Way of Two Rings (chapter 22b)

the-way-of-two-rings1

Title     : Way Of Two Rings

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, School Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

Cover by : Alkindi @Indo Fanfiction Art

 

***

Ariel itu paling suka timezone, duduk berlama-lama di toko buku, dan memakan eskrim ukuran besar yang akan dihabiskan dengan berlama-lama. Maka, kencan kali ini Luhan benar-benar membawa Ariel ke tempat yang ia suka sebagai tanda maafnya. Meskipun Luhan tidak sepenuhnya merasa salah, tapi ia cukup tahu diri bahwa Ariel masih kecil –dan menyalahkannya sama saja kau mengakui bahwa dirimu adalah pecundang.

“Yak…tanganku basah, jangan memegangku terus,” Luhan mendelik ketika Ariel menarik tangannya sendiri dari genggaman Luhan dan malah memegang es krim dengan kedua tangannya.

Luhan pun mendelik malas –padahal dulu Ariel selalu mengeluh : Luhan tidak romantis, Luhan tidak asyik, Luhan tidak menganggapnya kekasih. Tapi sekalinya Luhan melakukan hal-hal kecil seperti tadi –hal-hal yang menurutnya iasa dilakukan oleh pasangan kekasih lain, Ariel justru akan mengeluh dengan alasan yang tidak pernah Luhan pikirkan.

“Luhan, kita akan ke toko buku juga, kan? Ah, aku juga ingin ke toko alat musik. Aku ingin melihat-lihat biola,”Ariel bergumam pelan sembari menjilati es krimnya. Belum sempat Luhan menyahutinya, tiba-tiba saja Ariel berhenti dan menoleh ke arah Luhan, “Luhan, kemarin aku menonton acara WGM Jinwoon,” ucapnya tiba-tiba –yang sama sekali Luhan tidak mengerti.

Luhan tahu acara WGM –Sohee pernah mengerjai Luhan dan yang lainnya ketika ia ulang tahun untuk menonton acara aneh itu. Dan itu sudah lama sekali, Luhan bahkan tidak ingat kapan tepatnya dan siapa artis yang ditontonnya. Yang Luhan ingat hanya cara Sohee tertawa selama mereka menonton acara tersebut. Dan mendengar pernyataan Ariel barusan, rasanya Luhan seperti ditanya tentang perbedaan ekonomi makro dan mikro beserta contoh dan pengaruhnya. Luhan tidak tahu Jinwoon itu siapa, dan Luhan tidak mengerti kenapa Ariel menatapnya dengan tatapan…err, memohon?

“Lalu?” Luhan akhirnya mengeluarkan satu-satunya kata yang mungkin pantas untuk dikeluarkan. Lalu, Luhan pun kembali memakan es krimnya yang mulai mencair.

“Dia dan pasangannya sangat romantis,”Ariel masih tidak berjalan dan tetap berdiri tegak di depan Luhan dnegan jarak dua langkah.

Luhan menaikkan sebelah alisnya dan menoleh sebentar ke arah pintu mall yang sudah dekat, “Kau ingin kita menggosipkan Jinwoon di WGM? Aku tidak tahu Jinwoon, dan aku hanya sekali pernah menonton acara itu,” Luhan langsung mengelak. Ia tidak mau membicarakan apa yang dia tidak tahu, dan ia paling malas membicarakan artis yang Ariel suka. Benar-benar seperti tidak ada kerjaan.

“Dasar bodoh!”

Luhan mengerjap ketika Ariel semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Luhan. Ada banyak orang di sini, dan sikap Ariel justru mengundang banyak perhatian orang-orang yang melihat mereka, “Kau mau apa?” Luhan memelankan volume suaranya.

“Jinwoon melakukan ciuman permen kapas,” Ariel pun mengangkat es krim coklatnya, “Bagaimana jika kita melakukan ciuman seperti mereka?”

Dan, detik berikutnya Luhan seperti merasakan sebuah batu besar baru saja dijatuhkanke arah kepalanya. Gadis gila. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu dan…astaga, Luhan benar-benar kehilangan semua kata-katanya. Luhan bisa melihat Ariel mulai berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke arah Luhan –tapi belum sempat apa yang Ariel pikirkan terjadi, Luhan tiba-tiba saja memundurkan tubuhnya ketika sebuah suara memanggilnya.

“Ah, ternyata benar kau Luhan,” sekali lagi Luhan bisa mendengar suara itu. Luhan pun langsung mencari si pemilik suara –dan dia mendapati Irene yang berdiri tidak jauh dari mereka, masih dengan senyum yang tetap sama seperti mereka bertemu di kampus setiap harinya.

