[CHAPTER] LOVESICK (Ep. 01)

LOVESICK

starring: Lee Taemin | Son Naeun | Kim Seokjin | Lee Byunghun | Chou Tzuyu

genre: slice of life | teenager | romance | sad | au

lenght: chaptered

storyline: geaarifin

poster: Xchee @poster channel 

**

review; Teaser 1 // Teaser 2 // Teaser 3 // Ep. 01

#1ㅡBoy Who Untouchable & The Roomate

**

Lee Taemin. Pemuda tampan itu mengenakan kupluk hoodienya ketika memasuki lobi Eculette Dormitory. Pintu asrama megah itu akan terbuka secara otomatis ketika seseorang berjarak sepuluh meter dengan pintu yang terbuat dari kaca tersebut. Sambil menyeret koper berwarna hitam menuju lift, Taemin berjalan dengan dagu yang sedikit terangkat. Orang lain yang melihat cara berjalan Taemin yang seperti itu mungkin akan mengira jika Taemin adalah pemuda angkuh. Biar saja, Taemin memang seperti itu. Ia tidak ingin ada seseorang yang mendekatinya.

Ting.

Pintu lift terbuka. Taemin melangkah dengan tungkai yang terasa berat. Ohh –ayolah, siapa yang tidak ingin libur semester segera berakhir? Taemin akan menyalahkan Kakaknya atas libur semester yang sangat pendek ini.

Taemin.L

Aku sudah di asrama. 

Pesan singkat itu telah terkirim pada sang Kakak –si pembuat liburan semesternnya berakhir– dan tidak butuh waktu lama untuk ia mendapatkan balasan.

Jinki.L

Bagus. 

Pastikan aku bisa melihatmu 

di upacara penyambutan besok.

Taemin mendesah pelan ketika ia memasukan kembali ponsel miliknya itu kedalam saku hoodienya.

“Tunggu!” Pintu lift hampir tertutup ketika seseorang berlari menuju lift. Sebenarnya Taemin ingin menutup pintu lift itu dengan segera, tapi sesuatu –yang membuat sebelah alisnya terangkat–menghentikan niat ‘usilnya’itu. Taemin mengendikkan dagunya seolah menuyuruh pria yang berlarian tadi untuk cepat masuk kedalam lift.

“Thanks.”

Taemin memang terlihat seperti seorang pemuda angkuh dan tak peduli pada lingkungannya, tapi sebenarnya ia bisa mengenali semua siswa di Eculette, meskipun ia tak menghafal setiap nama siswa. Dan pria yang berdiri di sampingnya adalah seorang yang belum pernah dilihat oleh Taemin.

“Joe.” Pemuda asing –bagi Taemin itu–mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri karena merasa terus ditatapi oleh Taemin. Pemuda itu memiliki tubuh lebih pendek dari Taemin, kedua matanya sipit –khas orang Korea, rambutnya dicat keabuan, dan sepertinya ia bukan pemuda sembarangan, bisa dilihat dari pakaian yang dipakainya. Untuk beberapa saat Taemin tertegun, si pemuda di sampingnya merasa risih dengan tatapan Taemin. “Sorry but, can’t you stop staring me like that? (Maaf tapi, bisa kah kau berhenti menatapku seperti itu?)

Taemin tersentak. Baru kali ini ada yang berkata dengan lantang padanya seperti itu. Beberapa saat ia memang memandangi Joe –si pemuda di sampingnya–karena Joe memiliki penampilan yang berbeda, Taemin bisa melihat kaos putih yang dipakai Joe adalah salah satu koleksi desainer terkenal dunia, Macbeth.

“Aku murid baru disini, semester akhir.. kelompok Apollo.”

Eculetian, batin Taemin. “Lee Taemin, panggil saja Taemin.” Taemin merasa tak masalah mengenalkan dirinya pada Joe, terlebih cara bicara pemuda itu tidak seperti siswa-siswa lainnya yang kebanyakan dari mereka memandang Taemin ‘luar biasa’ dan selalu memujinya. “Dimana kamarmu?”

