[FICLET] Ayah Sehun

1480832806399.jpg

 

Hunn24 present || Ficlet || Oh Sehun [EXO], Oh Hanna [OC], Oh Sana [OC] || Family, comedy, romance, absurd || really-really need your review^^

Happy reading!

Ayah sayang banget sama kalian.

“Ayah jahat! Sana gak mau bicara sama Ayah!”

Gadis itu melempar tas ranselnya asal dan melangkah cepat menuju kamarnya. Yang mana membuat Sehun kelabakan.

Sehun menahan tangan gadis mungilnya itu. “Aduh, Sana. Tadi Ayah benar-benar lupa jemput kamu. Maafin Ayah, ya, sayang?” Sehun berucap. “Ayah beliin barbie baru, deh,” bujuk sang ayah.

Sana melepas genggaman tangan Sehun, menatap sang ayah marah. “Sana gak mau bicara sama Ayah!” teriaknya lagi, dan langsung berlari menuju kamarnya. Gadis kecil itu membanting pintu kamarnya, membuat Sehun meringis. Sehun baru sadar, selain mewarisi mata sipitnya, Sana juga mewarisi sifat Sehun yang suka membanting apa saja saat sedang emosi.

Oh Sehun, kini apa yang harus kau lakukan?

Oke, ini memang salah Sehun. Tapi tidak sepenuhnya salahnya juga. Gara-gara anak magang baru yang menjadi sekretarisnya sedang sakit dan tidak turun, Sehun jadi kewalahan di kantor. Apalagi ulah Kim Jongin dan Park Chanyeol yang menyembunyikan laptopnya membuat Sehun makin kewalahan. Sampai di rumah, Oh Sehun berniat memejamkan mata sebentar saja dan berangkat setengah jam lagi untuk menjemput Sana di tempat les. Dan Sehun malah ketiduran. Pria itu tertidur sampai pukul tiga sore dan kelabakan mengingat Sana menunggunya di tempat les.

Pria itu menghela nafas. Mempertemukan pantatnya dengan sofa di ruang tengah. Sehun memijit pangkal hidungnya, berharap saja ada lampu pijar menyala di atas kepalanya sebelum kemarahan putrinya semakin menjadi-jadi. Semua cara yang ada di pikirannya untuk membujuk sang putri yang merajuk seakan musnah. Otaknya buntu. Sesaat Sehun berpikir, dia lebih baik mengerjakan soal algoritma seperti saat kuliah dulu ketimbang membujuk seseorang seperti ini. Tapi tak apa lah, ini demi si buah hati kesayangannya dengan Hanna.

Ah, tunggu! Hanna!

Kenapa gak kepikiran dari tadi? Sehun merutuki dirinya sendiri.

Lantas Sehun langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Membuka kontak Hanna dan mengirimi istrinya itu pesan teks. Oh tidak, jangan pikir Sehun mau menelepon istrinya di saat Hanna bekerja. Selain ia tidak mau mendengarkan teriakan membahana Hanna, ia juga tidak mau menganggu kalau-kalau wanita itu sedang rapat penting. Sehun mengetikkan beberapa kalimat disana. Tak lupa Sehun mengirim wajah cemberut Sana sewaktu keduanya mampir di cafe sebentar untuk membeli minum.

 

screenshot_2016-12-08-12-16-24.png

screenshot_2016-12-08-12-16-35.png

screenshot_2016-12-08-12-16-38.png

 

Hanna benar-benar tidak ada harapan.

Sehun mendesah. Sedetik kemudian ia berpikir ingin menghubungi ibu nya di Busan, namun ia tidak mau kena omel, maka ia membatalkan niat itu. Sehun bangkit, beranjak menuju dapur. Kerongkongannya kering, dan ia butuh air dingin sekarang. Membujuk Sana benar-benar menguras energinya.

Hanna dan Sana, dua perempuan yang mampu membuat seorang Oh Sehun bertekuk lutut.

Sehun sedang asik dengan minumannya, dan tak menyadari bahwa ada seseorang yang kini menatapnya garang. “Ekhm,” seseorang itu berdehem.

“Astaga, Oh Hanna,” jantung Sehun serasa mau copot.

Hanna berdecak kasar. “Dimana dia?”

“Di kamarnya,” ujar Sehun. Pria itu masih tak percaya, kenapa istriny itu bisa ada di sini dalam sekejap mata? Wanita memang ajaib.

Hanna mendesah pasrah. Kalau boleh, ingin rasanya Hanna menjambak rambut hitam suaminya itu karena sukses membuatnya berlari maraton dari kantor ke rumah. Hanna tahu sekali bagaimana putrinya itu jika sedang marah, dan Hanna yakinkan kalian tak akan mau tahu. Hanna melepas mantel abu-abunya juga tas selempangnya. Perlahan ia mengetuk pintu kamar Sana.

Tok tok tok!

“Sana sayang, Mama masuk, ya,” tanpa menunggu jawaban Sana, wanita itu masuk perlahan.

