[FFINDO PROJECT] Secret- Red Rum

redrum

Karena saya bosan, lebih baik saya menceritakan sesuatu yang seram,”

bangsvt’s proudly present

Red Rum

Starring : Changwook Ji and BTS’s Taehyung  Kim

Mystery, Horror

PG15

2,709ws

Enjoy!

 

Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan

December, 3rd 2016

Ahjumma, lebih baik Anda pulang ke rumah dan mengurusi keluarga Anda.” ujar seorang opsir. Wanita yang diajak berbicara mengacuhkan setiap perkataan opsir tersebut, dan lebih memilih memegang erat sebuah papan bertuliskan gugatan. “Percuma saja, kasus anakmu sudah ditutup.”

“Yoojin-ah, Yoojin-ah…” wanita itu bergumam tanpa henti dengan tatapan mata yang terlihat kosong. Pakaian lusuh dengan rambut yang tertutupi salju membuat wanita itu terlihat lebih menyedihkan. Opsir yang menegurnya hanya bisa menatap wanita itu dengan tatapan tak perduli.

Ini sudah hampir satu tahun setelah kematian anaknya, Kim Yoojin. Sudah hampir satu tahun juga ibu Yoojin berdiri menyampai gugatannya yang terhenti karena kasus anaknya yang ditutup karena tidak membuahkan hasil. Karena kematian ini, ibu Yoojin terus menerus berdiri di depan kantor polisi dengan tangan yang memegang sebuah papan bertuliskan sebuah Hangeul. Tak perduli dengan cuaca, wanita itu tetap keukeuh dengan gugatannya. Bahkan polisi saja sampai kewalahan saat empat bulan wanita itu tidak pulang ke rumahnya.

December, 12th 2016

Kedatangan seorang detektif baru membuat seluruh divisi di kantor pusat Gangnam heboh. Detektif pindahan dari Daegu ini langsung terkenal di seluruh divisi, padahal, ini baru hari pertamanya masuk.

“Untung saja ini kantor polisi, wanita di sini kan tidak terlalu mementingkan laki-laki.” Ujar salah seorang anggota saat melewati meja detektif baru itu.

Hyung, jangan seperti itu lah. Hei, aku Jongsuk, detektif tertampan dan ter…sempurna di divisi ini. Namu Changwook, ‘kan, ya?” seorang detektif yang sedari tadi menopangkan dahunya di atas telapak tangannya, mengulurkan salah satu tangannya kepada Changwookᅳdetektif  baruᅳyang masih berberes di depannya. Tapi, uluran tangannya tak berlangsung sampai 10 detik, karena Changwook yang tak kunjung membalas ulurannya itu.

“Nampaknya kau itu introvert, ya? Apa dingin saja?” sepertinya kediaman Changwook membuat Jongsuk tidak begitu puas. Mulutnya terus saja terbuka, menanyakan berbagai pertanyaan yang mungkin terlalu mendetail untuk seorang yang baru saja kenal.

“Bisa diam? Kau bukan seorang reporter.” Setelah beberapa lama Jongsuk mengoceh, akhirnya Changwook membuka suara yang membuat detektif dengan kulit seputih salju itu menutup mulutnya secara spontan.

“Sepertinya kita bisa menjadi teman baik.” Dengan penuh percaya diri, Jongsuk mengedipkan sebelah matanya dan mengeluarkan suara ‘cklak’ dari mulutnya, kemudian meninggalkan  Changwook yang masih sibuk dengan beberapa berkas dan map di mejanya.

Rasa bingung memenuhi pikiran pria yang tengah berkutat dengan berkas-berkas tak terselesaikan di tangannya. Sebenarnya, hanya ada tiga berkas, namun, berkas-berkas itu terlihat berhubungan satu sama lain. Kenapa tidak mereka jadikan satu saja? Pikir Changwook. Dan lagi, kasus seperti ini terlihat mudah bagi dirinya, apa detektif di Gangnam ini benar-benar bodoh? Sejatinya Changwook tidak bermaksud mencemooh para detektif di tempatnya sekarang ini, hanya saja, karena analisisnya ini, ia mulai berpikir kalau detektif di sini memang benar-benar bodoh.

