Beauty and The Beast Chapter 11 [He Loves Her So Much] – by HyeKim

beautyandthebeast2

Beauty and The Beast Chapter 11

└ He Loves Her So Much┘

A fanfiction Written by HyeKim ©2016

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim || Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun || V BTS as Kim Taehyung || Nara Hello Venus as Kwon Nara

Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Family ||  Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-17

Summary :

Beauty and The Beast adalah cerita dongeng yang dulu selalu menghiasi masa kecil seorang Kim Hyerim. Hyerim dulu sempat berkata ingin menjadi Belle, si cantik yang jatuh cinta pada beast. Si pangeran yang dikutuk jadi monster. Apa yang akan Hyerim lakukan bila hal tersebut terjadi padanya?

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


 Dan Hyerim kini menyadari, betapa besar rasa cinta yang masih Luhan pendam untuk seorang Im Jinah.  


PREVIOUS :

Teaser || #1 || #2  || #3  || #4 || #5  || #6 || #7  || #8  || #9 || #10

RECOMENDATION SONG : 

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Sialan. Gila. Memabukan. Hyerim merasa perasaannya campur aduk sekarang dengan jantungnya yang terus berdetak. Jantung bodoh, maki Hyerim dalam hati. Bukannya harusnya Hyerim memukul Luhan yang mencium bibirnya sekarang? Tapi yang ada Hyerim malah diam membatu. Makin lama ciuman ini makin panas dengan Luhan yang makin menekan bibirnya masuk kemulut Hyerim. Sialan, Hyerim makin kaku saja ketika Luhan menggigit bibir bawahnya menyebabkan mulutnya terbuka.

‘Bruk’

Luhan mendorong tubuh Hyerim hingga tertidur di ranjang tanpa melepas pangutan keduanya. Tangan Luhan berada di sisi kiri dan kanan kepala Hyerim untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak menindih gadis di bawahnya. Luhan kembali melumat bibir Hyerim dan tampak gadis itu membalasnya, berusaha mengimbangi permainan bibir Luhan disertai kepala keduanya dimiringkan ke kanan serta kiri secara berlawanan.

Hyerim merasa tubuhnya memanas seketika walau Luhan sudah melepaskan tautan keduanya dan mulai memberikan kecupan-kecupan hangat diwajah Hyerim yang sialannya membuat Hyerim terbuai seketika. Shit, bahkan Luhan ketagihan untuk melakukannya.

“Eung,” erangan Hyerim yang tertahan lolos dari mulutnya ketika Luhan mulai menelusuri lehernya.

Kepala Hyerim secara reflek mengadah ke atas dengan mata terpejam. Dan penggerakan Luhan dilehernya belum juga terhenti. Namun ketika Hyerim merasa Luhan menyibak ujung piyamanya dan mengelus perut datarnya sensual, pikiran Hyerim langsung kembali waras dengan mata melebar.

“Brengsek, kau ingin apa?!” seru Hyerim kemudian menendang daerah intim Luhan menggunakan lututnya.

Secara cepat Luhan menyingkir dari atas tubuh Hyerim disertai wajah kesakitannya. “Aduh, akh… gila, apa yang kamu lakukan?” rintih Luhan yang langsung berguling serta merebahkan diri di sebelah Hyerim, tangan kanannya terus memegangi daerah sensitif yang Hyerim serang tadi.

Mata Luhan terpejam dengan bibir bawah ia gigit menahan rasa sakitnya sementara Hyerim meliriknya tajam. “Rasakan!” ucap Hyerim diiringi tubuhnya yang bangun serta ia pun merapikan piyamanya yang tadi mengekspos bagian perutnya.

Di lain sisi, Luhan terus saja mendesis kesakitan sambil memejamkan mata dan memegang daerah yang Hyerim tendang tadi. Hyerim hanya mencibir lalu langsung mengambil langkah turun dari ranjang dan mulai menyiapkan sarung juga bantalnya. Luhan ternyata melirik aksi Hyerim tersebut.

“Mau apa kau?” tanya Luhan sambil memandangi Hyerim.

Dengan raut cuek tanpa melirik Luhan balik, Hyerim menjawab. “Tentu saja tidur. Awas kau melakukan macam-macam padaku!” kemudian Hyerim mulai merebahkan diri di lantai seraya menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh bahkan wajahnya.

Luhan hanya menggeleng pelan dengan tatapan mata takjub pada gadis itu yang main menendangnya. Kemudian dirinya tersenyum tipis memandangi posisi tidur Hyerim yang memunggungi tempatnya berada sekarang.

“Dia tangguh juga,” gumam Luhan sebelum akhirnya menjelajahi alam mimpi.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Apa? Kamu sekarang ada di Seoul?”

Suara Luhan yang kelewat keras itu membuat konsentrasi Hyerim terusik. Sekon ini Hyerim sedang menggosok gigi di kamar mandi tapi suara Luhan yang sedang berteleponan membuatnya penasaran. Siapa gerangan kenalan Luhan yang baru datang kembali ke Seoul?

