[ONESHOOT] Meet Him (Sehun vers.)

sehun

© Miss Candy | Oh Sehun, You | Friendship

Do not Copy!

Telepati itu bisa saja terjadi.


Ibumu cerewet. Mengomel tentang dirimu yang hanya menghabiskan liburan panjang dengan berguling ke sana-kemari di atas karpet depan televisi. Sebenarnya bukan hanya itu saja alasannya, beliau berpendapat kalau kau adalah cewek kuper. Kau sendiri ogah untuk dikatai seperti itu. Ini masa liburanmu dan adalah wajar kalau kau lebih banyak ingin menghabiskan waktumu dengan bermalas-malasan. Lagi-lagi alasanmu kecut, tak mempan beradu argumen dengan Ibu. Lagi pula mau main ke mana? Semua temanmu sedang menikmati liburan bersama keluarga mereka masing-masing. Kalaupun kau berkeliling kota sendirian, kemungkinan diculik sangat besar. Psst, karena kau cukup cantik sebagai anggota keenam Red Velvet!

Ketika kau berpendapat tak punya uang untuk sekedar jalan-jalan, Ibu menyuguhkan tawaran manis bak madu. Kau harus membantunya seratus persen selama liburanmu. Sebagai imbalan, Ibu akan tetap memberimu uang saku setiap harinya. Lagi-lagi kau tak setuju. Bagaimana kau menikmati liburanmu jika harus membantu Ibu sepanjang waktu? Hell no~

Namun karena kau benar-benar butuh tambahan untuk membeli album baru boyband kesayanganmu, kau menurut. Seperti kali ini, kau menurut saja saat Ibu menyuruhmu membelikan apa yang tercatat di memo sepanjang sepuluh sentimeter. Catatan bahan-bahan membuat kue. Lengkap mulai dari tepung sampai essence-nya. Kau memakai kaus oblong dan celana jeans selutut. Mengayuh sepedamu menuju toko kebutuhan kue berjarak satu kilometer dari rumahmu. Ini salah satu penghematan uang ongkos jalan. Kau bisa mengklaimnya sebagai tambahan.

Di luar terlalu terik. Sampai kau harus benar-benar memastikan seluruh anggota tubuh yang tak tertutup pakaian, teroles sunblock dengan benar. Kau tak mau saat mulai masuk sekolah, tubuhmu bak steak overcook. Bisa-bisa Kim Jongin tak melirikmu lagi. Hah~ Meskipun cowok itu juga berkulit coklat.

Meluncur dengan kecepatan normal, kau juga memakai topi dan cardigan tipis karena sinar mentari terlalu menusuk kulit. Jalanan cukup lengang, kau bisa bebas berkendara sepeda dengan aman. Satu yang kau lupakan, cuaca di negaramu sedikit menyebalkan. Lima menit yang lalu saat kau baru lepas landas, cuaca masih panas menggila. Kini, saat kau mulai setengah perjalanan, awan cumulonimbus sudah bergerombol di atas kepalamu.

Kau berdecak sebal karena tak membawa jas hujan. Pulang ke rumah lagi pasti akan memakan waktu lebih lama, belum lagi kalau hujan terlanjur turun nantinya. Sedangkan besok ibumu punya banyak pesanan kue. Kau hanya bisa berdoa kalau hujan turun tertunda.

Setelah memarkir sepedamu di samping toko, kau langsung masuk ke ‘Toko Kue Park’ langganan Ibu. Menyusuri tiap rak-rak yang sudah diklasifikasikan sesuai jenis bahan kuenya. Tepung, coklat masak batangan, pewarna makanan dan lain-lain sudah mulai kau kumpulkan di keranjang belanjamu. Lonceng di atas pintu masuk berdenting, ada pembeli lain masuk. Suasana di luar semakin gelap karena mendung. Dan payahnya, kau juga tak membawa ponsel. Kau mengutuk penyakit pelupamu.

