First Crush : Part 7

first-crush

Poster Credit Belong To @atatakai-chan from posterfanfictiondesign.wordpress.com,

Thanks alot untuk posternya. Keren banget dan aku suka banget!

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

Part 7

*Soe Hee POV*

“Wae? Kau tidak biasanya sediam ini..” Kataku pada Hoseok Oppa.

“Aku merasa Jimin berbohong padamu..” Katanya.

“Mbo? Chimin tidak mungkin berbohong. Dia sahabatku sejak kecil! Dan lagi untuk apa dia berbohong?!” Kataku.

“Karena dia mencintaimu dan ingin memilikimu. Ya kan?” Tanyanya balik. Aku tersentak, aku tidak percaya Hoseok Oppa akan berpikir seburuk ini terhadap Chimin.

“Sudahlah.” Katanya tibat-tiba, “Apa yang aku bicarakan barusan.. Lupakan saja..” Katanya. Aku hanya diam, aku tidak tau bagaimana, tapi kenapa apa yang dikatakan Hoseok Oppa juga mungkin bisa terjadi. Eish! Apa yang aku pikirkan? Bagaimana bisa aku meragukan sahabat baiku sendiri?! Dan aku malah lebih percaya pada Hoseok Oppa yang baru saja aku kenal 3 tahun terahir ini. Keep up your mind Soe Hee-ah!

 

“Hari ini kita tidak latihan?” Tanyaku ditelpon ketika Hoseok Oppa mengabari kalau dia tidak bisa.

“Miane. Aku benar-benar tidak bisa.” Katanya. Aku menghela nafasku.

“Araseo Oppa.” Jawabku lalu akan mengakhiri telpon itu ketika aku mendengar suara Hoseok Oppa.

“Sejak kapan kau memanggilku Oppa..” Katanya.

“Aku-” aku baru saja akan menyangkalnya ketika dia memotong omonganku.

“Jangan menyangkalnya. Panggil saja aku seperti itu. Aku menyukainya.” Katanya dengan serius. Aku terdiam. Dia serius.

“Aku tidak ingin kau salah paham. Aku-”

Bye my princess! Love you!” Katanya memotong omonganku dan langsung menutup sambungan itu.

“Aish.. Dia memang benar-benar..” Kataku mengeluh tentangnya. Aku merebahkan diriku di ranjang. Ketika aku cuti kerja malah tidak bisa latian dances. Kalau sudah seperti ini aku harus apa? Aku benar-benar pengangguran. Jam seginipun Chimin masih sibuk, dia janji nanti sore baru keluar denganku.

Aku melihat kalenderku. Hari ini tepat 3 tahun sejak aku keluar dari rumah sakit. Haruskah aku mencoba mengechek keadaanku? Aku merasa proses mengingatku sangat lambat.

 

“Nae, namaku Kim Soe Hee. 3 tahun yang lalu aku keluar dari rumah sakit ini setelah kecelakaan dan menderita amnesia sementara.” Kataku pada suster disana.

“Oh, nona Kim Soe Hee. Apa kau mau bertemu dengan dokter Kim?” Tanyanya. Aku mengangguk.

“Ada keluhan tertentu?” Tanya suster itu.

“Aku merasa proses mengingatku sangat lambat, dan aku ingin mengontrol kesehatanku.” Kataku. Dia mengangguk dan memberikanku nomor antrian.

“Silahkan menunggu disebelah sana.” Katanya menunjuk deretan tempat duduk didepan sebuah ruangan. Aku mengangguk dan duduk disana. Setelah 2 pasien terlewati namaku dipanggil dan aku masuk ke ruang dokter.

“Oh, Kim Soe Hee-ssi. Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana keadaan anda?” Tanya Dokter Kim yang langsung mengenaliku. Aku tersenyum.

“Aku baik-baik saja.” Kataku.

“Baiklah, disini kau bilang pemulihan ingatanmu ya yang lambat?” Tanyanya.

“Nae. Sudah 3 tahun dan aku masih mengingat sangat sedikit.” Kataku.

“Mmm.. Ingatan seperti ini diluar kendaliku nona Soe Hee. Aku tidak bisa melakukan apapun. Tapi, jika anda mau anda bisa memaksanya.” Kata dokter Kim.

“Memaksa?” Tanyaku.

