[FFINDO PROJECT] Friendship – The Coups

the-coups1.jpg

Credit Poster :

WordPress : ALKINDI @Indo Fanfictions Arts (Active Link)

Wattpad/Facebook/dll. : ALKINDI @Indo Fanfictions Arts (https://indofanfictionsarts.wordpress.com/open-order-poster/available-alkindi)

Chapter 1: Hoseok’s Sin

 

Semburat jingga dilangit hari itu sudah mulai memudar digantikan kegelapan malam yang mulai mewarnai langit musim gugur hari itu. Senin 12 desember 2016. Seorang laki-laki duduk disalah satu bangku sambil melihat anjing kecilnya yang asik bermain dengan mainan yang Ia berikan. Dia menghela nafas.

It’s been a while since last time we meet up, and I’ve been miss them already!” Katanya mengungkapkan apa yang terlintas diotaknya. Dia merindukan sahabat-sahabatnya padahal baru akhir minggu lalu mereka bertemu. Dia mengeluarkan dompet disakunya dan langsung terpampang foto 4 anak SMA yang tersenyum seperti anak kecil, senyuman tanpa beban.

“Jung Hoseok, Oh Sehun, Taeyong, Jeon Won Woo will be forever.” Katanya membaca kalimat yang tertulis dibawah foto itu. Otomatis dia tersenyum, Hoseok tersenyum begitu lebar.

/flashback/

Hoseok duduk disalah satu bangku dikelasnya, kelas itu kosong. Anak-anak yang lainnya sudah berkumpul dilapangan untuk memulai upacara kelulusan mereka. Hoseok melihat kelasnya dengan seksama dan mengenang setiap hal yang sudah terjadi selama 3 tahun. Dia mengusap bangkunya. Pandangannya beralih ke 2 bangku didepannya.

“Taeyong dan Wonwoo.” gumamnya. Pandangannya beralih ke bangku disebelahnya,

“Sehun.” Gumamnya lagi.

“Hoseok-ah!! Mbohae?” Tanya seorang laki-laki tiba-tiba masuk keruang kelas itu. Seketika senyum Hoseok langsung terbentuk memperlihatkan lesung pipi kecilnya.

“Anya, hanya..” Jawabnya menggantung ketika Sehun datang menghampirinya.

“Jangan menangis, aku tau kita berempat akan berpisah karena kita mengambil universitas yang berbeda, tapi sekarang bukan saatnya menangis, kita harus ke lapangan!” Katanya menepuk pundak Hoseok. Hoseok mengerjap.

“Menangis? Aku tidak akan menangisimu!” Kata Hoseok memukul pelan Sehun dan mereka tertawa.

“Hei! Ayo! Apa yang kalian lakukan disini? Kami mencari kalian sejak tadi! Kita harus upacara! ” Kata Taeyong diujung pintu kelas dengan Wonwoo.

“Kalian tidak mau lulus?” Tanya Wonwoo.

“Iya-iya!” Sahut Sehun.

“Ayo!” Kata Hoseok berjalan mendahului Sehun ke arah Taeyong dan Wonwoo. Sehun berlari kecil menyusul mereka dan mengalungkan tangannya ke Hoseok.

“Ah!” Celetuk Sehun tiba-tiba.

“Mbo? Kau melupakan sesuatu?” Tanya Wonwoo.

“Rapot? Transkrip nilai? Atau apa yang kau lupakan kali ini?” Tanya Hoseok langsung, dia tau sahabatnya yang satu ini sering meremehkan banyak hal,dan dia sering lupa untuk mengurus keperluannya sendiri karena dia orang kaya lah dia bisa bertahan sampai hari ini ketika dia meremehkan ataupun melupakan sesuatu.

“Kita belum pernah mengambil foto bersama kan?” Tanya Sehun.

“Aish, aku pikir kau lupa sesuatu yang penting!” Kata Hoseok langsung memukul kepalanya pelan.

“Hehehe..” Sehun hanya bisa nyengir.

“Tapi dia benar..” Kata Taeyong.Wonwoo langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka kamera nya.

“Say Kim-chi!” Katanya. Kami langsung tersenyum kearah kamera dan berfoto sepuas kami.

“Tunggu dulu!” Kata Wonwoo ketika mengecheck foto tadi.

“Kenapa? Blur?” Tanya Taeyong.