“Changwook­-ssi, masih saja berkutat dengan berkas-berkas itu. Lebih baik kita ke kantin. Mumpung sudah jam istirahat.” Jongsuk yang tiba-tiba saja muncul membuat Changwook berhenti melihat ke arah berkas-berkas di tangannya. Sepertinya ajakan itu tidak buruk juga, mengingat sudah tiga jam ia tidak mengisi perutnya dengan makanan. Dengan anggukan kecil, Changwook menyetujui ajakkan dari teman seper-divisiannya itu.

“Uh, penuh sekali kantin hari ini. Changwook-ssi, kau mau makan apa? Biar aku yang pesan.” Ujar Jongsuk setelah pandangannya melihat penjuru kantin.

“Sama kan, saja. Aku akan cari tempat duduk.” Setelah kalimat itu keluar dari mulut Changwook, mereka langsung bergegas mengejarkan tugasnya masing-masing. Tungkai Changwook mulai melangkah mencari tempat duduk yang kosong di tengah keramaian kantin. Ini seperti mencai bola golf di dalam labirin, mustahil. Kantin sudah terlalu penuh dengan karyawan yang kelaparan, tidak mungkin Changwook mendapatkan tempat duduk.

“Detektif  baru!” merasa dipanggil, laki-laki Ji itu menolehkan kepalanya ke sumber suara yang ternyata berasal dari seorang wanita. “Kau temannya Jongsuk ‘kan? Kalau begitu duduk di sini saja.” Wanita dengan perawakan agak berisi itu menghampiri Changwook yang masih berdiri di tempatnya. Sebuah keberuntungan.

“Terima kasih.”

“Tak usah terlalu dipikirkan. Ah, namaku Hyojoo, Han Hyojoo. Sepertinya kita seumuran.” Wanita itu mengedarkan pandangannya, mencari kekasihnya yang masih membeli makanan. “Jongsuk-ah!” atensi Jongsuk teralihkan begitu mendengar namanya dipanggil. Melihat kekasihnya sedang melambaikan tangan, Jongsuk langsung berjalan cepat menuju tempat kekasihnya.

“Syukurlah, makananku tidak apa-apa. Selamat makan.” Hyojoo langsung menyerbu santapannya tanpa memikirkan kedua laki-laki yang masih menatap nampan berisikan makanan itu.

Noona, habis ini mau memberikan wanita di bawah itu makanan?” Hyojoo menganggukkan kepalanya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

“Wanita?” Changwook menghentikan suapannya.

“Iya, wanita yang di bawah itu, lho. Dia sudah hampir setahun berdiri untuk menuntut keadilan atas kematian anaknya.” Jongsuk menjelaskan dengan penuh antusias, tipe yang begitu antusias saat ia menceritakan sebuah hal yang ia tahu ke orang baru.

“Kematian anaknya? Kasus Kim Yoojin maksudmu?” Jongsuk menjentikan jarinya, mengiyakan pertanyaan Changwook. “Kasus itu sudah ditutup bukan? Dan, Jongsuk, kenapa ada tiga berkas yang berhubungan namun dipisah? Maksudku, biasanya dokumen yang berhubungan selalu dijadikan satu.” Jongsuk menggelengkan kepalanya.

“Ceritanya panjang sekali…” seru laki-laki Lee itu dengan gayanya yang terlalu overacting.

8.00 pm

Angin malam yang dingin menerpa tubuh lelaki itu tanpa ampun. Namun, usaha yang dikeluarkan angin itu mungkin tak cukup untuk melumpuhkan rasa hangat yang terus dikeluarkan laki-laki berperawakan kurus dengan tinggi sekitar 178cm itu. Laki-laki dengan balutan mantel dan hoodie yang menutupi kepalanya berjalan tanpa tentu arah dengan sesekali menendang kerikil yang ada menghalangi jalannya.

Taehyung tak begitu mengerti mengapa hari ini ia begitu sial. Pagi tadi, sarapannya terbuang begitu saja karena ketelodoran adiknya. Lalu di sekolah, temannya mencari masalah dengan menumpahkan kuah sup ke seragamnya, dan yang lebih parahnya lagi ia tidak memiliki seragam cadangan yang biasa ia taruh di loker. Dan baru saja ia mendapati ibunya di kantor polisi. Entah ada masalah apalagi ibunya dengan polisi, karena setiap hari, ibunya selalu bermasalah dengan polisi.

