Way of Two Rings (chapter23)

the-way-of-two-rings1

Title     : Way Of Two Rings

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, School Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

Cover by : Alkindi @Indo Fanfiction Art

 

***

“Kau bilang tanganmu akan berkeringat jika kau memegang tanganku lama-lama, tapi kau sekarang malah memegangi tanganku seolah aku akan meninggalkanmu,” Luhan emngejek Ariel tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya. Ia sedang menyetir dan melakukan husband service-nya terhadap sang istri tercinta yang sangat cengeng dan sensitif ini –mengantarnya ke sekolah. Setelah pertengkaran hebatnya kemarin sore, Ariel terus menempel pada Luhan. Bahkan gadis itu sempat-sempatnya melakukan back hug saat Luhan sedang menyiapkan sarapan –agar romantis seperti cerita yang dibacanya ia bilang.

Ariel merengut dan semakin erat menggenggam tangan Luhan, “Aku lebih suka tanganku berkeringat ketimbang kau melirik gadis lain,” suara Ariel masih terdengar ketus.

Luhan hanya terkekeh mendengarnya, “Yak…sebegitu mencintaiku ya sampai kau menunjukkan cemburumu yang kentara itu?” Luhan hanya bercanda –tapi ia mendapat jawaban yang membuatnya malu.

“Aku memang mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Aku juga memang cemburu pada semua perempuan yang bisa emerhatikanmu di kampus selama seharian…” jari telunjuk Ariel menyentuh tangan Luhan dan menggerakkan tangannya membentuk lingkaran di sana.

Luhan sebenarnya bisa saja membalas ucapan Ariel dengan candaan yang lain –tapi nyatanya ia justru merasa kikuk sendiri. Ariel begitu terbuka padanya, bahkan sesuatu yang seharusnya membuat perempuan malu, justru bisa menjadi obrolan yang terdengar begitu remeh jika Ariel yang membicarakannya.

“Kau mau kujemput jam berapa?” tanya Luhan setelah mereka sampai di depan gerbang sekolah Ariel.

“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri,” sahut Ariel sembari mencoba melepas sabuk pengamannya dengan satu tangan –dan susah payah tentunya. Ariel sama sekali tidak ingin melepas tangan Luhan.

“Yak! Yak! Mana bisa kau membuka sabuk pengamanmu jika ka uterus memegangiku seperti ini?”

“Kalau begitu cium aku dulu! Baru aku akan melepaskan tanganmu,” Ariel menarik sudut bibirnya –menyeringai kecil. Mungkin tidak apa-apa sedikit bermain-main dengan Luhan sebelum ia sekolah.

“Dasar nakal…”

“Aku tidak peduli…” sahut Ariel dnegan nada mengejek.

“Genit…”

“Aku genit pada suamiku sendiri,”

“Jadi kau menantangku?” Luhan pun mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ariel –yang membuat gadis itu mundur secara teratur.

“Kau kira aku takut? Kau ingin kita punya anak tahun depan?”

“Siapa takut? Kau kan ibunya, kau yang akan kerepotan nanti,”

“Akan kuadukan pada Mama jika kau tidak mengurus anak kita dengan benar,”

Dan drama bodoh di dalam mobil itu harus berakhir ketika seseorang mengetuk kaca mobil mereka –entah siapa, dan Luhan juga Ariel langsung membenarkan posisi masing-masing, seolah baru saja mereka melakukan kesalahan besar. Dan Luhan merasa terluka ketika Ariel langsung melempar tangan Luhan setelah melihat anak lelaki berseragam dnegan senyum bodoh yang sangat idiot.

“Jung…kook?” Ariel yang membuka kaca mobil dan menyapa anak lelaki itu –anak paling konyol menurutnya, dan kali ini kekonyolannya harus mengakhiri drama pagi harinya bersama Luhan. Dan meskipun jengkel setengah mati terhadap temannya yang satu itu, Ariel tetap tersenyum ke arahnya.

“Dasar cecurut menyebalkan,” desis Luhan sembari memalingkan wajahnya. Yeah, ini bukan berarti ia benar-benar akan melakukan hal yang tidak-tidak dengan Ariel, tapi coba pikir, bagaimana bisa ada seseorang yang berani mengetuk kaca mobilnya dengan cara seperti tadi?

“Annyeong sunbae. Aku menebak ini mobilmu tadi, dan ternyata benar…” Jungkook tetap tersenyum dan menyapa Luhan dengan ramah –membuat Luhan semakin kesal saja.

“Kau teman Ariel?” dan mau tak mau akhirnya Luhan tetap mengikuti skenario tolol ini.

