum berbicara lagi dan diam ketika para dokter mulai mendiskusikan ciri fisik luar jasad Pigyu. Jasad yang terbujur kaku itu nyaris memburuk karena kulitnya mengalami perubahan warna menjadi titik kelabu dan beberapa bagian seperti ketiak, siku, lutut mengalami perubahan pigmen kulit menjadi abu-abu gelap. Telapak tangannya pun mulai menunjukkan titik-titik pudar berwarna hitam.

 

Ahreum sendiri bertugas memeriksa rongga mulut dan menekan-nekan bagian perut sebelum akhirnya ia berhenti.

 

“Sebenarnya ini cukup jelas. Tubuhnya terkena racun.” Monji menatap cemas dokter itu, meski sebenarnya Ahreum sedang berbicara dengan rekan dokter lainnya.

 

“Racun ini cukup familiar. Aku pernah menangani kasus yang sama tentang jasad seperti ini.” Ucap dokter lainnya.

“Mungkinkah ada unsur zat arsenic murni pada makanan yang ia konsumsi?” Ahreum belum mengeluarkan sepatah kalimat apapun. Ia menatap lama jasad itu.

 

“Lakukan pembedahan sekarang!” Perintahnya. Lalu ketiga dokter yang lainnya sudah siap sedia dengan peralatan mereka.

 

“Tolong buat jarak lebih dengan kami, nona muda.” Monji yang sejak tadi diam kini refleks mundur dan berdiri tepat di belakang Ahreum. Ia menahan nafasnya ketika Ahreum sudah siap dengan pisau bedahnya dan membuat jarak untuk membedah bagian rongga perut bagian kanan.

 

“Ba-bagian apa yang kau bedah, Ahreum-ah?” Tanya Monji penasaran.

 

“Hati.” Ahreum merespon dengan singkat.

 

Monji menahan nafasnya lagi, tangannya bergetar ketika ketiga dokter itu dengan mudahnya melakukan pembedahan. Darah yang sudah mengental mulai merembes sedikit demi sedikit. Kemudian Ahreum melebarkan bagian bedah itu lagi hingga sekarang warna merah mulai menghiasi tubuh pucat itu. Para dokter juga dengan telaten dapat menemukan posisi organ hati dengan mudah dengan menyingkirkan bagian lapisan epidermis, daging dan yang lainnya.

 

“Bagaimana bisa kalian membedah begitu saja tanpa perasaan, huh?! Kalian pikir jasad Pi Gyu adalah ikan yang akan dimasak?!” Sifat konyol Monji mulai berulah.

 

“Ya Tuhan! Tidak. Astaga!” Monji kembali memekik. Bagian perut bagian kanan itu kembali terbuka lebar sebesar 15 cm hingga sekarang organ hati dapat terlihat dengan jelas, meski organ lainnya sedikit tertutup.

 

“Astaga! itu mengerikan sekali!”

 

“Kenapa kalian membuka lukanya semakin besar?! Bagaimana jika sulit ditutup, eoh?!” Monji menutup mulut dan hidungnya yang sudah tertutup masker. Bau darah dan amis mulai menyengat dan perutnya mulai menyorakkan aura tidak senang.

 

Para dokter sebenarnya merasa terganggu, namun mereka berusaha fokus pada tugas hingga mengacuhkan seruan Monji.

 

“Dokter Shin, ini sudah cukup jelas jika dia terkena racun unsur arsenic. Ia mengalami perubahan warna kulit menjadi kelabu atau kehitaman, gangguan fungsi hati yang menampakkan warna keruh pada lapisan dalam hatinya. Fungsi saraf tepi juga terganggu secara simetris.”

 

“Perlukah kita membedah jantungnya, dokter Shin?” Tanya dokter lain sementara Ahreum masih fokus dengan pemeriksaan menyeluruh pada organ hati. Ahreum masih diam, tidak menjawab apapun.

 

“Huek! Uhuk!” Monji menahan rasa mualnya ketika Ahreum membuka bagian dalam lobus sinister hati. Lalu salah seorang dokter membantunya untuk mengambil sampel darah dan sampel cairan lainnya yang keluar dari bagian itu.

 

Sedangkan Monji masih speechless karena ini pertama kalinya ia melihat bagaimana seorang dokter membelah organ dalam manusia yang telah meninggal dan ia menyaksikannya secara langsung. Kali ini, ia tidak memungkiri bahwa para dokter yang sedang membedah begitu mudahnya seperti seorang koki yang membelah ikan atau daging. “Kenapa? uhuk.. kenapa kau dengan mudahnya membedah organ dalam seperti itu, eoh?! Apa yang sedang-”

 

“Bawa ini ke laboratorium dan pastikan hasilnya keluar secepat mungkin.” Ahreum memberikan sebuah tabung kecil berisi dua cairan yang berbeda dan memerintahkan pada salah seorang petugas lainnya yang berada disana.

 

“Cukup terlihat jelas, hatinya mengekresikan racun arsenic murni yang sangat berat.” Ucap salah seorang dokter pria.

 

“Tidak. Unsur arsenik murni tidak lebih beracun dari senyawa arsenic itu sendiri. Aku masih memperkirakan bahwa pasien ini tewas karena tipe arsenik trioksida diduga sekitar 500 kali lebih beracun dibanding arsenik murni. Jika dilihat dari kondisi hatinya yang begitu buruk dan keruh, sepertinya ia menerima dosis arsenik yang bisa mematikan untuk orang dewasa. Mungkin sekitar 70 mg hingga 200 mg? Laboratorium akan menjawabnya.” Ahreum menjelaskan sambil membantu menutupi luka yang terbuka itu.

 

Monji sendiri, ia sudah duduk cukup jauh dari tempat itu. Wajahnya sudah sepucat salju dan keringat dingin membuat sebagian rambutnya basah. Meski sesekali perempuan itu mencuri dengar perkataan para dokter.

 

“Dokter Shin, aku menemukan petunjuk yang lain. Lihatlah kukunya.” Monji yang mendengar itu sontak rasa antusiasnya kembali dan dengan hati-hati ia melihat kuku dari Pigyu.

 

“Garis-garis apa ini?”

 

“Ini adalah ciri terkena racun arsenic yang paling jelas yaitu pada kukunya di mana terlihat garis-garis horizontal bersusun-susun. Garis ini disebut Mees lines. Garis ini berguna dalam penyelidikan kita sebagai dokter forensik karena dengan mengukur panjang kuku dan jarak antara garis, kita dapat menentukan berapa lama sekali si korban diracun arsenik.” Salah satu dokter menjelaskan. Monji menutup mulutnya nyaris tak percaya mendengar informasi yang sangat berguna itu. Matanya berkaca-kaca, ia sungguh bisa menemukan jalan keluarnya dengan mudah jika begini. Hingga akhirnya, waktu berlalu begitu cepat. Bahkan Monji tidak sadar jika ia melamun sepanjang proses otopsi lainnya hingga proses tersebut selesai.

 

.

.

.

 

Krystalaster27 with Emon el

Pukul 7 pagi… Sehari setelah kematian Kim Pi Gyu.

 

Dua gadis berseragam khusus nampak tengah duduk berhadapan dalam sebuah ruangan yang didominasi warna biru dan putih. Sunyi senyap, mereka tengah menyibukkan diri dengan pikiran masing-masing, membiarkan AC ruangan meniupkan udara sejuk yang mengisi ruangan. Bunyi detikan jam dinding juga terdengar, membuat mereka makin fokus dengan renungan tak berdasar.

 

“Terkadang aku bingung.” Ucap gadis dengan surai hitam legam lurus yang dikuncir kuda mulai bersuara, jemari lentiknya dengan kuku bercat hitam nampak lihai menggeser-geser mouse yang tersambung dengan laptop.

 

Sementara itu, gadis di sebrangnya menautkan alis. “Mwo?” Tidak memahami tentang maksid dari ‘bingung’ yang diucapkan si rekan. Tangan gadis itu memegang sebuah rubik segi enam. Ia baru saja selesai merampungkan penyusunan warna yang tadinya acak.

 

“Aku bingung dengan posisi kita.” Sekali lagi gadis itu mengulan kata ‘bingung’ namun dengan frasa yang berbeda.

 

Tuk

 

Ketukan pelan terdengar saat jemari lentik bercat merah meletakkan rubik. Cheonsa – nama gadis itu, bersedekap lalu menempelkan punggungnya pada sandaran sofa. “Mon Ji, apa yang kau bingungkan?” Tanyanya pada si gadis berambut hitam legam.

 

“Tidakkah kau merasa aneh?” Masih melontarkan pernyataan yang rancu, Monji kini menutup laptopnya lalu bersedekap sembari menatap Cheonsa yang nampak kesal.

 

“Aigoo, jangan membuatku kebingungan.” Mengacak rambut. Cheonsa paling buruk saat diajak bicara dengan bahasa berbelit-belit tanpa kejelasan apapun. Meskipun Cheonsa bukanlah orang idiot, namun ia bukanlah tipikal yang mudah mencerna pembicaraan rancu.

 

Tik

 

Monji menjentikkan jari di depan wajah Cheonsa. “Nah, kau sendiri merasa bingung.” Tukasnya dengan senang karena berhasil membuat sang rekan menjadi pusing tujuh keliling.

 

Bahu Cheonsa merosot, mendesis sekali lalu memutar bola mata. “Arasseo… Dari dulu otakku harus berputar hanya untuk memahamimu.” Celetuk si mata karamel sembari memijat pelipisnya.

 

Monji tersenyum miring, ia ikut menyandarkan tubuh pada sofa. Netranya menatap langit-langit ruangan dengan pandangan menerawang tanpa titik fokus. “Aku sungguh terkejut melihat list panggilan di ponsel Pi Gyu.”

 

Tubuh Cheonsa menegak sempurna ketika mendengar nama ‘Pi Gyu’ disebutkan. “List panggilan?” Ini bukanlah sesuatu yang aneh di setiap kasus pembunuhan, namun kesannya akan terasa sangat berbeda saat kasus ‘Pi Gyu’ yang diungkit oleh Monji.

 

“Oppa-mu kemungkinan terlibat.” Netra tajam itu terpejam. Monji mengatakan hal yang pastinya berdampak luar biasa bagi Cheonsa.

 

Terbelalak… Gadis dengan surai coklat bergelombang yang terurai itu sungguh tidak percaya dengan realita yang didengarnya. “M-MWO? MWOYA!!!” Bahkan Cheonsa spontan memekik.

 

Seketika dalam benak Cheonsa bercabang dengan banyak pertanyaan. Oppanya terlibat? Bagaimana bisa? Kenapa list panggilan? Dan mengapa harus Pi Gyu? Semuanya tertuang begitu saja, menimbulkan rasa pening yang teramat di kepalanya. Oh, tadi malam Cheonsa mendadak insomnia hingga menjelang pukul 4 dini hari. Melihat jasad rekan satu divisi terbujur kaku di hadapannya bukanlah hal mengenakkan, lebih ke arah mimpi buruk yang menghantui.

 

Monji menegakkan tubuhnya, mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pasti. “Benar, panggilan terakhir pukul 23.25 adalah nomor ponsel Lee Donghae.”

 

Tangan Cheonsa yang satunya ikut terangkat memijat pelipis saat merasakan pusing dadakan yang menderanya semakin menyiksa. “Ah, otakku terasa berputar.” Banyak sekali masalah yang menyerangnya akhir-akhir ini. Meninggalnya rekan satu divisi sangat mempengaruhi banyak hal, kini Cheonsa harus melakukan semuanya sendiri. Anggota yang lain kebanyakan tidak sepemikiran dengan Cheonsa, juga kemampuan mereka berbeda jauh dengannya.

 

Pukul 23.25 bukanlah jam yang wajar untuk melakukan panggilan, kecuali bagi sepasang kekasih yang saling mengucapkan ‘selamat malam’. Dan, Cheonsa yakin 100% jika oppanya tidak pernah sekalipun terlihat menjalin hubungan asmara dengan Kim Pi Gyu. Lee Donghae dan Kim Kyuhyun memang dekat, tapi jika Donghae dengan Pi Gyu, itu sangat tidak mungkin. Sama saja dengan interaksi Cheonsa bersama Kyuhyun yang tidak lebih dari ‘partner’ kerja.

 

“Kenapa, kau merasa sangat terkejut? Lee Donghae hanyalah oppa tiri bagimu, kalian satu ibu.” Gadis dengan kuncir kuda itu mengetukkan jari di dagunya, menatap penuh rasa penasaran akan reaksi berlebihan yang dimunculkan rekan beda divisinya.

 

Menghela nafas, Cheonsa mengusap wajahnya kasar. Pemikiran Monji mungkin berdasar pada pengamatan sepihak gadis itu terhadap aktifitas interaksinya dengan Donghae. “Tetap saja, tiri ataupun 100% saudara kandung. Tapi kami 50% memiliki kesamaan gen. Kami tumbuh dari rahim yang sama.” Bagi Cheonsa, tidak ada bedanya saudara tiri, se-ibu, atau kandung. Yang menentukan tingkat persaudaraan tergantung dari diri sendiri, bukan persepsi status. Berbeda ayah tidak menjadikan Cheonsa menganggap Donghae sebagai saudara jauh. Mereka bahkan sangat dekat… Namun itu dulu, ya dulu sekali. Sebelum kejadian mengerikan membuat hubungan mereka renggang layaknya musuh abadi yang langka sekali bahkan hanya untuk bertegur sapa.

 

Bibir Monji mencebik, ia sama sekali tidak memahami keadaan Cheonsa dengan Donghae yang lebih mirip rival dibandingkan saudara. “Cheonsa Lee, oppa-mu itu adalah kepala polisi tapi yang aku herankan kenapa seorang Lee Donghae bisa menjadi trouble maker kelas kakap?”

 

Inilah fakta tersembunyi lain dari sosok bernama Lee Donghae. Namja berwajah manis, tampan, sekaligus pemilik senyuman memikat itu berkedok sebagai peminum yang handal, pernah menjadi pembalap liar, pejudi, bahkan nyaris tergabung dalam sindikat perdagangan obat terlarang. Sungguh riwayat yang menakjubkan untuk seorang kepala polisi yang disegani oleh banyak kaum hawa.

 

Cheonsa mengendikkan bahu. “Entahlah. Beberapa hari ini Donghae oppa juga tidak pulang.” Ia sibuk menenangkan pikirannya yang bagai kabel tembaga kusut beraliran listrik.

 

Terhitung dua hari sebelum kematian Pi Gyu. Donghae sudah tidak menampakkan batang hidungnya, namja berusia 27 tahun itu lebih memilih untuk menempati flat kecil dibandingkan apartemen yang dihuni Cheonsa juga Donghae. Menjaga jarak, itu istilah paling tepat untuk Donghae.

 

Monji menghela nafas, ia merentangkan tangan untuk meregangkan lengannya yang terkesan kaku. “Untung oppa ku adalah Park Jung Soo -si jaksa penuh pesona dan bijak. Bukannya Lee Donghae yang bermuka dua.” Sedari dulu Monji suka dengan istilah-istilah konyol untuk menggambarkan sifat seseorang.

 

“Bukan bermuka dua.” Memutar bola mata, Cheonsa menyanggah pendapat Monji. Ada yang keliru dari perumpamaan yang dilontarkan.

 

Mengerjapkan mata kebingungan, Monji tidak paham alasan mengapa Cheonsa tidak menyetujui perumpamaannya. “Mwo?”

 

Kini tangan Cheonsa kembali mengacak rubik segienam lalu dengan perlahan mulai menyusunnya lagi. “Ya, bukan bermuka dua. Tapi bermuka empat.” Lontar Cheonsa dengan singkat.

 

Empat? Bahkan Cheonsa tidak bisa mengenali berapa banyak jenis sikap Donghae. Namja itu sejak kecil terlalu misterius, labil, dan jenius. Donghae itu satu level di atas Cheonsa dari banyak segi keahlian, kepribadian, maupun totalitas.

 

Hening kembali menjadi atmosfir ruangan itu. Detak jarum jam, suara pengharum ruangan yang menyemrotkan parfum setiap 15 menit sekali, serta suara air dalam akuarium-lah yang terdengar menyapa rungu. Dua yeoja berbeda divisi tengah sibuk menyelami pikiran masing-masing, mencari kesinambungan atas peristiwa mengejutkan yang tak pernah mereka duga.

 

“Ku dengar hubunganmu dengan Kim Kyuhyun berakhir beberapa waktu lalu.” Cheonsa memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan ke arah yang lebih privasi. Ia begitu penasaran dengan kabar burung yang sempat dibicarakan Pi Gyu padanya, namun sialnya Cheonsa malah mengindahkan kabar tersebut.

 

“Eum, kami tidak cocok.” Menjawab singkat. Monji terlalu malas membahas topik mengenai asmara.

 

Memdengarnya membuat Cheonsa tergelak seketika. “Hahaha, benarkah?” Sungguh, Cheonsa sama sekali tidak mengira kalau frasa ‘tidak cocok’ yang akan dilontarkan oleh Monji. Ia berpikir jika Monji akan berkata ‘namja tampan itu sangat dingin’ atau dengan kalimat ‘Kyuhyun adalah spesies aneh yang menjemuhkan’.

 

Memutar bola mata. “Heol, berhentilah tertawa Cheonsa Lee!” Peringatan Monji diucapkan dengan mimik wajah tertekuk layaknya bocah yang merengut kesal.

 

“Kalian berdua sama-sama tidak menyukai sayur.” Satu opsi yang diketahui dengan jelas oleh Cheonsa. Pendapat sepihak yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembicaraan mereka. ‘Putus’ dan ‘sayur’ adalah dua hal yang berbeda. Monji sadar jika Cheonsa suka sekali mengaitkan sesuatu yang tak penting.

 

Saat seperti inilah Monji merasa selangkah lebih maju dari temannya ini. Mungkin karena Cheosa sering mengalami kegagalan soal asmara atau karena gadis itu selalu berkencan dengan buku?. Siapa yang tidak mengenal ‘Cheonsa Lee’, si gadis pecinta novel Sherlock Holmes dan buku-buku tentang antariksa.

 

Kisah cinta pasangan ‘Park Monji dan Kim Kyuhyun’ berada pada level 2 trending topik di markas. Yeah, Monji dan Kyuhyun bukan tipikal romantis, hubungan mereka lebih mirip disebut teman daripada kekasih. Lalu bagaimana dengan kisah cinta yang menjadi trending topik pertama? Tentu jawabannya adalah, kisah cinta jendral Qin Xing Qi dengan pimpinan markas Kim Kibum.

 

“Makanan bukanlah patokan. Kim Kyuhyun sangat ambisius dan workaholic, hidupnya dihabiskan dengan berkencan bersama komputer dan jutaan berkas. Dia begitu murung setelah kematian Pi Gyu.” Pandangan Monji menerawang. Ia kira saat ini yang butuh dihibur adalah Kim Kyuhyun. Tapi itu bukan lagi menjadi porsinya. Setelah peristiwa ini, Kyuhyun mungkin akan lebih menenggelamkan diri dengan pekerjaannya atau dia akan ikut andil dalam mencari pelaku pembunuhan adiknya.

Seketika, Cheonsa ikut menjadi murung karena mendengar nama ‘PiGyu’ disebutkan. “Pi Gyu meninggal tepat sehari sebelum merayakan ulang tahun yang ke 22.” Membawa kembali ketopik awal pembicaraan mereka. Mungkin pertanyaan selingan tadi hanya untuk melonggarkan syaraf otak yang sudah menegang akibat terlalu serius dengan kasus yang sedang mereka hadapi.

 

Tapi Monji berpikir, ‘Mengapa harus kisah cintanya yang dibahas?’. Menyebalkan sekali! Memang Cheonsa belum lama berteman dengan Pi Gyu karena dia baru saja pindah dari Prancis setelah menyelesaikan pendidikan. Tapi Cheonsa sudah merasakan keakraban tersendiri yang sungguh terlihat seperti sepasang rekan yang konyol.

 

Miris sekali… Pesta kejutan yang telah disiapkan oleh anggota divisi anti-terorisme sudah disusun sedemikian rupa. Namun, Tuhan menakdirkan Pi Gyu untuk menghadap lebih awal.

 

“Kau benar. Aku bahkan sudah memesankan kado. Ahhh, maut menjemput tidak kenal waktu.” Sesal Monji. Kini mimik wajahnya sukses menjadi murung.

 

“Tubuh Pi Gyu baik-baik saja, tapi noda darah di bajunya itu sungguh membingungkan.” Cheonsa masih ingat dengan benar jika noda darah di baju Pi Gyu terlihat sangat tidak wajar.

 

“Darahnya cukup banyak.” Menelisik lagi bukti-bukti yang ditinggalkan sang pelaku meski belum yakin kepastiannya, apakah bukti bukti tersebut dapat membawa mereka pada pelaku sebenarnya. Yang mereka yakini darah itu milik manusia. Karena karakteristik darah manusia dan hewan itu berbeda.

