[ONESHOOT] Meet Him

dks-2

source pic: here

© Miss Candy | Do Kyungsoo, Kim Chahyun (You) | Friendship

Do not copy! | also published: there 

Ini kunjunganmu—yang sudah tak bisa kau hitung dengan jari lagi—ke rumah nenekmu. Orang lain berpikir ritual kunjungan ke rumah sanak saudara pastilah menyenangkan, tapi tidak untukmu. Kenapa? Karena kau harus merelakan pantatmu tertekan pada kursi kompartemen selama lima jam! Kau membenci perjalanannya, bukan tempat tujuannya. Yah, meskipun kau selalu dibekali dengan gundukan snack dalam ranselmu—tak lupa juga minuman favoritmu, air mineral dingin, yang selalu disiapkan ibu. Di usiamu yang baru menginjak tiga belas, ayahmu sudah mempercayakan perjalanan mematikan ini untuk kaulalui sendirian. Beliau selalu berpendapat kalau perjalanan menggunakan kereta api adalah yang paling aman untuk remaja pemula sepertimu. Well, tapi tidak untuk pantatmu.

Lepas pamit pada orangtuamu di gerbang pemeriksaan tiket, kau mulai menarik koper bergambar menara eiffel-mu dengan percaya diri. Aturan pertamanya selalu sama, jangan perlihatkan muka bego dan bingung ketika berpergian sendirian. Aturan kedua nan wajib ialah kau harus sesering mungkin menghubungi ponsel orang tuamu. Masa liburanmu di rumah nenek selalu sama. Akan ada—bahkan mungkin telah sampai duluan—si telinga runcing, Park Chanyeol, sepupumu yang sering menyembunyikan sandal jepitmu ketika kau sedang berada di rumah pohon. Ada Kim Jongin, sepupumu lagi yang tinggal di perbatasan. Cowok berkulit gelap nan seksi. Oh, seandainya kalian bukan sepupu! Mungkin kalian bisa berkencan.

Tas ransel berisi gundukan bekalmu melorot melewati bahu. Kau berhenti sejenak dan membetulkan talinya. Saat kau membungkuk untuk mengangkat kopermu melewati tangga naik, seseorang menyenggol ranselmu, membuatmu nyaris menyeruduk tembok di depanmu.

Hei!” Kau memekik pada sosok yang barusan menyenggolmu. Seorang cowok. Cowok tanpa belas kasihan yang lewat begitu saja ketika ada cewek manis mengangkat koper berat. Sayangnya sosok itu sudah raib dengan menaiki tangga begitu kilat. Yang kau ingat hanya ransel putih dengan totol-totol anehnya.

Menit berikutnya, kau berhasil menaikkan kopermu pada lantai peron. Mengelap peluh di keningmu sejenak dan lantas kembali berjalan. Kau selalu berdoa kalau stasiun dekat tempat tinggalmu ini punya eskalator. Doamu selama lima tahun belum terkabulkan. Kau menyusuri lantai peron tiga, tempat si ular besi yang akan menjadi tungganganmu berada. Menghitung gerbongnya dengan teliti, kemudian berhenti di pintu gerbong tujuh.

Kau sedikit mengangkat kopermu, meloncati celah kereta dengan bibir peron dan setelah berada dalam perut ular besi, dimulailah perjalanan mematikan untuk pantatmu. Sebenarnya kau bisa saja berjalan-jalan sepanjang gerbong ketimbang menghabiskan pantatmu di kursi, hanya saja kau tak mau meninggalkan gundukan snack-mu bersama orang tak dikenal—kau juga tak suka berkeliling seperti satpam. Doamu hari ini adalah—saat kau menyusuri gerbong mencari kompartemenmu—bahwa kau akan duduk sendirian di dalam kompartemen. Kali ini sepertinya terkabul. Saat kau melongok ke dalam kompartemenmu, isinya kosong. Mengingat peluit loko yang sudah ditiup, kemungkinan ada penumpang naik lagi sudah menipis drastis. (satu kompartemen biasanya untuk 4 orang penumpang)

Setelah menutup pintu kompartemen, mulanya kau meletakkan ransel merahmu di tempat duduk seberang kemudian menidurkan kopermu di bawah bangku. Great. Ruangan ini akan menjadi milikmu pribadi selama lima jam. Huahaha~ Ada pesan masuk dari Dobby alias Chanyeol, bertanya apakah keretamu sudah berangkat atau belum. Kau mengetikan pesan ‘hampir’ dan membalasnya. Selanjutnya, kau memasang earphone ke telingamu dan saat roda besi mulai menyapu bantalan kereta kau sangat siap melewatkan lima jam perjalanan dengan musik. Kau bersandar pada bangkumu dan jendela mulai menampakkan pemandangan luar stasiun, semakin cepat dan semakin cepat.

