[Oneshot] Serendipity

kyungkyungsoo

Do Kyungsoo, Kang Nami (OC)

by Cca Tury

“Semua berawal dari novel Percy Jackson yang kau baca terbalik.”

Cerita ini adalah sekuel dari He knows

“Oi, oi, oi. Matamu hampir jatuh.” Sambil mengikik, Baekhyun menganggu, membuatmu kesal hingga memaksa tanganmu memukulnya dan mengumpat ringan. Aku tertawa.

Kau itu lucu.

Jujur saja. Dulu, jantungku tak terpengaruh sama sekali ketika melihatmu atau ketika bersamamu. Pohon sakura tidak sama sekali bermekaran dan bersinar di belakang punggungmu. Kupu-kupu di perutku pun sangat tenang dan tidak menggelitik. Tidak ada sama sekali suara gesekan biola yang terdengar ketika kau datang mendekat. Sungguh, aku biasa saja.

Semuanya berawal dari novel Percy Jackson yang kau baca terbalik.

Bukan sekali dua kali aku memergoki. Waktu itu kalau tidak salah, kita sedang menjaga stan bazar yang diadakan di kampus. Sebenarnya, aku mengerut dahi ketika melihat kau yang dengan serius di balik novel terbalik itu. Bagiku, sejak awal kau memang aneh. Bagaimana tidak, kau yang dengan rok mini dan baju sleevelessmu ke mana-mana bersama wajah yang dilukis berlebihan dan rambut cukup panjang berwarna sembarangan. Sungguh, aku memberi nilai minus untuk gadis yang seperti itu. Ditambah dengan novel terbalik itu, oh tidak, kau benar-benar tidak normal.

Yang kemudian membuatku mengerti adalah pantulan wajahmu yang tertangkap netraku, tentunya dengan novel terbalik itu, di balik kaca jendela. O, kau sedang memperhatikanku dan novel itu sebagai motifmu. Seketika saja rasa percaya diri yang sangat merasuki diriku dan sejak saat itu aku mulai memperhatikanmu, si gadis aneh.

Aku bahkan berobservasi, ke sana kemari mendekati beberapa temanmu—temanku juga—dan menanyakan bagaimana sebenarnya dirimu. Jawabannya tidak mengecewakan dan yang membuatku bangga adalah kau yang bisa menjaga dirimu sendiri, katanya sih, kau itu sudah shodan. Jadi, aku tak perlu khawatir meski kau berpakaian mencolok seperti itu, tak ada yang berani mendekatimu.

Dan, ketika kau memutuskan untuk menanggalkan kemeja sleeveless dan rok mini berteman high heel berkelasmu itu, entah kenapa aku malah semakin tertarik. Bahkan sedetik, tatapanku tak pernah beralih dari tingkah unikmu. Katanya, kau memutuskan untuk mengubah pernampilan karena kau mencuri dengar ucapanku di bawah anak tangga koridor kampus beberapa waktu lalu.

Nah, sekarang malah aku yang terlihat seperti penguntit.

Ini sudah hari ketujuh, kau benar-benar menjadi headline. Secara, gadis termodis yang pernah ada di jurusan Sastra dan Literatur, tiba-tiba punah dalam sehari dan kemudian muncul preman pasar dengan wajah yang familiar. Jelas saja, Byun Baekhyun—si pembuat onar—terus mencurigai. Dia semakin senang menggoda dan menggali motif perubahanmu.

“Akk!”

Kau memekik dan jatuh,

“Aish! Baekhyun sialan!” umpatmu.  Terburu-buru aku mendekati.

“Nami, tak apa?”

“K—Kyung?” Kau kaget melihatku menerobos kerumunan.

“Ayo kuantar ke klinik.”

“Aku tak apa, aku bisa—“

“Bisa apanya?! Kau bahkan merintih. Ayo!” Aku berjongkok memberi punggungku. “Baek, bantu Nami bangun!” Dengan gelagapan Baekhyun membantumu, aku yakin dia juga merasa bersalah.

***

Entah apa yang membuat lucu, hingga aku harus tersenyum sembari mendengar omelan ringanmu di balik punggungku. Mungkin itu untuk menutupi degup jantung tak menentu yang sedang kau alami saat ini di balik punggungku. O tentu saja, tentu saja aku menyadarinya. Aku akhir-akhir ini menyadari apa-apa yang terjadi denganmu.