“Mungkinkah-” Cheonsa merasa ragu untuk melontarkan isi pikirannya. Perkataannya terhenti karena rasa enggan masih menggerayangi hipotesa asal-asalannya.

 

“Waeyo?” Seakan memikirkan kemungkinan yang sama. Monji menengguk ludah, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang buruk.

 

“Mungkinkah itu darah pelaku?” Lanjut Cheonsa. Matanya terbelalak saat menyadari suatu fakta yang kemarin bahkan tak terbesit pada nalarnya.

 

Drrrt

 

Drrrt

 

Sebuah getaran terdengar. Cheonsa dan Monji sontak saja menatap ponsel milik Cheonsa yang tergeletak di atas meja. Getaran ponsel nyatanya berhasil menguapkan ketegangan yang sempat terjadi.

 

Panggilan masuk dari ‘Pimpinan Kim Kibum’ seperti itulah nama yang tertera pada layar touchscreen.

 

Jemari Cheonsa tergerak demi meraih ponselnya. Menggeser ikon bergambar ganggang telefon berwarna hijau. “Yeobseoyo.” Sapanya untuk mengawali panggilan.

 

“….”

 

“Apa ada hal penting, kepala Kim?” Manik mata Cheonsa menatap lurus pada rubik yang berada di pangkuannya. Telinganya mendengarkan secara seksama informasi yang diucapkan oleh sang pimpinan.

 

“….”

 

“Eoh, tugas level 2?” Cheonsa langsung berdiri dari sofa. Netranya mengedar ke sekitar ruangan, mencoba mengamati tata ruangan yang akan ditinggalkannya. Tugas level dua pada siang hari sangatlah tidak biasa.

 

“……”

 

Kening Cheonsa berkerut samar. “Sekarang?” Tanyanya memastikan waktu untuk menjalankan misi.

 

“….”

 

Mendengarkan dengan seksama kalimat yang diucapkan pimpinan Kim. Tangan kiri Cheonsa bergerak meraba saku celana, memastikan keberadaan benda yang selalu dibawanya. “Tapi saya tidak membawa perlengkapan, hanya sebuah pistol.” Cheonsa memang belum sempat mengambil peralatannya, padahal sang Jenderal sudah mengirimkan e-mail agar Cheonsa mengambil peralatan persenjataan di gudang markas.

 

“….”

 

“Ne, Mon Ji ada di sini.” Kepala Cheonsa mengangguk kecil. Sementara itu si pemilik nama – Monji mengerutkan kening saat namanya dibawa-bawa.

 

Pipp

 

Sambungan telefon berakhir. Cheonsa menggeser pandangannya menatap Monji yang ternyata sedang memperhatikan dengan lekat. “Mon ji-ya, kepala Kim menyuruhmu untuk ikut denganku!”

 

“Eodi?” Tanya Monji penasaran.

 

“Ke markas sebuah geng motor untuk menangkap seseorang.” Tak ada waktu lagi. Cheonsa harus segera pergi menuju lokasi agar target operasi tidak melarikan diri.

 

“Baiklah.” Mengangguk setuju. Monji mengambil pistolnya dari dalam tas, tidak lupa mengantongi peluru.

 

Keduanya pergi dengan mobil markas, menyetel GPS serta memakai rompi anti peluru lalu melapisinya dengan jaket, tidak lupa Cheonsa dan Monji juga memakai kacamata. Mereka menyiapkan diri, barangkali baku tembak terjadi di lokasi. Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk, sehingga kita bisa bersiaga menghadapi banyak hal.

 

.

.

.

 

Krystalaster

 

Brakkk

 

Sebuah kayu menghantam dinding dengan keras, menggoreskan retakan-retakan di dinding putih bersih itu. Sedikit kotor karena debu, sarang laba-laba di beberapa titik, dan beberapa perabotan yang sudah rusak menghiasi ruangan tersebut. Atmosfer kelam sarat akan emosi bisa dirasakan dengan jelas, ada dua namja yang sedang berkelahi. Salah satu diantara mereka mengenakan seragam kepolisian, sedangkan yang satunya hanya mengenakan kaos hitam polos berlengan panjang dan celana denim abu-abu.

 

Duagh

 

Duagh

 

Dua bogem mentah menghantam rahang namja berkaos yang sudah tersungkur di atas lantai. “Berengsek!” Umpat namja berseragam polisi. Netranya berkilat tajam, emosinya meluap tidak terkendali layaknya singa yang mendapatkan mangsa.

 

Belum lama keduanya terlibat aksi kekerasan, tendangan, pukulan, tangkisan, bahkan cekikan sekalipun sudah dilakukan keduanya untuk menguji siapa yang paling tangguh.

 

Brakkk!

 

Bukan suara hantaman kayu kali ini, namun tubuh namja rival si polisi-lah yang terbentur pada dinding. “Kau membunuhnya!” Si namja berseragam menarik kerah kemeja rivalnya dengan kencang hingga mencekik leher namja itu. Jangan sekalipun meremehkan kekuatan lelaki yang berada di titik tertinggi emosi, jika kau tidak ingin berakhir menjadi remukan tulang yang terpendam di dalam liang penantian.

 

Buggh

 

Tonjokan keras dilayangkan pada rahang kiri si rival. “Dasar bodoh!” Kekuatan namja berseragam polisi seolah tak ada habisnya, bahkan tidak ada setitik peluh yang menetes di dahi.

 

BRAKKKK!!!

 

Di tengah pergulatan itu. Pintu terjeblak, muncul dua gadis dengan kostum serba hitam lengkap beserta kacamata dan rompi anti peluru. Keduanya melangkah cepat memasuki ruangan lalu berdiri dengan posisi bersebelahan.

 

“Angkat tangan!” Gadis dengan rambut bergelombang menodongkan pistolnya ke arah dua namja yang memunggunginya. Obsidiannya terlihat setajam pandangan elang yang mengintai ular di tengah padang gersang.

 

Deg!

 

Tersentak, gadis itu terkejut mana kala netranya mengenali wajah namja berseragam yang kini sudah membalikkan tubuh dan menatapnya. “Op-oppa?” Ucapnya terbata. Dia mengenali namja itu dengan sangat baik, bahkan tidak pernah sekalipun melupakan setiap lekuk paras tampan si namja berseragam polisi yang notabene adalah kakak tirinya.

 

“Cheonsa, apa yang kau lakukan di sini?” Namja berseragam itu mengernyit heran. Tidak memahami perihal kemunculan adiknya yang tidak pernah melakukan penyisiran di wilayah geng motor.

 

Monji memutar bola mata, ia berjalan dengan santai mendekati Donghae lalu berhenti beberapa langkah di depannya. “Kepala polisi Lee Donghae, anda berada dalam zona terlarang tanpa surat keterangan. Dengan ini anda harus di tangkap.” Ucap Monji sarkastik, emosinya terasa tidak stabil setiap melihat Donghae. Entahlah… Ia sedari dulu teramat membenci manusia yang dingin seperti Donghae.

 

Penangkapan konyol! Seorang kepala polisi tidak bisa seenaknya ditangkap. “Park Mon Ji! Diam kau!” Sentak Donghae tidak terima. Rahangnya mengeras bersamaan dengan sepasang obsidiannya yang masih menatap Cheonsa, mengindahkan sosok Monji yang berdiri tak jauh di hadapannya.

 

Bahu Monji mengendik, ia menghela nafas begitu menyadari jika situasi saat ini lebih mengarah pada istilah ‘perang saudara’ dibandingkan ‘acara penangkapan target’. Tangannya menyimpan pistol ke dalam holster. “Ah, baiklah. Selesaikan urusan kalian! Aku akan membawa Kim Heechul-si lebih dulu ke markas.”

 

Dengan cepat Monji melangkah maju menghampiri namja yang tergeletak tidak berdaya dengan banyak lebam biru menghiasi wajah. Tangannya langsung memasangkan borgol di pergelangan tangan Heechul, membawa lelaki itu dengan menyeretnya paksa keluar dari ruangan.

 

Tersisa dua saudara yang saling melempar tatapan tajam. Atmosfer gedung itu langsung terasa mencekam.

 

“Jelaskan!” Mulut pistol milik Cheonsa tetap mengarah pada Donghae, tidak berminat menurunkan pistolnya sedikitpun.

 

Tap

 

Tap

 

Melangkah maju dua kali, “….” Donghae tidak menjawab apapun, wajahnya menjadi begitu datar tanpa ekspresi nan berarti. Saat seperti inilah yang paling tidak disukai Cheonsa karena ia tidak bisa menebak isi pikiran kakaknya.

 

“Lee Donghae, jelaskan!” Gertak Cheonsa sekali lagi. Nafas gadis itu menderu karena emosinya bercampur menjadi satu.

 

Kepala Donghae menggeleng pelan, ia tidak menyangka jika Cheonsa tetap menjadikannya obyek tembakan. “Aku tidak perlu menjelaskan apapun.” Jawab Donghae sekenanya.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

“Lee Donghae, diam di tempat!” Cheonsa berteriak dengan lantang ketika Donghae mengambil tiga langkah lebar menghampirinya. Jarak keduanya semakin sempit, bahkan mulut pistol yang ditodongkan Cheonsa hanya berjarak tidak lebih dari dua jengkal di depan tubuh Donghae.

 

Tangan si kepala polisi masuk ke dalam saku celana, wajahnya masih begitu santai. “Jika kau ingin menghajarku. Silahkan.” Benar memang, biarpun Cheonsa menodongkan pistol tepat ke arahnya, namun gadis itu masihlah cukup waras untuk tidak mencantumkan catatan kriminal pada identitasnya.

 

Sungguh tak bisa dipercayai. Cheonsa berpikir jika Donghae akan diam atau menjelaskan semuanya, namun kakaknya hanya diam. Masih mempertahankan posisinya. “Kenapa list kontak oppa ada di ponsel Pi Gyu?” Cheonsa melontarkan pertanyaan akan sebuah fakta yang baru didapatinya dari Monji.

 

Kekehan ringan meluncur dari bibir Donghae, kini kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. “Kau pasti keliru. Lebih baik kau memanggilku dengan sebutan nama daripada panggilan ‘oppa’ yang terpaksa kau lontarkan.”

 

Mencebik kesal, Cheonsa memutuskan untuk menurunkan senjatanya. Mengeluarkan magazine. Kemudian menarik kokang pistol beberapa kali untuk memastikan tidak ada peluru dalam chamber, karena saat dikokang maka peluru dalam chamber akan keluar secara otomatis. Sepasang maniknya memastikan isi chamber tidak terdapat peluru didalamnya saat menarik kokang. Cheonsa meletakkan pistolnya di dalam Holster, pistol sudah dalam kondisi kosong dan Mag berada diluar pistol(empty gun).

 

“Haruskah aku menyuruh kepala divisi Kim Kyuhyun untuk menghacker jaringan komunikasi lewat satelit telepon?” Tantang Cheonsa pada Donghae. Kemampuan Kim Kyuhyun dalam meretas jaringan komunikasi sudah tidak bisa diragukan lagi, andaikan namja bermarga Kim itu menjadi seorang kriminal, maka interpol sekalipun tidak akan mampu mendeteksi jejak kejahatannya.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Donghae benar-benar mengikis jaraknya kali ini, menyisakan jarak tak lebih dari tiga jengkal dengan Cheonsa. Tubuhnya merunduk sedikit, memastikan tingginya sudah setara dengan sang adik. Mendramatisir suasana, Donghae menarik satu sudut bibirnya membentuk seringai kecil yang sukses membuat hati Cheonsa meletup layaknya magma di dalam kawah gunung. “Jika kau berani melakukannya, maka kau pasti akan celaka.” Sepasang obsidian Donghae berkilat. “Cheonsa Lee… Harusnya kau tidak gegabah. Biarkan saja jasad Pi Gyu untuk dimakamkan secara langsung, tapi kau malah memanggil Mon Ji dan menyuruh Shin Ahreum untuk melakukan otopsi.” Lanjutnya memperingati. Donghae adalah tipikal orang yang tidak akan bermain-main dengan ucapannya, tidak pula berbasa-basi dengan celotehan panjang.

 

“Oppa menantangku?!” Tanya Cheonsa setengah tidak percaya. Ia sepenuhnya sadar jika Donghae tengah menantang karena lelaki itu tidak menyukai tindakannya.

 

Donghae menganggukkan kepala. “Ne, aku menantangmu!”

 

Satu jawaban fatal telah terucap. Mulai detik itu, sinyal pertarungan antar saudara telah dinyalakan.

 

Hening melingkupi… Cheonsa mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Tiga hal yang paling tidak disukainya adalah ‘diremehkan, ditantang, dan dipermainkan’.

 

Tangan kanan Donghae terulur ke depan, jemarinya menyelipkan anak rambut di sebelah kiri yang menutupi pipi Cheonsa ke belakang telinga. “Jika kau mampu menangkap pelaku yang sebenarnya, aku akan menyetujui surat pengangkatan jabatan milikmu.” Donghae mengulas topik yang selalu menjadi prioritas Cheonsa dalam bertugas. Gadis dengan kepribadian penuh misteri itu tentunya memiliki ambisi yang tinggi untuk meraih jabatan yang diincarnya.

 

Cheonsa menepis tangan Donghae yang mengusap puncak kepalanya. Kepalanya mendongak, matanya yang berkilat menghunus lurus pada sepasang manik Donghae. “Aku akan menemukannya, bukan karena aku menginginkan jabatan tinggi tersebut tapi karena aku perduli pada Pi Gyu. Kematiannya tidaklah wajar, aku akan mengungkap semuanya meskipun profesiku dipertaruhkan karena menyalahi batas interaksi antar divisi dan menyalahi pasal kesepakatan.”

 

Ya, batas interaksi antar divisi sangatlah dijaga. Cheonsa adalah ketua divisi anti terorisme, bukan divisi penyidik seperti Monji yang bisa mengungkap berbagai kasus juga berpindah dari markas menuju kantor kepolisian. Hal paling buruk karena melanggar peraturan adalah dipecat secara tidak hormat, atau pidana 3 bulan beserta menambahan catatan pelanggaran.

 

.

.

.

 

Krystalaster27

 

Hari kedua setelah kematian Pi Gyu…

 

Dua yeoja nampak sedang berjalan santai di selasar sebuah gedung tua yang terdiri dari puluhan flat kecil minimalis. Langit masih terlihat gelap namun keduanya memutuskan untuk melakukan olah TKP sebelum pemilik flat melarikan diri. Sepasang tangan mereka mengenakan sarung tangan, mencegah sidik jari menempel saat melakukan olah TKP.

 

TKP? Entah flat tersebut bisa dikatakan sebagai TKP atau bukan, semuanya akan terbukti sebentar lagi.

 

Tuk

 

Langkah keduanya terhenti. Dua pasang kaki jenjang berbalut celana ketat kini sudah berpijak tepat di depan pintu flat yang mereka tuju. Cheonsa dan Monji, keduanya sepakat mendatangi flat pukul 4 dini hari, di saat 90% warga Korea Selatan masih meringkuk nyaman di bawah selimut tebal yang menghangatkan tidur mereka.

 

“Kau pasti punya kuncinya.” Suara Monji memecah kesunyian yang melingkupi. Matanya menyipit untuk melihat wajah Cheonsa yang anehnya tetap terlihat tenang seolah tanpa beban. ‘Biasanya seorang adik selalu memiliki kunci cadangan hunian kakaknya’ itulah yang juga terjadi pada Monji dan Jungsoo.

 

Dengan santai, Cheonsa mengeluarkan sebuah kunci dari saku jaketnya. “Eoh… Aku membawa kunci cadangan.” Kunci kecil berwarna putih metalik dengan bandul berbentuk kura-kura hijau.

 

“Cheonsa, ayo kita buka pintunya!” Monji tersenyum lebar seperti anak kecil. Kedua matanya berbinar seolah mendapatkan hadiah mobil ferrari berwarna biru. Menggeledah tempat tinggal seorang kepala polisi memiliki sensasi tersendiri untuknya.

 

Cheonsa mendekati pintu, memasukkan kunci dalam lubang lalu memutarnya berlawaanan arah jarum jam.

 

Cklek

 

Suara tersebut menandakan jika pintu tak lagi terkunci. Tangan kanan Cheonsa menggerakkan knop pintu, mendorong kayu persegi itu dengan pelan agar tak menghasilkan derit yang mampu mengusik tidur.

 

Seperti biasa, Monji akan masuk lebih dulu saat rasa penasarannya memuncak, kepalanya bergerak-gerak celingukan untuk menyapu apapun yang mampu ditangkap netranya.

 

Flat itu sangat mungil, hanya ada satu kamar tidur, satu toilet yang berhimpit dengan dapur minimalis, juga sebuah ruang multiguna (ruang tamu, ruang santai, dan ruang makan) yang kini dihuni oleh Cheonsa dan Monji. Tidak ada perabot yang menelan banyak biaya, hanya sofa minimalis, meja kayu, dan laptop yang tergeletak di atas meja. Sederhana sekali.

 

“Sepi…” Cheonsa berkata dengan lirih. Flat kecil itu seperti tidak berpenghuni, padahal 100% ia yakin jika Donghae ada di dalam kamarnya.

 

Monji mengerutkan hidungnya, matanya mengerjap beberapa kali sebelum – “Hatchi!!!… Aigoo, flat oppa-mu sungguh kotor.” Bersin karena kondisi flat yang berdebu. Tidak ada AC maupun kipas angin, bahkan TV juga tidak ada. Sungguh miris…

 

“Eh, kenapa semuanya berantakan?” Monji terkejut saat pandangannya terfokus pada sofa, di sana masih ada 2 cangkir bekas, koran serta majalah yang koyak, lalu bantal sofa yang terjatuh di lantai.

 

Belum sempat melangkah, “Sedang apa kalian?” Sebuah suara lantang mengejutkan keduanya.

 

“Omona!!! Donghae, kau seperti hantu yang muncul tiba-tiba.” Celetuknya asal. Monji menatap horor namja dengan piama polkadot yang tengah bersedekap sambil menyandarkan punggung pada dinding.

 

“Aku bertanya, apa yang kalian lakukan?” Sekali lagi Donghae melontarkan pertanyaannya.

 

Decakan kesal Monji terdengar, ia mengambil secarik kertas dari dalam sakunya, mengibaskan kertas tersebut di depan wajah Donghae. “Kami membawa surat perintah untuk menggeledah flat jelek anda kepala polisi Lee.” Ucapnya dengan mengejek secara terang-terangan.

 

“Lakukan saja.” Bahu Donghae mengendik acuh. Tak ambil pusing dengan semua kegiatan yang sudah disangka olehnya akan terjadi.

 

Monji mengangguk, tersenyum simpul karena bisa melakukan eksploitasi besar-besaran. “Ah, dengan senang hati.” Hal langka yang tidak boleh dilewatkan adalah ketika mendapatkan kebebasan untuk mengobrak-abrik wilayah privasi orang penting.

“Cheonsa, ayo kita obrak-abrik tempat kumuh ini!” Segera Monji menarik tangan Cheonsa, membawa gadis itu ke arah kamar Donghae. Namun belum sempat mereka memasuki kamar, sebuah panggilan sukses membuat keduanya terpaku.

 

“Detektif Corona Lee…” Donghae mengucapkannya dengan lirih, terlalu lirih nyaris menyamai desau angin.

 

Deg

 

Monji tersentak kaget, dengan cepat ia membalikkan tubuh lalu menatap Donghae dengan penuh keraguan. “Co-corona Lee? De-detektif?” Telinganya tidak mungkin salah mendengar sebuah nama yang menjadi perbincangan seluruh polisi maupun hacker ternama di Korea Selatan.

 

“Mwo? A-apa aku tidak salah dengar?” Ulang Monji memastikan. Andaikata ia benar-benar salah dengar, pastilah dia akan langsung pergi menemui dokter setelah ini. Telinganya mungkin saja sudah bermasalah karena hobinya mendengarkan lagu setiap malam atau disaat suntuk.

 

Seringai kecil terbentuk di bibir Donghae, ia meregangkan lehernya yang terasa kaku sebelum melontarkan sebuah pernyataan. “Detektif Corona Lee, atau biasa dikenal sebagai Cheonsa Lee, jabatan sebagai ketua tim divisi anti-terorisme.” Seolah tidak ada apapun yang membelit lidahnya untuk mengungkap sebuah fakta yang menakjubkan dari adiknya sendiri.

 

Kepala Monji berputar, mulutnya ternganga hingga rahangnya terasa nyaris lepas, tak lupa matanya yang terbuka lebar. “Cheonsa, katakan jika itu tidak benar!” Desak Monji, namun Cheonsa tidak merespon apapun, ia malah melangkah mendekati Donghae dengan raut mukanya yang mengeras.

