[ONESHOT] A Better Place

8409506412_43b0b51556_b

A Better Place by nchuhae

Lee Donghae & Jessica Jung | AU, Slice of Life, mild!Psychology | PG-15

.

.

Mereka bertemu tepat ketika gadis itu ingin mengakhiri hidupnya.

***

Musim sudah resmi berganti. Dingin yang menusuk tulang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian para warga kota sejak beberapa minggu lalu. Di waktu-waktu lain, jalanan kota Seoul pada pukul sepuluh malam masih akan tampak ramai oleh para pegawai kantor yang baru pulang seusai lembur, pasangan kekasih yang habis berkencan, atau para siswa yang baru saja menyelesaikan sesi belajar malam mereka. Namun kali ini, jalanan sudah sepenuhnya lengang.

Sempurna, Jessica membatin. Dengan keadaan begini, tidak akan ada orang-orang sok heroik yang menghalangi niatnya. Dia tidak butuh perhatian semu seperti itu. Satu-satunya yang ia inginkan saat ini adalah mengakhiri semua drama dalam kehidupannya yang membosankan.

Gadis itu menatap cermin yang terpasang tidak jauh dari kemudi, memastikan riasan yang menempel di wajahnya masih tampak memukau. Gincu merah masih setia menghias bibir tipisnya, memberi kesan kontras pada kulit wajahnya yang pucat. Rambut cokelat bergelombangnya tersisir rapi, jatuh menutupi pundak yang telanjang. Senyum bangga merekah di wajahnya. Ia pasti akan menjadi mayat tercantik yang pernah ditemukan polisi Seoul.

Jessica membuka pintu dan melangkah menuju pembatas jalan yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempatnya memarkir mobil. Kaki gaun merahnya menyapu hamparan salju, sementara ujung sepatu tumit tingginya menimbulkan bunyi kerosak halus ketika ia melangkah.

Ia terbiasa dengan hawa dingin, karena itu ketika angin berhembus dan menyapu kulitnya yang tidak tertutup gaun, gadis itu tampak tidak terlalu terganggu. Malah, dia menikmati bagaimana angin yang bertiup cukup kencang itu menerbangkan rambut panjangnya hingga menari di udara. Kalau saja dirinya saat ini sedang syuting drama, maka akan muncul musik klasik bernuansa gelap untuk mengiringi setiap langkah yang ia ambil menuju tempatnya mengakhiri hidup.

Jessica lantas tertawa kering. Membayangkan dirinya syuting drama seolah merupakan sebuah khayalan yang terlalu muluk mengingat statusnya saat ini.

Kau hanya seorang artis papan bawah, Jessica. Tidak ada lagi syuting untukmu….

Ia berhenti di samping pagar setinggi dada orang dewasa demi menentralkan degup jantungnya yang sedikit memburu. Tangannya mencengkram pipa besi yang digunakan sebagai pembatas jalan raya dengan sungai yang mengalir di bawahnya. Aku pasti sudah terlalu bersemangat untuk mati, gadis itu berpikir, berusaha mengenyahkan kemungkinan bahwa jantung yang berdetak dalam ritme tidak biasa itu disebabkan karena ia takut menghadapi kematian.

Apa yang kautakutkan, Princess? Orang-orang sudah sejak lama menganggapmu mati.

Jessica mengembuskan napas panjang demi memantapkan niatnya, lalu menunduk memandang aliran sungai di bawahnya. Permukaan sungai tersebut sudah membeku, namun tampaknya lapisan esnya belum begitu tebal hingga Jessica sangat yakin bahwa jika tubuhnya terhempas ke sana, lapisan dingin tersebut akan langsung retak. Petugas keamanan yang rutin berpatroli di sekitar sungai mungkin akan menemukan mayatnya pagi nanti. Jika beruntung, mereka akan melakukannya sedikit lebih cepat dan berita kematiannya akan menjadi tajuk utama di koran-koran pagi.

