[TWO SHOTS] Different

12540690_1719794354902254_7430519658774006432_n

 

*lama gak posting >////< karena lama, jadi author bawain ff punya temen~
maaf belum bisa produksi ff sendiri, ini lagi maksain nulis TT
btw, cek mv pentagon yang baru ya.. eh? :p
oia.. kalian bisa baca ff dia di sini.*

 

Different

Author: Encess Way eL
Genre: Angst
Lenght: Two Shot
Rate: PG-20

Cast: Shin Jae Bin (OC), Lee Hyewa (OC), Kang Seungyoon as Hong Ilbum |

Poster by. Indri Devagate

Disclaimer:
Semua karakter cast murni hanya ciptaan untuk keperluan cerita saja. Poster/Cover hak cipta Artworker yang bersangkutan. Sementara keseluruhan ide cerita hak cipta Authornim.

Copyright: Dont be plagiator.

———————————————————

Jae Bin POV…..

Hari ini perasaanku tak karuan, sungguh. Aku ingin teriak yang mungkin mampu menepis rasa sesak di dadaku. Ah, si nenek tua Lee Hyewa itu membuatku kesal, ingin rasanya kutelan pecahan gelas di depannya agar ia mengerti betapa mengerikannya aku jika sedang marah. Makiannya saat jam makan siang membuat semua pegawai menatapku. Aku kan sudah melakukan sesuai perintahnya, kenapa dia masih saja merasa kurang? Aku kan bukan robot gurita yang memiliki delapan tangan? Aiishh, takkan ada habisnya membahas si nenek tua itu. Lee Hyewa.

Gadis berumur 27 tahun itu adalah senior setahapku di tempat kerja. Kenapa setahap? Karena di atasnya masih ada lagi senior-senior lainnya. Dia orang yang keras kepala, sangat! Ya ampun. Aku tidak mengerti kenapa bisa ada orang seperti dia. Hari ini aku dimarahi olehnya hanya karena penghitunganku tentang produksi di pabrik kurang satu.

“Kemana yang satunya? Kau mencurinya?” tuduhannya sungguh tak berdasar.

Eonnie?”. Aku tidak percaya ia mampu menuduhku seperti itu.

“Jika tidak tunjukkan padaku kenapa penghitungannya berkurang satu? Orang lain tidak akan peduli karena mereka hanya tinggal menghujat kita bekerja tidak ‘becus’ Shin Jaebin. Tapi kita? Kita berdua akan disalahkan dan mendengar semua ocehan mereka yang tidak berguna itu.” omelnya yang menatap mataku dalam-dalam.

Terkadang memang kesal akan emosinya yang meluap-luap seperti itu. Namun, memang hanya dia orang terdekatku.

Tetapi, ada yang aneh dengannya. Beberapa jam setelah ia memakiku seperti itu, ia datang menghampiriku dan meminta maaf. Hingga menangis dihadapanku seperti orang yang sudah melakukan dosa besar. Awalnya kufikir memang sepertinya karakternya begitu, kelamaan aku semakin merasa aneh dari emosinya yang terus berubah-ubah. Tak ingin bertanya lebih aku pun hanya diam melihatnya seperti itu.

Aku dan Lee Hyewa adalah teman. Ah tidak, dia kakakku. Setahun bekerja dengannya aku sudah menjabat menjadi asistennya. Dia mengandalkan aku dan aku mengandalkannya. Kami saling melengkapi. Dimana ada Hyewa pasti ada Jaebin disana. Ia wanita yang cukup cantik menurutku, hanya saja… Karena kami terlalu sibuk, kami jadi tidak terlalu memikirkan penampilan pribadi. Dan yang paling menyenangkan adalah… Ia juga seorang VIP. Kalian tahu kan fandom untuk anggota grup Bigbang dari YG Entertainment. Aku dan Hyewa eonnie bahkan memiliki tabungan bersama untuk menonton konser mereka suatu hari nanti. Mengambil cuti bersama dan bersenang-senang dikonser itu nanti. Ah aku sampai tak mampu membayangkan segila apa kami berdua nanti dikonser itu.

