Way of Two Rings (chapter 24-a)

the-way-of-two-rings1

Title     : Way Of Two Rings

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, School Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

Cover by : Alkindi @Indo Fanfiction Art

 

***

Ariel berdiri di lantai dua bangunan sekolahnya dan menghadap ke arah barat, tepat ke arah dinding kaca yang menampilkan pemandangan di dekat sekolahnya pukul tiga sore hari itu. Musim semi sudah dekat, pikir Ariel. Tapi itu sama sekali tidak mengubah mood Ariel dan justru ia semakin menekuk wajahnya ketika ucapan Jungkook terus berputar-putar di kepalanya –apa Ariel benar-benar bisa melakukan semua itu? Maksudnya…memiliki cita-cita dan semacamnya.

Ariel pun menghembuskan napasnya dengan berat. Ia sebenarnya pernah punya keinginan –bukan sesuatu yang mirip dengan cita-cita sih. Karena jika melihat bagaimana cara teman-temannya menceritakan sebuah cita-cita, rasanya apa yang Ariel ingin lakukan sama sekali tidak cocok disebut dengan cita-cita ataupun impian.

Yeah…ini hanya benar-benar sebuah keinginan kecil, dan Ariel hampir melupakan semua itu jika saja tak ada satupun yang menyinggung soal keinginan Ariel dan semacamnya.

Ariel pun merogoh saku seragamnya, mungkin tidak apa-apa ia memikirkannya sekali lagi –soal apa yang ingin ia lakukan. Kemudian ia pun menekan dial-up nomor 4 dan menempelkan ponselnya ke telinga, “Ajussi…ajussi ingat soal drama yang kita tonton saat acara ulang tahun perusahaan Dad empat tahun lalu?…ya, drama yang itu. Ajussi masih ingat soal David Lafelt Tao?” telunjuk kanan Ariel pun menyentuh kaca di hadapannya, ia gugup,”Dia lulusan dari London Film School kan?…Ajussi, aku boleh minta tolong? Tapi jangan katakan pada siapapun. Ajussi bisa cari tahu persyaratan apa saja yang aku butuhkan agar bisa masuk ke LFS? Dan…tolong cari tahu juga, apa aku bisa masuk ke sana dengan spesifikasi yang kumiliki sekarang?” Ariel pun terdiam beberapa saat untuk mendengarkan jawaban manajer sang ayah yang ditugaskan ‘mengawasi’ Henry dan Ariel di Korea.

“Kalau begitu, Ajussi juga bisa tolong cari tahu mengenai FAMU? Kampus yang berada di Praha, Ceko…. Tolong cari tahu juga persyaratan agar bisa masuk ke sana dan apakah spesifikasiku mencukupi jika aku ingin masuk ke sana?…ya, tolong cari tahu FAMU bagian Film and TV School,” Ariel pun kembali menggerakkan jari telunjuknya di permukaan kaca sembari mendengarkan jawaban dari ajussi tersebut, “Oh ya, satu lagi…. Tolong cari tahu juga kampus yang menyediakan jurusan yang cocok dengan Luhan saat ini di London dan juga Praha…”

Setelah mendengarkan sedikit penjelasan tersebut, Ariel pun menutup sambungan dan memperhatikan matahari yang semakin menjauh ke arah barat –ya, mungkin tidak apa-apa kali ini ia membuat sedikit keinginan, dan mungkin tidak apa-apa ia sedikit berjuang setelah selama ini ia hanya perlu mencicipi kemudahan yang diberikan oleh orang tuanya. Toh, Luhan juga memintanya untuk kuliah, Luhan juga mungkin akan memberi izin dan takkan mempersulitnya. Semoga saja….

 

***

 

[Kau sudah pulang?]

Luhan pun menekan ikon panah untuk mengirim pesan tersebut pada Ariel. Ini sudah pukul tujuh, seharusnya Ariel sudah keluar dari kelas karena seingat Luhan anak itu bahkan tidak mengambil banyak jam tambahan pelajaran menjelang ujian. Gadis yang luar biasa bukan? Luhan saja yang tidak bisa dikategorikan murid cerdas semasa sekolah masih sempat mengkhawatirkan nilainya, tapi Ariel…. Ah, sudahlah. Anggap saja itu kelebihannya.

Luhan masih berjalan menuju ke arah parkiran ketika Ariel membalas pesannya.

[Aku baru saja keluar. Kenapa? Mau menjemputku? Sudah kukatakan aku bisa pulang sendiri…]

Luhan mendesis pelan dan berhenti sebentar untuk membalas pesan gadis itu.

[Jadi, aku boleh mengantar pulang Irene? Baiklah…. Hari ini Irene terlihat cantik sekali, pasti satu kampus akan menggigit jari karena melihat keserasian  kami berdua. Hahaha]

[Akan kupastikan password apartemen kita diubah sebelum kau pulang.]

