SUICIDE FORUM [Part 2 : Who is Who (Flashback part)]

suicide-forum-new

Title :

Suicide Forum

 

Author :

Citra Pertiwi Putri / Citrapertiwtiw

 

Genre :

Romance, Mystery, Suspense, Horror-Thriller

 

Casts :

INFINITE’s L / Kim Myungsoo

A Pink’s Son Naeun

INFINITE’s Nam Woohyun

A Pink’s Park Chorong

Girl’s Day Yura

VIXX’s Ken

VIXX’s N

 

Rating :

NC17 (aware for some mature contents)

 

Type :

Chaptered

Note : Sebelumnya aku minta maaf banget karena lagi-lagi update cerita sebulan (malah lebih) sekali. Bukan sengaja, kebetulan sedang sibuk-sibuknya kuliah dan bahkan bentar lagi bakalan persiapan sidang penelitian, doain yah. Wkwk. Sebelum sidang, aku sempetin bikin flashback part yang complicated ini, hehehe. Semoga menjawab rasa penasaran dan pertanyaan kalian di part pertama. Selamat membaca!

 

Cerita sebelumnya :

Part 1 : Log in

 

Ringkasan cerita sebelumnya :

Kim Myungsoo yang telah lumpuh dan kehilangan sebagian ingatannya akibat kecelakaan dan terkurung dalam apartemennya selama kurang lebih lima bulan mulai menyerah dengan kehidupannya yang menyedihkan. Di tengah rasa putus asanya, ia menemukan sebuah forum bunuh diri di internet. Dalam temuannya itu, ia juga menemui sesuatu yang penting namun telah menghilang dalam ingatannya.

Myungsoo tak bisa mengingat mengapa sebuah akun dengan nama ‘DarkAngel’ terregistrasi di komputernya sebagai salah satu pengguna situs bunuh diri yang ia temukan. Pada awalnya, lelaki itu mencoba untuk tak peduli dan membuat akun lain untuk menjelajah situs tersebut, namun ia kembali menemukan sang ‘DarkAngel’ dalam suatu forum situs itu. Menariknya, akun itu sedang menjadi ‘musuh’ para user karena mencoba menghalang-halangi semua orang yang ingin bunuh diri disana.

 

Sementara di tempat lain, Son Naeun, seorang dokter jiwa, menjalani kehidupannya dengan penuh kekalutan. Ia adalah bagian dari hidup Kim Myungsoo, yang mungkin saja telah terlupakan.

 

Apa yang terjadi dalam masa lalu mereka? Dan siapa saja orang-orang yang terlibat dalam kisah mereka?

 

SUICIDE FORUM : http://www.killyourself.com | Part 2 : Who is Who [flashback part]

 

Author’s POV

 

Musim semi, 8 tahun yang lalu..

10 Mei 2008. Hari pertemuan pertama.

 

Klik!

Klik!

 

Naeun bersumpah dalam hatinya bahwa ini sudah kesekian kalinya ia mendengar suara jepretan kamera di dekatnya. Awalnya ia tak peduli, namun lama kelamaan suara itu semakin jelas dan mengganggunya.

Gadis itupun menurunkan buku tebal yang ia baca untuk sejenak, kepalanya mulai menoleh kesana kemari, mencari asal suara itu dengan sedikit jengkel.

Klik!

“ Argh!”

Ia menjerit ketika menoleh, sebuah lensa kamera hampir mengenai wajahnya. Sejak kapan benda itu ada didekatnya dalam jarak sedekat ini?

“ Hahaha.. maaf membuatmu terkejut.”

Sang pelaku menurunkan kameranya dan tertawa kecil sembari memperhatikan hasil jepretannya sejak tadi. Naeun masih keheranan karena ia terlihat sangat asing. Lagipula memang sangat sedikit lelaki yang ia kenal di kawasan fakultasnya sendiri.

“ Siapa kau?”

“ Ah.. benar kan, dengan wajah seperti ini.. kau tidak cocok menjadi dokter.”

Mengapa ia tidak menjawab pertanyaanku? Naeun semakin dongkol.

“ Hei, kau siapa? Kau sangat mengganggu—“

Ucapan gadis itu terhenti ketika lelaki itu mengangkat wajahnya dan kembali tertawa kecil.

“ Kau pasti angkatan baru.”katanya menebak.

Naeun masih terdiam. Ada apa dengannya? Ia sendiri tak tahu. Apa karena lelaki didepannya ini rupanya memiliki ketampanan tak terduga dan membuat mulutnya terkunci secara otomatis?

“ M..memang kenapa?”akhirnya gadis itu kembali bersuara dengan mata tak berkedip.

“ Pantas saja kau tidak kenal denganku.”

“ Kalaupun aku angkatan lama, belum tentu aku mengenalmu juga.”

“ Tidak mungkin. Kau pasti akan mengenalku.”

“ Memangnya kau siapa?”

Lagi-lagi lelaki itu tertawa kecil, tangannya mengeluarkan sesuatu dari saku jeans hitam yang dikenakannya. Sebuah kartu nama.

“ Hubungi aku kalau ingin difoto lagi. Kalau bisa jangan pakai jas itu lagi. Tadi aku sudah bilang kan kalau kau tidak cocok jadi dokter?”

Naeun menerima kartu namanya dengan perasaan ragu sekaligus bingung. Lelaki itupun balik kanan dan pergi dari gedung perpustakaan dengan kepala menunduk sebab ia terus saja sibuk dengan kamera DSLR-nya.

Naeun masih terpaku, ia tak pernah mengalami kejadian seaneh ini. Siapa laki-laki itu? Apa yang dia inginkan? Mengapa ia muncul tiba-tiba dan memotretnya sejak tadi?

Gadis itu membaca kartu namanya.

 

“ Fotografer L? namanya hanya satu huruf? Yang benar saja..”

***

 

11 Mei 2008. Perselisihan.

 

“ Apa yang kau cari sejak tadi, huh? Kenapa tidak belajar saja di kelas? Kau ada ujian blok hari ini kan?”

Naeun tak memperdulikan Woohyun yang sejak tadi mengoceh di sampingnya. Pagi itu, ia mencari album angkatan di gedung perpustakaan fakultasnya.

“ Mumpung aku masih ingat wajahnya, aku cari saja sekarang..”jawab gadis itu sembari sedikit bergumam.

“ Siapa?”

“ Aku juga tidak tahu, makanya aku cari.”

“ Penting?”

“ Penting, aku tidak bisa ujian kalau masih dihantui rasa penasaran.”

“ Kalau kau gagal ujian Dokter Son akan membunuhku. Jangan macam-macam.”

Naeun tertawa kecil, “ Makanya biarkan aku menyelesaikan rasa penasaran ini dulu, sunbae.”

Woohyun mendekat dan ikut memperhatikan lembaran demi lembaran album angkatan yang tengah dibuka oleh Naeun.

“ Kau menemui seseorang kemarin?”tebak lelaki itu.

“ Hm.”

“ Dimana?”

“ Disini juga. Di area Psikiatri.”

“ Laki-laki?”

“ Ssst.. jangan keras-keras.”

“ Hah? Kau gila ya?!”

“ Ck, ini bukan seperti yang kau pikirkan. Dia.. datang tiba-tiba saja. Begitulah. Aku juga tidak mengerti.”

“ Jangan-jangan..”

“ NAH! Ini orangnya! Tuh kan! Dia pasti mahasiswa disini juga!”

Naeun menunjuk foto lelaki yang ia yakini adalah lelaki yang ia temui kemarin sore dan memotretnya sembarangan lalu meninggalkan kartu nama yang ‘aneh’ untuknya.

“ Dia masih keliaran disini?”

Woohyun tiba-tiba bergumam ketika melihat foto yang ditunjuk Naeun, membuat gadis itu terkejut dan heran.

“ Maksudmu apa, sunbae?”

“ Sudahlah. Kembali saja ke kelasmu dan siap-siap ujian. Kau tidak mau ayahmu membantaiku, kan?”

Woohyun menjauh dan kembali fokus dengan bukunya sendiri.

“ Kau kenal dengan orang ini?” Naeun masih saja penasaran meski ia sadari Woohyun terlihat tak suka entah apa alasannya.

“ Ujian sana.”

“ Bilang dulu padaku.”

Woohyun diam sejenak. Sedikit heran mengapa Naeun sepenasaran ini.

“ Kalau nilai ujianmu bisa dapat A, aku akan beritahu.”putusnya.

Naeun mendadak jengkel.

“ Apa kau sengaja? Selama ini aku kan tidak pernah dapat nilai A.”

“ Siapa tahu rasa penasaranmu bisa menjadi motivasi.”

“ Ck, bilang saja kau tidak mau beritahu aku. Kalau begitu aku cari tahu saja sendiri.”

“ Cari saja. Tidak akan ketemu. Akulah yang paling tahu siapa dia.”

Bukannya memperoleh petunjuk, Naeun justru semakin dibuat penasaran. Gadis itu hampir putus asa.

“ Nilai A, kan? Lihat saja.”

Dengan kesal, Naeun menutup album di tangannya dan membawanya pergi, rupanya ia ingin meminjamnya dari perpustakaan. Woohyun tak peduli dan hanya tertawa remeh.

“…kenapa harus nilai A? memangnya dia akan dapat hadiah apa kalau aku dapat nilai segitu?” Naeun masih menggerutu sambil berlari kecil keluar dari gedung perpustakaan, ia akan menggunakan waktunya yang terbatas untuk belajar sebelum ujian dimulai.

Menjadi ‘adik istimewa’ dari Nam Woohyun terkadang memang menjadi beban bagi Naeun. Gadis itu mengerti mengapa kedua orangtuanya menitipkannya pada mahasiswa tercerdas di fakultasnya itu, tapi cara Woohyun membimbingnya nyaris membuatnya stres. Seandainya saja ia bisa lebih pintar, mungkin orangtuanya tak perlu meminta Woohyun untuk menjadi pembimbingnya selama kuliah.

Nam Woohyun adalah satu-satunya yang tahu bahwa Naeun adalah putri tunggal dari keluarga dokter Son, ia beruntung karena berhasil menjadi mahasiswa fakultas kedokteran ‘Sons’ paling cerdas dan memikat kedua orangtua Naeun untuk menjadikannya orang yang mengajari dan mengawasi Naeun agar gadis itu bisa menjadi dokter yang diinginkan keluarga Son. Karena merasa punya ‘wewenang’ untuk mengendalikan Naeun, Woohyun kadang bersikap seenaknya, ia bahkan rutin membuat laporan khusus untuk keluarga Son mengenai apa saja kegiatan dan prestasi Naeun setiap minggu, yang membuatnya sengaja atau tidak sengaja, mulai mencampuri kehidupan pribadi gadis itu.

Dan anehnya, meski ia sesibuk itu mengurusi Naeun, ia selalu punya waktu untuk belajar dan memperoleh nilai sempurna di semua mata kuliah.

*

 

12 Mei 2008. Perubahan dan pengakuan.

 

“ Tepati janjimu!”

Di hari selanjutnya, Naeun dengan sengaja menunggui Woohyun menyelesaikan praktikumnya di laboratorium untuk menyerahkan hasil ujiannya yang sudah dinilai. Sekeluarnya sang senior dari laboratorium, gadis itu tak lagi berbasa-basi dan segera menagih janjinya.

Nilai A. Woohyun setengah tak percaya saat Naeun dengan semangatnya menyerahkan lembar hasil ujiannya.

“ Kau sedang kerasukan setan saat mengerjakan ini, huh?”

“ Sialan.” Naeun mendengus kesal. Woohyun memang selalu merendahkannya.

“ Kau mengerjakannya dengan jujur, kan?”

“…”

“ Hei.” Woohyun mulai curiga karena Naeun diam saja.

“ Apa pedulimu ini jujur atau tidak? Yang penting aku dapat A!” gadis itu benar-benar jengkel sekaligus salah tingkah karena Woohyun mencurigainya. Ia memang selalu sulit membohongi pembimbingnya yang kejam ini. Perihal nilainya, karena ia sudah kepalang penasaran mengenai lelaki fotografer yang mendatanginya tiba-tiba, ia memang tidak jujur dan terpaksa menghubungi orang lain secara sembunyi-sembunyi untuk membantunya mengerjakan ujian.

“ Tentu saja aku peduli, ini—“

“ Kemarin kau bilang nilai A saja, bukan nilai A dengan jujur.”

Woohyun tertawa dan mengacak-acak rambut indah gadis itu dengan gemas. Naeun memang sepolos ini, dan rupanya ia bisa saja menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

“ Jadi, mau mulai darimana aku cerita tentang laki-laki itu?”tanya Woohyun dengan nada pasrah, bagaimanapun juga ia sudah berjanji dan ia tak ingin Naeun melakukan hal aneh lagi.

“ Ah! Ini..”dengan sedikit kerepotan Naeun membuka tasnya dan mengeluarkan album angkatan yang ia pinjam dari perpustakaan kemarin, tangannya kemudian aktif membuka lembarannya.

“…aku baru sadar kalau foto dia satu-satunya yang tidak diberi nama.” Naeun menunjukkan lagi foto formal lelaki tampan yang ia temui tempo hari, “ Kalau dilihat-lihat.. namanya seperti dihapus, ya? Bagaimana bisa?”

Woohyun sedikit tertawa sinis melihat Naeun yang begitu berapi-api.

“ Apa kau bertemu lagi dengannya?”tanya Woohyun.

Naeun menggeleng, “ Aku sampai mencarinya hingga kemarin pulang malam dari sini, tapi aku tidak melihatnya lagi. Padahal.. dia kuliah disini juga, kan? Dari album ini.. dia dua tingkat di atasku dan setahun di bawahmu. Aku ingin tanya dengan mahasiswa yang seangkatan dengannya, tapi aku sangat malu.”

“ Kau bilang kau diberi kartu nama. Kenapa tidak menghubunginya saja langsung?”

“ Aku lebih malu lagi melakukan itu. Ceritakan saja dulu siapa dia, Woohyun sunbae. Selengkap-lengkapnya, segala yang kau tahu.”

Woohyun diam sejenak, ini pertama kalinya ia melihat Naeun begitu penasaran tentang laki-laki. Jujur, ini membuatnya sedikit khawatir dengan alasan tertentu.

“ Karena kau mengerjakan ujianmu dengan tidak jujur, aku hanya akan melayani 3 pertanyaan.”

“ Hah? Hei! Kenapa pakai syarat lagi!?” Naeun dongkol kembali, mengapa Woohyun seakan-akan terus menunda janjinya?

“ Kalau tidak mau ya sudah.”

Naeun menggaruk kepalanya sejenak, berpikir.

“ Hah.. baiklah. Pertama, siapa namanya? Apa benar namanya hanya..L?”

“ Itu nama samarannya. Nama aslinya Kim Myungsoo.”

“ Kim Myungsoo.. ah.. Kim Myungsoo..” Naeun sedikit berseri dan menggumamkan nama itu berulang kali, “…kenapa.. namanya dihapus dari album angkatan?”

“ Karena dia tidak kuliah disini lagi. Dan karena keluarganya yang secara khusus meminta pihak fakultas untuk menghapus semua data tentang dia dari sini. Fotonya di album angkatan mungkin satu-satunya yang tersisa.”

Naeun terkejut dan terdiam beberapa saat, memikirkan pertanyaan terakhir yang paling tepat sebab beribu tanda tanya muncul di benaknya setelah mendengar jawaban Woohyun. Kenapa Myungsoo keluar dari fakultas yang luar biasa sulit dimasuki ini disaat banyak remaja lain diluar sana yang begitu ingin menempuh pendidikan di fakultas kedokteran elit ini? Kapan tepatnya ia keluar? Kenapa Myungsoo masih muncul di fakultas ini meski ia sudah keluar? Apa penyebab ia keluar? Dan.. siapa keluarganya? Mengapa mereka punya kekuatan untuk memerintahkan keluarga dokter Son selaku pemilik utama fakultas untuk menghapus data tentangnya? Sebab Naeun tahu betul, siapapun yang keluar dari fakultas kedokteran milik keluarganya ini akan tetap disimpan data-datanya.

“ Kenapa lama sekali berpikirnya? Aku sibuk. Cepatlah.” Woohyun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya dan bersiap untuk pergi. Ia tak mencari alasan, hari itu ia memang harus belajar ekstra sebab esok ia akan mengikuti debat mahasiswa tahunan.

“ Kenapa dia keluar dari sini?” Naeun akhirnya bersuara, mengeluarkan satu pertanyaan yang paling membuatnya penasaran.

“ Tentu saja karena dia melakukan kesalahan.”jawab Woohyun enteng.

“ Kesalahan apa?”

“ Aku sudah melayani tiga pertanyaan. Bye.” Woohyun mulai melangkah dan ingin meninggalkannya, namun Naeun berhasil menarik jas lab yang masih ia kenakan.

“ Kau pasti bermasalah dengannya.”tebak gadis itu sembari menatapnya dengan agak tajam.

“ Tapi dia yang keluar dari sini. Jadi bisa kau simpulkan siapa yang salah.”

Jawaban Woohyun sekaligus memberikan konfirmasi bahwa ia memang memiliki masalah dengan lelaki yang menarik perhatian Naeun itu –Kim Myungsoo-. Apa masalah mereka? Lagi-lagi Woohyun justru membuat Naeun semakin penasaran.

“ Aku masih ingin tahu banyak. Apa susahnya bercerita, sih?” gadis itu mulai memelas, tangannya semakin erat meremas jas lab Woohyun, tak membiarkan sang senior pergi.

“ Kenapa kau begitu penasaran? Sebelumnya kau sama sekali tak pernah seperti ini, apa yang ter—“

“ Aku menyukainya.”

Woohyun tersentak.

“ Semudah itu?”

Naeun mengangguk, “ Aku ingin tahu banyak tentang dia, bukan karena aku ingin menilainya. Tapi aku ingin memastikan perasaanku. Seburuk apapun dia, sepertinya aku akan tetap menyukainya.”

Woohyun sungguh tak mengerti. Apa ini karena sejak lahir Naeun begitu dijaga ketat oleh keluarganya dan dilarang keras bergaul dengan laki-laki selain Nam Woohyun? Atau karena Myungsoo terlalu tampan? Jika salah satu dari itu alasannya, semua ini benar-benar terlalu bodoh.

“ Jangan bodoh. Kau baru bertemu sekali dengannya. Apa kau yakin kau menyukainya?”

Naeun mengangguk lagi tanpa keraguan.

“ Ah.. tidak. Kurasa aku tidak hanya menyukainya.”tambah gadis itu sembari tersenyum kecil.

“ Apa lagi?”

“ Aku mencintainya.”

Yang benar saja.

Woohyun semakin tak habis pikir. Apa yang sudah Myungsoo lakukan hingga Naeun seolah kehilangan kewarasannya seperti ini?

“ Hentikan saja sekarang, Son Naeun. Aku tak akan membiarkanmu melanjutkan perasaan bodohmu itu.”

Naeun tertawa sinis dan mendekat.

“ Aku akan tetap mempertahankan perasaan ini jika kau tidak mau bercerita lagi tentang dia.”

“ Naeun, kumohon.. aku ingin kau jauh-jauh saja darinya, ini terlalu—“

“ Untuk apa aku menjauhinya tanpa kutahu alasannya?”

“ Jauhi saja. Ini perintah dariku.”

Naeun menggeleng kuat-kuat, “ Aku mencintainya. Dan akan terus seperti itu. Kau tidak berhak mencampuri urusan perasaanku. Perhatikan batasmu atas diriku, sunbae.”

Gadis itu berlalu duluan dengan langkah yang menunjukkan kemarahan, Woohyun mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi, ini pertama kalinya ia melihat Naeun begitu berbeda.

Rasanya terlalu aneh saja jika ia bisa jatuh cinta semudah itu.

 

“ Kim Myungsoo. Ia keluar dari sini setahun yang lalu. Ia sengaja melakukan semua pelanggaran agar bisa dikeluarkan dari sini. Ia keluar dari sini ketika ia nyaris melakukan pelanggaran yang sangat fatal dan mengancam keluarganya sendiri.”

 

Naeun menghentikan langkahnya, terkejut karena Woohyun tiba-tiba mau berbicara panjang lebar. Namun tetap saja, setiap perkataan Woohyun selalu memunculkan pertanyaan baru lagi baginya.

“ Lalu? Apa lagi?” gadis itu berbalik dan meminta informasi lebih dengan wajah memelas.

“ Apa itu tidak cukup untuk membuatmu berubah pikiran?”

“ Kubilang aku tidak peduli seburuk apa dia—“

“ Apa aku mengizinkanmu menyukai laki-laki bermasalah seperti itu?”

“ Aku tidak perlu izinmu.”

“ Kau perlu. Aku adalah mata dari keluarga dokter Son disini, kau pikir mereka akan membiarkanmu seperti ini?”

Tangan gadis itu mengepal, rahangnya mengeras menahan marah.

“ Sudah kubilang kau harus lihat batasanmu, Woohyun sunbae. Jika kau bermasalah dengan Kim Myungsoo, itu bukan urusanku, jangan mempengaruhiku untuk ikut membencinya.”

“ Kau akan menyesal, Son Naeun.”

Woohyun sudah lelah dan meninggalkannya duluan beberapa langkah.

BUK!

“ Ah!”

Lelaki itu terkejut karena Naeun melemparnya sekuat tenaga dengan album angkatan, tepat mengenai bahu lebarnya.

Ketika ia berbalik, tampak sosok Naeun menunjukkan jari tengahnya.

*

 

13 Mei 2008. Semuanya dimulai dari sini.

 

Woohyun telah duduk di salah satu bangku yang disediakan di panggung auditorium, ruangan terbesar di fakultasnya itu mulai diisi dengan seluruh mahasiswa serta para undangan yang akan menyaksikan debat mahasiswanya. Ia duduk sendirian di panggung karena lawannya dari fakultas lain belum datang hingga sekarang.

Lelaki itu memijat keningnya berkali-kali, perilaku Naeun kemarin masih sangat mengganggunya. Kepribadian gadis itu seolah telah berubah drastis dalam semalam, bagaimana bisa seorang gadis yang manis dan penurut tiba-tiba berani menunjukkan jari tengahnya pada seorang yang lebih tua darinya?

Hal itu juga yang membuatnya terpaksa tidak mau tahu keadaan Naeun hari ini, lagipula gadis itu menghilang dan mungkin saja tak mau menyaksikan debatnya. Padahal, ini adalah debat terakhir yang ia ikuti sebelum ia benar-benar fokus dengan sidang kelulusannya yang tinggal beberapa bulan lagi.

“ Kim Myungsoo.. untuk apa bajingan itu mendekati Naeun..”

Woohyun meremas kertas materinya dengan jengkel. Ia begitu sulit berkonsentrasi. Tentu karena mau tidak mau, suka tidak suka, bagaimanapun nalurinya untuk menjaga Son Naeun sudah sangat melekat dalam dirinya. Ia khawatir, penasaran, dan ingin melihat gadis itu hari ini. Rasa takut jika ia lalai menjalankan tugas dari keluarga Son sudah mulai mendarah daging dalam dirinya.

“ Apa yang kau lakukan? Semangat sekali sepertinya.”

Seseorang membuyarkan kekesalannya dan menertawakan kertasnya yang kusut karena diremas sekuat tenaga.

Park Chorong, saingan tetapnya dalam setiap debat. Calon dokter jenius itu baru saja datang dan ia memang selalu terlambat, seolah mengejek Woohyun karena meski ia selalu tak disiplin dengan kedatangannya, ia tetap bisa mengalahkan lawannya itu.

“ Aku sampai sini saja!”

Woohyun berbalik, sadar bahwa Naeun ada di lorong panggung dan baru saja mengantarkan Chorong. Mereka memang teman dekat. Atau lebih tepatnya, Woohyun yang mengenalkan mereka dahulu, lelaki itu memang punya tujuan membuat Naeun semakin pintar dengan mengenal orang-orang seperti Park Chorong. Tidak disangka jika kenyataannya sekarang dua gadis itu menjadi cukup akrab dan Woohyun yang justru kadang-kadang ‘dimusuhi’ oleh mereka.

“ Tidak ingin memberi semangat pada oppamu ini?”tanya Chorong sembari meletakkan tasnya di bangku yang berhadapan dengan Woohyun, masih dengan nada sarkastis khasnya.

“ Semangat, Chorong sunbae. Aku harap kau menang lagi!”

Setelah itu Naeun pergi, seolah tak menganggap lelaki yang memperhatikannya dengan gemas sejak tadi.

“ Haha. Ini debat terakhir dan dia berubah haluan. Kau pasti memarahinya kemarin.” Chorong tertawa sinis, “…apa karena aku membantunya saat ujian kemarin? Dia bilang dia harus dapat A karenamu.”

Woohyun masih diam, ia memang tak pernah mau peduli jika Chorong memancing kekesalannya seperti ini.

Karena sia-sia saja, Nam Woohyun terlalu menyukainya hingga tak punya kekuatan untuk melawan. Bahkan, seandainya Park Chorong tahu, Woohyun selalu sengaja mengalah untuknya di setiap debat. Meski bukan berarti kemenangannya selama ini karena perilaku tersembunyi lelaki itu. Chorong begitu cerdas, dan ia tak tahu bahwa Woohyun lebih suka mengaguminya ketimbang bersaing dengannya.

Hingga mereka sampai di debat terakhir ini, Woohyun masih berniat melakukan kebiasaannya untuk mengalah, meski hadiah untuk pemenangnya adalah ‘tiket’ gratis untuk melanjutkan studi spesialisasi di Fakultas Kedokterannya sendiri. Tentu saja, ia ingin Park Chorong kuliah di tempat ini juga, gadis itu terlalu berharga untuk fakultas lain. Woohyun ingin mereka yang notabene sama-sama mahasiswa sederhana, kuliah bersama-sama hingga menjadi dokter yang sukses di tempat bergengsi ini, sebab meski tak memenangi debat, ia sudah mengantongi tiket gratis itu karena selama ini ia menjadi ‘penjaga’ Son Naeun, putri tunggal dari pemilik Fakultas bahkan Medical Center.

*

 

“ Kau dapat nilai A kemarin?”

Naeun mengangguk saja, ia merasa jengkel karena rupanya Woohyun melaporkan itu pada keluarganya. Saat ini ia berada dalam mobil dokter Son untuk melakukan evaluasi mingguan, hal rutin yang selalu dilakukan ayah dan ibunya untuk mengawasi Naeun secara ketat melalui laporan yang dibuat oleh Woohyun.

“…hebat sekali, ini nilai A pertamamu setelah tiga semester disini.”

Kali ini gadis itu merasa sedikit terhina oleh dirinya sendiri, tentu karena ia tidak memperolehnya dengan usaha. Ia terpaksa menghubungi Park Chorong untuk membantunya.

“…aku akan minta soal ujianmu yang ini pada dosenmu, kita lihat apa kau memang bisa mengerjakannya.”

“ Yah! Untuk apa!?” gadis itu sedikit panik mendengar perkataan ayahnya.

“ Kenapa terkejut sekali? Kau dapat B saja kita uji ulang, apalagi A.”sang ibu mengelus rambutnya dengan gemas.

Untuk pertama kalinya, Naeun merasa sesuatu menginjak-injak sisi berontaknya. Kapan ia bisa berhenti diperlakukan seperti ini? Ia begitu ingin marah, tapi kesadarannya bahwa ia putri tunggal dan akan melanjutkan tanggung jawab orangtuanya sebagai ‘penguasa’ bidang medis di Korea Selatan membuatnya terlalu takut untuk berbuat macam-macam.

Kedua orangtuanya masih membolak-balik laporan di tangan mereka, dan Naeun begitu gelisah, ia takut perlakuannya pada Nam Woohyun kemarin ikut tertulis disana. Siapa tahu saja ‘sang pembimbing’ itu dendam padanya.

Mata gadis itu hanya mengarah ke luar jendela sambil terus berpikir bagaimana caranya keluar. Rasa penyesalan menyelimutinya. Mengapa kemarin ia begitu berani pada Woohyun tanpa mengingat wewenangnya memberikan laporan pada kedua orangtuanya?

Di tengah rasa takut yang masih menekannya, mata bening gadis itu tiba-tiba menangkap sesuatu di luar jendela.

Itu dia. Alasan keberaniannya atas kejadian kemarin. Naeun bersumpah bahwa ia tak salah lihat.

Kim Myungsoo berada di kawasan fakultasnya, di tengah kerumunan orang yang ingin memasuki auditorium!

Tangan gadis itu mendadak berkeringat dingin, dadanya bergejolak dan aliran darah di kepalanya terasa tak lagi bekerja dengan normal.

Aku tak boleh kehilangan jejaknya. Pikir gadis itu. Ia segera membuka pintu mobil dan turun dari sana lalu beralasan pada kedua orangtuanya yang masih belum puas melakukan evaluasi.

