[FFIndo Project]fantasi – Our Tomorrow

images-1|| Our Tomorrow || Luhan & OC ||

 

December2016 inSeoul, South Korea.

 

“Aku ingin menjual lukisan ini, namanya Ixia. Dia putri salah satu gubernur pada masa Dinasti Manchupada tahun 1860.”

Pria tua yang merupakan pemilik toko antik itu sedikitmemicingkan matanya –entah ia harus curiga atau tidak terhadap pemuda yangterliha berusia dua pulih lima tahunan itu. Barang yang dibawanya adalah barang antik, dan tentu saja tidak mudah untuk orang-orang biasa memiliki barang-barang yang seharusnya ada di museum ini.

“Kau…bagaimana kau memiliki benda ini?” pria tua tersebut mengambil dan kembali memindai penampilan si pemuda. Dia tidak terlihat sepert anak nakal yang baru saja mengambil batang yang seharusnya bukan miliknya.

Pria itu pun menarik sudut bibirnya –karena akulah yang melukisnya—dan pemuda itu menelan isi pikirannya, “Aku mendapatkannya dari kakekku. Kupikir itu masih bisa dijual….” tidak, sebenarnya ia ingin menyerah untuk menemukan kembali gadis itu di abad ke-21 ini. Ia telah menunggunya begitu lama, dan…

“Tapi gadis ini berasal dari Cina, bagaimana bisa kakekmu memilikinya dan menyimpannya di Korea? Kalian membelinya di Cina?” tanya pria tua itu masih penasaran.

Luhan –nama pemuda itu—masih mempertahankan senyumnya, “Ibunya adalah orang Joseon. Mereka tinggal lama di tanah ini sebelum akhirnya kembali ke Manchu karena ayahnya merupakan orang Manchuria.” Dan itulah awal bagaimana ia bisa bertemu kembali dengan gadis itu ratusan tahun lalu.

“Wah, sepertinya kau memahami sejarah dengan cukup baik.”

Ya, tetu saja. Ia mengalami dan melihatnya sendiri semua proses perubahan dari abad ke 19 hingga abad ke-21 ini. Sehingga cukup sulit bagi Luhan untuk tidak mengingat apa saja yang sudah terjadi padanya –pada orang-orang di sekitarnya, termasuk gadis bernama Ixia ini.

“Jadi…apakah benda ini bisa dijual?”

Pria tua tersebut berdeham pelan sembari mengecek ulang lukisan yang dibawa kepadanya itu, “Tidak ada nama pelukisnya, dan kau tahu, nona ini juga sepertinya bukan orang yang cukup berpengaruh dan dikenal, meskipun aku tidak dapat memungkirikeindahan dan keantikan benda ini.” Pria tua tersebut mengangkat kepalanya dan menatap Luhan lama, “Kau tahu, aku merasakan aura menarik dari lukisan ini,” ucapnya sembari mengelus permukaan lukisan tersebut, “Apakah kau keturunan dari wanita dalam lukisan ini? Atau justru leluhurmu pernah berkaitan dengan orang ini?”

Luhan tidak mengerti ke mana arah ucapan pria tua ini, tapi kemudian pria itu justru menarik tangan Luhan untuk menyentuh kembali lukisan yang dibawanya, “Aku berfirasat sebaiknya kau menyimpan lukisan ini. Karena…”

“Dia menikah dengan pria bangsawan Joseon, Kakek tahu…semacam pernikahan yang agak dipaksakan karena situasi politik. Tapi mereka pindah dari Joseon dan menetap di Hong Kong. Dan…”

“Dan mereka tidak seterkenal itu dalam catatan sejarah,” pria tua itu pun tersenyum kecil, “Bukan aku tidak ingin menerimanya, hanya saja…aku berifirasat bahwa sebaiknya kau menyimpannya saja. Atau kau bisa mencari orang lain, atau menyerahkannya pada museum untuk diberikan.”

Luhan pun menerima kembali lukisan itu. Lukisan yang ia buat seratus tahun lalu dan…yeah, entah ini pertanda ia harus kembali mencari dan memercayai bahwa mungkin saja gadis itu akan berinkarnasi, atau hanya menyimpannya saja sebagai kenangan.

 

***

 

 

April 1860, in Hanseong, Joseon.

Kalian percaya vampire itu ada? Luhan percaya –tapi Luhan tidak memercayai adanya vampire yang akan menghisap darah manusia dan tidak bisa terkena sinar matahari langsung. Dan jika kau melihat pada abad ini, ada terlalu banyak kisah vampire yang mengada-ada : bagaimana bisa mereka menyuntikkan racun lewat gigitan taring mereka pada leher manusia dan menjadikan mereka manusia? Jika hal seperti itu memang ada, pasti manusia di muka bumi ini sudah habis populasinya oleh vampire. Dan…tentunya Luhan sendiri tidak bisa memercayai dirinya sendiri jika ia akan meminum darah dan menjadi monster yang akan mematahkan tulang manusia.

