First Crush : Part 6

first-crush

Poster Credit Belong To @atatakai-chan from posterfanfictiondesign.wordpress.com,

Thanks alot untuk posternya. Keren banget dan aku suka banget!

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

Part 6

*Seojoon POV*

Saat itu aku menyadari. Hoseok Hyung, menjagaku selama 4 tahun masa pelarianku dari kenyataanku. Kenyataan kalau aku tidak bisa menerima kematian kedua orang tuaku yang sangat tiba-tiba itu membuatku menjadi anak yang nakal, yang tidak bisa diam dirumah, yang selalu mencari tempat pelarian. Saat itu aku masih kelas 3 SMA, dan Jiyeon masih SD. Jiyeon masih terlalu kecil dan aku tidak tau harus bagaimana lagi ketika kami pindah kerumah saudara kami.

Sampai suatu saat aku bertemu Hoseok Hyung yang mengajariku banyak hal selain hal-hal yang tidak berguna yang aku lakukan. Dia mengajakku pergi ke tempat-tempat baru, dia mengajakku hiking, mountaineering, dan banyak kegiatan yang membuatku refresh, kadang dia mengajakku minum, tapi dia selalu tau dan menjagaku pada batasan-batasan tertentu.

Sampai hari itu tiba, dan dia menyadarkanku dalam waktu 30 menit tentang tanggung jawab, pelarian yang tidak berguna, dan tentang seorang Hyung yang tidak aku kenal sama sekali tapi menjaga dan merawatku selama 4 tahun. Sejak saat itu aku melihatnya dengan berbeda.

“Oppa? Nugu?” Tanya Jiyeon.

“Mmm.. Apa kau masih ingat dulu, ada temanku yang selalu mengajakku keluar?” Tanyaku padanya.

“Mm? Nugu? Aku memang sempat ingat ada laki-laki yang sering keluar denganmu. Tapi aku tidak ingat denagn jelas wajahnya ataupun namanya.” Katanya.

“Mungkin kau memang terlalu kecil waktu itu untuk mengingatnya.” Kataku. Dia mengangguk sesaat.

“Oppa, aku ingin mandi dulu.” Katanya lalu berjalan masuk ke kamar mandi.

“Aku akan keluar dulu, mencari sarapan.” Kataku lalu mengambil jaketku dan keluar kamar.

 

Aku kembali dengan membawa sandwich yang terkenal cukup enak disekitar sini.

“Jiyeon-ah. Ayo makan!” Kataku ketika aku masuk. Tidak ada jawaban? Aku langsung menaruh sandwich itu dan melihat keseluruh kamar. Tidak ada orang? Aku langsung membuka pintu kamar mandi dan tidak ada Jiyeon disana. Aku kehilangan akalku.

“Sial! Kemana anak itu?” Aku langsung berjalan keluar dan mencari di sekitar sana.

 

*Soe Hee POV*

“Chiminmu ini adalah seorang laki-laki bodoh yang mencintai Kim Soe Hee sejak kecil tanpa berani mengungkapkannya.” Katanya ketika dia masih memelukku dengan erat dan aku speechless dengan apa yang aku dengar. Aku tidak tau harus bereaksi apa padanya. Aku benar-benar terdiam.

“Aku akan pulang.” Kataku pada Jimin. Jimin terdiam sesaat, aku bisa mendengar helaan nafasnya. Dia melangkah mundur dan melepaskan pelukannya. Aku berjalan pergi dari sana meninggalkannya sendiri.

 

Aku berjalan disalah satu jalan di Seoul. Salah satu jalanan favorite ku. Angin musim semi bertemu dengan wajahku, dan itu menyegarkan. Aku berjalan ringan dan aku bertemu dengan dua orang laki-laki, yang satu terlihat begitu ceria dan bersemangat, dia mengenakan jaket hijau tua dan celana pendek seakan siap mengajakku bermain, sementara satunya seorang laki-laki dengan senyuman yang sangat manis, dia mengenakan baju biru yang terlihat rapi.

Mereka mengandengku, laki-laki berjaket hijau itu memegang tangan kananku dan sementara laki-laki berbaju biru memegang tangan kiriku. Aku menggenggam tangan mereka dengan erat. Aku terdiam sesaat ketika laki-laki berjaket hijau itu memberikan sebuah kalung padaku. Kalung dengan bandul sebuah cincin putih dengan lingkaran hitam melingkar disisinya. Aku menerima nya dengan senang, dan aku menatap kewajahnya. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tiba-tiba semua yang ada didepanku menjadi begitu kabur.