Luhan tertawa keras setelah membaca balasan Ariel yang hanya berselang selama beberapa detik.

[Makanya, tunggu saja di sana. Sebelum pulang kita belanja kebutuhan kita ke supermarket. Dan kalau kau tidak mau, aku akan makan malam sendiri saja. Kau pasti sudah makan enak di kantin, iya kan?]

[Sialan! Aku tunggu di halte dekat sekolah. Awas saja kalau kau terlambat gara-gara mengantar perempuan lain!]

[Awas saja jika aku menemukan Jungkook Jungkook itu ada di dekatmu….]

[Heol…. Dia kan calon adik iparmu.]

[Bercandamu tidak lucu.]

[Aku tidak sedang bercanda. Aku juga bukan pelawak.]

Luhan baru saja akan membalas kembali pesan Ariel ketika suara Irene menggema di telinganya. Luhan sedang sangat fokus pada ponselnya –pada rasa kesalnya pada Ariel, dan ia sempat berpikir bahwa suara itu hanya ilusinya. Tapi tenyata Irene ternyata sedang berdiri di belakangnya, dan saat Luhan berbalik Irene tengah berjalan mendekat.

“Membalas pesan perempuan, ya?” canda Irene sambil tersenyum dengan lebar. Luhan tiba-tiba saja salah tingkah –ia tidak tertawa sangat keras sampai Irene berkata seperti itu, kan?

Luhan tidak menjawab dan justru mengalihkan pembicaraan, “Kau juga sudah pulang? Kupikir kau akan ikut acara club. Kulihat tadi kau masuk ke ruang club,”

“Ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengan anggota.

Luhan pun menjawab ‘oh’ seraya tersenyum dan mengusap lehernya –biasanya ia akan langsung mengajak Irene untuk pulang bersama. Tapi…kali ini, Luhan sama sekali tidak ingin membuat Ariel mengubah password apartemen yang mereka tempati.

“Irene, aku…ada  janji dengan seseorang, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampai…jumpa besok,”

Irene tidak pernah membuat ekspresi yang kurang mengenakkan –atau setidaknya Luhan tidak pernah melihat Irene perlu menunjukkan eskpresi sepeti itu. Irene tetap tersenyum dan melambaikan tangannya, menunjukkan bahwa mungkin ia tidak apa-apa. Dan sayangnya, Luhan lah yang merasa bersalah di sini. Mungkin, seharusnya Luhan tida pernah terlalu baik pada Irene, sehingga ia juga tidak perlu merasa tidak enak terhadap Irene.

 

***

 

“Kau terlambat empat puluh lima menit, sayang….”

Luhan bergidig geli mendengar kata ‘sayang’ dari mulut Ariel. Sedekat apapun mereka, sebanyak apapunkencan yang mereka lakukan, bahkan seromantis apapun saat mereka berciuman, Ariel takkan pernah benar-benar memanggilnya dengan panggilan menggelikan semacam itu, bahkan Ariel dengan tegas menolak dipanggil dengan panggilan yang sejenis.

“Jalanan Seoul bukan punyaku, aku tidak bisa mencegah agar mobilku tidak terkena macet, sayang…” Luhan tidak bohong. Jalanan Seoul sangat macet dan sayangnya Luhan bukan putra presiden Korea Selatan sehingga tidak mudah baginya untuk membelah jalan dengan mobilnya.

Luhan pun keluar dari mobilnya dan mendekat ke arah Ariel yang masih duduk di bangku halte dengan gesture angkuhnya. Dia benar-benar cocok jika memerankan tokoh antagonis yang suka menyiksa protagonis, “Dan aku harus tetap menjemput tuan putri yang sangat mudah marah ini,” Luhan pun berjongkok dan melepas syalnya, lalu ia memakaikan syal berwarna merah miliknya itu pada leher Ariel, “Jadi, maafkan empat puluh lia menitku. Dan…sebenarnya aku ingin menciummu, tapi ini masih di sekolah dan aku tidak mau membuat stau sekolah geger karena Ariel Lau dicium oleh sepupunya sendiri,”

Ariel pun berdecih dan mencubit pipi Luhan, “Kau habis menonton film? Atau kau salah makan? Bicaramu benar-benar membuatku ingin muntah,”  Ariel pun menggoyang pipi Luhan.

Tapi Luhan tidak peduli. Entah ucapannya konyol ataupun terdengar sangat garing, yang terpenting saat ini Luhan bisa melihat Ariel tersenyum dan mereka bisa menghabiskan waktu bersama-sama, “Sekarang masuklah! Waktu main drama sudah habis dan aku sudah sangat lapar. Kau istri di rumah tapi kau sendiri tidak tahu jika perlengkapan rumah sudah habis…” Luhan pun mengulurkan tangannya ke arah Ariel dan menarik Ariel ke dalam mobil. Ini bukan malam minggu, dan tidak apa-apa kan jika Luhan mengajak Ariel berkencan? Toh biasanya Ariel juga tidak pernah belajar –maafkan aku ibu mertua.