Gadis berambut panjang itu menyunggingkan senyum ketika membayangkan wajahnya sekali lagi akan menghias portal berita. Dia memang selalu suka menjadi pusat perhatian. Dulu, saat kariernya masih berada di puncak, dia sangat senang mengundang para wartawan untuk meliput kegiatan seremeh apapun yang ia kerjakan. Sorotan kamera membuatnya merasa lebih hidup. Terakhir kali kamera para pencari berita mengelilinginya, Jessica terlalu depresi hingga tidak bisa menikmati sensasi menyenangkan dari sodoran mikrofon dan kilatan blitz yang selama ini ia gemari. Waktu itu dia memang tidak terlalu menyukai alasan dirinya menjadi bahan perbincangan. Beberapa foto yang diambil para wartawan bodoh itu bahkan mengabadikan sisi terburuk dari penampilannya selama ini. Kalau mengingat itu, Jessica merasa sebal sendiri. Dia tidak seharusnya terlihat jelek di depan kamera, apalagi jika gambar yang terekam kemudian tersebar untuk menjadi konsumsi banyak orang.

Gadis itu tersenyum sedikit lebih lebar karena tahu bahwa kali ini, berita tentang dirinya akan mengemuka dengan tajuk yang sangat indah: The Ice Princess was Found Dead on the Icy River. Lalu, di bawah judul itu, akan muncul potret dirinya terbaring tanpa nyawa di atas lapisan es yang sedikit retak, dengan gaun merah menyala membalut tubuhnya yang langsing. Sedikit darah mungkin akan mengucur dari bibir atau kepalanya yang pecah, memberikan warna merah yang indah untuk melengkapi tampilan memukaunya. Ada sebuah kegembiraan aneh yang melingkupi dirinya karena gagasan itu. Benar-benar rencana sempurna, batinnya.

“Itu bukan tempat yang tepat untuk bunuh diri, tahu.”

Jessica kontan menoleh ke arah di mana suara itu berasal, merasa yakin kalimat barusan tertuju padanya. Dan benar saja, tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada seorang pria yang entah sejak kapan muncul di sana.

Pria itu tak seberapa tinggi. Pakaian musim dingin yang tebal dan berlapis-lapis membungkus tubuhnya dengan rapat hingga yang terlihat oleh Jessica hanya sepasang mata sendu yang seolah menatapnya dengan sorot kasihan. Oh, Jessica sangat benci dengan tatapan seperti itu. Tidak ada orang yang boleh mengasihani dirinya.

“Kenapa kau ada di sini?” Jessica bertanya sinis.

“Apa aku tidak boleh ada di sini?” Pria itu balik bertanya.

“Kau menggangguku.”

Pria itu terkekeh pelan, dan Jessica langsung mengartikannya sebagai sebuah ejekan. “Ini tempat umum, Nona. Kita sama-sama punya hak untuk berada di sini. Kecuali kalau sekarang sudah ada peraturan yang mengkhususkan tempat ini untuk orang-orang yang ingin bunuh diri, baru kau berhak mengusirku.”

Jessica menyipitkan mata, sedikit tersinggung oleh cara pria itu menjawab pertanyaannya. Terlalu masuk akal, dan itu membuatnya merasa bodoh. Sialan!

Ia melemparkan pandangan ke arah lain, berusaha menghindari kontak mata dengan pria asing yang telah berhasil membuatnya kesal di pertemuan pertama. Ia berharap dengan begitu pria tersebut juga segera tahu diri kemudian memilih pergi. Tidak ada gunanya juga dia di sini.

Suasana hening sejenak. Angin kembali datang untuk mempermainkan rambut panjangnya. Gadis itu memejamkan mata lalu menarik napas dalam, menikmati dinginnya angin sembari mengumpulkan lagi keberanian yang sempat terpecah akibat kehadiran pria asing tadi. Satu … dua … tiga…. Dan ia masih hidup.

Gadis itu yakin dirinya tengah berdelusi ketika samar-samar mendengar suara jepretan kamera. Ia tertawa, mengejek diri sendiri karena sampai saat seperti ini pun, suara seperti itu masih saja hadir di benaknya. Lima tahun lalu, ia pernah ke tempat ini. Serpihan salju yang menutup jalan serta dingin yang menusuk sama persis seperti sekarang. Bedanya, dulu ia ke sini untuk pemotretan sebuah majalah besar. Sekarang? Ah, Jessica bahkan sudah tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan keadaannya tanpa membuat dirinya terdengar terlalu menyedihkan.