Hyewa eonnie mengajarkanku banyak hal. Cara mengelola uang bulanan, memasak, hingga berebut barang diskonan di supermarket terdekat. Wah, ia orang yang bertalenta. Kurasa bisa menjadi penyiar radio karena ia cerewet, dan kurasa ia juga bisa menjadi seorang rapper karena lidahnya yang sudah terbiasa mengomeli orang lain. Sepertinya ia punya kepribadian ganda mungkin.

“Jaebin~aah?” suara yang kukenal menghampiriku, tetapi kali ini terdengar begitu parau.

“Kau bisa ku percaya? Apa kau mau ikut aku sekarang?” aku yang bungkam menurutnya aku menjawab iya.

Hyewa eonnie mengendarai mobilnya dengan begitu santai, ia bahkan menyalakan radio di mobilnya dan menyetir sambil bersenandung mengikuti irama lagunya. Yang aneh, kenapa perasaanku tidak enak. Sungguh!

“Hyewa? Kau datang? Masuklah, maaf tadi perutku sedikit meraung. Tapi sudah tidak apa-apa.” sapaan seorang pria yang mungkin berumur 30 atau 32 tahun. Ia mengenakan jas kedokteran yang bertuliskan ‘Kim Dongwook’. Apa-apaan ini? Aku dibuat kebingungan sendiri, apa Hyewa eonnie sakit? Jika sakit kenapa sekarang kami ada di klinik seorang psikiater?

Aku terduduk terpaku. Ketika Hyewa eonnie dibawa ke sebuah bangku panjang sambil menselanjarkan kakinya dengan rileks. Step by step intruksi dokter Dongwook yang tidak ku mengerti tetapi mampu membuat Hyewa eonnie semakin terlihat seperti orang lain. Ia berteriak memaki orang-orang yang selalu mencibirnya. Ia bahkan memakiku, ia bilang ia menyesal memiliki sahabat yang bodoh dan gegabah sepertiku. Beberapa saat kemudian ia menangis histeris kenapa ia berbeda dari yang lain. Aku semakin tidak mengerti karena Hyewa eonnie mengoceh begitu dengan mata yang tertutup dan tubuh yang tidak bergerak sedikit pun dari kursi panjang itu?

Selama hampir 1 jam ia terus meraung meminta maaf, memaki, dan tertawa. Kuakui, tingkahnya sekarang seperti orang gila. Tetapi, ketika Hyewa eonnie tertidur dokter Kim Dongwook menjelaskan semuanya padaku. Bahwa yang barusan kulihat adalah Hipnoteraphy.

“A-apa yang kau katakan? Bip-bipolar?” aku yang kurang begitu yakin bertanya dengan terbata-bata. Hanya untuk memastikan, Hyewa eonnie tidak mungkin menderita Bipolar! Tidak mungkin!

Sayangnya semua tidak sesuai keinginanku, Hyewa eonnie sudah mengidap ini sejak setengah tahun yang lalu. Aku mengerti apa itu Bipolar karena aku melihat berita salah satu aktris di negara ini mengidap hal yang sama. Si aktris itu tak mampu mengendalikan emosi jiwa sesuai takarannya hingga menyebabkan keluarganya hancur dan bercerai dengan suaminya. Ketika Si aktris menangis maka ia akan menangis hingga meraung-raung dan histeris. Ketika tertawa ia akan tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya karena ia merasa terlalu lucu untuk ditertawakan. Dan.. Dan ciri-ciri yang dikatakan dokter Dongwook benar, Hyewa eonnie salah satu penderitanya.

Kali ini aku yang menangis, aku tidak percaya yang ia alami begitu berat seperti ini. Aku sahabatnya? Aku adiknya? Bukan! Jika aku tidak menyadari betapa menderitanya ia setengah tahun ini jelas aku bukan siapa-siapa. Dengan egois aku mengandalkannya dan bergantung padanya, meminta ini dan itu, membuatnya kerepotan. Hingga membuatnya merasa tidak nyaman karena kinerjaku yang tidak bagus. Itu semua, itu semua ternyata membuat fikirannya terganggu hingga depresi dan menjadi penderita Bipolar. Jika aku, jika saja aku memahaminya lebih awal ia tidak akan sedepresi itu hingga ia ingin gila. Jika aku tahu ia seperti itu aku tidak akan bersikap egois lagi. Aku tidak akan melakukan yang tidak seharusnya kulakukan.

