First Crush : Part 8

first-crush

Poster Credit Belong To @atatakai-chan from posterfanfictiondesign.wordpress.com,

Thanks alot untuk posternya. Keren banget dan aku suka banget!

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

 

Part 8

*Soe Hee POV*

Aku berjalan disalah satu jalan di Seoul. Salah satu jalanan favorite ku. Angin musim semi bertemu dengan wajahku, dan itu menyegarkan. Aku berjalan ringan dan aku bertemu dengan Hoseok Oppa, dia mengenakan jaket hijau tua dan celana pendek dia terlihat begitu ceria, sementara satunya seorang laki-laki dengan senyuman yang sangat manis, dia mengenakan baju biru yang terlihat rapi, Chimin.

Mereka mengandengku, dikanan dan kiriku. Aku menggenggam tangan mereka dengan erat. Aku terdiam sesaat ketika tiba-tiba Hoseok Oppa memberikan sebuah kalung padaku. Kalung dengan bandul sebuah cincin putih dengan lingkaran hitam melingkar disisinya.

“Soe Hee, pakai ini!” Kata Hoseok Oppa padanya sambil memberikan kalung berliontinkan cincin itu.

“Huh?” Aku bingung, tiba-tiba Hoseok Oppa mencubit pipiku dengan senyuman, lalu wajahnya berubah serius, dia berdeham.

“Saranghamnida!” Katanya. Aku terpesona dengan senyuman itu, dan keberaniannya. Dia sangat keren.

“Nado, saranghamnida!” Kataku lalu mengenakan kalung yang diberikannya padaku.

“Kau dengar itu? Hari ini kau harus jadi saksi!!” Katanya pada Jimin. Dia hanya terdiam melihat itu semua dengan wajah innocent dan mengangguk. Hoseok Oppa langsung memeluku. Ketika dia melepasnya, dia menggenggam pundakku dan mengatakan padaku dengan mata yang begitu serius.

“Aku berjanji aku akan menikah denganmu! Tunggulah ketika aku dewasa nanti! Cincin yang ada dikalungmu itu, akan aku sematkan dijari manismu!!” Katanya. Aku tersenyum, dan air mataku tiba-tiba keluar begitu saja. Aku mengangguk.

“Ingat!” Kataku.

“Kau berjanji.. Janji itu harus ditepati..” Kataku. Dia tersenyum lebar dan mengangguk. Lalu aku berpaling ke arah Jimin,

“Ingat ini baik-baik! Dia sudah berjanji!” Katanya. Dia mengagguk.

“Aku tidak akan lupa. Tidak akan.” Kata Jimin.

 

Aku terbangun dan aku langsung menenangkan nafasku yang tidak beraturan. Mimpi yang aku alami sebelumnya. Aku mengingatnya dengan jelas.

“Kau sudah bangun?” Tanya Hoseok Oppa yang terlihat juga baru saja bangun disofa. Aku melihat sekelilingku. Aku dikamarnya Hoseok Oppa? Sejak tadi?!

“Sudah berapa lama aku disini?” Tanyaku langsung.

“Sekitar 4 jam.” Jawabnya setelah melihat jamnya.

“Aku pingsan selama itu?” Tanyaku.

“Nae, my princess.” Katanya mengacak-ngacak rambutku.

“Aku mengingatnya.” Kataku.

“Huh? Mbo?” Tanyanya.

“Tentang masa lalu kita, tentang apa yang diceritakan Chimin selama ini. Itu semua bohong.” Kataku. Dia hanya diam dan mencuci wajahnya di wastafel.

“Kenapa kau membiarkan Chimin berbohong padaku? Kenapa kau-” Aku baru saja akan protes padanya, karena dia tidak mengatakan yang sejujurnya padaku selama ini ketika kepalaku terasa sakit lagi. Hoseok Oppa langsung menghampiriku.

“Gwencana? Jangan pikirkan itu sekarang!” Bentaknya.

“Araseo.” Jawabku masih memegang kepalaku.

“Jangan menyiksa dirimu hanya karena kau ingin mengingat. Kau bisa melakukannya pelan-pelan. Aku juga sama. Aku tidak ingin memaksamu mengingatku, karena aku tidak ingin kau tersiksa. Araseo? Jadi istirahatlah saja. Kau pasti akan mengingatnya!” Katanya. Aku mengangguk.

