[2/2] Daddy’s Problem

Father and Daughter Playing Together at the Beach at Sunset

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Kyungsoo, Kai, Sehun, and Their Children | General | Family & Fluff | Series | Line@: @NYC8880L (use @)

Prev: [1/2] Daddy’s Problem

Kyungsoo’s Problem

Namanya Elizabeth. Panggilannya Lizzy. Ibunya sangat suka dengan tokoh Elizabeth Bennet dalam fiksi Pride and Prejudice, maka dari itu, ia diberi nama Elizabeth. Dia punya kulit seputih susu sapi dan surai hitam yang panjangnya sepunggung. Netranya besar. Dia punya manik mata lebar, warnanya hitam juga. Oh, jangan lupakan bulu mata lentik yang berayun-ayun genit, lantas membuat Do Kyungsoo jatuh cinta.

Kyungsoo, cinta mati kepadanya. Sungguh, tidak ada apa pun di dunia Kyungsoo yang lebih berharga daripada Lizzy. Jadi, kalian harus maklum, ketika Kyungsoo bertingkah nekat demi si gadis.

Misalnya, sekarang. Do Kyungsoo akan menghadiri rapat penting di Tokyo. Ia baru saja mendarat saat sekretarisnya menyampaikan ‘pesan gawat darurat’.

Well, bahkan Kyungsoo mengultimatum sang sekretaris, jika Lizzy teleponsesibuk apa pun Kyungsoo, dia harus segera menerimanya. Lizzy nomer satu. Pusat semestanya. Jadi, tak ada kegiatan yang lebih penting daripada Lizzy. Hidupnya akan berhenti tanpa Lizzy.

“Kyungsoo?” sapa seorang wanita, bukan Lizzy, tepatnya wanita yang melahirkan Lizzy.

Kyungsoo tersenyum, “Yes, Darling. Ada apa?” tanya Kyungsoo.

Ada jeda sejenak yang digantikan hembusan napas wanita itu. “Lizzy sakit.” Dua kata yang mampu membuat Kyungsoo panik.

“Sakit apa?”

“Demam, dia tidak mau makan.”

Kyungsoo mulai pusing. “Aku pulang sekarang.” Putus pria itu.

“Tidak, jangan.” Si wanita hendak melanjutkan perkataannya, namun segera terhenti saat sebuah suara menginterupsi.

“Papa!” Seru gadis kecil di ujung telepon. Vokalnya ceria, sejenak Kyungsoo ragu, apabila Lizzy benar-benar sakit.

“Lizzy sayang, apa rasanya sangat sakit?” tanya Kyungsoo.

Lizzy bergumam, “Tidak, Lizzy hanya rindu sama Papa.” Jawab si gadis suaranya polos.

Dalam benaknya, Kyungsoo bisa melukiskan raut Lizzy yang menggeleng.

“Papa pulang sekarang, ya.” Pria itu mengutarakan maksudnya.

“Jangan, Papa kerja saja. Lizzy cuma kangen Papa. Nanti setelah selesai, Papa cepat pulang. Lizzy dan Puffy ingin ketemu Papa. Tapi, nanti saja.” Celoteh Lizzy. Gadis itu tertawa lucu, lalu kembali berkicau. “Papa jangan khawatir. Lizzy dijaga sama Mama dan Puffy.”

Kyungsoo ikut tertawa. “Papa juga rindu Lizzy dan Puffy. Papa tidak khawatir kalau Lizzy mau makan. Menuruti kata Mama. Lizzy jangan rewel. Oke?”

“Oke!”

Kyungsoo menjalankan pekerjaannya. Namun, sepanjang hari, dia selalu memikirkan Lizzy. Daripada pria itu stres, ia memutuskan untuk pulang, tepat setelah keluar dari ruang rapat. Kyungsoo tidak mengindahkan rasa lelah. Capeknya tidak penting, Lizzy yang paling penting.

Masih dini hari saat Kyungsoo sampai kediamannya. Ia segera menuju kamar Lizzy. Bebannya terasa lepas, begitu Kyungsoo melihat Lizzy sedang tertidur nyenyak memeluk Puffyboneka beruang putih kesayangan Lizzy. Penuh rasa sayang dan syukur, Kyungsoo membelai surai Lizzy.

Lizzy membuka matanya yang bulat. Setengah mengantuk, si gadis kecil tersenyum. “Papa, pulang.” Tangannya langsung terlentang, minta digendong.

Mengerti kemauan putri kecil berusia tujuh tahun itu, Kyungsoo segera mengangkat tubuh gadisnya. “Mana yang sakit, Sayang?” tanya Kyungsoo.

Lizzy memeluk erat ayahnya, “Tadi Lizzy minum obat. Lizzy tidak sakit lagi, Papa.” Ucap Lizzy mengantuk.

“Pintarnya anak Papa. Kalau begitu Lizzy tidur,” timpal Kyungsoo.

Tak ada ucapan balasan dari Lizzy, sebagai gantinya terdengar hembusan napas teratur yang menandakan gadis itu jatuh tertidur. Lizzy terlelap di dalam pelukan ayahnya.

