First Crush : Part 10

first-crush

Poster Credit Belong To @atatakai-chan from posterfanfictiondesign.wordpress.com,

Thanks alot untuk posternya. Keren banget dan aku suka banget!

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

 

Part 10

*Jimin POV*

Aku meletakkan gelas sojuku yang entah keberapa kali. Aku mulai merasa kepalaku berat, dan pengelihatanku berkunang-kunang. Ini benar-benar aneh. Ditolak oleh orang yang kau cintai. One sided love. Rasanya sangat aneh.

“Mungkin ini juga yang dirasakan Jiyeon?” Gumamku. Aku merogoh sakuku dan mengambil hpku. Aku memencet nomor Jiyeon disana.

“Anneyeonghaseyo!” Kataku ditelpon.

“Jim-Jimin Oppa?” Jawabnya terdengar gelagapan.

“Miane. Membuatmu merasa seperti ini. Rasanya sangat aneh.” Kataku lalu segalanya berubah gelap.

 

Aku terbangun dikamarku. Dikamarku?! Aku melihat sekitarku, bajuku berserakan, aku hanya mengenakan celana pendek saja. Aku juga masih bisa merasakan kepalaku terasa sangat berat. Aku berdiri dan berjalan ke wastafel, aku mencuci mukaku dan berjalan keluar. Aku terdiam ketika ada Jiyeon didapurku.

Oh my god!! Jimin Oppa!!” Teriaknya langsung menutupi matanya. Aku melihat diriku sendiri dan aku baru sadar aku hanya mengenakan celana pendek dan keluar.

“Mi-mian!” Kataku langsung masuk kekamarku lagi dan mengambil atasan secara random.

“Aku benar-benar bodoh. Apa yang aku lakukan?!” Kataku pada diriku sendiri.

“Ya! Park Jimin! Jagalah etikamu sedikit pada adikku!” Teriak Seojoon didepan pintu, aku keluar.

“Mian. Aku tidak menyangka dia akan disini.” Kataku.

“Jinjja miane.” Kataku pada Jiyeon. Jiyeon hanya mengangguk awkwardly. Aku terdiam. Setelah menolak Jiyeon, aku malah berbohong pada Soe Hee untuk mendapatkannya. Aku juga sama sekali tidak menanyakan tentang Jiyeon. I’m such a bad guy.

“Ah, aku menggunakan dapurmu untuk membuat sarapan.” Katanya mengalihkanku dari pikiranku.

“Ah.. Gwenacanyo. Gunakan saja semua dirumah ini seperti dirumahmu sendiri.” Jawabku. Kami bertiga duduk dimeja makanku dan mulai memakan sarapan kami.

“Mian, tapi, aku tidak ingat apapun semalam.. Bisa ceritakan padaku apa yang terjadi?” Tanyaku.

“Kau mabuk dan menelpon Jiyeon malam-malam. Bicara yang tidak karuan.” Kata Seojoon. Aku menganga benarkah aku seperti itu?

“Lalu kami berdua mencarimu dan menemukanmu ditempat biasanya kau minum, kami membawamu pulang kemarin malam.” Kata Seojoon. Aku menelan ludahku, dan menutup mataku. Memalukan sekali pasti aku kemarin malam.

“Sudah, lanjutkan saja makanmu.” Kata Seojoon. Aku mengambil roti dan memakannya sekaligus.

“Oh ya, Jiyeon-ah.” Jiyeon yang sedari tadi diam langsung melihat kearahku innocently.

“Miane merepotkanmu kemarin.” Kataku.

“Kau merepotkanku bukan cuma dia!” Kata Seojoon protes. Aku hanya tersenyum sekilas.

Anyway, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisa kita bicara, berdua saja?” Tanyaku.

“Wae? Bicaralah sekarang saja?” Kata Seojoon. Aku mengacuhkan Seojoon dan menatap Jiyeon serius. Aku memang harus meluruskan beberapa hal dengannya.

“Araseo.” Jawab Jiyeon.

 

“Aku akan mengantar Jiyeon. Kau duluan saja.” Kataku pada Seojoon.