 

***

 

“Bagaimana kau tahu jumlah beras yang kita butuhkan?” tanya Ariel bingung ketika Luhan mengambil satu karung beras dengan tulisan 15kg di luarnya. Seingatnya, Luhan juga bukan tipe laki-lak yang akan peduli dengan masalah dapur, tapi ternyata Luhan bisa tahu hal-hal yang bahkan tidak pernah Ariel pikirkan : jumlah beras yang dibutuhkan, daging yang layak dibeli dengan jumlah kilo yang cukup untuk berdua, bahkan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Ariel bahkan tidak tahu apa yang bisa dilakukannya pada benda-benda yang dibeli Luhan.

“Yak…jika kita tidak tahu, lantas nanti kita akan makan apa? Kita bukan tinggal bersama untuk sementara, tapi seterusnya, tentu saja kita harus tahu hal-hal seperti ini,” jelas Luhan sambil berjalan menyusuri rak makanan –kali ini rak minuman.

Ariel terus memerhatikan Luhan yang memperhatikan dan menimang-nimang tiap benda yang akan dibelinya, kali ini Luhan berjalan menuju rak yang berisi sabun, “Kau suka menggunakan merek apa?” tanya Luhan tanpa menoleh ke arah Ariel yang mendorong troli.

“Aku menggunakan sabun apa saja,” sahut Ariel acuh tak acuh yang membuat Luhan berjengit.

“Kau serius? Kau tidak suka sabun dengan aroma tertentu?”

“Apa bedanya? Menurutku aroma sabun sama saja. Lagipula aku memakai sabun bukan agar tubuhku dicium orang lain,” celetuk Ariel yang membuat Luhan terkesima –pemikiran konyol yang sangat luar biasa. Ya, Ariel memang gadis dengan pemikiran realistis –sangat realistis hingga membuat Luhan tidak habis pikir dengan itu semua.

Luhan pun akhirnya mengambil sabun dan shampoo yang ia sukai aromanya. Aroma yang ‘pantas’ untuk perempuan. Kemudian ia menyeret kakinya ke arah rak deterjen, meskipun jarang mencuci di rumah, tapi mereka punya mesin cuci dan Luhan pikir mereka harus mulai belajar mencuci pakaian mereka di rumah juga. Tidak mungkin kan selamanya mereka menyerahkan seluruh cucian mereka ke tempat laundry?

“Luhan…” rengek Ariel di belakang Luhan.

“Apa?”

“Kau tidak beli cemilan? Kau tahu kan aku suka lapar di tengah malam…”

“Perempuan biasanya menghindari makan malam untuk menjaga tubuh mereka.” Sahut Luhan tanpa melihat Ariel.

Ariel memanyunkan bibirnya, “Maksudmu Irene?”

“Aish…bisa tidak kau berhenti mengambil tema yang tidak kekanakan seperti itu? Kau ingin bertengkar denganku?”

Ariel tersenyum ketika Luhan menoleh dan menatapnya, “Aku ingin beli cemilan…”

Luhan pun mendengus, “Jangan terlalu banyak. Kau harus memulai hidup…” dan Ariel sama sekali tidak mendengarkannya dan langsung berlari ke arah rak cemilan, “…sehat.”

Ariel masih anak-anak. Luhan pun kembali berjalan sambil mendorong troli, Sehun boleh saja membandingkan Sohee dengan Ariel, dan Luhan juga akan membenarkan kenyataan bahwa Ariel memang sangat kekanakan. Tapi Luhan juga mengenal Sohee, dan itu bukan berarti Sohee lebih baik daripada Ariel. Sohee sudah hidup mandiri karena orang tuanya sudah bercerai semenjak dia duduk di bangku SMP, ia juga memutuskan tinggal sendiri karena ibunya telah menikah lagi.\

Dan Ariel? Luhan pikir, Ariel bukan kekanakan, dia memang masih kecil dan masih butuh banyak belajar. Bahkan, hampir setiap malam Luhan merasa bersalah pada Ariel karena telah membuat hidupnya berbeda dengan orang lain yang seusia dengannya. Ariel juga bukan tidak mandiri, dia hanya belum dewasa dan…dia hanya memiliki pola pikir yang dimiliki anak seusianya. Itu bukan kesalahan, kan?

 

***

 

“Kita tidak makan di restoran?” tanya Ariel ketika Luhan selesai memarkirkan mobilnya di tepi sungai Han yang tidak terlalu ramai. Ini sudah pukul sembilan malam, dan Luhan pikir mungkin tidak masalah membawa Ariel bepergian di jam ini.

