[1/2] SUICIDAL GIRL

suicidalgirl

Suicidal Girl

ZEYA | PG-16 | Oh Sehun (EXO) – Han Jihye (YOU/OC) | Angst, Depression, AU, Suicide |

Disclaimer : I don’t own all idols in this story, I own all the fictional characters, storyline, plot, and Choi Sungmin(?) Please leave a comment, and do not plagiarize!

P.S: Cerita ini sedikit vulgar dan sedikit kasar, ditambah beberapa bagian yang banyak anak-anak belum ngerti. Kalau emang masih mau baca, harap jangan kaget, dan berikan komennya. Jerih payah banget ini /? Dan tolong sekali, jangan sekali-sekali mencari tahu hal ini, karena sejujurnya, ini bisa mengkontaminasi kalian._. Semoga suka!

Previous : PROLOG

Poster Credit : AIDENTOP

©ZEYA 2016

.

.

Normal people just don’t get what’s like to wake up…

 

And wish you were dead.

Jihye memperhatikan bayangan di cermin. Kau hanyalah seonggok sampah, suara dalam pikirannya berucap. Gadis itu hanya menatap pantulan dirinya dengan sayu, seraya membentuk seulas senyum paksaan—ia berusaha menghibur dirinya sendiri. Tanktop hitam dan short pants yang menjadi busana tidurnya menunjukkan dirinya yang begitu rapuh layaknya kaca retak.

Ia mengambil langkah menuju kamar mandi tepat disebelah lemari pakaiannya yang besar. Ia menarik handuk dari dalam lemari itu, dan memasuki kamar mandi, lalu mengikat rambutnya naik keatas lalu menutupnya dengan shower cap, membuka baju dan celananya, dan menghidupkan shower. Air dingin menyentuh permukaan kulit pucatnya, sedikit membuatnya meringis. Ia mempercepat diri dalam melakukan aktivitas mandinya dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk, namun secara pelan dan berhati-hati.

Ia mengambil salah satu baju lengan panjangnya yang sangat panjang jika dilihat oleh orang-orang, dan celana panjangnya. Tak lupa ia menggerai rambutnya, menyisirnya asal, memakai sepatu keds miliknya, dan menyambar tas berwarna abu-abu bermerk ‘Jansport’ itu seraya berjalan keluar kamar, menutup kamarnya dan menguncinya.

“Selamat pagi, Jihye.” Gadis itu menoleh dan melihat tiga orang sudah duduk dimeja makan, menyantap sarapan pagi. Gadis itu hanya tersenyum tipis, berjalan kearah mereka dan duduk di satu-satunya bangku yang kosong.

“Selamat pagi, Eomonim.” Ujarnya pelan, memperkecil suaranya saat menyebut kata ‘Ibu’. Gadis itu kemudian membuka piring yang dibalik dan mengambil dua potong roti dan mengolesinya dengan selai blueberry, sedikit.

“Kenapa noona makan sedikit sekali?” adiknya, Sanghyuk menatapnya. Apa dia khawatir, pikirnya. Namun sepersekian detik, ia menepis pemikiran konyolnya. Tidak mungkin, lirihnya dalam hati. Ia hanya menggeleng.

“Noona sedang tidak berselera….” ucapannya terhenti saat seorang lelaki dengan suara berat berdeham sedikit keras. Jihye segera kembali menatap makanannya, memasukkannya dalam mulut dan mengunyahnya cepat. Setelah roti ditangannya itu masuk kedalam perutnya, ia menghabiskan susunya dan berdiri lalu membungkuk hormat sebanyak dua kali.

“Eo-eomim… A-Abeonim… Aku berangkat dulu, hari ini hari pertama kuliah berjalan.” Ujarnya, meremas lengan tasnya, lalu melangkahkan kakinya pergi. Apa mereka akan memberikanku ucapan selamat sudah menjadi mahasiswi? Tidak.

Tidak akan ada yang peduli pada sampah.

Tidak akan pernah ada.

Gadis itu melangkahkan kakinya menuju halte bus, menunggu bus menuju Konkuk berhenti dan ia akan menaikinya, melanjutkan perjalanannya menuju kampus idamannya sejak bangku menengah atas itu. Bus berwarna biru putih itu berhenti dan ia segera menaikinya, memilih tempat disudut dan duduk. Ia menutup matanya, mencoba membayangkan hal-hal baik. Tidak ada.

Ia tidak pernah merasa bahwa ia pernah merasakan hal baik dalam hidupnya. Ia mendengus sedih. Apa takdir sedang bermain-main dengannya? Dengan membiarkannya tetap hidup, sedangkan ia begitu berusaha untuk mengakhiri hidupnya selama empat tahun terakhir ini?