“Telingamu memerah,” ucap Ariel dengan nada datar dan refleks mebuat Luhan menyentuh telinganya. Tapi yang menjadi masalah bukan telinganya yang memerah atau bukan, tapi tepat ketika Ariel membuang es krimnya ke tempat sampah dengan timing yang bersamaan ketika Irene mendekai mereka, Luhan tahu situasi ini tidak baik-baik saja.

Ah, bukan situasi ini, tapi Luhan yang merasa tidak baik-baik saja.

 

***

 

Luhan sebenarnya bisa saja hanya berbicara basa-basi tehadap Irene tadi, Luhan juga bisa beralasan agar Irene tidak perlu mengekori Luhan dan Ariel di sisa jam kencan mereka. Tapi di luar dugaannya, Ariel justru mengulurkan tangannya dan mengajak Irene berkenalan. Bukan hanya itu, Ariel bahkan menarik Irene dan mengajaknya bergabung bersama mereka berdua –Luhan dan Ariel. Luhan tidak tahu kenapa Ariel melakukannya, tapi yang satu-satunya bisa Luhan bisa pastikan adalah, fakta bahwa Luhan merasakan dadanya digigiti rasa bersalah. Ariel tidak bermaksud balas dendam padanya, kan? Terlebih sejak tadi Ariel juga tidak melihat maupun bicara pada Luhan dan justru terus merecoki Irene –dan konyolnya Irene dengan baik hati mau meladeni alien konyol ini.

“Eonni tidak mau pacaran dengan Luhan?”

Luhan langsung terbatuk, tersedak air liurnya sendiri ketika Ariel menanyakan pertanyaan paling bodoh yang pernah ia dengar. Luhan langsung melotot ke arah Ariel, tapi gadis itu malah melingkarkan tangannya pada Irene dan menunjuk muka Luhan, “Lihat! Dia terlihat malu,” ucapnya yang membuat Irene tertawa.

“Kau ini…” Irene terlihat menyikut Ariel dan langsung tersenyum maklum ke arah Luhan.

“Kenapa tidak? Dia selalu bilang bahwa dirinya sangat terkenal di kampus. Tapi dia tidak begitu, kan? Nyatanya dia tidak pernah pacaran dengan siapa-siapa di kampusnya,” Ariel kembali berlagak imut dan membuat Luhan harus semakin ekstra sabar. Tentu saja ia tidak memacari siapapun di kampusnya karena ia sudah memiliki Ariel. Sebenarnya apa yang dipikirkan gadis ini.

Irene hanya tersenyum ke arah Luhan dan Ariel bergantian, dan dengan nada bijak, Irene mengalihkan topik pembicaraan, “Jadi, kau sudah lama tinggal dengan Luhan?”

Ariel mengangguk cepat, “Aku sudah tinggal dengan keluarganya empat tahun ini. Mereka semua sudah seperti orang tuaku sendiri, bahkan Mama Luhan pernah menjewer telingaku,” Ariel mengusap-usap telinganya –seolah mengkhayati rasa sakit di telinganya.

Setidaknya, Luhan juga tahu momen apa yang dimaksud.

“Pantas saja, Luhan sering sekali membicarakanmu. Kalian pasti sangat dekat,” Irene pun menoleh ke arah Luhan, “Bahkan kalian terlihat seperti sepasang kekasih.”

Ariel semakin melebarkan senyumnya, entah apa yang masuk ke dalam pikirannya sekarang, “Begitu ya? Eonni orang pertama yang berkata seperti itu, semua orang selalu menganggap Luhan kakak yang posesif, padahal dia menyebalkan.”

“Cukup, Ariel.”

Ariel mengabaikan teguran Luhan dan kembali menarik tangan Irene, “Eonni, lihat? Luhan sangat galak.”

Luhan pikir, sepertinya akan benar-benar menendang Ariel sampai ke luar galaksi setelah Irene pulang nanti. Anak ini sudah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia menggoda Irene seperti tadi? Menyudutkan Luhan, dan sekarang bersikap sok akrab seperti itu. Padahal dia gadis yang sangat sulit berinteraksi.

“Tapi…kau sudah lelah bermain timezone, kan? Bagaimana jika kita pergi ke dokter hewan? Aku dan Luhan menyelamatkan seekor anak kucing, sepertinya kita bisa mengambilnya, iya kan?” Irene tiba-tiba menyuarakan idenya.

