[ONESHOOT] With Him

160528

source pic: FY! DO Kyungsoo

© Miss Candy | Do Kyungsoo, Kim Chahyun (You) | Friendship

| Sequel of Meet Him |

Do not copy! | also published: there 

Bukan. Bukan ini yang kauharapkan saat sampai di depan pintu rumah nenekmu. Rumah bergaya ala Korea jaman dulu dengan pintu geser yang legendaris dan juga berhalaman luas. Namun semua keindahan ornamen rumah nenek ternoda dengan wajah Dobi dan Kkamjong—mata mereka melotot—yang menyambutmu persis setelah mereka membuka pintu. Guratan keterkejutan dari mereka juga nampak jelas saat memandangi kalian dari ujung kepala sampai kaki.

“Teganya kalian nggak menjemputku di stasiun!” Kau menyembur. Tapi, ekspresi mereka tidak berubah. Kau tak paham sama sekali dengan mulut kedua sepupumu yang mulai menganga.

Sementara itu, anak lelaki di sebelahmu merasa kikuk akibat tatapan dari kedua sepupumu. Do Kyungsoo menggeser tubuhnya tepat di belakangmu, bersembunyi.

“Aku mau masuk. Kalian kenapa, sih? Bukan sambutan seperti ini yang kuminta. Ya, aku memang can—“

“NENEK, CEPAT KEMARI! Chahyun bawa anak laki-laki!” kalimatmu terpotong oleh suara lantang Dobi gila. Sementara Jongin alias Kkamjong mulai bergidik.

Alismu menyatu. Keheranan setengah mati, namun sesaat kemudian kau menyadari kalau Do Kyungsoo—di belakangmu—menatapmu ngeri.

Memang apa anehnya dengan membawa pulang teman baru berjenis kelamin laki-laki? Bukankah kau di sini juga akan bergaul dengan dua anak lelaki setengah sinting? Pikiran-pikiran itu berkelebatan dalam benakmu tanpa bisa dilontarkan karena nenekmu malah asyik mengobrol dengan Do Kyungsoo di ruang sebelah. Semacam diadili, mungkin. Tapi, kau sendiri tak yakin karena bisa mendengar suara nenekmu tertawa beberapa kali.

Nasibmu juga sama dengan Kyungsoo. Diadili oleh dua sepupu. Air mukamu sangat bosan setengah mati. Lima jam perjalanan kemari dan belum beristirahat, juga penyambutan yang tak bersahabat, membuatmu ingin pulang kembali ke kota.

“Jujur saja, Hyun-ie. Kamu pasti sengaja membawanya,” desak Chanyeol berulang-ulang.

Nggak, Dobi,” kukuhmu. “Ceritaku tadi asli.” Tapi, kau tidak menceritakan perihal kedua orang tua Kyungsoo.

Ah, wajah polosmu menipu!” dengus Jongin.

“Apa maksudmu?”

“Kamu tidak bertemu dengannya di kereta, tapi membawanya dari awal kemari. Tenang saja, aku nggak akan memberitahu paman. Kalau nenek sih mungkin,” goda Jongin.

“Terserah! Aku capek!” Kau nyaris berdiri, namun baik Chanyeol dan Jongin menarik kedua tanganmu untuk kembali duduk. Pantatmu kembali terhempas ke bantal duduk.

Chanyeol mendekatkan wajahnya, berbisik padamu, “dia kelihatannya anak orang kaya, Hyun-ie. Seleramu bagus juga.”

“Pastilah. Dia juga lebih tampan dari kita,” tambah Jongin dengan malas.

Jika menurut kalian para gadis-lah yang suka menggosip, maka kalian salah. Anak lelaki lebih menyebalkan bahkan terkadang lebih ekstrim.

Kau memutar bola matamu sebelum menjawab, “yah, aku sudah cukup puas bersama wajah-wajah seperti kalian ini. Bagus ‘kan kalau aku dapat yang lebih tampan. Dia juga imut, baik hati dan cool. Aku akan sangat senang sekali jika punya pacar seperti dia nantinya.” Kau tersenyum, ganti meledek kedua sepupumu yang kini memberengut. Namun, sedetik kemudian wajah-wajah kuyu itu hilang, Chanyeol dan Jongin nyengir lebar.

“Ada apa?” tanyamu. Merasa ada yang tidak beres dengan perubahan ekspresi keduanya.