 

“Kenapa oppa membongkarnya?” Sepasang onix karamel itu berkilat sarat akan emosi dan kekecewaan. Sekalipun Cheonsa tidak pernah menyangka jikalau identitas rahasianya diungkap oleh kakaknya sendiri.

 

Masih terlihat santai, tak merasa bersalah sedikitpun. “Karena aku ingin agar temanmu yang unik itu tau jika kau memiliki profesi ganda.” Jawab Donghae sekenanya.

 

Buggh

 

Satu pukulan keras dilayangkan Cheonsa ke arah bahu Donghae.Nafasnya menderu dengan gurat urat leher yang kentara, sementara tangannya kini bergetar hebat setelah memukul sang kakak.

 

“Pukulanmu mengalami peningkatan.” Donghae tersenyum lebar, ia memiliki keseimbangan yang cukup bagus. Pukulan dari Cheonsa sama sekali tidak berefek pada tubuhnya yang sudah terlatih.

 

Kini Cheonsa menatap nanar wajah kakaknya. “Kau menjijikkan!” Obsidiannya sudah diselimuti kabut yang siap meluncur andaikata volume liquid bening sudah tak terbendung lagi.

 

Plakkk!

 

Sebuah tamparan mengenai pipi kiri Donghae, pelakunya tentu saja si gadis dengan surai kecoklatan yang bergelombang. “Akkh… Sepertinya sudut bibirku sedikit robek.” Namja itu sedikit meringis saat merasakan nyeri di sudut bibirnya. Tenaga Cheonsa tidak bisa dianggap remeh.

 

“Lebih bagus jika aku merobek jantungmu!” Cheonsa tidak perduli lagi jika ia dianggap bar-bar atau keterlaluan. Identitas rahasia yang susah payah dijaganya malah diungkap secara spontan oleh orang yang selama ini dihormatinya.

 

Donghae tidak gentar, ia mengukirkan sebuah senyuman lagi. “Detektif Corona Lee, anda tidak perlu cemas. Park Monji adalah orang paling bisa diandalkan untuk menjaga rahasia.” Ucapnya dengan lugas.

 

Donghae berjalan memasuki kamar, kemudian mengambil seragam dan sebuah tas ransel sambil memasukkan ponselnya. Sesudah menjinjing tasnya, ia mendekati Cheonsa lalu menatap lekat netra karamel adiknya yang masih mengisyaratkan tatapan tidak bersahabat. “Aku pergi… Cheonsa Lee, jangan lupa mengunci pintunya lagi.” Gadis dengan rambut bergelombang itu terdiam, tidak menjawab apapun hingga sosok Donghae menghilang di balik pintu.

 

Sepersekiam detik kesunyian melanda dua gadis berbeda marga itu. Monji yang tersadar lebih dulu memilih mendekati rekannya. “Cheonsa, kau tidak perlu cemas. Aku akan menjaga rahasiamu.” Ucapnya dengan tulus.

 

Seolah tersadar dari transnya, Cheonsa mengerjapkan mata beberapa kali lalu berjalan lebih dulu memasuki kamar. Ia tidak berbicara apapun, memilih membisu saja hingga emosinya kembali stabil.

 

Kedua gadis itu menyisir setiap sudut kamar, membuka laci nakas, almari pakaian, bahkan melonggokkan kepala ke bawah kolong tempat tidur. Tapi tidak ada apapun yang mencurigakan. Bersih.

 

Kini Cheonsa dan Monji berpencar. Monji memilih untuk menjelajahi ruang multiguna, sedangkan Cheonsa masuk ke dalam kamar mandi.

 

“Cheonsa…” Monji memanggil rekannya dengan lirih. Perasaannya terasa campur aduk mendapati sesuatu yang berhasil ditemukannya.

 

“…..” Tanpa menyahut, Cheonsa berjalan mendekati Monji lalu berjongkok di samping gadis itu.

 

Tangan Monji yang sudah terbungkus sarung tangan mengulurkan sebuah benda berbandul ikan pada rekannya. “Cheonsa, lihatlah ini.”

 

Tangan Cheonsa menadah, menerima gelang tersebut di atas telapak tangan kanannya. “Gelang?” Alis Cheonsa bertaut. Merasa sangat familiar dengan gelang berbandul ikan.

 

Dua pasang mata berpusat pada satu obyek, yakni ‘gelang’ yang mereka nyatakan sebagai bukti pertama.

 

“Ini gelang Pi Gyu.” Ucap keduanya secara bersamaan. Ada inisial kecil ‘KPG’ di bagian bandul ikan yang paling besar.

 

Keduanya terduduk lemas. Posisi Donghae sebagai tersangka semakin menguat. “Itu ron-rontokan rambut berwarna hitam dan coklat di bagian bawah.” Jari telunjuk Monji mengacung pada beberapa helai rambut yang terongok di atas karpet tidak jauh dari tempat mereka.

 

Dengan hati-hati Cheonsa mengulurkan tangan, menjumput rambut itu dengan kedua jari lalu memasukkannya pada kantung plastik. “Ini rambut Pi Gyu…” Tidak salah lagi. Rambut dengan panjang kurang lebih 30 cm itu adalah rambut ‘Kim Pi Gyu’. Rambut Pi Gyu berwarna hitam legam, namun ada warna coklat di bagian ujungnya karena gadis itu menyukai style warna coklat hanya di bagian ujung rambut.

 

Drrrt…

 

Drrrt…

 

Getaran ponsel dalam saku celana membuat Cheonsa menghentikan kegiatan mengamatinya. Matanya fokus melihat layar ponsel yang menunjukkan sebuah pesan singkat.

 

 

By : Pimpinan Kim Kibum

 

Cepat datang ke markas! Ada hal yang ingin disampaikan oleh jederal Qin.

 

 

 

“Monji-ya, bisakah aku meninggalkanmu duluan?” Cheonsa bertanya sedikit ragu, pasalnya tidak boleh ada anggota penyidik yang melakukan olah TKP seorang diri. Bisa jadi ada kesalahan dalam pengumpulan barang bukti atau proses penyelidikan akan dinyatakan ‘tidak akurat’ saat pengajuan tuntutan ke pengadilan.

 

“Eodiga?” Tanya Monji penasaran.

 

“Aku perlu menemui Pimpinan Kim dan Jendral Qin Xing Qi.” Jawab Cheonsa santai, ia menyerahkan plastik berisi helai rambut pada Monji.

 

Kepala Monji mengangguk, mempersilahkan Cheonsa agar pergi. “Eoh, pergilah dan bawa saja mobil markas! Jangan khawatir, aku akan mengikuti prosedur dengan memanggil rekan untuk membantu pengumpulan barang bukti.” Monji tentunya tidak bodoh untuk menyadari tatapan keraguan yang terpancar pada sepasang mata Cheonsa.

 

“Baiklah…” Setelah mengatakan itu. Cheonsa bergegas membalikkan tubuh, lalu berjalan agak cepat keluar dari flat. Ia harus sampai ke tempat tujuan sebelum sang Jenderal marah karena terlalu lama menunggu. Ini semua demi menerima perintah baru yang harus dilaksanakannya.

 

.

.

.

 

Krystalaster27

 

Ruangan berukuran 5 kali 4 meter itu nampak lenggang, beberapa rak terjajar di dekat dinding, mirip dengan perpustakaan mini. Warna putih dan coklat tua mendominasi ruangan tersebut, furniture yang simple layaknya kantor pemerintahan lainnya. Beberapa bingkai pigura berisi piagam penghargaan tergantung di dinding, menegaskan jika si pemilik ruangan bukanlah orang biasa.

 

“Donghae-si.” Sebuah panggilan terdengar, menyentak lamunan sang pemilik nama yang tanpa sadar melamunkan sesuatu.

 

Berdehem pelan, Donghae membenahi posisi duduknya. “Eoh, pimpinan Kim. Silahkan duduk!” Mempersilahkan sang tamu yang ternyata adalah pimpinan Kim untuk duduk di kursi yang bersebrangan dengannya.

 

Netra kembar berwarna hitam kelam itu tetap terlihat mengintimidasi namun terkesan tanpa emosi. Pembawaan santai namun penuh misteri sang pimpinan sangat sempurna, membuat siapapun tidak bisa menebak isi pikirannya yang terkenal begitu luar biasa.

 

“Baru kali ini markas terlibat dengan kantor polisi dalam urusan yang rumit.” Akhirnya sang pimpinan menyuarakan topik yang dibawanya untuk dibahas bersama dengan pihsk yang bersangkutan.

 

Alis Dobghae terangkat sebelah, ia bersedekap. “Lantas?” Menanyakan alasan detailnya untuk mendengar semua hal yang ingin disampaikan si pemimpin.

 

Sebuah map diulurkan oleh pimpinan Kim kepada kepala polisi Lee. “Kepala polisi Lee, saya sudah memutuskan agar penyelidikan kasus kematian Kim Pi Gyu tidak ditangani di bawah pengawasan anda. Biarlah markas kami mendapatkan denda karena menyalahi peraturan. Tadi pagi, aku sudah meminta ijin pada Perdana Menteri.”

 

Surat kesepakatan. Tanpa membuka map, Donghae sudah mampu memastikan isinya. Hanya melihat sebuah cap khusus dari Perdana Menteri, itu cukup menjelaskan segalanya.

 

“Pasti karena posisi saya sebagai praduga tak bersalah.” Donghae menghela nafas, semuanya menjadi semakin rumit sejak hasil otopsi keluar. Pernyataan jika sampel darah yang ditemukan adalah darahnya, tentu saja sangat menggemparkan kantor polisi dan markas besar.

 

Pimpinan Kim mengangguk. “Ne, posisi tersebut membuat banyak divisi bersitegang.” Banyak rapat dadakan yang harus dilakukannya untuk mengonfirmasi serta memastikan berita ‘tidak biasa’ ini menyebar luas hingga sampai pada publik.

 

Penduduk pastilah akan gencar membicarakan kasus ini, mengingat posisi Lee Donghae sabagai kepala polisi yang disegani karena jasa, loyalitas, kualitas, totalitas, dan wajahnya yang rupawan. Tentu jika sedikit saja publik mencium kasus kematian Kim Pi Gyu, nama baik Lee Donghae akan tercoreng seketika.

 

“Bisakah saya meminta sesuatu?” Donghae merasa jika dia harus mengatakan hal yang penting kepada sang pimpinan sebelum surat penangkapannya ditandatangani oleh Perdana Menteri dan beberapa petinggi negara lainnya.

 

Masih bertahan dengan wajah stoic nya. “Katakan saja.” Pimpinan Kim mempersilahkan.

 

Donghae menarik nafas sejenak, menetralkan emosinya yang entah kenapa melonjak tajam seketika. “Cheonsa Lee, tolong ingatkan dia untuk membongkar loker surat di meja kerjanya.” Bukan emosi kemarahan yang kini menyeruak tanpa kendali, namun lebih ke arah perasaan khawatir.

 

“Baiklah…” Pimpinan Kim mengangguk.

 

Drrrrt

 

Ponsel kepala polisi Lee bergetar, ada notifikasi berisi kasus kriminal baru dari kantor polisi lain. “Maaf, saya harus undur diri. Ada kasus yang harus ditangani.”

 

Mengangguk kecil, “Oh, tentu. Sampai jumpa kepala polisi Lee.” Pimpinan Kim menjawab dengan santai. Ia paham jika kantor polisi memang selalu sibuk dengan berbagai kasus yang datang tanpa henti.

 

“Ne. Sampai jumpa pimpinan Kim.” Donghae bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja lalu melenggang pergi begitu saja.

 

Tidak perlu adanya jabat tangan atau kepala yang menunduk hormat. Kim Kibum bukanlah pimpinan yang terobsesi pada rasa hormat dan dihormati, baginya kinerja yang bagus itu sudah cukup untuk menggambarkan kepribadian seseorang. Kim Kibum hanya akan tunduk pada beberapa orang yang dianggapnya pantas untuk dihormati… Donghae sudah sangat tau akan hal tersebut.

 

Cklek

 

Pintu tertutup, menyisakan pimpinan Kim dengan matanya yang saat ini berubah berkilat tajam.

 

“Loker surat? Menarik sekali.” Bibir pimpinan Kim tertarik, seringai kecil tercetak dengan sempurna beserta tatapan yang menghunus lurus pada ukiran papan nama bertuliskan ‘Lee Donghae’ yang terpajang di meja kerja kepala polisi.

 

Akankah nama ‘Lee Donghae’ berakhir sebagai sejarah baru di era globalisasi ini? Ataukan menjadi angin lalu yang tidak diindahkan publik. Biarlah waktu yang membuktikan segalanya…

 

.

.

.

.

.

 

Sur0203 (naration) with Krystalaster27 (dialogue and correct)

 

Koridor markas penuh dengan manusia yang hilir mudik, mereka membawa berkas, senjata, bom, dan sebagainya. Tidak ada kata sepi di markas pertahanan Korea Selatan. 24 jam penuh, ratusan bahkan ribuan dokumen disetorkan untuk ditindak lanjuti. Puluhan teroris bisa diringkus secepat kilat asalkan bukti tercukupi. Totalitas dan keakuratan dalam bekerja sangatlah diutamakan di markas ini.

 

Siluet tubuh yang tampak asing terlihat begitu mencolok, seragam yang berbeda dengan anggota markas beserta lencananya. Sosok itu berdiri tegap di depan loby seolah tengah menanti.

 

Sepasang manik mata orang mengerjap lalu memincing demi mengenali siluet tubuh itu. Senyuman lebar terbit di bibir sang pengamat saat mengenali sosok tersebut. Benar tidak salah lagi!

 

“Donghae hyung, tumben kau ke markas kami? Mencari Cheonsa?” Kyuhyun – si pengamat langsung melontarkan sebuah pertanyaan begitu ia sudah berdiri begitu dekat menghampiri sosok Donghae. Kyuhyun berpikir sederhana, memang siapa lagi yang ingin dicari Donghae jika bukan adiknya.

 

“Aniya. Kyu… Aku mencarimu.” Menjawab pelan, Donghae harus mengatakan ini secara hati-hati.

 

Jari Kyuhyun terangkat lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku?” Kedua alis Kyuhyun berkerut, pasalnya ia merasa tidak sedang memiliki janji apapun dengan pria di depannya. Ah, dia memang tidak pernah membuat janji apapun dalam seminggu terakhir.

 

Kepala Donghae mengangguk. “Ne, aku ingin membicarakan sesuatu.” Membenarkan ucapannya.

 

Mengangguk paham, “Ayo ke kantin saja, kebetulan aku belum makan siang.” Kyuhyun berjalan mendahului menuju kantin, secara tak langsung memaksa Donghae untuk mengikuti langkahnya. . .

 

Suasana kantin sudah lenggang, tidak sepadat yang dikira Kyuhyun. Mungkin karena jam makan siang sudah berakhir beberapa menit yang lalu.

 

“Aku minta maaf…” Donghae membuka suara ketika keduanya telah duduk berhadapan di kursi kantin.

 

“Mwo? Untuk apa?” Kyuhyun mengangkat alisnya, tidak paham ketika tiba-tiba Donghae berkata demikian. Seingatnya Donghae tidak pernah berbuat salah pada Kyuhyun. Lalu kenapa teman dekatnya harus meminta maaf? Sungguh janggal.

 

“Kyuhyun-ah, meninggalnya Pi Gyu ada sangkut-pautnya dengan kecerobohanku.” Donghae menunduk ketika rasa bersalah kembali menyusup ke relung hatinya. Pengakuan ini haruslah ia ucapkan sebelum Cheonsa atau Monji yang menyampaikannya pada Kyuhyun.

 

Pyarrrr!!!

 

Gelas yang dipegang Kyuhyun meluncur begitu saja ke lantai dan menjadi serpihan-serpihan kecil.

Sepasang onix karamel Kyuhyun menatap Donghae dengan raut tidak percaya, dadanya terasa sesak seperti ada sebuah benda berat yang dipukulkan kesana.

 

“Ja-jangan bercanda!” Bahkan Kyuhyun tak mampu menahan suaranya yang bergetar karena luapan emosi yang melanda.

 

“Aniya, aku jujur.” Donghae menatap manik karamel kembar Kyuhyun, meyakinkan pada lelaki di depannya bahwa yang baru saja ia katakan bukanlah sebuah kebohongan. Sedari dulu Donghae termasuk orang yang anti berbohong, kecuali dalam keadaan tertentu yang terpaksa.

 

“Donghae hyung. Kita sudah berteman sejak kecil, aku begitu mengenal dirimu. Jadi… Leluconmu sungguh tidak relevan!” Namun Kyuhyun masih keukeuh dengan ketidakpercayaannya pada perkataan Donghae.

 

Ada sepercik kemarahan ketika ia menganggap orang yang begitu dekat dengannya justru bercanda akan situasi yang ia alami saat ini. Bagaimanapun ‘kematian’ adalah topik yang tidak pantas dijadikan lelucon. Terlalu miris jikalau Donghae sungguh mengatakan yang sebenarnya, namun Kyuhyun juga terlanjur kecewa mendengar perkataan Donghe barusan.

 

Tatapan Donghae berubah sayu, gurat lelah begitu kentara di wajahnya yang biasanya nampak segar. “Kyu, seharusnya kau membongkar tempat terdekat pembaringannya!” Donghae memberitahukan satu hal yang menjadi petunjuk akan kematian adik dari lelaki di hadapannya.

 

‘Pembaringan’ Kyuhyun tidak paham. “Apa maksud hyung?” Alis Kyuhyun terangkat sebelah, pikirannya sungguh tidak menemui titik temu.

 

Kecewa, Donghae tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih daripada ini. “Aku tidak bisa mengatakan apapun. Hanya nalarmu yang mampu menuntun pada tempat penyimpanan jam wekernya.” Toh ia sudah meninggalkan sebuah pesan untuk Kyuhyun dan Cheonsa. Benar, Cheonsa… Namun pesan untuk gadis bermata karamel itu harus diucapkan melalui perantara. Karena 100% Donghae yakin jikalau Cheonsa tidak akan mau mendengarkannya.

 

“….” Membisu, otak Kyuhyun bekerja keras untuk menggali maksud dari perkataan Donghae yang menurutnya sangat rancu.

 

Bangkit dari kursi. “Permisi, aku harus pergi.” Donghae meninggalkan Kyuhyun sendirian. Ia merasa harus pergi secepatnya untuk menyelesaikan beberapa urusan.

 

Tanggal penahanannya akan segera ditentukan. Donghae harus membalaskan dendam pada orang yang tepat, ia tidak ingin memendam emosi di dalam sel. Itu hanya akan membuat kemarahan semakin membutakan dirinya. Biarlah ia berakhir menjadi narapidana, yang terpenting hanya satu, yakni ‘dendam kuat’ yang merundung hatinya harus tersampaikan tanpa terkecuali.

.

.

.

.

.

 

Krystalaster27

 

Gadis berkulit pucat sudah berdiri menghadap dua atasan yang duduk berdampingan di ruangan khusus yang kedap suara. Rambutnya yang berwarna coklat kini disanggul rapi, menyisakan anak rambut yang menjuntai di depan telinga.

 

“Cheonsa Lee…” Panggil seorang pria dengan setelan formal yang membungkus tubuh tegapnya.

 

“Ne sajangnim.” Sahut Cheonsa dengan tegas. Tubuhnya berdiri lurus, pandangan matanya fokus ke depan, dengan tangan yang berada di sisi jahitan.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Langkah pria itu mendekati Cheonsa, berdiri dengan jarak setengah meter di depan gadis yang menjabat sebagai ketua divisi anti-terorisme. Gadis pemilik senyuman manis, peraih nilai tertinggi di bidang analisa kasus saat menjalani tes masuk anggota markas.

 

Sreet

 

Satu kali tarikan, tanda pengenal yang menggantung di leher Cheonsa terlepas. Guratan merah tercetak di kulit leher bagian belakang, menimbulkan sensasi perih dan panas. Sang pemimpin-lah yang melepaskannya…

 

“Apa kau sadar dengan batasanmu!” Sentak keras pimpinan Kim yang tentunya diperuntukkan pada Cheonsa. Memang sedari awal bekerja di markas, Cheonsa sudah terkenal dengan pikiran dan kinerjanya yang cukup berani melampaui batasan.

 

“Ne.” Cheonsa menatap mata pimpinan Kim dengan tegas, tidak menunjukkan sebuah keraguan ataupun ketakutan. Ia sudah memikirkan semuanya dengan matang, Cheonsa sudah berupaya untuk menerima dengan lapang dada segala hukuman.

 

Mendengus keras, pimpinan Kim melempar tanda pengenal (divisi card) milik Cheonsa ke sembarang arah. “Lalu kenapa kau melanggar?” Pimpinan Kim ingin tau, apa pemikiran yang mendasari Cheonsa sehingga berani mengambil segala konsekuensi.

