[Twoshots] From Jiho To Jiho (Part 1)

from-jiho

FROM: JIHO
TO: JIHO

{ a sequel of Love Confession” and “Love Letter?“}

Originally posted in OMGFI & Warm World

story by Atatakai-chan
poster by  Wafer Crush  @ Poster Channel

|| AU, slight!College-Lifeslight!Romance — Twoshot — ||

.

starring
OMG Jiho as Kim Jiho
and
Block B Zico as Woo Jiho

.

“Selamat atas kelulusanmu, Jiho.”

“E-eh?” Kedua mata Kim Jiho membulat. Di hadapannya berdiri sang seniornya dahulu, Woo Jiho, dengan sebuket bunga mawar merah.

Bisikan demi bisikan yang mulai terdengar semakin ramai tak dihiraukan oleh keduanya yang tengah berdiri berhadap-hadapan di depan gerbang pintu masuk Seoul Music High School.

“U-untukku?” Jiho menunjuk ke arah buket bunga yang dipegang sang senior dengan jari telunjuk kedua belah tangannya.

Jiho yang lebih tua tertawa, “tentu saja untukmu. Memangnya untuk siapa lagi?” Lelaki yang berpakaian rapi itu kemudian menyerahkan buket bunga yang berada dalam genggamannya pada sang adik kelas yang kini sudah selangkah lebih dekat dengan dunia perkuliahan.

“Terima kasih sunbae!” Kim Jiho tersenyum girang seraya dengan senang hati menerima buket bunga tersebut. Tak pernah terbayangkan dalam mimpinya bahwa ia akan menerima sebuah buket bunga dari sang senior idolanya pada hari kelulusan.

Entah sudah berapa lama waktu yang dihabiskan oleh keduanya untuk saling berdiri berhadapan di gerbang pintu masuk Seoul Music High School, memancing beberapa siswa lainnya yang berlalu-lalang untuk membicarakan mereka. Tetapi nampaknya mantan ketua dan sekertaris OSIS Seoul Music High School itu tidak mempedulikan pembicaraan yang terjadi di belakang keduanya.

“Errm… s-sunbae apa ada keperluan datang kembali ke sekolah?” Akhirnya Jiho yang lebih muda memulai pembicaraan, berharap sang senior memberikan jawaban yang memuaskan.

“Ah, tidak. Aku… Aku hanya kebetulan lewat saja, kok. Dan aku pun ingat hari ini adalah hari di mana acara kelulusan angkatanmu berlangsung maka dari itu aku memutuskan untuk mampir saja kemari.”

“Dengan pakaian serapi itu dan satu buket bunga mawar merah?” Entah dari mana, tiba-tiba saja Bae Yoobin berdiri di antara keduanya, memamerkan senyum kemenangan khas miliknya.

Kim Jiho memelototi sahabatnya itu, sebagai tanda bahwa ia merasa apa yang dilontarkan oleh Yoobin tidaklah pantas.

“Hahahaha. Kalian masih tetap bersahabat seperti dulu ya, lucu sekali.” Woo Jiho menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berujar.

“M-maafkan Yoobin sunbae. Dia—”

“Sudahlah, tidak apa-apa.” Jiho yang lebih tua memotong ucapan Jiho yang lebih muda sebelum tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi pada keduanya.

“Senang dapat kembali berjumpa denganmu, Kim Jiho.”

Kim Jiho hanya tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Perasaan yang sudah susah payah selama ini dipendamnya kembali muncul. Sedikit sulit baginya untuk menahan air mata yang sudah mulai menggenang di kedua pelupuk netranya.

“Hey, kau tidak apa-apa Jiho?” Yoobin langsung memegang erat kedua bahu sahabatnya sambil mengguncang-guncang pelan.

Otomatis, si laki-laki berambut pirang sang pemberi buket bunga, pun ikut mencemaskan sang penerima buket bunga. “M-maaf. Apa aku mengatakan sesuatu yang tidak seha—”

“Ah, ani, maafkan aku,” Jiho mengusap air matanya dengan sebelah tangan, “aku hanya merasa… aku merasa—” suaranya tercekat.