Ia melihat beberapa anak perempuan dengan seragam sekolah menengah atas tengah berbisik-bisik lalu terkekeh bersama. Ia merasa iri, untuk kesekian kalinya. Ia ingin bisa menjadi seperti mereka. Bergaul, dan menunjukkan jati diri mereka kesemua orang. Jika ia melakukannya, apa akan ada—barang seorangpun, yang akan tetap melihatnya? Dengan segala kejelekan dalam tubuhnya yang begitu menyedihkan ini?

Tidak ada. Karena kau hanya seonggok sampah, Han Jihye, ujar pikirannya.

*

Ia keluar dari kelas keduanya dengan rasa suntuk yang luar biasa mengganggu. Ia tahu, ini kesalahannya, karena semalaman melakukan hal itu. Ia memilih duduk disalah satu bangku halaman kampus dan menyenderkan kepalanya. Ia menghela napas panjang. Ia harus mulai mengatur ulang waktunya dengan benda-benda tersebut, kuliah harus tetap menjadi prioritas utamanya.

“Oh lihat. Dia mengikuti kita kuliah disini, Junkyu.” Ujar seorang gadis pada lelaki perawakan tampan disampingnya. Jihye membuka matanya dan mendapati Lee Sojung dan kekasihnya Kang Junkyu. “Hey, berapa bayaranmu tadi malam, gadis pelacur?” ejek Sojung lagi.

Ia memilih melanjutkan acara menutup mata untuk mengistirahatkan matanya sebelum kelas ketiganya dimulai. Ia sudah lama dicerca seperti ini oleh Sojung, jadi, baginya ini bukanlah hal yang sulit. Palingan sebentar lagi…

“Jangan pura-pura letih, gadis murahan!” ia membuka matanya saat merasakan jambakan pada rambutnya. Sojung tengah menarik rambut panjangnya seraya menatapnya tajam. “Kau kerja pada berapa om-om memangnya tadi malam? Sampai seletih ini?” ejeknya lagi. Kang Junkyu memilih duduk tanpa mengikuti tingkah pacarnya yang memalukan. Jihye tidak membalasnya. Ia hanya diam, dan saat beli berbunyi, ia melepas jambakan Sojung dengan sekali hentak. Ia mengambil tasnya dan sambil berjalan merapikan rambutnya.

“Maaf, aku masuk kelas dulu.” Ujarnya saat berbalik menatap pasangan itu. Gadis itu berjalan menuju kelasnya, mengambil posisi duduk agak jauh dibelakang mahasiswa lainnya. Ia menghela napas panjang, lalu mengambil catatannya dan mulai mengikuti kelas dosen itu.

“Maaf, saya terlambat.” Penjelasan dosen Park terhenti saat sebuah suara terdengar. Semua orang dikelas itu—kecuali Jihye, menoleh dan mendapati seorang pria berdiri diambang pintu berjalan masuk dan mendekati dosen Park. “Maaf, saya terlambat.” Ulangnya lagi. Dosen Park mengambil daftar absensinya dan mencari mahasiswa yang belum menandatangani absensi.

“Oh Sehun?” ujar dosen Park yang disertai anggukan pria itu. “Ini baru seperempat pelajaran, jadi tidak masalah. Silahkan duduk.” Lanjutnya. Pria itu membungkukkan badan, mengucap terimakasih, lalu berjalan menuju bangku yang tersedia.

Jihye merasa ada yang mengambil posisi duduk disampingnya. Apa dosen Park tengah memperhatikannya menggambar hal mengerikan ini, pikirnya. Ia melirik kesamping, yang tertutupi oleh rambut panjangnya dan melihat seorang pria tengah menatap kedepan dan mencatat.

“Baiklah, sekian pertemuan pertama kita. Saya berharap kalian senang dengan cara mengajar saya. Sampai bertemu dikelas berikutnya.” Ujar dosen Park saat mengakhiri jam kelasnya. Jihye mengumpulkan barangnya asal, dan memasukkannya kedalam tas abu-abu itu, lalu bangkit dari kursinya, melangkah keluar, namun terhalang.

“Permisi…” ujarnya dengan suara kecil. Lelaki itu menoleh menatap Jihye, lalu bangkit dari kursinya dan berjalan keluar, diikuti gadis itu di belakang. Saat ia sudah berada diluar pintu kelas, gadis itu baru saja akan melewatinya saat ia melihat gadis itu didorong keras kearah dinding.

“Kenapa kau belum mati, Han Jihye?” ujar Shin Dongho, mendekatinya dan mengusap dagu gadis itu. “Kupikir, kejadian kelas tiga di sekolah menengah atas cukup untuk membuatmu mengerti bahwa kau tidak diterima di dunia ini.”