“Tidak pernah jatuh ketika memakai high heel, kenapa baru terjatuh ketika pakai sneakers?”

“I—ini karena Baekhyun yang terus menggoda! Aku tak akan seperti ini jika tidak—“

“Kau memang lucu, ya?” Aku memutus kalimatmu dengan kekehan sambil mempercepat langkah menuju ke klinik milik kampus kita.

“K—Kyung, terima kasih sudah membantuku.” Kau berkata malu-malu, bahkan wajahmu yang tertunduk bisa kurasakan di balik punggungku. Siapa pun yang ingin repot-repot menilainya, sudah sangat yakin kau benar-benar terjatuh padaku. Dan jujur saja, itu membuatku bangga dengan diriku sendiri.

***

Ketika kuintip dirimu dari balik kaca jendela klinik kampus. Kau sedang semena-mena memerintah Baekhyun. Sepertinya lelaki itu benar-benar merasa bersalah, dan kau punya kesempatan untuk membalasnya. Kau bahkan tersenyum girang mengerjainya.

“Oh, Kyungsoo datang?” sapa Baekhyun ketika aku membuka pintu klinik. Kau dengan cepat menelan buah jeruk di mulutmu dan tersipu kecil membalas lambaian tanganku. Kakimu sudah diberi penyangga oleh penjaga klinik.

“Kakimu tak apa?” tanyaku dan duduk di pinggir ranjang. Kau mengangguk.

“Kata bu Kim, ini akan sembuh dua atau tiga hari,” jawabmu, aku mengangguk mengerti.

“Baek, pulanglah. Aku yang akan mengantar Nami pulang,” ucapku pada Baekhyun disambut senyum sumringahnya.

“Apa tak merepotkanmu, Kyung?” tanya Baekhyun.

“K—Kyung, aku tak apa-apa loh. Lagi pula ini salah Baekhyun, seharusnya dia yang—“

“Baekhyun sejak tadi menemanimu di sini, tak kasihan dengannya, ya?”

“Tapi kan Baekhyun—“

“Kubilang aku yang antar Nami.”

Lagi pula ini kesempatan. Bagaimana bisa aku menyerahkanmu begitu saja bersama Baekhyun. Di saat seperti inilah kita bisa bicara dan kau tak akan bisa lari. Di hari biasa kau selalu saja menghindar, ditambah lagi kejadian seminggu yang lalu, ketika aku katakan padamu aku tahu perasaanmu padaku, aku tahu kau menyukaiku sehingga itu membuatmu menjadi semakin takut berada di dekatku.

Mungkin kau merasa tidak nyaman, dan mungkin itu juga salahku. Katanya sih, jika seseorang yang kau sukai mengetahui bagaimana perasaanmu, itu akan membuatmu tidak nyaman. Bodohnya aku malah dengan percaya diri mengatakan: aku tidak menyangka jika gadis termodis di kampus begitu menyukaiku hingga rela meninggalkan penampilannya dan berusaha terlihat baik di hadapanku. Oh sungguh, aku bodoh sekali!

Jika tahu kau malah akan menjauh, mungkin aku akan berpikir kembali sebelum mengatakannya.

***

Kau diam, bahkan melirikku saja tidak. Kau malah sibuk memandangi kendaraan yang berlalu lalang di balik kaca jendela mobilku. Sesekali kau menggigit bibir bawahmu.

Aku tahu ini sangat canggung. Sejak pertama kenal pun kita bahkan hanya sekedar menyapa hai dan apa kabar. Obrolan serius yang pernah kita lakukan hanya mengenai tugas matakuliah yang diberikan oleh pak profesor. Kita benar-benar tak punya pembicaraan spesial sampai-sampai aku harus satu mobil bersama denganmu seperti ini.

“Nami tidak ingin mengatakan sesuatu?” Aku memecah keheningan, menoleh sekilas ke arahmu. Kau mengerut.

“Maafkan aku.” Ucapanku malah menambah kerut di dahimu. “Kalau saja kemarin aku tak mengatakan hal yang membuat Nami tak nyaman, mungkin Nami tak perlu menghindar dariku.”