Tepat saat kau menyusuri rak pengembang kue, seseorang berdiri di sampingmu, menjulang tinggi, sampai kau harus mendongak untuk melihat profil sampingnya yang menggoda. Waw, Kim Jongin yang notabene adalah bias utamamu di sekolah, punya saingan berat dalam otakmu sekarang. Cowok dengan rambut coklat terang, dagu runcing dan wajahnya mulus sekali untuk kategori cowok. Kau ingat, teman akrabmu si mulus Baekhyun saja punya bekas jerawat. Sadar kau mengamatinya terlalu lama, cowok dengan kemeja kotak yang kancingnya dibiarkan terbuka sehingga kaus dalam putihnya terlihat itu, menoleh padamu. Dan mengenyit aneh…

Tunggu… mengernyit? Kau segera mengalihkan pandanganmu dan menuju rak lain. Lepas dari pandangannya, kau membaui area lipatan lenganmu. Tidak bau. Meskipun kau selalu tampil apa adanya dan pelupa, kau tak pernah lupa memakai deodorant! Jadi kenapa cowok tadi mengernyit padamu seakan kau bau? Entahlah. Kau sedikit tersinggung tadi. Menyebalkan sekali. Cowok tampan memang bebas berekspresi.

Kau mengecek list yang diberikan Ibu dengan barang yang sudah menumpuk di keranjang belanjamu. Pas dan sudah lengkap. Kau menuju kasir dijaga oleh Tuan Park yang ramah dengan telinga lebarnya, persis liliput. Pria paruh baya itu menghitung belanjaanmu dengan teliti dengan mesin kasir, basa-basi sedikit bertanya tentang ibumu. Kau sudah tak punya ayah—meninggal sepuluh tahun lalu—dan kau punya perasaan kalau Tuan Park menyukai ibumu. Beliau juga duda dengan satu putra, Park Chanyeol namanya. Satu geng dengan Kim Jongin. Geng apa? Geng cowok ganteng dan populer di sekolah. Kau sedikit membayangkan kalau kalian menjadi saudara tiri, pastilah lebih mudah bagi Jongin untuk mendekatimu.

Oh, Sial! Kau melupakan cowok yang baru saja memasuki list cowok idamanmu. Dia sedang memilih kertas roti di rak kecil paling dekat dengan kasir. Kau tak berani meliriknya kali ini. Takut kalau dia mengernyit lagi padahal kau tidak bau. Kau mengalihkan pandanganmu ke pintu kaca. Hujan deras mengguyur.

“Yah, nggak bawa jas hujan.” Kau bergumam pelan.

Wah, sayang sekali… Chanyeol sedang bermain bersama teman-temannya. Kalau tidak, paman pasti akan menyuruhnya untuk mengantarmu.” Tuan Park mendengar keluhanmu dan menanggapi sambil memasukkan belanjaan terakhirmu ke dalam plastik.

Kau menatap Tuan Park sambil tersenyum. Apakah kalian benar-benar akan menjadi saudara tiri? Melihat ekspresi Tuan Park saat kau atau ibumu belanja kemari yang selalu berbunga-bunga, sering memberi diskon atau bonus bahkan kadang memberikan rahasia resep baru! Jika Tuhan menghendakinya terjadi, maka bisa dibayangkan rumah kalian akan penuh dengan… kue.

“Tunggulah sampai hujannya reda,” nasihat Tuan Park sambil menyerahkan uang kembalianmu yang dilebihkan. Kau menggeleng tak setuju dan hendak mengembalikan uang lebihannya, namun Tuan Park menggeleng lebih kuat.

Ah ah ah, tak perlu sungkan. Gunakan diskon pemberianku dengan baik, Nona,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Yah, beliau adalah tipe ayah yang baik. Kau bisa menyimpan uang ini untuk tambahan membeli album. Kau setuju dan memasukkan uang kembalian itu ke saku celanamu secara terpisah.

‘Sudah selesai? Bisa gantian?’ bisik seseorang di belakangmu. Oh, cowok tampan yang sok. Kau bergeser ke samping kanan. Merapikan struk dan plastikmu sambil mengomel dalam hati pada cowok yang ternyata hanya membeli kertas roti?