Eww- menjijikkan bukan?

“Bibi, aku boleh membeli ini?” Luhan mengambil sebuah cincin hijau –benda khas Joseon yang selalu didapatinya terdapat pada jemari para gadis.

“Ah…kau akan membelikannya untuk kekasihmu anak muda?” canda wanita tersebut yang membuat Luhan harus menarik sudut bibirnya kaku. Yeah, ia hanya suka mengoleksinya saja, bukan berarti ia akan memberikannya pada seseorang, terlebih kekasih –yang ntabennya tidak ia miliki.

Luhan tidak berasal dari Joseon, ia juga bukan berasal dari daratan Cina –yang pada saat itu tengah dikuasai oleh Dinasti Manchu-. Ia lahir di sebuah negeri yang cukup jauh dari tempatnya saat ini, orang-orang menyebutnya Haiti. Yeah, populasi vampire di daratan Amerika terbilang lebih banyak ketimbang daratan lainnya. Mereka menyebar ke berbagai wilayah seperti Eropa dan Mesir.

Sayangnya, Luhan sama sekali belum mengetahui asal usul dari vampire itu sendiri. Karena dari ilmu kedokteran yang ia pelajari dari guru besar kedokteran yang dulunya tinggal di Kerajaan Turki Usmani, perbedaan vampire dengan manusia biasa hanya terletak pada susunan syaraf dan sel : dimana akhirnya membuat vampire memiliki penuaan yang lebih lambat daripada manusia biasa, dan memiliki rangsangan khusus ketika terkena cahaya bulan purnama dan membuat kuku dan taring muncul, serta mata mereka mengeluarkan kilatan cahaya –mereka akan berubah menjadi mahluk yang memiliki tempramen tidak terkendali dan membuat tangan mereka menjadi tongkat supranatural : sesuatu yang orang-orang sebut sebagai sihir. Dan mereka harus meminum darah hewan untuk menghindari munculnya hal yang tidak diinginkan dari kekuatan mereka.

“Bibi, aku ingin kain sutra yang ini,” Luhan kali ini beralih pada kios penjual kain yang tidak jauh dari kios penjual perhiasan tadi.

“Bibi, aku sudah memesan kain ini kemarin, bukan?”

Dan…disanalah pertama kali ia bertemu dengan gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Ixia –gadis keturunan Manchuria yang tinggal di Joseon dan selalu menyebut namanya Hoya. Karena saat itu, bangsa Joseon tidak terlalu ramah pada orang-orang Manchu yang sempat memiliki konflik cukup serius.

Yeah, seperti namanya, baik Ixia maupun Hoya : gadis itu secantik bunga dan membuat Luhan merasa ia tengah berada di musim semi meskipun mungkin kala itu ia berada di tengah badai salju.

“Tapi ini milikku…” Luhan yang tidak terima sedikit menarik kain dnegan warna gading tersebut.

Ixia sedikit memicingkan matanya dan memerhatikan penampilan Luhan dari ujung kaki hingga ujung kepala, “Kau pelajar Konfusius? Berasal dari Sungkyungkwan?”

Bukan. Luhan menelan semua jawabannya dan hanya mendengus pelan, “Ambillah. Aku tidak memerlukannya,” Luhan pun melepas kain tersebut dan beralih menuju kios lain –sama sekali mengabaikan tatapan yang diberikan oleh iris mata gadis itu. Gadis bermata hazel yang baru saja menyentuh nuraninya.

Tahu apa yang paling menyebalkan dari populasi vampire? Mereka baru dikatakan dewasa ketika usia mereka menginjak 100 tahun, itu sebabnya mereka baru bisa menikah ketika angka umur mereka telah melewati 80 dan baru bisa memiliki anak –hanya satu anak—di usia 100 tahun dan menyebabkan populasi mahluk yang disebut vampire sangat sedikit. Dan aturan utama yang dibuat kelompok mereka, vampire dan manusia tidak bisa bersatu karena mereka tidak akan memiliki anak meskipun mereka menikah dan hanya akan menyakiti pasangan mereka yang manusia.

“Kau bukan dari Joseon, kan? Bahasa Koreamu tidak lancar,” gadis itu ternyata masih membuntuti Luhan.

Luhan pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh kembali ke arah gadis itu. Ia baru beberapa bulan tinggal di Joseon setelah ia cukup lama tinggal di Guangzhou, ia penasaran dengan Joseon yang katanya memiliki sekolah Konfusianisme yang terkenal –dan ternyata memasuki sekolah itu tidak semudah ia mendaftar sekolah di Eropa.

“Ini untukmu. Sepertinya kau orang luar negeri dan tertarik dengan negeri ini. Sampai jumpa…” gadis itu pun berbalik –tanpa memikirkan perasaan Luhan yang cukup tercabik : ia ingin menemui dengan gadis si mata hazel dan secantik bunga.

 

***

 

March 2016, in Seoul, South Korea.

