HILANG

tumblr_niyhuzy2xm1qznmazo1_1280

HILANG
By: susanokw

“Ia ada, hanya tidak terlihat.”

****

Hari ini adalah hari yang basah, lagi.

Sudah menjadi sebuah kebiasaan bagiku untuk duduk di salah satu sudut temaram perpustakaan kota. Ah, tidak. Kebiasaan ini muncul semenjak aku bertemu dengannya. Dia yang membuatku sampai sekarang duduk disini, berdiam diri dengan buku dan secangkir kopi hitam yang pahit.

Aku tidak tahu mengapa ia bisa jadi begitu magis. Bahkan walau raganya sudah tidak lagi ada di hadapanku, aku masih bisa merasakannya duduk di seberangku. Dengan sketchbook dan pensil HB warna oranye yang selalu ia bawa kemana-mana, ia duduk di sana. Berdiam diri berjam-jam sambil mencoret-coret sesuatu yang tidak pernah boleh ku lirik barang sedetikpun.

Ia penuh rahasia.

Kalau ku hitung, ini adalah hari ke 1500 kami saling mengenal. Entahlah, mungkin memang itu daya magisnya yang membuatku bahkan menghitung hari semenjak kita berkenalan.

Laksamana Soka, namanya.

Bagaimana menurutmu? Terdengar seperti nama seorang kaisar dari zaman antah-berantah yang hebat, pemimpin rakyat yang bijak, dan dikagumi banyak orang, bukan? Ya. Awalnya aku juga berpikir demikian.

Namun kenyataannya tidak persis seperti itu. Ia orang yang sangat pendiam, tidak bicara kalau tidak ditanya. Penampilannya hampir selalu berantakan. Kemeja biru kotak-kotak lusuh yang dipadukan dengan jeans biru yang tak kalah lusuh pula. Sepatu converse hitam yang sudah dijahit pinggirnya, kaos kaki hitam pendek, dan tas ransel biru yang…., sudahlah. Kalau boleh berkata sarkastik, ia adalah mahasiswa paling lusuh yang pernah kutemui.

“Semester lima.” Kalimat pertama yang aku dengar darinya.

Soka –begitu aku memanggilnya –adalah mahasiswa seni rupa di salah satu universitas terkenal di kota ini. Kecintaannya pada menggambar yang membuatnya mati-matian berjuang untuk masuk ke jurusan itu, walaupun orangtuanya tidak terlalu setuju.

Aku tidak pernah melihat gambarnya, walaupun aku penasaran setengah mati apa yang ia gambar. Keningnya yang berkerut setiap kali ia duduk di hadapanku, menatap sketchbooknya, menggerakkan pensilnya kesana-kemari menandakan bahwa laki-laki ini sedang sangat serius dengan gambarnya. Tapi sekeras apapun aku bertanya tentang apa yang ia gambar, ia selalu menjawab,

“Bukan sebuah gambar yang bagus, kau tidak perlu melihatnya.”

Menyebalkan, bukan?

Hingga suatu hari, di malam yang basah, ia menunjukkan gambarnya padaku.

“Hari ini hujan berlangsung cukup lama, ya.” Ucapku malam itu, sambil menaruh satu gelas susu cokelat dihadapannya.

Catatan. Walaupun penampilannya lusuh, seperti mahasiswa tingkat akhir yang sedang dilanda stress karena dosen pembimbing memintanya mencari judul skripsi yang baru, pada kenyataannya ia tidak minum kopi seperti orang kebanyakan. Ia hanya minum susu cokelat dan air putih. Ia hanya merokok satu batang dalam satu hari, dan hanya pada hari tertentu yaitu Senin, Selasa, dan Kamis. Alasannya? Entahlah, ia tidak pernah menjawab jika ditanya.

Dia. Laksamana Soka.

Ia hanya mengangguk pelan, bahkan tidak melirikku sama sekali. Matanya menatap lurus ke arah sketchbook di hadapannya, dan pensil oranyenya bergerak-gerak lincah.