Kau menarik kursi tinggi di pinggir jendela yang dilengkapi dengan meja panjang. Menunggu hujan benar-benar reda sambil menggoyangkan kakimu. Belanjaanmu masih kau letakkan di sudut meja kasir. Selama apakah hujan ini? Ibu pasti khawatir menunggumu di rumah karena kau tak membawa ponsel. Kau mendengar cowok itu bergumam pada Tuan Park, tanda bahwa transaksi mereka selesai. Tiba-tiba saja dia sudah duduk di kursi tinggi sebelahmu. Mengecek ponselnya sebentar lalu menyakunya ke celana lagi. Kau mengamati gerak-geriknya lewat kaca jendela.

‘Menyebalkan.’

Kedua tanganmu menyangga dagu di atas meja. Mencoba mengalihkan pikiranmu ke mana saja, asal bukan pada cowok di sebelahmu. Kau memejamkan mata untuk membayangkan dating bersama Jongin sampai bayangan bersaudara dengan Chanyeol pun muncul. Nyatanya itu hanya sebentar saja mengalihkan pemikiranmu. Kau kembali membuka mata dan mengamati cowok di sebelahmu lewat jendela kemudian pura-pura menatap langit.

‘Kau bilang aku menyebalkan?’

Terdengar sebuah suara menimpali darinya. Kau mengercutkan bibirmu. Bertanya-tanya apakah tadi gumamanmu terdengar jelas. Seingatmu kau hanya bicara dalam hati. Ah, sudahlah. Mungkin kau memang harus berhati-hati.

Kau meletakkan kepalamu pada kedua tanganmu di atas meja, membelakangi si cowok. Belum ada tanda-tanda hujan berhenti turun. Bahkan, kini petir ikut menyambar berulang kali. Kenapa dia tidak pulang saja, sih?!

‘Aku tak bawa payung, bagaimana aku bisa pulang?’

Lagi, kau mendengar dia bergumam sesuatu. Kau berpikir mungkin dia sedang membalas pesan dari entah siapa lewat ponselnya. Suara Tuan Park terdengar sayup-sayup saat menjawab teleponnya. Sepertinya masalah pemesanan barang. Kau melirik ke belakang lewat celah lenganmu, beliau tampak serius dan masuk ke gudang di dalam toko. Kau berdecak. Kau sendiri tak ingat nomor ponsel Ibu, untuk meminta tolong pada Tuan Park untuk mengirimkan sms pada Ibu sepertinya tak patut. Salah-salah mereka malah akan berkirim pesan ria.

Kakimu mulai terasa dingin. Salahmu sendiri hanya memakai celana selutut pada hari-hari bercuaca menyebalkan seperti ini. Kau melepas sandalmu dan mulai menggosokkan kedua kaki satu sama lain di bawah meja.

‘Kau kedinginan?’

Masih dalam posisi membelakangi cowok itu kau menjawab. “Ya!”

Kau tahu itu tak sopan. Bertemu dan berbincang dengan orang asing bukan begitu caranya di negaramu. Siapa tahu cowok itu lebih tua darimu. Hah! Masa modoh! Kau tak mau menatapnya lagi!

Tak ada lagi basa-basi dari cowok di sebelahmu. Kau terbangun dari posisi tidurmu, hujan sudah mereda. Kau bisa melihat sebuah mobil masuk ke halaman depan toko. Cowok di sebelahmu berdiri dan sedikit menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia pamit. Dengan wajah datar, kau membalas anggukannya.

Cowok itu berlalu. Membuka pintu toko, membuat loncengnya berdenting, kemudian berlari kecil masuk ke dalam mobil yang menjemputnya. Kau terus mengamatinya sampai mobil itu berlalu. Kau baru sadar ketika Tuan Park menepuk pelan bahumu dan menyodorkan jas hujan plastik.

“Paman temukan jas hujan ini di gudang, mungkin punya Chanyeol. Pakailah dulu. Hujan sudah mulai reda, berhati-hatilah, Nak,” katanya.

Nak? Eh, kau merasa benar-benar serasa dipanggil oleh seorang ayah. Kau menerimanya lalu langsung memakainya. Agak kedodoran, sih. Dan kau yakin sekali ini memang milik Chanyeol. Mengingat kakimu sampai tak terlihat.