Sojung menjambak rambutnya, membuatnya memekik sedikit keras. Mahasiswa yang lewat ikut menonton menatap mereka. Beberapa berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk kearahnya. “Seharusnya kau tahu diri, untuk mencari universitas yang orangtuamu bisa membiayai. Bukan masuk kesini. Kau ingin terlihat kaya, Han Jihye?” ujar Sojung. Kang Junkyu berdiri agak jauh dibelakang, menatap perlakuan teman dan kekasihnya, sedangkan Lee Jinhee tertawa mengejek.

Oh Sehun yang menatap kejadian itu dari awal hanya menatap kaget. Kenapa gadis itu tidak melawan? Dari parasnya, ia terlihat seperti seorang pemberani, jadi kenapa dia tidak membalas? Gadis itu menepis tangan gadis yang menjambak rambutnya, dan berdiri, membuang napas.

“Sudah selesai, Dongho?” ia bisa mendengar gadis itu berbicara. “Aku permisi pulang, kalau begitu.” Dan gadis itu ditarik oleh gadis yang menjambak rambutnya, lalu ditampar dengan keras.

“Seorang pelacur seharusnya tidak berada di kampus ini!” teriak gadis itu. “Kau hanya membuat malu nama kampus ini, Han Jihye! Mati saja!” teriaknya, mencoba menampar gadis itu lagi.

Entah setan apa yang merasuki Sehun saat itu,  tangannya dengan refleks menahan tangan gadis itu untuk menampar Jihye. “Maaf, nona. Kami ada tugas kelompok. Dia harus pergi denganku sekarang.” Dan ia menarik tangan gadis yang berperawakan berantakan itu kedalam genggamannya dan berjalan meninggalkan kerumunan.

Saat berada sedikit jauh dari kerumunan, gadis itu melepaskan genggaman tangan Sehun. “Kenapa kau ikut campur?” desisnya marah. “Kau tidak perlu menahan tamparannya!” bentaknya, membuat Sehun menjadi terpaku. Ia tidak ingin ditolong?

“Hey! Seharusnya kau mengucapkan terimakasih karena aku sudah menolongmu!” balasnya sengit.

“Kau hanya membuat masalah menjadi runyam, kau tahu!” bentaknya. Ia menengadahkan kepalanya, membuat Sehun seketika pangling. Gadis itu…… sangat cantik. “Kau mungkin akan menjadi sasaran mereka, dan mereka akan mengancamku supaya mereka tidak melibatkanmu, seharusnya kau biarkan saja Sojung menamparku! Setelah itu aku pasti bisa pergi!” bentaknya lagi.

“Dan kau tahan dibully oleh mereka?” tanya Sehun akhirnya. Gadis itu terdiam lama.

“Aku tidak peduli jika besok satu kampus akan memandangku jijik karena memang itu yang selalu terjadi sejak dulu. Jadi, seharusnya kau ikuti mereka. Membenciku, bukan menolongku. Karena kau akan kalah jumlah.” Jawab gadis itu, lalu menghela napas. “Terimakasih, sudah mencoba menolong tadi. Lain kali, tidak perlu menolongku, itu tidak ada gunanya. Aku permisi.”

Ia kembali menundukkan kepalanya sedikit, dan berjalan meninggalkan Sehun. Oh Sehun menatap punggung gadis itu menjauh masih dengan wajah terkejutnya.

*

Jihye segera mengunci kamarnya dan memposisikan dirinya diatas kasur. Ia tidak mengganti bajunya menjadi baju rumahan, hanya kembali terduduk diam, dan menyesali kehidupannya. Sudah berapa lama ia mengalami hal ini? Depresi? Tidak. Ia hanya merasa ia tidak pantas hidup di dunia saat orang lain hanya memandang rendah dirinya.

“Noona, jam minum teh.” Ia bisa mendengar Sanghyuk memanggilnya dari luar. Ah, untung saja, batinnya. Ia tidak menjawab adiknya dan bangkit dari tempat tidur menuju pintu, membuka dan kembali menguncinya, dan berjalan turun. Ayah dan Ibunya sudah duduk diruang tamu, masing-masing dengan tehnya. Ibunya yang menonton acara telivisi, Ayahnya yang tengah membaca koran, dan adiknya yang dengan semangat memainkan game portablenya seraya mengunyah kue.

Jihye, kau tidak pantas berada disana. Mereka itu keluarga bahagia, ujar hatinya. Jihye mendengus sedih. Siapa dia?

Ayahnya seorang pengusaha yang perusahaannya sedang melejit, ibunya seorang mantan penyiar acara olahraga telivisi, dan adiknya adalah seorang model yang sedang naik daun. Sedangkan dirinya? Sampah.