“Awas saja jika kau-”

“Araseo! Aku pergi dulu!” Kataku langsung mengendarai mobilku pergi dengan Jiyeon duduk disebelahku. Aku berhenti disebuah taman dipinggir sungai Han.

“Apa yang ingin kau bicarakan Oppa?” Tanya Jiyeon.

“Pertama mian.” Kataku.Dia terdiam.

“Masih terasa sakit. Tapi, ini akan lebih baik. Gwencana” Jawabnya.

“Mian karena menyakitimu. Mian karena tidak menjagamu. Mian karena aku kejam padamu. Mian karena aku tidak menyakanmu lagi. Mian karena aku mengacuhkanmu. Mian karena-“

“Gwencanayo.” Katanya memotong omonganku.

“Sekarang sudah tidak apa-apa. Aku sudah lebih baik, dan aku rasa aku akan lebih baik lagi kedepannya.” Lanjutnya dengan senyuman. Aku terdiam.

“Gomawo Jiyeon-ah. Ini pasti berat untukmu.” Kataku. Dia diam dan tiba-tiba memukulku. Memukulku beruntun. Aku bisa melihat dia menangis. Aku langsung datang dan memeluknya.

“Andwe. Jangan menangis.” Bisikku.

“Kalau begitu jangan membuatku menangis.” Katanya.

“Katakan apapun untuk menebusnya. Aku ingin bertanggung jawab.” Kataku. Dia diam terisak dalam pelukanku. Aku tidak tau harus apa, aku hanya terus memeluknya.

“Apapun?” Dia bertanya, aku melepas pelukan itu dan menatap wajahnya.

“Selama aku bisa, aku akan melakukannya untukmu.” Kataku.

“Mencintaiku?” Tanyanya. Aku terdiam.

“Kalau memang itu yang kau mau. Aku akan mencoba.” Jawabku.

“Kalau begitu aku akan meminta hal yang lain.” Katanya merubah permintaannya.

“Apa?” Tanyaku.

“Aku ingin kau mengabulkan semua keinginanku, kapanpun, dan dimanapun.” Katanya. Aku kaget.

“Wae? Kau tidak sanggup?” Tanyanya.

“Aku tidak menyangka kau menginginkan ini. Aku pikir kau akan memintaku untuk mencintaimu.” Jawabku.

“Aku tidak ingin kau mencintaiku hanya karena kau merasa bersalah padaku. Aku sendiri yang akan jadi alasan kenapa kau mencintaiku.” Jelasnya. Aku terdiam. Apa aku sebodoh ini? Aku tidak menyadari ada seorang gadis yang mencintaiku dengan tulus. Aku bodoh sekali..

“Bagaimana? Kau sanggup?” Tanyanya,

“Selama itu tidak melanggar hukum aku akan melakukannya.” Kataku.

“Dalam situasi apapun kau harus mengabulkanya.” Katanya. Aku mengangguk.

“Araseo.” Jawabku. Dia mengacungkan jari kelingkingnya.

Pinky promise.” Kataku lalu menyaut jari kelingkingnya dan mengelus rambutnya.

I promise for the rest of my life.” Kataku dan aku bisa melihat senyuman berkembang diwajahnya.

 

*Soe Hee POV*

“Jawaban!” Kata Hoseok Oppa didepanku. Aku memijat pelipisku.

“Apa? Kau merasa kepalamu sakit?” Tanyanya langsung khawatir. Kepalaku sakit bukan karena itu, tapi karena kau meminta jawaban sekarang.

“A-aku tidak bisa menjawab sekarang.” Kataku akhirnya.

“Wae?” Tanyanya.

“Dulu kau yang memintaku untuk mengingat janjiku untuk menikahimu. Sekarang aku ..” Katanya dengan nada serius. Aku terdiam lalu mengambil ponselku memencet nomor Chimin.

“Chimin-ah? Odi?” Tanyaku menanyakan dimana dia.

“Di taman dekat rumah Seojoon, kenapa?” Tanyanya balik.

“Bisa kau kesini? Aku perlu bantuanmu.” Kataku. Hoseok Oppa merengut bingung.