“Jangan-Jangan Si Jinah-Jinah itu,” gerutu Hyerim sebal dengan bibir mencebik. Tanpa sadar dirinya menggosok gigi dengan gerakan cepat-cepat dan wajah jengkel memikirkan hal tersebut.

“Kamu menyuruhku menjemputmu? Kamu kira aku asistenmu?”

Suara Luhan dari luar kamar mandi memasuki gendang telinga Hyerim lagi. Tampak Hyerim sedang berkumur-kumur di depan wastafel kamar mandi. Dan karena ucapan Luhan tadi Hyerim jadi memasang raut sebalnya kembali.

“Ya, ya, ya, kamu bukan sebatas asistenku tapi kamu ini kekasihku,” gumam Hyerim dengan wajah sebal layaknya orang mengomel disertai bibir mencibir dan bahu terangkat. Gumamannya itu seakan kata-kata Jinah bila memang benar gadis itu yang Luhan telepon sekarang.

“Menjijikan,” kembali suara Luhan menyahuti panggilannya terdengar membuat Hyerim memutar bola mata jengah.

“Begitu-begitu juga, dia itu cinta pertamamu,” gerutu Hyerim dengan pipi mengembung jengkel.

“Ya, ya, ya tunggu aku di bandara!” seruan Luhan mengakhiri sambungan panggilan tersebut.

Mendengarnya membuat Hyerim mencibir dan menggepalkan tangan kesal tanpa ia sadari. Dilirik oleh Hyerim pintu kamar mandi dengan binar mata layaknya berapi-api. “Kan, kamu tetap saja menurutinya karena dia cinta pertamamu!” desis Hyerim kesal dengan napas memburu.

‘Cklek’

Hyerim nyaris loncat ke belakang ketika tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka oleh Luhan. Muka sebal Hyerim luntur tergantikan dengan muka terkejutnya serta tangan menyilang didepan dada. Sementara Luhan hanya memasang muka santainya.

“Heh! Harusnya kamu ketuk dulu, untung aku sudah selesai mandi. Kalau belum─”

“Kalau belum itu rezeki untukku melihat tubuhmu, bukannya begitu?” potong Luhan dengan alis terangkat-angkat jahil disertai muka cabulnya.

Dengusan keras dikeluarkan Hyerim dengan gigi menggertak mendengarnya. “Kau!” Hyerim menunjuk Luhan terang-terangan dengan jari telunjuk tangannya serta wajah tak santai. Sementara Luhan hanya memiringkan kepala sejenak dengan raut santai.

Napas Hyerim tersenggal-senggal karena menahan amarah disertai dadanya yang naik turun, dilengkapi juga tangan kiri yang menggepal serta bergetar hebat. “Jangan berani-beraninya menyentuhku lagi!” pekik Hyerim diiringi telunjuk tangannya yang mulai turun.

“Kalau mencium?”

“Tentu saja tidak boleh!” balas Hyerim cepat setengah berteriak. Lalu dengan hentakan kakinya yang sangat keras, Hyerim berjalan meninggalkan Luhan dan lelaki itu tampak tertawa tanpa suara.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Blind date? Kencan buta?” pekikan mahasiswi yang sedang hang out tampak terdengar. Mereka semua memasang wajah antusias mengatakan tentang kencan buta. Hanya satu dari mereka yang memasang muka biasa, sebut saja Hyerim.

“Ara-ya, serius Hyunwoo sunbaenim dan teman-temannya mengajak kita kencan buta?” ucap Song Joohee dengan raut berseri-seri sambil badannya condong kepada Ara.

Ara yang menaruh tangan dibawah dagunya pun terlihat mengangguk. “Iya, aku saja sampai bengong dan mencubit diri sendiri agar memastikan ini bukan mimpi,” kata Ara diiringi kedua tangan menangkup kedua pipinya.

Hanya Joohee, Ara, juga Yeoreum yang sangat antusias. Sementara Nara dan Hyerim hanya bengong tanpa harus tahu berekspresi seperti apa. Bisa dibilang dari kelimanya hanya kedua orang tersebut yang tidak minat akan kencan buta yang menjadi hal lumrah dikalangan mahasiswa. Tiba-tiba saja Ara melirik Hyerim dengan muka seakan ingin menyampaikan sesuatu, Hyerim pun balas menatapnya dengan satu alis terangkat.

“Emmm… Hyerim-ah,” panggil Ara dengan tangan terlipat di atas meja dan salah satu jari tangannya bergerak-gerak di atas meja dengan gelisah.

Hyerim meminum kopinya sebentar kemudian menatap Ara heran. “Kenapa?”

Kepala Ara tampak dimiringkan dengan mimik ragu disertai pandangan mata menerawang ke bawah, lalu dirinya berucap dengan nada ragu. “Hyunwoo sunbaenim ingin kamu ikut kencan buta ini. Makanya dia mengajakku dan yang lainnya.”