“Ya…dan mungkin aku akan menjadi adik iparmu juga, Sunbae…” Jungkook tertawa pelan ketika Ariel menyikut perutnya.

“Begitu? Jadi kau ingin mengatakan bahwa kau kekasih Ariel?” Luhan semakin menunjukkan wajah masamnya –cecurut sialan ini menyebalkan.

“Tentu saja. Memangnya kau saja yang bisa punya pacar di kampusmu?” kali ini Ariel yang balas menyahuti Luhan –mengerjai Luhan sedikit lagi mungkin tidak apa-apa. Ia pun menarik lengan Jungkook dan memegangnya erat.

“Sialan…” mulut Luhan bergerak pelan –melafalkan bahasa cina yang kebetulan tertangkap oleh Ariel. Dan ia semakin jengkel karena Ariel  justru meleletkan lidahnya. Sepertinya dia benar-benar berniat balas dendam.

“Kalau begitu aku masuk dulu, Oppa…. Doakan agar aku dan adik iparmu ini bisa belajar dengan baik,” Ariel pun membungkuk dan langsung menarik Jungkook dari tempat itu. Ia tidak ingin membiarkan temannya yang manis ini menjadi sasaran kemarahan pria yang memiliki jiwa nenek-nenek seperti Luhan.

 

***

 

“Jadi kau bertengkar hebat dengan Ariel kemarin?” Sehun menanggapi curahan sahabatnya. Dan entah perasaannya saja atau tidak, semenjak menikah Luhan akan lebih sering membicarakan Ariel meskipun mereka telah tinggal bersama sebelumnya.

Luhan yang tengah memasukkan barang-barangnya ke dalam tas pun hanya mendesah berat, “Aku belum pernah bertengkar separah kemarin. Tapi itu jauh lebih baik…” kemudian ia pun memutar kepalanya ke arah Sehun yang tengah menyedot bubble tea-nya, “Saat kami bertengkar sebelum menikah, dia langsung pulang ke Amerika tanpa mengatakan apa-apa padaku. Bahkan saat pulang ke Korea dia masih tidak menghubungiku.” Kali ini Luhan menidudrkan kepalanya di atas tasnya. Ia terkena overdosis karena mata kuliahnya, dan ia semakin mual ketika Kang Haneul –manajer di restoran yang ia kelola—mengiriminya sms bahwa hari ini ia harus ikut rapat.

“Ariel…itu sedikit kekanakan,” Sehun berkomentar tanpa menatap Luhan, ia sendiri tidak yakin apakah pemilihan katanya tepat atau tidak, tapi setidaknya itulah yang ia pikirkan mengenai Ariel dari semua cerita yang Luhan lontarkan.

“Apa? Kekanakan?”

Sehun melirik Luhan yang menunjukkan raut wajah tersinggung, tapi ia tetap melanjutkan, “Saat Sohee seusia dengan Ariel, dia tidak pernah melakukan hal-hal konyol yang dilakukan Ariel. Mungkin karena Sohee sudah mandiri sejak dia menginjak remaja, sedangkan Ariel…yeah, semua orang memperlakukannya bak tuan putrid. Itu sebabnya sifat Ariel tetap sama saja seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Dia bahkan masih terdengar cengeng…”

Luhan pun menegakkan punggungnya, “Yak! Tentu saja kau akan menemukan perbedaan jika kau membandingkan dua-duanya seperti itu, lagipula memangnya hanya karena Sohee-mu sedewasa itu makanya kau bisa membandingkannya dengan Ariel?” Luhan tidak bermaksud marah terhadap Sehun. Sungguh. Tapi ia merasa terpojok sekali karena Sehun benar, saat Sohee seusia dengan Ariel, dia bahkan sudah bisa memasak untuk orang lain, yang terpenting ia juga sudah bisa menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Tapi, tetap saja mana bisa Sehun membandingkan Ariel dan Sohee seperti itu,kan?

Sehun berdecak pelan dan menatap Luhan serius, “Bukan begitu maksudku. Tapi…dengar,” Sehun pun menghadapkan tubuhnya ke arah Luhan, “Ariel harus tetap berubah bersikap lebih dewasa dan mandiri. Baiklah, sekarang dia putri bungsu seorang paling kaya dan tanpa dirimu dia bahkan bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa dirimu. Tapi kalian sudah menikah. Saat ayahmu ingin kau menjadi kepala keluarga seutuhnya, artinya roda kehidupan kalian dimulai, mungkin saja kau akan berada di titik terbawah, dan…Ariel juga harus mau ikut berada di titik itu. Melepaskan mahkotanya dan memulai hidup yang sulit bersamamu,” Sehun menjeda dengan satu tegukan bubble tea-nya, “Lagipula tidak mungkin seumur hidupmu kau lah yang akan menyiapkan sarapan untuknya, yang mencuci dan menyetrika pakaiannya. Sohee bahkan sudah tinggal sendiri sejak duduk di bangku SMA,”

“Jadi maksudmu aku harus membuatnya menjadi ibu rumah tangga?”