Suara langkah yang semakin lama semakin jelas membuat Jessica membuka mata. Pria itu ternyata belum pergi. Malah, ia melangkah mendekati pembatas jalan, tempat di mana Jessica berdiri. Gadis itu sudah hampir melontarkan kalimat demi mengusir pria tersebut, yakin betul bahwa pria itu akan menasihati dan memberitahunya bahwa bunuh diri adalah tindakan bodoh. Jika terpaksa, dia mungkin akan melakukan hal serupa seperti yang dilakukan orang lain sebelum ini, yang menarik paksa gadis itu hingga rencananya mengakhiri hidup akan kembali gagal. Memikirkan itu saja sudah berhasil membuat Jessica mendengus kesal. Tidak bisakah ia bunuh diri dengan tenang?

Berkebalikan dengan prasangka Jessica, pria itu malah berkata, “Kalau jadi kau, aku akan lebih memilih mati dengan menabrakkan diri di rel kereta. Dengan begitu kau tidak akan terlalu lama merasakan sakit.”

Gadis itu menaikkan alis, sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia menoleh, mengkhianati keinginannya untuk tidak melihat wajah pria menyebalkan itu lagi, dan berusaha mencari kesungguhan dari mata pria di depannya. Tidak ada kepanikan membayang di sana. Tidak pula kekhawatiran seperti yang selama ini ia lihat di wajah orang-orang yang berusaha menghalanginya bunuh diri.

Kenapa? Kau kecewa, Princess?

“Omong-omong, aku Lee Donghae.”

Pria itu menarik syal rajut berwarna nila yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya, kemudian memamerkan senyum akrab yang membuat Jessica merasa risih. Tangan kanannya terulur, menunggu Jessica menjabatnya.

Jessica mengamati tangan yang tidak terbungkus sarung itu. Kurus, panjang, pucat … tapi sepertinya akan memberikan sedikit kehangatan jika mereka bersentuhan.

“Kau tidak kedinginan?” Akhirnya kalimat itulah yang terlontar dari bibir Jessica.

Donghae melirik tangannya yang masih terulur, lalu pelan-pelan memasukkannya kembali ke saku jaket setelah sadar bahwa Jessica tidak punya niat menyambut uluran tangannya. “Aku tidak suka sesuatu menghalangi tanganku saat sedang memotret,” beritahu Donghae.

Satu kata itu mengusik Jessica. Memotret. Pandangan gadis itu lalu tertuju pada kamera yang tergantung di leher Donghae. Kamera milik pria itu bukan kamera professional yang harga lensanya membelalakkan mata, tapi tetap saja, benda itu cukup besar hingga Jessica lagi-lagi merasa bodoh karena tidak menyadari keberadaan benda itu sebelumnya. Berarti suara jepretan yang tadi ia dengar bukan hanya sebatas khayalan, Jessica menyimpulkan.

“Kau wartawan?” tanya gadis itu kemudian. Nadanya defensif. Membayangkan rencana bunuh dirinya yang sempurna harus dirusak oleh keberadaan wartawan membuatnya merasa pening. Orang-orang seharusnya menemukan mayatnya besok pagi, ketika efek keemasan cahaya matahari menerpa tubuhnya yang remuk dan penuh darah. Di mana letak keindahan dari sebuah mayat yang dipotret pada malam hari?

Seolah mengetahui kekhawatiran gadis di depannya, Donghae menggeleng. “Penulis,” koreksinya, dan ia langsung melihat perubahan di wajah Jessica. Raut tidak suka yang muncul karena pemikiran bahwa dirinya adalah wartawan berangsur lenyap. Setidaknya seperti itulah Donghae mengartikan ekspresi datar yang muncul menggantikan sorot penuh curiga di mata gadis itu. Santai, Donghae menyandarkan tubuh pada palang besi di hadapannya, memposisikan diri agar berhadapan dengan Jessica, kemudian menambahkan, “Tapi aku suka memotret dan memperhatikan tingkah laku orang. Untuk mencari inspirasi.”

Hening menyelimuti mereka untuk sesaat hingga Donghae kembali bersuara, kali ini mengulangi pertanyaan yang tadi dilontarkan Jessica kepadanya. “Kau tidak kedinginan?”

Gadis itu tersenyum mengejek. “Apa kau akan melepaskan jaketmu dan memberikannya padaku kalau kubilang iya?”