Jongin berseru, “hei, tampan! Sepupuku baru saja menembakmu. Apa jawabanmu?”

Chanyeol tertawa keras.

Kau menoleh, mendapati sosok Do Kyungsoo yang terlihat dari celah pintu. Wajahnya memerah malu. Persis rupamu sekarang.

Sialan! Sepupuku edan!

Setelah istirahat dan mandi. Kau, nenek, kedua sepupumu, dan Kyungsoo makan malam bersama. Nenek memasak macam-macam makanan kesukaanmu. Ada kalbitang (short rib beef soup), tteokguk (rice cake soup), jogaetang (clam soup w/ vegetables), kimbab, kimchi chigae dan masih banyak lagi. Pantas saja setiap kembali dari berlibur di rumah nenek pipimu menjadi chubby. Begitu juga dengan kedua sepupu nakalmu.

Do Kyungsoo tampak takjub dengan semua sajian di atas meja makan. Ia mulai makan sedikit-sedikit. Benar-benar cowok sopan. Berbeda dengan kedua sepupumu, mereka sih mungkin sering makan di warung jadi ya begitu, kau memaklumi. Di pipi Chanyeol bahkan menempel sebutir nasi dari kimbab.

Kau melirik Do Kyungsoo yang tiba-tiba saja melirikmu. Ia mengenakan kaus milik Jongin. Dasar sepupumu memang nakal, Jongin meminjami Kyungsoo kaus bergambar Mickey Mouse. Cowok itu tersenyum gugup padamu dan kembali makan. Kau juga. Sementara Jongin meledekmu dengan gerakan mulutnya, kau hanya melotot. Tak ingin nenek mengomel di meja makan.

Kejadian tadi sore membuatmu tidak serta-merta memberikan kumpulan DVD-mu untuk Jongin. Dia wajib dihukum. Atau mungkin sebaiknya tak usah kauberikan. Biar dia tahu rasa!

Bagimu, kejadian sore tadi sangat memalukan. Kau langsung berlari ke kamar mandi setelah mempersilahkan Kyungsoo mengobrol dengan kedua sepupumu. Kyungsoo sendiri tak mengatakan apa-apa padamu sampai sekarang. Bukan berarti kau meminta jawaban. Lagipula itu keusilan Jongin, kau tidak benar-benar sungguhan menembak Kyungsoo.

Hanya saja kau takut kalau Kyungsoo salah paham. Bagaimana kalau dia menganggapmu cewek ABG labil yang aneh. Karena memikirkan itu, kau jadi sedih. Mengaduk-aduk kuah tteokguk-mu dengan lemah.

“Ayah dan Ibumu baik, Hyun-ie?” tanya nenek.

Kau menoleh sekilas dengan sendu, “baik, Nek,” jawabmu.

“Ada apa denganmu?” Nenek bertanya lagi.

Ketiga cowok di ruangan itu langsung menatapmu.

“Tidak apa-apa.” Tapi, jawabanmu bertolak belakang dengan wajahmu yang menatap tajam pada Dobi dan Kkamjong di hadapanmu.

“Apa?” tanya Jongin dan Chanyeol berbarengan.

“Kubilang tidak apa-apa!”

Jongin dengan mulut setengah penuh, berujar, “Nenek, tadi Hyun-ie bilang kalau dia mau Kyungsoo jadi pac—“

“DVD-nya tidak akan kuberikan! Selamanya!” potongmu sambil mengacungkan sumpit. Jongin mengkeret dan kembali diam. “Dan kau Dobi-dobi, akan kubongkar rahasiamu tentang majalah dew—“

“Hei, hei, hei. Aku nggak ikutan!” Chanyeol segera menyelamu sebelum kalimat ‘majalah dewasa’ selesai disebutkan.

Kyungsoo sedikit terbatuk.

“Mereka biasa bertengkar. Abaikan saja, Nak Kyungsoo,” nasihat nenek sambil mengelus lengan Kyungsoo.

“Y-ya, Nek. Saya mengerti,” jawab si cowok gugup. “Terima kasih atas jamuannya, sudah lama saya tidak makan bersama keluarga. Di sini menyenangkan.”

“Memangnya di mana keluargamu? Luar negeri?” tanya Chanyeol.

Suasana menjadi hening. Kau memberi lirikan maut pada Chanyeol sekarang. Sekilas mengerling pada Kyungsoo yang wajahnya berubah muram. Kedua sepupumu seakan paham jenis reaksi apa itu. Untuk mengubah suasana, nenek berdeham dan menyuruh semuanya menghabiskan makanan mereka. Beliau juga menyuruh Chanyeol dan Jongin mencuci piring setelahnya.