“Sedikit memaksa mencoba untuk mengingat. Dengan cara datang ketempat-tempat yang pernah anda kunjungi, ataupun mencoba mengingat dari cerita orang-orang dimasa lalu anda. Ketika itu otak anda akan mencoba memprosesnya. Anda bisa memaksakannya, tapi jika terasa terlalu sakit anda harus berhenti.” Kata dokter Kim.

“Apa cara itu tidak masalah?” Tanyaku.

“Anda tetap harus tau dimana batas otak anda, jangan sampai anda pingsan karenanya itu juga tidak baik untuk perkembangan memori anda.” Kata dokter Kim.

“Sebenarnya saya memiliki beberapa memori anda, dari riwayat rumah sakit.” Kata Dokter Kim. Aku terkejut.

“Dari riwayat rumah sakit?” Tanyaku.

“Mmm, sebenarnya anda sering sekali mengunjungi rumah sakit kami.” Katanya. Dia membuka beberapa lemarinya mencari sesuatu. Dia mengeluarkan beberapa file. Ketika menaruhnya dimeja ternyata itu bukan sebuah file kesehatan itu kumpulan foto. Dokter Kim menata foto itu dimeja, dan aku mulai melihatnya satu persatu.

Aku melihat aku sedang dimeja registrasi berbincang dengan salah satu suster. Aku melihat aku sedang duduk dikursi antrian sambil berbincang dengan salah satu pasien. Aku melihat aku dan dokter Kim sedang berfoto dengan casualnya. Lalu aku melihat seluruh staff rumah sakit berfoto denganku. Aku tersenyum.

“Seakrab inikah aku dengan kalian?” Tanyaku. Dokter Kim tersenyum. Aku melihat ke fotoku lainnya dan senyumku memudar. Fotoku dan Hoseok Oppa. Dia dan aku sedang berfoto dengan seluruh staff rumah sakit. Di foto yang lain aku melihat aku dan Hoseok Oppa dirumah sakit berbincang dengan staff, dengan pasien, ataupun dengan dokter-dokter yang bekerja disana. Aku terhenti ketika aku menemukan fotoku dan Hoseok Oppa. Aku menyandarkan kepalaku dipundaknya sementara dia mengambil selca itu.

“Laki-laki ini..” Gumamku sambil menatap dokter Kim menginginkan penjelasan darinya.

“Apa kau mengingatnya?” Tanya dokter Kim. Seketika aku merasa ada yang tidak asing dengan foto-foto ini.

“Aku..” Aku tidak yakin dengan ingatanku.

“Kalian selalu datang bersama, dan kalian selalu memberikan banyak dukungan bagi pasien disini. Kalian sangat akrab dengan kami.” Katanya. Aku merasakan kepalaku sakit. Aku memejamkan mataku.

“Soe Hee-ssi?” Tanya dokter Kim. Aku merasa kepalaku mulai sakit, dan sakit yang teramat. Aku bisa melihat bayangan-bayangan orang dirumah sakit, dan aku bisa mendengar mereka. Dokter Kim memanggilku,

“Soe Hee-ssi! Cukup!” Katanya menyadarkanku.

“Aku mulai mengingatnya.” Kataku.

“Tapi rasa sakitnya semakin terasa ketika aku mulai mengingatnya.” Kataku.

“Itulah kenapa, kau harus tau batasannya. Kau harus berhati-hati untuk mengingat kembali memorimu.” Kata Dokter Kim, dan aku mengangguk.

 

Aku pulang dan membawa kembali foto selca ku dengan Hoseok Oppa. Aku sedekat ini dengan Hoseok Oppa? Aku meraih ponselku dan mengirim pesan pada Chimin kalau aku tidak bisa keluar nanti. Aku langsung mengambil jaketku dan menelpon temanku.

“Kau tau alamat Hoseok Oppa?” Tanyaku.

 

Aku berjalan menyusuri jalan yang diberitau temanku. Dia bilang Hoseok Oppa mengontrak sebuah kamar dijalanan ini. Aku mencari nomor rumahnya, seorang ajusshi sedang membersihkan halaman ketika aku sampai dirumah yang sesuai.

“Ajusshi, apa benar disini ada yang bernama Jung Hoseok?” Tanyaku. Dia mengangguk.