Hyewa eonnie. hiks.

Hyewa eonnie seribu kali jauh lebih rapuh dari kelihatannya.

Apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak mampu tersenyum dihadapannya diperjalanan pulang dari klinik Dokter Kim Dongwook ini sekarang?hiks

Eonnie.




Author POV…

Kesunyian menyelimuti mobil Hyewa saat mereka baru saja kembali dari tempat klinik Dokter Kim Dongwook. Jaebin tak berani mengucap kata bahkan bernafas pun rasanya ia takut. Padahal banyak sekali pertanyaan yang menempel diotaknya. Tiba-tiba, Hyewa menghentikan laju jalan mobilnya tepat disaat sinar matahari berwarna orange kemerahan karena hendak terbenam menyinari kaca mobil mereka. Jaebin mengerti dengan yang ingin dilakukan Hyewa. Bicara.

“Jaebin~aah.”

“Emm.”

“Aku, seperti gerhana bukan?” ucapannya membuat Jaebin diam.

“Semua orang menganggapku normal hanya ketika aku menjadi matahari, tetapi ketika aku terlihat aneh mereka akan menganggapku seperti gerhana.”

“Aku tidak mengerti maksudmu. Kau lelah? Biar aku saja yang menyetir.”

“Bipolar.” lagi-lagi ucapannya membuat Jaebin diam.

“Barusan kubilang, Bipolar itu seperti gerhana. Untuk orang yang tidak mengetahuinya mungkin mereka masih menganggapku matahari. Terbit di pagi hari dan terbenam di sore hari, tapi untukmu yang sudah mengetahui bahwa aku bukan lagi matahari melainkan gerhana. Apa kau akan tetap menganggapku matahari?” pertanyaan yang tak mampu dijawab Jaebin.

“Aku tidak seperti mereka, jangan sama kan aku dengan mereka atau denganmu.” jawab Jaebin.

“Itu yang kuharapkan, kau masih akan tetap menganggapku normal meski kau tahu aku tidak normal.” ujar Hyewa.

“Yang menentukan normal dan tidaknya hanya dirimu sendiri, jika kau masih terus mengoceh. Kau benar-benar gila eonnie. Cepat injak gasnya karena aku sudah sangat lapar.” celetuk Jaebin. Hyewa terdiam, ia tahu bahwa perkataan itu pengalihan Jaebin saja.

Sejak hari itu Jaebin menjadi pribadi yang mandiri, ia tidak pernah mengadu, mengeluh, bahkan tidak lagi meminta pertolongan pada Hyewa. Ia selalu berusaha untuk mengerjakan semuanya sendiri. Tetapi, semua rekan kerjanya beranggapan bahwa Jaebin seperti itu hanya untuk mengambil perhatian atasan agar cepat naik jabatan. Padahal, Hyewa mengerti betul bahwa Jaebin seperti itu karena Jaebin tidak ingin membuat dirinya depresi.

Suatu malam…

“Kau bilang kau akan tetap menganggapku matahari. Kenapa kau justru memperlakukanku seperti gerhana?” teriak Hyewa didalam kamar Kost mereka. Jaebin diam karena ia fikir mungkin Hyewa sedang tidak stabil emosinya, sebentar juga ia akan minta maaf. Bipolar kan memang seperti itu, jadi jangan ditanggapi. Pikir Jaebin.

“SHIN JAEBIN!!” Teriak Hyewa yang mencekal tangan jaebin hingga yeoja yang ia anggap adik itu menatapnya.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku, bodoh.” ujar Hyewa yang geram hingga menggertakkan giginya.

“Siapa yang bodoh? Kau yang bodoh.!” teriak Jaebin.

“Jaebin~aah?”

Wae? Kenapa kau baru memberitahukan ini sekarang? Dan kenapa hanya padaku? Kau percaya padaku? Atau baru mempercayaiku? Aku orang yang tidak bisa menerima pembagian penderitaanmu itu sebabnya kau baru membertahuku sekarang? Begitu?” Jaebin tak terkendalikan.