“Kenapa dia harus kesini?” Bisik Hoseok Oppa.

“Aku akan membawa Jiyeon.” Kata Chimin. Aku sedikit terkejut tapi aku tersenyum, dia mulai membuka dirinya pada Jiyeon? Baguslah.

“Gwencana. Bawa saja.” Kataku.

“Ya! Wae Jimin harus kesini?” Tanya Hoseok Oppa. Aku hanya tersenyum.

“Aku akan memberikannya setelah Chimin datang.” Kataku.

 

Chimin datang 15 menit setelah itu. Hoseok Oppa sejak tadi tidak tenang. Aku tidak mengerti kenapa. Pintu apartementku berbunyi digit password dimasukkan dan pintu terbuka.

“Oh? Hoseok juga disini? Ada apa Soe Hee-ah?” Tanyanya ketika masuk ke apartementku.

“Chakkaman, kau tau password apartemennya?” Tanya Hoseok Oppa. Aku tertawa kecil melihat Hoseok Oppa yang cemburu sementara Cimin hanya melihatnya innocently.

“Jangan berlebihan. Itu hanya password pintu.” Kata Chimin.

“Jiyeon-ah, anneyeong. Bagaimana keadaanmu?” Tanyaku pada Jiyeon.

“Gwencanayo..” Katanya dengan senyuman manisnya.

“Kalau kau merasa tidak baik telpon saja aku, aku akan buatkan sesuatu untuk mu.” Kata Hoseok Oppa pada Jiyeon. Jiyeon mengganguk ketika Hoseok Oppa mengelus kepala Jiyeon. Chimin terlihat cukup kaget melihat Jiyeon yang mengenal Hoseok Oppa, dan mereka terlihat dekat. Chimin duduk disebelahku.

“Ada apa? Butuh bantuan apa?” Tanya Chimin.

“Dia melamarku.” Kataku langsung. Chimin langsung kaget. Jiyeon tersentak dan melongo.

“Jinjja?!!” Tanya mereka berdua bersamaan. Aku tertawa kecil ketika melihat reaksi mereka.

“Dimana? Kapan? Dan bagaimana?” Tanya Chimin langsung.

“Didepan pintu, barusan saja, dengan berteriak-teriak didepan pintu.” Jelasku singkat. Chimin melongo, dia benar-benar tidak percaya.

“Berhenti bermain-main. Memangnya ada laki-laki yang akan melakukan itu untuk melamar gadisnya?” Tanya Chimin tidak percaya. Aku hanya tersenyum sementara Hoseok Oppa mengalihkan pandangannya dariku.

“Oppa! Andwe! Kau tidak boleh melakukannya seperti itu! Tarik kembali lamaranmu!” Kata Jiyeon menasehati Hoseok. Hoseok hanya diam tidak merespon.

“Kau-Kau bilang kau akan menjawabnya kalau Jimi datang. Dia ada disini sekarang. Kenapa kau tidak menjawabnya?” Tanyanya.

“Kau benar-benar melamarnya?” Tanya Jimin masih tidak percaya. Hoseok Oppa hanya mengacuhkannya, dan hanya menatapku.

“Hoseok Oppa jinjja pabo!” Kata Jiyeon. Hoseok Oppa hanya diam. Lalu Jiyeon membisikkan sesuatu padanya. Dia terdiam dan mengangguk. Aku masih duduk disofa, disebelah Chimin ketika dia mendekat padaku, dia berlutut tepat didepanku, wajahnya menjadi sejajar denganku malah lebih kebawah sedikit. Dia menatapku dengan sungguh-sungguh.

/DEG/DEG/DEG/

Bisakah dia berhenti seperti ini? Seserius ini? Aku.. Aku tidak menyukai debaran ini. Sungguh menyebalkan.

“Wae?” Tanyaku berusaha sesantai mungkin. Tapi dia menghela nafasnya berat dan menggenggam erat tanganku.

“Saranghaeyo Soe Hee-ah.” Katanya.