“Aku masih tidak boleh melihat apa yang sedang kau gambar, Soka?” Tanyaku, yang sedetik kemudian menyeruput kopi hitam yang masih panas.

“Tidak.” Jawabnya singkat.

Aku menghela napas pelan. “Kasihan yang nanti jadi kekasihmu, Soka. Setiap kali berkencan ia akan sangat merasa kesepian.”

“Kenapa?”

“Kalau kau mau tahu alasannya, lihat padaku dan aku akan memberikan cermin besar padamu, Soka.” Ujarku.

“Untuk apa?”

Lagi-lagi aku hanya menghela napas panjang. “Sudahlah, lanjutkan. Aku akan menunggu sampai selesai.”

Soka mengangguk tanpa mengucap satu katapun.

Mungkin kau akan bertanya mengapa aku, yang walaupun Soka tidak acuh sekalipun, masih mau bertahan duduk dihadapannya, menghabiskan waktu berjam-jam, menunggunya selesai menggambar. Aku pun tidak tahu. Ada sesuatu dalam diri Soka yang membuatku nyaman walau hanya duduk diam bersamanya.

Ia mungkin tidak banyak bicara. Tapi perlakuannya padaku menunjukkan semuanya. Ia yang selalu menungguku di depan gerbang kampus untuk pergi ke perpustakaan bersama, ia yang mengingatkanku untuk selalu membawa payung (walau kenyataannya tidak selalu kupakai), ia yang membantuku untuk mencari buku-buku referensi tugas sampai tengah malam, ia yang menemaniku terjaga sampai pukul 3 pagi di salah satu cafe 24 jam karena aku harus menyelesaikan tugas esay yang selalu datang walau kukutuk berkali-kali.

Dia. Laksamana Soka.

Aku tidak tahu apa maksudnya semua itu, tapi bukankah tidak ada salahnya jika salah satu diantara kami menyimpan rasa nyaman yang berlebih? Aku suka dia tidak banyak bicara. Sejauh yang aku tahu, ia hanya bicara padaku. Mungkin dengan teman laki-lakinya yang lain, atau mungkin juga dengan beberapa teman wanitanya di kampus. Tapi…, aku yakin tidak akan ada yang tahan dengan sikap dingin Soka.

Kau harus menyentuhnya lama kalau ingin membuatnya mencair, kendati kau akan merasa kedinginan.

Perpustakaan ini adalah tempat favorit kami. Favoritnya, maksudku. Aku tidak terlalu suka berkunjung ke perpustakaan, karena menurutku buku-buku yang disimpan di perpustakaan ini lama-kelamaan akan berdebu dan udaranya tidak baik untuk dihirup. Tapi Soka membawaku pada satu sudut yang begitu nyaman. Bahkan setelah hilangpun, aku tetap suka berada disini.

Ya. Soka hilang.

Malam itu, buku yang sedang kubaca berjudul “Hilang.” Dan tak kusangka judul buku tersebut akan mewakili semua yang terjadi kala itu. Aku sedang membaca halaman ke 145, ketika tiba-tiba Soka memanggilku.

“Linn.”

Aku mendongak menatapnya. “Ya?”

“Apa kau benar-benar ingin melihat gambarku?”

Mendengar itu, aku mengernyit. “Apa?”

“Aku tanya,” Ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. “Apa kau benar-benar ingin melihat gambarku?”

Aku sempat heran, namun senyum tipis melengkung begitu saja tanpa disadari. “Tentu saja.”

Ia menatapku selama 5 detik, kemudian menepuk sofa disebelahnya yang masih kosong. “Kemarilah.” Katanya.

Aku langsung bangkit dan duduk di sebelahnya. Malam itu adalah pertama kalinya, aku duduk di sebelah Soka.