“Kita harus belajar hemat dari sekarang, kau tidak lihat berapa banyak cemilan yang kau bawa, hmm?”

Ariel pun mendecih. Padahal, dulu saat mereka belum menikah, Luhan lah yang akan mengambil jumlah cemilan paling banyak. Dan sekarang lihat lah gayanya yang banyak mengatur ini –benar-benar menyebalkan.

“Naik kemari! Kita harus berkencan dengan cara yang berbeda,” Luhan pun mengulurkan tangannya ke arah Ariel. Ia pun menariknya dan mengangkat tubuh Ariel ke atas kap mobil.

“Kau meniru gaya di drama?” canda Ariel yang tidak digubris oleh Luhan, lelaki itu mengeluarkan dua cup mie siap saji dan menyodorkannya ke arah Ariel setelah matang.

“Kau selalu merebut chanel TV, aku juga jadi terpaksa menonton adegan-adegan picisan itu,” Luhan pun naik ke atas kap mobil dan duduk berhadapan dengan Ariel.

Seperti kucing kelaparan yang tengah menemukan ikan, selama beberapa menit Ariel dan Luhan begitu sibuk dengan makanan mereka tanpa suara sama sekali. Ariel sangat suka mie instan, meskipun terkesan tidak romantis, tapi Luhan cukup senang karena Ariel sepertinya menikmati mie di tengah suasana malam di tepi sungai Han.

Dan, setelah selesai makan, Ariel dan Luhan pun berbaring di atas kap mobil dngan tangan yang saling menggenggam. Luhan sering membawa mantan kekasihnya datang ke mari dulu –terutama ketika musim semi datang, biasanya mereka akan mendapati banyak kembang api diterbangkan secara beramai-ramai ke arah langit. Dan seluruh pasangan akan berkumpul dan saling memadu cinta mereka di sini. Tapi Luhan sama sekali tidak tahu, jika datang ke tempat ini di luar musim semi dan perayaan-perayaan tertentu, sama sekali takkan mengurangi kesan cantik dari tempat ini. Seperti bintang yang tengah ditunjuk oleh jari telunjuk Ariel, Luhan bahkan tidak yakin apa ia benar-benar pernah memerhatikan bintang berada di atas langit sebelumnya.

“Luhan, jika kau menjadi bintang, kau ingin jadi bintang apa?” Ariel yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba teringat soal puisi lamanya yang berjudul ‘bintang’. Puisi yang ia buat saat  ulang tahunnya yang ke tiga belas, hari dimana ia mendeklarasikan bahwa ia menyukai dunia sastra.

Luhan justru mendengus pelan mendengar pertanyaan Ariel yang agak kekanakan, “Aku lebih suka menjadi diriku sendiri saat ini. Aku tidak perlu menjadi bintang meskipun mereka terlihat indah,” Luhan menjawab dengan sangat realistis –bintang itu hanya kumpulan bola gas besar yang sewaktu-waktu bisa meledak. Luhan tidak perlu menjadi sesuatu yang seperti itu, kan?

Ariel mendesis pelan, Luhan tidak asyik. Tapi ia tidak mempermasalahkannya lebih jauh, Ariel sedang tidak ingin bertengkar dan moodnya sedang sangat bagus, “Aku ingin jadi bintang jatuh,” Ariel pun menyandarkan kepalanya ke pundak Luhan dengan jari telunjuk yang masih mengudara, “Karena orang-orang selalu membuat harapan ketika melihat bintang jatuh. Aku ingin menjadi sesuatu yang bisa menghidupkan harapan orang lain…” (aku pake omongan orang lain hehehe)

Luhan tersenyum kecil, “Kau sangat puitis. Kau tidak mencuri kalimat orang lain, kan?” tanya Luhan sambil menarik Ariel semakin merapat ke arah tubuhnya.

“Luhan…hari ini semua orang mulai meributkan mengeni spesifikasi untuk kuliah,” Ariel pun menggigit bibir bawahnya, “Aku pikir…aku juga akan pergi kuliah…”

“Itu bagus,” potong Luhan cepat, “Aku juga sudah mendaftarkanmu ke tempat lembaga bimbingan belajar. Kau harus lulus ujian nasional dan ujian SAT agar bisa mendapat bangku yang layak di jenjang universitas. Meskipun kau masuk ke universitas swasta, tapi kau harus bangga karena kau bisa kuliah, apalagi pendidikan di Korea adalah yang terbaik kedua di dunia. Kau tidak akan ke luar negeri, kan?” Luhan pun menarik pandangannya ke arah mata Ariel.

Ariel sedikit mengggigit bibir bawahnya, Luhan sepertinya tidak ingin Ariel ke luar negri. Ia pun memeluk tubuh Luhan dan kembali memandangi langit yang masih memaparkan bintang-bintang yang agak meredup termakan cahaya kota Seoul malam itu. Ariel memang naif, jangankan menjadi harapan untuk orang lain, bahkan harapan untuk dirinya sendiri pun ia masih tidak yakin….