“Noona, ayo kesini!” ujar Sanghyuk, menepuk-nepuk bangku disampingnya. Ia bisa melihat sorot mata Ayahnya yang tidak peduli saat menatapnya, dan Ibunya yang berpura-pura tidak mendengarkan ucapan anak bungsu kesayangannya. Jihye tersenyum.

“Noona tidak enak badan, Sanghyuk. Aku kembali ke kamar dulu, permisi, A-abeonim, E-eomonim.” Ujarnya, dan menaiki tangga menuju kamarnya sekali lagi, lalu menguncinya. Ia mendudukkan dirinya dilantai kayu dan menutup mukanya dengan tangan—menangis.

Seharusnya aku memang mati.

*

Oh Sehun men-dreeble bola basketnya dengan wajah penuh pertanyaan. Dan semuanya mengenai Han Jihye. Ia bersumpah, pertama kali melihat wanita itu, ia pangling. Wajahnya—walaupun pucat dan tirus, sangat cantik. Tapi tidak dengan tatapan matanya. Sungguh, mata memang jendela hati. Ia bisa melihat keinginan dan ekspresi seseorang dari matanya—Ayolah, Jongin sangat gampang dibaca, pikirnya—namun tidak dengan gadis itu. Gadis itu memiliki mata…. kosong. Ia tidak memiliki perasaan apa-apa.

“Ada sesuatu yang menarik di kampusmu, Sehun?” lelaki itu tersadar dan menangkup bola basket di kedua tangannya, berbalik dan menemukan sahabatnya, Jongin tengah memakan es krim seraya bersandar di tiang listrik.

“Oh, waktu mengajarmu selesai lebih cepat?” tanyanya yang direspon oleh anggukan Jongin yang berjalan mendekatinya—mengulurkan tangan meminta bola, yang langsung diberikan oleh Sehun.

“Ada seorang gadis.” Ujarnya. Jongin terkekeh. “Kenapa tertawa?” tanyanya kesal. Jongin menggeleng.

“Ini kali….” Jongin terdiam. “Ketigamu membicarakan perempuan padaku.” Ujarnya. “Teman sekampusmu? Teman satu jurusanmu?” Sehun mengendikkan bahunya.

“Entah, aku memiliki satu kelas yang sama dengannya, dan tebak. Dia dibully. Kau pernah mendengar nama Shin Dongho, Lee Sojung, Kang Junkyu, Lee Jinhee?” tanya Sehun. Jongin mengernyit.

“Aku pernah mendengar nama Dongho. Kata temanku, dia suka mem-bully.” Ujarnya. “Mereka mem-bully gadis ini?” tanya Jongin. Sehun mengangguk.

“Kau tahu, gadis itu auranya sangat menyeramkan. Bukan dalam artian dia setan, kau tahu, seperti membuat orang bergidik! Tapi, dia tidak membalas apa-apa saat dibully. Dia hanya diam menerima perlakuan keempat orang itu. Bahkan, dia memarahiku saat aku menariknya menjauhi mereka. Aneh, bukan?”

Jongin menganggukkan kepalanya, setuju. “Dan kau tahu, ini sudah mau musim panas, siapa yang mau memakai baju lengan panjang dan celana panjang ke kampus?” ujar Sehun tidak percaya. “Ini pertama kalinya aku menemukan manusia seaneh gadis itu, membuatku penasaran, Jongin!” ujarnya. Jongin hanya mengangguk-anggukan kepalanya masih mendreeble bola basket, lalu melemparkannya ke ring basket yang tidak jauh dari posisinya. Matanya menerawang, sebelum akhirnya berujar kepada Sehun.

“Dia mungkin…….. seorang self-harmer.”

*

Jihye menatap darah yang keluar dari pergelangan tangannya, dan lututnya. Ia tersenyum senang. Kegiatan yang paling menyenangkan untuknya sudah ia jalani—dan ia merasa tidak pernah setenang ini. Kemudian, tanpa ia sadari, airmata kembali jatuh. Bukan karena rasa sakit, melainkan alasan kenapa ia melakukan ini.

“Aku bahkan menyesal mempunyai putri sepertimu! Tidak bisa diandalkan! Apa semuanya harus aku tangguhkan kepada Sanghyuk?! Bahkan untuk memimpin perusahaan ini?”

“Tidak bisakah kau seperti Sanghyuk? Penurut, terkenal, dan bisa diandalkan?”

“Noona! Kenapa noona selalu membuatku khawatir? Aku juga punya job yang harus aku laksanakan, noona! Tolong mengerti!”