“Aku… Aku merasa sangat terharu, itu saja. Jiho sunbae, kau sudah membantuku selama ini dan rasanya aku sangat senang hari ini kau ada di sini— aku merasa sangat senang hari ini kau ada di sini untuk memberikanku ucapan selamat atas kelulusanku.” Jiho tersenyum ke arah Jiho yang satunya dan senyumannya itu di balas dengan sebuah senyuman juga.

“Kau ini. Ada-ada saja,” Woo Jiho merogoh saku celananya dan menarik keluar secarik sapu tangan berwarna merah muda. “Ini, sekalah air matamu.” Ujarnya seraya menyodorkan sapu tangan tersebut kepada Kim Jiho.

Kim Jiho masih sesenggukan ketika saputangan berwarna merah muda itu disekanya pada wajahnya sendiri. Tetapi, ia sudah semakin dewasa, dan ia tahu ia harus berhenti menangis kalau tidak, bisa-bisa baik Yoobin maupun Jiho yang satunya menyadari bahwa sebenarnya rasa haru bukanlah penyebab utama dari mengalir derasnya air mata dari kedua pelupuk matanya.

“Ah, sudah jam segini rupanya. Aku harus pergi. Daagh!” Lelaki berambut pirang itu melambai pada Jiho dan Yoobin sebelum melangkah pergi dengan berlari kecil. Meninggalkan saputangannya berada dalam pegangan Jiho.

“Tu— sunbae! Tunggu!” Jiho berteriak memanggil namun Woo Jiho sudah menghilang di tengah keramaian bubaran acara kelulusan Seoul Music High School.

Rambut panjang hitam Kim Jiho tertiup angin, menghalangi pandangannya untuk beberapa saat. Ia sedikit kesusahan menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya karena ia tidak bisa melepaskan baik buket bunga di genggaman tangan kirinya maupun saputangan merah muda yang dipegangnya menggunakan tangan kanan.

“Aduh, kamu ini! Tidak bisa melepaskan salah satu ya?” Yoobin berdecak sebelum bergerak membantu sahabatnya untuk menyingkirkan rambut dari wajahnya.

Sementara itu Jiho hanya terkekeh seraya berujar, “iya, aku tidak bisa melepaskan salah satu. Aku tidak bi—”

“Hey!” Yoobin langsung menepuk kedua pipi Jiho begitu wajah sahabatnya itu sudah tak terhalangi rambut. “Move onoke? Apa kau tidak lelah selalu mengharapkannya? Jangan sampai kau menyesal karena kau tidak menyadari adanya orang yang memerhatikanmu sementara kau sibuk memikirkannya.”

Jiho tersenyum kemudian mengangguk walaupun sebenarnya jauh di dalam hati ia tidak setuju —sulit sekali baginya untuk berhenti memikirkan Woo Jiho karena lelaki itu adalah cinta pertamanya dan juga, kenangan yang ia ukir bersama sang senior ada terlalu banyak untuk bisa dilupakan dalam satu kali usaha.

“Percayalah padaku, di universitas akan lebih banyak laki-laki yang lebih keren dan tampan darinya!”

Jiho mencibir, “dasar. Padahal kau ‘kan salah satu anggota Woo Jiho’s army. Apa kau yakin kata hatimu tak bertentangan dengan mulutmu?” goda Jiho kemudian.

Yoobin terdiam untuk sejenak, memaksakan ekspresinya untuk tampak serius namun, beberapa senggolan dari Jiho berhasil membuatnya tertawa geli, “aku ‘kan hanya mencoba memotivasi dirimu, Jiho. Aku tidak tega melihatmu terus berharap pada harapan semu.”

.

x

.



.

x

.

Kim Jiho dan Bae Yoobin berjalan bersebelahan selama tour keliling universitas berlangsung dan keduanya mengakui kalau ternyata tour ini lebih membosankan dari yang mereka perkirakan. Sebisa mungkin kedua siswi lulusan Seoul Music High School itu menghadap ke arah lain ketika mereka menguap —tidak ingin menyinggung perasaan senior yang tengah membawa mereka dan beberapa orang lainnya melakukan touring.