Nara nyaris saja menyemburkan jus jeruknya mendengar perkataan Ara. Sementara Joohee dan Yeoreum menatap Ara dengan raut menganga. “Ara-ya, Hyerim kan…” kata Yeoreum terputus lalu melirik Hyerim yang memasang raut tanpa ekspresi, bingung ingin mengiyakannya atau tidak.

Karena nyaris mengeluarkan jus jeruk dari mulutnya, Nara mengelap bawah dagunya dengan tissue kemudian membuangnya di asbak yang terdapat di meja. Setelah itu dirinya menatap Ara dan ketiga temannya yang lain yang berposisi duduk di hadapannya.

“Heh! Yoo Ara, sadarlah Hyerim sudah menikah.” Nara berkata sedikit menyolot. Hyerim hanya menontonnya tanpa menyahut apapun, tapi mendengar kata menikah seakan membuat jantungnya berhenti berdetak.

Yoo Ara tampak mengembungkan pipinya, lalu menyahut perkataan Nara. “Aku tahu tapi kan Hyerim itu mahasiswi tercantik di fakultas bahkan angkatan kita.”

Mendengarnya membuat Hyerim meringis malu sambil menggaruk belakang kepala. Mahasiswi tercantik? Kalau begitu kenapa dirinya tidak bisa membuat Luhan jatuh cin─Stop! Ayolah Kim Hyerim sadarlah kenapa dirimu jadi memikirkan Luhan? Tanpa sadar Hyerim malah memukul kepalanya sendiri. Keempat temannya jadi agak heran melihatnya.

“Kamu mau tidak datang? Teman-teman Hyunwoo sunbaenim sangat ingin kamu datang.” Ara mulai membujuk dengan raut memelas.

Hyerim tampak menggaruk-garuk kepalanya dengan muka bingung juga gumaman panjangnya. “Emm… aku tidak─”

“Iya, Hyerim tidak bisa. Dirinya sibuk dengan suaminya.” potong Nara seenak jidat.

Hyerim memandang Nara datar padahal tadi dirinya ingin mengatakan tidak enak menolak ajakan tersebut dan ingin ikut. Lagipula Luhan dan dirinya sebatas kawin kontrak, jadi Hyerim bisa melakukan kencan buta layaknya remaja seumuran dirinya. Terlihat yang paling kecewa adalah Ara, Hyerim dapat melihatnya dari paras gadis itu. Akhirnya kelima gadis tersebut kembali berbincang sambil menikmati minuman dan kue yang dipesan. Dan saat itu pulalah ponsel Hyerim berdering nyaring, dirinya meminta izin untuk mengangkatnya.

Yeboseyo?” ucap Hyerim hati-hati karena yang menelponnya adalah Ibu Luhan.

“Hyerim-ah, kamu ada waktu?”

Suara lembut Nyonya Lu mengatakan hal demikian, Hyerim melirik beberapa temannya yang sedang tertawa-tawa. Dirinya tampak menimbang-nimbang ingin menjawab apa.

“Memangnya ada apa omoni?” tanya Hyerim.

“Ritual biasa, Nenek mengajakmu minum teh. Beliau merindukanmu,”

Cekikan Nyonya Lu tampak terdengar. Hyerim menghela napasnya mendengar kata-kata tersebut, kemudian dirinya membalas. “Baiklah, aku akan segera ke rumah kalian omoni.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Langit sore Seoul tampak cerah setelah beberapa hari terakhir mendung disertai gerimis ataupun hujan. Resiko musim semi. Kim Taehyung tampak menarik tirai besi yang menghalangi sinar dari luar masuk ke ruangan ayahnya. Sang Ayah tampak sudah terlelap setelah menjalani kemotrapi. Hari ini Hyerim tidak menjenguk dengan alasan sibuk. Taehyung mencibir akan alasan kakaknya yang sebenarnya sok sibuk.

Taehyung menjatuhkan diri di sofa kamar inap ayahnya. Kalau boleh jujur, Taehyung sudah bosan di sini dan ingin segera ayahnya sembuh. Namun sayang, hati baru untuk ayahnya belum juga tersedia. Dan ini membuat Taehyung khawatir setengah mati dengan ayahnya. Tapi sekarang Taehyung merasa bosan, jadi dirinya pun mengambil ponsel lalu memainkan aplikasi game yang tersedia. Beruntung sekali Luhan mau membelikannya ponsel keluaran terbaru ini.

‘Srek!’

Nyaris saja Taehyung loncat dari duduknya karena terkejut akan sledding door yang main dibuka begitu saja. Dirinya juga hampir memaki orang yang main nyerobot masuk ke kamar inap ayahnya. Namun orang tersebut adalah dokter spesialis yang menangani penyakit ayahnya maka niat awal Taehyung untuk memaki ia lempar jauh-jauh. Taehyung pun sedikit membungkuk memberi salam dan Dokter Song─dokter spesialis tersebut, hanya tersenyum  meresponnya.