Joe mengeluarkan sebuah map –yang berisi data diri pemuda itu- dalam tas ranselnya dan menunjukkannya pada Taemin. Pemuda berambut brunette itu membulatkan matanya kemudian memandang Joe dari atas sampai ke bawah. “Hey, aku tidak suka kau memandangku seperti itu, Taemin-ssi!

“Jangan berpikir macam-macam.” Taemin mengerutkan dahinya, meneliti kembali data diri Joe dalam sebuah map yang ada pada genggamannya kini. “Seolma… (mungkinkah…)

Ingatannya kembali pada pagi tadi saat ia masih berada di rumah dan sedang menikmati sarapannya. Ia teringat akan pesan Jinki, sebuah pesan –yang terdengar sebagai ancaman bagi Taemin.

“Nilai semestermu kemarin menurun, Lee Taemin.” Tegur Jinki saat melihat Adiknya itu tengah menenggak susunya. Seperti biasanya Taemin tak menghiraukan teguran sang Kakak. Pemuda itu kini sibuk dengan roti panggang dan selainya. “Aku sedang bicara padamu, Taemin.”

Lee Taemin mendesah pelan. “Tidak usah kuatir, Hyung. Nilaiku tetap akan jadi yang tertinggi. Aku selalu memegang prinsipku.”

Lee Jinki sangat percaya pada sang Adik, dan Taemin memang selalu membuktikan janjinya. Tapi teguran Jinki kali ini bukan masalah nilai Taemin yang turun –meskipun itu adalah salah satu alasannya–pria itu ingin sang Adik merubah sikapnya.

“Mungkin kau harus mendapatkan roommate, Taemin-ah. Agar nilaimu itu bisa stabil dan tidak turun setiap semesternya, kau butuh teman untuk diajak sharing.”

Taemin menghentikan aktifitas sarapannya. “Aku tidak butuh teman, Hyung. Seorang teman hanya akan membuatku repot dan tidak berkonsentrasi.”

“Terserah kau saja, aku hanya mengingatkanmu. Kau tahu aku bisa merubah sikap antisosialmu itu, arrachi? (mengerti?)”

**

Pintu lift terbuka ketika mereka telah sampai di lantai tiga, lantai teratas dari Eculette Dormitory. Lorong yang panjang menyambut mereka, di setiap sisinya terdapat pintu-pintu bercat coklat muda dengan nomor-nomor kamar dan nama-nama setiap siswa yang menempati kamar-kamar tersebut. Kedua netra Joe menunjukkan kekaguman dengan bangunan asrama tersebut. Semuanya berdesain mediterina, langit-langit berwarna biru langit dengan gambar-gambar dewa-dewa yunani terlukis disana.

“Taemin-ssi.” Joe menemukan kejanggalan, pemuda itu menemukan sesuatu yang menurutnya aneh saat ia melewati pintu-pintu kamar siswa. Disana terdapat handle pintu lengkap dengan lubang kunci pada setiap kamarnya. “..dimana letak kamar kita?”

Taemin menghentikan langkahnya sejenak. Rasanya ia tidak pernah menganggap dirinya ditambah dengan Joe akan menjadi kita. Taemin merasa canggung dengan kata ‘Kita’ yang diucapkan oleh pemuda yang berjalan di belakangnya itu. Tak mau dicurigai oleh Joe, maka Taemin kembali melangkahkan kakinya. “Keugo.. (itu..) ada di ujung lorong ini.”

Akhirnya mereka sampai di depan pintu dengan warna pintu yang berbeda dengan pintu kamar siswa lainnya. Pintu itu bercat putih gading dan disana tertera nomor kamar dengan angka 3030. Joe mengerutkan dahi, pemuda itu membuka denah yang diberikan oleh helpdesk. Matanya memicing untuk memastikan sesuatu, ia tidak mendapati nomor kamarnya di denah ini. Joe semakin tidak mengerti dengan situasi di Eculette, atau dia belum bisa mengenal situasi sekolah yang menjadi tempat kaburnya itu.