“ Bisa kita lanjutkan nanti? Debatnya sudah mau dimulai, sebaiknya kita ke auditorium.”

Setelah itu ia berlari kecil lebih duluan menuju tengah kerumunan. Ia memang harus terpisah dengan kedua orangtuanya dalam mata publik karena memang belum ada yang boleh tahu bahwa ia merupakan putri tunggal keluarga Son.

Namun untuk kali ini, tentu terdapat alasan lain. Siapa lagi kalau bukan lelaki yang seolah membuat Naeun menjadi setengah gila seperti ini. Gadis itu masih sibuk berlari-lari kecil mencarinya, ia sedikit panik karena merasa kehilangan jejak.

“ Kim Yura! Kim Yura!”

Di tengah kesibukan gadis itu mencari Myungsoo, telinganya mendengar beberapa sahutan mahasiswa, menyebut nama seseorang yang sama sekali tak asing bagi Naeun.

“ Kim Yura? Dia ada disini?”

Konsentrasi gadis itu terpecah, sekarang ia ikut linglung mencari-cari karena penasaran. Tentu saja, ia juga sama seperti mahasiswa lainnya, mengidolakan seorang Kim Yura.

“…itu dia!”

Naeun nyaris melompat kegirangan karena berhasil menemukan sosok yang sejak tadi menjadi pemicu keramaian di antara para mahasiswa yang seharusnya sudah memasuki auditorium untuk menonton debat. Gadis itu melihat Kim Yura yang diidolakannya berjalan masuk dari gerbang utama fakultasnya, ia pun buru-buru mengeluarkan buku serta pulpennya untuk meminta tanda tangan. Satu sisi, ia menyesal karena tentu saja hal ini membuatnya semakin kehilangan jejak Myungsoo, namun bertemu langsung dengan Kim Yura adalah momen yang sangat langka.

Memangnya, siapa Kim Yura?

Ia mahasiswi yang berasal dari fakultas bisnis The King University. Tak hanya itu, ia juga seorang duta mahasiswa dan ia sangat populer di kalangan pelajar serta mahasiswa. Bukan hanya karena berwajah sangat cantik, bertubuh tinggi sempurna, dan berbagai kesempurnaan fisik lainnya yang ia miliki, ia juga terkenal karena kecerdasan dan sifat ramah serta humorisnya. Ia juga punya kepedulian sosial yang sangat tinggi dan sering mengadakan kegiatan sosial untuk para pelajar dan mahasiswa dengan budget fantastis. Semua mahasiswa yang mengidolakannya bahkan menyebutnya ‘bukan manusia’ karena ia terlalu sempurna. Naeun yang jarang memiliki hubungan sosial bisa mengenalnya karena Yura begitu aktif di setiap forum mahasiswa, ia juga sering muncul di majalah-majalah kampus. Naeun begitu ingin seperti dia.

Kaki gadis itu kini mengikuti pergerakan Yura, yang saat ini berlari-lari kecil. Yura tidak kelihatan menghindari semua mahasiswa yang menjadi penggemarnya, namun sepertinya ia memang memiliki tempat tujuan.

Tidak mungkin.

Lutut Naeun melemah, Yura berhenti di mulut pintu auditorium dan mendekati seorang lelaki dengan wajah penuh semangat dan berbicara dengan antusias pada lelaki itu, entah apa yang ia bicarakan.

Kim Myungsoo. Lelaki itu rupanya sudah berdiri di mulut pintu auditorium sembari terus sibuk memperhatikan layar kamera DSLR-nya, sepertinya benda itu memang tak pernah bisa lepas dari tangannya. Apa dia disini karena Yura? Atau sebaliknya?

Jujur, Naeun memang penggemar Kim Yura. Namun perasaan gadis itu mulai campur aduk dan tak menentu jika melihat Yura dengan lelaki yang menarik perhatiannya. Mereka terlihat sangat pantas bersama-sama, namun tetap saja..

Argh, sialan.”

Naeun memilih untuk menyerah dulu saat ini. Dengan berbagai pikiran dan dugaan negatif dalam kepalanya, ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Myungsoo dan memilih untuk memasuki auditorium terlebih dahulu. Ia harap, ia tak kehilangan jejak lelaki itu lagi.

*

 

Debat yang membosankan telah berada di penghujung, dan suasana menjadi ramai ketika pengumuman pemenang, meski semua orang nampaknya sudah bisa memprediksi siapa dia. Tentu saja, karena Nam Woohyun selalu pandai bertindak pura-pura bodoh di setiap debatnya dengan Park Chorong. Naeun tidak terkejut lagi, meski Woohyun tak pernah mengatakannya, ia bisa melihat dengan jelas bahwa lelaki itu punya ketertarikan khusus dengan saingannya itu. Seandainya saja Naeun mau bersikap lebih tega lagi, ia bisa saja melaporkan pada kedua orangtuanya bahwa Woohyun mengorbankan nama fakultas mereka setiap tahun demi mengalah pada Park Chorong.

Namun saat ini gadis itu tak mau begitu peduli, sebab sepanjang debat matanya terkunci pada satu arah. Pada Kim Myungsoo, tentunya. Ia tak kehilangan jejak lelaki itu, lelaki itu berdiri di dekat panggung sejak awal acara dan terus asyik memotret ke arah panggung, meski entah siapa yang ia ambil fotonya –karena tentu tidak mungkin Nam Woohyun-. Naeun duduk beberapa meter di belakangnya, masih mengurungkan niat untuk menghampiri karena Kim Yura masih menempel di samping Myungsoo dan sukses membuat sekujur tubuh Naeun merasa begitu tak nyaman setiap kali melihat mereka berdua. Yura, dengan kepribadiannya yang supel dan ceria selalu terlihat mengajak Myungsoo berbicara duluan, sementara Myungsoo kadang-kadang hanya menanggapi seadanya, seolah ia lebih tertarik dengan kameranya ketimbang gadis cantik di sampingnya. Ia pasti punya standar yang sangat tinggi dalam memilih perempuan, pikir Naeun.

Tak lama, Naeun melihat Yura begitu sibuk ketika acara debat dinyatakan selesai, ia buru-buru meninggalkan Myungsoo dan keluar auditorium beberapa saat lalu kembali masuk dengan membawa banyak orang berpakaian sama dengannya. Semacam seragam organisasi mahasiswa. Naeun cukup tahu siapa mereka karena Yura adalah pimpinannya. Bisa ditebak, Yura ingin berorasi di tempat ini, tangan putihnya bahkan kini terlihat memegang sebuah megaphone.

“ PERHATIAN! Acara belum selesai, siapapun yang peduli dengan sesama pejuang akademik, sebaiknya kita berdiskusi sejenak di tempat ini!”

Suara Yura dengan kalimat pembuka khasnya tiba-tiba membahana di seluruh penjuru auditorium melalui megaphonenya. Kaki jenjangnya mulai memasuki panggung yang sudah kosong, diikuti dengan banyaknya ‘massa’ yang ia bawa. Semua mahasiswa yang tadinya hendak bubar berbondong-bondong dengan panik kembali ke kursi mereka masing-masing karena sang duta mahasiswa berhasil membius mereka. Hebat sekali Kim Yura, pikir Naeun. Bagaimana caranya ia memperoleh izin dari pihak fakultas kedokteran untuk melakukan sosialisasi bahkan dengan ‘menumpang’ dalam acara debat tahunan yang notabene merupakan acara besar? Naeun tahu betul bahwa kedua orangtuanya selaku pemilik fakultas tidak selalu mudah mengizinkan organisasi manapun masuk apalagi berorasi di tempat ini.

Namun terlihat dokter Son dan dokter Jung, orangtua Naeun yang duduk di barisan terdepan, begitu antusias ketika Yura mengambil alih acara, sedangkan Woohyun dan Chorong yang baru saja menyelesaikan debat mereka masih beristirahat dan duduk dengan malas di bangku tengah. Terlebih Park Chorong, entah apa alasannya, mata bulatnya menunjukkan kesan sinis ketika Yura menaiki panggung. Mungkin hanya ia satu-satunya mahasiswa yang tidak menaruh simpati pada Kim Yura.

“ KIM YURA! KIM YURA!”

Seluruh mahasiswa mulai bersorak meneriakkan namanya, dan gadis itu tersenyum ramah serta membungkukkan badannya sebelum memulai orasinnya.

Naeun berdiri dan berjalan dengan agak cepat di antara kerumunan mahasiswa yang berdiri dan berdesakan karena tak dapat tempat duduk. Ia berusaha berjalan menuju ke dekat panggung, Myungsoo masih disana dengan kameranya, ini kesempatan yang tepat untuk menemui lelaki itu. Naeun merasa terlalu bodoh jika ia yang menunggu lelaki itu menyadari keberadaannya.

“ Apa yang kau lakukan disini?”

Setelah mati-matian berusaha untuk bersikap biasa saja, Naeun menepuk bahu lebar lelaki itu sambil tersenyum ramah.

Myungsoo menurunkan kameranya dan wajah tampannya sedikit terkejut melihat Naeun berdiri di depannya.

“ Kenapa kau mendatangiku duluan? Aku baru saja ingin menghampirimu.”

Jantung Naeun benar-benar berdebar keras sekarang. Ia semakin berusaha untuk bersikap sewajarnya. Mengapa sebegini parahnya ia di dekat laki-laki yang ia sukai? Hal ini membuatnya sadar bahwa pola asuhnya sejak kecil benar-benar kejam.

“ Oh ya? Kukira kau tidak tahu ada aku disini. Sejak awal kau kelihatan sangat..sibuk.”

“ Haha, tapi aku melihatmu. Kau adalah salah satu alasanku juga untuk datang kesini.”

“…”

Entah, setiap perkataan Myungsoo selalu membuat dadanya bereaksi tidak karuan. Naeun belum pernah merasa seaneh ini. Wajar jika ia secara polos mengakui bahwa ia sudah menyukai Myungsoo meski lelaki di depannya ini masih begitu abu-abu identitasnya.

“ Lagi-lagi kau pakai seragam kedokteran ini. Sudah kubilang kau tidak cocok menjadi dokter.”

Naeun tertawa kecut karena lagi-lagi lelaki itu meledeknya. Kendati demikian, hal tersebut membuat Naeun justru berpikir bahwa ia adalah lelaki yang menyenangkan.

“ Apa yang kau kerjakan disini?”tanya gadis itu kemudian, mengulang pertanyaan pertamanya.

“ Seperti yang kau lihat.”jawab lelaki itu sembari mengangkat kameranya dan memotret Yura yang mulai berbicara di atas panggung. Lagi-lagi membuat Naeun curiga, namun rasanya tidak tepat jika ia bertanya sekarang.

“…disini saja ya, jangan kemana-mana.”Myungsoo menoleh sebentar sebelum akhirnya sibuk memotret lagi, Naeun mengangguk cepat karena ia pun tak ingin menjauh dari lelaki itu. Lagipula ia begitu penasaran akan hubungannya dengan Kim Yura.

 

“ Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih pada pihak fakultas yang mengizinkan kami untuk bersosialisasi disini. Aku juga mengucapkan selamat pada Park Chorong yang berhasil memenangkan debat untuk kesekian kalinya, meski sebenarnya aku pendukung Nam Woohyun.”

“ Huuu!”

Semua mahasiswa bersorak mendengar perkataan Yura, Naeun melirik Myungsoo sejenak, lelaki itu tertawa sinis.

“ Dasar perempuan bodoh.” Lelaki itu sedikit menggerutu. Apa alasannya? Lagi-lagi Naeun dibuat penasaran. Apa hanya karena Myungsoo bermasalah dengan Woohyun? Ia bahkan belum tahu apa masalah mereka. Begitu banyak pertanyaan muncul di kepalanya sejak ia mengenal Myungsoo.

 

“ Baiklah, jadi disini.. aku ingin mengajak kalian untuk kembali bergabung bersamaku untuk mengadakan kegiatan khusus pelajar dan mahasiswa. Seperti yang kalian ketahui, ujian akhir semakin berada di depan mata kita, dan aku melihat telah begitu banyak pelajar serta mahasiswa yang menyerah sebelum berperang, mereka terlalu takut menghadapi ujian bahkan banyak yang telah mempersiapkan peralatan bunuh diri jika mereka benar-benar gagal menghadapi ujian. Miris, bukan? Angka bunuh diri pelajar dan mahasiswa selalu membludak di musim ujian, dan kita semua tentu tak ingin itu terjadi. Jadi disini, kami ingin mengundang kalian semua untuk hadir dalam acara One Night to Remember di Seoul Hall, acara yang khusus kami adakan untuk menghibur para pelajar dan mahasiswa yang akan menghadapi ujian. Setelah musim ujian berakhir, kami juga akan mengadakan acara yang sama untuk melepas beban kita semua. Seperti apa acaranya? Kita hanya perlu bersenang-senang disana! Bayangkan saja seperti kalian menonton Dream Concert atau Kpop Festival tanpa harus membeli tiket. Aku mengundang banyak bintang Kpop dan bahkan, boygroup baru dari Leeves Entertainment, FIX, akan menjadikan panggung acara kita sebagai panggung debut mereka. Jadi, hadirlah ke acara kami pada tanggal 1 Juni nanti! Kita bersenang-senang disana dan lupakan tentang diri kalian yang penuh beban, aku sangat berharap acara menyenangkan ini bisa mereduksi stress kalian semaksimal mungkin dan membuat kalian merasa segar dan bersemangat untuk menghadapi ujian.”

Para mahasiswa kembali bersorak dengan gembira. Rupanya lagi-lagi Kim Yura mengadakan acara dengan budget fantastis demi kepeduliannya terhadap nasib pelajar dan mahasiswa, ia bahkan sanggup mengundang banyak artis ke acaranya, membuat orang kadang bertanya-tanya seberapa besar kekuasaan yang ia atau keluarganya miliki sehingga ia bisa menyelenggarakan banyak acara besar tanpa pernah memungut biaya dari semua pelajar dan mahasiswa yang diundangnya.

“ Kim Yura luar biasa!!!”

“ Kami mencintaimu, Kim Yura!!”

Naeun hanya bisa bertepuk tangan, lagipula mana mungkin ia diperbolehkan mengikuti acara semacam itu oleh kedua orangtuanya. Mata gadis itu melirik lagi ke arah Myungsoo yang kini tak lagi menyorot panggung, kini ia memotret ke arah audiens, entah siapa.

“…ada yang ingin menanyakan sesuatu tentang acara ini padaku? Silahkan angkat tangan!” Yura kini membuka sesi tanya jawab, dan begitu banyak mahasiswa yang mengangkat tangan mereka.

“…pemenang debat mengangkat tangannya. Aku begitu penasaran. Silahkan!” dengan ramah Yura memilih Park Chorong yang rupanya ikut mengangkat tangannya, Woohyun yang duduk di samping gadis itu hanya bisa menghela nafas pasrah karena ia tahu sesuatu yang tak baik mungkin saja terjadi.

Chorong berdiri dengan wajah angkuhnya.

“ Aku hanya penasaran mengapa kau sangat suka membuang-buang materi untuk menyalurkan kepedulianmu kepada kita semua. Musim ujian memang selalu memakan banyak korban bunuh diri, dan kau tidak bisa mencegahnya hanya dengan mengadakan konser. Jadi menurutku, daripada kau menghabiskan uangmu untuk mengadakan acara besar-besaran, lebih baik kau mempersiapkan dirimu untuk menghadapi ujian. Kau juga tak ingin bunuh diri jika tidak lulus, kan?”

“ Huuuu!!!”

Sepertinya para mahasiswa langsung kehilangan rasa simpatik mereka pada calon dokter jenius itu. Namun Chorong tak peduli, bahkan ketika Woohyun menarik tangannya untuk duduk kembali, ia menolak sebelum mendengarkan jawaban Kim Yura.

Dan sekarang Naeun pun tahu, bahwa rupanya sosok ditengah-tengah audiens yang dipotret Myungsoo adalah Chorong. Oke.. jadi Myungsoo juga tahu siapa Park Chorong? Untuk kesekian kalinya Naeun dibuat semakin penasaran.

Namun sepertinya pertanyaan ini tak akan pernah diketahui jawabannya oleh gadis itu, sebab Myungsoo pun akan berusaha menyembunyikannya, jika memang perkenalannya dengan Naeun akan berjalan lebih jauh lagi.

 

“ Yah.. aku tidak terkejut, pertanyaan ini sangat sering diutarakan padaku di beberapa forum mahasiswa. Hanya Park Chorong sunbae yang mengungkapkannya secara langsung padaku disini. Mengapa aku suka membuang-buang uangku? Aku tidak bisa jawab dengan detail. Namun suatu saat, kalian akan tahu jawabannya. Yang jelas, aku merasa tidak rugi dengan apa yang kulakukan karena aku selalu bahagia melihat orang lain bahagia. Tentang persiapan ujian.. aku sama sekali tidak khawatir karena aku dikelilingi orang-orang yang selalu siap membantuku, aku punya saudara kembar yang cerdas dan kekasih yang cerdas juga, jadi untuk apa aku khawatir?”

Kembali, Kim Yura berhasil membuat suasana semakin riuh karena secara tak langsung ia mengungkapkan secuil kehidupan pribadinya, memiliki saudara kembar dan kekasih. Entah berapa hati yang ia patahkan hari ini.

“ Wow.. jadi ada satu lagi sosok seperti Kim Yura? Kembarannya juga pasti sangat keren.”ucap Naeun dengan polos dan lugu, membuat Myungsoo tertawa tiba-tiba.

“ Kembarannya sedikit brengsek.”Myungsoo menanggapinya, Naeun terkesiap.

“ Darimana kau tahu?”

“ Aku tahu siapa diriku.”

“ Apa?! Jadi.. maksudmu..”

Myungsoo mengangguk-angguk saja, ia tertawa kecil melihat wajah terkejut Naeun yang polos dan… cantik.

“ Kembar fraternal?”Naeun memastikan karena masih tak percaya.

“ Hm.”Myungsoo mengangguk, dan anggukan lelaki itu berhasil meruntuhkan segala rasa curiga gadis itu saat pertama kali melihat Myungsoo dan Yura di mulut pintu auditorium.

Syukurlah, kuharap ia bukan milik gadis manapun. Pikir Naeun. Fakta bahwa Kim Myungsoo dan Kim Yura adalah saudara kembar membuatnya begitu kagum. Tentu saja untuk saat ini, entah jika ia sudah memasuki kehidupan Myungsoo lebih dalam.

 

“ Ah..jadi kau adalah orang kaya yang misterius dan kau punya kehidupan yang sempurna. Aku benar-benar iri. Sukses untuk acaramu, tapi jangan berharap banyak tentang keinginanmu menekan angka bunuh diri pelajar dan mahasiswa, tidak semua orang memiliki kehidupan sempurna sepertimu.”

Chorong memberikan tanggapan lagi atas jawaban Yura, setelah itu ia baru bersedia ditarik untuk duduk oleh Woohyun. Tentunya setelah memastikan juga bahwa Yura tak mampu lagi menyanggahnya.

“ Kau hanya membuat semua orang benci padamu.”bisik Woohyun tanpa menoleh ke arah saingannya itu.

“ Kenapa? Aku memang benar-benar iri dengan kehidupannya.”jawab Chorong enteng.

“ Aku akan memberikanmu kehidupan yang sempurna itu. Apa kau mau?”

“ Diam sajalah.”

Woohyun menurut dan pasrah, entah sampai kapan Chorong mengabaikan kesungguhannya. Ia memang gadis yang sulit ditebak dan terlalu keras dalam segala hal. Namun justru itu yang membuat banyak lelaki penasaran dan ingin meruntuhkan sikap dinginnya, mulai dari lelaki biasa hingga lelaki sekelas Kim Myungsoo. Namun Woohyun selalu merasa dirinya ribuan langkah berada di depan karena setidaknya Chorong tidak menghindarinya. Gadis itu tidak lari seperti saat ia bertemu dengan Kim Myungsoo, kapanpun dan dimanapun. Bahkan jika saat ini ia tahu Myungsoo berada di tempat yang sama dan memperhatikannya melalui mata kamera dari kejauhan, ia mungkin akan berlari sejauh mungkin.

Karena hanya Park Chorong yang tahu betapa berbahayanya kembaran fraternal dari Kim Yura itu.

***

 

Naeun tak percaya bahwa saat ini ia duduk di jok belakang mobil mewah milik Kim Myungsoo, ia tak berpikir panjang ketika lelaki itu mengajaknya untuk pergi bersama setelah acara di auditorium benar-benar selesai.

Sedangkan pengisi jok depan adalah Kim Yura, tepat berada di samping Myungsoo yang sedang menyetir. Wajah putih susu gadis itu sempat pucat karena perkataan Park Chorong masih terngiang-ngiang di telinganya. Bukan hanya merasa tersinggung, ia juga merasa cukup dipermalukan. Untung saja hampir semua orang lebih mendukungnya.

Naeun masih diam sepanjang perjalanan –yang entah kemana-, ia yakin saat ini Woohyun atau mungkin kedua orangtuanya panik mencarinya karena ia tak membawa ponsel maupun benda lainnya selain seragam perkuliahan yang ia kenakan. Untuk pertama kalinya, demi seorang lelaki yang belum ia kenal seutuhnya, ia berani bertindak jauh.

“ Jadi, siapa gadis cantik di belakang kita ini? Dia anak kedokteran, kan?” Yura mulai pulih dari stress sesaatnya dan mulai berbicara melalui spion dalam, ia memang orang yang benar-benar ramah, Naeun sempat berpikir sikap positif duta mahasiswa ini hanya sekedar pencitraan.

“ Aku—“

“ Bukan urusanmu.”Myungsoo menyela sebelum Naeun sempat memperkenalkan dirinya pada Kim Yura. Ada apa dengan mereka? Sepertinya dugaan Naeun bahwa mereka adalah saudara kembar yang rukun sedikit keliru.

“ Yura sunbae, aku salah satu penggemarmu.” Naeun mencoba mencairkan suasana. Yura kelihatan berbinar mendengarnya.

“ Ah.. benarkah? Terimakasih banyak! Lalu.. bagaimana kau kenal dengan Myungsoo?”

“ Dia bahkan belum tahu nama asliku Kim Myungsoo.”Myungsoo menyela lagi dengan nada sedikit jengkel karena Yura dianggapnya terlalu mencampuri urusannya.

“ Aku tahu.”Naeun menyahut.

“ Oh ya? Darimana? Bahkan di album angkatan saja kudengar namaku sudah dihapus.”

“ Ya. Tapi aku berhasil mengetahuinya.”

“ Ah… aku tahu, paling-paling calon dokter sialan itu yang memberitahumu.”

“ Myungsoo!” Yura sontak protes, Myungsoo nampak tak peduli.

“ Kau cukup dekat dengan Nam Woohyun, kan?”tanya Myungsoo pada Naeun, membuat gadis itu tersentak. Darimana Myungsoo tahu hal itu?

“ Yah.. begitulah. Kau tahu darimana?”tanya Naeun, ia sedikit sungkan karena Yura tiba-tiba berubah mood.

“ Nanti kita bicara lagi.”jawab Myungsoo seadanya, sepertinya ia tak ingin ada Yura di tengah-tengah mereka.

“ Kau tidak pacaran dengan Nam Woohyun, kan?”Yura tiba-tiba bertanya, Naeun buru-buru menggeleng.

“…lalu kenapa kau bisa dekat dengannya?”

Mengapa Yura ingin tahu hal ini? Fakta bahwa mahasiswa sekelas Kim Yura mengenal mahasiswa sesederhana Nam Woohyun saja sudah merupakan keanehan bagi Naeun.

“ Dia.. senior yang sangat pintar, aku belajar banyak dengannya.”jawab Naeun seadanya, ia memang tak akan pernah mengatakan bahwa alasan kedekatannya dengan Woohyun bermuara dari perintah keluarganya, yang notabene masih ia sembunyikan.

“ Berapa banyak mahasiswi yang belajar dengannya? Dia lebih banyak bergaul dengan mahasiswa atau mahasiswi?”

“ Hentikan. Ayo turun.”Myungsoo jengkel karena Yura tiba-tiba memberondong Naeun dengan banyak pertanyaan. Mereka telah sampai di tempat tujuan dan lelaki itu segera meminta saudara kembarnya untuk turun dari mobil bersamanya.

“ Yah.. ya sudahlah, sampai jumpa.”meski belum puas, Yura tetap turun dari mobil dan berpamitan dengan ramah.

“ Tunggu sebentar disini, oke? Pindahlah ke depan. Aku akan kembali lagi nanti.”Myungsoo berpesan pada Naeun sebelum turun dari mobilnya. Gadis itu mengangguk dengan polos.

“ Bagaimana kalau dia tahu tentang kita? Dia melihat rumah ini..” Yura berbisik pada Myungsoo ketika mereka sama-sama telah turun dari mobil.

“ Biar saja, memang itu yang aku mau.”Myungsoo menjawabnya dengan santai dan kakinya melangkah menjauhi mobil, Yura mengikutinya dengan kepala yang sesekali menoleh dengan wajah khawatir.

Naeun masih merasa aneh dengan situasinya sekarang. Begitu banyak hal yang tak ia mengerti sejak awal. Kim Myungsoo, Kim Yura, Nam Woohyun, bahkan mungkin Park Chorong, mereka seperti memiliki kaitan satu sama lain entah bagaimana benang merahnya, perkenalan tak masuk akalnya dengan Kim Myungsoo pun entah merupakan pertanda baik atau buruk baginya. Semuanya masih serba tanda tanya, dan Naeun bersumpah akan mencari tahu jawabannya meski ia harus melanggar rambu-rambu pengawasan ketat kedua orangtuanya.

Gadis itu menuruti Myungsoo, ia turun sejenak dari mobil untuk berpindah ke bangku depan, namun ia tercengang begitu lama ketika menyadari dimana dirinya sekarang.

“ Rumah ini.. bukannya.. The King. Ya.. ini pasti The King!”

Naeun nyaris pingsan, sebagai salah satu anak dari keluarga terkaya di Korea Selatan, Naeun tentu tahu keluarga terkaya lainnya. Terutama The King, sebutan sebuah keluarga yang ia yakini menjadi pemilik rumah dengan kemewahan fantastis di depan matanya saat ini.

Satu hal yang ia tahu dari kedua orangtuanya hanyalah, The King lebih berkuasa dibandingkan presiden sekalipun. Kerajaan perusahaan itu tak hanya bergerak di berbagai bidang industri serta pembangunan hotel berbintang, mereka juga membangun banyak lembaga pendidikan untuk kaum jetset, bahkan menguasai dan mampu mengendalikan pemerintahan dengan kekayaan yang mereka punya.

Satu-satunya yang tak dikuasai oleh The King hanyalah sektor kesehatan. Sebab sejak awal, secara turun-temurun, kekuasaan dalam bidang itu berada dalam genggaman keluarga Son, keluarga Naeun, tepatnya. Dimana seluruh anggota keluarganya merupakan dokter dengan berbagai spesialisasi dan kini telah membangun medical center dengan kemegahan tak tertandingi di tengah kota Seoul, yang juga menjadi lambang bahwa mereka adalah ‘penguasa’ kedua setelah The King.

Dan sekarang, sudah jelas bahwa Kim Myungsoo dan Kim Yura adalah bagian dari The King. Meski presdir Kim, ayah mereka, selaku pemegang kekuasaan The King belum pernah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai siapa penerus mereka. Dalam berbagai media bisnis, beliau mengatakan bahwa beliau akan mengungkapkan siapa anak sekaligus penerus kekuasaan The King tahun 2015 nanti, masih 7 tahun dari sekarang. Entah apa alasannya mengulur waktu selama itu hanya untuk mengungkapkan siapa anak kandung mereka. Semua orang menyangka presdir Kim hanya memiliki satu orang anak, tak ada yang tahu bahwa kini The King memiliki kembar fraternal yang akan bersaing memperebutkan kekuasaan berikutnya, Kim Myungsoo dan Kim Yura. Dugaan Naeun bahwa mereka adalah saudara kembar yang rukun semakin lemah, mereka justru memiliki sibling rivalry yang begitu kuat.

“ Bagaimana mungkin ini kebetulan? Seorang putra The King tiba-tiba muncul di kampusku, memotretku tanpa alasan, dan meninggalkan kartu namanya. Bahkan sekarang ia berani membawaku pergi. Ini terlalu aneh. Apa Woohyun sunbae tahu statusnya ini?” Naeun terus bertanya-tanya dalam hatinya, perasaannya pun mulai tak sabar menunggu Myungsoo keluar dari rumah mewahnya, ia ingin menanyakan semua hal yang membuatnya penasaran agar ia bisa melihat situasi dirinya saat ini dengan jelas.

Tap.. tap.. tap..