 

“Karena saya ingin mendapatkan sebuah kebenaran.” Jawab Cheonsa lugas. Ia tipikal orang yang rela melakukan apapun demi mendapatkan kebenaran. Tak perduli dirinya diinjak, ditelantarkan, bahkan mungkin dibuang secara tidak hormat.

 

Pimpinan Kim kali ini beralih melepaskan lencana Cheonsa dari kaitan yang ada di bahu dan saku seragam khusus. “Jadi, kau rela andaikan Donghae benar-benar salah?” Sang pimpinan memilih untuk melontarkan pertanyaan lain yang lebih bersifat pribadi.

 

Terdiam sejenak, Cheonsa tau jika pernyataan yang akan diucapkannya pasti membawa dampak besar untuk posisinya. “Tidak ada kejahatan yang sempurna.” Satu kalimat itulah yang dipilih Cheonsa sebagai jawaban. Bukti belum terkumpul sepenuhnya, jadi kesimpulan mengenai ‘siapa tersangka?’ atau ‘siapa saksi?’ Belum menemui titik temu.

 

“Apakah kau siap diberhentikan?” Tantang pimpinan Kim pada gadis bermata karamel itu.

 

“Ne.” Kepala Cheonsa mengangguk.

 

“Baiklah, lakukan tugasmu dengan baik. Sementara ini gunakan posisimu sebagai detektif Corona Lee, bukan seorang Cheonsa yang menjabat sebagai ketua divisi. Aku tidak mentorerir sebuah kegagalan.” Pimpinan Kim mengantongi lencana milik Cheonsa, menyita lencana tersebut hingga kasus terselesaikan. Mandat telah diberikan dan Cheonsa wajib untuk melaksanakannya tanpa bisa mengelak.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Terdengar langkah kaki lain, jenderal Qin berdiri di samping pimpinan Kim dengan kesannya yang mengintimidasi. “Cheonsa Lee…” Matanya yang memikat menghunus tajam, memperkuat kesan ‘wibawa’ yang disandang wanita blasteran Cina itu.

 

“Ne, Jenderal Qin.” Tangan kanan Cheonsa bergerak guna memberi hormat sekilas.

 

Jenderal Qin menyerahkan sebuah lencana pada Cheonsa. “Aku ingin kau menyelesaikan tugas Kim Pi Gyu, sementara ini biarkan aku yang menempati posisimu sebagai ketua divisi, dan kau menempati posisi Kim Pi Gyu sebagai asisten.” Titahnya tak terbantahkan. Lencana tersebut adalah milik Pi Gyu, hanya berbeda jumlah bintang, dan corak hexagonal.

 

“Tugas?” Alis Cheonsa bertaut. Ia tidak memahami alasan mengapa dirinya diharuskan mengambil alih posisi Pi Gyu yang notabene adalah asistennya.

 

“Kau harus meneruskan tugas Pi Gyu meretas target yang meresahkan negara.” Jenderal Qin juga menyerahkan sebuah pistol khusus beserta peredam dan flashdisk pada Cheonsa.

 

“Ne.” Cheonsa menerima kedua benda tersebut. Kini ia merangkap posisi, Cheonsa diharuskan untuk melakukan aksi pelacakan demi menemukan target yang dimaksud. Pelacakan secara langsung dengan menjelajah seluruh tempat di Korea Selatan, atau bahkan di luar negeri.

 

Sementara itu di tempat lain…

 

Ruangan gelap yang terasa suram karena tak lagi dihuni. Tirai berwarna kelabu menutupi jendela tak menyisakan sejengkal jarak agar sinar mentari menerobos masuk. Lantai yang dipijak juga sedikit kotor, AC ruangan bahkan dibiarkan mati. Tidak ada sedikitnya tanda-tanda kehidupan di sana, arti kata ‘kehidupan’ seolah tak lagi dirasa sejak si pemilik kamar merenggang nyawa.

 

“Haruskah aku mengobrak-abrik ruangan ini?” Suara bass monolog dari namja yang nampak berantakan dengan kemeja kusut dan rambut yang tidak tertata. Kantung mata terlihat dengan jelas, cukup menggambarkan betapa kacaunya si namja.

 

Helaan nafas keras meluncur, obsidian namja itu mulai menghasilkan kabut bening lantara liquid yang berkumpul di pelupuk. “Bahkan kamar ini nampak begitu suram.” Menurutnya kamar ini dulu terasa begitu hidup, hangat, dan cerah. Kim Pi Gyu -si pemilik kamar adalah seorang gadis yang gemar berceloteh tanpa kenal waktu.

 

“Ahhh, sial!” Kaki si namja menghentak keras ke lantai. Pergolakan batin membuatnya menjadi orang aneh beberapa hari terakhir. Jujur saja, ia sangat merasa kehilangan.

 

Namja yang tak lain adalah Kim Kyuhyun itu tengah sibuk mengamati penjuru ruangan, manik matanya bergerak untuk mencari sebuah obyek yang dimaksudkan. “Pi Gyu… Di mana tempatmu menyimpan jam weker?”

 

Ya… Seharian sudah, Kyuhyun dilanda kegundahan karena perkataan Donghae mengenai ‘tempat terdekat pembaringan’ serta ‘jam weker’ terus berputar dalam pikiran. Membuat Kyuhyun nyaris seperti orang gila yang terus melamun dan uring-uringan tanpa sebab. Sudah tidak terhitung lagi bawahannya yang mendapatkan hadiah amukan gratis dari Kyuhyun. Namun tak satupun dari mereka yang mengeluh ataupun membalas cercaan Kyuhyun. Mungkin mereka semua berpikir jika Kyuhyun masih dalam suasana berkabung, itu tidak sepenuhnya salah.

 

Grettt

 

Suara geseran laci nakas yang ditarik Kyuhyun terdengar. Dengan ragu ia mengulurkan tangan untuk mencari benda yang sekiranya mencurigakan.

 

“Surat?” Alis Kyuhyun terangkat. Netranya memicing saat melihat setitik noda darah di bagian ujung kertas tersebut.

 

Jari Kyuhyun bergerak membukanya, sepasang obsidiannya menyapu setiap huruf hangul yang tercetak di sana.

 

*Yang tertuduh tidaklah bersalah. Target yang lolos harus segera diringkus. Senjata, narkotika, perusahaan besar, koneksi internasional, dan jejak yang hilang. Dua yang terlibat, satu sebagai ratu, satu sebagai duplikat dari ia yang dikenal akrab dengan alkohol.*

 

“Clue???” Muncul banyak tanda tanya di kepalanya. Apa maksud dari sederet kalimat yang ditinggalkan Pi Gyu dalam laci nakas?

 

Pi Gyu rupanya sudah belajar banyak dari Cheonsa. Sejak kecil, Pi Gyu kesulitan dengan sastra bermajas yang mengandung teka-teki, namun detik ini Kyuhyun malah menemukan sebuah petunjuk dengan kalimat paling abstrak yang pernah dijumpainya.

 

“Pi Gyu meninggalkan death note.” Inilah kesimpulan terakhir yang dipikirkan Kyuhyun. Surat yang penuh teka-teki itu pastilah memiliki makna besar yang tersembunyi. Kyuhyun harus mengungkap semuanya, ia akan menyerahkan surat tersebut kepada Monji untuk diselidiki.

 

.

.

.

.

.

 

Krystalaster27 with Sur0203

 

Waktu yang tepat untuk mengistirahatka kepenatan raga serta pikiran. Dua gadis yang berdiri di lokasi berjauhan sedang melakukan hal yang sama, yakni ‘menempelkan ponsel ke daun telinga’.

 

“Detectif Corona.” Memastikan penerima sesaat setelah panggilan teleponnya diangkat, seseorang sedang berbicara serius melalui line telepon.

 

“Sury?” Seseorang lain di seberang sana ikut memastikan identitas si penelepon dengan suara yang terdengar berbisik. Gadis pemilik senyuman manis yang baru saja turun pangkat, dari seorang ketua menjadi asisten.

 

“Ne, aku Sury. Detektif Surylian.” Si penelepon mengkonfirmasi identitasnya dengan kejelasan yang kuat.

 

“Ada apa?” Masih dengan berbisik, seseorang yang dipanggil sebagai detektif Corona menanyakan tujuan orang yang meneleponnya.

 

“Aku sudah mengumpulkan apa yang kau minta.” Sury menyampaikan maksud dari tindakannya yang memutuskan untuk melakukan panggilan telfon secara dadakan di malam hari.

 

Cheonsa mengerjapkan matanya yang terasa lengket, ia sudah sangat lelah hari ini. “Tidak bisakah kita bertemu? Aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu.” Pertemuan tatap muka secara langsung akan lebih memudahkan mereka dalam berdiskusi mengenai apa saja yang akan mereka bahas nanti.

 

“Tidak! Identitas kita berdua sebagai detektif rahasia. Kita bekerja sesuai pesan dari klien, tanpa perlu bertatap muka dengan siapapun.” Tolak detektif Surylian, karena hal ini menyalahi prosedur.

 

“Identitasku sudah terbongkar.” Dengan nada jengkel, Cheonsa mengatakan hal yang seharusnya dirahasiakan, meskipun itu dengan partnernya sekalipun. Tapi sekarang ini Cheonsa sudah tak memperdulikan apapun, toh ia percaya saja dengan partnernya.

 

“Mwo? Pada siapa?” terkejut, detektif Surylian sempat menaikkan nada suaranya sekilas, namun kembali berbisik ketika menyadari kesalahannya.

 

“Park Monji, dia asisten kepala penyidik.” Mendengus pelan, gadis yang ia bicarakan ini memiliki tingkat antusiasme tinggi yang sangat kuat jika sudah tertarik pada satu hal. Meskipun bukan Monji yang membongkar identitas Cheonsa, tetap saja Cheonsa merasa kesal. Bahkan Cheonsa bersumpah untuk memberi pelajaran pada Donghae.

 

“Ah, gadis itu.” Dari nada suaranya, sepertinya detektif Surylian tak terkejut sama sekali.

 

“Jadi bagaimana?” Cheonsa menanyakan kembali topik utama yang tadi sempat teralihkan.

 

“Ada pergerakan. Awalnya aku sedikit kesulitan menanganinya. Namun setelah aku meretas dan masuk ke dalam organisasi, aku menemukan fakta yang mengejutkan.” Detektif Surylian menyampaikan informasi yang dibawanya. Ia berdiri di bawah pohon maple, menyembunyikan bayangan serta siluet tubuh dan wajahnya dari pandangan mata. Barangkali ada yang lewat tanpa sepengetahuannya.

 

Detektif Corona merasa penasaran. “Apa itu?” Takjub dengan kinerja rekan detektifnya yang sangat cepat.

 

“Shin Ra In, gadis itu 95% memiliki kemiripan dengan dokter Shin Ahreum. Apakah mereka kembar?” Tanya detektif Surylian pada rekannya.

 

Mengendikkan bahu, detektif Corona berpikir keras. “Aku tidak tau. Mungkin Monji mengetahuinya.” Sejauh ini ia tidak begitu sering menginjakkan kaki ke rumah sakit. Ia bukanlah anggota penyidik, Cheonsa lebih sering melakukan penyergapan gembong teroris.

 

“Kirimkan kabar padaku secepatnya tentang identitas Shin Ahreum. Aku tidak bisa terlalu dekat dengan mereka secara tiba-tiba, posisiku tidak memungkinkan saat ini.” Detektif Surylian menyampaikan gagasan beserta alasannya.

 

“Memangnya kau menyamar sebagai apa?” Cukup penasaran dengan apa yang rekannya ini lakukan, detektif bisa saja menyamar jadi apapun dalam tugasnya.

 

“Cleaning Service.” Dengan nada datar detektif Surylian menjawab pertanyaan yang sebenarnya telah ia antisipasi akan dilontarkan oleh partnernya.

 

“What? Are you kidding me!” Tidak percaya, memang detektif selalu memberikan totalitas dalam pekerjaannya, tapi tidak se-ekstrim ini, bahkan seorang Cheonsa Lee tidak pernah melakukan penyamaran sampai ke tahap demikian.

 

“No, thats reality.” Tegas detektif Surylian dengan nada lesunya. Sampah, limbah, kotoran, bukanlah sesuatu yang mengenakkan bagi seseorang yang jarang menyentuh alat kebersihan.

 

“Oh my god. That’s very amazing!” Ini adalah sebuah ungkapan kekaguman, seharusnya seperti itu jika nada suaranya tidak terdengar mengejek.

 

“Yeah… Aku harus bertahan memunguti sampah setiap harinya.” Sedikit mengeluh karena ia harus bergelut dengan benda-benda kotor yang bahkan ketika di rumahpun ia tak mau berurusan dengannya.

 

“Baiklah. Aku akan mengabarimu secepatnya tentang misi lanjutan.” Cheonsa memutuskan untuk mengakhiri panggilan ketika merasa telah mendapatkan informasi.

 

“Eoh…” detektif Surylian langsung memutuskan panggilan.

 

Pipp

.

.

.

.

.

 

Krystalaster27 with Lizz Danesta

 

“CHEONSA!” Seorang gadis tampak berlari menghampiri Cheonsa. Wajah memerahnya seakan menegaskan jika kepanikan dan hawa panas kota seoul hari itu dapat membunuhnya kapan saja, rambut yang dikuncir kuda terlihat melambai di puncak kepala ketika dia berlari, menambah kesan sporty dan cantik dari sosoknya.

 

Gadis yang di panggil Cheonsa itu membalikan tubuh, netranya menatap seorang gadis yang berlari tergesah kearahnya, tampak Alis Cheonsa terangkat sebelah. Tidak mengerti kenapa temannya ~gadis berambut lurus itu~ Monji berlari secepat kilat hingga nafasnya tersengal dan terdengar putus-putus.

 

“Wae?! Kenapa berlari seperti itu?? Apa ada masalah?!” Tanya Cheonsa beruntun, melihat dari gelagat Monji pasti bukan kabar baik yang akan di terimanya, jujur saja mendapati kenyataan seperti itu seakan menghantamnya seketika dan membuatnya di hinggapi rasa cemas yang berlebih.

 

Monji, gadis itu menyodorkan sebuah benda kecil yang sangat familiar di matanya, dia menunjukkan sebuah flashdisk pada Cheonsa, sementara sebelah tangannya menyeka peluh yang sudah membasahi dahinya. “Aku menemukan bukti baru saat menyelidiki TKP bersama Kim Su In. Finger print, rekaman CCTV, dan keterangan alibi para saksi mengarah pada, kakakmu~Lee Donghae.”

 

“Jadi semuanya benar, jika….?!” Lirih Cheonsa dengan nada suara yang melemah sementara tatapan matanya mendadak berubah menjadi kosong dan berkabut setelah mendengar pernyataan hasil dari penyelidikan. Pikirannya berkecamuk, bagaimana lagi caranya agar dia bisa membebaskan kakaknya dari tuduhan?, kenapa hal ini begitu sulit untuk Cheonsa.

 

Gadis keturunan Prancis itu menghela nafas berat. Melihat mimik wajah pitus asa tersebut, membuat Monji menarik tangan Cheonsa agar mengikutinya untuk duduk di sebuah kursi. “Su In berhasil mengumpulkan beberapa bukti, namun melihat semua bukti yang ada, semakin aku berfikir jika ada sesuatu yang terasa sangat salah.” Ucap Monji seraya menatap Cheonsa yang balas memandangnya tak mengerti.

 

“Salah?! Apa itu?? Apa kau berfikir jika kakakku masih memiliki kesempatan untuk terbebas dari tuduhan??” Tanya Cheonsa, sementara otaknya berusaha merangkum setiap penjelasan Monji dan berusaha semakin keras agar dapat menemukan celah agar Donghae terbebas dari tuduhan yang memberatkannya.

 

“Aku tidak yakin. Tapi, ada seseorang yang berusaha melakukan sabotase dan menghack kamera cctv untuk menguatkan alibi kakakmu sebagai tersangka, meski kami belum bisa membuktikannya seratus persen jika kamera cctv yang ada di depan kamar kakakmu sudah di hack oleh seseorang.” Tambah Monji dengan kesimpulan yang semakin membuat Cheonsa merasa cemas.

 

“Seorang hacker?!” Tanya Cheonsa pada dirinya sendiri.

 

“Ya seorang hacker, dan kurasa ada seseorang yang menginginkan kakakmu berada dalam masalah, sejauh ini dia cukup berhasil dengan semua itu, meski tidak serapih kelihatannya namun dia mampu mengecoh kita. Jika Su in tidak peka, maka kami tidak akan pernah menyadarinya.” ucap Monji sekali lagi.

“Lalu apa yang harus kita lakukan, kurasa kita tidak sedang berhadapan dengan orang biasa?!” cemas Cheonsa, dia merasa semakin jauh mereka menguak kasus, firasatnya semakin buruk tapi Cheonsa tidak bisa berhenti, tidak jika nyawa kakaknyalah sebagai taruhan.

 

Hubungan Cheonsa dengan Donghae tidaklah akrab, sejak kejadian ‘masa lalu’ yang mengerikan. Donghae seolah menarik diri darinya, namja itu hanya bersikap manis jika mereka pulang ke rumah bertemu sang ibu.

 

Monji menatap Cheonsa dengan tatapan yang sulit di artikan dan setelahnya dia menghembuskan nafas berat. “Untuk saat ini kau hanya harus berhati-hati. Mungkin bukan hanya kakakmu yang di incar, sementara aku akan menyelidiki finger print darah yang aku temukan di washtafel. Aku rasa Su In sudah mendapatkan hasilnya sekarang!” Ucap Monji seraya menepikan sebelah tangannya di atas tangan Cheonsa untuk memberi dukungan tak kasat mata pada gadis itu.

 

“Hei! Dari tadi kau menyebut ‘Su In’, memangnya siapa dia?” Tanya Cheonsa memecahkan kebekuan di antara mereka yang terdiam memberi jeda panjang setelah percakapan mereka berhenti dan menyisakan atmosfir sedih yang mencekam. Gadis pemilik mata karamel itu merasa penasaran. Pasalnya dia tidak pernah mendengar tentang rekan Monji yang bernama ‘Su In’ yang selalu di sebut-sebut nya sejak tadi.

 

Monji hanya bisa memamerkan cengiran lebar, sementara tangannya bertepuk dua kali dengan ekspresi riang layaknya bocah yang mendapatkan hadiah. Sungguh sangat berbeda dengan ekspresi seriusnya tadi. “Coba tebak siapa dia?!” Gadis unik adik jaksa Park Jungsoo menyeringai lebar.

 

Cheonsa hanya menatap gadis itu dan memutar bola matanya malas. “Memangnya aku dukun, sehingga bisa menebak apa isi pikiranmu, dasar aneh!” Ucapnya sedikit sarkastis.

 

Monji hanya terkekeh mendengar jawaban terlampau biasa dari Cheonsa. “Dia adalah kembaranku yang baru saja menjadi rekanku! Kami saudara kembar berbeda orangtua, asal- usul, dan daerah.”

 

“Hah?!” Mulut Cheonsa terperangah, apa yang barusan diucapkan Monji sangatlah tidak masuk akal. “Monji, sepertinya otakmu sedikit bermasalah. Jangan terlalu memforsir tenaga, ambillah cuti panjang lalu cobalah untuk berlibur dan bersenang-senang.” Meringis miris melihat tingkah Monji yang mendadak berubah menjadi setengah idiot.

 

“Aish… Su In benar-benar tuin ku!” Rengek Monji tidak terima mendengar penuturan Cheonsa. Bibirnya mengerucut imut.

 

“Twins!” Cheonsa membenarkan.

 

Monji hanya melempar cengiran bodoh seraya mengangguk-angguk dengan semangat. “Iya, Tuwin!”

 

“Twins!” Cheonsa membenarkan pelafalan Monji sekali lagi yang di rasa menyimpang terlalu jauh.

 

Kepala Monji mengangguk-angguk bodoh. “Tuin, Tuwin, Tumin.” Ucapnya berulang kali, sepertinya otak Monji sedikit perlu reparasi ulang, astaga! benar-benar membuat Cheonsa frustasi.

 

“Ah, lupakan! Lidahmu benar-benar payah Monji.” Mengibaskan tangan, Cheonsa sungguh merasa frustasi dengan tingkah konyol Monji yang terlalu dadakan. Ia tidak ingin lagi terlibat perdebatan tidak berharga tentang pelafalan kata ‘Twins, Tuin, atau apapun itu’.

 

“Aku pergi! Terima kasih informasinya, kabari aku lagi jika kalau kau menemukan hal ganjil lain.” Putus Cheonsa seraya bangkit dari kursi dan bersiap meninggalkan Monji yang terbengong menanggapi reaksi menyebalkan rekannya.

 

“Yakkk, Cheonsa Lee!!!” Monji berteriak keras tidak trima saat sosok rekannya itu tidak menggubris dan hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

.

