First Crush : Part 9

first-crush

Poster Credit Belong To @atatakai-chan from posterfanfictiondesign.wordpress.com,

Thanks alot untuk posternya. Keren banget dan aku suka banget!

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

Part 9

*Jiyeon POV*

Aku baru saja selesai dengan game ku, ketika aku melihat jam. 2 pagi. Aku mengehela nafas berat. Sudah sepagi ini, tapi kenapa aku sama sekali tidak lelah. Aku paling takut ketika aku akan tidur, saat-saat itulah pikiranku kemana-mana, dan aku yakin pikiranku akan melayang pada Park Jimin lagi.

“Aku memang benar-benar menyedihkan..” Gumamku, tanpa kusadari aku terisak. Air mataku jatuh tidak berhenti. Sama seperti malam-malam sebelumnya, ketika aku berhenti dari kesibukanku, aku selalu memikirkannya, selalu menangisinya, selalu. Aku lelah seperti ini. Ini menyiksaku!!

Aku berjalan keluar dan berlari sekuat mungkin. Ketika aku berhenti. Aku sudah berada dipinggir jembatan. Aku masih terisak dan air mataku tidak berhenti sejak tadi, aku memegang dadaku, dan memukulnya makin keras.

“Kenapa.. Kenapa ini sakit sekali.. Aku tidak tahan lagi..” Gumamku. Tiba-tiba pemikiran itu terlintas dikepalaku. Aku terdiam, dan menyeka air mataku. Benar, aku tidak akan merasa sakit lagi dengan cara ini.

*Soe Hee POV*

Aku baru saja kembali dari kamar mandi ketika aku tidak menemukan Jiyeon diruang tamu.

“Baru saja aku ke kamar mandi dia disana?” gumamku. Aku merasakan hembusan angin, aku menoleh dan pintu menuju keluar terbuka.

“Jangan-jangan..” Aku langsung mengetuk kamar Seojoon dan Hoseok Oppa.

“Hoseok Oppa!! Seojoon-ah!! Jiyeon, dia hilang!!” Kataku sambil menggedor pintu dengan panik. Mereka langsung membuka pintu dan langsung bingung,

“Jiyeon hilang?!” Tanya Seojoon.

“Tenang. Sekarang Seojoon kau cari diseluruh penginapan ini, aku dan Soe Hee akan mencari diluar penginapan, jika kau tidak menemukannya dipenginapan susul kami.” Kata Hoseok Oppa. Seojoon langsung mengangguk dan mulai berlari mencari Jiyeon.

“Kajja!” Kata Hoseok Oppa.

 

“Jiyeon!!” Teriak Hoseok Oppa.

“Jiyeon-ah!!” Panggilku sambil berlari kesana kemari dan mencarinya.

“Ya! Park Jiyeon! Berhenti disana!” Kata Hoseok Oppa tiba-tiba. Aku langsung berlari kearah Hoseok Oppa, dan dia melihat gadis itu sudah ada dipinggir jembatan dia melihat kedalam danau.

“Jiyeon-ah! Jangan.. Jangan lakukan apapun itu!” Kataku.

“Park Jiyeon. Jangan sampai kau melangkah satu langkah saja! Awas jika kau menyakiti dirimu sendiri. Aku tidak akan memaafkanmu.” Kata Seojoon yang baru saja datang dengan terengah-engah.

“Oppa?” Jiyeon bergumam.

“Mundur dari situ.” Katanya. Jiyeon mengerjap, tapi dia tidak bergerak, dia melihat kedalam danau itu lagi.

“Aku tidak akan menyakiti diriku Oppa. Aku hanya akan mati. Tidak akan menyakitkan. Hanya mati.” Kata Jiyeon.

“Ya! Park Jiyeon! Jangan mengatakan hal konyol!” Kata Seojoon sangat khawatir, aku bisa melihat betapa khawatirnya dia, tangannya sampai bergetar.

“Kalian tidak mengerti apa yang aku rasakan.. Kalau kalian mengerti, kalian pasti juga akan memilih seperti ini!” Katanya dan ia menangis.

“Disini, sakit kan? Rasanya seperti ditusuk-tusuk. Lalu, untuk melupakan itu kau melakukan banyak kegiatan, tapi dimalam hari ketika kau menganggur, tidak ada kerjaan, atau tidak memikirkan apapun, rasa sakit itu rasanya kembali. Dan lama-lama lelah ya?” Tanya Hoseok Oppa tiba-tiba. Jiyeon terdiam dia menatap Hoseok.