“Bukan itu. Kita telat untuk upacara, bodoh!” Kata Wonwoo.

“Hee?!” Tanya Hoseok dan Taeyong hampir bersaman.

“Ayo cepat!” Kata Wonwoo. Tanpa berpikir panjang yang mereka lakukan adalah lari secepatnya ke lapangan sekolah yang beruntungnya tidak sejauh yang dibayangkan.

“Sayang sekali, kalian sudah terlambat. Dan kami tidak mentolerir keterlambatan dengan alas an apapun.” Kata salah seorang guru jaga dipinggir lapangan.

“Ta-tapi kami-” Kata Wonwoo ingin memberikan alasan tapi Sehun langsung maju kedepan dan mengatakan,

“Aku? Aku telat? Oh Sehun telat dan tidak boleh masuk?” Tanyanya. Hoseok hanya bisa menahan tawa melihat sahabatnya dengan angkuh mengatakan itu pada guru mereka. Sehun adalah anak dari salah satu perusahaan terbesar di Korea, dan juga merupakan donatur utama di sekolah. Guru jaga itu hanya bisa menghela nafas dan akhirnya memperbolehkan kami masuk dan kami langsung mengambil barisan paling belakang.

“Thank You Oh-Se-Hun!” Kata Hoseok bercanda. Sehun hanya tertawa dan berpose seakan-akan that’s no matter at all.

“Aku benar-benar heran padamu Hoseok-ah,kau kan sangat dekat dengan Sehun, harusnya kau manfaatkan saja si Sehun ini, dia kan kaya raya. Kau bisa dapat uang banyak darinya!” Kata Taeyong terang-terangan didepan Sehun, tentunya bercanda.

“Apa kau bilang?” Kata Sehun protes.

“Ei, kaliankan juga dekat dengan Sehun. Kenapa hanya aku yang kau suruh? Kau ingin menyalahkanku sebagai kambing hitam huh?” Tanya Hoseok.

“Jangan pura-pura tidak tau, meskipun kita berempat sangat dekat, kalian berdua yang paling dekat.” Kata Taeyong langsung menyalahkan Sehun dan Hoseok.

“Itu karena Hoseok sangat baik dan peduli padaku. Tidak seperti kau!” Kata Sehun.

“Apa? Jadi aku tidak peduli denganmu? Baru tau rasa kau nanti kalau aku benar-benar mengacuhkanmu.” Kata Taeyong dengan tertawa. Wonwoo dan Hoseok hanya bisa menggenggelengkan kepalanya sambil tertawa ketika melihat tingkah 2 sahabatnya yang seperti anak kecil.

“Sadarlah kalau kalian ini sudah mau lulus..” Kata Wonwoo.

“Masih saja seperti biasanya, tidak ada hari tanpa kalian bertengkarkah?” Lanjut Hoseok. Sementara Sehun dan Taeyong hanya bisa tertawa sebelum salah satu guru akhirnya menegur mereka.

 

“Dengan ini saya mengucapkan selamat untuk kelulusan kalian semua.” Itulah kata terakhir dari kepala sekolah yang menutup upacara kelulusan saat itu. Anak-anak langsung bersorak merayakan kebebasan mereka dari tugas, sekolah, dan segala tentang itu. Beberapa orang tua dengan wajah bangga langsung memeluk anaknya, beberapa diantaranya langsung memeluk sahabat-sahabat mereka dan menangisi perpisahan mereka. Sementara 4 orang laki-laki itu hanya terdiam ketika mereka melihat satu sama lain.

“Aish.. I hate this atmosphere.” Kata Taeyong memecah keheningan diantara mereka. Wonwoo tersenyum, Hoseok tidak bisa menahan rasa gelinya, dia tertawa. Dan mereka tertawa bersama dan berpelukan berempat.

“Aku merasa aneh, tapi..” Kata Hoseok ketika mereka berpelukan.

“Thanks untuk tiga tahun yang tidak terduga ini.” Lanjutnya, mereka tertawa mendengar kata-kata Hoseok.

“Yap! Sangat tidak terduga, bayangkan orang seperti Taeyong dan Sehun yang bertengkar awalnya bisa menjadi sahabat, dan orang seperti Wonwoo bisa punya sahabat.” Kata Hoseok ketika mereka melepas pelukan mereka.

“Aish! Aku tidak semenyedihkan itu.” Protes Wonwoo.