.

.

.

.

 

Krystalaster27

 

Suasana malam yang damai… Malam ini lalu lalang kendaraan tidak seramai biasanya. Di beberapa titik kota yang biasanya terang, dalam sekejap berubah gelap gulita. Dalam sepekan terakhir, perusahaan pembangkit listrik negara Korea Selatan memang mengalami sedikit masalah. Ketidak stabilan arus yang dihasilkan oleh sumber daya membuat pemerintah terpaksa melakukan pemadaman bergilir kecuali untuk wilayah rumah sakit, bank, dan beberapa instansi penting.

 

“Listrik padam!” Seru seseorang yang berada di koridor kantor kepolisian Seoul.

 

Sementara itu di sudut ruangan, seorang namja yang tadinya terlelap langsung bangun seketika. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali, namun tak kunjung mendapatkan seberkas cahaya. Pekat, semuanya terlalu pekat layaknya ampas kopi dengan hitamnya yang legam.

 

Tok

 

Tok

 

Tok

 

Tiga kali ketukan pintu terdengar. Namja itu meraba tempat di sekitarnya, mencoba mencari benda persegi pipih yang dikenal dengan istilah ponsel. Keningnya berkerut saat tidak mendapati ponsel berada di sekitarnya.

 

“Kepala polisi Lee!” Bukan lagi suara ketukan pintu, namun beralih menjadi suara panggilan.

 

Namja yang tidak lain adalah ‘Donghae’, menghela nafas. “Wae?” Sahutnya setengah berteriak, ia baru saja nyaris menginjak ponselnya sendiri.

 

“Generatornya rusak. Haruskah kami membeli generator? Kemungkinan listrik padam lebih lama.” Suara dari balik pintu menjelaskan situasi yang tengah terjadi.

 

Cklek

 

Pintu terbuka, sosok kepala polisi Lee Donghae nampak sibuk mengenakan jaketnya. Sedikit kepayahan karena sebelah tangan sedang memegang ponsel yang meyalakan lampu flash.

 

“Beli saja, aku harus pulang.” Jawab Donghae dengan singkat.

 

Ia melenggang pergi, berjalan setengah berlari menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya.

 

‘Cepat’

 

‘Cepat’

 

‘Cepat’

 

Sepatah kata itu terus saja terulang dalam benak si kepala polisi. Firasatnya sangat buruk dengan rasa cemas yang menggerayangi hatinya, membuat kefokusannya hanya tertuju pada satu hal yakni ‘Cheonsa Lee’. 120 km/jam adalah kecepatan mobil Donghae saat ini, ia menyalip banyak kendaraan untuk mencapai apartemen secepatnya.

 

 

Di apartemen….

 

Brugg

 

Rasa gemetar membuat gadis bertubuh ramping itu jatuh terduduk, situasi yang terjadi saat ini adalah moment paling dibencinya. Lututnya terasa lemas begitupun energi tubuhnya seolah menguap tak bersisa.

 

Takut.

 

Gelisah.

 

Bingung.

 

Tiga perasaan itu mendominasi pikiran si gadis bersurai coklat bergelombang. Terlalu mendominasi hingga sugesti hati yang menyuarakan,

 

‘Tetap tenang!’

 

‘Tetap tenang!’

 

‘Tetap tenang!’ gagal membawa si gadis untuk menjadi lebih tenang. Sekuat apapun pikirannya berteriak, tak ada sedikitpun reaksi yang diharapkannya, semuanya malah berakhir sia-sia saja.

 

“And-andwae! Hiks, hiks…” Gadis itu meraba tempat di sekitarnya, merangkak untuk mencapai sudut ruangan, namun-

Bruggh -tubuhnya merosot, tersungkur karena tangan serta kakinya sudah terlalu lemah tuk sekedar menyangga bobot tubuh.

 

Gadis itu memiringkan raga, meringkuk layaknya janin dalam kandungan. “A-aku… hahhh, hahhh… op-oppa!” Nafasnya mulai terasa berat, sangat berat seolah ada beban ratusan kg yang menindih paru-parunya. Kegelapan adalah satu hal yang ditakutinya sejak kejadian ‘masa lalu’ berhasil mengubah kehidupannya.

 

“A-aku ta-takut.” Tangannya terangkat menjambak rambut, kini kedua lututnya sudah nyaris menyentuh perut.

 

Kilasan-kilasan masa lalu secara cepat merasuk ke dalam pikiran gadis itu, potongan-potongan abstrak tumpang tindih datang tanpa bisa dihentikan, membuat kepalanya terasa pening. Belum lagi mimpi buruk yang juga ikut serta memporak-porandakan nalarnya. “Hiks…” Isakan meluncur bersama dengan derai liquid bening yang meluncur bebas dari sepasang obsidian yang tertutup rapat.

 

Sementara itu, Donghae berlari tunggang langgang menuju kamar Cheonsa. Tangannya masih membawa senter kecil sebagai sumber penerangan. Kepanikannya terbukti sudah, Cheonsa pasti sedang ketakutan saat ini.

Tok

 

Tok

 

Tok

Tangan Donghae mengetuk keras pintu berwarna putih tulang dengan gantungan kayu bertuliskan -Cheonsa Room’s-, “Cheonsa! Buka pintu kamarmu!” Serunya dengan lantang.

 

Cheonsa -gadis yang ketakutan itu- ingin sekali berteriak untuk menunjukkan keberadaannya. “Op-oppa…” Namun hanya suara lirih terbata yang berhasil digetarkan pita suaranya. Lidahnya begitu kelu sedangkan tenggorokannya seolah dicekik oleh tali kasat mata.

 

Donghae melangkah mundur, membuat ancang-ancang untuk mendobrak pintu. “Menyingkir dari dekat pintu! Aku akan mendobraknya!”

 

Hal paling fatal dari aksi pendobrakan pintu adalah tubuh Cheonsa terluka karena gadis itu terlalu rapuh jika berkaitan dengan kegelapan. Rasa gelisah yang melingkupi pikiran, membuat Cheonsa kesulitan menentukan arah. Tidak! Cheonsa selalu kesulitan membedakan arah di tempat asing dan di dalam kegelapan.

 

“Hana.”

 

“Dul.”

 

“Set.”

 

Donghae menghitung sampai tiga, agaknya ia kesulitan memastikan posisi yang tepat untuk mendobrak karena kurangnya penerangan.

 

BRAKKK!!!

 

Pintu terbuka dengan satu kali dobrakan keras, benar saja… Rasa nyeri yang menyerang bahu Donghae karena posisi tubuh yang kurang tepat saat mendobrak. Namun itu bukanlah hal yang penting saat ini, menolong adiknya jauh lebih penting.

 

“Cheonsa…” Donghae langsung mengambil senter yang tadi dikantonginya saat mendobrak pintu, tangannya secara cepat mengarahkan senter tersebut untuk menerangi ruangan guna mencari sosok adiknya.

 

Di sana, dekat dengan meja rias dan berjarak beberapa jengkal dengan kolong tempat tidur. Cheonsa meringkuk di atas lantai dengan tubuh bergetar juga penuh peluh. Donghae mendekat, meraih sang adik dalam pelukannya. “Aigooo… Di mana lampu emergencymu?” Maniknya tertuju pada sebuah gantungan dinding yang kosong tanpa lampu darurat. Biasanya lampu yang sudah disiapkan Donghae akan otomatis menyala jika listrik padam.

 

“A-aku tidak ta-tau.” Jawab Cheonsa terbata. Dingin dan kebas, gadis dengan surai coklat bergelombang itu tidak bisa merasakan apapun sekarang. Hanya sensasi dingin yang menjalari telapak kaki serta tangan dan juga tulang belakangnya. Manik mata Cheonsa tersembunyi di balik kelopak, wajahnya sangat pucat dengan bibir yang sudah tak berwarna ranum lagi.

 

Menyadari wajah yang sudah sangat pucat itu, membuat Donghae panik… Tangannya menepuk-nepuk pelan pipi adiknya, “Tatap aku! Cheonsa! Lihat! Ada cahaya!” Menyuruh agar Cheonsa membuka matanya. Donghae harus membuat Cheonsa membuka mata dan menangkap seberkas cahaya dari senter kecil.

 

Nafas Cheonsa yang sedari tadi sudah tidak stabil semakin memburuk, dengan kesadaran yang timbul tenggelam ia berkata. “Ge-lap… Ge…” Perkataannya terputus begitu saja bersamaan dengan kepalanya yang terkulai tanpa tenaga.

 

“Cheonsa Lee!!!” Donghae berteriak. Secepatnya ia mengangkat tubuh Cheonsa, membaringkan tubuh adiknya ke ranjang. Tangan Donghae meraba pipi, dahi, telapak tangan, dan juga telapak kaki Cheonsa. Kulit putih itu sudah sangat dingin, hingga Donghae memutuskan untuk menemani Cheonsa dengan tidur di sampingnya setelah menyelimuti gadis itu. Ini bukanlah kali pertama adiknya seperti ini, sudah puluhan kali Cheonsa pingsan hanya karena kegelapan.

 

Drrrt…

 

Drrrt…

 

Drrrt…

 

Getar ponsel Cheonsa yang ternyata berada di atas nakas mengusik keheningan. Tanpa melihat si penelfon, Donghae mengangkat panggilan tersebut.

 

“Cheonsa, kau tau. Kemungkinan besar Donghae adalah pelakunya. Tidak ada satupun alibi dari teman maupun anggota polisi yang mengetahui keberadaannya pada sekitar pukul 23.00 sampai pukul 3 dini hari. Bahkan CCTV di luar gedung flat yang berhadapan dengan jalan raya, merekam kedatangan Pi Gyu pukul 1 dini hari. CCTV di depan flat Donghae-lah yang tidak bisa diretas, banyak sekali kejanggalan karena hilangnya beberapa bagian yang aku bilang padamu, jika kemungkinan besar ada hacker kelas hiu yang menjadi dalang keanehan CCTV itu. Tetangga flat juga mengonfirmasi jika dia mendengar keributan dari flat oppamu.” Suara penelfon yang berkelakar panjang lebar sudah jelas berasal dari Monji. Gadis itu langsung berbicara tanpa menyadari jika bukan Cheonsa yang mengangkat panggilan. Kecerobohan yang tidak baik dilakukan oleh seorang dengan posisi asisten penyidik.

 

Rentetan penjabaran itu membuat Donghae terpaku, tangannya masih menempelkan ponsel ke telinga. Menunggu hingga Monji menyadari jikalau dirinyalah yang mengangkat panggilan, bukan Cheonsa Lee.

 

Di seberang sambungan, Monji mengerutkan kening karena tidak mendengar sahutan dari Cheonsa. “Cheonsa?”

 

“Cheonsa Lee… Kau di sana?” Panggil Monji sekali lagi. Hatinya mendadak merasakan kekalutan yang luar biasa tanpa sebab.

 

“Ya, aku di sini.” Suara namja yang sedikit serak menjawab.

 

Deg

 

Tangan Monji bergetar, ia merutuki kebodohannya yang suka berceloteh tanpa kendali disaat ingin.

“Do-donghae?” Lidahnya terasa mendadak kaku. Astaga! Bagaimanapun ia sangatlah ceroboh. Sudah tau jika Donghae juga tinggal di satu apartemen dengan Cheonsa, tapi Monji malah melupakan opsi tersebut. Ahhhh… Sial sekali dirinya hari ini.

 

“Jadi… Sudah sejauh itu kau menyelidiki diriku.” Donghae menyuarakan pikirannya. Ternyata kemampuan Park Monji bisa secepat ini, ia sungguh tidak menyangka sedikitpun. Gadis itu belum lama menduduki posisinya, sebelumnya Park Monji hanyalah anggota divisi narkotika yang bertugas mengamankan barang bukti. Tugas sederhana yang memiliki resiko tidak kalah tinggi.

 

“N-ne.” Masih terbata, Monji menjawabnya. Otaknya masih macet.

 

“Cheonsa tidak sadarkan diri.” Manik mata Donghae melirik adiknya yang bergerak gelisah dengan mata yang masih terpejam rapat.

 

Terkejut bukan main. Monji menegakkan tubuhnya lalu berseru. “Mwo? Hei, kau apakan dia?!” Tidak perduli andaikata oktaf suaranya mampu menulikan telinga Donghae.

 

“Tadi aku mendobrak pintu dan menghampiri adikku. Aku mengguncang tubuhnya, lalu ia tidak sadarkan diri.” Donghae menjelaskan kronologi kejadian secara singkat yang tentunya menimbulkan salah persepsi bagi Monji. Entahlah, ia hanya terlalu malas meladeni yeoja penuh ekspresi yang terkesan cuek itu.

 

“LEE DONGHAE!!! KUBUNUH KAU!!!” Teriak asisten si kepala penyidik. Ia pikir, Donghae masih waras karena mengacuhkan Cheonsa layaknya orang asing, namun nyatanya namja itu lebih busuk daripada seekor serigala yang bertarung dengan saudara sendiri untuk memenangkan hierarki. Alfa melawan beta, atau apalah itu istilahnya.

 

Donghae memutar bola mata, untung ia cepat menjauhkan ponsel dari telinganya karena sudah memperkirakan jika Monji pastilah berteriak keras. “Bunuh saja aku dengan tuntutan hebat dari jaksa Park Jung Soo, jika aku mendapat hukuman mati, kau akan merasa terbebani.” Ini adalah bentuk ancaman tidak langsung.

 

“LEE DONGHAE!!!” Monji berteriak setinggi oktaf yang mampu digapainya. Andai saja ini bukan tengah malam, pasti ia sudah menyusuri jalan raya hanya untuk mendatangi Donghae lalu mencekik namja itu. Monji sudah terlalu lelah untuk sekedar berjalan menuju dapur.

 

Pipp

 

Sambungan telfon diputuskan secara sepihak oleh Donghae. Ia mematikan power ponsel, lalu menyimpan benda itu ke dalam laci nakas.

 

Perlahan Donghae membenahi posisinya, ia memberi batas sebuah guling di tepi ranjang sebelah tubuh Cheonsa. Netranya terpusat pada wajah pucat yang lugu itu. “Cheonsa… Haruskah aku juga membunuh dirimu setelah aku membunuh masa lalumu?” Monolog Donghae hanya terbalas hembus nafas dari Cheonsa. Tangan Donghae terulur, membawa tubuh Cheonsa ke dalam pelukannya, berharap gadis itu bisa merasa lebih nyaman.

 

Namun beberapa saat kemudian, sebuah gerakan pelan dirasakan Donghae, tubuh Cheonsa bergerak gelisah.”Hiks, a-appa…” Tetesan air mata jatuh melintasi pipi Cheonsa. Igauan yang sukses membuat hati Donghae bagai disayat sembilu.

 

Dengan hati-hati, Donghae mengusap jejak air mata itu, tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Cheonsa. “Appa sudah tenang Cheonsa… Appa sudah bersama Tuhan karena keteledoranku.” Ucapan lirih itu dilontarkan Donghae secara berbisik di dekat telinga Cheonsa.

 

Appa… Cheonsa tidak sedang menangisi ayahnya, namun ia menangisi ayah Donghae. Daddy -ayah kandung Cheonsa- tinggal di Prancis karena harus mengurusi perusahaannya di sana. Ayah Donghae-lah yang merawat Cheonsa saat gadis itu masih kecil ketika sang ibu memilih tinggal di Prancis bersama suami barunya (ayah Cheonsa). Menyisakan kedua buah hatinya untuk diasuh oleh mantan suami.

 

“Hiks…” Isakan lirih masihlah terdengar. Sudah beberapa kali Cheonsa menangis dalam tidurnya. Gadis itu memang kuat dan pemberani, namun ia tetaplah rapuh jika dihadapkan dengan masa lalu.

 

“Cheonsa Lee… Aku membenci diriku sendiri.” Donghae mengecup puncak kepala Cheonsa, setetes liquid meluncur tak bisa dicegah. Donghae ikut menangis melihat adiknya seperti ini.

 

“Hiks…” Bibir pucat Cheonsa masih saja meluncurkan isakan.

 

Donghae sangat tau jika adiknya masih tidak bisa lepas darinya, yang perlu disalahkan adalah dirinya. Sejatinya Donghae hanya terlalu khawatir jikalau Cheonsa tidak bisa lepas darinya karena trauma gadis itu yang bisa dikategorikan parah.

 

“Tenanglah… Aku adalah lentera pengganti, lampu boleh saja redup dan membuatmu ketakutan. Tapi aku akan selalu datang untuk memberikan cahaya agar kau tidak kesepian…”

 

“Jaljayo Cheonsa Lee.” Namja dengan pangkat kepala polisi itu memutuskan untuk tidur, kedua lengannya masih mendekap erat tubuh Cheonsa.

 

Malam yang sunyi dengan kegelapan yang melingkupi keduanya, rasa gelisah masihlah bertandang bersamaan dengan penat yang mulai merontokkan tubuh. Keduanya terlalu memforsir tenaga, melupakan batasan toleransi tubuh terhadap aktifitas berkesinambungan.

 

Lama… Begitu lama Donghae mendekap raga adiknya, meskipun matanya terpejam untuk menyelami alam mimpi, namun tidak untuk indra pendengarnya yang siaga. Berjaga barangkali adiknya menangis lagi.

 

5 jam kemudian…

 

Semburat cahaya jingga melewati celah kecil antar korden. Sepasang netra dengan bulu mata lentik mulai mengerjap, menyesuaikan bias cahaya yang menyapa pupil matanya. Wajah yang tadinya seputih kertas, kini sudah kembali normal dengan pipi bersemu samar.

 

“Sudah pagi…” Lirihan itu secara spontan meluncur dari bibir Cheonsa -si gadis- yang baru saja menyapa bias cahaya redup.

 

Matanya memincing tatkala menangkap pemamdangan yang tidak biasa, kaos putih tipis yang sudah nampak lusuh membungkus tubuh tegap. “Op-oppa?” Cheonsa merasa tidak percaya, ternyata Donghae tidur di sampingnya.

 

“Tidak mungkin…” Kepala Cheonsa menggeleng pelan, ia mendorong bahu Donghae untuk memberi jarak. Tidak salah lagi, netranya berhasil menangkap bekas luka yang bisa dipastikan belum lama di lengan Donghae.

 

Merasakan pergerakan, Donghae membuka matanya. “Cheonsa. Kau sudah bangun?” Lega rasanya melihat adiknya yang nampak lebih baik.

 

Tangan kanan Donghae terangkat, meraba dahi Cheonsa untuk merasakan suhu tubuhnya. “Syukurlah kau tidak demam. Apa kau bisa bernafas dengan baik? Phobia-mu tidak parah kan?”

 

Tidak menjawab, Cheonsa memberontak, ia ingin terlepas dari kungkungan kakaknya. Sudah lama ia tidak melakukan skinship, rasanya terlalu canggung. Apalagi sikap Donghae yang menatapnya dengan kekhawatiran berlebih, itu makin membuatnya tidak nyaman. Salahkan saja kakaknya yang bersikap layaknya air, tiba-tiba dingin, tiba-tiba menghanyutkan, kepribadian yang sukses membuat Cheonsa risih.

 

“Diamlah…” Donghae memegang bahu Cheonsa. Menjaga agar adiknya tidak bergerak berlebihan.

 

Mereka diam beberapa saat, Donghae memastikan keadaan Cheonsa sudah benar-benar stabil. “Keadaanmu sudah kembali seperti semula.”

 

Senyuman lebar tercetak, Donghae merasa senang begitu mengatahui jika adiknya sudah kembali menjadi sosok yang kuat dan dingin seperti biasanya. “Wah, adikku yang manis ternyata baik-baik saja.” Tukasnya spontan.

 

“Se-sejak kapan oppa mendapat luka sayatan di lengan?” Cheonsa menatap tajam manik mata Donghae, tidak tidak merespon keantusiasan kakaknya. Memilih untuk menuntut sebuah jawaban akan asal-muasal dan waktu tergoresnya luka tersebut.

 

“Sejak hari dimana Pi Gyu meninggal.” Jawab Donghae santai, ia melepaskan Cheonsa. Membiarkan adiknya terpekur sendiri.

 

“Ti-tidak mungkin…” Menggeleng tidak percaya. Cheonsa beringsut mundur untuk menjaga jarak, mendadak ia merasakan ketakutan lain.

 

Menyingkap selimut, Donghae mengambil ponsel Cheonsa lalu meletakkannya di atas ranjang. “Kau pasti merasa bingung. Tapi inilah kenyataannya, aku adalah orang terakhir yang ditemui Pi Gyu sebelum ia dinyatakan tewas.” Kaki Donghae kini sudah menapak di atas lantai menjadi tumpuan tubuhnya yang berdiri.