Kau bertemu pandang dengan Kyungsoo. Ia hanya tersenyum lemah.

Usai makan malam—yang tidak berakhir baik—kau mampir ke kamar Chanyeol dan Jongin dengan membawa beberapa DVD di tanganmu. Sebenarnya, kau ingin melihat Kyungsoo, mengecek apakah suasana hatinya sudah berubah baik. Mungkin kau akan menghiburnya sedikit, seperti di dalam kereta. Kau bisa memaklumi sikap Chanyeol di meja makan tadi. Merasa bersalah karena tak menceritakan detail tentang Kyungsoo kepada sepupumu itu.

Melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, kau langsung melewatinya tanpa permisi. Di dalam, Chanyeol dan Jongin sedang asyik memainkan sebuah game dengan—entah apa namanya benda itu, kau tak paham. Mereka merapat satu sama lain.

“Hei, kalian sedang apa? Benda apa itu?” tanyamu.

“Main game. Ini namanya PSP, “ jawab Chanyeol yang sepertinya sedang menunggu giliran setelah Jongin.

“Punya siapa itu?”

“Kyungsoo.”

Bibirmu mengerucut. Jadi DVD di dalam dekapanmu ini sudah tak berarti lagi di mata Jongin. Dikalahkan oleh benda mewah bawaan Kyungsoo. Kau meletakkan benda itu di kasur begitu saja. Menoleh ke seluruh penjuru kamar yang sudah digelari tiga kasur lantai.

“Lalu… mana Kyungsoo?” tanyamu lagi.

Masih dengan memunggungimu, Chanyeol menjawab, “dia keluar setelah bertanya di mana tempat korek api. Sepertinya mau—“

Korek api?!” Suaramu meninggi. Kedua sepupumu menoleh. Wajahmu sangat shock dan marah.

Chanyeol berusaha menjelaskan, namun Jongin kembali melanjutkan permainannya. “Dia mau—“

“Aku mengajaknya ke sini supaya dia bisa bergaul dengan kalian! Kenapa kalian malah asyik main game sendiri?!”

Jongin benar-benar menghentikan permainannya, kembali menoleh padamu. “Kau kenapa, Hyun-ie?”

“Orang tuanya meninggal karena kereta yang terbakar! Dia hampir bunuh diri! Kupikir kalian akan mengajaknya bermain bersama, tapi—“ Kau tidak bisa melanjutkan. Kengerian muncul dari benakmu. Apakah jangan-jangan Kyungsoo mau bunuh diri lagi gara-gara pertanyaan Chanyeol di meja makan. Kau langsung berbalik pergi—sebelum Chanyeol sempat ajukan pertanyaan lagi—tak mau mereka melihatmu hampir menangis.

K-kau kenapa?” Kyungsoo bertanya dengan mata membulat. Cowok itu berdiri di hadapanmu, mengamatimu khawatir. Kau sudah hampir menangis saat lari-lari mengitari seluruh bagian rumah nenek untuk mencari Kyungsoo. Saat memakai sepatu untuk mencari cowok itu di luar rumah, kau sempat terkejut dengan kepulan asap di samping rumah nenek. Bergegas ke sana, kau malah mendapati Kyungsoo bersama nenekmu sedang membakar…

.

.

.

.

.

.

.

ubi.

Iya, ubi manis.

Sempat cegukan beberapa kali karena menahan tangis, kau merasa malu. Kau memandang tumpukan ubi di sebuah piring di sebelah nenek yang masih membakar beberapa ubi.

“K-kau bakar u-ubi?” tanyamu.

“Hyun-ie, temanmu bilang ingin makan ubi. Kebetulan nenek baru memanennya kemarin. Kau bantu Kyungsoo, ya.” Nenek berjalan melewatimu sambil memegangi pinggangnya.

Sepeninggal nenek, kau langsung duduk di sebuah bangku kecil. Mengambil beberapa ubi mentah dan mulai membakarnya di atas api unggun. Merasa benar-benar bodoh sekaligus malu. Memalingkan wajahmu sebisa mungkin dari cowok di sebelahmu sekarang.

Kyungsoo ikut duduk di bangku lain di sebelahmu. Ia menyodokkan kayu ke bara api supaya membuat panasnya merata.