Dan…yeah, Luhan menyerah pada keadaan ini. Luhan tidak mau tahu dan terseah semua pada Ariel dan Irene yang sejak tadi mengabaikan Luhan dan hanya terus mendiskusikan ini dan itu tanpa mengacuhkan Luhan.

“Ah…Luhan memang suka kucing,” Ariel pun menatap Luhan selama satu detik sebelum ia kembali menoleh ke arah Irene, “Baiklah! Ayo kita lihat anak kucingnya.” Dan dengan lagak semangat, Ariel pun langsung menarik tangan Irene.

 

***

 

Ariel juga sbenarnya suka kucing. Ia juga pernah merengek pada ibunya untuk dibelikan kucing –tapi Henry menolak mentah-mentah dan berkata Ariel bahkan tidak bisa mengurus diri sendiri, bagaimana dia mau mengurus kucing? Dan…akhirnya Ariel mengalah pada argument kakaknya yang sangat kuat.

Tapi, melihat bagaimana Irene dan Luhan begitu akrab saat membicarakan anak kucing yang tidak Ariel tahu, membuatnya malas untuk mengikuti mereka masuk ke dokter hewan yang dimaksud Irene tadi. Ariel bahkan memilih untuk berdiri di depan mobil ketimbang ikut masuk ke dalam.

“Ariel, bayi kucingnya lucu, kan?” Irene menyapa Ariel dengan sangat riang.

Ariel pun akhirnya au tak mau ikut menarik sudut bibirnya dan mendekat ke arah Irene. Ia terlanjur berakting sangat baik di depan Irene, melepas peran malaikat imutnya tadi sama sekali tidak mudah. Jadilah ia menghampiri Irene dan anak kucing yang berada di dalam kandang berwarna peach.

“Lucu sekali…. Eonni mau menamakannya siapa?” Ariel berjongkok dan menyentuh bayi kucing yang benar-benar berukuran mungil itu.

Irene melirik Luhan bergantian dengan kucing di tangannya, “Bagaimana jika Han? Agar aku selalu ingat bahwa Luhan yang telah menyelamatkan kucing ini,” Irene menjawab dengan bersemangat. Dan Luhan yang berdiri di samping Irene berlagak kesal karena namanya dipakai untuk bayi kucing itu. Sedangkan Ariel dan si kucing hanya menjadi cameo tanpa bayaran.

“Bukannya kau akan menyerahkannya ke fakultas kedokteran hewan?” kali ini Luhan yang bersuara.

“Entahlah, aku pikir tidak ada salahnya untuk membawanya pulang ke rumah.”

-dan sialnya, obrolan mereka berdua sepertinya masih akan berlangsung agak panjang. Ariel tidak tahu dunia kampus yang Luhan lakoni seperti apa, jadi sekali lagi, Ariel memilih diam dan menunggu mereka selesai bicara hingga Irene memutuskan pulang.

“Kalau begitu aku pulang dulu. Kalian harus mampir ke rumahku lain kali. Luhan sudah tahu rumahku, kan? Jadi kau bisa mengajak Ariel di lain waktu, aku akan membuatkan cake untuk kalian…”

Ariel menoleh cepat ke arah Luhan yang terlihat salah tingkah. Jadi, aroma lembut yang selalu menempel di jaket dan helm Luhan adalah aroma Irene? Ariel sebenarnya sudah dapat menebaknya, tapi mendengarnya langsung seperti itu ternyata membuat perasaannya tidak nyaman.

Dan, sepeninggal Irene, Ariel langsung berjalan masuk ke dalam mobil –ke arah jok belakang. Entah kenapa mengingat bahwa Irene baru saja duduk di jok depan membuatnya malas duduk di sana. Ia tidak ingin mencium aroma yang sama seperti yang ia cium seperti pada helm Luhan.

“Kenapa duduk di belakang? Pindah ke depan! Kau membuatku terlihat seperti supir,” gerutu Luhan saat ia sudah masuk ke mobil.

Ariel tidak menjawab dan hanya mendengus panjang, ia pun memalingkan wajahnya ke arah samping. Ia malas berbicara dengan Luhan untuk beberapa alasan –tidak peduli apakah mereka akan bertengkar atau tidak nantinya.

“Ariel…” panggil Luhan sekali lagi sembari melihat Ariel dari kaca spion depan. Kemudian ia pun menoleh ke belakang dan melihat Ariel langsung, “Jika kau tidak suka kencan kita terganggu lalu kenapa kau malah mengajaknya pergi bersama? Dan sekarang kau malah merajuk seperti itu…”

“Aku hanya ingin berkenalan dengan seorang Irene. Dan dia benar-benar berkelas, bahkan cara makannya saja seperti yang diajarkan guruku dulu. Pantas saja kau selalu berada di sekitarnya,” Ariel menyahut tanpa menoleh ke arah Luhan. Sama sekali tidak peduli dengan nadanya yang benar-benar terdengar ketus.

