[FFINDO PROJECT] FRIENDSHIP – THE COUPS: DESPICABLE FATE

the-coups1

Chapter 2: Despicable Fate

by jaoya

Starring EXO’s Sehun, BTS’ J-Hope, SEVENTEEN’s Wonwoo, NCT’s Taeyong, and others. | Friendship, Dark | PG-15 | contains 1504 words.

Previous Chapter: Hoseok’s Sin

Credit Poster: ALKINDI @Indo Fanfictions Arts

.

.

.

Mengapa takdir mereka berempat seketika berubah menjadi sepelik ini?

* * *

“Lelucon macam apa ini, Lee Taeyong?!”

Tidak ada sapaan akrab, apalagi senyuman hangat kala Jeon Wonwoo datang memasuki kedai dan berjalan menuju meja Taeyong sembari menghardik marah. Taeyong tidak mau ikut-ikutan terbawa emosi dan dengan tanggap mengatur sikap untuk mencairkan situasi.

“Duduk dulu. Tenangkan dirimu.”

Wonwoo mengatur napas lantas menuruti intruksi sang sahabat.

“Hoseok tidak mungkin membunuh! Kau tahu dia orang yang baik! Dan sekarang kau memenjarakannya lantas pengadilan menjatuhinya hukuman mati atas tuduhan pembunuhan berencana? Gila!”

“Aku tahu,” balas Taeyong setenang mungkin. “Tapi bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa Hoseok-lah pelakunya. Kau pikir aku bisa tidur nyenyak setelah memenjarakan temanku sendiri?”

“Kau seorang polisi! Kau pasti bisa membebaskannya!”

“Tapi aku tidak bisa mempermainkan hukum.”

Wonwoo mendesah. Dia teramat yakin Jung Hoseok bukanlah orang yang akan dengan mudah melenyapkan nyawa seseorang. Jangankan membunuh orang, menepuk lalat saja Hoseok tidak akan berani.

Kalau Taeyong tidak bisa membantu membebaskan Hoseok, mungkin orang lain bisa.

“Oh Sehun!” Wonwoo mencetuskan nama itu dengan berapi-api, tetapi kemudian sinar dalam matanya meredup kembali seiring sirnanya harapan yang barusan sempat dipupuknya.

“Andai Sehun sedang tidak dirawat di rumah sakit, mungkin dia bisa membantu Hoseok keluar dari penjara,” ujar Wonwoo frustasi.

“Tunggu. Sehun sakit?”

“Ya. Mungkin karena terlalu sibuk setelah dilantik menjadi presdir baru menggantikan ayahnya. Apalagi ketika dia mendengar Hoseok masuk penjara dan akan dijatuhi hukuman mati. Hoseok sudah lama berteman baik dengan Sehun sedari SMP, ingat? Sahabat macam apa yang tidak akan merasa sedih melihat kawannya menderita? Juga, kurasa dia sedang stres berat. Perusahaannya tidak dalam keadaan baik. Kasus suap, korupsi, penggelapan pajak, serta praktik-praktik kotor lain di perusahaannya sedikit demi sedikit mulai terungkap ke publik. Kendati Sehun sudah menjadi presdir, ayahnya tetap berada di belakangnya, mengatur permainan kotor itu. Kurasa itu yang membuatnya terbebani.”

“Dari mana kau tahu hal semacam ini?”

“Atasanku memintaku menyelidiki O Group. Mereka merupakan salah satu perusahaan paling berpengaruh di negara ini, sedikit saja ada praktik kotor mereka yang tercium akan menjadi santapan lezat untuk para pemburu berita seperti kami.”

Wonwoo lantas menyandarkan punggungnya pada kursi, berusaha memasang sikap rileks meski batinnya tengah disusupi hal yang sebaliknya. Ada beban teramat berat yang saat ini harus dipikul oleh Wonwoo.

“Sejujurnya aku pun sama sepertimu. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak ketika harus mencari tahu kebobrokan dari perusahaan milik sahabatku sendiri.”

