I Hate You

tumblr_inline_o7vacprojv1tck28v_500

I Hate You

by jaoya

Starring Lee Taeyong (NCT), Mark Lee (NCT), David Janssen (SM Kids Model), & Kang Seulgi (Red Velvet) | Family | General | contains +2400 words.

.

.

.

Hubunganku dengan David terbilang tidak cukup baik, tapi tidak bisa sepenuhnya dikatakan buruk juga. Berada persis di antara keduanya, mungkin. Aku menyayangi David, meskipun dia terkadang terang-terangan berkata bahwa dia membenciku sebesar rasa bencinya terhadap sayuran. 

Aku bukan laki-laki yang senang bicara, yang akan selalu berusaha bertegur sapa setiap kali kami bersitatap. Kendati tinggal di bawah atap yang sama, kami jarang berinteraksi satu sama lain belakangan ini. David lebih senang menghabiskan waktunya bersama Mark atau Jeno, adik-adikku, ketimbang denganku. Waktuku memang tidak banyak di rumah. Barangkali David mengerti hal itu. Tetapi, rasa pengertiannya terlalu besar sampai-sampai beberapa waktu ini David memutuskan untuk menjauhiku. Puncaknya ketika hari ulang tahunnya kemarin. Ulang tahun kami hanya berselisih satu hari dan kami telah berjanji akan merayakannya bersama-sama di rumah dengan mengadakan pesta kecil-kecilan. Tapi, malam itu aku tidak bisa datang lantaran ada rapat mendadak yang tak bisa kutinggalkan di kantor. Jeno bilang, David marah besar dengan ketiadaanku malam itu. Dan benar saja, keesokan harinya dia benar-benar mogok bicara. Aku sudah berupaya meminta maaf, namun sepertinya David tak mau tahu. Aku menyesalkan bagaimana sifat keras kepalaku nyatanya menulari David selama kami tinggal bersama.

Maaf dari David belum kunjung kudapat, dan kupikir keterlambatanku kali ini akan menambah kebenciannya terhadapku berkali-kali lipat. Aku memacu langkahku sekuat tenaga mendaki beberapa buah anak tangga sebelum akhirnya sampai ke ruangan yang kutuju. Kubuka kedua pintunya yang berukuran lumayan besar itu lantas buru-buru kutarik langkah untuk masuk ke dalam. Kuharap aku tidak meninggalkan bunyi bedebam yang cukup keras pada pintunya lantaran menutupnya dengan terlalu tergesa. Syukurlah, suara musik dan nyanyian yang disuarakan oleh speaker dengan volume mendekati full—kurasa—mampu menyamarkan suara dentumannya.

Aku mengedarkan pandanganku di tengah-tengah kondisi yang cukup gelap. Satu-satunya pencahayaan yang kudapat hanya bersumber dari arah depan, dari lampu-lampu sorot yang dinyalakan di atas panggung. Cahayanya yang berwarna oranye pucat menyinari sekumpulan anak yang sedang berbaris rapi mengumandangkan nyanyian mereka dengan begitu khidmat. Ada baliho besar bertuliskan “HARI ORANGTUA DAN ANAK” yang digantung di atas, letaknya agak di belakang sehingga menjadikannya latar ketika anak-anak itu bernyayi. Replika pepohonan, tumbuh-tumbuhan, serta beberapa hewan ikut ditaruh di atas panggung sebagai pemanis dekorasi. Beruntung, ruangan yang diperuntukkan sebagai aula pertunjukan ini berukuran cukup luas sehingga aku tidak harus pusing memilih tempat duduk karena nyatanya masih banyak kursi kosong yang tersisa. Walaupun tentu saja, lebih banyak penonton yang kurasa akan menjadikan kursi di jajaran depan dan tengah sebagai prioritas agar pemandangan ke panggung tampak lebih jelas. Karena keterlambatanku, mau tak mau aku hanya bisa memilih kursi yang ada di jajaran belakang.