 

Pemuda itu berbalik, tersenyum tipis pada adiknya yang terpekur dengan pandangan kosong. “Mandilah… Jangan lupa minum vitamin-mu. Gadis unik adik dari jaksa Park Jung Soo akan datang menjemputmu.”

 

Pukul 5 pagi, waktu yang sesuai bagi Monji untuk mendatangi apartemen. Sebelum gadis itu tiba, Donghae harus pergi lebih dulu. Pelarian? Mungkin itu istilah yang lumayan tepat meskipun tidak sepenuhnya benar.

 

.

.

.

.

.

 

Krystalaster27

 

Rintik hujan menyapa dedaunan rimbun yang menggantung pada tangkai. Dinginnya angin menerpa jutaan manusia yang sibuk berlalu-lalang untuk mengejar sebuah kepuasan duniawi.

 

Sepasang onix menatap kosong sebuah jurnal yang dibawanya. Pikirannya berkecamuk tak menentu bagai ombak yang bergulung menghantam karang serta mengikis pasir.

 

“Pi Gyu… Kim Pi Gyu…” Bibir itu bergerak menggumamkan sebuah nama. Kim Pi Gyu -gadis periang yang akan merasa kesal jika melihat seseorang mengulur waktu mengerjakan tugas.

 

Dunia kini terasa kelabu, kenyataan tidak terduga membuat semuanya terpekur dan saling bertubrukan. “Kematianmu membuat kami bersitegang.” Inilah kesimpulannya.

 

Donghae, namja yang kini merenungkan kejadian-kejadian tidak terduga yang terjadi menimpanya. Tubuh tegapnya berdiri kokoh di balkon apartemen yang kini tak terasa hidup. Cheonsa… Adiknya yang cerewet itu memilih untuk menginap di tempat Monji. Mungkin Cheonsa butuh waktu, Donghae sangat kenal sifat adiknya yang berpikir kritis terhadap sesuatu.

 

“Cheonsa… Dia terlalu berbahaya jika dibiarkan.” Sepasang onix Donghae berkilat. Berbagai perasaan terlihat dari binar matanya.

 

Tuk

 

Tangan Donghae meletakkan jurnal yang dibawanya ke atas meja kayu yang tidak jauh di belakangnya. “Aku harus menyingkirkannya segera!” Kini tangan itu terkepal erat hingga buku jari memutih.

 

“Tapi… Bagaimana caranya?” Alis Donghae bertaut. Pikirannya begitu runyam, intinya dia harus segera menyingkirkan sang pengganggu.

 

Mengerjapkan mata, Donghae meraih ponsel yang dikantonginya. “Haruskah aku melakukan hal yang tidak biasa?” Menatap ragu pada sebuah list telfon di ponselnya.

 

Menarik nafas dalam. Donghae menyentuh list panggilan tersebut. Ia sudah bertekad, apapun keputusan yang diambilnya kini akan ia tanggung akibatnya nanti. Meskipun Donghae harus mati di tangan adiknya sendiri karena ia telah melakukan sebuah kesalahan fatal pada Kim Pi Gyu.

 

“Surylian.” Suara Donghae mengawali percakapan tatkala ia mendengar suara kemerusuk terdengar setelah nada sambung terhenti.

 

‘Eoh, ada apa? Mr Aiden.’ Suara tenang yang mengalun terdengar dari seberang. Gadis bernama Surylian merespon dengan cepat.

 

Donghae mengalihkan tatapannya ke arah foto berbingkai yang memuat potret tubuhnya dengan Cheonsa. “Aku butuh bantuanmu.” Tak ada cara lain. Donghae membutuhkan sebuah bantuan.

 

‘Untuk?’ Surylian bertanya dengan nada sedikit heran. Pasalnya tidak biasanya sang kepala polisi menelfon langsung, biasanya mereka berkomunikasi melalui pesan singkat untuk mendiskusikan sebuah kasus, tidak lebih.

 

“Meretas keberadaan seseorang.” Jawab Donghae dengan lugas.

 

Di seberang sana, Surylian mengetik sebuah file di laptopnya. ‘Siapa?’ Ia membuat sebuah kolom-kolom kosong dengan cepat.

 

“Shin Ra In dan Hwang Li Dan.” Donghae mengucapkan dua nama yang dimaksudnya.

 

Surylian mengetikkan dua nama itu ke dalam salah satu kolom yang dibuatnya. Mengcopy-nya lalu memindahkan file yang diberinya judul ‘Secret Object’ ke dalam sebuah folder berjudul ‘Corona’.

 

Senyuman tipis tercetak di bibirnya, ‘Baiklah, aku akan meretasnya secepat mungkin. Tunggu kiriman dariku minggu depan.’ Merasa sangat senang karena menemukan sebuah kesinambungan unik akan tugas barunya.

 

“Oke. Kirim ke e-mailku.” Donghae menyandarkan punggungnya ke dinding.

 

‘Eum.’

 

Pipp

 

Jawaban singkat dari Surylian cukup membuatnya merasa tenang. Kini ia hanya perlu mengurus sang adik yang berubah dingin padanya.

 

Di tempat lain…

 

Dua manusia berbeda gender sedang duduk di atas karpet berbulu yang tebal. Salah satu diantaranya nampak menenggelamkan diri pada sebuah dokumen. “Bukti-bukti ini mengarah pada satu orang.” Dengan wajah datar mengucapkan sebuah kesimpulannya di hadapan seorang wanita dengan senyum memikat yang kini menengguk red wine dari gelas sloki.

 

Pyarr

 

Gelas sloki itu dihempaskan oleh sang wanita hingga menghantam dinding dan menjadi serpihan-serpihan kecil yang berkilau bagaikan butiran kristal.

 

“Lee Donghae selalu mengelak untuk diberi kesaksian.” Bibir merah sensual itu mencebik. Wajah tegas nan memikat yang dimiliki oleh sang Jenderal cantik terlihat sudah memerah karena efek alkohol.

 

Sang Jenderal yang dikenal dengan nama Xing Qi itu mendekati seorang namja yang notabene adalah suaminya. “Kibum, bukankah kau mendapatkan sebuah surat wasiat kemarin?” Alisnya terangkat sebelah.

 

Kibum mengangguk, ia membenarkan perihal penemuan surat yang dimaksudkan. “Surat di dalam loker Cheonsa. Tapi itu bukan surat wasiat, melainkan koordinat sebuah tempat.” Tangan Kibum tergerak, ia meraih ponselnya, sama sekali tidak melirik sang istri yang kini sudah berpindah tempat dan duduk di sampingnya.

 

“Ohhh…” Membeo santai. Xing Qi menyandarkan punggungnya pada kaki sofa. Hari ini ia melakukan banyak hal bersama Kibum untuk mengungkap kasus kematian Kim Pi Gyu secara detail.

 

“Aku sudah tau semuanya.” Kibum bersuara dengan santai. Ikut menyandarkan punggung pada kaki sofa.

 

Alis Xing Qi bertaut. “Maksudmu?” Tidak mengerti bahasan mana yang dimaksud oleh Kibum.

 

“Pelakunya… Aku sudah tau.” Kibum menggeser pandangannya, menatap sang Jenderal dengan tatapannya yang datar tanpa ekspresi.

 

“Eoh, aku juga.” Mengangguk kecil. Jenderal Xing Qi bangkit dari tempat duduknya.

 

“Benarkah?” Tanya Kibum memastikan. Ia tidak mengelak jika Xing Qi adalah wanita yang memiliki intelijensi tinggi.

 

“Eum, finger print itu 100% milik Lee Donghae.” Tersenyum miring. Xing Qi meraih dokumen yang tadinya dibawa oleh Kibum, mengamati sambil berdiri.

 

“Alibi saksi juga mengarah padanya.”

 

Sang Jenderal mengendikkan bahu, berlagak acuh. “Aku berharap Cheonsa Lee dan Park Monji segera sadar.” Pikirannya melayang pada dua gadis yang sibuk hilir-mudik mengais bukti-bukti yang tersebar. Miris sekali melihat kedua gadis itu nyaris tidak mendapatkan jam tidur karena kegiatan yang super padat.

 

“Eoh, aku juga berharap demikian.” Kibum beranjak dari duduknya, lalu beralih berbaring ke atas sofa.

 

“Jadi-” Xing Qi bersedekap, menanti maksud detail dari sang suami.

 

Memejamkan mata, Kibum menguap lalu menutup wajahnya dengan sebelah lengan. “Kita nikmati saja pertunjukan ini.”

 

“Ahhhh, aku sungguh senang. Rasanya seperti melihat film yang menyenangkan.” Xing Qi tersenyum lebar. Kasus perseteruan antar saudara sangat jarang terjadi, apalagi menyangkut-pautkan dua profesi yang sama kuatnya.

 

“Lee Donghae terancam mati di tangan adiknya sendiri.” Kibum tersenyum tipis sebelum ia benar-benar terlelap menyelami alam mimpi untuk melepas kepenatannya.

 

“Benar… Justru itulah titik menariknya.” Senyuman di wajah sang Jenderal berubah menjadi sebuah seringai mengerikan.

 

Waktu… Semuanya hanya bisa dibuktikan dengan waktu. Apakah Lee Donghae akan mengakui kesalahannya? Ataukah tetap bungkam hingga ia mendapatkan serangan telak dari adiknya sendiri?

.

.

.

.

.

 

Krystalaster27 with Lizz Danesta (special scene of Qin Xing Qi)

 

 

Berlari.

 

Berlari.

 

Cheonsa berlari secepat yang ia bisa. Kakinya bergerak menapaki tanah basah dan lapisan beton yang tampak retak di beberapa bagian. 10 menit yang lalu Donghae mengiriminya sebuah pesan berisi tantangan agar Cheonsa datang ke lokasi latihan yang sudah 4 tahun tidak lagi digunakan.

 

Terengah. Cheonsa mengedarkan pandangannya menyapu gedung dua lantai yang memiliki luas sama dengan sebuah gedung theater.

 

Ketemu!

 

Di sana, tepat di sudut ruangan. Donghae sudah berdiri tegap dengan tangan bersedekap. Mimik wajah sang kepala polisi sangat datar, namun Cheonsa bisa melihat jikalau ada setitik pandangan marah dari sepasang obsidian itu.

 

“Aku membawa pistol” Cheonsa mengarahkan moncong pistol pada Donghae. Siapapun tau jika kedisiplinan dan sikap dewasa adalah syarat utama seseorang boleh membawa senjata api. Ia juga tidak meletakkan Jari telunjuk pada triger/pelatuk, ia hanya menodongkan pistol, tidak lebih.

 

Wajah tampan sang kepala polisi terlihat santai. “Cheonsa, kau yakin dengan analisamu?” Tanyanya memastikan pada sang adik.

 

Cheonsa menarik nafas dalam, saat ini ia berada di lapangan tembak, netranya harus memperhatikan apa yg ada dibelakang target / sasaran, meskipun yang digunakannya saat ini adalah peluru jenis Hollow Point.

 

Peluru jenis Hollow Point, memang akan pecah didalam tubuh target, sehingga tidak akan tembus dari target dan meluncur kesasaran di belakangnya. Sebagai informasi, peluru Hollowpoint adalah bullet dengan projectil yg bolong ditengahnya dan terisi oleh ruber. Fungsinya ketika projectil masuk kedalam tubuh target, maka dia akan mengembang/pecah dan berhenti didalam tubuh, sehingga tidak tembus. Tidak seperti peluru tajam biasa (Bald bullet).

 

Dagu Cheonsa terangkat, ini adalah saat paling tepat untuk mencerca sang kakak atas segala tuntutan. “Apa lagi yang aku ragukan. 90% bukti menyimpulkan jika oppa adalah pembunuh Pi Gyu. Sampel darah di baju Pi Gyu adalah darahmu oppa. Finger print di washtafel, alibi saksi, rekaman CCTV yang menghadap jalan raya, luka di lenganmu, rontokan rambut Pi Gyu, gelang berinisial KPG, dan beberapa bukti lainnya. Akuilah jika kau bersalah oppa!”

 

Salahkan Donghae yang tidak mau terbuka, tidak pula menjelaskan perihal seberapa jauh ia terlibat dalam kasus. Cheonsa sudah bertekad jika ia akan melakukan serangan pada oppanya sendiri andaikata situasi memaksanya.

 

Donghae mengendikkan bahu acuh, “Aku tidak akan mengakui. Silahkan menyeretku ke penjara tapi aku tidak akan pernah mengatakan apapun.” Terlanjur, Donghae sudah terlanjur mengucap sumpah yang takkan pernah dilanggarnya.

 

Tanpa Cheonsa sadari, tangan kanan Donghae bergerak meraba holster untuk meraih senjatanya.

 

“Cheonsa, awas!” Seruan panik itu terdengar beberapa detik sebelum-

 

Bruggh

 

Dor!

 

Dor!

 

Dua kali tembakan nyaring terdengar. Seorang namja berhasil menarik tubuh Cheonsa agar berlindung ke balik dinding sebelum timah panas itu bersarang. Mereka jatuh terduduk dibalik dinding yang menjadi sekat pemisah gedung latihan lama.

 

“Kau menodongkan pistol pada kakakmu sendiri. Jadi aku juga akan menodongkan senjata pada adikku sendiri.” Ucapan itu tentunya dilontarkan oleh Donghae, nada suaranya terkesan begitu dingin dan mengintimidasi.

 

Kyuhyun, namja yang tadinya menarik Cheonsa agar berlindung di balik dinding. “Revolver?” Mendesis sedikit kala melihat dari celah dinding untuk memastikan senjata yang digunakan Donghae.

 

“Sial! Donghae oppa sangat piawai menggunakan revolver dari pada pistol.” Cheonsa mengumpat. Ia mengeluarkan pistolnya yang lain, memastikan jumlah peluru yang mengisi magazine.

 

Dorr!

 

Satu kali letusan senjata api dilepaskan. “Cheonsa Lee! Sebaiknya kau keluar!” Teriak Donghae dengan lantang.

 

“Oppa hanya perlu mengatakan yang sebenarnya. Tapi kenapa oppa memilih untuk membuat semuanya menjadi rumit?!” Cheonsa menyahuti tanpa beranjak dari tempat perlindungannya. Jalan pikiran sang kakak terlalu abstrak untuk dimengerti.

 

Sepasang manik mata Donghae berkilat, tangannya masih menodongkan revolver ke arah dinding. “Karena aku telah bersumpah.”

 

Dorr

 

Tembakan keempat sudah diluncurkan. Cheonsa sepenuhnya sadar jika sang kepala polisi itu tidaklah bercanda dengan asal menembakkan peluru.

 

Mendadak rasa kesal membuncah di hati Cheonsa, “Sumpah macam apa? Jika oppa tidak bersalah, katakan! Jika bersalah, akuilah!” Apa susahnya berkata? Toh semua itu juga untuk kebaikan Donghae sendiri.

 

Dorr!

 

“Cheonsa Lee, muncul sekarang juga! Atau aku akan menembaki dinding yang melindungimu hingga berlubang.” Ancaman ini tidaklah main-main.

 

Kyuhyun menghela nafas, ia sungguh bingung dengan situasi yang tengah terjadi. Sepasang saudara kini bersitegang, saling menyerang dengan senjata. “Hyung, hentikan! Kenapa kau tidak mengakui yang sebenarnya?”

 

Tersenyum miring, Donghae menggeser arah tembakannya. “Kyuhyun, apa yang mendasari diriku melakukannya. Kau sungguh bodoh!”

 

Benar, semua orang terlalu bodoh untuk menyadari kebenarannya.

 

Dorr

 

“Akkh.” Rintihan itu membuat Cheonsa membelalakkan mata. “KYUHYUN!” Pekiknya panik saat melihat lengan kiri Kyuhyun berdarah.

 

“Aku pernah berkata, ‘Jangan sekalipun memancing emosiku dengan peluru jika kalian tidak cukup mahir.’ Senjata adalah mainanku sejak kecil.” Masih dengan nada dingin nan mengintimidasi, Donghae menyuarakan peringatannya.

 

“Oppa melakukan kesalahan fatal. Senjata bukanlah alat untuk melampiaskan emosi. Senjata diperuntukkan sebagai perlindungan dan pembelaan. Tidak untuk tembakan asal.” Cheonsa bahkan tidak menarik pelatuknya, namun ternyata Donghae malah menghujaninya dengan peluru.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

“CHEONSA LEE!!! BERHENTI!!” Kyuhyun berteriak sekeras-kerasnya saat melihat Cheonsa melangkah menghampiri Donghae sambil menggenggam sebuah pistol yang siap tembak.

 

Sepasang obsidian itu berkilat, bukan kemarahan yang terpancar melainkan rasa penyesalan mendalam. “Dari dulu aku tidak mengerti apa salahku. Oppa selalu saja menantangku.”

 

Dorr

 

“Akkh…” Rintihan dari orang yang berbeda terdengar.

 

“Satu sama.” Tersenyum tipis. Cheonsa telah meluncurkan sebuah tembakan yang berhasil menggores lengan Donghae. Ya, hanya menggores karena peluru yang melaju kini sudah tertanam pada dinding yang berdiri kokoh di belakang sang kepala polisi.

 

Sensasi perih nan panas dapat dirasakan Donghae. “Cheonsa! Aku sungguh tidak ingin mengatakan apapun! Mundurlah!” Kepalanya menggeleng pelan sebagai bentuk penolakan.

 

Prok

 

Prok

 

Prok

 

Suara tepuk tangan membuyarkan aroma ketegangan yang melingkupi sepasang saudara bermarga Lee tersebut. Keduanya kompak mengalihkan sepasang obsidian mereka ke arah datangnya suara.

 

“Pertunjukan yang menakjubkan.” Seorang wanita cantik dengan langkah anggun. Namun tak dapat di pungkiri ada sedikit kesan arogan dalam sikapnya saat berjalan dengan santai dan berdiri di tengah-tengah perseteruan dua bersaudara itu. ‘Qin Xing Qi’ itulah nama sang jendral muda dengan perawakan dan keanggunan melebihi Dewi namun akan berubah menjadi iblis penjerat saat bertugas.

 

Cheonsa menurunkan pistolnya dengan sikap sedikit gugup, memberi hormat sekilas pada wanita anggun berparas cantik yang tak lain adalah jenderal markas besar tempatnya berkerja selama ini.

 

“Jenderal Qin.” ucapnya dan membungkukkan tubuhnya.

 

Sementara wanita itu hanya terdiam dan tersenyum tipis kemudian. Mendapati sikap sang jenderal, Cheonsa tersadar dari kekonyolannya dan buru-buru menegakan kembali tubuhnya, entah kenapa setiap Cheonsa berhadapan dengan wanita itu dirinya selalu di hinggapi rasa gugup.

 

“Nona Lee, tidak kusangka kemampuanmu bisa berkembang secepat ini.” Sang jendral menampilkan senyum sejuta arti pada Cheonsa. Sementara manik gelapnya terus menghunus tajam ke arah sang objek yang sejak tadi menarik atensinya yaitu ‘Kepala polisi Lee Donghae.’

 

Jendral Qin memiliki pembawaan yang tenang namun siapapun tau jika kemampuannya tidak tertandingi. Jangan pernah memandang seorang wanita dengan sebelah mata, karena wanita paling lemah sekalipun akan berubah menjadi bringas saat ia merasa terusik.

 

“Lee Donghae, tidak bersalah.” Satu kalimat terucap, Jendral Qin telah melontarkan pernyataan yang sukses membuat Cheonsa serta Kyuhyun terkejut.

 

Kepala wanita berpangkat tinggi itu menoleh ke belakang, dengan senyum tipis yang memikat khas miliknya, dia berseru. “Kibum-ah, bawa dia ke sini, kurasa mereka perlu tau kebenarannya!”

 

Qin Xing Qi adalah istri sah dari pimpinan ‘Markas Pertananan, Terorisme, dan Kriminologi -Korea Selatan.’

 

Pria tampan berwajah dingin tanpa ekspresi itu adalah suami jenius dari jendral Xing Qi~Kim Kibum, mendengar ucapan istrinya tanpa di suruh dua kali Kibum yang sedari tadi hanya berdiri diam bersandar pada kap mobil hitam metaliknya dengan kedua lengan yang saling bertaut, kini mulai berjalan memutar menuju ke arah pintu dan membuka pintu penumpang.

 

“Keluar!” Ucapnya datar dengan tatapan sedingin es, menyuruh seseorang yang tengah duduk di dalam mobil dengan kegugupan dan rasa gelisah yang tak dapat di tutupi, lama tak ada tanggapan dari orang itu tanpa berucap untuk yang kedua kalinya, Kibum menarik paksa seseorang itu keluar dari mobil. Menyeretnya seperti seorang hewan kehadapan beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan bingung.

Brugg!!!

 

Tubuh orang itu dihempaskan tepat di depan Kyuhyun dan Cheonsa,sementara keduanya saling tatap tidak mengerti dengan maksud sang jendral dan suaminya.