Taeyong membenarkan dalam diam. Memang, terkadang kehidupan bisa menjadi selucu itu. Dulu, Taeyong berandai-andai, setelah lulus dari bangku sekolah mereka akan menjalani profesi masing-masing dengan damai. Taeyong lulus dari akademi kepolisian dan meringkus penjahat, Wonwoo menjadi reporter yang akan menulis artikel untuk surat kabar terkemuka, Sehun—seperti yang dia prediksi—akan mewarisi harta kekayaan orangtuanya, dan Hoseok yang tinggal berdua dengan ayahnya akan menjalani kehidupan yang tenteram di desa sebagai petani. Lalu, setelah jenuh dengan pekerjaan masing-masing mereka akan menyusun waktu untuk bertemu, sekadar nostalgia membicarakan masa lalu.

Tapi, mengapa takdir mereka berempat seketika berubah menjadi sepelik ini?

Ponsel Taeyong di saku celana tiba-tiba bergetar. Ada panggilan masuk dari salah seorang rekannya di kepolisian.

“Aku ada panggilan tugas. Kelihatannya kau harus makan malam sendirian di sini, tidak apa-apa?”

“Tak apa, aku pun ada janji bertemu dengan atasanku setengah jam lagi di dekat sini.”

“Oke. Aku pergi dulu.”

Taeyong berpamitan dan lekas keluar melalui pintu kedai. Malam hampir beranjak larut. Tempat parkir yang ada di samping kedai tampak sepi. Memang waktu yang pas untuk melakukan kejahatan, pikir Taeyong. Baru saja rekannya di kepolisian menelepon telah terjadi pencurian di wilayah sekitar lima blok dari tempatnya berada sekarang. Padahal ini belum memasuki tengah malam. Kota ini kian hari kian tidak aman saja. Pantas Taeyong jarang punya waktu untuk istirahat belakangan ini.

Taeyong membuka kunci mobilnya seiring dengan matanya yang menangkap sesosok pria berjaket tebal dengan topi di kepala yang saat ini tengah berjalan ke arahnya. Taeyong segera mengenali pria itu.

“Paman Jung, selamat malam! Kebetulan sekali bisa bertemu di sini.” Taeyong menyuarakan sapaannya dengan kikuk. Teringat jelas di benaknya bagaimana tempo hari pria tersebut datang ke kantornya dan memohon-mohon bahwa anaknya tidak bersalah.

Tuan Jung terlebih dulu mengawasi sekitar mereka sebelum akhirnya kembali menatap Taeyong. Taeyong sendiri sulit menebak raut wajah pria itu dan apa yang diinginkan olehnya hingga harus menemui dirinya di waktu seperti ini.

“Ada apa, Paman?”

Tuan Jung mendekat ke arah Taeyong meski tampak tidak yakin.

“Begini, ada yang ingin kusampaikan padamu,” kata pria itu lirih. Tuan Jung memberi isyarat agar Taeyong mendekat, seolah hendak membisikkan sesuatu. Jarak mereka sekarang hanya berkisar dua langkah.

“Aku ingin—”

Taeyong terdiam. Dia begitu terkejut sampai-sampai tubuhnya tidak mampu memberikan perlawanan. Matanya membeliak, menatap Tuan Jung dengan penuh tanda tanya dan kemarahan yang bercampur aduk. Perutnya terasa sakit luar biasa. Darah mulai mengucur dari lubang yang terbuka di sana. Benda dingin yang menerpa kulitnya masuk lebih dalam hingga Taeyong sampai-sampai kehilangan keseimbangan. Tubuhnya tersungkur di hadapan Tuan Jung yang masih menggenggam pisau.

Taeyong mengerang, berjuang mempertahankan kesadaran yang direnggut secara paksa. Semuanya terlihat samar, juga ucapan Tuan Jung yang mengiringi kegelapan yang terus menggeregoti penglihatannya.

“—kau mati, karena telah membiarkan anakku dihukum mati.