Aku tadinya hanya akan memilih tempat duduk secara acak, namun kulihat seseorang melambaikan tangannya dari kursi jajaran tengah sebelum aku sempat mengucap ‘permisi’ guna meminta izin untuk lewat kepada beberapa orang yang sudah lebih dulu duduk di kursi belakang. Aku mengurungkan niat lantas bergegas menghampiri sosok yang barusan berusaha memanggilku. Samar-samar kudengar suaranya menyambut kehadiranku di tengah-tengah lantunan lagu Que Sera Sera yang masih mengudara.

“Kau baru datang saat penampilan David sudah mau usai.”

“Sori.” Aku membalas sambil menyeka peluh di dahi. Napasku belum teratur ketika aku duduk di sampingnya. “Memangnya sudah lama?”

“David dan teman-temannya kebagian menampilkan tiga lagu, dan ini lagu terakhirnya. Berani taruhan. Sampai di rumah nanti kurasa David masih akan pasang sikap mogok bicara.”

Kalau aku keras kepala dan kurang bisa menepati janji, maka kurasa sisi negatif pada diri Mark Lee adalah minimnya kepekaan sosial yang dia miliki. Mark yang tidak tahu bagaimana perjuanganku membujuk atasan agar diizinkan berkunjung ke sini di sela-sela pekerjaan enggan memberiku hiburan barang sedikit bermanis-manis kata seperti, “Yang penting kau sudah berusaha datang.” Atau apalah.

“Kau tahu seperti apa wajah David selama pertunjukan ini? Dia terlihat begitu tegang dan kaku. Kurasa dia marah, Kak. Kemarin kau sudah berjanji akan datang di hari yang baginya sangat penting ini. Dia terus-terusan melihat sekeliling untuk mencari-carimu, tahu. Dan ekspresi kecewanya belum juga luntur walaupun dia telah menemukanku melambaikan tangan ke arahnya.” cerocos Mark.

“Aku sudah bilang maaf. Barusan ada urusan di kantor yang benar-benar tidak bisa kutinggal.” Aku melepaskan jas hitam yang kupakai lalu menyampirkannya di lengan. Kemeja yang kukenakan masih basah oleh keringat, belum lagi ruangan ini disesaki oleh banyak orang yang membuat suhu udaranya jadi makin terasa panas. Kurasa pendingin udaranya sedang bermasalah.

“Jeno tidak datang?” aku berusaha melemparkan topik lain dengan harapan aku tidak menjadi satu-satunya yang dihakimi.

“Dia tidak bisa kemari. Hari ini jadwal bimbingan dengan profesornya di kampus. Tidak bisa diganggu gugat, katanya.”

“Oh. Omong-omong, di mana David? Aku tidak bisa melihatnya dari sini. Dia masih tampil, ‘kan?” tanyaku sambil menengadah, berharap menemukan sosok David di antara anak-anak yang sedang bernyanyi di atas panggung. Kemeja merah kotak-kotak serta bawahan berwarna khaki yang seragam menyulitkanku mengidentifikasi David di antara teman-temannya.

“Di sana, David ada di barisan tengah. Ketiga dari kanan.” Mark dengan sukarela menunjuk ke arah depan, sementara sebelah tangannya memegang handy cam dalam keadaan off.

Berkat bantuan Mark aku bisa dengan cepat menemukan David. Aku refleks tersenyum dan ingin melambaikan tangan untuk memberitahu David bahwa aku sudah tiba di sini, tapi kelihatannya usahaku tidak perlu. David terlanjur menyadari keberadaanku duluan. Aku salah menduga David akan menyambutku dengan senyum ceria karena yang kudapati kemudian adalah air mukanya yang tampak tegang, persis seperti yang dikisahkan Mark barusan.

Firasatku mulai memburuk.

Mark sepertinya menangkap apa yang tengah menjadi kekalutanku dan seolah-olah ingin memperkeruh suasana, laki-laki itu kembali menyinggung soal ekpresi David di atas panggung.

“Benar ‘kan apa kataku? Wajahnya kusut.”

Eskpresi yang sama dengan yang sedang kutampakkan sekarang.