Raut wajah Joe yang menunjukkan rasa penasaran dan kebingungan itu membuat Taemin geli. Joe jelas seorang Eculetian (sebutan untuk pendatang baru di Eculette), pemuda itu harus banyak belajar dari Taemin. “Kau bisa bertanya padaku jika ada yang ingin kau tanyakan tentang asrama ini.” Ujar Taemin sambil mengerluarkan sebuah kartu dari dalam ranselnya dan menempelkan kartu tersebut pada panel yang terdapat pada pintu.

Panel tersebut menunjukkan warnah hijau dan pintu dengan cat berbeda itu terbuka dengan sendirinya. Joe mengerti sekarang, helpdesk di bawah memberinya denah dengan sebuah kartu yang sama dengan milik Taemin yang ternyata kartu tersebut adalah keycard –kunci pintu kamarnya.

Joe tidak mengira jika kamar yang akan ditempatinya selama satu tahun itu terasa begitu mewah. Tidak cukup dengan pintu kamarnya yang canggih, ternyata desain kamar itu terlihat sangat unik. Di rungan yang disebut kamar itu terdapat dua lantai, satu lantai memiliki tempat tidur dengan kasur yang berukuran medium size. Setiap lantai memiliki lemari dan beberapa lemari kabinet. Setelah itu ada meja belajar yang menggunakan kursi untuk tempat tidur yang ada di bawah, dan meja belajar tanpa kursi –seperti lesehan, di tempat tidur di atas.

Joe melihat ke arah kiri –dipaling pojok terdapat pintu kamar mandi. Di tengah ruangan ada tiga sofa; dengan dua sofa persegi dan satu sofa berbentu kotak berwarna navy yang di lengkapi dengan meja kaca yang berbentuk kotak lengkap dengan dua buah laci.

Dan ketika Joe melihat ke arah kanan, terdapat dua archades dan satu Xbox berukuran cukup besar kemudian disampingnya terdapat lemari pendingin dua pintu yang lebih tinggi darinya.

“Tidak akan masuk?”Joe mengerjapkan mata beberapakali, ia tertangkap basah oleh Taemin sedang mematung diambang pintu dengan penuh kekaguman. “Tempat tidurmu diatas.”Joe mengangguk kemudian menyeret dirinya untuk menaiki undakan tangga yang tak terlalu tinggi itu.

Joe merebahkan tubuhnya yang teramat lelah ke atas tempat tidur. Nyaman, pikir pemuda itu. Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, ia harus menghubungi seseorang.

Halo. Julie-ya. Kau sudah sampai? Aku baru saja tiba di kamarku.”

“…………”

“Beristirahatlah –eung. Love you.

Sorry, aku tidak bermaksud mengganggu waktumu dengan kekasihmu. Aku kemari hanya akan memberikan ini.”Joe merubah posisi tidurnya, kini ia mendudukan diri di atas tempat tidur karena tiba-tiba saja Taemin muncul dari bawah, pemuda itu memberikan selembar kertas pada Joe.

“Itu apa?”

Rules, Mr. Lee.

Joe meraih kertas tersebut. Keningnya berkerut ketika melihat isi dari kertas yang disebutkan oleh Taemin sebagai rangkaian aturan di kamar yang di tempatinya. Joe tertawa geli ketika melihat aturan yang mungkin dibuat oleh Taemin. Disana tertera ‘Kulkas harus dipenuhi setiap minggu. Dan poin –jangan saling pinjam alat mandi’ adalah hal yang membuat Joe menatap Taemin dengan aneh. “Yang benar saja, bukankah setiap pria melakukannya? Maksudku, saling pinjam alat mandi? Di sekolahku dulu –yang semuanya pria, kami saling meminjam apapun itu. Pft.