Naeun menoleh, nampak sosok tinggi Myungsoo berlari keluar dari salah satu lorong mewah rumahnya. Ia berlari sangat kencang sembari memanggul ransel hitam di punggungnya. Ada banyak pria berdasi di belakangnya, mengejarnya.

“ Ada apa ini?”

“ Pakai sabuk pengamanmu!” Myungsoo berhasil memasuki mobilnya dan segera duduk di bangku kemudi dengan nafas yang memburu, ia juga segera mengunci semua pintu dan jendela. Naeun menuruti lagi perkataan lelaki itu meski matanya tak bisa lepas dari sekelompok staf keamanan yang kini mencoba membuka paksa mobil mereka.

BRRRMMM!!!!!

Myungsoo membawanya melesat hingga Naeun dapat melihat dari spion luar beberapa orang staf keamanan terjatuh akibat ulah lelaki itu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Bibir Naeun begitu kelu untuk bicara lagi, adrenalinnya terpacu dengan hebat karena Myungsoo membawa mobilnya dengan kecepatan sangat sangat tinggi, terlebih ketika ia menyadari bahwa staf keamanan rumahnya tidak menyerah dan ikut mengejarnya dengan beberapa mobil bahkan motor balap.

“ Jangan khawatir, aku takkan membuatmu terbunuh disini. Kita belum saling kenal, sangat konyol jika kita mati terlalu cepat.”

Meski dalam konsentrasi penuh menghindari kejaran, Myungsoo masih bisa bicara pada gadis itu, bahkan sembari tertawa kecil. Ia begitu lihai menjebak orang-orang yang mengejarnya meski dengan kecepatan mobil yang nyaris tak terkendali tanpa tujuan yang jelas. Naeun tak punya pilihan lain selain mempercayainya.

 

“ Bersih!”

Setelah beberapa lama, Myungsoo menghentikan mobilnya ketika ia yakin bahwa ia benar-benar telah berhasil melarikan diri. Benar saja, tak ada lagi mobil maupun motor di belakang mobilnya. Ini memang bukan kali pertama baginya menghindari kejaran staf keamanan rumahnya sendiri.

Hanya saja, ini kali pertama baginya kabur dengan membawa seorang gadis.

Naeun membuka matanya, berkedip berulang-ulang untuk memastikan bahwa ia masih hidup. Ia tak tahu berapa lama ia menutup matanya karena terlalu takut menatap jalanan. Sensasi ini jauh lebih mengerikan dibandingkan menaiki roller coaster.

“…”

Suasana hening, Naeun tak berani membuka mulutnya dan hanya bisa mengambil nafas dalam-dalam. Seandainya ia tak memiliki perasaan pada Kim Myungsoo, mungkin mulutnya sudah berani memaki-maki lelaki itu.

“ Boleh aku beritahu sesuatu?”tanya Myungsoo, memecah keheningan.

“ Ya?”

“ Kita keluar dari Seoul.”

“ A..apa!?”

“ Tenanglah. Kita hanya sampai di Daegu. Sebelumnya aku bahkan pernah lari sampai ke Busan.”

“ DAEGU!? BUSAN? SEKARANG DI DAEGU?”

Untuk kedua kalinya, Naeun merasa ingin mati. Myungsoo begitu gila-gilaan melarikan diri hingga mereka bisa sampai ke tempat sejauh ini. Naeun merasa baru beberapa detik yang lalu ia duduk di auditorium fakultasnya di Seoul untuk menyaksikan debat Nam Woohyun dan Park Chorong serta orasi Kim Yura, dan sekarang ia berada di Daegu tanpa membawa apapun selain seragam perkuliahan yang ia kenakan. Ini terlalu gila untuknya. Bayang-bayang amarah kedua orangtuanya nanti sudah menghantui benaknya.

“ Kau tidak senang bisa berlari ke tempat yang jauh? Kuliah di kedokteran sudah pasti membuatmu stress. Jika aku jadi kau, aku justru merasa Daegu masih kurang jauh untuk melarikan diri sejenak dari semua beban di Seoul.”

Naeun menatap lelaki itu dengan mulut yang terdiam. Ia bisa menarik kesimpulan bahwa Myungsoo memiliki pola pikir yang sangat berbeda dengannya, dan logikanya menerima pola pikir lelaki itu, meski hatinya masih menolak karena ketakutan menghadapi amarah kedua orangtuanya nanti.

“…baik..baiklah.. aku tidak bermaksud mempengaruhimu. Aku tak ingin menjadi contoh buruk dan pada akhirnya membuatmu menjauhiku. Jadi.. pilih salah satu, kita pulang ke Seoul, atau menginap semalam disini, lalu besok kita pulang.”

“ Ah.. ini gila..” Naeun masih tak bisa berpikir, ia melirik jam analog di pergelangan tangan putihnya, waktu telah sore menjelang malam.

“ Apa yang aku lakukan? Membawa seorang gadis yang bahkan belum kutahu namanya dan menawarinya bermalam di Daegu..” Myungsoo tiba-tiba tertawa kecil untuk mencairkan suasana hati Naeun yang dilanda ketakutan. Tangan lebarnya mengusap puncak kepala gadis itu, “…maafkan aku.”

“ Namaku Son Naeun. Ayo kita bermalam disini.”

 

Semuanya dimulai dari sana.

Kata-kata itu menjadi pertanda resmi bahwa Son Naeun memindahkan kepercayaan penuhnya dari Nam Woohyun kepada Kim Myungsoo. Tak hanya kepercayaannya, tetapi juga seluruh hatinya.

Saat itu mereka hanya tidur di motel murah karena akan sulit jika menginap di hotel dan terlacak oleh The King. Naeun mencoba membuang segala rasa takutnya dan menikmati kencan tak terencana dengan putra The King yang baru dikenalnya itu. Meski dengan cara aneh dan tak terduga seperti ini, Naeun begitu menikmatinya. Myungsoo memberikannya arti kebebasan dan ingin agar dirinya tak lagi merasa terkekang, lelaki itu bahkan menawarkan dirinya untuk menjadi pelarian bagi Naeun kapanpun gadis itu membutuhkan kebebasan.

Karena pada dasarnya, seperti itulah seorang Kim Myungsoo. Naeun akhirnya memiliki informasi yang lebih banyak tentang lelaki tampan itu sepanjang kencan mereka di Daegu. Myungsoo mengaku bahwa dirinya memang putra dari presdir Kim dan bersaing dengan Kim Yura untuk menjadi pemegang tongkat kekuasaan The King berikutnya. Ia lelaki yang sangat mencintai kebebasan dan ingin menjadi fotografer professional sepanjang hidupnya, namun The King tak pernah setuju dengan cita-citanya hingga timbullah jiwa pemberontak dalam dirinya. Perlawanan pertamanya dimulai ketika ia nekat berbuat kekacauan di Fakultas Kedokteran Sons agar dikeluarkan dari sana dan melarikan diri selama dua tahun untuk menempuh sekolah fotografi di Eropa, karena ia sama sekali tak bisa memenuhi keinginan The King yang memaksanya untuk menjadi dokter. Naeun tak sempat mengetahui hal itu karena disaat Myungsoo kuliah di fakultasnya, ia masih duduk di bangku SMA.

Myungsoo pun mengakui, bahwa ia benar-benar tidak sama dengan Kim Yura, saudara kembarnya. Padahal, seandainya mereka berdua kompak dalam segala hal, mereka dapat disebut sebagai kembar fraternal yang nyaris sempurna. Kim Myungsoo dan Kim Yura memiliki wajah yang sama sekali tak mirip, namun mereka sangat tampan dan cantik, tubuh mereka juga tinggi dan keduanya sama-sama cerdas. Jangan lupakan fakta bahwa mereka juga lahir dengan sendok emas.

Namun mereka bertabrakan dalam hal kepribadian, dimana Kim Yura merupakan sosok gadis yang sangat penurut, penyayang, dan penyabar, berbanding terbalik dengan Kim Myungsoo yang angkuh dan pemberontak. Sejak kecil, Myungsoo tak pernah menunjukkan kasih sayang pada Yura, padahal sebaliknya, Yura terus membanggakan saudaranya itu.

Kepribadian mereka yang bertentangan membuat ayah dan ibu mereka memberikan penilaian yang berbeda. Semua orang tahu, Presdir Kim, ayah mereka, sekaligus pemilik kerajaan perusahaan The King, hanya menaruh simpati pada orang-orang yang menurut padanya, dan Nyonya Kim, ibu mereka, hanya peduli pada keberuntungan dan membenci segala sesuatu yang dianggapnya bisa mendatangkan sial. Hal tersebut otomatis membuat Kim Yura yang mendapatkan kasih sayang dari mereka dan Kim Myungsoo secara tidak langsung dianggap menjadi musuh dalam keluarga sebab ia begitu keras kepala dan suka memberontak.

Inilah yang menjadi salah satu alasan Myungsoo tak ragu untuk memamerkan statusnya sebagai putra The King meski tak banyak orang yang mempercayainya karena The King hanya akan mengeluarkan pernyataan resmi 7 tahun ke depan, namun Myungsoo sengaja ingin membuat keluarganya kesal.

Dan anehnya, meski Naeun telah mengetahui bahwa seperti inilah seorang Kim Myungsoo, ia tak memilih mundur dan justru membiarkan perasaannya mengalir begitu saja, ia justru mulai berpikir bahwa pertemuannya dengan lelaki itu merupakan rencana dan takdir indah yang memang digariskan untuknya.

“ Bagaimana dengan dirimu, Son Naeun? Bagaimana ceritanya kau bisa menjadi gadis sepolos ini? Keluarga Son pasti sangat kejam padamu.”

Mereka tiba di motel setelah berjalan-jalan cukup lama di kota Daegu hingga tengah malam bersama segala cerita Myungsoo sepanjang kencan. Myungsoo merasa cukup dengan cerita mengenai dirinya, dan kini ia pun ingin tahu siapa gadis yang didekatinya dengan lebih jelas.

“ Maksudmu?”Naeun yang masih membereskan beberapa barang yang mereka beli sedikit terkejut karena Myungsoo tiba-tiba menyebut keluarganya.

“ Kau.. anak dari keluarga dokter itu, bukan?”

“ B..bukan. Bukan.”

Naeun memang seperti ini. Ia masih memiliki komitmen kuat untuk tak mengakui bahwa dirinya adalah putri tunggal dari keluarga dokternya pada siapapun. Alasannya? Ia ingin membuktikan dulu pada keluarganya bahwa ia bisa menjadi dokter terbaik dari fakultas milik keluarganya dengan usahanya sendiri. Dengan begitu ia tak akan mempermalukan kehormatan keluarganya yang telah dikenal sebagai keluarga dokter yang jenius. Ini bukan perjanjiannya dengan keluarga, namun murni keputusannya sendiri. Ia memang gadis yang perfeksionis, dan keluarganya sangat antusias dengan hal itu. Nam Woohyun termasuk beruntung karena menjadi satu-satunya orang luar yang mengetahui statusnya.

“ Oh ya? Kau yakin?”Myungsoo nampaknya terkejut dan setengah tak percaya.

“ Kubilang bukan. Memangnya kenapa?”Naeun balik bertanya karena sesungguhnya ia tak sanggup berbohong pada lelaki yang ia sukai. Ia sudah berjaga-jaga jika Myungsoo mempertanyakan statusnya, namun tetap saja ia merasa gugup.

“ Ah.. jadi selama ini aku salah sangka..”

“ Apa kau kecewa karena aku bukan anak dari pemilik medical center?”

Myungsoo menggeleng, “ Aku tidak perlu gadis kaya. Aku sendiri sudah kaya raya, kau tahu itu, kan?” lelaki itu mengeluarkan candaan khasnya lagi. Meski baru mengenal, ia tahu kapan harus mencairkan suasana hati Naeun.

“ Jadi, tidak apa-apa kan kalau aku bukan anak dari keluarga dokter Son seperti yang kau pikirkan sebelumnya?” gadis itu bertanya, ia hanya ingin memastikan bahwa Myungsoo tak mencurigainya.

“ Tentu saja tidak apa-apa. Lagipula aku selalu bilang, kau sama sekali tidak cocok menjadi dokter.”

Naeun tertawa kecil, ia meraih seragamnya yang ada di atas tempat tidur, ia telah berganti karena Myungsoo membelikannya pakaian baru untuk kencan mereka, meski dengan uang curian dari ranselnya.

“ Jadi.. apa perlu aku buang seragam ini?”canda gadis itu.

“ Buang saja. Aku tak ingin melihatmu memakai pakaian itu lagi.”

“ Haha, mengapa kau seperti ini? Aku baru tahu ada laki-laki yang tidak suka dengan mahasiswi kedokteran.”

“ Aku pernah suka. Sangat suka..” Myungsoo meraih kameranya dan diam-diam memperhatikan foto-foto Park Chorong yang ia ambil saat debat mahasiswa, “…tapi aku punya banyak cerita buruk yang berhubungan dengan dokter. The King memaksaku menjadi dokter, aku pernah berkelahi dengan mahasiswa kedokteran, dan bahkan aku pernah dicampakkan oleh mahasiswi kedokteran. Alasanku lebih dari cukup untuk membenci golongan itu. Aku juga masih punya alasan lain yang akan kuberitahu jika kita sudah saling mengenal lebih lama.”

Naeun mengangguk mengerti. Ia sudah senang karena untuk ukuran sebuah kencan pertama bahkan perkenalan pertama, Myungsoo sudah sangat terbuka padanya. Justru gadis itu yang banyak menyembunyikan fakta tentang dirinya.

“ Boleh aku tanya sesuatu lagi?” tanya Naeun sembari duduk di pinggiran tempat tidur sempit motel mereka, ia masih tak berani untuk berbaring di samping Myungsoo.

“ Apa?”

“ Mengapa kau memotretku di perpustakaan dan tiba-tiba mendatangiku waktu itu?”

Myungsoo berhenti memainkan kameranya.

“ Aku juga akan beritahu alasannya padamu jika kita sudah saling mengenal lebih lama.”

Naeun tak bisa memaksa, namun ia masih punya banyak pertanyaan karena rasa penasarannya masih cukup besar.

“ Lalu, aku juga ingin tahu apa masalahmu dengan Nam Woohyun.”

Myungsoo tertawa sinis, “ Son Naeun, kau tidak masalah berhubungan dengan laki-laki brengsek?” bukan menjawab pertanyaannya, Myungsoo justru balik bertanya.

“ Maksudmu?”

“ Saat di auditorium aku sempat bilang padamu bahwa aku, saudara kembar Kim Yura adalah orang yang sedikit brengsek, dan kelihatannya kau tidak terkejut.”

“ Setidaknya kau mengakuinya. Aku bisa melihat betapa brengseknya dirimu mencuri uang dari rumah dan kabur dari staf keamanan sampai membawaku ke tempat ini. Tapi aku masih mau mengikutimu, itu artinya aku merasa tidak masalah.”

Berlama-lama dengan Myungsoo membuat Naeun semakin terlatih untuk bicara blak-blakan, ia tak menduga juga bahwa pengaruh lelaki itu begitu besar pada dirinya dalam waktu sesingkat ini.

“ Aku dan Nam Woohyun sama-sama brengsek. Tapi Nam Woohyun tidak mengakuinya dan menyembunyikan sifat aslinya dari semua orang. Jadi, lebih baik aku atau dia?”

Naeun mengeryitkan dahinya, sebab setitikpun ia tak pernah berpikir bahwa seniornya yang begitu loyal pada keluarga Son itu adalah orang yang jahat, meski menyebalkan setengah mati.

“ Apa buktinya jika Nam Woohyun adalah orang yang seperti itu?”

“ Dari pertanyaanmu, aku tahu bahwa kau tidak mudah percaya. Aku bisa membayangkan kedekatanmu dengannya. Tidak masalah, seiring berjalannya waktu kau akan tahu.”

“ Tapi aku penasaran—“

Myungsoo meraih tangan halus gadis itu agar berbaring di sampingnya. Meski gugup setengah mati, Naeun tak mampu menolaknya.

Stop. Kita berhenti saja dulu bicara tentang itu. Bukankah aku sudah bilang kau hanya perlu bersenang-senang dan merasa bebas selama ada bersamaku?”

Naeun mengangguk dan tersenyum bahagia. Meski rasa penasarannya belum terjawab, perasaannya yang menggelora pada Kim Myungsoo mampu membuatnya melupakan orang lain dulu untuk sejenak.

“…tidurlah. Besok pagi kita kembali ke Seoul.”lelaki itu menepuk pipinya dengan lembut, Naeun menurut dan mulai memejamkan matanya meski terpaksa, sebab ia masih ingin lebih lama menatapi wajah tampan di hadapannya.

“ Oh ya, mengapa nama fotografermu adalah L?”

Gadis itu membuka matanya lagi sebab menyadari bahwa masih ada pertannyaan yang tertinggal dalam benaknya.

“ Ya ampun..”Myungsoo tertawa gemas, “…aku perlu nama samaran karena aku akan bekerja dengan selebriti, The King akan menggagalkan pekerjaanku jika aku nekat memakai nama asli.”

“ Oh ya? Dengan siapa kau akan bekerja?”

“ FIX, boygroup yang akan debut itu. Salah satu membernya adalah sahabatku dari kecil sekaligus putra pemilik agensinya sendiri. Dia yang menawarkan pekerjaan ini padaku.”

“ Ahh.. Lee Jaehwan?”

“ Bagaimana kau tahu?”

“ Eh..” Naeun menyesal mengucapkannya. Sekali lagi, sebagai salah satu anak dari keluarga terkaya di Korea Selatan, Naeun tentu tahu keluarga terkaya lainnya. Jaehwan cukup terkenal di kalangan kaum jetset karena punya bakat menyanyi yang luar biasa dan memang selalu disebut-sebut untuk dipersiapkan menjadi selebriti. Agensi yang dimiliki keluarganya juga memang merupakan agensi hiburan terbesar di Korea Selatan.

“…aku menebak-nebak saja, kemarin teaser debut FIX sudah dirilis dan aku suka melihat Jaehwan, apalagi dia menggunakan nama Ken. Mereka juga hebat, bersedia untuk melakukan debut di acara amal Kim Yura.”Naeun beralasan konyol, namun untunglah masih dapat diterima oleh akal Myungsoo.

“ Satu-satunya alasan mereka mau debut di acara amal itu karena Jaehwan sangat menyukai Yura. Itu saja.”

“ Apa??” Naeun menemukan fakta baru lagi. Ia tak menyangka bahwa Myungsoo tahu sangat banyak hal.

“ Yah.. tapi tololnya, Yura terus menyukai Nam Woohyun. Jadi tidak perlu heran dengan sikapnya yang bertanya-tanya tentang Woohyun padamu di mobil tadi siang. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya mereka saling kenal, yang jelas bagiku itu berbahaya, aku yakin Woohyun punya niat buruk mendekati saudaraku.”

“ Aku benar-benar tidak mengerti. Apakah—“

“ Ups, maaf. Lagi-lagi kita membicarakan orang-orang itu. Lupakan saja, tidurlah.”

Myungsoo menepuk pipi Naeun sekali lagi, namun gadis itu enggan memejamkan matanya. Ia begitu ingin menggali informasi lebih banyak dari Myungsoo. Sebab sepertinya banyak hal tentang Nam Woohyun yang tak ia ketahui. Jika memang perkataan Myungsoo benar, Naeun takut Woohyun berbahaya bagi keluarganya juga.

“ Jelaskan dulu padaku siapa Nam Woohyun, atau Park Chorong, kalau kau mengenalnya juga.”

“ Ini bukan saat yang tepat untuk bicara tentang mereka, biasanya aku hanya membicarakan ini dengan Jaehwan.”

“ Tapi aku penas—“

Naeun berhasil diam ketika Myungsoo mencuri ciuman pertamanya untuk menutup mulutnya.

 

“ Bersabarlah. Banyak hal yang akan kau ketahui ketika kita sudah saling mengenal lebih lama.”

***

 

Woohyun melangkahkan kakinya seorang diri di jalan sepi menuju rumah kontrakan sederhananya. Ia baru pulang selarut ini karena panik mencari Naeun yang menghilang entah kemana dan pada akhirnya diadili oleh keluarga Son, yang menilainya lalai dan tak mengawasi Naeun sama sekali hari ini. Sepanjang jalan ia mengumpat, hilangnya Naeun membuat rencana hidupnya menjadi berantakan dalam sekejap.

Dokter Son mencabut janjinya memberikan beasiswa untuk Woohyun melanjutkan spesialisasinya di fakultas kedokteran Sons hanya karena mereka kehilangan Naeun hari ini. Tentu saja ini membuat Woohyun murka setengah mati, selama ini tujuannya bersedia mengawasi dan membimbing Naeun 1×24 jam adalah demi beasiswa itu. Ia juga sudah rela mengalah untuk Park Chorong dalam debat hari ini karena ia sudah yakin akan menerima beasiswa tersebut tanpa harus menjadi pemenang.

Namun sekarang apa yang terjadi? Ia kehilangan harapan dan kesempatannya. Di kepalanya sudah tersusun banyak rencana kejam untuk mengadili Naeun jika gadis itu kembali.

 

“ Darimana saja?”

Lelaki itu melihat satu mobil mewah berada di depan kontrakan kecilnya, terlihat seorang gadis bersandar disana dengan wajah bosan menungguinya.

“ Aku lelah.”Woohyun tak bisa menyembunyikan moodnya yang sangat buruk, dan gadis itu dengan sigap menahannya untuk masuk rumah, ia justru mengajak lelaki itu masuk ke mobilnya.

 

“ Ada apa mencariku, Yura-ssi?”Woohyun tak ingin berbasa-basi, ia bersandar di kaca jendela dengan wajah suntuk.

“ Ada yang ingin kubicarakan. Tapi.. bagaimana keadaanmu? Sepertinya kau—“

“ Ya, aku lelah. Lelah sekali, jadi cepat saja.”

“ Apa karena kau kalah debat? Kau tidak bisa melanjutkan spesialisasimu?”

“ Hah..” Woohyun semakin bad mood mendengarnya, “…ya, itu masalahku sekarang.”

“ Benarkah? Ah.. bagaimana ini.. haruskah aku yang membiayaimu?”

Meski sebenarnya Nam Woohyun bisa saja memeras Kim Yura yang cinta mati kepadanya, lelaki itu memikirkan dampak jangka panjangnya, ia akan semakin terikat dengan gadis itu. Hubungan mereka sekarang saja sudah terlalu jauh bagi Woohyun, ia tak ingin semakin kesulitan melepasnya nanti.

“ Tidak usah. Biar aku sendiri yang pikirkan jalan keluarnya.”

“ Kau yakin kau bisa? Bagaimanapun juga kau harus jadi dokter spesialis..”

“ Memangnya kenapa?”

“ Aku sudah bercerita tentangmu pada orangtuaku.”

“ APA!?” Woohyun terlonjak, apa ia tak salah dengar?, “…pada Presdir dan Nyonya Presdir?!”

Yura mengangguk dengan polos, “ Mereka antusias! Aku yakin jika kau berhasil menjadi dokter spesialis, mereka akan menyetujui hubungan kita. Jadi.. apa usahamu sekarang?”

Aku benar-benar harus mengejar spesialisasiku. Begitu pikir Woohyun. Bukan, bukan karena ia ingin menikahi Kim Yura, namun karena ia lebih memahami karakter asli sepasang penguasa The King itu dibandingkan anak mereka sendiri.

Tak ada yang tahu bahwa sepanjang hidupnya Nam Woohyun mencari banyak informasi mengenai keluarga-keluarga terkaya di korea selatan dan memiliki mimpi untuk menempati posisi mereka. Perhatian utamanya adalah pada The King dan keluarga dokter Son. Kegigihannya mencari tahu seluk beluk kehidupan keluarga kaum jetset itu membuatnya mampu mengumpulkan banyak informasi dan menyusun rencana-rencana jenius untuk masuk ke dalam kehidupan mereka. Seperti pada keluarga dokter Son, dengan menggunakan kecerdasannya ia berhasil kuliah di fakultas mereka dan menjadi mahasiswa paling berprestasi dan mengesankan keluarga dokter tersebut hingga pada akhirnya ditunjuk untuk menjadi pembimbing bagi putri tunggal mereka, Son Naeun. Pada awalnya, Woohyun berpikir menjadi suami Son Naeun dan memiliki medical center di kemudian hari sudah cukup membuat hidupnya sempurna, namun ia terhalang oleh rencana keluarga dokter Son yang ingin menikahkan Naeun dengan putra dari The King yang juga dipersiapkan untuk menjadi dokter. The King dan keluarga Son telah merencanakan sebuah pernikahan bisnis untuk anak-anak mereka, namun terkendala oleh Kim Myungsoo yang memberontak dan tak ingin menjadi dokter.

Seandainya saja Woohyun dan Myungsoo tidak perlu berselisih di masa lalu karena Park Chorong, Woohyun begitu ingin berterima kasih karena penolakan Myungsoo untuk menjadi dokter memberinya kesempatan besar untuk menjadi dokter yang diinginkan The King untuk dijodohkan dengan Son Naeun. Ya, Woohyun berpikir ia bisa menjadi putra angkat untuk The King agar mereka tetap bisa menjalankan pernikahan bisnis dengan keluarga dokter Son. Jika ia berhasil, ia akan mendapat keuntungan berlipat ganda, dimana ia menjadi bagian dari The King dan juga menjadi bagian dari keluarga dokter terkaya di Korea Selatan. Jika sudah seperti itu, mungkin saja Park Chorong tak punya alasan lagi untuk mengabaikan perasaannya.

Woohyun memulai jalan untuk mencapai tujuannya dengan cara mendekati Kim Yura, kembar fraternal dari Myungsoo yang begitu aktif dalam setiap kegiatan mahasiswa. Tak sulit mendekati dan mengesankan gadis itu hingga ia bisa mencintai Woohyun seperti sekarang, lelaki itu menggunakan Kim Yura sebagai jembatannya untuk memasuki kehidupan keluarga The King.

Dan mendengar bahwa Yura telah memperkenalkan dirinya pada Presdir membuat Woohyun merasa bahwa ia semakin dekat dengan tujuannya. Kim Yura terlalu naif dengan menganggap antusiasme kedua orangtuanya adalah pertanda bahwa mereka menyetujui hubungannya dengan Woohyun. Woohyun lebih tahu keinginan sepasang penguasa The King itu, mereka menginginkan seorang dokter muda yang tepat untuk mereka jadikan anak angkat yang bisa mereka nikahkan dengan Son Naeun. Woohyun tahu bahwa The King memiliki ambisi besar untuk lebih kaya lagi dengan memiliki saham medical center milik keluarga dokter Son. Begitu pula sebaliknya, keluarga dokter Son akan mendapat keuntungan fantastis jika berhasil melakukan pernikahan bisnis dengan The King.

“ Mereka kelihatan antusias saat aku bercerita tentangmu, tapi entah mengapa.. aku dengar juga dari beberapa pegawai di rumah, bahwa kedua orangtuaku ingin memintaku melakukan pernikahan bisnis dengan Lee Jaehwan. Aku harap itu tidak benar.” Yura melanjutkan ceritanya, dan Woohyun berusaha menyembunyikan senyum sinisnya.

Tentu saja, sebab Woohyun tak melewatkan informasi yang satu itu juga. Ia telah mengetahui dengan jelas bahwa The King berniat untuk menguasai semua sektor di negara ini dan akan menggunakan anak-anak mereka untuk melakukan pernikahan bisnis guna mendapatkan kekuasaan yang mereka inginkan. Terbaca dengan jelas ketika mereka menguliahkan Myungsoo di fakultas kedokteran agar bisa dinikahkan dengan Son Naeun, putri tunggal keluarga dokter Son, dan menguliahkan Kim Yura di fakultas bisnis agar bisa dinikahkan dengan Lee Jaehwan, putra tunggal dari pemilik Leeves Entertainment, agensi hiburan terbesar di Korea Selatan yang terus menanjak setiap tahun. Bahkan Jaehwan pun akan debut dan bersiap mengumpulkan lebih banyak keuntungan dengan wajah tampan dan segala bakat yang dimilikinya. The King akan ribuan kali lipat lebih kaya dan berkuasa jika mereka berhasil melakukan dua pernikahan bisnis tersebut. Semua dinamika itu sudah terancang rapi dalam pikiran Nam Woohyun.

“…aku tidak mau percaya dulu dengan pernikahan bisnis itu. Oppa, kau kejarlah spesialisasimu, bagaimanapun caranya. Sekarang kau boleh menolak bantuanku, tapi beritahu aku jika kau tidak berhasil menemukan jalan keluarnya.” Yura memohon lagi, Woohyun hanya mengangguk.

Apapun yang terjadi, lelaki itu tak akan mau menerima bantuan dari Kim Yura, ia tak ingin ‘hutang’nya pada gadis itu semakin besar.

Lagipula itu akan menjadi masalah besar jika tiba saatnya Woohyun ‘membuang’ gadis itu.