“Yak…berhenti bersikap kekanakan. Sudah kukatakan jangan suka membandingkan dirimu dengan orang lain,”

“Aku takkan membandingkan diri kami jika kau juga tidak kentara menunjukkan ketertarikan padanya.”

“Astaga…kami hanya teman. Kau juga selalu pergi dengan teman lelakimu,” Luhan mulai muak. Ia kesal karena tingkah Ariel seharian ini –dan sekarang Ariel malah menyalahkan semuanya pada Luhan.

“Lalu kenapa kau malah menghindar saat aku akan menciummu di depan Irene? Takut ketahuan karena kau sudah punya pasangan? Bahkan telingamu langsung memerah. Kenapa? Sebegitu malunya untuk mengakui aku di hadapan Irene?” Ariel pun mulai menaikkan suaranya. Ia kesal. Ia tahu ia lah yang mulai memainkan api ini sejak tadi, tapi ia benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat siapa Irene yangs elalu berada di sekitar Luhan.

“LAlu kau ingin aku mengumumkan bahwa kita sudah menikah? Aku yang berusia dua puluh tahun menikah dengan remaja tujuh belas tahun dan masih duduk di bangku SMA? Begitu?”

“Kau bisa mengakui bahwa kau sudah punya kekasih! Tapi nyatanya kau masih menganggapku adik, kan?”

“Kita tinggal berdua! Kau ingin berkata apa jika semua orang tahu bahwa kita sepasang kekasih yang tinggal bersama, hah?!” Luhan pun mendengus kasar, “Dengar! Bersikaplah dewasa, kau masih sekolah dan jika hubungan ini terungkap, imbas terbesar adalah terhadapmu! Kau kira aku melakukan ini hanya untukku sendiri?”

“Aku memang bukan gadis dewasa, aku tidak sedewasa Irene dan tidak secantik dia! Aku memang tidak pernah memikirkan imbas apapun atas hubungan kita! Jika kau memang mencintaiku kau tidak akan berteriak dan menyalahkanku sedangkan kau sendiri malah tidak mengakui istrimu sendiri!”

“Irene! Irene! Irene! Bisakah kau berhenti membawanya dalam masalah kita?! Kau selalu menyudutkanku dengan membawa Irene!”

“Kenapa? Karena kau tidak suka aku yang kau anggap alien ini dibandingkan dengan Irene? Karena kau tidak suka akan ketahuan Irene karena telah menikah? Karena kau tidak suka aku tahu bahwa kau ternyata pernah berkunjung ke rumah Irene?” Ariel pun menghapus air matanya yang entah sejak kapanmulai turun, “Jika kau memang mencintaiku, kau tidak akan tersudutkan karena Irene bukan siapa-siapamu. Kecuali jika kau memang tertarik padanya…”

“Stop, Ariel!”

“Baik! Aku aku akan diam!”

Ariel pun mencoba membuka pintu mobilnya.

“Sedikit saja kau keluar dari mobil akua kan marah padamu!” ancam Luhan penuh penekanan.

“I don’t care!” balas Ariel dan menutup pintu mobilnya dengan sangat keras. Dan entah beruntung atau tidak, Ariel langsung menemukan taksi yang kosong –dan ia pun segera masuk ke dalam taksi tanpa peduli pada teriakan Luhan yang bahkan mencuri perhatian orang-orang yang tengah berlalu lalang.

 

***

 

Sesampainya di apartemen mereka, Luhan disambut dengan hampir seluruh ruangan yang masih gelap. Luhan yakin Ariel sudah pulang –dan sapat dipastikan Ariel tidak pulang dalam keadaan baik-baik saja. Ariel sangat benci gelap, dan membiarkan seluruh ruangan tetap gelap seperti ini, membuat Luhan yakin bahwa Ariel langsung pergi ke kamarnya.

Luhan pun menyalakan semua lampu dan langsung berjalan ke dapur untuk mengambil air mineral. Luhan benar-bena merasakan sakit di kepalanya –ia tidak bermaksud berteriak pada Ariel. Demi Tuhan! Ia bahkan tidak bermaksud membuat Ariel menangis dan meninggalkannya. Ia bahkan bisa merasakan dadanya sangat sesak.