Lima sampai sepuluh menit kemudian semuanya berjalan damai. Ketika kau menolehkan kepalamu pada jendela kompartemen, sekelebat sosok dengan ransel putih totol-totol aneh lewat. Pantatmu bergeser dan membuka sedikit pintu kompartemen dan terus menatap pengguna ransel putih bertotol itu. Tak salah lagi, dari figure punggungnya, cowok itulah yang menabrakmu tadi. Kau mendengus dan menutup kasar pintu kompartemen, tak menyangka kalau kalian satu kereta. Meski begitu kau tetap bersyukur, setidaknya kalian tidak satu gerbong apalagi satu kompartemen. Kau kembali menyandarkan kepalamu pada jendela, memandang ke luar kereta. Menikmati pemandangan hamparan pesawahan hijau yang memanjakan matamu. Setidaknya itu sampai lagu Lucky milik Exo yang mengalun di telingamu berakhir.

Pintu kompartemenmu dibuka oleh seorang kondektur. Kau spontan menoleh kemudian sedikit membeliak ketika mendapati siapa yang berdiri di sebelah kondektur. Cowok dengan ransel putih bertotol aneh lengkap dengan hoodie biru dongker dan kaus putih di dalamnya.

“Di sini kompartemenmu, Nak. Jangan sampai tersesat lagi.”

“Terima kasih,” jawabnya.

Pak kondektur berlalu meninggalkan cowok bermata belo bermasker hitam mematung di pintu yang masih terbuka. Jelas kau tidak welcome sama sekali. Pertama, kesenanganmu terganggu. Kedua, itu cowok dengan ransel totol-totol aneh yang menabrakmu tadi. Sepersekian detik kau hanya memandanginya dengan kesal. Saat ia menutup pintu kompartemen dan duduk di sebelah ranselmu, kau masih menatapnya jengkel. Cowok itu tak membuka maskernya, hanya meletakkan ranselnya di pangkuan. Saat itulah kau sadar kalau ransel itu berharga mahal. Sekitar lima kali lipat uang jajan bulananmu. Kau juga melirik sepatunya. Hah~ itu Air Jordan Limited Edition! Kau membuang muka ke jendela. Apa pun lagu yang berdengung di telingamu, sudah tak bisa kaunikmati lagi.

‘Seorang cowok kaya yang tidak sopan sedang duduk di depanku. Dunia ini sungguh adil,’ batinmu.

Nyatanya kau malah memandangi cowok itu lewat pantulan jendela. Dia duduk tanpa terganggu sedikit pun dengan gelagat tidak sukamu.

“Permisi,” katanya

Kau tau dia sedang menatapmu, tapi kau acuh saja sambil terus memandang keluar jendela. Setidaknya dia akan mengira kalau kau tak mendengarnya. Earphone masih menempel di lubang telingamu, meski kau sudah menghentikan alunan musiknya dari tadi.

“Maaf. Permisi!” Suaranya terdengar lebih keras. Akhirnya kau menoleh padanya. Cowok ini sepertinya seumuran dengan Dobby dan Jongin—dua tahun lebih tua darimu—meskipun dia lebih pendek.

“Ada apa?” Kau mencoba bertanya se-ramah mungkin sambil melepas earphone-mu. Bagaimanapun dia cowok dan kau sendirian.

“Kau memesan dua bangku?” tanyanya sambil menunjuk ranselmu yang tergeletak di sebelahnya. Suaranya berdengung. Dia sama sekali tak melepas masker hitamnya. Mungkin saja dia cowok dengan braces yang berwarna-warni atau untuk menutupi kumis yang tumbuh sebelum waktunya, atau memang sedang flu.

“Tidak.”

“Kalau begitu, kau bisa meletakkan barangmu di sebelahmu? Aku mau menikmati pemandangan luar.”