“Shin Jaebin?” bisik Hyewa dengan iringan titihan airmatanya.

“BERHENTI MEMANGGIL NAMAKU, BODOH.” Teriakan Jaebin membuat mereka terisak bersama.

“Aku memang selalu mengandalkanmu, aku memang selalu merepotkanmu, aku memang selalu bergantung padamu hingga mereka menyebutku anjingmu. Kau tidak memberitahukanku tentang apa yang kau rasakan bukankah itu sama artinya kau juga menganggapku anjingmu?EOHH?hiks.”

“Bukan begitu…hiks.”

“LALU KENAPA?” teriakan Jaebin kali ini membuat Hyewa jatuh terduduk karena lutut kaki yang lemas mendengar hujatan Jaebin yang meluap-luap. Hyewa menangis mencium lututnya, Jaebin yang melihatnya seperti itu menghampirinya karena perasaan bersalah. Menangkap wajah kecil yeoja berumur 27 tahun itu agar menatapnya.

“Naega… Shin Jaebin eonnie~ah.hiks.”

Arra. hiks.”

“Aku… Sahabatmu.hiks.”

A-arra-arraseo. hiks. hiks.”

“Aku… Sudah kau anggap adikmu bukan? hiks.”

“Eohh.hiks.” jawab Hyewa yang mengangguk. Jaebin lalu memegang kedua bahu Hyewa dan mencengkramnya.

“Kau bisa ceritakan semuanya padaku. Kau bisa membagi semuanya denganku, eonnie. Kenapa kau simpan sendiri? hiks kenapa kau tidak mempercayaiku?”

“Maaf. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. hiks.” jawaban Hyewa membuat Jaebin memeluknya. Erat.




Persahabatan yang begitu indah berubah penuh airmata hanya karena sebuah syndrom, Bipolar. Hyewa tak lagi membuat Jaebin khawatir dan Jaebin pun tak lagi membuat Hyewa merasa diabaikan. Mereka mampu mengerti satu sama lain. Kini, setiap malam Jaebin menunggu Hyewa pulang hanya untuk mendengarkannya bercerita tentang kesehariannya. Hyewa pun akan menunggu Jaebin pulang kerja untuk melakukan hal yang sama. Mereka memaki orang lain bersama, tertawa dalam satu rasa bahkan menangis dalam satu isakan. Mereka saling berbagi, benar-benar berbagi dalam arti yang sebenarnya. Termasuk berbagi cerita tentang namja berumur 28 tahun, Hong Ilbum.

Hong Ilbum adalah sahabat dari kekasih Hyewa, Goo Hyunwoo. Malam itu, Hyunwoo mengajak dan memperkenalkan Hyewa pada para sahabatnya termasuk Hong Ilbum. Mereka makan-makan dan merayakan hari ulangtahun Hyunwoo, hari ulangtahun Hyewa dan hari jadi mereka. Jaebin pun ikut serta, Hyewa yang memohon agar Jaebin bisa tetap mengingatkan Hyewa apabila nanti ia kehilangan kendali.

Suasananya sangat ramai, ada sekitar 8 sampai 9 pasangan. Kecuali Jaebin dan Ilbum karena mereka tidak memiliki kekasih. Jaebin malah sempat diledek untuk segera menyatakan cinta pada Ilbum. Tetapi hal itu rupanya membuat Ilbum minder, karena kekurangan yang dimilikinya. Lumpuh total.

Hyunwoo menceritakan pada hyewa dan hyewa menceritakannya kembali pada Jaebin. Cerita tentang bagaimana kehidupan Hong Ilbum. Dari cara Hyewa bercerita tampaknya Jaebin menangkap sesuatu yang aneh. Apa Hyewa menyukai Ilbum?

Eonnie kau menyukainya kan?”

Nuga?”

“Aku tahu kau menyukainya kan?”

“Aku benarkan? Aku pasti benar, kau pasti menyukainya.”

“Suuts, sudah. Jangan bicarakan Hong Ilbum lagi.”