“Aku juga ingin mengenali diriku sendiri.. Hanya itu..” Kataku. Dia menghela nafas panjang.

“Ayo pergi liburan.” Katanya.

“Hah?” Aku bingung tiba-tiba dia mengusulkan hal seperti itu. Dia tersenyum dan berlutut dipinggir ranjangnya. Aku baru menyadari selama ini aku tertidur diranjangnya dan dia malah tidur disofa.

“Jangan terlalu serius. Ayo pergi liburan, kita ketempat Seojoon dan Jiyeon. Mereka pasti senang kalau kita kesana.” Katanya,

“Ta-tapi pekerjaanku? Kompetisi dances kita?”

“Ambillah cuti lebih, dan untuk dances kita bisa latihan dimana saja. Jangan khawatir. Sekarang yang kau perlukan adalah refreshing. Terlalu banyak yang kau pikirkan setelah mendapat foto itu dari rumah sakit, dan juga cerita dariku.” Katanya.

 

“Chim. Aku mengambil cuti lebih.” Kataku ditelpon.

“Chagi? Gwencanayo? Apa kepalamu sakit lagi?” Tanya Chimin.

I’m okay. No need to worried. Aku sudah mengingat beberapa hal, dan otakku cukup lelah jadi aku ingin istirahat.” Kataku.

“Mengingat? Jinjja?” Tanyanya,

“Termasuk mengingat mimpiku waktu itu.” Kataku. Aku yakin Chimin sekarang sedang bingung, dan speechless.

“Aku tutup dulu Chim.” Kataku lalu memutus sambungan itu.

 

*Seojoon POV*

Aku keluar dari penginapan tempatku menginap dan mencari Jiyeon. Jiyeon ada dihalaman depan, dia melihat pemandangan danau. Aku langsung bernafas lega.

“Jangan membuatku khawatir Jiyeon-ah.” Kataku. Dia membalik dan menatapku tanpa ekspresi.

“Kau sedikit lama Oppa, dan aku bosan.” Katanya.

“Mian. Ayo makan.” Kataku lalu membawanya masuk.

Jiyeon hanya memainkan makanannya saja dari tadi, sejak dia datang kemarin, hingga hari ini dia tidak dalam keadaan yang baik.

“Jiyeon-ah. Makan.” Kataku. Dia mengangguk dan mengigit sandwichnya dengan ogah-ogahan. Aku hanya bisa memaksanya sebelum dia benar-benar kurus. Aku merasa hpku bergetar. Huh? Telpon? Nomor tidak dikenal?

“Yobuseyo?” Kataku ditelpon.

“Joon-ah.” Sahutnya. Suara ini? Hoseok Hyung?

“Hyung?” Tanyaku tidak percaya.

“Aku dan Soe Hee kesana hari ini. Tidak masalah kan?” Tanyanya.

“Danghyunaji Hyung. Aku akan menunggumu.” Kataku langsung. Aku bisa mendengar tawa kecil diujung sana.

“Nae, araseoyo. Itabwa.” Katanya memutuskan sambungan itu.

“Waeyo Oppa?” Tanya Jiyeon.

“Kita akan kedatangan tamu.” Kataku.

“Nugu?” Tanyanya.

“Teman lamaku dan Soe Hee.” Jawabku

“Teman lama?” Tanyanya lagi.

“Aku rasa kau akan mengingatnya. Tapi, entahlah. Nanti saja kau akan ketemu.” Jawabku.

/flashback/

“Joon-ah, Hyung harus pergi. Untuk waktu yang lama.” Katanya.

“Mbo? Wae Hyung? Odiga?” Tanyaku.

“Mmm, Amerika? Aku akan belajar dances disana.” Katanya lagi.

“Jadi, jaga dirimu baik-baik. Kau tidak perlu menghubungiku lagi.” Katanya.

“Hyung. Kau berbohongkan? Kau tidak pergi ke Amerika.” Tungkasku.

“Pasti karena paman dan bibiku. Kemarin aku mendengar kalian berbicara. Mereka memarahimu karena dipikir kau member pengaruh buruk padakukan? Mereka pasti memintamu pergi dari hidupku.” Tanyaku.

“Joon-ah kau sudah besar ternyata.” Katanya mengelus kepalaku.

“Acuhkan saja mereka Hyung! Nyatanya justru Hoseok Hyung yang membuatku mau untuk tinggal dan menurut pada mereka!” Kataku membelanya. Dia hanya tersenyum.