Keningmu berkerut. Jadi dia juga akan duduk di hadapanmu. TEPAT DIHADAPANMU. Okay, kesenanganmu akan benar-benar terganggu. Kau mengambil ranselmu dan meletakkannya di sebelahmu tanpa berkata apa-apa. Kau bukan tipikal yang cepat akrab dengan orang asing. Seingatmu cowok yang akrab denganmu hanya Dobby dan Kkamjong alias Jongin. Itu efek karena ibumu bersikeras untuk menyuruhmu bersekolah di sekolah putri. Nanti saat SMA, kau bertekad untuk bersekolah di sekolah umum.

Cowok itu, dengan masih memangku ranselnya, bergeser ke pinggir jendela sambil berbisik terima kasih sementara kau hanya mengangguk tanpa ekspresi. Mencoba menebak kenapa cowok di depanmu masih saja memangku ranselnya. Apakah ada sesuatu berharga di dalamnya? Atau sesuatu berbahaya? Atau dua-duanya? Mengingat tak ada barang bawaan lain miliknya.

“Sendirian?” Suaranya kembali berdengung saat bertanya padamu. Oh My, kenapa tidak dilepas saja maskernya!

“Ya.”

“Sepertinya kita seumuran.”

“Sepertinya,” jawabmu.

“Kau mau ke mana?”

“Rumah nenekku.”

“Kau sudah terbiasa naik kereta sendirian?”

“Sudah.”

Aigoo~ Ternyata cerewet sekali cowok ini. Kau menebak-nebak apakah ia masih ingat saat ia menabrakmu tadi, tapi sepertinya tidak. Kau mengambil botol air dari dalam ranselmu kemudian meneguk isinya. Mencoba untuk mengalihkan perhatian kalau-kalau cowok itu bertanya lagi. Kau benar-benar tak suka mengobrol dengan orang asing. Ada pesan masuk lagi, kali ini dari Kkamjong. Ia bertanya apakah kau membawa kaset-kaset DVD terbaru. Kkamjongmu tinggal di perbatasan. Ingat, tak ada mall besar apalagi bioskop. Kasihan. Mutiara hitam yang tersesat. Itulah yang selalu kau pikirkan tentangnya. Jika saja Jongin mau, ayahmu bisa saja menyekolahkannya bersamamu. Tapi, Jongin memilih untuk menemani ibunya. Ayahnya sudah meninggal. Kau membalasnya sambil menggelengkan kepala dan tersenyum.

“Turun di mana?” cowok itu bertanya lagi. Kau kembali harus menatapnya.

“Stasiun terakhir.”

Oh, sama denganku.”

“Begitu, ya?” tanyamu sarkastik. Sejujurnya kau merasa tergelitik dengan kemisteriusan cowok cerewet di depanmu ini. Bukan hanya karena ia tak membuka maskernya, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuatmu… Okay, kau baru tiga belas tahun. Jadi mungkin ini semacam curi-curi pandang yang umum.

Kau kembali merogoh ranselmu untuk mengambil snack. Inilah yang kau tidak suka ketika ada teman asing satu kompartemen. Kau tak bisa makan dengan bebas. Menawari mereka pun percuma. Biasanya sesama orang asing akan saling curiga jika makanan yang ditawarkan beracun. Tapi ini kan Pringles kemasan. Mana sempat kau membubuhkan racun ke dalamnya. Namun akhirnya, kau mengeluarkan tangan kosong dari dalam ransel. Nafsu makanmu hilang. Cowok itu duduk dengan tubuh kaku sekali. Memandangi keluar jendela sambil sesekali merapikan poninya. Apa dia tidak haus? Tidak lapar? Tidak ingin mengemil? Atau setidaknya memasang earphone sepertimu? Lagi-lagi kau penasaran.

Memasuki seperempat perjalanan, matamu mulai meredup. Kau tidak memperkirakan kalau akan duduk dengan cowok seumuran. Pikiran aneh menggelayutimu, kalau sampai kau tertidur dan cowok itu melakukan sesuatu padamu, maka… kau mengerjapkan matamu berulang kali dan ikut menatap keluar jendela. Kalian diselimuti keheningan sampai akhirnya kereta memasuki sebuah terowongan. Tiba-tiba saja kau merasak ada yang mencengkeram kedua tanganmu erat-erat dalam gelap. Ketika kau nyaris berteriak ketika kereta keluar dari terowongan, kau kembali bungkam. Terlihat cowok didepanmu memejamkan matanya rapat-rapat sambil masih memegangi kedua tanganmu. Sudut-sudut keningnya juga terlihat berkeringat. Mulanya kau kebingungan, namun entah bagaimana kau bersuara.