Sesuai dengan jadwal yang diberikan, kegiatan touring berhenti tepat pada pukul duabelas lewat tigapuluh menit. Semua calon mahasiswa baru dari berbagai kelompok touring dikumpulkan di kantin untuk menyantap makan siang mereka.

“Mau kemana Jiho?” Yoobin yang sudah membuka kotak bekalnya keheranan melihat sahabatnya itu bukannya makan tetapi malah beranjak berdiri dari tempat duduk.

“Aku kebelet! Aku ke toilet dulu ya. Kau makan saja duluan.”

Yoobin tak diberi kesempatan untuk menjawab karena Jiho sudah berlari menjauhi kantin untuk menuju ke toilet terdekat.

.

.

.

Struktur bangunan universitas yang dapat dikatakan cukup berbelit-belit dengan lorong-lorong bak labirin membuat Jiho sedikit panik. Karena sangat terburu-buru untuk ke toilet, ia tidak menghapalkan arah jalan dari kantin menuju ke toilet sehingga saat ini ia tersesat di gedung yang ia yakini sebagai gedung rektorat.

Dengan lincah gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap ada setidaknya satu saja orang yang ia temui. Dalam hati ia terus berdoa walaupun sebenarnya ia tahu kemungkinan untuk bertemu dengan orang sangatlah kecil karena kegiatan belajar-mengajar di universitas belum berlangsung.

Dengan rasa kepercayaan diri yang semakin lama semakin memudar, Jiho terus melangkah ke mana kedua kakinya membawanya, berharap bahwa instingnya sebagai perempuan masih bekerja dengan baik —ada yang bilang ‘kan insting perempuan itu sangat tajam.

Langkah Jiho terhenti begitu menyadari bahwa lorong di hadapannya membawanya ke jalan buntu. Ia menghela napas seraya berbalik arah, berjalan menuju ke arah dari mana dirinya datang. Tiba-tiba saja, indera pendengarannya menangkap suara berdecit —seperti suara kursi yang digeser— dan suara itu berasal dari sebuah ruangan yang berada di sebelah kanannya.

Ruangan itu, kalau berdasarkan peta universitas yang dibagikan sebelum kegiatan touring berlangsung, adalah ruang aula yang sudah tak terpakai selama satu tahun belakangan karena sedang direnovasi namun, menurut senior pembawa touring, proses renovasi tidak dilanjutkan karena terjadi sebuah kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya salah satu mandor yang bekerja.

Kim Jiho menegak ludah. Ia yakin suara berdecit tadi berasal dari ruangan itu. Ia sebenarnya bisa saja langsung berlari menjauhi tempat itu namun ia sudah sangat putus asa sehingga ia berharap bahwa akan ada orang di sana yang menggeser kursi —seorang pegawai kebersihan misalnya.

Dengan jantung yang berdebar kencang dan tangan yang gemetar, Jiho perlahan mendorong pintu ruangan itu dari luar. Gema dari suara terbukanya pintu terdengar, cukup menandakan bahwa ruangan itu sebagian besar isinya sudah dipindahkan.

Debaran jantungnya semakin kencang ketika Jiho menyembulkan kepalanya untuk melihat ke dalam ruangan dan teriakannya pecah ketika dari balik celah pintu menyembul keluar kepala yang balik menatapnya.

“KKKKYYAAAAAAA!”

“ASTAGA! KAU MENGAGETKANKU!”

.

.

.

“Hahahaha! Kau pikir aku hantu?”

Jiho mengangguk-angguk. Ia masih terlalu lemas untuk berbicara, dan juga ditambah ia lelah secara fisik dan mental.

“Hahahaha. Maafkan aku. Aku juga sama kagetnya denganmu. Aku pikir aku akan tertangkap petugas keamanan di sini.”

Jiho menghela napas. Ia mencoba mengingat-ngingat segala detail kepergiannya dari kantin menuju ke toilet dan ia juga mencoba mencari penjelasan bagaimana ia bisa berakhir duduk di dalam aula yang sudah lama tak digunakan bersama-sama dengan orang yang sudah dikenalnya dari bangku sekolah menengah atas. Tak ada penjelasan yang masuk akal selain bahwa memang ia ditakdirkan untuk berada di sana.

“Kau tersesat?”