Sehun berdecak pelan dan kembali menyedot bubble tea-nya, “Ariel harus mulai belajar mengenai tanggung jawab. Dia masih kecil dan tentu saja untuk urusan rumah tangga dia juga masih harus belajar dan butuh banyak bantuanmu. Tapi setidaknya dia memiliki tujuan untuknya sendiri, tanggung jawab untuk sekolahnya, untuk kuliahnya, cita-citanya…. Itu hanya saranku saja. Jangan membatasi impiannya. Jika dia sudah siap dan matang, kalian bisa membuat komitmen sungguhan. Wajar saja Ariel masih bersikap seperti itu, dia masih kecil dan pola pikirnya benar-benar masih anak-anak…”

“Wah…kau sudah dewasa ya…”

“Tentu saja. Yoon So Hee yang mengajariku. Aku tidak akan mau repot-repot kuliah jika bukan karena dialah tujuan hidupku. Aku telah merusak hidupnya dan aku ingin memperbaikinya di masa depan, menikah dan membangun hubungan yang sesungguhnya.”

“Tapi Ariel bahkan mengeluh tidak ingin kuliah,” Luhan pun kembali menjatuhkan kepalanya ke atas meja, “Dia bahkan terus mengoceh untuk memiliki anak….”

“Kalau begitu arahkan dia. Kau bahkan lebih tua darinya, seharusnya kau bisa membuat cara berpikirnya berubah. Dan jangan terlalu dekat dengan Irene atau perempuan manapun, Lu…. Sebuah pernikahan dan hubungan sepasang kekasih itu berbeda. Kau sudah menikahinya, artinya kau memilihnya untuk dijadikan teman seumur hidupmu.”

Luhan mendesis. Sehun tidak pernah berbicara sesuatu yang serius seperti itu sebelumnya –ia hanya tahu bersenang-senang dan bermain. Tapi mendengarnya memberi nasihat seolah dia adalah motivator nasional, Luhan justru merasa lelaki itu berhasil menyentuh hati nuraninya : jangankan mengarahkan Ariel untuk memegang sebuah tanggung jawab, Luhan bahkan belum bisa  memegang tanggung jawabnya sendiri.

 

***

 

“Kau sedang menulis lagu?” Jungkook membungkukkan tubuhnya pada meja Ariel –memperhatikan beberapa baris lirik yang tidak terlihat rapi dan berbahasa inggris.

Ariel mendengus dan menutup buku catatannya. Ia sedang dalam titik terfokusnya dan temannya yang menyebalkan ini malah membuatnyaharus enarik seluruh ide yang tadi sempat keluar –Jungkook sialan, “Apa yang kau lakukan, sih?” Ariel merengut dan kembali menatap buku catatannya, ia benar-benar terkejut karena kepala Jungkook tiba-tiba ada di samping kanannya sedangkan ruang musik sedang sangat sepi.

“Ah…aku membuatmu terkejut, ya? Maaf…maaf…” Jungkook berusaha tersenyum dan duduk di dekat Ariel, kembali memerhatikan gadis itu mencorat-coret kertasnya. Dan selama beberapa menit, Jungkook benar-benar hanya memperhatikan Ariel yang begitu serius hingga beberapa kerutan di dahinya muncul –dan sesekali gadis itu menyampirkan rambut panjangnya ke samping.

Jungkook yang kebetulan mendapati sebuah ikat rambut di meja Ariel langsung mengambilnya dan mencoba mengikat rambut sepunggung Ariel yang sepertinya tetap dijaga agar berwarna kecoklatan –dan jangan tanya bagaimana hasilnya, Jungkook tidak pernah mengikat rambut siapapun dan alhasil rambut Ariel jadi terlihat aneh.

“Wah…kau sedang berusaha memikatku ya?” Ariel tidak tahu apakah candaannya lucu atau tidak, tapi ia terpaksa menarik kembali ikat rambutnya dan mengikatnya kembali.

“Kau benar-benar tidak menghargaiku ya?”