“Tidak denganku. Kau hanya berhak menggunakan Archades, Xbox dan kamar mandi –ohh, serta kulkas itu karena itu semua fasilitas disini. Tapi Jangan harap aku meminjamkan apapun milikku padamu.” Joe menahan tawanya, bahkan ketika Taemin kembali ke ranah kekuasaannya.

**

Senin pagi, di aula Eculette Academy.

Plok.

Plok.

Plok.

Riuh tepuk tangan dari semua siswa sekolah megah itu mengakhiri upacara penyambutan siswa baru dan semester baru pagi ini. Kepala sekolah telah selesai menyampaikan pidato dan turun dari podium. Beliau di sambut oleh wakil kepala sekolah yang sudah menunggunya.

Cukhae, Hyung. Siswa tahun ini bertambah, bukan?” Ujar sang rekan. Pria itu –sang kepala sekolah–menarik kedua sudut bibirnya ketika menerima ucapan selamat dari rekannya.

“Bagaimana Taemin?”

“Aku sudah mencarinya kesetiap barisan murid, Hyung. Tapi sepertinya dia tidak hadir.”

Lee Jinki. Pria bermata sipit itu menghela nafas panjang. Ia nampak kecewa. Kejadian seperti ini memang bukan pertama kali, bahkan selama bersekolah di Eculette, Taemin hanya menghadiri upacara penyambutan semester baru seperti ini hanya satu kali. Pasalnya tahun ini adalah tahun terakhir bagi Adiknya itu di Eculette. Sudah seharusnya ia menjadi contoh yang baik bagi juniornya.

“Perlukah aku mencarinya, Hyung?”

Jinki menggeleng. Ia sudah tahu sikap Taemin dan Jinki sendiri tak pernah tega jika memaksakan sesuatu pada sang Adik. “Sudahlah. Lagipula dia tidak mungkin bisa ditemukan.”

Pria itu menatap layar ponselnya yang gelap, ia berharap jika sang Adik menghubunginya pagi ini dan memberitahukan tentang keberadaannya. Namun nihil, Jinki kembali menghembuskan nafas berat. “Aku hanya menjalankan tugasku dengan sebaik mungkin. Seperti keinginan kedua almarhum orangtua ku. Apa ada yang salah dengan caraku menjaganya, Jong? Aku rasa semakin dia dewasa, dia akan semakin bersikap urakan.”

Kim Jonghyun –pria yang dipanggil Jong- olehnya itu menepuk pundaknya. Pria dengan mata huzel itu adalah sahabat karibnya yang sekarang menjabat sebagai wakil kepala sekolah Eculette. Bukan hanya karena sekedar kenal dengan keluarga Lee –pemilik EC Group- lantas ia mendapat posisi tertinggi kedua setelah Jinki, Jonghyun memang ingin bekerja disana karena dia adalah salah satu alumni Eculette Academy. Bahkan pria itu pun menanam saham pada EC Group yang kini dipegang oleh BoA Kwon, bibi dari Lee Jinki dan Lee Taemin.

“Jika semua ini tentang Taemin, aku rasa kau tidak terlalu memanjakannya, Hyung. Dia masih terlalu kecil saat kedua orangtua kalian meninggal. Kau sudah bekerja terlalu keras menjadi Kakak yang baik untuknya.” Jonghyun benar.

Jinki sudah berusaha sebisa dirinya untuk menjaga Taemin, bahkan selama ini Jinki sudah melindungi Taemin dari tangan yang akan berlaku jahat pada Taemin dan keluarganya. Menjadi ahli waris dari sebuah perusahaan besar adalah tanggung jawab yang besar pula, dan Jinki selalu menekankan hal itu pada Taemin. Jinki tak peduli pada resiko seperti apa yang akan didapatkan mereka berdua nantinya.