I don’t bring anything, I don’t prepare anything, I don’t bring you to beautiful place for this. I’m sorry. You know, I’m not good at confessing.” Jelasnya. Air mataku menetes, aku tidak ingin terharu ataupun menangis, kenapa aku tidak bisa menghentikan air mataku sendiri.

“Selama 3 tahun ini apa yang kau lakukan kalau bukan confessing?” Tanyaku dengan suara parau dan menghapus air mataku secepat yang aku bisa.

“Dan slama 3 tahun kau mengacuhkanku, that’s suck right?” Tanyanya balik. Aku tertawa kecil.

Sorry, I can’t be romantic, but will you marry me?” Tanyanya. Aku terisak dan menghapus air mataku, aku benar-benar terharu karena dia mengambil langkah yang begitu besar, dan dia mengakui bahwa dia melakukan hal ini hanya dengan cara yang sederhana bukan karena dia tidak bisa lebih, tapi karena dia hanya ingin ini tentang aku dan jawaban yang akan aku berikan.

This is the suckest confession you do to me.” Kataku. Dia tertawa kecil dan aku mengangguk. Dia langsung tersenyum lebar dan memelukku saat itu juga.

Oh my.. That’s sweet!” Kata Jiyeon.

“Chukkae Unnie, Chukkae Hoseok Oppa!” Lanjut Jiyeon. Aku masih berada dipelukan Hoseok Oppa ketika Chimin bergelagat ingin memberikan pelukan selamat padaku. Aku melonggarkan pelukanku tapi Hoseok Oppa tidak, dia menatapku dan menyentuhkan kedua dahi kami.

“Omo..” Jiyeon menarik Chimin mundur.Hoseok Oppa menyentuhkan hidung kami dan dia menciumku. Menciumku dengan lembut. Aku memejamkan mataku dan menciumnya balik.

“Saranghae.” Katanya,

“Nado saranghaeyo Oppa..” Kataku pada Hoseok.

“Chukkae!” Kata Chimin hanya memberikan lambaian. Aku tertawa kecil dan akhirnya memeluk Chimin.

“Gomawo Chim!” Kataku.

 

“Jadi, apa esensinya ya aku disini menyaksikan kalian?” Tanya Chimin. Hoseok Oppa juga terlihat bingung.

“Kau kan jadi saksi waktu itu. Jadi sekarang pun juga.” Kataku menjelaskan.

“Hanya itu?” Tanya Chimin, aku mengangguk. Dia menggelengkan kepalanya.

Indeed I’m win over you. I got my first crush as my last crush. Even tough you already cheating.” Kata Hoseok Oppa. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Childish.

That’s your perspective. In my, I’ve win.” Kata Chimin melingkarkan tangannya dibahu Jiyeon dan tersenyum pada Jiyeon.

 

Chimin dan Jiyeon sudah pulang. Aku dan Hosoek Oppa duduk di sofa sambil menonton TV. Aku mengeluarkan cincin yang aku gunakan sebagai liontin dan memasukkannya kejari Hoseok Oppa.

“Gunakan ini sampai mati.” Kataku.

“Apa yang kau bicarakan? Itu kewajiban.” Katanya lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membuka isinya. Cincin putih yang cantik, dia mengenakan itu dijari manisku.

“Aku benar-benar bekerja keras untuk ini. Gunakan sampai mati.” Katanya,

“Kau tidak perlu membelikanku yang semahal ini..” Kataku melihat cincin putih yang ada dijari manisku. Dia tersenyum padaku dan mencium keningku.

I feel like I want to give you anything when you’re with me. One of it is that ring too.” Katanya. Aku tersenyum dan mencium pipinya.

 

Dear Diary,

I’m too happy to write right now! See you next time!

 

25 December 2016

Kim Soe Hee

LHEA

The End

***

Well, ini adalah part terakhir dari story pertamaku! Dari story berjudul ‘First Crush’ ku ini! Yeeey! *excited sendiri* Hehe… Aku berharap para readers sekalian memberi banyak feedback ya! ^^

Oh ya,

Merry Christmas 2016 Everyone! Saranghanda!

Sending sarang, leeriahn<3

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s