“Kau juga membuatku dan Taeyong terdengar seperti trouble maker! Kalau dia sih memang tapi aku tidak!” Kata Sehun menunjuk Taeyong.

“Aish… Kau!” Protes Taeyong.

“Tuh…  Benarkan?” Kata Sehun dengan senyuman kemenangan sementara Taeyong memukul kepalanya ringan.

“This boys!” Kata Hoseok melerai mereka dengan memberikan jitakan kekedua kepala mereka, dan mereka berakhir dengan tertawa masing-masing.

“Sehun. Ayo pulang.” Kata seorang laki-laki bertubuh tegap yang datang dengan jas dan seorang wanita yang mengalungkan tangannya dilaki-laki itu.

“Oh, Ayah? Baiklah, aku akan segera ke mobil.” Kata Sehun langsung menurut.

“Aku pergi dulu. Nanti akan kuhubungi kalian. Jaga diri kalian oke?” Katanya. Taeyong dan Wonwoo bergantian memeluk Sehun. Mereka tau Sehun akan masuk ke Universitas yang paling jauh dari kami bertiga, akan sedikit susah untuk bisa bertemu dengannya lagi. Sehun terhenti ketika ia ingin memeluk Hoseokyang menurutnya sahabanya yang paling dekat diantara mereka berempat tapi Hoseok hanya berdiri disana dengan senyuman.

“Apa?” Tanya Hoseok dengan tawa.

“Aish! Lupakan!” Kata Sehun sebal lalu berjalan pergi, dia terhenti sebentar tapi akhirnya dia tetap membuntuti Ayah dan Ibunya.

“Sehun-ah!” Panggil Hoseok sebelum Sehun jauh. Sehun berbalik.

“Apa?” Tanyanya masih dengan nada sebal. Hoseok tertawa kecil dan tiba-tiba menunjuk saku jaket Sehun.

“Itu polaroid kan disakumu?” Tanya Hoseok.

“Ba-Bagaimana kau bisa tau?” Tanya Sehun kaget, disusul dengan Taeyong dan Wonwoo yang juga terkesima.

“Jadi untuk apa kau bawa Polaroid itu hari ini? Aku belom melihatmu menggunakannya hari ini.” Tegur Hoseok. Sehun terkejut. Hoseok menebak keinginannya untuk berfoto berempat dan memberikannya sebagai kenang-kenangan.

“Kenapa kau tidak bilang to the point saja kalau kau ingin foto?” Lanjut Hoseok.

“Kau..” Sehun masih bingung bagaimana bisa Hoseok tau.

“Aish, mana mungkin aku tidak tau gerak-gerik mencurigakan dari sahabatku sendiri?!” Kata Hoseok dan Sehun hanya melongo. Taeyong dan Wonwoo tertawa kecil dan siap untuk foto. 4x dan langsung tercetak disana.

“Setiap orang dapat satu.” Kata Hoseok dan setiap orang mengambil satu foto.

“Itukan yang kau inginkan sebelum berpisah?” Tanya Hoseok pada Sehun. Dan Sehun melongo lagi, tebakan Hoseok tepat.

“Apa sekarang kau bisa membaca pikiranku?” Tanya Sehun membuat Taeyong dan Wonwoo tertawa.

“Dasar bodoh! 3 tahun aku mengenalmu.. Jika aku tidak mengerti hal sepele seperti ini, itu artinya aku bukan sahabatmu” Kata Hoseok pada Sehun. Sehun tersenyum lebar dan tiba-tiba langsung memeluk Hoseok.

“Kau memang menyebalkan!” Kata Sehun ketika mereka berdua berpelukan.

“Apa kau tidak tau kalau kau lebih menyebalkan lagi?” Tanya Hoseok balik dan mereka tertawa.

“Jaga dirimu!” Kata Sehun melepas pelukannya.

“Kau juga!” Sahut Hoseok melambaikan tangannya.

“Kadang kalian memang benar-benar membuat iri.” Kata Wonwoo melingkarkan tangannya dipundak Hoseok dan dia hanya bisa tertawa.

/flashback/

 

Hoseok mengenakan syal merahnya ketika angin musim gugur yang dingin menerpa wajahnya. Dia mulai memikirkan untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya lagi akhir minggu ini. Dia memasukkan kembali foto itu dalam dompetnya dan matanya mulai mencari,

“Mickey!! Kau dimana?” Hoseok memanggil anjing kecilnya yang sejak tadi bermain dipinggir lapangan kosong dekat rumahnya. Dilihatnya sekelilingnya dan Mickey kesayangannya itu masih tidak terlihat.