Sudah terlalu banyak waktu yang Taehyung luangkan seorang diri di rumahnya. Ayahnya sudah meninggal sekitar 3 tahun lalu, adiknya pergi entah ke mana, lalu kakaknya sudah menikah dan lebih memilih tinggal berdua saja dengan istrinya. Ibunya, bahkan Taehyung sudah jarang melihat ibunya berada di rumah.

8.50 pm

Setelah berseteru panjang dengan atasannya, Changwook kembali ke mejanya untuk membereskan beberapa berkas. Sepuluh menit lagi, divisi Intelejen Negara akan segera ditutup, itu berarti ia akan segera pulang. Saat tangannya menyentuh sebuah berkas tentang kematian Yoojin, seulas senyum terpampang di wajahnya.

“Mari kita pecahkan kasusmu, Yoojin-ssi.” Angin dingin mulai menyapa kulit tengkuk Changwook saat dirinya baru saja menyelesaikan kalimat tersebut. Seperti ada yang mengucapkan terima kasih kepadanya, dan itu membuat bulu kuduknya berdiri seketika. Mungkin saja itu Yoojin yang mengucapkan terima kasih, ah sudahlah, Changwook juga tidak perduli. Yang terpenting sekarang, ia harus memutar otak untuk kasus pertamanya di tempat baru.

“Yoojin-ssi, sama-sama.” Sekali lagi angin dingin itu kembali menerpa tengkuk Changwook. “Sepertinya kau berterima kasih sekali kepadaku, ya.” Dengan penuh percaya diri, Changwook mengambil langkah untuk segera pulang, mengingat di ruangannya hanya tinggal ia sendiri saja. Begitu sampai di depan lift, perasaan lelaki Ji itu tidak seperti tadi siang. Rasanya ada yang mengganjal dan mengikutinya. Perasaan itu semakin kuat saat ia memasuki lift dan menekan tombol ground.

“Tenang, Changwook. Itu hanya perasaanmu saja.” Sugesti terus-menerus ia keluarkan selama perasaan itu tetap mengitarinya.

DEG

Rasanya jantung itu hampir keluar dari tempatnya. Lift yang ia naiki kini berhenti dengan tiba-tiba dan menciptakan suasana yang semakin tegang.

“Jangan.”

“Jangan.” Suara lirih seorang gadis mengitari Changwook yang masih terdiam membeku. Suara itu semakin kuat setelah beberapa kata jangan dikeluarkan dengan nada lirih, sampai pada akhirnya,

“JANGAN!”

“AKH!” sesosok mahluk dengan wajah hancur mengagetkan laki-laki berparas tampan itu. Detak jantung sudah tak bisa ia kontrol lagi. Wajah itu benar-benar menakutkan dan susah untuk dilupakan bagi Changwook.

“Detektif Ji? Kau tidak apa-apa?” sangking lamanya menutup mata, dirinya baru sadar jika ia masih di dalam lift.

“Ah, Pak Yoon, tidak apa-apa, aku tidak apa-apa. Apa lift ini sudah diperbaiki? Cepat juga, ya.” Changwook berbicara dengan nada gugup dan keringat yang masih membasahi pelipisnya. Laki-laki itu masih terkejut dengan kejadian beberapa detik yang lalu.

“Detektif ngomong apa, sih? Lift ini dari tadi baik-baik saja, kok. Yang ada saya bingung, dari tadi Detektif berkeringat dan berteriak seakan-akan melihat hantu.” Keningnya berkerut bingung. Liftnya tidak rusak? Lalu yang tadi itu apa? “Ah, ya, Detektif, tadi ada yang mencari, lalu ia menitipkan ini.”  Sepucuk surat melayang ke tangan Changwook. Surat dengan dasar kertas bertekstur kayu itu Changwook simpan tepat di kantongnya, lalu menyampaikan terima kasih kea rah petugas di depannya.