“Mungkin,” sahut Donghae, yang langsung dibalas tatapan meremehkan oleh lawan bicaranya.

“Aku tidak kedinginan,” ujar Jessica. Nada bicaranya sedingin udara yang melingkupi mereka. “Lagi pula, sebentar lagi aku akan mati. Hangat atau dingin tidak akan ada bedanya.”

Donghae mengangguk paham, tampak sama sekali tidak mengambil hati sikap kasar Jessica. Pria itu memutar tubuh. Pandangannya mengarah pada udara kosong yang juga sedang ditatap Jessica. “Sepertinya julukanmu tidak datang begitu saja,” kata Donghae. “Ice Princess memang seharusnya tidak mudah kedinginan, kan?”

Sekali lagi, pria itu berhasil membuat Jessica menoleh ke arahnya. “Kau mengenalku?”

“Tentu saja,” sahut Donghae ringan. “Saat masih remaja, aku menghabiskan seluruh uang tabunganku agar bisa menonton setiap konsermu.”

Oh, masa lalu yang indah itu. Konser, pemotretan, syuting, jumpa penggemar, dan kamera yang tidak berhenti menyorot. Semua berlalu begitu cepat hingga Jessica kadang berpikir itu hanya mimpi.

“Aku tidak membunuh Soojung,” kata Jessica. Dia menatap sebuah pohon yang ujungnya bergerak-gerak ditiup angin, tapi pikirannya melayang jauh ke masa empat tahun lalu, ke sebuah peristiwa yang membuat karier cemerlangnya merosot tajam hanya dalam satu hari. Ia merasa sedikit mual ketika teringat mayat adiknya tergeletak bersimbah darah di hadapannya. Soojung yang selalu tampil cantik terbujur kaku dengan luka tusuk di tubuhnya. Tidak hanya satu, tapi belasan. Gaun tidur putihnya yang minim dan nyaris transparan berubah warna menjadi merah—semerah gaun yang kini dikenakan Jessica.

Semua orang berkata bahwa Jessicalah pelaku semua kekejian itu. Bukti-bukti mengarah kepadanya. Julukan Ice Princess yang dulu membuat orang selalu terbayang sikap dinginnya di depan kamera, berganti menjadi bayangan gadis kejam yang tega menghabisi nyawa saudaranya sendiri hanya karena masalah asmara.

“Dia sudah seperti itu ketika aku sampai di apartemennya,” kenang Jessica. Suaranya agak parau akibat udara dingin dan luapan emosi yang ditahan-tahan. “Aku memang menyukai Jonghyun, dan memang benar kalau aku berkali-kali bertengkar dengan Soojung karena pria itu. Aku kakak yang buruk karena memusuhi adikku setelah tahu bahwa ia memperoleh cinta dari pria yang kuinginkan, tapi aku tidak akan sampai hati membunuhnya. Apalagi dengan cara sekejam itu.”

Donghae diam, menunggu Jessica menyelesaikan ceritanya.

“Tidak ada yang percaya padaku. Bahkan pengacaraku pun menganjurkan agar aku mengaku bersalah, dengan harapan itu bisa sedikit meringankan hukumanku.”

“Aku paham,” ujar Donghae.

Jessica berusaha mencari kepedulian palsu dari dua kata itu. Orang-orang selalu berkata demikian saat tahu ia ingin mengakhiri hidup. Mereka mengaku paham padahal kenyataannya sama sekali berbeda. Tapi kali ini berbeda. Ia tidak berhasil menemukan apa yang ia cari dari Donghae. Tidak ada yang palsu. Tidak ada kepedulian.

Jessica tertawa kering, lalu sekali lagi mengalihkan pandangan kepada lawan bicaranya. “Kupikir kau terlalu sibuk menulis hingga tidak sempat memperhatikan hal lain.”

Donghae ikut tertawa, menirukan apa yang dilakukan oleh sosok feminin di sampingnya. Lugas, pria itu berkata, “Persidanganmu ditayangkan langsung di beberapa stasiun televisi, ingat? Selama berbulan-bulan media penuh oleh berita tentangmu, jadi percayalah, Nona Jung, bahkan orang yang paling malas menonton televisi sekalipun akan tetap mengetahui berita itu. Dan kalau ini bisa menenangkanmu, ketahuilah, aku percaya padamu.”

Oh, here it is, the fake reassuring word she hates.