*

 

14 Mei 2008, Akhir untuk awal yang baru.

 

“ Jadi, ini rumahmu?”

Naeun mengangguk saja, pagi ini, mereka kembali dari Daegu ke Seoul dan Naeun meminta Myungsoo untuk mengantarkannya pulang ke sebuah rumah kontrakan kecil –tentu saja rumah Woohyun, ia tak akan membiarkan Myungsoo tahu dulu rumah mewah keluarga dokter Son-. Mendengar Myungsoo mempertanyakan kontrakan tempat mereka tiba sekarang, Naeun merasa sepertinya Myungsoo tak tahu dimana rumah Nam Woohyun.

“ Kau kecewa karena rumah ini sangat berbanding terbalik dengan rumahmu yang kulihat kemarin?”tanya Naeun kemudian, Myungsoo menggeleng.

“ Sudah kubilang aku tidak perlu gadis kaya.”jawabnya, “…ya sudah, masuklah.”

Naeun menurut, ia memang harus segera keluar dari mobil dan menemui Woohyun di dalam, jangan sampai ia ketahuan berbohong.

“…hei.”Myungsoo menahan gadis itu sejenak, “…tidak meninggalkan pelukan atau ciuman selamat tinggal? Kupikir kita sudah resmi berpacaran.”

“ Oh ya?”

Sial. Naeun tak bisa berpikir jernih. Rasanya aneh saja langsung berkencan ketika mereka baru bisa dekat dalam waktu yang terbilang sangat singkat.

“ Ah.. jadi menurutmu kita belum resmi. Baiklah.. kalau begitu aku bereskan saja studioku.”Myungsoo menyerah dan menjauh, mempersilahkan Naeun keluar.

“ Ada apa dengan studiomu?”

“ Nanti bisa kau lihat sendiri.”

“ Banyak fotoku disana?”gurau gadis itu, rasanya sangat lucu melihat lelaki nakal ini merajuk.

“ Kalau iya bagaimana?”

“ Kalau iya.. kau dapat foto-foto itu darimana?”

“ Jadi, kita sudah pacaran atau belum?”Myungsoo mengabaikan pertanyaan gadis itu dan justru menagih pengakuannya lagi.

“ M..memangnya kenapa?”

“ Sudah atau belum? Kalau belum, aku bersihkan saja dinding studioku.”

“ Yah! Jangan!”

Myungsoo tertawa, gemas dengan tingkah polos gadis di depannya ini.

“ Aku dapat banyak foto-fotomu karena bukan hanya hari itu saja aku memotretmu di perpustakaan. Hari-hari sebelumnya, aku juga ada disana. Makanya aku tahu kau cukup dekat dengan Nam Woohyun.”

“ Kau.. membuntutiku?”

“ Masuklah, nanti kita bertemu lagi.”

“ Tapi kenapa—“

“ Bukankah aku sudah bilang kau akan tahu alasannya setelah kita saling mengenal lebih lama?”

Naeun menyerah dan mengalah, ia tak ingin memaksa Myungsoo dan akan membiarkan hubungan ‘aneh’nya dengan lelaki itu mengalir apa adanya. Suatu saat, ia yakin Myungsoo akan semakin terbuka padanya.

“ Baiklah. Sampai bertemu nanti.”

Gadis itu mengecup pipi Myungsoo sekilas, namun lelaki itu sepertinya tak puas dan menangkap wajahnya, menyentuh kembali bibir ranumnya dengan durasi yang lebih lama. Naeun seolah kehilangan kesadarannya dan tak mampu memberi reaksi apapun.

“ Seperti inikah rasanya ciuman sesungguhnya? Seperti ada kupu-kupu berterbangan di perutku..”

Myungsoo tidak perlu waktu lama untuk memberikan begitu banyak pengalaman dan sensasi baru pada hidupnya. Naeun tak tahu takdir apa yang sedang ia hadapi. Yang jelas, ia tak ingin mengakhiri hubungannya dengan putra pemberontak dari The King itu.

Semua pasti akan berjalan baik-baik saja, pikirnya.

***

 

“ Jadi kau kehilangan beasiswa S2 spesialisasimu karena aku?”

Naeun masih tak percaya, meski ia begitu segan menatap Woohyun setelah seniornya itu marah besar padanya. Sepertinya datang ke rumah Woohyun bukan pilihan yang tepat, namun akan turun dimana lagi gadis itu jika bukan di kontrakan kecil ini? Ia tak mungkin meminta Myungsoo mengantarnya ke rumah keluarga dokter Son.

“ Pulang sana. Kita sudah selesai. Aku tidak akan mengawasimu lagi mulai sekarang.”

Woohyun mengusirnya dengan halus sekaligus malas, lelaki itu bahkan kelihatan tak sudi lagi bicara berhadapan dengan adik tingkatnya itu dan memilih sibuk dengan pekerjaannya menyusun tugas akhirnya yang luar biasa sulit, sebab memang tak lama lagi ia akan lulus dari pendidikan dokternya.

Sunbae.. tolong antar aku pulang, setelah itu aku akan bilang pada orangtuaku agar tetap memberimu beasiswa itu. Kumohon..”

“ Bagaimana jika mereka ingin tahu dimana keberadaanmu kemarin? Apa aku harus bilang pada mereka demi mengembalikan beasiswa itu?”tantangnya, Naeun menggeleng cepat karena ketakutan.

“ Lagipula.. kau tak tahu kan kemarin aku—“

“ Kim Myungsoo pasti membawamu ke tempat yang jauh, aku bahkan tidak akan kaget meskipun kalian pergi ke ujung dunia.”

“ Aku hanya ke—“

“ Aku tidak mau tahu, tidak menyukai seseorang seperti Kim Myungsoo memang sulit, aku juga tahu sebagai manusia kau perlu jatuh cinta. Aku tidak akan ambil pusing lagi soal itu. Terserah kau saja mulai sekarang.”

“ Woohyun sunbae..

“ Ck.”

Meski terpaksa, Woohyun akhirnya berdiri dan meraih jaketnya, lalu keluar dari rumahnya sebagai tanda bahwa ia mau mengantar Naeun pulang. Ia memang masih tak bisa memungkiri bahwa nalurinya untuk menjaga gadis itu sudah sedemikian besar.

 

Meski pada akhirnya, ia tetap tak memperoleh hak yang telah dijanjikan keluarga dokter Son padanya karena ia masih bersedia membela Naeun dengan tidak menginformasikan pertemuan gadis itu dengan Kim Myungsoo kemarin, sekaligus menjadi kali terakhirnya ia bertanggung jawab atas Son Naeun. Walau ujung-ujungnya, semua pengorbanannya menjaga gadis itu selama ini tak menghasilkan apa-apa dan hanya meninggalkan rasa dendam yang mendalam.

Tapi setidaknya, ia masih memiliki Kim Yura yang akan mengantarkannya memasuki gerbang kehidupan keluarga The King. Sekarang ia hanya perlu memutar otak untuk mencari jalan agar tetap bisa melanjutkan spesialisasinya.

Karena jika ia berhasil dengan rencananya menjadi putra angkat dari keluarga konglomerat itu, ia juga akan membuat keluarga dokter Son berlutut di hadapannya.

*******************

 

Beberapa bulan setelahnya, konfrontasi.

 

Bisa ditebak, semua berjalan dan mengalir apa adanya. Perkenalan Myungsoo dan Naeun membawa banyak perubahan. Hidup Naeun menjadi lebih berwarna bahkan prestasinya justru semakin meningkat sebab ia mendapatkan keseimbangan hidup bersama Myungsoo, segala beban perkuliahannya di kedokteran mampu ia lalui karena Myungsoo selalu tahu cara menghiburnya. Meski mereka masih menjalani semua itu diam-diam entah sampai kapan, Naeun begitu menikmati hubungannya dengan satu-satunya lelaki yang bisa menjadi pelarian atas segala tekanan keluarganya itu. Naeun semakin yakin bahwa takdirnya bertemu Myungsoo sejak awal adalah kunci kebahagiaannya.

Sedangkan Nam Woohyun benar-benar mundur dari kehidupan Naeun bahkan putus kontak pula dengan keluarga dokter Son. Ia telah menyelesaikan pendidikan dokternya dan keluar sebagai lulusan terbaik di fakultas kedokteran Sons, namun entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya jika ia memang tidak dapat melanjutkan spesialisasinya setelah magang di medical center. Meski terkadang masih penasaran akan kabar Woohyun, Naeun bisa mengabaikan rasa penasaran itu dan menyibukkan dirinya untuk bersenang-senang dengan Kim Myungsoo.

Meski untuk saat ini, pertemuan Naeun dengan Myungsoo bisa dikatakan semakin berkurang intensitasnya. Sejak lelaki itu bekerja sebagai fotografer khusus boygroup Jaehwan yang baru saja debut dengan nama samarannya, L, mereka sering kesulitan menentukan jadwal untuk bertemu karena Myungsoo begitu sibuk. Terlebih, Naeun pun sangat berhati-hati karena sejak Woohyun tak lagi berada di sampingnya, gadis itu tak tahu apakah kedua orangtuanya mendapatkan cara baru untuk mengawasinya tanpa ia sadari.

 

Hari itu, sehabis menjalani perkuliahan hingga malam, Naeun nekat untuk mencuri waktu mengunjungi studio Myungsoo setelah membaca sebuah pemberitaan di media massa. Dimana Myungsoo, yang ikut merasakan sedikit popularitas FIX sebagai fotografer mereka dengan nama L, mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan mengakui bahwa ia adalah putra dari pemilik The King saat ini.

Memang, sepak terjang Myungsoo terhadap keluarganya masih belum berhenti bahkan justru semakin memanas, Myungsoo memanfaatkan nama samaran serta kesempatannya tampil di muka publik bersama FIX sebagai ajang membuat kesal The King, sebab keluarganya itu juga terus memberikannya ancaman bahwa ia tak akan pernah diakui sebagai putra kandung apalagi penerus The King karena ia telah menolak untuk menjadi dokter, sering membuat masalah, dan tak pernah menurut seperti Kim Yura. Semakin sering The King mengancamnya, semakin gila tindakan yang ia lakukan untuk menantang. Dan selama Naeun menjalani hubungan tersembunyinya dengan Myungsoo, gadis itu akhirnya tahu bahwa tindakan seperti kabur dari rumah hingga membobol brankas The King hanyalah sebagian kecil dari perilaku brengsek lainnya yang telah dilakukan Myungsoo beberapa tahun terakhir sejak ia dinyatakan sebagai musuh dalam keluarganya sendiri.

Namun mengapa Naeun masih bertahan dan bahkan tak ingin lepas dari Myungsoo?

Sebab gadis itu sangat mengerti, Myungsoo hanya memperjuangkan haknya untuk bebas dan memilih cita-cita yang ia inginkan, Myungsoo begitu mencintai dunia fotografi dan ia tak suka jika jalan hidupnya dikendalikan oleh siapapun. Yang menjadi satu-satunya masalah adalah, meski Myungsoo ingin hidup bebas, ia juga tak ingin statusnya sebagai putra keluarga pemilik kerajaan bisnis terbesar di Korea Selatan terkorbankan. Egosentrismenya yang tinggi membuatnya ingin juga memperoleh pengakuan. Lagipula akan sangat tidak adil jika ia ‘dibuang’ dari pohon keluarga hanya karena ia mengejar mimpinya sebagai fotografer. Apa yang salah dengan memiliki mimpi dan cita-cita? Mengapa aku harus mengorbankan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kukorbankan untuk mimpiku itu? Hal-hal semacam itulah yang terus Myungsoo katakan pada Naeun, yang membuat gadis itu akhirnya memaklumi mengapa Myungsoo tumbuh menjadi pemberontak seperti ini.

 

Naeun berdiri dan berlari kecil dengan tidak sabaran menuju mobil yang tiba di depan gedung ruko tempat studio Myungsoo berada, tangannya masih menggenggam surat kabar dimana pemberitaan tentang ‘fotografer L yang mengakui The King sebagai keluarganya’ itu tertera. Bahkan ketika Myungsoo baru saja turun dari mobilnya, Naeun tak bisa lagi berbasa-basi meski ia sungguh merindukan lelaki itu.

“ Jelaskan. Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa kau akan mengeluarkan pernyataan berbahaya seperti ini? The King akan marah besar dan bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Kau tidak—“

“ Naeunnie? bagaimana ceritanya kau sampai kesini? Kenapa tidak menghubungiku dulu?” Myungsoo nampak tenang-tenang saja dan membuka pintu studionya sekaligus rumahnya. Sudah beberapa minggu ia tak pulang ke rumah The King karena perangnya dengan kedua orangtuanya yang semakin panas. Padahal, Yura terus membujuknya untuk mengambil jalan damai, namun Myungsoo tahu permasalahan yang ia hadapi tidak mungkin akan selesai begitu saja hanya dengan berdamai. Jadi ia menolak bujukan saudara kembarnya itu.

“ Kau Son Naeun itu?”rupanya Myungsoo tidak datang sendirian, ada Jaehwan di belakangnya, Naeun sedikit terkejut dan ia segera membungkukkan badannya dengan sopan ketika selebriti sekaligus sahabat Myungsoo itu menyapanya.

“ Halo, Jaehwan-ssi.”

“ Dia mirip sekali dengan dokter Son, lho. Kau yakin dia bukan putri tunggal keluarga dokter pemilik medical center itu?”Jaehwan berbisik pada Myungsoo setelah matanya beberapa detik mengamati wajah Naeun. Ia sukses membuat jantung gadis itu berdebar keras karena takut identitasnya terungkap.

“ Dia bilang bukan.”Myungsoo masih saja tenang dan masuk ke studionya lalu melempar tas serta kunci mobilnya ke sembarang arah.

“ Kau berasal dari mana? Aku sedikit tidak percaya kau bukan anak dari dokter Son, kalian mirip. Aku bisa bilang begitu karena aku dan keluargaku cukup sering dirawat oleh beliau.” Jaehwan kini beralih lagi pada Naeun, namun gadis itu berusaha untuk tidak gelagapan menjawabnya.

“ Aku.. aku berasal dari keluarga biasa saja. Aku juga masuk fakultas kedokteran Sons dengan beasiswa.”jawab Naeun, ia selalu mengeluarkan kebohongan yang sama pada semua orang yang mencurigai identitas aslinya.

“ Mudah-mudahan saja itu benar.”Jaehwan pun menerima jawabannya meski jelas terlihat bahwa ia masih belum puas, mata besarnya masih mengamati Naeun dari atas ke bawah berulang kali dan ia tak berhenti sebelum Myungsoo menariknya untuk duduk di sofa.

“ Kenapa diam saja? Duduk dulu, baru mengomel seperti tadi.” Myungsoo heran karena Naeun masih mematung, gadis itu memang langsung ingin menjaga jaraknya dengan Jaehwan. Ia tidak menyangka sahabat Myungsoo itu ternyata orang yang sangat kritis.

“ Kau pasti sudah lihat ini kan?” Naeun tidak duduk dan hanya meletakkan surat kabar yang sejak tadi ia pegang di atas meja.

“ Ya.. aku tahu kau pasti bereaksi, maaf karena kita tidak sempat berdiskusi masalah ini. Lagipula meski kau tidak setuju, aku akan tetap melakukannya. Ini tujuan utamaku menerima pekerjaan sebagai fotografer FIX, agar aku punya kesempatan untuk bicara pada semua orang. Aku muak dengan The King yang masih tidak bisa menganggap anak-anak mereka seperti manusia.”

“ Tapi—”

“ Kami kesini untuk membicarakan itu juga. Bergabunglah kalau kau ingin tahu.”sela Jaehwan, Myungsoo mengangguk.

Jika mata Jaehwan tidak setajam itu mengamatinya, tentu saja Naeun bersedia duduk disana, di samping Myungsoo. Namun gadis itu berfirasat Jaehwan akan semakin mencurigainya jika ia berlama-lama, Jaehwan akan punya banyak waktu untuk terus memperhatikannya jika ia memilih untuk duduk juga.

“ Kurasa aku tidak perlu disini. Aku hanya ingin memastikan Myungsoo baik-baik saja. Jangan sampai kau terluka karena apa yang kau perbuat.”Naeun menepuk bahu Myungsoo dan kekasihnya itu mengangguk.

“ Lihat-lihat saja dulu studioku, aku punya banyak koleksi baru. Setelah ini aku akan menemuimu.”

Naeun menurut, ia berlalu dan memasuki ruangan lain dari studio Myungsoo yang cukup luas. Jaehwan benar-benar membuatnya merasa tak nyaman.

“ Sumpah, ia mirip sekali dengan dokter Son.”lagi-lagi Jaehwan mengungkapkan kecurigaannya. Naeun urung untuk berjalan begitu jauh, ia bersembunyi dan ingin mendengar pembicaraan apa yang akan dibahas oleh Myungsoo dan sahabatnya itu. Mungkin saja ia akan menemukan fakta-fakta baru yang belum pernah diungkap oleh Myungsoo padanya.

“ Jangan menakutiku.”sahut Myungsoo sambil meraih botol winenya, “…dia bilang dia bukan siapa-siapa.”

“ Bagaimana mungkin kau percaya hanya dengan perkataannya saja? Kau sudah memastikannya?”

“ Sebelum memutuskan untuk benar-benar menemuinya beberapa bulan lalu, aku mengawasinya berhari-hari dengan berkeliaran di fakultasnya. Aku sampai membuang rasa malu berkeliaran di tempat itu, hampir semua mahasiswa lama disana tahu bahwa dulu aku biang kekacauan disana. Tapi demi perempuan itu, aku terpaksa melakukannya.”

“ Apa yang kau dapatkan?”

“ Aku memeriksa datanya di website fakultas, aku juga mengawasi kesehariannya dan ia hanya menempel pada Nam Woohyun sepanjang hari. Tak ada yang bisa kusimpulkan selain dia hanya mahasiswa biasa seperti calon dokter brengsek itu. Aku tidak melihat tanda-tanda apapun yang menunjukkan bahwa dia putri tunggal keluarga dokter Son.”

“ Bagaimana jika kau melewatkan sesuatu?”

“ Lee Jaehwan, hentikan saja. Jangan sentuh Son Naeun, dia bukan siapa-siapa, dia hanya kekasihku sekarang.”

Myungsoo begitu yakin bahwa Naeun bukanlah putri tunggal keluarga dokter Son. Bukan karena lelaki itu melewatkan sesuatu selama mengamati gadis itu, namun memang Naeunlah yang pandai menyembunyikan jati dirinya sejak dulu. Di satu sisi, Naeun lega karena Myungsoo masih termakan oleh kebohongannya, namun ia penasaran mengapa lelaki itu takut jika ia memanglah putri tunggal dari keluarga dokternya?

 

“ Kau pasti sangat mempercayainya. Kau benar-benar mencintai dia, huh? Senang rasanya melihatmu menemukan pengganti Park Chorong di hatimu.”

“ Jangan sebut nama itu lagi. Bisakah kau berhenti membuat moodku memburuk?!”

Jaehwan tertawa, “ Aku kan hanya bertanya. Rasanya kagum saja pada Son Naeun itu, ia bisa menggeser Park Chorong yang sempat membuatmu hampir gila.”

“ Aku tidak peduli lagi dengan dia. Yang jelas ia akan sangat beruntung atau sangat sial jika akhirnya luluh pada Nam Woohyun, tergantung apakah Woohyun berhasil atau gagal menjalankan seluruh rencana liciknya.”

 

Benar, kan. Jika Naeun tak bersembunyi seperti sekarang, mungkin ia tak akan tahu rahasia Myungsoo yang satu ini. Ia memang sudah menduga bahwa Myungsoo dan Chorong saling mengenal meski entah bagaimana dan hubungan apa yang terjalin di antara mereka.

Park Chorong adalah cinta pertama Myungsoo, dan masalah inti dari Myungsoo dan Woohyun di masa lalu adalah memperebutkan gadis itu. Hanya itu kenyataan yang Naeun bisa ketahui melalui pembicaraan yang tengah ia dengarkan. Dimana Myungsoo dan Chorong bertemu, mengapa Myungsoo menyukainya, dan mengapa Chorong menolaknya bahkan sempat membuat Myungsoo hampir ‘gila’ masih menjadi tanda tanya.

Tapi apa sekarang itu penting? Semuanya sudah berlalu. Meski sedikit merasa cemburu, Naeun yakin kini tak ada lagi yang tersisa di antara mereka. Gadis itu hanya merasa takjub saja, Chorong pernah dikejar-kejar oleh seorang seperti Kim Myungsoo namun ia tetap menjalani hidupnya dengan keras dan konsisten, seolah tak ada satupun lelaki di dunia ini yang menarik perhatiannya.

Satu hal lagi yang menjadi fokus bagi Naeun, lagi-lagi Myungsoo mengungkapkan kebenciannya pada Woohyun, dan Jaehwan sepertinya sudah tahu apa masalah mereka dengan jelas. Fakta bahwa Woohyun adalah orang yang seburuk itu di mata Myungsoo masih sulit dipercaya oleh Naeun, namun ia bersabar untuk menunggu apa yang akan terjadi di masa depan, apakah itu terbukti atau tidak. Meski sudah tak lagi bersama-sama seperti dulu dengan Woohyun, Naeun masih merasa lelaki itu adalah sosok yang baik, bahkan sangat sangat baik dan sudah seperti kakak laki-lakinya sendiri.

 

“ Rencana-licik-Nam-Woohyun itu masih spekulasimu saja sampai sekarang, kan? Kita sama-sama belum menemukan bukti apakah memang dia ingin menjadi anak angkat The King untuk menggantikan posisimu pada pernikahan bisnis itu. Semua itu masih fiksi dalam pikiranmu saja. Apa mungkin Woohyun benar-benar sejahat itu?”Jaehwan melanjutkan pembicaraan sembari ikut menuang wine ke dalam gelasnya.

“ Entah. Meski aku terkesan mengarang, aku punya keyakinan kuat bahwa ia sejahat itu.” jawab Myungsoo tanpa keraguan, “…melihatnya mendekati Kim Yura saja sudah merupakan pertanda aneh. Aku tahu betul ia sangat menyukai Park Chorong sampai ia begitu anti kepadaku.”

“ Kim Yura..” Jaehwan merasa gusar, “…apa yang sudah Nam Woohyun lakukan padanya sampai-sampai ia lebih memilih mahasiswa miskin dan sebatang kara itu dibanding aku? Tidak masuk akal.”

“ Entahlah, yang jelas aku yakin dia memanfaatkan saudaraku untuk mempromosikan dirinya pada The King. Dia menggunakan kecerdasannya di tempat yang sangat tepat, dan itu membuatku jengkel karena aku tak bisa membuktikannya.”

“ Tapi kudengar dia tidak bisa melanjutkan spesialisasinya karena kalah debat kemarin.”

“ Yah.. aku juga sudah dengar itu dari Yura. Seandainya Nam Woohyun memang tidak sejahat yang kubayangkan, ia pasti sadar diri saja dan tak akan melanjutkan S2nya. Tapi kita lihat saja, aku bertaruh ia akan menemukan cara untuk menjadi dokter spesialis, ia perlu mengesankan The King dengan gelar itu.”

Myungsoo hanya mengandalkan instingnya untuk membaca semua rencana Woohyun, yang ternyata sangatlah tepat dan benar. Ini seakan merupakan akibat dari reaksi psikologisnya yang dulu begitu mencintai Chorong sehingga menaruh kewaspadaan penuh pada saingannya. Seandainya saja ia tak pernah bertemu dan jatuh hati pada Park Chorong, ia tak akan pernah peduli pada siapa Nam Woohyun. Kecintaannya pada Choronglah yang membuat Myungsoo begitu penasaran siapa sebenarnya saingan yang ia hadapi. Dan kendati perasaannya pada Chorong sepertinya sudah berakhir, ia tetap berurusan dengan Nam Woohyun karena kini Kim Yura, saudara kembarnya, entah bagaimana ceritanya, menjalin hubungan dan cinta mati pada calon dokter itu.

Naeun berpikir, andai saja Myungsoo juga mengetahui bahwa Woohyun memiliki kedekatan dengan keluarga dokter Son, dugaannya tentu akan semakin kuat. Namun Naeun tak mau membuat keadaan semakin rumit.

 

“ Apa keputusanmu membuat pernyataan di media massa ini adalah untuk mencegah presdir Kim mencari anak angkat untuk menggantikanmu?”Jaehwan meraih surat kabar yang barusan diletakkan Naeun di atas meja.

“ Ya. Setidaknya untuk menggertak agar mereka tahu aku tak akan terima sampai kapanpun jika ada putra lain di The King selain aku.”Myungsoo menjawab dengan tawa remeh.

“ Kau menggunakan nama L, tentu saja ini menjadi kontroversial.. semua orang tak akan percaya.”

“ Santailah.. ini masih permulaan, jadi aku pakai cara murahan dulu tanpa menggunakan nama asli maupun bukti. Aku hanya ingin lihat bagaimana reaksi The King sekarang.”jawab Myungsoo enteng, “…apa reputasi FIX terpengaruh karena aku?”

“ Tidak, tenang saja. Agensiku sangat ahli mengendalikan masalah.”

“ Maaf karena aku sedikit menyusahkanmu.”

“ Ya, kau sangat menyusahkan.”

Keduanya tertawa dan bersulang.

By the way, aku sangat berharap pacarmu itu memang bukan putri tunggal keluarga dokter Son, walaupun aku masih merasa dia punya wajah yang sangat mirip dengan—“

“ Aku bisa menyesal jika dia benar-benar orangnya.”

“ Bagaimana kalau dia memang putri tunggal keluarga dokter Son?”

“ Aku akan membunuhnya karena telah membohongiku.”

 

Naeun mendadak gemetar hebat mendengarnya. Mengapa Myungsoo harus seperti itu?

 

Melalui pembicaraan Myungsoo dan Jaehwan yang semakin teliti ia dengarkan, Naeun mengetahui jawabannya. Pernikahan bisnis itu. Myungsoo tahu bahwa dirinya dipaksa menjadi dokter karena ia akan dinikahkan dengan putri tunggal keluarga dokter Son, yang tak ia ketahui siapa. Tentu saja ia tak terima jika kehidupan percintaannya pun diatur seperti itu hanya demi keserakahan kedua orangtuanya yang juga ingin menguasai sektor kesehatan di negaranya., terlebih, dulu Myungsoo masih sangat mencintai Chorong. Namun meski sudah menolak, ia penasaran dan mencari-cari sosok putri tunggal keluarga Son itu di fakultasnya sekeluar ia dari sana. Rasa penasaran itulah yang mengantarkannya bertemu dengan Naeun, yang pada awalnya pun ia duga sebagai orang yang dicarinya karena hanya gadis itu satu-satunya yang memiliki nama’Son’di fakultas kedokteran Sons. Ia telah mengikuti setiap pergerakan gadis itu di kampusnya berhari-hari, namun tak ia temukan bukti kuat karena Naeun memang sangat pandai menyembunyikan identitasnya.

Dan kini, Naeun sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal karena menyembunyikan identitasnya sebagai putri tunggal keluarga dokter Son dari Myungsoo. Ia sama sekali tak pernah menduga bahwa sebenarnya ia dan lelaki itu bisa saja memiliki garis takdir yang lain, dijodohkan demi bisnis bernilai lebih dari miliaran. Namun mereka justru bertemu dan menjalin hubungan dengan cara lain karena Myungsoo tak sudi menuruti keinginan The King.

Tapi semua sudah terlanjur, Naeun harus tetap bersembunyi untuk mempertahankan Myungsoo di sisinya. Meski ia tak tahu apa yang akan terjadi jika suatu saat Myungsoo mengetahui segala kebohongannya. Yang jelas, mereka tak punya lagi harapan untuk dijodohkan karena Myungsoo telah menolak habis-habisan keinginan keluarganya itu.

Naeun menahan airmatanya yang hampir jatuh, ia takut jika suatu saat ini semua akan terungkap.

Akankah Myungsoo menyesal jika ia tahu bahwa gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah aku?”

***

 

“…”

Woohyun masih diam dan merenung di rumah kontrakan kecilnya. Ini sudah sebulan sejak ia keluar sebagai lulusan terbaik di Fakultas Kedokteran Sons dan stress mulai menghantuinya karena ia masih belum mendapatkan cara untuk melanjutkan spesialisasinya setelah magang di medical center.

Besok, lelaki itu akan memulai masa magangnya, namun ia sudah kehilangan semangat, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana cara untuk memperoleh gelar dokter spesialis bedah agar dapat mengesankan The King seperti rencana yang sudah sejak awal ia susun. Sangat tidak mungkin jika ia membiayai dirinya sendiri karena dana untuk melanjutkan jenjangnya menjadi dokter spesialis sungguh mahal dan benar-benar diluar batas kemampuannya yang hanya hidup sendiri dan serba sulit. Bahkan jika bukan karena memeras Kim Yura sedikit demi sedikit, mungkin Woohyun belum tentu bisa bertahan hidup hingga sekarang.