* * *

Pertunjukan yang dibawakan oleh David dan teman-temannya telah usai—tidak sampai lima menit setelah aku tiba di aula. Mark mengantarku ke ruang ganti. David ada di sana, katanya. Jujur saja, aku belum siap bila harus bertatap muka dengan David ataupun menerka reaksi seperti apa yang akan diperlihatkannya setelah melihatku (hampir) melanggar janji untuk yang kesekian kali. Aku memang sudah mengupayakan datang, tapi kunjunganku di detik-detik terakhir penampilannya mungkin saja akan bernilai nol di mata David. Aku pasrah jika hari ini pun David masih bersikeras untuk tutup mulut kalau-kalau kuajak bicara. Nanti saja kubeli maafnya dengan satu pak eskrim atau permen kesukaannya.

“David!”

Mark yang berinisiatif memanggil David ketika kami berdua telah sampai. Ruangan ganti yang dimaksud nyatanya adalah ruangan kelas yang disulap menjadi lebih luas dengan menyingkirkan bangku-bangku ke samping ruangan. Meski tetap saja ada beberapa buah kursi yang diletakkan dan diperuntukkan untuk anak-anak dan orang dewasa yang ingin beristirahat. David salah satu yang ada di sana dan sedang duduk di kursi ditemani oleh sesosok wanita yang kutahu adalah wali kelasnya.

Wanita itu mengucapkan sesuatu ke arah David, kelihatannya ingin mengisyaratkan kedatangan kami. David lantas menoleh, mendapati kami yang sudah muncul di bibir pintu. Tapi tak lama, David kembali memalingkan muka, memilih untuk menekuri lantai di bawah kakinya. Aku tahu, sampai sini masalah di antara kami hanya akan berlanjut semakin pelik.

Mark yang tidak mau berkorban untuk ikut terlibat dalam masalah kami berdua segera menepuk pundakku. Aku balas menatapnya gusar.

“Apa?”

“Hampiri David-lah! Apa lagi? Bukannya Kakak sendiri tadi yang mengajak kita untuk segera pulang?” desaknya tanpa beban.

Padahal aku tahu Mark hanya tidak mau kelimpungan kalau-kalau David ngambek dan mulai merajuk ini itu.

Aku menghela, mencoba memantapkan hati untuk berjalan menghampiri David yang masih duduk di kursinya. Alih-alih, gurunyalah yang pertama kali memberi senyum ketika aku mendekat.

“Tuh, Papanya David sudah datang.” Wanita itu kembali berceloteh.

Tapi, David tetap tak mau bereaksi. Aku mau tidak mau berjongkok di dekat kursinya agar bisa menatap wajah David dengan seksama.

“Penampilan David tadi bagus sekali, lho! Papa benar-benar kagum ketika melihat David di atas panggung!” aku melontarkan pujian setulus mungkin, berharap dengan ini hati David akan meluluh.

“Papa baru datang di saat lagunya sudah mau habis. Dari mana Papa tahu kalau penampilanku bagus?” respon David ketus. Dia belum mau melihat ke arahku.

Aku kehabisan akal. Mungkin efek karena seharian bergelut dengan permintaan klien yang memusingkan ditambah tubuhku yang terlanjur letih ketika melakukan perjalanan kemari membuatku kehilangan kata-kata untuk menjawab. Kalau aku bisa mengabaikan peranku sebagai orangtua, aku mungkin akan memilih untuk segera menyeret David keluar dari ruangan ini dan membawanya pulang sambil menutup telinga akan tangisannya akibat perlakuanku yang semena-mena. Tapi, tentu saja aku tidak akan memilih opsi yang satu itu. Mendiang istriku akan marah besar kalau tahu anaknya tidak dibesarkan dengan kasih sayang.

“Papanya David sudah berusaha untung datang ke sini, lho. Masa David tidak mau menghargai perjuangan Papa untuk bisa menonton penampilan David?” Wali kelasnya tak mau ketinggalan ikut bantu membujuk. Aku diam-diam bersyukur karena rasanya bebanku berkurang sedikit.

“Ibu Guru Kang benar. Masa David tidak kasihan melihat Papa sudah capek-capek datang kemari? Papa benar-benar minta maaf karena barusan ada urusan mendadak di kantor. Papa minta maaf sekali.” tambahku memelas. David masih belum kunjung merespon.

“Ah! Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau setelah ini kita mampir ke kedai eskrim? David boleh makan eskrim rasa apapun sepuasnya, makan jatah eskrim punya Paman Mark juga tidak apa-apa. Bagaimana? David mau?”