“Memangnya kenapa jika aku pergi ke luar negeri? Korea kan bukan rumah asalku…” pancing Ariel. Ia penasaran dengan apa yang Luhan pikirkan mengenai ‘luar negeri’ –selain Korea. Luhan dibesarkan di Korea dan tentu saja dia akan merasa Korea adalah rumahnya, sedangkan Ariel tidak pernah benar-benar merasa ia memiliki rumah.

“Jadi, kau akan pergi ke luar negeri? Begitu?”

Ariel mengedikkan bahu dan kembali menatap Luhan, “Aku hanya ingin mendengar pendapatmu saja,”

Luhan pun mengalihkan pandangannya ke arah langit. Tidak ada alasan khusus, Luhan belum menyuarakan isi pikirannya. Ia sama sekali tidak punya alasan yang bagus untuk dikemukakan tentang ketidak inginannya Ariel pergi ke luar negeri –ke tempat yang mungkin tidak bisa Luhan jangkau. Meskipun terlihat bodoh dan konyol, tapi Ariel memiliki dunia yang lebih luas dari yang Luhan pikirkan. Luhan hanya berusaha menutup matanya saja karena Ariel pun selama ini selalu berkata bahwa ia ingin berada di Korea saja… “Aku tidak berpikir untuk meninggalkan Korea saat ini. Jika kau pergi ke luar negeri, lalu kita akan berjauhan, begitu?” Luhan kembali menatap mata Ariel.

“Kita bisa pergi kemanapun bersama…”

“Dan mengandalkan uang orang tuamu lagi?” potong Luhan cepat, “Aku tidak mau. Bahkan aku belum benar-benar bisa memegang tanggung jawabku, dan sekarang aku berpikir untuk memanfaatkan harta mertuaku? Heol…aku masih cukup tahu diri.” Tapi kemudian Luhan langsung memicingkan matanya curiga ke arah Ariel, pembahasan ini agak aneh, “Kau tidak benar-benar berpikir untuk pergi ke luar negeri, kan? Kau tidak mendaftar ke universitas selain di Korea kan?”

“T-tidak…aku bahkan belum menyerahkan angketku, kok…” Ariel kembali mendekatkan wajahnya ke arah tubuh Luhan. Ia tidak bohong, kan? Ia masih menyimpan angketnya dan…ia hanya baru mengumpulkan informasi mengenai kampus yang mungkin akan ia datangi. Tapi ia tidak mendaftar ke manapun, jadi Ariel tidak sedang berbohong, kan?

 

***

 

“Kau akan masuk ke sekolah film?!” suara Jungkook berhasil menarik perhatian penjaga perpustakaan dan membuat wanita berkacamata itu melotot ke arah meja mereka –Jungkook, Ariel, dan Chunji. Mereka berkumpul di perpustakaan saat istirahat, Ariel yang sedang mengerjakan tugas bahasa cina, Jungkook yang mengekori Ariel, dan Chunji sedang mencari buku kimia yang dibutuhkannya untuk ulangan. Tapi semua langsung terfokus pada potongan cerita Ariel : ia tidak ingin masuk ke sekolah musik, melainkan sekolah film.

“Kau ingin jadi sutradara?” tanya Jungkook lagi. Ia masih tak habis pikir bagaimana bisa Ariel yang sangat pandai dalam bidang musik ini tiba-tiba mengatakan ia tidak tertarik pada bidang musik.

Ariel menggeleng cepat, “Aku mengenal musik karena ibuku yang memperkenalkan musik padaku dan kakakku, tapi aku tidak benar-benar yakin tertarik dengan bidang musik…”

“Kau ingin jadi penulis naskah? Saat kelas satu dulu kau selalu mencatat sesuatu di buku tulismu, itu fiksi kan? Kau juga hampir mendaftar di ekstrakulikuler redaksi sekolah, kan? Tapi kau terlanjur masuk club musik…” kata Chunji menebak. Masih sangat segar di ingatannya, Ariel yang sangat pendiam itu selalu memojok di perpustakaan dan membaca novel atau membawa buku tulis dan menulis sesuatu yang Chunji yakini sama sekali tidak berhubungan dengan sekolah. Dan karena pernah sekali mengintip buku Ariel, ternyata itu adalah fiksi.

“Bagaimana kau bisa tahu?” ada nada tidak suka saat Jungkook mendengar ucapan Chunji barusan.

“Tentu saja aku tahu. Aku kan sudah kenal Ariel sejak kelas satu,”

“Heol…kau mau pamer?”

“Kenapa aku harus pamer padamu?”

