[FICLET] – JONG.

jong

JONG.
By: susanokw

“Jong, kau dimana?” tanya seorang lelaki dengan suara serak dari ujung sana.

Menghembuskan asap rokoknya, lelaki yang dipanggil Jong itu menjawab. “Rooftop,” ujanya pelan, “ada apa?”

“Syukurlah kalau kau berhasil melarikan diri. Ku kira kau ikut mati di dalam gedung.” Suara lelaki di ujung telepon terdengar lega. “Kerja bagus, Jong.”

Jong diam.

“Ini akan menjadi kasus yang sangat panjang, Jong. Mereka akan segera mencari pembunuh itu, juga antek-anteknya.” kata lelaki di ujung telepon, setelah terdengar helaan napas. “Thank you for helping us.

Sudut bibir kanan Jong tertarik ke atas, menyeringai selama beberapa detik.

“Hm.” Jong membalas ucapan terima kasih itu singkat, lalu memutus sambungan telepon sebelum suara lelaki itu muncul kembali.

Jong.

Hidupnya berat. Keluarga pamannya yang terlilit hutang dengan lintah darat membuatnya tidak bisa terus hidup seperti dulu. Jong kini merasakan bagaimana kerasnya hidup di jalanan, betapa hidup terkadang jauh lebih hitam dibandingkan dengan langit malam. Jong menghela napas panjang.

Alih-alih berhenti, setelah rokok pertamanya habis ia menyundut lintingan yang kedua. Sambil berjalan mendekati tembok pembatas, jemari kurus lelaki itu memantik korek api. Diisapnya dalam-dalam, lalu dihembuskannya perlahan. Matanya menatap lurus ke arah kerumunan orang di trotoar gedung seberang. Para pencari berita berdesak-desakan di dekat batas garis polisi, mengangkat kamera tinggi-tinggi, memotret sana-sini. Beberapa yang lain menyiarkan berita secara langsung, tak peduli walau di bawah rintik gerimis.

Mereka sama seperti Jong. Mencari uang.

Beberapa polisi berjaga di dekat garis polisi, juga di depan pintu gedung. Berusaha menghalau siapapun yang secara sembarang hendak masuk ke tempat perkara kejadian. Gedung tersebut sudah di ambil alih oleh pihak kepolisian, bahkan para pegawai di dalam gedung pun tidak terlihat satupun yang keluar.

Jong menatapnya datar. Gerimis pukul 11 malam ini sama sekali tidak membuatnya kedinginan. Tubuhnya justru kegerahan, walaupun uap putih terus keluar seiring dengan hembusan napasnya. Lintingan keduanya baru diisap dua kali, kemudian hanya dijepit antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kananya dan dibiarkan terbakar sendiri.

Seseorang yang penting telah mati malam itu. Pembunuhan sadis baru saja terjadi pukul 10 malam tadi. Ditemukan banyak obat jenis heroin dan kokain berserakan di lantai, luka sayat selebar 15 sentimeter di leher, juga beberapa luka bakar bekas rokok di beberapa bagian tubuh korban. Korban ditemukan terbungkus oleh seprai dan selimut di atas tempat tidurnya, sedangkan kondisi lantai penuh darah. Pembunuhnya sudah melarikan diri, entah kabur lewat mana. Jendela tertutup rapat, pintu terkunci slot. Pejabat itu mati mengerikan, ditangan orang yang mengerikan.

Jong menghela napas panjang.

“Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri untuk mati,” ujarnya. “Dunia ini terlalu keras, jadi kurasa kematianmu malam ini bukanlah hal yang sia-sia.”

Lelaki bertumbuh jangkung, berpakaian hoodie dan celana jeans hitam itu bergumam sendiri. Kedua ujung bibirnya tertarik simetris beberapa senti ke atas, tersenyum tipis. Bahkan nyaris tak terlihat.

Jong melirik arloji di pergelangan tangannya, angka menunjukkan pukul 00.30. Rokoknya sudah terbakar setengah, dan gerimis belum berhenti. Sedetik ketika Jong hendak mengisap rokoknya itu, ponselnya bergetar.

Kim. Kata itu muncul di layar ponselnya.

“Halo, Jong.” Suara perempuan yang terdengar berat muncul diujung sana.

“Ada apa?” Tanpa basa-basi, Jong bertanya langsung pada intinya.

“Distrik 16, Luh butuh bantuanmu di sana.”

“Oke.”

Jong mengisap dalam rokoknya untuk yang terakhir kali, lalu membuangnya asal. Ia meraba saku celana jeans bagian belakangnya, memastikan bahwa pisau lipat miliknya tidak tertinggal. Kemudian ia meraba pinggangnya, mengecek bahwa pistolnya sudah tersimpan di tempat yang seharusnya.

“Wahai Pak Tua, jangan khawatir. Kita akan bertemu lagi kalau aku mati. Malam ini, atau suatu hari nanti.” gumamnya sendiri, satu menit sebelum kakinya beranjak pergi meninggalkan rooftop.

Pekerjaan Jong malam ini ternyata masih banyak.

 

 

FIN.

 

 

 

 

Ps: Jong, siapa sosok yang terbayang dalam pikiranmu? 
Kritik dan saran, aku tunggu.
Terima kasih.

Advertisements

4 responses to “[FICLET] – JONG.

  1. Karena namanya Jong, saya berpikiran itu adalah SHINee Jonghyun 😆

    Tapi.. SHINee Jonghyun bukan seorang yang jangkung lol jadi.. Ji Chang Wook(?) seperti lebih pas 😄

  2. WELL THIS IS JONG FOR JONGIN🔥
    Bahasa dan diksinya cetar aduhai, mirip novel kriminal terjemahan. Meskipun ini singkat, tapi aku bisa ‘drown into the story’ dan membayangkan scene apalagi yang terjadi selanjutnya. Si bapak tua ini mau ditembak atau disayat? Digantung apa diracun? Well, banyak kemungkinan. Ending seperti yang kamu buat sukses bikin aku berfantasi ria sendiri😍
    Keep writing, authornim 👌👍

  3. The one that came firstly to my mind is Shinee’s Jonghyun! Hahaha. The ending is so great and I can fantasize what will happen next. Keep up the good work! 💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s