 

“Kim Heechul ~si ular licik yang dapat berkelit dengan begitu lihai. Seorang brengsek yang turut andil dalam perdagangan senjata api ilegal dan black market serta seorang bandar narkotika internasional.” Suara lembut sang Jenderal mengalun menyampaikan kejelasan mengenai identitas seorang namja yang tadi dihempaskan secara tidak elit.

 

Manik mata Cheonsa terbelalak. “Ta-target Kim?!” pekik gadis itu, dia sama sekali tidak menyangka jika namja yang beberapa hari lalu dibawa Monji adalah seorang bandar narkotika sekaligus oknum perdagangan senjata ilegal. Pimpinan Kim hanya memberitahu jika Kim Heechul adalah ketua geng motor yang terjerat kasus dengan kemiliteran sehingga divisi anti terorisme yang harus meringkusnya.

 

“Cheonsa Lee, kau sungguh pintar. Oppa tirimu itu memang terlibat, tidak secara harfiah, lebih tepatnya dia adalah saksi kunci yang tidak terlalu pintar.” Jendral Qin mengatakan pujian pada Cheonsa dengan wajah datarnya. “Dan kukira kalian juga harus mengetahui hal ini jika~Kim Heechul adalah pembunuh dari Kim Pi Gyu.”

 

Deg

 

Sekali lagi hantaman keras telak mengenai Kyuhyun dan Cheonsa ,mereka sangat terkejut dengan fakta yang diungkapkan oleh Jenderal Qin tentang siapa pembunuh Pi Gyu sebenarnya.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Suara ketukan sepatu pantofel hitam dengan hak yang tidak terlalu tinggi sang jendral terdengar bagaikan sebuah suara lonceng kematian. Wanita cantik berdarah campuran Korea – Kanada itu dapat mengintimidasi siapapun yang menatapnya dalam sekali jentikan jari.

“Dasar brengsek… Kim Heechul kenapa kau membunuh adikku, apa motifnya sebenarnya? Katakan padaku sialan?” Teriak Kyuhyun marah seraya mendekati Heechul yang masih bersimpuh di tanah.

 

Srett

 

Jemari panjang milik Kyuhyun meraih dan mencengkram kerah kemeja Heechul dengan kuat, nyaris mencekik namja berwajah cantik itu tapi berhati iblis.

 

“Katakan!” Desaknya.

 

Bughh!

 

Sebuah tinjuan kuat di layangkan Kyuhyun membuat Heechul terhempas karena amarahnya.

 

“Karena Kim Pi Gyu tidak berguna dan dengan seenaknya dia ikut campur urusanku dalam organisasi kami, dia adalah pengusik~bukankah pengusik memang harus di singkirkan.” marah Heechul tidak terima dengan serangan mendadak yang di lakukan Kyuhyun.

 

“Bedeb*h!” Amukan Kyuhyun dengan wajah merah padam berniat menyerang Heechul sekali lagi, untungnya Donghae mampu menghentikan aksinya di saat yang tepat. Namun Kyuhyun tetaplah Kyuhyun dia masih belum puas jika dia belum bisa menghabisi si brengsek Kim Heechul.

 

“Pi Gyu hanya ingin menghentikan aksi kalian, dia hanya ingin melindungimu, dia tau jika memperdagangkan senjata dan narkotika adalah salah, tapi kenapa kau malah membunuhnya? Profesi Pi Gyu sebagai anggota anti-terorisme, menuntutnya untuk bekerja secara totalitas.” Monji yang baru tiba menatap tajam Heechul dengan gigi yang saling bergemelatuk geram. Tangannya bahkan terkepal kuat karena emosi yang meluap tajam.

 

Sepasang onix hanya melihat pemandangan tersebut dengan santai tanpa emosi, seolah ketegangan yang terhidang adalah perkelahian bocah sekolah dasar. “Kim Heechul, putra dari CEO Kim’s corporation… Pemilik 3 resort dan 2 pulau wisata. Seorang pengusaha muda yang pernah ditelantarkan oleh keluarga karena menolak menjadi pewaris Kim’s corporation.”

 

Kepala Kyuhyun menoleh dengan cepat, menatap sang Jenderal dengan tatapan tidak percaya. ‘Kim’s Corporation’ sebuah perusahaan yang sangat dikenal Kyuhyun sebagai perusahaan orangtua kekasih adiknya.

“Ja-jadi kau dulu adalah kekasih Pi Gyu?” Cengkraman Kyuhyun pada kerah baju Heechul terlepas. Ia memang belum pernah bertemu dengan Heechul, satu tahun yang lalu Pi Gyu memilih tinggal di apartment sendirian. Adiknya memang pernah bercerita tentang kekasihnya yang bermarga ‘Kim’ putra dari CEO – Kim’s Corporation. Beberapa waktu kemudian, Pi Gyu memberitahu jika hubungannya sudah putus, padahal Kyuhyun belum sempat berkenalan dengan kekasih Pi Gyu.

 

“Cih… Sang mantan yang ber*ngsek.” Berdecak kesal, jendral Qin memutar bola mata. Dalam dunia yang licik, tidak ada istilah ‘mencintai setulus hati’, namun yang ada hanyalah ‘mencintai demi keuntungan pribadi’. Memang hal itu terdengar kejam dan sangat tidak manusiawi tapi itulah hukum alam, makan atau di makan, jika kau lengah bersiaplah untuk menyingkir dan lenyap.

 

“Kau membuatku kesal, katakan! siapa partner mu?” Cheonsa menodongkan pistolnya ke arah pelipis Kim Heechul. Baginya Kim Heechul adalah target yang sesuai untuk dibunuh andaikata namja itu menolak untuk menyebutkan data diri partnernya.

 

Mendesis pelan, “Park Seung Young.” Heechul mengucapkan sebuah nama yang sangat dikenali oleh warga Korea Selatan.

 

“Park Seung Young, gadis berusia 25 tahun keturunan Korea – China. Putri dari CEO Park’s group. Lulusan terbaik akademi militer Amerika Serikat, memutuskan untuk bergabung dalam FBI dua tahun lalu. Sekarang status ‘Seung Young’ adalah kepala divisi technology Interpol.” Sekali lagi sang Jenderal menjabarkan identitas dengan begitu lugas, seolah wanita itu menghafal banyak identitas penduduk di luar kepala.

 

“Cheonsa Lee, Park Monji. Kalian tentunya paham tentang tugas kalian selanjutnya.” Kim kibum bersedekap, netranya menatap lurus pada dua anggota paling berpengaruh di markas.

 

“Ne, Sajangnim!” Monji dan Cheonsa mengangguk, mereka saling melemparkan tatapan lalu berjalan cepat meninggalkan lokasi.

 

“Cheonsa!” Sebuah panggilan menghentikan langkah kaki Cheonsa.

“Kita harus bicara setelah ini.” Lanjut si pemanggil yang tak lain adalah Donghae.

 

“Tunggu aku di rumah.” Cheonsa mengatakannya tanpa membalikkan tubuh. Sebuah kejelasan harus diperolehnya dengan segera setelah ia melaksanakan tugasnya.

 

.

.

.

.

.

 

Pigu with Krystalaster27

 

Flash back

 

Baru saja memasuki kamar tidurnya, Kim Pi Gyu, gadis bersurai sepekat arang itu tersentak, kala ponselnya berdering panjang menandakan sebuah panggilan masuk. Dia merogoh benda persegi panjang itu disaku piama polkadot favoritnya, lalu menempelkannya ditelinga, setelah sebelumnya menggeser ikon hijau di layar.

 

“Yeobseoyo.” ucap Pi Gyu sedikit serak. Habis bercanda dengan Kyuhyun benar-benar menguras energinya. Energi suara, tepatnya. Karena terlalu banyak tertawa, suaranya sampai serak begini. Diakan jadi merasa menyaingi suara seksinya Hyorin Sistar.

 

‘Pi Gyu, ini aku.’

 

Tentu saja, Pi Gyu mengenali suara itu. “Oh, Donghae oppa. Wae?” tanyanya kemudian.

 

‘Dia mencarimu.’

 

Kening Pi Gyu kontan mengerut, heran. “Mwo? Mencariku?”

 

‘Dia tidak ingin pulang, tetap kekeuh menunggu di apartemenku.’

 

Penjelasan Donghae membuat Pi Gyu menghela napas panjang. Dia yakin yang dimaksud Donghae adalah si sakit jiwa itu. Merepotkan sekali. Mau tak mau, Pi Gyu memutuskan, “Aku akan datang.”

 

‘Cepatlah!’

 

Pipp

 

Sambungan komunikasi dua arah itu terputus. Pi Gyu bergegas membawa tas selempangnya lalu menyambar sebuah cardingan berwarna hitam. Ia harus cepat datang untuk menemui si biang onar kelas kakap.

 

5 jam kemudian…

 

Ruangan yang tadinya rapi kini sudah berubah layaknya kapal pecah. Bantal sofa tergeletak di atas karpet, koran-koran berhambur dengan rupa yang sudah menjadi robekan.

 

PLAKKK!

 

“Brengs*k kau Kim Heechul!” Tamparan keras itu dilayangkan. Pipi tirus yang tadinya berwarna putih, kini berubah kemerahan. Seorang gadis dengan surai gelapnya tengah memandang nyalang pada seorang lelaki yang kini berdiri angkuh di hadapannya.

 

“Pi Gyu-ya, apa salah jika aku menghabisimu?” Seringai muncul di wajah seseorang yang ditampar oleh sang gadis bernama Pi Gyu.

 

Emosi… Tangan Pi Gyu mendorong bahu orang tersebut. “Kau monster!” Hardiknya dengan kemarahan yang tersulut. Nafasnya menderu, pikirannya begitu kacau dengan kejadian yang barusaja berlangsung.

 

Kim Heechul, namja dengan rupa memikat itu sudah menyuntikkan sebuah racun ke dalam tubuh Pi Gyu secara paksa. Pi Gyu yang tadinya sedang terdiam menikmati secangkir teh, tiba-tiba merasakan tusukan di lengannya. Ya… Heechul menjebaknya. Namja itu berpura-pura dengan berbincang ringan hingga menelan waktu beberapa jam, namun ketika Pi Gyu lengah. Sebuah serangan tidak terduga dilakukannya. Sungguh picik.

 

“Ne, aku memang monster.” Jawab Heechul dengan sekenanya. Netranya tampak santai seolah ia tidak melakukan kesalahan apapun.

 

Geram… Pi Gyu merasa sangat muak dengan namja berwajah cantik itu. “Berikan aku penawarnya! Cepat!” Pi Gyu mencekik leher orang yang lancang meracuninya. Tidak perduli jikalau tenaganya berhasil meremukkan tulang kerongkongan si namja.

 

Bruggh

 

Terhempas dengan mudah. Heechul mendorong Pi Gyu hingga gadis itu jatuh terduduk dan melepaskan cekikan pada lehernya. “Racun itu tidak ada penawarnya.” Lontarnya dengan agak sarkastik.

 

“M-mwo? Mwoya?” Terbelalak lebar. Pi Gyu merasa pikirannya kosong seketika. ‘Racun tanpa penawar?’ Itu adalah hal paling gila yang pernah didengarnya.

 

Heechul mengendikkan bahu. “Lebih baik kau segera menulis wasiat.” Ucapnya dengan nada setengah mencemooh.

 

Brugg

 

“Kau kurang ajar!” Terjangan secara tiba-tiba membuat namja itu tersungkur keras ke lantai. Seseorang datang dari pintu masuk dan langsung menyerang Heechul.

 

Duagh

 

Kini sebuah tendangan yang dilayangkan. Sepasang netra menggelap, menampilkan mimik wajah paling mengerikan yang mampu membuat orang lain ketakutan.

 

“Lee Donghae, tidak perlu sepanik itu. Pi Gyu akan mati sebentar lagi.” Heechul menyeringai, ia mengusap darah di sudut bibirnya yang robek. Menatap santai pada namja yang baru saja menyerangnya.

 

Buggh

 

Bughh

 

Keadaan berbalik, kini Donghae-lah yang dipukuli oleh Heechul. Donghae lengah, ia tidak mempersiapkan diri tatkala Heechul menerjang secepat kilat. Tubuhnya terhuyung ke belakang dengan mudah, nyaris terjungkal.

 

Sreet

 

“Akkkh!!!” Ringisan keras itu terdengar, Donghae memegang lengan kirinya yang mengucurkan darah segar.

 

Senyuman puas menghiasi wajah Heechul. “Goresan kecil sebagai hadiah untuk kepala polisi Lee Donghae.” Ia menggoyangkan sebuah pisau lipat. Mengejek secara tidak langsung akan kekalahan Donghae ketika melawannya. Ternyata, mengalahkan seorang kepala polisi tidaklah sesulit yang ia kira.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Pergi… Heechul pergi meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan dua manusia yang kini saling menatap dengan raut kekhawatiran.

 

“Aigooo! Oppa, lukamu!” Pi Gyu memekik panik saat melihat darah di lengan Donghae tak jua berhenti mengalir.

 

Tangan Donghae menepis halus uluran tangan Pi Gyu yang berniat membantunya. “Pi Gyu-ya, cepatlah pulang!” Tegasnya. Donghae begitu takut jika Pi Gyu tidak akan mampu bertahan.

 

Semuanya karena keteledoran Donghae yang meninggalkan Heechul bersama Pi Gyu berduaan di dalam flat. Donghae terlambat menyadari jika Heechul adalah orang yang berbahaya. Sang mantan yang tiba-tiba kembali menemui sang gadis setelah sekian lama terpisah bukanlah hal yang baik dan wajar. Sangat mencurigakan untuk sekedar pertemuan tegur sapa, apalagi Heechul menemuinya lebih dulu lalu memohon agar dipertemukan dengan Pi Gyu.

 

“Shireo! Aku ingin tetap di sini.” Pi Gyu menolak, ia merobek lengan kemeja Donghae. Ingin melihat secara jelas seberapa parah luka yang dialami oleh kakak rekan satu divisinya.

 

Donghae menepis tangan Pi Gyu yang terulur pada lukanya. “Pi Gyu… kau-”

 

“Diamlah oppa! Untung lukamu tidak terlalu dalam, hanya sayatan luar yang memanjang.” Pi Gyu memotong ucapan Donghae. Ia melihat dengan seksama, mencoba memastikan jika sayatan yang ada tidaklah parah.

 

Tes

 

Tes

 

Dua tetes liquid bening meluncur melewati pipi, si gadis bersurai hitam mengerjapkan mata, bibirnya bergetar.

 

“Uljima Pi Gyu…” Donghae menyeka air mata yang menetes meskipun tangannya berlumuran darah.

 

Pi Gyu mendongakkan kepala, obsidiannya menatap Donghae secara lekat. “Oppa, bisakah oppa merahasiakan semua ini?” Sepasang netranya memancarkan sebuah pengharapan besar.

 

“Apa maksudmu?” Alis Donghae terangkat, tak memahami mengapa dirinya haruslah merahasiakan kejadian ini.

 

Pi Gyu memeluk Donghae, ia merasa sangat takut. Hanya sekedar menumpukan kepalanya di bahu namja yang merupakan sahabat baik oppa-nya. “Sebentar lagi aku akan mati… Oppa tidak boleh mengatakan apapun tentang kejadian ini. Oppa harus menemukan Heechul lebih dulu lalu memaksanya untuk bersaksi, jika oppa mengatakan kalau oppa adalah saksi. Kemungkinan besar, oppa akan dituduh langsung sebagai pelaku. Heechul begitu piawai dalam membersihkan jejak, berlakulah seolah oppa tidak mengetahui apapun. Jangan bicara, jangan memberikan pernyataan. Oppa harus menangkap Heechul beserta Seung Young lebih dulu, barulah oppa bisa memberikan kesaksian.”

 

Donghae terpekur, yang dikatakan Pi Gyu sepenuhnya benar. “Bagaimana dengan Kyuhyun?”

 

Pi Gyu melepaskan pelukannya, bajunya kini sudah berlumuran darah Donghae, tapi ia tidak perduli. “Kyuhyun oppa adalah orang yang jenius, dia pasti peka. Biarkan semuanya terjadi, aku ingin mati dengan tenang. Aku sudah menyelipkan sesuatu di dalam loker surat milik Cheonsa beberapa hari lalu, isinya koordinat markas perdagangan senjata ilegal. Sayangnya tadi Heechul berhasil membawa chip berisi kumpulan data mengenai organisasi gelap yang dipimpin oleh Seung Young. Oppa harus memberitahu Cheonsa agar membuka lokernya.”

 

“Pi Gyu… Jangan berkata seperti itu. Ayo kita pergi ke rumah sakit! Kita mungkin bisa mendapatkan penawarnya.” Donghae menegakkan tubuhnya, tangannya terulur menarik Pi Gyu. Jujur saja, Donghae sangat tidak suka dengan sederet kalimat yang diucapkan Pi Gyu, seolah gadis itu sudah pasrah dengan apapun yang terjadi.

 

Menepis halus. Pi Gyu menatap Donghae dengan gurat lelahnya. “Aniya! Racun yang masuk dalam tubuhku bukan racun biasa. Aku tau jika Heechul tidak berbohong.”

 

“Gyu…”

 

Tersenyum tipis, Pi Gyu kini menangkap sebuah pias cahaya menyelinap melalui celah korden. Pagi tiba, ia berhasil menghabiskan malam yang menegangkan. “Oppa, sampaikan juga pada Cheonsa agar tidak memikirkanku. Jika aku tidak ada, Cheonsa akan semakin mudah untuk meraih jabatan yang lebih tinggi.” Pi Gyu tidak mungkin lupa akan rekannya yang memiliki ambisi tinggi. Cheonsa Lee -adik seibu Donghae adalah seseorang yang kini berusaha meraih jabatan lebih tinggi. Gadis bersurai coklat itu rela melakukan banyak tugas hanya untuk mencapai keinginannya.

 

“Gyu…” Donghae hanya mampu memanggil lirih nama Pi Gyu.

 

Gadis bersurai hitam itu menatap Donghae dengan teduh, ia sudah berdiri di ambang pintu. “Selamat tinggal… Oppa harus segera menemui dokter Choi untuk mengobati luka itu.” Pesannya dengan tegas.

 

“Selamat tinggal, Pi Gyu…” Donghae mengerjapkan mata. Pergi, Pi Gyu kini sudah pergi meninggalkannya.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Gadis bermarga Kim itu menyisir jalanan dengan setengah berlari, ia harus cepat sampai ke apartment sebelum semuanya terlambat. Pikirannya berkecamuk, rasa kalut mengentayangi hatinya yang dirundung gelisah. Gelisah memikirkan kapan ia akan benar-benar meregang nyawa. Sinar mentari semakin jelas, ia harus bergegas sebelum oppa-nya terjaga dari tidur indahnya.

 

Cklek

 

Pintu apartemen terbuka. Langkah lunglai Pi Gyu menapaki lantai menuju kamarnya yang temaram. Sepasang obsidiannya berkabut. Pi Gyu tak pernah sekalipun menyangka jika Heechul tega membunuhnya secara sadis dengan menyuntikkan racun.

 

Ia mulai merasakan sakit yang menjalar di tubuhnya. Jemari lentiknya meraih sebuah bulpoint dan secarik kertas, menuliskan sebuah pesan kematian. Ia berusaha menahan rasa sakit apapun, berusaha memusatkan fokus pada selembar kertas yang ditulisinya.

 

Hanya butuh beberapa detik bagi Pi Gyu untuk menuliskan surat, Pi Gyu yang memang sedang gelisah, lupa mengelap tangannya yang berlumuran darah. Beberapa bercak menempel di kertas itu. Darah Donghae…

 

“Hiks…” Isakannya lolos. Pi Gyu memutuskan untuk merebahkan tubuh ke atas ranjang, mencoba untuk tidak menggerang saat rasa tidak nyaman begitu kuat menjalari tubuhnya.

 

“Oppa… Selamat tinggal.” Pagi itu semuanya terasa begitu lambat, Pi Gyu memejamkan matanya sembari terus mengumamkan doa dalam hati.

 

Menyesal? Tidak! Pi Gyu sama sekali tidak menyesal. Semuanya adalah takdir untuknya. Profesinya sebagai peretas target operasi dalam divisi anti-terorisme tentunya memiliki resiko besar. Pi Gyu hanya berharap jika Cheonsa berhasil menangkap target yang sebenarnya.

 

Kim Heechul pastilah sudah merencanakan semuanya dengan rapi. Namja itu bukanlah orang yang bodoh dengan menjerumuskan dirinya sendiri pada masalah.

 

Entah kenapa, namun Pi Gyu memiliki dugaan jikalau Cheonsa dan Donghae juga diincar oleh Heechul. Ah, tidak! Ada satu orang lagi. Ya, satu orang lagi yang sangat berpengaruh di markas besar. Seseorang yang diincar oleh banyak mafia dan penjahat internasional.