Ariel hanya tersenyum dan kembali menulis sesuatu di kertasnya. Jungkook pun mendengus pelan. Ariel selalu seperti ini, akan melakukan apapun yang ia lakukan tanpa peduli apakah itu sopan atau tidak. Ariel itu apa adanya. Dan Jungkook menyesal sekali karena baru mengenalnya di semester kemarin ketika ia masuk ke ekstrakulikuler musik. Yeah…Ariel memang cukup terkenal ketika masuk sekolah karena ia selalu mengekori Luhan –seniornya yang sangat terkenal di sekolah—seperti anjing yang mengikuti majikannya. Dan nama Ariel semakin tenar karena ia disebut-sebut masuk ke dalam gank Luhan setelah berpacaran dengan Jongin dan juga begabung dengan club musik. Selain itu, Ariel juga sangat dekat dengan Chunji, si juara satu di angkatannya. Bahkan Jungkook pikir Ariel bukan gadis baik-baik karena ia selalu dekat dengan laki-laki.

Tapi Ariel gadis yang baik. Dia apa adanya dan tidak akan mengikuti tren seperti kebanyakan anak perempuan lainnya. Ariel hanya akan menjadi dirinya –dan Jungkook pikir itu adalah sebuah daya tarik.

“Semua orang sibuk mengurusi angket mereka untuk melanjutkan ke jenang universitas, bahkan Nam Taehyun sepertinya sudah bersiap untuk mengikuti jejak Sohee Sunbae untuk pergi ke London. Kau tidak tertarik untuk pergi ke London juga? Atau ke universitas lainnya, mungkin?” Jungkook pun kembali duduk dan menopang dagu pada kedua tangannya. Ia penasaran dengan apa yang akan diambil oleh Ariel.

Ariel tidak tahu. Ia sama sekali tidak tahu dan tidak berpikir untuk melanjutkan jenjang pendidikannya dengan begitu tinggi –ia tidak memiliki cita-cita, sesuatu yang klise, tapi cukup kuat untuk membuat Ariel tidak perlu sibuk untuk mengurusi ini dan itu.

“Kau sendiri…kau akan kuliah dimana?” Ariel pun meniru gaya Jungkook dan mengalihkan topik pembicaraan –mungkin mendengarkan orang lain dulu jauh lebih baik.

Jungkook pun mulai terlihat berpikir, “Aku tidak mau kuliah,” jawabnya dengan nada yang sangat mantap, “Aku akan menjadi penyanyi di kafe milik bibiku, membuat laguku sendiri mempromosikannya lewat soundcloud, dan…siapa tahu aku bisa menghasilkan uang jika aku serius dengan apa yang aku inginkan, iya kan?” Jungkook lagi-lagi menarik sudut bibirnya dengan sangat lebar. Dan Ariel langsung mendelik mendnegar jawaban konyol Jungkook –heol, dia kira menjadi artis sama mudahnya seperti berhutang pada bibi penjaga kantin?

“Aku tidak punya cita-cita.  Menurutmu…aku harus bagaimana?” Ariel pun mulai bicara serius. Selama ini ia diam saja karena ia pikir ia tidak perlu repot-repot memiliki cita-cita. Ia sudah pasti memiliki saham dari perusahaan ayahnya, bahkan ia memiliki uang tabungan yang sangat cukup untuk biaya hidupnya sendiri. Dan yang lebih penting ia sudah menikah…. Artinya, jika tujuan hidupnya berporos pada dua hal : uang dan pasangan, Ariel pikir ia sudah tidak perlu memikirkannya lagi.

“Kau suka musik, kan? Kau bisa kuliah ke London sama seperti Taehyun jika kau mau,” pancing Jungkook lagi, “Kau tahu, cita-cita tidak hanya berhubungan dengan uang, tapi tentang apa yang disukai seseorang, apa yang bisa membuatnya bahagia. Kau tidak perlu mencari uang dengan kemampuanmu di bidang musik, tapi mungkin kau bisa membuat orang lain bahagia hanya karena mendengar musik pianomu. Sesuatu seperti itu…”

Ariel menggigit bibir bawahnya ketika Jungkook semakin endekatkan wajahnya, “Kenapa kau suka musik? Karena kau bisa menjadi dirimu lewat musik, karena kau bisa mengungkapkan seluruh perasaanmu lewat musik,” Jungkook menebak asal, “Sama seperti pelukis yang melukis karena ia suka melakukannya. Mereka tidak berpikir untuk mendapatkan uang dari lukisan mereka, tapi mereka hanya memanfaatkan kemampuan mereka untuk mendapatkan uang, untuk bertahan hidup.”