“ Tidak… tidak mungkin Kim Yura lagi. Tidak bisa.”lelaki itu gusar dan terus menekan keinginannya untuk meminta Yura yang membiayai kuliah spesialisasinya, ia terus berpikir keras dan hanya akan menjadikan Yura sebagai pilihan terakhirnya, jika benar-benar sudah tak ada jalan lain.

Kini tangannya meraih satu bingkai foto berisi potret kebersamaannya dengan Son Naeun dahulu. Ia tersenyum sinis, tak menyangka kini ia betul-betul terpisah dengan gadis yang sempat menjadi target utamanya untuk memenuhi mimpinya untuk menguasai medical center terbesar di negaranya. Seandainya saja Myungsoo tidak datang dan mengubah gadis itu dalam sekejap, mungkin gadis itu masih ada dalam kendalinya.

“ Son Naeun. Lihat saja, apapun yang terjadi, hanya aku yang akan menikahimu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk memiliki medical center keluargamu sejak awal aku bersedia menjadi penjagamu, jadi jangan berpikir kita benar-benar berpisah sekarang.”

 

BUK! BUK!

Telinga Woohyun tiba-tiba menangkap suara berisik di luar rumahnya. Ia segera bangkit dan mengintip dari balik jendela, nampak sebuah mobil pick up bermuatan penuh terparkir di depan kontrakannya, dan dari sana turunlah dua orang yang sangat familiar.

“ Park Chorong?”

Mengapa gadis itu tiba-tiba muncul di depan rumahnya? Ia bahkan dengan seseorang yang sangat tak terduga.

“ Bukankah itu N? Cha Hakyeon.. leader boygroup FIX yang baru debut itu?”

Sepertinya, selama bertahun-tahun menyukai Park Chorong, Woohyun melewatkan sesuatu yang besar tentang gadis itu. Bagaimana bisa ia tak tahu bahwa Chorong mengenal seseorang yang sedang naik daun? Saat ini Hakyeon terkenal sebagai member boygroup yang sama dengan Jaehwan dan memiliki jumlah penggemar yang tidak sedikit. Apa ia dan Chorong adalah teman dekat? Atau mereka justru adalah sepasang kekasih? Pikiran Woohyun mulai kacau melihat mereka bekerja sama menurunkan barang-barang dari pick up, mereka nampak sangat akrab dan terus tertawa bersama.

“ Sial!”

Lelaki itu segera menunduk, bersembunyi ketika mata bulat Chorong mengarah ke jendela rumahnya. Memang, meski telah saling kenal sejak SMA, Woohyun berpikir bahwa Chorong tak pernah tahu dimana rumahnya. Gadis itu kelihatan tidak pernah peduli. Namun siapa yang tahu bagaimana sesungguhnya?

*

“ Dia bersembunyi.” Chorong tertawa kecil dan berbisik pada Hakyeon yang masih sibuk mengangkat banyak dus untuk dimasukkan ke dalam rumah kosong yang berada tepat di samping rumah Woohyun.

“ Oh ya? Hahaha. Apa kau akan mengunjunginya duluan nanti?”tanya Hakyeon.

“ Tidak mau. Aku tak akan mendatangi laki-laki duluan.”

“ Hei.. kau pindah kesini saja namanya sudah mendatanginya duluan. Kenapa masih saja gengsi?”

“ Aku pindah kesini untuk mencari ketenangan dan melanjutkan bisnis kita.”

“ Tapi kau memilih rumah ini dibanding rumah-rumah kosong yang lain.”

“ Haish.. baik.. baiklah, aku kalah.”

“ Hahaha.. kenapa kau lucu sekali.” Hakyeon mencubit pipi tembam gadis itu dengan gemas, “…aku mengerti.. kau bisa mengatasinya sendiri dulu, kan? Kesibukanku masih belum bisa ditoleransi.”

Chorong menatap beberapa unit komputer yang telah diturunkan oleh Hakyeon untuk dipasang di rumah barunya.

“ Kira-kira berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk membuat dan mengembangkan situs itu?”tanyanya dengan nada sedikit putus asa sembari mengikuti Hakyeon untuk masuk ke dalam rumah barunya.

“ Hmm.. setahun saja tentu tidak cukup. Banyak yang harus kita lakukan dan kita perlu sabar. Tenang saja.. aku akan mengajarimu, bu dokter.”jawab Hakyeon yang kini mulai mempersiapkan dirinya untuk memasang semua komputernya.

“ Apa kau yakin kita akan dapat banyak uang dengan situs itu?”

“ Tentu saja. Kehidupan di negara ini semakin keras, kita tak akan pernah tahu berapa banyak lagi yang akan bunuh diri.”

“ Apa aku boleh beritahu Woohyun tentang ini?”

“ Jangan.”

“ Kenapa?”

“ Sampai kapanpun, ini hanya akan jadi rahasia kita berdua. Ini terlalu berbahaya untuk dibocorkan pada siapapun. Pada orang yang paling kau percayai sekalipun.”

“ Kau adalah orang yang paling aku percayai, oppa.”

“ Bukan Nam Woohyun?”

Chorong menggeleng, ia melangkah ke luar rumah dan mata bulatnya kembali menatap jendela rumah Nam Woohyun. Lelaki itu tak terlihat lagi, mungkin ia takut ketahuan.

Oppa, apa menurutmu aku gila? Entah apa alasannya, terkadang aku berfirasat bahwa Nam Woohyun yang selalu kelihatan ceria itu adalah orang yang jahat dan ambisius. Tapi aku tetap menyukainya.”

“ Jika memang suatu saat kau menemukannya seperti itu, segera tinggalkan dia.”

Gadis itu hanya tersenyum tipis dan tak memberikan jawaban.

*

 

“ Fokus saja dulu dengan magangmu di medical center. Semoga kau benar-benar bisa menjadi dokter bedah tetap disana setelah spesialisasimu selesai.”

Woohyun kembali mendengar suara di depan rumahnya. Ia sempat putus asa karena Hakyeon dan Chorong masuk ke dalam rumah. Kini mereka kembali berada di luar, dan kelihatannya Hakyeon akan pergi meninggalkan gadis itu. Woohyun mencoba untuk mengawasi mereka dengan lebih berhati-hati.

 

“ Kau juga, jadilah selebriti yang baik. Jika tidak memungkinkan, tidak perlu sering-sering mengunjungiku disini.”

“ Maafkan aku, sejak aku seperti ini.. aku tak bisa melindungimu lagi dari kejaran fotografer itu. Jaga dirimu.”

“ Tenang.. aku akan baik-baik saja.”

“ Haha. Tentu saja kau akan baik-baik saja.” Hakyeon sedikit melirik rumah Woohyun, dan Chorong nampak salah tingkah.

“ Masalah bisnis kita, aku akan sering menelponmu untuk langkah-langkah berikutnya.”

“ Ya. Itu harus. Kau berhati-hatilah, jangan sampai ada yang menyentuh semua perangkat kita.”

“ Aku mengerti.”

“ Kalau begitu aku pergi sekarang.”

Keduanya berpelukan erat. Setelah itu, Hakyeon pergi dengan pick up mereka, meninggalkan Chorong yang masih berdiri dan melamun.

Woohyun tak bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas. Yang pasti, pikirannya kacau melihat gadis itu sedemikian dekatnya dengan laki-laki lain. Seorang selebriti, pula.

“ Ups!”

Lelaki itu tersentak, terkejut karena mata Chorong kini benar-benar menangkapnya.

Apa boleh buat. Malamnya, Woohyun mengunjunginya. Lagipula mereka sudah sangat lama tidak bertemu sejak debat terakhir. Woohyun tak menyangka Chorong menjadi tetangganya sekarang. Ia berharap ini akan menjadi pertanda baik.

 

“ Kurasa aku punya tetangga baru. Sepertinya tidak sopan jika aku tidak membantunya beres-beres.”

Park Chorong yang masih sibuk dengan komputer-komputernya tidak begitu terkejut, ia tahu Nam Woohyun pasti mendatanginya duluan. Gadis itu hanya sedikit panik dan segera menutup beberapa unit komputernya dengan kain yang ia letakkan di lantai, setelah itu berdiri dengan wajah jual mahal.

“ Masuk.”sahutnya pendek, tangannya masih sesedikit menutup layar komputernya yang tak sempat ia matikan.

“ Kau tidak terkejut?”

“ Aku tahu kau tinggal disini.”

“ Apa itu alasanmu pindah?” lelaki itu sedikit bercanda, tangannya mulai aktif merapikan beberapa barang yang masih berserakan di lantai. Satu-satunya yang sudah tersusun rapi hanyalah beberapa unit komputer.

“ Bukan.”Chorong masih saja menjawab dengan singkat, “…kudengar kau jadi lulusan terbaik. Selamat ya.”

“ Kau juga, kan? Selamat.” Woohyun menemukan bingkai piagamnya, “…jadi melanjutkan spesialisasi di fakultasku?”

“ Bagaimana denganmu?”

Lelaki itu tertawa pahit.

“ Tentu saja tidak, kau pemenangnya.”

“ Keluarga Dokter Son tidak memberimu beasiswa? Keterlaluan sekali. Padahal kau cukup lama jadi penjaga Son Naeun.”

Apa? Woohyun terkejut. Darimana Chorong tahu hal itu? Darimana ia tahu bahwa Son Naeun adalah putri tunggal keluarga dokter Son? Sekali lagi, nalurinya untuk bertanggung jawab atas Naeun masih terasa, ia masih ingin melindungi status gadis itu.

“ Apa yang kau bicarakan?”Woohyun hanya pura-pura tak mengerti.

“ Aku tidak bodoh. Tak ada yang bisa menipuku.”tanggap Chorong dengan gaya angkuh khasnya, “…tidak ada gunanya pura-pura bodoh seperti itu, Woohyun-ssi.”

“ Sudahlah. Aku tidak mengerti, yang jelas aku tidak dapat beasiswa apa-apa.” Lelaki itu tetap pada akting pura-pura tidak tahunya. Sedendam apapun ia pada keluarga dokter Son, ia tetap tak ingin membocorkan rahasia besar mereka semudah ini.

“ Baiklah.. jadi setelah magang apa rencanamu? Tidak mungkin jadi gelandangan, kan?”

Inilah ciri khas Park Chorong, selalu mengeluarkan kata-kata menyakitkan.

“ Tidak tahu. Mungkin aku akan menikahimu saja.”

“ Hahaha!”

Selalu saja ditertawakan. Woohyun penasaran, apakah selamanya Chorong akan menganggap perasaannya hanya lelucon? Sadar tidak sadar, keinginannya untuk memiliki gadis itu juga menjadi pendorong yang kuat untuknya mewujudkan ambisi sebagai bagian dari The King. Ia tak akan membiarkan Park Chorong lari darinya.

“ Jadi apa yang akan kau lakukan setelah selesai magang?”Chorong mengulang pertanyaannya dan berharap tak mendengar jawaban yang konyol lagi.

“ Apa kau ingin membangun café internet disini? Kenapa banyak sekali komputer?”Woohyun tak menjawab dan justru mengalihkan pembicaraan. Lagipula ia memang penasaran mengapa Chorong memiliki komputer lebih dari satu unit dan memenuhi rumah kontrakannya yang kecil.

“ Jangan sentuh!!”gadis itu buru-buru melindungi komputer-komputernya, “…kau sangat boleh membantuku beres-beres, tapi.. jangan ini.”

“ Baiklah, aku tak akan menyentuhnya, tapi beritahu dulu aku sesuatu.”

“ Apa?”

“ Bagaimana bisa kau kenal dengan N ‘FIX’?”

“ Hahaha.. kau mengikuti perkembangan selebriti.”

“ Jawab saja.”

“ Memangnya kenapa? Sama sekali bukan urusanmu.”

“ Kalau begitu aku ingin lihat komputer—“

“ Dia.. Hakyeon! Dia… kakakku. Kakak angkat!” Chorong segera menjawab sembari melindungi komputer-komputernya sekali lagi dengan panik karena Woohyun nyaris saja menyingkirkan kain yang menutupinya.

“ Kakak angkat?”

“ Menjauhlah dari komputerku kalau ingin dengar lebih lanjut.”Chorong terlihat kesal dan beranjak, menaiki tangga untuk pergi ke atap, Woohyun mengikutinya meski matanya masih tak bisa lepas dari komputer-komputer yang masih menyala dan ditutup kain itu. Apa yang sebenarnya tengah dilakukan Chorong?

 

“ Hakyeon itu kakak angkatku dari kecil, dulu kami adalah tetangga. Kami sama-sama hidup sebatang kara, jadi saling peduli.”gadis itu melanjutkan penjelasannya sembari memasukkan kakinya ke dalam baskom cucian lalu menginjak-injaknya, malam itu rupanya ia masih berkutat dengan pekerjaan rumah yang satu ini.

“ Aku juga hidup sebatang kara, dan sekarang aku jadi tetanggamu. Apa kau akan peduli padaku?”Woohyun bertanya sembari ikut bergabung dengan gadis itu.

Chorong diam, wajahnya mulai memerah, ia pura-pura sibuk menginjak cuciannya.

“…ayolah. Debat kita sudah lama berakhir. Kenapa kau masih ingin memusuhiku?”lanjut Woohyun sembari menggesekkan kakinya yang licin pada kaki Chorong, membuat gadis itu semakin salah tingkah.

“ Kau mau melindungiku?”tanya gadis itu tiba-tiba dengan suara pelan.

“ Dari apa?”

“ Kim Myungsoo.”

Woohyun tertawa sinis, ia kira setelah mengenal Son Naeun, Myungsoo benar-benar mundur dari kehidupan Chorong, rupanya tidak.

“ Dia masih menerormu?”

“ Aku pindah kesini karena itu. Aku berharap dia tidak tahu dimana aku sekarang.”kini wajah cantik Chorong menyiratkan ketakutan, “…aku pindah karena Hakyeon tidak bisa terus bersamaku lagi sekarang, sebenarnya aku.. memang perlu perlindungan darimu, Nam Woohyun.”

Rasa benci Chorong pada Kim Myungsoo memang telah berubah menjadi rasa takut. Sebab setelah ditolak berulang kali, Myungsoo tak menyerah dan justru meneror gadis itu, matanya maupun kameranya terus mengikuti Chorong dimanapun gadis itu berada. Bagaimana Chorong tahu hal itu? Tentu saja karena Myungsoo rajin mengiriminya email berisi foto-foto hasil stalkingnya, ia sengaja menakut-nakuti gadis itu. Chorong masih bisa menahannya saat Hakyeon masih belum berkarir sebagai selebriti dan bisa melindunginya. Namun setelah Hakyeon pergi dan tidak bisa selalu di sisinya, gadis itu merasa ia perlu mencari perlindungan baru.

“ Kau ingin aku melindungimu, tapi kau juga terus menolakku.”Woohyun mencoba jual mahal meski tentu saja tanpa diminta, ia ingin melindungi Chorong bahkan sejak lama.

Gadis itu menggigit bibirnya, grogi.

“ Sejak awal.. aku memilihmu, Nam Woohyun. Aku menolakmu hanya karena aku tak ingin Myungsoo melukaimu.”

“…”

“ Hei.. katakan sesuatu, aku sudah berani memberitahumu yang sebenarnya.” Chorong mulai malu karena Woohyun diam saja. Ia benar-benar menunggu hari ini tiba, sebab ia pun merasakan hal yang sama dengan lelaki itu, memendam perasaannya sejak mereka SMA karena persaingan kecerdasan mereka yang sudah dimulai sejak dari sana.

“ Aku bingung, Park Chorong.”

“ Bingung..kenapa?”

Satu-satunya yang ada dalam pikiran Nam Woohyun adalah tujuan utamanya untuk menjadi putra angkat The King dan menikahi Son Naeun untuk menguasai medical center. Jika Park Chorong, gadis sesungguhnya yang ia cintai kini menyambut perasaannya, tentu saja ia memiliki tanggung jawab baru untuk menjaga gadis itu untuk tidak pergi darinya meski suatu saat gadis itu mengetahui semua tujuan kejinya. Apa yang harus ia perbuat? Melepaskan Park Chorong sama sekali tak ada dalam benaknya, gadis ini terlalu berharga.

“ Aku masih belum tahu bagaimana melanjutkan spesialisasi nanti. Tidak mungkin kau saja yang akan jadi dokter spesialis, kan? Kita harus sama-sama menjadi spesialis bedah.”

Chorong tersenyum.

“ Ambil saja hadiah beasiswa spesialisasi yang aku menangkan di debat terakhir kita.”ucapnya enteng, Woohyun tak percaya.

“ Semudah itu kau memberikannya padaku?!”

“ Aku tahu kau selalu sengaja mengalah setiap kita debat. Kau pasti sangat mencintaiku, hahaha.”

Chorong memang gadis yang cerdas dan sulit untuk dibohongi. Woohyun penasaran, kenyataan apa lagi yang diketahui oleh gadis itu.

“ Aku kalah karena kau memang pintar.”

“ Tetap saja kau sengaja. Aku tahu kau tidak sebodoh itu.”

“ Tapi—“

“ Ambil saja beasiswaku, aku akan melanjutkan spesialisasi di fakultasku saja, mereka memberiku beasiswa juga. Meski fakultasku tidak begitu bergengsi seperti fakultasmu, setidaknya mereka sangat menghargai mahasiswanya yang berprestasi. Aku turut prihatin karena keluarga dokter Son tidak memberi apresiasi apapun pada prestasimu.”

Ucapan gadis itu seolah membangkitkan dendam Woohyun pada keluarga dokter itu. Ia tak punya alasan untuk menolak pemberian Chorong. Gadis itu benar-benar tahu apa yang ia inginkan. Ini adalah hari keberuntungannya.

“ Aku mencintaimu, Park Chorong.”

Woohyun merapatkan kedua kaki licin mereka, mencium gadis itu dengan penuh gairah.

Ia menjadi serakah dalam sekejap, ia ingin memiliki semuanya. Kekayaan The King, medical center, Park Chorong, semuanya.

***

 

7 tahun setelahnya (2015), pengungkapan takdir.

 

There’s a song that’s inside of my soul

It’s the one that I’ve tried to write over and over again

I’m awake in the infinite cold

But you sing to me over and over and over again..

 

Alunan musik klasik memenuhi ruangan studio mewah milik Kim Myungsoo malam itu. Tempat itu menjadi sedikit berbeda dari biasanya dengan dihiasi banyak lilin kecil di sekeliling kamar tidur Myungsoo yang dindingnya dipenuhi dengan ribuan foto gadis yang dicintainya.

Tahun ini, Son Naeun baru saja menyelesaikan spesialisasinya sebagai dokter jiwa. Ia tetap meneruskan pendidikannya meski Myungsoo selalu mengatakan bahwa ia tak pantas menjadi dokter. Gadis itu telah lama tahu alasannya dan ia begitu berhati-hati dalam mempertahankan Myungsoo di sisinya. Ia tak pernah menyangka ia bisa menjalani hubungan dalam waktu selama ini tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Ia dan Myungsoo bekerja sama dengan sangat baik dalam menutupi semuanya.

Malam ini, meski Myungsoo selalu saja mengatakan bahwa ia tak pantas menjadi dokter, pada kenyataannya lelaki itu mempersiapkan pesta kecil untuk merayakan status barunya sebagai dokter jiwa. Hari ini juga bertepatan dengan perayaan tujuh tahunnya hubungan tersembunyi mereka. Mereka baru bisa bertemu malam ini karena Myungsoo tak dapat hadir dan menampakkan dirinya di acara kelulusan Naeun siang harinya. Lagipula, ia juga masih begitu sibuk dengan perang tak berujung dengan keluarganya, ia masih tak bosan menggunakan media massa sebagai tempatnya mengklaim statusnya sebagai putra The King, entah kapan ia akan berhenti.

“ Sejujurnya aku malu, aku hanya bisa memberimu ini disaat keluargaku memiliki harta melimpah. Seharusnya aku bisa memberimu hadiah yang lebih besar, tapi aku semakin kesulitan membobol brankas The King.”

Naeun tertawa kecil, salah satu tindakan gila yang sering dilakukan Myungsoo pada The King itu sudah merupakan hal yang biasa baginya.

“ Aku tidak perlu hadiah besar. Aku hanya ingin kau saja, L.”

“ Selamat atas kelulusanmu, dokter Son.”

Keduanya berciuman dan merapatkan tubuh satu sama lain lalu mulai berdansa dengan tempo pelan di lantai kamar Myungsoo. Naeun selalu mabuk dengan rasa nyaman ini, ia bahkan tak peduli jika malam ini keluarganya bingung mencarinya. Ia ingin melepaskan segala bebannya melalui malam yang panjang dengan pelarian sekaligus kekasihnya. Sebab jika ia sudah mulai bekerja di medical center nanti, belum tentu ia bisa bebas bertemu dengan Myungsoo. Pekerjaan Myungsoo yang kini mewajibkannya mengikuti Jaehwan tour kemanapun saja sudah membuat pertemuan mereka semakin terhambat.

Hingga satu pertanyaan terlintas di benak Naeun, kapankah mereka akan mengakhiri semua ini? Meski ia tak akan pernah merasa bosan, namun terkadang ia ingin tahu masa depan apa yang akan ia hadapi bersama Myungsoo. Selama tujuh tahun hubungan rahasia yang mereka jalani, tak satupun dari mereka yang pernah membahas… pernikahan. Myungsoo sendiri kelihatannya tak pernah berniat untuk mengetahui siapa orang tua Naeun, membuat gadis itu berpikir apakah kekasihnya ini memiliki komitmen dalam hubungan yang mereka jalani?

Naeun tak pernah ingin membahas pernikahan duluan sebab ia masih sangat takut jika statusnya sebagai putri tunggal keluarga dokter Son terungkap tanpa sengaja. Selama ini hingga sekarang, ia mampu menutupinya setengah mati dari Myungsoo, dan setiap malam ia menangis karena takut hari dimana Myungsoo mengetahuinya akan datang.

Ia harap bukan hari ini, bukan esok, dan bukan seterusnya. Ia ingin hubungan mereka terus berjalan seperti ini. Meski tanpa masa depan, setidaknya Myungsoo berada di sisinya.

“ Pinggangmu semakin kecil, kau semakin kurus. Sudah kubilang kau harus tetap bersenang-senang walaupun sedang tesis.”Myungsoo berbicara lagi sembari menyentuh pinggang Naeun dan terus berdansa.

“ Bagaimana caranya aku bersenang-senang kalau kau selalu pergi tour ke luar negeri?”

“ Aku tak akan kemana-mana lagi.”

“ Bukankah tahun depan FIX akan world tour lagi?”

“ Ya, tapi aku tak akan ikut.”

“ Kau berhenti!?”

“ Haha.. jangan terkejut begitu. Aku tidak berhenti, hanya mengambil cuti panjang.” Myungsoo mengelus wajah Naeun sembari tertawa kecil, “…kau takut aku tidak punya uang lagi jika aku berhenti?”

“ Bukan begitu, tapi.. kenapa kau tiba-tiba ingin mengambil cuti?”

“ Tak apa. Aku ingin menyibukkan diri dulu untuk memenangkan perang dengan The King. Kalau aku menang dan bisa menjadi penerus mereka, menjadi fotografer independen pun tidak masalah, karena bukan uang lagi yang kucari.”

“ Bagaimana kabar The King?”tanya Naeun kemudian, “…kapan terakhir kali kau pulang?”

Naeun tetap menanyakan hal itu meski ia tahu Myungsoo telah menganggap studionya adalah rumahnya sendiri, dan lelaki itu tak pernah pulang kecuali untuk membobol brankas The King. Kim Yura adalah satu-satunya yang masih tak menyerah membujuknya. Presdir dan Nyonya Kim hanya bisa mengirim peringatan dan ancaman setiap bulan pada putra mereka. Meski karir Myungsoo sebagai fotografer begitu cemerlang dan ia cukup tenar dengan nama L, mereka tak menunjukkan kebanggaan sama sekali dan justru semakin merasa terhina karena Myungsoo tumbuh bukan menjadi seseorang yang mereka inginkan.

“ Aku ke rumah kemarin, hanya melihat situasi disana saja. Malam ini akan ada pertemuan keluarga, tapi aku tak tahu apa agendanya. Sepertinya perihal pengumuman resmi tentang penerus The King.”

“ Kau melewatkan pertemuan ini? Pergilah sekarang.”Naeun sedikit panik, namun lelaki itu buru-buru menggeleng.

“ Aku akan menunggu hasilnya saja. Yura pasti kesini malam ini.”

Ding.. dong..

Benar saja. Bel studio tiba-tiba berdentang sesaat setelah Myungsoo menyelesaikan kalimatnya.

“ Dia datang lebih cepat.”

“ Cepat bukakan pintu.”

“ Kita belum sempat makan malam bersama.”

“ Tidak masalah, aku akan menunggu.”

“ Ikut saja.” Myungsoo mematikan musik dan menarik tangan Naeun untuk ikut bersamanya ke ruangan depan.

Myungsoo membuka pintu studionya, dan ia kesal karena rupanya Jaehwan yang muncul di depan matanya.

“ Aku kira Kim Yura, aku sudah tidak sabar mendengar hasil pertemuan keluarga The King malam ini.”sungut Myungsoo, sementara Naeun hanya tersenyum canggung setiap kali bertemu dengan sahabat Myungsoo itu. Tujuh tahun berlalu memang membuat mereka semakin akrab, namun Jaehwan terkadang masih saja suka memancingnya untuk mengaku bahwa ia putri tunggal keluarga Son. Meski Naeun terus saja mengelak, entah mengapa rasa curiga Jaehwan semakin besar saja, beruntung Myungsoo tak pernah terpengaruh dan lebih mempercayai kebohongan Naeun.

“ Yura ada di mobil, dia belum mau masuk.”jawab Jaehwan sembari memasuki studio tanpa permisi, ia melepaskan masker dan topinya karena sudah kegerahan, ia memang tak bisa lagi keluar dengan bebas setelah menjadi selebriti papan atas seperti sekarang.

“ Apa yang terjadi?”Myungsoo bingung dan segera duduk di hadapan Jaehwan, sementara Naeun justru penasaran dan menengok keluar, tampak sebuah Porsche dengan atap tertutup terparkir di depan studio, dan jelas di dalamnya terdapat seorang gadis dengan kepala menunduk. Kim Yura, apa yang terjadi padanya? Sudah cukup lama juga Naeun tak bertemu dengan saudara kembar Myungsoo itu. Setahu Naeun, setelah lulus dari kuliahnya, Yura telah lama menjadi pegawai biasa di perusahaan milik The King sendiri. Karena kedua orangtuanya belum mengadakan pengumuman resmi mengenai anak dan penerus mereka, Yura bersedia memulai posisinya dari bawah terlebih dahulu dan berbaur dengan semua pegawai yang suatu saat mungkin akan menjadi bawahannya jika memang ialah yang menjadi penerus The King. Ia juga sama sekali tidak memutuskan hubungannya dengan Nam Woohyun, yang kini telah menjadi dokter spesialis bedah di Son’s Medical Center, ia masih cukup naif untuk mempercayai bahwa kedua orangtuanya akan menyetujui hubungannya dengan lelaki itu.

 

“ Tidak ada. Hanya terjadi sesuatu yang sesuai dugaan kita selama bertahun-tahun.”

Myungsoo terdiam sejenak, sebab ia mengerti apa yang dikatakan oleh Jaehwan.

“ Jadi.. itu terjadi.. di pertemuan keluarga The King?”

“ Pertemuan keluarga itu omong kosong.”

“ Maksudmu?”

“ The King mengundang dua keluarga lainnya, yang ingin mereka ajak untuk melakukan pernikahan bisnis.”

Mata elang Myungsoo memicing, Jaehwan berharap sahabatnya itu tidak meledak dulu sebelum penjelasannya selesai.

“…keluargaku dan keluarga dokter Son. Kami juga menghadiri pertemuan di rumah mewah kalian.”Jaehwan menyambung kalimatnya.

“ Tidak mungkin—“

“ Pertemuan itu mendadak. Keluargaku juga tidak menyangka bahwa hari ini kami membicarakan pernikahan bisnis. Sayang sekali tidak ada kau disana, putri tunggal keluarga dokter Son pun tidak datang, katanya dia menghilang entah kemana.”

Naeun tersentak mendengarnya, dan ia tahu Jaehwan mulai mengintimidasinya lagi dengan lirikan tajam penuh curiga. Gadis itupun berusaha bersikap wajar dan pergi ke belakang sejenak, membuka tasnya dengan terburu-buru dan memeriksa ponselnya yang memang tak pernah ia sentuh setiap ia bersama Myungsoo, itu sudah menjadi perjanjian mereka berdua.