“Aku tidak menyebutkan nama siapa pun tadi. hihi.”

“Aiisshh.. Yaak!! Shin Jaebin!!”. Teriak kesal Hyewa yang melihat Jaebin terkikik karena berhasil menjebaknya.

Sesuai dugaan Jaebin, Hyewa putus dengan Hyunwoo lalu berteman akrab dengan Ilbum. Mereka berhubungan melalui email (sms), Jaebin bahkan iseng membaca email mereka di laptop Hyewa. Membuat Hyewa kesal namun tidak sungguhan. Hyewa berkunjung kerumah Ilbum tetapi dengan wajah murungnya.

“Kau kenapa? Kau datang kesini hanya untuk menunjukkan itu?” tanya Ilbum menunjuk wajah Hyewa. Hyewa duduk dikursi taman dengan hentakan kesal.

“Aku dan Jaebin tidak bisa menonton konser Bigbang di Seoul, karena kami terjebak jadwal kerja.”

“Lalu? Memang kenapa? Kalian kan bisa nonton lain kali.”

“Ini pertama kalinya Bigbang konser di kota kami bekerja, oppa. Tidak ada satupun yang melewatkan ini, karena ini impian kami.”

“Lalu bagaimana dengan impianku?” sambung Ilbum yang menunjuk beberapa remaja sedang bermain sepak bola. Hyewa pun melihat kearah yang ditunjuk.

Oppa.” ujar Hyewa tidak enak hati.

“Kalian hanya kecewa sesaat, setidaknya masih ada harapan kalian masih bisa menonton mereka lagi. Sementara aku? Impianku sungguh sederhana Hyewa, aku hanya ingin berlari kesana kemari seperti mereka. Memakai sepatu dan menggunakan sepatu. Sepatu ini hanya hiasan, ia hanya menempel di kakiku. Bodohnya masih tetap saja kupakai meski tak kugunakan. Karena… Kakiku lumpuh. Sekeras apapun keinginanku ingin berlari tetap tidak bisa, Hyewa.”

Oppa, Mianh.” ujar Hyewa yang semakin tidak enak hati.

“Kenapa harus minta maaf? Aku hanya ingin tertawa saja bahwa nyatanya didunia ini masih banyak yang tidak mensyukuri apa yang mereka punya. Sementara aku malah mensyukuri yang tidak kupunya.” jawab Ilbum dengan senyumannya yang khas.

Oppa, Kita menikah saja. Eohh?” ucapan tiba-tiba Hyewa otomatis membuatnya bungkam. Seorang wanita mendahuluinya bicara hal sepenting itu. Hyewa memang sudah beberapa kali menyatakan cinta padanya, tetapi Ilbum tak menanggapi itu sekali pun.

“Aku tidak mau.”

Oppaaa, aku serius.”

“Aku juga serius.”

“Iisshh, kenapa tidak mau? Karena aku penderita bipolar?”

“Karena aku lumpuh.” jawaban terakhir Ilbum mampu membuat Hyewa bungkam.

Oppa, Kau tidak menyukaiku?”

“Aku menyukaimu.”

“Lalu?”

“Lalu apa? Yaa begitu saja.”

“Yaak! Hong Ilbum!!”

“Kenapa Lee Hyewa?” katanya sambil tersenyum begitu manis, Hyewa berjinjit kaki jongkok didepan kursi roda lelaki itu dan berkata…

“Menikahlah denganku, oppa. Aku serius.”

“Aku juga serius menolakmu, Hyewa. Jangan katakan itu lagi di hadapanku. Eoh!!”. Hyewa tampak cemberut melihatnya.

“Hyewa. Menikah bukan perihal yang mudah, bayangkan apa yang mereka katakan tentang dirimu karena aku? Lelaki lumpuh sepertiku bahkan tak sanggup berdiri dengan kaki sendiri. Apa yang bisa kau harapkan dariku? Masa depan? Aku sungguh tidak bisa menjanjikan apapun, Hyewa. Berfikirlah yang jernih terlebih dulu, aku hanya akan menganggap semua yang kau katakan ini hanya candaan saja.”