Annyeong haseyo uisanim, (hallo dokter)” sapa Taehyung lalu mengangkat wajahnya untuk melihat Dokter Song. Terlihat dokter tersebut masih setia mengulum senyum.

“Ah Kim Taehyung bukan?” tanya Dokter Song dengan suara lembut khas seorang ayah pada anaknya. Taehyung mengangguk dan berkata iya. “Kakakmu sedang tidak ada ya? Ah baiklah aku bicara saja denganmu. Jadi tolong ikuti denganku.”

Intruksi Dokter Song diikuti sepenuhnya oleh Taehyung. Hingga akhirnya kedua pemuda beda umur tersebut sudah duduk di ruangan Dokter Song dan saling berhadap-hadapan. Kentara sekali Taehyung harap-harap cemas. Pasti ada hubungannya dengan penyakit ayahnya, apalagi sekarang Dokter Song sedang membaca suatu dokumen dengan pandangan mata serius dibalik kacamatanya disertai dahi berkerut. Taehyung sendiri sudah meremas-remas celana jeans yang ia kenakan dan tak lupa berdoa didalam hati agar semuanya baik-baik saja.

Suara helaan napas Dokter Song terdengar, kemudian beliau menutup dokumen yang ia baca serta menyimpannya. Setelah itu dirinya menatap Taehyung dengan tatapan meneduhkan seakan menenangkan Taehyung bahwa semuanya baik-baik saja.

“Masalah donor hati ayahmu…” Dokter Song memulai pembicaraan diiringi tubuh Taehyung yang menegang dengan jantung berdegup takut. “Walau sudah melakukan operasi pengambilan organ-orang yang rusak juga kemotrapi. Tetap saja hati ayahmu itu sudah rusak bahkan mungkin hampir total, sementara hati baru untuknya belum juga ada. Dan bisa dibilang kondisi ayahmu makin memprihatikan, Taehyung.” ucapan Dokter Song diakhiri dengan senyum tipisnya dan Taehyung merasa lemas.

Ayahnya terlihat baik-baik saja namun organ yang didalamnya tidak. Ya, Taehyung harus mencari donor hati mulai sekarang. Sebisa mungkin tidak membuat Hyerim khawatir dan repot kembali.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Sebenarnya Hyerim tidak masalah meninggalkan teman-temannya dan memilih berkunjung ke rumah keluarga Lu. Tapi yang membuat Hyerim tidak nyaman adalah hadirnya Kyuhyun juga dan parahnya kedua wanita paruh baya yang tak lain Nenek juga Nyonya Lu menyuruh keduanya membuat teh serta menyiapkan cemilan bersama. Sekarang keduanya sedang berada di dapur mengerjakan tugas masing-masing dengan suasana canggung. Mungkin ini dikarenakan pertemuan terakhir mereka  tentang tahunya Kyuhyun akan pernikahan kontrak Luhan dan Hyerim.

“Hyerim…” tiba-tiba Kyuhyun memanggil lantas membuat Hyerim tersentak dan menoleh padanya dengan raut ragu-ragu.

“Ya?”

Sangat jelas terlihat Kyuhyun memandangnya aneh dan Hyerim berusaha mungkin terlihat normal. “Kamu lupa memasukan gula ke tehnya.” Kyuhyun berucap dengan seuntas senyum.

Mulut Hyerim tampak terbuka dengan raut sedikit kaget. Lalu dirinya berkata dengan agak gagap. “Aaa… ya terimakasih sudah mengingatkanku,” lalu Hyerim langsung mengambil toples berisi gula dan memasukan beberapa sendok gula kedalam teh yang ia buat.

Diam-diam Kyuhyun menatapnya lalu menyunggingkan senyuman melihat tingkah Hyerim. Kepalanya seketika memutar percakapan Hyerim dan Luhan yang ia dengar. Kontrak? Perjanjian? Kawin kontrak? Dan Kyuhyun bahkan tak lupa reaksi Hyerim yang langsung salah tingkah ketika ditanyakan hal tersebut. Kyuhyun tak bisa berbohong bahwa dirinya masih menyukai Hyerim, tapi dirinya juga berjanji tidak akan lagi merebut gadis yang Luhan miliki. Tapi… bila Hyerim dan Luhan tidak sungguh-sungguh menikah, akankah ada harapan untuknya?

Perlahan Kyuhyun melangkahkan kaki sampai di belakang Hyerim yang sibuk mengaduk-aduk teh agar gula yang ia masukan larut. Sedikit demi sedikit tangan Kyuhyun maju hingga memeluk pinggang Hyerim dan melingkarkan tangannya diperut gadis tersebut. Hyerim terkejut tentu saja, matanya melebar dan kepalanya sedikit menoleh ke belakang dengan ujung mata menatap Kyuhyun yang mulai menaruh dagu dibahunya.