Aku tidak bisa melihat apapun.Gelap.

 

Oh my..” gumamku diatas tempat tidur. Mimpi. Aku bisa merasaka tubuhku penuh dengan keringat. Aku terduduk disana dan memegang kalung dileherku. Kalung dengan cincin putih yang memiliki lingkaran hitam disisinya sebagai bandulnya.

“Apa mimpi itu.. Ingatanku yang lain?” gumamku memegang kepalaku yang mulai sakit. Aku menutup mataku dan menghela nafas.

“Kepalaku selalu terasa sakit ketika aku mencoba mengingat apapun dari masa laluku. Dari semua ingatanku yang pulih, kenapa ingatan tentang orang-orang dimasa kecilku sangat susah untuk pulih. Aku bahkan harus menanyakan semua masa laluku pada Chimin.” Keluhku pada diriku sendiri sambil mencoba untuk tidak memikirkannya lagi sebelum aku merasakan kepalaku sakit lagi.

 

Aku mengambil ponselku sambil mengigit roti dimulutku. Aku mengirim pesan pada Seojoon. Aku ingin tau kabar Jiyeon. Setelah menerima beberapa pesan dari Seojoon aku sedikit lega karena dia bilang Jiyeon sudah tidak apa. Aku membuka pintu apartementku dan menemukan Hoseok Oppa disana.

“Huh? Apa yang kau lakukan sepagi ini disini?” Tanyaku langsung.

“Untuk yang kemarin. Miane. Aku meninggalkanmu begitu saja. Kau pulang dengan Jimin kan?” Tanyanya. Aku mengangguk.

“Nae. Gwencanayo. I’m fine now.” Kataku menutup pintu dan berjalan dengannya ke halter bus.

“Jimin tidak menjemputmu?” Tanya Hoseok Oppa.

“Entahlah. Kemarin..” Aku mengingat kemarin. DIa confess padaku. Bagaimana aku harus menghadapinya hari ini?

 

Aku berjalan masuk ke lobby kantorku setelah melambaikan tanganku pada Hoseok Oppa yang sudah mengantarku. Aku sedikit tersentak ketika aku melihat Chimin masuk ke lobby juga. Aku berusaha untuk tenang, ketika kami masuk dalam lift yang sama. Awkward.

I hate this situation the most..” katanya.Aku hanya bisa diam.

“Selesai kerja, aku butuh bicara tentang beberapa hal. Are you free?” Tanyanya. Aku tidak ingin berada disituasi se-awkward ini dengan Chimin.

“Sekarang saja. Ottae?” Tanyaku langsung. Dia mengangguk. Kami keluar dari lift dan duduk disalah satu tempat duduk didekat meja kerja kami. Dia membawakanku secangkir kecil cappuccino dari mesin minuman.

“Tidak ada Americano di mesin minuman.” Katanya. Aku mengangguk dan menyisip kopi itu.

“Aish, berhentilah seperti ini. Meresponlah seperti biasanya. Kau tidak tau, aku mencoba untuk mecairkan suasana!” Katanya.

“Bagaimana bisa aku melakukannya setelah  apa yang kau katakan kemarin?!” Protesku balik padanya. Dia terdiam.

“Ka-kau benar juga..” Katanya akhirnya. Kami berdua kembali terdiam.

“Aku tidak pernah yakin dengan perasaanku..” Kataku memecah keheningan.

“Aku kehilangan sebagian memoriku, kau sendiri tau itu. Aku merasa sedikit aneh meskipun aku sudah bisa mengingat beberapa hal tentang kita. Dan aku merasa sekarang bukan saat yang tepat untuk ini. Aku masih ingin mengenali diriku, dan aku masih ingin tau tentang masa laluku, dan orang-orang yang ada didalamnya.” Jelasku pada Chimin.

“Tanyakan padaku semua yang ingin kau tau.” Kata Chimin. Aku menatapnya, dan dia menatapku balik dengan yakin.

“Selama aku tau, aku akan memberitaukannya padamu. Tanyakan saja.” Katanya. Selama ini dia tidak pernah memberitau padaku secara keseluruhan, dia selalu ingin agar aku mengingatnya sendiri secara perlahan.