“Kau hanya perlu bertahan beberapa minggu, setelah itu tidak akan sakit lagi. Percayalah padaku.” Kata Hoseok Oppa.

“Kenapa aku harus percaya padamu?” Bantah Jiyeon.

“Karena aku merasakannya 3 tahun terakhir ini. Iya kan Soe Hee-ah?” Katanya dengan senyuman padaku. Aku hanya diam. Miane Hoseok Oppa. Jiyeon terdiam sesaat.

“Ini sudah seminggu kan? Sabar, sedikit lagi.” Kata Hoseok Oppa dengan senyuman. Dia berjalan perlahan menuju Jiyeon dan mengulurkan tangannya.

“Lagi pula, kau masih punya Seojoon, dan juga aku.” Katanya. Dan juga dia?

“Aku masih ingat dengan jelas, waktu kecil kau bilang kau akan menikahiku karena aku memasak makanan yang enak.” Lanjutnya. Aku terdiam. Jinjja? Jiyeon memejamkan matanya.

“Kau bilang dalam beberapa minggu.” Katanya memastikan ulang.

“Percayalah padaku.” Kata Hoseok Oppa meyakinkan. Jiyeon meraih tangan Hoseok Oppa dan menjauh dari pinggir jembatan. Hoseok memegang tangan Jiyeon erat-erat dan menariknya ke tempat yang aman. Seojoon langsung berjalan mendekat dan memeluk adik kesayangannya itu erat-erat.

“Jiyeon-ah. Jangan pernah lakukan ini lagi. Jangan pernah.” Kata Seojoon ketika memeluk Jiyeon. Jiyeon memeluknya balik.

“Miane Oppa. Jinjja mian.” Katanya dengan isak tangis. Hoseok Oppa bernafas lega.

“Gwencana?” Tanyaku Jiyeon mengangguk dan tiba-tiba dia memelukku juga.

“Eonni.. Dia benar-benar pria yang baik.” Bisik Jiyeon kepadaku. Aku terdiam dan aku memeluknya balik.

“Araseo. Sekarang ayo kita kembali. Kau harus istirahat.” Kataku.

 

“Jiyeon-ah, ikutlah padaku sebentar.” Kata Hoseok Oppa. Aku baru saja akan ikut dengan mereka ketika Seojoon menahan tanganku, dengan maksud memberikan mereka ruang. Aku diam dan menunggu dengan Seojoon.

“Soe Hee-ah?” Tanya Hoseok Oppa.

“Nae?” Jawabku.

“Apa yang kalian berdua lakukan disana?” Tanya Hoseok Oppa datang menyusul kami.

“Memberikan ruang untuk kalian berdua.” Kataku. Dia tertawa kecil dan menarik tanganku.

“Kenapa~ Bergabung saja. Lebih banyak orang lebih menyenangkan.” Katanya dan menarikku ke ruang makan. Jiyeon disana menyesap coklat hangatnya. Hoseok Oppa menyuruhku duduk didepan Jiyeon, dan Seojoon duduk disebelah Jiyeon. Dia menyeduhkan ku coklat hangat, dan menyeduhkan Seojoon teh. Dia membawa teh digelasnya dan duduk disebelahku.

“Kalau saja disini ada bahan makanan aku bisa buatkan sesuatu. Mungkin aku akan belanja nanti.” Kata Hoseok Oppa.

“Anya, gwencanayo Oppa.” Kata Jiyeon.

“Kau pasti sangat merindukan masakanku? Aku lebih pandai memasak lagi sekarang.” Katanya dengan bangga.

“Ini malah pertama kalinya aku tau kau bisa masak.” Kataku. Hoseok tertawa kecil dan mengusap kepalaku pelan.

“Setelah ini, tidurlah.” Kata Hoseok Oppa pada Jiyeon dan Seojoon.

“Kau juga.” Katanya padaku.

 

Jam 4 pagi ketika aku masuk ke kamarku. Aku merebahkan tubuhku dikasur dan mengerluarkan foto dari rumah sakit. Aku masih belum mengingat semua memoriku secara keseluruhan.

“Kenapa mengingat itu susah sekali..” gumamku. Aku menghela nafas berat, aku menarik selimutku dan mencoba tidur. Tapi aku tidak bisa. Aku terduduk ditempat tidurku dan aku tiba-tiba merasa familiar. Aku mengerutkan keningku, mencoba mengingat. Kepalaku terasa sakit. Aku mulai merasakan ada bayangan-bayangan tentang memoriku. Sebelum tiba-tiba rasa sakit dikepalku kian menjadi dan aku putuskan untuk melupakannya dulu.