Gadis kecilnya itu di sudut kamar. Duduk dengan kedua kaki di sila sambil menggambar-gambar sesuatu di atas kertas. Gerakan tangannya terlihat kasar, menunjukkan bahwa ia memang benar-benar sedang kesal. Hanna menghela nafas lega, bersyukur Sana tidak melakukan hal-hal aneh. Kedua tungkai Hanna mendekati sang putri, ikut duduk bersimpuh di sebelahnya.

Hanna mengelus rambut panjang sang anak. “Sana marah sama Ayah?” Hanna bertanya pelan, namun Sana membisu, sibuk menggambar. Hanna melirik sedikit ke arah kertas yang di pakai Sana untuk menggambar. Gambar dua orang wanita dengan tulisan di bawahnya, ‘Sana dan Mama’.

“Ini Mama?” Hanna menunjuk gambar wanita yang lebih besar berpakaian serba merah muda.

Sana hanya mengangguk.

“Ayah mana?”

“Sana marah sama Ayah. Sana gak mau gambar Ayah,” benar-benar tipikal seorang Oh Sehun jika marah. Kepala batu.

Hanna tersenyum. “Kenapa Sana marah sama Ayah?”

Yang di tanya malah membisu. Hanna menarik nafas, menarik tubuh sang putri agar mendekat dan di rengkuhnya tubuh mungil itu. “Mau kasih tahu Mama kenapa Sana kayak gini?” Hanna bertanya masih sambil memeluk putrinya. “Gak biasanya lho, kamu kayak gini, sayang,” tambah Hanna.

Dan Hanna cukup terkejut kala mendengar isakan kecil dari putri kecilnya. Lantas ia menarik kepala Hanna agar bisa langsung melihat sendiri air mata yang membasahi pipi gembul Sana. “Lho, kok, nangis sih, sayang?” Hanna bertanya dengan nada khawatir.

Hanna merengkuh lagi putrinya itu.

“Sudah-sudah, jangan nangis lagi,” Hanna menenangkan putrinya itu.

Masih terisak, Sana berucap. “Sana takut, Ma.”

“Takut apa, sayang?”

“Sana takut Ayah kenapa-napa.”

“Lho?” kedua alis Hanna bersatu.

Sana melepas rengkuhan ibunya, mengusap sedikit air mata di pelupuk matanya. “Doojoen pernah cerita, waktu itu ayahnya terlambat jemput juga,” Sana memulai ceritanya, “dan ternyata ayahnya kecelakaan waktu mau jemput dia. Doojoen di jemput sama kakaknya, abis itu dia langsung ke rumah sakit.”

Sana menangis lagi, lantas ia kembali memeluk Hanna. “Sana takut Ayah kecelakaan.”

Ya Tuhan, ingin rasanya Hanna juga ikut menangis. Hati anaknya begitu bersih dan suci. Ia merengkuh Sana lebih erat. Sesaat bersyukur pada Tuhan yang telah memberinya malaikat kecil yang sudah merubah hidupnya. Dan hari ini, Oh Sana kembali merubah pandangan hidupnya.

Tanpa keduanya sadari, Sehun sudah masuk ke kamar bernuansa merah muda itu. Sang kepala keluarga itu langsung memeluk dua wanitanya. Sana sedikit mendongak, menatap ayahnya.

“Maafin Sana, Ayah,” gadis itu masih terisak, dan segera merengkuh ayahnya juga.

Sehun tersenyum manis, mengecup puncak kepala Hanna dan Sana. Oh Sehun sangat bersyukur punya dua wanita hebat dalam hidupnya.

“Ayah sayang banget sama kalian.”

 

 

“Pagi, tuan puteriku.”

Sana tertawa geli mendengar godaan sang ayah. Sana tak pernah menyangka ayahnya yang tukang tidur iru akan bangun sepagi ini dan stand by di dapur dengan apron cokelat ibu nya. Sana hanya tersenyum geli melihatnya.

“Ayah bikin sarapan?” Sana bertanya. Sehun hanya mengangguk. “Memangnya bisa? Goreng telur dadar kemarin aja gosong,” Sana menggoda.

Detik berikutnya, tubuh mungil Sana di angkat Sehun hingga putri mungilnya itu duduk di salah satu counter dapur, di samping kompor di mana Sehun mencoba membakar roti. Sehun menyentil hidung Sana.

“Jangan salah, Ayah kan pernah ikut Master Chef dulu,” Sehun menyombongkan diri.

Sana memutar kedua bola matanya malas. “Dan langsung keluar di ronde pertama, kan?”

“Anak nakal.” Sehun menyubit dua pipi gembul Sana.

Di balik dapur, Hanna hanya tersenyum manis. Menyadari Tuhan telah memberinya anugerah paling besar. Dua manusia yang paling berharga buatnya.

Oh Sehun dan Oh Sana.

 

-Kkeut!

 Ga tau ini apa. wkwk 😀 lagi melamun eh tiba-tiba langsung dapat ide buat ff ini^^ mudahan pada suka yaa

Dan seperti biasanya, aku bener-bener butuh comment dan like dari kalian^^ gamsahamnidaaa.

[Bonus pic Ayah Sehun kesukaan aku. wkwk]

 

Manusia Abnormal

-Hunn24

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s