[#WinterStation] The Eye : Secret

img_20160921_205214

The Eye : Secret

|| Cho Ah Reum as OC – Oh Se Hun as EXO Sehun – Nakamoto Yuta as NCT Yuta ||

|| Romance || PG ||

A Song Fiction by Nidhyun

Inspired by Song :

The Eye sung by Infinite & Secret sung by Taeyeon

The Eye || Next : The Eye

 

***

2 years ago : in Seoul, South Korea…

Sehun ingat, saat itu adalah akhir musim semi menjelang musim dingin. Kau mungkin takkan menemukan salju yang turun secara teratur dan menyapa warga Seoul saat itu, tapi Sehun bersumpah dia bisa merasakan udara dingin yang menakutkan dan seolah menggigiti seluruh tubuhnya. Belum lagi, saat itu malam dan hujan tengah turun dengan derasnya. Sehun justru tengah berdiri untuk berteduh di bawah atap halte.

Sehun ingat, saat itu ia masih berstatus sebagai dokter baru yang masih bekerja sebagai dokter jaga di UGD. Dan malam itu ia pulang terlambat karena harus menangani pasien kecelakaan dan Sehun mengambil alih tugas dokter bedah utama di sana. Yeah, sebagai dokter junior tentu saja Sehun takkan bisa menolak apapun permintaan dan keinginan seniornya bukan?

Dan, malam itu, Sehun juga ingat bahwa ia tidak sendirian berdiri di sebuah halte yang sepi. Ada seorang gadis yang menutupi kepalanya dengan tudung scarf miliknya dan dia terduduk dengan posisi yang tidak berubah sejak Sehun sampai di halte 15 menit lalu. Sehun sama sekali tidak penasaran dengan gadis itu, mungkin saja dia sama sepertinya, pulang terlambat dan sekarang sama-sama tertinggal bus dan berharap bus terakhir akan segera tiba.

Tapi, entah mengapa ia mendadak urung untuk beranjak dari tempat itu meskipun bus terakhir telah datang. Mungkin, karena ia bingung dengan gadis yang berdiam di sana ternyata membiarkan kedua kakinya basah terkena air hujan. Ia juga bingung ketika gadis itu sama sekali tidak bergerak ketika bus berhenti dan membukakan pintu. Yeah…anggaplah Sehun terlalu dramatis –tapi Sehun benar-benar mengkhawatirkan gadis aneh itu. Jadi, dengan berat hati Sehun mengurungkan niatnya untuk naik bis terakhir itu dan memilih untuk mendekati gadis yang masih tidak mengubah posisinya.

“Kakimu bisa mati rasa karena kedinginan seperti itu,” ucap Sehun dengan nada datar. Ia tidak tahu harus beraksi seperti apa ketika itu. Dan satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah melepas jas nya dan menyampirkannya pada kaki gadis itu.

“Pergilah!” gadis itu akhirnya bersuara dan…dia sangat dingin. Bukan hanya dingin, tapi aura gadis itu berubah mencekam sewarna dengan suara dinginnya.

Gadis ini dalam masalah.

Sehun hanya memberikan opininya dalam kepala. Yeah, ia juga tidak terlalu suka untuk ikut campur urusan orang lain, terutama gadis ini. Tapi setidaknya Sehun tidak membiarkannya mati seperti ini, kan? Mati kedinginan di tengah hujan saat malam bukan sesuatu yang terdengar bagus. Jadi, Sehun tetap keras kepala untuk tetap menyampirkan jaketnya.

“Aku akan pergi, tapi berhenti membuat tubuhmu kedinginan dengan cara seperti itu,” ucap Sehun lagi dan bejalan meninggalkan gadis itu bersama jasnya. Tapi belum sempat Sehun berbalik, gadis itu mendongak dan…yeah, bukan tatapan dingin gadis itu yang menusuk dada Sehun, tapi karena wajah itu adalah wajah familiar di otak Sehun.

Dia penulis blog favorit Sehun. Kassy. Ya. Sehun ingat nama pena gadis itu meskipun Sehun sama sekali tidak tahu nama aslinya. Sehun pun tahu wajah gadis itu ketika dia menggunggah foto aslinya sebagai photo profile di blognya. Dan…yeah, Sehun sama sekali tidak tahu gadis yang ia tahu bernama Kassy ini sepertinya memiliki masalah yang berat. Si kritikus dan seorang penggila puisi modern –Sehun bahkan ingat ketika gadis ini menuliskan 100 puisi modern terbaik dari Negara-negara di dunia.

Konyol memang, tapi Sehun benar-benar penggemar Kassy sejak ia duduk di bangku sekolah. Sehun tidak tahu apakah Kassy sudah menjadi penulis novel sungguhan atau belum. Tapi Sehun sangat tahu gadis ini bercita-cita menjadi seorang novelis.

Sehun tiba-tiba merasa canggung –terutama ketika Kassy hanya menatapnya dan kemudian mendecih. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, dan Sehun tidak tahu harus berbuat apa lagi. Akhirnya, Sehun hanya memili beranjak membiarkan Kassy sendiri di sana.