“Terima kasih, Paman… Aku pulang dulu.”

“Salam untuk ibumu. Ah, tunggu sebentar, Young-ie. Kau kenal anak laki-laki tadi?”

Alismu menyatu. Kenapa Tuan Park menanyakan hal itu?

“Tidak.”

“Kalau begitu kau pasti tahu bahasa isyarat. Pulanglah.” Tuan Park berlalu ketika teleponnya kembali berdering.

Bahasa isyarat?

Dua hari berlalu. Kini kau sedang dalam perjalanan yang sangat menyenangkan. Apalagi kalau bukan perjalanan untuk membeli album baru boyband kesayanganmu. Dengan uang se-gepok dalam dompetmu hasil membantu Ibu, kau berjalan riang menuju toko kaset yang berada di komplek pertokoan kotamu.

Masuk ke dalam toko, kau langsung menghambur ke deretan ‘New List’. Tak banyak remaja di kotamu yang menggemari boyband kesayanganmu. Kenapa? Karena kota kecil tempat tinggalmu ini sangat sedikit remaja perempuannya. Sungguh!

Setelah mencomot satu set CD beserta bonus-bonusnya, matamu berhenti pada album penyanyi mancanegara, Justin Bieber. Kau berusaha mengingat lagu booming-nya akhir-akhir ini. Ah, ya! Love Yourself! Tapi, sepertinya album yang dipajang adalah album yang sudah lama. Namun, entah kenapa kau tetap mengambil testernya untuk di dengarkan dengan alat pemutar CD di sudut dalam toko.

Langkahmu terhenti. Cowok ini lagi? Yep, cowok dengan kemeja kotak yang mengernyit padamu dua hari lalu! Dia sedang mendengarkan sebuah piringan CD dengan earphone yang menempel di telinganya. Mau tak mau kau harus antre. Sebenarnya, kau juga tak terlalu ingin mendengarkan lagu dari album lawas Justin Bieber, tapi entah kenapa tubuhmu masih bergeming di sana, di belakang cowok itu.

Cowok itu menoleh dan wajahnya tampak terkejut. Kau hanya menatapnya dengan setengah sebal sambil mengadahkan tangan kananmu, bahasa meminta earphone dari tangannya. Dia menurut dan langsung memberikan benda itu padamu kemudian beringsut minggir. Kau langsung memasang earphone tadi. Sedikit bersyukur karena cowok tadi tak mengernyit lagi padamu. Saat suara Justin Bieber mengalun merdu dalam rungumu, kau bisa merasa kalau cowok itu masih ada di belakangmu. Eh, apa dia mau mendengarkan kaset lain lagi?

‘Apa yang kau dengarkan?’ tanyanya

“Lagu Justin Bieber,” jawabmu kesal.

‘Baguskah?’

“Dengarkan sendiri!” Kau berbalik dan mengembalikan earphone itu padanya. Oh, Tuhan! Dia kenapa menggangguku, sih? Basicly, kau memang tak suka cowok yang sok kenal dan sok dekat padamu.

Kau meninggalkannya menuju kasir. Kakak penjaga mesin kasir menatapmu keheranan.

“Ada apa, Kak? Maaf soal suaraku barusan.” Kau nyengir, namun kakak itu masih saja menatapmu. Meskipun begitu, ia cepat-cepat menghitung total belanjaanmu dan dengan sama cepatnya, kau melenggang keluar toko kaset. Tak mau lagi bertemu dengan cowok tadi.

Sayang beribu sayang, yang tidak diinginkan malah mengejarmu dan berteriak-teriak.

‘Tunggu! Hei, Tunggu! Kau yang berkaus kuning, tunggu!’