“Aku tidak tahu mengapa kau selalu ingin melihat gambarku, Linn. Tapi.., berjanjilah kau tidak akan pernah mengejeknya atau menyebarluaskan bahwa ternyata seorang Laksamana Soka adalah mahasiswa seni rupa yang tidak pintar menggambar.” Pintanya dengan nada suara yang datar.

Aku tertawa kecil, lalu menggeleng pelan.

Ia menghela napas panjang, kemudian membuka sketchbooknya dari halaman pertama.

Gambar pertama dua orang anak laki-laki yang sedang main mobil-mobilan. Yang satu terlihat lebih besar, mungkin itu sang kakak.

“Ini aku dan adikku. Dulu waktu kami masih kecil, ayah membelikan dua mobil-mobilan. Yang satu warna biru, yang satu warna kuning. Aku suka sekali warna biru, jadi aku memilih mainan berwarna itu. Adikku mainannya kuning, karena ia masih kecil untungnya ia tidak terlalu mempermasalahkan itu.” Soka menjelaskan tentang makna dari gambarnya yang pertama.

“Itu sebabnya kemeja, jeans, dan tas ranselmu warnanya biru semua?” Aku iseng bertanya, sambil meliriknya dengan ujung mata.

Ia mengangkat kedua bahunya kikuk, sambil tersenyum kecil. “Begitulah.”

Malam itu ku akui, aku suka senyumnya.

Ia membuka halaman berikutnya. Gambar balon.

“Balon?” Tanyaku. “Kau suka balon?”

Ia menggeleng. “Adikku suka balon. Balon warna merah.”

Aku mengangguk pelan. “Dibelikan oleh Ayah?”

Ia mengangguk pelan. “Waktu itu adikku jalan-jalan bersama Ayah mencari pakan untuk burung peliharaannya. Tiba-tiba adikku melihat balon gas warna merah, dan ia langsung merengek minta dibelikan balon tersebut. Karena tidak mau malu, Ayah langsung membelikan balon tersebut. Adikku girang tak alang kepalang. Sampai rumah, balon itu ia ikatkan di tiang depan rumah dan ia pandangi terus-menerus.” Soka menjelaskan sambil memandangi gambarnya lekat, sesekali mengalihkan pandangannya padaku, 5 detik pandangan kita bertemu di udara, lalu ia menatap gambarnya kembali.

Entah mengapa, aku suka melihat Soka bercerita tentang gambarnya. Seolah roll film yang diputar ulang, dengan melihat gambar dan mendengarkan Soka bercerita membuatku bisa membayangkan seperti apa kejadiannya waktu itu.

Andai Soka bisa terus bercerita tentang semua gambar yang ia buat padaku.

Andai.

“Sepertinya adikmu suka warna merah, Soka. Bukan kuning.” Kataku.

Ia tertawa kecil. “Ya. Adikku suka warna merah, karena ia pemberani.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Soka menghela napas panjang. “Mau kulanjutkan?”

Aku mengangguk antusias. Di halaman berikutnya, terdapat gambar padang rumput yang luas, ditengah-tengah padang rumput tersebut ada sebuah pohon rindang. Di sekeliling pohon tersebut banyak tumbuh bunga dandelion. Beberapa dari mereka tertiup angin, kemudian berterbangan.

Gambar paling indah yang pernah aku lihat.

“Indah sekali, Soka. Apa judulnya?” Tanyaku ketika mendapati Soka tidak kunjung menjelaskan tentang gambar yang ketiga setelah 10 detik penuh.

Aku mengalihkan pandanganku untuk menatapnya, dan mendapati ia tengah menatapku nanar. Aku melihat raut kesedihan di wajahnya. Tatapannya tidak secerah biasanya, keningnya berkerut samar tapi bukan tanda serius.

“Soka?” Aku memanggilnya pelan. “Ada apa?”

Alih-alih menjawab, ia maju untuk memelukku. Bukan sebuah pelukan yang lama, hanya 7 detik. Setelah itu ia melepasnya perlahan.

“Maaf, Linn.”