 

Flash back off

.

.

.

.

.

 

 

Krystalaster27

 

Lilin-lilin aromatherapi terletak manis di atas meja-meja kayu berpelitur. Aroma lembut nan menenangkan membuat pengunjung menjadikan tempat ini sebagai salah satu lokasi favorite mereka. Belum lagi lantunan melodi yang terdengar bersamaan dengan kemercik air dari kolam ikan mini di tengah restoran. Suasana asri yang sungguh manjakan mata.

 

Dua gadis berbeda divisi sedang duduk berhadapan, salah satunya menikmati sepiring spageti sedangkan yang satu lagi memilih melahap es krim rasa coklat dengan sepiring mungil pan cake yang disiram coklat.

 

“Jadi Donghae hanya menerima sanksi berupa skorsing?” Si gadis bercat kuku hitam mengawali pembicaraan. Tangan kanannya memegang sendok yang digunakannya untuk mengacak es krim di dalam mangkuk.

 

Kepala mengangguk, Cheonsa menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, lalu ia mengusap tangannya dengan tisu sebelum mengambil sumpit. “Eum, 3 bulan. Aku yang akan menggantikannya menjabat sebagai kepala polisi.”

 

Anggap saja Cheonsa begitu beruntung. Jarang sekali ada yeoja berusia 21 tahun yang mendapat kesempatan berharga untuk menduduki jabatan ‘kepala polisi’. Well, Cheonsa memperoleh jabatan tersebut setelah mengalahkan 5 calon kandidat pengganti. Ada untungnya juga bersekolah di akademi militer saat senior high, jadi ketika lulus, Cheonsa hanya perlu menuntaskan pendidikan lanjutan agar bisa mendapatkan sertifikat khusus.

 

“Jadi, apakah kalian bertengkar hebat? Lalu saling membenci satu sama lain?” Monji menatap rekannya dengan tingkat penasaran tinggi.

 

Cheonsa menelan spageti yang ada di mulutnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Monji. “Sejatinya saudara tidaklah bisa membenci dengan kadar 100%. Emosi yang membutakan kami hingga perseteruan mendominasi. Donghae oppa tidak jujur terhadap posisinya, padahal ia nyaris saja ditahan jika surat penangkapannya ditandatangani oleh Perdana Menteri.”

 

“Oppamu bodoh.” Monji mendecih, tak habis pikir jika ada manusia sebodoh Donghae yang rela dituduh sebagai tersangka hanya karena belum mampu menangkap Seung Young.

 

Kepala Cheonsa menggeleng pelan. “Dia tidak bodoh, hanya saja otaknya terlalu kolot dengan memenuhi alur yang dibuatnya sendiri. Andai Donghae oppa jujur, ia bisa terlepas dari tuduhan. Aku juga akan membantunya mencari bukti.” Inilah yang menjadikan Cheonsa sulit menyesuaikan diri dengan Donghae. Sifat sang kakak berubah 180 derajat sejak kejadian di masa lalu.

 

“Ya, ya, ya… Oppa-mu itu memang aneh.” Monji memutar bola mata. Beruntung dia tidak memiliki oppa seperti Donghae, andai ia sungguh memiliki oppa sepertinya, Monji pasti memilih pergi sejauh mungkin.

 

Cheonsa mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Jangan membicarakannya lagi. Donghae oppa sekarang ada di rumah menemani eomma.” Donghae memang memilih pulang ke rumah sang ibu daripada menghabiskan masa skorsing di Prancis dengan ayah kandung Cheonsa.

 

“Ah… Dia seolah mendapatkan cuti panjang.” Gadis dengan surai hitam legamnya yang lurus melontarkan isi pikirannya.

 

“Kau iri?” Alis Cheonsa terangkat sebelah.

 

“Tidak! Sama sekali tidak!” Monji menggeleng, ia tidak merasa iri sedikitpun. Hanya saja skorsing 3 bulan itu seperti sebuah jack pot daripada sebuah hukuman.

 

Monji melahap sesendok es krim lalu menelannya langsung. “Seung Young melarikan diri.” Kembali ke topik inti. Inilah yang menyebabkannya kecewa luar biasa. Target yang sudah terkunci malah lolos dengan begitu mudahnya.

 

Bahu Cheonsa mengendik acuh, jemari lentiknya menggerakkan sumpit lalu menjumput spageti. “Menurutku tidak.” Melahap makanan panjang berlumur saus pedas itu dengan nikmat.

 

Seung Young, gadis itu terlalu cantik dan cerdas untuk menjadi seorang buronan. Kepiawaiannya dalam berkamuflase dan menutupi catatan kriminal sugguh patut diacungi jempol. Wajahnya yang kalem dengan senyuman manis adalah topeng terbaik untuk menjebak banyak pihak.

 

Alis Monji terangkat sebelah, “Cheonsa, apa maksudmu?” Ia tidak memahami maksud dari perkataan Cheonsa yang terdengar tabu.

 

Tanpa menoleh, dengan pandangan Cheonsa masih terfokus pada makan siangnya yang nampak begitu lezat. Cheonsa menjawab, “Penerbangan internasional sudah menerima perintah untuk menangkap Seung Young andai ia datang ke bandara.” Ini adalah strategi paling akurat untuk mencegah target bermigrasi ke negara lain.

 

Monji mengangguk, ia faham sekarang. “Jadi-”

 

“Seung Young masih di Korea Selatan, namun ia pasti menggunakan identitas palsu atau mungkin merubah identitasnya.” Potong Cheonsa menjelaskan maksudnya lebih rinci lagi.

 

Prok

 

Prok

 

Bertepuk tangan dengan semangat, Monji tersenyum lebar begitu menangkap sebuah petunjuk baru yang akan membantunya melacak keberadaan si target. “Ah, chinese!”

 

Dengan mulut yang penuh, Cheonsa mengangguk. “Eum… Hwang Li Dan.” Ucapnya setelah menelan makanan melewati kerongkongannya.

 

Hwang Li Dan, nama china dari Park Seung Young yang menjadi buronan negara. Identitas gadis itu sungguh luar biasa, tidak ada yang akan menyangka jika Seung Young adalah seorang kriminal.

 

Chip berisi rincian data kejahatan memang sudah hilang, namun tidak ada hal yang mustahil di dunia ini. Tidak ada kejahatan yang sempurna. Serapih apapun, kejahatan pastilah meninggalkan sebuah jejak.

 

.

.

.

.

.

 

 

Lizz Danesta with Krystalaster27 and ckhevl9806 – Aira (ispired character)

 

Angin bertiup membelai kulit putih pucat seorang gadis jelita yang tengah berdiri di atas balkon sebuah villa mewah. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mungil, menyembunyikan sepasang onix tajam yang mampu memikat banyak orang hanya dengan sekali kerlingan mata.

 

“Bosan…bosan…kesal…kenapa menjemukan sekali!” Gumam gadis bersurai merah seraya menengadahkan kepalanya menatap langit yang nampak cerah. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam, duduk di atas kursi putar yang terletak di dekat meja kebesarannya

 

Dengan wajah datar, gadis itu mengambil laptopnya, mengetikkan bnyak password untuk membuka sebuah website. Seung Young -gadis itu berhasil melarikan diri sebelum semua tim anti-terorisme meringkusnya. Sekarang ia berada di sebuah tempat yang lumayan indah, Seung Young menyulap villa menjadi markas barunya. Pusat lokasinya melakukan transaksi berskala internasional.

 

“Cihh, idiot~dasar namja bodoh!” Umpatnya setelah terdiam cukup lama, entah siapa yang dia maksud.

 

“Cheonsa Lee dan Lee Donghae. kupikir akan sangat senang menanti kehancuran kalian berdua, Tunggu saja aku akan memberi kejutan yang tidak akan pernah kalian bayangkan.” Ucapnya tenang dan tak berapa lama sebuah seringai menakutkan terlihat membias di cermin menampilkan wajah wanita bersurai merah itu dengan sangat sempurna di sertai siluet gelap seakan menambah kesan berbahaya wanita berparas cantik itu.

 

Drrrt…

 

Drrrt…

 

Suara getaran membuat pandangan Seung Young beralih dari cermin menatap ponsel yang tergeletak di atas sebuah jurnal. Tanpa melihat layar ponselnya, Seung Young mengeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya di telinga.

 

“Seung Young? Apa kabarmu?” Suara yang nyaring dengan intonasi antusias terdengar menyapa rungu Seung Young. Siapa lagi jika bukan sang partner -sumber otak IT organisasi terlarang milik Seung Young.

 

“hemz..?” Jawab wanita bersurai merah itu dengan gumaman malas terlalu acuh dengan panggilan gadis bernama Ra In di seberang sambungan.

 

‘Kau di mana?’ Gadis dengan poni yang menutupi dahi bertanya pada sang buronan negara. Dia baru saja berhasil meretas sebuah informasi tentang Seung Young dari server utama markas pertahanan Korea Selatan.

 

“Pulau Jeju.!” Jawab seung young terlalu singkat. Terlalu malas untuk berbasa-basi pada rekannya yang paling muda itu. Anak muda yang memiliki otak cemerlang, ocehan take terduga, dan pemikiran kritis yang sangat subyektif.

 

“Ah, Jeju.” Kepala Ra In mengangguk kecil.

 

Bibir Seung Young mencebik. “Shin Ra In. Tolong awasi kakakmu yang kurang ajar itu!” Peringatnya tegas pada sang partner.

 

Wajah Ra In merengut, ia tidak terima dengan penyalahan sepihak yang dilontarkan oleh Seung Young. “Waeyo? Apakah karena kakakku yang mengungkap racun itu? Oh, ayolah! Kakakku tidak bersalah.” Saudara mana yang tenang-tenang saja jika kakaknya terancam menjadi obyek Seung Young.

 

“Lakukan saja perintahku! Kau harus mengawasi setiap pergerakan Shin Ahreum! Jika kau tidak becus, jangan salahkan aku andaikata kakakmu yang minim ekspresi itu masuk dalam list musuhku.” Seung Young harus tegas pada partner termudanya, lengah sedikit saja. Organisasinya pasti hanya tinggal nama.

 

“Oke, oke. Aku akan mengawasi kakakku.” Ra In memutar bola mata, Seung Young adalah tipikal tak terbantahkan layaknya Ratu yang memberikan titah pada panglima perang.

 

“Kim Pi Gyu sudah dibereskan. Namun masih ada 3 lagi yang belum kita sapu bersih.” Makna ‘sapu bersih’ yang dilontarkan oleh Seung Young tentunya bermakna ‘mati’. Gadis itu memiliki jutaan kiasan halus untuk mendeskripsikan sebuah pernyataan pahit.

 

Glup

 

Tanpa sadar, Ra In menengguk ludah ketika kegugupan menyusup dalam hatinya. Oh, bahkan kekejaman Seung Young mampu dirasakan hanya dengan mendengar suaranya.

 

“Biar aku yang melakukan sapu bersih pada sepasang saudara beda ayah itu. Kau hanya perlu menyapu si Jenderal.” Ra In mengungkapkan negosiasinya. Sekalipun ia tidak akan sudi jikalau diperintahkan untuk meladeni si Jenderal cantik itu. Jadi sebelum Seung Young memutuskan, lebih baik ia menyuarakan keinginannya.

 

“Terserah. Yang penting tiga orang itu harus mati tahun ini.” Sifat psikopat Seung Young mencuat. Ia lebih mirip vampir betina yang kelaparan dibandingkan dengan istilah mafia penuh pesona.

 

“Sedang apa kau disana?!” Ra In masih bertanya dengan penasaran. Well, ini bukanlah waktu liburan musim panas. Jadi liburan ke Pulau Jeju terkesan sedikit aneh untuk seorang yang malas berjemur.

 

“Aku hanya sedang berfikir untuk merubah wajahku?!” Sahut Seung Young lagi. Pikiran Seung Young memang tidak terduga, ia hanya mengikuti spontanitas yang dianggapnya menguntungkan. Hidup tanpa tantangan tidaklah seru untuknya.

 

Sepasang manik mata Ra In terbelalak. “What!!! Are you crazy? Jadi kau ingin melakukan operasi plastik?” Merubah wajah? Astaga! Itu opsi paling ekstrim yang tentunya menghabiskan banyak uang untuk menyuap banyak pihak.

 

Mengendikkan bahu acuh Seung Young kini menatap pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. “Mungkin, siapa yang tau.”

 

Jawaban menyebalkan terdengar di telinga Ra In. Membuat gadis berwajah manis itu sedikit merengut, ia memilih untuk menelungkup di atas ranjang, membiarkan tubuh rampingnya menyapa sensasi nyaman ranjang berseprai biru laut. Jangan lupakan tangannya yang meninju wajah boneka kesayangan untuk melampiaskan rasa kesalnya terhadap respon super cuek dari sang atasan.

 

“Hei…. apa kau terlalu putus asa hingga membuatmu sampai merubah wajahmu, apa kau takut dengan polisi yang akan menangkapmu?!” Ra In melontarkan pertanyaan dengan sekenanya. Biar bagaimanapun, manusia pastilah memiliki sebuah ketakutan. Manusia tanpa rasa takut, lebih mirip disebut iblis.

 

“Tidak! Untuk apa aku takut, aku adalah Park Seung young tak ada yang bisa menakutiku dan membuatku takut di dunia ini meski itu adalah kematian, lagipula akan sedikit mengasyikan jika aku memiliki banyak topeng.” Jawab Seung young dengan seringaian yang kembali tercetak di wajah cantiknya. Tak ada yang ditakutinya, di dunia yang kejam ini, manusia terkejamlah yang akan berjaya.

 

“Aku bahkan tidak mengerti dengan pola pikirmu, seung young!” Ra In menggacak rambutnya. Menjadi partner Seung Young bukanlah perkara mudah, salah sedikit hadiahnya sebuah bogem mentah. Yeah, kekerasan adalah hal yang tak lagi asing. Untungnya Ra In belum pernah sekalipun mendapatkan kekerasan dari Seung Young.

 

“Sudahlah… Cepat datangi aku. Kita harus mengatur ulang strategi.” Pesan Seung Young pada Ra In.

 

Pipp

 

Sambungan telfon telah berakhir. Seung Young mencabut baterai ponselnya lalu…

 

Krakkk!!!

 

Menginjak ponsel tersebut dengan sepatunya. Ponsel seharga jutaan won itu kini berakhir menjadi sampah.

 

Seung Young hanya menampilkan wajah cantik malaikat tanpa dosanya, salah satu topeng terbaik yang di milikinya. Obsidiannya menatap hamparan pasir yang disapa ombak, dedaunan dari pohon menjuntai yang melenggok karena tersapu angin.

 

Ketenangan… Ketenangan yang terjadi saat ini hanyalah mode hibernasi untuk sebuah misi yang akan menerjang layaknya badai. Jangan pernah merasa tenang karena setelahnya rasa takut dan amarah pasti akan menjerumuskan dalam satu kali hempasan yang menyakitkan.

 

END…

 

.

.

.

.

.

 

Annyeonghaseyo! ^_^

 

Krystalaster27 mengucapkan, “HAPPY BIRTHDAY DONGHAE OPPA! Semoga karirnya tambah sukses, sehat selalu, tambah tampan, dan makin kaya? Eh?” #gubraks

 

Saya sungguh berterimakasih pada partner-partner (authordeul) yang telah membantu saya. 5 partnet yang bantu ngisi narasi dan 2 partner lainnya yang jdi inspirasi… Ide ff ini muncul secepat angin, lalu dibuat dg kecepatan ngebut macem orang balapan MOTOR GP. Hahhhh… #MenghelaNafas

 

Alhamdulillah SUKSES, PERFECT, dan SESUAI TARGET… ^_^ #TebarConfetti #Jingkrak2DiTempat

 

Apakah saya yang pertama kali bikin ff kolaborasi dg 7 author sekaligus??? #ReadersWajibJawab wkwkwk… Klau bneran q yg pertama, brarti ini perlu dimasukin rekor dunia per-ff-an. Ayo kasih aku piala!!! #gubraks

 

Big thanks to :

 

Emon el : Thank you El… #PelukEmon udah bantuin q ngetik beberapa scene narasi. Aku padamu El!!! Eh? #plakkk Emon jga udah bntuin bnyak d ff ini. Hiks, hiks… Q jdi terhura!!! ^_^ Apalagi respon serta antusias dari El ktika q ajak join ngerjain projek ini. Sungguh sangat luarrr biasa!!! Kkkkkk

 

ckhevl9806 : Ara-ya, terimakasih sudah bantuin ngisi dialog, nyumbang ilmu kmu d ff ini sekaligus bikin bagian untuk ‘dokter forensik’. Apalah daya, q nekad inbox minta bantuan macem orang idiot yg— ah, sudahlah… Mianhae klau q kesannya menganggu, kn Ara sibuk bget. Hehehe

Aira-ya, yg q herankan. Knapa kmu masih bgitu antusias menebak partnerku? Kkkkk… ^_^ Karakter kmu q colong (?) Sebagai inspirasi OC Shin Ra In. Apakah sudah sesuai? Yang koreksi Ara alias kakak kmu, jdi klau nggak sesuai silahkan protes k Ara. Muehehehe…

AR Twins!!! Thanks!!!

 

Lizz Danesta : Thanks sudah ngisi secuil the last scene dari ff ini dan ngisiin narasi scene untuk bagian Jenderal Qin Xing Qi. Maaf krena ngirim k Lizz-chan dadakan. -_- Pasti kelimpungan ya. Errrr….

 

Pigu Pigukie : Aigooo… Pigu-chan, q sudah mnepati ucapanku mngenai #MatiDenganIndah d ff ini. #gubraks Pigu-chan jga sudah bersedia ngisi narasi after dialog untuk 1 scene flash back. ^_^ Thanks ya!!! Jgan ngamuk ne! Ntar klau protes, q bisa hidupin lgi kok…. Muehehehe

 

Ika Zordick : ^_^ Gomawo… Meskipun Ika nggak muncul d detik2 terakhir q editing ff ini. Tpi inspired karakter Jenderal Qin Xing Qi berdasarkan karakter Ika Zordick… Kkkkkk

Sayang sekali Ika Zordick belum muncul. -_- Padahal Krys ingin sekali bertanya tentang deskripsi karakter Jenderal Qin Xing Qi. Tak apalah, saya berterima kasih karena Ika-chan sudah menjadi salah satu sumber inspirasi saya.

 

dan terakhir…

 

Sursursure : Sury eomma. Trimakasih udah bantuin Krys ngetik narasi, ngerevisi, ngasih masukan, dsb… Meskipun Sury adalah orang terakhir yg masuk d list, tpi secuil bantuan dari Sury, sungguh berarti bagiku. ^_^ #PelukSury

Q orangnya adil, El dpet pelukan, Sury eomma jga. Kkkkk

 

 

 

Ada yang belum kusebutkan???

 

Aigooo… Thanks for readerdeul yang udah antusias baca. Adakah yang merasa matanya juling gegara kelamaan mantengin layar? Kkkkkk…

 

.

.

.

 

 

Seperti biasa : “TIDAK ADA KARYA TULIS YANG SEMPURNA, KARENA SETIAP PEMBACA MEMILIKI SELERA TERSENDIRI.” setiap karya selalu memiliki celah kecacatan. Q menerima segala koreksi, kritik, tpi tidak untuk BASHING!

Well, q emang orangnya aneh. Mood swing mudah bget, sekali dpet hujatan pedas, q bisa hibernasi lama bhkan ngilang sekalipun. Untuk itu mohon sampaikan protes kalian dengan bahasa yang sopan. ^_^

 

 

 

 

Question & Respon!

 

‘Next SERIES nya kapan writernim?’

Mianhae… Next atau tidaknya ff ini tergantung 7 author lain yang bersangkutan.

Klau mereka bilang ‘ayo dilanjutkan!’ Maka q setuju saja. Kkkkkk

Tapi mungkin durasinya 2-3 bulan sekali, kecuali klau ad yg mau gantiin saya (Krystalaster27) untuk jdi sutradaranya. Wkwkwk mungkin Ara atau Aira mau? Hehehehe…

 

Ini gantung bget endingnya. -_- Kalau diterusin nggak bkalan muat. Q sadar diri kok. Iya sadar bget, tpi jgan ditimpuk ya! Hehehehe #peace

 

Ngerjain ff kolaborasi dg 7 author, rasanya itu BERAT, PUSING, tapi SERU, dan MENYENANGKAN!!! Kkkkkk… Q nekad tingkat tinggi melakukan project dadakan ini. -_- Ngebuang rasa malu dan sungkan, pasang muka polos dan puppy eyes. Aigooo…

fanfiction ini juga diposting d akun ffn Emon el dan Krystalaster27…

 

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK BERUPA KOMENTAR!!!

2 responses to “Without Communications in Terrorisme Agent

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s