“Mmm.. Dimana dia?” Gumamnya lalu mulai beranjak dari tempatnya dan melihat sekelilingnya ketika tiba-tiba anjing berbulu coklat yang lebat itu datang dengan ekor yang dikibas-kibaskan. Hoseok langsung mengangkat anjing kesayangannya itu.

“Mickey! Dari mana saja kau? Aku khawatir padamu! Ayo kita pulang, ini sudah mulai gelap.” Katanya berbincang dengan anjing kecilnya. Ketika Hoseok menaruh anjing itu lagi dan mengikatkan tali padanya. Mickey kesayangannya itu berlari.

“Mickey!!”  Hoseok memanggilnya sekali lagi tapi anjing itu hanya terus berlari dan mengibaskan ekornya seakan mengajak tuan nya untuk bermain lebih lama. Hoseok hanya tersenyum.

“Kau mau bermain lebih lama?” Gumamnya lalu membawa tasnya dan menyusul anjing kecilnya yang terus berlari kearah hutan yang lebih rimbun.

 

Mickey terus menggonggong. Dia tidak berhenti. Sementara tuannya terhenti, dan terdiam.

 

Sirine polisi. Pistol. Dan polisi. Semuanya datang begitu cepat, dan tidak terduga. Bagi Hoseok itu hanya satu helaan nafas saja dan semua tempat sudah dipenuhi polisi. Beberapa polisi mengelilingi dirinya sambil mengarahkan pistol mereka padanya.

“Letakkan senjatamu perlahan, dan menyerahkan diri!” Kata salah seorang diantaranya. Hoseok terdiam. Dia menggenggam sebuah belati yang bersimbah darah, dan seorang wanita tak bernyawa tergeletak didepannya dengan luka tusukan.

“Apa kau dengar?! Letakkan senjatamu perlahan! Dengan polisi sebanyak ini kau tidak akan bisa kabur!!” Kata polisi itu meminta Hoseok meletakkan belati yang ada ditangannya. Hoseok hanya menghela nafas, dia tidak tau lagi harus apa, dan akhirnya dia meletakkan belati itu perlahan ditanah. Tepat ketika dia mundur 2 langkah dari belati itu polisi dibelakangnya langsung mengunci gerakannya dan melekatkan borgol dikedua tangannya.Seketika keadaan menjadi lebih rileks, namun tetap serius. Polisi langsung menginvestigasi TKP dengan seksama mengambil beberapa barang sebagai bukti. Hoseok hanya bisa terdiam tanpa ekspresi melihat kejadian yang ada didepannya. Otaknya sudah kosong untuk memikirkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.

“Hei kau!! Ikut kami!!” Kata 2 orang polisi dengan seragam lengkap menarik lengan Hoseok dengan kasar menuju salah satu mobil polisi. Hoseok hanya mengangguk dan menurut ketika mereka menyeret bahkan mendorongnya menuju mobil polisi dipinggir jalan itu. Dia bisa melihat orang-orang mulai berkumpul ingin tau apa yang terjadi, beberapa diantaranya melihat Hoseok dan terlihat jelas tatapan takut yang mereka berikan padanya. Beberapa bahkan mengunjingkannya secara terang-terangan.

 

“Pembunuh?!” Dia menggebrak meja dengan kasar. Tanpa basa-basi, laki-laki dengan suara berat itu langsung menuju ke kantor polisi tempat Hoseok di tahan.

“Anakku tidak mungkin membunuh!” Katanya  langsung ketika dia bertemu dengan polisi detektif yang menangani kasus Hoseok.

“Kau sendiri tau itu Taeyong! Kau mengenal Hoseok dengan baik!” Katanya to the point pada Taeyong. Taeyong memijat pelipisnya menandakan bahwa dia sendiri juga frustasi.

“Paman, begini..” Kata Taeyong yang juga bingung harus mulai menjelaskan dari mana.

 

Hoseok melihat diruangan itu. Dua buah kursi, meja, dan lampu. Dia hanya diam tanpa ekspresi dan duduk disalah satu kursi itu. Dia melihat kearah kaca disampingnya dan memberikan senyuman seakan menegur seseorang disana. Dia kembali menatap kursi kosong didepannya. Tidak lama setelah itu pintu dibelakangnya terbuka. Seorang laki-laki masuk, laki-laki yang tidak asing baginya.