Dan…yeah, ternyata Sehun harus menghadapi drama yang lain di tempat itu. Seorang pria tengah berdiri dengan sebuah payung berwarna biru gelap dan menghadap ke arahnya. Atau…pada Kassy. Tatapan mata pria itu sama sekali tidak terarahnya, tapi pada gadis yang kembali menunduk dan dia di tempatnya –kali ini dia melindungi kakinya dengan jas yang diberikan Sehun.

Sehun benar-benar berniat pergi –kaena hujan mulai reda dan ia berniat memanggil taksi. Atau mungkin ia bisa mengabaikan apa yang akan terjadi selnajutnya di sana. Tapi kemudian, pria yang sejak tadi berdiri beberapa meter dari halte itu justru melangkahkan kakinya dnegan ragu ke arah halte –ke arahnya.

“Bisakah kau berikan ini padanya?”

Sehun benar-benar bingung ketika lelaki itu bicara padanya sambil menyodorkan payung ke arahnya. Sehun pun terpaksa menoleh lagi pada Kassy yang sepertinya tidak sadar dengan keberadaan lelaki yang tengah bicara padanya saat ini. Sehun pun kembali menatap pria itu dengan bingung.

“Dan…katakan padanya, aku lelah. Dan…berbahagialah.”

Sehun sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud pria itu, tapi dia tetap memberikan payung biru itu pada Sehun dan langsung berbalik menerobos hujan, membiarkan  tubuhnya digigiti dinginnya air hujan.

Sehun mengernyitkan dahinya, ia merasa ngeri karena sepertinya Kassy dan pria barusan memiliki masalah serius dan justru menyelesaikan masalahnya dengan cara kuno dan melankolis : menyakiti diri mereka sendiri.

Dengan linglung, Sehun bergantian memandangi payung dan Kassy. Kemungkinan besar, mereka adalah pasangan yang baru saja putus dengan cara yang tidak menyenangkan seperti ini. Sehun berdecak pelan dan langsung mengambil ponselnya di dalam saku untuk menghubungi taksi. Ia tidak segera menyerahkan payung itu –beserta pesan misterius dari pria pengecut barusan. Ayolah, pria yang gentle adalah pria yang akan menghadapi masalahnya dengan batang hidungnya sendiri, bukan dengan cara yang mirip dengan drama di TV. Dan lebih parahnya lagi, Sehun harus menumpang lewat menjadi cameo dalam drama mereka berdua. Cameo plus penonton yang tidak dibayar.

“Naiklah ke dalam taksi, lelaki itu tidak akan datang…jika aku tidak salah menebak kau tengah menunggu seseorang,” Sehun pun mendekati Kassy lagi ketika dua buah taksi sudah sampai di sana.

Gadis itu terlihat terkejut dan…terluka. Sehun benar-benar tidak tega melihat tatapan Kassy –yang jauh di luar bayangannya. Ia selalu terlihat tangguh dan luar biasa dalam tulisannya yang kuat, tapi ia ternyata tak lebih dari gadis rapuh yang membutuhkan pundak untuk bersandar.

Gadis itu juga seolah menyadari kenyataan lebih cepat, Kassy langsung mendapati payung yang mungkin taka sing baginya itu di tangan Sehun. Ia menyadari keadaan lebih cepat dan…tanpa suara, gadis itu meneteskan air matanya. Lalu dengan kasarm gadis itu mengembalikan jas milik Sehun dan segera masuk ke dalam taksi, meninggalkan Sehun dengan kenangan kecil mengenai Kassy…. Pertemuan fans dan idola yang benar-benar kacau.

Dan yang lebih kacau, adalah fakta ketika mereka betemu lagidua tahun kemudian : dengan situasi yang lebih kacau tentunya. Kassy terjatuh dari lantai dua dan mengalami luka yang parah, kemudian dia mencoba bunuh diri dan melukai Oh Sehun. Dan gadis itu, bernama asli Cho Ahreum….

20161120 PM0904

 

Aku penasaran, anak laki-laki di bawah bendera matahari itu pernah baca tulisanku atau nggak. Entah secara sengaja atau nggak. Aku akui secara berlebihan : dia salah satu nyawa di setiap kata yang aku tulis di semua fiksi dan puisi yang aku punya. Dan setelah semua kejadian pahit belakangan ini, aku penasaran sejauh mana aku bisa nulis terutama untuk puisi setelah dia bawa lari nyawa tiap kata yang aku tulis di sini.

Aku benci waktu adik aku secara blak blakan bilang : ff ini bener-bener nunjukkin siapa aku, rasa sakit aku, harapan aku, dan laki-laki yang dengan terpaksa di ff ini dikurung atas nama Yuta. Aku tau kok, empat tahun ini aku berporos sama satu arah : only him.

Tapi, bukan berarti poros itu dunia aku, kan? Bukan berarti poros itu hilang lantas dunia aku juga hilang, kan?

I got depressed and thanks for kicking me with this way…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s