Jiho mengangguk, “iya. Aku tadi terlalu terburu-buru menuju ke toilet sehingga aku tidak menghapalkan arah dari kantin menuju ke toilet. Lalu, tiba-tiba saja aku tersesat di gedung rektor dan… yah, akhirnya di sinilah aku. Duduk di aula yang sudah lama tak digunakan setelah kau mengagetkanku.”

Lawan bicaranya tertawa kecil, “maaf. Aku tidak bermaksud mengagetkanmu, Jiho. Aku benar-benar tidak bermaksud.”

Jiho terdiam untuk beberapa saat kemudian ia tertawa, menyadari betapa lucunya ia menjadi sangat terkejut tadi ketika melihat kepala menyembul keluar dari balik celah pintu —ia menertawakan kebodohannya sendiri.

“Tidak apa-apa. Salahku sendiri yang terlalu mudah terkejut… err, sunbae…?”

“Ya?”

“Hah? Ah— bukan. Aku tadi bukannya sedang memanggilmu. Aku hanya—”

“Hahaha sama. Aku pun terbiasa seperti itu… Terbiasa dipanggil sunbae olehmu.”

Keadaan aula menjadi semakin mati ketika tak ada satu pun dari kedua Jiho itu yang berbicara. Keduanya duduk bersebelahan di deretan bangku panjang aula yang sedikit berdebu. Mulanya Jiho yang lebih tua lah yang mendongak ke atas ke arah atap ruangan, penasaran, akhirnya Jiho yang lebih muda mengikutinya hanya untuk melihat jendela berukuran raksasa yang terbuat dari batu warna-warni —membuatnya membayangkan bagaimana indahnya suasana aula ketika ada sinar matahari yang masuk ke dalam melalui jendela tersebut.

“Dulu aula ini sangatlah hidup. Hampir setiap harinya ada saja kegiatan yang dilakukan di sini, mulai dari resital musik sampai penampilan drama.” Akhirnya Woo Jiho berbicara.

“Sun— ah, maksudku Jiho-ssi, itukah alasanmu datang kemari? Untuk menghidupkan kembali kenangan yang kau miliki tentang tempat ini?”

Kim Jiho dapat mendengar suara tawa lawan bicaranya sehingga ia mengalihkan pandangannya dari kaca jendela pada sang lawan bicara yang nampak kehabisan napas karena tertawa.

“Kau terlalu memaksakan dirimu,” ujar Woo Jiho setelah menuntaskan tawanya, “kau boleh memanggilku sunbae seperti biasa ‘kok.”

Si perempuan Kim hanya bisa merunduk ketika ia merasakan sentuhan sang senior mendarat di kepalanya dan mulai mengacak-acak rambutnya secara perlahan.

“Dan, yah… Aku ke sini untuk bermain piano yang berada di sana untuk yang terakhir kalinya sebelum ruangan ini disegel.” Jari telunjuk Woo Jiho terarah pada sebuah piano di tengah-tengah ruangan yang ditutupi oleh kain berwarna putih.

.

.

.

Touring universitas berlanjut dan Yoobin dengan panik mencoba mencari Jiho di antara kerumunan group touringnya. Rasa panik yang dirasakannya semakin menjadi ketika ia menyadari bahwa sahabatnya tidaklah bersama mereka.

“… Jadi, berbeda dengan gedung yang satunya. Gedung yang ini—”

“KAK SENIOR!” Yoobin dengan lantang berteriak memanggil pemandu tourding, tak lupa ia mengangkat tangannya.

Sang pemandu touring mendelik dengan galak ke arah Yoobin namun gadis itu sama sekali tak memedulikan tatapan mematikan yang ditujukan padanya itu.

AKU HENDAK BERTANYA! TIDAK BISAKAH KAU JAWAB!?

“Sesi tanya jawab dilakukan pada akhir tou—”

“Hey! Ini urgent tahu!”

Bae Yoobin sudah menjadi sorotan utama bahkan ketika dirinya belum resmi menjadi mahasiswi universitas,

“Apa kau yakin kau sudah mengabsen secara teliti semua peserta touring setelah makan siang?”

“Apa kau meragukan kredibilitasku,” pemandu touring memicingkan matanya untuk memerhatikan nametag Yoobin, “… Bae Yoobin-ssi?”