Hmm, Hyung. Aku harap kau menarik lagi ucapanmu mengenai Taemin yang berlaku urakan. Aku yakin jika sudah dewasa nanti, dia akan mengerti tentang tanggung jawabnya.” Jinki harus menyetujui ucapan Jonghyun, bagaimana pun Taemin adalah Adik kandungnya, sudah seharusnya ia percaya pada sang Adik.

Thanks, Jong.”

“Kau tahu, Hyung. Bisnis EC di China sangat menarik perhatian para investor. Bagaimana jika kita naikan harga pada property milik kita, uhm?

Jinki tertawa untuk menimpali penawaran Jonghyun. Pria yang menjadi sahabatnya itu memang berotak bisnis, tak heran jika dia menanam saham pada beberapa perusahaan selain pada EC Group. “Sebaiknya kau bicarakan mengenai bisnis dengan Boa Imo, bukan padaku.”

“Aku hanya bertanya, Hyung!

Arra.

“……”

“Jong-ah, bukankah Dahyun masuk di tahun pertama? Kau sudah menemuinya?”

“Kemarin aku mengantarnya ke asrama, dia sangat antusias masuk kemari, sayangnya dia memilih masuk ke kelompok Artemis, sungguh bertolak belakang dengaku.” Jonghyun mendesah pelan mengingat sang Adik. Pria itu berjalan disamping Jinki, mereka sedang menuju ruangan kerja kepala sekolah.

“Aku salut pada Adikmu, Jong. Dia memilih pilihannya sendiri di usia yang masih begitu belia.”

Jonghyun terkekeh pelan. “Setidaknya aku dapat menyimpulkan sesuatu, Hyung.” Jonghyun berdeham sebelum melanjutkan untuk bicara. “Keluargaku sepertinya ditakdirkan untuk bersekolah di ECUA. Hahaha..” Jinki menatap sahabatnya itu dengan tatapan heran, menunggu Jonghyun untuk melanjutkan ucapannya.

“..-Seriously, aku bahkan memiliki rencana untuk menyekolahkan anak-anakku kemari, Hyung.” Jonghyun mungkin berkata jujur, karena istri dari pria yang lebih muda satu tahun darinya itu tengah mengandung tujuh bulan. Dan Jonghyun sudah merencakan kemana anaknya akan disekolahkan. Bahkan seorang Kim Jonghyun menikah dengan istrinya yang notabene adalah alumni ECUA pula.

Jinki merasa geli mendengar ucapan Jonghyun. “Kalau begitu kita semua terperangkap di ECUA. Hahaha…” Kedua pria dewasa itu tertawa bersama, bahkan ketika mereka telah sampai di ruangan Jinki, keduanya masih saja tertawa, entah apa yang mereka tertawakan setelahnya.

**

Bel tanda waktu istirahat berbunyi dengan begitu lantang sampai seorang Lee Taemin terbangun dari tidurnya. Bibirnya sempat mengucap sumpah serapah pada bunyi bel tersebut sebelum ia benar-benar membuka kedua matanya. Beberapa saat Taemin butuh untuk mengumpulkan nyawanya. Dengan susah payah ia mendudukan diri di bangku panjang yang menjadi tempat tidurnya di atap sekolah.

“Tempat pelarianmu tidak pernah berubah, Taemin.” Seseorang muncul dari balik pintu tangga darurat. Taemin berdecak sebal, kenapa harus Kakaknya yang selalu menangkap aksi bolosnya itu? Lee Jinki mendudukan diri di samping Taemin. “Kim ssaem mengatakan padaku jika kau membolos pada pelajarannya pagi ini.” Jinki melirik Taemin yang masih mengacuhkan kedatangannya. “Untuk satu semester terakhirmu. Belajar lah untuk bersungguh-sungguh. Please, Nikky Lee.