Dengan cepat kau menggelengkan kepala dan tanganmu pun ikut-ikutan, “Siapa bilang aku menghindari Kyungsoo, aku tidak—“

“Kita bukan anak sekolah dasar lagi sih, hal yang seperti ini mudah sekali ditebak. Jadi, Nami tak perlu mengelak lagi.” Aku memutus kalimatmu. Jujur saja, aku tidak suka setiap kali kau berkata hal yang tidak sesuai dengan keadaanmu yang sebenarnya. Kenapa kau selalu saja berkata tidak, padahal sebenarnya iya?

Jika kita selalu saja tertutup dan menghindar lalu berkata bohong, sungguh, urusan kita tak akan selesai.

“Kita mungkin memang tak punya hubungan sedekat itu, tapi aku mengerti Nami. Aku tahu bagaimana seorang Kang Nami.” Ucapanku membuat kepalamu tertunduk dan terdiam untuk beberapa detik. Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi aku harap kali ini aku tidak menyinggung perasaanmu. Jika boleh jujur, melihatmu yang terus menghindar, malah membuatku menjadi tidak nyaman. Lebih tepatnya, aku merasa kehilangan.

“Aku hanya takut Kyungsoo menjadi tak nyaman denganku.” Kau mengeluarkan kalimat seraya menunduk, kau juga menggigit bibir ragu-ragu. “Aku juga tidak tahu harus berbuat apa ketika seseorang yang kusukai mengetahui bagaimana perasaanku.” Kau meremas celana jeansmu. “Rasanya aku ingin membuat pengakuan saja, tetapi hatiku belum siap jika jawaban Kyungsoo tidak sesuai dengan yang kuinginkan.”

Kita kembali diam. Aku terlalu bingung harus merespon seperti apa. Padahal tadi, banyak sekali yang ingin kukatakan padamu. Jantungku tiba-tiba saja berdetak tidak normal, sehingga kata-kata yang sejak tadi kurangkum tiba-tiba hilang setelah mendengar ucapanmu. Ingin mengatakan justru aku tak nyaman jika kau menjauh saja susah sekali kulontarkan.

Ah, aku ini payah ternyata.

***

Sudah lima hari kau tidak tampak di kampus. Kau bilang akan sembuh dalam dua atau tiga hari, kenapa di hari ke lima kau belum juga hadir? Ya, aku khawatir. Ada dua alasannya. Pertama, aku khawatir kaki terkilirmu malah semakin parah. Kedua, aku khawatir kau kembali menghindar karena pembicaraan tak selesai kita waktu itu.

Aku ingin menjengguk hari kemarin, tapi rasanya canggung sekali. Aku sudah mulai susah berkompromi dengan degup jantung ketika berurusan denganmu, padahal biasanya aku hebat dalam hal mengontrol diri.

Bagaimana ya? Apa aku harus jujur saja? Barangkali aku sudah benar-benar terjatuh oleh gadis aneh di kelasku. Jangan salahkan aku. Ini kau yang memulai. Kalau saja kau tidak melakukan hal mencolok seperti hari-hari kemarin, mungkin perasaanku juga tidak akan seperti ini.

“Oh? Ada Kyungsoo?!” Baekhyun memergoki, menunjuk semena-mena tangannya ke hidungku.

“Kau sendiri kenapa di sini?” Aku bersikap sok dingin.

“Aku selalu ke rumah Nami beberapa hari ini. Kau tahu kan, dia jatuh karena ulahku. Yah, ini sebagai rasa tanggung jawab.” Baekhyun memberi cengirnya, membanggakan diri. “Lagi pula rumahku di ujung sana.” Baekhyun menunjuk rumah dengan pagar merah tua di ujung kompleks perumahan.

“EH? Kau tinggal di dekat rumah Nami?!” Aku terkejut.

Baekhyun mengangguk, “Makanya waktu itu aku sedikit heran kenapa kau bersikeras ingin mengantar. Padahal Nami ingin bilang jika rumahku dekat dengannya.” Baekhyun berjalan mendekat, lalu menyeringai dengan mata menyipit. Dia menggodaku. “Kau suka Nami, ya? Karena dia sudah pakai celana jeans?”

“Bicara apa sih? Minggir!”

Aku menerobos Baekhyun, lama-lama bicara dengannya akan menambah stres. Dia hobi sekali menggali-gali.

***

Tapi, ucapan Baekhyun tidak salah seratus persen, tidak benar seratus persen juga. Aku juga sudah mengakuinya, aku terjatuh padamu, tapi bukan karena celana jeansmu. Bukan pula karena novel Percy Jackson yang terbalik. Mereka hanya pemanis saja, menambah rasa yakin yang menyatakan aku tak salah jika harus terjatuh padamu.