“Apa kau suka ubi?” tanyanya padamu. Karena masih malu, kau hanya mengangguk tanpa menoleh. Tak ada percakapan lagi sampai Kyungsoo mengangkat dua buah ubi dari bara api dengan penjepit. Kau yang lebih dulu buka suara.

“Kau masih lapar, ya?”

Do Kyungsoo tersenyum malu-malu. “I-iya. Waktu bantu Chanyeol cuci piring, nenekmu bilang habis panen ubi. Jadi aku, aku—“

“—minta ubi bakar pada nenekku.” Kau melanjutkan. “Yah, syukurlah… Kupikir… Maafkan pertanyaan Chanyeol tadi, ya?”

Do Kyungsoo kembali menatapmu. “Oh? Ah, itu… Tidak apa-apa. Mereka ‘kan belum tahu. Sepupumu baik kok.

Kau mengangkat bahu. “Yah, kadang menjengkelkan. Gara-gara game darimu, Jongin tak tertarik lagi dengan DVD-ku.”

“Hah? Oh, maaf, aku—“

“Tidak masalah.” Kau meyakinkan sambil ikut menyodokkan sebuah ranting ke bara api.

“Kau mau satu?” Tanya Kyungsoo menawarkan sebuah ubi yang sudah matang.

“Aku masih kenyang. Kau saja makan dulu—hey, ada noda hitam di pipimu.”

Cowok itu langsung mengelap wajahnya dengan tangan. Malah membuat seluruh pipinya jadi hitam. Saat ia menatapmu, kau menahan tawa.

“Jangan berkaca, langsung cuci muka dulu saja. Hahaha~

“Apa maksudmu?”

“Wajahmu penuh abu!” Kau kembali tertawa. Paras hitam dan mata bulat Kyungsoo membuat cowok itu terlihat bak dakocan.

“Sungguh?”

“Ya, ada di sini, di sini dan di sini.” Kau spontan menyentuh kedua pipi Kyungsoo dan hidungnya. Cowok itu hanya terdiam kaku dan malu. Suasana jadi canggung setelahnya. Kau bergegas mengambil piring berisi ubi matang dan berdiri.

“A-aku masuk dulu. Chanyeol dan Jongin mungkin mau makan ini juga.”

“Tak usah dibawa masuk. Kita makan di sini saja.” Suara Chanyeol menginterupsimu. Ia berjalan ke tempat kalian berada diikuti Jongin. “Kenapa wajahmu, Sepupu?”

“Dia pasti sedang pedekate dengan Kyungsoo. Kita mengganggu, Yeol. Ayo, kembali saja ke kamar,” ujar Jongin.

Kau meletakkan piring dan langsung berlari ke arah Jongin dengan tangan penuh abu. Siap mengolesi mulut jahilnya dengan noda hitam. “Kemari kau, Kkamjong!

Esoknya, kau sedang menggosok gigi bersama Chanyeol. Sepupumu itu bercerita kalau semalam ia sudah minta maaf pada Kyungsoo. Kau menepuk bahunya saat mengatakan terima kasih. Acara makan ubi semalam menyenangkan. Kyungsoo tak terlalu menutup diri lagi. Ia sudah bisa mengobrol bebas dengan kedua sepupu. Meskipun, kau sendiri kadang tak paham apa yang mereka bicarakan. Obrolan para bujang, kata Jongin. Selama kau bisa melihat Kyungsoo tersenyum dan tidak memikirkan bunuh diri lagi, kau sudah senang. Hingga satu kalimat dari Chanyeol membuat gerakanmu saat berkumur terhenti.

“Dia akan pulang hari ini. Kami akan mengantarnya ke stasiun. Kamu mau ikut?”

Bisa-bisanya kau lupa kalau Kyungsoo hanya akan menginap sehari. Kau mengelap mulutmu dengan handuk. Menggeleng pelan. Chanyeol tahu persis ada apa dengan perubahan wajahmu, sepupunya yang paling muda.

“Jangan sedih. Kalian ‘kan bisa ketemu nanti di kota. Selama liburan ini, kamu milik kita berdua,” katanya bercanda sambil mengusak kepalamu. Anak lelaki itu keluar lebih dulu dari kamar mandi. Kau hanya memandang sedih pantulanmu di cermin.

Kau sudah memutuskan untuk tak ikut mengantar Kyungsoo. Karena penasaran, kau pergi ke kamar sepupumu untuk menemui Kyungsoo. Dia sedang berkemas.