Benar saja, semua anggota keluarga menghubunginya melalui pesan teks maupun panggilan berulang-ulang. Seharusnya ia ikut datang dalam pertemuan mendadak yang diadakan The King malam itu.

Sebuah telepon masuk lagi. Kali ini dari dokter Son, ayahnya. Dengan jari gemetar Naeun mengangkatnya.

“ Ha—“

“ DIMANA KAU?”

Jantung Naeun berdebar tak karuan, ia sudah S2 dan berusia 25 tahun, namun masih ketakutan mendengar suara ayahnya. Memang, karena sejak mengenal Myungsoo, ia terus diliputi kecemasan karena menyembunyikan hubungannya dengan lelaki itu, yang berimbas pada keterpaksaannya melanggar banyak aturan dari kedua orangtuanya.

“ Aku.. aku di rumah teman.”jawab Naeun, dengan nada yang dipaksakan, karena ia belum mempersiapkan kebohongan apapun.

“ Temanmu yang mana lagi sekarang?”

Oke. Kebohongan yang satu ini memang sudah terlalu sering ia ucapkan setiap kali ia berlari menemui Myungsoo.

“ Aku akan segera pulang.”Naeun tak menjawab pertanyaan ayahnya dan hanya berkata demikian. Meski terpaksa, karena sebenarnya ia selalu bermimpi untuk tidur seranjang dengan Myungsoo walau hanya semalam. Entah sejak kapan keinginan liar itu muncul. Padahal, malam ini adalah kesempatannya.

“ Kau terlambat.”jawab dokter Son dengan jengkel, dan Naeun tahu apa maksudnya.

“ Apa ada sesuatu yang kulewatkan?”

“ Seharusnya kau ikut kami melakukan pertemuan dengan The King malam ini. Kenapa kau malah menghilang!?” sang ayah meledak lagi, Naeun mencoba menenangkan dirinya.

“ Bukankah aku masih belum dikenal oleh siapapun?”

“ Sudah saatnya kau memperkenalkan diri sebagai putri tunggalku. Aku sangat menanti hari ini, tapi kau malah menghilang. Apa yang kau kerjakan?!”

“ Maafkan aku, ayah.”

“ Kau sangat sering melanggar aturanku dan pergi tanpa izin setelah Nam Woohyun tak mengawasimu lagi. Kau membuatku menyesal karena telah membuangnya.”

“…”

Naeun membisu sesaat setelah mendengar nama Woohyun di telinganya, ia takut segala spekulasi Myungsoo tentang pernikahan bisnis yang melibatkan lelaki itu benar-benar terjadi.

“ Aku akan segera pulang.”

“ Terserah. Tapi jika kau masih ingin menjadi anakku, menurutlah.”

Telepon diputus. Dokter Son jelas benar-benar marah dengan putrinya.

Perasaan Naeun mendadak tak nyaman. Dengan sekuat tenaga, gadis itu menekan rasa cemasnya dan kembali ke depan, bergabung dengan Jaehwan dan Myungsoo. Yura pun bahkan sudah turun dari mobil dan duduk di sofa dengan murung.

Pembicaraan dimulai. Rupanya, seperti yang telah Myungsoo duga dari bertahun-tahun yang lalu, pada malam ini akhirnya tiba hari dimana Yura memperkenalkan kekasihnya, Nam Woohyun, pada The King. Bukannya menyetujui hubungan mereka, The King justru meminta Nam Woohyun untuk menjadi anak angkat mereka, menggantikan Myungsoo untuk menikah dengan putri tunggal keluarga dokter Son. Pernikahan bisnis yang direncanakan The King pada keluarga Jaehwan dan keluarga dokter Son pun telah dibicarakan malam ini. Semua firasat Myungsoo tepat, tanpa ada yang meleset sedikitpun.

Naeun memilih untuk tetap menutup mulutnya dan mengendalikan dirinya yang mulai gemetar, ini adalah saat-saat yang sangat rentan bagi identitasnya sebagai putri tunggal keluarga dokter Son terungkap. Memang, ia sadar bahwa tak selamanya ia bisa bersembunyi. Apalagi ia telah memenuhi keinginan orangtuanya untuk menjadi seorang dokter spesialis. Ia tak punya alasan lagi untuk bersembunyi kecuali karena ia tak ingin Kim Myungsoo…membunuhnya?

“ Jadi? Apa Nam Woohyun menusukmu dari belakang?”tanya Myungsoo pada Yura dengan datar, ia tak tahu apakah ia harus ikut marah atau menertawai saudaranya dulu.

“ Tidak! Tidak mungkin!” Yura menjawab dengan cepat meski wajahnya sudah begitu stress. Jaehwan hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“ Woohyun memang bilang dia akan mempertimbangkannya dulu. Padahal aku lihat The King dan keluarga dokter Son sudah sangat berharap.”sela Jaehwan, Myungsoo tertawa sinis.

“ Hahaha, dasar bajingan sombong. Ia hanya sedang jual mahal. Lihat saja nanti apa keputusannya.”

Naeun tak menyangka, setelah bertahun-tahun berlalu seperti inilah yang terjadi sekarang. Ia masih ingat betapa keluarganya mencampakkan Nam Woohyun 7 tahun lalu karena lelaki itu dianggap lalai dan tak menjaganya. Ini semua salahnya. Naeun tak menyangka setelah itu Woohyun dapat membalikkan keadaan, kini seniornya itu telah sukses menuntaskan spesialisasi bedahnya 3 tahun lalu di fakultas kedokteran Sons berkat Park Chorong, dan lagi-lagi ‘menampar’ keluarga dokter Son dengan prestasinya sebagai lulusan terbaik. Meski hubungannya dengan keluarga dokter Son tidak pulih seperti sediakala, ia tetap diterima menjadi dokter tetap di medical center, ini membuat tujuannya mendekati The King dengan gelar dokter spesialisnya hanya tinggal di depan mata. Sebab meski bertahun-tahun telah berlalu, tanpa sepengetahuan Park Chorong, ia masih belum melepaskan Kim Yura sebelum tujuan utamanya tercapai.

Dan sepertinya Nam Woohyun sudah tiba di saat-saat terakhirnya untuk bersiap ‘membuang’ Kim Yura. Naeun begitu takut. Jika memang seniornya itu menerima kemauan The King, akankah mereka bertemu lagi dan… melakukan pernikahan bisnis?

Semuanya terlalu mengerikan untuk dibayangkan. Naeun berada di posisi yang paling berbahaya, masa-masa bahagianya telah habis dan ia harus segera menghadapi semua konsekuensi atas kebohongannya pada Kim Myungsoo.

“ Seandainya saja kau menjadi dokter, ini tidak akan terjadi..”ucap Yura dengan suara sangat kecil dan airmata bercucuran, karena ia memang masih sangat takut menyalahkan saudaranya.

“ Seandainya Myungsoo menjadi dokter, kau pun akan tetap menikah denganku.”sela Jaehwan berani, Myungsoo tertawa sinis.

“ Tidak, Jaehwan. Aku tidak bisa. Aku tidak mencintaimu.”

“ Terserah. Bagaimanapun juga aku yang akan menyentuhmu duluan.” Jaehwan putus asa dan mengeluarkan kebiasaannya berkata kasar hingga sontak membuat Yura menangis lagi.

Mata Naeun berkaca-kaca, ia bisa merasakan betapa Yura mencintai Woohyun, namun Naeun pun tahu bahwa Jaehwan sudah cukup menahan sakitnya mencintai Yura bertahun-tahun tanpa balasan, tapi setidaknya artis terkenal itu bisa bersyukur karena Yura tetap akan jatuh ke pelukannya berkat rencana pernikahan bisnis di antara kedua orangtua mereka.

Dunia kaum jetset memang kejam dan tak berperasaan, mereka selalu menempatkan uang di atas segalanya. Itulah sebabnya Naeun sangat paham mengapa Myungsoo ingin lari dari segala tradisi mengerikan kerajaan bisnis keluarganya. Gadis itupun berpikir apakah ia bisa melakukan hal yang sama? Dan jawabannya selalu tidak, tanggung jawabnya sebagai penerus kepemilikan medical center sangat besar karena ia seorang putri tunggal.

“ Pulang sana. Aku tak perlu tangisanmu.” Myungsoo tak peduli dengan Yura yang masih menangis, ia melempar kunci Porsche milik Jaehwan pada gadis itu.

Kejam? Memang. Seperti itulah Myungsoo pada Yura sejak dulu. Ini bukan berarti ia tak memiliki rasa sayang secuilpun pada saudara kembarnya, Myungsoo hanya tak bisa mengendalikan rasa dengkinya karena Yura lebih disayang oleh kedua orangtua mereka, ia juga semakin tak suka karena Yura lebih mempercayai Nam Woohyun ketimbang dirinya. Ia merasa tak punya alasan lagi untuk peduli pada kembaran fraternalnya itu.

“ Aku akan mengantarnya.”Jaehwan bersiap untuk berdiri, namun Myungsoo menariknya untuk duduk kembali.

“ Biar dia sendiri. Kau disini saja.”

“ Kenapa?”

“ Lihat.”

Myungsoo sedikit melempar ponsel mewahnya yang sejak tadi ia genggam ke atas meja, Jaehwan segera meraihnya dan membaca artikel yang terbuka di layarnya.

“ Haha, sialan.”

Berita begitu cepat menyebar. Perjalanan Jaehwan dan Yura menuju studio Myungsoo tertangkap oleh kamera paparazzi. Ini hanya akan menjadi awal dari berita perjodohan mereka yang juga akan segera dirilis. Dapat dipastikan, dalam waktu singkat nama Kim Yura akan segera menjadi musuh utama dalam kalangan penggemar Ken, alias Jaehwan. Disinilah mimpi buruk Kim Yura dimulai, ia mulai merasakan pahitnya akibat menjadi seseorang yang terlalu naif. Naeun begitu kasihan dan ingin memberinya kekuatan, namun nasib gadis itu pun tengah berada di depan pintu bahaya.

“ Kenapa aku sangat sial hari ini.”

Yura merasa dirinya terlalu kacau dan ia bersiap untuk pulang sendiri dengan membawa mobil Jaehwan. Myungsoo masih tak puas menertawakan saudaranya itu.

“ Jangan berpikir untuk bunuh diri, Kim Yura. Bukankah dulu kau duta anti bunuh diri?” ejeknya, Yura menghela nafas dengan keras, kesal.

“ Jangan terlalu banyak menertawakan aku juga, Kim Myungsoo. Ketika aku bernasib sial, kau pasti akan sial juga. Kita kembar, bukan?”

Lelaki itu terdiam, Yura pun benar-benar keluar dari studionya.

“ Sialan, dia pikir dia siapa?” Myungsoo nampak tak terima, dan Naeun segera menyentuh bahunya.

“ Yura benar. Bukankah kau juga akan berada sial jika Woohyun benar-benar menjadi anak angkat The King?”ucap gadis itu pelan dan hati-hati.

“ Aku tidak peduli, yang penting statusku sebagai putra kandung presdir The King diakui dan aku tetap menjadi penerus mereka. Aku tak peduli dengan anak angkat yang akan dinikahkan dengan putri tunggal keluarga dokter itu, karena aku sudah punya kau, Naeunnie.”

Justru disitu letak kesialan besarmu, Kim Myungsoo. Naeun begitu ingin mengucapkannya, namun ia sudah terlalu mencintai lelaki itu. Apa yang harus ia perbuat untuk tetap mempertahankan Myungsoo di sisinya?

***

 

Ini sudah seminggu sejak Naeun terakhir kali bertemu Myungsoo di studio. Ia belum lagi bisa menemui lelaki itu karena kedua orangtuanya mengerahkan pengawasan ketat untuknya, sebagai bentuk rasa marah mereka karena Naeun menghilang disaat The King mengadakan pertemuan penting.

 

Naeun berjalan memasuki gedung medical center dengan dikawal oleh banyak staf keamanan, membuat semua orang bertanya-tanya dan tentu saja membuat dirinya sendiri merasa malu. Kakinya menuju papan pengumuman yang berdiri di tengah lobi, tampak disana begitu banyak orang dengan setelan dokter yang sama dengannya berkerumun.

“ Aku gagal lagi. Sial.”

“ YAY!! Aku diterima! Aku diterima!!”

“ Tidak mungkin.. padahal aku sudah melalui tesnya dengan baik.”

Hanya Naeun satu-satunya yang tidak menunjukkan ekspresi apapun setelah melihat isi dari papan pengumuman itu. Sebab ia tahu, tentu saja ia diterima untuk bekerja di medical center milik keluarganya sendiri. Ia hanya merasa kasihan dengan banyak dokter yang telah berusaha setengah mati namun tetap ditolak.

“ Nona, ada pesan dari dokter Son.”seorang staf keamanan menyerahkan satu amplop pada Naeun ketika gadis itu masih mengamati isi papan pengumuman.

Dengan hati-hati, Naeun membukanya.

“ Selamat atas hari pertamamu bekerja di istana kita. Bekerjalah dengan baik dan penuhilah ekspektasiku. Seandainya kau bukan anakku, kau tak akan diterima bahkan sejak masuk fakultas karena sejak dulu hingga sekarang, nilai tes psikologimu selalu saja buruk.”

“ Bisa aku meminta semua hasil tesku?”bisik Naeun pada salah satu staf yang mengawalnya.

“ Kami tidak yakin, nona. Hasilnya disimpan oleh dokter Son.”

“ Memangnya seburuk apa? Aku dokter jiwa, mana mungkin hasil tes psikologiku buruk..” gadis itu sedikit mendengus, ia melipat suratnya dan kembali mengamati papan pengumuman, matanya tertuju pada satu nama yang tengah ditunjuk-tunjuk oleh banyak orang.

“…Park Chorong? Dia diterima?!” gadis itu terkejut, sama seperti dokter-dokter yang lain. Semua orang tahu, Chorong telah bekerja sebagai dokter pribadi FIX selama tiga tahun setelah lulus sebagai dokter spesialis bedah ortopedi –dan pada akhirnya bertemu lagi dengan Kim Myungsoo yang bekerja sebagai fotografer di agensi yang sama-. Chorong telah berkali-kali mendaftar di medical center, namun keluarga dokter Son selalu menolaknya, tak peduli dengan kejeniusannya. Mengapa? Keluarga dokter Son merasa tersinggung karena gadis itu telah menolak beasiswa yang ia terima dan justru menyerahkannya pada Nam Woohyun, sementara ia sendiri memilih untuk melanjutkan spesialisasinya di fakultas kedokteran lain.

Tahun ini ia mencoba lagi dan rupanya diterima. Naeun merasa ikut senang karena itu artinya ia bisa bertemu lagi dengan teman lamanya, tapi ia juga penasaran, mengapa tiba-tiba kedua orangtuanya mau menerima Chorong?

Sekarang mata gadis itu mulai mencari-cari Chorong, ia begitu rindu pada seniornya yang cerdas itu. Mereka sempat lost contact bertahun-tahun karena Chorong begitu sibuk.

Bukan Park Chorong, Naeun justru menemukan sosok Nam Woohyun dengan setelan dokternya, berlari-lari mengikuti para perawat mendorong matras pasien, tangannnya menggenggam pergelangan tangan pasiennya yang telah bersimbah darah. Semua orang menyingkir dan memberi jalan.

“ Pasti korban bunuh diri lagi. Hampir setiap hari.”

“ Dokter Nam sampai bekerja 24 jam sehari hanya karena mereka. Tapi dia keren, hehehe.”

“ Kita juga akan bernasib sama..”

“ Forum bunuh diri itu benar-benar gila. Sudah berapa banyak yang dipengaruhi?”

Terdengar pembicaraan-pembicaraan semacam itu di sekitar Naeun. Namun gadis itu belum begitu peduli, matanya terkunci pada sosok Woohyun yang melintasinya.

Lelaki itu sudah berbeda. Ia tak terlihat seperti mahasiswa miskin lagi, ia sudah berubah menjadi dokter muda senior yang hebat. Apa ia sudah selesai mempertimbangkan tawaran The King?

Karena bagi Naeun, jawabannya akan menjadi bukti apakah ia orang jahat atau bukan.

***

“ Sudah resmi diterima di medical center?”

Chorong tak peduli dengan Myungsoo yang muncul di ambang pintu klinik kecilnya. Gadis itu tetap melanjutkan kegiatannya membereskan semua barang karena ia akan meninggalkan gedung agensi Leeves Entertainment, agensi FIX hari ini dan memulai pekerjaan barunya sebagai dokter di medical center milik keluarga dokter Son. Penderitaannya selama tiga tahun digaji sedikit dan diteror Kim Myungsoo akan segera berakhir. Chorong bersyukur tak perlu lagi bertemu dengan fotografer itu.

Klik. Klik.

“ Hentikan!” gadis itu mulai tak tahan. Myungsoo selalu mengambil gambarnya setiap kali mereka bertemu, mungkin sudah ada jutaan foto wajah Chorong di studionya.

“ Biarkan aku puas mengganggumu, ini hari terakhir kita bertemu, kan?”

Tak ada yang tahu bahwa Myungsoo sebenarnya masih tak meninggalkan kehidupan cinta pertamanya hingga sekarang. Lelaki itu yakin bahwa ia telah move on dan mencintai Son Naeun sepenuhnya, perilaku obsesifnya untuk terus mengganggu dan meneror Chorong hanyalah didasari rasa dendam karena dokter itu menolaknya dan bahkan kini ia ketahui telah lama menjalin hubungan romantis dengan Nam Woohyun. Myungsoo kalah dalam pertarungan masa lalu mereka dan ia merasa harga dirinya terinjak-injak. Hal itupun membuat Myungsoo mencibir, tak menyangka bahwa ternyata sebesar itu cinta Park Chorong pada lelaki yang selama ini Myungsoo yakini adalah orang jahat yang bersembunyi, Myungsoo tak sabar melihat nasib Chorong setelah Woohyun mengungkapkan semua niat jahatnya. Meski memang, sampai saat ini ia belum bisa membuktikan spekulasinya itu.

“ Ya. Dan aku sangat bersyukur bisa menjauh darimu.” Chorong masih tak sudi menatap Myungsoo dan kini sibuk melepas semua kabel komputernya dan membongkar CPUnya dengan sedikit terburu-buru.

“ Pasti ada rahasia didalam sana.”

“ Bisakah kau berhenti bicara!?”

“ Entah sejak kapan kau lebih kelihatan seperti technology freak ketimbang dokter. Kau memang perempuan jenius.”

“ Kau—“

“ Hei, sudah.. sudah.”

Hakyeon muncul dan masuk, Chorong menghela nafas lega. Hakyeon satu-satunya orang yang membuatnya bisa bertahan untuk bekerja di agensi ini selama tiga tahun. Karena meski ada Myungsoo, Hakyeon bisa melindunginya. Meski pada akhirnya membuat hubungan Myungsoo dengan leader boygroup FIX itu menjadi kurang baik.

“ Maaf karena tidak ada pesta perpisahan untukmu, semuanya sibuk dengan skandal Jaehwan dan Kim Yura.”ucap Hakyeon pada Chorong sembari membantu gadis itu membongkar CPU komputernya.

“ Tidak apa-apa.”jawab Chorong singkat sembari tersenyum tipis.

“ Tapi setidaknya kita dapat keuntungan besar.”kini lelaki itu sedikit berbisik.

“ Oh ya?”

“ Banyak penggemar Jaehwan yang ingin bunuh diri.”

“ Ah.. tak heran rekeningku sedikit lebih gemuk bulan ini.”

“ Tetaplah berhati-hati.”

“ Tentu.”

 

“ Jangankan aku, Nam Woohyun saja mungkin penasaran dengan bisnis kalian.”sindir Myungsoo, membuat Hakyeon dan Chorong berhenti berbisik-bisik.

“ Urus saja pekerjaanmu sendiri.”Hakyeon menepuk bahu Myungsoo dan keluar dari ruangan, “…Chorong-ah, mari kita bertemu nanti.”

“ Ya, oppa.”sahut Chorong singkat, ia pun melepas dan menggantung jasnya, setelah itu meraih tas lalu berjalan menuju pintu keluar untuk menunggu jemputan di depan gedung.

Namun Myungsoo tak membiarkannya keluar, tangan kiri lelaki itu memblokir pintu.

“ Apa lagi sekarang?”Chorong mencoba menekan kekesalannya. Seharusnya ia senang karena hari ini akan pindah ke asrama di medical center, tempat yang menjadi mimpinya sejak lama. Ia tak ingin Myungsoo merusak kebahagiaannya.

“ Sudah seminggu aku tidak bertemu pacarku, jadi aku bingung mau mengganggu siapa.”

“ Bukan urusanku.”

“ Tentu saja urusanmu, nuna. Sampai sekarang kau masih membuatku gemas.”

“ Karena Woohyun?”

“ Apa kau sudah tahu dia akan menjadi putra angkat The King?”

“ Tentu saja. Memang dia yang lebih pantas daripada kau.”

“ Hahaha..” Myungsoo tak dapat menahan tawanya, “…tapi mungkin kau tidak tahu selama ini dia memanfaatkan saudara kembarku untuk mendapatkan kesempatan itu.”

“ Kim Yura? Itu tidak masuk akal.”

“ Wow, hebat sekali Nam Woohyun menyembunyikannya darimu. Jadi kau tidak tahu bahwa selama bertahun-tahun kau diduakan olehnya?”

“ Tidak perlu mengarang-ngarang cerita, aku tidak akan percaya.”

“ Hah.. kasihan sekali.”Myungsoo tertawa sinis, “…kau pasti belum tahu juga dia akan dinikahkan dengan putri tunggal keluarga dokter Son jika ia benar-benar menerima tawaran The King untuk menjadi penggantiku.”

“ Dinikahkan? Kenapa?” Chorong memucat, namun di satu sisi ia merasa bodoh karena percaya begitu saja.

“ Ah.. aku baru ingat kau orang miskin yang tidak tahu apa-apa. Pernikahan bisnis, itu tradisi di kaum kami.”

“ Berhenti bicara omong kosong, Woohyun tidak pernah mengatakan sedikitpun masalah itu padaku.”

“ Tentu saja, lelaki tolol mana yang akan bilang pada pacarnya bahwa dia akan menikahi perempuan lain?”

“ Minggir.”Chorong tak tahan dan moodnya semakin kacau. Ia menyingkirkan tangan Myungsoo dengan paksa dan berjalan cepat menghindari lelaki itu.

“ Sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Aku akan mengirimimu email setiap hari!”

Psycho!” Chorong semakin mempercepat larinya, mengapa Myungsoo masih saja betah mengganggu hidupnya?

*

 

“ Maaf aku lama menjemputmu. Ada korban bunuh diri lagi.”

“…”

“ Hei. Apa Myungsoo mengganggumu lagi?”

Woohyun heran karena Chorong diam saja disampingnya. Sejak tadi gadis itu benar-benar terganggu dengan perkataan terakhir Myungsoo padanya, namun ia tak berani mempertanyakannya.

“ Jadi.. kau sudah setuju untuk menjadi putra angkat The King?”tanya Chorong tiba-tiba, dengan suara sangat pelan.

“ Ya.”jawab Woohyun singkat, “…makanya mereka langsung memberi mobil ini padaku.”

“ Ah.. begitu ya.”

“ Kenapa? Bukankah kita seharusnya merayakannya? Aku mendapat jackpot dan kau menjadi dokter di medical center. Kita sedang sangat beruntung.”

“ Kalau dipikir-pikir, kenapa aku akhirnya diterima bekerja di medical center, ya? Apa keluarga dokter Son sudah tidak tersinggung lagi padaku?”

“…”

Woohyun tak mungkin mengatakannya. Ia tak mungkin mengatakan bahwa Chorong diterima bekerja berkat dirinya. Melalui pertemuan minggu lalu, Nam Woohyun telah berhasil mencapai keinginannya untuk membuat keluarga dokter Son meminta maaf dan ‘berlutut’ di depannya. Bahkan tak hanya itu, mereka langsung meminta Woohyun untuk menerima tawaran The King dan menikah dengan putri tunggal mereka, Son Naeun. Woohyun menerimanya, dengan syarat mereka harus menerima lamaran kerja Chorong di medical center.

Padahal tanpa sadar, Woohyun membuat nama Chorong tertulis di daftar hitam The King dan keluarga dokter Son sebagai wanita yang diwaspadai akan merusak hubungan pernikahannya dengan Naeun nanti.

“ Tidak usah dipikirkan, lebih baik kita rayakan saja. Apa yang kau inginkan?” Woohyun mengalihkan pembicaraan, ia bisa melihat bahwa Chorong nampak mencurigainya tanpa alasan yang jelas.

“ Nikahi aku. Aku sudah tidak sabar untuk hidup kaya.”pancing gadis itu, ia tak tahan memendam rasa penasarannya akan setiap perkataan Myungsoo yang masih mengganggu pikiran dan merusak moodnya.

Woohyun terdiam sejenak.

“ Kita akan bicarakan itu di waktu yang tepat.”jawab lelaki itu seadanya.

“ Kau tidak akan meninggalkanku, kan?”

“ Tidak akan. Aku akan mati tanpamu.”

Chorong tak dapat menahan semburat merah di wajahnya. Semua pikiran buruknya akibat perkataan Myungsoo telah sirna.

“ Terimakasih, Nam Woohyun.”

************************************

 

“ Naeunnie, kau dimana?”

“ Naeunnie, angkat teleponku.”

“ Aku sangat membutuhkanmu. Datanglah.”

“ Son Naeun, apa kau sedang sangat sibuk?”

“ Kita sudah berhari-hari tidak bertemu. Kau tidak rindu padaku? Aku hampir mati merindukanmu.”

“ Apa kau datang juga ke acara pesta penyambutan dokter baru di medical center? Itukah sebabnya kau tidak menghubungiku? Kau tahu aku dilarang masuk oleh The King?”

“ Tidak bisakah kau keluar saja dan menemaniku? Aku sendirian.”

“ The King akan resmi membuangku malam ini.”

“ Kau akan tetap bersamaku, kan?”

“ Hubungi aku segera. Aku mencintaimu, Son Naeun.”

 

“ Maafkan aku, Myungsoo. Maafkan aku.”

Naeun mati-matian menghapus airmatanya yang terus mengalir dengan make up. Ia hanya bisa menangis membaca dan mendengar semua pesan suara yang dikirimkan Myungsoo padanya malam itu.

Ia begitu ingin pergi, tapi tak bisa. Malam ini adalah malam dimana semua kebohongan yang telah ia lakukan pada Myungsoo akan segera terungkap.

Malam ini, keluarga dokter Son mengadakan pesta penyambutan dokter baru yang memang rutin mereka adakan setiap tahun. Namun kali ini berbeda, mereka menggabungkan acara besar ini dengan acara pengumuman mengenai siapa putri tunggal mereka.

Naeun masih melamun di hadapan meja rias, tak menyangka bahwa ini adalah kenyataan yang benar-benar harus ia hadapi. Identitasnya akan diumumkan malam ini, dan ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Myungsoo nantinya.

Ia pun berdiri, menarik nafas dalam-dalam dan keluar dari ruang make upnya. Dengan gaun silver dan sepatu high heels mewahnya, ia berjalan dengan penuh keraguan menuju gedung pertemuan medical center yang sudah mulai ramai dengan dikawal oleh beberapa staf keamanan.

Gedung pertemuan tak hanya dipenuhi oleh para dokter dan undangan, namun juga para wartawan. Naeun tak pernah mengira akan sebesar ini acara yang diadakan oleh kedua orangtuanya.

Presdir dan nyonya presdir datang!”

“ The King!!”

Para wartawan berlari ke arah limousine yang baru saja tiba di lobi VVIP, Naeun terpaku melihat sepasang suami istri turun dari sana. Ini pertama kalinya ia melihat sosok kedua orang tua Myungsoo. Presdir Kim yang kejam rupanya telah duduk di kursi roda, dan nyonya presdir yang terkenal mencintai keberuntungan rupanya selalu menggendong kucing angora berbulu hitam seharga miliaran kemanapun.

The King.. Mengapa mereka datang?”

Naeun tiba-tiba teringat dengan salah satu pesan yang ditinggalkan Myungsoo untuknya.

“The King akan resmi membuangku malam ini.”

Bersamaan dengan itu, Naeun melihat satu mobil lagi tiba, berhenti tepat di belakang limousine milik kedua orang tua Myungsoo. Naeun tak dapat menyembunyikan rasa sesak di dadanya ketika melihat Kim Yura turun dari sana dengan wajah muram…bersama Nam Woohyun.

Sepertinya sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.

***

 

“ Apa Naeun masih belum membalas pesanmu?”

Myungsoo terkejut karena Jaehwan tiba-tiba memasuki mobilnya.

“ Kenapa kau bisa kesini? Bagaimana kau tahu aku ada disini?”

“ Biarkan aku bernafas dulu, aku capek jalan kaki.”seperti biasa, Jaehwan melepas topi dan maskernya terlebih dahulu, Myungsoo bisa sedikit lega karena ia tak sendirian lagi.