Hyewa pulang kembali ketempat kerjanya dengan menelan pil pahit itu. Bahkan Jaebin tak mampu berkata apapun saat mendengar semua cerita ini. Jaebin berfikir, Hong Ilbum terlalu kejam tetapi Hong Ilbum pun tidak salah.




Hidup tak selalu bisa kita genggam kendalinya. Terkadang kendali itu terlepas dari genggaman. Ketika seseorang depresi, jangankan mendengar nasihat dari orang lain. Ia bahkan tidak dapat mendengar suara hatinya sendiri. Inilah yang menyebabkan sebagian besar penderita depresi mengakhiri hidupnya.

Lagi-lagi Hyewa datang pada Ilbum dengan wajah yang murung.

“Kenapa lagi?”

“Apa mereka semua tidak punya otak? Mereka bisa menghitung tapi kenapa mereka tidak bisa memperhitungkan dengan tepat bagaimana seharusnya mereka bicara. Mereka fikir aku tidak memiliki telinga? Aku tidak mendengarnya dari mulut mereka langsung bukan berarti aku tidak tahu? Gajiku besar karena kerja kerasku sendiri, atas dasar apa mereka menuduhku bermain curang agar cepat naik jabatan. Aku mengangkat Jaebin menjadi asistenku bukan karena ia sahabatku, tapi karena memang skill-nya yang bagus. Tidak ada yang bisa mengatur segala macam urusan dari A sampai Z sebaik Shin Jaebin yang mengaturnya. Apa aku salah merekrut orang-orang handal disampingku? Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka hanya bisa menghujat tanpa berfikir kinerja mereka bagus atau tidak. Kenapa tuhan harus menciptakan manusia-manusia seperti mereka?” Hong Ilbum hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Hyewa yang mengeluh hari ini.

“Apa tuhan tidak punya mata? Orang bilang ia maha melihat, lalu kenapa dengan tega ia membiarkanku hidup seperti ini, oppa?” Ilbum masih setia mendengarkan keluhan Hyewa yang penuh rasa kesal menderu.

“Kau ingin tahu jawabannya?” Hyewa menatap Ilbum seketika.

“Ikut aku!”

Ilbum menunjukkan jalannya, sementara Hyewa yang mendorong kursi rodanya. Mereka masuk kesebuah gereja terdekat disana, Hyewa duduk disamping kursi roda Ilbum.

“Untuk apa kau mengajakku kesini?”

“Berdoalah. Daripada menghujat tuhan dan yang diciptakannya lebih baik kau berdoa.” Hyewa terdiam, lelaki disampingnya ini selalu bisa membuat semua yang tidak masuk akal difikirannya menjadi masuk akal.

“Kau tidak mau berdoa? Baiklah, aku yang akan mewakilimu berdoa.” Hyewa semakin diam tetapi Ilbum mulai memejamkan matanya.

“Tuhan. Kenapa aku harus berterimakasih untuk hidupku padamu? Dalam hidup kau selalu membuatku menderita. Apa tujuanmu menghidupkanku? Untuk menyiksaku didunia? Wanita disampingku setiap hati mengeluh dan mengeluh. Tidak kah ia sadar bahwa kehidupannya masih seribu kali jauh lebih baik dari hidupku. Setidaknya ia bisa berdiri, sementara aku tidak.” Hyewa memandanginya yang masih memejamkan mata.

“Bodohkah wanita disampingku ini? Ia bisa bekerja dan membeli apapun dengan uangnya. Sementara aku? Mandi pun aku masih butuh bantuan ibu.” Hyewa semakin malu mendengar ucapannya.

“Ia menyesali ucapan orang lain terhadapnya, lalu bagaimana denganku? Apa aku juga boleh menyesali kehidupan yang kau berikan padaku ini?”

Oppa.” Hyewa terdengar menahan sesuatu.

“Jika wanita disampingku ini bebas menghujat orang yang menghujatnya, itu artinya aku juga bebas menghujat mereka yang menghinaku lumpuh bukan? Tetapi tuhan, akankah keajaiban datang jika aku menghujat mereka. Apabila setelah menghujat aku bisa langsung berjalan, aku akan menghujat mereka setiap saat. Kenyataannya? Meski aku balas menghujat mereka pun kakiku akan tetap lumpuh.”