“Hai… Mana sepupuku?” tanyamu basa-basi sambil duduk di atas kasur lantai yang belum dirapikan.

“Tadi keluar katanya mau membelikan snack. Oh, ya… Chanyeol memberiku kaus. Sepertinya agak kedodoran, ya,” candanya sambil menggulung ujung kaus hitam panjang dari Chanyeol.

Kau mendengus pelan. Kemarin Jongin memberinya kaus Mickey Mouse sekarang Chanyeol memberinya kaus kebesaran.

“Maafkan mereka,” ujarmu.

Nggak masalah. Kata Chanyeol ini kaus barunya. Aku suka kok—kau baik-baik saja?”

Sepertinya Kyungsoo sadar kalau wajahmu terlihat murung. Kau buru-buru menggeleng, “Ah, aku sedikit bermasalah dengan pencernaan gara-gara ubi semalam,” sambil memaksa senyum.

“Kau ikut mengantarku?” Tanya Kyungsoo penuh harap. Serius. Kau tidak bohong. Matanya terlihat berbinar.

Pelan-pelan, kau menggelengkan kepala. “Tidak… Perutku bermasalah. Eum, sayang sekali kau belum mengunjungi rumah pohon kami di dekat pantai,” tambahmu. Kau tidak akan mengatakan kalau kau akan bersedih saat melihat kereta membawa Kyungsoo pulang.

“Yah, benar.” Kyungsoo menunduk. “Aku ingin lebih lama di sini. Tapi, orang rumah pasti khawatir. Aku tak mau masuk daftar orang hilang. Hahaha,” candanya.

Melihat kau hanya mengangguk lesu, Kyungsoo menggeser tubuhnya mendakat padamu. “Kapan kau pulang? Mungkin aku bisa menjemputmu di sini.”

Demi apa! Memandang wajahnya sedekat ini membuat parasmu berubah warna bak kepiting rebus. Sedikit mundur ke belakang, kau menarik beberapa helai rambutmu ke belakang telinga. Merasa gugup.

Eum, kapan, ya… Mungkin dua hari sebelum liburan usai. K-kau tidak serius, ‘kan? Maksudku, kau akan naik kereta sendirian lagi… Terowongan itu, kau tidak takut?” Bodohnya kau malah mengingatkan masalah terowongan.

Kyungsoo seperti mengingat sesuatu dan berubah gelisah. Kau benar-benar bodoh! Sekarang, remaja itu mulai gemetar.

“Ma-maaf… Tapi, kau bisa pilih kompartemen yang sudah ada orangnya. Katakan saja kau takut duduk sendirian, pak kondektur pasti paham,” bujukmu. Bukan berarti kau sengaja mengatakan tentang terowongan supaya Kyungsoo urung pulang. Kau sungguh tidak sadar kata-katamu tadi akan membuat Kyungsoo ketakutan.

Dia menjadi diam seribu bahasa. Seperti memikirkan sesuatu. Kau benar-benar memaki dirimu sekarang. Bisa-bisanya kau mengingatkan Kyungsoo pada traumanya. Padahal, kau sudah susah payah menghiburnya dengan mengajaknya kemari.

Jongin dan Chanyeol muncul dari balik pintu dengan tangan menjinjing plastic berisi aneka snack. Kyungsoo masih diam saja, sementara kau memberi isyarat pada kedua sepupumu untuk duduk dan diam.

“Kenapa dia?” Tanya Jongin berbisik padamu.

Kau hanya menggeleng dan bertanya, “beli cokelat?” dan Chanyeol mengangguk.

Kalian bertiga hanya diam beberapa saat sambil mengamati Kyungsoo yang berpikir keras.

“K-kyungsoo, keretanya akan berangkat sejam lagi. Apa—“

 “Bisa pinjam teleponnya?” Tanya Kyungsoo padamu.

Eh?”

“Aku tidak jadi pulang hari ini. Tidak mau. Aku akan pulang bersamamu saja. Akan kukabari orang rumah supaya kemari membawakanku baju. Boleh, ‘kan?”

Chanyeol dan Jongin hanya melongo karena tak tahu apa yang terjadi di sini. Kau menoleh pada mereka. Ada rasa senang bercampur khawatir kalau-kalau kedua sepupumu tak mengizinkan. Tapi, wajah kedua sepupumu malah tersenyum lebar setelahnya.

“Dengan dua syarat,” ujar Chanyeol.