Aku terjatuh karena itu kau. Kau dengan tingkah unikmu. Kau dengan aroma malu-malumu. Kau juga dengan segala keragu-raguanmu. Kau yang seperti itu yang membuat perasaanku oleng dan perlahan-lahan berusaha mendekat. Dan satu lagi yang perlu dijelaskan, jika bukan karena kau yang memulai, mungkin aku tak akan pernah menyadarinya dan terus saja berlagak angkuh dan dingin. Kau benar-benar sesuatu.

“O—oh? Kyungso datang ya?”

Oh God! Ketika kau menyapa, kau bersinar! Dan wah, pohon sakura bahkan bermekaran di balik punggungmu. Ya ampun, sepertinya aku sudah benar-benar tak waras.

”H—hai, N—Nami?” Nah, kini bahkan ucapanku terbata-bata.

Ibumu mempersilahkanku mendekati ranjangmu. Lalu ibu meninggalkan kita berdua saja di dalam kamarmu. Canggung kembali menggeluti. Yang kutangkap adalah penyangga kakimu yang sudah dilepaskan.

“Ka—kau sudah sembuh?”

“Eum. Aku sudah berencana datang ke kampus sebenarnya,” ucapmu, masih malu-malu seperti kau yang biasanya padaku.

Hening.

Kau sibuk dalam tunduk. Aku sibuk menggoyangkan kaki resah, terus membasahi bibir sambil sesekali menelan ludah. Aku ragu mengucapkannya.

“Nami—“

“Kyung—“

Kita bersamaan. Terdiam tiga detik, lalu terkekeh menyadari lucunya.

“Kau duluan,” ucapmu masih tersipu malu.

“Kau saja.” Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal.

“Kau.”

“Kau saja.”

“Kau saja, Kyung.”

“Ka—O, baiklah. Aku yang duluan.” Aku menghela nafas menyadari betapa bodohnya kelakuan kita. Barusan saja kita terlihat seperti anak ingusan dengan kemalu-maluan. Ayolah, kita butuh serius kali ini. Aku harus menyelesaikan ini.

“Nami maafkan aku, masalah kemarin.”

Kau memberanikan diri menatapku, kau tersenyum seperti mengerti maksud ucapanku, “Tak apa-apa, lagi pula Kyungsoo benar tidak punya rasa padaku, jadi wajar saja jika tak bisa menjawab—”

“Bukan itu!” Ucapanku terdengar seperti pekikan. Aku menatapmu yang terkejut. Aku menelan ludah. “J—justru karena aku—karena aku—karena—AAISH!”

Dasar pecundang! Kenapa susah sekali mengucapkannya.

Aku menghela udara berusaha menenangkan diri. Kau tersenyum kecil dengan ragu-ragu dan masih dengan sabar menunggu ucapanku,

“Karena kalimat pengakuan itu seharusnya bukan gadis yang mengucapkannya, lelakilah yang seharusnya mengatakan.” Kulihat bola matamu melebar menatapku. Aku malah semakin gemetar.

“J—jadi maksudku.” Kutelan lagi ludahku membasahi kerongkongan. “N—Nami, ayo berpacaran!” Aku berucap terburu-buru sembari menutup mata dan kepala menunduk dengan tangan meremas celana jeans. Meski terburu-buru, aku yakin kau mendengarnya karena aku berucap sangat lantang.

Tiga detik.

Tujuh detik.

Tak ada jawaban dari bibirmu. Aku membuka sebelah mata dan mengintip. Kau tersenyum memerah, wajahmu berpaling ke segala arah asal itu bukan menatapku. Aku menegakkan kepala dan lagi-lagi menggaruk tengkuk yang tak gatal dengan senyum canggung.

Cepat-cepat aku berdiri tegap setelahnya, “Ce—cepatlah sembuh agar kita bisa ke—kencan!” Aku bahkan salah tingkah ketika mengatakannya.

Aduh, entahlah!

Kuletakkan bingkisan buah yang kubawa di tanganmu, lalu menggosok tangan di celana jeans. “Ma—makanlah,” ucapku, lalu cepat-cepat kabur dari kamarmu.

Ouh! Wajahku ikut memerah, tapi aku lega sudah mengatakannya.

Hehe, sampai bertemu di kampus, Kang Nami.

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s