Ariel pun menggigit bibir bawahnya dan sedikit memukul meja di depannya, “Jadi, ada solusi untukku?” Ariel pun mengalihkan pandangannya ke arah Chunji yang duduk berhadapan dengannya, “Tapi…kenapa kau tahu aku ingin jadi penulis naskah?”

Chunji pun melipat kedua tangannya di depan meja, “Karena aku bisa membaca pikiranmu yang tertulis besar-besar di keningmu,” canda Chunji sambil menunjuk kening Ariel –yang langsung ditepis Jungkook, “Suami dari sepupuku memiliki kelompok seni drama. Jika kau ingin pergi ke sekolah film yang cukup berkelas, kau juga harus punya sedikit pengalaman. Contohnya jika kau ingin masuk FAMU di Ceko…”

“Bagaimana bisa kau tahu Ariel ingin pergi ke Ceko?” tanya Jungkook lagi dnegan nada jengkel.

“Ariel pernah bilang dia suka Praha,” serang Chunji yang mulai muak dengan sikap Jungkook. Kemudian ia pun kembali fokus pada Ariel, “Jika kau mau, aku bisa meminta bantuannya agar kau bisa bergabung selama beberapa bulan di kelompok D-Art Label bagian drama. Bagaimana?”

“Tapi…aku sudah didaftarkan untuk mengikuti les, aku takkan punya waktu untuk bergabung dnegan kelompok semacam itu…”

“Pikirkan saja pelan-pelan,” Chunji pun menarik sudut bibirnya, “Jika kau benar-benar menginginkannya, kau pasti akan melakukannya. Kadang kita perlu mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi jika kau memang tidak mau juga tidak apa-apa. Kau hanya perlu mengatakannya padaku dan aku akan mengatakan pada sepupuku.” Ucap Chunji meyakinkan.

Ariel sangat sangat ingin pergi ke kelompok seni tersebut –ia yakin ia memang benar-benar membutuhkan pengalaman sebelum ia memutuskan untuk mengambil keinginannya. Tapi…jika ia mengambil kelompok tersebut –seperti yang dikatakan Chunji—artinya ia harus mengorbankan les-nya. Ia baru pulang sekolah pukul tujuh malam dan jika ia mengikuti les ia baru bisa pulang jam sepuluh, ia tidak akan punya waktu lagi.

“Chunji…bisa kau katakan pada sepupumu aku…ingin bergabung?”

Tapi ia juga butuh pengorbanan, kan? Ariel tidak yakin apakah ia bisa membagi waktunya atau tidak, tapi kali ini Ariel merasakan dorongan kuat untuk melakukan keinginannya. Ini pertama kalinya Ariel merasa ia punya sebuah tujuan dalam hidupnya, jadi tidak apa-apa kan kali ini ia mencoba memperjuangkannya meskipun hanya sedikit?

 

***

 

Ariel tidak pernah bermaksud membohongi Luhan –meskipun ia lebih sering membolos les dan memilih untuk pergi ke kelompok seni drama yang direkomendasikan Chunji tempo hari. Seperti hari ini, Ariel akhirnya kembali membolos les untuk yang ke lima belas kali semenjak namanya terdaftar sebagai salah satu anggota D-Art Label bagian drama. Menulis naskah, menonton drama, teater, membuat film pendek, bahkan Ariel sempat mengikuti Kim Jong Hyun –suami dari sepupu Chunji—untuk menonton drama musikal dan proses latihannya.

Menyenangkan. Ariel tidak tahu kata apa yang cocok untuk menggambarkan seluruh aktivitas barunya selama beberapa bulan ini, dan intinya Ariel menyukai seluruh aktivitas barunya : menjadi penulis naskah. Tapi yang ia rasakan selama menjalani semua aktivitas itu adalah menyenangkan, jadi ia pikir menggambarkannya dengan kata ‘menyenangkan’ sudah cukup sejauh ini.

“Kau hanya perlu sedikit lebih banyak latihan lagi, setelah itu aku akan membawamu pada proyek khusus pembuatan film pendek,”kata Jonghyun sambil mengecek tugas naskah Ariel minggu itu,”Dan kau akan menjadi penulis naskah utamanya.” Ucap Jonghyun lagi sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Ariel.

Ariel pun membulatkan matanya, “Aku? Oppa memilihku?”

Jonghyun menganggukkan kepalanya berulang kali, “Aku ingin kau menyelesaikannya sebelum liburan musim panasmu dimulai. Kita akan memproduksi film pendeknya pada awal musim gugur, jadi segala proses pembuatannya akan dilakukan selama kau liburan. Kau harus berusaha keras,”

Ariel pun menganggukkan kepalanya berulang kali. Tentu saja Ariel harus bekerja keras dan banyak latihan lagi, ia harus memiliki spesifikasi yang cukup agar impiannya pergi ke LFS bisa terwujud. Dan…untuk pertama kalinya, Ariel merasa ia bisa merasakan apa yang dimaksud dari kata ‘perjuangan’.