“Apa itu?” Kyungsoo kembali bertanya.

“Pertama, kami boleh memainkan PSP-mu.”

Jongin mengangguk-angguk dengan antusias di sampingmu. Sementara kau paham jenis negoisasi apa ini. Game dan benda aneh itu. Obrolan bujang.

“Kedua…” Chanyeol melirikmu sambil tersenyum jahil. Perasaanmu mulai tak enak. “…kau harus mau jadi pacar Chahyun kami.”

Apa?!” Kau langsung berdiri sementara Kyungsoo berkata, “setuju!

Menoleh pada Kyungsoo, kau bertanya dengan sedikit berteriak “Setuju apa?!”

“Kami sudah membicarakannya semalam. Kyungsoo juga menyukaimu, jadi kenapa tidak kami satukan saja?” ujar Jongin.

“Ini jebakan? Kau sudah berniat untuk tidak pulang?” tuntutmu pada Kyungsoo.

Anak lelaki itu menggeleng. “Ti-tidak. Aku memang akan pulang hari ini. Tapi, kau mengingatkanku dengan terowongan itu,” kemudian Kyungsoo menunduk. “Jongin benar, aku menyukaimu…” katanya pelan-pelan.

“Bukankah kami sepupu yang baik, Hyun-ie sayang…” Chanyeol menginterupsi sambil menepuk bahumu.

Kau malu setengah mati. Diusili kedua sepupu ditambah Kyungsoo yang sangat polos di sini membuatmu ingin menghilang dengan sekejap dari sana. Bertemu Kyungsoo memang keberuntunganmu. Bersamanya adalah anugerah bagimu, tapi kau tidak menyangka kalau kedua sepupu sintingmu ikut ambil bagian di sini. Kau yang salah karena membawa Kyungsoo kemari, maka kau harus menanggung rasa malu ini.

Di sela-sela tawa kedua sepupumu dan Kyungsoo yang malu-malu, kau langsung kabur menuju kamarmu… dengan tersipu. Hahaha~

Bagaimana kau menghadapi mereka nanti? Ah, masa bodoh.

-fin.


Notes:

  • Ah, ya… bagi yang belum tahu, aku fangirl dari Kyungsoo 😀
  • Terima kasih sudah membaca, maaf untuk typo yang terlewat,
  • See you~ ^^

Advertisements

4 responses to “[ONESHOOT] With Him

  1. JONGIN CHANYEOL KALIAN JADI SEPUPUKU AJA, AKU RELA KOK BENERAN AKU RELAAAAAAAAA. Kan kan aku bilang apa, interaksi mereka bertiga itu pasti bakalan hillarious dan ‘absurd’ dalam satu waktu. Kalo dipikir pikir, di akhir cerita yang jadi gugup malah Chahyun ya, bukannya Kyungsoo :v
    Jongin yang malang, ga pernah pegang PSP ya? Minta papi Suho sana loh xD
    Dan…dan…adegan bakar ubi itu mendebarkan sekaleeeh, untung bukan bunuh diri ya. Gaya bahasamu ga berubah /iyalah penulisnya sama/ /masuk terowongan sama kyungsoo/ . I mean, ini sudut pandang keberapa sih? Satu bukan? Enak bgt dibaca, serius. Aku biasanya suka pakai sudut pandang ke-3 dimana deskripsi jadi “senjata utama” ku. Tapi di fanfic kmu ini dialog dan deskripsinya seimbang! Thumbs up!
    Aku paling suka jongin chanyeol bilang ‘chahyun kami’ , mrka protect banget sama adek sepupunya ya. Aku juga punya dua sepupu cowok yg seumuran sama aku, dan mrka emang asik xD /ini curhat/ /oke abaikan/
    Sering sering bikin fic dengan sudut pandang begini ya, aku comfort bgt dan senyum2 sendiri sepanjang baca ini.
    Keep writing, kutunggu ffmu yang berikutnya!

    xoxo,
    Tina.

    • Halo (lagi) Tina… ah~ suka kalo ada yg komentar panjang begini (karena jujur aku juga bukan orang yang komennya bisa panjang ha~)

      Makasih udah baca, dan keep writing juga buat kamu 🙂

  2. akhirnya bisa baca sequelnya juga~
    Kekeke sepupunya cahyun kocak bgt usil juga 😁, ternyata mereka saling suka, dicomblangin kan jadinya sama jongin & chanyeol wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s