“Aku.. samar-samar aku mengingat tentang 2 anak laki-laki. Mereka menggandeng kedua tanganku. Salah satunya memberikanku, kalung ini.” Kataku pada Chimin sambil memegang erat kalung yang aku pakai. Chimin menyandarkan punggungnya dikursi dan menghabiskan kopinya dalam sekali teguk.

“Itu aku dan saudara jauhku.” Katanya.

“Aku memberikanmu kalung dengan cincin didalamnya. Aku berjanji padamu waktu itu dan saudara jauhku itu, dia menjadi saksinya.” Kata Chimin.

~flashback on~

*Chimin POV*

Kami sedang membicarakan tentang kartun TV yang aku lihat kemarin malam ketika aku terdiam sesaat. Aku melihat gadis dengan dress pink yang lucu itu berjalan kearahku dengan senyuman yang paling manis yang pernah aku lihat. Dia seperti malaikat yang sangat cantik. Aku tersenyum, memberikan senyuman terbaikku dan langsung memberikan isyarat untuk menggandeng tangannya, dan dia menyambutnya. Dia menggandeng tangan kami berdua dengan senyuman yang tidak pernah gagal untuk membuatku tersenyum juga.

“Kalian sedang apa tadi?” Tanyanya.

“Hanya mengobrol sedikit.” Jawabku, aku mengeluarkan sebuah kalung yang sudah aku siapkan untuknya.

“Soe Hee, pakai ini!” Kataku padanya sambil memberikan kalung berliontinkan cincin itu.

“Huh?” Dia terlihat bingung, aku mencubit pipinya sesaat dengan senyum, dan setelah berdeham, aku memberanikan diriku.

“Saranghamnida!” Kataku padanya dengan penuh keberanian. Aku bisa melihat wajah innocent nya, lalu dia tersenyum. Tersenyum bergitu lebar lalu mengambil kalung itu, dia mengenakannya tanpa ragu.

“Nado, saranghamnida!” Katanya balik.

“Kau dengar itu? Hari ini kau harus jadi saksi!!” Kataku langsung pada saudara jauhku itu. Dia hanya terdiam melihat itu semua dengan wajah innocent dan mengangguk. Aku langsung memeluk Soe Hee. Ketika aku melepasnya, aku menggenggam pundaknya dan mengatakan padanya dengan tegas.

“Aku berjanji aku akan menikah denganmu! Tunggulah ketika aku dewasa nanti! Cincin yang ada dikalungmu itu, akan aku sematkan dijari manismu!!” Kataku. Soe Hee tersenyum, lalu menangis bahagia, dia mengangguk.

“Ingat!” Kata Soe Hee menatapku tajam.

“Kau berjanji.. Janji itu harus ditepati..” Katanya. Aku tersenyum lebar dan mengangguk. Lalu Soe Hee berpaling ke arah saudaraku,

“Ingat ini baik-baik! Dia sudah berjanji!” Katanya. Saudaraku mengangguk.

“Aku tidak akan lupa. Tidak akan.” Katanya.

~flashback off~

*Soe Hee POV*

Aku terdiam mencoba mencerna semuanya, dan aku memang merasa apa yang diceritakan Jimin memang sesuai dengan ingatanku, hanya aku saja yang tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

“Jadi aku..?” Aku bertanya balik pada Chimin ingin memastikan, dan Chimin mengangguk.

We’re in love at that time.” Katanya. Aku diam. Selama ini harusnya aku menyukai Chimin? Kita harusnya sepasang kekasih?

“Jin-Jinjja?” Aku reflek langsung bertanya balik padanya.

“Aku sudah berjanji untuk menikahimu.” Katanya mengenggam erat tanganku. Aku menggenggam tangannya balik. Dia menungguku dan selalu berada disampingku dengan sabar selama ini, dan aku bahkan tidak mengingatnya? Betapa jahatnya aku selama ini!

“Miane Chim..” Kataku. Dia hanya tersenyum kecil lalu mengelus rambutku pelan.

“Gwencana.. Aku akan menunggumu.. It’s okay..” Katanya.

“Kita jalani saja.. Ottae?” Tanyaku.

“Huh?” Dia terlihat kaget dan bingung.

“Kita jalani saja dulu bersama, mungkin seiring berjalannya waktu, aku bisa mengingat lebih banyak tentang kita.” Jelasku. Chimin tersenyum, tersenyum sangat lebar.