Sudah bisa ditebak siapa pemilik suara itu. Kau berhenti berjalan karena tak mau disangka beradegan lari-lari ala bolywood. Namun kau tetap pada posisimu, tak berbalik sampai akhirnya cowok itu berdiri di hadapanmu, terengah-engah. Kau memalingkan wajahmu ke atas langit. Meskipun kau tak suka padanya (atau mungkin belum), cowok ini tergolong super keren! Memang kau bisa memanjakan matamu, tapi tak ada jaminan darah keluar dari hidungmu. Berdiri sedekat ini dengan cowok selain Jongin—yang notabene sedikit sinting—membuatmu seperti tokoh wanita utama dalam drama. Catatan : Cowok keren yang berkarisma sudah semakin menipis di dunia ini. Jenisnya cuma dua; kalau nggak gay, pasti sudah punya pacar. Hahaha.

‘Kau bisa menanggapiku?’ tanyanya.

Sambil memutar kedua bola mata, kau menatapnya. Apa mungkin cara basa-basi cowok keren memang aneh? Dulu Jongin sengaja mengarahkan bola basket ke kepalamu, membuatmu pingsan lima jam hanya untuk berduaan denganmu di UKS. Sekarang—dia siapa namanya ini—lebih aneh lagi.

“Tentu saja, Tuan Muda~” jawabmu bosan.

‘Benarkah? Benarkah kau bisa membaca pikiranku? Atau kau seorang cenayang?’ Rupa cowok itu campuran antara tidak percaya sekaligus gembira bukan main. Namun yang membuatmu heran, dia hanya diam saja sambil menatapmu dengan berbinar. Dia tidak mengeluarkan suara, maupun gerakan tangan. Kau bergidik ngeri dan mundur selangkah. Si cowok malah maju selangkah.

‘Kemarin kau sepertinya salah sangka dengan tatapanku. Sebenarnya aku ingin berkenalan denganmu dan menanyakannya… Ini luar biasa! Aku juga tahu apa yang ada di pikiranmu! Kau bilang kalau aku tampan, saat itulah aku melirikmu, tapi kau tak bersuara. Kupikir kau sama sepertiku!’

Lagi, ia seperti hanya menggerakkan kepalanya dan mengajakmu bicara lewat telepati. Ajaibnya, kau bisa mendengar semua yang ada di pikiran cowok itu. Kau sangat shock sampai plastik belanjaanmu terjatuh. Apakah ada yang begini di dunia nyata? tanyamu dalam hati.

‘Ibuku pernah bilang kalau ini namanya jodoh,’ katanya lewat pikiran sambil memungut tas belanjaan berisi kasetmu.

Jodoh?! Jodoh apa?! Kau jangan mengada-ada. Kau pasti maniak! Ya, ‘kan? Minggir!” Kau menyenggol bahunya dan berlari kencang setelah merampas belanjaanmu dari tangannya. Dia tak menyusulmu dan tanpa kau tahu, wajahnya mengulas kepedihan yang sangat dalam. Dan itu karenamu.

Kau sedang flu. Di dua hari terakhir liburanmu yang tersisa, kau malah masuk angin. Berlembar-lembar tisu bertebaran di karpet ruang tengah. Kau sengaja menggelar kasur busa di depan televisi. Menyaksikan idolamu yang baru comeback. Batal sudah rencanamu untuk pergi ke kota besar bersama sahabatmu. Kalian berniat menonton live performance mereka di stasiun televisi. Namun, kau hanya bisa terkapar tak berdaya. Suhu badanmu menyentuh 39 derajat celcius semalam. Teman-temanmu sudah menjengukmu, lengkap dengan Chanyeol dan Jongin. Mereka semua akan pergi ke kota dengan tujuan berbeda. Sahabat cewekmu jelas akan menonton boyband kesayanganmu, sedangkan Chanyeol dan Jongin berburu gitar baru.

Mereka sudah pergi dan kini kau bisa dengan leluasa menyeruput ingusmu sendiri. Kau juga terus mengganti channel televisi karena bosan. Ibu sedang ada pesanan kue, jadi beliau sibuk di dapur bersama dengan seorang asistennya. Ibu bilang, kalau ayah Chanyeol juga akan menjengukmu nanti malam. Daebak!

Saking mampetnya saluran pernapasanmu, aroma harum kue-kue yang dipanggang tak tercium. Parah benar kondisi hidungmu saat ini. Sampai membayangkan kalau saat sekolah nanti, hidungmu akan seperti tomat.