“Sudah tidak gelap,” katamu. Cowok itu mundur, kembali bersandar pada bangkunya. Dia terlihat gugup dan meremas-remas tangannya gelisah. Ranselnya jatuh ke lantai dan kau bantu mengambilkannya. Isinya sangat ringan. Mungkin cowok ini hanya membawa dompet. Kau meletakkan ranselnya di sebelah tempat duduknya. Dia masih sedikit bergetar.

“Kau bawa minum?” tanyamu. Ia menggeleng.

Kau membuka pintu kompartemen dan menolah kanan-kiri. Tak ada tanda-tanda kondektur menjajakkan minuman. Dan kau masih ragu meninggalkan barang-barangmu di sana. Kau kembali duduk dan mengambil botol minum milikmu sendiri kemudian menyodorkannya ke cowok itu. Dia menatapmu heran.

“Tenang saja. Jika ini beracun, maka aku juga mati.” Kau meraih tangannya untuk menggenggam botolmu. Tangannya basah oleh keringat dan dingin. Dia ragu-ragu sejenak kemudian membuka tutup botol minummu.

“Kau harus membuka maskermu. Bagaimana caramu minum?”

Gerakan cowok itu tampak seperti mengingat sesuatu. Ia melepas tali maskernya dari sebelah telinga, membiarkan benda itu menggantung. Setelahnya mulutmu menganga karena dia sangat… menggeser Jongin di posisi kedua dalam list cowok tampan—Chanyeol jadi ketiga. Dia menenggak air mineralmu sampai tinggal seperempat. Eh, perjalanan masih empat jam lagi. Artinya kau harus menunggu kondektur yang menjual makanan melewati gerbongmu untuk membeli air.

“Te-terima kasih.” Ia menyodorkan botolmu. Kau menggeleng.

“Buatmu saja. Kalau-kalau kita kembali lewat terowongan dan kondektur penjual minum belum lewat.”

Parasnya berubah pucat pasi sambil mencengkeram botol plastikmu. Kau tersenyum jahil. Cowok di depanmu berekspresi lucu, persis anak kecil tersesat di pusat perbelanjaan dengan maskernya masih menggantung di sebelah telinga. Akhirnya kau bisa membaca gerak-gerik kakunya. Cowok ini baru pertama kali naik kereta api. Tadi juga kondektur berpesan padanya supaya tak lagi tersesat. Meskipun kau tidak tahu, apa penyebab cowok di depanmu ini takut kegelapan.

Kau membuka resleting depan tas ransel milikmu, merogoh bagian dalamnya. Saat kau bepergian jauh, makanan ini tak pernah kau lupakan. Cokelat batangan. Kau mengulurkan cokelat itu padanya yang kini sudah tak memakai masker lagi. Mata jernihnya membulat, kembali kebingungan. Kau menarik tangan kanannya dan meletakkan cokelatmu di sana. Sebenarnya agak aneh bagimu ketika kau bisa mudah begitu saja kontak fisik dengan cowok asing. Tapi cowok ini berbeda. Dia butuh, istilahnya, perhatian. Karena tidak mungkin membiarkannya meringkuk ketakutan, bukan?

“Makan itu dan perasaanmu akan lebih baik.” Saranmu sambil tersenyum. Kini suasana hatimu padanya sudah sedikit mencair.

Dia langsung membuka bungkusnya, namun kemudian gerakan tangannya terhenti. Dia kembali membungkus cokelat itu lalu mematahkannya menjadi dua. Disodorkannya separuh batang kepadamu. Kau memuji dalam hati kalau cowok ini baik juga.

“Kau juga makan. Maaf membuatmu susah.” Senyumnya mengambang saat mengatakan itu padamu.

Waw! Itu bibir berbentuk hati terindah yang pernah kaulihat. Si seksi Kkamjong dan Dobby tak semenawan cowok ini ketika mereka tersenyum. Cukup terkesima dengan wajahnya, kau langsung memakan cokelat yang ia berikan padamu. Dia pun begitu. Memakan cokelat itu dalam diam. Dia mencuri pandang ke arahmu dan kau mulai merasakan pipimu panas ketika ia terus mengamatimu.