“Kau bahkan tidak bisa masuk Seoul National University! Untung saja kau bisa lulus di Konkuk, kalau tidak, mau ditaruh dimana muka Ayah, Han Jihye?!”

“Aku malas mengurusimu, aku hanya akan menyediakan makanan untuk kita semua, dan memberimu uang jajan. Gunakan saja uang jajan itu semaumu, aku tidak peduli, jika kurang, cari sendiri, Jihye.”

Jihye menutup wajahnya dengan bantal yang ia sesuaikan dengan warna darahnya, merah—dan terisak. Keluarganya membencinya, ia tidak mempunyai teman, hidupnya berantakan, lalu? Apalagi yang harus ia hadapi? Seharusnya ia mati saja, bukan?

Setelah puas menangis, gadis itu mengambil kapas dan melumurinya dengan obat merah, lalu menutup darah-darah yang terbuka itu didepan cermin. Sudah berapa banyak sayatan yang ia buat? Ia bahkan tidak bisa menghitungnya lagi. Gadis itu hanya tersenyum pahit melihat pantulan dirinya yang menyedihkan.

“Han Jihye…” ujarnya. “Seharusnya kau mati. Kau tidak pantas untuk hidup. Orangtuamu membencimu, kau tidak berguna. Lebih baik, sekarang kau ambil pisau itu, dan sayat nadimu. Mereka pasti akan senang.” Lanjutnya sambil menangis.

Karena tidak ada seorangpun yang peduli.

*

Ia tahu hari keduanya di universitas akan kembali seperti dulu dizaman sekolah. Ia mendapat pandangan menjijikkan dari manusia-manusia yang berada disana, dan ia hanya bisa diam berkutik. Dan hal ini benar terjadi.

Saat ia memasuki gerbang Universitas Konkuk, ia mendapati wanita-wanita yang tengah bergosip disamping pagar menatapnya jijik sambil berbisik-bisik menunjuknya. Saat ia berjalan masuk, ia mendapat pandangan tajam dan pandangan nista dari mahasiswa dan mahasiswi. Namun, ia mengangkat kepalanya, ia sudah terbiasa, dan ini bukan pertama kalinya.

“Ohoy, pelacur.” Teriak Dongho, namun ia tidak menggubrisnya. Baginya, mencari masalah dihari ini sama saja akan merusak harinya dan artinya ia akan lebih lama berada ditempat itu nantinya, dan ia tidak mau.

“Han Jihye! Han Jihye!” mata gadis itu membulat. Ia berbalik dan melihat lelaki kemarin berjalan mendekatinya. Apa dia ingin menyakitiku? Tidak ingin berlama-lama, ia kembali berbalik dan melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat. Namun, tampaknya lelaki itu memiliki kaki yang panjang sehingga langkahnya lebar—dan mampu menyesuaikan langkahnya yang pendek.

“Apa maumu?” tanyanya sinis, menundukkan kepalanya kali ini.

“Tidak ada.” Ujar lelaki itu, tersenyum lebar. “Aku hanya ingin menyapamu pagi ini, aku baru tahu kalau kita satu jurusan, tapi kenapa kelas kita tidak ada yang sama? Haruskah aku memindahkan semua jadwalku menjadi sama denganmu?” cerocosnya tanpa henti.

“Pergi sana bersama teman-temanmu, jangan ganggu aku.” Ujarnya dingin lalu kembali berjalan meninggalkan lelaki itu dibelakang.

“Aku mau berteman denganmu.” Ujar lelaki itu—saat berhasil menyamakan langkah kakinya. Jihye menatapnya.

“Aku tidak mau berteman denganmu.” Jawabnya dingin.

“Tapi aku mau!” ujar Sehun, bertahan pada pendiriannya. Jihye menghentikan langkahnya, menatap lelaki itu, dan menghela napas panjang—masih dengan tatapan sinisnya.

“Kau akan menyesal.” Bisik Jihye, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Sehun yang bingung dengan ucapan gadis itu. Jihye menghela napas kesal,  dan memasuki ruangan kelasnya. Apa daya mungkin memang ia benar-benar memiliki salah satu hal yang menjadi kebiasaan.

Sehun adalah seorang terkenal dikampus, ia pasti akan dicemooh karena berjalan bersama pria itu tadi.

*

Sanghyuk berjalan memasuki kampus kakaknya dengan langkah santai, memandangi gedung-gedung besar itu. Ia harus bisa mengikuti jejak kakaknya memasuki universitas ini—walaupun ia tahu Ayahnya ingin ia masuk Seoul National University. Sejak beberapa hari berusaha datang ke kampus kakaknya untuk menjemput kakaknya namun gagal—jadwalnya benar-benar mencekik, akhirnya ia bisa melihat kakaknya.