Jessica menyunggingkan senyum mencemooh. “Semua orang juga berkata begitu saat tahu aku akan bunuh diri. Mereka berbohong agar aku tidak jadi mati, agar aku punya waktu lebih panjang untuk mendengar mereka mengaitkanku dengan kejahatan yang tidak kulakukan.”

“Kau selalu seperti ini, ya?” tanya Donghae lagi. Kali ini, ia berhasil menyuntikkan sedikit emosi dalam caranya melontarkan kalimat. “Kau sedih karena semua orang tidak mendengarkan pembelaan dirimu, tapi menolak percaya ketika akhirnya ada yang berkata bahwa ia percaya padamu.”

Untuk ketiga kalinya malam itu, Jessica merasa bodoh. Apa yang dikatakan Donghae barusan memang bukan sesuatu yang baru. Pemikiran serupa berkali-kali melintasi benaknya sejak kematian Soojung. Tapi di atas segalanya, mungkin memang harus ada orang yang benar-benar mengatakan hal itu padanya agar ia sadar.

“Apa kau akan memotretku kalau aku melompat sekarang?” tanya Jessica setelah cukup lama membiarkan desau angin malam mengisi keheningan antara ia dan kenalan barunya.

Donghae tahu bahwa Jessica berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia memilih mengikuti alur yang ditawarkan gadis itu. “Kalaupun iya,” katanya, “aku tidak akan memperlihatkannya kepada siapa pun. Polisi akan mendatangiku untuk meminta keterangan, para pencari berita mungkin juga akan berusaha mengorek informasi dariku, belum lagi kalau sampai aku dicurigai sebagai pembunuh. Oh, tidak, terima kasih.”

Jessica tertawa. Lepas, tanpa kecurigaan, tanpa penghinaan. Ah, sudah berapa lama ia tidak tertawa seperti ini?

“Kalau begitu enyahlah sekarang juga. Kau tidak ingin berada di sini saat aku melompat, kan?”

“Kau benar-benar tidak ingin mempertimbangkan saranku?”

Jessica mengangkat alis, tidak begitu paham akan pertanyaan Donghae.

“Aku paham bahwa memastikan mayatmu ditemukan di atas es merupakan hal yang penting. Ice Princess…. That thin ice on the river…. Itu akan jadi berita yang diingat orang selama bertahun-tahun. Tapi seperti yang kubilang tadi, ini bukan tempat yang tepat untuk mengakhiri hidup.”

“Karena?”

“Pertama, tempat ini tidak begitu tinggi. Kalau kau melompat, kurasa kau tidak akan langsung mati. Kemungkinan besar kau hanya akan mengalami patah tulang. Atau kalau beruntung, tubuhmu akan merusak lapisan es yang tidak begitu tebal, lalu kau akan terbawa aliran sungai, dan mati setelah kedinginan selama berjam-jam. Kedua, ada CCTV terpasang di sana,” kata Donghae sembari mengacungkan telunjuk ke salah satu kamera yang terpasang di tiang besi di ujung jembatan.

Jessica mengikuti arah yang ditunjukkan Donghae, mendapati titik merah yang berkedip-kedip samar di kejauhan, lantas mendahului pria itu menyelesaikan penjelasannya, “Kau bisa dicurigai sebagai tersangka.”

Donghae mengangguk.

Jessica berbalik hingga kembali menghadap sungai. Sedikit mencondongkan tubuh, ia memperhatikan permukaan sungai yang membeku di bawahnya. “Kupikir es itu sudah cukup tebal untuk menahan tubuhku,” ujarnya pelan.

“Musim dingin belum mencapai puncaknya,” tukas Donghae. Ia menatap Jessica, memastikan gadis itu menaruh perhatian terhadap penjelasannya, kemudian melanjutkan, “Yang biasanya membeku di waktu seperti ini adalah air laut. Kau tahu kan, garam membuat laju reaksi jadi lebih cepat. Sedangkan yang mengalir di bawah sana adalah air tawar. Butuh waktu sedikit lebih lama lagi sampai permukaannya cukup keras untuk menopang tubuhmu.”