Terdengar suara bel pintu. Sekali, dua kali, tiga kali. Yang ketiga lebih memaksa sepertinya. Kau tetap berbaring sambil mencoba memanggil ibumu. Beliau muncul dari dapur dan membukakan pintu depan. Kau mencoba duduk, meskipun kepalamu berat sekali. Siapa tahu ada teman lain yang menjengukmu. Begini-begini kau cukup terkenal di sekolah.

Saat sosok di belakang ibumu masuk ke ruang tengah, rahangmu terbuka lebar. Saking terkejutnya kau tak menutup mulutmu sampai ibumu duduk di sebelahmu dan menyenggol bahumu.

“Young-ie, kenapa kau ini? Dia juga temanmu.”

Cepat-cepat kau mengatupkan mulutmu kembali. Melihatnya memandangimu dengan lamat-lamat membuat sekujur tubuhmu tambah panas. Oh, di manakah termometer?

Ibumu berbisik di telingamu, “setahu ibu, kau tidak pernah bilang pada ibu kalau memiliki teman tuna wicara.” Kau menatap Ibu bingung. Kemudian ibumu menyeringai aneh seakan bicara padamu ‘karena dia kelewat tampan, bukan?’

Ibu berdiri dan sedikit berbasa-basi pada cowok yang kini juga duduk di ujung kasur busamu. Beliau pamit ke dapur dan meninggalkan kalian berdua. Cowok itu tak datang sendirian. Maksudmu, dia datang dengan tas plastik besar berisi makanan dan sepertinya sebotol madu.

‘Kau terkejut aku tahu rumahmu, bukan?’ tatapnya penuh makna. Kau yang memang sudah lemah fisik dan mental karena sakit, hanya mengangguk saja.

‘Dari Tuan Park. Kau tahu, aku sampai harus menulis di kertas karena beliau tak tahu bahasaku. Maksudku bahasa isyaratku… Hahaha~’ Dia tertawa. Kali ini memang tertawa secara fisik. Kau bisa melihat deretan giginya yang rapi. Sejujurnya, cowok ini aneh saat tertawa. Seolah kharismanya bocor dan hilang entah ke mana. Maksudmu, dia lebih baik tersenyum dan diam saja, itu lebih cool. Cara tertawanya persis anak-anak balita. Hahaha.

Kau hanya tersenyum canggung. Lantas kenapa dia kemari untuk menjengukmu? Kalian bukan teman apalagi sahabat. Kalian hanya bertemu dua kali, itu pun dengan adegan dramatis saat pertemuan kedua kalian. Tunggu… waktu itu… kau menjadi tak enak hati. Kau tahu, entah bagaimana, pokoknya kau tahu kalau cowok ini baik dan bukan seorang maniak. Mungkin tanggapanmu waktu itu keterlaluan padanya. Apa dia kecewa? Sungguh, kau tak bermaksud meremehkan kekurangannya, kau hanya shock. Bagaimana seseorang bisa saling membaca pikiran masing-masing. Ajaib, kan?

Matanya bergerak-gerak, masih sambil tersenyum. ‘Aku tidak marah. Aku tahu kau pasti bingung waktu itu. Salahku terlalu buru-buru memberitahumu tentang keunikan kita. Apa kau juga bisa membaca pikiran orang lain selain aku?’

“Tidak,” jawabmu.

‘Wah, menakjubkan!’ Parasnya yang terkesima membuatnya semakin tampan. Ok! Kau tak berkutik kali ini. Diberi senyuman seperti berulang kali membuatmu luluh juga. Tak ada lagi pikiran sebal padanya menghinggapimu.

Hanya dengan saling beradu tatapan mata, kalian bisa membaca pikiran satu sama lain. Lama-kelamaan kau sadar kalau manik mata cowok ini indah dan dalam sekali. Oh, Kim Jongin tak bisa menyelamatkanmu kali ini. Kekagumanmu diinterupsi oleh Ibu yang menyediakan teh hangat di meja kecil untuk cowok itu. Beliau berlalu setelah mengerling sedikit padamu. Kau bersyukur punya orang tua yang tak pernah mengajarimu mencemooh kekurangan orang lain. Meskipun, kau tak tahu apa maksud kerlingan ibumu tadi.