Tungkai laki-laki itu membawa dirinya menuju mobil yang terparkir manis di dekat pintu masuk. Begitu pintu mobil tertutup, Changwook langsung membuka surat yang tadi diberikan oleh petugas. Surat yang sedikit lusuh dan tekstur kertas yang mendukung, membuat kesan seram terdapat pada objek tersebut. Serangkaian tulisan tertulis dengan pena aksara dan rapih. Memangnya masih jaman menulis dengan pena seperti ini? Itu adalah kalimat pertama yang terlintas di pikiran laki-laki berumur 29 tahun ini.

Jangan, jangan, jangan, kau hanya akan menimbulkan masalah. Jangan, jangan, jangan, kau hanya akan menimbulkan masalah. Jangan, jangan, JANGAN!” Aneh, lift dan surat ini, mengapa mereka menyuruh Changwook untuk tidak membuka kasus itu? Memangnya salah?

“Ah, sudahlah, aku harus pulang sekarang.” Tak sampai 10 menit ia menjalankan mobilnya, hawa aneh kembali mengitarinya. Hawa yang menyapa sama seperti yang tadi mengitarinya di kantor.

“Yoojin-ssi, aku tak tahu apa maksudmu, aku hanya bermasuk baik. Aku tidak ingin membuat ibumu berdiri terus-menerus di depan kantor kami.” Ujar Changwook dengan tatapan yang terus menatap ke depan. Tumben-tumbenan jalanan Gangnam terlihat begitu sepi, padahal ini masih sekitar pukul setengah sepuluh malam.

Sudah aku bilang untuk tidak membuka kasusku. MENGAPA KAU TAK MENDENGARKANKU?!” Teriakan dan sosok itu kembali mengagetkan Changwook dan berhasil membuat laki-laki itu mengerem mendadak. Beberapa doa spontan ia panjatkan, mengingat sosok itu terlihat sangat seram.

Mengapa kau tak mendengarkan aku…?

December, 15th 2016

Jaewon High School, Seoul.

09.00

Di pagi yang dingin ini, sekolah sudah diributkan dengan kebisingan para siswa. Dengar-dengar, kasus salah satu siswi sekolah mereka akan dibuka kembali dan para siswa diminta untuk bersedia diinterogasi. Jelas ini membuat siswa-siswa itu bingung, karena kasus ini sudah cukup lama ditutup dan sekolah juga kelihatan tidak perduli mengingat yang mati bukanlah siswa yang mempengaruhi sekolah.

Secara bergilir, dari kelas sebelas IPA 1 sampai IPS 5, akan ada interogasi bergilir. Tidak memikirkan soal interogasi, mereka lebih tertarik dengan detektif yang menginterogasiᅳhanya yang gadis, sihᅳdan bagi para siswa, mereka lebih tertarik dengan jam kosong.

“Gila! Detektif Ji tampan sekali! Sayang sekali hanya kelas sebelas yang diinterogasi.”

“Benar banget! Ibunya makan apa waktu hamil dia? Kenapa bisa melahirkan anak berparas malaikat seperti itu?”

“Nah, iya, kenapa hanya kelas sebelas saja, sih? Walaupun aku tidak tahu apa-apa, setidaknya semua angkatan diinterogasi, lah.”  beberapa gadis memuji bagaimana tampannya Changwook, sementara seseorang di pojok kelas hanya bisa menatap malas sembari kaki yang ia selonjorkan ke atas meja dan tangan yang ia lipat ke dada.

Taehyung sebenarnya sudah bisa menebak kalau hari ini akan datang. Entah bagaimana, tapi ia seperti merasakan seranan de javu, dan itu tidak terjadi hanya sekali, tapi sering. Dan kenyataannya, yang nyata adalah hari ini. Yang Taehyung bingungkan, sama seperti murid lain, mengapa kasus ini kembali dibuka saat sekolah sudah tidak perduli lagi? Mengapa detektif itu terlihat sangat bersikeras untuk membuka kasus ini kembali? Semua pertanyaannya itu hanya bisa Taehyung renungkan di dalam otaknya.

Changwook’s side

Mungkin ini sudah 50 anak yang ia interogasi dan masih sisa setengahnya lagi. Dalam kasus ini, Changwook meminta Hyojoo untuk menemaninya, mengingat Jongsuk masih sibuk dengan kasus pencurian massal di daerah Gaepo. Rata-rata dari anak yang telah ia interogasi, mereka tidak mengenal baik bagaimana Yoojin itu. Yang mereka tahu, Yoojin adalah sosok anak yang sangat pendiam dan tak banyak bergaul. Bahkan, kasus kematiannya saja tidak ada banyak yang tahu, mereka hanya tahu kalau salah satu dari siswa di angakatan mereka mati dan sekolah segera menutupnya.