Jessica bukan orang yang pandai dalam pelajaran sains. Saat masih sekolah, adalah suatu keajaiban jika ia bisa lulus di atas nilai rata-rata. Namun penjelasan Donghae terasa masuk akal baginya, dan itu membuat keinginannya mengakhiri hidup dengan melompat ke sungai jadi berkurang. Terkekeh pelan, gadis itu berkomentar, “Apa selain penulis, kau juga berprofesi sebagai fisikawan?”

“Sama sekali tidak,” bantah Donghae. “Tapi aku selalu melakukan riset mendalam untuk setiap novelku, dan ada satu cerita dimana tokoh utamanya berniat melakukan bunuh diri dengan meloncat dari jembatan, persis seperti yang kaulakukan sekarang.”

“Dia mati?”

Donghae menggeleng sambil memamerkan senyum jahil. “Aku tidak suka memberikan spoiler, Nona. Terutama untuk novelku. Orang-orang harus membaca langsung untuk tahu bagaimana ceritanya berakhir.”

Jessica tertawa lagi. Lebih lepas. Lebih hidup.

Oh, bagaimana mungkin perasaan seperti itu muncul dalam diri orang yang ingin mati?

“Jadi, apa yang kausarankan agar aku bisa mati dengan cepat tapi efeknya tetap dramatis, Tuan Penulis-yang-Melakukan-Riset?”

“Aku sudah memberitahumu sejak tadi.”

“Kereta?”

Donghae mengangguk.

“Apa yang begitu dramatis dari seseorang yang menabrakkan diri ke kereta yang tengah melaju?”

“Setidaknya kau akan mati dengan cara yang sedikit berbeda dibanding kebanyakan orang belakangan ini. Mereka selalu mencari tempat tinggi untuk meloncat, mengiris nadi di pergelangan tangan, gantung diri, atau minum racun agar tubuh mereka tidak rusak hingga perias mayat akan dengan mudah mendandani mayat mereka. Tidakkah kau berpikir itu terlalu biasa?”

Kali ini giliran Jessica yang mengangguk.

“Selain itu, kau tahu Tolstoy?” tanya Donghae, yang langsung dijawab gelengan pelan oleh Jessica. “Dia seorang sastrawan terkenal dari Rusia. Salah satu karyanya, Anna Karenina, sampai sekarang masih menjadi bacaan wajib di kelas-kelas sastra. Inti ceritanya tentang konflik batin seorang wanita yang berselingkuh, yang mana aku tahu betul tidak ada hubungannya dengan kisah hidupmu, tapi ia memilih mengakhiri hidupnya di rel kereta. Aku tidak akan bilang ini dramatis, tapi sepertinya akan ada penulis yang dengan senang hati mengangkat kisahmu di proyek novel terbarunya.”

Jessica tergelak. “Kau baru saja memberiku spoiler, tahu.” Ia berujar, dan Donghae kontan tertawa karenanya. Gadis itu kemudian bertanya, “Kenapa kau tidak menyarankanku mencari gedung tinggi dan melompat dari sana?”

“Di jam selarut ini, gedung-gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan pasti sudah tertutup untuk pengunjung. Kalaupun masih buka, penampilanmu yang mencolok ini akan langsung menarik perhatian sekuriti. Mereka akan menghalangimu,” kata Donghae. Ia menarik napas pendek, lalu menambahkan, “Lagi pula, kurasa kau sudah tahu mengenai hal ini, bukan, Nona Jung?”

“Apa sudah ada yang pernah memberitahu kalau kau itu sok tahu sekali?”

Donghae tertawa garing. “Itu tadi hanya tebakan. Aku pernah membaca riset yang hasilnya mengemukakan bahwa orang yang ingin bunuh diri cenderung lebih dulu berpikir tentang melompat dari gedung daripada jembatan, dan kupikir itu juga berlaku untukmu.”

“Oh, sialan kau, Lee Donghae!” umpat Jessica, sama sekali tidak menyukai cara pria itu menjawab pertanyaannya. Kenapa seolah pria itu bisa membaca keadaannya dengan begitu jelas? Apakah semua penulis punya kemampuan demikian?

So, train it is, gumam Jessica setelah cukup lama berpikir. “Kau mau menemaniku ke stasiun terdekat?” tanyanya kepada Donghae.

Pria itu melirik sebuah SUV hitam yang terparkir di tepi jalan. “Aku tidak terbiasa naik mobil mahal.”