Lee Hyewa menunduk malu dibuatnya. Ucapan Ilbum mengiris hatinya hingga menitikkan airmata.

Ilbum membuka matanya dan sudah mendapati Hyewa yang terisak sambil menunduk malu.

“Kau tidak ingin berdoa?” Lee Hyewa terdiam dan hanya terisak.

“Baiklah, aku akan lanjutkan do’aku.”

“Ayah menceraikan ibu karena ia wanita yang terlalu menuntut banyak. Seberapa besar pun gajiku tak kan pernah cukup untuk ibu. Orang yang kusebut ibu itu malaikat untuk orang lain bahkan untuk lelaki disampingku, tapi kenapa ibuku tak tampak seperti itu tuhan? I’m different cause I’m a Bipolar? Kenapa? Bukan aku yang menginginkan itu, aku tak pernah ingin menjadi berbeda dari mereka. Tapi dengan egoisnya mereka bergunjing aku berbeda dengan mereka, apa yang salah dengan bipolar? Semua manusia pasti pernah emosi dan gembira, itu gejala sehari-hari yang wajar hanya saja…. porsiku dalam emosi dan gembira sedikit berlebihan. Itu semua karena tak bisa kukendalikan, semua itu karena aku… hiks. hiks.”

Hyewa menangis dan terus terisak, menumpahkan semua yang ingin ia ucapkan. Ilbum menghampirinya, dengan sekuat tenaga ia menggerakkan kursi rodanya kehadapan Hyewa.

“Hyewa.” panggil Ilbum yang perlahan menyentuh pipi tirus wanita yang menangis dihadapannya.

“Begini lebih baik bukan? Kau menghujat mereka didepan tuhanmu, hanya tuhanmu yang mendengar. Manusia sepertiku tak pantas mendengar hujatan orang lain untuk orang lain. Karena aku sendiri pun belum ada diposisi sempurna untuk mendengar hujatanmu pada tuhan dan ciptaannya. Semua karena aku manusia, hanya manusia Hyewa.”

“Maafkan aku.hiks.” Ilbum menghapus airmata wanita yang mengucapkan maaf itu.

“Tak perlu mengucap maaf, sesama manusia harus saling mengingatkan. Sudah, cukup! Kau tidak boleh seperti ini lagi, kau tidak boleh menangis karena hujatan mereka. Kau mengerti, cantik?” Senyuman Ilbum membuat Hyewa memeluknya.

Hati dan fikiran mereka yang kalut setelah mengadu pada tuhan menimbulkan rasa nyaman bahwa mereka saling melengkapi. Hyewa dan Ilbum pun melakukan kesalahan fatal yang seharusnya tak mereka lakukan. Perasaan nyaman itu menuntun mereka untuk melakukan hubungan intim didalam rumah Ilbum yang kala itu sepi. Ibu, ayah dan adik Ilbum sedang tak dirumah. Mereka sadar mereka salah, tetapi rasa berdesir yang menggelitik hati tak mengenali kesalahan itu jika mata hati sudah tertutup.

Rasanya tak perlu dijelaskan apa yang terjadi, yang jelas malam itu adalah saksi bisu dimana kedua orang yang saling mencintai dalam diam berlaku jujur untuk yang pertama kalinya.

Satu bulan kemudian…

Oh my god. Pembalutku habis!” seru Jaebin yang tertegun melihat persediaan pembalut wanitanya dilemari habis.

“Kau kehabisan pembalut? Pakai punyaku saja.”

“Hehe kau masih punya eonnie? Kufikir punyamu juga tak ada.”

“Jaebin~aah.”

“Emm, wae?” Jaebin menghampiri Hyewa yang berdiri tertegun didepan lemarinya. Jaebin mengambil pembalut milik Hyewa seperlunya.

“Hari ini hari ke berapa kau menstruasi?”

“Emm, hampir hari terakhir. Sudah mulai tidak ada darahnya. Waeyo?” dengan tampang polos ia menjawab.