“Huft..” Aku menghela nafas dan menyadarkan tubuhku.

“Entahlah.” Kataku menyerah.

 

Aku terduduk dirajang dan aku bisa melihat pemandangan gunung yang indah dijendela kananku. Embun pagi yang masih terlihat jelas membuat pemandangan itu lebih bagus lagi. Aku berdiri, setelah selesai bersiap, aku berjalan keluar, aku bisa mencium bau makanan yang menggoda. Aku berjalan dan aku melihat Hoseok Oppa tersenyum padaku.

“Kau sudah bangun? Seperti biasa, pancake coklat kesukaanmu.” Katanya. Tiba-tiba telpon berbunyi dan aku otomatis langsung mengangkatnya.

“Eomma? Appa? Oh, Nae!” Jawabku.

“Kau akan pergi?” Tanyanya.

“Nae, mereka ingin aku menguruskan beberapa hal.” Kataku.

“Tanpa pancake mu?” Tanyanya.

“Mian. Aku akan segera kembali untuk pancake itu.” Jawabku lalu buru-buru keluar. Aku bertemu dengan Eomma dan Appaku dan langsung pergi dari sana.

“Kita ke kantor pajak saja dulu Appa.” Kataku pada Appaku yang sedang menyetir.

“Araseo. Bagaimana kabar Hoseok? Kalian akur kan?” Tanya Appa.

“Tentu saja.” Jawabku.

“Dia tidak sering menginap ditempatmu kan?” Eomma bertanya.

“Ei, tentu saja tidak Eomma.” Bohongku. Hoseok Oppa sering menginap. Tadi saja dia dirumah.

“Aku tidak akan memaafkannya jika dia melakukan sesuatu pada putriku. Aku memang merestui kalian, tapi tetap saja.” Kata Appaku.

“Araseo-” Kata-kataku terhenti ketika semuanya terasa gelap.

 

“Damn..” Kataku ketika aku membuka mataku, sekujur tubuhku berkeringat, aku memegang kepalaku. Aku mengingatnya dengan jelas kali ini dimimpiku. Sesaat sebelum aku kecelakaan. Aku berjalan kekamar mandi dan mencuci mukaku.

“Kenapa setiap kali aku mengingat sesuatu..” gumamku. Selalu saja ada penyesalan? Terutama pada Hoseok Oppa? Aku mendengar ponselku berbunyi aku langsung mengambilnya.

“Chimin?” Gumamku lalu mengangkat telponnya.

“Waeyo?” Tanyaku.

“Miane. Aku berbohong padamu.” Katanya to the point.

“Kau berbohong karena kau menyukaiku dan kau tidak bisa bersama denganku. Sekarang karena aku mengingatnya kau tidak bisa memaksaku lagi.” Kataku.

“Araseoyo. Kembalilah.” Katanya.

“Aku pergi bukan karena aku marah padamu Chim.” Jawabku.

“Aku memang ingin liburan sebentar.” Lanjutku.

“Kalau begitu biarkan aku ikut.” Katanya.

“Aku tidak ingin kau ikut.” Jawabku.

“Kau dengan Hoseok kan?” Tanyanya.

“Nae.” Jawabku. Aku bisa mendengar dia mendesah pelan.

“Chim, aku tidak mencintaimu.” Kataku langsung. Dia terdiam.

“Bukan karena kau berbohong atau karena Hoseok Oppa. Aku memang tidak mencintaimu itu saja. Aku harap kau mengerti tentang itu. Aku selalu melihatmu sebagai sahabat baik, tidak lebih dari itu.” Lanjutku menarik garis yang jelas antara kami.

“Aku mengerti. Miane untuk selama ini.” Katanya.

“Nae. Sekarang sudah tidak apa.” Jawabku.

“Setelah ini aku tidak akan berbohong lagi. Jika kau ingin menanyakan tentang masa lalu mu..” Katanya.

“Gomawo nae Chimin.” Jawabku. Aku mendengar tawa kecilnya disana.

“Andaikan kau disini! Aku ingin sekali minum soju sekarang!” Katanya dengan lantang.

“Seluruh kantor hari ini, aku traktir!” Katanya, aku bisa mendengar seluruh kantor riuh. Aku tertawa.