“Jadi lukisanmu yang paling indah di muka bumi ini ditolak?”

Luhan melirik sinis lelaki yang usianya lebih muda seratus tiga puluh tahun darinya itu –seseorang yang dititipkan oleh ibunya dan membuat Luhan harus diekori kemana-mana, termasuk ke Korea.

Luhan pun menggantung kembali lukisan yang…yeah, mengerikan memang jika menyebutnya dengan ‘ditolak’. Tapi sepertinya kakek tua tadi tahu ada sesuatu yang tersimpan di balik lukisan ini : kenangan hidupnya di fase pertamanya. Saat itu ia masih berusia 24 tahun, tentu saja jika dibandingkan dengan manusia, itu setara dengan anak usia belasan tahun saat ini.

“Aku berharap aku bisa menemukannya lagi,” Luhan bergumam pada dirinya sendiri dan berharap jiwa Ixia akan mendengarnya di manapun ia berada.

Pemuda yang duduk di ruang kerja Luhan itu pun tersenyum kecil dan ikut memerhatikan gadis dengan hanbok berwarna lembut di tubuhnya, “Jika kau memang tidak tahu kita tidak bisa menikahi manusia, lantas kenapa dulu kau membiarkan dirimu terus berada bersamanya?”

Mana kutahu –Luhan membatin. Ia juga tidak pernah merencanakan dirinya agar bisa bertemu lagi dengan Ixia setelah pertemuan pertamanya. Tapi gadis itu memang tinggal di kota itu, membuat Luhan seolah bisa menemukannya dimana-mana. Entah karena gadis itu juga tidak benar-benar berasal dari Joseon seperti Luhan, atau memang memiliki ketertarikan khusus padanya, Ixia akan selalu mencarinya dan membuat Luhan ditarik pada sisi dirinya yang hangat…hingga pada satu titik, ia merasa hidup ternyata tak cukup adil untuknya.

“Ini baru seratus tahun sejak kau bertemu dengannya, kau yakin dia akan berinkarnasi hanya dalam jangka waktu singkat itu? Belum lagi, mungkin saja inkarnasinya tidak di sini, mungkin saja di tempat asalmu di Inggris, atau bahkan di Mesir. Tidak ada yang tahu, kan?” lelaki itu kembali membuat kepala Luhan gaduh dengan berbagai pendapat. Mungkin saja…

“Aku hanya merindukan tempat ini, makanya aku datang ke mari dan mendatangi rumah lamaku.” Luhan tidak membuat alasan, ia memang merindukan tempat ini. Setelah perpisahan tidak menyenangkan terjadi antara ia dan Ixia, ia memutuskan untuk kembali ke Inggris.

“Kau yakin?”

Tidak, tentu saja. Luhan kembali menyahut dalam pikirannya. Di setiap detiknya, ia memikirkan bagaimana seandainya ia tidak mengambil jalan keputusannya yang sekarang. Akankah keadaan berubah dan Ixia masih tetap bersamanya? Atau mungkin, setidaknya bisakah Ixia menghabiskan sisa waktunya dan kembali menemuinya di kehidupannya yang berikutnya?

Luhan hanya menyesalinya. Ia tahu gadis itu menyukainya, sama seperti Luhan menyukai Ixia. Tapi Luhan terlampau panik dan tidak bisa terlalu berpikir jernih untuk masa depan hubungan mereka berdua, terlebih ketika Ixia mengatakan ayahnya akan kembali ke Manchu karena mendapat tugas penting. Dan dengan pengecutnya, ketika Ixia memberikan surat sebelum kepindahannya, Luhan malah membuang surat itu karena tidak ingin menghidupkan harapannya secara berlebihan. Dan yang paling bodoh, Luhan meninggalkan Joseon tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Ixia. Ia tidak tahu apakah Ixia pernah menangisinya, marah atau merindukannya. Luhan hanya tidak bisa menghentikan segala macam perasaan seperti itu hingga ia sama sekali tidak bisa kembali ke daratan Korea karena situasi perang yang sangat buruk.

Ia hanya merindukan Ixia dan berharap bisa bertemu kembali dengan gadis itu, meminta maaf dan memeluknya sekali lagi : karena ia tahu, ia tidak mungkin dapat memaksa Ixia untuk masuk dan menerima kehidupannya yang berbeda dengannya.

 

20161224 PM0000

Maaf karena keterlambatan saya posting ff ini T_T saya baru pulang dari kost ke rumah kemarin, jadi nggak sempet post ini. Sekali lagi maaf –dan maaf juga karena ceritanya yang berantakkan *bow

Advertisements

2 responses to “[FFIndo Project]fantasi – Our Tomorrow

  1. Pingback: [FFIndo Project]fantasi – Reinkarnasi | FFindo·

  2. keren bgt ceritanya
    luhan vampir dan ixia manusianya
    jdi keinget crita vampir2 biasa yg manusia vampir bsa brsatu
    g da cra lain apa buat mreka brsatu??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s