“Aku hanya akan menunggumu dan tidak meganggumu. Akan kutunggu dirimu, Hyerim.” ucap Kyuhyun tepat ditelinga kanannya.

Hyerim merasa dirinya dilanda rasa gugup disertai tangannya yang bergetar dan langsung saja ia amit menjadi satu serta ia remas-remas guna meminalisir rasa asing dalam dirinya. Menunggu? Apa maksud Kyuhyun? Dan lagi kenapa pria ini malah memeluknya seperti ini?
“Kyuhyun, Hyerim. Apakah kue dan tehnya sudah siap? Nenek sudah menunggu.”

Untung suara Ibu Luhan terdengar membuat pelukan itu lepas juga napas tertahan Hyerim terbuang melalui mulutnya dengan lega. Terlihat Kyuhyun mengatur beberapa kue di atas nampan lalu membawanya serta meninggalkan Hyerim yang meliriknya melalui ujung mata. Kemudian gantianlah Hyerim membawa empat cangkir teh di satu nampan setelah Kyuhyun pergi duluan.

Ditengah perjalanannya, Hyerim menggumam pelan dengan muka bingung. “Maksudnya apa menunggu dan tidak meganggu?”

Walau sangat penasaran akan arti kata-kata Kyuhyun tadi, Hyerim memilih mengabaikannya dan melupakannya apalagi prilaku pria itu yang main memeluknya. Hyerim pun kembali melangkah untuk memberikan cangkir-cangkir teh tersebut dan juga menikmatinya. Tapi ada yang Hyerim sadari, hatinya tidak berdesir hebat ketika Kyuhyun menyentuhnya, tidak seperti Luhan yang selalu membuatnya gila hanya dengan sebuah sentuhan.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Keramaian bandara Incheon sepertinya tidak pernah terhenti dengan banyaknya pesawat yang take off juga landing. Di tengah kuruman orang yang berlalu lalang di bandara tersebut, terlihat sosok Luhan yang sedang celingukan mencari seseorang dengan perasaan jengkel. Jika saja mengumpat terus daritadi bisa menghilangkan kesalnya, maka Luhan pasti memaafkan sahabatnya yang bilang sudah tiba di Korea dan minta dijemput. Namun nyatanya, sahabatnya menelponnya ketika sedang transit di Turki. Bukan Luhan sudah sangat rindu dengan sahabat yang sudah lima tahun ini tinggal di Inggris, hanya Luhan tidak suka menunggu lama di bandara.

Gate tempat seharusnya Si Sahabat keluar tampak sudah terbuka, lalu menyeruaklah kuruman orang-orang yang bahkan bukan orang Korea keluar dari gate tersebut. Mata Luhan mencari-cari dengan teliti sosok yang membuatnya menunggu di bandara sampai sore. Tapi penemuannya tidak membuahkan hasil membuat Luhan mengira sahabatnya itu menipu dirinya perihal kepulangannya ke Korea.

“Hai Luhan!” tiba-tiba saja sebuah tepukan dibahu dan sapaan riang seorang lelaki Luhan dapatkan.

Luhan kaget bukan main, kemudian dirinya menoleh dan membalikan tubuhnya. Pemandangan yang ia dapati adalah seorang lelaki dengan cengiran bodoh dilengkapi koper yang ia bawa lalu dirinya tampak melambai-lambai didepan wajah Luhan menyebabkan Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Kamu merindukanku kan pasti,” ucap pria ini, Byun Baekhyun. Nada yang keluar dari mulutnya sangat percaya diri sekali membuat Luhan mendecih dengan raut jijiknya.

“Yang ada aku ingin memukul kepalamu sekarang sampai kepalamu bergelinding jatuh kalau bisa,” ucap Luhan sinis membuat Baekhyun berjengit ngeri.

“Eiy, jangan begitu,” sahut Baekhyun dengan bibir dimajukan serta wajah memelas, lalu merangkul bahu Luhan dengan akrabnya. “Kamu ini menyeramkan sekali, padahal aku baru saja pulang. Pelukan hangat saja tidak ada.”

Keduanya mulai berjalan selagi berbincang. Kata-kata Baekhyun tadi terdengar menggelikan dan membuat Luhan mendecih geli kembali. “Pelukan hangat kepalamu. Disentuh olehmu saja aslinya aku tidak sudi apalagi menyentuhmu.” balas Luhan sinis tapi Baekhyun malah tertawa mendengarnya, tidak ada rasa tersinggung sama sekali karena keduanya sudah memahami watak masing-masing.

“Aku dengar kamu sudah menikah,” topik keduanya berganti haluan diiringi Baekhyun yang menatap Luhan penasaran dari samping.

Luhan terlihat tak berekspresi ketika Baekhyun menyinggung soal pernikahannya. Lalu dirinya balas menatap Baekhyun dengan senyum seadanya. “Ya, begitulah.”

Tatapan Baekhyun berganti jadi penuh minat dengan wajah yang mulai sedikit mendekati wajah Luhan. “Apakah istrimu cantik?” tanya Baekhyun dengan mata mengerjap-ngerjap penasaran.