Aku diam mematung, masih tetap memandanginya heran. Bukan, bukan karena bertanya-tanya mengapa ia tiba-tiba memelukku. Mungkin itu menjadi salah satu pertanyaanku, tapi yang utama bukan itu.

“Ada apa, Soka?”

Soka tidak menjawab. Ia menyeka air mata yang hampir menetes di sudut matanya pelan, memandang ke langit-langit untuk mencegah air matanya menetes.

Soka tidak menjawab.

“Soka..?”

“Linn.., maaf aku tidak bisa menjelaskan gambar yang ketiga. Aku belum mendapat judulnya.” Ujarnya dengan suara yang parau, menahan tangis.

“Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa. Tapi kau kanapa? Kenapa tiba-tiba–” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Soka memotongnya cepat.

“Maaf, Linn. Tiba-tiba saja aku teringat adikku.”

“Ada apa dengan adikmu, Soka?”

Ia menggeleng pelan, sambil menghela napas. “Tidak ada apa-apa, Linn. Sudah malam, kita harus pulang.”

Tanpa menunggu reaksiku, ia langsung menutup bukunya, memasukkan buku tersebut dan pensilnya ke dalam tas, lalu berdiri cepat.

“Kemasi barangmu, Linn. Aku akan mengantarmu sampai rumah.” Ujarnya, lalu melewatiku untuk keluar dari perpustakaan ini duluan.

.

.

Hujan di luar semakin deras. Perpustakaan ini semakin malam semakin ramai dikunjungi orang. Mereka-mereka yang sibuk mengerjakan tugas dari kampus, mencari referensi untuk membuat skripsi, atau hanya sekedar mencari ketenangan di malam yang basah masuk ke perpustakaan ini. Beruntung, perpustakaan ini buka 24 jam. Pemerintah kota kami memang sedang mencanangkan budaya rajin membaca untuk rakyatnya, oleh karena itu perpustakaan ini ditata sedemikian rupa supaya membuat orang-orang betah berlama-lama berada di antara rak-rak tinggi berisi buku. Tenggelam dalam pikiran dan jatuh cinta pada paragraf-paragraf dalam buku.

Soka membuatku jatuh cinta pada buku. Dan Soka pernah membuatku jatuh cinta padanya.

Ada kesamaan antara buku dan Soka. Keduanya sama-sama tidak banyak bicara. Menjadi teman yang menemani di kala hujan, menenangkan, memberikan rasa nyaman. Walau pada kenyataannya sekarang buku tetap disampingku, tapi Soka tidak.

Malam itu Soka mengantarku sampai rumah. Sepanjang perjalanan ia diam, seperti biasa. Jarak halte terakhir dengan rumahku cukup jauh, butuh waktu 15 menit berjalan kaki. Soka tidak berbicara sepatah katapun, dan aku juga tidak berani mengajaknya bicara. Ada berbagai pertanyaan yang bergelut di kepalaku tentang sikapnya yang tiba-tiba murung malam ini.

Ada apa dengan Soka?

Apa yang terjadi pada adiknya sehingga membuat Soka menjadi begitu murung?

Apa maksud dari pelukan tadi?

Apa…., maksud dari bisikan ‘I’ll miss you, always’ yang dikatakannya tadi?

Pertanyaan-pertanyaan sialan itu terus berputar di kepalaku, mereka menuntut jawaban. Tak peduli apakah nantinya jawaban itu jujur atau tidak, yang penting pertanyaan-pertanyaan tadi terjawab. Tapi sebelum aku sempat bertanya, kami sudah sampai di depan rumah.

“Selamat malam, Linn.” Ujar Soka, suaranya terdengar serak.

Aku menatapnya lekat. “Mau mampir dulu? Minum susu cokelat hangat?” Aku menawarkan minuman kesukaannya, siapa tahu dengan begitu ia mau bercerita.