 

***

 

Musim panas sudah dimulai, dan sepertinya Ariel akan memiliki kesibukan lain selain memakan seluruh materi untuk persiapan ujian akhir sekolahnya. Membuat naskah untuk sebuah film pendek. Ariel tidak yakin kali ini Jonghyun ingin membuat tema apa dan plot seperti apa, selama ini dia selalu menekankan sesuatu yang berkesan dan bermakna. Itu sebabnya Ariel selalu pergi ke tempat ramai hanya untuk memerhatikan apa saja yang orang-orang lakukan, biasanya ia akan memiliki ide baru dengan hanya memerhatikan orang-orang di sekitarnya. Meskipun…akhirnya ia memutuskan untuk melepas club musik di semester terakhirnya kali ini.

Tapi, kali ini Ariel memilih untuk pergi ke restoran milik Luhan. Bukan untuk menemui Luhan –Luhan sama sekali tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada restoran itu dan justru meminta Haneul mengatur dan memberi laporan pada Luhan. Belakangan ini, entah mengapa Ariel tertarik dengan makanan, membuat makanan, memasak…. Dan setelah memohon pada Kang Haneul agar menyembunyikan fakta bahwa Ariel selalu pergi ke tempat itu untuk latihan memasak.

“Seharusnya Luhan sudah mencicipi masakanmu, rasanya sudah sangat membaik…” komentar Haneul yang berhasil memuat senyum Ariel mengembang lebar. Ariel benar-benar perlu mati-matian agar bisa membuat masakan yang layak dicicipi oleh lidah manusia –setidaknya itu yang dipikirkan oleh Ariel ketika ia melihat reaksi Haneul ketika pertama kali mencoba masakannya. Dan sialnya, justru anjing di sebelah malah dengan lahap memakan masakan yang membuat kerutan di dahi Haneul muncul.

“Benarkah?” sahut Ariel dengan nada ceria. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah masakan yang baru selesai ia buat. Yeah…ia mau membuat jarinya terluka, waktunya tersita, semua itu ia lakukan demi Luhan semata, “Kalau begitu, besok aku akan membuat makanan ini untuk Luhan di rumah…dia pasti terkejut.” Ariel pun menyangga dagu di atas tangannya. Ia bisa membayangkan bagaimana reaksi Luhan nanti….

Haneul pun tersenyum lebar dan mengacak rambut Ariel, “Tentu, dia harus bangga padamu…”

 

***

 

“Luhan…”

Luhan yang sedang memasukkan beberapa keperluannya untuk futsal hari ini terpaksa menghentikan gerakan tangannya dan menatap Ariel yang sedang melongokkan kepalanya dari balik pintu, “Ada apa?” tanya Luhan bingung –ekspresi Ariel terlampau ceria dan itu terlihat aneh. Luhan pun kembali memasukkan beberapa benda lainnya sebelum berjalan ke arah Ariel.

“Tada….!”

Selama beberapa detik, Luhan hanya menatap bingung juga terkejut ke arah benda yang baru saja diacungkan oleh Ariel dengan bangga : sebuah kotak bekal, hadiah pernikahan mereka yang didapat dari salah satu kerabat Luhan. Tapi…

“Kenapa kau memberikan ini padaku?” Luhan pun mengambil kotak bekal itu dengan mata yang sedikit memicing ke arah Ariel. Kotak bekalnya berat, Ariel…tidak sedang kerasukan sesuatu, kan? Tiap hari pasti Luhan yang akan menyiapkan sarapan, dan tiba-tiba saja Ariel bertingkah seperti ini rasanya cukup aneh.

“Tentu saja untuk dimakan, kau kira untuk apa?”

Luhan pun terngana sebelum akhirnya ia tertawa cukup keras. Jadi Ariel benar-benar membuatkan makanan untuknya? Pantas saja gadis itu sudah menghilang dari kamar sejak pagi-pagi buta, padahal biasanya harus Luhan lah yang menarik-narik kakinya agar Ariel cepat bangun.

“Kau harus menghabiskannya.”

“Aku tahu…”

“Jangan membuangnya, kecuali rasanya tidak enak…”

Ariel masih mengekori Luhan hingga ia berhenti di depan pintu dan berbalik ke arah Ariel, “Kenapa aku harus membuangnya? Ini buatanmu tentu saja aku akan memakannya,” Luhan tiba-tiba menyeringai kecil, “Aku akan memamerkannya pada Sehun. Sohee tidak bisa melakukan ini untuknya….”

“Sohee Eonni tidak bisa masak?”

Dan senyum Luhan langsung pudar dengan pertanyaan Ariel yang terdengar agak konyol. Tentu saja Sohee bisa masak, tapi mereka sedang LDR—ah, sudahlah, “Aku berangkat!” Luhan pun mengacak rambut Ariel dan menghilang di balik pintu.