Mendengarnya membuat Luhan ingin tertawa sinis. Cantik? Coba Luhan pikirkan. Wajah Hyerim bisa dibilang tidak jelek karena ketika gadis itu tersenyum dengan mata menyipit, wajahnya sangatlah manis. Tapi bila dibilang cantik? Tidak juga, bahkan Luhan lebih suka memperhatikan bak sampah di depan rumahnya dibandingkan wajah Hyerim.

“Jelek tidak, manis bisa dibilang, tapi untuk kategori cantik juga tidak soalnya aku lebih senang melihati bak sampah di depan rumahku dibanding wajahnya,” Luhan menumpahkan semua yang ada diotaknya tentang Hyerim, mendengar hal tersebut dari mulut Luhan tentang istrinya membuat Baekhyun melongo.

“Jadi lebih menarik bak sampah dibanding istrimu?” tanya Baekhyun lagi agak ragu dan dengan santainya Luhan mengangguk membuat Baekhyun tambah melongo. “Apa dia pintar?”

Kali ini Luhan ingin tertawa terbahak mendengar pertanyaan Baekhyun. Pintar? Bahkan lebih pintar dirinya karena bisa mengerjakan tugas-tugas Taehyung, tapi Hyerim pandai masalah bahasa asing apalagi Inggris. Sekiranya itu yang Luhan tahu dari Taehyung.

“Pintar? Dirinya lebih bisa dibilang mempunyai otak lumba-lumba. Julukannya itu kambing dungu,” jawab Luhan dengan senyum menahan tawa. Baekhyun tak tahu harus bagaimana lagi dengan ekspresi cengonya.

“Emm… apakah dia jago memasak?” tanya Baekhyun lagi sambil menggaruk tenguknya menggunakan tangan yang tidak merangkul Luhan.

Kekehan Luhan yang tanpa suara terhenti. Jago memasak? Bisa dibilang iya karena eksperimen Luhan selalu gagal dibanding Hyerim. Tapi mana mau Luhan memuji Hyerim di depan Baekhyun. Tentu saja dia gengsi.

Tanpa melirik Baekhyun seperti ketika menjawab pertanyaan yang tadi-tadi, Luhan bersuara. “Apanya? Dia bahkan pernah memesan pizza delivery sementara aku diberi masakannya yang berupa sampah.” ucap Luhan dengan raut tak santai lalu menyentak tangan Baekhyun agar tidak merangkulnya lagi. “Sudahlah aku tidak mau membahas Si Kambing Dungu.” Luhan mulai berjalan mendahului Baekhyun dengan lambaian tangan kanannya pertanda malas membahas Hyerim.

Baekhyun yang membatupun langsung mengekori Luhan dan sudah kembali berjalan sejajar dengannya. “Kamu memilih istri tidak berkualitas sama sekali,” ujar Baekhyun sukses membuat Luhan berusaha menahan tawanya. “Tapi bagaimana dengan malam pertama kalian?” Baekhyun bertanya dengan raut antusias.

Luhan nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengarnya, dirinya berhenti sebentar kemudian lanjut berjalan di samping Baekhyun. Gugup langsung menggerogotinya. Dirinya kan belum melakukannya dan memang tidak diperbolehkan melakukannya. Tapi sudah dua kali Luhan dan Hyerim nyaris melakukannya, bahkan keduanya sudah berapa kali berciuman dan bisa dibilang lumayan banyak. Luhan baru menyadarinya dan dirinya merasa sangat gila akan ciuman-ciuman yang ia lakukan bersama Hyerim.

“Ah pasti kalian sudah melakukannya?” goda Baekhyun dengan senyum jahil. Luhan menatapnya datar lalu tak segan-segan memukul kepala Baekhyun hingga Baekhyun mengaduh kesakitan.

“Urusi saja urusanmu!” ucap Luhan dengan nada sinis dan Baekhyun melihatkan tatapan memelasnya.

“Luhan…” panggil Baekhyun tatkala keduanya sudah sibuk berjalan dan sudah berada di area parkir untuk mencari mobil Luhan. Luhan tak menyahut pertanda menyuruh Baekhyun melanjutkan ucapannya. Sebelum berucap lagi, Baekhyun menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. “Apa kamu tahu bahwa Jinah sudah berada di Korea sejak seminggu yang lalu?”

Luhan yang sudah menemukan mobilnya dan mulai mengambil kuncinya, langsung saja bergeming dan menoleh perlahan kepada Baekhyun. Raut Baekhyun terlihat sedikit hati-hati saat menyinggung masalah Jinah. Cinta pertama juga luka terdalam milik Luhan. Namun Luhan malah buang muka seakan tak peduli.

“Ayo kita ke mobilku saja, mobilku ada di sana.”