“Memang itu salah satu alasannya. Tapi, aku memang punya alasan tersendiri, alasan lain lagi.” Kata Hoseok Hyung.

“Mm? Mbo Hyung? Alasan apa sampai kau harus memutuskan hubungan denganku?!” Protesku emosi. Aku yakin Hoseok Hyung hanya berusaha agar aku tidak membenci paman dan bibiku saja. Aku tidak mengerti denganmu Hyung!

“Joon-ah.. Maksudku-”

“Aku membencimu Hyung! Kenapa kau harus membela paman dan bibiku!! Kenapa kau harus memutuskan hubungan denganku hanya karena paman dan bibiku yang memintanya!” Teriakku langsung memotong omongannya, dan lalu berbalik, lari menjauh darinya.

“Karena aku sudah capek menjagamu Park Seojoon!!” Teriaknya. Aku terhenti dan membalikkan badanku. Aku melihat Hoseok Hyung berjalan membelakangiku dan menjauh dariku. Aku mengambil ponselku dan menelponnya. Aku bisa melihat dia melihat ponselnya namun dia mematikan teleponku.

“Aku akan menjaga diriku sendiri Hyung ketika kita bertemu lagi.” Gumamku. Aku tau dia tidak serius dengan alasan itu. Dia hanya ingin agar aku tidak membenci paman dan bibiku. Dasar Hyung bodoh!

/flashback/

 

“Jiyeon-ah, aku keluar dulu.” Kataku.

“Mereka sudah datang?” Tanyanya sambil bermain PS.

“Nae.” Jawabku lalu berjalan keluar. Aku melihat sebuah mobil jeep hijau tua datang. Soe Hee turun dari sana.

“Seojoon-ah! Miane. Kami datang mendadak.” Katanya ketika Soe Hee menghampiriku.

“Anya. Gwencanayo.” Jawabnya.

“Oh ya, kau masih ingat dengannya? Jung Hoseok. Dia yang ada di club waktu itu.” Kata Soe Hee memperkenalkanku pada Hoseok Hyung-ku sendiri. Aku tersenyum ketika Hoseok Hyung melihat kearahku. Hoseok Hyung bersalaman denganku.

“Bagawayo.” Katanya dengan banmal.

“Nae Hyung. Jeodo Bagapta.” Kataku.

“Kalian saling mengenalkan? Aku sudah curiga sejak awal.” Selidik Soe Hee.

“Nae Soe Hee-ah, nanti aku ceritakan lengkapnya.” Kata Hoseok Hyung.

“Hyung, kau masuk saja dulu, biar aku urus itu.” Kataku membawakan barang-barang mereka.

“Eish.. Aku bisa membawanya sendiri.” Jawab Hoseok Hyung yang akhirnya juga membantu membawa barang-barang masuk.

 

*Jiyeon POV*

Aku masih asik dengan game PSku ketika Seojoon Oppa, Soe Hee Eonnie, dan seorang laki-laki yang tidak aku kenal masuk. Aku mempause game ku, dan berdiri memberikan salam pada mereka.

“Anneyeong Unnie.” Kataku pada Soe Hee Eonnie.

“Anneyeonghaseo.” Kataku pada laki-laki itu. Aku merasa tidak asing dengan laki-laki ini.

“Jiyeon-ah, bogoshipeyo.” Kata Soe Hee Eonnie memberikan pelukan padaku. Aku memeluknya balik.

“Nae Unnie. Jeodo.” Kataku. Aku tersenyum sekilas dan kembali ke game ku.

“Kau tidak akan menemani kami mengobrol Jiyeon-ah?” Tanya Seojoon Oppa.

“Mmm? Chakkaman.. Biarkan aku menyelesaikan ini..” Kataku masih serius dengan gameku.

“Araseo kami dihalaman depan.” Kata Seojoon Oppa.

“Eoh.” Jawabku. Setelah selesai dengan gameku aku melihat kehalaman depan mereka sedang mengobrol sambil minum teh. Aku memperhatikan laki-laki itu sekali lagi. Aku merasa pernah melihatnya, tapi dimana? Oh! Dia laki-laki yang menggendongku di bar kapan lalu. Tapi, kenapa Seojoon Oppa bilang dia adalah teman lamanya. Apa memang Seojoon Oppa sudah pernah kenal sebelumnya? Kalau memang benar, kenapa aku tidak pernah tau? Aku kenal semua teman Seojoon Oppa. Aku keluar kehalaman depan menghampiri mereka,

“Anneyeonghaseo.” Kataku.