Harusnya Luhan tidak terbawa emosi. Harusnya Luhan bisa bersikap lebih dewasa.

Luhan pun kembali memasukkan air mineralnya dan membanting pintu kulkas.

 

***

 

“Aku sudah membuat ramen kesukaanmu, turun dan makanlah!” ucap Luhan sembari menarik headphone yangd ditempel di kepala Ariel. Sesampainya di dalamkamar, Luhan justru mendapati Ariel yang tengah duduk di hadapan meja belajar dengan suara ingus tertahannya. Dia masih menangis.

Ariel sama sekali tak mengacuhkan Luhan dan kembali menarik headphone-nya, kemudian ia pura-pura membaca buku di hadapannya, masih dengan suara ingus yang belum berhenti dari hidungnya.

Luhan pun kembali menarik headphone Ariel dan melemparnya ke atas ranjang, kemudian ia menarik kursi yang diduduki Ariel agar menghadap ke arahnya, lalu Luhan pun membungkukkan badannya dan menghadapkan wajahnya ke depan Ariel, “Lihat aku,” Luhan pun mengangkat dagu Ariel, “Tatap mataku saat aku sedang bicara. Dan dengarkan ini baik-baik, aku tidak akan mengulang lagi kalimatku dan cerna dengan baik.”

“Pertama, aku mencintaimu. Baiklah, katakan Irene memang begitu cantik dan menawan. Kau yang paling tahu bagaimana diriku, termasuk bagaimana kriteria gadis yang pernah berkencan denganku. Dan.aku akui aku memang sangat dekat dengannya. Aku bahkan sering mengantarnya pulang dan aku memang tahu dimana rumahnya, Ariel tetap lihat aku…” Luhan menghela napas dan melanjutkan, “Tapi aku mencintaimu. Aku mencintaimu dan aku memilihmu. Dan yang kedua, aku memang sengaja tidak mengatakan pada teman kuliahku bahwa aku sudah memiliki kekasih atau apapun itu, dan aku masih mengakuimu sebagai sepupuku. Kau tahu kenapa? Agar mereka tidak mencurigai kita yang tinggal bersama dan aku serius soal itu.”

“Lalu, yang ketiga, jika kau bertanya apa alasanku untuk menyembunyikan hubungan kita, karena aku tidak ingin orang lain menatap buruk padamu. Kau akan dicap sebagai istri seseorang di usiamu yang masih sangat muda, dan mereka akan memikirkan hal terburuk sekalipun darid irimu, membayangkan hal terburuk tentangmu, image mengenai dirimu akan berubah di mata orang-orang. Kau kira aku suka saat mereka membicarakanmu danmungkin menuduhmu yang tidak-tidak karena kita menikah muda? Kau pernah memiliki phobia sosial yang parah dan aku tidak ingin melihatmu tidak bisa berbaur dengan orang-orang karena mungkin mereka membicarakanmu bahkan di depan batang hidungmu sendiri.”

Luhan pun berlutut dan menghapus air mata Ariel yang kembali meleleh, “Dan…maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu sejauh ini. Aku memang brengsek dan…aku hanya bisa mengucapkan maaf padamu,” kemudian Luhan pun menarik Ariel ke dalam pelukannya, “Mungkin ini kedengarannya gombal, tapi aku benar-benar merasa sakit hati saat melihatmu menangis seperti ini.”

Bukannya behenti menangis, tangis Ariel justru semakin keras ketika ia menyembunyikan wajahnya di balik pundak Luhan.

 

20161123 AM0059

 

5 responses to “Way of Two Rings (chapter 22b)

  1. Wahhh….entah kenapa. ….Klo q masih nangis kaya ariel Klo jd dia…secara luhan selama ini kan bisa dibilang player.jd g begitu ngena dihati ppengakuannya.yg ada rasa was was…hehehe maaf ya lu.. takutnya sekali ariel bikin masalah luhan lsg berpaling ke irene….

  2. sepertinya luhan benar” tulus sma ariel, hanya saja aku ndak tau smpai kpan luhan akan tetap sperti itu. aku tkut tmbah lama dg merahasiakan hbngannya dg ariel mlah bkin irene brharap lebih sma luhan. ntahlah aku jadi merasa akan trjadi sesuatu..

  3. sweet banget ya ampuuuuuuuun . . ternyata luhan emang tulus dan cinta banget sama ariel. . duuuh akhirnyaaaa luhan bilang sejujurnya sama ariel YEY!!!!!!! semoga dg gini mereka gak bertengkar lagiiiiiiii!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s