Luhan langsung memimpin jalan dan Baekhyun hanya menatap punggungnya sayu sebelum mengekori Luhan menuju mobil.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Sekon ini terbaringlah Luhan di ranjang kamarnya dengan posisi menyamping. Pikirannya bunyar entah berantah ke mana perginya. Selama perjalanan menuju appartemen Baekhyun di daerah Apgeujeong, keduanya mengalami keheningan karena Baekhyun mengangkat teman tentang Jinah yang sudah ada di Korea dari seminggu yang lalu. Jinah? Kembali? Kenapa? Itulah yang Luhan pikirkan sedaritadi.

“Akh! Sial!” umpat Luhan dengan wajah frustasi karena bayang-bayang Jinah menggerogoti otaknya. “Sadarlah Han! Wanita itu tidak pernah mencintaimu dan membodohimu. Come on dude, just forget about her!” Luhan bermonolog ria sembari mengacak-acak rambutnya frustasi.

Disaat kekacauannya akan informasi Jinah yang berada di Korea, hidungnya mencium sesuatu membuat dahinya berkerut. Perlahan Luhan bangkit dari posisi tidurnya sambil mengendus-endus. Bau ini hampir menyerupai bau gosong. Dan tunggu, bukankah tadi Si Kambing Dungu─Hyerim, sedang memasak? Menyadari hal tersebut membuat Luhan menyatukan giginya dengan raut jengkel.

“Ahhh dasar otak lumba-lumba,” desis Luhan dengan gerakan tak santai turun dari ranjang setelah menyibak kasar selimut yang menutupi tubuhnya sampai sebatas perut.

 

Di dapur pun terlihat Hyerim sedang berada di depan kompor dengan tangan yang memegang sendok yang ia gerakan untuk mengaduk-aduk kaldu sup kaldu ayamnya. Tapi pikirannya tidak tertuju pada kegiatan memasakannya, namun terarah kepada perkataan Kyuhyun sore tadi di rumah keluarga Lu. Kepala Hyerim tampak sedikit dimiringkan ke samping kanan dengan raut lesu dan gerakan mengaduk yang sama-sama lesu.

“Apa maksudnya tidak meganggu dan menunggu? Memang dia pernah megangguku? Yang ada Si Otak Cumi-Cumi alias Si Monster Menyebalkan yang sering megangguku. Lalu apa pula menunggu? Apa yang harus ditunggu dariku?” gumam Hyerim bingung dan putus asa karena tidak menemukan jawaban atas perkataan Kyuhyun kepadanya. Dirinya bahkan tak sadar akan kepulan pekat dari sup kaldu ayamnya karena sudah melewati waktu memasaknya.

Disaat itulah Luhan datang dan langsung terbatuk-batuk sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Dirinya memicingkan mata pada punggung Hyerim lalu langsung mengambil langkah lebar mendekati gadis tersebut dengan raut marah. Setelah berada di belakang Hyerim, Luhan langsung menepuk bahunya keras.

“Hey!” seru Luhan sangat keras menyebabkan Hyerim tersentak sangat kaget. Lalu gadis Kim tersebut menoleh dengan pandangan sebal ke arah Luhan dan Luhan tampak berkacak pinggang dengan gigi menyatu kesal. “KAU INGIN MEMBAKAR RUMAHKU?!” semprot Luhan yang kali ini membuat Hyerim membuka mulut lebar.

Semprotan Luhan membuat Hyerim tersadar akan masakannya. Lalu dirinya menengokan kembali kepalanya kepada masakannya, mukanya pun langsung berubah panik melihat masakannya tersebut. “Ya Tuhan!” desah Hyerim kemudian menengok sosis yang ia masak juga dan sudah mau terbakar.

“Uhuk,” batukan Luhan lolos dengan tangan kanan tergepal ditaruh didepan mulut. “Ya! Lihat! Api!” sekarang Luhan lah yang panik ketika melihat api dari wajan yang dipakai Hyerim untuk memasak sosis, sudah dipastikan Hyerim melamun terlalu lama.

Luhan terus menunjuk-nunjuk masakan Hyerim dengan raut panik tanpa bergerak melakukan apapun. Dan Hyerim juga tak kalah panik dengan gerakan gelisah ke sana-ke mari. “Heh! Kambing dungu! Apinya, api!” teriak Luhan makin panik namun tetap bergeming dan masih menunjuk-nunjuk.

“Iya, iya, aku tahu!” seru Hyerim tak kalah panik kemudian gadis tersebut mendapatkan ide dan langsung saja melesat dari tempatnya.

Luhan meliriknya sekilas namun asap yang memenuhi dapurnya membuat Luhan kembali menatapi dua masakan istrinya. “Heh kambing dungu, cepat padamkan apinya!” Luhan berkoar kembali membuat Hyerim yang sedang menampung air keran dari tempat cuci piring di baskom, mengumpat kesal karena lelaki itu tidak membantu sama sekali.

“Tunggu sebentar, aku datang!” ucap Hyerim agak panik juga karena kepulan asap yang sudah menutupi sebagian besar dapur.