“Ah, Hoseok? Ya benar! Dia tinggal dikamar no 7 dilantai atas.” Katanya. Aku tersenyum,

“Bolehkah aku mengunjunginya?” Tanyaku. Dia tersenyum balik padaku,

“Tentu saja boleh. Ayo masuk!” Katanya mengajakku masuk.

“Apa kau pacarnya?” Tanyanya.

“Ah, bukan. Aku hanya teman baiknya.” Kataku. Dia tertawa.

“Aneh sekali pemuda sebaik dia masih saja belum punya pacar lagi.” Katanya.

“Ah, jinjjayo? Dia pernah punya pacar?” Tanyaku.

“Nae. Dia sudah tinggal disini lama sekali sekitar 5 tahun. Jadi aku tau. Sejak pertama kali pindah kesini dia selalu menceritakan tentang seorang gadis yang sangat dia sukai sejak kecil. Dia bilang mereka sudah bersama. Tapi sejak 3 tahun yang lalu dia bilang kekasihnya itu melupakannya. Aku tidak tau bagaimana cerita lengkapnya tapi dia bilang dia sudah tidak bersama dengan kekasihnya itu lagi, dan aku tidak ingin dia sedih ketika membahasnya.” Cerita ajusshi itu. Aku hanya mengangguk.

“Disini kamarnya.” Katanya. Aku tersenyum dan berterimakasih padanya sebelum dia pergi. Aku membunyikan bel kamarnya.

“Nugu?” Aku mendengar suara parau dari dalam. Aku tetap diam. Aku mendengar suara terjatuh dari dalam, dan suara langkah yang menyeret. Ketika pintu dibuka aku melihat Hoseok Oppa terlihat kacau.Dia hanya menggunakan sleevesless putih dan juga celana pendek yang membuatnya terlihat lebih kacau lagi.

Oh my god! What the hell happen to you?” Kataku langsung ketika melihatnya. Aku langsung masuk membawanya ketempat tidurnya.

“Kenapa kau kesini my princess?” Tanyanya dengan suara parau.

“Kenapa suaramu bisa seperti itu?” Tanyaku langsung menyodorkan air putih padanya. Dia meneguknya sedikit dan meletakkan dimeja sebelah tempat tidurnya.

“Hanya sedang tidak enak badan saja.” Katanya. Suaranya sudah lebih baik setelah dia minum. Aku meletakkan tanganku dikepalanya. Sedikit panas.

“Kau tidak sakit bodoh!” Kataku.

“Huh.. Aku memang tidak sakit. Ada apa kau kesini? Aku sudah bilang aku tidak bisa latihan. Kau merindukanku?” Tanyanya.

“Kau tidak sakit dan kau tidak ada kerjaan dirumah kenapa tidak latihan?” Tanyaku balik. Dia mengerjap.

“Aku tidak sakit, hanya tidak enak badan saja.” Katanya mengelak. Aku menghela nafas, pandanganku menangkap jaketnya yang disampirkan di kursinya. Tunggu, jangan-jangan. Aku mengambilnya dan mencium baunya,

My goodness.. Now I know!” Kataku langsung ketika mencium bau vodka yang kuat disana.

“Eish..” Dia bangun dari tempat tidurnya dan mengambil jaket itu memasukkan bersama pakaian kotornya yang lain dan menghadap kepadaku.

“Kim Soe Hee.. Kenapa kau kesini? Aku yakin kau tidak kesini hanya karena aku tidak latihan hari ini.” Katanya.

“Aku.. Ingin menanyakan sesuatu hal padamu.” Kataku. Dia mengusap wajahnya sesaat.

“Aku lelah Soe Hee-ah. Biarkan aku tidur.” Katanya mengelak.

“Kau menghindariku?” Tanyaku.

“Aku tidak menghindari siapapun.” Katanya sambil merebahkan dirinya dikasurnya.

“Hoseok Oppa. Aku benar-benar ingin membicarakan ini. Serius.” Kataku sekali lagi. Hoseok Oppa terduduk di tempat tidurnya.

“Lepas dulu jaketmu, buat dirimu nyaman. Maaf untuk kamar yang berantakan.” Katanya akhirnya mau bicara denganku. Aku melepas jaketku dan menarik kursi kearah tempat tidurnya sebelum dia menghentikannya.