David mulai melirikku dengan ekor matanya. Dia tidak langsung menjawab dan hanya memasang sikap diam yang kuartikan bahwa David sedang menimang-nimang tawaran emas dariku. Aku selalu melarang David agar tidak terlalu banyak mengonsumsi eskrim demi alasan kesehatan, jadi iming-iming untuk memperbolehkannya menikmati eskrim sepuasnya kurasa mulai meluluhkan hatinya.

“Eskrim… bolehlah.” David sepakat (…..akhirnya).

Sejurus kemudian, David kembali menoleh ke arah sang guru yang masih duduk di sampingnya.

“Bu Guru Seulgi, aku pulang dulu! Terima kasih sudah menemaniku hari ini!” serunya. Dia tampak riang dari sebelumnya ketika melompat dari kursi dan bergegas menghampiri Mark yang masih berdiri di ambang pintu. David melewatiku begitu saja, tanpa sekadar menengok atau berucap sepatah kata. Kurasa amarahnya kepadaku tempo hari saat perayaan ulang tahun kami yang gagal itu masih tersisa di dalam dirinya. Dan keterlambatanku hari ini tentu saja makin memperburuknya. Aku hanya bisa tersenyum kecut.

“Saya pamit dulu, Ibu Guru Kang. Terima kasih sudah menjaga David hari ini.”

Aku bersiap mohon diri. Ibu Guru Kang juga segera bangkit dari kursinya. Aku mengira wanita itu akan segera mengiyakan, namun nyatanya Ibu Guru Kang bermaksud menahan kepergianku.

“Sebentar, Tuan Lee. Ada yang ingin saya tunjukkan kepada Anda.” Ibu Guru Kang merogoh hand bag-nya lantas mengeluarkan sepucuk kertas tebal berwarna putih.

“Kartu ucapan buatan David. Untuk Anda.”

Aku baru sadar bahwa volume suaranya mengecil ketika berkata-kata. Aku menerima kertas tersebut dan lebih dulu menengok ke arah David yang masih asyik bersenda gurau bersama Mark. Kelihatannya David tidak bisa mendengar percakapan kami.

“Minggu kemarin, kami menyuruh para murid untuk membuat kartu ucapan yang akan diserahkan kepada orangtua masing-masing. David sengaja tidak mewarnainya karena dia tahu Anda menyenangi warna putih. Dia bercerita kepada saya bahwa dia berencana untuk memberikannya kepada Anda, tapi dia kemudian merasa ragu dan meminta saya untuk menyimpannya sementara waktu sampai dia benar-benar siap untuk menyerahkannya kepada Anda. Tapi, saya rasa David ingin ayahnya melihat kartu ucapan ini, jadi saya pikir tidak ada salahnya jika saya memberikan kartu ucapan ini kepada Anda sekarang.” jelas Ibu Guru Kang panjang lebar.

Aku terpekur memandangi kartu ucapan yang dimaksud Ibu Guru Kang. Segera saja kubuka lipatannya untuk melihat apa yang tertera di dalamnya. Huruf-huruf besar berwarna hitam—bentuknya berantakan—yang kuketahui sebagai tulisan tangan David memenuhi halamannya.

AKU BENCI PAPA

KARENA

Mataku berlanjut turun menelusuri bagian bawah kartu yang memuat huruf-huruf yang ditulis dengan ukuran lebih kecil.

Papa selalu pulang larut malam, karena itu Papa jadi sering jatuh sakit

Papa selalu melewatkan sarapan karena terburu-buru berangkat kerja

Papa selalu sibuk di kantor sehingga jarang sekali punya waktu untuk beristirahat di rumah

Aku benci Papa karena Papa tidak bisa menjaga kesehatan

Papa sering marah kalau David nakal, makanya sekarang David juga ingin marah

Karena Papa nakal tidak mau menjaga kesehatan Papa

Nanti David akan lapor pada Mama di surga, supaya Mama bisa lapor kepada Tuhan, supaya nanti Papa dihukum Tuhan

Pokoknya Papa harus jaga kesehatan, ya!