“Jiyeon-ah, duduklah.” Kata Soe Hee Eonnie. Aku tersenyum sekilas dan duduk bersama mereka.

“Kau ingat Hoseok Hyung, Jiyeon-ah?” Tanya Seojoon Oppa.

“Orang yang menggendongku di bar.” Kataku.

“Selain itu? Kau tidak mengingatku selain itu?” Tanyanya.

“Entahlah. Memang kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanyaku.

“Dia adalah teman lamaku. Temanku sewaktu SMA.” Jelas Seojoon Oppa.

“Oh.. Miane. Aku tidak mengingatmu.” Kataku.

“Gwencanayo. Kau bisa mulai mengenalku sekarang.” Katanya tersenyum padaku. Aku mengangguk dan menyeduh tehku. Aku merasa aku familiar dengan orang ini entah kenapa.

 

“Apa kau akan main game sampai malam?” Tanya Seojoon Oppa.

“Nae. Aku akan tidur kalau aku mengantuk. Tenang saja. Jangan khawatir.” Kataku. Akhir-akhir ini aku lebih suka bermain game. Ini bisa membuatku lupa dengan sakit hatiku. Semoga ini bisa membuatku melupakannya.

“Sampai kapan kau akan seperti itu?” Tanya Hoseok Oppa. Aku terdiam, aku mempause game ku.

“Menjadikan game sebagai pelarian.” Katanya. Aku menghela nafas.

“Lebih baik dari pada clubbing kan?” Kataku melanjutkan game ku. Aku tidak suka bagaimana dia bisa membaca ku dengan tepat. Dia tajam dalam membaca gerak-gerikku tidak seperti Seojoon Oppa dan itu membuatku tidak nyaman. Dia duduk disofa disebelahku.

“Aku merasa familiar denganmu Oppa.” Celetukku.

“Dulu kita memang cukup sering bertemu. Tapi waktu itu kau memang masih kecil. Wajar jika kau familiar denganku.” Katanya.

“Aku tidak mudah melupakan orang yang aku kenal.” Jawabku.

“Kau tidak mengenalku. Kita tidak berkenalan.” Katanya.

“Aku mengingat seorang laki-laki yang sering mengajak Seojoon Oppa pergi dan pulang larut malam. Ketika pulang Seojoon Oppa pasti mabuk dan langsung tidur sementara laki-laki itu selalu memasakanku sesuatu. Aku selalu menunggu-nunggu laki-laki itu setiap malam karena masakannya enak, seperti masakan Eomma. Apa itu kau?” Tanyaku. Aku menunggu jawabannya tapi dia hanya diam. Aku mempause game ku dan melihat kearahnya.

“Ingatanmu tajam juga. Benar itu aku.” Katanya.

“Aku tidak menyangka. Kau adalah laki-laki itu.” Jawabku sedikit kaget.

“Kenapa? Apa yang kau pikirkan tentang aku waktu itu?” Tanyanya.

“Kau tidak ingat dulu aku pernah bilang apa?” Tanyaku balik.

“Mmm, biar aku pikirkan.. Mungkin aku akan ingat..” Katanya.

“Tidak. Tidak usah. Bukan hal penting.” Kataku padanya, dan dia memberikaku ekspresi innocent. Ini memalukan, beruntung dia tidak ingat kalau aku pernah bilang padanya kalau aku ingin dia menjadi suamiku! Hanya karena waktu itu dia selalu membuat makanan yang enak untukku!

 

Dear Diary,

Aku masih harus memulihkan rasa sakit ini. Dan Soe Hee Eonnie datang. Um, berita yang tidak bisa dibilang baik ataupun buruk, adalah Hoseok Oppa, teman lama Seojoon Oppa juga datang. Aku masih ingat sewaktu kecil aku merasa dia adalah laki-laki terbaik yang pernah aku temui, aku bahkan pernah bilang padanya kalau aku akan menikahinya nanti kalau aku sudah besar padahal waktu itu aku mengenal namanya saja tidak. Aku merasa konyol kalau aku mengingat hal itu. Bodoh sekali aku waktu itu..

 

Park Jiyeon,

17 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s