“Dengan segala hormat, kak senior. Tapi—” Ucapan Yoobin terhenti ketika kedua indera penglihatannya dengan jelas melihat Jiho berlari keluar dari gedung rektorat bersama dengan seorang lelaki berambut pirang.

“Tapi?”

“…”

“Tapi apa Bae Yoobin-ssi?” Posisi berdiri sang pemandu touring tak memungkinkan sang pemandu touring untuk melihat apa yang dilihat oleh Yoobin sehingga ia tak memahami ekspresi tercengang yang terlukis di wajah gadis berambut pendek itu.

“… Tidak ada apa-apa. Lupakan saja dan maafkan aku.” Yoobin akhirnya menyahut setelah sosok Jiho dan lelaki berambut pirang itu lenyap dari jarak pandangnya.

.

x

.



.

x

.

Waktu per harinya yang dihabiskan untuk kegiatan belajar-mengajar di universitas memang tidak sebanyak ketika berada di sekolah menengah atas namun, tugas dan project yang diberikan benar-benar membuat para mahasiswa baru khususnya, merasa tertekan. Baik Jiho maupun Yoobin merasakan hal yang sama.

Beruntunglah keduanya dapat saling menyemangati satu sama lain sehingga tidak satupun di antara keduanya yang memutuskan untuk mengambil cuti kuliah di tahun ajaran kedua mereka.

“Nanti sore akan ada resital musik, kau mau lihat tidak?”

“Resital musik? Itu ‘kan kegiatan rutin setiap enam bulan sekali. Lagipula pasti sama membosankannya dengan resital musik sebelum-sebelumnya.”

“… Aku rasa ‘sih tidak begitu karena—” Ucapan Jiho terhenti bukan tanpa alasan. Ia ingat akan nasehat Yoobin ketika usai upacara kelulusan dulu. Ia ingat betapa Yoobin bersikeras menitahkannya untuk move on. Ia tidak mau sahabatnya itu merasa kecewa apabila bahwa ternyata sampai saat ini pun ia belum juga move on dari seorang Woo Jiho —bahkan lebih parah, setelah insiden tersesat pada saat touring, dirinya dan Jiho yang satunya kembali menjalin hubungan pertemanan seperti saat keduanya masih menuntut ilmu di Seoul Music High School.

“Karena apa?” Tanya Yoobin.

“Karena.. umm.. feelingku mengatakan akan ada penampilan ba—”

“Woo Jiho sunbaenim, ‘kan?”

Jiho menggigit bibir bawahnya, menandakan ia tengah dilanda rasa grogi.

“Hey, kita bersahabat ‘kan, Jiho? Kalau kau keberatan akan saranku untuk move on darinya tidak apa-apa ‘kok. Itu hanya sekedar saran dariku —sahabatmu yang tak kuat melihatmu terus berharap pada harapan semu. Sebagaimanapun aku bersikeras agar kau move on, aku juga tidak akan mengabaikan perasaanmu.” Yoobin menggengam erat kedua tangan Jiho dan menariknya ke atas meja.

“D—dari mana kau—”

“Aku melihatnya. Kau tentu ingat bukan sebelum kita resmi menjadi mahasiswi di sini kita melakukan touring yang dibina oleh para senior? Setelah makan siang usai kau belum juga kembali dari toilet dan yah, ketika itulah aku melihatnya —kau berlari keluar dari gedung rektorat bersama dengan seorang laki-laki. Awalnya aku tidak tahu ‘sih dia siapa tetapi, dari cara bagaimana kau tersenyum, aku tahu itu pasti dia.”

Jiho menatap Yoobin tak percaya. Kalau saja hari ini tidak ada, mungkin ia tidak akan menyadari betapa cocoknya sahabatnya itu untuk bekerja sebagai detektif atau agen rahasia yang dipekerjakan oleh pemerintah.

“Kau harusnya masuk jurusan psikologi, tahu.” Jiho tertawa kecil.

“Psikologi akan terlalu mudah untukku. Aku suka tantangan,” sahut Yoobin sebelum ia tertawa.

.

.

.