“Jangan minum terlalu banyak, kau tidak tahan dengan soju.” Kataku dan dia hanya tertawa.

“Ara-ara. Aku tutup dulu.” Katanya.

“Nae Anneyeong.” Jawabku.

“Anneyeong!” Jawabnya lalu menutup telpon itu. Aku segera mandi dan bersiap. Ketika keluar aku bisa mencium bau pancake.

“Aish.. Kenapa ini sama seperti mimpiku..” Gumamku. Aku berjalan ke dapur dan Hoseok Oppa disana masih sendirian.

“Kau sudah bangun? Kau rajin juga, Seojoon dan Jiyeon bahkan belum bangun..” Katanya.

“Wae? Haruskah aku tidur lagi?” Tanyaku. Dia tertawa kecil.

Chocolate pancake for my princess~” Katanya.

My favorite!” Kataku langsung mengambil piring berisi pancake coklat itu. Hoseok Oppa terdiam.

“Aku baru saja mengingat pagi itu, sebelum aku kecelakaan.” Kataku. Dia mengangguk.

“Aku ingat kalau saat itu kau juga membuat pancake coklat untukku.” Jawabku.

“Mian, kemarin aku bilang aku tidak mengingat kalau kau bisa masak.” Lanjutku.

“Gwencana my princess.. Mbogo.” Katanya menyuruhku makan.

“Araseo, kau?” Tanyaku balik. Dia membuat satu pancake lagi.

“Tentu saja aku juga.” Katanya lalu kami menyantap sarapan itu bersama.

 

Sudah 3 hari aku berlibur dan Hoseok Oppa memang benar, aku butuh liburan, rasanya lebih segar sekarang. Kami kembali ke Seoul dan aku akan mulai kerja seperti biasa besok. Hoseok Oppa membawakan barangku hingga depan apartementku. Aku membuka apartementku dan berbalik. Aku kaget ketika Hoseok Oppa berdiri sangat dekat denganku, dan mata kami bertemu. /DEG/DEG/DEG/ Aku tidak pernah suka ini. Aku selalu berdebar jika aku terlalu dekat dengannya.

“Jangan lihat aku seperti itu, rasanya aku ingin menciummu.” Aku mengerjap dan langsung memukulnya ringan memberikan jarak diantara kami.

“Berhenti mengatakan non sense seperti itu!” Kataku.

“Aku tidak pernah mengatakan hal yang non sense selama ini. Aku bilang kau princessku, aku bilang aku sayang padamu, dan semuanya. Itu kenyataan.” Katanya membungkamku. Memang benar sih, sebelum aku amnesia sebagian ini, kami sepasang kekasih tapi tetap saja.

“Aish! Pergilah!” Kataku lalu mengambil barang-barangku dari tangannya. Dia tertawa kecil, dan aku langsung masuk menutup pintuku.

“Kau masih mendengarku kan?” Katanya dibalik pintu. Aku hanya diam tidak menjawab, tapi aku juga penasaran dengan apa yang ingin dia katakan.

“Kim Soe Hee.. Maukah kau menikah denganku?” Tanyanya dibalik pintu. Mataku melebar, aku tidak salah dengar kan?

“Menikahlah denganku!” Katanya cukup keras. Aku langsung membuka pintuku, dan dia berdiri disana.

“Apa kau bodoh? Kau benar-benar mengatakan hal nonsense sekarang ini!” Kataku masih sangat kaget. Dia tersenyum.

“Menikahlah denganku!” Ulangnya.

“Apa kau gila? Aku saja masih belum bisa mengingat diriku sendiri, mana bisa aku-”

“Bisa!” Jawabnya. Aku mengerjap.

“Ini bukan tentang masa lalumu, tapi tentang sekarang ini, apa kau mencintaiku my princess?” Tanyanya.

“Aku-aku tidak..” Aku gelagapan aku butuh waktu untuk mencerna dan memproses ini semua.

“Aku ingin jawabannya sekarang.” Lanjutnya, dan itu benar-benar membungkamku.

 

Dear Diary,

Aku tidak tau harus menjawab apa, otakku seperti kota Hiroshima dan Nagasaki yang di bom oleh sekutu saat perang dunia. My mind was blown just like that! Kadang aku berpikir apa Hoseok Oppa benar-benar gila? Tapi sekarang aku tau dia 100% gila!

 

23 Desember 2016,

Kim Soe Hee

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s