 

Aku masih mengetik file laporan yang harus aku selesaikan besok ketika tiba-tiba Chimin melingkarkan tangannya ke leherku dari belakang. Aku sedikit kaget.

“Chimin.. Mbohae? Kita sedang dikantor.” Kataku. Dia tersenyum.

“Eish, gwencanayo. Sudah  jam 11, semua sudah pulang.” Katanya menyandarkan dagunya dipundakku.

“Mbohae?” Tanyanya.

“Aku harus menyelesaikan ini. Besok harus diserahkan padamu.” Kataku.

“Mm? Laporan apa ini?” Tanyanya sambil melihat laporan itu.

“Oh.. Dari kegiatan sebelumnya?” Tanyanya. Aku mengangguk.

“Kerjakan besok saja.. Ayo kita makan.. Aku lapar..” Katanya.

“Miane Chim.. Aku harus latihan dances. Kau tau kompetisinya seminggu lagikan?” Jawabku.

“Selesai latihan?” Tanyanya. Aku berpikir ulang, kalau Chimin menungguku latihan, aku dan Hoseok Oppa hanya bisa latihan sebentar, dan kalau aku makan aku tidak bisa lanjut latihan sampai pagi. Aku menggelengkan kepalaku,

“Latihan dances ku lebih lama akhir-akhir ini..” Alasanku padanya. Dia cemberut. Why he’s so clinging? My Chimin is a cute guy huh?

“Apa kau slalu begini?” Tanyaku.

“Begini?” Dia bertanya balik.

“Clinging?” Tanyaku. Dia tersenyum.

“Aku begini karena kau.” Jawabnya lalu mencium puncak kepalaku.

“Aku antar kau ke tempatmu latihan. Tapi, aku tidak akan menemanimu. Aku bosanmenunggumu latihan!” Katanya. Aku tertawa dan segera menyelesaikan pekerjaanku.

 

Aku menyuruh Chimin menurunkanku di studio dances yang sebelumnya pernah aku pakai untuk latihan.

“Chim, hati-hati..” Kataku ketika aku sudah turun dari mobil. Dari dalam mobil dia tersenyum,

“Araseoyo chagi~” Katanya mencubit pipiku, “Kau juga hati-hati, dan jangan pulang terlalu malam.” lanjutnya.

“Araseo.” Jawabku lalu Chimin menjalankan mobilnya dan pergi.

“Sekarang kalian berkencan?” Tanya Hoseok Oppa yang baru saja datang. Aku tersenyum lebar dan menceritakan semuanya padanya. Dia hanya terdiam.

“Oh, benarkah? Dia bilang seperti itu?” Tanyanya. Aku mengangguk.

“Aku tidak pernah menyangka. Aku mencintainya lebih dari sahabat dan aku melupakannya.” Kataku.

“Sekarang ini kau mencintainya?” Tanya Hoseok Oppa.

“Aku rasa seiring berjalannya waktu. Dulu aku mencintainya, hanya karena amnesia sebagianku ini, aku lupa. Aku rasa, dengan begini, aku bisa mengingat lebih cepat dan benar-benar mencintainya seperti dulu.” Kataku. Hoseok Oppa hanya diam.

 

Dear diary,

Sejak aku dan Chimin become a lovers, aku mulai mengisi banyak jadwal dikalenderku. Dia mengisi banyak jadwal dikalenderku lebih tepatnya. Dia selalu mengajakku keluar keberbagai tempat yang menyenangkan sekedar makan, menikmati pemandangan, ataupun hanya chilling sebentar. Chimin selalu penuh kejutan dan dia sangat pengertian padaku, rasanya sangat nyaman untuk bersama dengannya. Tapi, sejak Hoseok Oppa menanyakan apa aku mencintainya sekarang ini, aku.. Aku selalu memikirkannya dan rasanya pertanyaan itu terus saja pop out dipikiranku.. So frustrating!

5 desember 2016

                                    Kim Soe Hee

****

Miane semuanyaa! Aku late update banget, udah lama banget enggak update cerita ini karena memang aku banyak kesibukan. Jeongmal Mianeyo! Aku harap kalian suka ya sama cerita ini dan jangan lupa leaving feedback!

Oh ya, dikesempatan kali ini, author mau nanya dong para reader lebih suka:

  1. Soe Hee-Chimin Couple atau Soe Hee-Hoseok Couple sih?
  2. Critanya terlalu berat enggak?

Comment ya! Saranghae! Jeongmal kamsahamnida! ^^

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s