“ Terimakasih sudah datang.”

“ Aku datang karena aku yakin Naeun tak akan mengunjungimu.”

“ Alasannya?”

“ Dia pasti ada di dalam sana.” Jaehwan menunjuk gedung medical center yang terletak hanya beberapa meter di depan mobil mereka, “ Entah sebagai dokter biasa yang ingin berpesta atau sebagai putri tunggal dokter Son yang akan diperkenalkan.”

Myungsoo mendengus, “ Kau masih berpikir dia orangnya? Ini sudah tujuh tahun dan kau masih curiga?”

“ Kalau dia hanya dokter biasa, ia pasti lebih memilih keluar dan menemanimu disini.”

Ada benarnya juga. Namun Myungsoo belum mau menerimanya.

“ Apa keluargamu tidak diundang kesana?”Myungsoo mengalihkan pembicaraan.

Jaehwan menggeleng, “ Pengumuman pernikahan bisnis antara aku dan Yura akan diadakan tahun depan, dengan pertimbangan hingga saat ini kondisi di kalangan penggemarku belum mereda akibat skandal yang terlanjur menyebar seperti api liar. Kim Yura telah memiliki banyak haters dan menyebabkan banyak penggemar remaja bunuh diri akibat cemburu. Konyol memang, Aku tak mengerti mengapa bunuh diri tiba-tiba menjadi tren sejak skandal antara aku dan Yura terjadi.”

“ Mungkin karena situs bunuh diri yang sedang menjadi pembicaraan itu?”

“ Ah.. killyourself. com? Itu hanya situs bodoh.”

“ Kurasa tidak.”

“ Ada sesuatu yang kau rencanakan?”

Jaehwan memang orang yang paling pandai membaca pikiran Myungsoo.

“ Tidak ada. Aku hanya sedang mencari cara alternatif lain untuk membuat The King kesal. Mengaku-ngaku sebagai anak mereka dengan nama samaran L di media massa sudah tidak ada gunanya lagi.”

“ Lalu apa yang ada dalam pikiranmu sekarang?”

“ Entahlah. Tergantung apa yang mereka lakukan malam ini.”

Myungsoo menyalakan televisi mobilnya, menyaksikan siaran langsung acara penyambutan dokter baru di medical center yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV bisnis. Ini pertama kalinya acara di medical center disiarkan secara langsung, tentu saja karena The King diundang dan kemungkinan besar akan mengadakan pengumuman dalam acara itu.

Terlihat presdir Kim dan dokter Son bersama istri mereka duduk bersama di panggung, bersiap melakukan sambutan. Sementara para dokter yang mendominasi menunggu dengan antusias. Myungsoo juga bisa melihat sekilas sosok Park Chorong berdiri di tengah-tengah mereka, tapi ia tak bisa menemukan dimana Son Naeun.

Dokter Son berdiri duluan, memulai sambutannya. Setelah beberapa menit berbasa-basi, ia mulai mengatakan sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh semua orang.

Ia akan memperkenalkan putrinya.

“ Tapi, sebelum kami memperkenalkan putri kami, kami mempersilahkan Presdir Kim menyampaikan sesuatu yang tak kalah penting.”

Myungsoo menahan rahangnya yang sudah mengeras. Ia tak sabar menunggu ayahnya mencetuskan peperangan dengannya malam ini.

 

“ Ini sudah tahun 2015. Seperti yang telah kami janjikan, kami akan mengumumkan siapa anak sekaligus penerus kami. Semua orang pasti bertanya-tanya mengapa kami mengumumkannya pada acara milik keluarga dokter Son dan bukan pada acara yang kami adakan sendiri. Alasannya adalah, kami ingin sama-sama memperkenalkan putra dan putri kami, yang juga secara kebetulan, telah menjalin hubungan dan akan segera menikah.”

 

 

“ Secara kebetulan telah menjalin hubungan? Bullshit. Park Chorong pasti nyaris serangan jantung sekarang.” Myungsoo tertawa sinis dan semakin emosi, wajah tampannya mulai memerah, sementara Jaehwan semakin mengantisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

Situasi gedung pertemuan mulai ramai karena semua orang –terutama para wartawan- semakin menunggu pengumuman dari dua keluarga kaya di depan mereka.

“ Pertama-tama, aku akan meluruskan sesuatu dulu. The King hanya memiliki satu putri tunggal, sama seperti keluarga dokter Son. Kemudian kami mengangkat seorang dokter laki-laki sebagai putra kami, dan dialah yang akan menikah dengan putri tunggal keluarga dokter Son. Jadi, jika kalian pernah mendengar ada seorang fotografer dengan nama samaran L mengaku-ngaku sebagai putra kami, itu semua sama sekali tidak benar.”

 

“ Tahan dirimu.”

Jaehwan mencoba menutup mulut Myungsoo yang mulai mengumpat, ia merasakan tubuh sahabatnya itu mulai memanas bahkan lelaki itu mulai menangis.

 

“ Selanjutnya. Aku akan memperkenalkan terlebih dahulu putri kami, yang juga telah resmi aku pilih sebagai penerus kepemilikan The King. Mungkin beberapa kalian telah mengenalnya karena putri kami yang malang ini sedang tertimpa masalah dengan seorang selebriti. Kuharap, mulai saat ini kalian menghormatinya. Kim Yura, silahkan kemari.”

Situasi semakin ramai dan para wartawan semakin liar karena tak satupun dari mereka pernah berpikir bahwa Kim Yura adalah putri dari keluarga terkaya di negara mereka. Bisa dipastikan pemberitaan selama berbulan-bulan ke depan akan didominasi oleh gadis itu, dan nama Jaehwan pun tentu tak akan pernah lepas darinya.

 

“ Jadi Kim Yura.. penerusnya..”

“ Setidaknya bukan Nam Woohyun.”

“ TETAP SAJA BUKAN AKU!!”

Jaehwan mencoba menenangkan Myungsoo, lelaki itu belum menemui puncak masalah terbesarnya. Jaehwan sudah sangat yakin bahwa setelah ini Son Naeun dan Nam Woohyun yang akan menghiasi layar televisi mereka.

 

Yura memperkenalkan dirinya. Ia begitu cantik malam ini, namun wajahnya amat pucat. Gadis itu memang masih mengalami stress semenjak Woohyun mengkhianatinya. Setelah memperkenalkan dirinya, yang ia lakukan hanyalah menunduk.

“ Terakhir, kami akan memperkenalkan putra dan putri kami yang akan segera menikah di tahun depan. Putra angkatku adalah seorang dokter muda yang sudah senior di medical center ini, ia bekerja di bagian bedah umum dan setiap hari bekerja keras menangani banyaknya korban bunuh diri yang membludak akhir-akhir ini. Kurasa semua orang disini telah mengetahuinya.”

Dokter Nam Woohyun!”

Semua orang langsung mampu menebaknya. Bersamaan dengan itu, Woohyun muncul dan berdiri di samping Presdir Kim lalu membungkukkan badannya dengan sopan. Senyum bahagia benar-benar terukir di wajahnya, seolah tak peduli bahwa Chorong ada disana dan menyaksikannya. Jangankan Park Chorong, ia bahkan nampak tak peduli dengan Kim Yura yang tengah berusaha mati-matian menahan tangisannya dan terus menunduk.

 

“ Ah.. aku benar-benar ingin memeluk Yura.”Jaehwan ikut gelisah.

“ Akhirnya bajingan itu meraih impiannya. Selamat.” Myungsoo mulai menunjukkan tanda-tanda ia akan segera meledak, “…lalu, siapa putri tunggal keluarga Son yang misterius itu, huh?”

Jaehwan yakin selama ini kecurigaan besarnya terhadap Naeun akan segera terbukti, ia tak bisa memikirkan cara apa yang bisa ia lakukan untuk menenangkan Myungsoo setelah ini.

 

Dokter Son mengambil alih sambutan, “…aku tinggal memperkenalkan putriku sekarang, putriku juga adalah seorang dokter baru disini, sama seperti kalian. Putriku adalah dokter baru di unit kejiwaan VVIP.”

 

“ Unit kejiwaan? Seorang dokter jiwa? Tidak mungkin—“

Perasaan Myungsoo mendadak tak nyaman, dan hatinya benar-benar hancur saat melihat kekasihnya benar-benar keluar dari belakang panggung dan menyapa semua orang di depannya.

“ Tidak. Kim Myungsoo. Jangan lakukan ini. Kumohon jangan—”

“ Diam!”

Jaehwan panik, ia tak bisa menghentikan tangan Myungsoo yang mulai menyalakan mobilnya. Airmata sahabatnya itu sudah berjatuhan dan ia nampak begitu depresi.

“ MATILAH KALIAN SEMUA, MATI!”

BRRRM!!!!!!

Myungsoo mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh dan mengarah pada gedung pertemuan di medical center. Jaehwan semakin panik dan ia berusaha mati-matian untuk mengambil alih setir.

BRAKK! BRAK!!! BRAKK!!!

Usahanya untuk menghindari gedung berhasil, namun Myungsoo menabrakkan mobilnya pada limousine milik The King, ia menghancurkan mobil mewah milik keluarganya itu dengan penuh amarah dan berhasil menarik perhatian semua orang yang berada di dalam gedung.

Sebelum staf keamanan menghentikan dan menangkap mereka, Jaehwan berusaha sekuat tenaga menyeret Myungsoo untuk berpindah dari belakang setir, ia memutar mobil mereka yang juga telah hancur di bagian depan untuk melarikan diri.

 

Myungsoo terduduk pasrah di sampingnya, mata elang lelaki itu telah memerah dan basah oleh airmata, rahang tajamnya mengeras dan ia mulai tertawa sinis.

 

“ Son Naeun. Haruskah aku membunuhmu?”

*******

 

Keesokan harinya. Ada apa di VVIP?

 

“ Selamat, dokter Nam!”

“ Ternyata kau adalah putra angkat The King..”

“ Kau hebat!”

“ Kau sangat serasi dengan dokter Son Naeun!”

Pagi harinya, Woohyun menerima banyak ucapan selamat dari semua staf medical center. Namun lelaki itu belum bisa tenang dan bahagia sepenuhnya karena masih ada satu urusan yang belum ia selesaikan.

Park Chorong.

Woohyun tahu kekasihnya itu langsung meninggalkan gedung selesai mendengar pengumuman pernikahannya. Hari ini ia harus ‘menangkap’nya, sebelum gadis itu berlari lebih jauh.

 

“ Hei, kau murung sekali hari ini.”

“ Benarkah? Aku baik-baik saja, kok.”

Chorong berusaha baik-baik saja di depan semua rekan dokternya yang heran melihat keadaannya hari ini, ia menyembunyikan wajah cantiknya yang sembab dan duduk di ruang istirahat dokter sembari memijat kepalanya yang masih sangat sakit. Apa yang ia lihat dan dengar dalam pesta kemarin malam masih sangat menyakitinya.

“ Apa kau patah hati karena Nam Woohyun akan menikah?” Lee Howon, ketua tim dokter sekaligus teman kuliahnya tiba-tiba merasa curiga.

“ Bicara apa kau ini? Aku tidak peduli.”Chorong masih berpura-pura, sebab memang belum ada yang tahu bahwa ia menjalin hubungan dengan lelaki jahat itu. Ketika Chorong baru saja ingin ‘mengumumkannya’, pernyataan dari The King dan keluarga dokter Son kemarin malam membuat semua niatnya hancur dalam sekejap. Ia bahkan tak sudi lagi untuk bertemu Woohyun dan bersumpah akan berlari sejauh mungkin ketika lelaki itu muncul di hadapannya.

“ Kukira kau pacaran dengannya, kalian sudah saling kenal sejak debat mahasiswa, kudengar kau juga merelakan beasiswa S2mu untuknya.”

Semua orang dalam ruangan mulai menatapnya penuh curiga, Chorong benar-benar merasa malu.

“ Jangan bicara aneh-aneh. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya.”

“ Oh ya? Lalu kenapa kau menolakku terus?”

Gadis itu semakin emosi. Memang, selain Myungsoo dan Woohyun, Howon juga adalah salah satu dari sekian banyak lelaki yang mengejarnya sejak lama. Chorong merasa sial bertemu dengannya lagi di medical center.

“ Kau masih dendam soal itu? Baiklah.. akan kupertimbangkan perasaanmu.”jawab Chorong pasrah sekaligus untuk mencairkan suasana, ia tak akan membiarkan orang-orang di ruangan ini semakin mencurigainya.

“ Benarkah? Kalau begitu aku akan bersiap-siap melamarmu nanti.”

“ Silahkan.”

“ Hahaha!”

Chorong berhasil, semua rekan dokternya tertawa, meski ia harus berurusan panjang lagi dengan Howon.

“ Katakan, apa yang harus aku lakukan agar kau menerima lamaranku nanti?” Howon masih saja mengoceh, bahkan yang lain kini ikut antusias ingin mendengarnya.

“ Kau—“

“ Hei, apa yang sedang kalian bicarakan? Lamaran?”

Chorong berhenti bicara, sadar bahwa sejak tadi Nam Woohyun sudah berdiri di ambang pintu dan pura-pura tertawa juga mendengarkan pembicaraan yang ada. Gadis itu tak bisa melihat lelaki itu dengan pandangan yang sama lagi.

Ia benar-benar iblis.

“ Nanti sajalah. Aku menyesal membicarakan ini di tempat kerja.” Chorong menyerah dan berdiri meninggalkan Howon, lelaki itu mengangguk mengerti saja, wajahnya masih tersenyum karena merasa Chorong memberinya harapan.

Woohyun tertawa sinis karena Chorong hanya melintasinya, sekarang ia melangkah di belakang gadis itu, mengikuti kemanapun gadis itu pergi. Bahkan ketika Chorong mempercepat langkahnya, Woohyun pun melakukan hal yang sama.

“ Kau mau kemana, dokter Park? Kalau kau ingin ke suatu tempat dan tidak tahu dimana letaknya, kau bisa tanya pada seseorang yang sudah lebih lama bekerja di rumah sakit ini.”

Chorong berbalik, sadar bahwa Woohyun mengejeknya.

“ Aku ingin pergi ke tempat yang jauh darimu.”

“ Kalau begitu kau harus pergi ke tempat yang tidak aku ketahui. Tapi sayangnya, aku tahu semua tempat disini. Jadi percuma saja kau bermain-main seperti ini.”

“ Berhenti mengikutiku.”

Chorong kembali mempercepat langkahnya, dan tentu saja Woohyun tak mendengarkannya, ia bahkan semakin dekat di belakang gadis itu. Chorong semakin kehilangan arah dan malah memasuki kawasan poliklinik VVIP yang hari itu tidak operasional dan dalam keadaan sepi, ia ingin segera berlari.

“ Berhenti sekarang dan bicaralah denganku sebelum sesuatu yang tidak kau inginkan terjadi.”Woohyun yang masih berada di belakangnya berbisik, sekujur tubuh gadis itu semakin gemetar, matanya mencari-cari lift untuk melarikan diri. Ia sungguh tak ingin bicara dengan lelaki brengsek di belakangnya, sebesar apapun cintanya, hatinya masih terlalu sakit.

Itu dia.

Chorong bersiap untuk berlari ketika ia menemukan pintu lift beberapa meter di depannya, namun tubuhnya tertarik kembali karena Woohyun berhasil meraih jas putihnya.

PLAK!

Ia mendaratkan tamparan keras di wajah lelaki itu hingga ia berhasil bebas, kakinya buru-buru berlari ke arah lift tersebut dan menekan-nekan tombolnya dengan terburu-buru. Ketika pintu terbuka, ia segera masuk dan kembali panik menunggu pintunya tertutup sebab Woohyun ikut mengejarnya dan mulai mendekati lift.

“ Lantai paling atas, huh?”

Lelaki itu tak berhasil memasuki lift, namun ia bisa memprediksi tombol lantai mana yang baru saja ditekan oleh Chorong, gadis itu ketakutan karena Woohyun tahu tujuannya dan mulai berlari menuju tangga darurat.

 

Ting. Pintu lift terbuka, gadis itu meringkuk ketakutan dan benar saja, Nam Woohyun sudah menunggunya dengan senyuman licik. Lelaki itu menyeretnya keluar dengan paksa, tenaganya yang sudah ia habiskan untuk menangis membuatnya lemah memberikan perlawanan. Woohyun membawanya memasuki salah satu klinik VVIP yang kosong.

BLAM!

Lelaki itu membanting pintunya dengan penuh amarah, Chorong masih bergetar dan tak memiliki harapan lagi untuk melarikan diri karena Woohyun mengunci pintunya.

“ Klinik ini bagus, kan?” Woohyun tiba-tiba bertanya dengan santai, namun terdengar begitu menakutkan. Chorong masih diam dan gemetaran.

“…tentu saja bagus, seharusnya aku sudah lama bekerja disini atas perintah The King dan keluarga Son. Tapi aku tetap memilih klinik umum di bawah sana. Untuk apa? Untuk bisa melihatmu setiap hari!” nada suara lelaki itu meninggi dan berhasil membuat gadis itu tersentak, namun juga tak terima.

“ Omong kosong. Lalu kenapa sekarang kau akan menikah!?” lawan Chorong meski dengan suara gemetaran.

“ Kau yakin ingin mendengar jawabanku sekarang? Di saat seperti ini? Aku yakin apapun yang kukatakan tidak akan kau percaya.” Woohyun menyentuh pipi lembut Chorong dan menghapus airmata yang menetes disana beberapa kali.

“ Berhenti menyentuhku!” gadis itu masih emosi dan menyingkirkan tangan Woohyun dari wajahnya, lelaki itu ikut tersulut dan langsung bertindak kasar dengan mencengkeram bahunya dan menciumnya secara kasar, Chorong meronta hebat dan berhasil mendorongnya, namun sia-sia, Woohyun mampu bertindak lebih tega lagi dengan menyeretnya menuju matras pasien dan membanting tubuhnya ke atas sana.

“ Klinik ini terlalu bagus untuk kujadikan tempat bekerja. Lebih baik aku gunakan untuk bersenang-senang denganmu.”

Lelaki itu mulai melepas jas putihnya dan membuka satu per satu kancing kemejanya hingga tubuh kekarnya terekspos. Chorong semakin ketakutan karena jelas, Nam Woohyun telah gelap mata dan ingin memperkosanya sekarang. Dengan segenap tenaga dan rasa panik yang semakin menggila, Chorong berusaha melarikan diri, namun usahanya sia-sia karena tenaga lelaki itu jauh lebih kuat darinya, ia terperangkap dan Woohyun mulai menyingkirkan setelan dokter dari tubuhnya.

“…setelah sesi menyenangkan ini selesai, aku akan jelaskan segalanya. Kenapa aku terpaksa begini dulu padamu? Aku hanya ingin menguncimu agar kau tak bisa keluar dari kehidupanku, apalagi menerima lamaran orang lain. Setidaknya jika kita memiliki anak, kau akan tergantung padaku dan tak akan lari dariku, Park Chorong.”

“ Bagaimana denganmu!!? Kau menikah—“

“ Kubilang aku akan jelaskan setelah kita selesai, sayang.”

Chorong hanya bisa menangis tanpa suara ketika Woohyun mulai menjamah tubuhnya, tangan lemahnya hanya bisa memukul-mukul punggung telanjang lelaki itu sambil terus mengumpat dan menjerit sesekali disaat lelaki itu dengan sengaja menyakiti tubuhnya.

Ini sama sekali bukan yang ia harapkan, tak peduli sedalam apa cintanya pada Nam Woohyun.

***

 

“ Dokter Son, ada pasien yang datang hari ini. Sepertinya dia tidak tahu kalau hari ini poliklinik VVIP sedang libur, haruskah aku menyuruhnya pergi?”

Naeun menerima telepon dari asistennya, ia sedikit ragu. Hari ini ia memang hanya datang ke medical center untuk memeriksa beberapa pasien rawat inap di sel. Ia ingin segera pergi untuk menemui Myungsoo, meski ia masih merasa sangat takut dan belum siap.

“ Berapa pasien?”tanyanya kemudian.

“ Satu,”

“ Ah.. hanya satu. Suruh saja dia masuk, aku sedang di ruangan juga dan bisa menerima konsultasi.”

“ Baik, dokter.”

Tak lama, pintu ruangannya terbuka, seorang lelaki tampan masuk dan membuat Naeun terkejut setengah mati.

Kim Myungsoo.

BLAM!

Ia membanting pintunya dan menguncinya, membuat perawat yang mengantarnya panik dan segera menggedor-gedor pintunya. Tentu saja, ia khawatir dokter di dalamnya berada dalam bahaya.

“ Aku baik-baik saja, suster. Tinggalkan kami!” Naeun sedikit berteriak dan berhasil membuat sang perawat pergi, Myungsoo tertawa sinis.

“ Kau yakin akan baik-baik saja?”tanya lelaki itu dengan tatapan mengerikan, Naeun berdiri dari duduknya dan mencoba mendekat meski ketakutan setengah mati.

“ Kita bisa selesaikan ini dengan cara lain, bukan begini.. Myungsoo, aku akan jelaskan—“

“ Kenapa kau khawatir sekali? Aku datang karena perlu perawatan, kurasa aku sudah gila karena dibohongi selama bertahun-tahun oleh kekasihku.”

Ia justru semakin menakutkan.

“ Maafkan aku, Myungsoo. Aku tidak tahu akan seperti ini jadinya, aku—“

“ Aah.. baru kali ini aku melihatmu sangat cocok menjadi dokter.” Myungsoo menarik jasnya kuat-kuat dan menatapnya tajam, “…aku yang bodoh atau kau yang terlalu pintar menyembunyikan status hebatmu ini, hm?”

Naeun menyerah, ia berlutut di hadapan lelaki itu dan menangis sejadi-jadinya,

“ Maafkan aku.. kumohon.. maafkan ak—“

“ Hentikan. Hentikan sekarang.”

“ Maafkan aku dulu, kumohon—“kini gadis itu mulai memeluk kakinya, dan Myungsoo buru-buru memberdirikannya lalu melemparnya ke dinding.

PLAK! PLAK!

Dan menamparnya di kanan dan kiri pipinya. Naeun diam, pasrah. Ini konsekuensi yang harus kuhadapi, pikirnya.

“ Lakukan saja lagi, Myungsoo. Siksa saja aku sepuasmu. Asal jangan membunuhku, aku masih perlu hidup untuk mencintaimu.”

Myungsoo menarik nafas panjang, meletakkan kepalan tangannya di dinding, di samping kepala Naeun.

“ Bagaimana caranya kau mencintaiku kalau kau menikah dengan orang lain?”

“ Aku akan terus menjadikanmu pelarianku, seperti yang kau janjikan dulu. Karena hanya denganmu aku bisa bahagia.”

Lelaki itu tertawa sinis untuk kesekian kalinya.

“ Bagaimana kalau aku lebih memilih untuk membunuhmu saja?”

“ Kau akan kehilangan satu-satunya wanita yang mencintaimu, bagaimanapun keadaanmu sekarang.”

Inilah letak kelemahannya.

“ Tapi aku tak bisa membiarkanmu hidup setelah mengetahui kenyataan ini. Kau telah membohongiku, Son Naeun.”

“ Biarkan aku hidup, dan aku akan mendukung langkah apapun yang akan kau ambil untuk menghadapi masalah kita sekarang.”

“ Bahkan jika aku berencana merusak pernikahanmu yang bernilai miliaran?”

“ Lakukanlah. Itu artinya kau masih mencintaiku, kan?”

“ Sangat.”

Keduanya mulai berciuman dengan liar, menyalurkan segala cinta yang mereka miliki. Naeun telah mengambil keputusan yang berat karena ia tahu Myungsoo pasti akan melakukan lebih banyak hal gila untuk mempertahankan hubungan mereka dan menghancurkan pernikahannya dengan Nam Woohyun. Dan Naeun telah memilih untuk berada di pihaknya.

Dengan kata lain, gadis itu lebih memilih untuk mengkhianati baktinya pada keluarganya demi Kim Myungsoo. Ia telah buta, ia hanya ingin bersama Myungsoo apapun yang terjadi.

******************************************************************

 

Setahun kemudian di musim semi. Pernikahan dan Tragedi.

 

“ Kau tidak benar-benar berniat melakukannya, kan?”

Naeun mencoba menahan tangan lelaki yang tengah memangkunya, lelaki itu sedang menggerakkan mouse komputernya. Kepala Naeun menggeleng berulang kali tanda meminta lelaki itu untuk berhenti melanjutkan niatnya.

“ Kenapa kau takut sekali? Ah.. tampilan situsnya memang seram, ya? apa ini baru pertama kali kau melihatnya?” lelaki itu hanya menanggapinya dengan tawa kecil, tangannya tetap menjalankan mouse.

“ Apa kau menyadari apa yang sedang kau lakukan sekarang, Kim Myungsoo?”

Myungsoo menoleh kearah Naeun dan tersenyum tipis sebelum akhirnya memberikan kecupan singkat di bibir gadis itu.

“ Aku sangat sadar. Oleh karena itu, kau mau menutup mulutmu, kan?”

“ Myungsoo—“

“ Lakukanlah jika kau mencintaiku.”

 

Naeun tak tahu bahwa hari itu merupakan hari terakhirnya bertemu Myungsoo. Ia tak sempat mencegah niat gila dari kekasihnya itu terhadap forum bunuh diri yang baru saja mereka buka bersama-sama.

 

Nickname apa yang kau sukai?” lelaki itu memecah lamunannya.

“ Ya?”

“ Hei, jangan melamun, aku perlu mengisi formnya untuk membuat akun.”

“ Myungsoo, tolong pikirkan dulu hal ini baik-baik—“

Nickname apa yang kau sukai?” Myungsoo mengulang pertanyaannya, kali ini dengan sedikit penekanan, tanda ia tak mau mendengar hal lain selain jawaban yang ia inginkan.

Naeun menggigit bibirnya sejenak, sedikit ragu.

Dark…Angel.”

Dark Angel.. kuharap Yura juga menyukai nama ini, hahaha.”

Myungsoo bangkit dari hadapan komputer dan memindahkan dirinya ke atas tempat tidur penthouse kekasihnya itu, ia merasa pegal telah duduk cukup lama.

Naeun masih menatapi layar komputernya yang menyala. Berbagai pikiran menghantui benaknya.

“ Myungsoo, ini hanya akan menjadi jalan terakhir, kan?”tanya gadis itu pelan.

Myungsoo tak menjawab pertanyaannya, tangannya meraih pinggang kecil Naeun dan menarik gadis itu juga ke atas tempat tidur.

“ Kau takut, huh?”goda lelaki itu sembari menahan kekasihnya untuk tetap berbaring.

“ Tentu saja. Ini.. tidak masuk akal. Tidakkah kau berpikir begitu?”tanya Naeun dengan mata yang masih menyiratkan ketakutan.

“ Ini sangat masuk akal bagiku.”

“ Tapi—“

Naeun tak bisa berbicara lagi, Myungsoo selalu menjadikan ciuman sebagai senjata terakhirnya untuk menutup mulut gadis itu.

“ Jangan bahas tentang forum bunuh diri itu lagi, biar saja menjadi urusanku. Bisakah kita bersenang-senang saja sekarang? Ini sudah menjadi perjanjian kita dari awal, bahwa kita hanya akan bersenang-senang setiap bertemu.” Myungsoo melepas ciumannya sejenak dan mengelus pipi Naeun dengan ibujarinya berulang kali.

“ Setelah aku menikah, apakah perjanjian itu masih berlaku?”

Myungsoo tersenyum sinis.

“ Apa kau ragu aku tidak berhasil menggagalkannya?”

“ Aku hanya bertanya.”

“ Bahkan jika kau sudah menikah, bersenang-senanglah denganku saja. Bukankah aku pelarianmu satu-satunya?”

 

Hari pernikahan Woohyun dan Naeun semakin dekat, dan Myungsoo telah merancang sebuah rencana gila untuk menggagalkannya. Tak hanya itu, rencananya pun akan membuat banyak orang termasuk The King terpukul jika ia berhasil melakukannya.

Myungsoo berencana membunuh saudara kembarnya sendiri, Kim Yura, di hari pernikahan Woohyun dan Naeun nanti. Namun dengan bantuan suatu situs bunuh diri yang saat itu tengah viral, ia akan membuatnya seolah-olah itu adalah bunuh diri yang dilakukan oleh Yura sendiri dengan motif patah hati karena Woohyun mengkhianatinya. Jika ia benar-benar berhasil, ini juga dapat menguak niat jahat Woohyun sejak awal.

Namun ini terlalu..jahat. Naeun tak menyangka Myungsoo juga bisa berubah menjadi iblis yang lebih kejam dari Nam Woohyun. Meski ia sangat meragukan rencana kekasihnya itu, ia tak dapat menghalaunya karena ia sudah berjanji untuk mendukung apapun langkah yang diambil oleh lelaki itu.