Dan, Ariel hapir saja merasa tersentuh dengan setiap kalimat yang Jungkook katakan jika saja lelaki konyol itu seandainya dia tidak menyeletuk, “Aku sudah mirip guru konseling kan? Hahaha, aku mendengar Kim Saem bicara seperti itu pada Taehyun. Aku hanya menambahkan sedikit saja agar kau terkesan,” Jungkook pun mengisyaratkan kata sedikit itu dengan jari telunjuk dan ibu jarinya yang didekatkan, “Dan sepertinya kau benar-benar terkesan,”

“Tapi…Jungkookie, apa menurutmua ku benar-benar bisa pergi ke London?”

 

***

 

“Kau mau mendaftarkan Ariel untuk melakukan les tambahan?” Kang Haneul muncul dari arah dapur dan mendekat ke arah Luhan yang duduk di meja pelanggan seusai rapat yang diadakan di resort Luhan –sembari mendengarkan pemuda itu curhat. Rasanya benar-enar lucu melihat pasangan muda ini melewati kisah cinta mereka.

“Ariel sudah kelas tiga, setidaknya nilai rapotnya tidak begitu jelek. Dia benar-benar menyedihkan jika masalah belajar,” tanpa sadar Luhan mengucapkannya dengan nada mengeluh.

“Jadi Ariel akan kuliah juga?” tanya Hnaeul mulai penasaran. Istri bosnya itu bukan gadis dari kalangan biasa, dan Haneul sudah membayangkan perempuan dengan nama kebaratan itu akan meneruskan kuliahnya di luar negeri.

Luhan memanyunkan bibirnya, “Sudah kubilang dia itu menyedihkan, dia bahkan mengeluh tidak ingin kuliah. Mentang-mentang dia sudah kaya lantas dia kira dia tidak butuh pendidikan?”

“Dia pasti punya keinginan, seperti yang kau tahu, anak seusianya pasti punya cita-cita. Mungkin Ariel masih bingung makanya dia tidak mengatakannya padamu,”

Luhan mulai menatap Haneul serius –hampir tidak mungkin Ariel seperti itu. Ariel bahkan mengoceh ingin memiliki anak, terlebih dia gadis yang sangat jujur pada Luhan, tapi…”Apa mungkin seperti itu?”

“Tentu saja. Mungkin dia ingin kuliah di luar negeri, bekerja di perusahaan  ayahnya, atau menjadi istri yang baik? Kau tidak pernah tahu,” Haneul pun memajukan tubuhnya, “Tapi saranku biarkan dia melakukan apa yang ia inginkan selama itu baik untuk kalianberdua. Dia masih sangat muda, jangan sampai dia merasatertekan karena dia tidak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan anak seusianya. Kau harus membuat semuanya serba seimbang…”

Yeah…Luhan pikir, semua penderitaan pasca kelulusan sekolah hanya akan berhenti setelah ia lulus. Tapi ternyata, ia malah mengalaminya lagi, dan kali ini ternyata bukan untuknya sendiri, tapi untuk Ariel. Ia bahkan tidak bisa membayangkan mungkin ia juga akan ikut stress saat Ariel melakukan ujian nasional, suneung, bahkan ia mungkin akan tidak bis atidur saat Ariel harus kuliah –apalagi sampai harus meninggalkannya…eyy! Tidak mungkin Ariel dan Luhan akan melakukan LDR, kan? Ariel pernah bilang dia ingin tetap di Korea. Setidaknya ia akan tetap berada di Seoul.

 

20161201 AM0120

2 chap lagi😀

6 responses to “Way of Two Rings (chapter23)

  1. Yeay. New chapter. Makin love sama Lulu 😍😍😛
    Aaah. Makin suka kak. Ayoo..semangat lanjutnya. Fighting!! 🎆 Maaf ya kak. Baru muncul di komen sekarang. 😭

  2. jangan sampe ariel ke london, kalau iya kapan mereka semakin mesra nya huhuu
    ntar luhan di korea di sabet irene lagi.haha

  3. wah kyaknya jengkook slalu bkin ariel sadar klau mreka bisa pnya cita”, huh sdangkan luhan cma jwab trserah ariel mau lanjutin apa ndak kuliahnya.
    tpi jka ariel kuliah di london apakah luhan brsedia? atau mreak LDR tpi luhan smakin dket sma irene 😌 ah bngung plus deg degan memgingat tnggal 2 chap lagi, semoga ada kelanjutan ff ini sma honeymoon plus pnya anak😊😄🤗 next chap aku tnggu eonni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s