“Ada apa?” tanyamu kikuk.

Tak ada jawaban. Yang ada hanya tawa nyaring yang memenuhi kompartemen kalian. Cowok itu tertawa sampai seluruh pupil matanya tenggelam. Pipi chubby-nya semakin terangkat ke atas, gerahamnya bahkan sampai kelihatan. Kau mengernyit bingung.

“Mulutmu belepotan, Nona,” katanya sambil membuat gerakan dengan telunjuk mengitari mulutnya.

Cepat-cepat kau menyapukan telunjukmu ke sudut-sudut bibirmu. Benar saja. Seluruh area batas bibirmu penuh cokelat. Kau lantas mengambil tisu basah dari dalam ransel, menariknya sehelai kemudian mengelap bibirmu dengan wajah memerah malu. Cowok di depanmu masih menikmati cokelatnya. Sedetik kemudian kau gantian tertawa. Dia mengerjap padamu kebingungan.

“Kau sendiri lebih parah!” semburmu di sela-sela tawa dengan jari telunjuk menunjuk bibir tebalnya tertutup sempurna oleh cokelat!

Cowok itu langsung menarik sehelai tisu basah dari pangkuanmu tanpa ba-bi-bu. Dia membersihkan mulutnya dengan kilat. Wajahnya juga bersemu malu. Kelanjutannya kalian hanya menghabiskan cokelat dalam diam. Masih ada tiga jam perjalanan lagi sebelum sampai. Kereta berhenti sebentar di sebuah stasiun kecil untuk menunggu sinyal. Kau kembali melongok ke luar kompartemen, belum ada kondektur yang lewat. Tsk, kau benar-benar butuh air. Kau melirik cowok itu yang ternyata sedang mengamatimu terus dari tadi. Kau menyentuh bibirmu pelan, takut kalau ada sisa cokelat tertinggal. Bersih.

“Kau mau pergi?” tanyanya.

“Aku mau beli air mineral, tapi sepertinya kondektur tidak ada yang lewat. Errr—kau tunggu di sini, menjaga koper dan ranselku, bisa? Aku ke gerbong makanan dulu.”

Jangan!” pekiknya. “Ma-maksudku aku tidak haus, kau tunggu saja pasti mereka lewat. Jangan ke sana.” Suaranya semakin lirih saat mengatakan itu. Kau yang sempat terkejut, namun akhirnya menutup pintu kompartemenmu dan kembali duduk. Bukankah kau yang haus, kenapa malah cowok ini melarangmu membeli minuman? Tapi kau paham, mungkin ini juga ada hubungannya dengan ketakutannya pada kegelapan.

Cowok itu kembali menatapmu dengan ketakutan. Mungkin ia merasa bersalah dengan kelakuannya padamu tadi. Sudut bibirnya bergerak dan sepertinya sedang memikirkan kata-kata yang ingin diucapkannya.

“Kereta api… Mereka meninggal karena kereta api,” bisiknya sambil menunduk. Suaranya nyaris tertelan deru roda ular besi yang kembali melaju. Ia memainkan kesepuluh jari-jarinya dengan gelisah. Kau mendapati dirimu menatap kepala cowok itu dalam-dalam. Apa maksudnya?

“Siapa?” tanyamu hati-hati.

“Ayah dan ibuku…”

Kau mendesah panjang. Lantas apa hubungannya dengan kegelapan? Bagaimana kereta api membuat orang tuanya meninggal? Kepalamu dipenuhi pertanyaan yang kau sendiri ragu-ragu untuk mengungkapkannya. Takut kalau cowok di depanmu itu tersinggung. Kau menunggu, apakah ia akan kembali meneruskan bait ceritanya atau tidak. Pemilik rambut coklat gelap itu akhirnya menatapmu dalam-dalam. Ia mengambil sesuatu dari dalam ranselnya. Sebuah cincin? Cincin tanda masuk sebuah kereta mungkin, melihat simbol bulat seperti cerobong lokomotif sebagai hiasannya.

“Kereta express terbaru yang diluncurkan bulan lalu… yang kebakaran itu…” lanjutnya terpatah-patah sambil lekat-lekat memandangi cincin di telapak tangannya.