Tapi yang kudapati bukan pernyataan ‘Ya’, melainkan hanya segaris senyum tipis yang tersungging di bibirnya dan gelengan kepalanya pelan. “Sudah larut, tidak baik ada laki-laki yang mampir ke rumah perempuan malam-malam. Aku harus pulang.”

Ia mengangkat tangan kanannya ke udara dan menggerakkannya kikuk. “Selamat malam, selamat istirahat, Linn.” Ujarnya, kemudian ia berbalik pergi.

“See you tomorrow, Soka. Good night.” Ujarku, membalas lambaian tangannya pelan.

Ia tidak menjawab. Punggungnya terus berjalan menjauh. Tubuh ringkihnya ditelan gelap, sampai ia benar-benar menghilang di ujung sana. Tidak terlihat lagi karena malam terlalu larut.

Soka pulang, yang esoknya ia tak pernah datang.

.

Seorang pelayan dari cafe di seberang perpustakaan mengantarkan pesanan kopiku yang kedua. Seoarang pelayan yang ku kenal sejak lama karena setiap aku memesan, ia yang selalu melayani.

“Ini kopi yang Anda pesan.” Ucapannya membuyarkan lamunanku tentang malam itu.

Aku menoleh padanya dan tersenyum tipis. “Terima kasih.” Aku menyerahkan sejumlah uang untuk membayar kopi tersebut padanya.

“Anda punya tato yang bagus.” Kata Jo, nama pelayan cafe itu.

“Ah, ini.” Aku menyentuh tato yang baru saja kubuat pagi ini. Posisinya di leher, sedikit dibawah telinga. “Menurutmu ini bagus?”

Jo mengangguk. “Kekasihku suka dengan bunga dandelion.” Ujarnya sambil tersenyum.

“Lalu kau sendiri?” Tanyaku padanya.

“Aku…,” Ucapan pelayan muda itu menggantung. “…suka apa saja yang disukai kekasihku.” Kata Jo yang sedetik kemudian ia tersipu malu.

Aku tertawa kecil. “Kau ini, lalu kalau kekasihmu suka pada film psikopat dan kau juga akan menyukainya?”

Aku mendapatinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk. “Tidak juga.”

“Terima kasih sudah mengantar kopinya. Seperti biasa, aku akan menghubungimu kalau aku akan meninggalkan tempat ini.”

Jo mengangguk sopan, lalu meminta izin untuk kembali ke cafe. Hujan yang berlangsung lama membuat cafe-cafe penuh dikunjungi orang untuk menghangatkan diri.

Aku baru saja menggambar tato di leher pagi ini. Gambarnya bunga dandelion yang tertiup angin dan berubah menjadi burung-burung yang terbang. Setelah malam itu, Soka tidak pernah kembali. Ponselnya tidak aktif, emailku tidak pernah mendapat jawaban. Rumahnya kosong, dan teman-teman kampusnya tidak ada yang tahu kemana perginya laki-laki itu.

Tato ini kubuat karena hari ini aku mengingatnya dengan sangat. Bunga dandelion yang tertiup angin selalu mengingatkanku padanya, pada gambar terakhir yang ia tunjukkan padaku. Pada senyumnya yang begitu hangat malam itu, pada tatapan matanya yang begitu teduh namun terlihat sedih, pada air mukanya yang terlihat murung, pada penampilannya yang serba biru namun urakan, pada kalimat bisikannya yang terus terngiang-ngiang di telingaku.

I’ll miss you, always

Aku akan merindukanmu, selalu.

Sehari dua hari setelah malam itu, aku berpikir mungkin ia sedang mengerjakan suatu proyek menggambar yang besar sehingga tidak bisa dihubungi. Mungkin ia akan kembali dalam tiga atau lima hari ke depan. Tapi setelah 10 hari berturut-turut tidak ada kabar, kukira aku mengerti apa maksud dari pelukan 7 detiknya dan bisikannya malam itu. Apa arti dari ia yang berbalik pergi tanpa menjawab kalimat ‘sampai jumpa besok’ yang aku ucapkan.