Taemin tertegun untuk beberapa saat. Cara sang Kakak memanggilnya dengan nama kecilnya itu adalah hal yang tidak ia sukai, tapi Taemin tahu jika Jinki memanggilnya dengan nama itu maka seorang Lee Jinki sedang bersungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kau ingin aku bersungguh-sungguh, dan kau malah mengirim seorang Eculetian ke kamarku? Jangan bercanda, Hyung!” Pemuda itu tak lagi duduk di samping Jinki.

Jinki beranjak dari kursi panjang itu dan berdiri di belakang Taemin. “Kau harusnya mengerti, Taemin. Seorang investor terbesar di EC Group mengirim cucunya ke sekolah ini, jelas aku akan memberikan fasilitas yang sesuai dengan keinginannya. Yang kau harus ketahui, Taemin-ah. Aku sengaja menjadikannya roomatemu agar kau tidak satu kamar dengan Seokjin!” Sepertinya ucapan Jinki menarik perhatian Taemin, karena pemuda itu kini berbalik melihatnya.

“Seokjin. Kim Seokjin?”Jinki mengangguk mengiyakan. “Dia kembali?”

“Kim Ahjummauri ssae eomma, (ibu tiri kita,) mengirimnya kembali untuk bersekolah di ECUA. Kau mungkin tidak ingat Taemin. Tapi disaat pembacaan pembagian warisan oleh pengacara Choi, disana terdapat sebagian warisan milik Kim Ahjumma dan Seokjin. Mereka akan mendapatkan warisan itu ketika kalian berumur duapuluh tahun.”

Taemin mendekati Jinki, menatap lekat pada kedua mata pria itu. “Bagaimana denganmu, Hyung? Apa kau takut kehilangan semua harta warisan yang ditinggalkan kedua orangtua kita?”Jinki memalingkan wajahnya. “Aku tidak ingin bertemu dengan anak sialan itu, Hyung.

“Dia masih saudara kita, Taemin. Jaga ucapanmu.”

Taemin mengukir senyum sinisnya. “Aku tahu, Hyung. Kau dan aku sama-sama membenci keberadaan mereka di keluarga kita. Jangan lupakan saat kita melihat Eomma berlutut di hadapan Kim Ahjumma saat uri Eomma sedang sakit. Kau bahkan hampir membunuh Kim Seokjin, keutchi? (iyakan?)

Jinki menarik nafasnya dalam, sebisa mungkin ia menahan emosinya di depan Taemin. Pria itu mengusap wajahnya kasar. “Dengarkan aku, Taemin. Saat itu umurku masih terlalu muda. Kita harus mengerti, jadi Taemin-ah aku harap kau mulai belajar dewasa. Setidaknya bersikap biasa lah pada Seokjin sampai kalian lulus dari ECUA. Arrachi? (mengerti?)

Lee Jinki sempat terdiam, dia melirik jam tangannya. “Setelah ini kau ada kelas dengan Choi ssaem, bukan? Jangan sampai membolos lagi, Taemin-ah.” Pria itu kini telah hilang di balik pintu tangga darurat, meninggalkan Taemin yang masih berdiri di atap sekolah.

*

*

To be continue.


Hi.

sebelumnya aku mau minta maaf karena aku sedikit melakukan perubahan di jalan cerita -dari awal. Aku ngerombak semua jalan ceritanya, tapi dengan cast yang sama, dan cerita baru ini gak aku re-publish tapi aku edit di semua postingan LOVESICK yang kemarin. 

aku sadar kalo aku super labil, apalagi dalam hal membuat cerita. Tapi aku selalu belajar dari kesalahanku yang kemarin. aku harap kalian menyukai cerita yang aku buat.

regard.

geaarifin (iyagi91)

 

Advertisements

6 responses to “[CHAPTER] LOVESICK (Ep. 01)

  1. Pingback: [CHAPTER] Lovesick (Ep. 02) | FFindo·

  2. Pingback: [CHAPTER] Lovesick (Ep. 03) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s