Air di baskom pun sudah terisi penuh. Dengan langkah tergesa, Hyerim mendekati titik pusat terjadinya kekacuan ini namun pandangan matanya tertutupi asap-asap yang berkeliaran. Dengan mata sedikit menyipit dan naluri yang ada, Hyerim pun memastikan tempat yang benar sesuai feelingnya lalu bersiap menumpahkan isi baskomnya.

“Kambing dungu!” panggilan tengil Luhan terdengar lagi sambil menoleh ke samping kirinya namun sebuah kejutan membuat Luhan benar-benar kaget tatkala partikel-partikel air melayang ke arahnya dan dapat diprediksikan suara ‘byur’ tersebut menyebabkan Luhan basah kuyup diiringi matanya yang terpejam.

“Hahhhh!” Hyerim mendesah lega tatkala api juga asap tersebut sudah menghilang.

Tapi ketika  Hyerim dapat melihat dengan jelas kembali, pemandangan yang ia lihat sungguh membuatnya ingin terbahak mungkin sampai berguling-guling di lantai. Luhan basah kuyup dengan wajah jelek juga rambut basah yang tidak kalah jeleknya. Pasti dikarenakan Hyerim yang tadi salah sasaran juga.

“Ahahaha,” tawa Hyerim meledak tanpa bisa dicegah sampai memukul-mukul baskom yang dipegangnya. “Ya ampun, jelek sekali dirimu. Ahahah.” Hyerim pun membungkuk sambil memegangi perutnya yang mendadak sakit karena puas mentertawai Luhan.

Luhan menggertakan giginya kesal dengan raut sebalnya, dirinya mulai berjalan medekati Hyerim yang masih tertawa dengan puasnya. Tangan Luhan sudah melayang diudara hendak memukul kepala Hyerim namun penggerakannya berhenti tatkala kejadian ini mengingatkannya akan sesuatu.

 

“Luhan-ah!” suara milik Im Jinah tersebut menggema lalu dirinya menyiram Luhan dengan ember penuh air dingin, lalu gadis tersebut tertawa-tawa sementara Luhan mencibir kesal.

“Ya! Jinah-ya!” kemudian keduanya berlari-lari mengelilingi halaman rumah keluarga Lu.

 

“Ahahaha, lihat rambutmu! Seperti mangkuk! Ahahah,” suara tawaan Hyerim menampik Luhan kembali ke masa kini.

Raut kesal yang semula terlukis diwajah Luhan sudah luntur entah berantah. Bayang-bayang Jinah menghantui pikirannya bahkan Hyerim yang ada di hadapannya malah berubah menjadi sosok Jinah dimatanya. Menyadari ada yang aneh dengan Luhan, Hyerim memberhentikan tawanya dan memandang lelaki tersebut dengan heran terlebih lagi tangan Luhan yang melayang di udara yang tadi hendak memukul kepalanya.

Hyerim mengerutkan alis lalu mengajukan sebuah pertanyaan. “Kamu kenapa?” disertai tatapan anehnya Hyerim mempertanyakan hal tersebut.

Akan tetapi Luhan masih termenung lalu bergumam dengan raut sayu. “Jinah, aku merindukanmu.”

Jantung Hyerim serasa berhenti mendengar gumaman pelan Luhan, meski pelan tapi terdengar sangat jelas ditelinganya. Mata Hyerim mengerjap-ngerjap beberapa kali dan dirinya melihat Luhan memberikan tatapan lembut nan menghangatkan untuknya, tidak, tapi untuk Jinah─cinta pertama dan luka terdalamnya. Hyerim belum pernah mendapati Luhan menatapnya selembut juga setenang itu.

“Jinah?” ulang Hyerim dengan nada ragu.

Senyum pedih Luhan terukir masih dengan tatapan dalamnya pada bola mata Hyerim, bola mata yang sama-sama mempunyai tatapan sayu juga lembut milik cinta pertamanya. Dan Hyerim kini menyadari, betapa besar rasa cinta yang masih Luhan pendam untuk seorang Im Jinah. Menyadarainya membuat dada Hyerim sesak seketika.

─To Be Continued─


BARAKALAH UPDATE JUGA SEKARANG HUAHAHA. KALIAN BILANG AKU LAMA UPDATE? AKU TAMPOL SINI :V /DIBALANG SATU KELURAHAN/

Maafkan aku update lamaaaa sekali di mari gak maksud gitu kok serius -___- tapi ya sudah diplan gini jadi ya gini /plak/ 

Ya semoga kalian maklumi ya aku kena beberapa tekanan batin /apaan/ untuk lanjut FF ini ya amsyong 
Yaudah ya RCL aja jangan lupa say

P.S : Chapter  12 sudah tersedia di http://www.hyekim16world.wordpress.com

-Gebetan baru Lee Junki & tunangannya Kang Haneul, HyeKim-


2 responses to “Beauty and The Beast Chapter 11 [He Loves Her So Much] – by HyeKim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s