Kim Jiho, seorang siswi lulusan Seoul Music High School yang saat ini sedang menuntut ilmu di tingkat universitas, kini berjalan memasuki aula di gedung utama universitas tempat di mana resital musik akan segera dilaksanakan.

Tidak seperti resital-resital sebelumnya, kali ini aula tampak penuh sesak. Kalau dilihat sekilas sudah tidak ada lagi tempat duduk yang tersisa. Sebenarnya, Jiho tidak keberatan kalau harus menonton resital kali ini sambil berdiri hanya saja ia berpikir bahwa seharusnya apabila ia ditakdirkan untuk menonton resital kali ini maka setidaknya pasti ada satu saja tempat yang tersisa untuknya.

Terkadang permainan pikiran yang mengatas namakan takdir ini sering dialami oleh Jiho dan ia semakin memercayai hal tersebut setelah insiden di mana ia bertemu dengan Woo Jiho, sang cinta pertama, di aula gedung rektorat —tempat di mana ia tak seharusnya berada pada waktu itu sehingga ia memercayai kejadian tersebut sebagai sebuah takdir.

“Hey! Kim Jiho!”

Gadis berambut hitam panjang itu mencoba mencari pemanggilnya di antara ratusan orang yang memenuhi aula walaupun ia tahu suara siapa yang ia dengar.

“Di sini!”

Sebuah lambaian tangan dari deretan tempat duduk yang terletak di bagian depan mengisyaratkan padanya bahwa di sanalah sang pemanggil sehingga, tanpa menunggu lebih lama lagi, ia berjalan menembus keramaian untuk menuju ke bagian depan aula.

“Aku menyediakan tempat duduk ini untukmu.” Woo Jiho menepuk-nepuk space kosong di samping kanannya, mengisyaratkan pada Jiho yang lebih muda bahwa di situlah tempat di mana ia bisa menikmati resital dari awal hingga akhir.

“H—ha?”

“Terima kasih kembali, manis.”

Bukan hanya Kim Jiho saja yang tertegun begitu kalimat itu terlontar keluar, sang pelontar kalimat, Woo Jiho, pun tertegun. Keduanya langsung menatap ke arah yang berlawanan meskipun keduanya duduk bersebelahan.

“….”

“….”

Di tengah keramaian aula, keheningan yang terjadi di antara keduanya cukup mengganggu bagi gadis Kim itu. Padahal ketika berada di Seoul Music High School dulu, sebelum Jiho yang lebih tua mengetahui rasa sukanya, ia tak pernah bertingkah seperti ini setiap kali disebut manis dan, tentu saja yang menyebutnya manis pun tidak pernah bertingkah seperti ini setelahnya.

.

.

.

Ia tahu seharusnya ia tidak merasa gugup tetapi, ia tidak bisa menghilangkan rasa gugup yang dirasakannya ketika nama Woo Jiho dipanggil oleh pembawa acara dan lelaki itu menaiki unggakan panggung untuk duduk di hadapan piano milik universitas.

Bersamaan dengan para mahasiswa lain yang mengisi aula, ia ikut meramaikan suasana dengan bertepuk tangan, menyambut pementasan yang akan ditampilkan oleh lelaki berambut pirang yang sudah kurang lebih selama setengah jam bersebelahan dengannya dalam diam.

Suasana aula begitu tenang begitu suara dentangan piano terdengar. Tidak ada sebuah suarapun yang terdengar, semua tampaknya sangat menghayati pementasan kali ini. Jiho memejamkan kedua matanya untuk menikmati melodi musik klasik yang kini memenuhi aula sehingga ia tidak menyadari setiap kali si pemain piano memperhatikan ke arahnya sambil tersenyum.

—TO BE CONTINUED—

 

author’s note:

Setelah sekian lama hiatus dari dunia perfanfiksian,
kini aku kembali dengan fanfiksi bergenre old-school romance

Fanfiksi ini adalah sequel dari Love Confession yang sudah pernah aku posting
Semoga kalian menyukainya, ya!

Terima kasih saya ucapkan bagi Anda semua yang sudah
menyempatkan diri untuk membaca fanfiksi ini

With love,
Atatakai-chan

Advertisements

2 responses to “[Twoshots] From Jiho To Jiho (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s