“Taehyung, Kim Taehyung.” Mendengar namanya dipanggil, Taehyung segera melirik ke arah pintu kelas dan menemukan Guru Han tengah mengisyaratkan dirinya untuk keluar kelas. “Kau dipanggil untuk diinterogasi.”

“Lho, saya kan anak kelas dua belas, Pak? “ uajr Taehyung bingung.

“Tapi namamu ada di daftar. Bapak juga bingung kenapa namamu ada di sana.” Dengan cepat Guru Han mendorong anak asuhnya itu ke ruang interogasi. Taehyung hanya bisa dibuat seperti anak kambing yang kehilangan induknya, benar-benar bingung.

Begitu ia membuka pintu, Detektif Ji tengah melihat-lihat berkas yang sepertinya milik dirinya. Ingin mengucapkan salam, tapi dirinya terlalu gengsi, lagian siapa sih yang menyusun daftar anak-anak, kenapa dirinya ikut masuk juga?

“Silahkan duduk, Taehyung haksaeng.”

“Mengapa aku dipanggil juga? Aku anak kelas dua belas.”

“Benarkan? Ah, tapi, kau kelihatan mengetahui Yoojin juga.” Sembari menggoyang-goyangkan berkas di tangannya, Changwook merasa yakin jika siswa di depannya itu memiliki sangkut paut terhadap kasus ini. Feeling seorang detektif selalu benarᅳChangwook Ji, 2014.

“Asal Anda tahu, aku tidak memiliki kaitan apapun dengan kasus ini.” Dengan tatapan serius, Taehyung mencoba meyakinkan pria di depannya. Begitu siswa Kim ini melayangkan kalimat tersebut, Changwook semakin memiliki perasaan aneh yang meyakinkan bahwa Taehyung ada sangkut pautnya dengan kasus ini.

“Begini, ya, Pak. Karena saya bosan, lebih baik saya menceritakan sesuatu yang seram, siapa tahu bapak bisa mengubah jalan pikir bapak.” Pertamanya detektif tampan itu bingung dengan maksud siswa di depannya, tapi, kalau dilihat-lihat, cerita seram menarik juga. Dengan sekali anggukkan dan isyarat tangan yang mempersilahkan, Taehyung pun memulai ceritanya.

Pagi ini begitu dingin, padahal ia sudah memakai balutan pakaian yang cukup tebal dan berlapis. Beanie yang menutupi kepalanya berhiaskan salju yang turun, begitupula dengan syal yang melindungi leher putihnya. Sepatunya sedikit bobrok tapi tetap melindungi kakinya dari salju yang menggelepar di jalanan. Pipinya memerah, sesekali ia menggosokkan tangannya dan menempelkan ke pipinya itu.

Namun, sepertinya pagi itu bukanlah pagi yang baik untuk gadis berkebangsaan Korea itu. Menetap di daerah baru, walaupun tetap di tanah kelahirannya, memang baru ia lakukan sekitar dua minggu yang lalu. Belum tahu bagaimana seluk-beluk Seoul yang sebenarnya, yang ia tahu, kota itu adalah ibu kota dari negaranya.

Wajah lesu dengan semua beban pikiran yang ia simpan di pikirannya, merupakan hal yang melelahkan. Sekolah, keluarga, ekonomi, sosial, semua itu membuat gadis ini terbebani. Yang lebih buruk lagi, kenyataan bahwa dia masih berstatus sebagai incaran laki-laki berandal sekolahnya, membuat dia semakin stress. Kecantikan tidak memungkiri alasan.

Berjalan tak tentu arah, menendangi salju yang menghalangi jalannya, membiarkan angina menusuk kulit mulusnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Keluarganya tak perduli, ekonoinya krisis, dan fakta ia tak memiliki teman, membuat ia menjadi seorang tertutup yang bodoh.”

“Apa ini tentang KimYoojin?” pertanyaan Changwook memotong segala cerita Taehyung.