Han Jihye. Kakaknya yang begitu cantik dimatanya, namun tidak bisa ia sentuh.

Pandangan kagum noona-noona yang ada di kampus itu tidak membuat ia risih, ia terbiasa. Saat beberapa gadis meminta tanda tangannya, ia tersenyum simpul, dan memberi tanda tangannya. Saat ada yang meminta foto bersama, ia membuat pose ‘peace’ seperti biasanya dengan manner tentunya.

Sebenarnya, ia sendiri bingung mengapa ia bertandang ke kampus kakaknya itu. Ia dan kakaknya tidak banyak berbicara—mungkin kakaknya yang tidak banyak berbicara. Ia berusaha untuk bisa masuk ke dunia kakaknya, namun pintu dunia kakaknya tampaknya telah terkunci sangat rapat sehingga mereka semua tidak bisa masuk kedalamnya. Hal ini membuatnya jengah, tak sering ia memarahi kakak satu-satunya itu—walau setelahnya ia langsung meminta maaf, dan disambut dengan senyum samar kakaknya.

“Ayolah, Han Jihye!” sayup-sayup, Sanghyuk mendengar nama kakaknya disebut. Matanya menggerling ke berbagai arah, mencari sosok kakaknya yang terbalut dengan baju lengan panjang, walaupun sudah memasuki musim panas. Dan ia menemukan kakaknya tengah berjalan menjauhi….. Sehun? Ia berjalan mendekati dua orang tadi, tidak mengindahkan permintaan orang lain.

“Aku tidak mau satu kelompok denganmu.” Ia bisa mendengar kakaknya bersuara—walau sangat kecil. Kakaknya yang tadi menghentikan langkahnya untuk menjawab ucapan Sehun, segera berbalik dan melanjutkan langkahnya.

“Sehun hyung!” panggilnya. Kedua orang itu berbalik, Sehun yang tersenyum padanya seraya mengangkat tangannya—melambai, dan kakaknya yang terkejut dan segera berbalik berjalan dengan cepat. “Noona….” gumamnya.

“Sanghyuk-a! Darimana kau tahu hyung berkuliah disini?” tanya Sehun, menoleh untuk melihat kakaknya dan kembali menatapnya, dan merangkulnya. “Tch, gadis itu sulit sekali diajak kerjasama, harus kerja ekstra, kau tahu?” decak Sehun. Sanghyuk hanya terkekeh kecil. “Tapi, sungguh, adik kecil, darimana kau tahu aku kuliah disini?”

“Rahasia!” jawabnya—berusaha terdengar ceria, namun matanya tak lepas dari sosok kakaknya yang makin cepat berjalan menjauhinya dan Sehun.

*

Han Jihye merasa harinya hari ini benar-benar sial. Setelah kedua masalah kampusnya—sudah satu minggu lebih ia harus melihat lelaki bernama Oh Sehun itu mengikutinya dan merengek sekelompok dengannya juga memintanya menjadi teman, sialan sekali—ia harus melihat adiknya di kampus. Sempat terpikir olehnya apakah adiknya itu datang untuk menemuinya, namun saat ia mendengar adiknya memanggil nama Sehun, ia tahu ia berharap terlalu banyak.

Jam tangannya menunjukkan waktu 3:15 P.M, yang artinya jadwal temunya akan dimulai lima belas menit lagi, cukup lama, tapi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengisi lima belas menit? Langkah kakinya yang ia biarkan dengan liar berjalan memilih untuk memasuki sebuah cafe bercat krem dan beratap cokelat dengan batang sulur mengelilinginya.

“Satu….. hazelnut chocolate.” Ujarnya, masih memperhatikan menu yang berada dibagian atas, ditulis dengan kapur dengan berbagai macam warna. “Strawberry shortcake-nya juga.” Lanjutnya, dan segera mengambil dompetnya. Mata gadis itu membelalak, kemana dompetnya?

“Buat jadi dua saja, nona.” Gadis itu menoleh dan melihat Sehun sudah menatapnya, dan ditangan lelaki itu ada dompet kain jeans yang seratus persen adalah miliknya.

“Kembalikan dompetku.” Ujarnya dingin, namun dibalas dengan kekehan Sehun yang menggeleng. “Oh Sehun, cepat kembalikan dompetku!” ujarnya lagi, kali ini suaranya lebih keras. Pelayan tadi kembali dengan nampan berisi dua hazelnut dan cake yang mereka berdua pesan. Dengan cepat Jihye mengambil nampan itu dari pelayan tersebut, melenggang pergi menuju salah satu tempat duduk yang kosong, yang berada dipojok—tertutup dengan dinding, dan tidak terlalu dekat dengan jendela.