Masalah terbesar bagi Papa Kyungsoo adalah tinggal berjauhan dengan Lizzy. Sederhana.

-oOo-

Kai’s Problem

Ada banyak hal yang Kai tidak suka dan ada sedikit hal yang ia suka. Kai suka kemenangan dan dia harus selalu menang. Oleh karena itu, saat putra kecilnya lahir, Kai memberinya nama Asher.

Asher untuk yang selalu menang.

Kai yang dulu jarangbahkan tidak pernah sama sekali berbagi, kini harus berbagi segala hal dengan Asher. Ia harus berbagi istrinya, rumahnya, ranjangnya, makanannya, televisinya, sofanya, kursinya, kemenangannya, waktunya, dan lain sebagainya, yang apabila ditulis bisa menghabiskan sepuluh halaman bolak-balik kertas berukuran A3.

Contohnya saja sekarang, saat Kai ingin berduan dengan istrinya di malam yang romantis. Asher tiba-tiba datang dengan membawa boneka beruang besar yang tingginya lebih dari satu meter.

Kai terkejut setengah mati, ia kira beruang itu sedang kerasukan. Namun, keterkejutannya hilang saat mendengar rengekkan ‘maut’ itu.

“Mommy, Asher mimpi buruk.” Hanya satu baris kalimat, mampu mengagalkan rencana malam romantis yang sudah dirancang Kai jauh-jauh hari.

Tak hanya itu, ada lagi ketika Kai harus berbagi waktunya menonton televisi di hari Minggu. Kai sudah bangun pagi-pagi, mandi, dan rapi. Ia sengaja begitu agar tidak terlewat kartun favoritnya. Tiba-tiba Asher datang dengan mengenakan piama, surai hitam yang teracak-acak, pipi gembul yang menggemaskanKai berniat mencubit atau mengigitnya, dan iler yang masih membekas di sudut bibir. Pria kecil berusia lima tahun itu merengek.

“Daddy, Asher mau tidur lagi sama Daddy!” Seru Asher, nadanya memerintah.

Kai tidak suka diperintah, tapi lain lagi jika tubuh mungil itu yang berucap. Walaupun, bibir Kai mengerucut dan meracau soal hak asasi manusianya yang dicuri Asher, Kai tetap menurut.

Sedikit banyak Kai mengajarkan beberapa hal soal kejantanan kepada Asher. Misalnya, saat mereka bermain menirukan tokoh Superhero.

Kalau sudah begitu, Kai ingin sekali jadi Iron Man sedangkan Asher menirukan monsternya. Seperti biasa, dalam prakteknya, malah sebaliknya. Kai jadi monster, sedangkan si anak laki-laki berponi itu menjadi Iron Man.

“Iron Man!” Teriak Asher bersemangat sembari mengibaskan tangan ke arah Kai.

Kai pun merespons dengan memekik, “Argh!” Lalu terjatuh. Oh, ini sudah delapan puluh tiga kalinya Kai melakukan kegiatan jatuh-bangun. Demi Tuhan, tubuh Kai bisa biru-biru.

Akan tetapi, sekali lagi, Kai hanya diam. Ia menurut dan menikmati kekalahannya.

Suatu hari Kai yang biasa memikirkan diri sendiri, malah memutuskan untuk menjerumuskan dirinya sendiri. Waktu itu Kai terkena flu berat, ia hanya bisa meringkuk di ranjang. Kai yakin dengan istirahat seharian penuh, maka kondisinya akan segera pulih.

Keyakinanannya itu tampak seperti bualan belaka. Di tengah-tengah keasyikannya bermimpi, Kai dikejutkan dengan suara istrinya yang mengomel lelah.

“Asher tidak mau turun dari bak mandi. Dia bisa flu kalau begitu terus.” Keluh istrinya yang langsung membuat Kai membuka mata, lalu beranjak dari ranjang.

Flu itu tidak enak! Dan demi apa pun, Kai tidak ingin putranya merasakan hal yang sama. Tanpa berpikir panjang, Kai menuju kamar mandi untuk membujuk Asher.

Setibanya di sana, Kai menatap ngeri Asher yang bermain air sembari telanjang. Airnya memang hangat, tapi tetap saja itu air dan Kai tidak suka bila terciprat sedikit saja dalam kondisinya yang ‘kritis’.

“Daddy! Daddy! Daddy!” Panggil Asher. Anak laki-laki itu menyapa riang, tangannya memukul air hingga melejit ke segala penjuru.

Kai bisa saja kabur atau memanggil pemadam kebakaran untuk menaklukkan anaknya yang sedang kelebihan energi. Kendati demikian, ayah muda itu justru mendekat. Ia berkacak pinggang. “Asher, ayo sini, Daddy keringkan. Jangan main air nanti sakit.” Kata Kai.

Asher menggeleng. Lantaran menurut, pria kecil itu malah memutar kran air ke bagian dingin. Setelah itu, dengan gerakan cepat, Asher mengarahkan kran ke Kai.