Sekarang kau ingat. Kereta express terbaru yang terbakar bulan lalu, menewaskan lima puluh orang pada perjalanan perdananya. Berita itu menghebohkan negara kalian. Kau memang mendengar berita kalau perjalanan perdana kereta itu hanya diperuntukkan untuk kaum kelas atas. Mereka yang mengikuti perjalanan, harus memakai cincin seperti yang sedang cowok itu pegang. Kau menatap kepala cowok itu dengan iba.

“Saat itu aku tidak ikut karena ada tes kemampuan vokal di sekolah… Cincin ini milik ibuku, dari tangannya yang masih tersisa. Tapi, aku tak bisa menemukan cincin ayahku… karena beliau—” suaranya semakin berat dan parau, kau menebak kalau ia menahan tangis, “—ayah terlalu hangus…”

Kau bisa melihat butiran air mata menetes di telapak tangannya. Pasti sangat sulit menjalani kehidupan tanpa orang tua di masa muda seperti kalian. Di saat seusiamu butuh dukungan yang besar dari orang-orang terdekatmu, mereka malah sudah meninggal. Kau jadi teringat Jongin. Ia juga tak memiliki ayah. Bedanya, Ayah Jongin sudah meninggal ketika sepupumu masih bayi, jadi Jongin tak memiliki memori sedikitpun tentang ayahnya. Sepertinya itu lebih baik.

Cowok itu melanjutkan ceritanya. Sepertinya ia memang ingin mengungkapkan itu semua dari dulu. Sesuatu yang telah lama ditahannya. Kau bisa merasakan bagaimana perasaan cowok di depanmu kini.

“Aku terus membayangkan kejadian itu, meskipun aku tidak di sana. Kebakaran, gelap dan penuh asap… juga teriakan orang-orang yang mati terbakar. Lama kelamaan semua itu seperti bersarang di benakku dan membuatku trauma… itulah kenapa aku selalu memakai masker dan takut gelap. Aku juga takut sendirian…”

Dia mengusap air matanya dengan punggung tangan kirinya yang bebas. Pelupuk matanya masih tergenang. Kau tak membawa saputangan maupun tisu wajah—tak mungkin kau memberinya tisu basah lagi. Jadilah kau hanya mentapnya prihatin. Menjadi teman curhat cowok asing adalah hal baru bagimu. Dan cowok ini tidak berbohong, kau bisa memahami rasa kehilangannya dari cara ia menceritakan hal barusan. Kelegaan terpancar dari wajah bulatnya, ia pasti telah menyembunyikan kesedihan sekian lama. Mungkin Tuhan memang memilihmu untuk mendengar ceritanya. Kau merasa bersalah karena kesan pertamamu padanya tak baik. Entah kenapa matamu terasa panas. Kau mengusapnya dengan terburu-buru sampai menarik perhatiannya.

Ia berujar, “maaf… Maaf karena menceritakan ini padamu. Sebenarnya akau naik kereta hanya ingin mengenang kedua orang tuaku saja. Bagaimana rasanya naik kereta api dan berharap kereta ini terbakar juga, konyol memang.”

Matamu membulat mendengar kalimat terakhirnya. Cowok itu berharap kereta ini juga terbakar? Kau setengah kesal, namun kau tahu itu hanya perasaan putus asa. Kehilangan kedua orang terpenting dalam hidup pasti membuatnya sangat rapuh.

“Kau mau ke mana?” tanyamu saat berhasil memasukkan udara ke paru-parumu. Sesaat tadi, kau merasa sesak karena menahan air mata.

“Aku hanya ingin merasakan sensasi naik kereta saja. Tak ada tujuan,” jawabnya dengan suara sumbang. Wajahnya sedikit bengkak. Kau membuat tanda O dengan mulutmu. Terlintas pikiran berani untuk mengajaknya menginap di rumah nenekmu, tapi…

“Aku punya dua sepupu laki-laki yang juga sedang berlibur di rumah nenekku. Kalau-kalau kau mau mengobrol dengan mereka…” katamu hati-hati sambil menggoyangkan kedua kakimu. Kau tak berani menatapnya saat bicara.

“Bolehkah?”

Pertanyannya di luar dugaanmu. Sepertinya cowok ini terdengar senang sekali.

“Bolehlah—maksudku—kau bisa naik kereta pulang besok pagi—” kau keceplosan mengajaknya menginap “—karena tak ada kereta malam dari sana,” sambungmu cepat-cepat.

“Aku tak bawa baju ganti,” katanya murung.