Dan semuanya menjadi gelap untuk Taeyong.

* * *

Langit biru dengan arakan awan putih menjadi hal pertama yang tertangkap retina Taeyong begitu dia membuka mata. Taeyong tahu tempat ini; atap sekolah. Tempat yang selalu dipakainya untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Angin bergerak lembut menyapu surainya dan turut serta membawa tawa cekikikan Hoseok yang sedang terbaring di sebelahnya bersama kawan-kawannya yang lain.

“The Coups.” Hoseok menyeletuk.

“Nama macam apa itu?” Pertanyaan bernada jengkel serupa keluhan itu pasti keluar dari mulut Sehun. Taeyong sudah hapal tanpa harus melihatnya.

“Namanya keren, kok.” Suara kalem Wonwoo kemudian ikut menimpali.

“The Coups. Oke juga. Itu bisa jadi nama tim kita.” Kali ini gantian Taeyong yang bersuara.

“Tim? Aku tidak mau satu tim dengan laki-laki yang pernah merebut pacarku!” Sehun berseru sewot.

“Apa? Kau masih dendam?” balas Taeyong menantang.

Barangkali adu mulut akan terus berlanjut jika Hoseok tidak menjadi penengah—dan kebetulan memang sedang terbaring di antara Sehun dan Taeyong.

“Sudahlah! Yang lalu biarlah berlalu!”

“Tapi kalau dipikir-pikir memang lucu, ya?” Wonwoo yang terbaring di samping Taeyong kembali menambahkan.

“Dulu hubungan Sehun dan Taeyong persis seperti anjing dan kucing hanya karena memperebutkan seorang wanita. Aku masih ingat ketika Sehun mengejar Taeyong untuk menantangnya berkelahi, sampai-sampai Taeyong yang ketakutan berlari terbirit-birit hingga akhirnya terjatuh dari tangga.”

“Sial. Jangan ingatkan bagian itu!”

“Aku ingat persis karena aku melihat langsung adegan kejar-kejaran kalian di koridor waktu itu. Kau bersembunyi di belakangku untuk menghindari kejaran Sehun.”

“Yah, karena dulu kau Ketua OSIS jadi kupikir kau bisa melindungiku,” ujar Taeyong kesal. “Tapi nyatanya Ketua OSIS pun tidak mampu melindungiku dari tuan muda galak macam Sehun.”

“Siapa yang kau sebut tuan muda galak?!” seru Sehun lagi.

“Wonwoo benar. Siapa sangka dari kejadian itu kini kita bisa menjadi sahabat? Setelah Taeyong terjatuh dari tangga, Sehun dengan sukarela menggendongnya ke UKS bahkan ikut mengobati lukanya. Dari situ kita berempat mulai akrab,” kenang Hoseok.

“Aku sendiri juga tidak menyangka akan berteman akrab dengan kalian.” Wonwoo menyahut.

“Dulu sih, Wonwoo tidak punya teman.” Taeyong menyela.

“Benar juga. Dulu kupikir karena aku adalah Ketua OSIS temanku segudang, nyatanya tidak.”

“Aku jadi ingat,” kata Taeyong lagi. “Waktu itu aku tidak sengaja masuk ke ruangan OSIS dan melihat tumpukan pekerjaanmu, dan kau mengerjakan semua itu sendirian.”

“Lalu kau bertanya kepadaku, ‘Laporan sebanyak ini kau yang kerjakan sendirian? Di mana teman-temanmu?’. Di situlah aku tersadar bahwa sebenarnya dulu aku tidak benar-benar punya teman.”

Ugh, menyedihkan sekali. Air mataku hampir menetes, nih,” seloroh Sehun.

“Sialan.”

Percakapan itu masih terngiang-ngiang di benak Taeyong. Ada yang bersuara lagi, tapi sekarang Taeyong tidak tahu siapa. Semilir angin membiusnya untuk melelapkan diri. Hamparan langit dan kumpulan awannya mulai menghilang. Taeyong memejamkan mata. Kegelapan pekat menyelimutinya.