Karena esoknya kami tidak berjumpa.

Dan esoknya lagi, esoknya lagi, dan seterusnya sampai hari ini.

Sebesar apapun usahaku untuk mencari keberadaannya, ia tidak terlacak. Lelaki itu hilang, lenyap. Seolah malam benar-benar menelannya ke dalam lubang hitam yang tidak berujung. Apa lagi yang bisa aku lakukan setelah itu? Tidak ada.

Aku hanya bisa duduk disini, membaca buku berjudul ‘Hilang’ yang akhirnya ku beli dari perpustakaan ini sambil memelas-melas, dan kubaca berkali-kali. Sepanjang hari, sepanjang tahun. Seolah buku ini mewakili kehadiran Soka yang tak banyak bicara.

Soka membuatku jatuh cinta, begitupun dengan buku ini.

Kehilangan mungkin akan membuatmu merasa sakit. Tapi hilang bukan berarti tak ada. Mungkin ia ada, tetapi tidak terlihat. Ia nyata, tapi tidak tersentuh. Aku berusaha memahami apa yang ditulis dalam buku ini. Aku berusaha untuk memahami bahwa Soka pasti sedang menggambar di suatu tempat yang lain, mungkin ia sedang meminum segelas susu cokelat hangat, menemani adiknya yang belajar matematika dengan barang-barangnya yang serba merah. Aku berusaha memahami bahwa Soka nyata, dibelahan bumi yang tidak dapat kusentuh.

Tidak masalah jika Soka tak hadir dihadapanku saat ini. Tak masalah jika aku tidak bisa melihat penampilah lusuhnya malam ini, sungguh. Aku hanya perlu berbisik pada semesta, berharap angin dan hujan malam ini akan sampaikan padanya bahwa aku berharap ia baik-baik saja. Aku berharap bahwa mungkin, ketika ia sudah sangat rindu sudut temaram favoritnya ini, ia akan kembali pulang. Datang dengan langkah tersaruk, bahasa tubuh yang ringkih, dengan penampilan lusuh serba birunya. Dan mungkin ia akan datang malam hari, menemuiku di sini, minta dipesankan satu gelas susu cokelat panas.

Beberapa orang mungkin tidak mengerti, mengapa hampir setiap hari aku terlihat seolah membuang-buang waktu. Membaca buku yang sama, berulang kali tanpa bosan. Tapi aku tahu, hujan yang berlangsung lama, angin yang berhembus dingin, serta bunga dandelion yang basah bisa mengerti mengapa aku seperti ini. Seperti orang depresi yang hanya menatap kerumunan orang berlalu-lalang di depan perpustakaan, keluar masuk cafe, tertawa dengan kerabat dan orang terdekat. Entahlah, berdiam diri membuatku bisa merasakan kehadiran Soka. Walau nyatanya tidak ada.

Tato bunga dandelion yang kubuat pagi inipun karena Soka. Tato ini mewakili segala aroma tubuhnya, hangat peluknya, bisiknya, juga hilangnya. Terbangnya serpihan dandelion yang berubah menjadi burung menggambarkan hilangnya sosok Soka, terbang entah kemana. Pergi dari tempat asalnya dan tak pernah kembali lagi. Ini pertama kalinya aku menggambar tato. Perih memang, tapi tidak mengapa jika hasilnya begitu cantik untuk dilihat.

Sama seperti Soka, mengenalnya meninggalkan kenangan juga luka. Kenangan bahwa ia bisa membuatku jatuh sedalam-dalamnya, dan membuatku terluka seperih-perihnya. Aku tidak tahu mengapa walau berulang kali merasa perih, tak kunjung ku obati luka tersebut. Seolah aku yakin Soka akan kembali, berdiri di hadapanku dan menyembuhkan luka yang ia buat sendiri. Hari demi hari kutunggu itu, tetapi tidak kunjung tiba.

Aku menghela napas panjang.