“Sudah kubilang aku punya dua sepupu laki-laki. Kau bisa pinjam baju salah satu dari mereka.” Ini terdengar seperti kau sangat berharap lebih lama bersama cowok ransel totol aneh di depanmu. Hey, aku hanya ingin menghiburnya!

Okay… Kurasa tidak buruk.”

Dia kembali tersenyum lebar. Memperlihatkan bibir hatinya yang sempurna sampai kau harus terus mengutuk jantungmu yang mulai berdetak aneh.

“Kurasa aku beruntung bertemu denganmu—Em—” Dia menunggumu bersuara.

“Chahyun. Namaku Kim Chahyun.”

“Chahyun. Aku Kyungsoo—Do Kyungsoo. Seandainya aku tak satu kompartemen denganmu, aku sudah menyiapkan ini,” dia merogoh ransel bagian depannya mengeluarkan sebuah korek api otomatis. Maksudnya? Dia mau bunuh diri dalam kereta?

“Kau tidak serius, bukan?” tanyamu khawatir.

“Serius. Orang di sekitarku menganggapku berubah dan aneh. Sampai aku menyadari bahwa bertemu denganmu itu membuatku senang, aku tidak jadi melakukannya. Sudah lama aku tidak tertawa. Terima kasih, Chahyun-ie.”

Wajahnya mengulas senyum penuh rasa terima kasih. Sudah bisa dibayangkan akan ada berapa cewek di luar sana yang terpikat. Tapi, dia barusan mengatakan bahwa orang di sekitarnya menganggapnya aneh. Jadi mungkin cowok ini—maksudmu—Kyungsoo, belum punya pacar. Entah kenapa kau bisa yakin begitu. Parasmu memerah lagi mendengarnya menyebut namamu dan kau pura-pura terbatuk untuk menutupinya.

Mungkin selain perjalanan yang mematikan untuk pantatmu, tapi tidak untuk hatimu. Jadi, apakah Kyungsoo membuatmu jatuh hati?

-fin


Notes:

  • Hai para pembaca FFIndo, salam kenal semuanya… ^^ saya penulis baru di FFIndo. Semoga saya bisa memberikan kontribusi untuk blog ini 🙂
  • Ini naskah pertama saya di FFIndo, terima kasih sudah membaca, ya~ ^^
Advertisements

6 responses to “[ONESHOOT] Meet Him

  1. Pertama-tama, kenalin dulu namaku Tina/97line. Dari awal cerita aku tahu alurnya ga ngebosenin, meskipun take place nya cuma satu setting, aku suka banget karakter Kyungsoo disini, putus asanya berasa dan menohok di hati :’)
    Pake bawa korek api pula (tobat Soo, makan ramyun masih enak kok mau bunuh diri :v). Entah mengapa aku kok berharap BANGET (IYA BANGET) kamu nyritain si seksi kkamjong sama dobby, karakter chanhyun yg cuek-tapi-gampang-kasihan ini pasti bakal seru kalo dipadanin sama hiperaktifnya chanyeol dan kudet/? nya jongin :v
    Dan btw lagi lagi jongin jadi anak pinggiran berkulit hitam yang katrok bin gaptek xD
    Berharap ada sekuel nya mrka berempat di rumah nenek 😀 misal ditambah Kris juga boleh tuh (dia jadi tetangga galak yg sering dijahilin chanyeol+jongin) /oke staph/
    Menarik bgt, aku selalu pingin bisa bikin fic begini, yg cuma satu setting selesai ;’) tapi di akhir jalan endingnya always gj tak berbentuk :3
    Semangat nulisnya 🙂 kutunggu ff lain darimu 😀

    • Hai, Tina… aku ikka… 🙂
      pertama-tama, aku suka komentar panjangmu… 😄
      Untuk Jongin, aku minta maaf dan kuharap kamu nggak kaget karena dia sering aku nistakan… *lol

      Untuk sequelnya segera meluncur di sini… 🙂
      semangat menulisnya ya, buat kamu, kalo ada waktu senggang gantian aku baca punyamu hehehe~

      terima kasih udah baca ya,,, ^^

  2. Ceritanya seru banget yaa, aku ga bosen bacanya, jalan ceritanya juga fresh, ada hal yg ga disangka ternyata kyungsoo trauma karena ortunya yg meninggal di kereta, good job! 😀👍

  3. Pingback: [ONESHOOT] With Him | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s