“ Aku juga sudah mengancam Park Chorong, ia harus datang ke pernikahan kalian dengan bayi yang baru saja dia lahirkan. Jika ia menolak dan masih lebih membela Nam Woohyun, aku juga tak akan segan-segan membunuhnya.”

“…hei, jangan pucat begitu. Aku hanya akan membunuh Yura jika ia juga sama seperti Park Chorong, lebih membela Nam Woohyun dan tak ingin ikut denganku merusak pernikahanmu. Aku terpaksa menggunakan dua wanita itu untuk mengacaukan karena merekalah bukti kuat atas niat jahat Woohyun selama ini.”

“ Apa yang akan Jaehwan pikirkan jika ia tahu kau punya rencana membunuh gadis yang dia cintai?”

“ Jaehwan sedang world tour, ia akan sama seperti orang lain nantinya, mengira bahwa Yura bunuh diri. Apa yang harus kukhawatirkan?”

“ Tapi—“

“ Sudahlah, ini hanya akan menjadi jalan terakhir.”

“ Aku takut.”

 

“ Pikirkan saja hubungan kita, dan kau akan paham mengapa aku melakukan ini semua.”

***

 

 

Hari pernikahan.

 

Myungsoo frustasi, ia tak bisa lagi menemui Naeun bahkan menghubungi gadis itu. Naeun telah dijaga ketat oleh keluarganya sejak menjelang hari ini.

Bukan apa-apa, ia hanya perlu keyakinan lagi dari gadis yang dicintainya itu bahwa apa yang akan ia lakukan hari ini adalah hal yang benar. Karena entah mengapa, meski di hari-hari sebelumnya ia begitu bersemangat dengan rencana gila yang akan ia lakukan, hari ini ia justru merasa takut dan ragu.

 

Lelaki itu memarkirkan motor besarnya di depan rumah istana The King yang sangat sepi. Ia tak lagi datang menggunakan mobil karena kendaraannya itu sudah hancur akibat ulahnya sendiri.

Aku pulang.”

“ Myungsoo!? Kaukah itu?”

Terdengar suara Yura dari dalam, Myungsoo menyeringai.

Ia tahu, Yura tak datang ke acara pernikahan Woohyun dan Naeun. Setahun terakhir ini saudara kembarnya itu menjadi sangat pendiam dan lebih sibuk bekerja untuk perusahaan. Tak diketahui apakah ia sudah membuka hatinya untuk Jaehwan atau belum, yang jelas hatinya masih sangat sakit dengan pengkhianatan Woohyun, dan ia menghindari rasa sakit yang lebih dalam hingga memilih untuk diam sendirian saja di rumah istana The King, ia bahkan menyuruh semua pegawai rumah untuk pulang dan meninggalkannya. Ia membutuhkan ketenangan ekstra untuk hari ini.

“ Ya. Aku disini.”

Myungsoo muncul, menghampiri Yura yang tengah berdiri sendirian dengan segelas wine di pinggir kolam renang. Gadis itu tersenyum haru.

“ Kau pulang? Kau benar-benar ada disini..?”ia nampak tak percaya.

“ Tak ada perubahan di rumah kita, ya. Aku masih merasa memiliki tempat ini walaupun ayah dan ibu sudah membuangku.”

“ Tidak.. jangan bilang begitu. Selamanya kau adalah bagian dari kami, terutama aku. Kita saudara kembar, kau ingat itu, kan?”

Myungsoo tersenyum dan mengelus puncak kepala Yura.

“ Tentu. Karena itu aku pulang, aku tahu saudaraku sedang sangat terluka.”

Yura sontak menangis, dan Myungsoo segera memeluk saudara kembarnya itu. Misinya dimulai.

“ Woohyun.. Nam Woohyun..” Yura terisak dan membalas pelukan Myungsoo dengan lebih erat. Ia sangat mendambakan hal ini, selama ini ia merasa tak memiliki saudara, dan tiba-tiba Myungsoo datang untuknya, ia merasa sangat sedih dan terharu.

“ Aku tahu.. aku tahu..”Myungsoo mengelus rambut panjang indah Yura, bibirnya mulai menyeringai lagi, “…kenapa kau tak datang dan membatalkan pernikahannya? Kau punya cukup bukti untuk membuat ayah dan ibu tahu dia hana memanfaatkanmu selama ini.”

“…” Yura terdiam, mungkin ia sudah menyangka bahwa pada ujungnya Myungsoo akan membisikkan sugesti buruk untuknya.

“ Yura, aku tidak mengatakan sesuatu yang salah, kan?”

Yura melepas pelukannya dan menggeleng.

“ Aku tahu kau benar, Myungsoo. Tapi.. aku tak akan lakukan itu. Aku ingin.. melihat Woohyun bahagia, karena aku mencintainya.”

“ Haha..” Myungsoo tertawa, tak menyangka bahwa saudaranya telah dibutakan sejauh ini oleh cinta.

“…kau tidak ingat dengan siapa dia menikah? Son Naeun. Kau bisa berkata begitu karena meski Woohyun tak bisa kau miliki, setidaknya kau bisa tetap bahagia karena menjadi pewaris harta The King. Sementara aku? Menurutmmu apa yang tersisa dariku jika aku kehilangan Naeun hari ini?”

Yura tersadar, terlalu bodoh jika ia menganggap Myungsoo ingin datang dan menenangkannya hari ini disaat lelaki itu kenyataannya lebih menderita dan marah sekarang.

“ Myungsoo, aku paham perasaanmu, tapi—“

“ Aku beri dua penawaran untukmu, Yura. Ikutlah denganku sekarang dan hentikan proses pernikahan mereka, atau aku tak akan membiarkanmu menjadi pewaris The King.”

“ Myungsoo, ini bukan keinginanku menjadi penerus ayah.. seandainya kau menurut sejak awal, mungkin saja kau yang mereka pilih..”

“ Haha.. jadi kau menyalahkanku sekarang? Aku hanya mengejar cita-citaku menjadi fotografer, dan kau menyalahkan aku karena hal itu!?” Myungsoo mulai gelap mata dan mengeluarkan pisau milik salah satu chef rumah yang sejak tadi ia sembunyikan, “…jangan munafik, Kim Yura. Aku tahu kau juga pasti menginginkan posisi itu. Dan jangan kira aku rela kau menjadi penerus ayah, akulah yang lebih berhak!!”

Yura mulai ketakutan dan berjalan mundur, ia kembali menangis.

“ Jauhkan.. jauhkan itu dariku.. kumohon.. Kim Myungsoo..”

“ Aku tak bisa membiarkan orang lain bahagia sementara aku tidak. Apa yang harus kulakukan, Kim Yura? Beritahu aku cara lain selain membunuhmu.”

“ Aku.. aku akan.. meminta ayah dan ibu untuk mengakuimu nanti.. aku akan lakukan itu..”

“ Hahaha!” lelaki itu semakin tertawa, “…apa maksudmu, Kim Yura? Apa kau sedang mengejekku? Kau tahu tidak mungkin mereka mau melakukannya!!”

“ HENTIKAN!” Yura menghalau tangan kokoh Myungsoo yang mulai berusaha menikamnya, gadis itu terus melakukan perlawanan sekuat tenaga.

“ Oh ayolah.. jangan buang-buang waktuku. Makanya, ikutlah denganku ke gereja sekarang, setelah itu aku akan membiarkanmu bahagia.. aku tak meminta posisimu sekarang, aku hanya meminta bantuanmu untuk merebut kembali Son Naeun dari Nam Woohyun, karena dia satu-satunya hal berharga yang kumiliki.”

“ Tidak.. tidak mau..!” Yura masih saja keras kepala meski ujung pisau di tangan Myungsoo tinggal sedikit lagi menerobos jantungnya.

“ Egois! Kalau kau saudaraku, seharusnya kau berada di pihakku sekarang!”

“ Tidak! Sekarang justru aku paham mengapa ayah dan ibu rela membuangmu dari keluarga ini.. karena kau—“

“ APA KAU BILANG!?”

SRAKK!!

Myungsoo kehilangan kesadarannya dan berada di puncak amarahnya, ia berhasil meruntuhkan pertahanan Yura dan menancapkan pisau besar di tangannya pada dada saudara kembarnya itu hingga darah segar terciprat di wajah tampannya.

BRUK!

“ Apa..yang..kau..lakukan?” Yura terjatuh di pinggir kolam dan masih setengah sadar, nafasnya mulai tersendat, tangan putihnya berusaha meraih kaki Myungsoo.

“ Diamlah.”

Myungsoo masih gelap mata dan kini meraih ponsel Yura yang keluar dari saku rok gadis itu, tangannya aktif membuka satu situs internet dan menulis status disana. Setelah selesai, ia letakkan ponsel itu tempat di samping saudaranya yang semakin sekarat.

“ Myungsoo.. sakit..” Yura masih berusaha untuk bicara, matanya yang semakin kosong masih ia gunakan setengah mati untuk menatap saudara kembarnya itu, ia marah, sangat marah.

“ Haha. Tentu saja sakit.”Myungsoo tertawa sinis menyaksikan saudaranya itu. Jelas, ia masih kerasukan setan.

“ Jangan menertawakan aku.. Kim Myungsoo. Ketika aku.. bernasib sial, kau.. pasti.. akan sial juga. Kita kembar, bukan?”

Kini Yura benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata terbuka, dan kalimat terakhir gadis itu seolah menyadarkan Myungsoo akan tindakan gilanya.

“ TIDAK.. AKU.. TIDAK MUNGKIN.. Yura.. Kim Yura!” lelaki itu mendadak ketakutan hebat. Ia panik, mengguncang-guncangkan tubuh Yura yang tak lagi berdaya.

Pikirannya mendadak kacau dan berantakan, ia pikir akan mudah saja membunuh Yura dan meninggalkannya sekarang, namun nalurinya sebagai saudara kembar gadis itu tiba-tiba menguasainya.

“…APA.. APA YANG HARUS KULAKUKAN SEKARANG!?”

Myungsoo yang semakin ketakutan, mendorong jasad Yura ke dalam kolam, lalu ia terpaksa bangkit dan berlari sekencang-kencangnya, keluar dari rumah istanannya dan menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.

Kim Yura yang terbunuh, pernikahan Son Naeun yang sedang berjalan, semua itu memenuhi pikirannya. Myungsoo merasa ia gila mendadak karena blank. Ia menjalankan motornya menuju medical center tanpa tujuan yang pasti, apakah ia akan menemui Park Chorong yang tengah piket dan memperlakukan gadis itu dengan sama seperti apa yang ia baru saja lakukan pada Kim Yura, atau justru meminta pertolongannya untuk menyelamatkan Yura meski sudah terlambat?

Lelaki itu semakin blank, keadaan jiwanya semakin terguncang dan ia benar-benar kehilangan kesadarannya, ia tak mampu lagi menatap jalanan di depan matanya, hingga..

BRAAKKK!!!

Ia mengalami tabrakan hebat dengan satu halte bus di pinggir jalan.

***

 

Naeun mati-matian menahan rasa gelisah dan sedihnya karena Myungsoo tak kunjung datang disaat ia sudah selesai mengucapkan janji pernikahannya dengan Woohyun. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menangis di ruang ganti. Woohyun ada bersamanya, menunggunya hingga benar-benar puas.

“ Apa kau masih tak terima karena seseorang yang pernah kau berikan jari tengah kini menjadi suamimu?”

Entah apa maksud Woohyun saat ini, menghiburnya atau mengejeknya. Naeun masih tak sudi berbicara lagi dengan seniornya yang kini telah resmi menjadi suaminya itu.

“ Apa kau sama sekali tidak memikirkan Park Chorong!?”marah gadis itu sembari terus terisak, Woohyun mencibir dan menggeleng.

“ Ia sangat mengerti dan tetap tak akan pergi dariku.”

“ Itu karena kau memperkosanya.”

“ Haha. Bukan, Son Naeun. Itu karena dia mencintaiku juga, seperti Kim Yura. Hanya saja dia beruntung karena aku mencintainya juga.”

“ Aku masih tak percaya kau sejahat ini… Woohyun sunbae. Dulu aku sangat menghormatimu.”

“ Jangan khawatir, Son Naeun. Setidaknya aku tak akan melukaimu. Aku janji.”

Naeun menggeleng kuat, ia tetap merasa tak sudi. Dan Woohyun sama sekali tak peduli.

“ Segeralah kembali ke depan. Para tamu akan bertanya-tanya kalau kau terlalu lama izin ke belakang.”

Woohyun mulai bosan dan ia memilih untuk keluar.

Drrt..drrt..

Namun tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah telepon masuk dari salah satu perawat medical center yang telah ia bayar dan titipkan untuk menjaga Chorong yang sedang piket.

“ Ada apa? APA!? Chorong sedang menanganinya sendirian? Sekarang?!”

Naeun tak mengerti, ia heran melihat Woohyun yang tiba-tiba meraih kunci mobilnya dan berlari keluar. Gadis itu segera merapikan riasannya dan ikut menyusul lelaki itu.

“ Fotografer L, dia mengalami kecelakaan dan sekarang dilarikan ke medical center.” Woohyun mendekati dokter Son dan hanya berbisik di telinga ayah Naeun itu, ia sengaja karena tak ingin Naeun mengetahuinya dulu.

Dokter Son terkejut, ia segera membisikkan hal yang sama pada presdir Kim beserta istrinya yang sedang mengobrol dengan para tamu. Namun rupanya reaksi mereka sama sekali tidak seperti orangtua yang khawatir akan kondisi anak kandungnya.

“ Kami tak peduli. Ia memang pantas mendapatkannya karena telah melawan kami sejak dulu.”

Namun Woohyun tetap meminta izin untuk meninggalkan tempat. Entah mengapa, ia tak mau membiarkan Chorong mengurus Myungsoo sendirian.

Sedangkan Naeun masih berdiri tanpa daya dengan ketidaktahuan.

***

 

“ Ah.. apa yang terjadi dengan bajingan ini?”

Chorong terkejut karena Woohyun tiba-tiba muncul di UGD dengan tuxedo, lelaki itu melepas jasnya dan mendekati Myungsoo yang terluka parah di sekujur tubuhnnya.

“ Apa yang kau lakukan—“

“ Kalian semua keluar sekarang.”Woohyun tiba-tiba menitahkan para perawat yang bertugas untuk keluar, membuat Chorong semakin heran. Para perawat pun masih diam di tempat mereka karena merasa tak mungkin meninggalkan pasien darurat yang sedang membutuhkan pertolongan cepat.

“ Kenapa kau mengusir mereka? Kita sedang sibuk—“

“ CEPAT KELUAR SEKARANG! Biar aku dan dokter Park yang mengurusnya!” Woohyun memberi perintah sekali lagi. Karena takut, para perawat menurut. Dan sekeluarnya mereka Woohyun menutup dan mengunci ruangan rapat-rapat.

“ Apa yang kau lakukan sekarang, hah!? Bukannya kau—“ Chorong masih tak mengerti.

“ Aku tak akan membiarkannya hidup.” Woohyun kini memasang sarung tangannya dan mencari-cari obat serta jarum suntik yang ia inginkan, Chorong panik dan segera menghentikan lelaki itu.

“ Kau ingin membunuhnya!? Kenapa!?”

“ Aku tahu dia sedang mencoba menggagalkan pernikahanku. Akan sangat berbahaya jika dia bangun. Dia akan memburumu dan memaksamu untuk membawa anak kita ke hadapan The King dan keluarga dokter Son. Jika kau menolak, dia akan membunuhmu.”

“ Apa?!”

“ Itu hanya perasaanku saja, bagaimanapun juga aku yakin ia tak rela aku menikah dengan Son Naeun. Dia pasti akan menghancurkan aku, dan aku tak akan membiarkan itu terjadi.” Woohyun menemukan jarum suntik dan cairan yang ia cari dan mulai berjalan kembali mendekati Myungsoo.

“ Tidak.. jangan membunuhnya! Kumohon jangan..” Chorong berusaha menahan Woohyun sekuat tenaga dengan memeluk lelaki itu dari belakang, “…jika itu yang kau takutkan, jangan khawatir.. aku akan menjaga diriku dan anak kita.. tenang saja..”

“ Bagaimanapun juga dia berbahaya, Park Chorong. Ia satu-satunya orang yang akan menghalangi tujuanku.”

“ Tapi jangan membunuhnya.. Nam Woohyun yang kukenal bukan orang yang bisa membunuh. Aku sudah cukup melihat semua kejahatanmu, jangan lakukan lebih dari ini.. kumohon..”

“…”

Woohyun diam, berpikir sejenak dengan terus menatap tajam Kim Myungsoo yang tengah sekarat.

“ Baiklah. Aku tak akan membunuhnya.”putusnya, “…ayo kita selamatkan dia.”

Chorong tersenyum lega, ia mengangguk cepat dan segera berlari mengambil peralatan yang mereka perlukan. Sementara Woohyun mengamati luka-luka berat di sekujur tubuh Myungsoo.

“ Bagus sekali, sepertinya aku memang tidak perlu membunuhnya.”

“ Apa lagi sekarang, Nam Woohyun?”

Lelaki itu tersenyum licik.

“ Kepalanya terbentur, kemungkinan besar dia akan kehilangan ingatannya.”

*

 

“ Kau yakin dia akan amnesia? Kita belum melakukan pemeriksaan dalam. Jadi jangan senang dulu.”

Kedua dokter itu telah selesai menangani Myungsoo yang kini ada dalam keadaan koma, dan Chorong masih ragu dengan dugaan Woohyun.

“ Lihat saja nanti. Sangat jarang pasien yang mengalami benturan bisa mengingat masa lalunya, apalagi jika disebabkan kejadian traumatis seperti ini.”jawab Woohyun sembari membersihkan kemejanya yang kini telah kotor oleh darah.

“ Kau senang?”Chorong menghampirinya dan membantunya membersihkan noda darah di kemejanya.

“ Ya. Walaupun lebih senang dia mati.”

“ Sshh.. jangan membuatku semakin membencimu.”

Lelaki itu tertawa kecil dan menyentuh tangan Chorong.

“ Bagaimana kabar putra kecil kita?”

“ Ia baik-baik saja. Ia tidak tahu ayahnya menikah dengan orang lain hari ini.”

Lelaki itu tertawa lagi, tangannya kini menyentuh pipi tembam Chorong dan mencium gadis itu beberapa saat.

“ Aku akan segera menceraikannya setelah medical center dan kepemilikan The King ada di tanganku. Lalu kita akan mengadakan pernikahan yang lebih mewah. Oke?”

Gadis itu mengangguk dan membalas ciumannya. Namun tak lama, karena ponsel Woohyun bergetar lagi.

Telepon dari presdir Kim.

“ Ya? Ya.. aku sudah selesai.. bersama dokter Park Chorong. Kim Myungsoo sekarang koma.”Woohyun melaporkan keadaan Myungsoo, rupanya presdir Kim ingin tahu juga bagaimana nasib putra kandungnya.

“…apa?! Anda yakin?”lelaki itu tiba-tiba terkejut, namun tak lama setelah itu sebuah senyum mengembang di wajahnya.

“…baiklah. Akan kuurus. Jangan khawatir, presdir.”

“ Ada apa?”Chorong bertanya sesaat setelah presdir Kim memutuskan sambungan teleponnya.

“ Presdir Kim ingin Myungsoo diasingkan, setelah itu memintaku mengeluarkan pernyataan palsu bahwa dia meninggal. Ternyata bukan hanya aku yang menganggap dia berbahaya.”

“ Apa!? Diasingkan? Kemana? Orangtua macam apa..” Chorong justru sedih mendengarnya, berbeda dengan Woohyun yang benar-benar merasa diuntungkan dengan situasi ini.

“ Itu masih dipikirkan oleh The King, yang jelas sekarang kita diminta untuk mengisolasi ruangan ini. Besok kau juga diminta untuk menghadap presdir. Mungkin untuk koordinasi, karena kau juga tahu sebenarnya Myungsoo tidak meninggal seperti yang akan kunyatakan pada media nanti.”

“ Bagaimana dengan.. Son Naeun?”

 

“ Itu akan menjadi tugasku untuk mengurusnya.”

*****

 

“ Selamat malam. Maaf aku terlambat.”

Woohyun memasuki rumah barunya dengan wajah lelah, dua keluarga kaya yang tengah makan malam bersama disana menyambutnya.

Setelah pesta pernikahan privat mereka selesai, malam ini The King dan keluarga dokter Son mengadakan makan malam di rumah mewah baru yang mereka berikan untuk Woohyun dan Naeun tinggal bersama, dan Woohyun datang terlambat karena selesai ia mengurus Myungsoo, ia sedikit berat hati untuk meninggalkan Chorong sendirian lagi di medical center.

“ Kau sudah bekerja keras hari ini, duduklah.”

Naeun bertanya-tanya mengapa terdapat noda darah kering di kemeja suaminya itu.

” Bagaimana keadaannya?”dokter Son tiba-tiba bertanya, dan presdir Kim seolah memberi isyarat pada putra angkatnya itu.

” Dia meninggal.” jawab Woohyun singkat sesuai yang diinginkan oleh sang presdir.

” Benarkah? aigoo..” keluarga dokter Son terkejut, Naeun semakin tak mengerti.

” Siapa?”tanyanya heran.

” Fotografer L, yang sempat mengaku-ngaku bahwa dia adalah putra The King. Dia meninggal dalam kecelakaan tunggal hari ini, tepatnya jam 12 siang waktu Seoul. Itu yang kusampaikan pada media, mungkin mereka sudah merilis beritanya sekarang.”Woohyun memperjelasnya, dan matanya langsung melirik Son Naeun yang sontak berhenti makan karena syok berat.

” Aku turut berduka.” sahut presdir Kim berpura-pura, dibarengi anggukan anggota keluarga yang lain. Sementara Naeun masih diam seperti patung karena tak bisa (dan tak mau) mempercayainya.

” Ah.. sepertinya aku perlu Naeun untuk mengurusku. Aku benar-benar lelah hari ini.” Woohyun mampu membaca situasi dan menarik Naeun dari kursi meja makan. Sekujur tubuh gadis itu telah dingin seperti es.

***

” Menangislah sekarang. Sudah aman.” Woohyun memasukkan Naeun ke dalam kamar mereka dan menutup pintunya rapat-rapat.

“…”

Gadis itu masih diam dengan wajah yang sudah pucat. Woohyun benar-benar heran. Apa ini karena ia terlalu syok?

Lelaki itu mengintip keluar, rupanya keluarga besar telah menyelesaikan acara makan malam mereka dan pulang, mereka hanya menitipkan pesan pada pegawai rumah untuk pamit pada Woohyun dan Naeun.

” Jangan ditahan. Menangis saja. Setelah itu aku akan jelaskan.” Woohyun mengelus puncak kepala Naeun dan bersabar menunggu gadis yang masih diam seribu bahasa itu.

Drrt.. drrt..

Di tengah keheningan, lagi-lagi ponsel Woohyun bergetar. Lelaki itu mengangkatnya dengan malas.

Kali ini dari nyonya presdir.

“Halo? Halo ibu..? ada apa?”

Woohyun sedikit panik karena nyonya presdir justru menangis histeris setelah teleponnya diangkat.

” Y..Yu..ra.. Kim Yura-ku..” ucap beliau dengan tersendat-sendat dan kembali histeris.

Woohyun kembali harus pergi, ia meninggalkan Naeun yang masih mematung dan mengunci gadis itu dari luar agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Ia kembali menancap gas mobilnya, kali ini perasaannya bahkan dibuat kacau.

Kim Yura ditemukan meninggal dunia dengan jasad yang mengapung di kolam renang yang telah pekat bercampur darah dan pisau dapur menancap di dadanya. Ditemukan bukti ponsel yang terregistrasi di sebuah situs bunuh diri dengan username “DarkAngel”, gadis itu diduga menulis banyak status sebelum benar-benar mengakhiri hidupnya.

Woohyun benar-benar merasa kacau dan bersalah. Apa Kim Yura bunuh diri karenanya?

Ia takut gadis itu dendam dan menghantuinya nanti. Konyol memang, namun Woohyun tak bisa membuang rasa takutnya.

Terlebih ketika ia melihat secara langsung jasad Yura masih terbuka matanya.

Mata gadis itu seolah mengancamnya dan tak akan membiarkannya hidup tenang.

***

Seperti itulah keadaan akhirnya. Tak ada yang menyangka bahwa Kim Myungsoo dan Kim Yura, kembar fraternal The King mengalami tragedi mengerikan di hari yang sama. Dimana Kim Yura jelas meninggal dunia dan dianggap bunuh diri, dan Kim Myungsoo yang sesungguhnya masih hidup meski cacat dan mengalami amnesia retrograde, diasingkan oleh The King ke sebuah apartemen di pinggiran kota Seoul setelah dianggap telah mati oleh semua orang.
Kehidupan terus berjalan, Nam Woohyun menepati janjinya untuk terus mencintai Park Chorong, namun ia pun tak melepaskan tanggung jawabnya sebagai suami dari Son Naeun. Ia mengajak Son Naeun untuk ‘berbulan madu” ke Jerman setelah ia sadar bahwa ada yang salah dengan kondisi psikologis gadis itu setelah mendengar kenyataan bahwa Myungsoo menghilang dari kehidupannya. Ya, jelas mereka tidak melakukan bulan madu yang sesungguhnya. Woohyun membawa Naeun ke rumah sakit jiwa di kota Berlin untuk memulihkan gadis itu sebelum keluarga mereka mendeteksi hubungannya dengan Kim Myungsoo di masa lalu.

Kini gadis itu terlihat sudah sehat dan sembuh dalam waktu singkat -mungkin karena ia sendiri adalah seorang dokter jiwa- meski masih ketergantungan alkohol. Ia bahkan kembali dan menjadi dokter untuk Jaehwan, yang mengalami gangguan depresi akibat nasib Myungsoo dan Yura yang terlambat ia ketahui.
Di sisi kehidupan yang lain, Kim Myungsoo yang telah menjalani kehidupan barunya sebagai lelaki cacat dan amnesia berniat untuk mengakhiri hidupnya yang tak berguna melalui situs bunuh diri yang ia temukan di internet. Namun niatnya tertunda karena satu username disana membuatnya penasaran setengah mati.

 

Dark Angel.

 

*flashback Ends*

 

Yiihaa.. kelar juga xD

Well, ini complicated banget kan? Lebih complicated dari The Portal? –udah gitu panjang pula ._.- Maafkan saya, hehe. Sebelum post ini sempat baca ulang dan memang masa lalu tiap karakter aku bikin agak ribet begini, semoga tetap dapat dipahami dan bisa menyambungkannya dengan keadaan mereka sekarang di part sebelumnya.

Part berikutnya akan kembali ke masa sekarang, dan akan lebih fokus pada situs bunuh diri yang menjadi center dalam cerita ini. Semoga mau menunggu (lagi).

Sampai jumpa di part berikutnya dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak berupa komentar, karena akan sangat membantu author dalam menulis part berikutnya🙂

 

Next >> Part 3 : It’s All Different

 

13 responses to “SUICIDE FORUM [Part 2 : Who is Who (Flashback part)]

  1. Gak bisa bayangin Woohyun jadi jahat begitu 😭 Ambisinya. Rencananya. Jempol deh 😂 Myungsoo juga tega ngebunuh gitu 😭 Ah part ini bener bener banyak kejutan ya kak 😲 Semuanya jadi jelas. Ditunggu next part ya kak. Semangat 🙆🙆

  2. Itu nam woohyun bsa di cakar2 gah..?? Pengen gue jual di situs itu.. Uurgg gue emosi ngebacanya.. Bikin greget.. Arrgg..

  3. Oke aku udah baca seluruh cerita kakak sejauh ini aku nganggep kalo the portal bakal jadi cerita paling susahh ditebak akal alurnya tapi ternyata ada yg lebih parah, sumpah cerita kakak yg ini kayak gabungan segala jenis genre *ya walaupun aku yakin gk bakal ada kekonyolan khas kakak disetia cerita *takol *watados wkwk. aku gk tau harus ngomen apa *lh dari tadi elu ngomen nengg-_-, tapi kak aku mohonn jangan lama2 apdetnya :’). kalo dijadiin drama kayaknya bakal tinggi rattingnya ya😀. Smpe skrg aku gk nyangka idup tokoh2 cerita ini bakal seCOMPLICATED ini, terutama Myungsoo astaga gantengku ternistakan disini, jadi ngrti kenapa ken segitu bencinya ama naeun. dan demi apa biasku woohyun tapi aku malah mau ngebejek dia ampe jadi ruja *jadi pengen rujak. Pokoknya kakk itu masternya buat alur yang complicated dan gak ketebak salutzz buat kakak😀. Nice story kak lanjut terus, ditunggu karya selanjutnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s