Sudahlah. Akan ku biarkan waktu bekerja sebagaimana mestinya, berjalan dengan detak-detiknya yang begitu lambat. Biarkan rasa perihnya terus menusuk tubuh, rasa sepinya terus merasuk jauh, rasa dinginnya terus memeluk erat, dan aroma basah hujan yang terus-menerus terhirup. Jika waktu mengizinkan Soka kembali, aku akan menerimanya. Namun jika waktu berkata bahwa Soka tidak akan kembali…, aku merelakannya.

Kurelakan Soka di telan malam.

Kurelakan Soka hilang.

 

FIN.

Advertisements

5 responses to “HILANG

  1. Iniii … fanfic avatar? Haha, maaf kalau salah. Aku kurang familiar ama cast-nya 😂😂

    Nice story, btw. Dan menurutku ini juga udah tergolong well-written. Bahasanya bagus, puitis-puitis gitu menurutku, dan narasi plus deskripsinya juga oke.

    Sedikit koreksi:
    “Hari ini hujan berlangsung cukup lama, ya.” Ucapku malam itu… –> setahuku, kalau di akhir dialog dan di belakangnya pakai ucapku, ujarnya, jelasku, dsb, kalimatnya diakhiri sama koma, bukan titik. Kecuali kalau bentuknya kayak gini, “Hari ini hujan berlangsung cukup lama, ya.” Dia berucap malam itu. Cmiiw.
    Tanda “…” kalau mau dipakai di dalam kalimat ga boleh lebih dr 3, soalnya kelwbihannya itu kehitung tanda berhenti.
    Beterbangan, bukan berterbangan. Silakan cek kbbi.
    Msh ada bbrp penggunaan di- yang belum tepat guna. Tapi kalau yg ini sih aku yakin cuma karena lolos dari editan, bukan krn kamu ga tau.

    All in all, keep writing, ya…. Dan salam kenal 🙂

  2. Hi susan ^^
    tulisannya bagus loh, cara mendetailkan situasinya itu bagus bgt. Aku aja kalo nulis ga bisa sedetail yg kamu buat. T.T

    Awal baca juga sempat bingung, ini fanfics atau orifict, tpi setelah baca komentar mba di atas, oh ternyata ini fanfics avatar. Mungkin karena aku tahunya cuma oppa oppa aja, jdi karakter lain aku ga tahu. Hehe.

    Koreksinya hampir sama dengan mbak di atas, akhiran kalimat lgsg seperti ucapku, ujarku, katanya, pintanya, jelasku, dsb. Itu biasanya setelah kalimat diikuti tanda koma dan berawalan huruf kecil setelah koma. Juga pada kata, tanyanya, tanyaku, setelah tanda tanya biasanya dibiasanya berawalan huruf kecil. Misal, “ini harganya berapa?” tanyanya.

    Seperti kata mbak di atas juga, kamu harus perhatikan penggunaan kata depan di-

    Overall komennya sama dengan mbak di atas.
    Tambahan aja, kamu juga harus perhatikan penulisan partikel -pun, mana yg seharusnya di sambung dengan mana yg tidak di sambung.
    Dan juga, kalau pakai kata asing atau yg ga ada di kbbi, itu sebaiknya kamu cetak miring saja biar terlihat bertambah apik tulisannya.

    Maaf ya, komennya rempong banget. Pedahal ini yg komen aja tulisannya masih acak kadut. T.T
    aku cuma kepingin tulisan bagus kayak punya kamu jd tambah bagus kalo penulisannya juga diperhatikan. Seperti kata mbak di atas, itu bukannya karena kamu ga tahu, tpi karena emang lolos dari editan aja.
    Nah itu, saran tambahan, sebaiknya setelah menulis dibaca lagi dua tiga kali biar kelihatan mana yg salah tulis dan typonya. Hehe…

    Sekian dan terimakasi serta saya minta maaf.
    Salam kenal, Susan. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s