Semua laki-laki begerombol memasuki ruangan kosong di belakang sekolah. Seperti segerombolan serigala yang menemuka seekor domba, mereka menghantam gadis itu dengan begitu rakus. Mungkin di mata mereka gadis itu, adalah daging barbeque.

Berteriak, mengangis, meringkih, hanya itu yang bisa ia lakuka. Meminta tolong hanya akan membuang waktu, toh dirinya tetap menjadi bahan pelampiasan nafsu sekelompok orang biadab. Pasrah adalah jalan terakhir bagi gadis itu. Sayangnya, semua laki-laki di sana tidak membiarkannya pasrah secepat itu.

Kekerasan, gertakan, semua pukulan gadis itu terima. Bahkan sampai daerah vital, yang mungkin bisa merusak masa depannya. Badannya kini menjadi ringkih. Ia tak bisa lagi berbica, bibirnya seperti robek dan lidahnya juga berdarah. Tangannya sudah susah untuk digerakan. Semuanya sakit, terutama batinnya sekarang.”

Mengapa kau melompati reka adegan?” Changwook tak mengerti apa yang siswa di depannya ini ingin sampaikan. Reka adegan seperti dilompati.

Hari itu tiba. Ia harus mendapatkan pertanggung jawaban. Ia pikir Tuhan baik, namun nyatanya tidak. Kenapa di saat genting seperti ini, rahimnya masih berfungsi? Gadis itu bingung, semua laki-laki yang beberapa minggu lalu memaksanya kini menghilang tanpa jejak. Sedih melihatnya  mencari pertolongan, sayang tak memiliki kerabat.

Kini ia terduduk sendiri. Rintihan air mata meluncur begitu saja dengan derasnya. Sampai suatu pesan mengisi ponselnya. Sebuah pesan larangan untuk melaporkan kejadian dulu. Ancaman juga diikut sertakan dalam larangan itu. Gadis itu ketakutan, sampai ia lupa di mana sekarang ia duduk. Hilang kendali, hilang keseimbangan, sirna sudah. Tubuhnya, bayinya, jiwanya, semuanya hilang dalam satu waktu. Tak ada yang melihat, tempat itu begitu sepi. Tak ada yang menyadarinya sampai mayatnya itu ditutupi salju yang turun.”

“Taehyung haksaeng, bukan apa-apa, ceritamu mengarah ke sana ‘kan? Kau sedang-“

Saat itu hanya ada dua saksi mata. Salah satu dari mereka hanya terdiam, dan yang satunya kabur dengan rasa takut yang membuncah. Yang terdiam tadi masih  membeku sampai sesuatu seram menyerangnya. Menyerang berhari-hari, awalnya biasa saja, sampai akhirnya serangan itu menyebabkan cedera luar biasa dan hampir membuat orang itu menyusulnya.

Sudah dulu, ya, Pak. Saya memiliki banyak urusan.”

Changwook terdiam. Yang dia yakin adalah, Taehyung pasti memiliki maksud dari ceritanya, tapi apa itu? Atau jangan-jangan…

Kkeut

KEKEKEKE

Gantung yes? Ya yes lah, kan misteri :3

Aem, mau kasih tau nih gaes, FFINDO bakal ngadain event puncak berhadiah loh!

Jarang-jarang kan, baca doang dapet hadiah, aku sih seneng.

That’s why gaes, terus pantengin FFINDO biar dapet hadiah kkk, siapa tahu hadiahnya di ajak kencan bias.

Jangan lupa comment and like biar kalian dapet hadiah.

Regards,

bangsvt

 

 

Advertisements

6 responses to “[FFINDO PROJECT] Secret- Red Rum

  1. Pingback: [FFINDO PROJECT] SECRET – RED RUM 3 | FFindo·

  2. Pingback: [FFINDO PROJECT] SECRET – RED RUM 4 | FFindo·

  3. Taehyung dan Changwook
    Perpaduan yang bikin aku gemes dan semangat bacanya

    Ini pendek masa #dilemparsendal
    Hahahahaha

    Namanya juga misteri pasti banyak yang bikin penasaran apalagi ini masih chap 1

    Dan saran aja si, banyak typonya ya 😦
    Tapi its okay, tidak mengurangi konten cerita
    Hehehe

    Okeh lanjut part 2 deh
    Thank you 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s