Cowok itu langsung meminum tehnya, mungkin dia terlalu haus. Kau terkikik saat ia menjulurkan lidahnya karena kepanasan.

‘Maaf, tapi aku haus sekali…’

“Kau bisa meniupnya dulu. Ibuku tak akan menarik cangkirnya sebelum isinya habis. Tenang saja,” ejekmu.

Lagi-lagi dia tertawa aneh. Sungguh, dia lebih tampan saat terdiam. Wajahnya berubah aneh kalau tertawa. Tapi, itu salah satu daya tariknya bagimu.

‘Kau mengejek cara tertawaku, Young-ssi!’

“Hei! Berhenti membaca pikiranku seenaknya!” dengusmu. Ini salah satu yang tidak nyaman. Apakah dia juga membaca bahwa kau berulang kali memujinya karena tampan dan polos? Jawabannya tentu saja, ‘Iya’.

Eh, kau tahu namaku?”

‘Tentu. Aku Oh Sehun. Sehun saja—maksudku Sehun—kau bisa memanggilku Sehun.’ Kali ini, ia menggerakkan bibir tipisnya, mengeja namanya sendiri.

“Okay, Sehun-ssi. Terima kasih sudah datang menjengukku,” ujarmu tulus.

Wajah Sehun berubah murung. Ia bahkan menunduk saat mengatakan sesuatu padamu (lewat pikirannya), ‘aku minta maaf atas perbuatanku kemarin, Young-ssi.’

“Ah, lupakan. Waktu itu reaksiku terlalu berlebihan. Kalau aku jadi kau, aku pasti lebih histeris. Ini ‘kan keajaiban.”

Keajaiban? Wah, dari mana kau bisa mengeluarkan kata itu, sungguh kau tak tahu. Tiba-tiba saja kau ingin membuat Sehun merasa nyaman terhadapmu. Kau sama sekali tak merasa kasihan padanya, lebih kepada takjub. Bahwa ia sama sekali, tak minder dengan kekurangannya. Dan Tuhan sangat berbaik hati memberinya wajah, postur dan kehangatan dalam diri Oh Sehun saat kalian bicara, maupun berada di dekatnya.

‘Eum… Apa boleh aku menemuimu lagi?’ tanyanya sambil tersipu. Bahkan dia bukan cowok yang suka basa-basi. Sehun hanya ingin menemuimu lagi dan mungkin lagi. Kau suka itu. Maaf, Kim Jongin. Aku menyerah padamu yang terlalu lama menggantung hubungan kita.

‘Tentu,’  jawabmu mantap lewat pikiranmu.

Dia tersenyum tampan bak malaikat yang kau temukan di depanmu saat kau bangun tidur. Dan sepertinya flu-mu sudah sembuh tanpa harus ada adegan berciuman. Sekarang akan ada Sehun yang mengisi hari-harimu. Kau tak tahu apakah harus jujur—setidaknya, pada ibumu—tentang keunikan kalian atau tidak. Bisa membaca pikiran satu sama lain dan partner-mu adalah cowok tampan yang menggetarkan hatimu tentu saja bukan kebetulan yang buruk. Jika memang apa yang Sehun bilang kalau kalian berjodoh itu benar, maka kau merasa tergelitik untuk mencari kebenarannya. Saat ini tak ada hal paling indah selain Oh Sehun. Bahkan saat kau bersin di hadapannya, kau seperti orang gila yang tak tahu malu.

-fin.

Kekurangan seseorang bukan hal yang mengerikan. Menjadi salah satu bagian dari hidup mereka bahkan lebih menyenangkan, terutama jika orang itu adalah Oh Sehun. ^^


Notes :

  • Maaf kalau membuat Sehun jadi tunawicara hehehe~
  • Terima kasih sudah membaca… 🙂

 

Advertisements

2 responses to “[ONESHOOT] Meet Him (Sehun vers.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s