Jessica ikut memandang benda yang dibicarakan Donghae dan tersenyum suram karena teringat betapa rendahan cara yang ia tempuh hingga benda itu bisa menjadi miliknya.

Seluruh hartanya habis untuk membayar biaya persidangan, terutama pengacara yang per jamnya menuntut honor puluhan juta won tapi pada akhirnya tetap gagal menjauhkan gadis itu dari penjara. Seusai menjalani masa tahanannya enam bulan lalu, ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia tidak memiliki keahlian selain bernyanyi dan berlakon di depan kamera. Tapi semua orang membencinya. Jangankan tawaran syuting, mendapati orang bersedia menyapanya pun sudah membuat Jessica bersyukur.

Lalu, suatu malam ketika ia tengah mabuk-mabukan di bar dengan sedikit sisa uang yang ia miliki, seorang pria menghampirinya, menawarinya sebuah pekerjaan.

Jessica bukan orang tolol. Dari sekadar melihat wajah licik lawan bicaranya saja, ia sudah bisa menebak hal rendahan macam apa yang harus ia lakukan. Namun ia sepenuhnya sadar, dengan gaya hidupnya yang glamor dan keuangannya yang menyedihkan, hanya satu jalan itu yang terbuka untuknya.

Hidupnya hancur. Harga dirinya lebur seiring jamahan pria hidung belang yang melewatkan malam bersamanya. Ia bukan lagi Jessica Jung sang artis terkenal, melainkan seorang mantan narapidana yang kebetulan cantik dan bersedia menjual tubuh demi uang. Sebagian pelanggan meremehkannya, sebagian lagi tidak tanggung-tanggung menyiksanya demi pemenuhan hasrat. Tiga bulan, dan Jessica sampai pada batas kesabarannya.

“Memangnya aku bilang bahwa kita akan ke sana dengan mengendarai mobil?” kata gadis itu.

Donghae tersenyum tipis, lantas melepaskan jaket tebal yang ia kenakan, menyampirkannya di bahu Jessica tanpa meminta izin lebih dulu. “Jangan menolak,” ucapnya ketika melihat Jessica siap membuka mulut, “aku tidak ingin kau mati kedinginan sebelum kita sampai di stasiun.”

Gadis itu menelan bantahan yang sempat ingin ia utarakan ke Donghae. Sebagai ganti, ia tertawa. Renyah dan hidup. Ia merapatkan jaket kelabu itu ke tubuhnya, kemudian mulai mengayun tungkai menuju stasiun yang dimaksudkan Donghae, meninggalkan pria itu beberapa langkah di belakang. Angin dingin yang bertiup cukup kencang kembali meniup-niup rambut serta ujung gaunnya, dan Donghae tidak luput mengabadikan pemandangan itu dengan kameranya.

“Dulu orang-orang membayar mahal untuk bisa memotretku, tahu,” ujar Jessica ketika Donghae sudah berhasil menyejajarkan langkah dengannya. Pandangannya masih lurus ke depan, tapi gadis itu tahu bahwa Donghae tersenyum di sampingnya.

“Aku akan menghias makammu sebagai bayaran,” jawab Donghae, dan Jessica tergelak lagi.

Di ujung tawa itu, ada keheningan panjang yang mengisi perjalanan mereka menuju stasiun, tempat yang disepakati keduanya sebagai lokasi terbaik untuk bunuh diri. Tidak ada lagi yang berinisiatif untuk memulai percakapan. Jessica sudah kepalang asyik membayangkan kuburannya berhias karangan bunga dari orang-orang yang dulu pernah mengidolakan dirinya. Sedangkan Donghae, ia sibuk berpikir. Stasiun terdekat bisa ditempuh dengan lima belas menit berjalan kaki. Itu berarti, ia hanya punya waktu sedikit untuk memeras otak agar menemukan alasan lain untuk membuat gadis di sampingnya lupa pada niatnya mengakhiri hidup.

End.

Author’s Note:

  • Originally posted here.
  • Saran dan komentar selalu ditunggu 🙂
Advertisements

4 responses to “[ONESHOT] A Better Place

  1. Bagus banget FF nya. Bisa jadi pelajaran juga nih, krn orang2 biasanya malah panik sendiri kalo tau ada yg berniat bunuh diri. Nice, semangat buat FF lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s