“Biasanya siapa yang lebih dulu menstruasi?”

“Kau. Setelah seminggu kau selesai, baru aku.”

“Itu berarti sudah dua minggu?” Hyewa terlihat tampak berfikir.

“Apanya yang dua minggu?” Tanya Jaebin sambil memasang celana yang sudah siap pakai.

“Tidak, satu bulan. Ini sudah satu bulan.”

“Apanya yang dua minggu dan satu bulan, bicara yang benar jangan membuatku pusing.” omel Jaebin sambil memasang sabuk dicelananya.

“Jarak ketelatan tanggal datang bulanku.”

“Oh, itu biasa. Aku juga pernah beberapa kali telat hingga dua bulan. Selagi kau tidak melakukan…” Jaebin menyadari sesuatu lalu memandang Hyewa. Hyewa ikut menatap Jaebin.

“Tidak mungkin. Kau… Tidak mungkin….?” sambil cengengesan Jaebin berusaha menyingkirkan keburuksangkaannya.

“Hong Ilbum.” bisik Hyewa.

“Apa maksudmu menyebut namanya?” Jaebin menarik nafasnya ketika fikirannya mulai tersambung.

Eonnie? Kau melakukannya dengan Hong Ilbum?” Hyewa tampak diam dan itu membuat Jaebin panik.

EONNIE??” tekanan suara Jaebin membuat tingkah diam Hyewa pecah.

“Eohh, kami melakukannya kurang lebih satu bulan yang lalu.”

“Apa kau gila? Maksudmu… Disana sekarang ada… Janin?” Jaebin yang terbata tak percaya sulit menelan salivanya sambil menunjuk perut Hyewa. Sementara Hyewa hanya mengelus perutnya pelan.

“Aku harus memeriksakannya.”

“Tidak!! Gugurkan.” Hyewa terkejut dengan yang diucapkan Jaebin.

“Jaebin~aah?”

“Ku bilang gugurkan saja. Kau tidak akan sanggup menerima ini eonnie, tidak mungkin sanggup.” datarnya suara dan tatapan Jaebin membuat ia terdengar serius.

“Pikirkan apa yang akan dikatakan keluargamu jika anak mereka hamil oleh seorang pria lumpuh.”

“Shin Jaebin!!”. Suara Hyewa penuh getaran.

“Apa yang akan dikatakan orang diluar sana jika mereka tahu kau hamil di luar janji perkawinan dengan pria yang bahkan tidak bisa berdiri?”

“SHIN JAE BIN!!”.

“Kubilang gugurkan selagi umurnya masih satu bulan.” balas teriakan Jaebin dengan titihan airmata.

“Setidaknya ia masih sebesar jari kelingking, eonnie.” Hyewa menitikkan airmatanya, tak percaya sahabat terdekatnya mengatakan hal semustahil itu. Jika ini drama semua akan baik-baik saja, tapi… Ini hidupnya.

“Kau penderita bipolar eonnie, kau tidak akan sanggup menanggung ini. hiks.”

“Jadi maksudmu, hanya karena aku penderita bipolar aku tidak berhak menjadi ibu? hiks.”

Eonnie. hiks…” Jaebin tahu ia salah bicara, tapi memang hanya itu yang terbersit difikirannya.

“Hiks… Akhirnya kau mengakui itu. Kau mengakui aku memang berbeda denganmu. hiks.”

“Ini anakku, kau tidak berhak menentukan hidup matinya Shin Jaebin.” Hyewa pergi begitu saja meninggalkan kamar kost mereka. Jaebin menangis didalam kamar sementara Hyewa tak tahu entah kemana.

Ada yang berkata…

“Tuhan memang tak punya mata tapi ia maha melihat, jika memang begitu…. Apakah ia memasang penglihatannya dalam membenahi kehidupan hambanya? Jawabannya: tentu saja. Tetapi itu hanya berlaku untuk hambanya yang pandai bersyukur. Jika dirimu jauh dari itu, jangan harapkan apapun dari tuhanmu karena kau belum memberi apapun untuknya.”

-Shin Jae Bin-

————————— T B C ——————————

 

*nextnya nanti ya~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s