“Daddy dari tadi pagi tidak mandi. Ayo mandi!” Ujar Asher gembira melihat ayahnya basah kuyup.

Kai ingin menangis. Tetapi, dia mengurungkan niat. Kai masih cukup bijaksana untuk tidak menunjukkan sisi melankolis kepada putranya.

Kai pasrah, dia sudah terjerumus. Tidak biasanya ia dengan begitu mudah menerima nasib.

Huh. Mau bagaimana lagi? Terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian. Well, setelahnya Kai demam selama satu minggu penuh.

Benar.

Satu-satunya masalah Daddy Kai adalah dia enggan bilang ‘tidak’ pada Asher.

-oOo-

Sehun’s Problem.

Sehun suka sekali rusa kecil. Jadi, jangan tanyakan lagi, asal mula nama Oh Rae tercetus dalam pikirannya.

Rae berarti rusa.

Dengan begitu, Sehun punya rusa tanpa harus memecahkan tabungannya, harga rusa sangat mahal di jaman modern seperti ini. Rae si rusa kecil gratis yang sangat ia cintai.

Sehun bersyukur punya Rae. Terlebih lagi karena Rae gadis yang manis. Poin utamanya, Rae adalah seorang anak perempuan. Paling tidak, Sehun tak harus bersalto, berguling-guling, dan lompat-lompat seperti Kaiyang rela ditindas demi menyenangkan Asher―anak Kai.

Sehun hanya perlu membacakan dongeng soal putri tidur yang suka makan apel, Rapunzel yang suka menyisir rambut, Cinderella yang suka mengoleksi sepatu, dan putri duyung yang suka mengecat kuku. Untuk menyenangkan putrinya, Sehun tak perlu banyak berpikir. Ia hanya perlu membelikan semua hal bewarna merah jambu dan berkerlap-kerlip.

Ternyata, kelegaan Sehun tidak berselang lama. Ia mulai terusik saat istrinya yang sangat cantik jelita mengungkit topik ‘pernikahan Rae’ ketika mereka sedang menonton kartun.

“Nanti Rae juga pakai gaun seperti itu kalau menikah.” Ucap si wanita yang duduk bersisihan dengan Sehun yang sedang memangku Rae.

Manik Rae yang kecoklatan berbinar-binar. “Gaunnya cantik, Rae suka.” Rae melonjak-lonjak dalam pangkuan.

Sehun mengernyit protes. “Gaun yang jelek.” Ungkap pria itu. Sehun membelai surai Rae penuh cinta saat melanjutkan. “Lagi pula Rae tidak membutuhkan gaun itu. Rae kan tidak akan menikah. Rae akan bersama Appa terus, sepanjang waktu.”

Rae menggeleng. “Rae ingin, Appa. Besok Rae menikah.” Ucap bibir mungil milik si gadis berusia enam tahun.

Sehun cemberut. “Memangnya, Rae mau menikah dengan siapa?” tanya Sehun, nadanya protektif.

“Asher! Kemarin Paman Kai bilang, karena Rae anak manis, jadi Asher mau menikahi Rae.” Kata Rae, polos.

“Bisa-bisanya Asher mau merebut putriku.” Desis Sehun. Pria itu memindahkan Rae ke dalam pangkuan istrinya. Kemudian Sehun dengan langkah lebar-lebar beranjak meraih baju hangat.

Sehun sedang mengenakan sepatu, saat sang istri bertanya. “Kau mau ke mana?” tanya wanita itu bingung sambil menggendong Rae.

“Menemui Asher. Aku ingin membuat perhitungan dengan bocah menggemaskan itu.” Jawab Sehun, ia berangkat sebelum mendengarkan sergahan dari istrinya.

Istri Sehun pun memutar bola mata. “Dasar kekanakan.”

“Eomma, menikah itu apa?” Rae mengajukan pertanyaan.

Yang lantas dijawab dengan tawa geli ibunya.

Sudah jelas, bukan? Masalah Appa Sehun adalah tidak bisa membagi Rae dengan siapa pun.

-oOo-

a/n:

Cerita mereka yang lainnya dapat dibaca di Track List.

Bonus foto yang menginspirasi saya membuat cerita ini. 😳

Screenshot_2016-03-20-00-10-29-114

Baby Lizzy x Puffy

Screenshot_2016-03-20-00-15-19-012

Baby Lizzy x Papa Kyungsoo

Screenshot_2016-03-20-00-15-52-695

Kyungsoo and His Little Princess

Screenshot_2016-03-20-05-27-53-006

Baby Asher x Daddy Kai

Screenshot_2016-03-20-05-28-12-348

Daddy Monster  and Baby Iron Man

Screenshot_2016-03-20-08-22-42-656

Sehun’s Little Deer!

Screenshot_2016-03-20-08-22-18-238

Baby Rae

Kemudian muncul FF cinta segitiga antara Lizzy x Asher x Rae di Twelveblossom 😅😭😂

Btw, ini cerita perpisahan sebelum saya hiatus sementara. Sepertinya minggu depan udah mulai sibuk lagi.

One response to “[2/2] Daddy’s Problem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s