“Taeyong-ah.” Kata Hoseok langsung. Taeyong mengangguk dan duduk dikursi kosong didepannya sambil menyiapkan beberapa dokumen yang dia bawa masuk.

“Hoseok-ah, kau tau kan, aku sedang mengintrogasimu?” Tanya Taeyong.

“Aku mengerti.” Jawabnya.

“Aku mohon. Jawablah dengan jujur.” Katanya. Hoseok mengangguk.

“Apa kau membunuh wanita ini?” Tanya Taeyong sambil menyodorkan foto wanita yang tewas kemarin malam pada Hoseok.

“Tidak.”

“Kalau tidak, kenapa kau memiliki belati yang berlumuran darah ditanganmu di tempat kejadian?” Tanya Taeyong.

“Aku tidak membunuhnya Taeyong-ah.” Kata Hoseok.

“Jawab pertanyaanku Hoseok-ah, kalau kau tidak membunuh wanita itu, kenapa kau punya senjata pembunuhannya?” Tanya Taeyong.

“Aku tidak membunuhnya.” Kata Hoseok lagi.

“Hoseok-ah!” Bentak Taeyong.

“Jujurlah padaku!” Katanya.

“Aku tidak membunuh wanita itu.” Kata Hoseok lagi. Taeyong memijat pelipisnya.

“Apa kau akan seperti ini?” Tanya Taeyong.

“Aku hanya mengatakan apa yang harus aku katakan Taeyong-ah. Aku tidak membunuh wanita itu.” Kata Hoseok.

“Itu tidak cukup untuk membebaskanmu dari hukuman Hoseok-ah.” Kata Taeyong.

“Kau tidak percaya padaku?” Tanya Hoseok balik.

“Ini bukan soal aku percaya atau tidak padamu Hoseok-ah.” Kata Taeyong.

“Ini tentang bukti yang mengarah padamu. Disini aku mencoba membantumu. Jika kau bisa menceritakan padaku kenapa kau membawa senjata pembunuh, kenapa kau ada disana waktu itu.. Aku pasti bisa mengeluarkanmu dari masalah ini.” Lanjut Taeyong. Hoseok hanya menghela nafas dan terdiam.

“Kau tidak akan cerita padaku?” Tanya Taeyong. Hoseok hanya diam. Taeyong memijat pelipisnya dan terlihat frustasi. Taeyong berdiri secara tiba-tiba dan membuar kursinya terpental kebelakang. Hoseok terlihat kaget dan menatap Taeyong.

“Aku tidak main-main Hoseok-ah!” Kata Taeyong dengan amarah.

“Kau adalah sahabatku dan aku tidak ingin kau mendapatkan hukumanmu!!” Lanjut Taeyong dengan emosi. Hoseok hanya diam menatap Taeyong.

“Lebih baik kau ceritakan yang sejujurnya padaku Hoseok-ah. Ini tentang hidup matimu!” Bentak Taeyong. Hoseok tetap diam.

“Keluarga dari wanita yang kau bunuh, menuntutmu mendapatkan hukuman terberat dan hakim mengabulkannya! Kau akan dijatuhi hukuman mati jika kau tidak mau mengatakan apapun!!” Kata Taeyong. Hoseok tersentak mendengar ‘hukuman mati’ tapi dia hanya mengerjap sesaat dan berkata,

“Maaf Taeyong-ah.” Katanya. Taeyong terdiam, dia menghela nafas panjang.

“Apa yang kau lakukan sekarang ini?” Tanya Taeyong.

“Kau bukan orang seperti ini Hoseok-ah, aku yakin kau tidak bisa membunuh orang.” Kata Taeyong lirih tapi Hoseok bisa mendengarnya dengan jelas.

“Aku tidak membunuh wanita itu Taeyong-ah.” Kata Hoseok untuk kesekian kalinya.

“Kau memiliki senjata pembunuhnya, kau ada ditempat kejadian, dan tidak ada orang lain selain kalian berdua didekat hutan itu dalam radius 1 km.” Kata Taeyong menjelaskan secara to the point.

“Itu sudah cukup menjadikanmu tersangka Hoseok-ah.” Lanjutnya.