Biar Papa tidak sering jatuh sakit, jadi David, Mama, dan Tuhan tidak akan marah pada Papa

p.s.: kalau Papa sehat, Papa bisa terus menemani David main. habisnya main sama Paman Mark dan Paman Jeno nggak seru

Kartu dari David sudah tuntas kubaca dan aku sedang bertanya-tanya apa Ibu Guru Kang sedang menaruh bawang di dekatku sampai-sampai kedua mataku mendadak berair. Dugaanku salah telak karena yang kini sedang diulurkannya bukanlah bawang, melainkan tisu. Aku mengambilnya dengan penuh rasa terima kasih kemudian segera memanfaatkannya sebelum ada air mata yang tetap bandel hendak mengalir turun.

“Maaf, saya tidak seharusnya menangis di depan Ibu Guru Kang.”

Ibu Guru Kang tersenyum maklum. Untung yang sedang berdiri di hadapanku sekarang adalah wali kelas David, bukan Mark atau Jeno yang kemungkinan besar akan mencecarku dengan julukan cengeng.

“Saya juga akan tersentuh apabila mempunyai anak seperti David. Dia benar-benar anak yang baik.”

“Ya.”

Aku mengangguk, membenarkan. Aku ingin menjelaskan bahwa yang memberi andil kepada David untuk bersifat demikian salah satunya adalah kromosom yang diwariskan secara genetik dariku yang juga merupakan seorang pria baik-baik. Tapi, mulutku bungkam karena penjelasan semacam itu tidak layak diutarakan untuk momen semacam ini atau aku akan dicap sebagai pria sombong. Mendiang istriku tidak pernah suka orang yang bersikap sombong.

Aku kehilangan kata-kata, dan Ibu Guru Kang juga kelihatannya merasa telah menyampaikan apa yang menjadi tugasnya. Kartu ucapan dari David sudah kumasukkan ke dalam saku jas—untungnya, ukurannya tidak seberapa sehingga muat dimasukkan ke dalam sana. Aku kembali mengajukan permohonan pamitku yang tertunda sembari membungkukkan badan.

“Sekali lagi, terima kasih karena sudah menjaga David. Saya mohon diri dulu, Bu Guru Kang.”

“Saya harap Anda bisa mempunyai banyak waktu yang menyenangkan bersama David.”

Ibu Guru Kang balas membungkuk.

Aku beranjak pergi menghampiri Mark dan David sambil berdoa sisa-sisa air mataku telah enyah sepenuhnya dengan bantuan secarik tisu.

“Kita pulang sekarang?” tanya Mark begitu melihatku datang.

“Sayang sekali, hanya kau sendiri yang akan pulang ke rumah karena setelah ini aku dan David masih ada acara—ehem, hanya berdua.” aku menjawab pertanyaannya.

David memiringkan kepala sambil menatapku heran.

“Tapi, kita tetap mampir ke kedai eskrim ‘kan, Pa?”

“Tentu, tapi ada perubahan sedikit. Karena ini hari spesial, Papa akan mengajak David pergi ke taman bermain. Bagaimana, David mau?”

“Mau banget!” David bersorak gembira.

Aku ikut tersenyum. Tanganku turun meraih tangan mungilnya lalu kugenggam erat-erat.

“Jadi, kita pergi sekarang, Sayang?”

“Dan aku didepak secara sepihak dari sini? Oke. Fine. Tapi, jangan pernah panggil aku lagi kalau kalian butuh bantuan, ya! BYE. Aku benci kalian!” Mark melenggang pergi meninggalkan kami dengan raut wajah kesal.

Aku dan David saling bertukar tatap sejenak, sebelum akhirnya sama-sama tertawa. Mark memang berkata bahwa dia membenci kami, tapi tidak apa-apa, karena aku tahu ‘benci’ yang dimaksudkannya bukanlah ‘benci’ yang sesungguhnya.

Iya ‘kan, David?

 

 

 

fin.

cupp9olweaapq0p

mirip kaaan? :3 *brb prospek David jadi bias*

2 responses to “I Hate You

  1. Kak Jao comeback yuhuuu!!! 🎊🎇🎆🎉 /ngiris tumpeng/
    Suka deh kakak comebacknya bawa2 suamiku >< Sekalian anaknya pula -,- *kecup jauh*

    Terkadang greget untuk menyandingkan :'

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s