Taeyong tidak akan lagi bisa membuka mata; melihat langit, maupun bercengkerama dengan sahabat-sahabatnya.

* * *

Wonwoo menunggu Shim Changmin menenggak soju-nya sebelum kembali menuntut pertanyaannya yang belum terjawab. Pasti ada sesuatu yang teramat penting yang ingin diberitahukan oleh sang pemimpin redaksi sehingga Wonwoo sengaja dipanggil ke sini kendati malam telah larut. Tapi, yang membuat Wonwoo heran Changmin tidak memanggilnya sendirian, melainkan turut ditemani oleh rekan kerjanya yang lain; seorang reporter junior yang baru beberapa bulan bekerja di kantor surat kabar mereka. Wonwoo bertanya-tanya, apa gerangan keterlibatan bocah ingusan ini dalam pertemuan mereka sekarang?

“Dengarkan aku, apa yang kuberitahukan kepadamu ini akan menguntungkan pekerjaanmu—tidak, maksudku, pekerjaan kita. Surat kabar kita akan melejit menjadi yang nomor satu bila mampu memuat berita fenomenal ini.” Changmin meletakkan gelas soju-nya di meja dengan seringaian puas.

Wonwoo menautkan alis. “Berita fenomenal?”

Changmin terkekeh sebentar sebelum menjawab, “Kusebut ini top secret yang bisa melumpuhkan O Group sampai ke akar-akarnya!”

“Apa Hyungnim menemukan info lain soal praktik kotor perusahaan itu?”

“Seungkwan yang akan menjelaskannya kepadamu.” Changmin mengerling ke arah sang reporter junior, memberinya isyarat untuk bicara.

Pemuda berjuluk Seungkwan itu kelihatan grogi ketika hendak membuka mulut.

“Be-begini, Sunbaenim, a-aku juga diberikan tugas untuk menyelidiki O Group untuk mencari tahu apapun yang terlihat mencurigakan di sana,” katanya gugup.

“Oke. Lalu?”

“La-lalu, aku melihat sesuatu,” sambung Seungkwan ragu-ragu.

Wonwoo mulai tidak sabar. “Melihat apa?”

“A-aku melihatnya dengan mata kepala sendiri..”

Pengakuan Seungkwan selanjutnya sukses membuat Wonwoo terbelalak.

tbc

ffindo project yang sedang kalian baca ini adalah bagian dari rangkaian event blog ffindo yang nantinya akan berujung ke event puncak kami yang bakal melibatkan para reader setia blog ffindo.

penasaran gak? harus penasaran dong (hehe) (maksa). makanya, stay tuned terus ya di ffindo buat pantengin event selanjutnya. have a nice day! 😉

and happy new year, wish you a great year ahead, chingus! eh iya, kritik dan sarannya boleh banget ya ehe. ❤

Advertisements

2 responses to “[FFINDO PROJECT] FRIENDSHIP – THE COUPS: DESPICABLE FATE

  1. Akkk!
    Bayangin Taeyong jadi polisi. Buk, pedahal di ff sebelah dia jadi anak es em ah. Nah, ada juga yg jd bapaknya anak unyu tuh. Haha…

    Tapi ini keyen…
    persahabatannya ngefeel beud.
    penasaran sapa yg bunuh masa. Teka teki dari cerita ini dan cerita sebelumnya belum terpecahkan. Semoga besok terpecahkan yah.

    Typonya aku ga nemu masak? Masi jd misteri juga itu typo di sebelah mana. Haha

    • gimana dong mbak, taeyong emang enak dibayangin jadi apa aja sih :”)))
      makasih banyak mbak, tapi yang lain kayaknya banyak yang lebih bagus huhu ;__;
      oh iya ini bentar lagi giliran mbak cca posting yak? wkwkwk ijin telat komen ya mbak tapi nanti abis sidang pasti aku baca kok. ditunggu punya kelompoknya mbak cca :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s