“Letakkan saja kursinya disitu.” Katanya lalu member signal untukku berjalan kepadanya. Aku meninggalkan kursinya dan berjalan kearahnya. Tiba-tiba dia meraih pergelangan tanganku dan menarikku kearahnya tanpa aba-aba. Aku langsung jatuh tepat dipelukannya. /DEG/ Kenapa aku berdebar?! Aku langsung mendorongnya, mengambil jarak dengannya..

“Mboya?!” Protesku.

“Maksudku adalah, duduk saja dikasur.” Katanya. Aku menyadari sekarang aku terduduk dikasur. Tepat didepannya.

“Kalau begitu bilang saja. Kau tidak perlu menarikku seperti itu.” Kataku.

“Kenapa apa kau berdebar ketika ada dipelukanku?” Tanyanya begitu tepat. Aku mengalihkan pandanganku.

“Hoseok Oppa aku serius.” Kataku. Dia tertawa kecil.

“Araseoyo my princess” Katanya lalu duduk menghadapku dengan senyuman yang menunjukkan lesung pipinya. Aku mengalihkan padanganku darinya. Aku mengambil foto dari tasku, foto yang aku dapat dari dokter Kim.

“Ini, jelaskan tentang ini.” Kataku menunjukkan foto itu pada Hoseok Oppa.

“Oh? Ini kau dan aku kan? Apa ini foto dari masa depan?” Tanyanya non sense.

“Ya!” Bentakku. Dia tertawa.

“Apa yang harus aku jelaskan..” Katanya.

“Sudah jelas ini kita.” Katanya dengan lembut sambil tersenyum padaku.

“Maksudku… Kapan foto ini? Seperti apa hubungan kita dulu? Apa kita sudah mengenal satu sama lain sejak lama? Dan kalau itu benar kenapa kau tidak mengatakannya?” Tanyaku langsung. Hoseok Oppa berdeham dan tersenyum.

“Apa kau sudah siap untuk menerima memori yang banyak? Apa kepalamu tidak akan sakit?” Tanyanya. Aku mengangguk tanda aku sudah siap apapun itu. Dia menghela nafasnya, seakan dia juga mempersiapkan dirinya.

“Foto ini sekitar 4 tahun lalu. Sebelum kau amnesia sebagian.” Katanya.

“Kita ini sudah saling kenal sejak kecil Soe Hee-ah. Kita sudah dekat sejak kecil. Aku tidak mengatakan ini padamu karena saat itu kau tidak bisa menerima ingatan yang terlalu banyak sekaligus, aku pikir aku akan mengatakannya pelan-pelan.” Katanya menjelaskan.

“Ada satu pertanyaan yang belum kau jawab.” Tanyaku. Aku bisa merasakan kepalaku mulai terasa sakit tapi, aku yakin sedikit lagi, sedikit lagi aku bisa mengingat tetang masa kecilku. Sedikit lagi.

“Seperti apa hubungan kita dulu?” Tanyanya balik. Aku mengangguk.

“Kau adalah gadis yang paling aku cintai sejak aku kecil, bahkan sampai sekarang kau sama sekali tidak mengingatku. Dan kau mencintaiku sampai kau kehilangan sebagian ingatanmu.” Katanya membuatku benar-benar speechless. Sekarang aku tau kenapa difoto itu aku dan Hoseok Oppa sangat dekat.

“Kita adalah sepasang kekasih.” Katanya.

“Kenapa.. Kenapa kau tidak pernah bilang..” Kataku lirih menahan emosi dan juga sakit dikepalaku. Tiba-tiba air mataku keluar begitu saja. Aku, aku tidak ingin menangis. Dia mendekat padaku dan memelukku erat, dia menyandarkanku didadanya.

“Aku tidak bisa. Waktu itu yang kau ingat adalah Jimin. Dia berjanji padaku akan memberitaukan tentang aku padamu secepatnya.” Kata Hoseok. Tiba-tiba rasa sakit dikepalaku terasa amat sangat.

“Hoseok Oppa… Kepalaku…” Kataku merintih kesakitan sebelum aku merasakan rasa sakit itu tiba-tiba hilang, dan semuanya terasa gelap.

 

Dear diary,

 

 

 

Kim Soe Hee,

14 desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s