 

***

 

Sebenarnya, Luhan berniat untuk memamerkan makanan buatan Ariel pada Sehun dan langsung bersembunyi dimanapun untuk mencicipi masakan Ariel –yang entah dibuat kapan—sndirian. Tapi, niatnya langsung pecah ketika Irene datang secar tiba-tiba ke lapang futsal dan menjadi malaikat karena dia membawa makanan untuk Luhan dan yang lainnya.

Luhan tidak bisa menolak untuk tidak makan bersama dengan teman-temannya. Sungguh. Ia tidak bermaksud untuk menomor satukan Irene hanya karena dia datang dengan makanan yang dibuatnya –dan Luhan tahu makanan buatan Irene salah satu yang terbaik. Akhirnya, Luhan pun terpaksa bergabung dengan Irene dengan niat mencicipi sedikit makanannya, lalu pergi dengan cepat : ia harus memakan masakan Ariel.

“Kau tidak ada janji kencan dengan siapapun, kan?”

Luhan tertawa sumbang mendnegar pertanyaan Sehun. Dasar gila, Luhan bahkan sudah pensiun berpacaran dengan gadis lain –dan si brengsek itu malah memancingnya dengan kalimat menyudutkan seperti barusan, “Aku benar-benar ada urusan,” ucap Luhan sembari pamit pada semua orang. Ia harus makan makanan dari Ariel sendirian. Ia ragu makanan buatan Ariel tidak cocok di lidah yang lain…jadi, ia pikir ia tidak bisa langsung membagi makanan itu pada teman-temannya.

Luhan yang kebetulan membawa mobil pun segera memakan bekal buatan Ariel di Minggu musim panas yang menyenangkan itu. Dan satu kata yang keluar dari pikirannya : masakannya enak. Luhan tidak yakin apakah gadis itu benar-benar membuatnya sendiri atau tidak, tapi ini benar-benar enak.

“Gadis itu sepertinya mulai tumbuh…” Luhan tersenyum kecil. Ia merasa…bangga? Senang?

Luhan pun langsung menstarter mobilnya dan segera meninggalkan tempat parkir.  Luhan pikir, ia perlu mengajak Ariel kencan di Minggu malam ini. Sebagai hadiah karena dia mulai bisa memasak.

Luhan masih merasakan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya…hingga di menit berikutnya Luhan merasakan mual di perutnya. Aneh. Padahal Luhan tidak memakan makanan aneh, Ariel juga tidak memasak masakan yang tidak aman. Ariel bahkan tahu apa yang ia suka dan apa yang tidak bisa ia makan…. Luhan mengernyitkan dahinya ketika mual itu berubah menjadi pusing di kepalanya.

Alergi Luhan kambuh.

Luhan pun mencoba merendahkan kecepatan untuk mencari tempat berhenti yang tepat. Ia masih mengendalikan stirnya ketika ia teringat masakan Irene –gadis itu tidak menambahkan sesuatu yang berkaitan dnegan ikan, kan? Luhan alergi ikan dan…yang terakhir Luhan ingat, adalah wajah Ariel ketika ia sadar bahwa ia baru saja kehilangan kendali mobilnya karena mobil lain dengan kecepatan tinggi baru saja menabrak mobilnya.

 

=tbc=

20161210 PM1040

Absurd? I know… but, aku pikir aku butuh 2 chapter lagi nyampe ending…hehe

Selamat winter dan akhir tahun : juga selamat buat Luhan yang sejauh ini udah dapet 3 penghargaan.

Advertisements

6 responses to “Way of Two Rings (chapter 24-a)

  1. Oh my god luhan kecelakaan
    Yaaah gimana dong
    Jangan jangan nanti luhan lupa ingatan lagi
    Pliis jgn pisahkan luhan sama ariel

  2. ya ampun kecelakaan terjadi?
    jangan pisahkan ariel dengan luhan yang sedang romantis2 nya *hiks
    dan aslinya ini mau udahan 2 chap lagi?

  3. itu pasti masukan irene? ngk mungkin kak ariel-istri yang ngk tahu dan disukai sama si suami-lu han? aku berharapnya lu han baik2 saja dan tak hilang ingatan pliss jangan buat lu han-ariel pisah, tapi buat lu han menyesal karna begitu pada ariel, ahh dan ku juga berharapnya chapter 24-b sesegera dipost yah nidh ^^

  4. what!!! luhan alergi ikan? masakannya siapa? ariel atau irene?? wuhhhh luhan kecelakaaan 😱 oh tidakkkk. ariel psti mrasa brsalah.
    dan apakah luhan rela melepas ariel buat kuliah diluar negri? aku harap luhan rela dan bisa LDR kyak sehun sma sohee. geundae irene pasti msuk jadi masalah nanti 😡 next chap eonni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s