Gadis itu segera menarik dompetnya dari lelaki itu, ketika Sehun duduk dihadapannya, dan segera mengambil laptopnya—membukanya, lalu dengan cepat mengerjakan tugas Professor Jeon. Sehun menatap gadis itu seraya menyesap hazelnutnya, tersenyum. Gadis itu sangat terlihat…. cantik, saat serius. Namun tatapan gadis itu sama saja, kosong.

Gadis itu melahap potongan terakhir cake-nya, menutup laptopnya, memasukkannya kedalam tas ranselnya dan berdiri, tidak lupa mengambil cup berisi hazelnut chocolatenya, berjalan melewati Sehun—seperti Sehun tidak ada. Sehun hanya menggelengkan kepalanya, terkekeh, dan berdiri, menyampirkan tasnya, mengikuti gadis itu dari belakang. Ia bisa melihat dari langkah gadis itu, gadis itu sedikit gugup.

Saat gadis itu melangkahkan kakinya masuk kesebuah flat, mata Sehun sedikit terbelalak saat melihat papan putih didepan flat itu. ‘Spesialis Kejiwaan’. Apa gadis itu bekerja disini?, pikirnya. Sehun segera masuk kedalam flat tersebut, mengambil posisi duduk disalah satu bangku, memperhatikan Jihye yang berada di administrasi, tengah mengobrol dengan salah satu petugas wanita—tampak akrab dengannya.

“Kau mengikutiku?!” Sehun terperanjat saat mendengar suara Jihye—yang menatapnya dengan takut. “K-k-kenapa kau…. m-mengikutiku?!” Sehun tidak mengerti kenapa gadis itu menjadi gugup saat mengetahui ia mengikutinya.

Jihye sendiri kalut. Takut rahasia terkelamnya akan terbongkar. Takut akan ada yang tahu bagaimana benci dia akan dirinya. Takut lelaki itu akan tahu bahwa ia bukan seorang pendiam, dia seorang pembunuh. Pembunuh dirinya sendiri.

“Jihye-ya, Minseok ssaem mencarimu.” Gadis itu berbalik dan melihat lelaki tengah menampakkan setengah wajahnya, menatapnya. Lelaki itu berjalan keluar dan menghampirinya.

“Temanmu, Jihye?” tanya lelaki itu, penasaran. Jihye menggeleng cepat. Namun, Sehun mengangguk dan berdiri, mengulurkan tangannya pada lelaki itu.

“Oh Sehun. Teman satu jurusan Jihye.” Sehun tersenyum. Jihye menghela napas kasar, ia tahu semuanya sudah berakhir.

“Aku Kim Minseok. Jihye-ya, aku tidak tahu kau punya teman setampan ini.” Goda lelaki yang ternyata bernama Minseok itu. Jihye menatap Sehun dan Minseok sinis bergantian.

“Dia bukan temanku. Minseok oppa, aku tidak mau punya teman—ah, bukan, aku tidak bisa punya teman!” ujarnya, sedikit keras dan sakratis. “Ayo, kita masuk.”

“Jihye, seseorang harus tahu mengenai keadaanmu. Bukan Cuma aku, atau Luhan, atau Jamie. Kami ini orang yang mengerti keadaanmu, karna kami mendapat banyak orang yang mengalaminya. Kau membutuhkan seseorang yang mau menerimamu apa adanya.” Jelas Minseok panjang.

“Tidak ada….. tidak ada orang seperti itu, Minseok.” Lirih Jihye, melenggang masuk kedalam ruang kerja Minseok, menutupnya keras. Minseok segera berlari mengikutinya, namun nihil. Pintu ruang kerjanya sudah terkunci rapat.

“Sial! Han Jihye! Kau tidak boleh melakukan yang macam-macam didalam. Aku memperingatkan ini padamu, Han Jihye!” teriak Minseok seraya menggedor pintu kayu nihon itu. Sehun yang akhirnya tersadar dari keterkejutannya segera berlari menuju pintu kerja Minseok.

“Boleh kudobrak, ssaem?” tanyanya. Minseok hanya mengangguk seraya menelepon seseorang lalu berucap dalam bahasa planet yang Sehun tidak mengerti sama sekali. Dengan kekuatan yang ia miliki, ia menyentakkan tubuhnya menuju pintu yang segera terdobrak. Minseok segera berlari masuk, dan Sehun hanya bisa terdiam melihat pemandangan yang tersaji didepannya.

Han Jihye yang hanya mengenakan tanktop hitam dan celana hot pants. Tidak, bukan itu yang menjadi sorotannya—kulit gadis itu penuh dengan sayatan, dan Sehun yakin luka-luka itu rata-rata belum kering. Gadis itu tengah memegang pisau lipat dan kembali menyayat kakinya, sembari menangis dan juga tertawa.