“Aku tidak-” Hoseok baru akan menyangkal ketika Taeyong memotong kata-katanya,

“Aku percaya sepenuhnya padamu, aku percaya kau tidak akan bisa membunuh orang, tapi ada satu hal yang tidak bisa aku abaikan dalam pekerjaanku. Bukti nyata, bukti logis. Dan semua itu mengarahkanku bahwa kau adalah tersangkanya.” Kata Taeyong langsung.

“Kecuali jika kau bisa memberikan aku penjelasan yang logis. Dan aku berharap untuk itu Hoseok-ah. Aku tidak mau kau mati konyol.” Kata Taeyong. Hoseok hanya menghela nafas berat.

“Baiklah.” Kata Taeyong akhirnya.

“Kalau kau sudah siap untuk bicara katakan saja, aku akan selalu siap untuk mendengarkan.”  Kata Taeyong membereskan dokumen dimeja dan berjalan keluar dari ruangan itu.

“Aku tidak membunuh wanita itu. Aku tidak mengenal wanita itu. Aku hanya kebetulan saja menemukan wanita itu. Dan aku menemukannya dalam keadaan seperti itu.” Kata Hoseok tepat sebelum Taeyong pergi. Taeyong terdiam didepan pintu dan menutup pintu itu kembali.

“Satu hal yang belum kau katakan Hoseok-ah. Kenapa senjata pembunuhan ada ditanganmu?” Tanya Taeyong. Hoseok hanya diam. Taeyong menghela nafasnya berat dan akhirnya keluar dari sana.

 

“Dengan ini, saya menyatakan Jung Hoseok dinyatakan bersalah dalam kasus ini atas pembunuhan berencana dan dijatuhi hukuman mati pada 24 desember 2016.” Kata hakim memukulkan palu hakimnya sebagai tanda persidangan ditutup. Hoseok hanya diam. Dia mengikuti persidangan dengan baik dan menerima keputusan itu tanpa mengajukan banding atau apapun.

“Aku tidak membunuh wanita itu. Aku tidak mengenal wanita itu. Aku hanya kebetulan saja menemukan wanita itu. Dan aku menemukannya dalam keadaan seperti itu.” Hanya kalimat ini yang terlontar dari Hoseok sepanjang persidangan dan itu membuat tidak hanya Ayahnya yang frustasi tapi juga Taeyong yang harus dengan berat hati menyeret Hoseok kedalam jeruji dan memproses hukuman mati untuk Hoseok. Hoseok hanya diam saja ketika ayahnya memohon padanya untuk menceritakan yang sebenarnya pada Taeyong. Dia hanya bilang kalau semuanya akan baik-baik saja. Ayahnya menangis, laki-laki itu menangis dihadapan anaknya yang akan mati dalam waktu 7 hari untuk kesalahan yang ia yakin bukan anaknya yang melakukan.

 

Hoseok masuk kedalam penjara. Dia duduk diranjangnya dan menutup matanya sejenak. Dia menghela nafas berat.

“7 hari.. Waktuku tinggal 7 hari..” Kata Hoseok berbicara pada dirinya sendiri. Dia membuka matanya dan sipir penjaga sel nya datang.

“Kau mendapat telepon.” Katanya. Dia berdiri dan digiring ketempat telepon.

“Oh Sehun yang menelpon. Dia bilang dia sahabatmu.” Kata penjaga disana. Hoseok langsung mengangguk dan mengambil telepon. Dia berdeham, menjernihkan suaranya.

“Sehun-ah?” Hoseok menyapanya dengan nada sesantai mungkin.

“Kenapa?!! Kenapa kau-” Kata Sehun yang tidak selesai karena emosi dan air matanya yang menguasainya.

 

To be continued.

 

***

Halo readers semua! Tau gak sih kalau FFindo project kali ini kami para author akan membuat cerita special buat kalian semua! Nah, kami pasti akan mem-post cerita kami setiap minggunya, jadi pastikan kalian membacanya ya!

Jangan lupa likes, dan juga feedbacknya ya! ^^

Oh ya, dan di akhir event nanti akan ada event berhadiah lho! Jangan lupa ikutan ya!

Happy reading readers! Have a good days good people! J

***

Advertisements

One response to “[FFINDO PROJECT] Friendship – The Coups

  1. Pingback: [FFINDO PROJECT] FRIENDSHIP – THE COUPS: DESPICABLE FATE | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s