“Jihye-ya, stop!” Minseok menarik tangan gadis itu, membuat gadis itu menatapnya. “Kau berjanji akan berusaha mengurangi waktu untuk itu, Jihye. Kau berjanji padaku!” teriak lelaki itu, mengguncang badan Jihye yang mungil dan… lemah, menurut Sehun.

“Aku tidak bisa!” teriak Jihye, kali ini menangis. Sehun hanya bisa membantu diposisinya sekarang. “Aku tidak bisa Minseok. Aku tidak bisa hidup. Aku adalah sebuah kesalahan!” ronta gadis itu. Ia bisa melihat Minseok tengah menangis, dengan seorang laki-laki mengusap bahunya dibelakangnya.

“Kau bisa Jihye… K-kau…” Minseok tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena tangisannya. Jihye menangis dipelukan Minseok, mencari keamanan dari tangisan lelaki itu sambil menangis untuk dirinya sendiri. Sehun tidak bisa berujar apa-apa selama beberapa menit, hingga Minseok benar-benar menenangkan Jihye.

“Pergi dan beritahukan kepada satu kampus, Oh Sehun. Bukankah kau menginginkan ini?” ujar Jihye tenang beberapa waktu kemudian, tubuhnya kini sudah berada dalam rangkulan Minseok, pisau lipat sudah berada ditangan seorang gadis, dan seorang lelaki bertubuh kurus tengah mengobati lukanya. “Beritahu satu kampus bahwa seorang Han Jihye bukan hanya seorang pelacur, melainkan seorang self-harmer.” Sindirnya.

“Aku tidak akan melakukannya.” Jawab Sehun. Sungguh, ia ingin menolong gadis itu. Ia ingin gadis itu tahu bahwa ia bisa menjadi sandarannya. Namun, gadis itu hanya tertawa.

“Minseok-a, maafkan aku…..” bisik Jihye. “Namun ini satu-satunya jalan yang aku punya…”

“Kau punya ibumu, kau punya ayahmu, kau punya Hyuk!” hardik Minseok. Namun Jihye menggeleng cepat dan menangis.

Hyuk? Sanghyuk?

Han Sanghyuk adalah adik Han Jihye?!

“Aku tidak punya siapa-siapa, Minseok! Ayahku membenciku, Ibuku jijik melihatku, Sanghyukku…. Sanghyukku sudah menemukan dunianya.” Bisik Jihye.

Sungguh, ini pemandangan yang dilihat Sehun hanya di drama-drama romantis dan drama-drama sedih di telivisi yang sering ditonton oleh Ibunya, namun, ia tidak tahu bahwa memang benar ada orang yang mengalami hal ini. Hal ini membuat dirinya serasa tercabik.

Setelah gadis itu tertidur, dan dibopong oleh Minseok ke sofa besar didalam ruangannya itu, Minseok menatap Sehun intens—membuat lelaki itu sedikit salah tingkah. “Ini permohonanku sebagai seorang dokter…. dan saudara jauh Jihye.” Ujarnya serius. “Jangan beritahu siapa-siapa. Sudah cukup bebannya selama ini, biarkan dia menyelesaikan kuliahnya dan akhirnya merasa senang. Jika….” Minseok menarik napas, lalu membuangnya. “Jika orang-orang mengetahui rahasia terbesarnya…. dia benar-benar….”

“Akan mengakhiri… hidupnya?” tanya Sehun bodoh. Minseok mengangguk. Sehun menatap sosok gadis yang terlelap dengan tenang—terlihat seperti bahagia dalam mimpinya. Setidaknya, dalam mimpi, kau tidak merasa kesakitan, Han Jihye.

“Aku berjanji. Aku tidak akan memberitahukan ini kepada siapa-siapa, dan….”

“Aku akan berusaha memenangkan hatinya.”

To Be Continued.

A.N

HALO!!!! Siapa kangen zeya? Hehe. Maaf ya, zeya baru muncul setelah berapa lama. Baru senggang dengan semua kegiatan sekarang. Janji deh, bakal lanjutin Cruel, sekarang lagi on progress kok. Semoga pada nungguin, ya! Apalagi yang sering komenin Cruel. Janji deh bakal di update T_T Semoga suka part pertama dari Suicidal Girl ya. See you~!

Advertisements

2 responses to “[1/2] SUICIDAL GIRL

  1. Uh … miris. Ceweknya bener-bener masokis sejati 😆 liatnya aja ngeri apalagi uh … tak bisa kuungkapkan lagi 😥 wow di tunggu kelanjutannya😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s